Kaum Yahudi Berharap Nabi Terakhir Diutus Dari Kalangan Mereka

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Al-Quran telah memberitakan, bahwa masyarakat ahli kitab telah mengetahui akan ada nabi terakhir yang mempimpin dunia dan mengalahkan berbagai macam suku dan golongan yang tidak mengetahui agamanya.

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

Ingatlah ketika Isa Ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan datangnya seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. As-Shaf: 6).

Di ayat lain, Allah berfirman,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ

(yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Al-A’raf: 157).

Mereka juga memahami bahwa nabi terakhir ini akan tinggal di daerah yang memiliki banyak kebun kurma.

Karena alasan inilah, masyarakat yahudi eksodus dari daerah asalnya di Syam, menuju Yatsrib (nama asal kota Madinah), untuk menyambut kehadiran nabi terakhir yang tinggal. Dalam ar-Rahiq al-Makhtum diterangkan tentang asal yahudi di Madinah,

وكانوا في الحقيقة عبرانيين، ولكن بعد الانسحاب إلى الحجاز اصطبغوا بالصبغة العربية في الزى واللغة والحضارة، حتى صارت أسماؤهم وأسماء قبائلهم عربية، وحتى قامت بينهم وبين العرب علاقة الزواج والصهر، إلا أنهم احتفظوا بعصبيتهم الجنسية، ولم يندمجوا في العرب قطعًا، بل كانوا يفتخرون بجنسيتهم الإسرائيلية

“Aslinya mereka adalah ibrani, namun setelah mereka pindah ke daerah Hijaz (wilayah Madinah – Mekah), mereka melebur dengan kultur arab, mulai dari cara berpakaian, bahasa, sampai tradisi dan kebudayaan. Hingga nama mereka dan nama kabilah mereka kearab-araban. Sampai terjadi hubungan pernikahan antara yahudi dengan masyarakat arab. Hanya saja, mereka masih menjaga fanatisme kebangsaan, dan tidak berasimilasi penuh dengan masyarakat arab. Bahkan mereka membanggakan diri mereka sebagai keturunan Israil” (ar-Rahiq al-Makhtum, 139).

Perang Dingin Yahudi & Masyarakat Madinah

Sikap fanatisme masyarakat yahudi di Madinah, mendorong mereka untuk berusaha merebut kota madinah dari tangan penduduk arab. Untuk mewujudkan tujuan ini, mereka berusaha mengadu domba antar-suku masyarakat Madinah, yang ketika itu terdiri dari 2 suku besar: Aus dan Khazraj. Hingga terjadi perang besar antara dua suku ini, yang dikenal dengan perang Bu’ats.

Ancaman Yahudi kepada Penduduk Madinah

Karena telah memiliki taurat, dalam masalah keyakinan, masyarakat yahudi merasa diri mereka lebih berperadaban dibandingkan penduduk arab asli. Abul Aliyah menyebutkan bahwa diantara doa orang yahudi itu,

اللهم ابعث هذا النبي الذي نجده مكتوبًا عندنا حتى نعذب المشركين ونقتلهم

”Ya Allah, utuslah nabi yang telah disebutkan kisahnya dalam taurat ini, sehingga kami bisa menghukum orang-orang musyrik itu, dan membantai mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/326)

Allah ceritakan hal ini dalam al-Quran,

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا

Dan setelah datang kepada mereka Al-Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir” (QS. Al-Baqarah: 89).

Akan tetapi harapan mereka meleset. Para yahudi itu berharap agar nabi terakhir diutus di kalangan mereka, namun ternyata Allah utus dari kalangan orang arab, suku Quraisy. Lebih dari itu, nabi terakhir ini tidak berpihak atas nama fanatisme keturunan Israil. Pupus sudah harapan besar mereka, hingga timbul hasad dan dengki kepada masyarakat arab. Tidak ada pilihan lain bagi mereka, selain kufur terhadap nabi terakhir itu.

Di lanjutan ayat di atas, Allah berfirman,

فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ ( ) بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ

Ketika telah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. La’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya” (QS. Al-Baqarah: 89 – 90).

Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma menceritakan,

أن يَهود كانوا يستفتحون على الأوس والخزرج برسول الله صلى الله عليه وسلم قبل مبعثه. فلما بعثه الله من العرب كفروا به، وجحدوا ما كانوا يقولون فيه. فقال لهم معاذ بن جبل، وبشر بن البراء بن مَعْرُور، أخو بني سلمة: يا معشر يهود، اتقوا الله وأسلموا، فقد كنتم تستفتحون علينا بمحمد صلى الله عليه وسلم ونحن أهل شرك، وتخبروننا بأنه مبعوث، وتصفُونه لنا بصفته

“Sebelum diutusnya nabi, orang yahudi berharap akan mengalahkan kaum Aus dan Khazraj dengan kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Allah mengutus beliau dari suku arab, mereka kufur kepadanya, dan mengingkari ucapan yang dulu pernah mereka sampaikan. Hingga Muadz bin Jabal dan Bisyr bin Barra dari Bani Salamah menyampaikan kepada orang yahudi: “Wahai orang yahudi, bertaqwalah kepada Allah dan masuklah ke dalam islam. Dulu kalian ingin menghabisi kami dengan kehadiran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika kami masih musyrik. Kalian sampaikan kepada kami bahwa beliau akan diutus dan kalian juga menceritakan sifat beliau kepada kami.”

Namun pernyataan dua sahabat ini dibantah oleh yahudi, melalui lidah Salam bin Misykam dari Bani Nadhir,

ما جاءنا بشيء نعرفه، وما هو بالذي كنا نذكر لكم

”Belum datang kepada kami nabi yang kami kenal, sama sekali. Dia (Muhammad) bukanlah orang yang pernah kami ceritakan kepada kalian”

Dengan sebab ini, Allah turunkan surat al-Baqarah ayat 89 dan 90 di atas.

Ahli Kitab Merasa Iri dan Dengki

Pelajaran penting yang juga perlu kita garis bawahi, sebab terbesar orang yahudi itu kufur kepada ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah karena mereka iri dengan kita. Mereka dengki dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Allah sampaikan dalam al-Quran,

فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ ( ) بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ

Ketika telah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. La’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki mengapa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya” (QS. Al-Baqarah: 89 – 90).

Makna: ”Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya” adalah bahwa Allah menurunkan kenabian terakhir kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena desakan sifat ’iri’ itu, mereka wujudkan dalam usaha memurtadkan kaum muslimin. Allah menceritakan,

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat menjadikan kalian kembali kafir setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran” (QS. Al-Baqarah: 109).

Anda bisa perhatikan, mereka iri dengan agama kita. Itu artinya ajaran agama kita jauh lebih sempurna dan lebih baik dari pada agama mereka, dan bahkan tidak bisa dibandingkan, karena ajaran agama mereka telah disimpangkan.
Jika Si A iri kepada si B, mana yang lebih baik? Jelas jawabannya si B lebih baik. Karena jika si A lebih baik dari pada si B, untuk apa dia iri kepada si B.

Yahudi dan Nasrani, iri kepada Islam. Sekali lagi, karena ajaran Islam lebih baik dari pada ajaran mereka. Jika Islam jauh lebih baik dari pada Nasrani dan Yahudi, lantas dengan alasan apa umat islam mengucapkan ’selamat natal’ atau selamat tahun baru, yang itu semua perayaan agama usang yang seharusnya sudah ditinggalkan.

Namun sangat disayangkan, kehadiran generasi ’muslim liberal’ mewakili kelompok kaum muslimin yang rendah diri [bukan rendah hati], merasa hina di depan agama usang dan diselewengkan.

Allahu a’lam

Penulis: Ust. Ammi Nur Baits, ST., BA.

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/22213-kaum-yahudi-berharap-nabi-terakhir-diutus-dari-kalangan-mereka.html

Mengapa Muhammad SAW Harus Menjadi Nabi Terakhir?

Bukanlah sesuatu yang klaim oleh seseorang yang membuktikan dirinya layak atau tidak untuk diberi pengakuan atas kesalehannya. Kenabian adalah jabatan dimana Tuhan menunjuk seorang laki-laki untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Alquran menyebutkan empat kondisi di mana nabi-nabi dikirim ke seluruh dunia.

Keempat kondisi itu adalah: 1. Bila tidak ada nabi yang pernah dikirim ke umat sebelumnya dan tidak ada pesan ilahi yang sampai kepada mereka. 2. Ketika pesan seorang nabi sebelumnya telah dilupakan oleh umat atau ajaran nabi-nabi sebelumnya telah diubah seiring berjalannya waktu.

3. Bila nabi kedua dibutuhkan untuk membantu yang pertama, dan 4. Bila orang belum menerima instruksi lengkap dari Allah SWT.

Dilansir dari Muslimink bahwa dalam masing-masing kasus ini, seorang nabi ditunjuk untuk menyampaikan wahyu ilahi yang memperbarui pesan sebelumnya dan memperbaiki penyimpangan yang telah dilakukan manusia ke dalam agama Allah SWT.

Setelah pesan Allah SWT selesai melalui wahyu kepada Muhammad dan pelestariannya terjamin, sehingga tidak ada kebutuhan lebih lanjut bagi utusan untuk menyampaikan wahyu. Hanya sekedar guru dan pembaru untuk mengingatkan orang tentang apa yang telah Allah wahyukan.

Ketika masa kenabian Muhammad SAW, dunia telah kondusif untuk transmisi pesan Tuhan ke semua peradaban, membuat penunjukan nabi tambahan tidak perlu dilakukan. Firman-firman Allah SWT tidak mengalami perubahan atau diubah oleh manusia. Tidak ada satu kata pun yang ditambahkan atau dihapus dari yang telah disampaikan Nabi Muhammad SAW.

Jika Allah SWT bermaksud mengirim nabi lain setelah Muhammad, maka Dia pasti telah membuat fakta itu jelas di dalam Alquran atau memerintahkan Rasul-Nya untuk menyatakan bahwa seorang nabi akan mengikutinya.

Tapi, Alquran dengan jelas menegaskan bahwa Tuhan telah menyelesaikan misi ilahi-Nya melalui Nabi. Oleh karena itu, ‘kantor kenabian’ telah dibatalkan sehingga memungkinkan dunia untuk bersatu dalam kesetiaan kepada nabi terakhir dan ketaatan kepada Allah  SWT.

Bagi semua orang yang menerima Muhammad sebagai utusan akhir yang diilhamkan secara ilahi hanya akan mencari petunjuk dalam pesan yang dia sampaikan.

 

REPUBLIKA

Mengapa Nabi Terakhir Datang dari Bangsa Arab?

Kita mungkin sering bertanya-tanya, mengapa risalah kenabian Islam terakhir diturunkan tidak di negeri dengan peradaban yang dikenal tinggi seperti Romawi, Persia, Mesir, Yunani, China, atau India.

Risalah kenabian penutup justru diturunkan di sebuah dataran negeri yang belum memiliki track record peradaban yang tinggi dan menakjubkan, Jazirah Arab. Sebuah tanah yang lebih dikenal sebagai negerinya kaum Baduwi yang kurang beradab dan wilayahnya tidak subur.

Namun, Allah menghendaki untuk menurunkan risalah kenabian di jazirah negeri ini. Ia mengutus Muhammad bin Abdullah sebagai pengemban risalah fithriyah ilahiyah. Ia mengutus Muhammad bin Abdullah sebagai rasul-Nya di muka dunia. Ia mengutus Muhammad bin Abdullah untuk menyeru manusia untuk kembali mentauhidkan-Nya dan menyerahkan diri mereka sepenuhnya pada Allah.

Allah memilih Muhammad sebagai rasulullah dari salah satu keluarga Arab di Kota Makkah. Imam Muslim menulis dalam Shahih, bahwa Rasulullah berkata tentang silsilah keturunannya, “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari garis keturunan Ismail, dan memilih Quraisy dari garis keturunan Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari garis keturunan Quraisy, dan memilih saya dari Bani Hasyim.”

Ismail adalah salah satu nabi putera Bapak Para Nabi, Nabi Ibrahim Sang Kekasih Allah. Dari Nabi Ibrahim inilah lahir pula Nabi Ishaq. Dari keturunan Nabi Ishaq, diangkatlah nabi-nabi untuk Bani Israel. Sementara itu dari keturunan Nabi Ismail, tidak ada yang diangkat menjadi rasul hingga pengangkatan Muhammad.

Disebutkan dalam Fikih Sirah karangan Prof. Dr. Zaid Abdul Karim Az Zaid, sejumlah ulama memberikan pemaparan berdasarkan ijtihad mereka tentang sebab-sebab terpilihnya Jazirah Arab sebagai tempat turunnya risalah kenabian yang terakhir. Sebab-sebab ini disimpulkan dari fenomena yang ada pada Jazirah Arab dibandingkan dengan wilayah lainnya.

1.Wilayah Sulit

Jazirah Arab merupakan sebuah wilayah yang sebagian besarnya merupakan gurun pasir panas yang sulit ditaklukkan oleh imperium-imperium besar di sekitarnya. Dua imperiuam besar yang wilayahnya berdekatan dengan Jazirah Arab saat itu adalah Imperium Romawi yang beragama Kristen dan Imperium Persia yang beragama Majusi.

Meskipun Jazirah Arab tidak memiliki satu kekuatan politik pemersatu yang kuat, tapi dua imperium raksasa ini kesulitan untuk menginvasi wilayah Jazirah Arab secara keseluruhan. Bahkan sejatinya Jazirah Arab diisi oleh suku-suku yang suka berperang diantara sesamanya.

2.Agama Persatuan

Berbeda dengan dua imperium raksasa seperti Persia dan Romawi yang disatukan secara politis dan religius dengan agama yang sama, yakni Majusi dan Kristen, Jazirah Arab memiliki agama dan kepercayaan religius yang sangat beragam.

Meskipun kemusyrikan dianut mayoritas penduduk Jazirah, akan tetapi tatacara ibadah dan bentuk kemusyrikan mereka berbeda-beda antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Ada kelompok yang menyembah malaikat, ada kelompok yang menyembah bintang, ada kelompok yang menyembah berhala, dan lain sebagainya. Bahkan bisa jadi antara satu keluarga dengan keluarga yang lain memiliki tuhan yang berbeda dan tatacara ibadah yang berbeda pula.

Sebagian kecil yang lain memandang bahwa agama-agama ini sesat. Sehingga mereka memilih dan menganut agama-agama terdahulu yang ada, misalnya sisa agama Ibrahim, Yahudi, dan Kristen.

3.Sistem Sosial

Jazirah Arab memiliki sistem sosial tertentu dengan tradisi kesukuan tertentu. Misalnya sistem kekeluargaan yang memegang peranan sangat sentral dalam sistem kemasyarakatan saat itu. Apa yang dilakukan Bani Hasyim saat membela dakwah Muhammad bin Abdullah merupakan bukti kekuatan sistem sosial ini. Meskipun sebagian diantara mereka belum atau tidak menerima risalah yang dibawa Rasulullah, akan tetapi mereka memberikan pembelaan terhadap dakwahnya dan mencegah kezhaliman terhadapnya.

Ashabiyah atau fanatisme kesukuan dalam sistem sosial masyarakat Arab sangat dimanfaatkan oleh kaum Muslimin dalam membela aqidah dan menyebarkan dakwah Islam.

4.Fithrah Sosial

Orang-orang yang tinggal di Jazirah Arab umumnya tinggal di wilayah pedesaan yang jauh dari keramaian kehidupan kota. Sehingga pola pikir dan corak pemahaman mereka belum terlalu terkontaminasi oleh masyarakat perkotaan yang lebih individualistis dan materialistis. Mereka merupakan masyarakat yang pemikiran, perspektif, dan persepsi kehidupannya masih murni.

5. Pusat Geografis

Sejumlah pakar geografi dan ulama syariat menyimpulkan bahwa Jazirah Arab secara geografis merupakan wilayah yang terletak di tengah-tengah peta dunia.

Dr. Husain Kamaluddin mengatakan, “Tatkala saya telah meletakkan langkah-langkah awal penulisan ini dan saya menggambar peta dunia, saya mendapatkan bahwa Makkah berada di tengah lingkaran yang menyentuh segala ujung benua, atau dengan bahasa lain, wilayah daratan dari bumi ini terletak di sekitar Makkah dengan letak yang tertata rapi, dan bahwasanya kota Makkah sekarang merupakan pusat orbit bumi daratan..”

Dalam Surat Asy Syura ayat 7, Allah berfirman, “Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya, serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya”

6.Bahasa Arab

Bahasa Arab yang menjadi alat komunikasi lingual tunggal di Jazirah Arab merupakan satu sistem bahasa yang unggul dan luas persebarannya. Berbeda dengan wilayah lain yang bahasanya bermacam-macam dan jumlahnya banyak. Di wilayah India ada 15 bahasa resmi, sementara Indonesia memiliki sekitar 300 bahasa daerah.

7. Sosio Religiusitas Makkah

Kota Makkah memiliki beberapa keutamaan yang tidak dimiliki oleh kota-kota lain di dunia. Di kota Makkah banyak pengunjung yang datang, berziarah ke Kabah yang dibangun Ibrahim dan Ismail, diselenggarakannya haji, kompetensi sastera dan syair, dan dilakukannya perdagangan oleh para sudagar.

Dengan semua keutamaan itu, maka akan mempermudah sampainya berita ke berbagai wilayah di Jazirah Arab melalui para musafir yang datang ke Makkah dan kembali ke asalnya. Kaum Anshar pertama juga masuk Islam saat musim haji.

8. Kesempurnaan Antropologi

Pakar sosiologi Islam terkemuka, Ibnu Khaldun, dalam Muqaddimah, mengatakan, “Penduduk Jazirah Arabia adalah manusia pertengahan berdasarkan segi perawakan tubuh, warna kulit, akhlak, dan agama kepercayaan, hingga mayoritas nabi-nabi yang diutus berasal dari belahan dunia Arab. Kita belum mendengar berita kenabian yang muncul dari belahan selatan atau utara dunia ini, karena nabi dan rasul harus memiliki kesempurnaan dari segi fisik dan moral.”

Dalam Surat Ali Imran ayat 110, Allah berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.”

“Yang demikian itu,” lanjutnya, “Agar mereka umat manusia mudah menerima risalah dakwah para nabi itu, dan penduduk Jazirah Arabia lebih memiliki syarat-syarat yang memudahkan mereka menerima risalah itu.”

9.Penggenapan Nubuwah

Nubuwah tentang terpilihnya seorang lelaki dengan nama Ahmad, dalam Al Kitab, disebutkan dalam Al Quran Surat Ash Shaff ayat 6, “Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata, Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, Ini adalah sihir yang nyata.”

Syaikh Ahmad Deedat, dalam bukunya The Choice, saat menafsirkan ayat dalam Injil yang menjelaskan tentang kedatangan paraclete atau paracletos, merujuk tafsirannya kepada “Sang Penghibur” atau “Sang Pembawa Berita Gembira”, yaitu Muhammad.

Itulah beberapa alasan yang disebutkan para ulama. Bagaimanapun fenomena dan sebab-sebab yang tampak dari alasan terpilihnya Jazirah Arab sebagai tempat turunnya risalah kenabian terakhir, tapi tetap saja Allah lah yang lebih tahu tentang rahasia ini. Penyebabnya tentu saja karena memang tidak ada dalil-dalil atau nash yang secara eksplisit menyebutkan tentang rahasia ini. [ ]

Sumber: Fi madani

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2219949/mengapa-nabi-terakhir-datang-dari-bangsa-arab#sthash.bDGDGIfq.dpuf