Lima Pesan Nabi Muhammad Untuk Diamalkan

Nabi Muhammad pernah menyampaikan lima pesan.

Nabi Muhammad SAW telah menunjukan jalan yang baik dan benar untuk umat manusia agar selamat di dunia dan akhirat. Dengan mematuhi ajaran agama Islam yang dibawa dan diajarkan Rasulullah SAW, umat manusia akan selamat di dunia dan akhirat.

Semasa hidupnya, Rasulullah SAW pernah memberi lima pesan kepada umat manusia melalui Abu Hurairah. Lima pesan Nabi Muhammad SAW ini untuk diajarkan dan diamalkan.

حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ هِلَالٍ الصَّوَّافُ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ أَبِي طَارِقٍ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَأْخُذُ عَنِّي هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ فَيَعْمَلُ بِهِنَّ أَوْ يُعَلِّمُ مَنْ يَعْمَلُ بِهِنَّ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَقُلْتُ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَخَذَ بِيَدِي فَعَدَّ خَمْسًا وَقَالَ اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا وَلَا تُكْثِرْ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ جَعْفَرِ بْنِ سُلَيْمَانَ وَالْحَسَنُ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ أَبِي هُرَيْرَةَ شَيْئًا هَكَذَا رُوِيَ عَنْ أَيُّوبَ وَيُونُسَ بْنِ عُبَيْدٍ وَعَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ قَالُوا لَمْ يَسْمَعْ الْحَسَنُ مِنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَرَوَى أَبُو عُبَيْدَةَ النَّاجِيُّ عَنْ الْحَسَنِ هَذَا الْحَدِيثَ قَوْلَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Nabi Muhammad SAW bersabda “Siapa yang mau mengambil kalimat-kalimat ini dariku lalu mengamalkannya atau mengajarkan kepada orang yang mengamalkannya?” 

Abu Hurairah menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.”

Kemudian Rasulullah SAW meraih tangan Abu Hurairah lalu menyebut lima hal. (Pertama) jagalah dirimu dari keharaman-keharaman, niscaya kamu menjadi orang yang paling ahli ibadah. (Kedua) terimalah pemberian Allah dengan rela, niscaya kamu menjadi orang terkaya.

(Ketiga) berbuat baiklah terhadap tetanggamu, niscaya kamu menjadi orang mumin. (Keempat) cintailah sesama seperti kamu mencintai dirimu sendiri, niscaya kau menjadi orang Muslim. (Kelima) jangan sering tertawa karena seringnya tertawa itu mematikan hati. (HR At-Tirmidzi)  

KHAZANAH REPUBLIKA

Wasiat Rasulullah SAW Bahwa Kehidupan Dunia tak Abadi

Sahabat yang mulia, Jabir bin Abdullah, mengabarkan bahwa Rasulullah pernah melewati sebuah pasar hingga kemudian banyak orang yang mengelilinginya.

”Apakah kalian suka anak kambing ini menjadi milik kalian?” Mereka menjawab, ”Demi Allah, seandainya anak kambing ini hidup, maka ia cacat telinganya. Apalagi dalam keadaan mati.”

Mendengar pernyataan mereka, Nabi bersabda, ”Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini untuk kalian.” (HR Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan:

وعن ابن عمر رضي اللَّه عنهما قَالَ: أَخَذ رسولُ اللَّه ﷺ بِمَنْكِبِي فقال: كُنْ في الدُّنْيا كأَنَّكَ غريبٌ، أَوْ عَابِرُ سبيلٍ

Pada suatu waktu, Rasulullah memegang pundak Abdullah bin Umar Beliau berpesan, ”Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau orang yang sekadar melewati jalan (musafir).”

Abdullah menyimak dengan khidmat pesan itu dan memberikan nasihat kepada sahabatnya yang lain:

كَانَ ابنُ عمرَ رضي اللَّه عنهما يقول: “إِذَا أَمْسَيْتَ فَلا تَنْتَظِرِ الصَّباحَ، وإِذَا أَصْبَحْتَ فَلا تَنْتَظِرِ المَساءَ، وخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لمَرَضِكَ، ومِنْ حياتِك لِمَوتِكَ” رواه البخاري

”Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya, bila engkau berada di pagi hari, janganlah engkau menanti datangnya sore. Ambillah (manfaatkanlah) waktu sehatmu sebelum engkau terbaring sakit, dan gunakanlah masa hidupmu untuk beramal sebelum datangnya kematianmu.” (HR Bukhori).

Allah SWT berpesan pada pelbagai ayat tentang hakikat, kedudukan, dan sifat dunia yang memiliki nilai rendah, hina, dan bersifat fana. Dalam surat Faathir ayat 5, Allah menekankan bahwa janji-Nya adalah benar. Dan, setiap manusia janganlah sekali-kali teperdaya dengan kehidupan dunia dan tertipu oleh pekerjaan setan.

Di ayat lain dalam surat Al-Hadid ayat 20, Allah berfirman: 

ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمًا وَفِى ٱلْاَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ الـلَّـهِ وَرِضْوَٰنٌ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

”Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

وَٱضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا كَمَآءٍ أَنزَلْنَٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخْتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ ٱلرِّيَٰحُ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ مُّقْتَدِرً

”Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Kahfi: 45).

KHAZANAH REPUBLIKA

Pesan Terakhir Jelang Ajal Menjemput

Rasulullah SAW tak luput memberikan pesan-pesan kepada keluarga dan umat- nya, pada masa-masa akhir hidupnya. Syekh al-Khathib menukilkan sebuah riwayat dari Ali bin Abi Thalib. Keponakan sekaligus menantu Rasulullah SAW itu mengisahkan bagaimana suasana masa-masa Rasul berjuang menghadapi sakit dan kegigihannya menyampaikan pesan kepada umat. Kisah tersebut terangkum panjang, tetapi inilah di antara sebagian penggalan wasiat terakhir Rasulullah.

Ali menuturkan, tatkala surah an-Nashr turun, Rasul akhirnya tertimpa sakit. Di tengah sakitnya tersebut, Rasul keluar dan mengumpulkan segenap umat pada suatu Kamis. Meski menahan sakit di kepalanya, Rasul tetap naik ke mimbar. Raut mukanya menguning. Air matanya berlinang.

Kemudian, dia meminta Bilal menyerukan segenap warga berkumpul di tengah Madinah untuk mendengarkan wasiat Rasulullah, sebab ini adalah pesan terakhir. Perintah ini dilaksanakan bilal. Semua warga tak terkecuali orang dewasa atau anak kecil berkumpul dan membiarkan pintu rumah mereka terbuka begitu saja.

Demikian pula dengan pasar yang ditinggal sepi begitu saja.Bahkan, orang tua yang uzur keluar dari rumah untuk mendengarkan wejangan pamungkas Rasulullah.Masjid pun penuh sesak.

“Lapangkan, berikan tempat untuk yang lain, perintah Rasulullah. Rasul lantas berdiri dan menangis, kemudian hening. Kemudian memuji Allah dan bersalam kepada para nabi dan atas dirinya, lalu bersabda, “Wahai umat manusia, ketahuilah diriku telah capai dan tibalah saatku meninggalkan dunia. Saya merindukan pertemuan dengan Tuhanku, dan sungguh teramat sedih meninggalkan umatku. Apa yang mereka ucapkan setelah aku (Muhammad) meninggal? Ya Allah ucapkan salam, ucapkan salam wahai manusia. Dengarkan, camkan, dan ingatlah wasiatku. Hendaknya mereka yang datang menyampaikan kepada mereka yang tak hadir karena ini wasiat terakhirku bagi kalian. Wahai manusia, Allah telah menjelaskan bagi kalian dalam Alquran, apa yang halal dan haram bagi kalian, apa yang boleh dilakukan dan perkara yang mesti ditinggalkan.Ha lalkanlah apa yang memang halal bagi kalian, dan haramkanlah apa yang memang haram buat kalian. Percayalah kepada ayat-ayat mutsya bih, kerjakanlah ayat-ayat yang sudah terang benderang dan ambillah I’tibar dari ayat-ayat perumpa an. Rasul pun mengangkat kepalanya dan berkata, “Ya Allah aku te lah sampaikan (wasiatku) maka saksikanlah.

Dalam pesan terakhir itu pula, mewanti-wanti nafsu yang jauh dari ridha Allah dan hendaknya tetap berpegang teguh pada jamaah dan istikamah. Sebab, yang demikian itu sangat dekat dengan surga dan jauh dari neraka. Rasul juga mengingatkan agar umatnya takut kepada Allah dalam memegang agama dan amanat. Rasul mengingatkan agar tak berbuat sewenang-wenang pada hamba sahaya, berperilaku baik kepada istri, dan keluarga. Rasul juga menegaskan dalam pesan terakhirnya tersebut, agar umat mematuhi pemimpin dan jangan sampai membangkang meski pemimpin tersebut seorang hamba sahaya berkulit hitam. Barang siapa yang mematuhi pemimpin dia telah mematuhiku, dan barang siapa yang membangkang, dia telah bermakasiat kepadaku, titah Rasul.

 

REPUBLIKA

Tiga Pesan Nabi untuk Menjadi Mukmin Hakiki

Oleh: Abdul Syukur

Suatu hari Rasulullah SAW pernah bersabda kepada salah seorang sahabatnya yang bernama Abu Dzar, “Bertakwalah kepada Allah di manapun kamu berada, ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya akan jadi penggantinya, dan berinteraksilah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi).


Dalam pesan Nabi ini ada tiga hal yang bisa menjadikan seseorang menjadi mukmin yang hakiki. Pertama, bertakwa kepada Allah di manapun kita berada. Orang mukmin yang benar-benar beriman akan selalu merasakan kehadiran Allah dekat dengannya.

Tidak pernah ia merasa luput dari pantauan Allah. Tidak pernah pula ia merasa lupa bahwa semua yang dilakukan selalu diperhatikan dan dinilai oleh Allah SWT, baik dalam keadaan sepi sendirian maupun dalam keadaan ramai bersama teman-temannya. Baik di rumah, di jalan raya, di tempat kerja, maupun tempat-tempat lain yang menjadi tempat aktivitasnya.

Di rumah misalnya, ia akan melakukan tanggung jawabnya dengan baik sebagai salah satu anggota keluarga. Jika menjadi kepala rumah tangga, ia akan menjadi kepala rumah tangga yang baik, menjadi suami yang baik bagi istrinya, dan menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya. Karena, ia merasa Allah memperhatikan semua yang ia lakukan terhadap anggota keluarganya.

Jika menjadi ibu rumah tangga, ia akan menjadi istri yang baik bagi suaminya dan menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Karena, ia merasakan kehadiran Allah yang memantau semua aktivitasnya. Begitu pula ketika ia sedang berada di tempat kerja akan bekerja dengan baik dan tidak akan melakukan sesuatu yang merugikan orang lain karena ia merasa Allah selalu bersamanya.

Kedua, mengiringi keburukan dengan kebaikan. Artinya, setiap kali melakukan kejahatan atau maksiat, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia, harus mengikutinya dengan perbuatan baik agar dosa dari kejahatan atau maksiat tersebut bisa terhapus.

Sebagai manusia biasa kita tidak akan pernah luput dari salah dan dosa. Hal ini sesuai dengan hadis lain yang menegaskan bahwa setiap manusia pasti pernah bersalah dan berdosa dan sebaik-baik orang yang bersalah atau berdosa adalah mereka yang bertobat. (HR Tirmidzi dan Abu Dawud).

Mengiringi perbuatan buruk dengan perbuatan baik bisa berarti beristighfar kepada Allah SWT dan memberi sedekah untuk melebur dosa-dosa kecil yang pernah kita lakukan, jika dosa yang kita lakukan itu terkait dengan hak-hak Allah. Sedangkan, untuk menghapus dosa yang terkait dengan hak-hak Adami, sebelum meminta ampun kepada Allah terlebih dahulu kita harus meminta maaf kepada orang yang kita sakiti.

Ketiga, berinteraksi dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik. Maksudnya, kita memperlakukan orang-orang yang ada di sekitar kita dengan cara yang baik. Anak kita, istri kita, sanak saudara kita, keluarga kita, tetangga kita, teman kita, saudara seagama, saudara sesama manusia, saudara sesama makhluk Allah yang lain juga harus kita perlakukan dengan cara yang baik.

Jika kita bisa menerapkan ketiga pesan Nabi ini, insya Allah kita bisa menjadi manusia yang tanpa dosa. Semoga!

 

 

sumber: Republika Online