10 Perintah Allah SWT Agar Kita Dimudahkan Rezeki dan Diberkahi

Kalau disebut kata rezeki biasanya kita memahami dalam hal-hal materi saja lebih khususnya adalah uang akan tetapi kalau kita renungkan rezeki itu bisa berupa macam-macam.

Kesehatan, istri yang shalihah, anak yang shalih & shalihah, teman yang baik itu semua adalah rezeki yang diberikan Allah kepada kita semua.

Kemudian pemahaman kita tentang kaya itu adalah orang yang banyak duitnya, punya mobil mewah, rumahnya megah dan lain sebagainya, akan tetapi orang kaya yang mana bahasa arabnya adalah Ghaniy artinya adalah orang yang tidak membutuhkan dalam artian orang yang merasa cukup dengan pemberian Allah.

Ada beberapa hal yang Allah perintahkan kepada kita guna dimudahkan rezeki dan diberkahi.

Disamping usaha secara dhahir atau bekerja maka ada beberapa usaha secarabatin atau wasa’il batiniyah. Diantaranya adalah

1. Taqwa

Mari kita simak firman Allah berikut,

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Athalak 2-3)

Dalam ayat ini ada dua hal yang dijanjikan oleh Allah yang pertama akan diberikan jalan keluar yang kedua diberi rezeki tanpa disangka-sangka. sebaliknya orang yang tidak bertaqwa akan selalu diberikan masalah yang sulit& akan di cegah keberkahan rezekinya sampai betul-betul insyaf dari kesalahanya dan kembali melanggengkan keta’atan kepada Allah swt.

2. Istighfar dan Taubat

Coba kita renungkan firman Allah dalam surat Nuh,

“Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,. dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai…”(Nuh 10-12)

Ayat ini sebetulnya ada korelasinya dengan ayat AThalaq tadi jika tadi orang yang tidak bertaqwa akan di berikan masalah dan dicegah rezekinya maka ketika beristighfar dan bertaubat maka Allah akan membuka kembali pintu rezekinya. Sayid Qutub berkata : Allah menyandingkan kata rezeki dengan istighfar ini banyak ayat dalam Al-Qur’an.

3. Syukur terhadap nikmat Allah

Hal ini juga telah dijelaskan dalam Al-qur’an,

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“.(Ibrahim :7)

Cara bersyukur ini dilakukan dengan tiga cara yang pertama syukur dengan lisan (Asyukru billisan) dengan mengucapkan kalimat-kalimat yang baik yang mencerminkan rasa syukur kita terhadap Allah swt seperti Alhamdulillahirabbil alamin. Yang kedua sukur dengan hati atau (Assyukru bilqolb) yaitu dengan meyakini dalam hati bahwa kenikmatan yang diberikan kepada kita apapun bentuk dan jumlahnya berasal dari Allah swt bukan semata-mata kerja keras kita. Kemudian yang ketiga syukur dengan anggota badan atau (Asyukru bil jawarih) yaitu bersyukur dengan anggota badan dalam arti menggunakan kenikmatan-kenikmatan yang diberi Allah swt dalam rangka melakukan ketaatan atau ketika diberi rezeki semakin melakukan keta’atan kepadaNya.

4. Ikhraju Shodaqoh (Mengeluarkan sedekah)

Adapun dalam al-quran yang menyatakan bahwa dengan sedekah akan melipatgandakan rezeki kita sangat banyak sekali diantaranya,

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (saba’ : 39)

Dalam ayat lain Allah berfirman

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.(Al-Baqarah : 261)

Rasul menegaskan kembali : sedekah dengan harta tidak akan menambah rezeki berkurang.

5. Sholat Dhuha

Salah satu hadist Rasul yang menjelaskan hal ini,

”Rosulullah SAW bersabda: ”Allah berfirman, wahai anak adam,janganlah sekali- kali engkau malas melakukan sholat 4 rakaat pada pagi hari (sholat dhuha) karena akan kucukupi kebutuhanmu hingga sore hari”(HR.Tirmidzi)

Dalam hadist muslim juga telah dijelaskan, Rasulullah saw bersabda: “Setiap pagi setiap persendian salah seorang diantara kalian harus (membayar) sadhaqah, maka setiap tasbih adalah sadhaqah, setiap tahmid adalah sadhaqah, setiap tahlil adalah sadhaqah, setiap takbir adalah sadhaqah, amar ma’ruf adalah sadhaqah, mencegah kemungkaran adalah sadhaqah, tetapi dua raka’at dhuha sudah mencukupi semua hal tersebut.” (HR Muslim).

6. Membantu hajatnya orang lain

Sebagaimana sabda Rasulullah saw,

“Barang siapa yang membantu hajat saudaranya maka Allah akan membantu hajatnya”

Dalam hadist lain,

“Dan barang siapa memudahkan memudahkan orang yang susah maka akan dimudahkan oleh Allah di dunia dan akherat, dan Allah akan menaungi seseorang hamba yang selalu memberi naungan kepada saudaranya.”

7. Menikah dan beranak-pinak

Hal ini sudah dijelaskan dalam Al-qur’an,

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”.(Annur: 32)

Kemudian rezeki akan semakin bertambah disaat memiliki keturunan, sebagaimana janji Allah swt.

“Janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.” (Al-An’am : 151 )

8. Berahlaq baik

Setiap akhlaq yang baik akan melahirkan sesuatu yang baik atau bisa disebut dengan rezeki. Contoh akhlak yang baik seperti Shidiq (Jujur ) Orang yang jujur itu memang dalam jangka pendek menyengsarakan, akan tetapi dalam jangka panjang kalau dia bersabar akan mendapatkan rezeki yang berlimpah daripada orang yang tidak jujur. Sebagai contoh seorang pegawai yang jujur maka dia akan mendapat kepercayaan dari atasanya kemudian dinaikkan pangkatnya ditambah gajinya. Sebaliknya seorang pegawai yang tidak jujur dalam jangka pendek dia bisa mendapatkan banyak uang karena ketidak jujuranya dengan menipu dan mencuri akan tetapi pasti suatu saat akan tercium kelakuanya tersebut yang akhirnya bisa diberhentikan dari jabatanya atau dipecat. Disamping jujur contoh yang lain yaitu amanah (bisa dipercaya) tidak pernah berkhianat terhadap amanat yang diberikan kepadanya tapi sebaliknya dia akan menjalankan amanah tersebut dengan maksimal. Dengan demikian dia akan selalu dipercaya oleh orang lain, dan tidak mudah untuk memnbangun kepercayaan itu. Contoh yang lain seperti Sabar dalam arti tidak mudah menyerah, ulet dan tekun seperti sebuah kata mutiara “Maan tsabat nabat” barang siapa yang sabar/tegar maka ia akan berkembang.

9. Silaturahim

Amalan ini sangat dianjurkan oleh Rasulullah dan memiliki fadhilah melapangkan rezeki, beliau bersabda,

“Barang siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan dilapanjangkan umurnya maka hendaklah dia menyambung tali silaturahim.” (HR. Muslim)

Karena dalam silatu rahmi ini akan saling berkenalan, bertukar informasi, saling berintraksi. Dengan demikian pastilah ada pengalaman yang bisa saling diberikan, ada tambahan ilmu dan persaudaraan. yang ini semua adalah salah satu bentuk dari rezeki.

10. Bersungguh-sungguh dalam berdo’a

Doa ibarat senjata bagi orang muslim, seseorang yang menginginkan dimudahkanya rezeki maka jurus yang terakhir adalah berdo’a dengan sungguh-sungguh, dalam keadaan apapun baik berdiri, duduk atau terlentang. Dalam sebuah hadist di jelaskan,

“Sesungguhnya Allah mencintai orang yang mati-matian dalam berdo’a “

Dalam hadist lain juga Rasul telah bersabda,

“ Sesungguhnya Allah maha malu dan maha mulia, Dia malu kalau ada seorang hamba yang mengangkat kedua tangannya kemudian Allah menolak permintaan orang tersebut dan tidak memberi apa-apa “

Selain berdo’a untuk diri sendiri kita berdo’a untuk orang lain, sabda Rasulullah saw,

“Do’anya saudara muslim untuk saudaranya muslim tanpa sepengetahuannya sangat mustajab..”

Kemudian dijelaskan pula bahwa ketika kita mendoakan orang lain tanpa sepengetahuanya maka malaikat akan berkata kepadanya “aamiin dan bagimu seperti apa yang kamu pintakan untuk saudaramu.” Kita mendoakan teman kita agar dimudahkan rezekinya maka kita akan dido’akan oleh malaikat seperti itu juga.

Al-Faqier Ila afwi Rabbihi

 

Sumber: akhwatshalihah.net

Pelajaran Pertama: Ragu Mengenai Rezeki

PADA suatu hari, Syaqiq al-Balkhi beliau termasuk salah seorang dokter hati- berkata kepada muridnya, Hatim al-Asham, “Apa yang telah engkau pelajari dariku sejak menyertaiku (selama 30 tahun)?” Hatim al-Asham menjawab, “Ada enam hal:

Pertama, saya melihat orang-orang masih ragu mengenai rezeki. Tidak ada di antara mereka melainkan kikir terhadap harta yang ada di sisinya dan tamak terhadap hartanya. Lantas saya bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Taala berdasarkan firman-Nya: “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Karena saya termasuk makhluk bergerak, maka saya tidak peru menyibukkan hatiku dengan sesuatu yang telah dijamin oleh Dzat yang Maha Kuat dan Kokoh.”

Beliau berkata, “Engkau benar.”

Kedua, saya memandang bahwa setiap orang mempunyai teman yang menjadi tempat baginya untuk membuka rahasia dan mencurahkan isi hatinya. Akan tetapi mereka tidak akan menyembunyikan rahasia dan tidak mampu melawan takdir. Oleh karena itu, yang saya jadikan sebagai teman ialah amal saleh agar dapat menjadi pertolongan bagiku pada saat dihisab, mengokohkanku di hadapan Allah Azza wa Jalla, serta menemaniku melewati shirath.

Lalu beliau berkata, “Engkau benar.”

[baca lanjutan]

 

 

INILAH MOZAIK

Orang Bertakwa Dapat Rezeki tak Disangka-sangka

ALLAH Ta’ala berfirman dalam Alquran:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberikan rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS Ath-Thalaaq: 2-3)

Tentang ayat ini, al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, “Maknanya, barang siapa yang bertakwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan apa yang dilarang-Nya, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar serta rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.”

Orang yang rajin mengerjakan puasa SeninKamis, niscaya ia akan terlatih menjadi orang yang bertakwa. Dan bagi orang yang bertakwa, Allah telah berjanji akan memberinya rezeki dari arah yang tak terduga dan disangka-sangkanya.

Ada dua hal hal untuk memahami ini:

Pertama, Allah adalah Zat yang menciptakan dan mengatur rezeki. Sumber rezeki itu datangnya dari Allah. Kita hanya mampu berusaha, sedangkan Dia yang berkuasa menentukan.

Kedua, Allah memiliki kehendak yang mutlak. Jika Allah berkehendak memberi, maka tidak ada seorang pun yang bisa menghalanginya. Sebaliknya, jika Allah berkehendak mencegah, maka tak ada seorang pun yang dapat menahannya.

Maka, ketika Allah mengatakan akan memberi rezeki yang tak terduga kepada hamba-Nya yang bertakwa, itu menjadi masuk akal dan bisa dipahami. Karena, sumber rezeki itu ada di tangan Allah, Dia sanggup mengirimkannya kapan saja, dimana saja dan dalam situasi apa saja.

Orang yang bertakwa yakin benar akan hal ini bahwa Allah Maha Kuasa atas segala-galanya. Bukan hal yang mustahil bagi Allah mendatangkan rezeki kepada hamba-Nya secara langsung. Sunguh tidak sedikit manusia di muka bumi yang mengalami keajaiban-keajaiban di luar kemampuan akal menangkapnya.

[Chairunnisa Dhiee]

 

 

Jangan Risaukan Rezeki untuk Esok Hari

MEMPERBAIKI keadaan jiwa dan mengarahkan kalbu hanya kepada Allah semata, tak hanya perlu dilakukan pada saat kita menjalankan ketaatan, tetapi juga pada saat menghadapi situasi keseharian. Kita pun perlu ikhlas dengan rezeki yang Allah jatahkan untuk kita.

Risau dengan nasib esok hari ataupun kegairahan dalam mengejar rezeki bisa membelok kita dari jalur ikhlas. Untuk mendalami hal ini, marilah simak pengajian Syekh Abd al-Qadir al-Jaylani dalam al-Fath al-Rabbani wa al-Faydh al-Rahmani.

Janganlah kita mencemaskan rezeki kita, karena rezeki itu mencari kita melebihi pencarian kita terhadapnya. Jika hari ini kita mendapatkan rezeki, janganlah kita merisaukan rezeki untuk esok hari.

Sesungguhnya kita tak tahu apakah kita masih menjumpai esok hari, sebagaimana hari kemarin telah kita kita lewati. Maka, berkonsentrasilah untuk mengisi hari kita dengan amalan-amalan yang baik.

Jika, kita telah mengenal Allah Azza wa Jalla, tentulah kita akan menyibukkan diri dengan-Nya, alih-alih menyibukkan diri dengan pencarian rezeki. Ketahuilah, kebesaran-Nya akan mencegahmu dari meminta dari-Nya. Sebab, siapa telah mengenal Allah Azza Wa Jalla, kelulah lidahnya.

Orang arif selalu terdiam membisu di hadapan-Nya hingga Allah mengembalikannya ke urusan perbaikan umat. Jika Allah menempatkannya kembali di tengah hamba-Nya, Allah akan melepas kekeluan dan kegagapan lidahnya.

Tatkala Musa as, menggembala domba, lisannya gagap, gugup, kaku, dan terbata-bata, dan ketika Allah hendak menempatkannya kembali, Allah memberinya ilham sehingga ia berkata,

” Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (Q.S Thaha [20]: 27-28)

Seolah ia mengatakan, “Saat aku di padang pasir menggembala kambing, aku tak membutuhkan hal ini, dan sekarang aku perlu mengurus dan berbicara pada umat, maka bantulah aku agar lepas kekeluan lidahku.” Maka Allah pun melepaskan kekakuan dari lidahnya, sehingga ia bisa bicara dengan sembilan puluh kata yang fasih dan dimengerti, kata-kata yang mudah orang lain ucapkan. Saat kecil, Musa pernah ingin bicara diluar haknya di hadapan Firaun dan Aisyah, maka Allah membuatnya menelan batu. [Chairunnisa Dhiee]

Sumber: Buku “Ikhlas tanpa Batas”

INILAH MOZAIK

Salat Sangat Berpengaruh Terhadap Rezeki

SELAIN kedudukan ibadah salat yang amat tinggi di sisi Allah, efek positif dari salat juga langsung menyentuh kehidupan manusia. Bukankah kita mendengar Firman Allah swt,
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS.Al-Ankabut: 45).

Salat yang benar akan membentuk diri manusia untuk antiterhadap perbuatan buruk dan kejam. Tapi di samping itu, salat juga memiliki hubungan erat dengan urusan rezeki. Coba kita perhatikan dua ayat berikut ini,

“Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah- mudahan mereka bersyukur.” (QS.Ibrahim: 37)

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS.Thaha: 132).

Pada ayat pertama, Nabi Ibrahim meninggalkan keluarganya ditempat yang gersang di sekitar Mekah agar mereka melaksanakan salat. “Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat.”

Setelah ungkapan ini ia sampaikan, baru kemudian Ibrahim berdoa agar Allah memberikan rezki kepada keluarganya: Dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Pada ayat kedua, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk mengajak keluarganya melakukan salat: Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya.

Setelah berfirman mengenai perintah salat ini, Allah melanjutkan tentang masalah rezki: Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.

Dua ayat ini selalu meletakkan urusan rezeki setelah urusan salat. Seakan ingin menjelaskan bahwa salatlah dengan baik, maka rezki akan datang setelahnya. Sering kita menunda salat karena ada urusan bisnis yang belum selesai. Sering kita mempercepat salat kita karena ada pembeli yang datang. Sering kita melalaikan salat hanya karena ada orang penting yang harus kita temui.

Coba pikirkan, kenapa kita harus mempercepat salat demi pembeli sementara kita sedang menghadap Sang Pengatur Rezki?

Kenapa kita harus menunda salat demi bertemu klien sementara Allah-lah Sang Pemegang urusan itu? Kenapa kita harus bertemu orang penting dan melupakan pertemuan dengan zat yang segala urusan ada ditangan-Nya?

Mari kita perbaiki cara berpikir kita agar tidak lagi mendahulukan sesuatu yang penting dan melalaikan sesuatu yang jauh lebih penting. Semoga Allah menerima salat-salat kita.[]

 

INILAH MOZAIK

Jaminan Rezeki dari Allah Bukan Tanpa Usaha

TIDAK ada satu makhluk pun di dunia ini yang sanggup menjamin keberlangsungan rezeki makhluk lainnya. Karena hanya Allah yang mampu melakukan hal tersebut. Dia tahu betul apa yang dibutuhkan para makhluk-Nya. Dia tidak pernah menciptakan satu makhluk pun untuk hidup di dunia ini tanpa memperoleh rezeki.

Jaminan rezeki yang dijanjikan Allah kepada makhluk-Nya bukan berarti memberinya tanpa usaha. Kita harus sadar bahwa yang menjamin itu adalah Allah yang menciptakan makhluk serta hukum-hukum yang mengatur makkhluk dan kehidupannya.

Bukannya manusia telah terikat dengan hukum-hukum yang ditetapkan-Nya? Kemampuan tumbuh-tumbuhan, manusia, dan binatang untuk hidup dan makan adalah bagian dari jaminan rezeki Allah.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Muadz bin Jabal Ra, Rasulullah bersabda, “Allah berkata, ‘Wahai anak Adam, pada saat bermaksiat, hendaknya kamu merasa malu kepada-Ku, sebab Aku malu kepadamu pada hari kiamat. Aku tidak menyiksamu, wahai anak Adam. Bertaubatlah kepada-Ku, maka Aku memuliakanmu seperti kemuliaan para nabi. Wahai anak Adam, janganlah hatimu berpindah dari-Ku. Sebab, apabila hatimu berpindah dari-Ku, Aku akan menghinamu. Maka, tidak ada pertolongan bagimu. Wahai anak Adam, apabila kamu bertemu Aku pada hari kiamat nanti, sementara kamu membawa kebaikan-kebaikan seperti kebaikan penduduk bumi, Aku tidak menerima itu sampai kamu membenarkan janji dan ancaman-Ku. Wahai anak Adam, sesungguhnya Aku Maha Memberi rezeki, dan kamu adalah hamba yang diberi rezeki. Kamu tahu bahwa Aku memenuhi rezekimu, maka jangan tinggalkan ketaatan kepada-Ku hanya karena rezeki. Apabila kamu meninggalkan ketaatan kepada-Ku karena rezeki, Aku pastikan siksaan akan menimpamu. Wahai anak Adam, jagalah lima hal ini. Niscaya kamu mendapatkan surga.” [Chairunnisa Dhiee]

 

 

Jangan Takut Tidak Punya Rezeki

SAHABAT, jangan takut tidak diberi rezeki, tapi takutlah tidak punya syukur, karena syukur itu seperti tali yang mengikat nikmat yang sudah ada dan menarik berbagai nikmat lainnya yang belum ada.

Jangan takut tidak memperoleh rezeki, tapi takutlah tidak punya sabar ketika rezeki kita ditunda. Jangan pula takut tidak memperoleh rezeki, tapi takutlah tidak punya ridha ketika Allah SWT mengambilnya kembali.

Jangan risaukan terhadap rezeki, karena sesungguhnya rezeki itu sudah diatur oleh-Nya, dan jika Allah SWT berkehendak untuk menyegerakan rezeki kita, maka tidak ada sesuatu apapun dan makhluk apapun yang bisa menghalang-halanginya.

Sahabat yang baik, mari kita sama sama menjaga hati agar senantiasa tulus dalam menjemput rezeki. Niatkan bekerja sebagai ibadah kepada Allah SWT. [*]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Rezeki dari Arah tak Disangka-sangka

“BARANGSIAPA bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnua Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Alllah telah mengadakan ketentuan bagi tiang-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 2-3)

Ibn ‘Abbas ra ketika menafsirkan ayat ke-2 dari QS. Athalaq ini, sebagaimana dikutip oleh Imam Jalaluddin Al-Suyuthi dalam tafsir Ad-Dur Al-Manysur fi Yafsir al-Ma’tsur menjelaskan bahwa yang dimaksud kata makhraja menurut Rasulullah saw adalah solusi atau jalan keluar atas persoalan-persoalan duniawi, pertolongan di saat menghadapi kematian (sakratul maut), serta perlindungan atas dahsyatnya hari kiamat.

Adapun makna dari ayat ke-3 dari QS. Ath-Thalaq, wa yarzuqhu min haitsu la yahtasib (dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka), menurut Al-Qurtubhi dalam al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an adaolah rezeki yang tidak pernah diprediksi sebelumnya. Adapun menurut Ibn ‘Uyainah, sebagaimana dikutip al-Qurthubi, makna ayat tersebut adalah keberkahan dalam rezeki.

Lazim diketahui bahwa ada tiga hal yang menjadi misteri Ilahi, yaitu rezeki, jodoh, dan ajal adalah hak prerogatif Allah. Artinya, bahwa Allahlah yang menentukan kadar rezeki seseorang, siapa jodohnya dan kapan ajalnya. Tetapi, bukan berarti tidak ada peran manusia sama sekali dalam ketiga hal tersebut. Dalam hal rezeki, misalnya, seseorang diwajibkan untuk memaksimalkan ikhtiar untuk menjemput rezekinya. Tidak diperkenankan seseorang pasrah ‘bongkokan’, menyerah begitu saja dengan mengatakan: “Rezeki itu kan sudah ditentukan, ya udah kalau memang nasib kita menjadi orang miskin, itu sudah takdir”. Kalimat tersebut menunjukkan sikap pesimis, kepasrahan yang keliru dan sama sekali tidak dibenarkan dalam Islam.

Para ulama memaknai tentang ketetapan (qadla) serta ukuran (qadar) rezeki seseorang yang sudah ditentukan oleh Allah, maksudnya adalah bahwa rezeki setiap orang bahkan setiap makhluk hidup memang sudah ditetapkan oleh Allah, semuanya mendapatkan rezeki dari-Nya. Tetapi mengenai kadar serta banyak dan sedikitnya rezeki itu bergantung kepada tingkat usaha atau ikhtiar seseorang. Semakin maksimal ikhtiarnya, maka semakin besar peluang untuk mendapatkan rezeki yang lebih banyak. Al-Ajru bi qadri al-ta’ab, upah (baca:hasil) itu sesuai dengan tingkat kesulitan dan perjuangannya. Demikian diungkapkan dalam salah satu kalimat bijak.

Berkaitan dengan makna ayat di atas, Allah Swt menjanjikan bagi orang-orang yang bertakwa, selain diberi solusi atas setiap persoalan yang menimpanya, juga akan diberi bonus berupa rezeki tak terduga yang tak pernah dibayangkan apalagi diprediksi sebelumnya. [didi junaedi]