Banyak yang Bertanya Rahasia Rizki

APAKAH rizki itu rahasia? Apakah rizki itu memiliki dan menyimpan rahasia tentang dirinya? Sesungguhnya rizki itu telah menampakkan dirinya secara terbuka dan menyatakan karakter dirinya secara jelas melalui kisah, berita dan kejadian tentangnya.

Namun ternyata masih banyak juga yang bertanya tentang rahasia rizki. Ternyata, sesuatu yang terlalu nyata itu tetap saja diduga menyimpan rahasia. Maka laris manislah seminar dan pelatihan rahasia rizki dan rahasia kaya.

Mari hari ini kita berbincang kecil saja dan merujuk pada kisah kecil saja, namun memiiki implikasi besar. Umar bin Khattab, sahabat Nabi Muhammad yang terkenal tegas, keras namun dermawan itu, berkata: “Di antara seorang hamba dengan rizkinya itu sesungguhnya ada hijab (penghalang). Jika hamba itu ridla atas apa yang telah diterimanya dan menganggapnya cukup maka rizki lainnya akan datang padanya.”

Baca lagi kalimat Sayyidina Umar di atas. Kalimat tersebut adalah potongan indah yang menyadarkan kita bahwa rizki itu unik, dikejar semakin lari, diterima dengan tulus malah memanggil-manggil teman-temannya. Catat bahwa rizki itu maknanya luas, tidak terbatas pada urusan uang.

Kelegaan hati untuk tersenyum atas rizki yang diterima memiliki power luar biasa untuk menarik rizki lainnya untuk datang. Sementara merengut dan mengeluh terus atas rizki yang ada adalah pengusir rizki yang sudah diterima. Rupanya, Allah sang pemberi rizki menginginkan kita untuk senantiasa bersyukur dan bersyukur serta berhenti dari mengeluh dan mengeluh.

Sambutlah dengan senyuman semua rizki yang kita terima. Sedikit atau banyak itu hanyalah masalah ukuran atau timbangan. Pemberinya adalah sama, yakni Allah SWT. Mengeluhkan rizki adalah mengeluhkan Ar-Razzaaq, Sang Pemberi Rizki. Mensyukurinya adalah memujiNya akan kebaikan dan kedermawananNya. Kita saja jika dipuji dan diapresiasi akan bahagia dan siap untuk berbuat lebih banyak dan lebih baik lagi. Sementara jika selalu dikritik dan disalahkan, pastilah kita enggan untuk berbuat lebih dari apa yang sudah dilakukan.

Pandai-pandailah bersyukur. Katakan al-hamdu liLLAAH atas semua yang kita dapatkan. Bukankah Allah sendiri yang berjanji: “Kalau kalian bersyukur, niscaya sungguh Aku tambahkan untuk kalian.” Syukurilah rizki harta, syukurilah rizki ilmu, syukurilah rizki sehat, syukurilah rizki relasi, syukurilah rizki famili, syukurilah semuanya. Penuhi langit dengan syukurmu, maka Allah akan penuhi dirimu dengan rizkiNya. Salam, AIM, pengasuh Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya. [*]

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

 

INILAH MOZAIK

Rizki-ku Ada di Langit, Bukan di Tempat Kerja!

Belajar Tawakal Kepada Putri 10 Tahun

Hatim Al Ashom, ulama besar muslimin, teladan kesederhanaan dan tawakal.

Hatim suatu hari berkata kepada istri dan 9 putrinya bahwa ia akan pergi utk menuntut ilmu.

Istri dan putri putrinya keberatan. Krn siapa yg akan memberi mereka makan.

Salah satu dari putri-putri itu berusia 10 tahun dan hapal Al Quran.

Dia menenangkan semua: Biarkan beliau pergi. Beliau menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan Tidak Pernah mati!

Hatim pun pergi
Hari itu berlalu, malam datang menjelang…

Mereka mulai lapar. Tapi tdk ada makanan. Semua mulai memandang protes kepada putri 10 tahun yg tlh mendorong kepergian ayah mereka.

Putri hapal Al Quran itu kembali meyakinkan mereka: Beliau menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan Tidak Pernah mati!

Dlm suasana spt itu, pintu rumah mereka diketuk. Pintu dibuka. Terlihat para penunggang kuda. Mereka bertanya: Adakah air di rumah kalian?

Penghuni rumah menjawab: Ya, kami memang tidak punya apa-apa kecuali air.

Air dihidangkan. Menghilangkan dahaga mereka.

Pemimpin penunggang kuda itu pun bertanya: Rumah siapa ini?

Penghuni rumah menjawab: Hatim al Ashom.

Penunggang kuda terkejut: Hatim ulama besar muslimin…..

Penunggang kuda itu mengeluarkan sebuah kantong berisi uang dan dilemparkan ke dalam rumah dan berkata kpd para pengikutnya: Siapa yg mencintai saya, lakukan spt yg saya lakukan.

Para penunggang kuda lainnya pun melemparkan kantong-kantong mereka yg berisi uang. Sampai pintu rumah sulit ditutup, krn banyaknya kantong-kantong uang. Mereka kemudian pergi.

Tahukah antum, siapa pemimpin penunggang kuda itu…?
Ternyata Abu Ja’far Al Manshur, amirul mukminin.

Kini giliran putri 10 thn yg telah hapal Al Quran itu memandangi ibu dan saudari-saudarinya. Dia memberikan pelajaran aqidah yg sangat mahal sambil menangis:

JIKA SATU PANDANGAN MAKHLUK BISA MENCUKUPI KITA, MAKA BAGAIMANA JIKA YG MEMANDANG KITA ADALAH AL KHOLIQ!
***
Terimakasih nak, kau telah menyengat kami yg dominasi kegelisahannya hanya urusan dunia.
Hingga lupa ada Al Hayyu Ar Rozzaq

Hingga lupa jaminan Nya: dan di LANGIT lah RIZKI kalian…

Bukan di pekerjaan… bukan di kebun… bukan di toko… tapi DI LANGIT!

Hingga kami lupa tugas besar akhirat

اللهم لا تجعل الدنيا أكبر همنا

Duhai Allah, jangan Kau jadikan dunia sebagai kegundahan terbesar kami….

 

 

Budi Ashari, Lc
-Madrasah Al Fatih-

Barokallahu fiikum….

ERA MUSLIM

Santai Aja, Rizki Tak Akan Salah Alamat

ADA ayat dalam al-Qur’an, tepatnya ayat 2 surat Fathir, yang membuat kita tenang dalam menghadapi kompetisi kehidupan. Ayat itu berbunyi: “Apapun rahmat yang Allah bukakan kepada manusia, maka tidak ada yang bisa mencegah atau menghalanginya.”

Potongan ayat pendek ini menenangkan kita manakala kita gelisah dalam kompetisi mendapatkan rizki, galau ketika berlomba mendapatkan sesuatu. Kalau memang untuk kita, rizki itu tak akan kemana. Kalau memang bagian kita, maka tak mungkin ada yang bisa menghalangi datangnya rahmat itu untuk kita. Kalau memahami, meresapi dan meyakini ayat tersebut di atas, pasti merasa tenang bukan?

Baru saja saya kedatangan tamu dermawan yang punya beberapa proyek dan pabrik. Ada proyek yang menurut rencananya adalah untuk beliau, tapi ternyata direbut orang lain. Beliau cuma berkata ringan: “Belum rizki saya kiyai. Saya santai saja. Fokus saja pada anak saya yang sakit saat ini. Ujian Allah yang harus dihadapi dengan senyum.”

Ayat tersebut di atas meyakinkan kita bahwa hak tunggal pembagi rizki adalah milik Allah sebagai Ar-Razzaaq. Kalau begitu, layakkah kita mengeluhkan apa yang kita dapatkan? Pantaskah kita menjauh dariNya dalam keseharian kita? Ah, sudah sering diceramahkan dan sudah sering dikaji bersama bahwa memperbaiki ibadah dan pengabdian kepada Allah adalah cara terbaik dalam merayu Allah untuk memberikan rahmatNya. Salam, AIM. [*]

 

sumber: Inilahcom