Antara Bencana dan Hidayah

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS al-Baqarah [2]:155 ).

Setiap orang beriman pasti akan dicoba. Huruf lam pada ayat di atas disebut laamut taukid (lam untuk suatu yang pasti ). Jika laamut taukiddigunakan dalam bahasa Arab sehari-hari, hal itu sesuatu yang biasa. Namun, bila berasal dari Yang Maha Pencipta, hal itu sesuatu yang sangat luar biasa. Artinya, setiap orang yang meyakini syariat agama Islam, melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya tidak akan luput dari musibah dan cobaan.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkomentar: “Bahwa Allah SWT akan mencoba hambanya terkadang dengan hal yang mengembirakan dan terkadang dengan kesusahan berupa rasa takut dan lapar, sedikit, bahkan hilangnya harta benda, meninggalnya para karib kerabat serta sawah ladang yang tidak mendatangkan hasil seperti biasanya.”

Ketika musibah menimpa kita dan saudara-saudara kita, maka ucapan yang seharusnya kita perbanyak adalah Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un(Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah).

”Barang siapa yang membaca istirjaa ketika ditimpa musibah, maka Allah akan mengalahkan musibahnya, memberikan balasan yang baik kepadanya dan menjadikan baginya ganti yang baik yang diridhainya.” (HR As Suyuthi dalam kitab Ad Durrul Mantsur).

Said bin Jubair berkata: “Sungguh umat ini telah dikaruniai satu ucapan yang belum pernah diberikan kepada para nabi dan umat-umat sebelumnya, yaitu istirjaa.”

Namun, semestinya bukan hanya lidah yang berucap. Lebih dari itu, hati dan seluruh jiwa raga kita harus benar-benar kembali kepada-Nya, meratapi kesalahan, mengakui dosa-dosa yang telah kita lakukan serta mengisi detik-detik hidup kita dengan amal saleh dan ketaatan.

Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al Baqarah [2]:157 ). Al Muhtaduun (orang-orang yang mendapat petunjuk) merupakan derajat yang tidak sederhana dalam kacamata Alquran. Derajat ini biasanya diperuntukkan para nabi dan rasul. Akan tetapi, dalam ayat ini, ungkapan al muhtaduun diberikan bagi setiap orang yang mendapat musibah.

Modal mereka hanya satu, yaitu sabar. Menjadikan apa yang mereka peroleh sebagai sarana untuk memperoleh berkah, rahmat, dan hidayah Allah. Mereka tidak berkeluh kesah dengan derita yang mereka terima. Bagi mereka, seluruh peristiwa yang terjadi adalah yang terbaik bagi mereka.

“Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman, sungguh setiap urusannya mengandung kebaikan. Jika ia ditimpa hal yang menyenangkan, maka ia bersyukur dan itu baik bagi dirinya, dan jika ia ditimpa musibah, ia bersabar dan itu juga baik bagi dirinya. Hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun selain orang yang beriman (HR Muslim)”. Wallahu a’lam.

 

Oleh:  Abu Afifah Zulfiker

REPUBLIKA

Ini 5 Ciri Orang yang Mendapatkan Hidayah

Seorang Muslim yang menegakkan shalat lima waktu, sesungguhnya ia meminta hidayah 17 kali dalam sehari. “Setiap kali membaca Surat Al-Fatihah, pada ayat keenam ia membaca “Ihdinash shirathal mustaqim”, yang artinya “tunjukilah (berilah hidayah) kepada kami jalan yang lurus,” kata Habib Abdurrahman Al-Habsy saat mengisi pengajian guru dan karyawan Sekolah Bosowa Bina Insani (SBBI) di Masjid Al-Ikhlas Bosowa Bina Insani Bogor, Jawa Barat, Jumat (22/9).

Abdurrahman menambahkan, ada dua bentuk hidayah. Pertama, hidayah bayan wal irsyad (penjelasan dan petunjuk). “Hidayah ini cenderung dimiliki oleh para nabi dan rasul. Hidayah turun kepada mereka dan mereka punya kewajiban menyampaikan dan menjelaskan hal tersebut kepada umat yang ada bersama mereka pada saat itu,” ujarnya.

Kedua, hidayah taufiq. Ini adalah hidayah yang Allah turunkan kepada hamba-hamba Allah, siapa saja, dengan syarat punya kemauan dan kesungguhan untuk mendapatkan hidayah Allah. “Hidayah ini akan sampai kepada seseorang manakala dia mau menjemputnya. Hanya hamba-hamba Allah yang punya persiapan yang baik, punya keinginan yang baik dalam hidupnya, dan mau berikhtiar sungguh-sungguh untuk menjemputnya, yang akan mendapatkan hidayah taufiq,” tuturnya.

Lalu, apa kendaraan untuk menjemput hidayah taufiq tersebut? Menurut Abdurrahman, ada dua kendaraannya, yakni Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW. “Hendaklah kita selalu mengakrabi Alquran, baik dengan cara membacanya, memahaminya, mendalaminya dan mengamalkannya. Selain itu, pelajari Sunnah Rasulullah SAW dengan sebaik mungkin, baik perkataan, perbuatan maupun penetapan beliau,” paparnya.

Abdurrahman lalu mengungkapkan lima cirri orang yang mendapat hidayah Allah. Pertama, ia merasakan mudah atau tidak berat melaksanakan kewajiban (ketaatan) kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya. “Termasuk di dalamnya tidak berat melaksanakan Tahajud, shalat fardhu berjamaah dan ketaatan lainnya kepada Allah,” ujarnya.

Kedua, kalau mendengar nama Allah disebut cintanya kepada Allah bertambah, hatinya bergetar.   “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetar hati mereka. dan apabila dibacakan ayat-ayatnya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS Al-Anfal: 2)

Ketiga, senantiasa istiqamah/ konsisten. Artinya berpegang teguh pada nilai-nilai keimanan yang dimiliki. “Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS Ali ‘Imran: 101)

Keempat, rajin dan sungguh-sungguhn menghadiri majelis-majelis ilmu, guna menambah perbendaharaan keilmuan dan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. “Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan (iImu) beberapa derajat.” (QS Al Mujadalah: 11)

Kelima, hidupnya bermahkotakan rasa malu. Baik malu kepada Allah maupun makhluk Allah.

Abdurrahman mengatakan, banyak sekali hadits Rasulullah yang menegaskan pentingnya sifat malu (haya’).  Salah satu di antaranya, “Malu itu sebagian dari iman.” Hadits lainnya, “Jika kamu tidak punya rasa malu, silakan lakukan sesuka hatimu.” “Malu dan iman itu ibarat saudara kembar. Orang yang beriman pasti punya rasa malu.” “Malu itu tidak mendatangkan sesuatu, kecuali kebaikan.”

 

REPUBLIKA

Kisah Nyata Mahasiswi Kedokteran, Berjilbab Setelah Membedah Mayat

Beliau kini telah menjadi dokter spesialis dan memimpin klinik mata dengan sejumlah cabang di berbagai kota. Ini kisah nyatanya saat masih menjadi mahasiswi kedokteran. Uyik Unari, dr, Sp.M.

Peristiwa yang kemudian menjadi titik hijrah ini terjadi pada tahun 1989. Saat itu, selama satu semester, ia harus mengikuti praktikum anatomi tubuh manusia.

“Tidak terbayang sebelumnya, setiap hari selama satu semester saya harus berhadapan dengan cadaver, mayat yang telah diawetkan,” kenangnya.

Pelajaran dan praktikum anatomi membuat mahasiswa kedokteran memahami seluruh anatomi tubuh manusia. Mulai organ tubuh yang besar hingga pembuluh darah dan syaraf. Yang dirasakan berat, mengetahui dengan tepat letak, bentuk dan nama-nama setiap bagian tubuh manusia dengan bahasa latin.

“Saya nyaris putus asa di semester anatomi ini,” lanjut dr Uyik.

Hari itu, pertama kali memasuki ruang praktikum. Semua mahasiswa telah rapi dengan jas putih masing-masing. Begitu masuk, aroma formalin langsung menusuk hidung dan membuat mata perih. Sepuluh cadaver telah menanti mereka. Sekitar 150 mahasiswa dibagi menjadi sepuluh kelompok, dengan satu cadaver untuk masing-masing kelompok.

“Terus terang saya gemetar melihat cadaver yang terbujur kaku di meja kayu itu.”

Para mahasiswa segera memulai membedah cadaver setelah mendengar penjelasan dosen pembimbing tentang tata caranya. Namun, tidak demikian dengan dr Uyik. Ia memandangi cadaver itu sembari merenung. “Ya Rabb, suatu saat saya juga akan jadi mayat seperti cadaver ini.” Terbayang bagaimana tak ada yang bisa menolong saat itu kecuali amal shalih.

Saat itu, dr Uyik telah mulai belajar Islam bersama kakak-kakak angkatannya. Setiap Jum’at mereka bertemu untuk tilawah, tazkiyah dan taklim. Mengkaji Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi dengan bimbingan seorang Ustadz.

Sesampai di rumah selepas praktikum, ia masih terus memikirkan tentang cadaver. “Bagaimana kalau tiba-tiba Allah Subhanahu wa Ta’ala mencabut nyawa saya sementara amal shalih belum cukup untuk bekal di akhirat?”

Renungan itu menyadarkannya. Ia berjanji dalam hati untuk senantiasa mentaati Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ia pun membulatkan tekad untuk menutup aurat. Berjilbab.

 

 

BERSAMA DAKWAH

 

—————————————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Terkesan Pergaulan Umat Islam, Petrus Sekeluarga Bersyahadat di Kupang

Petrus sehari-hari bekerja sebagai tukang kuli bangunan. Ia pun tak ketinggalan ketika mendengar akan ada pembangunan masjid. Ia turut mengambil bagian membangun masjid bersama masyarakat Muslim sekitar.

 

Kemarin, Ahad (23/07/2017), di Masjid Agung Baiturrahman Perumnas, Jl Ainiba No 17, Perumnas, Nefonaek, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, NTT, satu keluarga mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Imam Amir Kiwang dan puluhan jamaah yang hadir.

Sebut saja Petrus (bukan nama sebenarnya), beberapa waktu lalu ia datang menemui Ustadz Sarifudin mengutarakan niatnya berpindah agama. Sarifudin, dai kelahiran NTT yang kini bertugas di kampung halamannya, pedalaman Soe, menanyakan niat baik Petrus.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya sang ustadz.

“Begini, Ustadz, saya sekeluarga ingin memeluk agama Islam. Bolehkah?” kata Petrus.

Tak menunggu lama, langsung saja Sarifudin menyambut kabar gembira dari Petrus. Sarifudin segera mengabarkan kepada Ustadz Pono di Kupang. Pono, dai yang juga aktif membina Desa Fatukopa, Soe TTS, NTT, bersama Sarifudin. Pono pun menyampaikan agar Petrus beserta keluarga berangkat ke Kota Kupang untuk segera disyahadatkan.

Hidayah yang didapat Petrus sekeluarga bermula dari kisah setahun lalu. Saat itu, ada seorang donatur dari Jakarta bernazar ingin membangun masjid. Ketika dicari tempat yang layak, donatur ini menemukan tempat pembangunan masjid di desa tempat tinggal Sarifudin dan Petrus.

Petrus sehari-hari bekerja sebagai tukang kuli bangunan. Ia pun tak ketinggalan ketika mendengar akan ada pembangunan masjid. Ia turut mengambil bagian membangun masjid bersama masyarakat Muslim sekitar.

Lama bergaul, ia sangat berkesan dengan kehidupan dan pergaulan orang-orang Islam. Anak-anak Petrus pun selalu diperhatikan oleh Pono dan Sarifudin. Dari situlah ketertarikan Petrus di awal mengenal Islam.

 

Hari bersejarah, Ahad kemarin, tepat pukul 10.30 WITA, Petrus bersyahadat di hadapan Imam Masjid. Walau terbata-bata mengucapkan dua kalimat syahadat, tetapi semangat keislamannya ia buktikan lebih dulu sebelum memeluk Islam. Yakni ia bersama anak-anaknya telah dikhitan oleh Pono dan pegiat dakwah lainnya di NTT.

 

Kini nama Islam Petrus adalah Muhammad Nasir, sedangkan istrinya bernama Siti Aisyah, adapun nama anak-anaknya menyusul.

“Semoga istiqamah di atas jalan yang diridhai oleh Allah Subhanahu Wata’ala, yaitu dinul Islam,” doa salah seorang jamaah yang hadir dan mendukung kegiatan itu.

 

* Usman Aidil Wandan, pegiat komunitas menulis PENA. Berita ini hasil kerja sama dengan hidayatullah.com

 

 

2 Jenis Hidayah, Kita Tak Bisa Memaksakannya

IHDINASHIROTOLMUSTAQIM. Tunjukkanlah pada kami jalan yang lurus.

Ayat ni sering kali kita baca dalam surat Al-fatihah minimal 17 kali dalam sehari karena total rakaat dalam sehari kita laksanakan dalam 5 waktu adalah 17. Apa hikmahnya, sampai kita terus meminta kepada Allah Ta’ala?

Para ulama mengatakan. Permintaan kita berulang kali untuk mendapatkan jalan yang lurus karena permintaan hidayah itu ada dua macam. Yaitu kita minta hidayah yang sifatnya global dan kita minta hidayah yang sifatnya terperinci.

Yang global artinya kita memohon kepada Allah dituntun pada jalan shirotolmustaqim, jalan menuju surga.

Sedangkan ada lagi permintaan secara terperinci, karena untuk iman, kita harus tahu terperinci pula. Untuk amalan juga kita harus tahu secara global perintah salat, perintah puasa, perintah zakat. Namun kita harus tahu juga perinciannya.

Ini yang dijelaskan apa yang dimaksud dengan pengulangan 17 kali dalam sehari seperti tadi.

Dan perlu diketahui bahwasanya, hidayah itu ada dua macam, ada hidayah taufik dan ada hidayah al irssal al bayan. Yaitu ada hidayah taufik supaya kita diberi petunjuk agar bisa beramal. Dan ada yang namanya hidayah berupa penjelasan.

Kalau yang dimaksud dengan hidayah taufik, artinya kita meminta kepada Allah. Supaya bukan hanya kita dapat penjelasan saja namun kita minta kepada Allah supaya penjelasan tadi kita bisa amalkan.

Dan untuk hidayah pertama ini para ulama mengatakan bahwasanya ini wewenang Allah. Allah yang beri. Maka ketika Rasulullah ingin mendakwahi pamannya Abu Thalib untuk mengajaknya masuk islam. Beliau katakan pada pamannya ketika itu, “Wahai pamanku, katakan kalimat lailahailallah. Katakanlah lailahailallah dimana kalimat ini dapat aku gunakan sebagai hujjah di hadapan Allah Ta’ala.”

Maka ketika itu turunlah firman Allah Subhana wa Taala, “Wahai Nabi engkau tidak bisa memberikan petunjuk.”

Yaitu yang dimaksud adalah hidayah taufiq keapada orang yang engkau cintai, engkau cuma bisa mendakwahi yaitu hidayah yang ke dua yaitu hidayah Irsyad wal bayan dimana Irsyad wal bayan kita cuma memberikan penjelasan, memberikan ilmu, mendakwahi, mengajak orang. Namun, hidayah taufik pertama tadi itu hanya milik Allah Ta’ala.

Maka pelajaran dari hidayah ini. Perlu kita pahami tugas kita sebagai seorang dai, tugas kita sebagai pendakwah Hanya bisa mengajak, memberi tahu, mengajarkan. Adapun bagaimanakah mereka bisa beramal, adapun bagaimana dia bisa salat, adapun bagaimana dia puasa, adapun bagaimana dia meninggalkan kesyirikan, adapun bagaimana dia bisa meninggalkan tradisi-tradisi yang jauh dari tuntunan Rasul ataukah mengikuti sunnah.

Itu semua wewenang Allah subhanahu wa taala, kita tidak masuk area tersebut. Area kita adalah memberikan hidayah irsyad wal bayan, pembimbingan dan penjelasan.

Kita hanya bisa jelaskan kepada jemaah ayo kita salat, ayo kita ke masjid. Hanya seperti itu, adapun mereka bisa salat, itu wewenangnya Allah oleh karena itu kita banyak-banyak berdoa supaya orang lain mendapat hidayah taufiq ini. Barangkali para istri melihat suaminya tidak mengerjakan salat maka dia selain mengajak dia juga memohon kepada Allah supaya suaminya itu salat.

Dia lihat anak-anaknya bandelnya bukan main maka ketika itu juga dia mengajaknya pula, namun tergantung dia bisa melaksanakannya tergantung hidayah dari Allah. Maka hikmah dari ayat tadi kita senantiasa meminta hidayah yang global maupun yang terperinci, namun ingat kalau kita mengajak orang lain tugas kita hanya memberikan penjelasan sedangkan hidayah dari Allah.

Mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan kita taufiq dan hidayah untuk menempuh jalan shirothol mustaqim (jalan yang lurus). Allah juga memberikan kita hidayah di tengah-tengah keluarga kita juga orang-orang yang dekat dengan kita, tetangga kita dan orang-orang yang kita dakwahi. Demikian semoga bermanfaat. [Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2313079/2-jenis-hidayah-kita-tak-bisa-memaksakannya#sthash.DnMZ4RJj.dpuf

Perkara Yang Mencegah Datangnya Hidayah

Tidak Punya Kesiapan Menerima Hidayah.

Sesungguhnya hal ini telah saya sebutkan, yaitu bahwa hati orang yang bersangkutan tidak punya kesiapan untuk menerima hidayah, tidak punya kemauan untuk itu, tidak menyukainya, tidak mencarinya, dan tidak pula menginginkannya dengan keinginan yang keras.

Sesungguhnya sebagian orang ada yang tidak memperhatikan apakah dirinya beroleh petunjuk ataukah sesat. Dia pun tidak punya perhatian untuk menimba ilmu atau meraih faidah yang berguna. Dia sama sekali tidak perhatian untuk menuntut ilmu agama atau tidak menuntutnya.

Akan tetapi, seandainya keluarganya tidak punya roti (beras), tentulah problem ini lebih penting baginya daripada mengetahui makna surat al Fatihah atau hal-hal yang dpat menunjukinya kepada masalah-masalah agamanya yang bersfiat fardhu ‘ain atau sunnah Nabi Shallahu alahi wasslam dalam shalatnya.

Orang seperti ini tidak punya kesiapan untuk menerima hidayah dan tidak pula memperhatikannya. Sehubungan dengan hal ini Allah Ta’ala telah berfirman:

“Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu.” (QS. al-Anfal [8] : 23)

Dalam kitab Shahihain disebutkan bahwa Rasulullah Shallahu alaihi wassalam bersabda,“Perumpaan hidayah dan ilmu yang diperintahkan oleh Allah kepadaku untuk menyampaikannya sama dengan hujan yang menimpa bumi”.

Selanjutnya, Rasululllah Shallahlu alaihi wassalam membagi-bagi bumi ini ke dalam beberapa bagian sesuai dengan kondisinya.”Maka sebagian di antara bumi ini ada yang subur”, dalam teks lain disebutkan “baik, mau menerima air sehingga dapat menumbuhkan tetumbuhan dan rumput yang banyak”.

Ini adalah perumpaan orang-orang yagn mau menerima hidayah, kemudian menyebarkannya kepada orang lain.

“Sebagiannya ada yang dapat menahah air, maka Allah menjadikannya berguna bagi manusia, sehingga mereka dapat beroleh minuman dan bercocok tanam”.

Ini adalah perumpamaan orang-orang yang mau menimba ilmu, tetapi tidak mengajarkannya kepada orang lain. Golongan ini relatif baik, tetapi tidak seperti golongan yang pertama.

“Dan sebagian yang lainnya ada kawasan yang tiada lain hanyalah ketandusan belaka, tidak dapat menahan air tidak dapat menumbuhkan tetumbuhan”.

Ini adalah perumpaan tentang orang-orang yang telah berpaling dari hidayah. Selanjutnya, Rasulullah saw. bersabda,“Seperti itulah perumpaan orang yang beroleh manfaat dari ilmu yang diperintahkan Allah kepadaku untuk menyampaikannya, kemudian menjadi orang yagn berilmu, lalu mengajarkannya (kepada orang lain), dan perumpamaan orang yang tidak mau memperhatikan hal tersebut serta tiak pula mau menerima hidayah Allah yang disampaikan olehku”.

Orang Yang Lalai Itu Ada Dua Macam:

Pertama, sebagian dari mereka terdiri dari golongan yang fasiq lgi bobrok tak ubahnya seperti hewan atau kedudukannya sama seperti hewan ternak. Semoga Allah melindungi kit adari hal i tu. Kepentingannya hanyalah hawa nafsunya. Dia tidak mengenal, baik Al-Qur’an maupun Sunnah. Adakalanya dia menjalani siang dan malam harinya tanpa mengetahui hendak ke manakah dia pergi dan apakah yang ada dihadapnnya?

Kedua, golongan yang lainnya adalah golongan yang lalai lagi kurang akalnya. Mereka banyak di dapati di daerah pedalaman da tempat-tempat yang tidak mendapat penerangan dari cahaya Islam dan tidak pula pernah tersentuh oleh dakwahnya. Untuk itu sudah menjadi kewajiban bagi para ulama, para mahasiswa, da para da’i untuk pergi ke sana guna mengajari mereka agama Islam, karena sesungguhnya mereka, tidak diragukan lagi, mempunyai tanggung jawab untuk mempunyai tanggung jawab untuk menyampaikan dakwha kepada orang-orang itu.

Berteman dan Bergaul Dengan Orang-Orang Yang Jahat.

Salah seorang yang shalih mengatakan: “Jauhilah oleh kalian teman yang buruk dan tiada yang membahayakan Abu Thalib selain teman-teman sekedudukannya, karna sesungguhnya tatkala ditawarkan kepadanya kalimah laa ilaaha illallooh, lalu dia hendak mengucapkannya, maka teman-teman sekedudukannya berkata kepadanya: “Jangan kau ucapkan kalimat itu!” Ali Ra pernah berkata: “Berbekallah kalian dari teman-teman sekedudukan yang baik, karena sesungguhnya mereka adalah penolong di dunia dan di akhirat”.

Mereka bertanya, “Wahai Abul Hasan (Ali Ra), kalau menjadi penolong di dunia kami mengerti, tetapi bagaimana dengan menjadi penolong di akhirat?”

Ali menjawab, “Tidakkah kalian mendengar firman Allah Ta’ala yang menyebutkan:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Az-Zukhruf [43] : 67)

Semoga Allah selalu melindungi kita dari teman-teman yang jahat, karena sesungguhnya Rasulullah Shallahu alaihi wasslam, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Shahihain menyebut mereka seperti peniup perapaian pande besi. Rasulullah Shallahu alaihi wassla pernah besabda,“Seseorang itu akan dihimpunkan bersama dengan orang yang disukainya”.

Dalam hadist lain Beliau Shallahu alaihi was salam pernah bersabda pula,“Seseorang itu dinilai berdasarkan tuntunan teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah seseorang diantara kalian memperhatikan sispa yagn akan dijadikan teman dekatnya”. (HR. Abu Dawud dan Tirmizi)

Oleh karena itu, Imam Syafi’i rahimahumullah mengatakan dengan rendah diri dalam bait-bait syairnya:

“Aku menyukai orang-orang shalih,
meskipun diriku bukan termasuk di antara mereka,
mudah-mudahan aku beroleh syafa’at dari mereka,
Dan aku benci,
terhadap orang-orang yang kerjanya hanya maksiat,
meskipun kita mempunyai pekerjaaan yang sama.
Semoga Allah melindungi kita dari teman-teman yang buruk,
yaitu orang-orang yang tidak membantu untuk berdzikir.”

Penyakit syubhat adalah penyakit keraguan. Penyakit ini sulit disembuhkan. Allah Ta’ala berfirman,

بَلِ ادَّارَكَ عِلْمُهُمْ فِي الْآخِرَةِ ۚ بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِّنْهَا ۖ بَلْ هُم مِّنْهَا عَمُونَ

“Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (kesana), malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka buta darinya”. (QS. An-Naml [27] : 66).

Kemudian, penyakit syahwat dapat menjerumuskan farji dan lisan kebanyakan kaum muslimin, terkecuali orang-orang yang dipelihara oleh Allah, kedalam perbuatan fahisyah (zina), dan menggelincirkan telapak kakinya ke dalam kenistaan yang membuat Tuhan murka, karena kemaksiatan da hal-hal yang diharamkan-Nya. Penyakit ini sulit disembuhkan, meskipun lebih ringan daripada penghalang sebelumnya, karena penyakit ini menyebar melalui kemaksiatan dan dosa-dosa besar.

Penawa kedua penyakit ini dengan mempertebal keyakinan, mempertajam padangan hati, dan memperbanyak pengetahuan agama Islam. Sementara penawar penyakit syahwat, bersikap sabar dengan semua ketentuan dan hukum Allah. Wallahu’alam.

 

Oleh Aidh Al Qarni

sumber: Era Muslim

Karena Hidayah Itu Datangnya dari Allah

TERPAKU menatap perdebatan soal aqidah di jejaring sosial. Mereka saling memerangi tidak lagi layaknya saudara seiman. Mereka saling mencaci, memaki, tanpa ingat lagi apa misi besar yang Allah berikan padanya selama singgah di dunia.

Sudahkah kita mentadaburi kalimat-kalimat Allah,

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi hidayah kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki,” (Al Qashash [28] : 56).

Seberapa keras pun sekeliling kita meneriakan yang HAQ, Allah lah yang akan memilih siapakah yang akan diberinya hidayah, diberinya Iman Islam, diberinya hati dan pikiran yang diterangi Alqur’an. Banyak orang “pintar” mampu bicara dalil, bicara hadits, memperdebatkan hukum islam, tapi tidak banyak dari mereka yang mampu mekakukannya dengan dzikir. Iman tidak akan bisa disampaikan dengan keculasan dan lidah-lidah setan.

Islam, Rahmatan Lil Alamin, tapi banyak yang mengaku dirinya islam tapi tidak melakukan misinya untuk menebar rahmat bagi semesta alam.

Firman Allah dalam Surat al-Anbiya ayat 107 yang bunyinya,

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.

Itu bukti nyata bahwa Islam dengan jelas melarang manusia berlaku semena-mena terhadap makhluk Allah.
Lalu apa yang kita banggakan dengan ilmu yang kita miliki? Perdebatan yang melahirkan kebencian, ucapan yang menetaskan permusuhan?

Untuk sebuah pengakuan bahwa : “Inilah AKU dengan pengetahuan dan keyakinanku dan AKU MAHA benar dengan segala pendapatku ”

Bukankah kebanyakan orang berlaku seperti itu?

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah menyesatkannya berdasarkan ilmu yang dimilikinya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. 45 Al-Jatsiyah Ayat 23)

Astaghfirullahaladzim…..

Semoga kita terpilih menjadi orang yang mendapatkan hidayah dan tidak dibiarkan tersesat setelah mendapat petunjuk

 

Oleh: Ernydar Irfan

sumber: Islam Pos

 

Lima Golongan Orang yang Dapat Petunjuk Allah

Allah SWT menjelaskan golongan yang mendapat petunjuk dalam Alquran. Mereka yang mendapat petunjuk sebagai nikmat Allah yang besar, akan selamat, bahagia, dan mendapat ridha-Nya di dunia dan akhirat.

Pertama, para nabi dan rasul Allah. Dengan petunjuk Allah, mereka mampu menepis dan menolak godaan setan yang mengajak pada perbuatan yang dilarang Allah.

Allah SWT berfirman, ”Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak pula seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS 22: 52).

Kedua, orang-orang yang tiada ragu beriman kepada Allah dan rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS 49: 15).

 

Ketiga, mereka yang mati syahid karena menegakkan agama Allah. Mereka mendapat gelar syuhada. Mereka mendapat kedudukan tinggi dan ganjaran yang baik dari Allah.

Ini dikuak lewat firman-Nya, ”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” (QS 3: 169-171).

 

Keempat, orang yang melakukan amal saleh karena didorong iman yang mereka miliki. Allah berfirman, ”Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh benar-benar akan Kami masukkan ke dalam (golongan) orang-orang yang saleh.” (QS 29: 9).

Mereka pun menyuruh pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, seperti firman Allah, ”Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera kepada (mengerjakan) berbagai kebaikan. Mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.” (QS 3: 114).

Kelima, orang-orang yang menaati petunjuk dan perintah Allah dengan ikhlas serta hati yang takut kepada siksa-Nya. Mereka digelari Allah dengan mukhlisin. Firman Allah SWT, ”Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apa pun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS 23: 57-61).

 

Oleh Firdaus

Sumber : Pusat Data Republika

Terpukau dengan Islam, 600 Warga Cina Jadi Mualaf

Lebih dari 600 pekerja asal Cina memeluk Islam di Makkah setelah diperkenalkan dakwah Islam oleh para ulama setempat. Ini merupakan rombongan mualaf terbesar tahun ini, setelah sebelumnya pada Januari 500 Muslim Cina juga masuk Islam.

Diberitakan koran Saudi, Sabq, Sabtu (11/4), Mereka masuk Islam secara massal. Sebelumnya, tiap malam para ulama setempat mengadakan kursus intensif Islam. Program ini dihadiri oleh para pekerja Cina dan insinyur yang bekerja ataupun menimba ilmu di snaa.

Merupakan ulama-ulama dari kantor dakwah Taneem yang menggelar kursus dan kemudian membimbing mereka meniti jalan hidayah. Tiap malam, mereka mengumandangkan ajaran-ajaran Islam yang penuh dengan kedamaian.

Sebelumnya, juga dilaporkan 500 Muslim Cina beralih ke Islam pada Januari silam. Mualaf massal terjadi setelah mereka tersentuh oleh “kesederhanaan” dari pemakaman almarhum Raja Abdullah bin Abdul Aziz bulan Januari lalu.

 

sumber: Republika Online