John Webster Jadi Mualaf Setelah Melihat Masjid

Mohammad John Webster dibesarkan dalam keluarga Protestan. Di usia remajanya, ia memiliki banyak pertanyaan soal kepercayaan yang dianutnya.

“Yang menjadi pertanyaan saya, di Inggris, banyak kemiskinan dan ketidakpuasan sosial. Agama saya seperti tidak berusaha untuk menyelesaikannya,” kenang dia seperti dikutip Arabnews.com, Senin (8/4).

Sejak itu, Webster muda tidak lagi menerima Protestan dan beralih menjadi penganut komunis. Baginya, komunisme menciptakan kepuasan tersendiri. Tapi itu tidak berlangsung lama. Selanjutnya, ia beralih pada filsafat dan agama.

“Dari apa yang saya alami ini mendorong saya mengidentifikasi diri dengan apa yang disebut panteisme,” katanya.

Webster mengakui peradaban Barat membuat masyarakatnya begitu asing dengan Islam. Ini terjadi karena sejak Perang Salib berakhir, banyak hal yang menyimpang terkait informasi tentang Islam dan Muslim.

Satu fase baru dalam kehidupannya dimulai ketika ia menetap di Australia. Di sana, ia membaca Alquran di sebuah perpustakaan umum di Sydney. Saat itu, kefanatikan Webster terhadap Islam coba ia tutupi. Padahal, ia sangat antusias untuk mengkaji lebih dalam terkait isi Alquran. Satu hari, ia temukan salinan Alquran terjemahan Inggris.

Pada satu surat, ia temukan satu hal tentang kehidupan Rasulullah. Ia habiskan berjam-jam untuk menemukan apa yang diinginkannya. Ketika keluar dari perpustakaan, Webster merasakan kelelahan. Kebimbangan muncul dalam pemikirannya.

Hal itu coba ia tangguhkan dengan berjalan menyusuri keramaian. Langkahnya terhenti ketika ia melihat tulisan yang menyebut ‘Masjid’. Hatinya bergetar seketika. Wajahnya segera memucat.

“Inilah kebenaran.Spontan Webster mengucapkan syahadat. Tiada Tuhan selain Allah, Muhamamd adalah utusan Allah. Alhamdulillah, aku menjadi seorang Muslim,” kata dia yang kini menjabat Presiden The English Muslim Mission.

 

 

sumber: Republika Online

Cerita Mualaf Rusia Terpikat Cara Hidup Islam

Pertumbuhan mualaf etnis Rusia kian pesat sejak dekade 2000-an. Mereka berasal dari berbagai lapisan masyarakat.

Dilansir Opendemocracy.net, seorang pendeta Ortodoks yang masuk Islam, Ali Vyacheslav Polosin mengatakan, sekarang ada lebih dari 10 ribu Muslim etnis Rusia di negara itu. Tak melulu soal teologi, sebagian mualaf jatuh hati lantaran cara Islam menyadarkan mereka akan arti hidup.

Alexei Abdulla Terekhov, misalnya. Ia masuk Islam 10 tahun yang lalu. Awalnya, dia benar-benar tertekan. Dia merasa hidupnya sangat pahit dan getir. Abdulla sudah berusia 40 tahun, namun dia tidak pernah melakukan sesuatu yang serius. Dia tidak punya keluarga, tidak ada pekerjaan, juga tidak ada tempat tinggal tetap. Segala sesuatunya benar-benar buruk.

Hal itu membuat Abdulla gelisah. Dia mulai berhenti merokok dan kebiasaan buruk lain. Kemudian, pada satu kesempatan dia membaca Alquran, terjemahan Krachkovsky. Abdulla melihat banyak surat-surat itu diakhiri dengan kata “Semoga kamu bahagia” atau May you be happy. Lelaki itu pun merasa tentram.

Dia pun tertarik pergi ke masjid. Ketika pertama kali datang, Abdulla kaget. Dia melihat semua orang memiliki jenggot. Mereka tidak terlihat seperti orang Rusia. “Saya takut. Tapi, saya tetap tinggal. Saya merasa kesepian di rumah. Di rumah, saya tertekan.”

 

Kasus Abdulla berbeda dari banyak orang. Sebelum masuk Islam, Abdulla beragama Kristen. Dia tidak mencari kebenaran selama bertahun-tahun. “Saya datang, saya menyukainya, dan saya merasa lebih baik. Saya pun mengikutinya,” ucapnya. Seseorang menyarankan lelaki itu memilih nama baru. Dia pun memilih nama Abdulla, hampir sama dengan nama aslinya, Alexei.

Setelah berislam, dia mulai memikirkan hidup lebih serius. Dia mencari pekerjaan dan hidup normal. Lelaki yang kini berusia 50 tahun itu kemudian menikah dengan seorang gadis. Istrinya memeluk Islam setelah pernikahan mereka. Kini mereka telah dikaruniai dua orang anak. Semua anaknya dibesarkan sebagai Muslim.

Mualaf lain adalah Viktor Abdulla, pria 31 tahun yang berprofesi sebagai penjual buku. Dia sudah masuk Islam lebih dari sepuluh tahun lalu. Seperti kebanyakan warga Rusia, semula dia menganut Ortodoks. Viktor juga aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan gereja.

Sekalipun begitu, dia menyimpan kegelisahan. Secara teologis, dia tidak suka konsep Ortodoks tentang trinitas dan ketuhanan Yesus karena ia tidak mengerti. Lelaki itu juga lebih tertarik dengan ajaran asketis. Cara hidup sederhana, zuhud, dan bersahaja, itulah yang dia temukan dalam Islam. Khususnya, dalam tasawuf.

 

Viktor pun merasa lebih dekat dengan Islam. Ia juga membaca buku-buku Ali Vyacheslav Polosin, mantan imam Ortodoks yang masuk Islam. Dia suka buku-buku itu. Pada akhirnya, lelaki itu memutuskan bersyahadat. Ia memilih masuk ke jalan tasawuf.

“Islam, pertama dan terutama, adalah cara hidup. Alquran terlibat aktif dalam kehidupan seorang Muslim, baik menyangkut pengembangan pribadi maupun interaksi dengan orang lain,” kata pria asli Rusia itu.

Tidak semua bisa menerima konversi Viktor. Keislamannya merupakan pukulan berat bagi teman-teman lamanya yang kebanyakan aktivis gereja. Tapi, keluarga menerima dengan mudah. Mereka mengerti. Istrinya yang juga etnis asli Rusia kemudian ikut berislam. Anak-anaknya, Madina dan Mikael, terlahir sebagai Muslim. Saat ini, Viktor tengah menanti kelahiran anak ketiganya.

 

sumber: Republika Online

17 Alasan Ita Meigavitri Memilih Islam

Mulanya, tak pernah tebersit sedikit pun keinginan di benak pemilik nama lengkap Ita Meigavitri ini untuk memeluk Islam. Bahkan, perempuan berdarah Tionghoa yang akrab disapa Ita ini mengaku benci luar biasa dengan orang Islam. “Saya benci sekali. Yang terdoktrin dalam otak saya, Islam itu agama yang senang ribut dan ribet,” kata dia.

Latar belakang perempuan asal Kutoarjo ini semakin mengkristalkan kebenciannya terhadap risalah Muhammad SAW ini. Sulung dari enam bersaudara ini adalah orang pertama dari keluarga besarnya yang masuk Katolik. Orang tuanya semula menganut Konghucu.

Berikut cerita Ita dalam memperoleh hidayah Islam:

Mencari Kesalahan Alquran

Ita memeluk Katolik lantaran sejak TK-SMA bersekolah di lembaga pendidikan Katolik. Setelah Ita dibaptis, barulah ayah ibu dan adik-adiknya mengikuti jejak masuk Katolik. “Saya tidak sekadar duduk sebagai umat, tapi menjadi bagian dari tim sukses gereja,” ungkap Ita. Dia aktif menjadi putra-putri altar di gereja.

Seolah takdir Allah SWT menuntun, selepas kuliah dia bekerja di lingkungan Muslim. Alumnus S-2 Universitas Tarumanegara itu berprofesi sebagai advokat. Ita mengaku, dia berambisi ‘mengkristenkan’ teman kerjanya. Identitas kekristenan dengan bangga dia perlihatkan. “Saya selalu membuat tanda salib. Tanda salib itu simbol kemenangan bagi umat Katolik,” tutur dia.

Tindakan itu membuat risih teman Muslimnya. Mereka pun berbalik menyerang agama Katolik yang dianut Ita. Dia tak terima. Ia mengajukan pembelaan. “Heh, yang salah itu agamamu. Islam itu agama paling tidak rasional,” sahut Ita.

Merasa jengkel, perempuan itu pun pergi ke toko buku mencari Alquran. Dia beli Alquran cetakan paling besar. Ita mengira itu edisi yang paling lengkap. Sampai di rumah, dia membukanya dan terheran. Tulisan macam apa ini. Dia tidak dapat membaca! Ita sempat marah, tapi segeralah dia kembali ke toko buku. Dia tukar dengan Alquran tafsir terjemahan.

Ambisinya hanya satu, yaitu mencari kesalahan Alquran dan menunjukkannya kepada kolega Muslimnya. Namun, Allah Maha Membalikkan hati seorang hamba. Perempuan itu malah jatuh hati. Dia merasa tidak ada satu pun kalimat yang salah atau kontradiktif dalam Alquran. Seketika, dia tergelitik kembali mendalami Injil yang selama 33 tahun belum pernah ia kaji serius.

Giliran membuka Alkitab, Ita kaget luar biasa. Dia terantuk pada satu ayat dalam Imamat 11. Ayat itu menyebutkan, haram bagimu makan babi dan binatang berkuku belah lain. Bahkan, bangkainya pun jangan kamu sentuh. Ita heran, merasa selama ini umat Katolik sah-sah saja makan daging anjing dan babi. Setelah itu, Ita makin bernafsu membuka Alkitab.

Singkatnya, ia menemukan 17 alasan masuk Islam. Menurut dia, Yesus pun mengajarkan dua kalimat syahadat. Yesus tidak pernah menyebut dirinya Tuhan dan menyuruh manusia menyembah hanya kepada Allah. Sama seperti Alquran, Alkitab mengajarkan khitan, berwudhu, mandi junub, berjilbab, shalat menghadap ke kiblat, hukum qisas, dan larangan membungakan uang. “Bukan Alkitab yang salah, tapi penerapannya yang tidak pas,” kata Ita.

 

Jadi Santri

Ita lalu mencari seorang kiai. Dia belajar di salah satu pondok pesantren di Yogyakarta tentang perbandingan agama dan kristologi. Dari situ, dia semakin mantap. Islam adalah agama yang paling baik dan benar. “Semua agama baik, saya setuju. Tapi, maaf, saya tidak setuju dengan dalil yang mengatakan semua agama benar. Karena bagi saya, agama yang benar hanya Islam,” tegas perempuan itu.

Tepat 20 Desember 2008, Ita berikrar syahadat di Masjid Istiqlal, Jakarta. Tanggal 20 sengaja dia pilih karena takut diajak Natalan ke gereja. Dari Yogyakarta, Ita pergi dengan alasan bertemu klien di Ibu Kota. “Ketika saya mengucap dua kalimat syahadat, saya merasa ada sesuatu yang sejuk sekali masuk ke lubuk hati saya.” Dia tersungkur. Ita yang mulanya sesumbar tidak akan menangis, nyatanya tak kuat menahan deraian air mata.

Selama 15 menit, Ita menangis di depan petugas takmir Istiqlal. Ita teringat dosa-dosanya dulu. Dia ingin bertobat. “Berapa orang sudah saya masukkan ke dalam gereja. Saya menyesal sekali. Sejak itu saya bernazar, hidup atau mati, saya akan terus menyampaikan Islam,” janji dia.

 

Menikmati Risiko Menjadi Muslim

Pilihan itu bukan tanpa risiko. Tidak ada Muslim di tengah keluarga besar Ita. Ia harus menghadapi seorang diri. Setiap azan berkumandang, dia masuk dan mengunci kamar. Sebagai mualaf, dia hanya shalat bermodalkan hafalan syahadat dan al-Fatihah. Bacaan lain belum ada yang dia hafal. Tapi, Ita tetap berusaha istiqamah.

Tak dinyana, kegiatan ini diamati oleh sang suami. Suaminya heran. Suatu petang, ketika Ita masuk Islam, lelaki itu mengambil kursi dan mengintip lewat jendela. Dia lihat istrinya sedang shalat. “Oalah Ma, gemblung!” seru suaminya.

Mendengar makian sang suami, hati perempuan itu sudah tidak keruan. Keluar dari kamar, Ita langsung disuruh duduk dan disidang. Tiga anaknya ikut dipanggil. Mereka diultimatum supaya tidak ikut-ikutan ‘kegilaan’ ibunya.

“Suami saya bilang, katamu dulu orang Islam bodoh. Mengapa kamu sekarang ketularan bodoh?” kata Ita menirukan. Kepada lelaki itu, Ita menjelaskan dari segi Alkitab. Shalat, jelas Ita, bukan hanya perintah kepada umat Islam. Yang menyuruh dia shalat menghadap kiblat adalah Alkitab. Yang mengajarkan wudhu juga Alkitab. Tapi, lelaki itu tidak bisa terima.

Kabar berislamnya Ita pun akhirnya sampai di keluarga besarnya. Mereka menolak. Keputusannya itu dianggap mempermalukan geraja. Bahkan, ibundanya sempat memanggil rohaniwan dari  Wamena untuk ‘mengembalikan’ Ita. “Saya akan ke gereja lagi kalau Romo bisa menemukan Yesus beragama Katolik di Alkitab,” tantang dia.

Tak terhenti di situ, bahtera rumah tangganya dengan sang suami goyah sejak peristiwa itu. Keduanya bercerai. Semua harta dibawa suami.  Bermodalkan uang Rp 600 ribu, perempuan Tionghoa itu mengontrak sebuah rumah. “Nelangsa saat itu. Anak saya kebutuhannya besar karena terbiasa hidup enak,” kenang dia. Tapi, Ita berusaha tegar.

Ia hanya mengadu pada Allah. Alhamdulillah, seiring waktu, ia bisa merajut hidup kembali. Ia telah membeli sebuah rumah dan menikah dengan lelaki Muslim. Nikmat itu kian bertambah setelah ketiga anaknya ikut memeluk Islam.

Kini, Ita aktif menjadi seorang pendakwah. Semangatnya semasa Katolik mewaris dalam nadinya setelah masuk Islam. Perempuan itu aktif mengisi pengajian di berbagai tempat. Walau sering mendapat ancaman saat berdakwah, ia tidak surut.

Ita juga mengaku membina puluhan mualaf di rumahnya. Sebagian adalah orang-orang Katolik, Kristen, dan Tionghoa yang terbuang dari keluarga. Belajar dari pengalaman, Ita mengajak setiap Muslim untuk memerhatikan saudara-saudara sesama Muslim yang ada di sekitarnya.

 

sumber: Republika Online

 

Hanya hari ini, promo T-Drive + Jam Tangan Anak

Satu Keluarga di Yogyakarta Bersyahadat

Satu keluarga di Yogyakarta mengucapkan dua kalimat syahadat. Prosesi syahadat dibimbing Ketua Umum Mualaf Center Indonesia, Steven Indra Wibowo.

Triyono, kepala keluarga tersebut mengaku terlahir dari keluarga besar Kristiani. Selanjutnya, ia dan keluarganya kerap melihat umat Islam shalat menyembah Allah. “Ini yang membuat kami berpikir,” kata dia seperti dikutip dari Mualaf Center Indonesia, Rabu (17/9).

Menurut Triyono, ia dan keluarganya begitu kagum dengan kesadaran umat Islam ketika mendengar seruan adzan segera melangkahkan kaki ke Masjid. “Begitu sejuk di mata kami itulah kesan yg ada, ” kata dia.

Triyono mengungkap, rasa kagum itu kemudian mendorong ia dan keluarganya mempelajari wudhu dan shalat. “Rasa kagum semakin bertambah, apalagi tiada batas pembeda antara umat Islam ketika shalat. Mereka berlomba untuk mendekatkan diri kepada Tuhan mereka,” kata dia.

“Shalat, shalat, dan shalat. Itulah yang sering membayangi kami. Kami pun memutuskan menjadi mualaf,” ucap dia yang kemudian bersyahadat dan berganti nama menjadi Muhammad Triyono.

Bersyahadat Bisa Kapan Saja dan di Mana Saja

Ketua Mualaf Center Indonesia Steven Indra Wibowo mengungkapkan bahwa para mualaf bisa mengucapkan syahadat kapan saja dan di mana saja.

“Selama tempat itu bersih dari najis, syahadat bisa di mana saja dan kapan saja,” kata dia, Rabu (12/8).

Hidayah dari Allah SWT, ujarnya, memang bisa datang tanpa bisa diduga oleh manusia, dan bisa terjadi pada siapapun, dimanapun dan kapanpun Allah SWT menghendakinya. Maka, seorang manusia juga tidak bisa memperkirakan kapan dan di mana seseorang mendapatkan hidayah, serta memiliki keinginan untuk memeluk Islam.

Hal itulah yang diyakini betul oleh Steven sering membimbing para mualaf di tempat-tempat umum, termasuk tempat-tempat nongkrong. Menurutnya, tidak masalah berada dimana saja, kapan saja, selama tempat tersebut suci dari najis, ia akan mensyahadatkan siapaun yang mendapatkan hidayah.

Pengalaman pahit yang pernah ia alami saat mencoba memualafkan sanak keluarganya, semakin meneguhkan niatnya untuk tetap mensyahadatkan orang di manapun dan kapanpun ia bisa.

Kala itu, orang yang sebenarnya sudah ingin memleuk Islam, harus terlebih dahulu dijemput oleh maut, hanya karena ingin bersyahadat dalam Masjid Istiqlal.

Mulai saat itulah, Indra memutuskan untuk bisa mensyahadatkan orang di manapun dan kapanpun sesegera mungkin, selama tempat untuk bersyahadat tersebut bersih dari najis.

Liana Jadi Mualaf karena Kagum dengan Sains dalam Alquran

Liana Yasmin (26) sudah dua tahun memeluk Islam. Perjalanannya panjang. Berawal saat masih duduk di bangku SMP, Liana sering ditinggalkan teman-teman sekelasnya untuk ke masjid, membuatnya bertanya-tanya tentang Islam.

“Saya dulu sekolah di sekolah umum. Kebetulan sekolah saya pas berdampingan dengan masjid. Pas kelas 2 SMP, saya masuk siang. Tapi setelah sampai di kelas, kok teman-teman saya nggak ada. Ternyata mereka salat di masjid,” ujar Liana.

Hal ini disampaikan Liana saat ditemui detikcom di sebuah restoran di kawasan Condongcatur, Sleman, Sabtu (27/6/2015).

Hingga suatu saat Liana memberanikan diri untuk ikut ke masjid. Dia bertanya kepada salah seorang temannya, apakah boleh dia ikut masuk ke masjid. Akhirnya dia duduk di serambi masjid sambil mengamati teman-temannya beribadah.

“Saya lihat mereka wudu, lalu salat. Saya bertanya (kepada temannya), kenapa sih kalau mau salat harus dibasahi semuanya? Kemudian dijelaskan mereka sedang bersuci,” kisahnya.

Berbagai pertanyaan soal Islam terus tertanam di pikirannya hingga kelas 1 SMA. Sampai pada suatu saat seorang temannya mengatakan kepadanya, bahwa semua agama itu sama saja, mengajarkan kebaikan.

“Saya jadi berpikir apakah saat ini banyak yang seperti teman saya itu. Padahal seharusnya mereka menjelaskan dan menjawab pertanyaan saya tentang Islam, menyebarkan kebaikan dan kebenaran Islam,” ulasnya.

Setelah mendapat jawaban itu, Liana kemudian mencoba fokus beribadah sesuai dengan agamanya saat itu. Dia menyibukkan diri dengan kegiatan keagamaannya.

“Tapi saya tetap merasa ada yang kurang. Teman saya banyak, saya sibuk, tapi di hati ini masih ada yang kurang,” tutur Liana.

Liana seperti sudah jatuh hati pada Islam, tapi dia masih belum tahu banyak tentangnya. Setelah dia bekerja sebagai tenaga marketing di sebuah perusahaan asing, Liana memiliki relatif banyak waktu luang untuk mencari tahu soal Islam.

Melalui internet, dia banyak membaca berita-berita soal mualaf. Tak hanya itu, dia membaca banyaknya ilmu-ilmu alam yang ternyata sudah tertulis di dalam Alquran.

Dia juga menyadari keajaiban Alquran, kitab yang telah ada sejak ribuan tahun yang lalu ini tetap relevan bagi kehidupan manusia hingga saat ini.

“Mulai tahun 2011, saya membandingkan kitab saya begini, Alquran begini. Dan saya sadar isi Alquran jauh lebih lengkap dan rasional,” ujarnya.

Hingga akhirnya dia mengenal seorang pria muslim bernama Amru yang menjelaskan isi Alquran kepadanya. Keduanya berkomunikasi melalui email.

Pada tahun 2013, Liana mantap mengucapkan syahadat dan memeluk Islam. Dia bersyahadat di rumahnya di Tangerang.

“Ayah saya kaget. Tapi Alhamdulillah beliau mengizinkan dan menjadi saksi saya saat bersyahadat,” tuturnya sambil tersenyum.

 

sumber: Detik.com

 

Ini Cara Mualaf Liana Hadapi Mualaf Palsu

Setelah menjadi mualaf dan menikah, Liana Yasmin (26) tinggal di Yogyakarta. Dia bersama suaminya kini aktif di Mualaf Center Indonesia cabang Yogyakarta sebagai pendamping mualaf.

“Setelah 2014 pindah ke Yogya, saya nggak terpikir kehidupan yang sama seperti dulu, sebagai wanita bekerja,” ujar Liana saat berbincang dengan detikcom di sebuah restoran di kawasan Condongcatur, Sleman, Sabtu (27/6/2015).

Hingga suatu saat dia bertemu dengan Sekjen Mualaf Center Indonesia Hanny Kristianto. Di pertemuannya tahun lalu itu, Liana memperoleh tasbih yang menjadi tasbih pertamanya.

“Saya memang belum punya tasbih sendiri, saya simpan sampai sekarang. Warnanya hijau. Lalu saya ditunjuk untuk menjadi pendamping mualaf,” kata Liana.

Namun Liana tak langsung mengiyakan. Dia merasa masih belum memiliki banyak ilmu. Sedangkan sang suami, Amrullya, mengiyakannya.

“Dari situ, saya sama suami berdua mendampingi mualaf di Yogyakarta,” kata Liana.

“Puluhan, mungkin lebih, karena pendampingan itu kan bukan hanya sesudah. Kami mendampingi sebelum syahadat juga,” imbuh perempuan yang menjadi mualaf 2 tahun lalu ini.

Banyak pengalaman yang dialami keduanya selama mendampingi para mualaf dan calon mualaf. Didatangi calon mualaf palsu misalnya.

Sang suami, Amrullya, mengatakan bahwa beberapa kali dia dan teman-temannya berhadapan dengan orang yang hanya mencari keuntungan dengan bermodus ingin masuk Islam.

Namun karena jaringan antar para pembina, pengurus, dan pendamping mualaf begitu kuat, maka upaya penipuan masih bisa dihindari.

“Kita punya grup, sekali foto disebar di grup akan ketahuan semua kan. Tapi kita nggak bisa langsung usir mereka, kita beri pengertian bahwa bukan seperti ini caranya, dan sebisa mungkin kita bantu kalau memang butuh uang,” ujar Amru.

Pihaknya bekerjasama dengan Departemen Agama dan MUI di Yogyakarta. Tak hanya itu, mereka juga bersinergi dengan ormas-ormas Islam.

Liana menjelaskan, Mualaf Center Indonesia di Yogyakarta hingga saat ini belum memiliki sumber dana yang tetap. Semuanya berasal dari donatur.
Dana menjadi penting karena mualaf seperti bayi yang baru lahir. Tak jarang mereka harus melepaskan segala hal yang berhubungan dengan kehidupan sebelumnya termasuk materi.

“Kita membina dan mendampingi. Bukan dalam hal pendanaan. Tapi bagaimanapun, keberadaan dana memang penting. Kita pernah harus mencari tempat tinggal dan membiayai kebutuhan seorang mualaf dan anak-anaknya,” cerita Liana.

 

sumber: Detik.com

 

Perjuangan Mualaf Liana, Sembunyikan Puasa hingga Keluar Kerja

Setelah menjadi mualaf, perjuangan Liana Yasmin (26) belum berakhir. Saat puasa Ramadan pertama kalinya, Liana harus menyembunyikan puasanya dari teman-teman kerja dan memilih untuk keluar dari pekerjaannya.

“Karena saya bekerja di seorang yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan saya sebelumnya, jadi saya memutuskan untuk resign,” ujar Liana saat ditemui detikcom di sebuah restoran di Condongcatur, Sleman, Sabtu (27/6/2015) lalu.

Selama menyiapkan rencana pengunduran diri, Liana harus menyelesaikan tanggung jawabnya di kantor tersebut. Dia juga mencari pengganti untuk posisinya saat itu.

“Saya masih di kantor 2 bulan, pas puasa saya sembunyi-sembunyi. Saya nggak mau terbebani,” imbuhnya.

Namun, Liana mengatakan saat itu dia sempat menjadi bahan pembicaraan teman-temannya sekantor yang merasa ada perbedaan dengan Liana.

“Saya kan selalu bawa mug atau botol untuk ditaruh di meja saya. Kalau pas makan siang saya juga memilih ke mess di dekat kantor,” kata Liana.

Liana juga mengisahkan tentang puasa pertamanya. Menurutnya, saat itu dia mengalami perjuangan dan nikmat yang luar biasa dalam satu hari yang tak terlupakan.

“Saya buka puasa di perjalanan pulang kantor. Dan itu adalah teh ternikmat yang pernah saya minum Seumur hidup saya,” tuturnya sambil tersenyum lebar.

Selain perjuangan, Liana juga mendapatkan berkah jodoh setelah menjadi mualaf. Sebelum menjadi mualaf, Liana sempat bertanya-tanya tentang Islam pada seorang lelaki bernama Amru. Amru juga yang menjelaskan isi Alquran kepadanya. Keduanya berkomunikasi melalui email.

Beberapa saat setelah menjadi mualaf dan mengabarkan kepada Amru, Amru kemudian melamarnya.

“Saat itu kaget. Tapi saya terima (lamarannya). Persiapannya tidak lama, hanya 3 bulan dan kami menikah di Yogya,” kata Liana.

Setelah menikah Liana memutuskan mengenakan jilbab. Sang suami, kata Liana, tak pernah memaksanya mengenakan jilbab.

“Tapi saya merasa nyaman dan aman dengan jilbab saya. Jilbab ini juga menjadi rem. Bukan berarti saya sudah baik, tapi ketika akan berbuat atau berkata tak baik, saya direm oleh jilbab ini,” imbuhnya.

Liana bercerita, hubungannya dengan keluarganya masih terjalin baik. Empat saudara kandungnya kini juga sudah memeluk Islam dengan perjalanan spiritualnya masing-masing.

“Dulu saya ini dikenal galak. Tapi kalau sekarang ayah melihat saya insya Allah lebih baik, menjaga perkataan saya, tidak seperti dulu,” tutur Liana.

 

sumber: Detik.com

Ustaz Arifin Ilham Bimbing Dua Mualaf Bersyahadat

Alhamdullillah, bersyahadat dua mualaf Michel dan Richel Rivani. Prosesi syahadat dipimpin oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham di Masjid Az-Zikra, Sentul, Jawa Barat, Ahad (7/6).

“Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar gemuruh takbir ribuan jamaah mesjid Az Zikra menyambut rasa syukur gembira atas masuk Islamnya dua sahabat kita, saudara Michel dengan nama Islam Muhammad Ismail Ilham, dan Richel Rivani dengan nama Islam Siti Rohima Hajar,” kata Ustaz Arifin Ilham dalam akun facebook, Senin (8/6).

“Alhamdulillah kini bertambah lagi saudara muallaf kita, 608 muallaf, insya Allah terus dan terus Allah gembirakan kita dengan banyaknya mualaf. Allahumma ya Allah tancapkan dihati kami kekuatan iman, hiasilah hidup kami dengan keindahan Islam, dan selamat kami dari fitnah dunia akhirat…aamiin,” ucapnya.

Yulius Patianan Bersyahadat Karena Bawakan Lagu Religi

Cukup panjang usaha Yulius Patianan, mualaf asal Lampung, mencari kebenaran. Upayanya tidak sia-sia, ia temukan kebenaran hakiki pada Islam.

Pemuda yang kini bekerja sebagai seorang wiraswasta ini memutuskan untuk memeluk Islam setelah ia membandingkan tata cara peribadatan seorang Kristiani dengan seorang Muslim. Menurutnya, tata cara peribadatan seorang penganut Kristen sangat berbeda dengan seorang Muslim.

Bila seorang Muslim ketika hendak melakukan shalat, hal utama yang harus dilakukan adalah bersuci dengan mengambil air wudhu, terbebas dari hadas besar dan hadas kecil yang ada pada diri dan pakaiannya, sedangkan seorang penganut Kristen ketika hendak beribadah tidak ada hal demikian.

“Saat saya masih beragama Kristen dulu, saat ingin berangkat ke gereja, saya tidak pernah bersuci, bahkan pernah juga datang dalam keadaan pakaian yang tidak bersih dan terkena najis. Lebih lagi ketika masuk ke gereja, semua kami masuk tanpa melepaskan alas kaki walaupun terkadang tidak jarang alas kaki yang kami kenakan menginjak kotoran ketika berangkat ke gereja.”, ucap Yulius seperti dilansir Pesantren Mualaf Annaba Center, Ahad (21/6).

Yulius mengaku, perbandingan yang ia lakukan tidak datang begitu saja. Berawal ketika ia bersama temannya diminta untuk mengisi sebuah acara Isra’ Mi’raj di sebuah masjid yang ada di sebuah desa ketika ia berada di Lampung.

Yulius yang masih beragama Kristen ketika itu tentu merasa aneh ketika ia diminta untuk memainkan lagi-lagu Islami bersama teman-teman satu bandnya. Namun, karena alasan pekerjaan ia pun kemudian mengamini permintaan yang ditujukan kepada ia dan rekannya itu.

Singkat cerita, melalui hal inilah Yulius terketuk hatinya untuk kemudian berkeinginan membandingkan Islam dengan Kristen. “Saya sudah dua tahun membandingkan antara Islam dengan Kristen dari berbagai hal sejauh yang saya mampu. Selama dua tahun itu pula saya merasakan keraguan yang teramat sangat, hingga akhirnya setahun belakangan ini saya tidak lagi melakukan kebaktian di gereja.”, jelas Yulius.

Akhirnya, setelah sekian lama Yulius melakukan perbandingan, ia pun memutuskan untuk memeluk Islam. Tepat pada dua hari menjelang ramadhan, ia mengucapkan kalimat syahadat di hadapan ustadz Syamsul Arifin Nababan yang dipandu oleh ustadz Dr. Daud Rasyid.

Setelah mengucapkan kalimat syahadat, ia pun mengganti namanya menajadi Abdurrahman sebagai nama yang akan memberikan keberkatan karena artinya adalah hamba yang pengasih, yang menjadi doa bagi dirinya. Ia pun diberi penjelasan mengenai berbagai kewajiban serta larangan yang ada dalam agama Islam, seperti penjelasan mengenai rukun Islam dan larangan melakukan dosa-dosa besar serta lainnya.

Kiai Nababan berpesan kepadanya agar belajar Islam dengan giat, supaya mampu memahami Islam dengan baik. Beliau juga berpesan, pesantren An-Naba Center Indonesia membuka pintu yang selebar-labarnya bagi Yulius agar belajar Islam di pesantren mualaf ini.

“Yulius, kamu harus belajar Islam dengan sungguh-sungguh supaya dapat memahami Islam dengan baik. Kita semua yang hadir di sini juga harus demikian, ketika kita memutuskan untuk menjadikan Islam sebagai satu-satunya agama yang benar, maka kita harus masuk Islam secara kaffah, total.”, ucap kiai.

Kini, di tengah-tengah kesibukannya sebagai seorang wiraswasta, Yulius berupaya semaksimal mungkin mempelajari Islam.

sumber: Republika Online