Renungan Ajal

Kematian identik dengan ajal sementara sebagian manusia jika mendengar kata ajal masih merasa belum siap dan punya perasaan takut. Alasan mereka bervariasi, masih banyak dosa, belum punya bekal, anak-anak masih kecil-kecil, dan berbagai argumentasi lainnya.

Allah SWT menegaskan, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS 21:35).

Rahasia Allah yang tidak semua makhluk bernyawa mengetahuinya adalah kematian. Sebab, kematian merupakan salah satu hak prerogatif Allah semata. Bila Allah berkehendak kematian seseorang telah tiba, tak seorang pun yang bisa menolak atau minta ditangguhkan barang sesaat pun. Allah SWT berfirman dalam Alquran (QS 15: 5): “Tidak ada satu umat pun yang dapat mendahului ajalnya dan tidak (pula) dapat mengundurkan (nya).”

Gemerlapnya dunia sering kali menggoda dan melalaikan manusia untuk mengingat mati. Maka, tak ayal lagi, akan lahir sosok manusia berperilaku hewaniyah, menghalalkan berbagai cara untuk memuaskan nafsu syahwatnya-termasuk korupsi, kolusi, dan nepotisme-yang cukup merugikan dirinya dan orang lain. Sogok-menyogok, suap-menyuap menjadi santapan rutinitas kesehariannya karena hanya mengejar kepuasan sesaat.

Pada era global ini, keberadaan fasilitas yang maju dan modern juga ikut andil bagi manusia untuk semakin jauh dari tujuan diciptakannya. Allah berfirman: “Bermegah-megahan (dalam soal banyak anak, harta, pangkat, pengikut, dan kemuliaan) telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatan itu) dan janganlah begitu kelak kamu akan mengetahui.” (QS 108: 1-4).

Yang mengherankan, toh masih banyak manusia yang tidak segera sadar bahwa waktu dan kesempatan yang telah berlalu adalah langkah pasti menuju ketentuan Allah, yakni kematian. Karena tidak disadari kedatangannya, sering kali kematian dianggap terlalu cepat, mendadak, dan di luar perkiraan. Tidak sedikit manusia yang ketika dicabut nyawanya sedang dalam kondisi “mabuk kepayang terhadap kenikmatan dunia”, misalnya, sedang berbuat zina, mencuri, mabuk, berjudi, dan perbuatan dosa lainnya. Ini semua bisa terjadi lantaran manusia sudah tidak ingat lagi kepada kematian.

Padahal, dengan datangnya kematian maka tidak ada artinya lagi isi dunia ini. Sebab, kematian berarti berhentinya segala nikmat yang pernah atau sedang dirasakan manusia dan terpisahnya manusia dengan anak, keluarga, pangkat, harta, dan segala apa yang ada di dunia ini.

Karena itu, alangkah baiknya bila kematian-baik saudara, anak, tetangga, atau teman, dan bahkan orang lain pun-bisa dijadikan sebagai renungan yang jitu hingga manusia tidak lupa diri terhadap hak dirinya dan hak kepada penciptanya.

Orang bijak mengatakan, “Sering-seringlah kamu takziah karena dengannya akan mengingatkan diri kamu akan kematian.”

Dan di bulan Syawal ini, sudah selayaknya bagi kita untuk lebih mawas diri dengan meningkatkan ibadah kita kepada Allah, dalam rangka menyambut kedatangan tamu Allah, yakni kematian. Ibadah shalat, puasa, silaturahim, infak, dan sedekah kita perlu dipercantik dan ditingkatkan kualitasnya. Harapannya, jika suatu saat Allah memanggil kita, insya Allah kita telah siap. Inilah harapan setiap insan Muslim. Wallahu a’lam.

 

Oleh: Hasan Basrie Alcaff

sumber: Republika Online