Awas! Menyandang Gelar Haji Termasuk Riya’?

GELAR haji bisa saja menjadi riya bagi yang niatnya memang riya. Bahkan bukan hanya gelar haji saja, gelar apapun bisa dijadikan media untuk melakukan riya. Seperti gelar kesarjanaan, gelar keningratan, gelar kepahlawanan dan gelar-gelar lainnya. Namun batasannya memang agak sulit untuk ditetapkan. Sebab riya merupakan aktifitas hati. Sehingga standarisasinya bisa berbeda untuk tiap orang.

Kalau kembali kepada hukum syariah, yang diharamkan adalah gelar-gelar yang mengandung ejekan, baik orang yang diberi gelar itu suka atau tidak suka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11)

Titik tekan larangan ini ada pada gelar yang menjadi bahan ejekan. Seperti mengejek seseorang dengan panggilan nama hewan, di mana di balik gelar nama hewan itu tercermin ejekan. Sedangkan gelar dengan nama hewan yang mencerminkan pujian, hukumnya boleh. Seperti kita memberi gelar kepada seorang ahli pidato dengan sebutan macan podium. Gelar ini meski menggunakan nama hewan, tetapi kesan yang didapat adalah kehebatan sesorang di dalam berpidato atau berorasi. Nilanya positif dan hukumnya boleh.

Kaitannya dengan gelar haji, pada hakikatnya gelar haji itu bukan gelar yang mengandung ejekan. Sehingga tidak ada yang salah dengan gelar itu bila memang sudah menjadi kelaziman di suatu tempat. Namun gelar haji memang bukan hal yang secara syari ditetapkan, melainkan gelar yang muncul di suatu zaman tertentu dan di suatu kelompok masyarakat tertentu. Gelar seperti ini secara hukum tidak terlarang. Sedangkan dari sisi riya atau atau tidak, semua terpulang kepada niat dari orang yang memakai gelar itu. Kalau dia sengaja menggunakannya agar dipuji orang lain, atau biar kelihatan sebagai orang yang beriman dan bertakwa, sementara hakikatnya justru berlawanan, maka pemakaian gelar ini bertentangan dengan akhlak Islam.

Dan kasus seperti ini sudah banyak terjadi. Sebutannya pak haji tapi kerjaannya sungguh memalukan, entah memeras rakyat, atau melakukan banyak maksiat terang-terangan di muka umat atau hal-hal yang kurang terpuji lainnya. Maka gelar haji itu bukan masuk bab riya melainkan bab penipuan kepada publik. Tetapi ada kalannya gelar haji itu punya nilai positif dan bermanfaat serta tidak masuk kategori riya yang dimaksud. Salah satu contoh kasusnya adalah pergi hajinya seorang kepala suku di suku pedalaman, yang nilai-nilai keIslamannya masih menjadi banyak pertanyaan banyak pihak karena banyak bercampur dengan khurafat.

Ketika kepala suku ini diajak pergi haji, terbukalah atasnya wawasan Islam dengan lebih luas dan lebih baik. Fikrah yang menyimpang selama ini menjadi semakin lurus. Maka sepulang dari pergi haji, gelar haji pun dilekatkan pada namanya. Dan rakyatnya akan semakin mendapatkan pencerahan dari kepala suku yang kini sudah bergelar haji. Bahkan akan merangsang mereka untuk pergi haji dan mendekatkan diri dengan nilai-nilai Islam. Tentu saja, tujuan pergi haji itu salah satunya untuk membuka wawasan yang lebih luas tentang nilai-nilai agama Islam.

Jadi tidak selamanya gelar haji itu mengandung makna negatif semacam riya dan sebagainya. Tetapi boleh jadi juga mengandung nilai-nilai positif seperti nilai dakwah dan pelurusan fikrah. Adalah kurang bijaksana bila kita langsung menggeneralisir setiap masalah dengan satu sikap. Semua perlu didudukkan perkaranya secara baik-baik. Lagi pula sebagai muslim, kita diwajibkan Allah Ta’ala untuk selalu berhusnudzdzan kepada sesama muslim. Sebab boleh jadi seseorang bergelar haji bukan karena kehendaknya, tetapi karena kehendak masyarakat.

Seorang ustaz muda yang banyak ilmunya namun masih kurang dikenal atau malah kurang diperhitungkan oleh umatnya, tidak mengapa bila kita cantumkan gelar haji di depan namanya, bila memang sudah pernah pergi haji. Sebab di kalangan masyarakat tertentu, ustaz yang sudah pernah pergi haji akan berbeda penerimaannya dengan yang belum pernah pergi haji. Apa boleh buat, memang demikian cetak biru yang terlanjur berakar di tengah masyarakat.

Tentunya gelar haji ini sama sekali tidak berguna untuk dipakai di dalam kelompok masyarakat yang lain. Wallahu alam bishshawab, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Ahmad Sarwat, Lc]

 

MOZAIK

Kemenag klaim layanan haji tahun ini sudah 95%

Kementerian Agama (Kemenag) tengah mempersiapkan kebutuhan dan pelayanan haji tahun 2017 atau 1438 hijriyah. Pihaknya mengklaim persiapan pelayanan haji di Mekah dan Madinah sudah mencapai 95%.

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nur Syam mengatakan kini tinggal menyisakan permasalahan pemondokan, transportasi dan katering yang masih butuh negosiasi. “Secara umum persiapan haji sudah on the track sebab yang terkait pelayanan di Mekah dan Madinah nyaris selesai,”kata Nur Syam pada KONTAN, Senin (24/4).

Ia bilang, kendala yang sedikit tersisa karena masih ada perumahan di Madinahyang belum diselesaikan. Dan juga mengingat tahun ini kuota haji Indonesiaditambah menjadi 220 ribu jemaah maka secara langsung berdampak pada kesulitan mencari tambahan pemondokan jemaah.

“Jadi tambahan jemaah ini kan juga tidak mudah, tapi yakinlah tim yang kita kirim dan petugas sudah punya pengalaman bertahun-tahun , Insya Allah tidak ada masalah yang krusial,” pungkas Nur Syam.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Sodik Mudjahid menyatakan masih ada beberapa hal yang Kementerian Agama harus perbaiki dalam layanan haji tahun ini.

Paling tidak, kata Sodik ada tiga permasalahan utama yang harus diatasi,antara lain mengenai bimbingan ibadah, perlindungan dan keamanan jemaah haji, kemudian ihwal penyediaan dan pelayanan fasilitas.

“Inilah yang selama ini menjadi masalah, karena background dan kompetensi sumber daya manusia di Kementerian Agama bukan di bidang tersebut,” kata Sodik.

Selain itu, Sodik bilang diperlukan pengawasan kualitas kepada fasilitas-fasilitas yang telah direncanakan dan ditetapkan agar berjalan dengan baik.

“Diperlukan pengawasan agar sesuai standar seperti kualitas makan, pemondokan dan transportasi,” pungkas Sodik.

 

KONTAN

Menag: Tenda di Arafah Haji Tahun Ini Jauh Lebih Baik

Kementerian Agama berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan kepada jamaah haji Indonesia. Salah satunya adalah peningkatan kualitas tenda di Arafah.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memastikan tenda di Arafah pada musim haji tahun ini jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, tenda di Arafah selama ini menggunakan bahan sejenis terpal yang ditopang dengan bambu atau besi yang sudah karatan.

Lansir laman resmi Kemenag, Jumat (21/04/2017), pada tahun 2015, bahkan beberapa tenda jemaah haji Indonesia di Arafah roboh terkena angin kencang.

“Tahun ini ada perubahan kualitas tenda. Bahannya anti api dan tahan air. Rangkanya dari baja,” terang Menag dalam rapat rapat koordinasi dengan Menko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani dan Menkes Nilla F Moloek di Madinah, Arab Saudi, Kamis (20/04/2017) waktu setempat.

Rapat yang dipimpin Dubes RI Agus Maftuh Abegebril ini diikuti oleh KJRI Jeddah, Staf Teknis Haji, dan Tim Penyedia Layanan Jemaah di Madinah. “Sekarang rangkanya sudah baja dan lebih tinggi sehingga lebih nyaman,” tambahnya.

Menag Lukman bersama Menko PMK Puan Maharani dan Menkes Nilla F Moeloek berada di Arab Saudi untuk meninjau langsung persiapan penyelenggaraan ibadah haji di Makkah dan Madinah.

Usai rapat koordinasi, Menko PMK didampingi Menkes meninjau fasilitas Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI). Dalam kesempatan itu, Menkes menjelaskan, masalah utama KKHI terkait penyewaan tempat. Menkes beharap KKHI punya tempat permanen di masa mendatang.

Menko PMK lalu mengecek langsung fasilitas ruang perawatan, stok obat-obatan, termasuk ruang gawat darurat. KKHI Madinah dilengkapi dengan 75 tempat tidur rawat, 20 tempat tidur UGD, dan 80 petugas kesehatan haji. Sifat pelayanan adalah pelayanan dasar dan emergensi.

Lantai 1 dimanfaatkan untuk ruang rawat Psikiatri, ruang rawat laki-laki dan perempuan dan ruang penunjang seperti radiologi, laboratorium, gizi, poli gigi, dan ruang linen.

Sementara lantai 2 dipergunakan untuk depo obat dan alat kesehatan, serta ruang kerja petugas sanitasi surveilans dan siskohatkes. Guna memberikan pelayanan maksimal, KKHI Madinah juga dilengkapi delapan ambulans.*

 

HIDAYATULLAH

Empat Hal Penting Layanan Haji 2017

Pemerintah dan Komisi VIII DPR RI mensepakati besaran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 1438H/2017M. Besaran rata-rata BPIH yang dibayar langsung oleh Jemaah Haji untuk tahun 1438H/2017M rata-rata sebesar Rp 34.890.312. Besaran BPIH tahun 1438H/2017M naik sebesar 0,72 persen atau sebesar Rp 249.008 dibanding BPIH tahun lalu.

Menteri Agama mengatakan, ada empat hal penting dalam peningkatan kualitas layanan ibadah haji tahun ini yang berdampak pada peningkatan biaya haji.

  1. Selama di Makkah, jemaah akan mendapatkan makan 25 kali, mengalami peningkatan dibanding tahun lalu yang berjumlah 24 kali. Kebijakan peningkatan kuantitas layanan makan di Makkah ini dalam rangka penyiapan makan bagi Jemaah yang baru tiba dari Madinah pada gelombang I dan penyediaan makan bagi Jemaah yang akan berangkat dari Makkah ke Madinah pada gelombang II.
  2. Peningkatan yang cukup penting atas layanan konsumsi di Makkah adalah penyediaan snack berat untuk sarapan pagi di Makkah selama 12 hari.
  3. Upgrade bus yang akan mengangkut jemaah dari bandara Madinah menuju hotel masing-masing jemaah, begitu juga sebaliknya.
  4. Peningkatan kualitas tenda dan pendingin udara (AC) di Arafah.”Jadi semuanya (empat peningkatan kualitas layanan) tidak sebanding dengan nominal rupiah kenaikan BPIH sebesar Rp 249.008,00,” ujar Menag.

    Dikatakannya, pemerintah dan DPR sepakat sesungguhnya tidak ada kenaikan BPIH, karena layanan jemaah haji tahun ini jauh lebih besar nilainya dibanding penambahan atau kenaikan BPIH dibanding tahun lalu.

    “Oleh karenanya, dengan penambahan kuota yang signifikan sebesar 52.200 orang ini akan semakin mampu menjaga kualitas layanan jemaah,” ujar Menag.

    Komponen BPIH yang dibayar langsung oleh Jemaah Haji sama dengan tahun lalu, terdiri dari dari tiket pesawat dan passenger service charge, pemondokan Makkah, dan Living Allowance.Besaran rata-rata BPIH yang dibayar langsung oleh Jemaah Haji untuk tahun 1438H/2017M rata-rata sebesar Rp 34.890.312.

    Besaran rata-rata BPIH dimaksud terdiri atas biaya tiket penerbangan sebesar Rp 26.143.812, pemondokan Makkah sebesar SAR 950 setara Rp 3.391.500, dan Living Allowance sebesar SAR 1.500 setara Rp 5.355.000.

 

sumber IHRAM.co.id

Jemaah Langsung Dapat Buku Manasik Saat Pelunasan

Jakarta (Kemenag) — Kasubdit Pembinaan Ibadah Haji Ali Rokhmad memastikan jemaah haji Indonesia tahun ini akan langsung mendapatkan buku manasik haji pada saat pelunasan.

Pengadaan buku oleh Bank Penerima Setoran (BPS) Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) sudah selesai dan siap diserahkan kepada jemaah bersamaan dengan pemberian souvenir lainnya, seperti baju ihram, mukena, dan baju batik haji.

“Alhamdulillah, buku manasik tahun ini akan diberikan lebih awal. Begitu jemaah melunasi BPIH (Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji), akan langsung diberikan buku manasik oleh Bank Penerima Setoran BPIH setempat,” kata Ali Rokhmad di Jakarta, Kamis (23/03).

Menurut Ali, distribusi buku lebih awal penting agar jemaah mempunyai waktu yang cukup untuk membaca dan memahami manasik haji. Dengan begitu, bimbingan manasik yang diselenggarakan Kemenag akan berjalan lebih baik dan efektif.

“Kegiatan manasik di KUA Kecamatan akan dilaksanakan sebanyak 10 kali, kecuali di Prov. DKI Jakarta, Jabar, Jatim, dan Jateng, sebanyak 8 kali,” ujarnya.

Selain distribusi buku lebih awal, lanjut Ali, upaya lain Kemenag agar kegiatan manasik lebih efektif adalah dengan menyusun kurikulum manasik berbasis regu/rombongan. Selain materi ibadah, kurikulum ini juga berisi materi pembekalan tugas dan fungsi ketua regu, termasuk pendalaman permasalahan aktual (waqiiyah) dalam manasik.

Ali menambahkan, bimbingan manasik yang dilakukan pemerintah kepada jemaah sesuai dengan standar standar mutu yang diharapkan. Sehingga, jemaah mampu melaksanakan ibadah sesuai dengan ketentuan syariat agama Islam.

“Prinsip pelayanan ibadah oleh pemerintah adalah sah, bukan mengejar afdhaliyat,” ujarnya.

“Bagi masyarakat yang ingin memperoleh layanan bimbingan manasik lebih dari standar yang diberikan Pemerintah, termasuk ingin mendalami aspek ibadah lainnya, dipersilahkan mengikuti pembimbingan di KBIH. Tentu saja ada biaya tambahan yang disepakati bersama,” tambahnya.

Kemenag dan KBIH, menurut Ali akan terus menjalin sinergi yang berorientasi pada kebutuhan jemaah supaya mereka bisa beribadah dengan khusu’ dan memperoleh haji mabur. Kehadiran KBIH menjadi salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam pembinaan ibadah haji.

“Penyelenggaraan haji itu menjadi tugas nasional yang tidak bisa dilepaskan dari peran pemerintah dan masyarakat. Oleh karena itu sukses haji, sukses bersama bangsa Indonesia,” tandasnya. (mkd/mkd)

 

sumber: Kemenag RI

Masa Tunggu Haji Puluhan Tahun, Warga Pilih Umrah

Umrah kian diminati di tengah masa tunggu keberangkatan haji yang mencapai puluhan tahun. Di Kota Malang dan sekitarnya, sejumlah biro perjalanan umrah menyatakan warga yang mendaftar umrah meningkat dalam beberapa tahun belakangan.

Nabil Adam Bakthier, marketing di biro umrah dan haji Sahara Tour and Travel mengungkapkan, selama 2016, biro tersebut memberangkatkan sekitar 700 jamaah umrah asal Malang dan Surabaya. “Dalam dua hingga tiga tahun terakhir jumlah jamaahnya makin meningkat,” jelas Nabil kepada Republika.co.id, belum lama ini.

Setiap bulan, biro ini memberikan kuota 100 jamaah umrah khusus untuk Surabaya dan Malang. Sementara sisanya berasal dari kota-kota lain seperti Lamongan, Gresik, Jember, Bondowoso, Mojokerto, dan Probolinggo.

Menurutnya, waktu tunggu haji yang lama membuat masyarakat memilih berangkat umrah. Apalagi saat ini menjamurnya biro umrah membuat harga makin bersaing. “Waktu favorit untuk umrah biasanya saat Ramadhan dan akhir tahun,” ujar Nabil.

Ungkapan senada juga dilontarkan oleh Weni Anggraeni. Kepala Marketing biro umrah Patuna inii mengatakan, dalam sebulan minimal ada dua hingga lima jamaah umrah berangkat dari Malang. “Semua jamaah berkumpul di Jakarta karena kantor punya banyak cabang di daerah,” kata Weni.

Berdasarkan data kantor Kemenag Kota Malang 2016, masa tunggu keberangkatan haji di kota ini mencapai 20 tahun. Setiap bulan terdapat sekitar 100 orang yang mendaftar haji di Kemenag Kota Malang.

Kementerian Agama telah menetapkan adanya penambahan kuota haji tahun 1438 H/2017 M. Tahun ini, kuota haji mencapai 221 ribu orang dari sebelumnya 168.800 orang. Tahun ini kuota keberangkatan haji terdiri atas kuota haji reguler 204 ribu orang dan kuota haji khusus 17 ribu orang.

Sebelum adanya penambahan kuota, jamaah haji Kota Malang yang berangkat tahun ini sebanyak 951 orang. Kini setelah kuota haji bertambah dijadwalkan ada 1.127 calhaj yang akan berangkat dari Kota Malang pada 2017.

 

sumber:Ihram.Co.id

 

———————————————————————————
Umrah Resmi, Hemat, Bergaransi
(no MLM, no Money Game, no Waiting 1-2 years)
Kunjungi www.umrohumat.com
atau hubungi handphone/WA: 08119303297
———————————————————————————

Kuota Haji 221 Ribu Sesuai Komitmen Saudi

IHRAM.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Agama menetapkan total kuota haji 1438 H/2017 M sebanyak 221 ribu jamaah. Kuota ini sesuai komitmen Arab Saudi yang mengembalikan kuota normal, plus kuota tambahan 10 ribu jamaah.

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Abdul Djamil mengatakan, tambahan kuota 10 ribu itu adalah komitmen Kerajaan Saudi. Saudi berbeda dengan Indonesia, sehingga jangan mengukur Saudi dengan ukuran Indonesia.

“Tambahan kuota 10 ribu itu komitmen sungguh-sungguh dan disampaikan dalam forum terbuka. Tambahan kuota 10 ribu itu pun berawal dari kunjungan Presiden Joko Widodo ke Saudi. ”Jadi jangan diabaikan, berprasangka baik. Kalau jadi lalu diabaikan, sayang sekali,” kata Djamil, Rabu (22/2).

Komitmen itu disampaikan pejabat setingkat menteri. Menteri Haji Saudi juga sudah setuju dan sudah dikonfirmasi berkali-kali. Kalau sampai saat belum ada surat, kata Djamil, itu hal di internal Saudi yang tidak Kemenag tahu.

Kementerian Agama menetapkan bahwa kuota haji 1438H/2017M sebesar 221 ribu. Ketetapan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 75 Tahun 2017 tentang Penetapan Kuota Haji Tahun 1438H/2017M.

KMA 75/2017 ini juga mengatur bahwa kuota haji reguler terdiri atas kuota jemaah haji reguler sebanyak 202.518 orang dan kuota petugas haji daerah (TPHD) sebanyak 1.482 orang. Sedangkan kuota haji khusus terdiri atas kuota jamaah sebanyak 15.663 orang dan kuota petugas sebanyak 1.337 orang.

Pembagian kuota bervariasi dari satu provinsi ke provinsi lain. Dari 33 provinsi, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur mendapat kouta haji reguler terbanyak di atas 30 ribu. Sementara Nusa Tenggara Timur mendapat kuota paling paling sedikit yakni 670 yang terdiri atas 665 untuk jamaah reguler dan lima orang untuk petugas. Kuota Jawa Barat merupakan yang terbanyak yakni 38.852 orang yang terdiri atas kuota TPHD 259 orang dan jamaah haji reguler 38.593 ribu.

 

IhramCoID

Alhamdulillah…

Arab Saudi Pulihkan Kuota Haji Tahun Ini

Pemerintah Arab Saudi telah memutuskan mengembalikan kembali kuota jamaah haji untuk tahun ini. Sebelumnya, pengurangan kuota jamaah haji telah diberlakukan selama lima tahun belakangan.

Wakil Perdana Menteri dan Menteri Dalam Negeri Arab Saudi, yang juga Ketua Komite Haji, Putra Mahkota Muhammad Bin Naif, sepakat untuk mengembalikan kuota haji yang ada sebelum pemotongan. Dia pun berterima kasih kepada Raja Salman yang kembali menaikkan kuota baik bagi calon jamaah baik dari dalam maupun luar negeri.

Dia mengatakan, bahwa pihak yang berwenang telah melakukan persiapan untuk menerima jumlah tambahan calon jamaah untuk musim haji yang akan datang. Sebelumnya, otoritas yang berwenang memberlakukan pemotongan kuota 20 persen untuk calon jamaah dari luar negeri. Angka tersebut berlaku bagi masing-masing negara.

Sementara jumlah orang yang diizinkan untuk melakukan haji dalam Kerajaan Arab Saudi berkurang 50 persen. Pengurangan kuota tersebut untuk menjamin keamanan dan kenyamanan selama renovasi di sekitar Kabah dan beberapa proyek besar di tempat suci.

Muhammad bin Naif meminta, semua kementerian terkait bersiap-siap menerima sejumlah besar jamaah untuk haji mendatang. Dia memerintahkan, agar pemulihan kuota dilakukan secara bertahap.

Jumlah calon jamaah yang datang dari masing-masing negara akan ditentukan oleh Kementerian Haji dan Umrah. Namun, dia meyakinkan bahwa kuota setiap negara akan tetap utuh. Berdasarkan sistem kuota yang mulai berlaku pada dekade lalu, setiap negara diperbolehkan mengirimkan 1.000 warganya setiap musim haji.

Sejumlah perwakilan negara di Jeddah ikut mengapresiasi adanya pemulihan kuota haji. Salah satunya Konsul Jenderal India Mohammed Noor Rahman Sheikh. Menurut dia, itu adalah langkah besar. “Komite Haji India bisa mengakomodasi hanya seperempat dari pelamar setelah dipotong kuota. Kuota dikurangi untuk calon jamaah di bawah Komite Haji adalah 100.020 orang, tetapi jumlah pelamar melebihi 400 ribu orang tahun lalu,” ujarnya seperti dikutip Kashmir Reader, Ahad (8/1).

Sebanyak 136.020 jamaah India melakukan haji selama lima tahun terakhir setelah pengenaan pemotongan kuota pada 2012. Sebanyak 100.020 orang di bawah Komite Haji dan 36 orang lainnya datang melalui operator tur pribadi. Kuota India untuk haji 2012 adalah 170 ribu, tetapi kemudian pemerintah mengurangi kuota sebesar 20 persen.

 

sumber: Ihram.co.id


Download Aplikasi CEK HAJI, klik di sini!

Haji Berbekal Tawakal kepada Allah

Hatim Al-Asham adalah seorang fakir, tapi sangat zuhud dan mempunyai keimanan yang sangat kuat kepada Allah SWT. Seperti keluarga lain, ia pun mempunyai keluarga yang menjadi tanggungannya. Bahkan, keluarga ini menjalani kehidupan sehari-hari dalam keadaan sulit.

Pada suatu malam, ia duduk bersama teman-temannya membicarakan tentang haji dan ziarah ke Baitullah. Obrolan itu sedemikian berkesan dalam hatinya sehingga mendambakan untuk bisa berhizrah ke Baitullah.

Ia pulang ke rumah dan menyampaikan kepada keluarganya tentang keinginanya untuk berziarah ke Baitullah. “Jika kalian setuju aku pergi berziarah ke Baitullah, aku akan  mendoakan kalian.”

Istrinya berkata, “Dalam keadaan kita yang fakir dan keluargamu yang banyak ini, hendak kemana engkau pergi? Ziarah ke Baitullah hanya wajib bagi orang yang mampun (kaya).”

Anak-anaknya pun setuju atas apa yang dikatakan oleh ibu mereka, kecuali seorang putrinya yang kecil. Putri kecil ini berkata, “Apa yang akan terjadi jika kita memberi izi pada ayat untuk berangkat? Biarkan ayah pergi kemana pun yang ia inginan. Pemberi rezeki kita adalah Allah, sedangkan ayah hanyalah perantara rezeki itu. Allah Maha Kuasa menyampaikan rezeki kita dengan perantara lainnya.”

Mendengar kata-kata si kecil itu, semua anggota keluarga mnejadi sadar dan membenarkannya. Mereka pun mengizinkan ayah mereka (Hatim) berziarah ke Baitullah. Hatim-pun sangat bahagia. Disiapkannya perbekalan bepergian jauh (safar) dan berangkat bersama kafilah haji.

Para tetangga datang ke rumahnya. Merek apun melontarkan kata-kata celaan, “Mengapa dalam keadaan kalian yang miskin justeru kaliang membiarkan dia berangkat? Perjalanan jauh ini akan memakan waktu beberapa bulan. Dari mana kalian mendapatkan rezeki untuk menanggung kebutuhan hidup kalian?”

Keluarga Hatim jadi terpengaruh oleh celaan tetangga dan seolah-olah mereka menyalahkan puteri kecil, “Andai saja kamu tidak bicara dan bisa menjaga lisanmu pada waktu itu, tentu kami semua juga tidak mengizinkan ayah bepergian jauh.”

Sang putri sedih mendengarkan perkataan mereka. Ia menegadahkan tangak ke langit dan berdoa, “Tuhanku, mereka ini terdidik dengan keutamaan dan kemuliaan serta mensyukuri nikmat-Mu, janganlah Engkau abaikan mereka, dan jangan engkau permalukan aku di hadapan mereka.”

Saat mereka kebingungan memikirkan bagiamana mendapatkan nafkah hidup, tiba-tiba Amir (pemimpin) di kota itu baru kembali dari berburu. Ia kehausan lalu pengawalnya pergi ke pintu rumah Hatim untuk mendapatkan air. Mereka mengutuk pintu rumah. Lalu dari bilik pintu, isteri Hatim bertanya, “Apakah keperluan kalian?” Mereka menjawab, ‘Amir sedang berdiri di depan pintu rumah Anda, minta sedikit air dari Anda (untuk menghilangkan dahaga).”

Wanita itu panik. Ia memandang ke langit seraya berdoa, “Tuhanku, semalam kemi dalam keadaan lapar, sedangkan saat ini Amir memerlukan bantuan kami meminta air kepada kami.” Kemudian wanita itu memenuhi sebuah wadah dengan air. Dibawanya kepada Amir sambil memohon maaf karena wadahnya terbuat dari tanah liat.

Amir bertanya kepada para pengawal, “Rumah siapa ini? Mereka menjawab, ini rumah Hatim Al-Asham, salah seorang  zahid di kota ini. Kami dengar ia sedang safat ke Baitullah, sementara hidupnya dalam kesusahan.” Lalu Amir berkata,”Kita telah menyusahkan mereka. Rasalnya tidak pantas jika seorang seperti kita menyusahkan kaum yang lemah dan menambah beban di pundak mereka.”

Maka segera Amir membuka ikat pinggang dan dilemparkannya ke dalam rumah itu seraya berkata kapada para pengawalnya, “Yang mencintaiku hendaknya melempasrkan ikat pinggangnya ke dalam rumah.” Semua pengawal melepaskan ikat pinggang emas mereka dan melemparkannya ke dalam rumah. Ketika hendak pulang Amir berkata, “Semoga Allah memberkati kalian hai keluarga. Nanti anak buahku akan menghitung berapa harga dari semua ikat pinggang ini dan menguangkannya untuk kalian.” Amir dan rombongannya pun pergi sambil mengucapkan salam.

Beberapa saat kemudian, salah seorang anak buah Amir kembali ke rumah keluarga Hatim dengan membawa uang hasil penjualan semua ikat pinggang. Si puteri kecil pun menangis karena peristiwa itu. Anak buah Amir bertanya, “Mengapa engkau menangis? Seharusnya engkau bahagia, sebab Allah dengan rahmat-Nya telah memberikan keluasaan kepada kalian?” Sang puteri berkata, “Saya menangis karena semalam kami tidur dalam keadaan lapar, dan hari ini seseorang datang memperhatikan kami. Berarti setiap waktu Allah yang Maha Penyayang mencurahkan perhatiannya kepada kami. TIdak ada sesaat pun Allah berpaling dari kami.”

Kemudian dia mendoakan ayahnya, “Ya Allah, sebagaimana Engkau curahkan perhatian-Mu kepada kami dan telah Engkau atasi urusan kami, maka mohon curahkan juga kasih sayang-Mu kepada ayah kami dan tolonglah urusan-Nya.” Ketika itu, Hatim berada di tengah kafilah. Tidak ada orang yang lebih miskin darinya. Ita tidak mempunyai kendaraan yang dpaat ditungganginya dan tidak punya bekal yang memadai. Orang-orang yang mengenalnya terkada memberi bantuan kecil kepadanya.

Pada suatu malam, pemimpin kafilah tertimpa sakit. Dokter tak mampu mengobatinya. Lalu ia bertanya, “Adakah orang di antara kafilah yang ahli ibadah dan bisa mendoakanku?” Mereka berkata, “Ada Hatim Al-Asham, seorang lelaki tua yang zuhud. Ia ada bersama kita.” Kata pemimpin kafilah, “Cepat panggil dia.” Para pelayan laki-laki mengantarnya ke hadapan pemimpin mereka.

Hatim mengucapkan salam dan duduk di samping pembaringan pemimpin kafilah itu. Hatim mendoakannya dan Allah memberi kesembuhan penyakitnya. karena itu, pemimpin kafilah menjadi senang dan mempehatikannya. Ia pun memerintahkan agar menyediakan kendaraan untuk Hatim. Semua kebutuhan perjalanannya ditanggung oleh pemimpin kafilah itu. Hatim bersyukur kepada Allah SWT. Ia tiada henti bermunanjat pada Allah.

Suatu saat, di dalam tidurnya ada yang menyer kepadanya, “Hai Hatim, orang yang mengerjakan amal shaleh dan bersandar kepada Allah, maka Allah pun akan meliputinya dengan karunia. Kini, janganlah engkau merisaukan keluargamua, karena Allah telah memberikan penghidupan kepada mereka.” Ia terbangun dari tidurnya lalu memuji dan bersyukur kepada Allah.

Kisah Hatim Al-Asham ini disadur dari ‘Kisah-kisah Pertolongan Allah’, karya Mahdi Shahih Hunar, yang ditulis ulang dalam buku ‘Misteri Wukuf di Arafah oleh Ustaz Muhammad Rusli Amin dan diterbitkan oleh Pustaka Al-Mawardi.

 

 

sumber: Republika Online

Dubes Arab: Jumlah Kuota Haji Sesuai Populasi Muslim Tiap Negara

Pemerintah berharap kuota jamaah haji Indonesia dapat bertambah. Namun, Duta Besar Kerajaan Saudi Arabia untuk Indonesia, Osama Mohammed Al-Shuibi, menegaskan, bahwa jumlah kuota jamaah haji sesuai dengan jumlah penduduk Muslim di masing-masing negara.

“(Kuota jamaah haji) sesuai dengan jumlah populasi Muslim tiap negara. Jadi tiap negara sama, meskipun kami berharap bisa memberikan tambahan kuota haji, tetapi kami juga mempertimbangkan kebutuhan semua negara,” kata Osama di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (15/11).

Menurutnya, Arab Saudi juga telah memberikan tambahan kuota pada akhir tahun lalu. Ia pun berjanji, jumlah kuota jamaah haji akan kembali normal setelah renovasi di Makkah selesai dilakukan. “Insya Allah setelah selesai renovasi kuota jamaah haji akan kembali normal,” kata dia.

Terkait permintaan tambahan kuota dari negara yang kuota jamaah hajinya tidak terserap secara maksimal, Osama menyampaikan, hal tersebut tak dapat dilakukan. Kuota jamaah haji negara lain hanya diperuntukkan untuk negara tersebut. Mengambil tambahan kuota dari negara lain, kata dia, akan menyebabkan sejumlah masalah.

“Kuota jamaah haji Filipina hanya untuk Filipina, bukan untuk Indonesia. Mencampur kuota jamaah haji dengan negara lain akan menyebabkan masalah dengan negara lain. Biasanya, juga tiap negara akan menjaga kuota jamaah hajinya untuk masyarakatnya,” ucap Osama.

Sedangkan terkait visa berbayar 2.000 riyal untuk jamaah umrah, dia mengaku, tak membahasnya dengan Wapres JK. Menurutnya, pertemuannya dengan Wapres JK dilakukan untuk meningkatkan hubungan bilateral antar-negara di berbagai sektor, seperti kebudayaan dan juga investasi bagi pengusaha Arab Saudi di Indonesia.

Sejak Arab Saudi melakukan renovasi besar-besaran, kuota haji bagi seluruh negara dipotong 20 persen pada 2013. Kuota haji normal bagi Indonesia tadinya sekitar 211 ribu orang, namun setelah dikurangi 20 persen menjadi 168.800 jamaah, terdiri dari 155.200 orang untuk haji reguler dan 13.600 bagi haji khusus.

Sebelumnya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pun juga meminta kuota jamaah haji Indonesia pada penyelenggaraan haji tahun depan dapat kembali normal.

 

 

sumber: Republika Online