Ketika Rasulullah Kesiangan Salat Subuh

“Sesungguhnya salat itu kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. 4:103)”

Dengan demikian, seorang muslim harus melaksanakan salat tepat pada waktunya. Lalu bagaimana dengan orang yang bangun tidur kesiangan, sehingga matahari telah terbit?

Bagi orang yang tertidur, tidak bangun di waktu subuh hingga matahari terbit, maka tatkala bangun ia harus segera melaksanakan salat subuh. Dalam hal ini, ia tidak berdosa. Sebab, keterlambatannya untuk melaksanakan salat bahkan hingga keluar waktunya bukan karena unsur kesengajaan.

Hal ini pernah terjadi pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang dalam perjalanan. Ketika malam, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat tertidur hingga matahari terbit.

Seketika itu, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Bilal untuk azan dan iqamah. Akhirnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat salat subuh di kala matahari telah terbit.

Wallahu a’lam. [Ustazah Novria Flaherti]

 

INILAH MOZAIK

Salat Subuh Kesiangan tak Haram Dikerjakan

SALAT subuh adalah salah satu salat yang wajib dikerjakan pada waktunya oleh semua orang Muslim, kecuali ada halangan yang sah seperti wanita yang haid, dan sebagainya.

Kalau kesiangan dan bangun telat, ada orang yang menjadi bingung apakah masih boleh salat atau tidak. Mereka menjadi bingung karena mereka bertanya kepada teman dan teman itu menjawab “Haram salat setelah matahari naik!” Oleh karena itu, orang tersebut mengabaikan salat subuh dan tidak salat sama sekali karena menganggap hal itu haram.

Itu suatu persepsi yang sangat keliru. Salat subuh wajib dikerjakan, jam berapa saja kita bangun (dan begitu juga untuk semua salat wajib yang lain). Kalau umpamanya kita capek, bangun pada waktu subuh dalam kondisi setengah sadar, matikan jam alarm, tidur lagi, dan bangun pada jam 8 pagi, maka pada saat bangun itu masih wajib mengerjakan subuh.

Walaupun matahari sudah naik. Kenyataan bahwa matahari sudah naik tidak menghilangkan kewajiban untuk salat. (Dan kalau ketiduran lewat waktu maghrib sehingga masuk Isya, maka salat maghrib tetap wajib dikerjakan, walaupun di luar waktunya.)

Waktu yang secara umum dilarang untuk shalat adalah mengerjakan salat pada saat matahari sedang muncul (bukan cahayanya, tetapi bentuk fisik matahari sendiri). Hal itu diharamkan untuk hilangkan persepsi (pada zaman dulu) bahwa orang Muslim adalah penyembah matahari.

Zaman dulu, memang ada kaum yang menyembah matahari, dan mereka beribadah pada saat matahari mulai kelihatan bentuk fisiknya, jadi ibadah pada saat itu diharamkan bagi umat Islam. Tetapi ulama telah sepakat bahwa kalau ada salat wajib yang belum dikerjakan, maka harus langsung dikerjakan (diganti, atau diqadha) pada waktu itu juga tanpa harus menunggu, walaupun dilarang secara umum untuk salat pada waktu tersebut.

Yang haram dan sangat buruk adalah kalau seseorang sudah bangun pada waktu subuh, tetapi barangkali dia sedang asyik nonton siaran langsung sepak bola di tivi, atau asyik ngobrol sama temannya, dan oleh karena itu dia malas melakukan subuh. Pada saat dia sudah selesai nonton bola, dan sudah “bersedia” melakukan salat, maka dia masih wajib melakukannya.

Kewajiban salat itu tidak menjadi hilang. Tetapi tentu saja dia akan kena dosa besar karena sengaja menunda sebuah salat wajib, sehingga sudah keluar dari waktunya, tanpa ada alasan yang benar. Jadi sudah bisa diperkirakan bahwa dia tidak akan dapat pahala sama sekali, dan juga ada kemungkinan Allah akan menolak salat itu (tidak akan diterima di sisi Allah, seolah-olah tidak salat). Walaupun begitu, sebagai seorang Muslim dia masih memiliki kewajiban untuk melakukan salat subuh tersebut. Meninggalkannya dengan alasan kesiangan, ataupun di luar waktu karena nonton bola tadi adalah alasan yang tidak benar. Tetap wajib dikerjakan.

Dan perlu dipahami bahwa Nabi Muhammad SAW sendiri juga pernah kesiangan untuk salat subuh, jadi hal itu menjadi petunjuk bagi kita bahwa kalau kita kesiangan sewaktu-waktu maka itu adalah hal yang biasa (bukan suatu dosa besar, karena memang tidak sengaja), dan Nabipun juga mengalaminya. Yang penting adalah kita langsung mengerjakan salat setelah kita bangun, dan jangan sampai salat subuh yang kesiangan itu menjadi suatu kebiasaan bagi kita. Wallahu alam bissawab.

MOZAIK

Ketika Kuabaikan Panggilan Subuh-Mu

Deru suara truk-truk pengangkut bahan bakar mulai memecah kesunyian pagi. Suara mesin berkapasitas 8.000 cc juga terdengar berderik keras mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menarik tangki-tangki besar muatannya.

Sesekali dentuman hidrolik melepaskan angin membuat tembok mushala tempatku tidur bergetar. Mataku masih terasa pedih untuk dapat kubuka. Kusempatkan melirik handphone di sampingku. Masih pukul 3.30 pagi. Dengan malas aku mencoba duduk sambil bersandar di tembok. Kulihat temanku Dimas masih tertidur dengan pulas.

Sesekali terlihat keletihan di wajahnya yang belum pulih benar setelah seharian mendampingi operator. Tak lama kemudian terdengar suara panggilan bagi para sopir dan awak mobil untuk berkumpul.

“Mas, bangun! Sebentar lagi sudah mulai operasi” seruku sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Tak perlu waktu lama untuk dia bangun dan mengambil tasnya yang berisi laptop yang penuh dengan kode-kode program baru yang sudah kami upload ke server tadi malam.

Dengan langkah gontai kami pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Usapan air di muka kami betul-betul menyegarkan wajah kami.

“Mas, kita harus pastikan sistem yang di upload semalam berjalan dengan baik”, kataku kepada Dimas. “Iya, saya akan stand by supaya operasional lancar” jawab Dimas. Temanku yang satu ini memang bisa diandalkan untuk urusan mengotak-atik sistem baru.

Sesampainya kami di depan pintu ruang operasi kuketuk pintu tiga kali. “Srek srek”, suara sandal terdengar mendekati pintu. “Eh mas Rinto, nginep kantor to kang”, kata Pak Ari. “Iyo pak, takutnya telat malah ganggu operasional”, jawabku sambil menuju sofa tamu yang ada di depan meja operasional.

Segera kuambil laptop dalam tasku. Kubuka perlahan layar laptop dan kuisikan password. Setelah loading beberapa saat, aku segera membuka aplikasi proyek yang sedang kami kerjakan.

Sayup-sayup terdengar suara adzan Subuh mulai menggema. Aku masih meneruskan membaca baris-baris program komputer. Rasa penasaran intelektualku makin membuncah memenuhi seluruh ruang kesadaranku. Sudah beberapa kali kuotak-atik aplikasi ini, namun tak kunjung kutemukan solusi atas kendala logika otomasi di menu sistem tersebut. “Mas, kenapa datanya masih belum bisa terintegrasi ya?” seruku pada Dimas yang tak kalah pusing.

“Sepertinya masih terkendala di koneksi databasenya”, jawabnya sambil menaikkan kacamata minusnya. Aku kembali terhanyut dalam rentetan baris kode logika pemrograman yang tertata rapi di layar komputer. Aku mencoba keras untuk berpikir memecahkan teka-teki permasalahan namun belum terlihat juga masalah yang terjadi.

Kulayangkan pandanganku ke tembok. “Teng…..Teeeng” suara jam dinding berdentang keras.
“Astaghfirullah, sudah jam lima!” seru Dimas mengingatkan. “Ayuk, salat Subuh dulu mas” kata Dimas. Aku terhenyak karena subuh sudah lewat dari tadi. Segerak kuiikuti Dimas buru-buru ke kamar mandi dan berwudhu.

Setelah salat subuh sebentar, kami kembali duduk di depan laptop sambil menganalisa gambar
jaringan komputer. “Nah aku sudah ketemu mas, ada masalah di salah satu setup paramater kita dan sudah kubereskan,” serunya dengan wajah gembira.

“Ok, segera kamu setup saja biar cepet kelar nih” seruku. “Aku sudah bosen di sini ngerjain itu melulu, ngga kelar-kelar,” ocehku sambil mengacungkan jempol pada rekanku. “Kriing…kriiing” tiba-tiba handphoneku berbunyi.

“Assalamualaikum, Ayah” dari handphone kudengar celoteh anakku. “Waalaikum salam sayang”, jawabku. “Adik sudah salat?” tanyaku kembali kepada anakku. “Sudah, Yah. Tadi juga ikut Bunda Tahajud.” Tukasnya sambil ketawa ngikik. “Tut…tut…tut”, tidak terdengar lagi jawaban dari handphone. Mungkin kepencet sehingga terputus.

Aku sudah kembali hanyut dalam pekerjaanku. Aku memang sangat menyenangi pekerjaanku. Jika
sudah bergelut di depan laptopku, aku bisa berjam-jam duduk tanpa bergeser dari bangku tempatku menyandarkan tubuhku. Terkadang aku berkerja dengan keras sekali bukan karena loyalitasku tetapi lebih cenderung karena memuaskan rasa intelektualku. Seringkali salat berjemaah maupun makan siangku terlewat begitu saja karena begitu asyiknya di depan komputerku.

Siang ini aku sudah cukup puas dengan hasil kerjaku dan rekan kerjaku karena beberapa masalah sudah berhasil aku selesaikan. Sambil minum teh hangat, aku berbincang-bincang dengan beberapa rekan kerja seniorku di kantin. Dari dinding kaca kantin dapat kulihat beberapa sopir truk berkerumun menunggu antrean pengiriman. Asap rokok yang dinyalakan oleh mereka mulai masuk ke ruang kantin tempat kami berbincang. Tiba-tiba kami dikejutkan suara pintu yang terbuka.

“Mas Rinto, aplikasinya kembali ngga konek. Antrean semakin panjang dan tolong segera dibantu,” seru Dimas yang dari tadi berada di ruang kerjanya.

Aku pun kembali bergegas menuju ruangan di samping kantin. Beberapa kabel jaringan yang ada kucabut, dan kucolok kembali. “Mas, tolong dicek apakah sudah kembali konek atau tidak?” seruku pada Dimas yang dari tadi bengong di belakangku. “Belum, Mas,” jawabnya sambil teriak dari dalam kantor.

Sementara itu antrean para sopir yang sudah mulai mengular menaikkan tingkat stressku. “Pak, lama banget sih” kata para sopir truk yang sudah tidak sabar. “Sabar pak, sabar.
Orang sabar itu disayang Allah,” jawabku sekenanya. “Kayaknya perlu dicek antenanya di atas atap mas Rinto” usul Dimas yang dari tadi ikut stress mendengar omelan para sopir. “Ok deh mas Dimas, aku naik ke atas atap ya, kamu jaga di sini dan kasih tau kalau sudah bisa nyambung kembali,” kataku sambil berlalu menuju tangga belakang.

Dengan perlahan aku mulai menaiki tangga belakang dengan hati-hati. Sesampainya di atap, aku mulai berjalan mengikuti coran tembok menuju antena berbentuk parabola yang menjadi
penghubung koneksi jaringan di kantorku. Kulihat lampu indikator pada antena tersebut tidak menyala. Dengan segera kucabut kabel yang tercolok di perangkat tersebut kemudian kutancapkan kembali. “Dimaaas, sudah nyambuuuung?” teriakku dari atas atap. “Sudah mas, wokeeeeh.”

Serunya membalas teriakanku. “Sip deh” batinku sambil merasa puas atas kemampuanku. Aku pun berjalan kembali melintas atap untuk kembali turun. Sesudah sampai di dinding, aku mencoba melangkahkan kaki arah tangga, tapi nahas. Tangga yang licin membuat kakiku terpeleset sehingga aku harus bertumpu pada tanganku di salah satu genteng. “Kreek” suara atap patah tertarik oleh tanganku karena tak mampu lagi menahan berat tubuhku. Tak ayal lagi, tubuhku melayang di udara, bumi siap menerima hempasan tubuhku. “Buk, Aduuuh” Aku berteriak kesakitan dan kulihat langit menjadi gelap.

“Tit…tit…tit” suara teratur itu terdengar di telingaku. Saat kubuka mataku, aku ternyata sedang terbaring di sebuah kamar yang serba putih. Perlahan-lahan aku mencoba mengingat kembali memori terakhirku. Ketika aku teringat kejadian kemarin, aku menduga bahwa ini adalah rumah sakit. Kucoba menggerakkan kakiku, ternyata sakit sekali.

“Ayah sudah siuman?” kudengar suara putriku ada didekatku. Aku menolehkan wajahku ke arah suara itu. “Alhamdulilah Sayang, ayah sudah baikan” jawabku sambil tanganku mengusap-usap kepalanya. Aku begitu bahagia masih bisa bertemu dan melihat kembali anakku.

“Alhamdulilah, Fathin senang lihat Ayah sudah baikan. Fathin bersyukur banget sama Allah. Doa Fathin terkabul. Tadi Fathin doain ayah biar segera sembuh, celoteh anakku yang memang dari kecil ceriwis sekali dan rona wajahnya menyiratkan kebahagiaan yang luar biasa. Sambil berjingkrak-jingkrak dia berlari ke pangkuan ibunya untuk mengabarkan berita gembira bahwa ayahnya sudah siuman.

Kupandangi lekat-lekat anakku. Begitu mudahnya anak ini berbahagia dengan kembalinya kesadaran diriku. Tapi bagaimana mungkin, sebelumnya aku dengan seluruh kesehatan badanku tak mampu untuk mensyukurinya? Bagaimana mungkin aku tidak memenuhi panggilanmu untuk salat berjemaah di saat Engkau berikan harta yang sudah mencukupi kebutuhanku? Begitu sombongnya diriku menganggap dapat menyelesaikan masalah-masalah pekerjaan, padahal itu semua adalah ilham dari-Mu. Kini aku yakin bahwa jatuhnya diriku ini pun adalah kuasa-Mu untuk dapat kembali menyadarkanku agar kembali ke jalan-MU.

“Allahuakbar…Allahuakbar”, suara gema adzan Dzuhur yang sayup-sayup kudengar tak terasa telah melelehkan mataku. Hari ini aku hanya bisa mendengar panggilan-Mu tanpa bisa memenuhinya karena peringatan-Mu kepadaku. Aku berjanji akan kembali bersegera memenuhi seruan-Mu, sebelum Engkau benar-benar meminta pertanggungjawaban hidupku. Terima kasih ya Allah telah Kau ingatkan hamba-Mu. []

Riswanto Warih Prabowo, Aktivis Dakwah Kampus ITB’ 99

sumber: Mozaik Inilah.com

Lima Sabda Rasulullah tentang Shalat Subuh

Waktu Subuh adalah waktu yang paling baik untuk mendapatkan rahmat dan ridha Allah. Tantangan untuk menyingkap selimut ketika dinginnya pagi datang mendapat apresiasi tersendiri di mata Allah SWT.

Allah SWT berfirman, ”Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS Al-Kahfi [18]: 28).

Rasulullah pun sering mengungkap keutamaan shalat Subuh. Berikut lima sabda Rasulullah tentang shalat Subuh.

 

Pahala Shalat Malam Satu Malam Penuh

Diriwayatkan Muslim dari Utsman bin Affan ra berkata; Rasulullah SAW bersabda,”Barangsiapa yang shalat Isya berjamaah maka seakan-akan dia telah shalat setengah malam. Dan barangsiapa shalat Subuh berjamaah, maka seakan-akan dia telah melaksanakan shalat malam satu malam penuh.” Hadits riwayat Muslim.

 

Surga yang Dijanjikan

Diriwayatkan dari Abu Musa al Asy’ari ra ia berkata Rasulullah SAW bersabda: ”Barangsiapa yang shalat dua waktu yang dingin maka akan masuk surga.” (HR Al Bukhari). Dua waktu yang dingin itu adalah shalat Subuh dan shalat Ashar.

 

Dapat Melihat Allah

Mereka yang menjaga shalat Subuh dan Ashar, dijanjikan kelak di surga akan melihat Allah SWT. Hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Jarir bin Abdullah ra artinya: ”Kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW, ketika melihat bulan purnama. Beliau berkata, ”Sungguh, kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan yang tidak terhalang dalam melihatnya. Apabila kalian mampu, janganlah kalian menyerah dalam melakukan shalat sebelum terbit matahari dan shalat sebelum terbenam matahari. Maka lakukanlah.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

 

Berada di Bawah Lindungan Allah SWT

Rasulullah SAW memberi janji, bila shalat Subuh dikerjakan, maka Allah akan melindungi siapa pun yang mengerjakannya seharian penuh. Hadits yang diriwayatkan dari Jundab bin Sufyan Rasulullah SAW bersabda: ”Barangsiapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Maka jangan coba-coba membuat Allah membuktikan janji-Nya. Barangsiapa yang membunuh orang yang menunaikan shalat Subuh, Allah akan menuntutnya, sehingga Ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka.”(HR Muslim, At-Tirmizi dan Ibnu Majah)

 

Diampuni Dosanya

Rasul SAW bersabda “Siapa saja tetap duduk di masjid setelah melaksanakan dua rekaat salat subuh sampai ia melaksanakan salat dhuha, dan ia tidak berucap kecuali yang baik, maka dosa-dosanya akan diampuni Allah SWT.,walaupun dosanya itu lebih banyak dari buih di lautan“ (HR.Abu Daud).

 

 

Doa Rasulullah untuk Penjaga Shalat Subuh

Shalat Subuh terkenal karena daya tariknya yang tinggi sekaligus tantangannya yang tidak mudah. Banyak sekali hadis yang mendorong untuk melaksanakan shalat Subuh dan menyanjung mereka yang menjaganya.

Rasulullah SAW mengetahui waktu Subuh adalah waktu yang sulit. Seorang Muslim bila dibiarkan begitu saja akan memilih mengistirahatkan dirinya sampai matahari terbit dan meninggalkan shalat wajib. Karena itu Rasulullah SAW mengkhususkan shalat mulia ini dengan keistimewaan tunggal dan sifat-sifat tertentu yang tidak terulang pada shalat lainnya.

“Siapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia barada dalam jaminan Allah. Maka, jangan kamu mencari jaminan Allah dengan sesuatu (selain dari shalat), yang pada saat kamu mendapatkannya justru kamu tergelincir ke dalam api neraka.” (HR Muslim).

Muhammad Abdur Rauf al-Munawi dalam kitabnya at-Ta’arif mengatakan as-Subhu atau As Sabah adalah permulaan siang, yaitu ketika ufuk berwarna merah karena tertutup tabir matahari. Adapun shalat Subuh adalah ibadah shalat yang dilaksanakan ketika fajar shidiq dan berakhir pada saat matahari terbit.

Banyak sekali keutamaan yang didapat di waktu Subuh. Salah satu keutamannya adalah Rasulullah SAW mendoakan umatnya yang bergegas dalam melaksanakan shalat Subuh, sebagaimana disebutkan dalam suatu hadis, ”Ya Allah berkahilah umatku selama mereka senang bangun Subuh.” (HR Tirmizi, Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah).

Jika Rasulullah SAW yang berdoa, maka tidak akan ada hijab di antara beliau dengan Allah SWT. Karena beliau sendiri adalah orang yang secara jasadiyah paling dekat dengan Allah SWT.

 

 

Mencetak Generasi Mujahid Subuh

Komunitas kebaikan yang aktif di sosial media semakin banyak bermunculan. Mereka yang fokus terhadap salah satu amalan ini memanfaatkan facebook, twitter dan whatsapp untuk merekrut anggota baru.

Menjamurnya komunitas kebaikan seperti Komunitas Pejuang Subuh, Tahajud Berantai, Puasa Daud, Odoj, Sedekah Harian dan banyak lagi komunitas lainnya yang juga menggunakan sosial media sebagai basis komunikasinya antara sesama anggota.

Misalnya latar belakang berdirinya Pejuang Subuh (PS) berawal dari cita-cita Rivani (Iman), Emanuel Hadi (Didot) dan Arisakti Prihatwono (Rico) yang ingin ramainya shalat subuh seramai shalat Jumat.

“Dimulainya tahun 2012 di medio Ramadhan, tepatnya di 2 Agustus 2012 tweet pertama dimuculkan,” kata Arisakti Prihatwono, salah satu founder PS saat dihubungi Republika.co.id, beberapa waktu lalu.

Arisakti Prihatwono alias Rico meceritakan, ketika itu rekannya bernama Emanuel Hadi alias Didot heran kenapa pada waktu shalat subuh masjid kebanyakan para orang tua yang berada di masjid, bukan malah sebaliknya anak muda yang memenuhi barisan shalat ketika waktu subuh.

 

Gebrakan Awal 40 Hari

Untuk memulainya, Didot dibantu Iman (Rivani) dan juga Rico untuk menjalankan shalat subuh secara teratur. Definisi shalat teratur itu 40 hari tanpa putus shalat Subuh berjamaah di masjid.

“Akhirnya kita bersama-sama untuk bangunin orang lewat sosial media,” ujar Arisakti.

Pertamanya yang menyarankan pejuang subuh aktif di media sosial adalah Felix Siauw. Untuk itu mereka bertiga berbagi tugas untuk mengaktifkan media sosial masing-masing. Dari beberapa media sosial hanya twitter yang memiliki respon positif terhadap pejuang subuh.

“Tidak disangka ternyata twitter cukup besar antusiasmenya,” katanya.

Setelah beberapa bulan berjalan, tepatnya di bulan Desember 2012 tanggal 24-25 pas malam Natal komunitas Pejuang Subuh memutuskan untuk mengadakan pertemuan pertama untuk sesama angggotanya. Pertemuan itu dinamakan malam bina iman dan taqwa (Mabid) yang sekaligus mengajak followers untuk shalat subuh berjamaah selama 40 hari tanpa putus.

Pejuang subuh dan mujahid subuh memiliki visi dan misi. Pejuang Subuh yang merupakan sebuah komunitas visinya adalah shalat subuh seramai shalat Jumat, sementara visi Mujahid Subuh secara personal adalah istiqomah sampai khusunul khotimah.

 

Generasi Mujahid Subuh

Untuk melahirkan itu semua, kata dia, ada beberapa misi yang harus dijalankan. Pertama membangunkan mujahid subuh, mencetak mujahid subuh dan mempertahankan mujahid subuh.

“Agar sama-sama untuk berdakwah,” kata Arisakti.

Shalat 40 hari berjamaah di masjid juga merupakan persyaratan bagi ikhwan yang ingin diangkat menjadi mujahid subuh dan untuk pejuang akhwat cukup shalat subuh selama 30 hari tanpa putus di rumah.

Rico yang juga berprofesi sebagai pengacara ini menyampaikan proses membangun sesama anggota dan keluarga untuk berjamaah shalat subuh merupakan dakwah yang mesti dijalankan setiap anggotanya.

“Terutama menjaga shalat subuh dari mujahid-mujahid sebelumnya, sehingga regenerasi tetap terjaga,” katanya.

Ada tiga cara yang sudah ditetapkan di Pejuang Subuh untuk mempertahankan mujahid subuh. Yaitu dengan Belajar, Bekerja dan Berdakwah. Dalam hal belajar, Pejuang Subuh memiliki cita-cita kalau para mujahidnya dapat meraih gelar dokter dan profesor.

Sementara dalam hal bekerja, Pejuang Subuh berharap para mujahidnya tidak hanya sebagai pegawai yang biasa-biasa saja, akan tetapi mujahid subuh bisa menjadi pengambil keputusan dan kebijakan di perusahan swasta maupun pemerintah seperti di legislatif, eksekutif dan yudikatif.

Dalam hal berdakwah minimal para mujahid bisa membangun anggota, keluarga dan sahabat dekatnya. Sehingga cita-cita mendapat istiqomah dan khusnul khatimah bisa tercapai.

 

sumber: Republika Online

‘Subuh, Shalat yang Paling Susah Dikerjakan’

Sholat Subuh kerap dinilai menjadi kewajiban Muslim yang rentan ditinggalkan karena interval waktunya yang terbatas hingga fajar terbit.

“Shalat Subuh, shalat yang  paling susah dikerjakan. Dari 10 orang yang disurvei, mungkin hanya tiga sampai empat orang yang shalat Subuh tepat waktu,” kata Koordinator Perempuan Gerakan Pejuang Subuh Vita Ismail, Jumat (20/2).

Ia  mengatakan, Gerakan Pejuang subuh berangkat dari keprihatinan para pendiri gerakan ini sebab banyak orang yang susah melakukan shalat Subuh.

Alasan terlambat shalat Subuh antara lain, kecapekan kerja, kebablasan tidur atau bekerja shift malam. Namun, Vita menilai, seharusnya alasan seperti ini bisa diminimalisir sebab semua umat Islam tahu kalau shalat Subuh itu wajib dikerjakan.

Diharapkan dengan gerakan ini, ujar Vita, jumlah laki-laki yang mau shalat Subuh berjamaah semakin meningkat sehingga jumlah jamaahnya seperti shalat Jumat.

 

sumber: Republika Online

Dahsyatnya Shalat Subuh

Oleh Harinya Aburijal

Sahabat yang semoga dirahmati Allah Swt, ada seorang bapak telah mendapat surat peringatan dari kantornya karena selalu telat datang ke kantor. Maka untuk menghindari surat peringatan yang berikutnya, ia selalu berusaha bangun pagi agar tidak telat lagi. Lihatlah betapa bapak ini begitu taat dan takut kalau dia datang kesiangan ke kantor karena aturan manusia.

Sekarang pernakah kita berpikir berapa kali kita sering telat bangun pagi untuk shalat subuh berjamaah? Dan pernahkah kita merasa takut akan surat peringatan dan sanksi dari Allah Swt, sebagaimana bapak yang di atas begitu takut terkena sanksi dari atasannya.

Rasulullah saw pernah bersabda, sesungguhnya Shalat Subuh dan dan Sholat Isya’ secara berjamaah di masjid sangat sulit dikerjakan oleh orang-orang yang munafik. Maukah sanksi dan gelar ini melekat pada diri kita? Tentu tidak. Maka marilah kita bangun pagi untuk melaksanakan perintah Allah. Sebagaimana bapak tersebut tidak mau kesiangan karena perintah atasannya.

Allah Swt akan mengubah apa yang terjadi di muka bumi ini dari kegelapan menjadi keadilan, dari kerusakan menuju kebaikan. Semua itu terjadi pada waktu yang mulia, ialah waktu Subuh.

Berhati-hatilah, jangan sampai tertidur pada saat yang mulia ini. Allah Swt akan memberikan jaminan kepada orang yang menjaga salat Subuhnya, yaitu terbebas dari siksa neraka jahanam.

Diriwayatkan dari Ammarah bin Ruwainah ra, ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Tidak akan masuk neraka, orang yang salat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari’.” (HR Muslim).

Shalat Subuh merupakan hadiah dari Allah Swt. Hadiah ini tidak diberikan, kecuali kepada orang-orang yang taat lagi bertobat. Hati yang diisi dengan cinta kemaksiatan, bagaimana mungkin akan bangun untuk shalat Shubuh

Orang munafik tidak mengetahui kebaikan yang terkandung dalam shalat Subuh berjamaah di masjid. Sekiranya mereka mengetahui kebaikan yang ada di dalamnya, niscaya mereka akan pergi ke masjid, bagaimanapun kondisinya, seperti sabda Rasulullah saw, ” Maka mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak.”

 

sumber: Republika Online

Manfaat Luar Biasa dari Shalat Subuh

JIKA kita amati, ada satu hal yang berbeda dari shalat subuh dibandingkan shalat lima waktu lainnya. Kalimat yang terdengar dari suara adzan sedikit berbeda dengan adzan pada shalat yang lain. Kalimat “ash shalatu khairun minan naum”, menjadi titik perbedaannya. Arti dari kalimat itu adalah “shalat itu lebih baik dari pada tidur”. Mengapa kalimat itu hanya muncul pada adzan subuh dan tidak pada adzan lainnya?

Memang banyak sekali hikmah yang bisa diambil dari shalat subuh ini. Mulai dari peluang rezeki yang besar hingga manfaat terhindar dari kemacetan terutama di kota-kota besar. Ternyata bukan itu saja arti manfaat yang Allah berikan. Shalat subuh juga mempunyai manfaat mengurangi kecenderungan terjadinya gangguan kardiovaskular.

Di dalam tubuh manusia ada kekuatan yang terus bekerja tanpa kita komando. Yaitu kekuatan yang mengatur gerak usus kita sehingga bisa dikeluarkan menjadi feses setelah menyerap zat-zat bermanfaat untuk tubuh. Kekuatan syaraf otonom mempunyai 2 fungsi yang bekerja secara antagonis, biasa kita sebut sebagai syaraf simpatis dan syaraf parasimpatis.

Manusia mempunyai irama tubuh yang biasa disebut irama sirkadian, yaitu keadaan tubuh dimana mulai pukul tiga dini hari, terjadi peningkatan adrenalin. Akibatnya tekanan darah pun meningkat. Biasanya adrenalin kita bekerja saat kita beraktifitas atau dalam keadaan stress. Selain itu terjadi pula penyempitan pembuluh darah otak yang menyebabkan supply oksigen ke otak berkurang, sehingga kita merasa sulit untuk bangun di pagi hari dan cenderung mengantuk. Peningkatan adrenalin juga mengaktivasi sistem pembekuan darah dimana sel-sel trombosit berangkulan membentuk suatu trombus. Trombus inilah yang menyebabkan gangguan kardiovaskuler pada manusia. Semuanya adalah kerjaan saraf simpatis. Lalu apa hubungannya dengan shalat subuh?

Menurut hasil penelitian, zat yang bernama NO (Nitrit Oksida), diproduksi terus menerus selama istirahat termasuk ketika manusia tidur. Zat ini juga mencegah terbentuknya trombus dengan menghambat agregasi/penempelan trombosit.

Aktivitas bangun pagi untuk shalat subuh, apa lagi dengan berjalan ke mesjid untuk berjamaah dapat meningkatkan kadar Nitrit Oksida dalam pembuluh darah. Sehingga penyaluran oksigen ke otak juga bertambah akibat melebarnya pembuluh darah otak , lalu trombosit dicegah untuk saling menempel sehingga pembuluh darah tidak bertambah sempit. Gerakan rukuk dalam shalat meningkatkan tonus syaraf parasimpatis yang melawan efek dari syaraf simpatis seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Subhanallah, dengan menjalankan shalat subuh apa lagi dengan berjalan ke masjid, kita dapat mencegah proses gangguan pada sistem kardiovaskular kita

 

sumber: Islam Pos

Shalat Subuh, Ujian Terberat Kaum Munafik (2)

Inilah ujian yang sesungguhnya. Ujian yang sangat sulit, namun bukan satu hal yang mustahil. Nilai tertinggi dalam ujian ini bagi seorang laki-laki adalah salat Subuh secara rutin berjamaah di masjid.

Sedangkan bagi wanita, salat Subuh tepat pada waktunya di rumah. Setiap orang dianggap gagal dalam ujian penting ini, manakala mereka salat tidak tepat waktu, sesuai yang telah ditetapkan Allah swt.

Sikap manusia dalam menunaikan salat wajib cukup beragam. Ada yang mengerjakan sebagian salatnya di masjid, namun meninggalkan sebagian yang lain. Ada pula yang melaksanakan salat sebelum habis waktunya, namun dikerjakan di rumah. Ada pula sebagian orang yang mengerjakan salat ketika hampir habis Batas waktunya (dengan tergesa-gesa). Yang terbaik di antara mereka adalah yang mengerjakan salat wajib secara berjamaah di mushala/masjid pada awal waktu.

Rasulullah saw. Telah membuat klasifikasi yang dijadikan sebagai tolok ukur untuk membedakan antara orang mukmin dengan orang munafik. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., IA berkata bahwa Rasulullah sawbersabda: ” Sesungguhnya salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Isya Dan salat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Apabila Rasulullah saw. meragukan keimanan seseorang, beliau akan menelitinya pada saat salat Subuh. Apabila beliau tidak mendapati orang tadi salat Subuh (di masjid), maka benarlah apa yang beliau ragukan dalam hati.

Di balik pelaksanaan dua rakaat di ambang fajar ini, tersimpan rahasia yang menakjubkan. Banyak permasalahan yang bila dirunut, bersumber dari pelaksanaan salat Subuh yang disepelekan. Itulah sebabnya, para sahabat Rasulullah saw. sekuat tenaga agar tidak kehilangan waktu emas itu.

Pernah suatu hari, mereka terlambat salat Subuh dalam penaklulkan benteng Tastar. Kejadian ini membuat seorang sahabat, Anas bin Malik selalu menangis bila mengingatnya. Yang menarik, ternyata Subuh juga menjadi waktu peralihan dari era jahiliyah menuju era tauhid. Kaum Ad, Tsamud, dan kaum pendurhaka lainnya, dilibas azab Allah swt. pada waktu Subuh.

Seorang penguasa Yahudi pernah menyatakan bahwa mereka tidak takut dengan orang Islam, kecuali pada satu hal, yaitu bila jumlah jamaah salat Subuh mencapai jumlah jamaah salat Jumat. Memang, tanpa salat Subuh, umat Islam tidak lagi berwibawa. Tak selayaknya kaum muslimin mengharapkan kemuliaan, kehormatan, dan kejayaan, bila mereka tidak memperhatikan salat ini.

Bagaimana orang-orang muslim tidur di waktu Subuh, lalu dia berdoa pada waktu Dhuha atau waktu Zhuhur atau waktu sore hari (Ashar), memohon kemenangan, keteguhan dan kejayaan di muka bumi. Bagaimana mungkin?

Sesungguhnya agama ini tidak akan mendapatkan kemenangan, kecuali telah terpenuhi semua syarat-syaratnya. Yaitu dengan melaksanakan ibadah, konsekuen dengan akidah, berakhlak mulia, mengikuti ajaran-Nya, tidak melanggar larangan-Nya, dan tidak sedikit pun meninggalkannya, baik yang sepele apalagi yang sangat penting.

Subhanallah! Allah swt. akan mengubah apa yang terjadi di muka bumi ini dari kegelapan menjadi keadilan, dari kerusakan menuju kebaikan. Semua itu terjadi pada waktu yang mulia, ialah waktu Subuh. Berhati-hatilah, jangan sampai tertidur pada saat yang mulia ini. Allah swt akan memberikan jaminan kepada orang yang menjaga salat Subuhnya, yaitu terbebas dari siksa neraka jahanam. Diriwayatkan dari Ammarah bin Ruwainah r.a., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda:”Tidak akan masuk neraka, orang yang salat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari.” (HR. Muslim).

Salat Subuh merupakan hadiah dari Allah swt., tidak diberikan, kecuali kepada orang-orang yang taat lagi bertaubat. Hati yang diisi dengan cinta kemaksiatan, bagaimana mungkin akan bangun untuk salat Subuh? Hati yang tertutup dosa, bagaimana mungkin akan terpengaruh oleh hadist-hadist yang berbicara tentang keutamaan salat Subuh?

Orang munafik tidak mengetahui kebaikan yang terkandung dalam salat Subuh berjamaah di masjid. Sekiranya mereka mengetahui kebaikan yang ada di dalamnya, niscaya mereka akan pergi ke masjid, bagaimanapun kondisinya, seperti sabda Rasulullah saw.: ” Maka mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak.”

Coba kita bayangkan ketika ada seorang laki-laki yang tidak mampu berjalan, tidak ada orang yang membantu memapahnya. Dalam kondisi yang sedemikian rupa, ia bersikeras mendatangi masjid dengan merangkak dan merayap di atas tanah untuk mendapatkan kebaikan yang terkandung dalam salat Subuh berjamaah. Sekiranya kita saksikan ada orang yang meninggalkan salat Subuh berjamaah di masjid (dengan sengaja), maka kita akan mengetahui betapa besar musibah yang telah menimpanya.

Tentu saja, tulisan ini bukan untuk menuduh orang-orang yang tidak menegakkan salat Subuh di masjid dengan sebutan munafik. Allah swt Maha Tahu akan kondisi setiap muslim. Namun, sebaiknya hal ini dapat dijadikan sebagai bahan koreksi bagi setiap individu (kita), orang-orang yang kita cintai, anak-anak, serta sahabat-sahabat kita. Sudahkah kita salat Subuh berjamaah di masjid/musalla secara istiqomah?

Jika seseorang meninggalkan salat Subuh dengan sengaja, maka kesengajaan tersebut adalah bukti nyata dari sifat kemunafikan. Barang siapa yang pada dirinya terdapat sifat ini, maka segeralah bermuhasabah (introspeksi diri) dan bertaubat. Mengapa? Karena dikhawatirkan akhir hayat yang buruk (suul khatimah) akan menimpanya. Nauzubillah minzalik! [ ]

Sumber : Misteri Salat Subuh (Menyingkap 1001 Hikmah Salat Subuh Bagi Pribadi dan Masyarakat). Dr. Raghib As-Sirjani. Penerbit Aqwam Jembatan Ilmu.

Inilah.com