Tips Sehat Bagi Jamaah Haji Pengidap Diabetes

Jumlah kunjungan jamaah haji Indonesia di Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah sampai hari Selasa (14/6/2022) sebanyak 77 kunjungan. Dari jumlah tersebut kasus terbanyak didominasi oleh penyakit kencing manis atau diabetes melitus dan komplikasi.

Dokter Umar Muhammad spesialis penyakit dalam menyarankan bagi jamaah haji yang menderita penyakit diabetes melitus dan komplikasi, kadar gula harus konsultasi sebelum keberangkatan ke Tanah Suci. Konsultasi gula darah bisa dilakukan di puskesmas setempat atau datang ke dokter spesialis penyakit dalam.

“Sangat penting bagi jamaah untuk mengontrol gula darahnya bagi penderita diabetes,” kata dr Umar Muhammad saat diminta sarannya, tips haji sehat bagi jamaah penderita penyakit dalam, di KKHI Madinah, Selasa (14/6/2022).

Umar menyarankan, bagi jamaah haji yang memiliki penyakit diabetes yang menggunakan obat oral diabetes, maka jamaah bisa konsultasi ke dokternya untuk penyesuaian obat. Apabila belum terkontrol kadar gula maka mintalah agar dokter yang biasa tempat berkonsultasi untuk penyesuaian dosis.

Saran lain, sebelum berangkat ke Tanah Suci, maka jamaah haji ini harus mempersiapkan keperluan obat-obatannya yang harus dibawa. Seperti mempersiapkan alat cek gula sendiri.

“Jadi alat-alat cek gula sendiri ini sebaiknya dibawa sampai proses haji di tanah suci,” katanya.

Apabila dia menggunakan obat insulin maka persiapkanlah alat ini yang bisa dibawa pada proses ibadah haji. Jamaah haji harus bertanya ke dokternya untuk penyesuaian dosis insulin.

“Jamaah perlu mengetahui bahwa di tanah suci suhunya panas, maka perlu diperhatikan cara penyimpanan insulin selama proses haji,” katanya.

Umar mengatakan, selain melakukan konsultasi sebelum keberangkatan ke Tanah Suci, jamaah juga harus melakukan aktivitas rutin dengan berolahraga. K Kemudian mengatur pola makannya, terutama mengurangi konsumsi gula.

“Kemudian konsumsi cukup air putih supaya selain kadar gula yang terkontrol juga membantu metabolisme tubuh bagi penderita diabetes. Maka penting sekali minum jangan tunggu haus,”katanya.

IHRAM

Pendapat Syekh Albani Soal Jamaah Haji yang Mencukur Jenggot

Syekh Nashiruddin Al-Albani dalam bukunya yang berjudul “Haji Nabi Muhammad SAW” mengatakan, “Mencukur jenggot bentuk kemaksiatan ini termasuk yang paling sering dilakukan oleh kaum muslimin di masa sekarang,” katanya.

Syekh Nashiruddin Al-Albani mengatakan, semua ini sebagai akibat dari penjajahan orang-orang kafir terhadap negeri-negeri Islam, yang menularkan kebiasaan maksiat itu kepada kaum Muslimin. Sementara kaum muslimin suka meniru budaya tersebut.

Padahal Rasulullah secara tegas telah melarang meniru orang-orang musyrik: 

“Lakukanlah yang bertolak belakang dengan yang dilakukan orang-orang musyrik. Cukur kumis dan biarkan jenggot menjadi panjang. “(Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lain disebutkan. ” Lakukanlah yang bertolak belakang dengan yang dilakukan Ahlulkitab.”

Syekh Nashiruddin Al-Albani mengatakan, budaya buruk ini mengandung beberapa pelanggaran:

Pertama melanggar perintah Rasulullah yang secara tegas memerintahkan kita membiarkan jenggot menjadi panjang.

Kedua, meniru orang-orang kafir. Ketiga mengubah ciptaan Allah yang berarti menaati ucapan setan.

Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah surah an-nisa ayat 119. 

“…dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Allah…” 

Keempat, meniru kaum wanita padahal Rasulullah SAW telah melaknat lelaki yang melakukan perbuatan itu. 

Syekh Nashiruddin Al-Albani menyarankan agar membaca detail tentang larangan ini yang hanya disebutkan secara global di dalam buku kami “Adabu’- Ziffaf fi s ‘Sunnati muthothoharah halaman 126-131.

Di antara realistis yang dapat disaksikan oleh setiap orang yang memiliki tekad mempertahankan agamanya adalah bahwa mayoritas jamaah haji masih terlihat panjang-panjang jenggotnya saat berihram. Namun saat bertahallul mencukur jenggot. 

Mereka tidak menggunduli kepala seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW tetapi justru mencukur jenggot. Padahal Rasulullah memerintahkan kita membiarkannya panjang, sungguh perbuatan yang mencelakakannya.

IHRAM

Sejarah Panggilan Haji di Indonesia

Haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang memiliki kemampuan melaksanakannya. Karena untuk melaksanakan haji memerlukan biaya yang tidak murah dan juga menuntut kemampuan yang tidak mudah, acapkali kaum muslim menganggap ibadah ini sebagai ibadah paling spesial dan memiliki tempat tersendiri di hati kaum muslim khususnya di Indonesia. Hal itu terlihat dari panggilan “Haji” yang disematkan bagi orang yang pernah melaksanakan ibadah tersebut.

Sejarah mencatat, sesudah ibadah haji disyariatkan, Rasulullah hanya berhaji satu kali, yakni haji wada’. Hal ini menjadi dasar bahwa haji yang diwajibkan hanyalah satu kali seumur hidup. Riwayat juga menyebutkan bahwa semua Nabi dan Rasul pernah melaksanakan ibadah haji.

Demikian pula dengan para Sahabat, Tabiin, dan generasi Ulama sesudahnya, dikisahkan bahwa kebanyakan diantara mereka melaksanakan ibadah haji karena merupakan rukun Islam. Menarik untuk dikaji bahwa mereka para generasi Salaf, tidak pernah ada yang tercatat diberikan gelar “Haji”. Tidak ada panggilan “Haji” Muhammad SAW, “Haji” Abu Bakar RA, “Haji” Umar RA, “Haji” Utsman RA, tidak pula “Haji” Ali bin Abi Thalib KW. Pertimbangan demikianlah yang menjadikan beberapa ulama kelompok Salafi di zaman now yang menyatakan bahwa panggilan “Haji” merupakan bidah karena tidak ada contohnya dari generasi Salaf dan mencerminkan sifat riya.

Pemberian gelar haji dimulai pada tahun 654H, di mana pada saat itu, di kota Mekah sedang terjadi pertikain yang mengganggu keamanan kota Mekah sehingga bagi orang yang akan melaksanakan haji, perlu persiapan yang sangat ekstra sampai harus membawa persenjataan lengkap ibarat hendak pergi ke medan perang.

Sekembalinya mereka dari ibadah haji, mereka disambut dengan upacara kebesaran bagaikan menyambut pahlawan yang pulang dari medan perang, dan dielu-elukan dengan sebutan “Ya Hajj, Ya Hajj”. Maka berawal dari situ, setiap orang yang pulang haji diberi gelar “Haji”.

Gelar haji nyatanya bukan hanya digunakan di Indonesia, tapi juga digunakan di negara-negara lain dengan penyesuaian bahasa lokal mereka. Dalam bahasa Farsi dan Pashto ditulis: haajii (h-a-j-ii), bahasa Yunani: Χατζής, Albania: Haxhi, Bulgaria: Хаджия, Kurdi: Hecî, Serbia/Bosnia/Kroasia: Хаџи atau Hadži, Turki: Hacı, Hausa: Alhaji dan bahasa Romania: hagiu. Di beberapa negara, gelar haji dapat diwariskan turun-temurun sehingga menjadi nama keluarga seperti Hadžiosmanović dalam bahasa Bosnia yang berarti ‘Bani Haji Usman’ alias ‘anak Haji Usman’.

Dalam sejarah Nusantara, tercatat bahwa Bratalegawa putra kedua Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata atau Sang Bunisora penguasa kerajaan Galuh (1357-1371) menikah dengan seorang muslimah dari Gujarat bernama Farhana binti Muhammad. Melalui pernikahan ini, Bratalegawa memeluk Islam. Sebagai orang yang pertama kali menunaikan ibadah haji di kerajaan Galuh, ia dikenal dengan sebutan Haji Purwa (Atja, 1981:47).

Dalam Carita Purwaka Caruban Nagari dan naskah-naskah tradisi Cirebon seperti Wawacan Sunan Gunung Jati, Wawacan Walangsungsang, dan Babad Cirebon. Dalam naskah-naskah tersebut disebutkan adanya tokoh lain yang pernah menunaikan ibadah haji yaitu Raden Walangsungsang bersama adiknya Rarasantang. Keduanya adalah putra Prabu Siliwangi. Sebagai seorang haji, Walangsungsang kemudian berganti nama menjadi Haji Abdullah Iman, sementara Rarasantang berganti nama menjadi Hajjah Syarifah Mudaim.

Dari kesultanan Banten, jemaah haji yang dikirim pertama kali adalah utusan Sultan Ageng Tirtayasa, termasuk diantaranya putranya, Sultan Abdul Kahar, ke Mekah untuk menemui Sultan Mekah sambil melaksanakan ibadah haji, lalu melanjutkan perjalanan ke Turki. Karena kunjungannya ke Mekah dan menunaikan ibadah haji, Abdul Kahar kemudian dikenal dengan sebutan Sultan Haji. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1671.

Pada Masa Pemerintahan Hindia Belanda, pemberian gelar “Haji” sengaja dilakukan oleh pihak kolonial sebagai identifikasi bagi mereka yang telah melaksanakan ibadah haji dan tentunya mendapatkan pengalaman berinteraksi dengan bangsa-bangsa luar.

Interaksi tersebut kerapkali menimbulkan semangat bagi para haji untuk melakukan pemberontakan baik secara fisik seperti yang dilakukan oleh Imam Bonjol maupun Pangeran Diponegoro, maupun secara pergerakan seperti Muhammad Darwis yang pergi haji dan ketika pulang mendirikan Muhammadiyah, Hasyim Asyari yang pergi haji dan kemudian mendirikan Nadhlatul Ulama, Samanhudi yang pergi haji dan kemudian mendirikan Sarekat Dagang Islam, Cokroaminoto yang juga berhaji dan mendirikan Sarekat Islam.

Hal-hal seperti inilah yang merisaukan pihak Belanda. Maka salah satu upaya belanda untuk mengawasi dan memantau aktivitas serta gerak-gerik ulama-ulama ini adalah dengan mengharuskan penambahan gelar haji di depan nama orang yang telah menunaikan ibadah haji dan kembali ke tanah air. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Pemerintahan Belanda Staatsblad tahun 1903.

Di masa sekarang ini, panggilan haji lebih bersifat sebagai sebuah penghormatan karena yang bersangkutan dianggap telah melaksanakan rukun Islam secara sempurna. Tentu saja hal ini tidaklah bertentangan dengan syariat, karena panggilan semacam itu menunjukkan sikap hormat dan penghargaan kita terhadap saudara seiman kita.

Anjuran untuk saling menghargai seperti itu sangat jelas sebagaimana dikemukakan oleh Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjudul  Al-Adab fid Din dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 444), sebagai berikut

آداب الإخوان: الاستبشار بهم عند اللقاء، والابتداء بالسلام، والمؤانسة والتوسعة عند الجلوس، والتشييع عند القيام، والإنصات عند الكلام، وتكره المجادلة في المقال، وحسن القول للحكايات، وترك الجواب عند انقضاء الخطاب، والنداء بأحب الأسماء

“Adab berteman, yakni: Menunjukkan rasa gembira ketika bertemu, mendahului beruluk salam, bersikap ramah dan lapang dada ketika duduk bersama, turut melepas saat teman berdiri, memperhatikan saat teman berbicara dan tidak mendebat ketika sedang berbicara, menceritakan hal-hal yang baik, tidak memotong pembicaraan dan memanggil dengan nama yang disenangi.”

Demikian, semoga bermanfaat.

Tulisan ini sudah pernah dimuat di islami.co

BINCANG SYARIAH

Masjidil Haram Siapkan 100 Layar Panduan bagi Jamaah Haji

Kepresidenan Umum untuk Dua Masjid Suci telah memasang 100 layar elektronik di Masjidil Haram. Layar tersebut dimanfaatkan untuk panduan dan meningkatkan kesadaran pelaksanaan haji. 

Dilansir di Saudi Gazette, Jumat (16/7), layar itu digunakan untuk memastikan implementasi komprehensif dari rencana bimbingan bagi jamaah selama musim haji ini. 

Direktur Departemen Umum Kerumunan di Masjidil Haram, Osama Bin Mansour Al Hujaili, mengatakan nantinya informasi ditampilkan dalam tiga bahasa yang berbeda, termasuk bahasa Arab, Inggris, dan Urdu. 

Dia juga mengatakan layar itu akan menyiarkan pesan kesadaran kesehatan berkaitan dengan Covid-19 dan langkah-langkah pencegahan untuk memastikan keselamatan peziarah. 

Dalam rangka menyambut jamaah haji tahun ini, Kepresidenan Umum Urusan Dua Masjid Suci juga telah mengatur ulang jalur khusus untuk melakukan tawaf. 

Mereka menempatkan stiker lantai baru, sebagai tanda jarak pada mataf (area melingkar di sekitar Kabah). 

Upaya Kepresidenan mengatur ulang jalur ini merupakan bagian dari persiapan Arab Saudi dalam menyambut ibadah haji mendatang.  

Penataan kembali ini dilakukan dengan cara memastikan jarak fisik yang diperlukan antara setiap peziarah. Hal ini sesuai dengan langkah-langkah pencegahan dan protokol kesehatan untuk membendung penyebaran Covid-19. 

Total ada 25 lintasan khusus melingkar di mataf. Selain itu, tersedia pula empat lintasan di lantai dasar dan lima lintasan di lantai satu gedung mataf. Upaya ini juga dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan jumlah jamaah haji yang diharapkan.

Sumber: saudigazette 

IHRAM

Vaksinasi Harus Memprioritaskan Calon Jamaah Haji

Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) berharap pemerintah harus memprioritaskan vaksinasi bagi jamaah haji yang tertunda keberangkatannya. Terlebih lagi, bagi para jamaah yang telah membayar.

Ketua Umum Amphuri, Firman M Nur menyatakan musim haji akan berlangsung beberapa bulan lagi, dan pemerintah harus bersinergi dengan asosiasi penyelenggara haji dan umroh agar memperhatikan para jamaah. Karena, menurut dia, prioritas vaksinasi bagi para jamaah sangat diperlukan.

Ia menuturkan, vaksin Covid-19 membutuhkan waktu untuk melihat perkembangannya dalam tubuh. Ia tegaskan, dengan pemberian vaksin lebih awal tentu akan lebih siap jika nantinya penundaan haji 2021 telah dibuka.

IHRAM

Pemerintah Waspadai Penyakit yang Terbawa Jamaah Pasca-Haji

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr. Anung Sugihantono, menyambut kedatangan jemaah haji kloter 16 JKG di Asrama Haji Pondok Gede, 4 September lalu.

Pada kesempatan tersebut, Dirjen P2P didampingi Kakanwil Kemenag Provinsi DKI Jakarta, Kepala KKP Kelas I Soekarno Hatta, Direksi RS Haji Jakarta dan Petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Haji JKG.

Anung mengatakan, pemerintah telah memberikan pelayanan, pembinaan dan perlindungan yang sebaik-sebaiknya kepada jamaah haji, semua itu dilakukan agar jamaah haji Indonesia terjamin kebutuhannya dari semua bidang, termasuk bidang kesehatan.

Anung menegaskan bahwa petugas kesehatan telah membagikan Kartu Kewaspadaan Kesehatan Jamaah Haji (K3JH), agar apabila jemaah haji mengalami sakit demam, batuk, dan sesak dalam 14 sejak kedatangan di tanah air, segera berobat ke puskesmas terdekat dengan membawa K3JH tersebut.

Dalam hal ini, pemerintah mewaspadai berbagai penyakit dialami jamaah akibat terbawa pascahaji.

“Pemerintah mewaspadai berbagai penyakit yang kemungkinan terbawa oleh jamaah haji antara lain MERSCoV, Meningitis, Kolera, dan lain lain,” jelas Anung.

Setiap jamaah haji Indonesia telah dibekali Kartu Kewaspadaan Kesehatan Jemaah Haji (K3JH) sejak di Tanah Air yang berfungsi sebagai alat deteksi dini kesehatan.

Setelah yang bersangkutan tiba di Tanah Air dari Arab Saudi melaksanakan ibadah haji, sesampainya di Bandara, satu lembar dokumen K3JH diambil oleh petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Embarkasi, kemudian satu lembar lagi dipegang jamaah.

Menurutnya, bila ada tanda-tanda pernapasan yang berat, batuk, demam di atas 38 derajat celcius, jamaah haji diimbau segara menghubungi Puskesmas terdekat untuk memeriksakan diri.

Bila tidak ada tanda-tanda gejala penyakit menular seperti di atas, jamaah haji kembali ke rumah dengan dinyatakan sehat. Namun, jika terbukti melalui pemeriksaan terdapat gejala penyakit menular di atas, seperti Mers-COV, akan dilakukan pengambilan sampel dahak.

‘Apabila hasilnya positif akan dilakukan isolasi, selanjutnya dilakukan penyelidikan epidemiologi di lingkungan keluarga bersangkutan dan teman selama perjalanan untuk mengetahui penularan kepada pihak lain dan mengetahui penyebabnya.

Selanjutnya, bila hasil laboratorium negatif, jamaah diperbolehkan kembali ke rumah. Masa deteksi dini K3JH berlaku selama 14 hari sejak kepulangan dari Tanah Suci.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan bahwa fase Armina pasca-Armina ini perlu diwaspadai.

“Biasanya jamaah yang sudah selesai berhaji mengalami penurunan daya tahan tubuh karena malas makan,” kata Menteri Kesehatan Nila Moeloek melalui keterangan yang diterima Okezone, Senin (27/8/2018).

Guna menekan risiko sakit pada jamaah haji pasca-Armina, tugas tim medis, khususnya di kloter (TKHI) dan pada jamaah, harus lebih ditingkatkan.

Terkait hal ini, Menkes Nila Moeloek menyampaikan tiga pesan kepada TKHI dan jamaah haji.

Pertama, TKHI diminta meningkatkan early diagnostic terhadap jamaah di pondokan kloter masing-masing, terutama usai puncak ibadah haji.

“Waspada terhadap jamaah pascarawat di KKHI atau RSAS, terutama yang mengidap penyakit kardiovaskuler dan memastikan intake yang cukup pada jamaah sakit karena pasca armina kondisi ini menjadi risiko yang dapat menyumbang angka kematian tinggi,” kata Menkes Nila.

Kedua, jamaah gelombang 1 diimbau menjaga kesehatan dan kebugaran karena akan kembali ke Tanah Air. Begitu juga dengan jamaah gelombang 2 yang masih akan ke Madinah untuk beribadah di sana.

Ketiga, jamaah haji diimbau mengatur aktivitas, jangan berlebihan dan sesuai prioritas. “Tetap menjaga waktu istirahat dan menjaga asupan makannya,” pesan Menkes Nila.

Ia berharap perilaku hidup sehat yang sudah dijaga sebelum Armina tetap dipertahankan. Caranya dengan menjaga pola makan, rajin minum, dan cukup istirahat.

OKEZONE

Wahai Tamu Allah, Jagalah Kesehatan di Tanah Suci

Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kawnil Kemenag DKI, Sadirin mengatakan, dalam setiap tahunnya ada ratusan jamaah haji yang meninggal saat melakukan ibadah haji di Makkah. Rata-rata jamaah haji yang meninggal berada di atas usia 65 tahun.

Menurut dia, dalam dua tahun terakhir ini jumlah jamaah yang berangkat ke tanah suci ada sekitar 168 ribu. Dari jumlah tersebut, biasanya yang meninggal kurang lebih ada sekitar 350-an jamaah haji.
“Tapi dengan dengan jumlah 221 ribu jamaah haji tahun ini, ya mungkin yang meninggal bisa satu kloteran, yaitu sekitar 400-an, itu sudah menahun,” ujar Sadirin kepada Republika.co.id di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (27/6).
Menurut dia, ratusan jamaah tersebut biasanya meninggal dalam keadaan biasa, bukan karena terkena musibah kecelakaan dan lain-lain. Kata dia, jamaah tersebut meninggal karena memang sudah dipanggil oleh Allah SWT. “Setelah kami pelajari yang meninggal itu di atas usia 65 tahun. Mereka meninggal karena memang sudah dipanggil oleh Allah,” ucap Sadirin.
Kendati demikian, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Abdurrahman mengatakan bahwa tidak ada batasan umur bagi setiap orang yang ingin melakukan ibadah haji. Apalagi, menurut dia, jamaah haji lansia akan tetap didampingi oleh petugas kesehatan.
“Lansia tidak menghalangi seseorang untuk beribadah haji sepanjang mereka itu sehat,” kata Abdurrahman.
Ia hanya berpesan kepada para calon jamaah haji Indonesia agar tetap menjaga kesehatan, dan tidak melakukan hal-hal yang berlebihan selama melakukan ibadah haji.
“Jamaah haji itu harus menjaga kesehatan dan tidak melakukan tidak melakukan hal-hal yang di luar kemampuan dia. Apalagi, perbedaan cuaca antara Arab Saudi dan Indonesia cukup signifikan. Karena itu, jangan sungkan-sungkan untuk minum air agar tubuh tidak dehidrasi,” jelasnya.

Kursi Roda Jamaah Haji Diberi Pita Warna

Semua koper jamaah haji akan diberi tanda pita yang sama dengan stiker yang ditempel di buku paspor. Kursi roda jamaah haji juga akan diberi pita warna serupa, stiker, dan bendera Indonesia.

“Masalah kursi roda ini krusial karena pada tahun lalu banyak jamaah kehilangan kursi roda yang dibawa dari Tanah Air,” kata Kepala Daker Bandara Arsyad Hidayat saat meninjau kesiapan fasilitas di Bandara Amir Mohammed Bin Abdulaziz, Madinah, Kamis pagi (27/7).

Berdasarkan pengalaman tahun lalu, banyak kursi roda milik jamaah ditaruh di bagian lost and found (barang hilang) karena tidak ada identitas. Letak bagian barang hilang ini juga posisinya jauh dari lokasi jamaah di bandara sehingga mereka kesulitan mendapatkan kursi rodanya.

“Coba bayangkan bagaimana jamaah yang sudah tua, yang sangat membutuhkan kursi roda tapi tidak bisa mendapatkan kursi rodanya,” ujarnya.

 

IHRAM

Menkes Imbau Jamaah Haji Waspadai Kolera

Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek, berpesan agar jamaah haji Indonesia berhati-hati dengan penyakit kolera yang sedang mewabah di Yaman. Ini dikarenakan, posisi Yaman berbatasan dengan Arab Saudi sehingga dikhawatirkan akan lebih mudah menjangkit orang sekitar Yaman.

“Di Indonesia, penyakit diare masih ditemukan, tetapi penyakit kolera sudah sangat jarang ditemukan. Penyakit kolera sering disebut sebagai penyakit muntaber (muntah dan berak),” ujar Nila, Ahad (23/7).

Di Yaman, telah terjadi penyebaran dan penularan penyakit Kolera yang menyerang lebih dari 322 ribu orang. Mengingat Yaman berbatasan dengan Saudi, maka perlu diwaspadai kemungkinan penyebaran dan penularan penyakit kolera pada jamaah haji, khususnya jamaah haji Indonesia.

Kementerian Kesehatan RI, memaparkan gejala, proses penularan, serta pencegahan penyakit kolera. Gejalanya adalah sering buang air besar encer (diare) dan disertai muntah. Tinja penderita kolera tampak encer seperti air cucian beras. Gejala penyakit Kolera muncul 8 hingga 72 jam setelah penderita terpapar sumber penularan. Periode ini disebut masa inkubasi. Penderita kolera harus segera berobat untuk diberi cairan, karena apabila tidak segera berobat dan diberi cairan dapat meninggal karena kekurangan cairan (dehidrasi). Dalam perjalanan menuju tempat berobat, penderita dapat diberikan cairan oralit untuk pertolongan pertama, guna mencegah kekurangan cairan.

Proses penularannya yaitu kuman penyakit kolera tersebar melalui tinja penderita. Penularan terjadi jika tanpa sengaja tinja penderita kolera mencemari minuman atau makanan, yang kemudian dikonsumsi orang lain. Hal ini dapat terjadi jika penderita kolera buang air besar sembarangan atau berdekatan dengan sumber air atau tempat pengolahan makanan.

Terkait upaya pencegahan, jamaah haji Indonesia diminta minum menggunakan air minum kemasan atau air yang sudah dimasak. Gunakan air bersih atau PAM untuk keperluan sehari-hari, seperti masak, mencuci alat makan, gosok gigi, berwudhu, dan mandi. Kemudian, cuci tangan dengan air yang cukup dan sabun, sebelum makan, sebelum menyentuh makanan atau mengolah makanan, sesudah buang air besar, dan sesudah mengurus penderita diare atau orang sakit.

Jamaah juga disarankan mengonsumsi makanan yang sudah dimasak dengan baik serta menghindari makan makanan yang masih mentah. Cuci atau masaklah sayuran sebelum dimakan, mencuci atau mengupas buah-buahan sebelum dimakan, dan menyimpan makanan di tempat atau wadah yang tertutup. “Dan selalu memasak dan mengolah makanan-minuman di dapur atau ruangan yang terjaga kebersihannya,” kata Menkes.

Ketika di Saudi, jamaah haji diharapkan menggunakan jamban dan kamar mandi yang terjaga kebersihannya. Tempat yang tercemar kotoran atau muntahan penderita kolera harus dibersihkan dengan air dan karbol atau dengan air dan cairan disinfektans atau pembasmi kuman lainnya. “Segera berobat jika diare, muntah atau menderita penyakit lainnya. Pesan ini harus selalu diingat oleh para jamaah haji,” ujar Menkes.

 

IHRAM

Ini Dua Penyakit yang Perlu Diwaspadai Jamaah Haji 2017

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat ada dua jenis penyakit yang perlu diwaspadai jamaah haji Indonesia 2017.Kedua penyakit itu adalah diabetes militus (DM) dan Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV).

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Eka Jusup Singka membenarkan, ada dua kelompok penyakit yang perlu diwaspadai. Pertama, penyakit-penyakit yang dibawa dari Tanah Air.  Jika tidak dikendalikan dengan baik, maka penyakit ini semakin parah atau kondisi jamaah haji ini sakitnya lebih parah bahkan mengalami kematian.

“Contohnya penyakit jantung yang bukan sakit di sana, tapi dibawa dari sini (Indonesia). Kemudian kalau di sana terjadi karena mungkin stres,” katanya saat pemaparan kesiapan haji 2017, di Jakarta, Selasa (25/7).

Penyakit bawaan lain yang juga harus diwaspadai adalah hipertensi (tekanan darah tinggi) hingga diabetes mellitus (DM). Jenis kedua, kata dia, yaitu penyakit yang didapatkan ketika sudah baru di Arab Saudi yaitu sakit Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV) yang ditularkan binatang di sana.

“Meskipun (jamaah haji) sehat dan muda tetapi kalau di sana main-main dengan yang terkontaminasi MERS CoV ya ikut sakit juga,” ujarnya.

Ia menambahkan, yang juga harus diwaspadai jamaah haji adalah sengatan panas atau heat stroke. Siapapun yang sehat tapi tidak menjaga dirinya dari sengatan matahari bisa terkena heat stroke. Penyakit lainnya yang harus diwaspadai adalah kolera.

Penyakit infeksi saluran pencernaan yang disebabkan oleh bakteri vibrio Kolera ini menyebar melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Ciri-cirinya buang air besar cair, berwarna seperti air cucian beras, dan encer lebih dari tiga kali sehari. Kemudian ini berlanjut dengan muntah dan dehidrasi.

Sebagai langkah preventif, ia meminta jamaah menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) misalnya rutin cuci tangan. Atau bisa juga membeli buah yang ada kulitnya. Karena buah ini masih harus dikupas. Atau buah yang bisa langsung dimakan namun sebelumnya harus dicuci dulu. “Namun, kami sudah antisipasi,” ujarnya.

Mulai dari mengirim 246 tenaga kesehatan ke Arab Saidi hingga penyediaan sarana mendukung seperti ambulans. Iamenegaskan persediaan obat yang dibawa dari pihaknya sekitar3.680 obat atau sekitar 57 ton. Obat itu untuk semua keluhan penyakit termasuk kolera,hipertensi, jantung, oralit, hingga vitaman.

“Kami sudah melakukan upaya preventif dan promotif tapi Allah memperlihatkan kekuasaannya (jika terjadi diluar kendali),” katanya.

 

IHRAM