Di Manakah Kepedulian Kita?

Segala puji bagi Allah, Rabb yang telah menetapkan takdir segala makhluk lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi pembawa cahaya, pemberi kabar gembira dan peringatan, seorang da’i yang mengajak umatnya untuk mengabdi kepada Allah semata dengan hati dan segenap anggota badan mereka. Amma ba’du.

Saudaraku, .. deraan musibah masih terasa menyisakan kepedihan di hati saudara-saudara kita yang tertimpa bencana letusan Gunung Merapi di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Rumah-rumah yang hancur, ternak yang musnah, sanak saudara yang hilang dan meninggal, kebutuhan hidup sehari-hari yang tidak menentu. Itu semua menyisakan bongkahan-bongkahan keputus-asaan dan mempertipis harapan. Belum lagi, ketika musibah yang menimpa jasad ini diperparah dengan musibah yang menimpa hati dan aqidah mereka, berupa upaya untuk mencari keselamatan dan menolak bala yang menyimpang dari syari’at, munculnya ritual-ritual kemusyrikan, ditambah lagi gerakan pemurtadan terselubung pun mulai menebarkan jaring-jaring maut demi mengantarkan kaum muslimin yang lemah aqidahnya menuju jurang kehancuran… Allahul musta’aan.

Saudaraku, … tidakkah kita ingat, bahwa sesama kaum muslimin adalah bersaudara. Satu sama lain saling memperkuat dan mendukung, bukan saling melemahkan dan merongrong. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya hanya orang-orang beriman itulah yang bersaudara….” (QS. al-Hujurat: 10). Sebuah persaudaraan suci, ikatan keimanan yang tumbuh dari perasaan cinta karena Allah yang akan menyisakan rasa manis dalam hati seorang mukmin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa yang memilikinya maka dia akan bisa merasakan manisnya iman… di antaranya tidaklah dia mencintai seseorang melainkan karena cintanya kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah jalinan persaudaraan yang telah dicontohkan oleh kaum pendahulu kita yang salih. Tatkala rasa kikir telah tercabut dari dalam hati mereka. Sehingga mereka tidak segan-segan untuk lebih mendahulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingan dirinya sendiri. Allah mengabadikan keteladanan mereka dalam kitab-Nya (yang artinya), “Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. al-Hasyr: 9). Aduhai, dimanakah posisi kita dibandingkan dengan mereka? Pantaskah kita mengaku sebagai pengikut mereka sementara rasa kikir itu masih kental dan melekat dalam hati dan jiwa kita?

Kaum muslimin -semoga Allah merahmati kami dan anda sekalian-musibah yang besar ini telah menelan korban yang tidak sedikit. Yang akan sangat susah apabila hanya dihitung dengan rupiah dan dirangkum dalam data-data statistik. Bisa jadi status Gunung Merapi menurun besok atau lusa, akan tetapi betapa banyak saudara kita yang tidak bisa menikmati kembali teduhnya suasana rumah mereka akibat landaan awan panas yang menghancurkan rumah beserta perabotan yang ada di dalamnya. Maka di saat yang demikian kritis, muncullah gerakan pemurtadan yang menawarkan berbagai kesenangan dunia untuk mereka -di saat mereka sedang haus-hausnya terhadap itu semua- maka apa yang bisa kita perbuat untuk menyelamatkan aqidah dan keimanan mereka?

Apakah kita bisa menyelamatkan mereka dengan hanya berteriak-teriak di atas mimbar mengutuk perbuatan orang-orang kafir tanpa kita berupaya untuk menggapai tangan-tangan mereka? Wahai saudaraku, para salafus shalih adalah imam/panutan bukan hanya dalam hal ilmu, namun juga dalam hal amal! Tidakkah kita ingat ucapan emas seorang ulama yang mulia Fudhail bin Iyadh rahimahullah, “Seorang yang alim/ahli ilmu akan tetap dinilai sebagai jahil/orang bodoh selama dia belum beramal dengan ilmunya. Apabila dia sudah beramal dengan ilmunya barulah dia benar-benar menjadi seorang yang alim.” (Diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam Iqtidha’ al-‘Ilmi al-‘Amala)

Oleh sebab itu, keilmuan yang ada pada diri seseorang diukur dengan rasa takut dan ketakwaannya kepada Allah, bukan semata-mata banyaknya hafalan dan riwayat yang dia bawakan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28). Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Hakekat ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat, akan tetapi adanya rasa takut -kepada Allah-.” (disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya al-Fawa’id). Para ulama kita juga memperingatkan, “Orang-orang yang rusak di antara ulama kita, maka padanya terdapat kemiripan dengan kaum Yahudi. Dan orang-orang yang rusak di antara ahli ibadah kita, maka padanya terdapat kemiripan dengan Nasrani.”

Betapa banyak bantuan logistik yang dicari, ditawarkan dan disalurkan, akan tetapi betapa sedikit bantuan bimbingan aqidah yang didapatkan oleh pengungsi. Seolah-olah urusan perut dan ekonomi adalah segalanya, dan urusan agama dan iman selalu dikebelakangkan. Sampai-sampai -kalau perlu- agama pun mereka jual demi mendapatkan ceceran-ceceran kesenangan dunia yang sementara. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan, “Bersegeralah kalian untuk beramal sebelum datangnya terpaan fitnah/cobaan bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang masih beriman dan di sore harinya menjadi kafir. Atau di sore harinya beriman dan pagi harinya menjadi kafir. Dia rela menjual agamanya demi mendapatkan ceceran kesenangan dunia.” (HR. Muslim).

Belum lagi, upaya sebagian kalangan yang ingin menghibur para pengungsi dengan hiburan-hiburan yang melanggar norma-norma syari’at. Bukannya menambah tenang, justru menambah hati resah dan gelisah. Subhanallah! Betapa berharganya ilmu syar’i ini di tengah gelombang musibah yang melanda umat ini. Yang dengan ilmu itu seorang hamba akan terbentengi dari tindakan-tindakan yang mencelakakan dirinya -dalam keadaan dia tidak menyadarinya-. Sungguh tepat ucapan para ulama pendahulu kita, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan akan tetapi tidak menepatinya.”

Sehingga ilmu agama inilah yang akan membukakan berbagai pintu kebaikan bagi mereka yang tertimpa musibah secara khusus dan umat manusia secara umum. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, niscaya akan dipahamkan dalam masalah agama.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan bekal ilmu inilah seorang muslim meniti jalan menuju kebahagiaan yang hakiki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu -agama- maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Dari situlah, maka bimbingan aqidah dan kajian-kajian islam ilmiah bagi para pengungsi merupakan solusi kongkret untuk menyelamatkan nasib mereka, selain bantuan material lainnya. Tidakkah kita ingat ucapan Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Umat manusia jauh lebih banyak membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari hanya sekali atau dua kali saja. Adapun ilmu, maka ia dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.” (disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Miftah Daar as-Sa’aadah). Wahai kaum muslimin, sudahkah kita berperan serta dalam proyek dakwah dan penyelamatan aqidah yang mulia ini? Ataukah kita akan duduk berpangku tangan saja… Hanya Allah Sang pemberi taufik..

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel www.muslim.or.id

Peduli Orang Miskin

Alkisah, pada suatu siang yang panas terik menyengat, beberapa orang suku Mudhar datang ke Madinah. Mereka tidak beralas kaki, bercelana di atas lutut hingga sebagian auratnya terlihat, berpakaian robek dan koyak di sana-sini, dengan menyandang pedang di pinggangnya.

Mereka terlihat begitu miskin, serbakekurangan, dan lesu. Mereka memang orang Muslim miskin dari suku Mudhar. Mereka datang ke Madinah ingin bertemu Nabi dan menceritakan kondisi mereka yang begitu menderita itu.

Melihat kedatangan mereka, wajah Nabi tiba-tiba memerah tanda marah. Beliau lalu masuk dalam rumah, lantas keluar lagi, kemudian menyuruh Bilal untuk mengumandangkan azan. Para jamaah pun datang ke masjid untuk shalat berjamaah. Setelah shalat selesai, di hadapan para jamaah, Nabi berkhutbah menyampaikan alasan kemarahan sekaligus kegundahan beliau karena kedatangan orang miskin Mudhar tadi.

Setelah memuji Allah, Nabi membaca dua ayat. Pertama, “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS an- Nisa’ [4]: 1).

Kedua, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Hasyr [59]: 18)

Selanjutnya, beliau bersabda, “Bersedekahlah kalian, baik dengan dinar, dirham, pakaian, gandum, maupun kurma meskipun hanya satu biji.” Tidak lama kemudian, seorang Anshar membawa bungkusan yang hampir tidak muat di genggamannya. Disusul kemudian orang-orang di belakangnya membawa banyak makanan dan pakaian hingga terkumpul sangat banyak dan bertumpuk. Melihat hal itu, wajah Nabi yang sebelumnya merah karena marah pun berubah menjadi berbinar-binar senang dan bahagia (HR Muslim).

Dalam kitab Indama Ghadibar Rasul karya Muhammad Ali Usman Mujahid dijelaskan, kegembiraan Nabi tersebut dilatarbelakangi oleh bersegeranya kaum Muslim memenuhi seruan Allah dan menaati perintah Nabi dengan menafkahkan sebagian harta mereka untuk membantu kebutuhan sesama. Hal ini menggambarkan kasih sayang antarsesama Muslim.

Melukiskan tolong-menolong dalam hal kebajikan dan takwa. Melihat pemandangan semacam itu, beliau pun begitu senang. Dari kisah ini, tergambar jelas bagaimana Islam menyuruh untuk peduli terhadap orang miskin yang membutuhkan. Sampai Nabi pun marah menyaksikan kemiskinan itu dan menyuruh orang-orang untuk peduli dengan memberikan sebagian hartanya untuk diberikan kepada mereka. Nabi adalah tipikal pemimpin yang peduli dan peka dengan kondisi masyarakatnya. Bagi beliau, kemiskinan lahir bukan karena takdir, melainkan karena orang kaya enggan bersedekah. Tanpa menunggu lama, beliau segera bergerak memobilisasi masyarakat untuk bersedekah.

Dalam kesempatan lain, Nabi bahkan mengatakan bahwa tidaklah dikatakan beriman orang yang tidur dalam kondisi kenyang, sementara tetangganya kelaparan (HR Ath-Thabrani). Dengan kata lain, kemiskinan adalah tanggung jawab bersama, baik pemerintah maupun masyarakat. Kaum miskin harus diprioritaskan untuk ditangani dengan baik. Jika kaum Muslim bersatu dan bersama-sama peduli kaum miskin, sangat mungkin angka kemiskinan akan turun drastis. Wallahu a’lam.

 

Oleh: Fajar Kurnianto

REPUBLIKA