Rezeki Sudah Dijamin jangan Cari yang Haram

ALLAH Taala adalah (Ar-Razzaq [Yang Banyak Memberi rezeqi]) karena merupakan bentuk mubalaghah (penyangatan) dari kata (Pemberi rezeki), maka ini menunjukkan kepada makna banyak. Yaitu menunjukkan banyaknya rezeki yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya dan juga menunjukkan banyaknya hamba-hamba-Nya yang mendapatkan rezeki tersebut.

Sehingga (Ar-Razzaq) artinya Yang Banyak Memberi rezeqi. Dia memberi rezeki yang satu kemudian rezeki yang lain dalam jumlah yang sangat banyak untuk seluruh makhluk-Nya.

Setiap makhluk yang berjalan di muka bumi ini pasti diberi rezeki, sebagaimana firman Allah Taala,

Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya (Huud: 6).

Syaikh Abdur Rahman As-Sadi rahimahullah berkata,

Maksudnya, seluruh yang berjalan di muka bumi ini, baik dari kalangan manusia (keturunan Nabi Adam alaihis salam), maupun binatang, baik binatang darat maupun laut, maka Allah Taala telah menjamin rezeki dan makanan mereka. Jadi, rezeki mereka dijamin oleh Allah (Tafsir As-Sadi, hal. 422).

Berarti kita harus meyakini bahwa rezeki kita sudah dijamin oleh Allah Taala. Bahkan rezeki kita telah ditulis sebelum kita terlahir di dunia ini. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Kemudian diutuslah Malaikat kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Rezeki yang telah ditulis untuk kita pasti akan sampai ke kita. Tidaklah mungkin satu suap makanan yang sudah menjadi jatah kita akan masuk ke mulut orang lain. Seseorang tidaklah akan mati jika masih ada satu butir nasi saja yang menjadi jatahnya belum ia makan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Wahai manusia bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, karena tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya, walau lambat rezeki tersebut sampai kepadanya, maka bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram (HR. Ibnu Majah, dan Syaikh Al-Albani menshahihkannya).

Seandainya sekarang seluruh manusia bersepakat untuk menghalangi rezeki yang yang telah Allah tetapkan untuk Anda, maka pastilah mereka akan gagal. Sebaliknya, sekarang seandainya seluruh manusia bersepakat untuk memberi Anda sesuatu yang tidak Allah tetapkan untuk Anda, maka pastilah mereka tidak akan mampu melakukannya.

Ya Allah, tidak ada satupun yang mampu mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak pula ada satupun yang mampu memberi sesuatu yang Engkau cegah (HR. Al-Bukhari dan Muslim, serta yang lainnya).

Jatah rezeki Anda sudah ditetapkan, maka tidak ada alasan bagi Anda untuk merasa kekurangan. Bukankah tidak ada satu pun dari makhluk yang mampu mengurangi jatah rezeki Anda? Jika demikian, maka tidak mungkin jatah Anda bisa berkurang. Mengapa harus merasa kekurangan?

Jika Anda mengatakan Tapi, rezeki yang saya dapatkan sedikit, jadi saya merasa kurang, cari rezeki halal sulit dan lama kayanya! Saya ingin cepat kaya! Rezeki haram lebih cepat dan mudah didapat, apa boleh buat! Maka kami katakan kepada Anda Mengapa harus menerjang yang haram padahal rezeki telah dijatah?

Ketahuilah! Bahwa orang yang merasa tidak puas dengan rezeki halal yang didapatkannya selama ini dan merasa kurang, lalu mencarinya dengan cara yang haram, ini setidaknya ada tiga kemungkinan:

Ia malas mencari rezeki dengan cara yang halal atau kurang sungguh-sungguh dalam bekerja.

Ia sudah bekerja maksimal dalam mencari rezeki yang halal, tapi masih merasa kurang.

Ia sudah kaya, tapi masih pula merasa kurang.

Nasihat untuk orang yang pertama, hakikatnya ia sangatlah tidak pantas merasa kekurangan, karena ia belum berusaha dengan maksimal. Adapun untuk orang yang kedua dan ketiga, maka setidaknya ada dua kemungkinan penyebabnya:

-Ia sudah tahu sikap dan prinsip hidup seorang muslim yang benar dalam masalah rezeki, lalu nekad melanggarnya.

-Kurang atau tidak tahu sama sekali tentang sikap dan prinsip itu, sehingga ia terjatuh kedalam pelanggaran.

-Wabillaahi nastaiin, penjelasan berikut, semoga bisa menjadi obatnya.

Sikap yang benar terhadap rezeki

1. Rezeki atas kehendak Allah Azza wa Jalla

Sikap yang harus dimiliki oleh setiap muslim terhadap rezeki adalah Allah-lah satu-satunya Sang Pemilik dan Pemberi rezeki hamba-hamba-Nya. Maka di dalam membagikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, sesuai dengan kehendak-Nya. Allah memberi sebagian makhluk dan mencegah pemberian untuk sebagian yang lain sesuai dengan ilmu, hikmah (kebijaksanaan), dan keadilan-Nya. Demikian juga masalah banyaknya rezeki yang diberikan kepada para hamba-Nya, Allah memberikan kepada sebagian mereka rezeki yang banyak, sedangkan kepada sebagian yang lain sedikit saja.

Semua terserah Allah Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana, Allah tidak akan pernah zalim kepada mereka. Karena semuanya sesuai dengan ilmu,hikmah (kebijaksanaan) dan keadilan-Nya. Oleh karena itu Allah berfirman,

Dan Allah memberi rizki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas (Al-Baqarah: 212).

Syaikh Abdur Rahmn bin Nashir as-Sadi rahimahullah menjelaskan,

Tatkala rezeki duniawi maupun rizki akhirat tidak akan dapat diperoleh kecuali dengan takdir Allah dan tidak bisa didapatkan kecuali dengan kehendak Allah, maka Allah pun berfirman {} (Tafsir As-Sadi, hal. 95).

Allah Maha Mengetahui tentang orang yang jika dikayakan, maka kekayaannya membuatnya melupakan Allah. Dan Allah pun Maha Mengetahui bahwa ada orang yang jika dijadikan miskin, ia mampu bersabar dan beribadah kepada-Nya.

Jika ini dipahami, maka seorang hamba tidak protes terhadap jatah rezekinya, bahkan qonaah (menerima dan rela) atas jatah rezekinya sembari meyakini bahwa hal ini adalah pilihan Allah yang terbaik baginya. Ia meyakini juga bahwa Allah lebih mengetahui dan lebih sayang terhadap diri hamba-Nya daripada hamba itu sendiri. Dengan demikian ia tidak nekad menerjang yang haram. Walaupun rezeki halal yang diperolehnya sedikit, namun itu adalah yang terbaik bagi dirinya.

2. Tujuan penciptaan (tujuan hidup) dan tujuan pemberian rezeki

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata

Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk hanya untuk beribadah kepada-Nya dan Allah menciptakan rezeki untuk mereka semata-mata agar mereka gunakan rezeki tersebut untuk beribadah kepada-Nya (Majmuul Fatawa Imam Ibnu Taimiyyah, kitabul Iman, dari http://madrasato-mohammed.com/book232.htm).

Jika seseorang tahu tujuan hidupnya dan tujuan Allah memberinya rezeki, maka ia akan membenci rezeki haram dan tidak mau mencari rezeki haram, karena rezeki haram tidak bisa ia gunakan untuk beribadah kepada Rabbnya, bahkan menyebabkan datangnya siksa Allah. Jika memperoleh rezeki yang halal pun ia tidak gunakan secara berlebihan, sehingga ia merasa cukup dengan rezeki yang halal dan tidak membutuhkan rezeki yang haram.

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa sikap seorang mukmin yang benar berbeda dengan sikap hidup orang-orang kafir:

Lain halnya dengan seorang mukmin, meskipun mendapatkan perolehan dunia (yang halal) dan kesenangannya, namun tidak akan ia pergunakan untuk bersenang-senang semata, dan tidak akan ia pergunakan untuk menghilangkan kebaikan-kebaikannya selama hidup di dunia. Tetapi akan ia pergunakan perolehan dunia (yang halal) itu untuk memperkuat diri dalam mencari bekal di akhiratnya kelak (Miftahu Daris Saadah, Ibnul Qoyyim, hal. 197).

Jadi, profil seorang mukmin adalah boro-boro mencari rezeki yang haram, memperoleh rezeki yang halal saja, ia pergunakan dengan baik untuk beribadah kepada Allah.

3. Memahami hakikat Allah memberi dan mencegah rezeki

Orang yang tidak puas dengan rezeki halal yang didapatkannya, padahal ia sudah berusaha mencarinya dengan maksimal, lalu ia mengikuti hawa nafsunya dengan mencari rezeki dengan cara yang haram, maka hakikatnya ia tidak memahami hakikat perbuatan Allah memberi dan mencegah rezeki. Ketahuilah, bahwa Allah tidaklah sama dengan makhluk-Nya, Allah berfirman:

Tidak ada sesuatupun yang sama dengan Dia (Asy-Syuuraa:11).

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan tentang hakikat Allah memberi dan mencegah rezeki,

Demikianlah Ar-Rabb (Allah) Subhanahu, tidaklah mencegah hamba-Nya yang beriman mendapatkan sesuatu dari dunia, melainkan memberinya rezeki yang lebih utama dan lebih bermanfaat, dan hal itu tidaklah didapatkan oleh selain Mukmin. Karena sesungguhnya, Allah mencegah seorang mukmin dari mendapatkan suatu jatah rezeki yang rendah dan sepele dan tidak meridhoi itu untuknya dengan tujuan untuk memberinya bagian rezeki yang lebih tinggi dan mahal. Sedangkan seorang hamba, disebabkan ketidaktahuannya terhadap perkara yang bermanfaat bagi dirinya dan terhadap kedermawanan, kebijaksanaan dan kelembutan Rabb nya, maka ia tidak mengetahui perbedaan antara sesuatu yang ia tercegah dari mendapatkannya, dengan sesuatu yang disimpan untuknya, bahkan ia sangat tergiur dengan kenikmatan (duniawi) yang disegerakan walaupun rendah nilainya, dan (sebaliknya) begitu rendahnya kecintaannya kepada kenikmatan (abadi/pahala) yang ditunda walaupun tinggi nilainya. Kalau seandainya, seorang hamba itu bersikap adil dalam memandang Rabb nya -namun, kapankah ia bisa bersikap demikian?- tentu ia akan mengetahui bahwa karunia-Nya untuknya yang terdapat di dalam pencegahan-Nya (kepadanya) dari (mendapatkan) dunia dan kelezatannya serta kenikmatannya hakikatnya lebih agung daripada karunia-Nya untuknya yang terdapat di dalam pemberian-Nya berupa dunia tersebut. Jadi, tidaklah Allah mencegah hamba tersebut (dari mendapatkan sebagian dari dunia) kecuali untuk memberinya (rezeki yang lebih tinggi), tidaklah menimpakan kepadanya cobaan kecuali untuk menjaganya (dari keburukan), tidaklah mengujinya kecuali untuk mensucikannya (dari dosa), tidaklah mematikannya (di dunia) kecuali untuk menghidupkannya (di Surga) (Fawaidul Fawaid , libnil Qoyyim, Syaikh Ali Hasan Al-Halabi, hal. 83).

4. Jenis rezeki yang terpenting

Dalam artikel Macam-macam rezeki dan Faidah dari mengimani Nama (Ar-Razzaaq), telah disebutkan perbedaan antara rezeki umum dengan yang khusus, sebagai berikut kesimpulannya:

Rezeki Allah terbagi dua umum dan khusus.

Rezeki umum terbagi dua, halal dan haram. Berarti orang kafir atau muslim yang fasik, yang mencari atau memakan rezeki yang haram, ia dikatakan telah terpenuhi jatah rezekinya, namun ia tetap dikatakan berdosa karena mencari atau memakan rezeki yang haram.

Rezeki khusus terbagi dua, rezeki hati (ilmu dan amal) dan badan (rezeki dunia yang halal).

Rezeki hati adalah tujuan terbesar dan yang terpenting, sedangkan rezeki badan adalah sarana menuju kepada tujuan terbesar tersebut, maka jangan terlena dengan sarana dan lupa tujuan.

Barangsiapa diberi dua macam rezeki khusus sekaligus, berarti kebutuhannya telah tercukupi dengan sempurna, baik kebutuhan beragama Islam maupun kebutuhan jasmaninya. Dia menjadi hamba Allah yang berbahagia di dunia dan Akhirat.

Dari penjelasan di atas, dapat kita pahami bahwa rezeki hati, berupa ilmu dan amal adalah tujuan terbesar dan yang terpenting, sedangkan rezeki badan, berupa rezeki dunia yang halal adalah sarana tercapainya tujuan terbesar itu, maka harusnya,

-Yang menjadi perhatian utama seorang hamba adalah mendapatkan rizki hati berupa ilmu, petunjuk,iman dan amal.

-Mencari rezeki badan (duniawi) bagi seorang mukmin, tidak lepas dari konteks mencari rezeki yang terpenting, yaitu rezeki hati (ilmu dan amal), karena rezeki badan sarana bagi rezeki hati, ditambah lagi bahwa tujuan pemberian rezeki adalah untuk digunakan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.

-Tidak mencari rezeki yang haram, karena terdapat ancaman yang keras bagi pelakunya.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang akibat pekerjaan yang haram, silahkan Anda membaca tulisan Al-Ustadz Muhammad Tausikal hafizhahullah di http://rumaysho.com/muamalah/mencari-pekerjaan-yang-halal-9616.

[Ustaz Said Abu Ukasyah]

INILAH MOZAIK

Ternyata Ada Lipstik Berbahan Cacing, Apa Hukumnya?

Penggunaan cacing untuk pengobatan dan kecantikan merupakan salah satu metode kuno yang banyak dipergunakan dalam sejarah peradaban manusia. Tak terkecuali di dunia kecantikan modern. Ekstrak cacing ternyata juga menjadi salah satu bahan penting yang tak pernah dilewatkan.

Seperti apakah penggunaan cacing dalam kosmetik? Direktur Halal Centre Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir Nanung Danar Dono menjelaskan, ada tiga macam pigmen cacing yang harus diperhatikan. Pertama, pigmen darah yang berwarna merah, berwarna hijau dan tidak berwarna. Yang berwarna hijau merupakan jenis pigmen yang bisa menyala di kegelapan, yang ternyata telah digunakan ahli-ahli kosmetik di Jepang untuk lipstik.

Lipstik yang menggunakan bahan itu biasanya biasa saja ketika dipakai, tapi terlihat sangat menarik dari kejauhan atau kegelapan. Terkait hukumnya, Nanung merasa harus disesuaikan kepada masing-masing orang.

“Ini kaidah fikih, ulama berpendapat kalau kita jijik terhadap cacing kita tidak boleh menggunakan itu,” kata ujar Nanung yang juga auditor halal LPPOM Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY itu saat mengisi Kajian Halal Class di Masjid Suciati Saliman, Rabu (21/11).

Salah satu rujukan yang dapat digunakan tidak lain hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik tentang Khalid bin Walid yang disuguhkan daging dhab. Nanung berpendapat, kisah itu bisa menguatkan pemahaman terkait kasus di atas.

Menurut Nanung, ada memang hewan-hewan yang tidak masalah untuk dimakan, tapi haram dimakan jika kita merasa jijik terhadapnya. Kondisi itu dirasa bisa jadi panduan terhadap kandungan seperti pigmen cacing yang menjadi bahan kosmetik.

Lantas bagaimana dengan pendangan fikih terhadap penggunaan ekstrak cacing dalam kosmetik? Menurut Mazhab Syafii, hukum mengonsumsi cacing dan menggunakan ekstraknya tidak diperbolehkan. Pengharaman ini kembali kepada fakta bahwa, cacing termasuk binatang yang menjijikkan (khabaits). “Dan Allah menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS al A’raf: 157).

Sementara, menurut Mazhab Maliki, konsumsi cacing hukum dasarnya adalah  halal. Namun, konsumsi ini tidak boleh jika ada unsur yang membahayakan.

Fatwa MUI yang dirilis pada tahun 2000 menyebutkan, terdapat dua pandangan hukum terkait dengan mengonsumi atau menggunakan ekstrak cacing. Pendapat Imam Malik, Ibn Abi Laila, dan al-Auza’i menghalalkan memakan cacing sepanjang bermanfaat dan tidak membahayakan. Namun, ada pula yang mengaramkan konsumsi cacing, seperti Imam Syafi’i.

Dalam fatwa MUI itu juga disinggung hukum membudidayakan cacing untuk diambil manfaatnya, tidak untuk dimakan. Aktivitas tersebut dinyatakan tidak bertentangan dengan hukum Islam.

KHAZANAH REPUBLIKA

Apa Arti Halal?

Dewasa ini banyak diskusi ihwal apakah makanan ini dan itu halal atau tidak. Bagi seseorang yang memilih makanan halal berdasarkan agama dan budaya, kepastian itu sangat penting.

Diskusi halal tak jauh dari restoran, layanan pesan antar, kafe, dan cemilan.Tim media Brimingham Mail mencoba menjabarkan apa itu makanan halal? Apa bedanya dari makanan lainya?

Apa arti halal?

Halal berarti ‘diperbolehkan’ dalam bahasa Arab. Kata itu menggambarkan apapun yang diperbolehkan berdasarkan hukum Islam.

Meski paling sering digunakan untuk menggambarkan makanan dan minuman, halal bisa merujuk pada objek atau aktivitas. Kemudian, Islam menyebut hal yang tak diizinkan sebagai haram.

Apa makanan dan minuman yang tidak dibolehkan?

Alquran melarang umat Islam mengkonsumsi daging babi, darah, dan bangkai. Pun kitab suci umat Islam itu juga melarang Muslim memakan hewan yang meninggal akibat dicekik, dipukuli, atau jatuh. Selain itu, Islam melarang umatnya memakan hewan yang dikorbankan di altar.

Daging binatang harus disembelih atas nama Allah SWT. Sehinga, hewan yang dibunuh tanpa menyebut nama Allah SWT, haram dikonsumsi.

Hal yang memabukkan, seperti alkohol juga tidak diperbolehkan. Selain itu, kosmetik, obat-obatan, dan produk kesehatan juga harus bebas dari zat terlarang.

Apa tanaman dan hewan boleh dimakan umat Islam?

Umat Muslim bisa memakan tanaman, buah, sayuran, dan biji-bijian yang tak mengandung zat beracun atau narkotika. Burung apapun bisa dimakan, kecuali burung pemangsa dan bangkai burung. Namun, makhluk terbang lainnya, seperti kelelawar, tidak bisa dimakan.

Hewan halal dipebolehkan, seperti, sapi, domba, kambing, unta, rusa, antelop, dan kelinci. Kendati Islam tak melarang konsumsi kuda, bagal, atau keledai, tetapi memakan hewan-hewan itu menyinggung pemeluk keyakinan lain.

Muslim tidak diijinkan makan daging binatang bertaring atau bergading. Muslim bisa mengkonsumsi hewan laut bersisik. Semua makhluk laut yang akan dikonsumsi, harus dalam keadaan hidup saat diambil dari air.

Umat Islam tidak diperkenankan makan reptil. Pun mereka dilarang makan serangga, kecuali belalang.

Apa yang membuat ayam halal berbeda dengan ayam lainnya?

Muslim diizinkan makan ayam, selama dibunuh menggunakan metode Islam. Muslim biasanya menyebut nama Allah SWT dan menyiapkan pisau tajam untuk memotong leher ayam. Setelah tenggorokan dipotong, darah dibiarkan mengalir.

Muslim tidak diperbolehkan mengkonsumsi darah, pankreas, kandung empedu, kandung kemih, atau organ reproduksi binatang.

Apakah makanan halal lebih sehat?

Menyiapkan makanan menggunakan metode halal dikatakan lebih sehat. Karena darah yang terkuras dari tubuh hewan mengandung bakteri dan racun berbahaya. Daging itu terasa lebih enak, lebih empuk, dan segar lebih lama.

Artikel itu menulis, Muslim mengklaim penolakan terhadap daging babi bukan karena takut terinfeksi cacing parasit. Tidak ada penelitian ilmiah yang dilakukan mengenai efek diet halal terhadap kesehatan manusia.

Adakah keadaan, umat Islam bisa makan makanan yang dilarang?

Ya, jika tidak ada makanan halal yang tersedia. Seorang Muslim diperbolehkan makan makanan tak halal untuk mencegah kematian. Namun, tindakan itu harus benar-benar dalam kondisi terpaksa.

Jadi apa artinya halal?

Kosher atau halal adalah istilah yang digunakan dalam hukum makanan Yahudi yang dikenal sebagai Kashrut. Makanan yang bisa dimakan menurut undang-undang ini disebut halal.

Banyak orang menganggap itu hanya persamaan Yahudi dan Islam tentang halal, tetapi itu tak sama persis. Kesamaannya, kedua agama itu tidak membiarkan pemeluknya memakan daging babi.

 

REPUBLIKA

 

————————————–
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Makanan Halal Penting untuk Anak

Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) DKI berpesan pentingnya menyiapkan makanan halal dan pendidikan berkualitas untuk anak.

Direktur LPPOM MUI DKI Osmena Gunawan mengatakan, persoalan makanan, asupan gizi, membuat banyak orang lupa. Padahal hal sejak di kandungan sudah diasipkan gizi yang halal. Makanan erat kaitannya dengan kehidupan dan itu di Alquran yang disebutkan lebih dari 20 ayat.

“Jadi,yang disuruh makanan dan produk halal karena ini wajib kata Alquran dan manusia wajib memakan dan produksi makanan halal,”katanya saat seminar nasional bertema ‘Peran Penting Profesi dan Mitra Usaha dalam Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dari Kejahatan dan Kekerasan Seksual Serta Penyalahgunaan Narkoba’, di Jakarta, Senin (24/7).

Untuk itu ia meminta para orang tua pilih gizi yang baik dan halal. Memberi anaknya hanya makanan halal. Sehingga, perilaku yang diharapkan muncul dan perilaku buruk berkurang. “Insya Allah anak-anak kita tumbuh sesuai dengan yang diharapkan bangsa,” katanya.

Jadi, kata dia, tidak perlu lagi revolusi mental karena yang diharapkan adalah produk halal.Tidak hanya makanan, ia juga menekankan kosmetik, obat, vaksin juga jangan sampai haram. Ia mencontohkan jika vaksin haji yang disuntikkan haram maka ibadahnya tak akan diterima selama 40 hari selama hajim jadi kedatangannya ke Tanah Suci percuma.

“Jadi ini sebagai tiang pancang utama. Halal dan thoyyib bermanfaat, bergizi, tidak beracun,” katanya.

Ia juga meminta biasanya kalangan ibh yang berbisnis Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengasuh anak sambil jualan supaya pikirkan menjual produk halal agar rezekinya barokah. Ia juga meminta pasangan suami istri setelah menikah merencanakan sang buah hati terdidik dengan baik. Misalnya sekolah di mana, hingga melanjutkan perguruan tinggi di mana.

“Meski tidak bisa dipaksa tetapi pondasi ditekankan ke mana. Biar anak tumbuh sesuai yang kita harapkan,” katanya.

 

REPUBLIKA

Baru 48 Restoran di Indonesia yang Bersertifikat Halal

Indonesia Halal watch (IHW) memang mencatat ada perkembangan siginifikan dari sertifikasi halal di Indonesia. Namun, peningkatan itu rasanya masih belum terbilang maksimal jika dibandingkan jumlah populasi Muslim di Indonesia.

Direktur Eksekutif IHW, Ikhsan Abdullah mencatat, baru ada 48 restoran di Indonesia yang telah bersertifikat halal. Angka ini tentu berbanding sangat jauh dari total restoran yang ada di Indonesia yaitu 3.081 restoran.

Untuk kosmetika, IHW mencatat jumlah yang telah terdaftar di BPOM berjumlah 12.420 sedang yang telah disertifikasi halal baru berjumlah 326. Sementara, obat yang sudah tersertifikasi halal berjumlah 31 dan jamu sebanyak 381.

Untuk produk pangan yang telah terdaftar di BPOM berjumlah 14.027 dan 6.554 produk pangan telah tersertifikasi halal. Ia menambahkan data statistik produk yang mendapat izin edar Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia pada 2016.

Untuk produk makanan dan minuman ada 17.987 (41,1 persen), kosmetika 23.377 (53,5 persen), obat 1.038 (2,4 persen), obat tradisional 2,3 persen dan suplemen makanan 316 (0,7 persen). Selain BPOM, ia turut mencatat data terbaru dari LPPOM-MUI.

Pada tahun 2012, jumlah perusahaan yang ajukan sertifikasi halal ada 626, sertifikat halal 653 dan produk 19.830. Sedang pada tahun 2013, ada 2.362 perusahaan, 2.995 sertifikat dan 80.887 produk.

Untuk 2014, terdapat 2.500 perusahaan, 3.058 sertifikat dan 95.095 produk. Untuk 2015, ada 2.970 perusahaan, sertifikat sebanyak 3.801 dan 126.013 produk. Sementara, pada 2016 ada 2.776 perusahaan, 3.621 sertifikat dan 123.588 produk.

 

REPUBLIKA

Organisasi Akreditasi Halal Internasional Dibentuk

Uni Emirat Arab (UEA) kian mendekati ambisinya menjadi pusat akreditasi halal global. Padar halal global sendiri diprediksi akan mencapai 2,6 triliun dolar AS pada 2020.

Dimunculkannya Kantor Sekretariat Jenderal Forum Akreditasi Halal Internasional (IHAF) di Dubai makin mendekatkan UEA untuk menciptakan jejaring akreditasi halal internasional pertama. IHAF sendiri tengah dalam tahap finalisasi draf aturan hukum pembentukkannya sebagai organisasi melalui sidang umum pada November mendatang.

Usai pengesahan legal, IHAF will akan memperluas kerja sama multi lateralnya dengan negara-negara utama pengekspor pangan halal. IHAF dibentuk oleh 10 anggota termasuk Pusat Akreditasi Dubai, Otoritas Standardisasi dan Metrologi Emirat, Asosiasi Akreditasi Laboratorium Amerika, Dewan Akreditasi Nasional Pakistan, Badan Akreditasi Nasional Spanyol, Pusat Akreditasi GCC, Komite Akreditasi Saudi, Badan Akreditasi Inggri, Sistem Akreditasi Bersama Australia dan Selandia Baru, serta Dewan Akreditasi Nasional Mesir.

”Tingkat pertumbuhan industri halal mengindikasikan bahwa pada 2030 industri ini bisa jadi industri terbesar dunia,” kata Sekretaris Jenderal IHAF, Mohamed Saleh Badri, seperti dikutip The Nationalbaru-baru ini.

Meski standar dan proses halal didasarkan pada prinsip universalitas dan ajaran Islam, industri halal belum jadi penentu dan belum ada satu logo halal yang jadi acuan semua.

”Ada lebih dari 100 logo halal di seluruh dunia. Misi IHAF adalah untuk menyatukan kriteria dan praktik halal serta menciptakan kesepakatan global antar otoritas yang akan memudahkan aliran produk halal antara negara. Dengan begitu, konsumen produk halal bisa lebih percaya,” tutur Badri.

Berdasarkan hasil riset Reuters, belanja Muslim global untuk pangan saja mencapai 1,2 triliun dolar AS pada 2014 dan diprediksi akan mencapai 1,58 triliun dolar AS pada 2020. Pasar halal global dan sektor gaya hidup halal termasuk wisata, fashion, media dan rekreasi, obat-obatan, serta kosmetik mencapai 1,8 triliun dolar AS pada 2014. Nilainya diproyeksikan akan naik menjadi 2,6 triliun dolar AS pada 2020.

Sektor halal global menghadapi tantangan struktural dan operasional di level regulasi, standardisasi, kesesuaian, integrasi rantai pasok, inovasi, riset dan pengembangan, eduksi konsumen dan kesadaran.

”Walau penuh tantangan, tingkat pertumbuhan produk dan jasa halal tumbuh signifikan,” kata Badri.

Karena itu, lanjut Badri, saat ini adalah waktu yang tepat di antara pemerintah dan semua pemangku kepentingan untuk terlibat. Sebab menciptakan standar yang diterima semua adalah soal waktu.

IHAF adalah organisasi mandiri dan menjalankan mandat jejaring badan akreditasi non pemerintah di masing-masing kawasan. Organisasi ini didorong tujuan melindungi konsumen halal, memfasilitasi perdagangan internasional dan membentuk landasan kokoh industri halal global.

 

sumber:Republika Online

Hukum Memakan Makanan Tanpa Label Halal MUI

DI Indonesia, MUI telah mengeluarkan sertifikasi halal bagi berbagai macam produk pangan. Namun, belum semua produk pangan memiliki label halal ini. Bagaimana hukum kita sebagai seorang muslim apabila memakan produk yang belum disertifikasi halal oleh MUI?

Sebenarnya yang lebih tepat memang bukan sertifikat halal, tetapi sebaliknya, yaitu sertifikat haram. Sebab kalau dibandingkan, jumlah makanan yang halal dibandingkan yang haram, tentu jauh lebih banyak yang halal.

Apalagi mengingat kaidah fiqhiyah yang berbunyi: Al-Ashlu fil Asy-ya’i al-ibahah. Artinya, hukum asal segala sesuatu itu boleh. Jadi asumsi dasar kita tentang semua makanan itu seharusnya halal, kecuali yang secara tegas terbukti mengandung unsur-unsur yang tidak dihalalkan. Itu pun setelah melalui uji laboratorium.

Logika bahwa segalanya hukumnya haram kecuali yang dibolehkan itu memang ada di dalam fiqih, tetapi khusus dalam kasus hubungan seksual. Bunyi kaidahnya adalah: Al-Ashlu fil Abdha’i At-Tahrim, artinya bahwa hukum dasar hubungan seksual itu adalah haram. Kecuali lewat jalur yang dibenarkan seperti pernikahan.

Sedangkan dalam masalah hukum makanan, hukum dasarnya adalah halal, kecuali yang tertentu, maka hukumnya haram.

Kalau menggunakan logika sebaliknya, maka lembaga yang memberi sertifikat halal itu akan kehabisan waktu, karena jumlah makanan yang beredar di tengah masyarakat itu tidak terhingga. Bahkan kebanyakan tidak ada mereknya.

Kalau logika berpikirnya adalah bahwa segala sesuatu itu hukumnya haram, kecuali yang ada label halalnya, bagaimana dengan sekian banyak bahan makanan lainnya yang tidak ada ada labelnya? Haruskah kita berangkat dari asumsi bahwa semua produk makanan itu haram? Kecuali yang ada label halalnya?

Bagaimana mungkin kita mengklaim sebuah makanan itu tiba-tiba menjadi haram? Siapakah yang mengharamkannya? Sedangkan kaidah fiqhiyah menyebutkan: Al-Yaqinu Laa Yazuulu bisy-syakki. Artinya, hukum awal yang ditetapkan berdasarkan keyakinan tidak bisa berubah hukumnya hanya berdasarkan rasa syak (keraguan).

Logika ini pun agak kurang sejalan dengan metodologi Alquran dan As-sunah ketika menyampaikan masalah halal haram. Di dalam kedua sumber syariat itu tidak pernah disebutkan satu persatu nama-nama makanan yang halal. Akan tetapi yang disebutkan hanyalah yang haram saja. Mengapa? Karena yang halal itu jumlahnya tak terhingga. Sedangkan yang haram itu jumlahnya tertentu saja dan terbatas.

Namun barangkali lembaga sertifikasi resmi yang ada di negeri ini punya pertimbangan lain yang tidak kita ketahui, wallahu a’lam bishshawab.

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2324554/hukum-memakan-makanan-tanpa-label-halal-mui#sthash.ydNnY15e.dpuf