Memupuk Rasa Takut Kepada Allah

Pernahkah kita tersadar bahwa lancangnya kita melakukan hal-hal yang dilarang agama, meninggalkan perintah agama, dan meremehkan ajaran-ajaran agama itu semua karena betapa minimnya rasa takut kita kepada Allah. Bahkan kita terkadang lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah Ta’ala. Padahal Allah berfirman (yang artinya) : “..Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku” (QS. Al Ma’idah: 44).

Maka takut kepada Allah (al khauf minallah) adalah ibadah salah satu bentuk ibadah yang semestinya dicamkan oleh setiap mukmin.

Sifat Orang Yang Bertaqwa

Takut kepada Allah adalah sifat orang yang bertaqwa, dan ia juga merupakan bukti imannya kepada Allah. Lihatlah bagaimana Allah mensifati para Malaikat, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)” (QS. An Nahl: 50).

Lihat juga bagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang hamba-hambanya yang paling mulia, yaitu para Nabi ‘alahimus wassalam (artinya) : “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami” (QS. Al Anbiya: 90)

Semakin Berilmu Semakin Takut Kepada Allah

Oleh karenanya, seseorang semakin ia mengenal Rabb-nya dan semakin dekat ia kepada Allah Ta’ala, akan semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Nabi kita Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku yang paling mengenal Allah dan akulah yang paling takut kepada-Nya” (HR. Bukhari-Muslim).

Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya) : “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28)

Ya, karena para ulama, yaitu memiliki ilmu tentang agama Allah ini dan mengamalkannya, merekalah orang-orang yang paling mengenal Allah. Sehingga betapa besar rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala.

Karena orang yang memiliki ilmu tentang agama Allah akan paham benar akan kebesaran Allah, keperkasaan-Nya, paham benar betapa pedih dan ngeri adzab-Nya. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu’alahi Wasallam bersabda kepada para sahabat beliau: “Demi Allah, andai kalian tahu apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian pun akan enggan berlezat-lezat dengan istri kalian di ranjang. Dan akan kalian keluar menuju tanah datang tinggi, mengiba-iba berdoa kepada Allah” (HR. Tirmidzi 2234, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)

Demikian, sehingga tidaklah heran jika sahabat Umar bin Khattab radhiallahu’anhu, sahabat Nabi yang alim lagi mulia dan stempel surga sudah diraihnya, beliau tetap berkata: “Andai terdengar suara dari langit yang berkata: ‘Wahai manusia, kalian semua sudah dijamin pasti masuk surga kecuali satu orang saja’. Sungguh aku khawatir satu orang itu adalah aku” (HR. Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, 138)

Yaitu karena rasa takut yang timbul dari ma’rifatullah yang mendalam.

Orang yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu’alahi Wasallam, Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, beliau ulama di kalangan para sahabat, yang tidak perlu kita ragukan lagi keutamaannya, beliau pun menangis ketika sekarat menghadapi ajalnya dan berkata: “Aku tidak menangis karena urusan dunia kalian. Aku menangis karena telah jauh perjalananku, namun betapa sedikit bekalku. Sungguh kelak aku akan berakhir di surga atau neraka, dan aku tidak mengetahi mana yang diberikan padaku diantara keduanya” (HR Nu’aim bin Hammad dalam Az Zuhd, 159)

Maka orang-orang yang lancang berbuat maksiat, yang mereka tidak memiliki rasa takut kepada Allah, adalah karena kurangnya ilmu mereka terhadap agama Allah serta kurangnya ma’rifah mereka kepada Allah Ta’ala.

Memupuk Rasa Takut

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, adalah bagaimana kita memupuk rasa takut kepada Allah Ta’ala?

  1. Mengingat betapa lemahnya kita, dan betapa Allah Maha PerkasaSadarlah betapa kita ini kecil, lemah, hina di hadapan Allah. Sedangkan Allah adalah Al Aziz (Maha Perkasa), Al Qawiy (Maha Besar Kekuatannya), Al Matiin (Maha Perkasa), Al Khaliq (Maha Pencipta), Al Ghaniy (Maha Kaya dan tidak butuh kepada hamba).Betapa lemahnya hamba sehingga ketika hamba tertimpa keburukan tidak ada yang bisa menghilangkannya kecuali Allah. Ia berfirman (yang artinya) : “Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri” (QS. Al An’am: 17)

    Betapa Maha Besarnya Allah, hingga andai kita durhaka kepada Allah, sama sekali tidak berkurang kemuliaan Allah. “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS. An Nisa: 131)

    Dengan semua kenyataan ini masihkah kita tidak takut kepada Allah?

  2. Memupuk rasa cinta kepada AllahDua orang yang saling mencintai, bersamaan dengan itu akan timbul rasa takut dan khawatir. Yaitu takut akan sirnanya cinta tersebut. Demikian pula rasa cinta hamba kepada Allah. Hamba yang mencintai Allah dengan tulus, berharap Allah pun mencintainya dan ridha kepadanya. Bersamaan dengan itu ia akan senantiasa berhati-hati untuk tidak melakukan hal yang dapat membuat Allah tidak ridha dan tidak cinta kepadanya.
  3. Adzab Allah sangatlah pedihJika kedua hal di atas belum menyadarkan anda untuk takut kepada Allah, cukup ingat satu hal, bahwa adzab Allah itu sangatlah pedih yang disiapkan bagi orang-orang yang melanggar aturan agama Allah. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (QS. An Nuur: 63)Pedihnya adzab Allah sampai-sampai dikabarkan dalam Al Qur’an bahwa setan berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah. Dan Allah sangat keras siksa-Nya” (QS. Al Anfal: 48)

    Dan hendaknya kita takut pada neraka Allah yang tidak bisa terbayangkan kengeriannya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At Tahrim: 6)

Jangan Merasa Aman

Sebagian orang merasa sudah banyak beramal, sudah banyak berbuat baik, merasa sudah bertaqwa, merasa dirinya suci, sehingga ia pun merasa Allah tidak mungkin mengadzabnya. Hilang darinya rasa takut kepada Allah. Allah berfirman tentang manusia yang demikian (yang artinya) : “Apakah kalian merasa aman dari makar Allah? Tidaklah ada orang yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi” (QS. Al A’raf: 99).

Bagaimana mungkin seorang yang beriman merasa percaya diri dengan amalnya, merasa apa yang telah ia lakukan pasti akan membuatnya aman dari adzab Allah? Sekali-kali bukanlah demikian sifat seorang mukmin. Adapun orang beriman, ia senantiasa khawatir atas dosa yang ia lakukan, tidak ada yang ia anggap kecil dan remeh. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu berkata: “Seorang yang beriman melihat dosa-dosanya bagai ia sedang duduk di bawah gunung yang akan runtuh, ia khawatir tertimpa. Sedangkan orang fajir (ahli maksiat), melihat dosa-dosanya bagaikan lalat yang melewati hidungnya” (HR. Bukhari 6308)

Tapi Jangan Putus Asa

Seorang mukmin senantiasa memiliki rasa takut kepada Allah. Namun bukan berarti rasa takut ini menyebabkan kita putus asa dari rahmat-Nya, sehingga kita merasa tidak akan diampuni, merasa amal kita sia-sia, merasa pasti akan masuk neraka dan bentuk-bentuk keputus-asaan lain. Ini tidak benar. Keimanan yang sempurna kepada Allah mengharusnya kita memiliki keduanya, rasa takut (khauf) dan rasa harap (raja’). Dengan berputus-asa terhadap rahmat Allah seakan-akan seseorang mengingkari bahwa Allah itu Ar Rahman (Maha Pemberi Rahmat), Ar Rahim (Maha Penyayang), dan Al Ghafur (Maha Pengampun). Ingatlah nasehat Nabi Yusuf ‘alahissalam kepada anak-anaknya: “dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (QS. Yusuf: 87).

Al Hasan Al Bashri berkata: “Raja’ dan khauf adalah kendaraan seorang mukmin”. Al Ghazali pun berujar: “Raja’ dan khauf adalah dua sayap yang dipakai oleh para muqarrabin untuk menempati kedudukan yang terpuji”.

Demikian sedikit yang dapat kami paparkan. Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa takut kepada-Nya, sehingga dengan itu kita engga mengabaikan segala perintahnya dan enggan melanggar segala larangannya.

 

(Penulis mengambil banyak faidah dari tulisan Syaikh DR. Falih bin Muhammad As Shughayyir berjudul “Al Khauf Minallah”)

 

sumber: MuslimOrId

Kematian itu Sunatullah, Jangan Takut

BENARKAH manusia takut mati? Sepertinya memang banyak di antara kita yang merasa takut dan khawatir dengan yang namanya kematian. Jika asumsi ini benar, pertanyaannya adalah mengapa manusia takut mati?

Ketakutan manusia terhadap kematian karena, pertama, kurang atau tidak adanya pengetahuan tentang mati. Keadaan mati dan hidup sesudah mati dianggap gelap, sehingga kematian berarti menempuh tempat yang gelap gulita. Semua orang takut menempuh tempat gelap dan tidak diketahuinya.

Bisa juga karena pengetahuannya belum lengkap tentang kematian, seperti yang banyak dialami oleh kita saat ini. Selama ini yang kita ketahui bahwa kematian itu sangat sakit rasanya. Malaikat datang kepada kita dalam bentuk yang mengerikan, dan seterusnya.

Gambaran seperti ini mungkin besar terjadi bagi orang yang tidak mengakui keberadaan Tuhan. Akan tetapi bagi seorang muslim yang taat, kematian merupakan peristiwa yang menyenangkan dan penuh dengan ketenteraman.

Kedua, karena dosa dan kesalahan yang sudah bertumpuk. Takut disiksa karena perbuatan jahatnya itu.

Pada saat masih kuliah S1 di Ciputat, Jakarta selatan, penulis pernah mengalami mimpi saat-saat menjelang akan dicabut nyawa. Saya sudah terbaring di atas kasur dengan selimut yang menutupi badan saya. Keluarga saya sudah berkumpul di dekat pembaringan saya.

Kemudian, entah dari mana munculnya, datang sejumlah orang yang berpakaian serba putih bersih hendak menghampiri saya. Saya menatapnya. Ketika orang-orang ini sudah semakin dekat dengan saya, tiba-tiba saya menjadi sangat khawatir dan takut.

Saat itu, terbayang dalam pikiran saya setiap kesalahan, dan saya berkata, “Tuhan jangan ambil nyawa saya saat ini, sebab saya belum siap, saya tidak akan selamat.” Demikian pinta saya saat itu dengan rasa ketakutan yang amat sangat takut. Saya takut terhadap siksa Tuhan kepada saya.

Tiba-tiba saya pun terbangun. “Terima kasih Tuhan. Ini semua hanya mimpi,” batin saya.

Dalam al-Quran dijelaskan bahwa ada hamba-hamba Allah yang tidak merasa takut dengan kematian, melainkan rindu. Ruh yang merindukan kehidupan abadi dan kesenangan yang hakiki. Di antara mereka adalah Yusuf dan Ibrahim.

Kerinduan Nabi Yusuf a.s. tergambar dalam bunyi ayat ini: “Ya Tuhanku, sesungguhnya engkau sudah beri kepadaku kerajaan (kekuasaan) dan telah ajarkan kepadaku akan takwil mimpi, hai Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, Engkaulah penjagaku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan seorang muslim, dan hubungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS.Yusuf: 101).

Demikian juga kerinduan Nabi Ibrahim a.s, “Ya Tuhanku, berilah kepadaku hukum dan hubungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. Jadikanlah bagiku lidah kebenaran bagi orang-orang yang datang kemudian, jadikanlah aku termaksud orang-orang yang mewarisi surga yang penuh nikmat itu.” (QS. Al-Syura: 73-75).

Tidak takut dengan kematian bukan berarti memohon kepada Tuhan agar Dia segera mencabut nyawa kita. Diriwayatkan dari Anas r.a., Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda, “Janganlah seseorang mengharap-harapkan kematian karena ditimpa sesuatu kesusahan. Kalau ia, tidak boleh tidak atau terpaksa, hendaklah berkata. “Wahai Allah, panjangkanlah umurku kalau hidup itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku jika mati itu lebih baik bagiku.”

Tidak takut dengan kematian adalah tuntutan agama karena manusia tidak boleh menentang hukum Tuhan. Kematian adalah sunnatullah. Jika rasa takut seseorang karena sebab dosa dan kesalahan, maka sebaliknya segera memperbaiki diri. Kembali kepada jalan Tuhan dan menjalankan hidup sesuai aturan-Nya, sehingga akan memberikan ketenteraman hati dan keyakinan akan cinta-Nya kepada kita.*/Muhammad Zul Arifin (dikutip dari buku Rindu Kematian Cara Meraih Kematian yang Indah, oleh Ustadz Muhammad Arifin Ilham).

 

sumber:Hidayatullah

Malu Jika Takut kepada Selain Allah

AMRU BIN UTBAH merupakan seorang tabi’in yang dikenal dengan kekhusyukan dalam shalat. Suatu saat beliau bersama beberapa sahabatnya mengikuti sebuah peperangan. Dan saat itu budak beliau mendapati bahwa Amru bin Utbah tidak ada pada tempatnya, hingga ia mencarinya.

Tak lama kemudian, sang budak menemukan bahwa majikannya sedang melaksanakan shalat di gunung sedangkan awan menaunginya. Dan suatu malam sang budak mendengar suara auman singa, sehingga siapa saja yang ada di tempat itu berlarian, hanya tinggal Amru bin Utbah yang sedang shalat.

Setelah persitawa itu, sang budak dan lainnya pun bertanya kepada Amru bin Utbah, ”Apakah Anda tidak takut singa?” Maka Amru pun menjawab, ”Sesungguhnya aku benar-benar malu kepada Allah, jika aku sampai takut kepada selain Dia”. (Shifat Ash Shafwah, 3/70)

 

sumber:Hidayatullah

Harap dan Takut kepada Allah

Sesungguhnya harapan dan takut kepada makhluk itu yang membuat kita gelisah. Semakin kita berharap dan takut terhadap makhluk, maka kian tidak tenang hidup ini.

Apabila engkau ingin dibukakan oleh Allah pintu harapan, maka perhatikan kebesaran nikmat-nikmat dan rahmat Allah yang melimpah kepadamu. Dan bila engkau ingin dibukakan bagimu pintu takut, maka perhatikan amal perbuatanmu terhadap Allah.” (al-Hikam, no.160).

Setiap saat kita sering berharap sesuatu dari makhluk. Seperti berharap dipuji, dihargai maupun dibalas budi oleh orang lain. Setiap waktu pula kita merasa takut. Misalnya takut dimarahi, dijauhi, tidak disukai atau dicintai, tidak diberi, dan sebagainya. Rasa takut seolah-olah menjadi sebuah ancaman, yang datang manusia atau makhluk-makhluk lainnya.

Sesungguhnya harapan dan takut kepada makhluk itu yang membuat kita gelisah. Semakin kita berharap dan takut terhadap makhluk, maka kian tidak tenang hidup ini. Oleh karena itu, harap (raja’) dan takut (khauf) cukup hanya kepada Allah SWT saja.

Bukankah makhluk itu tidak ada yang bisa memberi manfaat bagi kita tanpa seizin Allah? Sebesar apa pun harapan kepada makhluk, bila tak diizinkan-Nya, maka tidak akan mendatangkan manfaat sekecil apa pun. Demikian juga ancaman. Dari siapa pun dan di mana pun kita terancam, maka tak ada satu pun yang dapat dilukai atau hilang dari tubuh kita, kecuali atas izin pemiliknya, Allah SWT.

Allah yang menggenggam dan menggerakkan segala sesuatu. Cukup hanya kepada-Nya harap dan takut kita. Berharap dan takut hanya kepada Allah adalah salah satu jalan kebahagiaan. Jadi, bagi yang ingin bahagia, wajib berharap dan takut hanya kepada Allah. Bukan kepada sesama makhluk. Aneh jadinya jika kita mengharapkan sesuatu, atau bergantung kepada yang sama-sama diciptakan.

Harap (raja’) kepada Allah dapat ditanamkan dengan banyak mengingat apa-apa saja yang diberikan-Nya kepada kita. Bagaimana rezeki kita selama ini selalu dicukupi, tanpa pernah terputus. Atau bagaimana dosa dan aib kita masih ditutupi-Nya. Semakin dalam kita mengingat semua karunia yang melimpah, semakin besar pula harapan kita kepada-Nya.

Sedangkan takut (khauf) kepada Allah dapat ditumbuhkan dengan cara mengingat dosa-dosa yang kita lakukan. Mulai dari salat yang tidak khusuk hingga perbuatan-perbuatan maksiat. Baik yang sekadar lirikan mata atau sembunyi-sembunyi, hingga kebusukan di dalam hati. Semakin jauh kita mengingat dosa-dosa, dan sadar bahwa setiap maksiat itu pasti ada balasannya, maka kita juga akan kian takut kepada Allah SWT.

Nah, seseorang yang terus menerus menanamkan harap dan takut hanya kepada-Nya, insya Allah segala resah dan gelisah akan hilang. Allah yang Mahabaik, Mahamenggenggam dan menggerakkan segala sesuatu yang baik, juga akan semakin dekat kepadanya. Orang tersebut pun dapat memperoleh yang terbaik menurut Allah SWT. Wallahu’alam bissawab.

 

sumber: Daarut Tauhiid

Takut Kepada Allah

Setiap orang pasti pernah merasakan takut, mulai dari takut digigit ular, takut kehilangan jabatan, hingga takut kepada Tuhan.

Dalam psikologi agama, sebagian manusia mencari dan membutuhkan Tuhan, antara lain karena adanya rasa takut dalam diri terhadap kekuatan gaib.

Manusia takut kepada kekuatan dahsyat yang ada di alam raya ini, seperti gunung meletus, angin puting beliung, banjir bandang, tsunami, dan sebagainya, sehingga membuatnya mencari pelindung, pemberi rasa aman dan keselamatan hidupnya.

Secara psikologis, takut adalah kondisi psikis (kejiwaan) yang diliputi rasa khawatir, kegalauan, ketakutan, was-was, atau kurang nyaman terhadap sesuatu yang tidak disukainya  itu jika terjadi pada dirinya. Takut  bisa saja menjadi energi positif, jika dimaknai secara postif, demikian pula sebaliknya.

Kata takut dalam al-Qur’an, antara lain, dinyatakan dengan khauf dan khasyyah. Kata khauf lebih umum daripada kata khasyyah. Khasyyah menunjukkan rasa takut yang lebih spesifik, dan disertai pengetahuan (ma’rifah).

Khasyyah disematkan kepada ulama (ilmuwan, saintis yang takut kepada Allah). Hal ini seperti diisyaratkan oleh firman-Nya: “Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS. Fathir [35]: 28)

Takut dalam arti khasyyah hanya dapat dilakukan oleh orang tertentu seperti Nabi SAW sesuai dengan sabdanya: “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling bertakwa dan paling takut kepada Allah di antara kalian”.

Sedangkan takut dalam arti khauf cenderung dimaknai menghindar dan lari dari yang ditakuti. Akan tetapi, khasyyah  merupakan takut yang cenderung berpegang teguh kepada ilmu atau pengetahuan akan yang ditakuti dan kepada kebesaran-Nya.

Dalam kajian akhlak tasawuf, takutnya Mukmin harus dimaknai secara positif, yaitu rasa takut yang menyebabkannya melaksanakan kewajiban dan meninggalkan larangan Allah dan Rasul-Nya.

Jika rasa takutnya meningkat, Mukmin tidak merasa cukup dengan hanya melaksanakan kewajiban, melainkan juga melengkapinya dengan amalan sunnah, dan menjauhi hal-hal yang berbau syubhat (grey area, abu-abu, samar-samar status hukumnya).

Setidak-tidaknya ada enam hal yang harus ditakuti Mukmin, yaitu, pertama, takut siksa Allah yang ditimpakan kepadanya karena dosa-dosa yang pernah diperbuatnya.

Kedua, takut tidak dapat menunaikan kewajiban kepada Allah SWT dan kepada sesama. Ketiga,  takut tidak diterima amal ibadah yang dilakukannya, sehingga amalnya menjadi sia-sia belaka.

Keempat,  takut dihadapkan kepada aneka fitnah (akibat perilakunya) dan kemurkaan Allah yang akan menimpanya di dunia. Kelima,  takut su’ul khatimah (akhir kehidupan atau kematian yang buruk). Keenam, takut azab kubur, pengadilan dan azab Allah di akhirat kelak.

Oleh karena itu, menurut Ibn al-Qayyim al-Jauziyah, takut kepada Allah SWT itu hukumnya wajib. Karena takut kepada Allah itu dapat mengantarkan hamba untuk selalu beribadah kepada-Nya dengan penuh ketundukan dan kekhusyukan.

Siapa yang tidak takut kepada-Nya, berarti ia seorang pendosa, pelaku maksiat. Karena tidak takut kepada Allah, koruptor semakin merajalela, semakin serakah, dan tidak lagi memiliki rasa malu.

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang beriman. (QS. Ali Imran [3]: 175)

Muslim yang memaknai takut secara positif pasti akan bervisi masa depan, menyiapkan generasi yang tangguh, kuat, dan unggul.

Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. (QS. an-Nisa’ [4]: 9)

Di atas semua itu, memaknai takut secara positif dapat mengantarkan hamba meraih dan merengkuh rasa cinta paling tinggi, yaitu ridha, sehingga pada gilirannya dapat meraih surga-Nya.

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. al-Bayyinah [98]: 8)

Takut kepada Allah SWT menjadikan hamba semakin dekat dan intim dengan-Nya, sehingga ia tidak lagi takut kehilangan jabatan,  takut kepada atasan, atau takut tidak memiliki masa depan. Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Oleh Muhbib Abdul Wahab

sumber: Republika Online

Takutlah kepada Allah

Pimpinan Majelis Az-Zikra Ustadz Muhammad Arifin Ilham mengemukakan pentingnya seorang Muslim takut kepada Allah, hamba yang takut kepada Allah, dan orang yang tidak takut kepada Allah.

“Takutlah kepada Allah, takutlah kepada seorang hamba yang takut kepada Allah, dan takutlah kepada orang yg tidak takut pada Allah,” ujar Ustadz Muhammad Arifin Ilham kepada Republika.co.id, Jumat (8/7/2016).

Ustadz Arifin menambahkan, takut kepada Allah adalah buah dari mengenal-Nya. “Bagaimana berani menggunakan nikmat nafas menghela ini berbuat maksiat kepada Pemegang nyawanya?“

Arifin lalu mengutip Alquran Surah Al-Infithor ayat 6-12, yang artinya, “Hai manusia,  apa yang menyebabkan kamu berbuat maksiat kepada Allah, bukankah Allah yang menciptakanmu… (dan seterusnya).”

Arifin melanjutkan, seorang Muslim juga perlu takut kepada seorang hamba yang takut kepada Allah. “Jangan menjauhinya apalagi membencinya karena mereka adalah para kekasih Allah,” tuturnya.

Arifin menyitir ayat-ayat Alquran tentang kedekatan hamba yang bertakwa, kepada Allah SWT. “Sesungguhnya Allah mencintai para hamba-Nya yang bertakwa.” (QS Ali Imran: 76). Dan Allah sangat dekat dengan  mereka, “Ketahuilah sesungguhnya Allah bersama para hamba-Nya bertaqwa” (QS At-Taubah:123).

Arifin menjelaskan, seorang Muslim juga perlu takut kepada  orang yang tidak takut kepada Allah. “Kita perlu takut kepada orang yang tidak takut kepada Allah karena keberanian dan kenekatan mereka berbuat maksiat mengundang bala bencana azab Allah,” ujarnya.

Allah SWT menegaskan hal tersebut dalam QS Al-Anfal ayat 25, yang artinya, “Takutlah kalian kepada azab Allah yang tidak hanya menimpa orang zalim di antara kalian tetapi juga menimpa orang saleh di tengah mereka…”

Sungguh, kata Arifin,  hancurnya suatu keluarga, suatu kampung, suatu negeri bukan karena hanya banyaknya orang berbuat maksiat  atau berbuat zalim,  tetapi karena diamnya orang saleh.

Arifin  melantunkan sebait doa, “Allahumma ya Allah,  tancapkan di hati kami rasa takut yang hebat kepada-Mu, dekatkan kami dengan hamba hamba-Mu yang takut kepadaMu, dan jauhkan kami dari  mereka yang tidak takut kepada-Mu. Aamiin.”

 

 

sumber: Republika Online