Don Trammell Terpesona dengan Ritual Puasa dan Shalat

“Perjalananku menuju Islam cukup berbelit. Namun, pada akhirnya, itu membawaku pada penantian kasih sayang Allah,” ujar Don Trammell, memulai kisahnya menuju hidayah.

Perjalanan Don hingga memeluk Islam membutuhkan waktu yang tak singkat. Prosesnya cukup panjang dengan awal mula ketika ia bertugas di Kairo, Mesir. Di sana, Don mendapat banyak teman Muslim yang membantunya hingga akhirnya melabuhkan hatinya pada Islam.

Namun, sebenarnya, kontak Jon dengan Islam kali pertama telah terjadi sebelum ia pindah ke Negeri Piramida. Saat itu, Don tengah bekerja di Finlandia, sekitar 1999. Ketika bekerja di sebuah perusahaan software di sana, ia bertemu dengan seorang wanita Mesir. Keduanya berkenalan lewat chat dan memiliki keperluan diskusi membahas mengenai teknologi nirkabel.

Selama membahas teknologi nirkabel, Don banyak menyela diskusi mengenai agama. Ia bertanya banyak hal mengenai agama yang dianut wanita Mesir itu, Islam.

“Sepanjang percakapan kami, aku bertanya lebih banyak tentang Islam dan mengapa ia percaya dengan apa yang dia yakini. Dia sangat sabar dan sangat baik menjelaskan Islam kepada saya,” ujar Don, dikutip OnIslam.

Sejak kecil, Don tumbuh besar dengan pendidikan agama yang minim. Ia beragama, namun tak mendalami keimanannya pada Tuhan. Namun, sang ibu mendidiknya dengan sangat baik serta mengajarkannya hal-hal luhur. Keingintahuan Don pada Islam dalam rangka pencarian Tuhan di hatinya. Ia mencari makna sejati kehidupan yang sebenarnya.

“Aku percaya pada Tuhan, tapi aku tak meyakini Dia sebagai pencipta dan pengatur takdir saya. Aku merasa di tanganku sendirilah putusan nasib. Dengan kata lain, bisa dikatakan aku hidup dengan membuat aturanku sendiri,” tuturnya.

Perjalanan menuju hidayah kemudian dimulai. Don menjalin kerja sama bisnis dengan orang-orang Mesir. Ia pun kemudian segera pindah ke Kairo. Don menginjak pertama kali Negeri Kinanah bertepatan saat Muslimin menjalankan puasa Ramadhan. Ia pun begitu tertarik dengan ritual ibadah Ramadhan Muslimin.

Don bahkan sempat ikut menahan lapar dan haus pada siang hari dalam rangka menghormati. Namun, saat Ramadhan usai, Don mencari informasi mengenai ibadah puasa. Sebetulnya, ia sangat tertarik dan antusias pada ibadah puasa Muslimin.

Tak hanya ibadah puasa, Don juga terpesona dengan shalat. Ia kagum dengan Muslimin yang meluangkan waktunya untuk ibadah lima kali sehari. Awalnya, saat rekan kerjanya selalu izin shalat, ia merasa jengkel. Namun, ketika mengetahui tentang ibadah itu, Don justru merasa kagum dan sangat menghormati.

“Aku kagum dan hormat pada mereka. Aku pun iri melihatnya dan ingin memiliki perasaan betapa pentingnya Tuhan dalam hidup. Perlahan-lahan, aku pun bertanya tentang Islam dan bagaimana rasanya menjadi seorang Muslim,” kata Don.

Selama bekerja di Kairo, Don pun sembari mencari tahu mengenai Islam. Kepada rekan-rekan Muslimin, Don pun tak malu-malu bertanya. Ia pun mendapat banyak penjelasan mengenai Islam dari mereka. Salah seorang rekan kerjanya yang banyak membantunya, yakni Noah. Don bahkan dibekali olehnya sekoper buku-buku Islam saat akan meninggalkan Kairo.

Don meninggalkan Kairo, namun keingintahuannya pada Islam belum penuh terjawab. Pada 2001, ia kembali ke Kairo. Namun, perjalanannya ke Kairo kali ini hanya beberapa hari. Ia pun tak cukup banyak waktu untuk menghilangkan dahaganya mengenai Islam. Saat itu, ia telah merasa jatuh hati pada Islam.

“Satu hal penting yang aku sadari, yakni aku telah jatuh cinta. Aku merasa bahwa hatiku telah menemukan sebuah rumah,” ujar Don tersedu.

Setelah enam bulan terakhir dari Mesir, ia pun kembali lagi ke sana. Namun, saat itu ia bukan untuk bekerja. Pasalnya, perusahaan tempatnya bekerja telah gulung tikar. Pada malam musim panas, perasaan Don meluap-luap. Ia merasa hatinya begitu terbuka. Ia pun menghubungi Noah hingga kemudian bertolak ke Mesir untuk menenangkan diri.

Don kemudian mendapat pekerjaan kembali di perusahaan telekomunikasi. Ia menjadi konsultan untuk perusahaan Mesir. Ia pun dapat berlama-lama lagi tinggal di Mesir. Kali ini, Don benar-benar berharap dapat menemukan segala keingintahuannya tentang Islam.

Ia berharap perjalanan ke Mesir kali ini menjadi perjalanan terakhirnya menuju hidayah. Di Mesir, ia pun makin serius mempelajari Islam. Ia mempelajari Alquran dan mengenal siapa Nabi Muhammad. Don bahkan pernah ikut shalat jamaah dan merasakan ketenangan yang sangat.

Belum usai perjalanan Don menemukan hidayah, insiden bom 9/11 terjadi. Don bahkan belum sempat bersyahadat. Isu Islam sebagai agama terorisme telah mencuat begitu hebat akibat insiden tersebut. Namun, Don telah jatuh hati pada Islam, ia pun mencari penjelasan yang benar mengenai isu tersebut.

Hanya, isu itu secara tak langsung menghambatnya menjadi seorang Muslim. Pasalnya, keluarganya menentang keras keinginan Don karena lebih percaya isu terorisme yang mendunia. Namun, Don tak pantang arang. Tekadnya telah bulat. Tak lama, ia pun memutuskan untuk berislam.

“Pada 2 Oktober 2001, seorang teman menjemputku untuk pergi ke Al-Azhar yang terkenal. Di sana, aku menyatakan  tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Air mataku tertumpah. Wallahu akbar,” pungkas Don.

Tim Chambers: Islam Menjawab Semuanya

“Mengapa aku berada di dunia ini? Dua pertanyaan besar itu telah membuat Tim Chambers, pria kelahiran Woking, Surrey, Inggris, gundah gulana. Ia pun melakukan pencarian spiritual untuk menemukan jawabannya.

“Aku pernah meyakini agama Buddha, Hindu, Sosialisme, juga Kristen untuk kedua kalinya,” ujar pria berambut gondrong itu seperti dikutip laman OnIslam.net. Namun, Tim tak berhasil menemukan Tuhan.

Ia pun mendalami Tai Chi dan berbagai seni bela diri, meditasi, serta vegetarianisme. Harapannya, ia bisa menemukan jawaban atas pertanyaan spiritual yang bercokol dalam hatinya itu. “Tak satupun mampu memberi saya jawaban, tuturnya.

Hingga suatu hari, ia berkenalan dengan Islam. Dan, dua jawaban penting yang terus dicarinya itu akhirnya berhasil ditemukannya dalam Islam. Sejak itulah, ia menjadi seorang Muslim. Bahkan, kini, ia menjadi seorang dai.

Namanya berganti menjadi Yusuf Chambers. Ia selalu tampil di berbagai event Muslim internasional dan secara rutin mengisi program beberapa media Islam, seperti Peace TV dan Islam Channel. Dakwahnya juga menjangkau Meksiko, India, dan Kuwait.

Lalu, bagaimana Yusuf bisa menemukan Islam?

Sebelum masyhur sebagai seorang dai, tak banyak orang yang tahu jejak hidupnya.

Ia mengaku berasal dari sebuah masa lalu yang gelap. Yusuf tak melupakan bagaimana hari-harinya sebelum ia berislam, 15 belas tahun silam.

Mengerikan, tuturnya saat mengenang kehidupannya pada masa lalu yang dihabiskan bersama teman-temannya dengan mabuk-mabukan dan hal-hal negatif lainnya. “Saya tidak perlu menjelaskan apa yang hampir selalu kami lakukan pada masa itu,” katanya.

Ketika menginjak usia yang ke-20, hidupnya mulai berubah. Ia mulai menekuni sesuatu yang bernuansa spiritual. Saat itu, aku mulai mempertanyakan banyak hal dalam kehidupan ini, termasuk keberadaan Tuhan.

Tak jarang, ia menghabiskan waktunya tanpa berbicara dengan siapa pun, memperhatikan sekelilingnya. Ia lalu menyimpulkan bahwa semuanya bukan sesuatu yang penting. Tim juga sering memandang keluar jendela berlama-lama dan berusaha menemukan kebenaran dari langit.

“Di satu titik, aku kagum dengan semua yang kulihat dari jendela,”ucapnya.

Keindahan bulan dan bintang telah membuatnya berdecak kagum. Betapa hebatnya alam semesta berdampingan dengan bintang terdekat yang berjarak empat tahun cahaya darinya.

“Aku sangat ketakutan karena tidak pernah tahu mengapa semua hal-hal menakjubkan itu ada di sekitarku,” katanya.

Tim lalu berusaha mencarinya lewat sains dan mempelajari astronomi. Semua itu tidak menjawab pertanyaannya dan justru membawanya pada kebingungan. Pencariannya itu justru menyimpulkan bahwa sains hanya melekatkan label pada segala sesuatu yang tampak nyata dan sama sekali tidak memberikan penjelasan di baliknya.

Menurutnya, sains tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar, Mengapa kita ada di dunia ini? Ke mana kita akan pergi setelah mati nanti?” Itu adalah pertanyaan dasar yang harus kita tanyakan pada diri sendiri dan pada orang lain di sekitar kita.”

Suatu waktu, ia mendatangi gereja dan bertanya kepada pendeta yang saat itu dianggapnya sebagai manusia utusan Tuhan. Siapa sebenarnya Tuhan itu dan mengapa aku berada di dunia saat itu? tanyanya kepada pendeta itu.

Pendeta malah balik bertanya, Apakah kamu pernah mempelajari teologi agama (Kristen)? “Ya, teologi Kristen hanya berisi hal-hal dogmatis yang tidak masuk akal, jawab Tim.

“Kalau begitu, aku tidak tahu harus menjelaskan apa pun. Aku tidak dapat membantumu, tutur pendeta itu.

“Kau lihat gereja di seberang sana? Aku adalah orang yang membuka dan menutupnya, menjaga orang-orang saat mereka datang dan pergi meninggalkan gereja. Itulah pekerjaanku,” pendeta itu menjelaskan.

Tim menyadari bahwa siapapun dan dimanapun seseorang berada, termasuk di dalam gereja sekalipun, tidak akan ada yang mampu mengubahnya jika Allah tidak memberikan petunjuk.

Meski begitu, ia tak patah arang. Tim terus melakukan pencarian. Hingga suatu waktu, ia mengagumi seorang gadis Muslim asal Malaysia. Tim berupaya mendekatinya karena beranggapan gadis itu akan membantunya secara spiritual dan emosional.

“Saat itu, saya tidak terfokus pada hal- hal tentang Muslim karena menurut saya, itu bukanlah hal yang penting. Saya hanya mendekatinya, sementara ia justru sebaliknya, berusaha menjauh dari saya,” kenangnya.

Suatu hari, di bulan Ramadhan, gadis itu marah karena ucapan Tim dinilai menghina agamanya. Saya hanya merespons perkataannya yang melarang saya datang menemuinya sepanjang bulan Ramadhan.

Tim kemudian mendatangi komunitas Islam di kampusnya dan meminta mereka membantunya mengenal Islam dan mendekati gadis Malaysia yang disukainya itu. Tim justru mendapat anjuran untuk tidak berusaha memacari gadis itu.

“Saya menganggap saran itu tidak adil karena saya mencintainya, tapi kemudian, mereka menjelaskan pada saya bahwa gadis Muslim itu tidak berpacaran dan itu adalah hal yang seharusnya, tutur Yusuf.

Teman-teman Tim dari komunitas Islam itu kemudian memberinya beberapa buku tentang Islam untuk dipelajarinya. Ia lalu meluangkan banyak waktunya untuk membaca banyak buku Islam dan mulai mengerti mengapa gadis itu menjauhinya.

Hingga suatu hari, Tim kembali mendatanginya dan menawarkan diri untuk menikahinya. “Saya pikir itu akan menyelesaikan persoalan tentang perbedaan kami, tapi saya ditolak,” kenang dia.

Tim terus membaca banyak buku Islam hingga akhirnya ia memutuskan untuk ikut menjalankan puasa Ramadhan. Sesekali ia bergabung dengan umat Islam di masjid dan mengikuti shalat berjamaah.

“Saya tidak tahu apa yang mereka lafalkan dan hanya berusaha mengikuti gerakan mereka, katanya.

Yusuf mengingat dengan baik, ia berada di London waktu itu dan masih berada di lingkungan yang sama dengan teman- teman lamanya. Saat mereka pergi untuk berpesta dan sejenisnya, Tim memilih tetap tinggal di rumah, melahap buku-buku Islam, dan sesekali pergi ke kamar mandi untuk melakukan wudhu serta ghusl(mandi atau membersihkan diri dari kotoran).

“Meski saya tidak benar-benar mengerti apa ghusl itu,” ungkapnya.

Dari semua yang dibacanya, Tim benar- benar terfokus pada fakta bahwa Islam harus menjadi jalan hidupnya sehingga pagi pada keesokan harinya, masih di bulan Ramadhan, ia mendatangi sebuah masjid untuk mengikrarkan keislamannya.

Setelah mengucapkan syahadat, sekitar 300?400-an jamaah pria memeluk saya secara bergantian, mengucapkan salam dan ucapan selamat pada saya, ujar salah satu pendiri Islamic Education and Research Academy (IERA) itu.

Tim Chambers lalu berganti nama menjadi Yusuf Chambers, menemukan kehidupan yang baru sejak itu. Ia mengaku depresi yang telah lama dirasakannya lenyap, pun ketergantungannya pada alkohol. Yusuf mengatakan, ia telah menemukan kebenaran akhir yang telah lama dicarinya setelah menjadikan Islam sebagai keyakinannya.

“Saya berubah, dari tidak memahami apa pun menjadi seseorang dengan keyakinan yang tinggi tentang alasan keberadaannya di dunia, hanya dalam dua pekan. Itu karena hidayah Allah,” kata dia.

Yusuf yakin, tidak ada yang bisa menolongnya keluar dari keadaan membingungkan itu, kecuali hidayah Allah. “Dan saya sangat bersyukur atas hidayah-Nya itu,” kenangnya.

Vince Focarelli Kepala Geng Motor Australia yang Bersyahadat

Pria kelahiran Italia ini awalnya menolak menceritakan kisah pribadinya, terutama terkait perubahan mendasar dalam kehidupan spiritualnya. Akan tetapi, pendiriannya tersebut akhirnya berubah juga setelah Adelaide, media Australia memublikasikan perjalanannya tersentuh hidayah Islam.

Masa lalu Focarelli tergolong kelam. Dia pernah bergabung dengan geng motor paling terkenal di Australia Selatan, yakni Comanchero. Pria yang kini usianya menginjak 43 tahun itu pernah menduduki sebagai pemimpin tertinggi Comanchero. Kehidupannya berubah 100 persen selama dia mendekam di penjara.

Focarelli menuturkan perjalanan kelam hidupnya selama menjadi ketua geng motor. Banyak masalah yang meng hampi rinya. Beberapa kali dia harus menghadapi per cobaan pembunuhan. Dan dia tetap bertahan meski telah ditembak enam kali. Insiden tersebut terjadi pada 2012, ketika itu ramai diberitakan media Australia. Dalam insiden penembakan anggota geng motor, dia selamat, tapi anak tirinya Giovanni harus meregang nyawa dalam insiden yang sama.

Tak hanya harus menghadapi jurang ke matian berkali-kali, dia juga meng hadapi berbagai masalah. Dia pernah menghabiskan 14 bulan di penjara karena kepemilikan senjata api tak berizin dan kepemi likan narkoba. Focarelli dibebaskan dari penjara secara bersyarat Apri 2013 lalu. Januari 2017, Focarelli mengisahkan, dia harus dideportasi dan berakhir di lembaga pemasyarakatan karena tindakan kriminal di masa lalunya. Khawatir dia akan dideportasi dari Australia, dia memilih meninggalkan Australia.

Dia meninggalkan Australia dan kembali ke Italia Maret 2017, namun tak lama. Dia kembali ke Italia, terakhir kali dia berada di negara itu ketika berusia 12 tahun. Setelah itu dia pindah ke Malaysia dan memutuskan memulai hidup baru. Kini dia menetap di Malaysia.

Di Kuala Lumpur, Focarelli men jalani kehidupan yang baru. Dia sangat ingin menjadikan tempat ini rumah keduanya setelah meninggalkan kehidupannya yang suram di masa lalu.

“Jika saya bertahan dan me nunggu mereka, ada kemungkinan saya bisa dibawa ke pusat pena han an. Setelah aku tenang, istri dan anak perempuanku akan ikut, katanya Tak lama setelah tiba di Malaysia, dia pun memboyong ibunya pindah bersamanya. Ibunya ketika itu sedang menderita kanker stadium akhir. Agustus 2017 ibunya datang, tetapi istri dan anak perempuan tirinya masih berada di Australia.

Saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan melihatnya lagi, tetapi Allah memberi saya berkat ini. Sekarang giliranku merawatnya.  Focarelli juga berbagi tentang kehidupannya di Malaysia, dan bagaimana dia menikmati kebebasan yang dia miliki serta pengalaman yang dia terima. Saya tidak pernah mengalami budaya yang seindah ini. Saya merasa bebas dan saya tidur nyenyak di malam hari.

Ibunya membangunkan Focarelli beberapa kali setiap malam. Namun, dia merasa bebas karena dapat menemaninya. Sedangkan ayah Focarelli meninggal hanya beberapa hari sebelum dia dibebaskan bersyarat pada 2013.

“Adelaide adalah rumah saya dan hati saya masih di sana. Saya merindukannya. Saya kehilangan dua orang. Saya kehi langan istri dan anak tiri saya. Ketika mereka di sini, saya akan lengkap,” kata Focarelli, seperti dilansir the Advertiser. Setelah tinggal di Malaysia dia ingin membuka kem bali restoran lamanya yang pernah dikelolanya di Australia yaitu La’Fig Cucin.

Pendakwah

Hidup baru bagi Focarelli tak hanya tinggal di lingkungan yang berbeda. Pemilik nama Islam Imran Abdul Salam ini be nar-benar meninggalkan kehidupan lamanya. Kini lelaki sangar tersebut berubah menjadi seorang pendakwah. Dia berbagi kisah religinya kekhalayak tentang nikmatnya menjadi Muslim. Dia berkeliling dari satu pertemuan ke pertemuan lain dari satu masjid ke masjid lain.

Dia berharap dari kisah hidupnya, jamaah yang mendengarnya dapat meme tik pelajaran darinya. Dia bercerita kisah hidupnya yang menjadi gengster kemudian benar-benar memeluk Islam. Sejak menjadi mualaf, banyak undangan yang dia terima. Dia pun bertemu dengan seorang mufti. Mufti di Malaysia menyambutnya dengan tangan terbuka.

Kisah perjalanan Focarelli mengenal Islam banyak diminati anak-anak dan remaja. Salah satu warganet, Zulkifli misalnya, dia menulis komentarnya di media sosial tentang Focarelli sebagai berikut: “Mendengar bagaimana dia (Focarelli) me nerima bimbingan untuk memeluk Islam sudah cukup mengingatkan kita akan ke hebatan Allah. Memang benar bahwa bim bingan itu milik Allah SWT sendiri,” ujar dia.

Kendati Focarelli benar-benar telah meninggalkan kehidupan lamanya, sepak terjangnya masih cukup ditakuti dan dibenci, terutama bagi warga Adelaide. Padahal, kini dia merupakan orang yang berbeda.

Sebagai bentuk pengabdiannya kepada masyarakat, Focarelli aktif di bidang sosial. Dia memberikan ceramah motivasi dan inspiratif tentang perjalanannya menemukan Islam. Selain itu, juga terlibat di lembaga kemanusiaan. Dia banyak bekerja untuk mendistribusikan makanan bagi pengungsi Yaman.

Sebelumnya dia memiliki usaha restoran Italia halal La Fig Cucina di Adelaide. Dia berharap restoran ini tetap ada dan berkembang hingga seluruh dunia. Tak hanya mengembangkan bisnis restoran ini, dia juga memberikan sebagian keuntungannya untuk kaum dhuafa. Setiap pekan, dia bersedekah untuk gelandangan dan komunitas Muslim lokal di Adelaide. Perbuatan baiknya ini, menjadi alasan banyak orang memeluk Islam dan teman-temannya yang Muslim bertambah lebih taat.

Selain berkeliling untuk berdakwah kini dia didaulat sebagai brand ambassador dan direktur dari mata uang kripto yang sesuai syariah, Bayan Token. Menurut dia, keberadaan mata uang kripto ini memiliki manfaat positif. Bagi Abdul Salam, upayanya tersebut bagian dari perbuatan baik. “Saya percaya ketika anda berbuat baik, maka kebaikan akan kembali kepada Anda,” ujar dia.

Allah telah memutuskan bahwa perbuatan baik harus dilakukan dengan niat baik. Menurut Abdul Salam, mata uang kripto ini dibuat sesuai dengan syariah Islam. Tujuannya pun untuk mendanai proyek yang bermanfaat bagi jutaan orang sesuai dengan ajaran Islam. Dia berharap manfaat uang kripto ini dapat dirasakan terlebih dahulu oleh masyarakat Asia Tenggara.

Berdasarkan situs Bayan Token, hasil penjualannya dipastikan untuk mendanai beberapa proyek sehingga nilai token ini akan sangat menguntungkan. Bayan Token bukan hanya token utilitas tetapi juga mendukung proyek nyata yang menguntungkan dan mendukung kehidupan sekitar. Proyek sosial ini di antaranya adalah mendukung pengembangan 100 hingga seribu gerai halal di Malaysia, Singapura, Brunei, dan Indonesia.

Dengan mata uang ini Abdul Salam yakin biaya hidup jutaan Muslim yang tinggal di seluruh Asia Tenggara akan menurun. Proyek lainnya adalah, mengembangkan produksi ekstrak daun Basella alba alami. Bahan alami ini diklaim menurunkan tingkat kolesterol pada manusia dan kebanyakan hewan tanpa kerusakan otot, hati, rhabdomyolysis, dan gagal ginjal akut disebabkan perawatan sintetis.

 

REPUBLIKA

Kesan Mark Shaffer Pertama Kali Melihat Kabah

Mark Shaffer memutuskan menjadi Muslim sekitar delapan tahun lalu atau tepatnya pada 17 Oktober 2009. Ia berikrar syahadat saat berada di Arab Saudi.

Ketika itu, Mark sedang menghabiskan waktu liburan di negara petro dolar itu selama 10 hari dengan mengunjungi beberapa kota, seperti Riyadh, Abha, dan Jeddah. Selama kunjungan ini, ia tertarik dengan Islam dan mempelajarinya.

Mark adalah seorang jutawan terkenal sekaligus seorang pengacara di Los Angeles. Spesialisasi kasus yang ia tangani adalah seputar kasus di hukum perdata. Ia merupakan pemilik firma hukum The Shaffer Law Firm. Kasus besar terakhir yang ia tangani adalah kasus penyanyi pop terkenal Amerika, Michael Jackson, sepekan sebelum ia meninggal.

Perkenalan Mark tidak terlepas dari sentuhan pemandu wisata yang menemaninya selama di Arab Saudi. Dhawi Ben Nashir namanya. Menurut Nashir, sejak menginjakkan kaki pertama kali di Arab Saudi dan tinggal di Riyadh selama dua hari, Mark sudah mulai mengajukan pertanyaan soal Islam dan shalat. Dari hari ke hari selama perjalanan wisata, ketertarikan Mark kepada Islam semakin besar, ter utama saat ia mengunjungi padang gurun pasir.

Saat berada di gurun gersang itu, Mark kagum melihat tiga pemuda Saudi yang melaksanakan shalat di atas bentangan padang pasir yang sangat luas. Baginya, hal tersebut merupakan pemandangan yang begitu fantastis.

Setelah dua hari di Al-Ula, Mark dan rombongan mengunjungi Al-Juf. Saat tiba di Al-Juf, Mark mulai berburu buku-buku Islam. Ia meminta Nashir memberikan beberapa buku Islam yang ia butuhkan.

Dengan penuh semangat, Mark membaca semua buku yang diberikan kepadanya. Keesokan paginya, Mark meminta kepada Nashir mengajarinya melakukan gerakan shalat. Nashir mengajari Mark bagaimana berdoa dan mengambil wudhu. Kemudian, ia mengikuti gerakan shalat Nashir.

Setelah shalat, Mark merasakan kedamaian dalam jiwanya. Kamis sore, Mark dan rombongan meninggalkan Al-Ula untuk mengunjungi Jeddah. Dalam perjalanan menuju Jeddah, Mark semakin tampak serius membaca buku-buku Islam.

Saat tiba di Jeddah, Mark mengunjungi kota tua Jeddah. Karena perjalanan bertepatan dengan hari Jumat, Nashir pemandu wisata Mark mohon izin melaksanakan shalat Jumat. Mark meminta Nashir kembali mengajaknya melaksanakan ibadah shalat. Mark ingin tahu bagaimana shalat Jumat dilaksanakan.

Kekaguman Mark kepada Islam semakin besar saat ia ikut serta dalam pelaksanaan shalat Jumat, yang diadakan di masjid dekat hotel ia menginap. Mark begitu kagum dengan banyaknya jamaah yang hadir hingga keluar masjid.

Ditambah lagi setelah shalat selesai dilaksanakan, masing-masing orang saling berjabat tangan dan berpelukan dengan wajah ramah. Baginya ini adalah hal yang begitu indah.

Selesai melaksanakan shalat Jumat, Mark kembali ke hotel. Tiba-tiba ia mengatakan kepada Nashir bahwa ia ingin menjadi seorang Muslim. Tanpa ragu, Nashir mengarahkan Mark. Ia meminta Mark bersuci terlebih dahulu sebelum membimbingnya mengucapkan ikrar syahadat. Akhirnya, Mark resmi menjadi Muslim.

Deklarasi

Mark memutuskan mendeklarasikan keislamannya kepada media Arab Saudi, yakni kepada surat kabar Al-Riyadh. Dalam keterangannya kepada media, Mark mengaku tidak bisa mengungkapkan perasaannya.

Ia merasa seperti dilahirkan kembali dan memulai kehidupan baru. Saya sangat senang. Kebahagiaan ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, terutama ketika saya mengunjungi Masjid al-Haram dan Ka’bah, katanya.

Sebelum menjadi Muslim, ia mengaku sudah memiliki informasi tentang Islam, tapi sangat terbatas. Ketika mengunjungi Arab Saudi dan menyaksikan langsung Muslimin di sana, ia merasa memiliki dorongan yang kuat untuk tahu lebih banyak tentang Islam.

Informasi yang benar terkait Islam yang ia terima, membuatnya yakin bahwa risalah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW ini adalah agama yang benar.

Mark mengatakan, tidak akan pernah puas dan terhenti mendalami Islam. Ia justru semakin termotivasi belajar agama. Ia sadar masih terlalu banyak yang mesti ia pelajari tentang risalah yang damai ini.

Mark meninggalkan Arab Saudi pada Ahad pagi, 18 Oktober 2009 setelah menyelesaikan perjalanan wisatanya. Sebelum meninggalkan Jeddah, saat mengisi formulir keimigrasian, dengan bangga Mark mencantumkan Islam sebagai agamanya.

Kesan Pertama Kunjungi Ka’bah

Setelah memeluk Islam, Mark mengungkapkan keinginannya untuk mengunjungi Masjid al- Haram di Makkah dan shalat di sana sebelum meninggalkan Arab Saudi.

Untuk memenuhi keinginan Mark, Nashir mengajaknya pergi ke kantor Dakwah dan Irsyad di kawasan Al- Hamro’, Jeddah, untuk mendapatkan bukti formal bahwa Mark telah memeluk Islam.

Bukti ini diperlukan agar Mark dapat diizinkan memasuki Kota Makkah dan Masjid al-Haram. Mark akhirnya memperoleh sertifikat sementara sebagai bukti ia seorang Muslim.

Dalam kunjungannya ke Masjid al- Haram, Mark ditemani Ustaz Muhammad Turkistani karena Nashir harus mengantar rombongan lainnya kembali ke bandara. Sesampainya di Masjid al-Haram, Mark tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya.

Kebahagiaannya semakin bertambah saat memasuki masjid dan menyaksikan secara langsung Ka’bah. Ustaz Muhammad Turkistani yang mendampingi Mark mengaku tidak bisa mengungkapkan apa yang ia saksikan dengan kata-kata.

Setelah melakukan tawaf di sekitar Ka’bah, Mark melaksanakan shalat sunah dan pergi keluar dari Masjid al- Haram. Sejujurnya, ia merasa enggan meninggalkan Masjid al-Haram. Ia berharap suatu saat dapat kembali melaksanakan shalat di Masjid al- Haram.

TERBARU: Aplikasi Cek Porsi Haji, kini dilengkapi Infomasi Akomodasi Haji di Tanah Suci! Silakan Download dan instal bagi Calon Jamaah Haji yang belum menginstalnya di smartphone Android!

Gelombang Mualaf Dunia

Peristiwa kekerasan yang disangka dilakukan oleh Muslim di New York AS tahun 2001, telah menghasilkan gelombang kejut ke seluruh dunia. Dan tahun 2001, telah menandai awal wabah Islamofobia yakni ketakutan tanpa alasan terhadap Islam dan Muslimin di seluruh dunia. Sejak itu, berbagai kekerasan terhadap umat Islam di berbagai negara silih berganti. Mulai dari Benua Asia sampai Afrika. Ini karena umat Islam telah dikunci dengan satu kosa kata “pelaku kekerasan” tanpa banyak intektual Muslim yang melakukan pembelaan terhadap Islam dan Muslimin selayaknya.

 

Sementara itu, negara-negara Islam atau negara dengan penduduk Muslim, takut saling membantu saudara Muslim yang sedang tertindas karena takut dituduh “pelaku kekerasan”. Keadaan ini terus berlangsung. Sementara itu, para pemimpin negeri-negeri Muslim asyik meraup uang rakyat dan anak-anak mereka yang tidak kalah rakus dengan ayah mereka berlomba membeli Lamborghini dan Ferrari karena Mercedes Benz sudah sangat membosankan buat mereka, apalagi Avanza, huh.

Salah seorang putra pemimpin negeri Muslim baru saja mendepositokan uang miliaran dollar ke suatu bank di Eropa, membeli Ferrari, dan pada kecepatan 200 km/jam bress duarr remnya gagal; ia mati tanpa mencantumkan ahli waris dari depositonya yang 15 milar dollar itu. Kini uang itu menjadi milik bank; perampok dirampok?

 

Kebanyakan umat Islam tertekan dan melarat di seluruh dunia. Puncaknya adalah tahun 2010, ketika penderitaan mereka telah sampai di awan, sehingga katup pengaman harus dibuka kalau tidak ingin meletup berkeping. Dan, inilah yang terjadi di Tunisia, ketika seorang pemuda Mohammed Bouazizi mengalami musibah besar, suatu tragedi yang akan membakar dunia Arab dari Afrika sampai seluruh Timur Tengah.

Pedagang kaki lima ini sedang menjajakan dagangan buah-buahan ketika datang Satpol PP merampas dagangannya. Padahal, dengan dagangan itulah kehidupan keluarganya tergantung. Pemuda ini sangat marah, tetapi tidak mampu melawan polisi dan ia akhirnya memarahi dan melawan dirinya sendiri. Setelah menyiramkan bensin ke badan, iapun menyulut dirinya dengan api. Ia membakar dirinya sendiri. Mati? Tidak, belum.

Berminggu ia bergulat melawan maut. Dari Selasa malam 14 Desember 2010 saat ia memprotes pemerintah Tunisia dengan membakar diri sendiri sampai Selasa 4 Januari 2011 Mohammed Bouazizi selama 17 hari bergulat menahan nyeri dari kulit dan daging hidup yang terbakar, ia berjuang melawan maut, dan; ia kalah. Mati.

Rakyat Tunisia pun bergolak, marah telah menggelegak, kegeraman mereka telah menjadi tenaga dahsyat untuk menghancurkan apa saja yang dapat dihancurkan, mengusir pejabat siapa saja yang dapat diusir termasuk Presiden Zeinal Abidin yang kabur dengan uang tunai jutaan dolar dan ratusan kilogram batangan emas murni. Kepergiannya dari negeri tempat ia dilahirkan, dibesarkan, diangkat sebagai presiden, dan rakyat yang mengusirnya telah menandai era baru. Arab Spring.

Badai Arab Spring telah menjalar dari Tunisia ke timur ke Libya menghancurkan dan membunuh Moammar Gadafi. Ke timur lagi ke Mesir mengirim Hosni Mubarak ke penjara, lompat ke timur ke Arab Saudi; mentok di sini karena Barat berkepentingan dengan minyak Saudi. Belok, ke utara sedikit Arab Spring maju ke Bahrain; Emir Bahrain yang arif segera menyiramkan miliaran dinar kepada para demonstran agar marahnya padam. Berhasil, UUD memang berlaku universal.

Melaju ke timur, Arab Spring tidak mendapati apa-apa di Iraq karena negeri ini tanpa Arab Spring-pun sudah rata dengan tanah, mau ke selatan ke Iran dihadang para Mullah yang kharismatik; merangsek ke timur ke Suriah. Bashar Asad yang sudah menunggu segera memberondong gerakan rakyat dengan peluru, sampai kini. Banjir darah di Timur Tengah dalam Arab Spring sejak 17 Desember 2010 sampai Desember 2012 ini, tidak terdengar di Indonesia, bukan karena tuli karena telah ada Mul-Tatuli, tetapi mereka yang di atas ribut rebutan uang Hambalang, eKTP, Freeport, BLBI, Bank Century, reklamasi, dan entah apalagi. Sementara itu, para pegawai biasa yang terpaksa jujur asyik saja makan tempe mendoan diselingi cekikikan cengengesan main WA sambil nunggu gajian dan uang pesiun.

Masyarakat Barat adalah masyarakat berpendidikan dan rasional. Berita-berita miring tentang Islam dan Muslimin dunia yang bertubi-tubi telah mendatangkan pertanyaaan di dalam hati mereka “Benarkah Islam seperti itu?” Mereka mulai mencari literatur dan bacaan yang kredibel tentang Islam, ada juga yang turun langsung ke lapangan membuat dokumentasi. Dan di antara mereka ada yang mendatangi tempat atau negara yang dikabarkan sebagai sarang penjahat Muslim. Mereka telah melakukan berbagai tindakan nyata untuk memenuhi hasrat kaingintahuan diri mereka yang merupakan bagian dari fitrah manusia.

Sebutlah seorang wartawati Inggris Yvonne Ridley yang mungkin datang ke Afghanistan tahun 2001 sebagai mata-mata, tetapi mengaku untuk meliput keadaan masyarakat. Perlukah seorang wanita muda datang sendirian ke wilayah perang untuk menulis tentang seluk beluk masyarakat yang sedang berlomba kabur menghindari perang? Apapun alasananya, ia ditangkap dan dipenjara; takdir belum menentukan ia mati di ujung senapan.

Ketika perang menyurut dan ia dipulangkan sebagai bagian dari pertukaran tawanan. Ia merasa tugasnya belum selesai dan hasrat kaingintahuannya belum terpenuhi; maka ia kembali ke Afghanistan. Dan, inilah yang ditemukannya. Pejara Afghanistan yang dikunjunginya ternyata dipenuhi dengan gadis-gadis yang sebagian masih bau kencur atau baru beranjak dewasa. Kesalahan mereka? Lari dari orang tua yang memaksa mereka menikah dengan orang seumur ayah mereka dan menjadi isteri kedua, ketiga atau keempat.

Yvonne Ridley geram “Kurang ajar! Inikah Islam?” dan ia menjadi semakin ingin tahu. Naluri jurnalisitiknya mengantarkannya ke beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh para tokoh masyarkat Afghanistan. Jawaban yang diperoleh ternyata sangat mengejutkan, para gadis itu telah dijual oleh orang tua mereka kepada orang kaya yang telah mempunyai istri atau beberapa istri. Ini tradisi setempat, tidak termasuk ajaran Islam.

Setelah mengerti perbedaan antara Islam dan tradisi, Yvonne minta dituntun mengucapkan syahadatain, lalu bertekad menjadi pembela para gadis yang dimasukkan penjara bukan karena kejahatan, tetapi karena tradisi. Pulang ke Inggris mengenakan hijab atau kerudung Muslimah, ia membuat seantero Inggris bahkan Eropa geger. Seorang mantan tawanan Afghanistan kembali ke Inggris menjadi Muslimah! Dialah yang membuka mata Eropa dan dunia Barat bahwa Islam sangat berbeda dengan tradisi lokal, Islam ternyata bukan kekerasan. Yvonne Ridley telah menjadi muallaf sekaligus pendakwah. Inilah hidayah.

Michael Moore mempunyai hobi membuat film dokumentasi yang kemudian menjadi profesi. Film dokumenternya ‘Fahrenheit 9/11’ memenangkan beberapa penghargaan internasional dan menghasilkan 200 juta dollar dari penonton seluruh dunia. Temuannya yang didokumentasikan telah mengejutkan dunia khususnya tentang kebenaran Islam yang ditutup-tutupi oleh dunia Barat. Sesudah bersyahadat, ia membentangkan poster di depan TRUMP HOTEL “WE ARE ALL MUSLIMS”, kami semua Muslim.

Oliver Stone adalah produser film yang sukses di Hollywood, apa saja difilmkan asal mendatangkan duit. Anaknya Sean Stone yang berumur 27 tahun, ingin menapak jejak sang ayah dan pergi ke Iran untuk membuat film dokumenter di “negara para pendukung kekerasan.” Apa yang dilihatnya telah membuka mata hatinya bahwa Islam adalah indah, dan iapun urung membuat film, ia bersyahadat dan belajar tentang Islam.

Tony Blair adalah Perdana Menteri Inggris terkenal, ia dan isterinya berasal dari keluarga Nasrani. Iparnya Laureen Booth senantiasa memantau TV akan aktivitas politik Tony Blair dan bertanya-tanya, “Benarkah Islam adalah seperti yang dimusuhi oleh Tony Blair?” Setelah menelaah beberapa buku, ia datang ke masjid dan minta disyahadatkan. Inggris geger lagi, Perdana Menteri yang ingin mengalahkan Muslim ternyata tidak berdaya melawan ipar sendiri, bagaimana akan mengalahkan Islam?

Berderet nama selebriti dunia yang memeluk Islam atau yang disangka bukan Muslim ternyata Muslim tulen dan mendapat publikasi yang mendunia, langsung atau tidak, mereka adalah pendakwah. Sebut saja Muhamad Ali, Mike Tyson, bintang bola basket Shaquille O’Neal dan Abdul Hakeem Olajuwon, komedian Dave Chappelle, penyanyi hip hop Ice Cube dan Trevor Tahiem Smith, Jr. alias Busta Rhymes, bintang filem Ellen Burstyn, Omar Sharif, bintang Iron Man Faran Tahir, dan Aasif Hakim Mandviwala, penyanyi rap Lupe Fiasco, foto model Iman Mohamed Abdulmajid. Daftar masih panjang, Dr. Mehmet Oz, pelantun “Morning Has Broken” Cat Stevens alias Yusuf Islam dari Inggris, penyanyi Q-Tip alias Kamaal Ibn John Fareed, penyanyi Mos Def malah menyanyikan hit “Bismillah ar-Rahman ar-Raheem”, dan seorang gadis umur 17 tahun pemenang hadiah Nobel termuda di dunia Malala Yousefzai.

Penyanyi Janet Jackson dan kakaknya Jermaine Jackson; seorang lagi kakaknya yang paling popular Michael Jackson ketika berada di Qatar telah mengucapkan “Insya Allah.” Sekiranya peyanyi bintang pujaan pemuda-pemudi seluruh dunia ini telah jelas masuk Islam, maka sangat mungkin jutaan para pemujanya di seluruh dunia bakal ikut masuk Islam, mungkinkah karena ini ia harus mati atau dimatikan?

Oleh: Abdul Rahman Bahry, Tinggal di Cleveland, Ohio Amerika Serikat, Alamat email abahry@hotmail.com

Satu-satunya warga negara Indonesia yang bekerja sebagai Guru Agama di penjara kota Cleveland

 

REPUBLIKA

Pencak Silat Membawa Steven Krauss ke Islam

Pemilik nama lengkap Steven Eric Krauss ini, masih mengingat betul peristiwa bersejarah sepanjang hidupnya itu. Ya, pada 30 Juli 1999, ia memutuskan berikrar syahadat. Keputusan sangat krusial yang menentukan arah hidupnya hingga kini.

Meski terlahir dari keluarga Protestan, sebelum mengenal Islam, Krauss adalah pribadi liberal dan anti segala sesuatu yang berbau dogmatis maupun paksaan atas nama agama. Selama lebih dari 25 tahun, ia masih awam terhadap keyakinan yang ia anut sejak kecil itu.

Ia lebih tertarik mencari makna spiritual di luar konsep agama, yang baginya terlalu terorganisir. Bagi saya, agama telah keluar dari sentuhan dan tidak relevan dengan zaman, katanya.

Kenyataan ini membuat Krauss semakin tidak percaya agama. Sangat sulit baginya mempraktikkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Ia selalu tidak menyukai jika diatur atas nama agama.

Keengganan Krauss memperdalam ajaran agama juga akibat kebingungannya dengan konsep ketuhanan. Tidak ada alasan jelas dan rasional untuk menerima konsep itu, katanya.

Pada awalnya, Krauss tidak begitu memedulikan Islam. Islam sangat berbeda baginya. Tata cara ibadah umat Islam begitu sulit dimengerti.

Perkenalan Steven Eric Krauss dengan Islam dimulai saat ia masih menjadi mahasiswa pascasarjana di New York City pada 1998.

Teman sekamar Krauss yang merupakan Yahudi, selalu menceritakan tentang makna spiritual dari kelas seni silat yang ia ikuti.

Saat itu, Krauss tidak mengetahui apa-apa tentang silat. Krauss tertarik dengan cerita temannya dan memutuskan untuk menemani teman sekamarnya latihan silat di suatu pagi.

Saat inilah perkenalannya dengan Islam dimulai. Guru pencak silat yang seorang Muslim menjadi langkah awal menuju Islam.  Seiring berjalannya waktu, ketertarikan Krauss kepada silat dan Islam semakin besar.

Ia menghabiskan banyak waktu dengan gurunya. Bahkan, setelah latihan, Krauss dan temannya akan berkunjung ke rumah guru untuk memperoleh ilmu lebih banyak lagi.

Melalui sang guru silat, Krauss belajar banyak tentang Islam. Ia dipertemukan langsung dengan umat Islam yang taat dan melihat dengan mata kepala praktik Islam di kehidupan sehari-hari.

Ia menyadari, Islam adalah gaya hidup. Ketika Anda berada dalam lingkungan Islam, Anda tidak bisa memisahkannya dari kehidupan sehari-hari, katanya.

Bagi Krauss, kenyataan ini begitu berbeda dari agama yang ia anut terdahulu. Di agamanya dahulu, terjadi pemisahanan antara kehidupan sehari-hari dan agama.

Sedangkan Islam mewajibkan umatnya untuk mengintegrasikan Allah dengan segala sesuatu yang dilakukan. Kecintaan Krauss terhadap gaya hidup yang dipraktikkan umat Islam semakin besar. Ia begitu mengagumi Islam.

Ia mengaku bersyukur atas kemudahan yang diberikan Allah, sehingga ia dapat mempelajari Islam dengan baik dan menjalani perubahan hidup di Amerika sebagai Muslim taat.

Di Amerika, banyak aspek budaya yang sangat berbeda dengan Islam. Bahkan ketika ia menyampaikan kabar kepada keluarga bahwa ia telah menjadi Muslim.

Ia menerima pertanyaan dan keprihatinan menyangkut perbedaan budaya seperti perkawinan, kehidupan sosial, dan keluarga. Keluarga dan teman-temannya berpendapat bahwa menjadi Muslim tidak selalu negatif. Hanya saja, dengan menjadi Muslim, maka diperlukan pemahaman yang banyak tentang Islam.

Totalitas Mempraktikkan Islam

Seiring berjalannya waktu, pemahamannya akan Islam menjadi tumbuh.    Krauss menyadari, budaya Amerika begitu menjunjung tinggi kebebasan.  Budaya Amerika sangat menarik bagi kehidupan duniawi.

Di Amerika, kebahagiaan didefinisikan dengan apa yang dimiliki dan apa yang dikonsumsi. Memutuskan taat beragama berarti siap menerima perlakuan kurang menyenangkan di masyarakat.

Sebagai seorang sosiolog, ia banyak mengamati fenomena dan penyakit sosial yang melanda masyarakat. Setelah ber-Islam, ia menyimpulkan, merebaknya penyakit sosial tersebut akibat perilaku sosial yang tidak sehat.

Bagi Krauss, Islam bukan hanya relevan dengan kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, Islam memang berbeda dari agama-agama lain. Hanya Islam yang memberikan pengetahuan dan bimbingan untuk setiap aspek kehidupan.

Cuma Islam yang memberikan cara untuk mencapai kesehatan dan kebahagiaan dalam setiap dimensi kehidupan. Baik secara fisik, spiritual, mental, keuangan, dan lain sebagainya. Dan Islam sajalah yang memberikan tujuan hidup yang jelas.

Yang tak kalah penting, Islamlah yang menunjukkan cara yang tepat untuk berkontribusi di masyarakat. Ini adalah jalan menuju tujuan, makna, kesehatan dan kebahagiaan. Hal ini karena  jalan yang lurus ke sumber kebenaran dan kekuasaan yang sesungguhnya, yaitu Allah, ujarnya.

Pemahaman ini diperoleh Krauss ketika ia total menjadi Muslim dan menjalani ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, secara harfiah, segala sesuatu yang dilakukan memiliki satu tujuan yang mendasari, yakni untuk mengingat Allah.

Dan dengan mengingat Allah, segala sesuatu yang kita lakukan menjadi fokus pada-Nya. Dengan mengingat Allah terus-menerus, maka kita menjadi kuat dan sehat dalam setiap aspek kehidupan, dan tidak terganggu oleh pikiran dan perilaku negatif yang muncul dari dalam diri.

 

REPUBLIKA

Islamnya Sang Mantan Bandit

Pemilik nama asli Regis Fayette Mikano melewati masa-masa kelam dalam hidupnya. Berbagai aksi kejahatan pernah dilakoni oleh pria berdarah Kongo ini. Pria kelahiran 14 Maret 1975 ini mengisahkan sepak terjangnya sebelum merengkuh di pangkuan Islam. Ia sering kali terlibat dalam pencurian mobil dan peredaran narkoba.

Tak sedikit orang yang antipati terhadap masa depannya. Semua bermula ketika pada 1977 kedua orang tua Regis yang berdarah Kongo membawanya kembali ke negara asal mereka, Kongo, dan tinggal di Brazzaville (ibu kota serta kota terbesar di Republik Kongo). Regis menghabiskan masa kecilnya di sana, sebelum ia dan keluarganya kembali ke Prancis dan menetap di Distrik Ghetto atau Neuhof (selatan Kota Strasbourg) pada 1981.

Sang ayah pergi meninggalkan rumah, saat Regis berusia remaja. Ibunya harus berjuang sendirian membiayai dan mendidik anak-anak nya. Regis mulai tumbuh menjadi penjahat kecil. Tinggal di lingkungan baru dan tanpa ayah, Regis belajar memenuhi keterbatasan dan kekurangan yang ia temukan di rumah.

Bermula dari melakukan kejahatan kecil, ia terus tumbuh menjadi penjahat kelas kakap dengan sejumlah temannya. Aku menyambar dan mencuri mobil, untuk menghasilkan uang yang tidak dapat diperoleh dari rumah, katanya. Dalam kondisi itu, Regis melayani tiga peran kehidupan sekaligus. Sebagai seorang anak yang berjuang menjaga keluarganya, siswa berprestasi di sekolah, dan penjahat jalanan yang cerdik.

Titik balik Kendati demikian, masih ada secercah kebaikan dalam dirinya, rasa keingintahuannya sangat besar ihwal asah spiritual. Regis memilih menyalurkan rasa frustrasinya melalui musik rap, bercerita dan menyampaikan kritik sosial dari semua yang terjadi. Terinspirasi oleh rap Amerika pada 1980- an, Regis dengan saudaranya bergabung dengan sejumlah temannya dan membuat grup yang diberi nama New African Poets, yang disingkat NAP.

Di tengah kekritisannya, Regis kecanduan gerakan Black Power dan mengidolakan Malcolm X sebagai pahlawan Muslim kulit hitam, yang telah berani menentang ketidakadilan. Dari sinilah perkenalannya dengan Islam dimulai. Dari sinilah perkenalannya dengan Islam bermula. Baginya dan tak sedikit imigran di Prancis saat itu, Islam menawarkan identitas yang menantang. Di Prancis, Regis tinggal di wilayah Ghetto. Ghetto merupakan kediaman minoritas imigran di Prancis.

Saat bersekolah, ia sering melihat polisi mengatakan semua imigran adalah orang Prancis. Namun dalam kenyataannya, ia belum pernah melihat seorang kulit hitam tampil di TV. Termasuk tidak adanya politisi berkulit hitam. Regis mulai mencari tahu tentang Islam dengan mendengarkan khotbah-khotbah tentang Islam di jalan-jalan.

Akhirnya pada usia 16 tahun, Regis memutuskan masuk Islam dan berganti nama menjadi Abd al-Malik. Setelah memeluk Islam, Abd al-Malik mera sakan perubahan dalam hidupnya. Beberapa tahun setelah menjadi Muslim, ia melakukan perjalanan dakwah berkeliling Prancis bersama teman Muslimnya. Dalam dakwahnya, ia mengajak para pemuda mendatangi masjid, menjalankan sunah dan berhenti minum alkohol serta obat-obatan ter larang. ed: nashih nashrullah

Musik Rap Media Mendakwahkan Islam Damai

Abd al-Malik melihat ajaran Islam yang tengah populer di Ghetto Prancis, bukanlah sesuatu yang secara eksplisit mencerminkan kekerasan. Namun, sebagai seorang imigran muda yang fanatik ia mendorong untuk menjauhi segala hal yang bersifat sekuler, modern, dan kebarat-baratan. Hal tersebut justru menimbulkan pergolakan batin dalam dirinya.

Sebagai seorang remaja, Abd al-Malik merasakan kecintaannya terhadap musik rap. Dia harus menjauhi jenis musik tersebut karena musik rap, termasuk hal yang modern dan kebarat-baratan. Pada saat keislamannya seumur jagung, sebagai seorang rapper, Abd al- Malik marah ketika mendengar opini yang mengatakan Islam tidak sejalan dengan seni musik yang ia pilih.

Di autobiografinya yang berjudul Sufi Rapper (2009), Abd al-Malik berpendapat, budaya rap Prancis lahir dalam konteks rasisme dan xenofobia (ketakutan terhadap orang asing yang berlebihan) secara luas. Ia masih ingat, bagaimana publik meng kritiknya akibat statusnya sebagai anak imigran.

Hal ini diperburuk dengan banyaknya diskriminasi yang ia peroleh dalam banyak hal. Oleh karena itu, musik rap menjadi populer pada 1990-an, musik rap dikritik sebagai seni yang mengagungkan kekeras an dan mempertinggi ketegangan rasial. Abd al-Malik terjebak dalam paradoks untuk beberapa tahun. Itu menyakitkan, katanya. Rasa sakit semakin terasa karena ia menyadari musiknya dibiayai dengan kejahatan dan menjadi bagian peredaran narkoba.

Kekacauan batin mendorong Abd al- Malik mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang imannya. Dalam pencarian itu, ia menerima jawaban dari tasawuf. Abd al-Malik bertemu dengan seorang guru spiritual dari Afrika Utara yang mengajarkannya, esensi agama adalah cinta dan kesadaran terhadap sifat rohani setiap manusia.

Jadi, Islam adalah agama cinta. Islam adalah perdamaian dengan diri sendiri dan orang lain. Pembelajaran ini memberi perubahan pola pikir bagi Abd al-Malik. Ia mulai memainkan perannya dalam seni. Abd al-Malik mulai menulis lagu untuk album solonya. Lagu yang ia tulis membawa pesan untuk menyerukan pemahaman antar ras.

Dalam autobiografinya, Abd al-Malik menjelaskan, melalui musik ia hanya mencoba menerjemahkan bahasa hati. Untuk itu, ia memutuskan untuk mening galkan musik rap aliran keras dan mulai berkolaborasi dengan berbagai musisi, untuk mengembangkan genre baru campur an musik jazz. Dengan demikian, ia dapat menyampaikan kritik secara beretika.

Ketika rapper lainnya terus menciptakan musik kemarahan dan beberapa dari mereka dituduh menghasut kekerasan, Abd al-Malik tetap pada pilihannya. Daripada mengkritik sistem Prancis, Abd al-Malik mendorong negara untuk hidup sesuai dengan cita-cita demokrasi. Melalui musiknya, ia telah memperoleh banyak penghargaan.

Ia ingin menunjukkan umat Islam tidak harus menghindari hal-hal yang modern. Apalagi, jika bisa melakukan sesuatu dengan hal tersebut.

 

REPUBLIKA

Anna: Saya Pemegang Paspor Polandia dengan Foto Berhijab

Polandia, salah satu negara republik di Eropa Tengah. Populasi Muslim di Polandia hanya 0,1 persen dari populasi negara ini atau sekitar 35 ribu orang.

Dengan jumlah populasi yang minoritas, Islam di Polandia tengah menghadapi isu islamofobia yang didorong politikus dan media serta stereotip mengenai imigran Muslim.

Situasi demikian mencemaskan Muslim, Anna Lachowska misalnya. Penduduk asli Polandia yang memeluk Islam ini mengaku menjalani transformasi spritualnya begitu panjang. Mulai dari penolakan keluarganya hingga pada akhirnya menghadapi isu Islamofobia.

“Islam menunjukkan kepada saya Tuhan seperti yang selalu saya rasakan,” katanya kepada Aljazirah, Jumat (17/11)

Tetapi pilihannya tersebut ditolak olah ibunya. Anna menjelaskan bagaimana keputusan tersebut memicu reaksi kekecewaan dari ibunya. Pada awalnya percakapan dengan ibunya sengit tentang Islam. tetapi setelah beberapa lama kemudian, ibunda mulai menerima keputusannya.

“Setiap kali dia berbicara dengan beberapa kerabat dari Polandia, jika mereka mengatakan sesuatu yang ‘anti-Islam’, dia dengan berani membantahnya, membela Islam, membela pilihan saya, alhamdulillah (syukurlah),” kata dia.

Saat dia tinggal di Prancis, Anna mengaku diminta melepaskan jilbabnya sambil mengantri untuk melewati perjalanan. Dan itu adalah sesuatu yang tidak akan terjadi di Polandia menurutnya. “Saya adalah pemegang paspor Polandia dengan bangga dengan foto jilbab,” katanya.

“Bukannya saya terpaku pada jilbab, tapi saya tidak setuju dengan fiksasi Prancis atas larangan ini.

“Polandia lebih baik, lebih terbuka, lebih hormat dalam masalah ini.”

 

REPUBLIKA

 

 

—————————————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

 

Mualaf Center Indonesia tak Tahu Kabar John Kei Masuk Islam

Kabar masuk Islam seorang narapidana, John Kei, masih harus dipastikan lagi kebenarannya. Pasalnya, pihak Mualaf Center Indonesia sendiri belum mendengar kabar tersebut, serta tidak mengetahui apakah kabar tersebut benar.

Ketua Mualaf Center Indonesia, Steven Indra Wibowo menyatakan, tidak tahu-menahu mengenai kabar masuk Islam-nya John Kei seperti yang viral di media sosial. “Kami tidak tahu dan kami tidak terafiliasi dengan Mualaf Center Masjid Darussalam Cibubur,” ujar dia saat dihubungi Republika.co.id, via telepon, Senin (18/9) sore.

Sebelumnya, narapidana kelas kakap itu dikabarkan berniat masuk Islam. John Kei merupakan tersangka dalam perkara pembunuhan Tan Harry Tantono, Direktur Sanex Steel, yang ditemukan tewas di Swis-Belhotel Jakarta akhir Januari 2012 lalu.

Terkait kabar itu, pihak Mualaf Center Indonesia pun tidak bisa membenarkan apakah itu hoax atau bukan, tetapi yang mereka jelaskan, tidak ada kabar yang mereka dapat dengan tegas mengatakan John Kei masuk Islam.

 

REPUBLIKA

 

———————————————

Dapatkan artikel keislaman tiap hari dr HP Android Anda, undu Aplikasi Porsi Haji ini!  Anda juga dapat cek porsi haji/umrah.

Gareth Bryant Temukan Hidayah Ketika Masih Belia

Gareth Bryant, merasa begitu beruntung menerima cahaya Islam ketika masih belia. Dia menyatakan diri sebagai seorang Muslim pada usia 15 tahun. Bryant masih ingat betul momentum paling berharga baginya itu terjadi, tepat pada 27 Desember 1996 atau 16 Sya’ban 1416 Hijiriah. “Saya masih duduk di bangku kelas satu SMA,” ujar Bryant membuka kembali kisah perjalanan rohaninya.

Kini dia begitu yakin, hidayah Islam tidak mengenal batasan umur. Jika Allah SWT berkehendak, dia bisa menghampiri seseorang kapan pun, baik saat muda maupun tua. Karenanya, Bryant merasa begitu beruntung menerima cahaya Islam ketika masih belia.

Sebelum menjadi mualaf, Bryant dididik dan dibesarkan sebagai seorang Kristen oleh keluarganya. Kendati demikian, dia mengaku tidak pernah memercayai Yesus (Isa AS) sebagai anak Allah. Akal dan hatinya tidak pernah dapat menerima konsep keyakinan semacam itu. Setiap kali Bryant menanyakan landasan teologis Yesus dalam ajaran trinitas, dia selalu memperoleh jawaban yang “tumpul”. Pada akhirnya, dia meninggalkan agama Kristen sama sekali.

Lalu, dia mulai melakukan pencarian sendiri dan mempelajari konsep keimanan dalam agama-agama lain. “Misinya untuk melihat mana jalan yang benar sesungguhnya,” katanya.

Meninggalkan konsep ketuhanan yang diterima sejak kecil, tak lantas membuat Bryant menjadi ateis. Dia tetap meyakini keberadaan Sang Pencipta. Adapun yang dia butuhkan ketika itu hanyalah pengetahuan yang benar tentang Tuhan itu sendiri. Bryant terus membaca lebih banyak lagi referensi mengenai berbagai macam agama. Sampai akhirnya dia memperoleh informasi tentang Islam.

Ironisnya, kata Bryant, ini merupakan agama yang terakhir yang dia selidiki. Bryant mengaku semakin banyak membaca literatur tentang Islam, dia menemukan bahwa agama ini berisi semua jawaban atas semua pertanyaannya selama ini. “Setelah rasa dahaga intelektual saya terpuaskan, saya pun memutuskan untuk menerima Islam dan menjadi Muslim sejak saat itu,” ujarnya mengenang.

Ketika memutuskan menjadi mualaf, Bryant mengaku menghadapi pertentangan keras dari orang-orang di sekelilingnya.Terutama, dari keluarganya yang tidak siap menerima keislamannya tersebut. Bahkan, ibunya sempat mengancam akan mengusir Bryant dari rumah dan mengirimnya ke panti rehabilitasi sosial.

Tidak sampai di situ saja, Bryant terus-menerus diejek oleh teman-teman sekelasnya. Dia juga kerap dibully oleh orang-orang di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Akan tetapi, Bryant benar-benar tidak memedulikan semua itu.

Keyakinannya terhadap Islam justru semakin kokoh. Dia tetap dalam pendirian bahwa Islam bentuk kasih sayang paling sempurna dari Sang Pencipta. Allah SWT yang memandu langkahnya untuk menjadi seorang Muslim. “Saya sudah membuat keputusan, Islam adalah kebenaran dan saya perlu memilikinya,” ujar pria yang juga sarjana ilmu politik lulusan Touro College, New York, AS, itu. n ed: nashih nashrullah

Kisah Bryant menemukan hidayah itu sudah 18 tahun berlalu. Hari ini, dia telah terbiasa menjalani hidup dalam Islam. Sejak 2007 sampai sekarang, Bryant terlibat aktif sebagai anggota komunitas Islamic Center di New York University.

Bryant juga merupakan salah satu pendiri Da’wah Unlimited Alliance (DUA), sebuah organisasi nonprofit yang didirikan di Brooklyn, New York, pada 2000 silam. “Organisasi ini memiliki komitmen untuk memberikan pemahaman yang benar tentang Islam dan Muslim kepada masyarakat umum,” ujarnya.

Selain itu, Bryant juga dipercaya menjadi juru bicara Muslims Giving Back, sebuah komunitas nirlaba yang didedikasikan untuk mengatasi kelaparan di Amerika Serikat. Pria keturunan Afro-Amerika ini pun terdaftar sebagai anggota eksekutif Young Muslims USA, salah satu organisasi pemuda Islam AS yang berdiri sejak 1995.

Meski sudah menjadi Muslim sejak usia remaja, keinginan Bryant untuk terus mendalami Islam tidak pernah pudar. Sejak 2000-2006, dia mempelajari studi-studi Islam dan bahasa Arab di bawah bimbingan Siraj Wahhaj—yang merupakan pimpinan Aliansi Muslim Amerika Utara (MANA).

Bryant juga memperoleh pengetahuan tentang Ushul Fikih dari ulama AS sekaligus pendiri Foundation for Knowledge and Development (FKAD), Shakiel Humayun. Di bidang sirah dan sabda Nabi Muhammad SAW, dia berguru kepada Abdul-Rahman Khan, anggota eksekutif Dewan Fiqih Amerika Utara.

Di samping bergelut dengan segudang kegiatan tersebut, Bryant juga bekerja sebagai staf pengajar di almamaternya, Touro College. Lelaki yang kini berusia 34 tahun itu pun dipercaya menjadi instruktur studi-studi Islam dan Arab di Islamic Learning Foundation (ILF), Queens, New York. Gareth Bryant menaruh minat yang besar terhadap sastra dan puisi. Di laman blog pribadinya, garethbryant. wordpress.com, dia aktif menulis syairsyair Islami tentang alam, perjalanan, kesadaran, dan cinta.

Sebagai manusia biasa Briyant sadar bahwa dia merupakan seorang Muslim, penyair, penulis, pecinta, dan juga pejuang yang tak jarang disalahpahami seperti orang-orang lainnya di dunia ini. “Namun, saya masih terus berusaha untuk menikmati hidup,” tulis Bryant memberikan gambaran tentang dirinya.

 

REPUBLIKA

 

—————————————————————-
Download-lah Aplikasi CEK PORSI HAJI dari Smartphone Android Anda agar Anda juga bisa menerima artikel keislaman ( termasuk bisa cek Porsi Haji dan Status Visa Umrah Anda) setiap hari!