Shamsi Ali: Salah Satu Musibah Bagi Umat, Meninggalnya Ulama

Jika satu ulama wafat, maka terjadi sebuah lubang dalam Islam.

Umat Islam akhir-akhir ini banyak dirundung duka, dengan ragam cobaan dan musibah. Satu diantara cobaan itu adalah wafatnya beberapa Ulama mu’tamad (ulama rujukan umat) yang setiap saat hadir sebagai lentera di tengah kegelapan yang menyelimuti kehidupan dunia saat ini.

Imam di Kota New York sekaligus Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali, menyatakan, salah satu di antara ulama yang telah mendahului umat adalah Syeikh Ali Saleh Jaber. Beliau, kata dia, seorang ulama yang ilmuan, saleh, mukhlis, dan insya Allah muhsin. Ulama yang selalu hadir dengan kesejukan dan penampilan moderasi sebagai jembatan pemersatu bagi seluruh elemen Umat dan bangsa.

Terdapat sebuah hadits yang tidak terlalu populer di kalangan sementara umat Muslim berbunyi: “Mautul-aalimi mushibatun laa tujbaru wa tsulmatun laa tusaddu, wa najmun thumisa mautu gabilatin aysaru min mauti aalimin,”. Yang artinya: “Kematian seorang alim itu adalah musibah yang tak tergantikan, lobang yang dapat ditambal. Wafatnya seorang alim bagaikan bintang yang padam. Bahkan meninggalnya satu suku (kampung) itu lebih ringan dari pada meninggalnya seorang ulama,”. Hadits ini diriwayatkan At-Thobarani.

Syeikh Ali Jaber, menurutnya, meninggalkan tidak saja ilmu. Tapi yang lebih penting lagi adalah ketauladanan dalam mempertahankan keimanan dan keilmuan dalam bingkai akhlakul karimah. Bahwa seberat dan sepelik apa pun tantangan yang dihadapi, seorang Mukmin tidak bokeh lepas kendali karakter moral seperti yang diajarkan secara prinsip oleh baginda Rasulullah SAW.

“Saya tidak akan berbicara banyak tentang Syeikh Ali. Beliau sedang tersenyum menghadap Rabbnya. Beliau sedang bersenandung dalam keindahan ridho Ilahi,” kata Imam Shami Ali dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Jumat (15/1).

Hal itu sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran Surah Al-Fajr ayat 27-30: “Yaa ayyatuhannafsul-muthmainnah. Isrji’iy ila Rabbiki raadhiyan mardhiyyah. Fadkhulii fiy ibadi. Wadkhuli jannatiy,”. Yang artinya: “Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada Rabbmu dalam keadaan ridho dan diridhoi. Masuklah ke dalam golongan hambaKu dan masuklah Ke dalam syurgaKu”.

“Saya hanya ingin mengajak kita semua untuk menangis, merasakan kesedihan yang dalam atas meninggalnya para ulama kita. Cinta kita kepada para ulama bukan cinta biasa. Tapi cinta sebagai bukti kecintaan kita kepada ilmu. Dan cinta kepada ilmu adalah cinta kepada kebenaran (Al-Haq),” ungkapnya.

Dalam sebuah hadits Rasulullah menegaskan: “barangsiapa yang tidak merasa sedih dengan kematian ulama maka dia adalah munafik” (diriwayatkan oleh Imam Suyuuthi). Dalam hadits selanjutnya, Imam Al-Baihaqi menyebutkan: “kematian seorang Ulama itu lebih disukai oleh Iblis dari pada kematian 70 ahli ibadah”.

Jika Iblis la’natullah senang dengan kematian ulama, lalu bagaimana mereka yang mematikan ulama? Maksudnya, mungkin saja tidak mematikan secara fisik, tapi mematikan segala langkah dan juang para ulama dalam menebar ilmu dan kebaikan.

“Iblis dan konco-konconya sangat wajar untuk bersenang dengan meninggalnya Ulama. Karena memang ulama memiliki posisi yang sangat tinggi. Selain derajatnya ditinggikan, seperti yang disebutkan dalam Alquran,” ujarnya.

Allah berfirman dalam Alquran Surah Al-Mujadalah ayat 11: “Yarfai’llahulladzina aamanu minkum walladzina utul-ilma darajaatin,”. Yang artinya: “Allah mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu dengan beberapa derajat,”.

Kedudukan para ulama itulah yang menjadikan seluruh makhluk-makhluk Allah, bahkan semut-semut dalam lubangnya, bahkan ikan-ikan kecil dalam air (al-hiitaan fil maa) mendoakan mereka semuanya.

Sunggguh meninggalnya para ulama memang musibah besar bagi Umat ini. Karena meninggalnya mereka adalah pertanda tercabutnya keilmuan dari Umat ini. Rasulullah bersabda: “Ambillah ilmu itu sebelum menghilang. Para sahabat bertanya: Bagaimana Ilmu menghilang ya Rasulullah? Beliau menjawab: Sesungguhnya hilangnya ilmu ketika para pembawanya pergi/meninggal” (At-Thabarani).

Dengan meninggalnya Syeikh Ali Jaber dan ulama lainnya, kata dia, hal itu juga membangun keyakinan bahwa umat pastinya lebih tertantang lagi. Tapi umat dengan iman pastinya juga bakal optimistis jika di balik kesulitan itu ada kemudahan. Dan di balik tantangan itu pasti ada peluang.

Dan karenanya, sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin: إذاماتالعالم ثلم في الإسلام ثلمة لايسدها الا خلف منه (jika satu ulama wafat, maka terjadi sebuah lubang dalam Islam yang tidak dapat ditambal kecuali oleh generasi penerusnya).

“Semoga kita semua dapat menjadi generasi penerus para ulama kita. Generasi yang punya komitmen untuk meneruskan keilmuan, keikhlasan dan karya/amal para waratsatul ambiya (pewaris para nabi) itu,” ujarnya.

KHAZANAH REPUBLIKA