Mike Tyson Masih Suka Terharu bila Ingat Shalat di Raudhah

Perjalanan ke Tanah Suci ternyata sungguh membekas di hati mantan petinju dunia, Mike Tyson. “Saya masih suka menangis bila ingat saya bisa datang ke Taman Surga di Madinah,” ujarnya, menceritakan saat-saat mengharukan ketika ia shalat di Raudhah, samping makam Rasulullah SAW. “Saya bahkan berpikir untuk tidak beranjak dari tempat suci itu.”

Secara bergurau pria yang dulu dijuluki sebagai “si leher beton” ini menyatakan tak ingin dikenali sebagai Mike Tyson oleh orang lain ketika berada di Tanah Suci. “Saya berharap mereka membiarkan saya menikmati saat-saat  saya penuh emosi dan sendirian berdoa.”

Tyson pergi berumrah bersama-sama dengan presiden misi perdamaian Kanada, beberapa duta besar Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan cendekiawan Muslim Shazad Muhammad. Di Madinah banyak fans menunggu berjam-jam untuk melihat dan berfoto bersama petinju terkenal di dunia itu.

Sumber : MMN/Republika Online

Kebahagiaan Dian Sastro Ketika Masuk Islam, Meski Ayahnya Buddha dan Ibunya Katolik

Raut wanita dalam foto itu serius. Tampak tekun. Kepala berbalut kerudung, tertunduk. Mata terkunci ke bawah. Khusyuk. Tangan kanan menggenggam mic. Disodorkan ke bibir yang terlihat tengah membaca. Demikian dilansir posmetro.

Dia tak sendiri. Di samping kanan, duduk perempuan paruh baya. Juga berkerudung. Wanita berkaca mata itu memaku pandangan ke arah kiri. Mengamati wanita muda di samping dengan lekat.

“Khataman Qur’an dan pengajian sebelum akad..” Demikian bunyi kalimat yang tertulis di sebelah kanan foto kedua perempuan tersebut.

Dua perempuan dalam foto itu adalah Dian Sastrowardoyo dan sang bunda, Dewi Parwati Setyorini. Dian tengah membaca Alquran sebelum akad nikah. “Mama aku yang Katolik benar -benar supportif dan mendukung aku untuk khatamin Qur’an sebelum menikah..”

Gambar itu diambil sebelum pernikahan Dian dengan Maulana Indraguna Sutowo pada 2010. Kemudian diunggah ke Instagram melalui akun @therealdisastr pertengahan tahun lalu.

Dian dan sang bunda memang beda agama. Pemeran Cinta dalam film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) ini memutuskan masuk Islam. Mengucap Syahadat pada tahun 2006. Tepat pada malam peringatan Isra Mi’raj.

Kala itu, nama Dian sudah gemilang. Dikenal luas sebagai artis papan atas. Sukses menjadi pelakon film dan juga bintang iklan. Sehingga keputusan menjadi mualaf menjadi perhatian banyak orang. Diberitakan berbagai media.

Perempuan kelahiran Jakarta, 16 Maret 1982, ini mengaku keputusan masuk Islam datang dari jiwa. Tak ada yang membujuk. Apalagi memaksa. “Dari hatiku sendiri,” tutur Dian saat diwawancara sebuah media.

Namun, proses mualaf itu butuh perjalanan panjang. Mungkin inilah yang ditiru oleh Dian dari sang ayah, Ariawan Sastrowardoyo. Dulu, sang ayah juga mengembara mencari jati diri, sebelum akhirnya memeluk Buddha.

“Mungkin oleh proses yang sama sekarang aku memeluk Islam. Sementara mamaku tetap Katolik,” ujar Dian.

Tapi Dia yakin, menjadi mualaf bukanlah pilihan salah. Keputusan ini benar. Dan dengarlah kebahagiaan Dian setelah memeluk Islam.

“Perasaanku lega. Karena aku masuk Islam bukan karena popularitas. Yang membuat aku memilih Islam karena aku ingin berserah diri dan pasrah kepada Allah.”

Sebagai seorang mualaf, Dian terus belajar. Memperdalam ilmu Islam. Berbagai buku dia lahap. Termasuk tuntunan salat. Selain itu, dia juga bertanya pada orang yang lebih tahu tentang Islam.

“Ada guru juga yang ngajarin, tapi lebih banyak aku baca buku.”[RN]

 

 

sumber: Panji Mas

William: Kita Memiliki Satu Tuhan Bukan Tiga

William, pemuda Amerika Serikat, itu masuk Islam sekitar empat tahun yang lalu. Pemuda kelahiran Dallas, Texas, ini dibesarkan di lingkungan keluarga Kristen.

“Keluargaku tidak sepenuhnya ultrareligius seperti stereotipe kebanyakan warga Texas. Kami hanya tipikal keluarga Kristen religius yang moderat,” kata William menjelaskan kultur keagamaan keluarganya.

Sejak kecil, William berada di tengah lingkaran sosial yang mapan. Ia memiliki fasilitas penuh dan kenyamanan di tengah lingkungan kulit putih kelas menengah atas. Satu-satunya masalah, remaja ini terlahir dalam kondisi autis. Fungsi sosialnya terganggu. Ia sedikit canggung saat berhadapan dengan orang lain. Lantaran kondisi itu, William merasa tidak cocok dengan masyarakat di sekitarnya.

Kendati dia tidak terlalu penyendiri atau tampak seperti orang buangan, jelas William, dia tetap tidak terlalu populer.
Dia kurang menaruh perhatian terhadap aspek sosial. Usianya masih terlalu muda waktu itu. Dia cenderung menghabiskan waktu sehari-hari bersama video game.

“Aku hanya peduli pada video game, jauh dibanding agama,” ucapnya.

Bagi William, gagasan bahwa manusia akan pergi ke surga ada dalam benaknya hanya karena dia percaya pada Yesus Kristus. Menurut dia, itu terdengar seperti ide yang bagus. Sangat keren. Jadi, ayo kita bermain video game seumur hidup, kemudian pergi ke surga. Itu yang dia angankan.

Pada umur 11 tahun, benih-benih ketidakpercayaan terhadap ajaran agama yang dia anut sejak kecil mulai muncul di pikiran William. Remaja ini memiliki masalah dengan konsep trinitas. Para pemuka Kristen menjelaskan, Tuhan itu tiga, tetapi satu. William merasa itu tidak masuk akal. “Oke. Saya pikir kita memiliki satu Tuhan, bukan tiga,” tegas dia.

Buat dia, konsep trinitas berarti politeisme, bukan monoteisme. Sementara, Kris ten menyebut ajarannya bersifat monoteisme. William merasa sulit membayang kan aplikasi konsep itu, jadi dia menolaknya. Waktu itu, dia hanya menolak gagasannya, bukan ajaran agamanya.

Ketika William duduk di bangku SMA, dia mulai sedikit lebih peduli dengan apa yang sebenarnya terjadi di dunia. Pemuda itu masuk ke ranah politik di sekolah, kemudian dia juga benar-benar mendalami agama. Alih-alih mendapatkan kembali kepercayaannya, sekarang William menolak gagasan Protestan secara umum. “Masalahnya, tidak ada satu pun sekte Kristen yang saya setuju dengannya,” keluh William.

Kekosongan spiritual Pertama kali William mengenal agama-agama lain melalui sang ibu. Ketika dia beranjak remaja, kedua orang tuanya bercerai. Peristiwa itu menimbulkan trauma yang cukup dalam dan memaksa ibunya mencari alternatif spiritual. Seiring waktu, William pun mengalami kekosongan yang sama.

Dia rindu menemukan spiritualitas yang tepat mengisi untuk ceruk hatinya. Kedengaran konyol, tapi nyata. Ibunya merekomendasikan William untuk mengikuti tes online. Tes itu akan merekomendasikan agama apa yang paling cocok untuk si pengguna.

Meski terdengar tidak masuk akal, William duduk di depan laptop dan melakukan tes. Alangkah terkejutnya dia mengetahui bahwa Islam ada di peringkat kedua agama yang paling cocok dengan kompabilitas sekitar 98 persen.

Sementara, agama pertama yang paling cocok untuknya versi tes tersebut adalah Yahudi Ortodoks.

Tertarik Islam Jalan hidayah memang sulit ditebak. Kendati William menaruh ketertarikan pada Yudaisme, tidak ada yang lebih menahan rasa penasarannya dibanding Islam. Buat dia, Islam itu, seperti kata orang kebanyakan, terlalu asing. Tapi, justru nuansa asing itu yang memikatnya.

“Saya sering berpikir, Oh, ini terlihat sangat menarik,” kenang William.

 

 

Sumber: Republika Online

Tonton Video Zakir Naik, Dicky Setiono Tanoyo Bersyahadat

Sejak kecil, Dicky Setiono Tanoyo menilai Islam agama yang jahat. Beranjak dewasa, pandangan itu mulai berubah.

Dicky mulai tertarik mempelajari Islam. Kepada teman-temannya ia bertanya soal ajaran tauhid. “Oleh teman saya, ditunjukan video tentang Zakir Naik. Dari video itu, saya tertarik mengenal Islam,” kata dia seperti dilansir mualaf.com, Selasa (6/10).

Dicky semakin tertarik mempelajari Islam ketika diperlihatkan video Ustaz Felix Siauw. “Saya merasa Islam agama yang berkata jujur dan disertai bukti yg kuat tentang Tuhan” kata Dicky yang akhirnya memutuskan bersyahadar di Mushala Kantor Pusat LMI.

Menurutnya, Islam bukan hanya sekedar omongan yang tidak ada dasarnya. Beberapa pertanyaan tentang Tuhan dan agama terjawab dengan sendirinya dari ceramah para ustaz tersebut.

Setelah bersyahadat, Dicky menghubungi Agung Heru Setiawan, Ketua MCI Jatim untuk membantu membina akan keyakinannya untuk berislam. Prosesi syahadat dibimbing oleh Ustadz Nugroho Irianto Direktur LMI Pusat, yang sebelumnya menyampaikan Rukun Islam dan Rukun Iman sebagai komitmen untuk dilaksanakan setelah bersyahadat.

 

sumber: Republika Online

Carolyn Erazo Mendapat Hidayah dari Pemakaman (2-habis)

Carolyn Erazo terbangun sangat awal untuk menemukan sebuah masjid yang telah ia cari sejak malam sebelumnya. Ia harus menuntaskan rasa ingin tahunya. Kali ini, perempuan Amerika itu ingin menjajaki Islam.

Perempuan itu mulai mengemudikan mobilnya di sekitar lokasi, tapi tak bisa menemukan masjid itu, padahal ia sudah memegang alamatnya. Singkat cerita, Carolyn sampai di masjid yang dia tuju. Jauh di lubuk hati, ia merasa agak ketakutan.

Kendati gemetar, Carolyn mendekati pintu dan membukanya. Seorang pria mendekati Carolyn lantaran ia berdiri di pintu masuk dan menanyakan imam masjid.

Ia diberitahu bahwa imam tidak ada di tempat, tapi ia meyakinkan bahwa mereka akan menghubunginya setelah imam datang. Carolyn menuliskan nomor dan bergegas keluar. Jujur, ia tidak yakin akan ditelepon.

Sebelum pergi, orang yang berbicara padanya sempat memperkenalkan nama sang imam. Abdul Lateef, namanya. Sejak keluar dari masjid itu, Carolyn harap-harap cemas, antara ingin ditelepon dan takut ditelepon. Kurang dari dua jam kemudian, ia tidak bisa percaya bahwa Imam Abdul Lateef benar-benar menelepon.

Ketakutannya segera terhapus mendengar suara di ujung telepon. Imam Abdul Lateef mengundangnya untuk datang dan bertemu dengan dia malam itu.

Carolyn kembali datang ke masjid. Ia segera mengulurkan tangan untuk menjabat tangan sang imam dan memperkenalkan diri. Tapi, dengan cepat imam itu menolak uluran tangannya, meminta maaf, sambil menjelaskan alasan.

“Saya ingat dengan jelas. Saya kira itu benar-benar hal pertama yang membuat saya terkesan,” kenang Carolyn. Kendati, ia merasa malu. Sampai-sampai, ia ingin marah pada bosnya lantaran tidak memberi tahu ada aturan itu sebelumnya.

Imam Abdul Lateef mengajaknya duduk dan menanyakan semua persoalan yang ia alami. Carolyn mulai menjelaskan bahwa ia sedang dalam masa pencarian. Ia sudah menjelajahi kekristenan dan mengungkapkan argumen mengapa ia gagal menemukan kebenaran dalam ajaran Kristen.

Imam Abdul Lateef tak banyak berkomentar. Ia membiarkan Carolyn mencurahkan segenap kerisauannya. Setelah usai, barulah Imam Abdul Lateef menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan runtut. Apa yang menjadi kegelisahan Carolyn selama ini mulai menemukan jawaban.

Saat ia perhatikan, apa yang dikatakan Imam tampaknya benar. Tak kurang dari dua jam, Carolyn terus membombardir Imam dengan berbagai pertanyaan. Ia ingin benar-benar meyakinkan diri atas pilihannya.

Ketika ia merasa cukup dan beranjak menuju pintu, Abdul Lateef berkata, “Terima kasih sudah mengizinkan saya menjadi bagian dari perjalanan Anda. Saya berharap, ketika Anda meninggalkan tempat ini, Anda tahu apakah Anda Muslim atau non-Muslim.”

Carolyn memikirkan kata-kata itu setiap  malam, selama lebih dari seminggu. Ucapan itu terngiang-ngiang dan membebani otaknya. Tiga hari berlalu, Imam Abdul Lateef kembali menelepon. Ia seolah tahu bahwa Carolyn sedang membutuhkan lebih banyak jawaban. Mereka berbicara panjang lebar hingga satu jam lewat telepon.

Selama beberapa bulan kemudian, Carolyn melahap berbagai literatur yang berkaitan dengan Islam. Ia harus tahu lebih banyak sebelum memutuskan. Agama ini masuk akal, kata Carolyn, tidak ada yang membuat perempuan itu meragukan kebenaran Islam.

Muslim juga tidak mengerikan, sebagaimana anggapan masyarakat. Bahkan, dalam beberapa hal, mereka lebih baik daripada orang-orang Amerika. Kendati, ada Muslim yang pernah melakukan aksi-aksi teroris seperti yang diklaim Barat dan Amerika, Alquran tidak mengajarkan itu.

“Bagaimana saya menjelaskannya? Tidak ada yang mengerti. Mayoritas di lingkungan saya mengatakan, Islam tidak sesuai dengan identitas kami,” kata Carolyn, yang berkulit putih dan asli Amerika.

Seandainya ia cocok dengan kekristenan, barangkali tidak masalah. Pasalnya, Carolyn merasa tidak cocok. Ia tidak bisa menolak takdir dan iman dia. Hati dan pikirannya terbuka untuk Islam, tapi ia masih belum memutuskan tekad. Ia membuat seribu satu alasan mengapa ia tak bisa. Termasuk, Ramadhan. Ia takut akan kewajiban puasa itu.

Carolyn ingat dengan jelas apa yang dikatakan Imam Abdul Lateef ketika ia mengungkapkan kekhawatirannya.

“Saudariku, Ramadhan seharusnya tidak menakut-nakutimu. Saya jamin, Anda akan bersyahadat sebelum Ramadhan berakhir,” kata dia.

Tebakan Imam Abdul Lateef benar! Dua minggu selepas Ramadhan, Carolyn Erazo bersyahadat.

Ia begitu gugup saat memasuki masjid untuk bersyahadat. Perasaannya tidak terlukiskan. Malam itu juga, ia menelepon Abdul Lateef. Imam itu hanya tertawa kecil. Ia percaya Carolyn tinggal menunggu momentum.

Kebahagiaan Carolyn menuai masalah saat orang-orang di lingkungan sekitarnya mengetahui keislaman perempuan itu. Ia mendapat banyak penentangan. Setiap ejekan seolah sengaja dilontarkan untuk membuat dia marah. Sepanjang waktu, Carolyn mencoba bertahan.

Juni 2015 ini, tepat tiga tahun Carolyn masuk Islam. Perempuan itu mengakui, seseorang tidak mungkin bisa hidup tanpa keyakinan dan iman. Ia mulai aktif di berbagai forum mualaf.

“Saya akan terus belajar memberikan respon-respon cerdas terhadap semua sentimen anti-Muslim yang dilemparkan pada saya,” ucapnya yakin.

 

 

sumber: Republika Online

Liana Jadi Mualaf karena Kagum dengan Sains dalam Alquran

Liana Yasmin (26) sudah dua tahun memeluk Islam. Perjalanannya panjang. Berawal saat masih duduk di bangku SMP, Liana sering ditinggalkan teman-teman sekelasnya untuk ke masjid, membuatnya bertanya-tanya tentang Islam.

“Saya dulu sekolah di sekolah umum. Kebetulan sekolah saya pas berdampingan dengan masjid. Pas kelas 2 SMP, saya masuk siang. Tapi setelah sampai di kelas, kok teman-teman saya nggak ada. Ternyata mereka salat di masjid,” ujar Liana.

Hal ini disampaikan Liana saat ditemui detikcom di sebuah restoran di kawasan Condongcatur, Sleman, Sabtu (27/6/2015).

Hingga suatu saat Liana memberanikan diri untuk ikut ke masjid. Dia bertanya kepada salah seorang temannya, apakah boleh dia ikut masuk ke masjid. Akhirnya dia duduk di serambi masjid sambil mengamati teman-temannya beribadah.

“Saya lihat mereka wudu, lalu salat. Saya bertanya (kepada temannya), kenapa sih kalau mau salat harus dibasahi semuanya? Kemudian dijelaskan mereka sedang bersuci,” kisahnya.

Berbagai pertanyaan soal Islam terus tertanam di pikirannya hingga kelas 1 SMA. Sampai pada suatu saat seorang temannya mengatakan kepadanya, bahwa semua agama itu sama saja, mengajarkan kebaikan.

“Saya jadi berpikir apakah saat ini banyak yang seperti teman saya itu. Padahal seharusnya mereka menjelaskan dan menjawab pertanyaan saya tentang Islam, menyebarkan kebaikan dan kebenaran Islam,” ulasnya.

Setelah mendapat jawaban itu, Liana kemudian mencoba fokus beribadah sesuai dengan agamanya saat itu. Dia menyibukkan diri dengan kegiatan keagamaannya.

“Tapi saya tetap merasa ada yang kurang. Teman saya banyak, saya sibuk, tapi di hati ini masih ada yang kurang,” tutur Liana.

Liana seperti sudah jatuh hati pada Islam, tapi dia masih belum tahu banyak tentangnya. Setelah dia bekerja sebagai tenaga marketing di sebuah perusahaan asing, Liana memiliki relatif banyak waktu luang untuk mencari tahu soal Islam.

Melalui internet, dia banyak membaca berita-berita soal mualaf. Tak hanya itu, dia membaca banyaknya ilmu-ilmu alam yang ternyata sudah tertulis di dalam Alquran.

Dia juga menyadari keajaiban Alquran, kitab yang telah ada sejak ribuan tahun yang lalu ini tetap relevan bagi kehidupan manusia hingga saat ini.

“Mulai tahun 2011, saya membandingkan kitab saya begini, Alquran begini. Dan saya sadar isi Alquran jauh lebih lengkap dan rasional,” ujarnya.

Hingga akhirnya dia mengenal seorang pria muslim bernama Amru yang menjelaskan isi Alquran kepadanya. Keduanya berkomunikasi melalui email.

Pada tahun 2013, Liana mantap mengucapkan syahadat dan memeluk Islam. Dia bersyahadat di rumahnya di Tangerang.

“Ayah saya kaget. Tapi Alhamdulillah beliau mengizinkan dan menjadi saksi saya saat bersyahadat,” tuturnya sambil tersenyum.

 

sumber: Detik.com

 

Farlin: Saya Ingin Memeluk Islam

Alhamdulillah telah bersyahadat Farlin Seftian, mantan penginjil bersama pembina mualaf Romadi To’ dan ustaz Darmawan sore ini. Keputusannya menjadi Muslim dikarenakan tidak ada satu ayat dalam Alkitab yang menyebut Yesus adalah Tuhan.

“Saudara kita yang baru ini mantan Kristen Protestan dari kecil dididik tentang Kekristenan. Tapi bukan oleh orang tuanya melainkan oleh keluarga angkat, mama tiri, dan para tetangganya yang mayoritas non-Muslim. Ia sempat bingung walau dari kecil memegang teguh tentang kristen tapi orang tua kandung memintanya memeluk Islam,” demikian keterangan Mualaf Center Indonesia (MCI), Senin (22/6).

“Dia tak pernah mau..sebab walau mama dan papa kandungnya Muslim sekalipun tak pernah melihat mereka shalat ataupun puasa Ramadhan,” kata MCI.

Pada tanggal 2009, Farlin melanjutkan studi pendalaman Alkitab tahun 2012 melakukan katekisasi singkat selama 3 bulan di surabaya. Tahun 2013, ia pindah ke Jakarta melanjutkan bekerja. “Hingga pada akhirnya mata hatinya mulai terbuka, dari bible yang dibaca tak satupun ayat yang mengatakan Yesus itu Tuhan,” kata MCI yang mendengarkan penjelasan Farlin.

“Dalam Bible Yesus hanya mengaku bahwa dia adalah Hamba yang diutus oleh Allah. Tolong saya. Saya ingin memeluk Agama Islam demikian pesan singkatnya kepada kami,” kata Farlin kepada MCI.

“Alhamdulillah sudah bersyahadat tadi sore.. Selamat menunaikan ibadah puasa pertama dan taraweh pertama,” pesan MCI kepada Farlin.

 

sumber:Republika Online

Ustaz Arifin Ilham Bimbing Dua Mualaf Bersyahadat

Alhamdullillah, bersyahadat dua mualaf Michel dan Richel Rivani. Prosesi syahadat dipimpin oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham di Masjid Az-Zikra, Sentul, Jawa Barat, Ahad (7/6).

“Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar gemuruh takbir ribuan jamaah mesjid Az Zikra menyambut rasa syukur gembira atas masuk Islamnya dua sahabat kita, saudara Michel dengan nama Islam Muhammad Ismail Ilham, dan Richel Rivani dengan nama Islam Siti Rohima Hajar,” kata Ustaz Arifin Ilham dalam akun facebook, Senin (8/6).

“Alhamdulillah kini bertambah lagi saudara muallaf kita, 608 muallaf, insya Allah terus dan terus Allah gembirakan kita dengan banyaknya mualaf. Allahumma ya Allah tancapkan dihati kami kekuatan iman, hiasilah hidup kami dengan keindahan Islam, dan selamat kami dari fitnah dunia akhirat…aamiin,” ucapnya.

Cerita Mualaf Filipina Pertama Kali Puasa

Ninamhel Marquez (28 tahun) adalah seorang wanita asal Filipina yang menikah dengan seorang pria asal Uni Emirat Arab (UEA). Dia dibesarkan sebagai seorang Kristen dan baru menjadi  Mualaf – agama suaminya – pada November 2014.

Tahun ini merupakan pertama kalinya Ninamhel melaksanakan puasa. Awalnya, dia khawatir bagaimana bisa menahan lapar dan haus di siang hari. Alhamdulillah, Ninamhel mengaku sepekan pertama puasanya berlangsung lancar.

“Aku lumayan khawatir sebelumnya, apalagi suasana hatiku sering berubah ketika perut kosong. Alhamdulillah, ketika berpuasa, rasa itu tidak ada sebab aku mencoba melakukannya seperti yang diperintahkan Allah. Allah pasti membantu dan mempermudah kita melakukannya,” kata Ninamhel, dilansir dari the National, Rabu (24/6).

Ninamhel menyadari bahwa Allah memerintahkan Muslim berpuasa supaya ikut merasakan penderitaan orang miskin yang tetap bertahan hidup berhari-hari tanpa makanan. Puasa juga mengajarkan seseorang bagaimana mengendalikan emosi, saling membantu sesama, hingga akhirnya mendapatkan berkah dari Allah.

Wanita cantik ini merasa memeluk Islam membuatnya merasa seperti bayi yang baru saja lahir. Setelah berpuasa selama beberapa hari ini, Ninamhel merasa tubuhnya semakin sehat, ringan, dan semakin dekat kepada Allah.

“Setelah aku berdoa dan meminta kepada Allah, mengejutkan, permintaan itu akhirnya dikabulkan cepat atau lambat karena Allah Maha Pemurah. Tidak ada batas kemurahan hati-Nya,” kata Ninamhel.

sumber: Republika Online

Islam Jadi Jawaban Kegelisahan Maryam

JAKARTA — Sebagai orang yang dibesarkan dalam sebuah keluarga Katolik, Maryam Eustathiou merasa agamanya tidak mampu memenuhi apa yang dia harapkan. Kenangannya melayang ke suatu masa, berlatar sebuah gereja di hari Minggu dengan jamaah penuh sesak.

Maryam bertanya pada diri sendiri, “Apakah ini kebenaran sejati? Dapatkan simbol salib besar yang menjadikan orang berlutut dan membungkuk ini arti Tuhan yang sesungguhnya? Bagaimana mungkin imam yang mengenakan semua pakaian mewah itu menjadi esensi kesalehan, kerendahan hati, dan ketundukan pada Ilahi?”

Pada Onislam,net, Maryam bercerita merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Fakta bahwa Yesus nebjadi Tuhan dalam agama Kristen, bukannya sebagai nabi, adalah sesuatu yang tidak dapat ia terima.

Kegelisahan itu terpendam hingga usia 18 tahun, ketika Maryam masuk universitas. Di sanalah ia menemukan cahaya terang yang selama ini ia rindukan. Maryam bertemu dengan banyak orang dari berbagai agama dan latar budaya berbeda.

Perkenalan pertamanya dengan Islam terjalin melalui rekan-rekan Muslim dari berbagai Negara. Arab Saudi, Bahrain, Mesir, Pakistan, Turki, Italia, Inggris, dan lain-lain. Mereka datang pada waktu yang sangat tepat, saat Maryam tengah membutuhkan agama.

Suatu kali di tahun 2001, ia berkunjung ke rumah seorang teman dan melihat sebuah Alquran di antara deretan buku-buku. Alquran itu tertulis dalam bahasa Arab. Maryam tidak mengerti apa-apa. Tapi, temannya dengan tenang menjelaskan satu per satu.

Maryam merasa itu karunia besar. Proses peralihannya ke dalam Islam terjadi secara bertahap sejak itu.

Ia ingat suatu kali, ia pernah bertanya pada diri sendiri, “Apakah aku harus ke gereja hari ini? Mengapa aku harus pergi?” Ia merasa sudah tak percaya lagi dengan Yesus sebagai anak Allah. Maryam tak ingin pergi ke gereja hanya untuk menyenangkan orang tua atau keluarga.

Ia mulai membaca Alquran, mempelajari sirah Nabi, dan belajar shalat. Setelah mendapat banyak informasi tentang Islam, ia pun memutuskan untuk bersyahadat. Itu terjadi kira-kira setahun kemudian.

“Saya seolah datang ke dunia seperti anak yang baru lahir,” kata Maryam. Setelah bertahun-tahun berjalan dalam kegelapan, Allah berkenan memberi secercah cahaya yang membuatnya terbangun. Ia merasa lebih damai sebagai seorang individu.

Orang tuanya baru tahu tentang keislaman Maryam pada Ramadhan 2005. “Saya sengaja mengatakannya saat berada di dekat mereka, bukan saat di universitas. Saya ingin membuktikan saya tidak akan lari meninggalkan mereka,” tambah perempuan itu.

Awalnya, ibunya tidak begitu tenang mendengar kabar itu. Tapi, ayahnya bereaksi sangat baik dan menghargai pandangan Maryam. Ia bahkan bersedia turut membaca buku-buku Islam. Perlahan, ibunya pun menjadi lebih menerima.

Maryam kini telah lulus universitas dengan gelar master dan bekerja di sebuah perusahaan besar.

 

sumber: Republika Online