Lukman Al-Hakim dan Firaun

LELAKI kurus kering berambut setengah keriting ini maju ke depan dalam acara pertemuan para pejabat dengan rakyat. Dalam acara sosialisasi program kerja ini, lelaki kurus bernama Emmad ini mewakili para pemuda di desanya. Semua kaget saat dia melangkah maju, karena semua tahu bahwa Emmad bukanlah siapa-siapa yang lulus dari lembaga pendidikan mana. Dia hanya alumni sebuah langgar yang sudah rapuh sementara pengasuh langgarnya sibuk mengurusi batuk menahun dan penyakit rematiknya.

Dua jam pertama pertemuan ini berisi pemaparan program kerja lengkap dengan visi misinya. Semuanya tersusun indah membuat sebagian hadirin terpukau dan beberapa tepuk tangan. Entah tepuk tangan itu bermakna kagum dan setuju, ataukah hanya ingin mengusir kantuk dan pemberitahuan bahwa tak ada suguhan yang bisa dipegang tangannya, tak ada yang paham.

Sejatinya semua sudah paham bahwa kenyataan riil masyarakat adalah penuh keresahan. Perputaran ekonomi hanya di antara mereka para pejabat, sementara rakyatnya hanya sebagai penonton dan pembaca berita. Kemapanan hanya milik mereka kaum elit, sementara kaum ekonomi sulit tak pernah lepas dari kesulitannya. Untung, para rakyat setiap malam diajari makna kesabaran di langgar atau surau masing-masing.

Semua hadirin penasaran apa yang akan disampaikan pemuda kurus itu. Tanpa pengeras suara, dia berbicara lantang. Matanya tajam melihat kepada para pejabat yang berjejer duduk di atas kursi khusus itu. Jemari telunjuknya jelas menuding lurus pada para pejabat itu. Suaranya menggelegar menghentikan semua suara yang ada di ruangan itu.

Tak panjang yang diucapkannya: “Bapak-bapak pejabat yang merasa terhormat. Kalimat-kalimat Bapak sungguh bijak dan indah sebijak dan seindah kalimat Lukman al-Hakim. Sayang, perilaku Bapak dalam memerintah dan mengatur kehidupan ekonomi serakus dan sejahat Fir’aun.” Lelaki itu lalu keluar ruangan. Beberapa orang ikut keluar mengikutinya. Saya tak mampu menafsirkannya. Salam, AIM. [*]

Oleh KH Ahmad Imam Mawardi

INILAH MOZAIK

Zalim Kepada Allah, Tak Mudah Diingatkan

TATKALA kita menasehati seorang mukmin yang khilaf karena telah berbuat zalim kepada sesama manusia, seumpama berlaku curang, menyakiti perasaan orang lain, atau menyakiti fisik orang lain, maka tak terlalu sulit bagi kita untuk menyadarkannya.

Kita cukup mengingatkannya secara ma’ruf dengan petikan ayat-ayat al-Qur’an atau hadits Rasulullah ﷺ maka insya Allah dia akan segera tersadar dan berucap istighfar.  Barangkali, kekhilafan tersebut disebabkan karena kondisi yang memaksa ia berbuat demikian. Boleh jadi ia sedang sangat membutuhkan biaya, atau ia punya beban hidup yang menyebabkan ia tertekan.

Namun, ketika kita menasehati seorang yang berlaku zalim kepada Sang Pencipta, akan sangat sulit bagi kita untuk menasehatinya. Kalau bukan karena Allah Ta’ala memberikan hidayah kepadanya, rasanya tak akan mampu kita menyadarkan bahwa ia telah berlaku zalim kepada Sang Pencipta. Terlebih bila itu ia lakukan dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan.

Misalnya, seseorang yang menyekutukan Allah Ta’ala dengan mahluk-Nya, atau menganggap bahwa ada Tuhan lain yang patut disembah selain Allah Ta’ala, atau menganggap bahwa Allah Ta’ala memiliki anak, maka orang seperti itu akan bersikukuh dengan pendapatnya jika disadarkan. Pendapat kita akan ditentangnya, bahkan boleh jadi ia akan meneror kita agar tak lagi mempengaruhinya.

Penentangan seperti itu telah dialami para Nabi dan Rasul pada zaman dahulu kala. Nabi Musa Alaihissalam (AS), misalnya. Ia pernah ditanya oleh Fir’aun sebagaimana diungkap dalam al-Qur’an surat Asy-Syu’ara [26] ayat 23 hingga 28.

Siapakah Tuhan seluruh alam itu?” tanya Fir’aun.

Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. (Itulah Tuhanmu), jika kamu memercayainya,” jawab Musa AS

Lantas Fir’aun berkata kepada orang-orang di sekelilingnya untuk memperolok-olok Musa AS. “Apakah kalian tidak mendengar (apa yang dikatakannya)?

Namun Nabi Musa AS tetap melanjutkan dakwahnya, “(Dia) Tuhanmu dan juga Tuhan nenek moyangmu terdahulu.”

Fir’aun mulai murka dan berkata, “Sungguh, Rasul kalian yang diutus kepada kalian (ini) benar-benar orang gila.”

Nabi Musa AS tak peduli dengan caci maki Fir’aun. Ia tetap melanjutkan dakwahnya, “(Dialah) Tuhan (yang menguasai) timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu mengerti.”

Lagi-lagi Fir’aun tetap bersikukuh dengan pendapatnya meskipun telah berulang kali dijelaskan oleh Nabi Musa AS. Bahkan, Fir’aun tetap berlaku zalim kepada Sang Penciptaanya meskipun Nabi Musa AS telah memperlihatkan mukzizat atas izin Allah Ta’ala.

Demikian pula dengan Nabi Ibrahim AS. Beliau tak mampu mengingatkan ayahnya sendiri, Azhar, yang berlaku zalim kepada Sang Penciptanya. Padahal, Ibrahim AS telah berkata dengan lemah lembut kepada ayahnya, sebagaimana tertulis dalam al-Qur’an surat Maryam [19] ayat 42 sampai 45.

Wahai ayahku!” kata Ibrahim AS. “Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?

Wahai ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu. Maka, ikutilah aku, niscata aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.”

Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan. Sungguh setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.”

Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari TuhanYang Maha Pengasih, sehingga engkau akan menjadi teman bagi setan.”

Betapa santun nasehat Nabi Ibrahim AS ini. Namun Azhar, sang ayah, dengan congkak menolak ajakan anaknya. “Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti, pasti engkau akan kurajam. Maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama,” kata Azhar sebagaimana tertulis dalam al-Qur’an surat Maryam [19] ayat 46.

Demikianlah kehendak Allah Ta’ala. Hanya Dia yang kuasa membolak-balikkan hati manusia. Meskipun perbuatan zalim kepada Allah Ta’ala sulit disadarkan, namun para penyeru kebenaran tetap harus mendakwahi mereka sebagaimana para Nabi dan Rasul dahulu. Apa pun hasilnya, serahkan pada Allah Ta’alaWallahu a’lam.* 

Mahladi Murni

HIDAYATULLAH



Kisah Masyithah, Tukang Sisir Putri Firaun

Mesir ribuan abad silam menjadi saksi sejarah kehidupan seorang wanita yang hatinya dipenuhi keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Saat itu tanah piramida dikuasai Firaun yang bengis. Ia memaksa seluruh rakyat Mesir menyembahnya.

Allah telah mengutus Nabi Musa untuk menyelamatkan Bani Israil dari kekejaman sang raja. Namun, Firaun teramat kejam hingga mereka yang beriman begitu takut untuk memperlihatkan keimanannya kepada Allah. Salah satu yang menyembunyikan keimanan tersebut yakni seorang wanita bernama Masyithah beserta keluarganya.

Masyithah merupakan salah satu pelayan istana Firaun. Ia bertugas sebagai tukang sisir putri Firaun. Sejak bertahun-tahun silam, keluarga Masyithah setia melayani istana. Ketika agama Ibrahim disampaikan Musa di tanah Mesir, mereka mengimaninya. Namun, tak ada yang tahu keimanan Masyithah, termasuk sang majikan.

Hingga suatu hari, tibalah saat Allah menguji keimanan Masyithah dan keluarganya. Saat itu Masyithah tengah menyisir rambut putri Firaun. Tiba-tiba sisir di tangannya jatuh dan tanpa sadar asma Allah keluar dari lisan Masyithah. “Allah!” seru Masyithah spontan.

Mendengarnya, putri Firaun sontak kaget. Ia pun segera menginterogasi Mayithah, siapakah Allah itu. Jika Allah itu Tuhan, maka berarti Masyithah siap dihukum mati karena telah menentang Firaun, ayahnya.

Masyithah tak juga menjawab pertanyaan sang putri. Keringat dingin menderas tubuhnya, ketakutan menderu hatinya. “Siapa Allah itu? Mengapa kau tak menjawab! Apakah kau punya Tuhan selain ayahku?” seru sang putri. Masyithah terus bungkam, namun sang putri terus mendesaknya. Hingga keberanian pun datang dari diri Masyithah. Ia tahu betul, inilah saatnya keimanan hendak diuji Allah.

“Allah adalah Tuhanku, Tuhan ayahmu, dan Tuhan seluruh alam,” jawab Mayithah tegas.

Mendengarnya, sang putri pun segera beranjak dari tempat duduknya menuju kediaman sang ayah. Ia segera melaporkan apa yang baru saja didengarnya dari lisan Masyithah. Sementara Masyithah mengabarkan kepada keluarganya untuk bersiap diri mendapat hukuman Firaun.

Firaun marah bukan kepalang ketika mendengar kabar dari sang putri. Ia pun segera memanggil Masyithah ke hadapannya. Tanpa keraguan, Masyithah pun pergi memenuhi panggilan raja.

“Apa kau meyembah sesuatu selain aku?” tanya Firaun dengan suara menggelegar, seluruh istana dibuat takut dengan amarahnya. Namun tanpa gentar, Masyithah menjawab ringan, “Ya, saya menyembah Allah. Allah Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan segala sesuatu,” kata Masyithah.

Geram, Firaun pun menyuruh pengawalnya untuk mengikat Masyithah kemudian menaruh seekor ular besar di hadapannya. Namun, Masyithah tak bergidik.  Bertambah marahlah emosi Firaun. Ia pun segera memanggil tangan kanannya, Hamman, untuk mengeksekusi mati keluarga Masyithah.

Hamman kemudian segera mengumpulkan beberapa pengawal untuk menangkap Masyithah dan keluarganya. Ia pun kemudian memerintahkan pengawal lain untuk membuat lubang besar untuk diisi air panas layaknya kawah bara dari gunung api. Ia bermaksud merebus hingga mati Masyithah dan keluarganya.

Tibalah hari eksekusi, rakyat dikumpulkan untuk menyaksikan peristiwa sadis, hukuman ala Firaun. Masyithah bersama sang suami dan empat orang anak termasuk satu bayi yang digendongnya telah berada di sana, siap menghadapi hukuman keji tersebut.

Mereka melihat kubangan besar berisi air mendidih yang siap melepuhkan tubuh mereka. Namun, hati mereka tak gentar dengan siksaan dari seorang manusia. Mereka memilih beriman kepada Allah, Tuhan seluruh manusia.

Sebelum dilempar ke air mendidih, mereka ditanya oleh Hamman apakah masih akan terus mengimani Allah dan enggan menuhankan Firaun. Namun, jawaban mereka selalu sama acap kali ditanya, “Allah adalah Tuhanku, Tuhan Firaun, dan Tuhan seluruh alam. Kami akan terus beriman kepada Allah sekalipun harus terjun ke kawah mendidih”.

Maka, bulatlah keputusan Hamman untuk memasak mereka hidup-hidup dalam kubangan air yang mendidih. Suami Masyitahlah yang pertama kali mendapat giliran. Tubuhnya langsung dilalap air yang mendidih, tinggal seonggok daging gosong tak bernyawa. Melihat eksekusi keji tersebut, Hamman terbahak-bahak dan terus menghina orang-orang yang beriman kepada Allah.

Masyithah terus di atas ketegarannya mengimani Allah. Setelah sang suami, giliran anak-anaknya. Satu per satu, mereka dipaksa masuk ke air mendidih yang apinya menjilat-jilat. Semuanya dilakukan di hadapan Masyithah. Hingga tinggallah tersisa Masyithah dan seorang anaknya yang masih bayi. Ia menggendong bayi itu erat-erat. Hatinya masih tegar diatas agama Allah. Maka, diseretlah ia dan bayinya mendekati air yang teramat panas itu.

Ketika hampir memasuki kubangan air, tiba-tiba syetan membisikkan keraguan di dalam hatinya. Keraguan dengan merasa sedih dan kasihan pada sang bayi yang belum sempat tumbuh dewasa melihat dunia, bayi yang baru lahir tanpa dosa.

Masyithah pun menghentikan langkahnya menuju ajal, ia terus saja memandangi bayinya yang merah dengan perasaan sedih yang mendalam. Melihatnya, Hamman sempat berpikir Masyithah akan mencabut kata-katanya dan akan kembali menuhankan Firaun. Ia pun girang karena merasa ancamannya pada Masyithah berhasil.

Namun, pikiran Hamman salah. Masyithah tak pernah sedikit pun melepaskan keimanannya pada Allah. Lalu dengan kehendak Allah, sang bayi tiba-tiba berkata kepada ibunya, “Wahai ibu, jangan takut, sesungguhnya Surga menanti kita,” ujar bayi yang digendongnya. Mendengarnya, kembalilah ketegaran dan keberanian Masyithah. Ia pun mencium anaknya. Kemudian, masuklah keduanya ke dalam air yang mendidih. Masyithah dan keluarganya mengakhiri hidup mereka dengan berpegang teguh pada akidah.

Kisah Masyithah disebut dalam sebagian hadis Rasulullah tentang Isra mi’raj yang diriwayatkan Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan Thabrani. Hadis tersebut datang dari Hammad bin Salamah dari Atha’ bin Saib. Dalam perjalanan Isra Mi’raj ke Masjidil al-Aqsa,  Rasulullah melewati sebuah daerah yang aromanya sangat harum semerbak seperti harum kasturi.

Rasulullah pun bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, aroma harum apakah ini?” Jibril pun menjawab, “Ini adalah harum Masyithah, tukang sisir putri Firaun,” Rasulullah pun kembali bertanya, “Apa gerangan kelebihan Masyithah?” maka Jibril pun mengabarkan kisah Masyithah kepada Rasulullah yang kurang lebihnya telah dikisahkan di atas.

Islam Digest Republika

Dimanakah Firaun Ditenggelamkan?

Dimanakah lokasi Firaun ditenggelamkan? Pendapat terkuat, lokasi tersebut berada di Laut Merah.

Pandangan ini diperkuat dengan ditemukannya bangkai kereta kuda dan tulang-belulang manusia di Laut Merah yang diduga merupakan pasukan dan pengawal Firaun.

”Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.” (QS Albaqarah [2]: 50).

”Dan, Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu. Maka, setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala, Bani Israil berkata, ‘Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).’ Musa menjawab, ‘Sesungguhnya, kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)’.” (QS Al-A’raf [7]: 138).

”Lalu, Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka, terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (QS Asysyuara [26]: 63).

Ayat-ayat di atas adalah sebagian dari kisah yang diterangkan dalam Alquran tentang pengejaran Firaun terhadap Nabi Musa AS, Nabi Harun, dan kaum Bani Israil, pengikut Musa.

Ketika mereka (Musa dan kaumnya) meninggalkan Mesir, Firaun tampak sangat marah. Ia merasa Bani Israil sudah tidak mempercayainya lagi. Karena itu, ketika Musa dan kaumnya pergi meninggalkan Mesir, Firaun memerintahkan pasukannya untuk mengejar dan menangkap Musa dan kaumnya.

Dalam perjalanan pengejaran tersebut, saat Musa dan kaumnya berada di pinggir pantai, Bani Israil merasa khawatir kalau mereka akan terkejar oleh Firaun dan pasukannya. Nabi Musa AS mengingatkan kaumnya bahwa mereka tidak akan terkejar karena Allah pasti akan menolongnya.

Hingga akhirnya, Allah memerintahkan Nabi Musa AS untuk memukulkan tongkatnya ke lautan dan atas izin Allah. Maka, terbelahlah lautan tersebut, yang tiap-tiap sisi belahan laut itu setinggi gunung (QS 26: 63).

Maka, Musa dan kaumnya menyeberangi lautan tersebut hingga tiba di seberangnya. Sementara itu, Firaun dan pasukannya sedang berada di tengah-tengah lautan. Ketika itu pula, Allah memerintahkan Musa supaya memukulkan kembali tongkatnya hingga akhirnya tertutuplah lautan tersebut dan menenggelamkan Firaun beserta pasukannya.

Sampai kemudian, jasadnya berhasil ditemukan oleh orang-orang Mesir dan kemudian tubuhnya diawetkan (QS Yunus [10]:92). Jasadnya hingga kini masih dapat disaksikan di Museum Tahrir, Mesir.

sumber: Republika Online