Berani Melihat Dosa Sendiri

SAHABAT, semua kepahitan yang terjadi itu pasti diundang oleh dosa kita sendiri. Maka dari itu haruslah kita berani untuk melihat dosa sendiri, karena jika kita tidak pandai melihat dosa sendiri, maka akan sulit untuk bisa mengeluarkan air mata tobat.

Allah SWT berfirman,”Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imron [3] : 135)

Mengakui kekurangan dan kesalahan diri serta meminta maaf atasnya adalah sikap mukmin yang sejati. Sikap yang membuktikan bahwa tidak ada apapun yang ditakuti kecuali Allah SWT. Sungguh mulia sikap yang demikian dan semoga kita termasuk di dalamnya. Aamiin yaa Robbal aalamiin.[*]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Jadilah Orang Baik yang Sejati

ALHAMDULILLAH. Segala puja dan puji hanya milik Allah Swt., Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Karunia-Nya tiada pernah berhenti mengalir kepada seluruh kita meski seringkali kita lupa mengingat-Nya dan lalai beribadah kepada-Nya. Hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada-Nya kita akan kembali. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Saudaraku, mudah-mudahan kita menjadi orang baik. Yaitu baik dalam pandangan Allah Swt., karena tidak ada pandangan yang paling sempurna dalam menilai seseorang, kecuali hanya penilaian Allah Swt. Baik dalam pandangan manusia, belum tentu baik dalam pandangan Allah. Karena baik menurut orang itu bisa relatif, sedangkan baik menurut Allah pasti baik yang sejati.

Sesungguhnya Allah mengetahui bahwa kebaikan seseorang tidak hanya secara lahiriyah saja. Ketika seseorang bertuturkata baik, maka Allah mengetahui niat yang ada di dalam hatinya, apakah baik ataukah tidak. Ketika seseorang berbuat baik, maka sesungguhnya Allah mengetahui apa maksud yang ada di baliknya. Perkataan atau perbuatan yang dianggap baik oleh mata manusia, belum tentu baik menurut Allah. Karena manusia hanya melihat yang tersurat, tak bisa betul-betul melihat yang tersirat.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw pernah menyampaikan kisah tiga orang yang mati dengan membawa amal perbuatan yang menurut mereka adalah kebaikan. Pertama, orang yang gugur di medan jihad. Kedua, seorang pembaca dan penghapal Al Quran. Ketiga, orang yang gemar bersedekah.

Ketiga orang ini mengira bahwa amal perbuatannya adalah kebaikan. Namun, rupanya tidak demikian, karena Allah mengetahui isi hati mereka. Yang gugur di medan perang adalah karena ingin dipandang oleh orang lain sebagai pemberani dan pahlawan. Yang pandai membaca Al Quran adalah karena ingin dikagumi orang. Dan yang gemar bersedekah adalah karena ingin dipandang sebagai dermawan. Akhirnya, semua amal perbuatan mereka pun sia-sia di hadapan pengadilan Allah Swt. karena Allah Maha Mengetahui niat di dalam hati mereka.SubhaanAllah.

Allah Swt. berfirman,“Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”(QS. Faathir [35] : 38).

Oleh karena itu saudaraku, marilah kita senantiasa memeriksa ke dalam hati kita, memeriksa niat kita setiap kali berbuat kebaikan. Jagalah niat kita hanya karena mengharap ridho dan penilaian Allah Swt. Kalaupun perbuatan kita itu diketahui oleh orang lain, maka niatkanlah itu sebagai syiar agar semakin menular kebaikan itu. Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan kekuatan kepada kita untuk istiqomah.Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

 

 

Ciri Buta Hati

SAUDARAKU, kita sering merasa prihatin, kasihan, kepada orang yang matanya tidak bisa melihat (tuna netra). Padahal tidak bisa melihat dunia sebenarnya bukan masalah besar. Masalah yang besar itu adalah ketika hati yang buta. Apa hati yang buta itu? Yakni hati yang tidak bisa melihat kebenaran.

Salah satu ciri hati yang buta adalah tidak bisa membedakan mana yang kekal, dan mana yang fana. Kebutaan hati akan membuat seseorang tidak mengenal Allah SWT. Yang dikenalnya hanyalah dunia. Sehingga, orang yang mata hatinya buta, dia lebih sibuk mencari duniawi dibanding kedudukan di sisi Allah SWT.

Hati yang buta adalah disebabkan kemaksiatan dan dosa-dosa yang terus-menerus kita lakukan. Hati yang buta adalah akibat dari dosa yang tidak kita taubati dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dampaknya, ia tidak bisa melihat cahaya kebenaran, ia akan tersesat dalam kehidupan dan celaka pada hari kemudian.

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang buta hati. Kita memohon kepada Allah SWT agar senantiasa diberi petunjuk untuk selalu menjaga diri kita dari berbagai perbuatan yang bisa membutakan mata hati.

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Dzikir Gerbang Pertolongan Allah

SAHABAT yang baik, hidup akan terasa berat manakala kita tidak mendapat pertolongan Allah SWT. Kalau Allah menolong kita, maka hidup akan terasa ringan dan mudah. Sedangkan kalau Allah SWT tidak menolong kita, maka sesederhana apapun kejadian dalam hidup ini maka akan terasa berat dan besar. Karena sesungguhnya “Laa haulaa walaa quwwata illaa billaah“, makhluk itu tiada daya dan tiada upaya kecuali atas pertolongan Allah SWT.

Salah satu gerbang pertolongan Allah SWT yang memiliki derajat sangat tinggi adalah dzikrulloh. Inilah amalan terbaik, amalan yang paling mensucikan, amalan yang paling meninggikan derajat, amalan yang lebih baik dari menafkahkan emas dan perak, amalan yang lebih baik dari membunuh atau terbunuh dalam jihad di jalan Allah SWT, itu dzikrulloh taala. Karena seluruh perintah dan larangan Allah SWT, muaranya adalah untuk ingat kepada Allah SWT yang berbuah kepatuhan, ketaatan dan kepasrahan kepada-Nya.

Jadi, kualitas seseorang itu tergantung kualitas dzikirnya. Semakin banyak dzikirnya, maka semakin tinggi kedudukannya di hadapan Allah SWT. Karena Allah SWT, berfirman, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS Al Baqoroh [2] : 152)

Semoga kita termasuk orang-orang yang istiqomah mengamalkan dzikir sehingga mendapatkan derajat yang tinggi di hadapan Allah SWT. dan sangat dekat dengan pertolongan-Nya. Aamiin yaa Robbalaalamiin. [*]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar 

 

INILAH MOZAIK

Cara Agar Terhindar dari Kesia-siaan

ALLAH SWT berfirman, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Yunus [10] : 26)

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman, “..Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah [2] : 195)

Dalam dua ayat ini Allah SWT memberikan petunjuk kepada kita bahwa Dia mencintai hamba-hamba-Nya yang berbuat baik. Nah, berbuat baik seperti apa? Yaitu perbuatan baik yang diniatkan lillaahitaala. Kebaikan yang dilakukan dengan mengejar ridho Allah SWT. Kebaikan yang dilakukan dengan maksud supaya semakin dekat dengan Allah SWT. Inilah puncak kebaikan.

Karena ada juga orang yang berbuat baik supaya dianggap baik oleh orang lain. Ada yang berbuat baik supaya orang lain berhutang budi. Begitu banyak orang yang berbuat baik bukan dengan kebaikan yang asli, karena kebaikan yang asli murni hanya satu yaitu kebaikan yang tulus tanpa pamrih kecuali hanya mengharap perhatian dari Allah SWT. Tetaplah berbuat baik meskipun orang lain tidak peduli pada kebaikan kita. Karena Allah SWT senantiasa peduli pada sekecil apapun kebaikan yang dilakukan oleh hamba yang beriman kepada-Nya.

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar 

INILAH MOZAIK

Buah dari Perbuatan Kita Sendiri

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Tiada yang wajib disembah selain Allah. Hanya kepada Allah kita memohon perlindungan dan hanya kepada-Nya kita pasti akan kembali. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Allah Swt berfirman, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri..” (QS. Al Isro [17] : 7)

Tidak ada yang tertukar, keburukan yang kita perbuat, pasti akan berbalik akibatnya kepada kita sendiri. Demikian juga dengan kebaikan yang kita perbuat, buahnya akan kembali kepada kita. Oleh karena itu, ketika ada keburukan menimpa diri kita, tidak boleh menyalahkan siapapun kecuali menyalahkan diri sendiri. Boleh jadi ada dosa yang belum kita taubati, boleh jadi ada keburukan kita kepada orang lain dan belum kita meminta maaf kepadanya dan belum memohon ampun kepada Allah Swt.

Prinsip ini semestinya bisa menjadi pegangan bagi kita bahwa jika kita melakukan keburukan, maka sesungguhnya kita sedang menimpakan keburukan kepada diri kita sendiri. Jika hal ini kita yakini, maka kita akan berpikir sekian ribu kali untuk berbuat buruk. Dan yang terbaik adalah manakala kita akhirnya terhindar, selamat dari perbuatan buruk kita sendiri.

Di saat yang sama, kita meyakini bahwa ketika kita berbuat kebaikan, sesungguhnya kita sedang menarik kebaikan untuk datang kepada kita. Sehingga kita semakin bersemangat melakukan amal sholeh, karena inilah yang Allah sukai.

Saudaraku, sesungguhnya janji Allah itu pasti benar. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu mendapat petunjuk Allah sehingga kita menjadi orang-orang yang selamat di dalam hidup kita. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Hidup dengan Pertolongan Allah

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Menatap, menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang istiqomah dalam ketaatan. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Hidup ini sederhana saja sebenarnya, kalau Allah menolong kita niscaya akan ringan dan mudah bagi kita menjalani hidup ini. Sebesar apapun episode kehidupan yang sedang kita jalani. Sedangkan kalau Allah tidak menolong kita maka pasti berat bagi kita menjalani hidup ini, masalah sepele pun akan terasa besar dan rumit.

Orang yang tidak mendapat pertolongan Allah akan sibuk membesar-besarkan masalah yang sebetulnya sepele. Dia juga akan sibuk menyalahkan orang lain tanpa mau sedikitpun memeriksa kesalahan dirinya sendiri. Keadaan seperti ini akhirnya hanya semakin merumitkan masalahnya.

Oleh karena itu, janganlah takut pada masalah. Namun, takutlah kalau kita tidak ditolong Allah. Inilah kuncinya. Lalu, bagaimana agar kita ditolong oleh Allah? Di dalam Al Quran Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqoroh [2] : 153)

Sabar dan sholat adalah pembuka jalan pertolongan Allah. Bersabarlah setidaknya pada tiga tempat. Pertama, sabar ketika mentaati Allah. Kedua, sabar ketika menjauhkan diri dari kemaksiatan. Ketiga, sabar ketika menghadapi kejadian yang tidak diharapkan, yaitu musibah.

Kunci kedua pembuka jalan pertolongan Allah adalah sholat. Sholat adalah doa yang paling lengkap. Dan, Allah menjanjikan bahwa barangsiapa yang berdoa kepada-Nya, niscaya Allah akan mengabulkannya. Apalagi jika sholat kita lakukan dengan khusyu, penuh kesungguhan, maka akan berbuah menjadi perilaku yang Allah ridhoi. Semakin berkualitas sholat kita, semakin berkualitas akhlak kita, maka semakin dekat kita dengan kemudahan dalam hidup ini. Inilah pertolongan Allah.

Semoga kita termasuk orang-orang yang ditolong oleh Allah Swt. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar 

INILAH MOZAIK

Dzikir dan Tenang

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Mengetahui segala perbuatan, menggolongkan kita sebagai orang-orang yang senantiasa ingat kepada-Nya. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Allah Swt berfirman, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS. Ar Rodu [13] : 28)

Ada orang yang bertanya, “Mengapa saya sudah berdzikir tapi hati masih tidak tenang?!” Boleh jadi dzikirnya baru sebatas cangkang, belum kepada isi. Boleh jadi dzikirnya baru hanya gerakan atau ucapan, tidak meresap di dalam hati. Boleh jadi dzikirnya baru lisan, tidak menjadi keyakinan.

Seperti sholat. Sholat adalah bentuk dzikir kepada Allah Swt. Akan tetapi tidak sedikit, bahkan mungkin termasuk diri kita, yang sholat hanya sebatas gerakan dan bacaan saja, sedangkan hati dan pikiran ada di tempat lain, mungkin di tempat kerja atau usaha kita. Tidak heran jika kita sering lupa sudah rokaat berapa, lupa tahiyat awal terlewat. Sholat adalah memuji Allah, tapi kita tidak ingat kalau kita sedang memuji Allah. Saat sujud, tubuh kita bersujud, tapi hati kita entah ke mana. Maasyaa Allah.

Padahal Allah Maha Mengetahui semuanya, Allah melihat fisik kita, mendengar lisan kita, dan mengetahui apa yang terbersit di dalam hati dan pikiran kita. Oleh karena itu, tidak heran pula kalau setelah sholat hati kita tetap gersang, tidak terasa ketenangan. Itulah jikalau dzikir hanya sebatas cangkang, belum kepada isi.

Maka saudaraku, ketenangan hanya akan hadir jika hati dan pikiran kita senantiasa ingat kepada Allah. Dzikir yang terucap dari lisan dan perbuatan kita adalah benar-benar terlahir dari dzikir di dalam diri kita. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang senantiasa ingat kepada-Nya. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAHMOZAIK

Doa Dikuatkan Iman dan Islam

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Dialah Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu di alam semesta ini. Segala kejadian yang kecil maupun yang besar ada dalam genggaman-Nya. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Rasulullah Saw seringkali mengulang-ulang doa ini, “Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi alaa diinik(Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).” Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah Saw., kenapa doa tersebut sering beliau baca. Rasulullah Saw. bersabda, “Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi)

Saudaraku, mengapa kita perlu memanjatkan doa ini kepada Allah Swt? Karena nikmat iman dan nikmat Islam adalah karunia Allah kepada kita. Sungguh sangat mudah bagi Allah untuk menarik kembali nikmat tersebut dari diri kita. Mungkin ada yang bertanya, “Mengapa Allah berbuat zholim dengan mengambil iman dan Islam dari hati kita?!”Sungguh Allah mustahil berbuat zholim kepada hamba-Nya. Iman dan Islam bisa tercerabut dari hati kita disebabkan kita menganggap remeh dosa dan jauh dari taubat. Naudzubillaahi mindzalik!

Oleh karena itu, marilah kita deraskan doa kita kepada Allah, meminta kepada-Nya agar dikuatkan iman dan Islam di dalam hati kita. Diiringi dengan menjaga kualitas ibadah, menjauhi dosa dan segera bertaubat manakala iman kita goyah atau kita sempat tergoda syaitan untuk berbuat dosa.

Semoga Allah Swt senantiasa melimpahkan hidayah kepada kita dan memberi kita kekuatan untuk istiqomah di jalan-Nya. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Ikhlas di Tiga Waktu

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Dialah Dzat yang telah menciptakan langit, bumi dan segala yang ada. Seluruh makhluk ada dalam kekuasaan-Nya dan tiada berdaya tanpa pertolongan-Nya. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Allah Swt. berfirman, “..Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholeh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al Kahfi [18] : 110)

Ikhlas itu mesti kita jaga pada tiga waktu. Pertama, adalah ketika kita hendak beramal. Kondisikan dulu hati untuk lurus hanya mengharapkan penilaian Allah Swt. Mantapkan hati agar benar-benar bersih dari unsur ujub, riya, sumah. Ini penting karena betapa licinnya dan halusnya syaitan menggoda kita agar hati kita tergelincir. Padahal baik buruknya, benar salahnya setiap urusan kita adalah diawali dari baik buruknya, benar salahnya hati.

Kedua, adalah ketika beramal. Boleh jadi ketika kita melakukan amal kebaikan, tiba-tiba datanglah pujian, sanjungan dari orang lain. Tentu siapapun akan senang jika mendapat pujian dan sanjungan. Tapi, di sinilah terdapat celah yang rentan membuat kita terlena dan terbuai sehinga merasa diri hebat dan lupa kepada Dzat yang telah memberi kita kekuatan, Allah Swt.

Maka, perlu kita untuk bermujahadah menjaga niat yang sudah kita tekadkan sejak awal. Sehingga kita bisa istiqomah dalam keikhlasan.

Ketiga, setelah beramal. Mungkin ada penghargaan dari orang lain atas prestasi kita. Atau bahkan boleh jadi tidak ada yang memuji, menyanjung kita, malah yang ada justru orang yang tidak menghargai amal kita. Nah, di sinilah hati kita diuji. Hati bisa terbuai oleh penghargaan dari manusia, dan hati juga bisa goyah saat ada yang merendahkan kita.

Bagi orang yang hatinya lurus lillaahitaala, segala bentuk penilaian manusia itu tidaklah ada apa-apanya dibandingkan penilaian Allah Swt. Jika dipuji, maka ia akan memuji Allah dan menyerahkan pujian tersebut kepada Allah. Sedangkan jika dia dihina, direndahkan, maka ia akan beristighfar, memohon ampunan Allah karena boleh jadi itu adalah ujian agar dirinya bisa memperbaiki diri dan bersandar hanya kepada Allah semata.

Saudaraku, semoga Allah Swt senantiasa melimpahkan hidayah kepada kita sehingga kita menjadi orang-orang yang istiqomah menjaga niat dalam setiap ucapan dan perbuatan kita. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar 

INILAH MOZAIK