Hikayat Mimpi

Mimpi disebut orang sebagai kembang ti dur. Tak tam pak secara ma teri, tetapi bisa dirasakan. Dunia medis me nyebut mimpi terjadi pada waktu tidur aktif. Tidur terjadi pada seperempat terakhir siklus tidur manusia. Kondisi ketika mata manusia bergerak cepat (rapid eye movement). Otak manusia pun berada dalam keadaan sa ngat aktif. Dalam kondisi ini, tubuh akan memulihkan dirinya sendiri. Otak akan me-refresh secara otomatis sehingga menjadi segar ketika bangun.

Kembali ke pembahasan me ngenai mimpi, tamu yang datang tanpa diundang ini menjadi ba han perbincangan manusia dari zaman purba hingga kini. Pada zaman Yunani kuno, mimpi di jadi kan sebagai penghubung an tara manusia dan dewa. Mimpi pun menjadi salah satu tanda dari kerasulan. Dari mimpi Nabi Ibra him AA saat mendapat wahyu untuk menyembelih Ismail hing ga kisah Rasulullah SAW.

Salah satu kisah yang diceritakan dalam Alquran adalah cerita Nabi Yusuf AS. Kisah yang disebut dalam QS Yusuf ayat 43- 45 itu menjelaskan tentang bagai mana Nabi Yusuf menakwilkan mimpi raja Mesir. Saat itu, sang raja melihat tujuh ekor sapi be tina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus. Di sisi lain, raja me nyaksikan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lain nya yang kering.

Saat raja meminta pendapat kepada para pembesar negeri, me reka hanya berkata itu adalah mimpi yang kosong. Imam Ibnu Katsir menafsirkan jika para pembesar itu mengungkapkan, mim pi raja hanya ilusi yang terbayang hingga terbawa dalam tidur.

Yusuf pun menakwilkan mim pi tersebut jika sang raja harus bercocok tanam tujuh tahun la ma nya sebagaimana biasa. Mimpi itu ditafsirkan dengan datangnya masa paceklik dan pentingnya per siapan menghadapinya. Mak sud dari perkataan Yusuf tersebut, ujar Ibnu Katsir, kelak akan datang musim subur dan banyak hujan selama tujuh tahun berturut- turut. Sapi ditakwilkan seba gai tahun karena sapi yang dipa kai untuk membajak tanah dan lahan yang digarap untuk menghasilkan buah dan tanaman, yak ni bulir-bulir gandum yang hijau.

Lantas, Yusuf pun memberi arahan kepada mereka apa yang harus dikerjakan dalam tujuh tahun ini. “Maka apa yang kalian panen hendaklah kalian biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk makan kalian.” (QS Yusuf: 47). Maknanya, betapapun hasil yang diperoleh dari panen pada musim subur selama tujuh tahun itu, mereka harus membiarkan hasilnya pada bulir-bulirnya. Dengan demikian, ini bisa disimpan da lam jangka waktu lama sehingga dapat menghindari kebusukan. Untuk gandum yang akan dima kan maka makanlah sekadarnya.

Dengan menyimpan itu, jum lah makanan dapat menutupi ke butuhan selama musim-musim pa ceklik selama tujuh tahun beri kut nya. Sapi-sapi kurus yang me makan sapi-sapi gemuk ditakwil kan sebagai musim paceklik sela ma tujuh tahun berturut-turut itu mengiringi musim-musim subur. Yusuf memang sudah diberi kan petunjuk berupa mimpi sejak kecil. Ketika itu, Nabi Yusuf me nyaksikan 11 bintang, matahari, dan rembulan sujud kepadanya. Sebelas bintang adalah saudarasaudaranya karena Nabi Yusuf merupakan anak ke-12. Matahari dan bulan merupakan lambang kedua orang tuanya.

Nabi Muhammad SAW juga cukup sering meriwayatkan ten tang mimpi. Hadis dari Abu Said al-Khudri, ia mendengar Nabi SAW bersabda, “Jika salah se orang di antara kalian memimpi kan sesuatu yang ia senangi, se be narnya mimpi tersebut ber asal dari Allah. Maka hendaklah ia memuji Allah karenanya dan ceritakanlah. Adapun jika ia ber mimpi sesuatu yang tidak disukai maka itu berasal dari setan. Dan hendaklah ia meminta perlin dung an dari keburukannya, dan jangan menceritakannya kepada orang lain sehingga tidak membahayakannya.” Merujuk kepada hadis di atas, Syekh Muhammad bin Shalih al- Utsaimin menjelaskan, mimpi yang baik berasal dari Allah SWT.

Jika bermimpi sesuatu yang me nyenangkan, hendaknya men ceritakan kepada orang lain. Ha nya, orang yang akan mendegar kan cerita itu hendaknya orang yang disenangi agar ia tidak ditipu. Dalam hadis lainnya yang bersumber dari Abu Hurairah RA, “‘Tiada yang tersisa dari ke na bian selain kabar-kabar gem bira. Para sahabat bertanya, ‘Apa itu kabar-kabar gembira?’ Dia menjawab, ‘Mimpi yang baik.'” Mimpi sebagai bagian dari kenabian ditafsirkan al-Utsaimin, yakni mimpi merupakan bagian dari wahyu meski bukan wahyu sepenuhnya.

Sementara itu, mimpi buruk yang juga disebut dengan al- Hulm berasal dari setan. Mimpi buruk di sini, yakni memperlihatkan sesuatu hal menakutkan kepada seseorang. Contohnya, membunuh ayah sendiri, terbakar api menyala, atau mimpi menyeramkan lainnya. Dalam hadis ini, Rasulullah SAW pun memberikan dua cara untuk mengobati efek negatif mimpi buruk ini.

Pertama, berlindung kepada Allah dari keburukannya. Kedua, tidak menceritakan kepada siapa pun. Nabi SAW dalam hadis lain nya pun mewasiatkan agar kita meludah ke sisi kiri tempat tidur saat bermimpi buruk.

Rasulullah SAW sempat ber mimpi dan menakwilkan makna mimpi itu sendiri. Nabi SAW juga pernah menakwilkan mimpi sa ha bat. Dalam satu hadis, Nabi SAW bersabda, “Ketika tertidur, aku diberi gelas susu lantas aku minum sehingga kulihat sungai keluar dari kuku-kukuku. Kemu dian, sisanya aku berikan kepada Umar. Para sahabat bertanya ba gai mana menakwilkan mimpi ini. Itu adalah ilmu.” Dalam hadis lain nya, disebutkan jika Nabi SAW melihat kesegaran susu itu dari jemarinya. Kelebihannya pun diberikan kepada Umar bin Khattab.

Syekh al-Utsmain menjelaskan, korelasi antara susu dan ilmu, yakni susu merupakan mi numan, makanan, energi sekaligus manisan. Sementara ilmu adalah energi bagi jiwa manusia. Ilmu pun seperti manisan yang lezat. Mengingat seorang yang berilmu merasa tidak ada sesuatu lebih enak dari ilmu. Mimpi lain nya, yakni melihat baju dalam tidurnya. Ketika itu, Nabi SAW meihat manusia berbaju gamis. Ada yang sampai ke dada dan ada yang sampai lebih bawah dari dada. Umar bin Khattab melewati dengan memakai gamis yang ia seret. Saat ditanya para saha bat bagaimana menafsirkannya, Nabi SAW menjawab, “itulah agama!”

Nabi SAW bermimpi melihat Siti Aisyah sebanyak dua kali sebelum menikah. Dalam mimpi nya, ada seorang malaikat meng gen dong Aisyah dalam sebuah kain sutra. “… Maka aku berkata, ‘singkapkan kain ini!’ Lalu malaikat tersebut menyingkapkannya dan ternyata itu engkau. Maka aku katakan, ‘Jikalau ini benar-benar dari Allah maka berlangsunglah!’ Mimpi yang sama pun berulang kembali.

Sahabat Abdullah bin Salam pernah bermimpi seakan berada di taman yang memiliki tiang di bagian tengahnya. Di atas tiang itu terdapat tali. Kemudian, ada yang berkata, “Naiklah.” Abdul lah tidak bisa menaikinya. Lan tas, seorang pelayan mendatangi nya dan mengangkat pakaiannya.

Abdullah pun berpegang erat dengan tali itu. Tiba-tiba, Abdul lah terbangun dalam kondisi ma sih berpegangan di tali itu. Nabi SAW pun menakwilkan mimpi ter sebut “… Taman itu adalah Islam. Tiang itu adalah tiang Islam. Tali itu adalah tali yang kokoh. Engkau akan senantiasa memegang teguh Islam hingga engkau meninggal.”

Melihat Nabi SAW
Salah satu peluang kita me lihat Nabi SAW ada dalam mim pi. Rasulullah SAW mengungkapkan jika dirinya tak bisa diserupai oleh setan. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa melihatku dalam tidur, ia akan melihatku ketika terjaga (karena) se tan tidak bisa menyerupaiku.” Abu Abdillah mengatakan, Ibnu Sirin mengungkapkan, “Maksud nya jika ia melihat rupa beliau.”

Ibnu Sirin menjelaskan, meli hat Nabi SAW dalam mimpi me rupa kan sifat yang umum. Jika kita bermimpi melihat Rasulullah SAW sebelum kenabian atau setelahnya, kemudian kita yakin jika penampakan itu sebagaimana di gambarkan para ulama, itu ada lah Rasulullah SAW, Wallahu alam.

 

REPUBLIKA

Tips Rasulullah dalam Mengatasi Mimpi Buruk

BAGIAN dari kesempurnaan syariat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah mengajarkan semua hal penting dalam kehidupan manusia.

Hanya saja, ada orang yang berusaha memahaminya dan ada yang melupakannya. Seseorang akan bisa merasakan dan meyakini betapa sempurnanya Islam, ketika dia memahami aturan syariat yang demikian luas. Di saat itulah, seorang muslim akan semakin yakin dengan agamanya. Anda bisa buktikan dan mencobanya.

Diantaranya petunjuk tentang mimpi. Meskipun Islam tidak mengajarkan umatnya tentang takwil mimpi yang mereka alami, namun rambu-rambu yang diberikan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sudah sangat memadai untuk menjadi panduan dalam mensikapi mimpi. Tak terkecuali, mimpi buruk.

Ada beberapa hal yang dijelaskan dalam Islam, terkait mimpi buruk.Pertama, mimpi tidak semuanya benar. Sumber mimpi tidak selamanya datang dari Allah. Bisa juga karena bawaan perasaan atau permainan setan.

Disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Mimpi itu ada tiga macam: bisikan hati, ditakuti setan, dan kabar gembira dari Allah.”

Makna Hadis: “Bisikan hati”: terkadang seseorang memikirkan sesuatu ketika sadar. Karena terlalu serius memikirkan, sampai terbawa mimpi.

“Ditakuti setan”: mimpi yang datang dari setan. Bentuknya bisa berupa mimpi basah atau mimpi yang menakutkan.

Jenis mimpi yang ketiga adalah kabar gembira dari Allah. Mimpi ini adalah mimpi yang berisi sesuatu yang baik dan menggembirakan kaum muslimin. (Keterangan Dr. Musthafa Dhib al-Bugha, salah seorang ulama bermazhab Syafii, dalam taliq untuk Shahih Bukhari)

Kedua, mimpi buruk berasal dari setan. Dari jenis mimpi di atas, mimpi buruk termasuk salah satu permainan setan kepada bani Adam. Mereka ingin menakut-nakuti manusia. Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang kita menceritakan mimpi buruk kepada siapa pun.

Dari Jabir radhiallahu anhu, ada seorang Arab badui datang menemui Nabi kemudian bertanya, “Ya rasulullah, aku bermimpi kepalaku dipenggal lalu menggelinding kemudian aku berlari kencang mengejarnya”. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada orang tersebut, “Jangan kau ceritakan kepada orang lain ulah setan yang mempermainkan dirimu di alam mimpi”. Setelah kejadian itu, aku mendengar Nabi menyampaikan dalam salah satu khutbahnya, “Janganlah kalian menceritakan ulah setan yang mempermainkan dirinya dalam alam mimpi” (HR Muslim)

Ketiga, Yang harus dilakukan ketika mimpi buruk. Ada beberapa hal yang diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika seseorang mimpi buruk:

1. Meludah kekiri 3 kali.

2. Memohon perlindungan kepada Allah Taala dari setan 3 kali, dengan membaca

“Audzu billahi minas-syaithanir-rajiim” atau bacaan taawudz lainnya).

3. Memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpi tersebut.

4. Atau sebaiknya dia bangun kemudian melaksanakan Shalat.

5. Mengubah pisisi tidurnya dari posisi semula ia tidur, jika ia ingin melanjutkan tidurnya, walaupun ia harus memutar kesebelah kiri, hal ini sesuai zahir hadis.

6. Tidak boleh menafsir mimpi tersebut baik menafsir sendiri atau dengan meminta bantuan orang lain.

Keterangan tentang hal ini terdapat dalam beberapa hadis berikut :Dari Jabir radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Jika kalian mengalami mimpi yang dibenci (mimpi buruk) hendaklah meludah kesebelah kiri tiga kali, dan memohon perlindungan dari Allah dari godaan setan tiga kali, kemudian mengubah posisi tidurnya dari posisi semula.” (HR. Muslim)

Dalam hadis lain Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Ketika kalian mengalami mimpi buruk, hendaknya meludah ke kiri tiga kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan dan dari dampak buruk mimpi. Kemdian, jangan ceritakan mimpi itu kepada siapapun, maka mimpi itu tidak akan memberikan dampak buruk kepadanya.” (HR. Muslim)

Abu Qatadah (perawi hadis) mengatakan,

“Sesungguhnya saya pernah bermimpi yang saya rasa lebih berat dari pada gunung, setalah aku mendengar hadis ini aku tidak peduli mimpi tersebut.”

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Mimpi itu ada tiga: mimpi yang benar, mimpi bisikan perasaan, dan mimpi ditakut-takuti setan. Barangsiapa bermimpi yang tidak disukainya (mimpi buruk), hendaklah dia melaksanakan shalat.” (HR. at-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani). Allahu alam.[Ustaz Ammi Nur Baits]

 

INILAH MOZAIK

Ketahuilah, Mimpi Tidak Boleh Diceritakan Kepada Orang Lain

Mimpi adalah sesuatu yang terlihat atau di alami manusia pada waktu tidur. Mimpi yang di alami seseorang adakalanya benar atau tidak benar.

Mimpi bukannya hanya di alami manusia awam, akan tetapi para Nabi pun mengalami mimpi. Mimpi yang di alami seseorang ada yang sifatnya menyenangkan adakalanya menakutkan dan menyedihkan.

Misalnya mimpi ketemu orang yang kita sayangi, mimpi ketemu makhluk yang kita takuti dan lain sebagainya. Mimpi orang awam kebanyakan karena campur tangan syaitan.Sedangkan mimpi para Nabi dan Rasul adalah merupakan mimpi petunjuk, pertanda atau wahyu dari Allah swt. Sebagaimana di jelaskan dalam Al-Qur’an, yang artinya,

“(yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS Al-Anfal : 43)

Dalam ajaran agama Islam mimpi yang di alami diwaktu tidur, tidak dibenarkan menceritakannya kepada orang lain. Apakah mimpi yang benar atau mimpi yang tidak benar. Ini penjelasaan dua mimpi tersebut,

1. Mimpi yang baik atau benar.

Ketika seseorang mengalami mimpi yang benar, hendaklah ia memuji Allah dan memohon kepadanya agar merealisasikannya dan jangan menceritakan kepada orang lain kecuali kepada orang yang di cintainya dan mencintainya. Oleh sebab itu ketika, Nabi yusuf bermimpi melihat matahari, bulan, dan sebelas bintang bersujud kepadanya, ia menceritakannya kepada bapaknya.

Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS Yusuf : 5)

Dari Abu Qatadah Ra, mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Mimpi yang benar berasal dari Allah, sedangkan mimpi yang merupakan bunga tidur berasal dari syaitan. Jika diantara kamu bermimpi sesuatu yang disukainya, hendaklah ia tidak menceritakannya kecuali kepada orang yang dicintainya. Tetapi jika ia bermimpi sesuati yang di bencinya, maka hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari keburukannya dan dari keburukan syetan, dan supaya meludah tiga kali serta tidak menceritakannya kepada siapa pun. Sesungguhnya mimpi tersebut tidak akan membahayakan.” (HR Muttafaq ‘alaih)

Berdasarkan firman Allah SWT. dan hadits Rasulullah tersebut, ketika seseorang mengalami mimpi yang benar, hendaknya ia memuji Allah dan memohon kepadanya agar merealisasikannya dan jangan menceritakannya kepada orang lain kecuali kepada orang yang ia cintai dan mencintainya. Menceritakan mimpi yang benar terhadap orang yang dicintai tujuannya supaya ia berbahagia dengan kebahagian tersebutu dan mendoakan agar mendapat kebaikan tersebut. Kita dilarang untuk menceritakan mimpi benar kepada orang yang tidak kita cintai atau menyukai kita. Supaya ia tidak mengganggu arah mimpi tersebut dengan pentakwilan yang berdasarkan hawa nafsu, atau berusaha menghilangkan nikmat Allah SWT. karena dengki kepadanya.

2. Mimpi yang tidak benar.

Mimpi yang tidak benar atau buruk berasal dari syaitan. jika seseorang mengalami mimpi buruk dilarang juga menceritakannya kepada orang lain . Sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda,

“Jika salah seorang kalian melihat mimpi buruk maka hendaklah ia bangkit melaksanakan shalat dan jangan ia ceritakan kepada orang-orang,” (HR Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Abu Usamah, ia berkata, “Aku pernah melihat sebuah mimpi yang membuat aku sakit hingga aku mendengar Qatadah berkata, ‘Aku pernah melihat sebuah mimpi yang membuat aku sakit hingga aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,

“Mimpi baik berasal dari Allah. Jika salah seorang kalian melihat apa yang kalian sukai maka janganlah ia ceritakan mimpi tersebut kecuali kepada orang yang menyukainya saja dan jika ia melihat mimpi yang tidak ia sukai maka hendaklah ia meminta perlindungan kepada Alloh dari kejahatan mimpi tersebut dan dari kejahatan syaitan, kemudian meludah lah tiga kali dan jangan ia ceritakan kepada siapapun, sebab mimpi itu tidak akan mendatangkan kemudharatan,” (HR Bukhori dan Muslim).

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a,

“Bahwasanya Rasulullah SAW didatangi seorang Arab Badui dan berkata, ‘Aku bermimpi bahwa kepalaku dipenggal lalu akui mengikuti kepalaku yang menggelinding.’ Kemudian Nabi saw. mencela Arab Badui tersebut dan bersabda, ‘Jangan engkau ceritakan kisah syaitan yang mempermainkanmu disaat engkau tidur,” (HR Muslim).

Berdasarkan hadits Rasulullah SAW di atas, ketika seseorang mengalami mimpi buruk, maka tidak dibolehkan juga menceritakannya kepada orang lain. Sebab ditakutkan orang lain akan mentakwilkan dengan caranya masing-masing sehingga menimbulkan kegelisahan dan rasa takut bagi orang yang mimpi buruk tersebut.

Akan tetapi Rasulullah menganjurkan bagi yang melihat mimpi yang buruk atau tidak ia sukai, hendaklah ia melaksanakan apa yang tercantum dalam sunnah untuk mengusir was-was dan menolak tipu daya syaitan. Yaitu: melaksanakan shalat, memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan mimpi dan kejahatan syaitan, meludah ke sebelah kiri sebanyak tiga kali dan mengubah posisi tidur dari posisi semula.

 

BACAAN MADANI

Takwil Mimpi Buruk

Assalamu’alaikum

Mas, bisa tafsir mimpi? Aku to mimpi aneh. Aku mimpi terbang. Kecepatannya tinggi. Pas terbang aku takut trus ndremimil baca solawat. Gitu trus sampe bangun. Kemarin2 pernah mimpi serem banget trus aku baca solawat trus2an. Tafsirnya apa ya mas?

Ust. Wahyudi Abdurrahim

Waalaikum salam

Itu mimpi buruk. Tidak ada takwilnya. Mimpi buruk umumnya dari jin yang iseng mengganggu orang tidur. Jika Anda mimpi buruk, ada beberapa hal yang harus dilakukan.

  1. Meludah kekiri 3 kali.
  2. Membaca taawudz sebagai permohonan perlindungan dari Allah saw atas gangguan setan sebanyak 3 kali. Bacaan ta’awudz sebagai berikut:

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

  1. Mengubah posisi tidur.
  2. Tidak menceritakan mimpi buruk kepada orang lain.

Terkait dalil etika mimpi buruk, sebagai berikut:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِىٌّ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُ فِى الْمَنَامِ كَأَنَّ رَأْسِى ضُرِبَ فَتَدَحْرَجَ فَاشْتَدَدْتُ عَلَى أَثَرِهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِلأَعْرَابِىِّ « لاَ تُحَدِّثِ النَّاسَ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِكَ فِى مَنَامِكَ ». وَقَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- بَعْدُ يَخْطُبُ فَقَالَ « لاَ يُحَدِّثَنَّ أَحَدُكُمْ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِهِ فِى مَنَامِهِ .

Artinya: Dari Jabir ra, ada seorang Arab badui datang menemui Nabi kemudian bertanya, “Ya Rasulullah, aku bermimpi kepalaku dipenggal lalu menggelinding kemudian aku berlari kencang mengejarnya”. Nabi saw bersabda kepada, “Jangan kau ceritakan kepada orang lain ulah setan yang mempermainkan dirimu di alam mimpi”. Setelah kejadian itu, aku mendengar Nabi menyampaikan dalam salah satu khutbahnya, “Janganlah kalian menceritakan ulah setan yang mempermainkan dirinya dalam alam mimpi” (HR Muslim)
Rasulullah saw juga bersabda:
إذا رأى أحدكم الرؤيا يكرهها، فليبصق عن يساره ثلاثا وليستعذ بالله من الشيطان ثلاثا، وليتحول عن جنبه الذي كان عليه

“Jika kalian mengalami mimpi yang dibenci (mimpi buruk) hendaklah meludah kesebelah kiri tiga kali, dan memohon perlindungan dari Allah dari godaan setan tiga kali, kemudian mengubah posisi tidurnya dari posisi semula.” (HR. Muslim)

 

وإن رأى ما يكره فليتفل عن يساره ثلاثا وليتعوذ بالله من شر الشيطان وشرها، ولا يحدث بها أحدا فإنها لن تضره

Ketika kalian mengalami mimpi buruk, hendaknya meludah ke kiri tiga kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan dan dari dampak buruk mimpi. Kemdian, jangan ceritakan mimpi itu kepada siapapun, maka mimpi itu tidak akan memberikan dampak buruk kepadanya.” (HR. Muslim). Wallahu a’lam

 

sumber: Sang Pecerah

 

———————————————————————————————
Umrah resmi, Hemat, Bergaransi
(no MLM, no Money Game, no Waiting 1-2 years)
Kunjungi www.umrohumat.com
atau hubungi handphone/WA 08119303297