Menelusuri Jejak Shalawat Tarhim

Berpuluh tahun, shalawat Tarhim semacam jadi ciri khas akustik Islam di Tanah Air, dari Sabang sampai Merauke. Apa cerita di baliknya? Kapan ia mula-mula dilantangkan? Siapa pendarasnya? Mengapa ia sedemikian manjur membuat hati terenyuh? Wartawan Republika, Andrian Saputra, Dadang Kurnia, Adinda Pryanka, dan Fitriyan Zamzami mencari tahu soal itu. Berikut tulisan bagian keduanya.

Terlepas dari kejernihan suaranya, kepingan-kepingan piringan hitam Syekh Syekh Mahmoud Khalil Al-Husary yang terdapat di Lokananta merupakan kopian. Koordinator Produksi Lokananta, Bembi Ananto tak mengetahui di mana saat ini master dari kepingan tersebut, terutama yang berisi Shalawat Tarhim. Hanya saja, dari dokumentasi Lokananta mencatat tahun rekaman dari kepingan berisi Shalawat Tarhim itu pada 1959.

Bembi tak berani memastikan Syekh Al-Husary pernah berkunjung ke Lokananta dan membuat rekaman, sebab tak ada dokumen pasti tentang hal tersebut. “Di sini kopiannya kalau masternya saya tak tahu dan belum pernah menjumpai, bisa jadi yang meng-handle rekamannya saat itu RRI, bisa di Solo kalau tidak di Jakarta,” tutur Bembi saat ditemui Republika.

Dari keterangan pihak Lokananta, Republika mengunjungi RRI Solo untuk mencari tahu awal mula rekaman Shalawat Tarhim. Sayang, RRI pun tak lagi menyimpan piringan maupun kaset Shalawat Tarhim. RRI juga tak mempunyai dokumen jelas tentang asal Shalawat Tarhim bisa diperoleh hingga diputar dan didengarkan masyarakat luas.

 

shalawat Tarhim selalu diputar RRI sebelum kumandang azan Maghrib dan azan Subuh.

Sejumlah narasumber yang ditemui Republika tak mengetahui kapan RRI pertama kali memutar shalawat itu. Terlebih, lantunan shalawat yang sering diputarkan RRI sebelum kumandang azan Maghrib jauh sebelum era 1990-an itu kini sudah diganti.

Operator Teknik RRI Solo, Giarto pun tak menemukan file tentang Shalawat Tarhim dalam komputernya. Ada satu file bertuliskan “Tarhim adzan & puasa” namun saat diputar, isinya tak sesuai dengan lirik Tarhim gubahan Syekh Al-Husary.

Di ruang operator RRI lainnya, meski tak menemukan file Shalawat Tarhim, RRI masih tersimpan soft file azan khas Syekh Al-Husary. “Masalahnya sudah ganti orang semua, jadi sejarah perekaman di mana dan kapan ndak ada yang tahu,” tutur Operator Teknik RRI Solo, Giarto.

Petugas Divisi Pemberitaan RRI Solo, Bahruddin tak asing dengan lantunan Shalawat tarhim yang diperdengarkan Republika melalui ponsel pintar. Ia hafal betul, shalawat itu selalu diputar RRI sebelum kumandang azan Maghrib dan azan Subuh. Tak hanya itu, Shalawat itu juga diputar berkali-kali saat Ramadhan, menanti waktu berbuka puasa.

Namun menurut Bahruddin, Shalawat Tarhim sudah lama tak diputarkan lagi oleh RRI. Memang, menurutnya Shalawat Tarhim dan azan Syekh Al-Husary sempat menjadi ciri khas RII. Meski begitu, ia tak mengetahui lengkap tentang asal Shalawat Tarhim bisa diputar RRI.

“Dulu pernah diputar, sekarang langsung azan. Saya tak tahu persis dokumennya, dulu memang ada kaset tapi sudah rusak-rusak tak tahu di mana,” kata dia. Ia juga tak berani memastikan RRI yang memopulerkan shalawat itu hingga jamak diputar di berbagai masjid di Tanah Air.

Saat Republika bertandang ke RRI Jakarta, salah satu petugas editing,Mirda, mengatakan, hanya ada dua dokumen suara dengan kata kunci Shalawat Tarhim pada komputernya. Yang pertama merupakan rekaman asli milik RRI, sementara file kedua merupakan hasil unduhan dari Youtube. Dari detail file yang pertama, terlihat rekaman dibuat pada Agustus 2017.

Komputer Mirda membutuhkan waktu setidaknya setengah jam untuk memutarkan dokumen pertama. Suaranya terdengar jernih dan halus dengan lafal shalawat yang lembut. “Ini direkam langsung di situ,” ujar Mirda sembari menunjuk ruang kaca di hadapannya.

Mirda sendiri tidak tahu siapa yang melantunkannya. Ia hanya bisa memastikan rekaman berdurasi sekitar lima menit itu bukan suara Syekh Al-Husary. Perempuan berdarah Minang, Sumatra Barat, itu mengatakan, suara tersebut milik salah seorang ustaz yang ia lupa namanya.

Ketika mencoba mencari dengan kata kunci Syekh Al-Husary, Mirda juga tidak bisa menemukan file lain. Kondisi yang sama juga terjadi ketika Mirda mencoba mencari di ruangan operator RRI lain. “Sepertinya nggak ada. Hanya yang tadi saja,” ucap perempuan yang sudah puluhan tahun bekerja di RRI itu.

Beranjak dari RRI Jakarta, Republika mencoba mencari rekaman suara ke Perpustakaan Nasional (Perpusnas) yang masih berada dikawasan Jakarta Pusat. Pasalnya, menurut sistem katalog Online Public Access Catalog,terdapat rekaman suara Syekh Al-Husary dengan kode 297.14 TAR.

Dalam detail katalog yang terpampang di salah satu komputer, tertulis bahwa rekaman suara tersebut diterbitkan Lokananta Surakarta. Hanya, menurut Arin, petugas Perpusnas yang ditemui Republika, rekaman tersebut merupakan kopian.

“Kami mendapatkan dalam bentuk CD, sesuai dengan deskripsi fisik yang ada di detail katalog ini,” tuturnya.

Detail katalog juga memperlihatkan tampilan fisik CD yang diterbitkan atas kerjasama Lokananta Recording dengan Perum PNRI Cabang Surakarta tersebut. Sampulnya berwarna hijau dengan tulisan Tarhim berada pada bagian bawah. Terdapat tiga CD dalam satu kemasan.

Selain suara Syekh Al-Husary yang melantunkan Shalawat Tarhim, terdapat rekaman Ustadz Abdul Aziz Muslim dan Noor Asyiah Jamil. Mereka membacakan kumpulan surat-surat, termasuk at-Thoriq dan al-‘Ala serta al-Haddid ayat 18 sampai 24.

Pencarian data terkait Syekh Al-Husary tidak terhenti pada dokumen suara.

Republika mencoba mencari informasi dari Kedutaan Besar Mesir untuk Indonesia guna menggali kepastian kedatangan Syekh Al-Husary ke Indonesia untuk merekam Shalawat Tarhim. Konselor di Kedutaan Mesir untuk Indonesia, Ahmad Eid, mengatakan, dirinya belum bisa memastikan kedatangan Syekh Al-Husary. Sebab, menurut dia, dibutuhkan waktu tidak sebentar untuk mendapatkan data konkrit terkait kejadian yang berlangsung lebih dari lima dekade lalu.

“Setahu saya, beliau memang ke sini (Indonesia) tapi saya tidak mengetahui pasti kapannya,” ucap Ahmad.

Satu hal yang bisa dipastikan Ahmad adalah Grand Syekh Al-Azhar Mahmud Shaltut sempat datang ke Indonesia pada 1959 (sebagian pihak lain mencatat pada 1960). Beliau datang guna memenuhi undangan ulama besar Buya Hamka meresmikan Masjid Al-Azhar di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang sekarang berdiri berdampingan dengan Universitas Al-Azhar. Bagaimanapun, Ahmad tak mengetahui apakah Syekh Al-Husary ikut datang saat itu.

Terlepas dari asal muasal yang tak rinci itu, Shalawat Tarhim sudah telanjur melegenda di Tanah Air. Lalu dari mana ia mula-mula terkenal? Untuk menjawab hal itu, mari ke Surabaya, Jawa Timur.

 

REPUBLIKA

Shalawat Tarhim, Melisma yang Memantik Rindu

Berpuluh tahun, shalawat Tarhim semacam jadi ciri khas akustik Islam di Tanah Air, dari Sabang sampai Merauke. Apa cerita di baliknya? Kapan ia mula-mula dilantangkan? Siapa pendarasnya? Mengapa ia sedemikian manjur membuat hati terenyuh? Wartawan Republika Andrian Saputra, Dadang Kurnia, Adinda Pryanka, dan Fitriyan Zamzami mencari tahu soal itu. Berikut tulisan bagian keempat dan terakhirnya.

 

Asshalatu wassalamun ‘alaik, ya imamal mujahidin, ya Rasulallah

Ashalatu wassalamun ‘alaik, ya nashiral huda ya khaira kholqilllah

Tak terbilang kerinduan yang disulut bait-bait tersebut. Buat sebagian masyarakat Indonesia, ia bisa jadi memicu kenangan soal kampung halaman. Saat jadi pertanda buat bangun kala subuh maupun berhenti bermain untuk bersiap ke langgar atau mushala dan masjid terdekat. Buat lainnya, seperti persis yang dimaksudkan bait-bait itu, ia memunculkan kerinduan mendalam terhadap junjungan, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam.

Ahli Qiraat Indonesia Akhsin Sakho Muhammad mengatakan, ada tiga poin yang menyebabkan Shalawat Tarhim begitu istimewa. Salah satunya, karena ada ikatan batin yang kuat antara shalawat tersebut dengan Indonesia.

“Shalawat ini pertama kali dilantunkan oleh Syekh Mahmud Khalil Al-Husary yang kabarnya direkam di Indonesia pada 1960-an,” tuturnya ketika dihubungi Republika, Jumat (23/3).

Meski tidak mendengar secara langsung, atau bukan dengan sistem suara kelas atas pun, Akhsin mengakui rekaman suara lantunan Shalawat Tarhim langsung menyentuh kalbunya. Menurutnya,dengan suara Syekh Al-Husary yang lembut tapi tegas, Shalawat Tarhim meninggalkan bekas mendalam bagi siapapun yang mendengarkan.

Keistimewaan kedua adalah fungsi Shalawat Tarhim yang digunakan sebagai penanda akan masuknya waktu shalat. Sebelum adanya shalawat ini, Akhsin menambahkan, orang Indonesia belum menemukan satu bentuk lantunan yang pas untuk pengingat.

“Tapi, setelah adanya Shalawat Tarhim, kita menggunakan ini di mana-mana untuk mengukur waktu sebelum shalat,” ucapnya.

Rintihan Syekh Al-Husary tentang kerinduannya terhadap jejak Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam menjadi keistimewaan Shalawat Tarhim berikutnya bagi Akhsin. Meski terdengar singkat, apabila diuraikan, shalawat ini bisa bermakna panjang dan mendalam karena menceritakan perjalanan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam yang penuh bermakna.

 Asshalatu wassalamun ‘alaik, ya imamal mujahidin, ya Rasulullah

Ashalatu wassalamun ‘alaik, ya nashiral huda ya khaira kholqilllah

Secara lirikal, Shalawat Tarhim berisi pujian-pujian terhadap kebesaran pribadi Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Shalawat itu kemudian mengutip sejumlah kejadian dalam Isra Mi’raj guna menegaskan keutamaan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam. Sebagian pendengar di Indonesia bisa jadi tak paham dengan isi shalawat sehubungan terbatasnya penguasaan Bahasa Arab. Pertanyaannya, mengapa mereka tetap tergugah?

Peneliti kawakan seni membaca Alquran dari Universitas Texas, Prof Kristina Nelson mencatat, gaya membaca Alquran ala Mesir mulai meretas jalannya menuju dominasi gaya di dunia pada dekade 1950-an hingga 1960-an. Masa-masa itu seiring Tarhim mulai direkam di Indonesia. Kala itu, mucul qari-qari handal semacam Syekh Al-Husary, Syekh Muhammad Rifat, Syekh Abdul Basit Abdul Samad, Syekh Muhammad Salamah, Syekh Kamil Yusuf al-Bathimi, dan legenda-legenda lainnya.

Yang istimewa dari para pendaras di Mesir, tulis Nelson dalam bukunya The Art of Reciting the Qur’an (1985), mereka menerapkan maqamat alias skala melodik khas musik Arab dalam pembacaan. Dibanding skala musik Barat, maqamat lebih kerap menggunakan not-not renik (ajnaz) pada setengah, bahkan seperempat nada.

Ciri khas lainnya dari maqamat adalah penggunaan melisma. Ia adalah teknik menyanyikan satu silabel dalam rangkaian beberapa nada alih-alih menyanyikan satu silabel dalam satu nada saja. Selain itu, ada juga kekhasan maqamat soal bagaimana ia menutup larik, teknik yang dalam seni musik dikenal sebagai cadence.

Dampak dari rerupa teknik dalam maqamat itu, jenis emosi pendengar yang coba dipantik bisa jauh lebih beragam ketimbang sekadar not mayor dan minor pada musik Barat. Maqam Rast, misalnya, biasanya digunakan memicu rasa bangga yang maskulin, Maqam Bayati yang memicu kebahagiaan feminin, Maqam Saba untuk menggambarkan nelangsa dan kesedihan.

Para qari di Mesir, kata Nelson, sangat ahli menerapkan rerupa variabel seperti pilihan nada, tempo dan jeda, melisma, gaya qiraah, pilihan ayat, serta konteks dalam tilawah Alquran mereka untuk memicu emosi-emosi tertentu dari pendengar.

Dalam Shalawat Tarhim, Syekh Al-Husary terbilang efektif menerapkan teknik-teknik tersebut. Dari segi konteks, ia memilih lirik-lirik penuh kerinduan, menyanyikannya dengan nada yang tak sekalipun meleset dari skema, kemudian menutup masing-masing larik dengan melisma panjang yang menuruni tangga nada tetapi naik tetiba pada akhir cadence.

Syekh Hussary juga menjeda bacaannya dan kerap memulai secara dramatis. Kombinasi hal-hal tersebut menimbulkan kesan bahwa Syekh Al-Husary bersungguh-sungguh. Bahwa rindu dan penghormatannya pada Nabi Muhammad SAW tak dibuat-buat.

Ada ikatan batin yang kuat antara Shalawat Tarhim dengan Indonesia.

Cara menutup larik dengan melisma menuruni tangga nada seperti pada Tarhim juga jamak digunakan para musisi Blues di Amerika Serikat guna memicu kerinduan dan nelangsa dalam aransemen musik mereka. Bukan rahasia, seperti dicatat profesor sejarah Afrika-Amerika, Sylfiane Diouf, musik Blues punya akar dari tradisi melisma yang dibawa para budak dari Afrika Barat yang sebagian besar beragama Islam.

Secara saintifik, getaran jiwa yang dipicu nada-nada yang menggerakkan kerap disebut frisson dari bahasa Prancis yang terjemahannya kurang lebih ‘getaran estetika’. Frisson ini bukan hanya bisa datang dari musik. Ia juga bisa datang dari karya-karya seni dan sastra lainnya.

Sejauh ini, telah banyak penelitian soal mengapa manusia merasakan frisson saat mendengarkan musik tertentu. Seorang ahli neurosaintik dari Estonia, Jakk Panksepp, misalnya, menyimpulkan lewat penelitiannya bahwa manusia lebih mudah tergetar dengan musik-musik dengan alunan perlahan dan melisma yang cenderung menurun nadanya.

Pada akhirnya, rerupa konteks dan variabel membuat Shalawat Tarhim begitu istimewa. Keindahannya serta rasa dan nuansa yang ia pantik membuatnya mampu bertahan sekian lama mewarnai lanskap suara Tanah Air. Seiring waktu, lantunan seorang qari yang luar biasa berbakat asal Mesir tersebut malih menjadi kekhasan Islam di Indonesia. Jadi pengingat kampung halaman, jadi pemicu rindu yang mendalam terhadap Penghulu Para Nabi.

 

REPUBLIKA

Lantunan Syahdu Shalawat Tarhim, dari Kairo Hingga Solo

Berpuluh tahun, shalawat Tarhim semacam jadi ciri khas akustik Islam di Tanah Air, dari Sabang sampai Merauke. Apa cerita di baliknya? Kapan ia mula-mula dilantangkan? Siapa pendarasnya? Mengapa ia sedemikian manjur membuat hati terenyuh? Wartawan Republika,Andrian Saputra, Dadang Kurnia, Adinda Pryanka, dan Fitriyan Zamzami mencari tahu soal itu. Berikut tulisan bagian pertamanya.

Kepingan piringan hitam tersebut rapi terselip di sela deretan kepingan piringan hitam lainnya di ruang dokumentasi Studio Rekaman Lokananta di Jalan Ahmad Yani, Solo. Sampulnya sederhana saja, berwarna putih dengan garis biru. Ada tulisan “Pengadjian Al-Quran Al Shaikh Mahmud Al Husari, Cairo Mesir” di situ.

Republika diperkenankan mendengarkan bunyi isi piringan hitam itu saat mengunjungi Lokananta beberapa waktu lalu. Beberapa detik setelah piringan diputar, Shalawat Tarhim yang diteruskan azan khas yang dikumandangkan Syekh Mahmoud Khalil Al-Husary hingga muratal Alqurannya begitu jelas terdengar. Bebunyian yang keluar dari piringan hitam itu masih jernih.

Lokananta tak hanya memiliki sekeping piringan hitam berjudul “Pengadjian Al-Quran Al Shaikh Mahmud Al Husari, Cairo Mesir”. Ada beberapa piringan yang memuat suara Syekh Al-Husary. Isinya berbeda, terdapat piringan yang memuat murotal Surah ar-Rahman I dan II serta serta surat-surat lainnya yang dilantunkan Syekh Al-Husary. Setiap piringan mempunyai durasi waktu putar berbeda-beda.

Lokananta menjaga baik salah satu koleksi bersejarah itu. Sebab menurut Koordinator Produksi sekaligus Remastering Audio Lokananta, Bembi Ananto suara khas Syekh Al-Husary menjadi populer di telinga umat muslim Indonesia terutama sejak piringan itu diputar dan disebarkan luas melalui Radio Republik Indonesia (RRI).

Syekh Mahmoud Khalil Al-Husary lahir di Desa Shubra An Namlah yang berada di kota Tanta, Gharbia, Mesir. Ia lahir pada 30 Dzul Qa’idah 1335 Hijriyah atau pada 17 September 1917.  Seperti dilansir Albawabh News di tempat asalnya, penggubah Shalawat Tarhim itu dikenal dengan sebutan Al Husory, nama itu julukan untuknya sebab beliau selalu beriktikaf di masjid dan duduk di atas sebuah alas yang terbuat dari anyaman tikar atau Al Husory. Sejak usianya baru delapan tahun, Syekh Hussary telah mampu menghafalkan 30 juz Alquran.

Ia pun pernah mengenyam pendidikan di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir hingga memperoleh ijazah Al Qira’at Al ‘Asyr atau kiraat yang sepuluh. Ia pun menguasai sepuluh jenis qiro’ah. Syekh Al-Husary menjadi tokoh Mesir yang berdakwah ke berbagai negara melalui ayat-ayat yang dilantunkannya dengan indah. Ia juga kerap mendampingi Grand Syekh Universitas Al Azhar, Mahmud Shaltut, ke berbagai negara.

Syekh Al-Husary terkenal dengan bacaan Alquran-nya yang indah, terutama sejak ia rutin mengisi siaran Alquran di sebuah stasiun radio di Mesir sekitar tahun 1944. Dari siaran tersebut, suara khasnya dikenal umat Islam. Safari dakwahnya berlangsung hingga usianya menginjak umur 55 tahun. Dilansir dari Alyaumu Sabi’ Sinai, Syekh Al-Husary menjadi tokoh ulama Mesir yang pertama kali diutus untuk mengunjungi Muslim India dan Pakistan sekitar 1960-an.

Setahun setelahnya, Syekh Al-Husary kembali datang ke India dan melantunkan qiraat dalam Mukhtamar Umat Islam India yang pertama. Keindahan qiraat yang dibawakannya pun didengarkan langsung presiden kedua Mesir, Gamal Abdul Nashir dan Perdana Menteri India Jawarhalal Nehru. Di tahun yang sama, Syekh Al-Husary juga merampungkan tulisan mushaf murottal yang dikenal dunia dengan riwayat Hafsh dari Ashim. Tiga tahun berikutnya, yakni pada 1964, ia juga menyelesaikan tulisan mushaf dengan riwayat Warosy dari Nafi.

Pada 1968, Syekh Hussary membuat rekaman murotal Alquran dengan riwayat Qalun dan Addury dari Abi Amr Albashr. Dilanjutkan tahun berikutnya dengan membuat rekaman qiraat untuk disebarluaskan dikalangan pelajar di berbagai negara. Syekh Al-Husary juga menjadi tokoh pertama yang melantunkan ayat suci Alquran di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1977.

Tak hanya itu, keindahan murotal Alqurannya pernah diperdengarkan kepada keluarga istana Kerajaan Inggris pada 1978. Sebelum wafat, Syekh Al-Husary mendirikan masjid, pondok pesantren dan madrasah bagi para penghafal quran di tempat kelahirnanya di Desa Shubra An Namlah. Syarkh Al-Husary pun mewariskan sepertiga hartanya untuk membantu pengembangan pendidikan para penghafal Alquran.

Syekh Al-Husary meninggal dunia di kediamannya di Kairo pada 24 November 1980, selepas Shalat Isya. “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh,” adalah kata-kata terakhirnya. Sebuah doa agar kesejahteraan, kedamaian, dan rahmat Allah dicurahkan untuk semua. Bagaimana shalawat gubahan seorang Mesir bisa sampai ke Indonesia?

 

REPUBLIKA

Dari Yasmara, Shalawat Tarhim Melegenda

Berpuluh tahun, shalawat Tarhim semacam jadi ciri khas akustik Islam di Tanah Air, dari Sabang sampai Merauke. Apa cerita di baliknya? Kapan ia mula-mula dilantangkan? Siapa pendarasnya? Mengapa ia sedemikian manjur membuat hati terenyuh? Wartawan Republika Andrian Saputra, Dadang Kurnia, Adinda Pryanka, dan Fitriyan Zamzami mencari tahu soal itu. Berikut tulisan bagian ketiganya.

Tiga puluh menit menjelang waktu shalat fardu, masjid-masjid di hampir seluruh wilayah Jawa Timur menyiarkan lantunan ayat suci Alquran, kemudian diiringi shalawat. Tak terkecuali saat waktu Shalat Subuh hampir tiba. Lantunan Shalawat Tarhim, diiringi bacaan surat-surat pendek secara serempak disiarkan layaknya alarm yang membangunkan masyarakat, sekaligus mengajak shalat berjamaah ke masjid.

Setelah ditelisik, ternyata lantunan Shalawat Tarhim yang didaraskan Syekh Mahmoud Khalil Al-Husary dan bacaan surah-surah pendek yang disuarakan tersebut berasal siaran radio. Adalah Radio Yayasan Masjid Rahmat (Yasmara) yang secara istiqomah direlay masjid-masjid tersebut untuk disiarkan kembali hingga ke pelosok-pelosok. Radio ini mengudara dengan gelombang AM tepatnya frekuensi 1152 KHz.

Republika mengunjungi markas radio tersebut, di kawasan Kembang Kuning, Surabaya, pekan lalu. Ia adalah sebuah ruangan 4 x 4 meter yang disulap menjadi studio tempat siaran, seperti studio radio-radio pada umumnya.

Meskipun, dalam satu dan lain hal, bisa dikatakan lebih sederhana. Hanya ada satu unit komputer tabung, earphone, dan sebuah pelantang lengkap dengan dudukannya. Tentunya, tuangan tersebut juga dilengkapi meja dan kursi tempat si penyiar radio menjalankan siarannya.

Ruangan itu bersisian dengan Masjid Agung Rahmat  yang merupakan masjid tertua di Surabaya dan kisahnya didirikan Sunan Ampel. Sejarah itu yang jadi asal nama masjid tersebut sesuai nama asli Sunan Ampel yakni Raden Rahmat.

Shalawat Tarhim yang didaraskan Syekh Al-Husary dan bacaan surah pendek dari radio

Saat berdiri pada 1400-an, masyarakat setempat menyebut masjid itu Langgar Tiban. Sebab, bangunan itu seakan-akan jatuh (tiba, bahasa Jawa) entah dari mana sementara masyarakat merasa tidak membangun. Kala Sunan Ampel mengembangkan dakwahnya, masjid ini kemudian dipimpin Mbah Wirosroyo yang merupakan mertua Sunan Ampel. Saat itu, di sekitar masjid ini masih dikelilingi hutan.

Setelah berkembang dan dirasa tidak cukup menampung jamaah, masyarakat berinisiatif membangun dan merenovasi Masjid Rahmat. Pada 1964, menteri agama saat itu Syaifuddin Zuhri menyetujui permintaan masyarakat dan membangun kembali masjid menggunakan dana pemerintah. Pada 1967 masjid selesai dibangun dan diresmikan.

Sebagai masjid tertua, tak heran azan dari Masjid Rahmat menjadi patokan waktu shalat di Surabaya dan sekitarnya. “Dulu itu masyarakat enggakberani buka puasa sebelum masjid di sini azan,” ucap Ketua Yayasan Masjid Rahmat, Mansyur (60 tahun) merawikan. Tak lama selepas renovasinya diresmikan, berdirilah Radio Yasmara pada awal 1970-an.

Sejak itu pula, Radio Yasmara menyuarakan lantunan Tarhim dan bacaan surat-surat pendek, untuk kemudian disiarkan kembali oleh masjid-masjid yang terjangkau siarannya. “Sudah sejak 1974 dan istiqomah sampai sekarang. Awalnya dilakukan hanya untuk menyerempakkan kumandang azan waktu Shalat Subuh di Kota Surabaya,” kata Mansyur.

Mulanya, radio tersebut hanya menyasar masjid-masjid di Kota Surabaya saja. Pada 1974 bahkan antenanya pun masih memanfaatkan tiang bambu yang dilengkapi penangkal petir. Kemudian, pada 1976, jangkauan Radio Yasmara ditingkatkan sehingga lebih luas, dan disepakati menjadi radio dakwah Muslim.

Tentunya, dengan ciri khas mengumandangkan lantunan Shalawat Tarhim, diiringi bacaan surat-surat pendek sebelum tiba waktu Shalat Subuh. Masjid-masjid yang tertarik me-relay Shalawat Tarhim dan bacaan surat pendek pun terus bertambah. Seluruh masjid di Jawa Timur yang menangkap siaran Radio Yasmara melakukannya.

Melihat antusiasme takmir masjid yang ingin me-relay siaran Radio Yasmara membuat pengurus masjid itu menyepakati satu hal. Yakni mengumandangkan shalawat dan lantunan ayat Alquran menjelang lima waktu Shalat Fardhu. Meskipun, bukan selalu Shalawat tarhim dan bacaan surat-surat pendek yang dikundangkan sebelum Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya.

“Ada Shalawat Syiir tanpa waton atau biasa dikenal dengan Shalawat Gus Dur. Kemudian bacaan ayat Alqurannya ada Surah al-Hujurat, ar-Rahman, Yaasin dan sebagainya,” kata Mansyur.

Mansyur mengiyakan, lantunan Shalawat Tarhim dan bacaan surat-surat pendek yang biasa dikumandangkan sebelum Shalat Subuh berasal dari Mesir. Meskipun, Mansur tidak bisa menjelaskan menapa file tersebut bisa sampai ke Surabaya, dan siapa yang membawanya ke sana.

“Itu kan sudah sejak tahun 1974, saya tidak ingat. Itu saya masih kecil,” ujar pria 60 tahun tersebut.

Direktur Radio Yasmara Djoko Sumerno menjelaskan, saat ini Radio Yasmara jangkauannya sudah lebih luas. Yakni bisa menjangkau hingga Probolinggo, bahkan sebagian kecil Banjarmasin. Apalagi, Radio Yasmara berada pada gelombang radio AM yang meski mudah kena gangguan jangkauan frekuensinya jauh lebih luas ketimbang FM. Artinya daerah-daerah di pesisir pantai bisa lebih mudah menjangkau siarannya.

Djoko mengiyakan, siaran lantunanan Shalawat Tarhim dan bacaan surat-surat pendek dari Radio Yasmara direlay oleh masjid-masjid yang terjangkau. “Bahkan itu kalau kita tidak mengudara karena ada gangguan atau ada kerusakan, takmir-takmir masjid itu pada nelpon menanyakan,” ujar Djoko.

Dari Yasmara, tradisi memutar Shalawat Tarhim menjelang shalat subuh kemudian menular ke berbagai daerah. Masing-masing memutuskan sendiri-sendiri soal waktu pemutaran. Ada yang menguarkan sebelum azan Shalat Ashar seperti di Jawa Barat, atau sebelum azan Shalat Maghrib seperti di Yogyakarta dan Indonesia Timur. Mengapa lantunan shalawat singkat itu bisa demikian memikat?

 

REPUBLIKA