Hadits Arbain Nawawi ke-16: Jangan Marah

Berikut ini hadits Arbain Nawawi ke-16, penjelasan dan fiqih atau kandungan haditsnya. Matan-nya singkat, “Jangan marah.” Namun kadungannya sangat luas dan manfaatnya sangat banyak.

Arbain Nawawi (الأربعين النووية) adalah kumpulan hadits pilihan yang disusun oleh Imam An Nawawi rahimahullah. Jumlahnya hanya 42 hadits, tetapi mengandung pokok-pokok ajaran Islam.

Arbain Nawawi ke-16 dan Terjemah

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَوْصِنِى . قَالَ  لاَ تَغْضَبْ  . فَرَدَّدَ مِرَارًا ، قَالَ  لاَ تَغْضَبْ

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Berilah aku nasihat.” Beliau menjawab: “Jangan marah.” Beliau mengulanginya beberapa kali, “Jangan marah.” (HR. Bukhari)

jangan marah

Penjelasan Hadits

Imam Bukhari meriwayatkan hadits ini dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, berkat mulazamah-nya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadits ini juga termasuk jawami’ul kalim, singkat padat dan mengandung banyak pelajaran berharga. Ia menjelaskan larangan marah. Dan dalam larangan ini terkandung kebaikan dunia dan akhirat.

Kata rajul (رجل)  artinya adalah seorang laki-laki. Sebagian ulama mengatakan bahwa laki-laki dalam hadits ini adalah Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu. Sebagaimana riwayat Imam Thabrani:

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ، قَالَ: لا تَغْضَبْ، وَلَكَ الْجَنَّةُ

Abu Darda’ berkata, aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tunjukilah aku suatu amal yang memasukkan aku ke surga.” Rasulullah menjawab, “Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani)

Ada pula yang mengatakan bahwa laki-laki tersebut adalah Jariyah Ibnu Qudamah radhiyallahu ‘anhu. Sebagaimana riwayat Imam Ahmad:

عَنْ جَارِيَةِ بْنُ قُدَامَةَ السَّعْدِىُّ أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِى قَوْلاً يَنْفَعُنِى وَأَقْلِلْ عَلَىَّ لَعَلِّى أَعِيهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  لاَ تَغْضَبْ . فَأَعَادَ عَلَيْهِ حَتَّى أَعَادَ عَلَيْهِ مِرَاراً كُلُّ ذَلِكَ يَقُولُ  لاَ تَغْضَبْ

Dari Jariyah bin Qudamah As Sa’di bahwa ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku satu perkataan yang bermanfaat dan persingkatlah untukku agar aku bisa memahaminya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jangan marah.” Ia mengulangi pertanyaan tersebut berulang-ulang dan setiap pertanyaan dijawab oleh Rasulullah, “Jangan marah.” (HR. Ahmad)

Siapa pun laki-laki itu, larangan marah ini sangat penting sehingga Rasulullah menasihatkan kepada banyak shahabat. Dan tentu saja, nasihat ini juga berlaku untuk seluruh umatnya.

Ghadhab (غضب) artinya marah. Ibnu Qudamah menjelaskan, marah adalah darah di dalam hati yang mendidih karena mencari pelampiasan. Marah membuat darah hatinya mendidih lalu menyebar ke seluruh nadi dan naik ke seluruh badan sebagaimana naiknya air yang mendidih.

Sedangkan menurut Aidh Al Qarni, marah adalah mendidihnya darah dalam hati  untuk menuntut balas atau akibat terhalangnya seseorang dari mencapai tujuan dan keinginan.

Kandungan Hadits dan Pelajaran Penting

Hadits ini mengandung banyak pelajaran penting. Mulai dari hal paling mendasar dari akhlak seorang seorang, yakni pengelolaan emosi. Berikut ini beberapa poin utama yang bisa kita ambil dari hadits yang singkat ini:

1. Rindu kepada Surga

Sabda Rasulullah “la taghdlob” umumnya didahului dengan pertanyaan atau permintaan para sahabat yang ingin masuk surga.

يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ

 “Wahai Rasulullah, tunjukilah aku suatu amal yang memasukkan aku ke surga.”

Pada hadits 16 Arbain Nawawi ini, sahabat minta nasihat. Aushinii (أوصني) yang artinya, nasihatilah aku. Seorang muslim itu suka minta nasihat. Nasihat yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Nasihat yang memasukkan ke dalam surga.

Demikian pula akan kita dapati banyak dialog shahabat dengan Rasulullah dalam hadits-hadits lainnya yang menunjukkan betapa para shahabat sangat merindukan surga.

Kerinduan kepada surga ini kemudian membuat para sahabat Nabi selalu berorientasi mendapatkannya. Dengan menanyakan kepada Rasulullah amal-amal yang bisa memasukkan ke surga lalu dengan bersegera mereka mengamalkannya.

Semoga kita juga memiliki kerinduan yang sama. Sebab dunia ini sementara. Hidup di dunia ini sebentar saja. Sedangkan akhirat yang kekal abadi selamanya, di sana hanya ada dua tempat kembali; surga dan neraka.

2. Akhlak Seorang Muslim

Hadits ini menunjukkan akhlak mendasar seorang muslim. Pengelolaan emosi yang baik akan menjaga dirinya dari banyak keburukan dan mendatangkan banyak kebaikan. Dan itu terangkum dalam sabda Rasulullah, “Jangan marah.”

Abu Muhammad Abdullah Ibnu Zaid, seorang ulama besar madzhab Maliki di Maroko mengatakan, “Siklus kebaikan terletak pada empat hadits. Pertama, Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata yang baik atau diam. Kedua, Di antara tanda sempurnanya iman seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak mendatangkan manfaat bagi baginya. Ketiga, Jangan marah. Keempat, Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.”

Sabar dan menahan marah juga merupakan karakter orang yang bertaqwa. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ . الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imran: 133-134)

3. Marah Menghimpun Seluruh Keburukan

Dalam hadits ini, Rasulullah mengulang-ulang sabda “jangan marah.” Menunjukkan betapa pentingnya larangan marah. Di antaranya karena marah adalah seluruh keburukan.

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, laki-laki yang mendapat nasihat “jangan marah” itu akhirnya mengerti bahwa kemarahan menghimpun seluruh keburukan.

عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوْصِنِى. قَالَ « لاَ تَغْضَبْ ». قَالَ قَالَ الرَّجُلُ فَفَكَّرْتُ حِينَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- مَا قَالَ فَإِذَا الْغَضَبُ يَجْمَعُ الشَّرَّ كُلَّهُ

Dari Humaid bin Abdurrahman, dari seorang laki-laki shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia mengatakan, ada seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, berilah aku nasihat.” Rasulullah bersabda, “Jangan marah.” Laki-laki itu kemudian mengatakan, “Maka aku memikirkan apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sabdakan dan mengerti bahwa kemarahan menghimpun seluruh keburukan.” (HR. Ahmad)

Betapa banyaknya keburukan yang terjadi akibat seseorang tidak bisa menahan marah. Kata-kata yang tidak terkontrol hingga tindakan di luar kendali dan keputusan tanpa pikir panjang yang akhirnya disesali.

Saat marah, suami dan istri mengeluarkan kata-kata yang tidak terkontrol hingga membuat rumah tangga berantakan. Bahkan kadang berujung kata cerai dan perpisahan. Bukan hanya mereka berdua yang rugi, anak-anak juga menderita menjadi korban.

Ketika marah, orangtua bisa berbuat di luar kendali. Selain kata-kata yang membuat anak takut, terkadang ayah yang marah main tangan kepada anak. Buah hati yang mestinya disayangi justru disakiti. Anak yang mestinya mendapat kasih sayang justru menjadi sasaran kekerasan. Anak pun tumbuh dengan luka inner child dan mengalami amputasi kecerdasan.

Apalagi pemimpin yang suka marah. Keputusannya yang tanpa pikir panjang saat marah akan berakibat buruk kepada orang-orang yang dipimpinnya bahkan kepada pihak ketiga yang menjadi stake holder kepemimpinannya. Semakin tinggi level kepemimpinan, semakin luas dampak buruk akibat kemarahannya.

Pemimpin perusahaan yang marah lalu mengambil keputusan tanpa pikir panjang, ia bisa merusak perusahaan yang ia pimpin. Kepala daerah yang mengambil keputusan dalam kondisi marah, ia bisa merusak masa depan daerahnya. Apalagi kepala negara. Bukankah tidak sedikit perang antar negara yang tercipta akibat kemarahan?

4. Sabar Menghimpun Seluruh Kebaikan

Kemarahan menghimpun seluruh keburukan. Kebalikannya, sabar menghimpun seluruh kebaikan.

Seseorang yang sabar dan tidak marah, ia akan mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan. Maka kata-katanya pun terkontrol, tindakannya terkendali, keputusannya juga matang.

Orang yang sabar dan menjauhi kemarahan, ia akan dicintai Allah kemudian dicintai sesama manusia.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَاذَا يُبَاعِدُنِى مِنْ غَضِبِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ لاَ تَغْضَبْ

Dari Abdullah bin Amr, ia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apa yang bisa menjauhkanku dari kemurkaan Allah Azza wa Jalla?” Rasulullah bersabda, “Jangan marah.” (HR. Ahmad)

Sabar dan tidak marah juga merupakan kekuatan yang sesungguhnya. Sebagaimana sabda Rasulullah:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai dirinya ketika marah. (HR. Ahmad)

5. Mengendalikan Marah Kunci Masuk Surga

Rasulullah mengulang-ulang nasihat “jangan marah” menunjukkan pentingnya sabar dan mengelola emosi dengan baik. Yang paling membahagiakan adalah hadits “jangan marah” yang diriwayatkan Abu Darda’. Sebab sabar dan tidak marah merupakan kunci surga.

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ، قَالَ: لا تَغْضَبْ، وَلَكَ الْجَنَّةُ

Abu Darda’ berkata, aku bertanya: “Wahai Rasulullah, tunjukilah aku suatu amal yang memasukkan aku ke surga.” Rasulullah menjawab, “Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani)

“Empat hal yang siapapun bisa melakukannya, niscaya Allah akan menjaganya dari setan dan dijauhkan dari neraka,” kata Hasan Al Bashri. “Yaitu orang yang mampu menguasai dirinya ketika menginginkan sesuatu, merasa takut, ketika syahwatnya bergejolak dan ketika marah.”

Keistimewaan lainnya bagi orang-orang yang sabar dan tidak marah, terutama saat ia bisa membalas, Allah menyediakan hadiah istimewa baginya di surga. Yakni bidadari spesial.

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا – وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ – دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ

Barangsiapa yang menahan marah, padahal  ia mampu melampiaskannya, kelak pada hari kiamat Allah Azza wa jalla memanggilnya di hadapan seluruh makhluk hingga memberikan pilihan kepadanya, bidadari mana yang ia inginkan. (HR. Thabrani; hasan)

6. Kiat Mengatasi Marah

Dalam hadits ini Rasulullah menasihatkan “jangan marah.” Bagaimana kiat mengatasi marah? Jawabannya ada pada hadits-hadits lain dan penjelasan para ulama. Antara lain:

  • Menghilangkan atau meminimalisir penyebab marah
  • Mengingat dampak dan bahaya marah
  • Mengingat keutamaan mengendalikan marah
  • Membaca ta’awudz
  • Mengubah posisi. Jika sedang berdiri, maka duduklah. Jika duduk masih marah, berbaringlah.
  • Menghentikan bicara, diam.
  • Berwudhu

7. Marah karena Mencari Keridhaan Allah

Syaikh Musthafa Dieb Al Bugha menjelaskan bahwa marah yang dilarang dalam hadits ini adalah marah karena dendam dan bukan untuk membela agama Allah. Sedangkan marah karena mencari keridhaan Allah dan membela agama-Nya tidak dilarang. Bahkan pada kasus tertentu menjadi wajib.

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:

وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ، فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ بِهَا

Tidaklah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membalas atau menghukum karena dirinya (disakiti) sedikit pun, kecuali apabila kehormatan Allah dilukai. Beliau menghukum dengan sebab itu karena Allah azza wa jalla. (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikian pula, beliau bisa marah jika melihat atau mendengar apa yang dimurkai Allah. Beliau tidak membiarkan kejahatan, kemungkaran atau keburukan terjadi.

عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ إِنِّى لأَتَأَخَّرُ عَنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ مِنْ أَجْلِ فُلاَنٍ مِمَّا يُطِيلُ بِنَا. فَمَا رَأَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- غَضِبَ فِى مَوْعِظَةٍ قَطُّ أَشَدَّ مِمَّا غَضِبَ يَوْمَئِذٍ فَقَالَ « يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ فَأَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُوجِزْ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِهِ الْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ

Dari Abu Mas’ud Al Anshari, ia berkata, seorang laki-laki menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Sesungguhnya aku memperlambat shalat Shubuh disebabkan oleh Si Fulan (imam shalat) yang memanjangkan shalat dengan kami.”

Maka tidaklah aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam marah dalam memberikan nasihat yang lebih hebat dari kemarahan beliau pada hari itu. Lantas beliau bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya di antara kamu itu ada orang-orang yang membuat manusia lari (dari agama)! Siapa saja di antara kamu yang mengimami orang banyak, maka hendaklah dia meringkaskan.  Karena sesungguhnya di belakangnya, ada orang yang sudah tua, orang yang lemah, dan orang yang memiliki keperluan.” (HR. Muslim)

Suatu hari Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu ‘anhu pernah berselisih dengan Bilal radhiyallahu ‘anhu. Lalu Abu Dzar menghina Bilal dengan menyebut “anak budak hitam.” Mengetahui itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam marah lantas bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ

Wahai Abu Dzar, apakah kamu menghina ibunya? Sesungguhnya dalam dirimu masih ada sifat jahiliyah. (HR. Bukhari)

Lalu Abu Dzar segera minta maaf kepada Bilal. Ia letakkan kepalanya di tanah, minta Bilal menginjaknya. Bilal tidak mau, ia sudah memaafkan Abu Dzar. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

BERSAMADAKWAH

Jangan Marah

Suatu waktu Ibnu Umar radhiya Allahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah SAW, ”Apa yang bisa menjauhkan aku dari murka Allah ‘Azza wa Jalla?” Rasul langsung menjawab, ”Jangan marah!”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang menahan marah padahal dia sanggup melampiaskannya, akan dipanggil Allah di hadapan semua makhluk dan disuruh memilih bidadari yang mana saja dia suka. Lain waktu, Rasulullah SAW sampai mengulang tiga kali sabdanya, ketika salah seorang sahabat meminta nasihat kepada beliau. ”Jangan marah!” Bahkan, beliau menyampaikan kabar gembira bagi orang yang mampu menahan marah. ”Dan bagimu adalah surga!”

Subhanallah, karena kita bisa menahan marah ternyata surga dengan semua kenikmatan di dalamnya adalah balasan kita.

Marah adalah nyala api dari neraka. Seseorang pada saat marah, mempunyai kaitan erat dengan penghuni mutlak kehidupan neraka, yaitu setan saat ia mengatakan, ”Saya lebih baik darinya (Adam–Red); Engkau ciptakan saya dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS Al-A’raf: 12). Tabiat tanah adalah diam dan tenang, sementara tabiat api adalah bergejolak, menyala, bergerak, dan berguncang.

Marah berarti mendidih dan bergolaknya darah hati yang terlampiaskan. Oleh sebab itu, bila sedang marah, api amarah menyala dan mendidihkan darah hatinya lalu menyebar ke seluruh tubuh.

Bahkan, hingga naik ke bagian atas seperti naiknya air yang mendidih di dalam bejana. Karena itulah, wajah, mata, dan kulit yang sedang marah tampak memerah. Semua itu menunjukkan warna sesuatu yang ada di baliknya seperti gelas yang menunjukkan warna sesuatu yang ada di dalamnya.

Jika seseorang marah, tapi tidak bisa dilampiaskan, karena tidak ada kemampuan, misalnya, kepada atasan atau pimpinan, maka darah justru akan menarik diri dari bagian luar kulit ke dalam rongga hati. Sehingga, ia berubah menjadi kesedihan. Karenanya, biasanya warnanya pun menguning dan muka pun berubah murung.

Manusia bila ditilik dari sifat marah ada empat kelompok. Pertama, cepat marah, cepat sadar (ini merupakan sesuatu yang buruk). Kedua, lambat marah, lambat sadar (ini kurang terpuji). Ketiga, cepat marah, lambat sadar (adalah sifat yang terburuk). Dan terakhir, lambat marah, cepat sadar (inilah yang baik).

Orang yang lambat marah tapi segera sadar adalah sosok Mukmin yang terpuji. Karena ia berusaha mencerna dan mengelolanya dengan baik, sehingga di akhir kemarahannya yang singkat itu ada proses mengingatkan dan pelajaran. Marah karena sayang. Nah, kira-kira di mana posisi kita saat marah? Wa Allahu a’lam.

Oleh: Muhammad Arifin Ilham

Jangan Marah, Bagimu Surga

SALAH satu senjata setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam keburukan adalah marah. Dengan cara ini, setan bisa dengan sangat mudah mengendalikan manusia.

Karena marah, orang bisa dengan mudah mengucapkan kalimat kekafiran, menggugat takdir, berbicara kasar atau jorok, mencaci maki, bahkan sampai kalimat carai yang membubarkan rumah tangganya.

Banyak sekali dampak yang ditimbulkan karena sifat marah ini. Oleh karena itu, rasa marah dalam diri kita mesti dikontrol. Sebagai agama yang sempurna, Islam sangat menekankan kepada umat manusia untuk berhati-hati ketika emosi.

Salah satunya melalui hadits berikut ini:

“Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani dan dinyatakan sahih dalam kitab sahih At-Targhib no. 2749)

Lalu bagaimana mengendalikan emosi? Ada beberapa tips yang akan dibagikan kali ini dalam mengontrol emosi. Tips ini insya Allah ampuh apabila dilakukan secara konsisten.

1. Segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan dengan membaca taawudz

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca taawudz: A-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang. (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Diam

Biasanya saat marah kita cenderung ingin melakukan sikap defense atau membela diri. Namun Islam mengajarkan kita untuk lebih baik memilih diam ketika emosi sedang bergejolak. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).

3. Mengambil posisi lebih rendah

Salah satu penyebab munculnya marah adalah karena merasa rendah atau direndahkan. Oleh karena itu, sikaf refleks yang timbul justru ingin terlihat tinggi. Namun Rasulullah menyuruh kita untuk mengambil posisi rendah saat emosi sedang bergejolak. Sabda Rasulullah SAW berikut menjelaskan perihal ini.

Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

4. Segera berwudhu atau mandi

Marah itu berasal dari setan dan setan diciptakan dari api. Maka logika yang sangat tepat untuk meredakan amarah tersebut dengan wudhu atau mandi. Berikut sebuah hadis yang menerangkan hal ini.

“Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu. (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud 4784)

5. Ingatlah hadis ini ketika marah

Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani)

Satu lagi, yang bisa anda ingat ketika marah, agar bisa meredakan emosi anda:

Hadis dari Ibnu Umar,

“Siapa yang menahan emosinya maka Allah akan tutupi kekurangannya. Siapa yang menahan marah, padahal jika dia mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan pada hari kiamat. (Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al-Hawaij, dan dinilai hasan oleh Al-Albani). []

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2343955/jangan-marah-bagimu-surga#sthash.rSdjnFhx.dpuf