Bagaimana Hukum Berkumur-kumur dan Sikat Gigi Disaat Berpuasa?

Islam mengajarkan umatnya untuk hidup bersih demi kesehatan. Islam mendidik umatnya hidup bersih mulai dari istinjak, mandi dan bersiwak atau sikat gigi. Yang demikian itu bukan hanya untuk kebersihan. Akan tetapi untuk hidup sehat dan nyaman dalam hidup bermasyarakat.

Demikian halnya juga puasa merupakan termasuk salah satu ibadah untuk menuju sehat. Dalam hal berpuasa kita dilarang makan dan minum, sebab yang demikian adalah termasuk yang membatalkan puasa. Akan tetapi ada kebiasaan sehari-hari kita diluar puasa yang berat meninggalkannya di saat berpuasa. Seperti berkumur-kumur dan sikat gigi. Berkumur-kumur biasanya kita lakukan disaat kita berwudhu dan bangun tidur. Kegiatan tersebut bukan hanya waktu berwudhu, akan tetapi berkumur-kumur dan gosok gigi sering dilakukan disaat baru bangun tidur.

Nah bagaimana hukumnya berkumur-kumur dan sikat gigi disaat lagi berpuasa? Dari abu Hurairah Ra, Nabi SAW bersabda, “Seandainya tidak memberatkan umatku niscaya akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap kalai berwudhu.” (HR. Bukhari) Dan hadits ini juga dikeluarkan juga oleh Ibnu Khuzaimah 1:73 dengan menggunakan sanad yang lebih lengkap sedangkan Syaikh Al Albani menegaskan kalau sanad di hadits ini shahih, dan terdapat juga beberapa hadits yang mengatakan tentang keutamaan untuk bersiwak yang menyatakan kalau bersiwak itu adalah mutlak dan diperbolehkan untuk dilakukan setiap saat (menurut penulis Tuhfatul Ahwadzi rahimahullah “tuhfatul ahwadzi, 3:488), namun beberapa ulama ada yang memakruhkan siwak basah seperti yang di katakan oleh ulama Asy-Sya’bi dan juga Malikiyah karena siwak basah itu memiliki rasa Sedangkan Imam Bukhari menyanggah pernyataan tersebut didalam kitab shahihnya (Ibnu Sirin mengatakan ‘tidak masalah menggunakan siwak basah’) dan sebagian ulama yang memberikan pernyataan kalau tidak boleh melakukan siwak basah diatas disanggah oleh Ibnu Sirin dan Beliau memberikan jawaban kalau Air itu juga memiliki rasa, namun masih diperbolehkan untuk kumur-kumur dengan menggunakan air Dan

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Ibnu ‘Umar memiliki pendapat, boleh menggunakan siwak basah ataupun siwak kering, dan pada intinya sebenarnya melakukan siwak basah itu masih diperbolehkan karena hal yang dikhawatirkan itu adanya sesuatu yang masuk lewat mulut, dan hal ini juga sama saja dengan berkumur pada saat puasa, apabila ada sesuatu yang basah yang berada di mulut kemudian dimuntahkan maka tidak akan merusak puasanya (Tuhfatul Ahwadzi, 3.488)

Hukum Sikat Gigi Ketika Puasa Dan apabila kita melihat dari penyataan beberapa ulama yang ada di masa silam , apabila anda melakukan sikat gigi ketika puasa itu tidak membatalkan puasa anda asalkan tidak terdapat sesuatu atau pasta gigi yang masik kedalam rongga mulut atau perut anda

Imam Nawawi Ra berkata :

“Jika seseorang bersiwak dengan siwak yang basah lantas cairan dari siwak tadi terpisah lalu tertelan, atau ada serpihan dari siwak yang ikut tertelan, puasanya batal.”

Sedangkan pendapat dari Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah pada saat ditanya tentang perkara menggunakan pasta gigi ketika sedang melakasanakan ibadah puasa beliau menjawab,”

Bila membersikah gigi dengan menggunakan pasta gigi itu tidak membatalkan puasa selama  bisa menjaga diri dari sesuatu yang bisa masuk ke dalam rongga perut” namun apabila tidak sengaja ada sesuatu yang masuk dalam rongga perut maka puasanya tidak akan batal,{ majmu’ Fatwa Ibnu Baz, 15:260, Di ambil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab no. 108014}

Sedangkan menurut Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-‘Utasumin Ra yang memberikan penjelasan kalau jauh lebih utama ketika anda berpuasa itu tidak menyikat gigi dengan menggunakan pasta gigi, karena sebenarnya waktu untuk bisa menyikat gigi itu masih banyak dan apabila ada orang yang menyikat giginya pada saat sudah berbuka puasa maka orang tersebut berarti sudah menjaga diri dari hal-hal yang bisa merusak puasanya { Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 17:261-262)

 

Hukum Berkumur-kumur Berkumur atau beristinsyaq (memasukkan air ke hidung) dalam berwudlu menurut 3 madzhab imam yaitu Imam Hanifah, Imam Malik, dan Imam Syafi’i hukumnya adalah sunnah. Sementara itu, Imam Ahmad menganggapnya sebagai bagian dari membasuh wajah, maka hukumnya fardlu. Lalu bagaimana hukumnya? Rasulullah SAW bersabda,

“Apabila engkau beristinyaq, maka bersungguh-sungguhlah kecuali jika engkau sedang berpuasa.” (HR. Syafi’i, Ahmad, Imam yang empat, dan Baihaqi) Berdasarkan hal tersebut, berkumur dan beristinsyaq saat berwudhu sebaiknya jangan ditinggalkan walaupun sedang berpuasa. Hanya saja, ketika kita berpuasa maka janganlah memasukkan air secara berlebihan hingga membasahi kerongkongan. Jadi, cukup hanya membasahi dalam mulut (saat berkumur) atau ujung hidung saja ketika beristinsyaq. Bagaimana jika tidak sengaja masuk ke kerongkongan? Puasa tetap sah. Hal ini sama juga dengan tanpa sengaja kemasukan debu, tepung, atau binatang kecil ke tenggorokannya. Semuanya merupakan ketidaksengajaan yang dimaafkan.

Demikianlah ulasan tentang menyikat gigi dan berkumur waktu berpuasa. Puasa tidak batal selama tidak berlebihan. Namun lebih baik apabila anda melakukan sikat gigi ini sebelum datangnnya Adzan Subuh atau melakukan sikat gigi setelah berbuka puasa.
BACAAN MADANI

Hukum Berpuasa dalam Keadaan Junub di Waktu Subuh

Junub secara etimologi adalah bermakna jauh. Adapun pengertian dalam istilah syar’i ialah terjauhkannya seseorang dari ibadah-ibadah tertentu, karena sebab keadaannya yang junub.

Sedangkan menurut Imam Nawawi rahimahullah, junub itu berarti keluarnya mani (sperma). Juga junub adalah istilah bagi yang melakukan hubungan intim, meski tidak sampai keluar mani (ejakulasi).

Disebut junub karena ia menjauh dari salat, menjauh dari masjid, menjauh dari membaca Alquran. Lalu bagaimana hukumnya orang berpuasa tapi masih junub di pagi hari?

Orang yang dalam keadaan junub, baik karena hubungan suami istri atau karena mimpi, sehingga kesiangan bangun tidur hingga telah masuk waktu shalat subuh, tetap wajib melaksanakan puasa Ramadhan. Meskipun dia masih dalam keadaan junub. Keadaannya itu tidak menghalanginya dari berpuasa. Sebab ibadah puasa itu pada hakikatnya tidak mensyaratkan kesucian seseorang dari hadats besar dan hadats kecil kecuali khusus untuk perempuan yang belum berhenti haidh dan nifasnya dimalam harinya. Ibadah puasa berbeda dengan ibadah shalat, tawaf dan lainnya yang mensyaratkan pelakunya harus suci dari hadats besar dan kecil.

Khatib Syarbaini mengatakan : “Dan jika suci perempuan yang berhaidh atau yang bernifas pada malam hari dan berniat puasa, seterusnya berpuasa atau berpuasa orang yang berjunub dengan tidak mandi terlebih dahulu, maka sah puasanya.” (Khatib Syarbaini, Mughni al- Muhtaj, Darul Fikri, Beirut, Juz. I, Hal. 436)

Firman Allah Swt : فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ “Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan mubasyaroh (basyiruhunna) dalam ayat di atas adalah jima’ atau hubungan intim.”

Dalam lanjutan ayat disebutkan “ikutilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kalian”. Jika jima’ itu dibolehkan hingga terbit fajar (waktu Subuh), maka tentu diduga ketika masuk Subuh masih dalam keadaan junub. Puasa ketika itu pun sah karena Allah perintahkan “sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam.”

Hadits Rasulullah Saw : Aisyah r.a. berkata : “Aku bersaksi bahwa Rasulullah Saw jika beliau bangun subuh dalam keadaan berjunub karena bersetubuh, bukan karena mimpi, maka kemudian beliau meneruskan puasanya.” (HR. Bukhari) Hadits Rasulullah Saw : “Rasulullah Saw pernah mendapati fajar pada bulan Ramadhan, sedangkan beliau dalam keadaan berjunub bukan karena mimpi, lalu beliau mandi dan kemudian melaksanakan puasa.” (HR. Muslim)

Namun, meskipun diperbolehkan mandi junub saat puasa, ulama’ menganjurkan (sunat) untuk melakukan mandi junub sebelum terbitnya fajar dengan tujuan :

1. Supaya kita mengerjakan ibadah puasa dalam keadaan suci dari hadats besar. 2. Apabila mandi junub dilaksanakan sesudah subuh, dikhawatirkan kemasukan air saat mandi,meskipun puasanya tidak batal selama masuknya air bukan karena ia mandi dengan cara masuk kedalam air ( inghimas ), jika masuknya air karena ia mandi dengan cara masuk ke air maka puasanya batal. Demikianlah sahabat bacaan madani ulasan tentang hukum orang yang berpuasa masih dalam keadaan junub. Mudah-mudahan diberikan kemudahan untuk kita melaksanakan mandi junub sebelum waktu subuh masuk, terutama di bulan Ramadhan ini.

Aamiin.

BACAAN MADANI

Metode Salat Malam dan Witir Ala Rasulullah

TARAWIH merupakan bentuk jamak dari kata tarwihah. Secara bahasa berarti jalsah (duduk). Kemudian perbuatan duduk pada bulan Ramadan setelah selesai salat malam 4 rakaat disebut tarwihah; karena dengan duduk itu orang-orang bisa beristirahat setelah lama melaksanakan qiyam Ramadan.

Menegakkan salat malam atau tahajud atau tarawih dan salat witir di bulan Ramadan merupakan amalan yang sunah. Bahkan orang yang menegakkan malam Ramadan dilandasi dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.

Sebagaimana dalam hadis sahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Siapapun yang menegakkan bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muslim 1266).

Pada asalnya salat sunah malam hari dan siang hari adalah satu kali salam setiap dua rakaat. Berdasarkan keterangan Ibnu Umar radhiyallahu anhu bahwa seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah shalat malam itu?”

Beliau menjawab:

“Dua rakaat dua rakaat. Apabila kamu khawatir mendapati subuh, maka hendaklah kamu salat witir satu rakaat.” (HR. Bukhari)

Dalam hadis Ibnu Umar radhiyallahu anhu yang lain dikatakan:

“Salat malam hari dan siang hari itu dua rakaat dua rakaat.” (HR Ibn Abi Syaibah) (At-Tamhiid, 5/251; Al-Hawadits, 140-143; Fathul Bari 4/250; Al-Muntaqo 4/49-51)

Maka jika ada dalil lain yang sahih yang menerangkan berbeda dengan tata cara yang asal (dasar) tersebut, maka kita mengikuti dalil yang sahih tersebut. Adapun jumlah rakaat salat malam atau salat tahajud atau salat tarawih dan witir yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah lebih dari 11 atau 13 rakaat.

Salat tarawih dianjurkan untuk dilakukan berjemaah di masjid karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga melakukan hal yang sama walaupun hanya beberapa hari saja. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis dari Numan bin Basyir rahimahullah, ia berkata:

“Kami melaksanakan qiyamul lail bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada malam 23 Ramadan sampai sepertiga malam. Kemudian kami salat lagi bersama beliau pada malam 25 Ramadan sampai separuh malam. Kemudian beliau memimpin lagi pada malam 27 Ramadan sampai kami menyangka tidak akan sempat mendapati sahur.” (HR. Nasai, Ahmad, Al-Hakim, Shahih).

Beserta sebuah hadis dari Abu Dzar radhiyallahu anhu dia berkata:

Kami puasa tetapi Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak memimpin kami untuk melakukan salat (tarawih) hingga Ramadan tinggal tujuh hari lagi, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengimami kami salat sampai lewat sepertiga malam. Kemudian beliau tidak keluar lagi pada malam ke enam (tinggal 6 hari lagi pent). Dan pada malam ke lima (tinggal 5 hari pent) beliau memimpin salat lagi sampai lewat separuh malam. Lalu kami berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Seandainya engkau menambah lagi untuk kami sisa malam kita ini?, maka beliau bersabda:

“Barang siapa salat tarawih bersama imam sampai selesai maka ditulis baginya salat malam semalam suntuk.”

Kemudian beliau tidak memimpin salat lagi hingga Ramadan tinggal tiga hari. Maka beliau memimpin kami shalat pada malam ketiga. Beliau mengajak keluarga dan istrinya. Beliau mengimami sampai kami khawatir tidak mendapatkan falah. Saya (perowi) bertanya apa itu falah? Dia (Abu Dzar) berkata sahur. (HR. Nasai, Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Daud, Ahmad, Shahih)

Hadis itu secara gamblang dan tegas menjelaskan bahwa salat berjemaah bersama imam dari awal sampai selesai itu sama dengan salat sendirian semalam suntuk. Hadis tersebut juga sebagai dalil dianjurkannya salat malam dengan berjemaah.

Bahkan diajurkan pula terhadap kaum perempuan untuk salat tarawih secara berjemaah, hal ini sebagaimana yang diperintahkan oleh khalifah Umar bin Khathab radhiyallahu anhu yaitu beliau memilih Ubay bin Kaab radhiyallahu anhu untuk menjadi imam untuk kaum lelaki dan memilih Sulaiman bin Abu Hatsmah radhiyallahu anhu untuk menjadi imam bagi kaum wanita.

Tata cara shalat malam

Perlu kita ketahui bahwa tata cara salat malam atau tarawih dan salat witir yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu ada beberapa macam. Dan tata cara tersebut sudah tercatat dalam buku-buku fikih dan hadis. Tata cara yang beragam tersebut semuanya pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu anhum. Semua tata cara tersebut adalah hukumnya sunah.

Maka sebagai perwujudan mencontoh dan mengikuti sunah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maka hendaklah kita terkadang melakukan cara ini dan terkadang melakukan cara itu, sehingga semua sunah akan dihidupkan. Kalau kita hanya memilih salah satu saja berarti kita mengamalkan satu sunah dan mematikan sunah yang lainnya. Kita juga tidak perlu membuat-buat tata cara baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam atau mengikuti tata cara yang tidak ada dalilnya.

Salat tarawih sebanyak 13 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  • Beliau membuka shalatnya dengan shalat 2 rakaat yang ringan.
  • Kemudian salat 2 rakaat dengan bacaan yang panjang.
  • Kemudian salat 2 rakaat dengan bacaan tiap rakaat yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya hingga rakaat ke-12.
  • Kemudian salat witir 1 rakaat.

Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Zaid bin Kholid al-Juhani, beliau berkata: “Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan salat malam, maka beliau memulai dengan salat 2 rakaat yang ringan, Kemudian beliau salat 2 rakaat dengan bacaan yang panjang sekali, kemudian salat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian salat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian salat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian salat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian salat witir 1 rakaat.” (HR. Muslim)

Faedah, hadits ini menjadi dalil bolehnya salat iftitah 2 rakaat sebelum salat tarawih.

Salat tarawih sebanyak 13 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

– Melakukan salat 8 rakaat dengan sekali salam setiap 2 rakaat.

– Kemudian melakukan salat witir langsung 5 rakaat sekali salam.

– Hal ini berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa melakukan tidur malam, maka apabila beliau bangun dari tidur langsung bersiwak kemudian berwudhu. Setelah itu beliau salat delapan rakaat dengan bersalam setiap 2 rakaat kemudian beliau melakukan salat witir lima rakaat yang tidak melakukan salam kecuali pada rakaat yang kelima.”

Salat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

Melakukan salat 10 rakaat dengan sekali salam setiap 2 rakaat.

Kemudian melakukan salat witir 1 rakaat.

Berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata:

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan salat malam atau tarawih setelah salat Isya Manusia menyebutnya salat Atamah hingga fajar sebanyak 11 rakaat. Beliau melakukan salam setiap dua rakaat dan beliau berwitir satu rakaat.” (HR. Muslim)

Salat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

Melakukan salat 8 rakaat dengan sekali salam setiap 4 rakaat.

Kemudian salat witir langsung 3 rakaat dengan sekali salam.

Berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata:

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menambah bilangan pada bulan Ramadan dan tidak pula pada bulan selain Ramadan dari 11 Rakaat. Beliau salat 4 rakaat sekali salam maka jangan ditanya tentang kebagusan dan panjangnya, kemudian salat 4 rakaat lagi sekali salam maka jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian salat witir 3 rakaat.” (HR Muslim)

Tambahan: Tidak ada duduk tahiyat awal pada salat tarawih maupun salat witir pada tata cara poin ini, karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut. Bahkan ada larangan menyerupai salat maghrib.

Salat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

Melakukan salat langsung sembilan rakaat yaitu salat langsung 8 rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat yang kedelapan tanpa salam kemudian berdiri 1 rakaat lagi kemudian salam.

Kemudian salat 2 rakaat dalam keadaan duduk.

Berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata:

“Kami dahulu biasa menyiapkan siwak dan air wudhu untuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, atas kehendak Allah beliau selalu bangun malam hari, lantas tatkala beliau bangun tidur langsung bersiwak kemudian berwudhu. Kemudian beliau melakukan salat malam atau tarawih 9 rakaat yang beliau tidak duduk kecuali pada rakaat yang kedelapan lantas membaca pujian kepada Allah dan selawat dan berdoa dan tidak salam, kemudian bangkit berdiri untuk rakaat yang kesembilan kemudian duduk tahiyat akhir dengan membaca zikir, pujian kepada Allah, selawat dan berdoa terus salam dengan suara yang didengar oleh kami. Kemudian beliau melakukan salat lagi 2 rakaat dalam keadaan duduk.” (HR. Muslim 1233 marfu, mutawatir). [muslimorid]

 

MOZAIK INILAHcom

Inilah Manajemen Ramadhan Ala Rasulullah

Agar Ramadhan menjadi bulan rahmat, ampunan dan keselamatan dari neraka maka momentum yang penuh berkah ini perlu dijadikan sebagai momentum Training Manajemen Syahwat, dan sekaligus menjadi Training Manajemen Ibadah. Inilah yang dilakukan Rasul Saw. Sebab itu, kita perlu menelusuri bagaimana Rasulullah Saw. dan generasi Islam pertama, generasi terbaik umat ini, menjalankan manajemen Ramadhan.

Untuk mendapatkan gambaran utuh dari manajamen Ramadhan Rasul Saw. ada empat  situasi yang perlu kita perhatikan. Pertama, sebelum memasuki Ramadhan. Kedua, saat memasuki Ramadhan. Ketiga, setelah memasuki Ramadhan. Keempat, ketika memasuki 10 hari terakhir.

Pertama, sebelum memasuki Ramadhan

Para Sahabat dan generasi setelah mereka (Tabi’in) selalu merindukan kedatangan Ramadhan. Mereka selalu berdoa agar diberi Allah kesempatan menemui Ramadhan sejak enam bulan sebelum Ramadhan tiba. Imam Malik, misalnya, sering minta izin pada Sahabatnya setelah pengajian untuk mempelajari bagaimana Sahabat memenej kehidupan ini, termasuk hal-hal yang terkait dengan Ramadhan mereka. Kendati Beliau tidak hidup bersama para Sahabat, namun Beliau mampu meneladani mereka melalui sejarah hidup mereka.

Ma’la Bin Fadhal berkata : Dulu Sahabat Rasul Saw. berdoa kepada Allah sejak enam bulan sebelum masuk Ramadhan agar Allah sampaikan umur mereka ke bulan yang penuh berkah itu. Kemudian selama enam bulan sejak Ramadhan berlalu, mereka berdoa agar Allah terima semua amal ibadah mereka di bulan itu. Di antara doa mereka ialah : Yaa Allah, sampaikan aku ke Ramadhan dalam keadaan selamat. Yaa Allah, selamatkan aku saat Ramadhan dan selamatkan amal ibadahku di dalamnya sehingga menjadi amal yang diterima.

Dari sikap dan doa yang mereka lakukan, jelas bagi kita bahwa para Sahabat dan generasi setelahnya sangat merindukan kedatangan Ramadhan. Mereka sangat berharap dapat menjumpai Ramadhan agar mereka meraih semua janji dan tawaran Allah dan Rasul-Nya dengan berbagai keistimewaan yang tidak terdapat di bulan-bulan lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa para Sahabat dan generasi setelahnya memahami dan yakin betul akan keistimewaan dan janji Allah dan Rasul-Nya yang amat luar biasa seperti rahmah (kasih sayang), maghfirah (ampunan) dan keselamatan dari api neraka. Inilah yang diungkapkan Imam Nawawi : Celakalah kaum Ramadhaniyyin. Mereka tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan. Sungguh Rasulullah, Sahabat dan generasi setelahnya mengenal Allah sejak jauh-jauh hari sebelum Ramadhan dan di bulan Ramadhan pengenalan kepada Allah lebih mereka tingkatkan.

Kedua, saat memasuki Ramadhan

Saat hilal muncul di ufuk pertanda Ramadhan tiba, Rasul dan para Sahabat melihat dan menyambutnya dengan suka cita sambil membacakan doa seperti yang diceritakan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dalam hadits berikut :

 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِصلى الله عليه وسلمإِذَا رَأَى الْهِلاَلَ قَالَ : اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِوَالتَّوْفِيقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى ، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ

Dari Ibnu Umar dia berkata : Bila Rasul Saw. melihat hilal (anak bulan) dia berkata : Allah Maha Besar. Ya Allah, jadikanlah hilal ini bagi kami membawa keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman dan taufik kepada yang dicintai Robb kami dan diridhai-Nya. Robb kami dan Robbmu (hilal) adalah Allah. (HR. Addaromi).

Itulah contoh nyata dari Rasul Saw. dan para Sahabat ketika meyambut kedatangan Ramadhan. Bukan dengan hiruk pikuk pawai di jalanan sambil keliling kota memukul beduk dan sebagainya. Tidak pula dengan pesta petasan yang jelas-jelas menimbulkan keributan dan mubazir. Bukan pula dengan ajang promosi produk dan iklan diri agar dikenal dan dipilih masyarakat untuk jadi pejabat. Namun, keyakinan, pikiran, perasaan, kerinduan dan hati mereka tertuju hanya pada kebesaran Ramadhan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Dengan harapan, jika amal ibadah Ramadhan dijalankan dengan ikhlas dan khusyu’, mereka akan meraih rahmat, ampunan dan terbebas dari api neraka. Ketiga nikmat itu tidak akan ternilai harganya bagi mereka dibandingkan dengan dunia dan seisinya. 

Ketiga, setelah memasuki Ramadhan

Apa yang dilakukan Rasul dan para Sahabat setelah memasuki Ramadhan? Setelah memasuki bulan Ramadhan, sejak hari pertama dan sampai hari terakhir, Rasulullah dan para Sahabat meningkatkan kemampuan menahan diri dari berbagai syahwat, seperti syahwat telinga, syahwat mata, syahwat lidah, syahwat perut (makan dan minum), syahwat kemaluan, syahwat cinta dunia, syahwat kesombongan dan berbagai syahwat yang memalingkan mereka dari mengingat dan mencintai Allah serta akhirat. Latihan mengendalikan dan menundukkan berbagai syahwat ini dilakukan sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari. Inilah inti shaum (puasa)  Ramadhan yang diwajibkan Allah.

Apakah setelah sepanjang hari bergulat dengan dorongan-dorongan berbagai syahwat tersebut malam harinya digunakan untuk istirahat, makan, minum dan sebagainya? Ternyata tidak. Di malam harinya Rasulullah dan para Sahabat memanfaatkannya untuk qiyam (berdiri beramal ibadah) seperti shalat taraweh, berzikir, membaca dan tadabbur Al-Qur’an dan berbagai ibadah lainnya. Artinya, selama Ramadhan, Rasul dan para Sahabat benar-benar menfokuskan diri bertaqorrub kepada Allah melalu training manajemen syahwat dan sekaligus training manajemen ibadah. Dua hal inilah yang harus dimiliki oleh setiap hamba yang ingin mendapat ridha Allah di dunia dan bertemu dengan-Nya di syurga.

‘Aisyah meriwayatkan : Rasulullah adalah orang yang paling dermawan. Di bulan Ramadhan Beliau lebih dermawan lagi ketika bertemu Jibril. Jibril menemui Beliau setiap malam Ramadhan untuk mengajarkan (mudarosah) Al-Qur’an. Sebab itu, kederwawanan Rasul Saw. di bulan Ramadhan lebih  kencang dari (tiupan) angin. (HR. Bukhari).

Inilah contoh nyata dari Rasul Saw. dan para Sahabat ketika mereka memasuki bulan Ramadhan. Hampir tak satupun syahwat yang tidak dapat mereka tundukkkan dan kendalikan dan tak satupun kebaikan dan amal sholeh yang mereka tinggalkan. Ramadhan benar-benar menjadi sistem penyeimbang dalam hidup ini sehingga mereka berhasil terbebas dari pengaruh syahwat buruk, karena merekalah yang mengendalikannya. Pada waktu yang sama, mereka berhasil meningkatkan kualitas diri dengan berbagai amal ibadah yang mereka lakukan dalam rangka taqorrub ilallah. Dengan demikian tercapai janji Rasul Saw. Siapa yang shaum (puasa) di bulan Ramadhan dan dia mengetahui aturannya (batas-batasnya), dia menjaga apa yang seharusnya dijaga maka akan dihapus dosa-dosa sebelumnya. (HR. Ahmad dan Baihaqi).

Keempat, ketika memasuki 10 hari terakhir Ramadhan

Jika kita teliti perilaku hidup Rasul Saw. dan para Sahabat di bulan Ramadhan, kita menemukan berbagai keajaiban. Di antaranya ialah, saat memasuki 10 hari terakhir Ramadhan. Apa yang mereka lakukan sangat kontras dengan apa yang terjadi di masyarakat Muslim hari ini. 10 Hari terakhir Ramadhan mereka habiskan di masjid, bukan di pasar, tempat kerja, di pabrik, kunjungan daerah dan sebagainya.

Menurut presepsi dan perilaku kebanyakan masyarakat Muslim Indonesia, 10 terakhir Ramadhan itu adalah kesempatan berbelanja untuk mempersiapkan keperluan lebaran dan pulang kampung, kendati mengakibatkan harga-harga semua barang naik dan membubung. Anehnya, mereka ikhlas dan tetap semangat berbelanja. Sebab itu, mereka meninggalkan masjid-masjid di malam hari dan tumpah ruah ke tempat-tempat perbelanjaan sejak dari yang tradisional sampai ke mall-mall moderen.

Lalu apa  yang terjadi? Berbagai syahwat cinta dunia tidak berhasil dikendalikan, dan bahkan cenderung dimanjakan di bulan yang seharusnya dikendalikan. Pada waktu yang sama, semangat beramal ibadahpun tidak terbangun dengan baik sehingga kehilangan banyak momentum dan keistimewaan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Coba bayangkan, terhadap janji Allah yang bernama Lailatul Qadr yang nilainya lebih baik dari 1.000 bulan saja belum tertarik? Jika tertarik, tentu mereka mengejarnya di masjid pada 10 hari terakhir Ramadhan dengan cara beri’tikaf di dalamnya secara penuh seperti yang dicontohkan Rasul Saw. Ini yang terjadi pada salah seorang teman ketika ditanya kenapa gak jadi i’tikaf? Dia katakan : saya sedang sibuk-sibuknya sosialisasi ke daerah. Lalu saya katakana : Mana yang lebih mahal menurut Rasulullah, i’tikaf di masjid 10 hari terakhir Ramadhan atau sosialiasi pencalegan Anda? Kemudian Anda bisa jamin umur Anda akan sampai pada 10 terakhir Ramadhan yang akan datang? Sungguh terkadang kita berlagak seakan lebih pintar, lebih hebat dan lebih sibuk berjuang dari Rasul Saw.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari, Abu Daud dan Ibnu Majah bahwa Rasul Saw. beri’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan. Pada tahun terakhir berjumpa Ramadhan, Beliau i’tikaf selama 20 hari. Kebiasaan I’tikaf ini diteruskan oleh para Sahabat dan istri-istrinya setelah peninggalan Beliau.

Pertanyaannya adalah : Bukankah Rasulullah orang yang paling sibuk berdakwah dan mengurusi umatnya? Bukankah para Sahabat orang yang  paling giat berdakwah dan berjihad di jalan Allah? Lalu, kenapa mereka bisa melaksanakan i’tikaf pada 10 terakhir Ramadhan? Jawabanya ialah : itulah jalan yang harus ditempuh sebagai bagian dari sistem Allah yang menyampaikan hamba-Nya ke tingkat taqwa, tak terkecuali Rasulullah dan para Sahabatnya. Lalu bagaimana dengan kita? Sudah pasti jalannya sama jika menginginkan sampai ke peringkat yang sama pula (taqwa).

 

Oleh : Ustadz Fatuddin Jaffar

ERA MUSLIM

Siapakah yang Paling Banyak Pahalanya dalam Berpuasa?

Siapakah yang paling banyak pahalanya dalam berpuasa? Masya Allah…

عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ فَقَالَ: أَيُّ الْجِهَادِ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: ” أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا ” قَالَ: فَأَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: ” أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا “، ثُمَّ ذَكَرَ لَنَا الصَّلَاةَ، وَالزَّكَاةَ، وَالْحَجَّ، وَالصَّدَقَةَ كُلُّ ذَلِكَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا ” فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ لِعُمَرَ: يَا أَبَا حَفْصٍ ذَهَبَ الذَّاكِرُونَ بِكُلِّ خَيْرٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَجَلْ “.
رواه الإمام أحمد في المسند رقم: 15614 ط/ مؤسسة الرسالة.

Sahl Bin Mu’adz meriwayatkan dari ayahnya beliau berkata: Sesungguhnya ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam seraya berkata: apakah jihad yang paling besar/banyak pahalanya? Beliau menjawab: Mereka yang paling banyak dzikirnya kepada Allah. Ia bertanya lagi: siapakah orang yang berpuasa yang paling besar/banyak pahalanya? Beliau menjawab: Mereka yang paling banyak dzikirnya kepada Allah. Kemudia ia bertanya tentang shalat, zakat, haji dan shadaqah (siapakah yang paling besar pahalanya?), semuanya dijawab oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dengan jawaban: Mereka yang paling banyak dzikirnya kepada Allah.
Lalu Abu Bakr berkata kepada Umar: Wahai Abu Hafsh, sungguh orang yang (banyak) berdzikir telah pergi membawa seluruh kebaikan, maka Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam berkata: ya benar”.
H. R Ahmad dalam Musnad, no. 15614 Cet. Muassasah Ar-Risalah.

Dari hadits diatas jelaslah bahwa orang yang paling utama dan paling besar/ banyak pahalanya dalam perpuasa adalah orang yang paling banyak dzikirnya kepada Allah dalam setiap kesempatan dan keadaan.

Oleh karena itu terdapat dalam al qur’an dan hadits perintah untuk bayak berdzikir dipagi dan petang hari serta dalam setiap kondisi dan keadaan, bahkan tidak terdapat didalam al qur’an perintah untuk banyak beribadah selain dzikir kepada Allah, hal ini menunjukan akan keagungan dzikir dan besar pahalanya disisi Allah Ta’ala.

قال تعالى: (والذاكرين الله كثيرا والذاكرات أعد الله لهم مغفرة وأجرا عظيما) . الأحزاب: 35.

“Dan orang yang banyak berdzikir kepada Allah dari kalangan lelaki dan wanita, Allah janjikan bagi mereka keampunan dan pahala yang agung/besar”.

قال تعالى: (يا أيها الذين آمنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا وسبحوه بكرة وأصيلا). الأحزاب: 41-42.

“Wahai orang orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan banyak, dan bertasbihlah kepadanya dipagi dan petang”

قالت عائشة رضي الله عنها: (كان النبي صلى الله عليه وسلم يذكر الله في كل أحيانه) رواه مسلم.

Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan: “Nabi shalallahu’alaihi wasallam selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap waktu”. H. R Muslim, no. 373.

Oleh Karena itu gunakanlah lisan kita untuk selalau banyak menyebut Allah dan dzikir kepadaNya, terutama dalam ibadah kita, dan secara khusus puasa yang akan kita laksanakan dibulan Ramdhan yang penuh berkah.

Semoga Allah memberikan pertolonganNya kepada kita dalam berdzikir, bersyukur dan melakukan ibadah yang berkualitas.

“اللهم أعنا على ذكرك، وشكرك، وحسن عبادتك”.

“Ya Allah, berilah kami pertolongan untuk berdzikir kepadaMu, mensyukuri nikmatMu dan melakukan ibadah yang terbaik kepadaMu”

 

Ditulis oleh: Muhammad Nur Ihsan, Hafidzahullah.

ERA MUSLIM

Kreativitas Ramadhan

The power of Ramadhan betul-betul faktual bagi umat Islam. Dilihat dari sudut pandang dan dimensi kehidupan apa pun, Ramadhan memberikan arti penting bagi umat Islam. Puncak-puncak prestasi peradaban dan kebudayaan dunia Islam hampir semua terjadi di dalam bulan suci ini.

Bulan Ramadhan bagaikan memiliki kreativitas secara khusus bagi umat Islam. Pantas kalau seluruh umat Islam selalu mendambakan kehadiran Ramadhan di dalam menjalani perjalan hidupnya. Nabi pun mengajarkan doa, “Allahumma balligh wa barik lana Ramadhan” (Ya Allah sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan dan berkahilah kami di dalamnya).

Bulan Ramadhan menjadi penting bukan hanya karena di dalamnya ada rukun Islam berupa puasa dan zakat atau banyaknya ibadah-ibadah sunah yang amat istimewa yang hanya ada di dalamnya. Tetapi juga, fenomena Ramadhan juga terasa di dalam dunia ekonomi seperti geliat dinamika perkembangan pasar, mobilitas vertikal masyarakat dengan segala dampaknya, seperti kemacetan di jalan raya, kepesatan di bandara dan pelabuhan.

Bulan Ramadhan betul-betul berjumpa antara kesemarakan (scope) dan pendalaman (force) agama. Aspek kesemarakan dapat disaksikan bagaimana misalnya media massa secara spektakuler mengoptimalkan acara-acaranya selama 24 jam. Seolah-olah tidak ada selebriti yang menganggur pada bulan Ramadhan.

Konon, media-media publik meraup keuntungan berlipat ganda melalui iklan di dalam bulan Ramadhan. Hotel-hotel dan mal-mal didekorasi secara Islami. Aspek pendalaman dapat disaksikan dengan maraknya iktikaf di berbagai mesjid, kajian-kajian intensif untuk mendalami ajaran Islam semakin tumbuh dan berkembang, bukan hanya di dalam kampus, masjid/mushala dengan pesantren kilatnya, tetapi juga kantor-kantor dan acara buka puasa yang diisi dengan pendalaman agama.

Ternyata peristiwa-peristiwa paling monumental dalam dunia Islam banyak sekali terjadi pada bulan suci Ramadhan. Di antara peristiwa-peristiwa tersebut ialah pertama kali turunnya ayat suci Alquran sekaligus menandai pelantikan Muhammad SAW sebagai Nabi. Kemenangan besar pasukan Rasulullah di dalam Perang Badr yang bersejarah itu, bertepatan pada 17 Maret 624 M atau 17 Ramadhan tahun ketujuh H.

Perebutan kembali Kota Makkah (Fathu Makkah) juga berlangsung pada bulan Ramadhan 8 H, dan setahun kemudian berlangsung Perjanjian Tsaqif yang monumental itu. Peristiwa lainnya adalah Diplomasi Qadasiayah yang membawa keuntungan besar bagi umat Islam yang terjadi dalam Ramadhan 15 H.

Penaklukan Rodesia berlangung pada Ramadhan 53 H, Perang Andalusia Spanyol (Ramadhan 91 H), penaklukan Kota Spanyol (Ramadhan 92 H), serta runtuhnya Daulat Bani Umayyah yang dinilai sudah banyak korup digantikan rezim baru Bani Abbasiyah (Ramadhan 132 H). Kejadian lainnya adalah Pemisahan diri Mesir dari Dinasti Abbasiyah (Ramadhan 253 H), pendirian Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir, Universitas tertua di dunia (Ramadhan 361 H) oleh Dinasti Fatimiyah (Syi’ah).

Salahuddin al-Ayyubi juga menghalau pasukan Salib dan merebut Kota Surya pada Ramadhan 584 H, Pasukan Salib dikalahkan di Baibars (Ramadhan 675 H), dan beberapa negara Islam memperoleh kemerdekaan dari penjajah dalam bulan Ramadhan, termasuk Negara Republik Indonesia. Sejumlah pusat kerajaan lokal di kepulauan nusantara menyerah kepada sistem pemerintahan yang bercorak Islam (Sulthan), termasuk di antaranya Kerajaan Bone Sulawesi Selatan, kerajaan terakhir di kawasan timur Indonesia menyerah ke pemerintahan baru bercorak yang Islam juga pada Ramadhan.

Peristiwa demi peristiwa yang menakjubkan di atas tentu bukan hanya terjadi pada masa lampau, tetapi juga akan terjadi pada diri kita. Insya Allah, kita memasuki bulan Ramadhan, semoga kreativitas dan kualitas Ramadhan kita kali ini jauh lebih baik daripada sebelumnya.

 

Oleh: Prof. Nasarudin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal

REPUBLIKA

Segala Amal akan Digandakan di Bulan Suci Ramadhan

Sangatlah beralasan bila sebagai umat Islam,  kita sepatutnya bersyukur karena dipertemukan kembali dengan Bulan Suci Ramadhan. Mengapa? Karena segala perbuatan baik yag kita lakukan, nilainya akan berlipat ganda, dan tentu saja ini kesempatan bagi kita untuk mengumpukan pahala sebanyak-banyaknya.

Hal ini seperti dinyatakan dalam salah satu satu hadits:

عَنْ سَلْمَان الفَارِسِيdمَرْفُوعاً : مَنْ تَطَوَّعَ فيِ شَهْرِ رَمَضَان بِخَصْلَةٍ مِنْ خِصَالِ الخَيْرِكَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاُه، وَمَنْ أَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ

Dari Salman Al-Farisy radhiyallahu ‘anhu yg diriwayatkan secara marfu’, “Siapa yg mengerjakan amal sunnah meski kecil, sama seperti orang yg mengerjakan amal fardhu. Siapa yg mengerjakan amal fardhu, seperti mengerjakan 70 amal fardhu.”(Hadis Riwayat: Al-Baihaqi)

عَنْ أَنَسٍ  مَرْفُوعاً: أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فيِ رَمَضَان

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yg diriwayatkan secara marfu’, “Sedekah yg paling afdhal adalah yang diberikan di bulan Ramadhan.” (HR Tirmizy)

Kesempatan beramal kecil tapi diganjar dengan pahala yg besar, tentu saja jarang-jarang terjadi. Karena itu, Bulan Ramadhan ini ibarat bulan diskon gede-gedean?

Bagaimana mungkin kita tidak bergembira?

Menag: Mari Menghayati Esensi dari Bulan Ramadhan

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin telah menetapkan umat Islam akan mulai menjadi ibadah puasa Ramadhan pada Sabtu (27/5) besok. Karena itu, Menteri Lukman mengimbau agar umat Islam benar-benar menghayati bulan yang penuh rahmat dan ampunan tersebut.

“Ya sekali lagi kami mengimbau semua kita agar betul-betul menghayati, memahami makna esensi dari Ramadhan. Ramadhan adalah selain bulan suci yang senantiasa kita jaga kesuciannya, Ramadhan juga bulan muhasabah,” ujarnya kepada wartawan usai menggelar konferensi pers Sidang Itsbat di Gedung Kemenag, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (25/5).

Menurut dia, Bulan Ramadhan merupakan tempat bagi umat Islam untuk melakukan evaluasi dan instrospeksi diri, khususnya dalam melihat keberagaman sehingga bisa menebarkan kemaslahatan antar umat beragama, saling melindungi, dan saling menjaga harkat, derajat, dan martabat antar sesama.

“Karenanya, mudah-mudahan di Ramadhan ini kita melakukan introspeksi lalu kemudian berbenah diri memperbaiki cara keberagamaan kita sehingga semakin berkualitas,” ucapnya.

Selain itu, Menteri Lukman juga mengucapkan selamat kepada umat Islam yang akan menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh. “Saya mengucapkan selamat kepada umat muslim di Indonesia menjalani Ramadhan. Semoga kita penuh sebulan Ramadhan menjalani Ramadhan ini sehingga pada ujungnya nanti kita kembali kepada kefitrian kita. Kita betul-betul kembali suci, kembali ke jati diri kemanusiaan kita,” kata Menteri Lukman.

 

REPUBLIKA

Maafkan Aku Ya Ramadhan

Ramadhan telah tiba. Kita selalu menantinya karena bulan ini amat istimewa. Berkah bertabur setiap harinya. Waktu demi waktunya menawarkan harapan tak terperikan.

Sepanjang siang dan malamnya terdapat pembebasan dari api neraka dan doa yang akan dikabulkan. Belum lagi ada Lailatul Qadar, malam yang lebih mulia daripada seribu bulan. Pada malam itu maghfirah turun melimpah dan pahala amal dilipatgandakan tercurah ruah.

Kita lantas menyambutnya dengan ucapan yang terus berulang: “Marhaban Ya Ramadhan”. Bahkan, jauh hari sebelumnya kita pun memanjatkan doa: “Ya Allah pertemukanlah aku dengan Ramadhan. Jadikan amal ibadahku pada bulan ini diterima di sisi-Mu.”

Namun, benarkah kita sungguh siap menyambut Ramadhan? Nyatanya, setiap kali ia hadir terkadang kita masih ribet dengan urusan sana-sini. Sibuk dengan berbagai rutinitas seolah tiada beda dengan bulan-bulan yang lain. Ribut dengan sesama sampai lupa bahwa kita perlu berjeda. Sampai titik ini, kita sesungguhnya mengucapkan, “Maafkan aku Ya Ramadhan. Aku tak sempat menyambutmu.”

Kalaupun ada penyesuaian kegiatan bernuansa Ramadhan, tetap saja miskin dari orientasi ukhrawi. Silaturahim rajin dilaksanakan lebih demi menjaga relasi. Buka puasa bersama digelar untuk ajang berbincang duniawi. Shalat Tarawih hanya dijalankan dalam bilangan hari. Selebihnya, tenggelam dalam hiruk pikuk menyongsong Idul Fitri.

Begitu Ramadhan pergi, tak kunjung tampak perbaikan diri. Lagi-lagi, terpaksa keluar kata, “Maafkan aku wahai Ramadhan. Kehadiranmu tak kusadari.”

Padahal, Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memperbaiki diri. Allah SWT mewajibkan kaum beriman untuk berpuasa agar mereka dapat berubah jadi lebih baik. Tersirat dari makna surah al-Baqarah 183-186, setidaknya ada tiga kinerja kaum beriman yang dapat dicapai melalui puasa. Yaitu, menjadi orang yang bertakwa, hidup penuh rasa syukur, dan tetap setia dalam kebenaran.

Ramadhan adalah bulan introspeksi. Saat tepat untuk mengevaluasi perjalanan hidup selama 11 bulan yang dijalani. Marilah kita mulai hal itu dengan sederet pertanyaan. Sudahkah kita beragama dengan baik dan benar? Baik dalam arti menjadikan agama sebagai jalan meniti kebaikan serta menabur kebajikan. Benar dalam arti tidak menyimpang dari sumber-sumber pokok ajaran agama. Atau kita menyelewengkan simbol agama untuk tujuan tak mulia?

Sepanjang tahun, esensi agama—yakni memanusiakan manusia—mungkin sering kita lupakan. Maka, pada momen ini kita kembali bertanya pada diri sendiri. Apakah dalam menjalankan ajaran Islam, kita telah benar-benar dalam rangka menebarkan rahmat bagi alam semesta?

Apakah kita telah dan akan terus berupaya melindungi dan menjaga harkat, derajat, dan martabat kemanusiaan sesama kita dalam beragama? Ataukah dalam berislam, kita justru telah merendahkan atau bahkan meniadakan sisi-sisi kemanusiaan kita sendiri. Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan sampai mana kita mampu kembali ke jati diri kemanusiaan yang suci. Sejauh mana kita mampu meneladani Sang Nabi, sosok paling manusiawi di muka bumi.

Ramadhan kali ini kita memang perlu lebih banyak bertanya agar tak salah langkah dalam berpuasa. Puasa kita bakal sia-sia jika hanya menahan mulut dari makan dan minum semata. Puasa harus pula mencegah diri dari perbuatan maksiat dan perkataan hina. Sembari membersihkan diri, marilah kita hindari informasi hoaks, kebohongan, fitnah, caci maki, provokasi, dan sejenisnya yang dapat menodai kemuliaan bulan suci.

Sebaliknya, marilah kita memperkuat iman disertai kesadaran tentang makna kemanusiaan. Marilah merajut kembali persaudaraan dan persahabatan agar sadar bahwa kita tidak sendirian hidup di dunia. Semoga dengan cara ini, dosa-dosa kita diampuni dan negeri ini diberkahi.

Selamat bermuhasabah dan beribadah di bulan yang penuh maghfirah. Jangan sampai ketika ia telanjur pergi, kita lagi-lagi tak sanggup membendung kata, “Maafkan aku Ya Ramadhan”.

 

Oleh: Lukman Hakim Saifuddin,

Menteri Agama RI

 

REPUBLIKA

Berlomba-lomba Berebut Keutamaan Ramadhan

Dalam hitungan hari, umat Islam di dunia akan kedatangan bulan penuh rahmat dan ampunan. Dalam momentum Ramadhan, semua Muslim akan melaksanakan ibadah puasa satu bulan penuh. Di bulan ini pula menjadi waktu yang tepat memperbanyak ibadah.

Ustaz Oemar Mita menjelaskan tentang pentingnya menyambut Ramadhan dengan sungguh-sungguh. Sebab, Ramadhan merupakan bulan paling istimewa di antara 12 bulan. Untuk itu, Ustaz Oemar mengajak umat Islam mempersiapkan diri dengan maksimal. Itu disampaikan Ustaz Oemar dalam kajian Keislaman Alumni Lintas Angkatan SMA 70, Ghiroh 70, Bulungan, Keboyaran Baru, Jakarta Selatan, Ahad (14/5). Puluhan jamaah yang hadir cukup antusias mengikuti ceramah dari Ustaz Oemar.

“Ramadhan tidak pernah sama dengan bulan yang lain. Ramadhan keutamaannya sangat besar sebagaimana bulan purnama,” ujar Ustaz Oemar di Masjid SMA 70, Jakarta, Ahad (14/5). Menurut dia, Ramadhan menjadi indikator kebaikan seseorang, baik sebelum maupun setelah bulan suci tersebut. Orang yang mendapatkan keutamaan Ramadhan akan memperoleh kebaikan setelahnya.

Sebaliknya, jika seseorang tidak mendapatkan keutamaan Ramadhan maka dia akan gagal pada kehidupan selanjutnya. Artinya, Ustaz Oemar menegaskan, ibadah yang dilakukan selama Ramadhan mengalami kegagalan. Ustaz Oemar menambahkan, kegagalan mendapatkan keutamaan Ramadhan juga tidak lepas dengan perbuatan sebelum Ramadhan. Misalnya, mereka banyak melakukan larangan Allah SWT atau sering menjauh terhadap perintah-Nya. “Mengenal Allah jangan hanya di bulan Ramadhan saja,” kata Ustaz Oemar.

Persiapan maksimal, kata Ustaz Oemar, merupakan hal wajib dilakukan guna mendapatkan keutamaan Ramadhan serta dampaknya ke kehidupan setelahnya. Pada bulan tersebut diimbau agar lebih khusyuk melaksanakan ibadah.

Ustaz Oemar menuturkan, sahabat mempersiapkan puasa enam bulan sebelum bulan tersebut tiba. Mereka memperbanyak berdoa kepada Allah SWT atas dosa yang dilakukannya. Selain iu, mereka juga berdoa agar dimampukan menjalankan ibadah dalam bulan tersebut. Persiapan panjang yang dilakukan sahabat, menurut Ustaz Oemar, menandakan Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa. Ramadhan dapat menjadi musim panen pahala bagi orang-orang yang bertakwa. Di samping itu, persiapan tersebut juga dilakukan karena mereka mengerti tentang keutamaan Ramadhan.

Namun, Ustaz Oemar menilai, umat Islam saat ini lebih banyak yang kurang paham tentang keutamaan Ramadhan. Akibatnya, mereka menyambut Ramadhan hanya sebatas rutinitas yang wajib dilakukan setiap tahun. “Mengapa mereka mempersiapkan Ramadhan ala kadarnya? Karena tidak paham keutamaan Ramadhan,” ucap Ustaz Oemar.

Menurut Ustaz Oemar, setidaknya ada dua hal keutamaan Ramadhan yang akan didapatkan oleh umat Islam, antara lain, Allah akan melipatgandakan pahala pada setiap amal yang dikerjakan di bulan tersebut. Saking besar pahalanya, kata Ustaz Oemar, Allah tidak menjelaskan detil pahala yang akan diberikan pada setiap amal.

Itu berbeda dengan amal lainnya yang dijelaskan oleh Allah tentang besaran pahala yang diberikan. Maka dari itu, Ramadhan merupakan bulan panen pahala jika mampu dimanfaatkan dengan baik. Keutamaan lainnya, Ramadhan merupakan waktu tepat melakukan pertobatan. Ustaz Oemar menganjurkan agar bertobat saat Ramadhan disertai dengan memperbanyak sedekah.

Kendati demikian, keutamaan Ramadhan tidak mudah diraih oleh setiap Muslim. Hal tersebut, menurut Ustaz Oemar, juga pernah dikatakan oleh Rasulullah SAW. Banyak Muslim yang gagal melaksanakan ibadah pada bulan tersebut. Kegagalan tersebut disebabkan oleh kualitas puasa yang rendah. “Kualitas Ramadhan tidak berbanding lurus dengan kuantitas. Belum tentu berdampak ke ketakwaan. Padahal, kalau Ramadhan diterima, itu obat,” jelasnya.

Untuk itu, Ustaz Oemar menegaskan, persiapan menyambut Ramadhan sangat penting. Seperti, memperbanyak istigfar serta memaksimalkan tobat. Apabila hal tersebut tidak dilakukan, diyakini tidak akan menikmati Ramadhan. “Karena dosa menjadikan kenikmatan Ramadhan hilang,” Ustaz Oemar menambahkan.

Kemudian, lanjutnya, umat Islam pun  mempersiapkan ilmu dan harta dalam menyambut Ramadhan. Harta tersebut diimbau untuk digunakan beribadah, seperti memperbanyak sedekah. Yusuf, salah seorang jamaah, mengatakan, kajian tersebut sangat bermanfaat kepada dirinya. Sebab, Yusuf merasa ibadah puasa yang dilakukan setiap tahun belum maksimal. Dari kajian ini, Yusuf berharap mendapatkan ilmu tentang Ramadhan.

“Ya, harapannya bermanfaat buat saya,” ujar Yusuf kepada Republika.co.id.

Harapan sama juga disampaikan Amir. Persiapan menyambut Ramadhan harus dipersiapkan dengan matang. Tujuannya, supaya mendapatkan pahala maksimal ketika menjalankan ibadah. Amir tidak menginginkan ibadah puasa hanya sebatas aktivitas rutin yang wajib dilakukan selaku umat Islam. Amir berharap, bisa lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. “Mudah-mudahan, bisa lebih baik lagi, banyak khatam Alquran,” tegasnya.

 

REPUBLIKA

 

 

TIPS:

Anda pun bisa mendapatkan artikel seputar RAMADHAN lainnya, silakan isi kolom pencarian dg keyword: ramadhan, manfaat ramadhan, atau keistimewaan ramadhan