3 Permintaan Rasulullah dalam Doa yang Dipanjatkan Tiap Pagi

Rasulullah SAW rutin meminta tiga permintaan dalam munajat pagi.

Rasulullah SAW meneladankan dalam berdoa. Ada tiga permohonan yang Rasul SAW selalu lakukan di waktu pagi selepas sholat Subuh.

– أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم كان إذا أصبَح قال: اللَّهمَّ إنِّي أسأَلُكَ عِلمًا نافعًا، ورِزْقًا طيِّبًا، وعمَلًا مُتقَبَّلًا  

“Allahumma innii asaluka ‘ilman naafi’a, wa rizqan thayyibaa, wa ‘amalan mutaqabbalaa” (Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang diterima). (HR Ibnu Majah dan Ahmad).

Dalam doa itu, tiga permintaan yang senantiasa dimohonkan selepas Subuh. Subuh adalah waktu seseorang memulai aktivitas, juga menunjukkan bahwa ketiga hal yang diminta itu sesuatu yang sangat penting dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. 

Pertama, ilmu bermanfaat (ilman naafi’a). Ilmu yang bermanfaat merupakan hal yang perlu didahulukan dan diutamakan sebagai bekal hidup bagi manusia. Ilmu yang bermanfaat akan mengantarkan kepada kesuksesan hidup di dunia bahagia, di akhirat masuk surga. Nabi SAW bersabda sebagaimana dinukilkan Abu Hurairah RA:   

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim).

Berkaitan ilmu bermanfaat, Nabi SAW bersabda: 

عن عبدالله بن عمرو بن العاص أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يتعوذ من أربع، وكان يقول: (اللهم إني أعوذ بك من قلبٍ لا يخشع، ونداء لا يسمع، ومن نفس لا تشبع، ومن علم لا ينفع

Dari Abdullah  bin Al-Ash, bahwa Rasulullah SAW berlindung dari empat perkara yaitu: “Ya Allah aku berlindung kepadamu dari hati yang tidak khusyuk, doa yang tidak terkabul, nafsu yang tidak puas, dan ilmu yang tak bermanfaat.” 

Kedua, rezeki yang baik (rizqan thayyibaa). Dengan ilmu yang bermanfaat, seseorang akan dapat memilah rezeki antara yang halal dan yang haram. 

 إنَّ الحَلالَ بَيِّنٌ وإنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ

“Sesungguhnya yang halal sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas pula.” (HR Bukhari dan Muslim).

Alquran memerintahkan agar kaum Muslimin memastikan diri mengonsumsi rezeki yang baik-baik. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allâh, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu beribadah.” (QS al-Baqarah [2]: 172).

Ketiga, amal yang diterima (amalan mutaqabbalaa), yaitu amalan yang diterima di sisi Allah dan mendatangkan pahala bagi orang yang mengerjakannya. Syarat amalan itu diterima adalah dikerjakan dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Nabi SAW. Dalam hal ini, Allah SWT berfirman: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS al-Kahfi [18]: 110). 

KHAZANAH REPUBLIKA

Didoakan Rasulullah, Ini Manfaat Bangun Pagi dan Tak Tidur Usai Subuh

Tidur lagi usai sholat subuh mungkin jadi kebiasaan sebagian besar kaum urban. Berbagai alasan menjadi penyebabnya mulai dari masih ngantuk, menunggu giliran menggunakan kamar mandi, atau sekadar malas gerak (mager).

Kebiasaan ini ternyata telah disinggung Nabi Muhammad SAW dalam salah satu haditsnya. Dikutip dari buku Hadits-Hadits Sains: Fakta dan Bukti Ilmiah dalam Sabda Nabi Muhammad SAW, Rasulullah melarang umatnya tidur lagi setelah sholat subuh.

لَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ : أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ

“Aku duduk bersama orang-orang yang berdzikrullah Ta’ala mulai dari (waktu) sholat shubuh hingga terbit matahari lebih aku cintai daripada memerdekakan empat orang budak dari putra Nabi Isma’il.” (HR. Abu Dawud).

Hadist lain juga menekankan pentingnya memperbanyak ibadah di pagi hari, yang lebih baik daripada tidur lagi. Nabi Muhammad SAW bahkan mendoakan umatnya agar selalu mendapat berkah dari Allah SWT.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Dawud).

Sains atau ilmu pengetahuan selanjutnya membuktikan pentingnya bangun pagi yang menyediakan lebih banyak waktu sebelum beraktivitas. Selain beribadah, waktu yang tersedia bisa digunakan untuk melakukan berbagai persiapan.

Dengan persiapan cukup, memungkinkan seseorang tidak terburu-buru yang mencegah fluktuasi emosi dan stres. Efek menguntungkan lain adalah rasa persiapan diri yang meningkat karena selangkah lebih maju, dibanding yang bangun kesiangan sehingga tak punya persiapan.

Produktivitas dan kemampuan otak yang baik pada akhirnya membantu memaksimalkan seluruh potensi pada diri seseorang. Dalam jangka panjang, kebiasaan bangun pagi membentuk pribadi seseorang menjadi lebih stabil, berjiwa pemimpin, dan hidup lebih bahagia.

Islam sendiri sebetulnya telah memperingatkan umatnya bangun pagi, bahkan mulai dari sepertiga malam. Dalam hadistnya, Nabi Muhammad SAW mengingatkan umatnya untuk memaksimalkan ibadah pada Allah SWT di malam tersebut.

يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَلَهُ ، مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata: ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, aku akan memperkenankan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Kuampuni’.” (HR. Bukhari).

Dengan hadist ini, sesungguhnya tidak ada alasan untuk tidur lagi usai sholat subuh. Dengan izin Allah SWT, berkah akan menyertai mereka yang bangun pagi.

detikHikmah

Ketika Rasulullah Kaget Kesiangan Salat Subuh

DIRIWAYATKAN dari Abu Qatadah, yang berkata: Pada suatu malam kami menempuh perjalanan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagian orang mengatakan: “Ya Rasulullah! Sebaiknya kita beristirahat menjelang pagi ini.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku khawatir kalian tidur nyenyak sehingga melewatkan salat subuh.” Kata Bilal: “Saya akan membangunkan kalian.”

Di saat semua terlelap, Bilal berusaha tetap terjaga dengan bersandar pada hewan tunggangannya. Namun Ia justru ikut tertidur dengan pulasnya sehingga tidak sadar jika waktu sudah menunjukan lewat Subuh.

Nabi yang bangun duluan kaget bukan kepalangan karena melihat busur tepian matahari sudah muncul. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Hai Bilal! Mana bukti ucapanmu?

Bilal menjawab: “Saya tidak pernah tidur sepulas malam ini.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mengambil nyawamu kapanpun Dia mau dan mengembalikannya kapanpun Dia mau. Hai Bilal! bangunlah dan suarakan azan.”

Kemudian Rasul dan rombongan mengambil air wudu dan melaksanakan salat meski matahari agak meninggi sedikit dan bersinar putih. (Hadis Sahih Imam Bukhari, nomor 595).

Dari kisah di atas, diketahui jika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sudah memberikan teladan bagi umatnya yang kesiangan salat subuh. Namun hal ini bukan berarti kita tidak mempersiapkan diri untuk bangun lebih pagi.

Jika terpaksa mengalami kondisi ini, maka segeralah untuk mendirikan salat ketika teringat. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Nabi pernah bersabda: “Siapa yang lupa untuk melaksanakan salat, maka laksanakanlah ketika ingat, tanpa kaffarah (denda) atas lupanya itu kecuali dengan mengerjakan salat tersebut.” Kemudian Rasulullah membaca ayat (yang artinya): ” dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku,” (Alquran surat Thaahaa, ayat 14). (Hadis Sahih Bukhari, nomor 597).

Rasulullah Pernah Salat Asar pada Waktu Maghrib

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, bahwa pada saat perang Khandaq, Umar bin Khattab datang setelah matahari terbenam. Umar mencaci-maki orang-orang kafir Quraisy.

Kata Umar: “Ya Rasulullah! Saya hampir saja tidak melaksanakan salat Asar sampai matahari hampir terbenam.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah! Aku belum melaksanakan salat Asar.”

Kata Jabir: “Kami pergi ke Buthhan, kemudian Nabi berwudu untuk salat dan kami pun berwudu, lalu Nabi melaksanakan salat Asar setelah matahari terbenam, setelah itu beliau melaksanakan salat Maghrib,” (Hadis Shahih Bukhari, nomor 596).[]

 

 

Ketika Rasulullah Kesiangan Salat Subuh

“Sesungguhnya salat itu kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. 4:103)”

Dengan demikian, seorang muslim harus melaksanakan salat tepat pada waktunya. Lalu bagaimana dengan orang yang bangun tidur kesiangan, sehingga matahari telah terbit?

Bagi orang yang tertidur, tidak bangun di waktu subuh hingga matahari terbit, maka tatkala bangun ia harus segera melaksanakan salat subuh. Dalam hal ini, ia tidak berdosa. Sebab, keterlambatannya untuk melaksanakan salat bahkan hingga keluar waktunya bukan karena unsur kesengajaan.

Hal ini pernah terjadi pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang dalam perjalanan. Ketika malam, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat tertidur hingga matahari terbit.

Seketika itu, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Bilal untuk azan dan iqamah. Akhirnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat salat subuh di kala matahari telah terbit.

Wallahu a’lam. [Ustazah Novria Flaherti]

 

INILAH MOZAIK

Salat Subuh Kesiangan tak Haram Dikerjakan

SALAT subuh adalah salah satu salat yang wajib dikerjakan pada waktunya oleh semua orang Muslim, kecuali ada halangan yang sah seperti wanita yang haid, dan sebagainya.

Kalau kesiangan dan bangun telat, ada orang yang menjadi bingung apakah masih boleh salat atau tidak. Mereka menjadi bingung karena mereka bertanya kepada teman dan teman itu menjawab “Haram salat setelah matahari naik!” Oleh karena itu, orang tersebut mengabaikan salat subuh dan tidak salat sama sekali karena menganggap hal itu haram.

Itu suatu persepsi yang sangat keliru. Salat subuh wajib dikerjakan, jam berapa saja kita bangun (dan begitu juga untuk semua salat wajib yang lain). Kalau umpamanya kita capek, bangun pada waktu subuh dalam kondisi setengah sadar, matikan jam alarm, tidur lagi, dan bangun pada jam 8 pagi, maka pada saat bangun itu masih wajib mengerjakan subuh.

Walaupun matahari sudah naik. Kenyataan bahwa matahari sudah naik tidak menghilangkan kewajiban untuk salat. (Dan kalau ketiduran lewat waktu maghrib sehingga masuk Isya, maka salat maghrib tetap wajib dikerjakan, walaupun di luar waktunya.)

Waktu yang secara umum dilarang untuk shalat adalah mengerjakan salat pada saat matahari sedang muncul (bukan cahayanya, tetapi bentuk fisik matahari sendiri). Hal itu diharamkan untuk hilangkan persepsi (pada zaman dulu) bahwa orang Muslim adalah penyembah matahari.

Zaman dulu, memang ada kaum yang menyembah matahari, dan mereka beribadah pada saat matahari mulai kelihatan bentuk fisiknya, jadi ibadah pada saat itu diharamkan bagi umat Islam. Tetapi ulama telah sepakat bahwa kalau ada salat wajib yang belum dikerjakan, maka harus langsung dikerjakan (diganti, atau diqadha) pada waktu itu juga tanpa harus menunggu, walaupun dilarang secara umum untuk salat pada waktu tersebut.

Yang haram dan sangat buruk adalah kalau seseorang sudah bangun pada waktu subuh, tetapi barangkali dia sedang asyik nonton siaran langsung sepak bola di tivi, atau asyik ngobrol sama temannya, dan oleh karena itu dia malas melakukan subuh. Pada saat dia sudah selesai nonton bola, dan sudah “bersedia” melakukan salat, maka dia masih wajib melakukannya.

Kewajiban salat itu tidak menjadi hilang. Tetapi tentu saja dia akan kena dosa besar karena sengaja menunda sebuah salat wajib, sehingga sudah keluar dari waktunya, tanpa ada alasan yang benar. Jadi sudah bisa diperkirakan bahwa dia tidak akan dapat pahala sama sekali, dan juga ada kemungkinan Allah akan menolak salat itu (tidak akan diterima di sisi Allah, seolah-olah tidak salat). Walaupun begitu, sebagai seorang Muslim dia masih memiliki kewajiban untuk melakukan salat subuh tersebut. Meninggalkannya dengan alasan kesiangan, ataupun di luar waktu karena nonton bola tadi adalah alasan yang tidak benar. Tetap wajib dikerjakan.

Dan perlu dipahami bahwa Nabi Muhammad SAW sendiri juga pernah kesiangan untuk salat subuh, jadi hal itu menjadi petunjuk bagi kita bahwa kalau kita kesiangan sewaktu-waktu maka itu adalah hal yang biasa (bukan suatu dosa besar, karena memang tidak sengaja), dan Nabipun juga mengalaminya. Yang penting adalah kita langsung mengerjakan salat setelah kita bangun, dan jangan sampai salat subuh yang kesiangan itu menjadi suatu kebiasaan bagi kita. Wallahu alam bissawab.

MOZAIK

Ketika Kuabaikan Panggilan Subuh-Mu

Deru suara truk-truk pengangkut bahan bakar mulai memecah kesunyian pagi. Suara mesin berkapasitas 8.000 cc juga terdengar berderik keras mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menarik tangki-tangki besar muatannya.

Sesekali dentuman hidrolik melepaskan angin membuat tembok mushala tempatku tidur bergetar. Mataku masih terasa pedih untuk dapat kubuka. Kusempatkan melirik handphone di sampingku. Masih pukul 3.30 pagi. Dengan malas aku mencoba duduk sambil bersandar di tembok. Kulihat temanku Dimas masih tertidur dengan pulas.

Sesekali terlihat keletihan di wajahnya yang belum pulih benar setelah seharian mendampingi operator. Tak lama kemudian terdengar suara panggilan bagi para sopir dan awak mobil untuk berkumpul.

“Mas, bangun! Sebentar lagi sudah mulai operasi” seruku sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Tak perlu waktu lama untuk dia bangun dan mengambil tasnya yang berisi laptop yang penuh dengan kode-kode program baru yang sudah kami upload ke server tadi malam.

Dengan langkah gontai kami pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Usapan air di muka kami betul-betul menyegarkan wajah kami.

“Mas, kita harus pastikan sistem yang di upload semalam berjalan dengan baik”, kataku kepada Dimas. “Iya, saya akan stand by supaya operasional lancar” jawab Dimas. Temanku yang satu ini memang bisa diandalkan untuk urusan mengotak-atik sistem baru.

Sesampainya kami di depan pintu ruang operasi kuketuk pintu tiga kali. “Srek srek”, suara sandal terdengar mendekati pintu. “Eh mas Rinto, nginep kantor to kang”, kata Pak Ari. “Iyo pak, takutnya telat malah ganggu operasional”, jawabku sambil menuju sofa tamu yang ada di depan meja operasional.

Segera kuambil laptop dalam tasku. Kubuka perlahan layar laptop dan kuisikan password. Setelah loading beberapa saat, aku segera membuka aplikasi proyek yang sedang kami kerjakan.

Sayup-sayup terdengar suara adzan Subuh mulai menggema. Aku masih meneruskan membaca baris-baris program komputer. Rasa penasaran intelektualku makin membuncah memenuhi seluruh ruang kesadaranku. Sudah beberapa kali kuotak-atik aplikasi ini, namun tak kunjung kutemukan solusi atas kendala logika otomasi di menu sistem tersebut. “Mas, kenapa datanya masih belum bisa terintegrasi ya?” seruku pada Dimas yang tak kalah pusing.

“Sepertinya masih terkendala di koneksi databasenya”, jawabnya sambil menaikkan kacamata minusnya. Aku kembali terhanyut dalam rentetan baris kode logika pemrograman yang tertata rapi di layar komputer. Aku mencoba keras untuk berpikir memecahkan teka-teki permasalahan namun belum terlihat juga masalah yang terjadi.

Kulayangkan pandanganku ke tembok. “Teng…..Teeeng” suara jam dinding berdentang keras.
“Astaghfirullah, sudah jam lima!” seru Dimas mengingatkan. “Ayuk, salat Subuh dulu mas” kata Dimas. Aku terhenyak karena subuh sudah lewat dari tadi. Segerak kuiikuti Dimas buru-buru ke kamar mandi dan berwudhu.

Setelah salat subuh sebentar, kami kembali duduk di depan laptop sambil menganalisa gambar
jaringan komputer. “Nah aku sudah ketemu mas, ada masalah di salah satu setup paramater kita dan sudah kubereskan,” serunya dengan wajah gembira.

“Ok, segera kamu setup saja biar cepet kelar nih” seruku. “Aku sudah bosen di sini ngerjain itu melulu, ngga kelar-kelar,” ocehku sambil mengacungkan jempol pada rekanku. “Kriing…kriiing” tiba-tiba handphoneku berbunyi.

“Assalamualaikum, Ayah” dari handphone kudengar celoteh anakku. “Waalaikum salam sayang”, jawabku. “Adik sudah salat?” tanyaku kembali kepada anakku. “Sudah, Yah. Tadi juga ikut Bunda Tahajud.” Tukasnya sambil ketawa ngikik. “Tut…tut…tut”, tidak terdengar lagi jawaban dari handphone. Mungkin kepencet sehingga terputus.

Aku sudah kembali hanyut dalam pekerjaanku. Aku memang sangat menyenangi pekerjaanku. Jika
sudah bergelut di depan laptopku, aku bisa berjam-jam duduk tanpa bergeser dari bangku tempatku menyandarkan tubuhku. Terkadang aku berkerja dengan keras sekali bukan karena loyalitasku tetapi lebih cenderung karena memuaskan rasa intelektualku. Seringkali salat berjemaah maupun makan siangku terlewat begitu saja karena begitu asyiknya di depan komputerku.

Siang ini aku sudah cukup puas dengan hasil kerjaku dan rekan kerjaku karena beberapa masalah sudah berhasil aku selesaikan. Sambil minum teh hangat, aku berbincang-bincang dengan beberapa rekan kerja seniorku di kantin. Dari dinding kaca kantin dapat kulihat beberapa sopir truk berkerumun menunggu antrean pengiriman. Asap rokok yang dinyalakan oleh mereka mulai masuk ke ruang kantin tempat kami berbincang. Tiba-tiba kami dikejutkan suara pintu yang terbuka.

“Mas Rinto, aplikasinya kembali ngga konek. Antrean semakin panjang dan tolong segera dibantu,” seru Dimas yang dari tadi berada di ruang kerjanya.

Aku pun kembali bergegas menuju ruangan di samping kantin. Beberapa kabel jaringan yang ada kucabut, dan kucolok kembali. “Mas, tolong dicek apakah sudah kembali konek atau tidak?” seruku pada Dimas yang dari tadi bengong di belakangku. “Belum, Mas,” jawabnya sambil teriak dari dalam kantor.

Sementara itu antrean para sopir yang sudah mulai mengular menaikkan tingkat stressku. “Pak, lama banget sih” kata para sopir truk yang sudah tidak sabar. “Sabar pak, sabar.
Orang sabar itu disayang Allah,” jawabku sekenanya. “Kayaknya perlu dicek antenanya di atas atap mas Rinto” usul Dimas yang dari tadi ikut stress mendengar omelan para sopir. “Ok deh mas Dimas, aku naik ke atas atap ya, kamu jaga di sini dan kasih tau kalau sudah bisa nyambung kembali,” kataku sambil berlalu menuju tangga belakang.

Dengan perlahan aku mulai menaiki tangga belakang dengan hati-hati. Sesampainya di atap, aku mulai berjalan mengikuti coran tembok menuju antena berbentuk parabola yang menjadi
penghubung koneksi jaringan di kantorku. Kulihat lampu indikator pada antena tersebut tidak menyala. Dengan segera kucabut kabel yang tercolok di perangkat tersebut kemudian kutancapkan kembali. “Dimaaas, sudah nyambuuuung?” teriakku dari atas atap. “Sudah mas, wokeeeeh.”

Serunya membalas teriakanku. “Sip deh” batinku sambil merasa puas atas kemampuanku. Aku pun berjalan kembali melintas atap untuk kembali turun. Sesudah sampai di dinding, aku mencoba melangkahkan kaki arah tangga, tapi nahas. Tangga yang licin membuat kakiku terpeleset sehingga aku harus bertumpu pada tanganku di salah satu genteng. “Kreek” suara atap patah tertarik oleh tanganku karena tak mampu lagi menahan berat tubuhku. Tak ayal lagi, tubuhku melayang di udara, bumi siap menerima hempasan tubuhku. “Buk, Aduuuh” Aku berteriak kesakitan dan kulihat langit menjadi gelap.

“Tit…tit…tit” suara teratur itu terdengar di telingaku. Saat kubuka mataku, aku ternyata sedang terbaring di sebuah kamar yang serba putih. Perlahan-lahan aku mencoba mengingat kembali memori terakhirku. Ketika aku teringat kejadian kemarin, aku menduga bahwa ini adalah rumah sakit. Kucoba menggerakkan kakiku, ternyata sakit sekali.

“Ayah sudah siuman?” kudengar suara putriku ada didekatku. Aku menolehkan wajahku ke arah suara itu. “Alhamdulilah Sayang, ayah sudah baikan” jawabku sambil tanganku mengusap-usap kepalanya. Aku begitu bahagia masih bisa bertemu dan melihat kembali anakku.

“Alhamdulilah, Fathin senang lihat Ayah sudah baikan. Fathin bersyukur banget sama Allah. Doa Fathin terkabul. Tadi Fathin doain ayah biar segera sembuh, celoteh anakku yang memang dari kecil ceriwis sekali dan rona wajahnya menyiratkan kebahagiaan yang luar biasa. Sambil berjingkrak-jingkrak dia berlari ke pangkuan ibunya untuk mengabarkan berita gembira bahwa ayahnya sudah siuman.

Kupandangi lekat-lekat anakku. Begitu mudahnya anak ini berbahagia dengan kembalinya kesadaran diriku. Tapi bagaimana mungkin, sebelumnya aku dengan seluruh kesehatan badanku tak mampu untuk mensyukurinya? Bagaimana mungkin aku tidak memenuhi panggilanmu untuk salat berjemaah di saat Engkau berikan harta yang sudah mencukupi kebutuhanku? Begitu sombongnya diriku menganggap dapat menyelesaikan masalah-masalah pekerjaan, padahal itu semua adalah ilham dari-Mu. Kini aku yakin bahwa jatuhnya diriku ini pun adalah kuasa-Mu untuk dapat kembali menyadarkanku agar kembali ke jalan-MU.

“Allahuakbar…Allahuakbar”, suara gema adzan Dzuhur yang sayup-sayup kudengar tak terasa telah melelehkan mataku. Hari ini aku hanya bisa mendengar panggilan-Mu tanpa bisa memenuhinya karena peringatan-Mu kepadaku. Aku berjanji akan kembali bersegera memenuhi seruan-Mu, sebelum Engkau benar-benar meminta pertanggungjawaban hidupku. Terima kasih ya Allah telah Kau ingatkan hamba-Mu. []

Riswanto Warih Prabowo, Aktivis Dakwah Kampus ITB’ 99

sumber: Mozaik Inilah.com

Lima Sabda Rasulullah tentang Shalat Subuh

Waktu Subuh adalah waktu yang paling baik untuk mendapatkan rahmat dan ridha Allah. Tantangan untuk menyingkap selimut ketika dinginnya pagi datang mendapat apresiasi tersendiri di mata Allah SWT.

Allah SWT berfirman, ”Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS Al-Kahfi [18]: 28).

Rasulullah pun sering mengungkap keutamaan shalat Subuh. Berikut lima sabda Rasulullah tentang shalat Subuh.

 

Pahala Shalat Malam Satu Malam Penuh

Diriwayatkan Muslim dari Utsman bin Affan ra berkata; Rasulullah SAW bersabda,”Barangsiapa yang shalat Isya berjamaah maka seakan-akan dia telah shalat setengah malam. Dan barangsiapa shalat Subuh berjamaah, maka seakan-akan dia telah melaksanakan shalat malam satu malam penuh.” Hadits riwayat Muslim.

 

Surga yang Dijanjikan

Diriwayatkan dari Abu Musa al Asy’ari ra ia berkata Rasulullah SAW bersabda: ”Barangsiapa yang shalat dua waktu yang dingin maka akan masuk surga.” (HR Al Bukhari). Dua waktu yang dingin itu adalah shalat Subuh dan shalat Ashar.

 

Dapat Melihat Allah

Mereka yang menjaga shalat Subuh dan Ashar, dijanjikan kelak di surga akan melihat Allah SWT. Hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Jarir bin Abdullah ra artinya: ”Kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW, ketika melihat bulan purnama. Beliau berkata, ”Sungguh, kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan yang tidak terhalang dalam melihatnya. Apabila kalian mampu, janganlah kalian menyerah dalam melakukan shalat sebelum terbit matahari dan shalat sebelum terbenam matahari. Maka lakukanlah.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

 

Berada di Bawah Lindungan Allah SWT

Rasulullah SAW memberi janji, bila shalat Subuh dikerjakan, maka Allah akan melindungi siapa pun yang mengerjakannya seharian penuh. Hadits yang diriwayatkan dari Jundab bin Sufyan Rasulullah SAW bersabda: ”Barangsiapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Maka jangan coba-coba membuat Allah membuktikan janji-Nya. Barangsiapa yang membunuh orang yang menunaikan shalat Subuh, Allah akan menuntutnya, sehingga Ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka.”(HR Muslim, At-Tirmizi dan Ibnu Majah)

 

Diampuni Dosanya

Rasul SAW bersabda “Siapa saja tetap duduk di masjid setelah melaksanakan dua rekaat salat subuh sampai ia melaksanakan salat dhuha, dan ia tidak berucap kecuali yang baik, maka dosa-dosanya akan diampuni Allah SWT.,walaupun dosanya itu lebih banyak dari buih di lautan“ (HR.Abu Daud).

 

 

Doa Rasulullah untuk Penjaga Shalat Subuh

Shalat Subuh terkenal karena daya tariknya yang tinggi sekaligus tantangannya yang tidak mudah. Banyak sekali hadis yang mendorong untuk melaksanakan shalat Subuh dan menyanjung mereka yang menjaganya.

Rasulullah SAW mengetahui waktu Subuh adalah waktu yang sulit. Seorang Muslim bila dibiarkan begitu saja akan memilih mengistirahatkan dirinya sampai matahari terbit dan meninggalkan shalat wajib. Karena itu Rasulullah SAW mengkhususkan shalat mulia ini dengan keistimewaan tunggal dan sifat-sifat tertentu yang tidak terulang pada shalat lainnya.

“Siapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia barada dalam jaminan Allah. Maka, jangan kamu mencari jaminan Allah dengan sesuatu (selain dari shalat), yang pada saat kamu mendapatkannya justru kamu tergelincir ke dalam api neraka.” (HR Muslim).

Muhammad Abdur Rauf al-Munawi dalam kitabnya at-Ta’arif mengatakan as-Subhu atau As Sabah adalah permulaan siang, yaitu ketika ufuk berwarna merah karena tertutup tabir matahari. Adapun shalat Subuh adalah ibadah shalat yang dilaksanakan ketika fajar shidiq dan berakhir pada saat matahari terbit.

Banyak sekali keutamaan yang didapat di waktu Subuh. Salah satu keutamannya adalah Rasulullah SAW mendoakan umatnya yang bergegas dalam melaksanakan shalat Subuh, sebagaimana disebutkan dalam suatu hadis, ”Ya Allah berkahilah umatku selama mereka senang bangun Subuh.” (HR Tirmizi, Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah).

Jika Rasulullah SAW yang berdoa, maka tidak akan ada hijab di antara beliau dengan Allah SWT. Karena beliau sendiri adalah orang yang secara jasadiyah paling dekat dengan Allah SWT.

 

 

Mencetak Generasi Mujahid Subuh

Komunitas kebaikan yang aktif di sosial media semakin banyak bermunculan. Mereka yang fokus terhadap salah satu amalan ini memanfaatkan facebook, twitter dan whatsapp untuk merekrut anggota baru.

Menjamurnya komunitas kebaikan seperti Komunitas Pejuang Subuh, Tahajud Berantai, Puasa Daud, Odoj, Sedekah Harian dan banyak lagi komunitas lainnya yang juga menggunakan sosial media sebagai basis komunikasinya antara sesama anggota.

Misalnya latar belakang berdirinya Pejuang Subuh (PS) berawal dari cita-cita Rivani (Iman), Emanuel Hadi (Didot) dan Arisakti Prihatwono (Rico) yang ingin ramainya shalat subuh seramai shalat Jumat.

“Dimulainya tahun 2012 di medio Ramadhan, tepatnya di 2 Agustus 2012 tweet pertama dimuculkan,” kata Arisakti Prihatwono, salah satu founder PS saat dihubungi Republika.co.id, beberapa waktu lalu.

Arisakti Prihatwono alias Rico meceritakan, ketika itu rekannya bernama Emanuel Hadi alias Didot heran kenapa pada waktu shalat subuh masjid kebanyakan para orang tua yang berada di masjid, bukan malah sebaliknya anak muda yang memenuhi barisan shalat ketika waktu subuh.

 

Gebrakan Awal 40 Hari

Untuk memulainya, Didot dibantu Iman (Rivani) dan juga Rico untuk menjalankan shalat subuh secara teratur. Definisi shalat teratur itu 40 hari tanpa putus shalat Subuh berjamaah di masjid.

“Akhirnya kita bersama-sama untuk bangunin orang lewat sosial media,” ujar Arisakti.

Pertamanya yang menyarankan pejuang subuh aktif di media sosial adalah Felix Siauw. Untuk itu mereka bertiga berbagi tugas untuk mengaktifkan media sosial masing-masing. Dari beberapa media sosial hanya twitter yang memiliki respon positif terhadap pejuang subuh.

“Tidak disangka ternyata twitter cukup besar antusiasmenya,” katanya.

Setelah beberapa bulan berjalan, tepatnya di bulan Desember 2012 tanggal 24-25 pas malam Natal komunitas Pejuang Subuh memutuskan untuk mengadakan pertemuan pertama untuk sesama angggotanya. Pertemuan itu dinamakan malam bina iman dan taqwa (Mabid) yang sekaligus mengajak followers untuk shalat subuh berjamaah selama 40 hari tanpa putus.

Pejuang subuh dan mujahid subuh memiliki visi dan misi. Pejuang Subuh yang merupakan sebuah komunitas visinya adalah shalat subuh seramai shalat Jumat, sementara visi Mujahid Subuh secara personal adalah istiqomah sampai khusunul khotimah.

 

Generasi Mujahid Subuh

Untuk melahirkan itu semua, kata dia, ada beberapa misi yang harus dijalankan. Pertama membangunkan mujahid subuh, mencetak mujahid subuh dan mempertahankan mujahid subuh.

“Agar sama-sama untuk berdakwah,” kata Arisakti.

Shalat 40 hari berjamaah di masjid juga merupakan persyaratan bagi ikhwan yang ingin diangkat menjadi mujahid subuh dan untuk pejuang akhwat cukup shalat subuh selama 30 hari tanpa putus di rumah.

Rico yang juga berprofesi sebagai pengacara ini menyampaikan proses membangun sesama anggota dan keluarga untuk berjamaah shalat subuh merupakan dakwah yang mesti dijalankan setiap anggotanya.

“Terutama menjaga shalat subuh dari mujahid-mujahid sebelumnya, sehingga regenerasi tetap terjaga,” katanya.

Ada tiga cara yang sudah ditetapkan di Pejuang Subuh untuk mempertahankan mujahid subuh. Yaitu dengan Belajar, Bekerja dan Berdakwah. Dalam hal belajar, Pejuang Subuh memiliki cita-cita kalau para mujahidnya dapat meraih gelar dokter dan profesor.

Sementara dalam hal bekerja, Pejuang Subuh berharap para mujahidnya tidak hanya sebagai pegawai yang biasa-biasa saja, akan tetapi mujahid subuh bisa menjadi pengambil keputusan dan kebijakan di perusahan swasta maupun pemerintah seperti di legislatif, eksekutif dan yudikatif.

Dalam hal berdakwah minimal para mujahid bisa membangun anggota, keluarga dan sahabat dekatnya. Sehingga cita-cita mendapat istiqomah dan khusnul khatimah bisa tercapai.

 

sumber: Republika Online

‘Subuh, Shalat yang Paling Susah Dikerjakan’

Sholat Subuh kerap dinilai menjadi kewajiban Muslim yang rentan ditinggalkan karena interval waktunya yang terbatas hingga fajar terbit.

“Shalat Subuh, shalat yang  paling susah dikerjakan. Dari 10 orang yang disurvei, mungkin hanya tiga sampai empat orang yang shalat Subuh tepat waktu,” kata Koordinator Perempuan Gerakan Pejuang Subuh Vita Ismail, Jumat (20/2).

Ia  mengatakan, Gerakan Pejuang subuh berangkat dari keprihatinan para pendiri gerakan ini sebab banyak orang yang susah melakukan shalat Subuh.

Alasan terlambat shalat Subuh antara lain, kecapekan kerja, kebablasan tidur atau bekerja shift malam. Namun, Vita menilai, seharusnya alasan seperti ini bisa diminimalisir sebab semua umat Islam tahu kalau shalat Subuh itu wajib dikerjakan.

Diharapkan dengan gerakan ini, ujar Vita, jumlah laki-laki yang mau shalat Subuh berjamaah semakin meningkat sehingga jumlah jamaahnya seperti shalat Jumat.

 

sumber: Republika Online