Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 2)

Baca pembahasan sebelumnya Nasehat Bagi yang Sulit Jodoh (Bag. 1)

5. Orang tua itu terkadang perlu dilobi!

Betapa banyak pemuda-pemudi yang sudah siap menikah namun terhambat orang tuanya yang menetapkan kriteria-kriteria yang memberatkan:

  • harus lulus dulu,
  • harus satu suku,
  • harus dekat-dekat saja,
  • harus PNS,
  • harus kaya, dan lain-lain.

Maka ketahuilah, orang tua tidak bisa memaksakan semua kehendaknya dalam masalah pernikahan anaknya. Dalam pemilihan calon, wajib atas rida dari anaknya. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda.

لا تُنكحُ الأيِّمُ حتى تُستأمرَ ، و لا تُنكحُ البكرُ حتى تُستأذنَ ، قيل : و كيف إذْنُها ؟ قال : أنْ تسكتَ

“Tidak boleh seorang janda dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan dengan lisan, dan tidak boleh seorang perawan dinikahkan sampai ia menyatakan persetujuan.” Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana persetujuan seorang perawan?.” Nabi bersabda “Dengan diamnya ketika ditanya.” (HR. Bukhari no.6970, Muslim no.1419).

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Maknanya, pernikahan tidak sah hingga mempelai wanita diminta persetujuan lisannya. Berdasarkan sabda Nabi [حتى تُستأمرَ] menunjukkan tidak sahnya pernikahan hingga ia setuju secara lisan. Namun dalam hadis ini bukan berarti tidak disyaratkan adanya wali dalam pernikahan, bahkan justru terdapat isyarat bahwa disyaratkan adanya wali.” (Fathul Baari, 9/192).

Dan tidak semua kriteria-kriteria dari orang tua harus kita taati. Jika itu kriteria yang melanggar syariat atau membahayakan si anaknya, maka tidak wajib ditaati. Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

”Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang makruf.” (HR Bukhari no. 7257, Muslim no. 1840).

Perkara yang makruf didefinisikan oleh As Sa’di,

المعروف: الإحسان والطاعة، وكل ما عرف في الشرع والعقل حسنه

Al-ma’ruf artinya perbuatan kebaikan dan perbuatan ketaatan dan semua yang diketahui baiknya oleh syariat dan oleh akal sehat.” (Tafsir As Sa’di, 1/194-196).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan,

ويلزم الإنسان طاعة والديه في غير المعصية ، وإن كانا فاسقين … وهذا فيما فيه منفعة لهما ولا ضرر عليه … ؛ لسقوط الفرائض بالضرر . وتحرم الطاعة في المعصية ، ولا طاعة لمخلوق في معصية الخالق

“Seseorang wajib taat kepada orang tuanya selama bukan dalam perkara maksiat. Walaupun kedua orang tuanya fasik… ini dalam perkara-perkara yang bermanfaat bagi orang tua dan tidak membahayakan diri si anak. Karena semua kewajiban itu gugur jika menimbulkan bahaya. Dan ketaatan itu haram jika dalam perkara maksiat. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah).” (Al Akhbar Al ‘Alamiyyah min Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah, hal. 170).

Namun kriteria-kriteria dari orang tua yang memberatkan tersebut, sebisa mungkin dilobi. Caranya:

  • berikan nasehat yang baik pada orang tua,
  • gunakan bahasa yang sopan dan lemah lembut,
  • cari waktu yang tepat,
  • beri hadiah,
  • tunjukkan anda sudah punya rencana matang untuk berumah tangga,
  • coba berkali-kali, dan
  • minta hidayah dari Allah untuk orang tua.

Adapun kriteria-kriteria dari orang tua yang baik dan tidak memberatkan, maka hendaknya ditaati.

6. Minta bantuan perantara yang shaleh dan dipercaya

Jika sulit menemukan calon pasangan, maka mintalah bantuan kepada orang lain yang dipercaya untuk mencarikan calon pasangan yang baik. Perantara tersebut bisa:

  • ustazmu atau ustazahmu,
  • temanmu yang shaleh dan dipercaya,
  • karib kerabatmu yang bisa dipercaya,
  • saudara atau keluarga dari calon pasangan, yang bisa dipercaya, dan lain-lain.

Sebagaimana pernikahan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dengan Khadijah yang diperantarai oleh Nafisah binti Muniyyah dan paman-paman Rasulullah (Rahiqul Makhtum, Syekh Shafiyurahman Al Mubarakfuri, hal 13-15, Asy Syamilah).

7. Berdoa dan istikharah

Jangan lalai untuk terus memperbanyak doa kepada Allah. Karena Allah-lah yang menentukan jodoh manusia. Dan kesulitan atau kemudahan, itu semua atas kehendak Allah. Dan hanya Allah yang dapat mengangkat semua kesulitan. Allah ta’ala berfirman,

وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ

“jika Allah menimpakan suatu mudarat kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri.” (QS. Al An’am: 17).

Allah ta’ala berfirman,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl: 53).

Maka berdoalah kepada Allah, dan yakinlah bahwa Allah akan kabulkan. Allah ta’ala berfirman,

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Berdoalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60).

Ketika sudah ada calon pasangan yang diharapkan, dianjurkan salat istikharah, atau berdoa istikharah walaupun tanpa salat.

Syekh Abdul Aziz bin Baz mengatakan,“Boleh, dianjurkan untuk melakukan istikharah walaupun tanpa salat istikharah. Jika ia sedang haid atau ia dalam perkara yang butuh segera dilakukan, hendaknya ia istikharah (yaitu, membaca doa istikharah) tanpa melakukan salat. Ini tidak mengapa.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi no. 20949).

Semoga yang sampai sekarang masih sulit jodohnya, segera Allah mudahkan, dan semoga Allah beri taufik untuk mendapatkan pasangan yang saleh atau salehah.

Wallahu waliyyu dzalika wal qadiru ‘alaihi.

Penulis: Yulian Purnama

Artikel: Muslim.or.id

Ujian ketika Belum Bertemu Jodoh

SERINGKALI menjadi pemicu kegalauan seseorang. Sudah mencapai umur yang pantas untuk menikah, namun belum juga bertemu dengan jodoh, maka hati pun gelisah.

Apalagi kalau umur sudah melewati masa-masa yang menurut kebanyakan orang waktu ideal untuk menikah, maka hati semakin gelisah lagi. Kegelisahan semakin bertambah berat saja manakala teman-teman, saudara, dan orang-orang di sekitar kita bertanya-tanya tentang kapan menikah.

Dalam kondisi demikian, seseorang akan merasa sempit dan sebagian orang memilih untuk menghindar dari pergaulan karena perasaan minder. Padahal semestinya tidak perlu begitu. Mengapa? Karena Allah SWT berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. ar-Ruum [30]: 21).

Allah sudah menyediakan jodoh untuk setiap hamba-Nya. Hanya saja kita perlu ikhtiar untuk menjemputnya. Ada perbedaan mencari dengan menjemput. Kalau mencari digunakan untuk menemukan sesuatu yang belum tentu ada. Sedangkan menjemput digunakan untuk menemukan sesuatu yang sudah ada, hanya saja belum bertemu.

Lantas bagaimana cara menjemputnya? Yaitu adalah ikhtiar memperbaiki diri. Karena Allah berfirman, “Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat perempuan-perempuan yang keji (pula), dan perempuan-perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS. An Nuur [24]: 26).

Belum bertemu dengan jodoh padahal usia sudah mencukupi untuk menikah, ini adalah ujian. Berpeganglah kepada Allah SWT, karena hanya Allah yang menguasai hati setiap hamba-Nya. Setiap makhluk adalah milik Allah, jodoh kita pun milik Allah. Maka prioritas yang harus kita lakukan adalah meminta jodoh kepada-Nya. Adapun selebihnya merupakan ikhtiar kita sebagai manusia. Boleh dengan cara meminta orangtua mempertemukan dengan orang yang menurut mereka tepat. Boleh juga kepada teman atau saudara kita.

Tetaplah beraktifitas dengan baik, bekerja dengan jujur, terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial dengan niat lillaahi taala. Jauhkan rasa pesimis, minder, putus asa, apalagi buruk sangka kepada Allah SWT. Tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah melalui qiyaamul lail. Karena bagi orang bertakwa, Allah akan memberikan jalan keluar dan karunia dari arah yang tiada terduga sebelumnya. [*]

Oleh KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Tolak Jodoh Kaya demi Lelaki Miskin tapi Bertakwa

PARA as-Salaf ash-Shalih memahami bahwa ukuran dalam kufu` yang diinginkan adalah agama. Sehingga mereka menahan wanita-wanita mereka dari orang-orang kaya yang mengikuti hawa nafsu, serta mengedepankan orang-orang miskin yang bertakwa daripada mereka, karena keyakinan mereka bahwa kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.

Inilah Said bin al-Musayyib rahimahullah, seorang tokoh ulama tabiin. Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan datang kepadanya melamar putrinya untuk putra mahkota, al-Walid bin Abdul Malik. Putrinya, ketika itu adalah wanita yang paling cantik dan paling sempurna, serta paling tahu (alim) dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Tetapi Said bin al-Musayyib tidak ragu untuk meminta maaf (menolak) lamarannya, dan tetap bertahan kendati ia mendapat siksaan yang ditimpakan Abdul Malik kepadanya, hingga ia mencambuknya seratus cambukan. Hal itu karena al-Musayyib tahu sikap al-Walid yang kasar dan selalu memperturutkan hawa nafsu.

Sang alim yang mulia itu kembali ke Madinah, lalu diziarahi oleh Abdullah bin Abi Wadaah, salah seorang muridnya. Lantas al-Musayyib bertanya tentang kondisinya hingga ia mengetahui bahwa istrinya telah meninggal. Maka ia berkata kepadanya, “Tidakkah kamu mencari wanita lain?”

“Semoga Allah Taala merahmati Anda, siapakah yang akan menikahkanku sedang aku tidak memiliki kecuali dua atau tiga dirham?” Jawabnya. Said berkata kepadanya, “Aku (yang) akan menikahkanmu.” Dia bertanya, “Benar, Anda akan melakukannya?” Ia berkata, “Ya.” Lalu dia pun menikahkannya dengan putrinya dengan mahar dua atau tiga dirham.

Demikianlah, Said bin al-Musayyib rahimahullah lebih mengutamakan laki-laki yang fakir tapi bertakwa, yang memiliki kemampuan dalam agama di atas Amirul Mukminin yang kaya raya. Tidak hanya sampai di situ, ketentraman dan keyakinannya pada agama laki-laki yang fakir itu sampai kepada seperti yang diceritakan tentangnya. Abdullah bin Abi Wadaah menuturkan, “Aku pun bangkit, sedang aku tidak tahu akan berbuat apa lantaran amat bahagia. Aku berjalan pulang ke rumahku dan mulai berpikir kepada siapa aku meminjam uang, dari siapa aku akan berutang? Aku pun salat Maghrib, lalu beranjak ke rumah. Kunyalakan lampu, dan waktu itu aku sedang berpuasa. Aku menyegerakan makan malamku sebagai buka, yaitu berupa roti dan minyak. Tiba-tiba pintu rumahku ada yang mengetuk. Aku bertanya, Siapa? Dia menjawab, Said

Aku mengingat-ingat setiap orang yang namanya Said, maka tidak ada kecuali Said bin al-Musayyib. Yang demikian itu, karena ia tidak terlihat selama empat puluh tahun, kecuali (berada) di antara rumahnya dan masjid. Aku pun keluar untuk menemuinya, dan ternyata dia adalah Said bin al-Musayyib. Aku mengira bahwa dia memiliki sebuah keperluan, saya berkata, Wahai Abu Muhammad (yakni Said al-Musayyib), sekiranya engkau mengirim utusan kepadaku (biar aku yang datang kepadamu). Dia berkata, Tidak. Kamu lebih berhak untuk didatangi. Aku berkata, Kalau begitu, apa yang engkau perintahkan?

Ia berkata, Sesungguhnya dahulu kamu seorang bujangan, maka kamu pun menikah. Aku tidak mau membiarkanmu malam ini tidur seorang diri. Ini istrimu. Ternyata ia berdiri di belakangnya. Kemudian ia mengambil tangannya dan mendorongnya ke pintu lalu menutupnya. Wanita itu jatuh lantaran malu. Aku menutup ulang pintu itu, lalu melangkah ke arah mangkuk tempat roti dan minyak. Aku meletakkannya di bayangan lampu agar ia tidak melihatnya. Kemudian aku naik ke loteng dan memanggil para tetangga. Mereka pun datang. Mereka bertanya, Ada apa denganmu?

Aku berkata, Sungguh, aku telah dinikahkan oleh Said bin al-Musayyib dengan putrinya hari ini, ia membawanya malam ini tanpa sepengetahuan orang.” Mereka berkata, Said menikahkanmu?! Saya menjawab, Ya. Mereka bertanya, Sekarang (putri)nya di rumah ini?! Saya menjawab, Ya. Mereka pun mendatanginya.

Berita itu sampai kepada ibuku. Dia pun datang seraya berkata, “Wajahku haram dari wajahmu, jika kamu menyentuh istrimu sebelum aku mengarahkannya sampai tiga hari.” Aku pun menunggu selama tiga hari, kemudian baru menggaulinya. Ternyata, dia termasuk wanita yang paling cantik, paling hafal Kitab Allah Taala, paling alim dengan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan paling tahu hak suami. Aku tinggal selama sebulan, Said tidak mengunjungiku dan aku pun tidak mengunjunginya. Baru setelah satu bulan, aku datang kepadanya di halaqah (majelis talim)nya. Aku mengucapkan salam kepadanya, lalu ia menjawab salamku, dan ia tidak berbicara kepadaku hingga orang-orang yang ada di majelis itu telah bubar.

Dia bertanya, Bagaimana keadaan orang itu (maksudnya putrinya)? Aku menjawab, Baik, wahai Abu Muhammad. Sebagaimana yang dicintai teman, dan dibenci oleh musuh.” Dia berkata, Jika ada yang meragukanmu darinya, maka jangan sampai kamu memukul. Aku pun pulang ke rumahku, dan dia mengirimkanku uang dua puluh ribu dirham.” Betapa besar ketentraman sosok tabiin mulia itu akan masa depan (nasib) putrinya, sampai-sampai ia tidak berpikir untuk menanyakan detil keadaannya, lantaran ketentramannya bahwa dia berada di sisi laki-laki bertakwa, yang takut kepada Allah Taala, tahu hak-haknya atas dirinya dan juga kedudukannya dari dirinya.

[Referensi: 90 Kisah Malam Pertama karya Abdul Muththalib Hamd Utsman, edisi terjemah cet. Pustaka Darul Haq]

 

INILAH MOZAIK

Asal-asalan Memilih Jodoh Adalah Orang Celaka

SEBAGAIMANA lelaki disarankan untuk memilih calon istri yang saleh, wanita juga disarankan untuk memilih calon suami yang saleh. Karena predikat ini menyangkut kebahagiaannya di masa mendatang, selama dia mengarungi bahtera rumah tangga.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam menggambarkan, orang yang asal-asalan dalam memilih jodoh, adalah orang yang celaka.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Umumnya wanita itu dinikahi karena 4 pertimbangan: hartanya, nasabnya, parasnya, dan agamanya. Pilihlah yang memiliki agama, jika tidak kamu celaka.” (HR. Bukhari 5090, Muslim 3708, dan yang lainnya).

Kalimat dalam hadis: Taribat yadaka yang jika diterjemahkan tekstual berarti, Kamu melumuri tanganmu dengan tanah artinya kamu akan terhina, sengsara.

Ada pelajaran menarik yang disampaikan an-Nawawi ketika menjelaskan hadis ini,

Dalam hadis ini, terdapat anjuran untuk memilih teman hidup yang agamanya baik dan semua perilakunya. Karena yang menjadi pendampingnya akan mendapatkan manfaat dari akhlaknya yang baik, keberkahannya, dan perilakunya yang indah. Serta minimal, dia bisa merasa aman dari kerusakan yang ditimbulkan temannya. (Syarh Shahih Muslim, 10/52)

Ketika anda menikah, berapa lama anda akan bersama pasangan anda? Tentu semua berharap, pernikahan ini langgeng sampai akhir hayat. Sehingga suami, maupun istri diharapkan bisa menjadi teman hidup abadi di dunia.

Apa yang bisa anda bayangkan, ketika selama perjalanan yang tanpa batas itu, anda ditemani manusia yang sangat tidak anda sukai karakternya? Memiliki kebiasaan yang sangat mengganggu diri anda.

Membuat polusi rumah anda. Posisi anda menjadi korban perokok pasif. Belum lagi anak anda yang sangat mungkin jadi korban sejak bayi. Bajunya, bau tembakau. Mulutnya, bau nikotin. Nafasnya, bau asap rokok.

Di mana istri akan bisa mendapatkan kenyamanan jika ditemani lelaki semacam ini? Wanita mana yang suka dengan pasangan perokok? Setidaknya, apa yang dinyatakan Imam an-Nawawi di bagian akhir, tidak terpenuhi, “merasa aman dari kerusakan yang ditimbulkan temannya.”

Padahal rokok semua isinya merusak! Tapi istri dipaksa untuk toleran dengan segala dampak buruk rokok suami. Ketika dilarang, dia marah, lebih membela rokok dari pada keluarganya.

Perokok hanya bisa dimengerti dan tidak pernah mau mengerti. Kecuali jika istri suka latihan tahan nafas ketika bersama suaminya.

Kami tidak membahas dari sudut pandang hukum rokok. Karena tidak ada perokok yang bersedia ketika disebut bahwa rokok itu haram. Pecandu yang haram, dia orang fasik. Dan tidak selayaknya, seorang muslimah memiliki suami yang fasik.

Wallahu alam. [Ustaz Ammi Nur Baits]

 

INILAH MOZAIK

Dapat Jodoh Terbaik Setelah Baca Doa Ini

Beberapa waktu setelah membaca doa ini, ia mendapat jodoh terbaik. Tak hanya jodoh terbaik di kotanya, ia mendapat jodoh terbaik di dunia dan akhirat. Bagaimana tidak, jodoh itu tak lain adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wanita itu adalah sahabiyah yang mulia, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Awalnya ia mendapat musibah. Suaminya, Abu Salamah, meninggal dunia.

Ummu Salamah ingat, Rasulullah pernah mengajarkan doa saat ditimpa musibah. Ia pun kemudian mengamalkan doa tersebut.

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا

Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami akan kembali. Ya Allah, berilah pahala pada musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik(HR. Muslim)

Tentu doa ini tak hanya diucapkan, namun hati dan jiwanya juga mengamalkan apa yang terkandung dalam doa. Jiwanya ridha dengan ketentuan Allah. Hatinya bersabar atas musibah seraya berharap pahala.

Namun, ada satu pertanyaan yang terlintas dalam benaknya. “Di manakah aku akan mendapat laki-laki yang lebih baik daripada Abu Salamah?”

Pertanyaan yang mengganjal itu tidak sampai mengurangi keyakinannya akan janji Allah. Dan kejutan besar ia alami ketika masa iddahnya habis. Rasulullah bertamu. Beliau meminta izin masuk rumah, Ummu Salamah pun mengijinkan. Ternyata Rasulullah melamar Ummu Salamah.

“Wahai Rasulullah, apakah gerangan yang engkau lihat dariku? Aku ini perempuan pencemburu. Aku takut engkau melihat sesuatu yang tidak kau sukai pada diriku lalu Allah akan mengazabku. Aku juga telah berumur dan memiliki keluarga banyak,” demikian Ummu Salamah menuturkan kondisinya. Tentu ia takkan menolak Rasulullah. Namun ia khawatir kondisi-kondisi itu berdampak negatif jika tak ia utarakan.

“Mengenai cemburu, semoga Allah menghilangkannya darimu. Mengenai umur, sesungguhnya aku telah merasakan apa yang engkau rasakan. Sedangkan mengenai keluarga, keluargamu keluargaku juga.”

Mendengar jawaban Rasulullah, Ummu Salamah pun sangat bahagia. Akhirnya keduanya menikah. Ia menjadi istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Sungguh Allah telah menggantikan Abu Salamah dengan orang yang lebih baik yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,” ujar Ummu Salamah.

Demikianlah Allah memenuhi janji-Nya. Dan janji itu bukan hanya berlaku untuk Ummu Salamah dan para sahabat-sahabiyah. Siapapun mukmin yang tertimpa musibah, lalu membaca doa itu dengan penuh keyakinan, ia akan mendapat pahala dan ganti yang lebih baik dari apa yang hilang darinya akibat musibah tersebut.

 

[Muchlisin BK/BersamaDakwah]

 

—————————————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

 

Benarkah Jin Bisa Menutup Jodoh dan Rezeki?

BEBERAPA kali saya mendapati pertanyaan tentang hal ini yakni klaim sebagian orang bahwa mereka mampu melakukan hal yang sangat luar biasa yakni menutup jodoh dan rezeki orang lain.

Atau pernyataan sebagian orang bahwa jin telah menutup jodoh dan rezeki seseorang. Klaim ini terdengar sangat menakutkan terutama bagi orang-orang yang kebetulan sedang mengalami kesulitan rezeki, terlilit utang atau mereka yang kebetulan belum bertemu dengan jodohnya padahal usia telah beranjak semakin tua.

Sedemikian luar biasanya kah kemampuan jin dan dukun itu hingga mampu mencegah datangnya rezeki dan jodoh padahal keduanya adalah takdir alias wilayah kekuasaan ALLOH. Mungkinkah jin dan dukun itu mengintervensi kekuasaan Alloh swt? Disinilah pemahaman dan akidah kita dipertaruhkan.

Baiklah, mari kita lihat penjelasan Alquran tentang fenomena mencegah atau menutup rezeki, dan jodoh.

QS. Al Mulk : 21 “Atau siapakah yang dapat memberimu rizki jika DIA menahan rezeki NYA ? bahkan mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri dari (kebenaran).

QS. Al Fajr : 16″Namun apabila Tuhan mengujinya dan membatasi rezekinya, maka dia berkata, Tuhanku telah menghinakanku.

QS An Naba : 8″Dan kami menciptakan kamu berpasang- pasangan.

Jika kita renungkan 3 ayat di atas maka akan terlihat dengan sangat jelas bahwa rezeki dan jodoh adalah wilayah kekuasaan Alloh SWT, DIA-lah yang memiliki rezeki, DIA yang membagikannya dan DIA pulalah yang berkuasa menahan atau membatasinya. Demikian juga dengan jodoh adalah kekuasaan NYA. Keduanya mutlak milik NYA tanpa ada yang dapat mengintervensi. 3 ayat diatas sangat gamblang bagi kita.

Fenomena terhalanginya rezeki memang benar adanya dan terlihat dari ayat di atas, tetapi yang mampu melakukannya adalah Alloh SWT, sang Pemilik rezeki, bukan jin apalagi dukun. Ayat-ayat tersebut sangat jelas menyebutkan siapa penguasa rezeki dan jodoh itu. Kemampuan dukun dan jin untuk menutup rezeki tidak pernah disinggung dalam ayat itu atau ayat ayat lain. Karena memang mereka tidak pernah mampu melakukannya.

Terhalangnya rezeki, benar adanya dan dijelaskan dalam ayat di atas. Pertanyaannya, mengapa Alloh menutup, menghalangi atau membatasi rezeki kita?

QS Nuh : 10-12″Maka aku berkata kepada mereka, “mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, DIA Maha Pengampun.” “Niscaya DIA akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu” “Dan DIA memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”

Ayat di atas menjawab pertanyaan kita mengapa jodoh dan rezeki kita terhalang. Ayat tersebut menjelaskan hikmah istighfar dan memohon ampun yakni dapat mendatangkan hujan, mendatangkan rezeki, memiliki keturunan, menyuburkan lahan. Intinya adalah kemudahan dan jalan keluar atas permasalahan hidup kita terselesaikan dengan istigfar dan tobat kita.

Jika pemahaman ini kita balik maka sebenarnya yang menyebabkan rezeki kita terhalang, munculnya kesulitan hidup adalah karena dosa dan kesalahan kita kepada Alloh SWT. Jika kita membaca keseluruhan ayat dalam Surat Nuh mulai ayat 1, maka kita akan mendapati bahwa perintah istigfar tersebut karena adanya dosa dan kedurhakaan yang dilakukan oleh umat Nabi NUH as.

Silahkan anda buka kitab kitab para ulama tentang hikmah tobat dan istigfar, maka kita akan menemukan hikmah yang kurang lebih akan senada dengan surat Nuh di atas.

Inilah penghalang rezeki yang hakiki. Karena dosa kitalah, yang membuat Pemilik rezeki menahan rezekiNYA.

Lalu bagaimana penjelasan terhadap anggapan bahwa jin dapat menghalangi jodoh dan rezeki kita ?

Anda mungkin akan mengernyitkan dahi membaca penjelasan saya setelah ini, atau bahkan tertawa. Iya, karena memang diluar dugaan kita..inilah yang sebenarnya dilakukan oleh jin itu. Jin itu tidak sedramatis yang kita bayangkan.

1. Menghalangi jodoh

Sebenarnya yang dilakukan jin pada 2 orang laki-laki dan wanita yang akan menikah atau sedang taaruf adalah seperti ketika anda sedang dimintai pendapat teman anda tentang wanita yang ingin dinikahinya atau ingin didekatinya. Apakah anda bisa membayangkannya?

Ok contoh riil begini. Teman wanita anda sedang minta pendapat anda tentang seorang laki-laki yang akan meminangnya. Padahal anda menyukai wanita itu, dan anda tidak termasuk orang yang jujur. Kira-kira apa yang akan anda katakan? Saya yakin anda akan mengatakan pada wanita itu bahwa lelaki yang akan meminangnya bukanlah jodoh yang tepat, bahkan bila perlu anda akan menjelek-jelekkannya. Intinya agar wanita itu semakin ragu dan mengurungkan niatnya.

Jika anda kebetulan mengenal si laki-laki maka mungkin anda akan mendatangi rumah si laki-laki itu dan berusaha untuk membuat laki-laki tersebut membatalkan pinanganya, dengan cara menyampaikan berita bohong dan keragu-raguan. Targetnya sama yakni si laki-laki itu mengurungkan niatnya.Nah, pahamkah anda sekarang?Jadi, sebenarnya persis seperti itulah yang dilakukan jin untuk menghalangi perjodohan.

Jika gangguan jin terjadi pada salah satu, yaitu si lelaki atau wanitanya saja maka jin itu akan berupaya membuat ragu agar pernikahan tidak terjadi, mungkin membuatnya selalu bimbang, membuatnya sulit memahami orang lain hingga sulit berteman, sulit bergaul, lebih nyaman berteman dengan sesama jenis, atau membuatnya tiba-tiba membenci laki-laki yang berusaha mendekatinya.

Jika gangguan jin terjadi pada kedua orang tersebut sekaligus maka jin itu tidak hanya membisikkan keraguan tetapi jin itu bisa menampakan diri dalam wajah si laki-laki atau si perempuan sehingga ketika mereka bertemu wajah seolah berubah. Jika jin berulah di tubuh si perempuan maka mungkin si laki-laki akan melihat wajah wanita tersebut aneh atau menakutkan, atau mengeluarkan bau tidak sedap, atau bahkan jin si perempuan itu akan datang dalam mimpi si laki-laki dan jin itu mengancam jika sampai pernikahan terjadi.

Jika si laki-laki termasuk orang yang baik dan tidak ada gangguan jin dalam tubuhnya maka laki-laki itu tidak akan melihat penampakan wajah yang dilakukan oleh jin yang ada dalam tubuh wanita itu.

Saya pernah menemui seorang wanita yang salah satu keluhannya adalah wajahnya terlihat tua oleh sebagian orang. Tetapi selama proses ruqyah saya tidak melihat wajah tua itu, wajahnya terlihat biasa saja. demikian pula dengan orang-orang yang hadir di dalam ruqyah itu, mereka tidak melihatnya.

Dari kejadian itu saya mengambil kesimpulan bahwa jin lebih mudah berulah pada orang yang sudah ada jin dalam tubuhnya. Oleh karena itu, jika anda seorang wanita yang sedang mengalami gangguan jin, dan suatu saat ada seorang laki-laki ingin melamar anda, tiba tiba dia mengurungkan niat karena melihat wajah anda aneh, atau tiba-tiba ia membenci anda maka bersyukurlah. Karena laki-laki tersebut termasuk mudah dikerjai oleh jin dan kemungkinan besar dalam tubuhnya juga sedang terdapat jin.

Jika kita perhatikan penjelasan diatas maka sebenarnya yang dilakukan oleh jin itu tidak lebih canggih dari yang kita lakukan untuk menggagalkan niat seseorang. Jin itu sama sekali tidak bisa mencegah takdir. Jin itu hanya berupaya agar tubuh yang ditempatinya selalu ragu, tidak mantap, membenci setiap lawan jenis yang berusaha mendekatinya, membuatnya mudah salah paham dengan lawan jenis hingga tidak bisa berteman dengan lawan jenis. Atau dia berusaha menampakan diri pada orang yang berusaha mendekati tubuh yang ditempatinya. Terutama jika orang yang ditampaki tersebut sedang mengalami gangguan jin pula. Karena jin jauh lebih mudah menampakkan diri pada orang yang ada gangguan jin dalam tubuhnya.

Namun jika wanita atau laki-laki itu berpegang teguh pada syariat, mengikuti pendapat hasil musyawarah, mengikuti orang tua dan istikhoroh maka pernikahan tetap bisa terjadi walaupun bujukan jin itu tetap ada. Jadi jin itu hanya membisikan sedangkan keputusan ada ditangan wanita atau lelaki itu. Jika pemahamannya kuat, maka dia akan mengabaikan bisikan itu.

Misalnya, bisikan jin dalam batinnya mengatakan batalkan pernikahan, tiba-tiba membenci si pelamar bahkan dia melihat wajah lelaki itu menakutkan. Tetapi semua orang mengatakan bahwa lelaki itu saleh, nasabnya baik, orang tua juga berpendapat baik, musyawarah keluarga mengatakan laki-laki itu baik, semua teman mengatakan lelaki itu baik. Maka jika wanita itu berpegang teguh pada syariat yakni mengikuti hasil musyawarah, maka dia tetap akan menerima lelaki itu menjadi suaminya walaupun bisikan jin itu ingin menggagalkan dan walaupun wajah lelaki itu nampak buruk. Musyawarah adalah bagian dari syariat dan dapat menjadi hujjah / dasar perbuatan sedangkan perasaan tidak dapat menjadi dasar perbuatan. Tentu dengan catatan bahwa musyawarah tersebut dilakukan dengan ikhlas, memohon pertolongan Alloh, jernih, obyektif dan dengan data informasi yang lengkap dan valid.

Jadi kemampuan jin itu hanyalah sebatas memberikan keraguan dalam batin kita sebagaimana bujuk rayu seseorang pada diri kita, dia tidak pernah mampu menghalangi jodoh kita dalam arti sebenarnya. Karena jodoh adalah ketetapan dan kekuasaan ALLOH SWT.

2. Menghalangi rezeki

Jika kita memahami pembahasan di atas maka kita akan memahami cara kerja jin untuk menghalangi rezeki kita. Cara kerjanya sama seperti menghalangi jodoh.

Jin itu berupaya membisikkan keraguan, kebimbangan dalam melangkah dan memulai usaha, sulit untuk berpikir jernih dalam mencari rezeki, ada dorongan sangat kuat untuk mencari rezeki dari kerja yang haram, sulit bergaul, sulit konsentrasi, mudah putus asa, fisik lemah, mudah salah paham, mendorong agar tidak amanah, dan lain-lain. Intinya jin itu berupaya agar kita lemah dalam berikhtiar mencari rezeki.

Jadi itulah ulah yang dilakukan jin, sungguh mereka tidak pernah bisa menghalangi rezeki kita dalam arti sebenarnya. Karena rezeki ada dalam kekuasaan NYA. Maka jika kita sedang menghadapi kesulitan, sebenarnya bukanlah ulah jin tetapi mungkin karena ada dosa dan kedurhakaan kita kepada sang Pemilik Rezeki baik dosa yang kita sadari maupun tidak kita sadari. Langkah terbaik adalah memperbanyak tobat dan istighfar bukan melakukan ritual tolak bala, ritual membuang sial, ruwatan atau menggunakan jimat keberuntungan. [konsultasiruqyah]

MOZAIK

Mencari Berkah Pernikahan dari Ta’aruf

Beberapa waktu lalu, kabar bahagia datang dari salah satu aktor Indonesia yaitu Fedi Nuril. Ia menikahi seorang wanita pilihannya, Vanny Widyasasti. Tak ada kabar kedekatan keduanya sebelum menikah, dan baru diketahui saat hari bahagia itu bahwa keduanya melakukan proses ta’aruf dalam bertemu satu sama lain.

Fedi Nuril bukan satu-satunya yang melakukan proses pencarian pasangan secara agama Islam itu. Ta’aruf sendiri diyakini banyak muslim sebagai cara yang dianjurkan oleh agama Islam dalam bertemu pasangan hidup.

“Saya memilih jalan ta’aruf karena lebih nyaman di hati,” kata Ikhwan (bukan nama sebenarnya), salah seorang yang bertemu pasangan dan kemudian menikah setelah melalui jalan taaruf.

Ikhwan bersedia bercerita kepada CNNIndonesia.com alasannya memilih ta’aruf sebagai jalan menemukan tambatan hati, di tengah berbagai jenis perjodohan yang ia ketahui.

“Setahu saya, ada tiga jenis cara, dua yang paling umum itu ada pacaran dan dijodohkan. Kalau pacaran, saya merasa pasangan hanya menunjukkan yang baik-baik saja menurut dia. Kalau dijodohkan, sifatnya diberi, yang menikah tidak tahu apa-apa. Nah saya merasa ta’aruf ini berada di antara keduanya,” papar Ikhwan.

“Lagipula di era Nabi Muhammad tidak ada pacaran, kan?”

Taaruf menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti perkenalan yang diserap dari bahasa Arab “lita’arafu” yang bermakna saling mengenal.

Namun, kebanyakan mengenal ta’aruf sebagai ajang pencarian jodoh melalui perantara orang ketiga yang sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam.

Padahal, ta’aruf tidak serta merta bertemu dengan jodoh, melainkan sebuah usaha saling mengenal satu sama lain baik untuk keperluan umum maupun khusus.

“Ta’aruf yang saya rasakan ini berkenalan namun tidak sampai pacaran yang berinteraksi hingga seolah-olah tidak ada batas, tapi juga tidak ‘given’. Melalui ta’aruf, seseorang dapat mengenal orang lain lebih dalam melalui perantara orang ketiga,” tutur Ikhwan.

Perantara orang ketiga yang dimaksud oleh Ikhwan adalah peran sahabat atau pihak-pihak yang dianggap dekat dan mengenal dengan jelas karakter ataupun kepribadian orang yang ingin dikenal, salah satunya adalah melalui pembina keagamaan keduanya.

Cara ini dianggap Ikhwan mendekati objektif, karena bukan hanya meminta pendapat dari satu pihak semata.

Menurut Ikhwan, walaupun bisa jadi antar orang yang berta’aruf belum pernah bertemu sebelumnya, namun ta’aruf menyediakan kesempatan untuk saling bertemu dan berkenalan dengan dibantu orang-orang terdekat.

Akan tetapi, bila ternyata sudah kenal sebelumnya, maka hal itu akan mempermudah dalam menilai apakah calon benar-benar cocok sesuai pilihan hati.

Direstui Calon Mertua

Proses ta’aruf yang dijalani Ikhwan terbilang singkat, ia mulai memutuskan untuk memberitahu kesiapannya dalam mengikuti ta’aruf kepada pembina agamanya pada Desember 2010.

Dan pada Maret 2011, ia bertemu dengan sang calon istri. Bagai berjodoh, tak banyak aral menghadang keduanya hingga November 2011 Ikhwan dan sang istri resmi menikah.

Meski terkesan singkat, namun bukan berarti Ikhwan tak perlu persiapan. Hal pertama yang harus ia hadapi adalah penerimaan orang tuanya dengan sistem ta’aruf ini. Ia mengaku butuh setidaknya dua tahun untuk mengenalkan sistem ta’aruf kepada orang tuanya, sebelum ia bertaaruf.

“Soalnya ta’aruf banyak yang belum kenal, baru ada film Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih orang jadi lebih mudah membahasakan taaruf,” kata Ikhwan.

Ikhwan juga melalui proses ta’aruf pada umumnya, dimulai dengan pengajuan keinginan berta’aruf kepada pembina agamanya, lalu diteruskan dengan pencarian calon oleh sang pembina sesuai kriteria yang ditetapkan Ikhwan.

Bila bertemu yang sekiranya cocok, maka keduanya akan saling bertukar informasi kepribadian melalui perantara orang lain.

Bila dari pertukaran informasi tersebut menghasilkan hal yang positif, maka keduanya dipertemukan untuk saling mengenal lebih lanjut dengan pendampingan pembina agama dan orang terdekat.

Bila hasil positif juga, maka kemudian waktunya pemberitahuan kepada keluarga masing-masing dan dapat diteruskan ke jenjang lamaran serta menikah.

Setelah empat tahun pernikahan, Ikhwan dan sang istri telah dikaruniai dua orang putra.

“Saya rasa semua orang menginginkan keberkahan dalam pernikahannya, apapun kondisinya. Dan menurut saya, ta’aruf adalah cara yang punya keberkahan lebih banyak dibandingkan berpacaran,” kata Ikhwan.

Berlandaskan Komitmen

Menurut psikolog hubungan Sri Juwita Kusumawardhani, dalam berhubungan ada yang dikenal dengan segitiga cinta. Teori ini dikenalkan oleh Robert Sternberg, menyatakan bahwa cinta memiliki tiga dimensi yaitu hasrat, keintiman, dan komitmen.

“Segitiga cinta ini seperti bentuk cinta yang ideal. Nah kalau orang yang memilih ta’aruf sebagai cara mencari jodoh, psikologi memandang orang ini berarti melandaskan komitmen terlebih dahulu,” kata Sri saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Sabtu (13/2).

Menurut Sri, meski tidak harus berurut terjadinya, namun biasanya manusia akan lebih tertarik secara biologis terhadap seseorang karena faktor fisik. Kondisi inilah yang disebut hasrat.

Setelahnya, kedua insan melakukan kontak interaksi yang dapat menimbulkan keintiman. Dimensi ini menekankan pada keeratan perasaan di antara keduanya dan kekuatan yang mengikat mereka untuk bersama.

Sedangkan dimensi komitmen didefinisikan sebagai keputusan tetap bersama sebagai pasangan dalam hidupnya. Komitmen ini berarti juga memberikan perhatian, berusaha mempertahankan dan melindungi hubungan.

“Namun bila suatu hubungan hanya dilandaskan komitmen tanpa keintiman dan hasrat, jadinya akan membosankan,” kata Sri. “Cara mendekatkan kembali kepada pasangan masing-masing, keduanya harus membuka diri. Dan keduanya harus menerima kondisi pasangannya juga sadar bahwa tidak ada pasangan yang sempurna,”

Sri mengatakan bahwa taaruf adalah salah satu alternatif perjodohan yang ada di masyarakat. Namun bila perjodohan biasanya berlandaskan mempertahankan keturunan dan harta, ta’aruf berlandaskan agama.

Keyakinan akan ta’aruf didasarkan pada keyakinan individu tersebut terhadap aturan agama yang ia anut.

Entah apapun cara bertemunya, menurut Sri akan selalu ada fase saat individu dalam pasangan beradaptasi dengan lingkungan baru yang bernama pernikahan.

Walaupun seringkali ta’aruf diidentikkan menikah dengan yang ‘orang asing’ dibandingkan sistem berpacaran, menurut Sri, baik pacaran atau ta’aruf dan semua jenis cara berjodoh bermula dari tidak saling kenal.

“Entah pacaran atau ta’aruf tak ada yang memiliki jaminan paling efektif. Pacaran lama belum tentu kenal baik dengan pasangannya, apalagi ta’aruf. Ta’aruf memang lebih efisien dari segi waktu, namun dalam sebuah hubungan pernikahan diperlukan pengenalan karakter luar dalam yang baik, tidak cukup hanya dari profil semata. Tapi semuanya akan kaget ketika masuk dunia pernikahan, karena saat itulah hal yang belum terungkap dari pasangan akan terbuka,” papar Sri.

 

sumber:CNN Indonesia

 

Yang Baik Belum Pasti Berjodoh dengan Yang Baik

KITA sering mendengar istilah peribahasa yang kita dengar bahwa orang baik/ saleh pasti jodohnya ketemu dengan yang baik/ saleh. Itu bukanlah peribahasa tapi cuplikan atau dinukil dari ayat dalam alquran An Nur ayat 26.

Jika difahami secara harfiah tentu kita akan memahaminya sebagaimana adanya. Tapi sebenarnya jika kita lihat asbabun nuzul (sebab turun) ayat tersebut, kita akan faham bahwa yang dimaksud laki-laki baik dan wanita baik dalam ayat tersebut adalah Rasulullah dan Aisyah, jelas ini merupakan pasangan serasi, suami yang baik dengan istri yang baik. Lihat Tafsir Alquran Al-Azhim karya Imam Ibn Katsir dalam menafsiri ayat ini.

Alquran surat An-Nur ayat 26 ini diturunkan untuk menunjukkan kesucian Sayyidah Aisyah dan Shafwan bin al-Muattal dari semua tuduhan yang ditujukan kepada mereka kala itu. Ceritanya dalam sebuah perjalanan sepulangnya dari penaklukan Bani Musthaliq, tanpa sengaja Sayyidah Aisyah terpisah dari rombongan karena mencari kalungnya yang hilang dan kemudian bertemu dengan Shafwan diantarkan pulang oleh Shafwan juga yang sama-sama tertinggal dari rombongan karena sudah menyelesaikan urusannya terlebih dahulu.

Akhirnya Sayyidah Aisyah pulang dikawal oleh Shafwan dengan naik untanya masing-masing hingga sampai ke Madinah. Golongan Yahudi dan orang-orang munafik melihat peristiwa ini sebagai kesempatan untuk menghembuskan fitnah perselingkuhan.

Saat itu kaum muslimin pun ada yang pro dan yang kontra menanggapi isu tersebut. Sikap Nabi juga jadi berubah terhadap Aisyah, beliau menyuruh kepada Aisyah untuk segera bertobat atas apa yang telah terjadi. Namun Sayyidah Aisyah tentu tidak mau bertobat karena merasa tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan kaum munafik kepadanya, Aisyah hanya menangis dan berdoa agar Allah menunjukkan fakta yang sebenarnya. Allah menjawab doa Aisyah dengan menurunkan surat An-Nur ayat 26 ini.

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah wanita yang jahat hanya pantas berdampingan bagi laki-laki yang jahat pula dan begitupun sebaliknya. Demikian pula dengan wanita yang baik hanya pantas berdampingan dengan laki-laki yang baik pula dan begitupun sebaliknya. Bukan berarti laki-laki yang baik PASTI akan mendapatkan wanita yang baik atau sebaliknya.

Ayat ini justru merupakan anjuran bagi setiap muslim untuk berhati-hati dalam memilih pasangannya agar memilih calon suami yang baik dan juga bagi para pria untuk memilih calon istri yang baik pula. Kadang orang baik dapat pasangan yang buruk. Jika laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik, kenapa Alquran menyebutkan bahwa kelak di akhirat ada istri-istri orang yang beriman yang menjadi musuh? Mereka menghujat suaminya dan hendak menjerumuskannya kedalam neraka. Ini berarti ada laki-laki beriman yang mempunyai istri yang buruk.

Coba perhatikan Alquran surat At-Taghabun ayat 14: “Hai orang-orang beriman, sungguh di antara para istri dan anak-anakmu ada yang jadi musuhmu, maka berhati-hatilah terhadap mereka dan apabila kamu memaafkan, tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sungguh Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

Wallahu a’lam. [Ustadz Yusrizal, ST]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2360301/yang-baik-belum-pasti-berjodoh-dengan-yang-baik#sthash.gQexUq5P.dpuf

Mengikuti Petunjuk Allah yang Mana Jodohku…

KITA tetap di wajibkan Ikhtiar “MEMILIH”. Apakah sudah maksimal di lakukan ikhtiarnya? Manusia itu diwajibkan 3 perkara: Doa, Ikhtiar, Tawakal. Kalau kita sudah maksimal melaksanakan 3 hal tersebut, Allah berkehendak lain, itu hanya karena kasih sayang Allah sama hambaNya. Karena apa yang Allah berikan ke hambaNya pastilah yang terbaik. Karena Rasulullah menyuruh kita memilih kalau kita mau bahagia dan beruntung.

Masalah dia berjodoh atau tidak dengan kita biarkan takdir yang memainkan peranannya. Tugas kita hanya berdoa memohon yang terbaik dan berusaha melakukan yang baik sesuai pesan Rasulullah. Rasulullah telah memberi petunjuk dan nasihat memilih pasangan hidup kepada kita. Jika setelah tahu kita tetap memilih yang berlawanan karena mengedepankan nafsu dan ego saja. Itu berarti kita telah memilih sendiri jalan hidup kita yang berlawanan dengan apa yang sudah Rasulullah anjurkan. Jadi jangan salahkan takdir, jangan salahkan Allah jika kamu terjebak ke dalam jalan kerugian. Karena kamu sendiri yang memilih.

Bukankah Allah sudah memperingatkan. Rasulullah pun sudah berpesan. Kita sendiri yang menentukan pilihan, walaupun hasil akhirnya tetap ada di tangan Tuhan, apakah mempersatukan dengan orang pilihan kita meskipun kita salah jalan, atau justru menggagalkan. Jika Allah menyatukan jangan berbangga dan merasa benar dulu, belum tentu Allah meridai pilihan kita tadi bukan? Karena Allah hanya akan meridai yang baik-baik saja. Tapi karena kasih-Nya, Dia mengabulkan apa yang kita usahakan, Dia mengizinkan semua itu terjadi, namun yakinlah di balik kehendak-Nya tadi.

“Inikah maumu? Inikah yang membuatmu bahagia? Inikah yang kau pilih? Maka Aku izinkan semua maumu ini terjadi. Namun kau juga harus mempertanggung jawabkan semua ini di akhirat nanti.” Di dunia Allah masih menyayangi semua hamba-Nya, baik itu yang bertakwa maupun yang durhaka. Semua mempunyai hak yang sama. Tapi di akhirat? Jangan harap. Allah hanya akan mencintai hamba-Nya yang bertakwa di dunia bukan yang selalu mendurhakai-Nya.

Jangan selalu menyalahkan takdir, apalagi menyalahkan Allah. Karena pada dasarnya kita punya bagian besar dalam menentukan jalan hidup kita. Bukankah kita sendiri yang memilih menjadi orang baik atau menjadi orang jahat? Menjadi orang jujur atau pendusta? Menjadi oarng bertakwa atau durhaka? Jadi sekarang mau pilih mana? Pilihan Rasulullah? Atau pilihan nafsu kita? Beruntung atau merugi? Menyerah pada nasib atau berusaha memperbaiki nasib? Menyerah pada cinta atau menyerahkan cinta ada-Nya?

Jangan selalu menjadi manusia yang pandai menyalahkan orang lain atas hal buruk yang terjadi dalam hidup kita, apalagi sampai menyalahkan Allah. Kita semua di anugerahi akal untuk berpikir, untuk menimbang apa saja kemaslahatan dan kemudaratan yang akan kita tanggung ketika kita hendak memilih atau melangkah. Awali dengan cara Islam, jalani dengan aturan Islam. Semoga kita mendapat akhir yang tentram.

Jodoh RAHASIA ALLAH. Kita sebagai hamba hanya bisa mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya agar bisa mencapai puncak keberuntungan. Ikhtiar dan doa janganlah lupa dan tetap menjadikan pesan Rasulullah sebagai kriteria utama memilih dan menerima calon pendamping kita. Karena kehidupan tidak akan berakhir hanya di dunia. Ada kehidupan setelah ini yang lebih abadi, dan apa yang kita kerjakan di dunia inilah yang menjdi penentu kebahagiaan kita di akhirat kelak.

Masalah di akhirat dia dapat jodoh wallahu a’lam itu tergantung amalan nya ketika di dunia. Apakah amalan di dunia nya di terima Allah. Wallahu a’lam. [Ustadz Yusrizal, ST]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2360300/mengikuti-petunjuk-allah-yang-mana-jodohku#sthash.Mt4pMQDL.dpuf

Untuk Kamu yang Dilema dan Galau Menanti Jodoh

Indahnya ketika akad telah dikumandangkan, limpahan doa membanjiri pasangan pasuntri baru yang sedang dimabuk asmara. Kebahagiaan dalam rumah tangga telah terbayang indah. Ditambah lagi euforia walimatul ‘urs semakin menambah suasana kebahagiaan.

Menikah merupakan dambaan setiap insan. Menikah bukan sekedar sarana menyalurkan cinta dan nafsu tetapi juga sebagai sarana ibadah yang menuai banyak pahala dari Allah Ta’ala. Membentuk keluarga yang harmonis penuh kebahagiaan merupakan impian semua orang. Maka tak heran bila banyak yang ingin mempunyai pasangan dengan kriteria tinggi.

Memiliki kriteria yang tinggi untuk calon pasangan bukanlah hal yang salah, karena setiap orang pasti mengimpikan mendapatkan pasangan yang terbaik. Tetapi, ingatlah bahwa kriteria-kriteria itu bukanlah sesuatu yang mutlak. Karena di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Seperti matahari dan bulan mereka saling menerangi bumi dari kegelapan.

Memiliki motivasi tinggi untuk menikah merupakan anugerah yang telah diberikan Allah Ta’ala.

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. ” (QS. Ar-Ruum: 21).

Selain itu menikah merupakan hal yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sudah selayaknya sebagai umatnya untuk mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى

“Barang siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukanlah termasuk umatku.” (HR. Bukhari no.5063 dan Muslim no.1401).

Salah satu hikmah dalam berumah tangga adalah bisa memperbanyak keturunan yang sholeh dan sholehah. Keluarga akan menjadi taman bagi anak-anak dalam belajar syari’at agama pertama.

Oleh karena itu janganlah sampai keinginan menikah di dalam hati sirna karena tidak kunjung mendapatkan pasangan yang sesuai dengan kriteria yang telah di tetapkan. Oleh karena itu sebaiknya janganlah mengejar pasangang yang sempurna tetapi jadilah seorang yang bisa menyempurnakan pasanganmu.

“Apabila engkau mendamba seorang yang berbudi tanpa cela, mungkinkah kiranya gaharu menebarkan wanginya tanpa asap?” (Majma’ Al-Hikam wal Amtsal fi Asy-Syi’r Al-‘Arabi).

Kalimat di atas menyadarkan dan mengajarkan bahwa tidak mungkin seseorang akan mendapatkan pasangan tanpa cela. Oleh karena itu, untuk apa menunda karena terhalang kriteria selangit yang belum kesampaian.

“Apabila Anda tidak memiliki kualitas sebaik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka jangan terlalu berangan tinggi bahwa Anda akan mendapat istri seperti ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Bilamana Anda bukan seperti ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, maka jangan terlalu bermimpi mendapatkan wanita sebagaimana Fathimah radhiyallahu ‘anha.”

Dua ungkapan di atas seharusnya sudah memberikan sebuah pengertian bahwa jodoh itu ibarat sebuah cerminan diri. Oleh karena itu hendaklah tidak terlalu neko-neko dalam menentukan kriteria calon pasangan. Hendaklah mengukur kemampuan diri agar tahu kemampuan dan batasan yang dimiliki. Lalu apa yang harus dilakukan selama dalam penantian jodoh yang akan diberikan oleh Allah Ta’ala.

1. Berusahalah menjadi pribadi yang senantiasa terus menerus memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih taat pada Allah serta Rasul-Nya.

Ingatlah janji Allah Ta’ala dalam firman-Nya. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan mengingkari janji. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ
وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS. An-Nuur: 26).

2. Perbaiki niat

Tanyakan pada diri sendiri apakah tujuan anda menikah? Karena beribadah? Menunaikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Menyalurkan hasrat kondrat manusiawi?

Pasti akan didapat jawaban yang berbeda-beda. Sesuai dengan apa tujuan mereka menikah. Namun Allah Ta’ala telah berfirman dalam kitab-Nya,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Qs. Adz-Dzariat: 56).

Terkandung manifestasi dari tujuan diciptakannya manusia di muka bumi ini, yaitu untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karenanya, sudah sepantasnya dalam melaksanakan segala amalan yang kita kerjakan tentulah akan berpulang pada tujuan awal.

3. Bekali diri dengan ilmu

Ketika bahtera rumah tangga telah melaju jauh, berkibar bak kapal pesiar yang akan terus berjalan mengarungi samudra kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan. Dalam sebuah perjalanan mengarungi samudra pastilah terdapat berbagai ritangan dan hambatan. Ombak yang datang menghantam, hujan, angin, dan badai yang kapan saja mengancam. Oleh karenanya, nahkoda kapal haruslah siap kapanpun rintangan itu datang menghadang.

Mustahil seorang nahkoda dapat mengendalikan kapalnya tanpa berbekal ilmu. Begitu pula dengan kita yang sedang menanti pasangan yang diidamkan. Persiapakanlah diri dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Agar senantiasa lebih siap dan bijak dalam mempersiapkan rumah tangga yang diidamkan bersama pasangan.

Semoga Allah Ta’ala mempermudah langkah kita untuk menuju ke jenjang pernikahan, mempertemukan kepada seseorang yang diidam-idamkan. Allahu a’lam

 

 

sumber: Fimadani.com