Apakah Kita Sudah Menjadi Orang yang Beriman?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah “Kami telah tunduk (Islam),” karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 14)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَتِ الْاَ عْرَا بُ اٰمَنَّا ۗ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰـكِنْ قُوْلُوْۤا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِ يْمَا نُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۚ وَاِ نْ تُطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَا يَلِتْكُمْ مِّنْ اَعْمَا لِكُمْ شَيْئًــا ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah “Kami telah tunduk (Islam),” karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.””(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 14)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, mengingkari orang-orang Arab Badui yang baru saja masuk Islam, lalu mereka mengiklankan dirinya beriman, padahal iman masih belum meresap ke dalam hati mereka.

{قَالَتِ الأعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ}

Orang-orang Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk,’ karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.” (Al-Hujurat: 14)

Dari makna ayat ini dapat disimpulkan bahwa iman itu pengertiannya lebih khusus daripada Islam, seperti yang dikatakan oleh mazhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Pengertian ini diperkuat dengan adanya hadis Jibril ‘alaihissalam ketika ia bertanya (kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam) tentang Islam, kemudian iman, dan terakhir tentang ihsan. Dalam pertanyaannya itu ia memulai dari yang umum, kemudian kepada yang khusus, lalu kepada yang lebih khusus lagi.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَر، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عَامِرُ بْنُ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: أَعْطَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رِجَالًا وَلَمْ يُعْطِ رَجُلًا مِنْهُمْ شَيْئًا، فَقَالَ سَعْدٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَعْطَيْتَ فُلَانًا وَفُلَانًا وَلَمْ تُعط فُلَانًا شَيْئًا، وَهُوَ مُؤْمِنٌ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَوْ مُسْلِمٌ” حَتَّى أَعَادَهَا سَعْدٌ ثَلَاثًا، وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “أَوْ مُسْلِمٌ” ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنِّي لَأُعْطِي رِجَالًا وَأَدَعُ من هو أحب إليّ منهم فلم أعطيه شَيْئًا؛ مَخَافَةَ أَنْ يُكَبُّوا فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ”.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Amir ibnu Sa’d ibnu Waqqas, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memberi bagian kepada banyak laki-laki, tetapi tidak memberi seseorang dari mereka barang sedikit pun. Maka Sa’d ibnu Abu Waqqas Radhiyallahu Anhu bertanya, “Wahai Rasulullah, engkau telah memberi Fulan dan Fulan, tetapi engkau tidak memberi si Fulan barang sedikit pun, padahal dia seorang mukmin?” Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam balik bertanya, “Bukankah dia seorang muslim?” Sa’d mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali, dan selalu dijawab oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan pertanyaan, “Bukankah dia seorang muslim?” Kemudian Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: Sesungguhnya aku benar-benar memberi bagian kepada banyak laki-laki dan aku tinggalkan seseorang yang lebih aku sukai daripada mereka (yang kuberi bagian) tanpa memberinya sesuatu pun, karena aku merasa khawatir bila kelak Allah akan menyeret mereka ke dalam neraka dengan muka di bawah.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini melalui Az-Zuhri dengan sanad yang sama.

Dalam hadis ini Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam membedakan antara orang mukmin dan orang muslim; hal ini menunjukkan bahwa pengertian iman itu lebih khusus daripada Islam. Kami telah menerangkan hal ini berikut dalil-dalilnya dalam syarah Imam Bukhari Kitabul Iman.

Hadis di atas menunjukkan pula bahwa lelaki yang tidak diberi bagian itu adalah seorang muslim, bukan seorang munafik, dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tidak memberinya sesuatu bagian pun karena beliau percaya dengan keislaman dan keimanannya yang telah meresap ke dalam hatinya. Hal ini menunjukkan pula bahwa orang-orang Arab Badui yang disebutkan dalam ayat ini bukan pula orang-orang munafik; mereka adalah orang-orang muslim, tetapi iman masih belum meresap ke dalam hati mereka. Ketika mereka mengakui bahwa dirinya telah mencapai suatu tingkatan yang pada hakikatnya mereka masih belum mencapainya, maka diberi-Nyalah mereka pelajaran etika. Pengertian inilah yang dimaksudkan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, Ibrahim An-Nakha’i, dan Qatadah, lalu dipilih oleh Ibnu Jarir.

Sesungguhnya kami kemukakan pendapat ini untuk menyanggah apa yang telah dikatakan oleh Imam Bukhari rahimahullah yang berpendapat bahwa orang-orang Arab Badui itu adalah orang-orang munafik yang mengaku-aku dirinya beriman, padahal kenyataannya tidaklah demikian.

Telah diriwayatkan dari Sa’id ibnu Jubair, Mujahid, dan Ibnu Zaid, bahwa mereka telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk.’ (Al-Hujurat: 14) Yakni kami tunduk dan patuh karena takut dibunuh atau ditawan.

Mujahid mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang Bani Asad ibnu Khuzaimah.

Qatadah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan suatu kaum yang mengakui dirinya berjasa kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam karena mereka mau beriman.

Tetapi pendapat yang sahih adalah pendapat yang pertama yang mengatakan bahwa mereka adalah suatu kaum yang mendakwakan dirinya menduduki tingkatan iman, padahal iman masih belum meresap ke dalam hati mereka. Maka mereka diberi pelajaran etika dan diberi tahu bahwa sesungguhnya tingkatan iman yang sebenarnya masih belum mereka capai.

Sekiranya mereka itu orang-orang munafik, tentulah mereka dikatakan dengan nada yang keras dan dipermalukan, seperti penuturan perihal orang-orang munafik dalam surat At-Taubah. Dan sesungguhnya hal ini dikatakan kepada mereka hanyalah semata-mata untuk mendidik mereka, yaitu firman-Nya:

{قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ}

Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk, ‘ karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.” (Al-Hujurat: 14)

Yaitu kalian masih belum mencapai hakikat iman, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا }

jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dia tiada mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu. (Al-Hujurat: 14)

Dia tidak akan mengurangi pahala amalanmu barang sedikit pun, semakna dengan apa yang disebutkan dalam firman-Nya:

{وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ}

dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. (Ath-Thur: 21)

Untuk mencapai tingkat keimanan maka kita perlu memahami dan mempelajari serta mengamalkan Dien ini secara sempurna, karena Iman akan bertambah dengan amal dan akan berkurang dengan maksiat.

Wallahu A’alam

ISLAM KAFFAH

Akhir Cerita Orang-Orang yang Beriman

Sebelumnya telah kita sebutkan bahwa akhir cerita manusia bergantung pada bagaimana ia memandang dunia. Bila ia memandang dunia adalah segalanya, maka ia akan mengejarnya dengan menghalalkan segala cara.

Namun apabila ia memandang dunia sebagai tempat transit saja, maka ia akan mengejar dunia sekedarnya saja dan fokus untuk membangun akhiratnya.

Pertanyaan kita hari ini, bagaimana akhir cerita dari orang-orang beriman ?

Mari kita simak ayat-ayat berikut ini :

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan..”

(1) Yakni orang-orang yang memandang dunia hanya sebuah halte tempat pemberhentian saja, sementara akhirat adalah tujuan terakhir yang sebenarnya. Mereka juga meyakini bahwa dunia adalah ladang, sementara akhirat adalah tempat memanennya. Keyakinan ini mendorong mereka untuk menguatkan keimanan dan menabung amal kebaikan sebanyak-banyaknya. Inilah orang-orang yang hatinya telah di bukakan oleh Allah Swt untuk setiap kebaikan.

يَهۡدِيهِمۡ رَبُّهُم بِإِيمَٰنِهِمۡۖ

“..niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya..”

(2). Ketika keimanan tumbuh di akal manusia dan menyatu dalam hati mereka, maka keimanan itu bagai cahaya yang akan menerangi jalan kehidupannya. Cahaya itu akan selalu membimbing untuk melakukan amal kebaikan dan menjauhi segala keburukan.

Lalu bagaimana akhir cerita dari orang-orang beriman ini ? Apa yang akan mereka dapatkan ?

تَجۡرِي مِن تَحۡتِهِمُ ٱلۡأَنۡهَٰرُ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ

“..mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS.Yunus:9)

(3). Mereka yang berbuat kebaikan dan beriman kepada Allah, serta istiqomah di jalan kebenaran, maka tentu akhir cerita hidup mereka adalah Surga.

Dan bagaimana nasib mereka di Surga ?

دَعۡوَىٰهُمۡ فِيهَا سُبۡحَٰنَكَ ٱللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمۡ فِيهَا سَلَٰمٞۚ وَءَاخِرُ دَعۡوَىٰهُمۡ أَنِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

Doa mereka di dalamnya ialah, “Subhanakallahumma” (Mahasuci Engkau, ya Tuhan kami),

dan salam penghormatan mereka ialah, “Salam” (salam sejahtera).

Dan penutup doa mereka ialah, “Al-Hamdu lillahi Rabbil ‘alamin” (segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam) (QS.Yunus:10)

Mereka benar-benar merasakan keagungan Allah Swt di Surga. Semua kenikmatan yang ia lihat di dunia, semuanya terasa sangat kecil di banding apa yang mereka saksikan di akhirat. Maka sekarang waktunya mereka merasakan kenikmatan yang belum pernah di lihat mata, belum pernah di dengar telinga dan belum pernah terpikirkan di benak siapapun juga.

Dan lebih dari itu semua, mereka memperoleh kenikmatan yang terbesar yaitu kerelaan Allah Swt. Seperti yang di sebutkan dalam sebuah ayat :

وَرِضۡوَٰنٌ مِّنَ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ

“Dan keridhaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.” (QS.At-Taubah:72)

Semoga bermanfaat..

KHAZANAH ALQURAN

Orang Beriman itu Mengagumkan

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Adil, Maha Bijaksana dan Maha Kuasa atas segala sesuatu, menggolongkan kita sebagai orang-orang yang husnul khotimah. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad Saw.

Tiada apapun yang bisa lahir dari keimanan kecuali kebaikan. Peristiwa seperti apapun, kecil ataupun besar, ringan maupun berat, jika dihadapi dengan keimanan maka yang hadir adalah kebaikan.

Rasulullah Saw bersabda,“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada diri orang beriman; yaitu jika dia mendapatkan kesenangan maka dia bersyukur, sehingga itu menjadi kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan maka dia bersabar, sehingga itupun menjadi kebaikan baginya.”(HR. Muslim)

Oleh karenanya, bukan ciri keimanan jika ditimpa kepahitan kemudian berlama-lama meratapi keadaan, berlama-lama dalam kesedihan dan putus asa. Apalagi jika sampai mengutuki keadaan dengan sumpah-serapah yang tiada berguna. Selain menguras tenaga dan tidak dapat mengubah keadaan, sikap-sikap seperti ini juga bukan sikap yang diridhoi oleh Allah Swt.

Orang yang beriman akan tetap tegak berpegang teguh kepada Allah Swt meski berbagai kenikmatan dan kesenangan datang menghampirinya. Ia tidak mudah goyah terbuai dengan semua itu. Senang dan gembira yang ia rasakan segera ia kembalikan kepada Allah dengan penuh syukur karena ia yakin semua itu terjadi pasti atas izin Allah.

Demikian halnya dengan kesedihan dan ketidaksenangan yang ia rasakan segera ia kembalikan kepada Allah dengan penuh sabar karena ia yakin hanya Allah yang Maha Kuasa atas segala kejadian. Dan, hanya Allah yang bisa dijadikan tempat berlindung dan memohon pertolongan.

Maasyaa Allah!Kemudahan dan kesulitan yang datang adalah lumbung pahala bagi orang yang beriman. Keimanan akan membawa kita pada kebahagiaan hidup di akhirat, dan kebahagiaan itu sudah didapatkan oleh orang beriman sejak di dunia. Semoga kita termasuk orang-orang yang bahagia di dunia dan akhirat.Aamiin yaa Robbalaalamiin. [smstauhid]

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Tipe-tipe Orang Beriman Menurut Alquran

DENGAN menyebut dua syahadat, seorang hamba telah disebut sebagai muslim dan beriman kepada Allah swt. Namun dari jutaan umat Islam yang ada, tentu mereka memiliki kualitas keimanan yang berbeda-beda.

Berbicara tentang keimanan, ada tipe manusia memiliki keimanan yang kuat dan kokoh dan ada pula tipe manusia yang imannya lemah. Mereka sama-sama beriman kepada Allah namun tipe pertama mampu tetap tegar dan kuat menghadapi semua rintangan dan masalah sementara tipe kedua seperti berjalan di tepian jurang. Sedikit terkena angin masalah bisa merobohkannya.

Tipe yang kedua itu disebut oleh Sayidina Ali bin Abi tholib sebagai sampah masyarakat karena tak memiliki pendirian dalam hidupnya. Mereka ikuti semua seruan yang didengar. Kemanapun angin berhembus, mereka ikut terbawa bersamanya.

Allah pun menggambarkan kelompok semacam ini dalam firman-Nya,

“Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi; maka jika dia memperoleh kebajikan, dia merasa puas, dan jika dia ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang. Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata.” (QS.Al-Hajj 11)

Allah menggambarkan mereka seperti orang-orang yang sedang berjalan di tepi jurang. Ketika hidupnya nyaman, tentram dan damai maka hatinya tenang dan ingat kepada Allah swt. Tapi mereka tidak siap untuk menghadapi tantangan dan masalah hidup. Ketika rezekinya mulai sempit, bermacam masalah datang, mereka pun tak mampu menghadapinya dan berpaling dari Allah swt.

Di sisi lain, ada pula tipe manusia yang lemah imannya namun mengingat Allah hanya di saat terhimpit dan kepepet. Jika tipe sebelumnya mengimani Allah ketika hidupnya tenang, maka tipe ini mengingat Allah hanya ketika terhimpit dan kesusahan karena tak ada lagi yang dimintai pertolongan kecuali Allah. Namun ketika kesulitan telah hilang, mereka kembali melupakan Allah seakan tidak pernah meminta bantuan kepada-Nya.

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (kejalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya.” (QS.Yunus:12)

Kedua model keimanan yang lemah ini sama-sama berada di tepian jurang. Iman mereka mudah digoyangkan oleh angin masalah yang datang. Sedikit badai mampu membuat mereka terjatuh dan melupakan Allah swt.

Beda halnya dengan orang-orang yang keimanannya kuat. Allah menggambarkan mereka dalam firman-Nya,

“Hanya ucapan orang-orang Mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang- orang yang beruntung.” (QS.An-Nur 51)

Mereka adalah orang-orang yang berpegang pada prinsip “Samina wa Athona”, taat dan pasrah mutlak dengan ketentuan Allah swt. Karena mereka yakin bahwa apapun yang telah ditentukan dan diatur oleh Allah pasti yang terbaik untuknya. Sehingga sebesar apapun masalah yang ia hadapi, tidak akan sedikitpun berpaling dari jalur Allah swt.

Orang-orang semacam ini memiliki hati yang kuat dan tegar pada Sang Pencipta. Mereka begitu yakin bahwa Sang Pencipta adalah Zat yang paling tahu yang terbaik bagi hamba-Nya.

Jika kita ingin analogikan, para pencipta mobil di Jepang telah menentukan bahan bakar Mobil A adalah bensin. Lalu mungkinkah kita merasa lebih pintar dan menggantinya dengan solar? Atau kita merasa benar-benar kaya dan ingin mengganti bahan bakarnya dengan parfum yang mahal?

Tentu tak mungkin karena si pencipta mobil telah menentukan desain dan bahan bakarnya. Maha Suci Allah dari semua contoh, namun begitulah logika seorang mukmin sejati. Mereka yakin bahwa semua aturan, perintah dan larangan Allah adalah demi kebaikan hamba-Nya karena Dia-lah yang paling tahu seluk beluk ciptaannya. Melanggar aturan Allah sama saja dengan membahayakan diri kita sendiri. [khazanahalquran]

 

MOZAIK