Bolehkah Qadha Puasa Ramadhan di Hari Jum’at?

Seringkali kita mendengar mengenai kemakruhan untuk melaksanakan puasa di hari jum’at. Hal ini menyebabkan beberapa orang tidak mengqadha puasanya yang tertinggal di bulan Ramadhan pada hari Jum’at dan memilih untuk puasa di hari berikutnya. Lantas, bolehkah qadha puasa ramadhan di hari jum’at?

Dalam literatur kitab fikih, dijumpai beberapa keterangan yang menjelaskan mengenai kewajiban untuk menyegerakan qadha puasa Ramadhan yang tertinggal. Kewajiban ini harus didahulukan dari pelaksanaan puasa sunnah, karena merupakan perintah yang wajib dikerjakan.

Sebagaimana dalam kitab I’anah at-Thalibiin, juz 4, halaman 294 berikut,

وعبارة الزواجر الحادي عشر أي من شروط التوبة التدارك فيما إذا كانت المعصية بترك عبادة ففي ترك نحو الصلاة والصوم تتوقف صحة توبته على قضائها لوجوبها عليه فورا وفسقه بتركه كما مر فإن لم يعرف مقدار ما عليه من الصلوات مثلا  قال الغزالي تحرى وقضى ما تحقق أنه تركه من حين بلوغه

Artinya : “Redaksi dalam kitab az-Zawaajir, mengenai urutan yang ke sebelas dari syarat-syaratnya taubat adalah mengqadha ibadah, yakni apabila maksiat yang dilakukan akibat meninggalkan ibadah di masa silam, maka dalam meninggalkan shalat dan puasa misalnya, untuk dapat mengabsahkan taubatnya, dia harus mengqadha terlebih dahulu karena mengqadhanya diwajibkan sesegera mungkin dan dihukumi fasik bila ditinggalkan seperti keterangan yang telah lewat.

Bila tidak diketahui jumlah yang wajib ia qadha seperti dalam kasus shalat misalnya, maka menurut al-Ghazali wajib baginya meneliti dan mengqadha yang telah nyata ia tinggalkan mulai masa balighnya.”

Seseorang yang melakukan qadha puasa Ramadhan di hari jum’at juga dihukumi sah dan terbebas dari kewajiban. Tetapi, menurut pendapat yang sohih apabila seseorang mengqadha puasanya di hari jum’at saja, tanpa melakukan puasa pada hari sebelum atau sesudahnya, maka dihukumi makruh. 

Sebagaimana dalam kitab Nurul Lum’ah fi Khashaishil Jum’ah berikut,

الصحيح من مذهبنا وبه قطع الجمهور كراهة صوم الجمعة منفردا، وفي وجه أنه لا يكره إلا لمن لو صامه منعه من العبادة وأضعفه 

Artinya, “Pendapat yang shahih dari mazhab kita, yakni Syafi’i dan ini merupakan pendapat jumhur ulama bahwa puasa hari Jumat saja dihukumi makruh apabila tidak diikuti dengan puasa sebelum dan sesudahnya. Menurut sebagian ulama puasa di hari jum’at saja tidak makruh kecuali bagi orang yang terhalang ibadahnya lantaran puasa dan dapat melemahkan tubuhnya.”

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa seseorang yang melakukan qadha puasa Ramadhan di hari jum’at dihukumi sah dan terbebas dari kewajiban. Tetapi, apabila seseorang mengqadha puasanya di hari jum’at saja, tanpa melakukan puasa pada hari sebelum atau sesudahnya, maka dihukumi makruh. 

Demikian penjelasan mengenai bolehkah qadha puasa ramadhan di hari jum’at. Semoga bermanfaat. Waallahu a’lam.

BINCANG SYARIAH

Hukum Menggabung Puasa Qadha Ramadhan dan Puasa Sunah Syawal

Puasa Ramadhan hukumnya wajib. Bila tak dikerjakan, maka wajib diganti atau membayar fidyah. Sedangkan puasa Syawal hukumnya sunah. Muncul persoalan, bagaimana hukum menggabung puasa qadha Ramadhan dan puasa sunah Syawal?

Puasa enam hari di Syawal hukumnya adalah sunah. Dalam hadis Nabi terdapat pelbagai penjelasan terkait keutamaan puasa Syawal. Salah satunya hadis riwayat Imam Muslim. Nabi bersabda;

عن أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآله وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Artinya; Dari Sahabat Nabi, Musa al Anshari Semoga Allah senantiasa meridhainya, Rasullulah SAW bersabda; “barang siapa saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka itu seperti pahala berpuasa selama satu tahun” (HR. Muslim).

Ada pun persoalan terkait menggabung puasa qadha Ramadhan dan puasa sunah Syawal keterangannya sebagai berikut. Menurut Syekh Dr. Ali Jumah boleh hukumnya menggabung niat puasa qadha Ramadhan dan puasa sunah syawal. Lebih lanjut, orang yang meniatkan puasa qadha digabungkan dengan puasa sunah, maka akan mendapat dua pahala, yakni atas puasa qadha Ramadhan dan sunah syawal.

Syekh Ali Jumah menjelaskan;

أما عن الجمع بين نية صوم هذه الأيام الستة أو بعضها مع أيام القضاء في شهر شوال، فيجوز للمسلم أن ينوي نية صوم النافلة مع نية صوم الفرض، فيحصل المسلم بذلك على الأجرين

Artinya; ada pun menggabungkan niat puasa sunah enam Syawal—seluruhnya atau sebagiannya— dengan puasa qadha Ramadhan yang dilaksanakan di Bulan Ramadhan, maka boleh hukumnya bagi setiap muslim bahwa ia berniat puasa sunah berserta puasa fardu. Maka siapa yang mengamalkan demikian mendapatkan dua pahala.

Lebih lanjut, menurut Syekh Ali Jumah, perempuan yang berhalangan puasa pada saat Ramadhan, sebab haid, nifas, dan sebagainya, maka ia boleh menggantinya di bulan Syawal. Perempuan tersebut akan mendapatkan pahala Syawal. Pasalnya, puasa itu dikerjakan di bulan Syawal. Ia berkata;

 فيجوز للمرأة المسلمة أن تقضي ما فاتها من صوم رمضان في شهر شوال، وتكتفي به عن صيام الست من شوال، ويحصل لها ثوابها؛ لكون هذا الصيام قد وقع في شهر شوال

Artinya; maka boleh bagi wanita muslimah mengganti puasa yang tertinggal dari bulan ramadhan di bulan syawal, maka memadai dengan puasa qadha itu dari puasa sunah enam syawal, dan ia akan memperoleh pahala syawal, karena puasa itu dikerjakan pada pada bulan Syawal.

Penjelasan serupa terdapat dalam kitab al Asbahu wa al Nazhair, karya Imam Jalaluddin as Suyuthi. Imam Suyuthi mengatakan barang siapa yang melaksanakan puasa pada hari A’rafah, misalnya puasa wajib qadha, nazar, atau kafarat (sebab bersetubuh di bulan Ramadhan), kemudian ia meniatkan besertanya puasa sunah A’rafah, maka puasa tersebut sah dan mendapatkan pahala.

ولو صام في يوم عرفة مثلًا قضاء أو نذرًا أو كفارة ونوى معه الصوم عن عرفة، فأفتى البارزي بالصحة والحصول عنهما. قال: كذا إن أطلق. فألحقه بمسألة التحية

Artinya; Jikalau seorang puasa pada hari Arafah seumpamanya— ia melaksanakan puasa—, qadha, nazar, atau kafarat, kemudian ia berniat besertanya puasa Arafah, maka memfatwakan Al Barizi tentang sah dan memperoleh pahala ia dari dua puasa tersebut. Ia berkata; demikian jika secara mutlak. Al Barizi mendasarkan pendapatnya dengan masalah bolehnya menggabung shalat tahiyat masjid.

Meski boleh menggabung puasa sunah dan puasa wajib, maka menurut Syekh Ali Jumah lebih utama dikerjakan dulu qadha puasa Ramadhan, kemudian baru dikerjakan puasa enam Syawal. Artinya, tidak digabung, tetapi dipisah pengerjaannya. Itu akan memperoleh pahala puasa yang sempurna. Sedangkan puasa dengan menggabung qadha dan puasa sunah Syawal membuat pahala puasa tersebut tak sempurna atau berkurang.

أن الأكمل والأفضل أن يصوم المسلم أو المسلمة القضاء أولًا ثم الست من شوال، أو الست من شوال أولًا، ثم القضاء؛ لأن حصول الثواب بالجمع لا يعني حصول كامل الثواب

Artinya; sesungguhnya yang sempurna dan utama adalah bahwa seorang muslim atau muslimah melaksanakan puasa qadha terlebih dahulu, kemudian baru melaksanakan puasa sunah enam Syawal. Atau bisa juga puasa Syawal terlebih dahulu, baru kemudian dikerjakan qadha (artinya; dipisah antara qadha dan sunah). Pasalnya, pahala mengerjakan puasa dengan digabung antara qadha dan sunah Syawal tidak memperoleh pahala yang sempurna.

Demikian penjelasannya, semoga bermanfaat untuk kita semua.

BINCANG SYARIAH

Hukum Menunda Qadha Puasa Hingga Ramadan Berikut Menurut 4 Mazhab

Saat bulan Ramadan, terkadang seorang muslim tidak dapat berpuasa secara penuh karena uzur atau alasan tertentu. Termasuk alasan yang lumrah antara lain adalah sakithaidhamil, melahirkan, menyusui, dan lain sebagainya. Bagaimana hukum menunda qadha puasa hingga Ramadan yang akan datang?

Bagi mereka yang meninggalkan puasa Ramadan karena alasan-alasan tersebut, maka wajib qadha’ (mengganti) puasa yang ditinggalkan di bulan lain selain Ramadan. Namun, terkadang mereka seringkali menunda qadha puasa tersebut sampai datang bulan Ramadan selanjutnya. Lalu bagaimana pandangan Islam tentang persoalan ini?

Bagi seorang muslim yang mempuyai hutang puasa Ramadan kemudian datang Ramadan berikutnya semetara ia belum sempat qadha’ hutangnya, maka dalam permasalahan ini terdapat dua pendapat dari Ulama 4 Madzhab. Berikut kami paparkan pendapat mereka.

Pertama, Pendapat Ulama Jumhur

Ulama jumhur, yakni Imam Malik, Imam Syafi’i Dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa, seorang muslim yang tidak sempat qadha’ puasa Ramadan tahun lalu hukumnya diperinci. Jika tidak sempatnya karena uzur, semisal sakit terus atau hamil dan menyusui selama setahun, maka ia hanya diwajibkan qadha’ puasanya saja. (Syekh Wahbah al-Zuhaily, al-Fiqh al Islimy wa Adillatuh, Juz 3, Hal 108)

Namun, jika ia tidak qadha’ puasa tahun lalu tanpa ada uzur, dalam arti ia lalai sampai datang lagi Ramadan berikutnya, maka ia wajib qadha’ puasa tersebut serta membayar fidyah (denda) sesuai jumlah puasa yang belum diganti yakni satu mud (kurang lebih 0,65 kg) untuk hutang puasa sehari. Mereka berpendapat demikian karena mengkiaskannya dengan orang yang tidak puasa di bulan Ramadhan tanpa ada uzur, dengan alasan sama-sama meremehkan kewajiban puasa. (Ibnu Rusyd, Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid, Juz 1 , Hal 318)

Pendapat ini diperkuat dengan Hadis nabi Muhammad SAW riwayat Abu Hurairah:

ان النبي صلي الله عليه وسلم قال مَنْ أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ فَأَفْطَرَ لِمَرَضٍ ثُمَّ صَحَّ وَلَمْ يَقْضِهِ حَتَّى أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ آخَرُ صَامَ الَّذِي أَدْرَكَهُ ثُمَّ يَقْضِي مَا عَلَيْهِ ثُمَّ يُطْعِمُ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

“Sesungguhnya Rasulullah bersabda : Barang siapa yang mendapati bulan Ramadan, lalu ia tidak berpuasa karena sakit kemudian sehat kembali dan belum menggantinya hingga Ramadan selanjutnya tiba, maka ia harus menunaikan puasa Ramadan yang sedang dijalaninya, setelah itu ia harus mengganti hutang puasanya dan memberikan makan kepada satu orang miskin untuk satu hari puasa yang ditinggalkan ”. (Asna al-Mathalib fi Syarh Raudh al-Thalib, Syekh al-Islam Zakariya al-Anshari, Juz 1, Hal 429)

Kemudian Imam Syafi’i menambahkan, kewajiban fidyah akan berulang kali seiring berulangnya kelalaian qadha’ puasa hingga datang lagi Ramadan berikutnya. Beliau juga berpendapat, jika puasa Ramadan yang ditinggalkan tanpa ada uzur maka puasa tersebut wajib diganti dengan segera. (Syekh Wahbah al-Zuhaily, al-Fiqh al Islimy wa Adillatuh, Juz 3, Hal 108)

Kedua Pendapat Ulama Hanafiyah

Menurut Imam Abu Hanifah seorang muslim yang tidak sempat mengganti puasa Ramadan sampai datang Ramadhan berikuknya, baik tidak sempat menggantinya karena uzur ataupun tidak, maka ia hanya wajib qadha’ puasanya saja, tanpa harus membayar fidyah.

Pendapat tersebut berdasarkan firman Allah SWT :

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah, Ayat 185).

Beliau berbeda dengan jumhur karena menolak kias antara orang yang lalai dalam qadha’ dengan orang yang tidak puasa di bulan Ramadan tanpa uzur, sementara Hadis yang dijadikan dalil oleh ulama Jumhur tentang kewajiban fidyah di atas, menurut Imam Daruquthni Dan Imam Baihaqi adalah hadis dha’if yang tidak dapat dijadikan rujukan hukum. (Asna al-Mathalib fi Syarh Raudh al-Thalib, Syekh al-Islam Zakariya al-Anshari, Juz 1, Hal 429). Wallahu A’lam

BINCANG SYARIAH

Belum Qadha Puasa tapi Ramadhan Sudah Datang Lagi

Ulama menjelaskan soal qadha puasa Ramadhan.

Ramadhan adalah bulan penuh ampunan. Ramadhan juga bulan suci umat Islam di mana semua amal kebajikan yang dilakukan di bulan ini akan berlipat-lipat ganda pahalanya.

Pada bulan Ramadhan, umat Islam diperintahkan untuk menjalankan ibadah puasa. Yakni tidak makan dan minum sepanjang hari, hingga tiba waktu berbuka puasa pada waktu maghrib.

Bagaimana jika seseorang tidak dapat melakukan puasa ketika Ramadhan, maka ia diwajibkan mengqadha puasanya. Kewajiban qadha ini diperintahkan Allah dalam Alquran:

“Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan, (kemudian tidak puasa), maka wajib menggantinya pada hari-hari yang lain,” (QS. Al-Baqarah ayat 184)

Pertanyaannya adalah sampai kapan batas waktu qadha tersebut. Apakah boleh menunda qada puasa sampai kapan pun ataukah ada batasnya. Dilansir dari buku Belum Qada Puasa Sudah Masuk Ramadhan Berikutnya karya Muhammad Aqil Haidar, masalah qadha puasa ulama telah berbeda pendapat mengenai batasan waktu qadha puasa. Ada yang mengatakan sampai kapan saja, ada pula yang membatasi tidak boleh lebih dari Ramadhan berikutnya.

A. Mazhab Al-Hanafiyah

Al-Kasani (w. 587 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi As-Syarai’ menyebutkan, apabila seseorang menunda qadha sampai masuk ramadhan berikutnya maka tidak wajib fidyah baginya.

Sedangkan Ibnul Humam (w. 681 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Fathul Qadir juga menyebutkan, ketika menunda qadha puasa sampai masuk bulan Ramadhan berikutnya maka diwajibkan berpuasa Ramadhan yang kedua. Setelah selesai Ramadhan, maka diperbolehkan untuk mengqadha puasa Ramadhan yang telah lewat tersebut, bahkan juga dibolehkan untuk melakukan puasa sunnah lebih dahulu.

B. Mazhab Al-Malikiyah

Ibnu Abdil Barr (w. 463 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah dalam kitab Al-Kafi fi Fiqhi Ahlil Madinah menuliskan, jika seseorang mempunyai kewajiban puasa Ramadhan kemudian tidak puasa dan mengakhirkan qadha sampai masuk Ramadhan berikutnya sedangkan ia mampu untuk menqadhanya (sebelum datang Ramadhan kedua), maka jika dia tidak puasa pada Ramadhan tersebut wajib baginya menqadha hari-hari yang ditinggalkanya dan memberi makan orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan satu mud dengan ukuran mud Nabi SAW.

C. Mazhab Asy-Syafi’i

An-Nawawi (w. 676 H) salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi’iyah di dalam kitabnya Raudhatu At-Thalibin wa Umdatu Al-Muftiyyin – Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menuliskan, ketika seseorang menunda qadha sampai masuk Ramadhan berikutnya tanpa udzur maka ia berdosa. Dan wajib baginya berpuasa untuk Ramadhan yang kedua, dan setelah itu baru menqadha untuk Ramadhan yang telah lalu. Serta wajib juga baginya membayar fidyah untuk setiap hari yang ia tinggalkan dengan hanya masuknya Ramadhan kedua. Yaitu satu mud makanan beserta dengan qadha.

Dasar kewajiban fidyah ini adalah atsar sahabat, yang diriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah. Sebagaimana disebutan oleh Imam an-Nawawi dalam kitabnya al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab.

Dalilnya adalah riwayat dari Ibn Abbas, Ibn Umar dan Abu Hurairah bahwasanya mereka menghukumi orang yang memiliki hutang puasa kemudian tidak mengqadhanya sampai datang Ramadhan berikutnya wajib memberi makan (fidyah) untuk puasa ramadhan yang pertama.

D. Mazhab Al-Hanabilah

Ibnu Qudamah (w. 620 H) ulama dari kalangan mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Mughni menuliskan, ketika seseorang mengakhirkan qadha, bukan karena udzur, sampai melewati dua Ramadhan atau lebih, maka tidak wajib baginya kecuali qadha dan fidyah.

Al-Mardawi (w. 885 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Inshaf fi Ma’rifati Ar-Rajih minal Khilaf menuliskan, tidak diperbolehkan menunda qadha puasa Ramadhan sampai Ramadhan beikutnya. Dan ini yang di nashkan dan tidak ada perbedaan di sini. Dan ketika ia melakukanya maka wajib baginya qadha dan memberi makan orang miskin. Untuk setiap harinya satu mud.

KHAZANAH REPUBLIKA

Aturan Membayar Utang Puasa Ramadhan (Qadha Puasa) yang Jarang Diketahui

Bagaimana aturan membayar utang puasa Ramadhan (qadha puasa)? Sebagian yang disebutkan di dalam tulisan ini ada yang jarang diketahui.

Siapa yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan karena sakit atau bersafar (menjadi musafir), maka ia wajib mengqadha’ sesuai jumlah hari yang ia tidak berpuasa. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ

Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Beberapa aturan qadha’ puasa

  1. Jika ada yang luput dari berpuasa selama sebulan penuh, ia harus mengqadha’ sebulan.
  2. Boleh puasa pada musim panas diqadha’ pada musim dingin, atau sebaliknya.
  3. Qadha’ puasa Ramadhan boleh ditunda.
  4. Jumhur ulama menyatakan bahwa menunaikan qadha’ puasa ini dibatasi tidak sampai Ramadhan berikutnya (kecuali jika ada uzur). Aisyah mencontohkan bahwa terakhir ia mengqadha puasa adalah di bulan Syakban.
  5. Apabila ada yang melakukan qadha’ Ramadhan melampaui Ramadhan berikutnya tanpa ada uzur, ia berdosa.

Dari Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Aisyah radhiyallahu ‘anhamengatakan,

كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ

Aku dahulu punya kewajiban puasa. Aku tidaklah bisa membayar utang puasa tersebut kecuali pada bulan Syakban.”  (HR. Bukhari, no. 1950 dan Muslim, no. 1146).

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ الشُّغُلُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَوْ بِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

“Aku dahulu punya kewajiban puasa. Aku tidaklah bisa membayar utang puasa tersebut kecuali pada bulan Syakban karena kesibukan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

  1. Yang harus dilakukan ketika menunda qadha’ Ramadhan melampaui Ramadhan berikutnya adalah (1) mengqadha’ dan (2) menunaikan fidyah (memberi makan kepada orang miskin untuk setiap hari puasa). Hal ini berdasarkan pendapat dari Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum. Fidyah ini dilakukan karena sebab menunda. Adapun fidyah untuk wanita hamil dan menyusui (di samping menunaikan qadha’) disebabkan karena kemuliaan waktu puasa (di bulan Ramadhan). Adapun fidyah untuk yang sudah berusia lanjut karena memang tidak bisa berpuasa lagi.
  2. Yang menunda qadha’ puasa sampai melampaui Ramadhan berikut bisa membayarkan fidyah terlebih dahulu kemudian mengqadha’ puasa.

Beberapa aturan qadha’ puasa ini diringkas dari Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 28:75-76.

Beberapa catatan tentang qadha puasa

Pertama: Qadha’ Ramadhan sebaiknya dilakukan dengan segera (tanpa ditunda-tunda) berdasarkan firman Allah Ta’ala,

أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al-Mu’minun: 61)

Kedua: Qadha’ puasa tidak boleh dibatalkan kecuali jika ada uzur yang dibolehkan sebagaimana halnya puasa Ramadhan.

Ketiga: Tidak wajib membayar qadha’ puasa secara berturut-turut, boleh saja secara terpisah. Karena dalam ayat diperintahkan dengan perintah umum,

فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185). Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Tidak mengapa jika (dalam mengqadha’ puasa) tidak berurutan.” (Dikeluarkan oleh Bukhari secara mu’allaq –tanpa sanad- dan juga dikeluarkan oleh Abdur Rozaq dalam Mushonnafnya, 4:241,243, dengan sanad yang sahih).

Keempat: Qadha’ puasa tetap wajib berniat di malam hari (sebelum Shubuh) sebagaimana kewajiban dalam puasa Ramadhan. Puasa wajib harus ada niat di malam hari sebelum Shubuh, berbeda dengan puasa sunnah yang boleh berniat di pagi hari.

Dari Hafshah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

Barangsiapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.” (HR. Abu Daud, no. 2454; Tirmidzi, no. 730; An-Nasai, no. 2333; dan Ibnu Majah no. 1700. Para ulama berselisih apakah hadits ini marfu’—sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—ataukah mauquf—hanya sampai pada sahabat–. Yang menyatakan hadits ini marfu’ adalah Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Baihaqi, An-Nawawi. Sedangkan yang menyatakan hadits ini mauqufadalah Al-Imam Al-Bukhari dan itu yang lebih sahih. Lihat Al-Minhah Al-‘Allam fii Syarh Al-Bulugh Al-Maram, 5:18-20).

Adapun puasa sunnah (seperti puasa Syawal) boleh berniat dari pagi hari hingga waktu zawal (matahari tergelincir ke barat). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini.

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ ». فَقُلْنَا لاَ. قَالَ « فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ ». ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِىَ لَنَا حَيْسٌ. فَقَالَ « أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا ». فَأَكَلَ

Dari ‘Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuiku pada suatu hari lantas beliau berkata, “Apakah kalian memiliki sesuatu untuk dimakan?” Kami pun menjawab, “Tidak ada.” Beliau pun berkata, “Kalau begitu saya puasa saja sejak sekarang.” Kemudian di hari lain beliau menemui kami, lalu kami katakan pada beliau, “Kami baru saja dihadiahkan hays (jenis makanan berisi campuran kurman, samin dan tepung).” Lantas beliau bersabda, “Berikan makanan tersebut padaku, padahal tadi pagi aku sudah berniat puasa.” Lalu beliau menyantapnya. (HR. Muslim, no. 1154).

Imam Nawawi membawakan judul bab untuk hadits di atas “Bolehnya berniat di siang hari sebelum zawal untuk puasa sunnah. Boleh pula membatalkan puasa sunnah tanpa ada uzur. Namun, yang lebih baik adalah menyempurnakannya.”

Imam Nawawi juga berkata, “Menurut jumhur (mayoritas) ulama, puasa sunnah boleh berniat di siang hari sebelum waktu zawal.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 32-33).

Kelima: Ketika ada yang melakukan qadha’ puasa lalu berhubungan intim di siang harinya, maka tidak ada kewajiban kafarah, yang ada hanyalah qadha’ disertai dengan taubat. Kafarah berat (yaitu memerdekakan seorang budak, jika tidak mampu berarti berpuasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu berarti memberi makan pada 60 orang miskin, pen.) hanya berlaku untuk puasa Ramadhan saja.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.


Muhammad Abduh Tuasikal

Akhi, ukhti, yuk baca tulisan lengkapnya di Rumaysho:
https://rumaysho.com/24554-aturan-membayar-utang-puasa-ramadhan-qadha-puasa-yang-jarang-diketahui.html