Goa Berlindung Rasulullah di Uhud yang Terlupakan

Madinah (PHU)—Ia adalah salah satu kisah paling heroik dalam sejarah awal Islam, bahkan mungkin dalam sejarah dunia. Ketika Rasulullah terpojok dalam kekalutan pasukan Muslim, dikepung pasukan Quraish, dan dilindungi para sahabat yang mengasihinya melebihi cinta terhadap kehidupan dan diri mereka sendiri.

Kisah tentang Wahb Almuzani yang melepas anak panah demi anak panah untuk melindungi Rasulullah hingga akhirnya syahid bersama sepupunya Harits. Kisah tentang Abu Dujanah sang Sorban Merah Kematian dan Ali bin Abi Thalib sang pemegang Zulfikar, pedang bermata ganda, membabat pengepung Rasulullah.

Tentang Talhah bin Ubaidillah yang menjadikan dirinya perisai hidup untuk melindungi Nabi Muhammad SAW, dengan luka parahnya sendiri membopong Rasulullah ke tempat aman. Tentang Abu Ubaydah yang dengan giginya mencabut pecahan rantai baju besi yang menancap di pipi Rasulullah.

Ia juga kisah tentang Nusaibah bint Ka’ab, seorang perempuan Madinah yang mengambil pedang dan perisai dari mereka yang gugur dan dengan gagah berani pasang badan untuk Nabinya. Bertarung dengan kegigihan melebihi kebanyakan lelaki saat itu.

Kisah tentang Rasulullah yang dalam keadaan terluka menghadapi sendiri Ubay bin Khalaf yang menunggangi kuda menerjang dengan pedang untuk membunuh. Sekedipan mata, mengangkat tombak yang ia pegang dan melemparnya tepat sasaran dan merobohkan Ubay yang sedang mengayunkan pedang.

Periwayat awal sirah nabawiyah seperti Ibn Ishaq dan Ibn Hisham, kemudian penulis biografi modern Martin Lings alias Abu Bakar Sirajuddin belakangan, menuliskan dengan terperinci kejadian-kejadian tersebut. Saat Rasulullah sangat dekat dengan kematian menyusul kealpaan pasukan Muslim dalam Perang Uhud yang terjadi pada 625 Masehi. Saat sekitar 700 pasukan Anshar dan Muhajirin dari Madinah berhadapan dengan 3.200 pasukan Makkah di kaki Gunung Uhud.

Tapi di mana sebenarnya lokasi Rasulullah terdesak musuh tersebut?

Saat ini, yang dijadikan objek ziarah resmi oleh pihak Kerajaan Arab Saudi adalah tanah lapang yang jaraknya sekitar 10 kilometer di utara Masjid Nabawi. Di situ, ada Bukit Rumat, lokasi 50 pemanah Muslim yang nantinya meninggalkan posisi dan mengubah jalannya Perang Uhud untuk keuntungan pasukan Quraish. Sekitar 20 meter ke utara bukit itu, ada makam para syuhada, tempat Hamzah ibn Abdul Muthalib gugur dan 70 martir Perang Uhud syahid dan dikuburkan. Persis di bagian timur makam itu, ada masjid megah.

Lokasi Rasulullah terkepung, menurut berbagai riwayat, masih sedikit jauh ke utara, tepatnya sekitar satu kilometer dari kompleks ziarah, di kaki Gunung Uhud serta tebing-tebing gunung tersebut. Hal ini mengingat Rasulullah dan pasukan Muslim yang tercerai berai memang sempat terdorong ke utara dari lokasi utama pertempuran oleh desakan musuh.

Kompleks ziarah dan lokasi itu dipisahkan jalan raya yang kabarnya melintang persis di atas lokasi Rasulullah terluka dan tanggal giginya dalam Perang Uhud. Di utara jalan raya itu, kompleks perumahan padat dengan jalan-jalan sempit yang hanya bisa dilintasi satu atau dua mobil.

Saat mencoba mencari lokasi itu pada Rabu (12/9), saya harus mengira-ngira di antara kelindan labirin pemukiman tersebut. Sebuah bus kuning yang saya sangka mengantar peziarah dan saya ikuti ternyata hanya bus sekolah yang mengantar pulang anak-anak siang itu.

Namun berkat mengikuti bus itu pula saya bertemu dengan Mukhtar Assaleh, seorang warga tempatan. Berkulit legam seturut asalnya yang dari Afrika, Mukhtar tak banyak bicara dan langsung membimbing ke lokasi yang saya cari.

Tiba di ujung timur laut pemukiman, tepat di kaki Gunung Uhud, ia menunjuk ke atas. “Di situ tempat berlindung Rasulullah,” kata dia dalam bahasa Arab. Ia menunjuk sebuah rekahan di gunung tersebut. Dari kaki gunung, jalur menanjak yang curam ke dasar rekahan itu sekitar dua puluh meter jaraknya

Menurut Mukhtar, ke situ Talhah menggendong Rasulullah saat keduanya terluka dan terdesak pasukan Quraish. Diriwayatkan, pasukan Muslim bertahan dari atas tebing sembari menghalau pasukan Quraish yang mencoba naik untuk membunuh Rasulullah selepas menyadari bahwa kabar kematian beliau yang beredar sebelumnya ternyata keliru. Kegigihan sisa-sisa pasukan Muslim yang langsung merapat melindungi Rasulullah membuat pasukan Quraish menyerah dan akhirnya kembali ke Makkah.

Rekahan yang tingginya sekitar lima meter lebih itu kini sudah disemen sepenuhnya. Dua tahun lalu, peziarah masih bisa naik sampai ke dasar rekahan. Mereka mengabarkan, ada bau harum misik keluar dari lokasi tersebut. Saat ini, kaki gunung sudah diimbuhi pagar besi dan kawat duri setinggi dua meter. “Sudah ditutup, sudah ditutup,” kata Mukhtar.

Sebelum ditutup sepenuhnya, peziarah dari Pakistan, India, Turki dan beberapa negara lainnya kerap memanjat dan berdoa di lokasi itu. Dilansir dari Saudi Gazette, hal itu yang membuat Kerajaan Saudi menutup lokasi meski sebagian sejarahwan di Saudi membenarkan bahwa rekahan itu memang tempat berlindung Rasulullah. Pada 2006 silam, menurut Arab News, sempat juga ada rencana penghancuran yang ditentang warga sekitar.

Bagaimanapun upaya penutupan itu agaknya berhasil. Siang itu, saya menyaksikan sejumlah orang dengan raut dan ciri khas peziarah Asia Selatan hanya berkendara melintas tanpa menengok rekahan tersebut.

Kenangan dan arti penting lokasi tersebut saat ini hanya dijaga penduduk di sekitarnya. Seperti Abdul Qadir, seorang bocah 10 tahun yang tinggal di rumah paling pojok tepat di kaki gunung di bawah rekahan. “Iya, Bapak bilang di situ dulu Rasulullah berlindung dan perangnya di rumah kami,” kata dia. (mch/ab).

KEMENAG RI

Bahkan Malaikat pun Memuji Sahabat yang Satu Ini

Ada hal yang menarik ketika perang Uhud terjadi. Dalam peristiwa itu, Jibril memuji keberanian Ali ra. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Seungguhnya Ali adalah bagianku dan aku bagian dari Ali”. Ucapan Beliau itu menunjukkan sempurnanya kesatuan, dan Jibril berkata, “Aku dari kalian berdua.” (Qurratul Uyun).

Dikisahkan dari Buku yang berjudul “Himpunan Fadhilah Amal” karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi Rah.a., bahwa Jibril memuji Ali ra karena selama pertempuran ia begitu melindungi Rasulullah dari serangan orang-orang kafir.

Saat itu kaum Muslimin mengalami kekalahan, adapun penyebab utamanya karena tidak menaati Rasulullah SAW. Ketika itu kaum Muslimin telah dikepung oleh kaum kuffar dari empat penjuru, sehingga banyak kaum Muslimin yang syahid dan sebagian melarikan diri.

Sedangkan, Nabi SAW terkepung oleh musuh-musuh kafir. Lalu mereka mengumumkan bahwa Nabi SAW telah gugur. Berita ini membuat para sahabat merasa panik. Sebagian sahabat ada yang melarikan diri, ada pula yang lari ke sana-kemari dalam keadaan cerai berai.

Ali ra mengatakan, ketika orang-orang kafir mengepung kaum Muslimin, ia tidak melihat Rasulullah SAW. Ia segera mencari Beliau di antara orang-orang yang masih hidup, tetapi tidak menemukannya. Lalu ia mencari di antara mayat para syuhada, namun tak juga menemukan Rasulullah SAW.

“Tidak mungkin Nabi SAW melarikan diri dari pertempuran. Mungkin karena perbuatan kami, Allah marah kepada kami, sehingga Allah mengangkat kekasih-Nya ke langit. Aku tidak dapat mengira-ngira kemungkinan lain tentang Nabi SAW yang lebih baik dari itu,” ujar Ali ra.

Ia segera mencabut pedangnya kemudian terjun ke tengah pertempuran itu. Ia terus bertempur sehingga sebuah jalan terbuka di tengah kepungan itu. Pada saat itulah terlihat olehnya Rasulullah SAW. Ali ra sangat gembira akan hal itu, ia menyakini Allah melindungi kekasih-Nya melalui para malaikat-Nya.

Ia segera menjumpai Rasulullah SAW dan berada di sisinya. Tiba-tiba muncullah pasukan kafir Quraisy untuk menyerang Beliau. Rasulullah SAW berkata, “Hai Ali, tahanlah mereka.” Ali ra langsung menghadapi mereka seorang diri dengan segenap keberaniannya, sehingga sebagian dari mereka melarikan diri, dan sisanya dapat dibunuh olehnya.

Lalu datanglah pasukan kedua untuk menyerang Rasulullah SAW. Beliau memberi isyarat kepada Ali ra untuk melawan mereka. Maka, Ali pun kembali melawan mereka dengan seorang diri. Inilah yang membuat malaikat Jibril memuji akan keberaniannya Ali ra.

 

TEPUBLIKA