Tahun Baru Hijriyah: Antara Amalan dan Perayaan

Sejatinya sebuah tahun baru, awal Hijriyah juga mempunyai perayaan dan diisi dengan beragam kegiatan. Tak semeriah tahun baru masehi setiap tanggal 1 Januari, tahun baru Hijriyah menjadi awal yang baru dan juga akhir dari masa lalu yang mempunyai banyak makna berupa amalan-amalan bagi umat Islam.

 

Sejarah 1 Muharram

Tanggal 1 Muharram adalah permulaan dalam sistem penanggalan sehari-hari yang digunakan oleh umat Islam. Istilahnya kita kenal dengan sebutan Kalender Hijriyah. Dinamakan dengan Hijriyah, karena pada tahun ini terjadi peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari kota Mekkah ke Madinah (saat itu bernama Yatsrib) pada tahun 622 Masehi.

Penggunaan Kalender Hijriyah ini bermula saat Khalifah Umar bin Khattab sedang mengalami sebuah masalah administrasi pemerintahan. Saat itu Abu Musa Al-Asy’ari yang menjabat sebagai Gubernur kota Bashrah mengadu kepada Umar karena kesulitan membedakan tahun di surat-surat yang dikirim oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab untuknya. Setelah pengaduan itu, Umar kemudian mengumpulkan para pembesar sahabat Nabi SAW sekaligus penasehat-penasehatnya untuk bermusyawarah. Mereka berunding untuk menetapkan kapan dimulainya kalender tahun dalam Islam.

Beberapa sahabat berpendapat bahwa penetapan awal tahun Islam adalah tahun diutusnya Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul. Namun sebagian yang lain mengusulkan supaya mengikuti kalender Romawi yang sudah dimulai sejak Raja Alexander. Lalu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib maju dan mengajukan sarannya. Beliau menyarankan agar peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dijadikan sebagai awal tahun untuk kalender umat Islam.

Umar bin Khattab dan para sahabat lain setuju dengan pendapat saudara sepupu sekaligus menantu dari Nabi Muhammad SAW ini. Lalu beliau berkata, “Peristiwa Hijrah menjadi pemisah antara yang benar dan yang salah. Jadikanlah ia sebagai patokan penanggalan,” tegasnya.

Selain itu, mereka juga mencocokan kata “hari pertama” dengan memahami Alquran Surat At-Taubah ayat 108 yang artinya; Sesungguhnya Masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. (QS. At-Taubah:108)

Maka atas dasar hasil musyawarah para sahabat ini, awal patokan kalender tahun penanggalan Islam resmi diberlakukan, tepatnya pada tahun 638 M/17 H. Kalender Hijriyah dikenal juga sebagai Kalender Qomariyah, yaitu kalender yang dihitung berdasarkan peredaran bulan.

Makna Muharram

Kata muharram diambil dari kata “haram” yang artinya berdosa dan terlarang. Bulan ini dalam Islam termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan suci (Dzulqo’idah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab). Hal inis sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran surat At-Taubah ayat 36 yang artinya; Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. (QS. At Taubah: 36)

Mengapa dikatakan haram?

Al Qodhi Abu Ya’la mengatakan dinamakan bulan haram karena dua makna. Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Termasuk orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut, larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena kemuliaan bulan tersebut. Pada bulan itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.

Peraturan pelarangan ini dilakukan agar masyarakat saat itu berhenti dari peperangan sehingga keamanan umum terjamin. Sebagian mufassir berpendapat bahwa tradisi pengharaman perang di bulan Muharram dan tiga bulan tertentu lainnya telah terjadi sejak zaman Nabi Ibrahim AS. Peraturan tersebut tetap ada di masa Jahiliyah, bahkan menjadi sebuah tradisi yang telah mengakar. Setelah kemunculan Islam, pengharaman perang di bulan Muharram ditegaskan dalam agama Islam.

Pada dasarnya, pelarangan perang adalah salah satu cara untuk mengakhiri konflik panjang dan sekaligus sebagai alat untuk menyerukan perdamaian dan ketenteraman. Jika mereka yang terlibat dalam peperangan kemudian berhenti mengangkat senjata selama empat bulan, maka akan tercipta ruang untuk berpikir sehingga kemungkinan besar akan muncul mediasi untuk mengakhiri peperangan.

Sementara itu, selain sebagai bulan yang haram, Muharram juga merupakan bulan yang istimewa, karenanya disebut syahrullah yaitu bulan Allah. Bulan ini disandarkan pada Allah. Nabi Muhammad SAW sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah SWT kecuali bulan Muharram. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah Muhammad SAW yang artinya; Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.

Perayaan dan Amalan

Perayaan Tahun Baru Hijriyah selalu dirayakan setiap tanggal 1 Muharram oleh umat Islam di seluruh dunia. Biasanya, umat Islam mengadakan berbagai acara seperti pengajian, tabligh akbar, ceramah, bahkan “pawai obor” yang biasanya melibatkan anak-anak.

Beberapa tokoh berpendapat, perayaan ini merupakan syiar agama Islam yang positif di masyarakat. Dengan perayaan, masyarakat sanggup memahami dan menyadari makna dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Hal ini dimaksudkan supaya nilai-nilai positif dalam peristiwa hijrah dapat mengubah perilaku masyarakat kea rah yang lebih baik.

Namun, sebagian yang lain juga berpendapat bahwa memperingati dan memeriahkan tahun baru Islam seperti perayaan tahun baru masehi adalah satu hal yang keliru dan dianggap bid’ah. Hal ini karena tidak ada contoh satupun dari Nabi dan para sahabatnya. Begitupun dengan amalan khusus yang dilakukan pada saat tahun baru hijriyah, seperti doa khusus, puasa awal dan akhir tahun, pesta kembang api, dan lainya. Menurut pendapat yang lain, memeriahkan tahun baru hijriyah sebenarnya hanya ingin menandingi tahun baru masehi yang dirayakan oleh kelompok agama lain.

Ragam pendapat ini sah-sah saja dalam setiap persoalan. Hanya saja sebagai Muslim, hendaknya memaknai tahun baru Islam supaya memiliki semangat baru untuk merancang dan melaksanakan hidup ini secara lebih baik. Karena peristiwa hijrah umat Islam dari Makkah ke Madinah tidak hanya mengandung nilai sejarah dan strategi perjuangan, tetapi juga mengandung nilai-nilai dan pelajaran berharga bagi perbaikan kehidupan umat secara pribadi dan kejayaan kaum Muslim pada umumnya.

Khalifah Umar bin Khattab menjadikan penanggalan Hijriyah sebagai zaman baru pengembangan Islam, karena penanggalan itu mengandung makna spiritual dan nilai historis yang amat tinggi harganya bagi agama dan umat Islam. Ali bin Abi Thalib, seorang yang berjasa dalam penanggalan Tahun Hijriyah. Keponakan Rasulullah SAW inilah yang mencetuskan pemikiran agar penanggalan Islam dimulai penghitungannya dari peristiwa hijrah, saat umat Islam meninggalkan Makkah menuju Yatsrib (Madinah).

Sidi Gazalba dalam buku Kebangkitan Islam dalam Pembahasan (1979), menulis: Dipandang dari ilmu strategi, hijrah merupakan taktik. Strategi yang hendak dicapai adalah mengembangkan iman dan mempertahankan kaum mukminin.

Semoga tahun baru Hijriyah ini kita tidak hanya sebatas merayakan dan melakukan berbagai amalan. Lebih dari itu, marilah kita pererat jalinan ukhuwah yang kokoh untuk membawa Islam mencapai kejayaan dan mengembangkan sayapnya ke berbagai penjuru bumi. Sejarah kaum Muhajirin-Anshar membuktikan bahwa ukhuwah Islamiyah bisa membawa umat Islam jaya dan disegani. Satu hal lain, kita tanamkan pula semangat hijrah dalam diri, menuju iman, ilmu, dan amal yang lebih baik. Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1438 Hijriyah!

 

GO MUSLIM