Melawan Diri Sendiri

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, ketika pasukan kaum Muslim pulang dari Perang Uhud, Rasulullah SAW berpesan, “Kita baru pulang dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu.”

Sekalipun banyak muhaddist (pakar ilmu hadis) mempertanyakan kesahihan riwayat hadis tersebut, secara maknawi hadis ini sangatlah sesuai dengan realitas. Faktanya, memang melawan hawa nafsu lebih berat daripada melawan musuh.

Berjihad mengangkat senjata seluruhnya adalah kebaikan. Jika kalah dan terbunuh, akan mendapatkan syahid yang tentunya masuk surga. Jika menang, kemuliaan, mendapatkan rampasan perang, serta ganjaran besar siap menanti. Tiada kerugian bagi mereka yang berperang melawan musuh.

Namun, perperangan melawan hawa nafsu yang ada dalam diri sendiri ternyata tidaklah segampang itu. Jika kalah, akan mendapatkan neraka. Jika menang, akan diuji dengan godaan yang lebih berat lagi. Senantiasa akan terus seperti itu sampai akhirnya ajal menjemput. Pertempuran melawan hawa nafsu dan diri sendiri ternyata sangatlah berisiko.

Perang melawan diri sendiri mengisyaratkan perang yang terberat daripada perang melawan musuh Islam. Dalam Alquran ditekankan, untuk melawan sesuatu yang datang dari dalam diri jauh lebih berat daripada melawan musuh dari luar.

Dalam surah an-Naas disampaikan, “Katakanlah, aku berlindung dengan Rabb manusia. Penguasa manusia. Sembahan manusia. Dari waswas (bisikan) setan yang bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. (Yang berasal) dari jin dan manusia.” (QS an-Naas [114]: 1-6). Dalam surat ini, manusia diperintahkan untuk berlindung kepada Allah sebanyak tiga kali. Seorang Muslim disuruh berlindung kepada Allah sebagai Rabb, Penguasa, dan Sembahan manusia. Semua itu hanya untuk menghadapi rasa waswas yang datang dari dalam dirinya.

Berbeda dengan surah al-Falaaq yang mengatakan, “Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan, dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang mengembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (QS al-Falaaq [113]: 1-5). Dalam surah ini, perintah untuk berlindung kepada Allah hanya satu kali. Padahal, kejahatan yang menyerangnya datang dari beraneka ragam, yakni kejahatan malam, wanita tukang sihir, dan para pendengki.

Dari surah an-Naas dan surah al-Falaaq disimpulkan, melawan sesuatu yang datang dari diri sendiri jauh lebih berat ketimbang melawan musuh dari luar. Untuk itulah, seseorang diseru untuk berlindung tiga kali lebih banyak ketika menghadapi dirinya sendiri.

Seseorang yang dapat mengangkat beban yang sangat berat terkadang tidak mampu mengangkat selimutnya untuk menunaikan shalat Subuh atau shalat Tahajud. Seorang yang melakukan perjalan sangat jauh terkadang tak mampu berjalan ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah. Hal ini membuktikan, melawan godaan yang datang dari diri sendiri lebih berat ketimbang melawan sesuatu yang nyata dari luar. Menaklukkan hawa nafsu dan melawan godaan-godaan setan ternyata lebih berat daripada melawan musuh Islam.

Dalam surah an-Naas juga diisyaratkan, betapa hebatnya rasa waswas dan galau yang diciptakan setan bagi manusia. Waswas adalah usaha setan mengganggu seseorang Muslim agar tidak memiliki keikhlasan dalam ibadahnya. Waswas juga membuyarkan sesuatu yang sudah jelas dalam ajaran agama.

Rasa waswas yang diciptakan setan juga bisa menjadikan seseorang seperti orang gila. Terkadang, ia bisa mengulang-ngulang perbuatan yang sama. Seperti ragu, apakah ia lepas angin atau tidak. Hal ini seperti ditegaskan Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Apabila ada di antara kalian ketika shalat merasakan ada yang bergerak dalam duburnya seperti berhadas atau tidak dan dia ragu, maka janganlah dibatalkan shalatnya sehingga mendengarkan suaranya atau mencium baunya.” (HR Abu Daud, Ahmad, dan Baihaqi).

Hal ini juga dikuatkan dalam sebuah kaidah fikih, “Suatu keyakinan itu tidak bisa dihilangkan dengan sebuah keraguan.” Kesimpulannya, sesuatu yang hanya berdasar pada perasaan atau keraguan tidak bisa dijadikan pedoman untuk memutuskan bahwa wudhu atau shalat kita itu batal. Tentu saja, keraguan lebih tidak bisa lagi untuk memutuskan perkara yang lebih besar dari sekadar wudhu.

Demikian juga rasa waswas dan galau yang menjangkiti generasi muda umat Islam. Dengan galau yang meliputi hati, menjadikan generasi muda tidak lagi produktif dan bermanfaat. Padahal, banyak kreativitas dan prestasi yang bisa diraih ketika usia masih muda.

Surah an-Naas menegaskan, seseorang tidak bisa menganggap enteng bisikan-bisikan negatif yang datang dari dalam dirinya. Berlindunglah kepada Allah tiga kali lebih banyak untuk menaklukkan diri sendiri. Banyak orang hebat ditumbangkan karena tak mampu melawan godaan dari dalam dirinya. Banyak pejabat hebat yang terjatuh karena tak mampu melawan bisikan korupsi dari dalam dirinya. Semoga kita bisa menjinakkan nafsu yang membara dalam diri menuju pada ridha Allah SWT.

Manajemen Emosi

Dalam sebuah peperangan, Ali bin Abi Thalib –Karramallahu wajhah– terlibat duel dengan salah satu jawara kaum musyrik. Ia berhasil menjatuhkan lawannya. Ketika Ali hendak membunuhnya, sang musuh meludahi Ali dan mengenai wajahnya. Atas hal itu, Ali mengurungkan niatnya dan berlalu meninggalkannya.

Orang musyrik itu pun memandang aneh sikap Ali. “Hendak ke manakah engkau?” ujarnya. Ali menjawab, “Mulanya, aku berperang karena Allah, namun ketika engkau melakukan apa yang telah engkau lakukan terhadapku (meludahiku), aku khawatir membunuhmu hanya sebagai balas dendam dan pelampiasan kemarahanku. Jadi, aku membebaskanmu karena Allah.”

Orang itu pun berkata, “Semestinya kelakuanku lebih memancing kemarahanmu hingga engkau segera membunuhku. Jika agama yang kalian anut sangat toleran, maka sudah pasti ia adalah agama yang benar.”

Sekelumit kisah tersebut menunjukkan setidaknya empat nilai akhlak mulia. Pertama, menjaga ketulusan niat dan komitmen. Niat suci untuk berjihad karena Allah SWT yang sudah dibulatkan dalam hati yang bersih tidak boleh dinodai oleh niat lain yang dapat menggugurkan kesucian niat awal.

Jika kesucian niat sudah terkontaminasi oleh hal-hal yang tidak mulia, niscaya dapat merusak amal kebaikan dan menjadikannya tidak bermakna, sia-sia di mata Allah SWT. (HR Bukhari dan Muslim).

Kedua, menahan diri untuk tidak terprovokasi dan melakukan balas dendam merupakan akhlak yang sangat terpuji, terutama dalam suasana permusuhan dan peperangan. Manusia sering kali tidak bisa mengendalikan diri (emosi) jika dimusuhi.

Dalam hal ini, Ali justru tidak sudi membunuh musuh yang terang-terangan telah meludahinya, meskipun beliau dapat melakukannya terhadap musuh yang sudah tidak berdaya. “Orang yang kuat bukanlah karena kehebatan kekuatannya, akan tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya di saat marah.” (Muttafaq ‘alaih).

Ketiga,  mengelola kemarahan dengan tidak mendendam merupakan energi positif untuk memberi ruang bagi munculnya sikap arif dan mau memaafkan orang lain. Memberi maaf jauh lebih baik daripada melampiaskan balas dendam.

Alquran mengajarkan kepada kita untuk membela diri jika diperlakukan secara zalim. Namun, memberi maaf lalu berdamai itu pasti lebih indah dan damai. (QS as-Syura [42]: 39-40).

Keempat, sikap lapang dada dan besar hati untuk hidup damai merupakan kata kunci toleransi dan kerukunan hidup.  Kemarahan pada dasarnya wajar (manusiawi), tetapi membiarkan kemarahan tanpa kendali adalah awal dari sikap dan perilaku disharmoni.

Karena itu, ketika ada seorang sahabat menemuni Nabi dan meminta nasihat kepadanya, beliau menyatakan, “Jangan marah …! (beliau mengulanginya sampai tiga kali).” (HR Muslim).

Manajemen emosi dan kemarahan dapat diterapi dengan berwudhu, karena marah itu ibarat bara api yang bergejolak dan hanya dapat padam jika disiram dengan air. Manajemen emosi bisa berfungsi lebih efektif dan optimal jika dibarengi dengan zikrullah (mengingat Allah), beristighfar kepada-Nya, mengingat kematian,  berbaik sangka, berpikir positif, dan bersabar. Wallahu a’lam.

 

Oleh: Muhbib Abdul Wahab

KHAZANAH REPUBLIKA

Menjaga Lisan dan Tangan

Diriwayatkan dari Abu Musa bahwa para sahabat bertanya, wahai Rasul, Muslim manakah yang paling utama? Rasulullah SAW pun menjawab, yaitu Muslim yang selamat lisan dan tangannya (HR Bukhari). Hadis yang ber-uslub badi’ jinas isytiqaq di atas linier dengan kekhawatiran publik akan makin berkecambahnya hoaks dan narasi kebencian pada tahun politik.

Ruang publik memburam akibat membiaknya rimba kata yang nyaris tanpa makna. Data dan fakta dipelintir hingga lamur dalam indra objektivitas dan rasionalitas. Akibatnya, tak sederhana, sering kali sel pikir malah meringkuk dalam pengapnya penjara irasionalitas. Sebagai homo digitalis, kita sering kali terdampar dalam emosi sesaat yang dangkal. Agitasi dan propaganda justru diremah men tahmentah.

Sementara hujan olok-olok yang ditengarai melabrak te duhnya payung logika etika dan esteti ka terus-menerus mendera deras. Kita seakan lalai bahwa tajamnya lidah bisa mendatangkan siksa Allah. Muadz bin Jabal pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasul, apakah kita akan disiksa akibat sesuatu yang diucapkan?”

Beliau menjawab, “Tidaklah manusia terjungkir di atas wajahnya (atau hidungnya) ke neraka melainkan akibat lisannya.” Al-Ghazali dalam Ihya’-nya mengingatkan bahwa anggota tubuh yang paling durhaka pada manusia ialah lidahnya, disebabkan ia tidak merasa berat menggerakgerakkannya, lincah untuk membicarakan apa pun. Tak hanya itu, ia juga perangkat setan terbesar untuk menipu manusia.

Dalam cuaca penuh kebisingan, membuat kita rindu pelangi keheningan yang penuh warna-warni hikmah. Memang, diam adalah hikmah dan (terhitung) sedikit pelakunya. Kita seolah lupa sabda Rasulullah SAW, barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.

Dalam Ihya’ dikisahkan Nabi Isa ditanya, “Tunjukilah kami amalan yang membawa kami masuk surga.” Isa menjawab, “Janganlah kamu bertutur kata selamanya.” Mereka menyahut, “Kami tak sanggup demikian.” Kemudian Nabi Isa berkata, “Janganlah bertutur kata selain hal kebajikan.”

Perlu disadari bersama bahwa manusia merupakan animal simbolicum, pencipta simbol melalui uraian lisan dan tulis. Kita menggunakan kata untuk mengab straksikan segala hal sebagai perangkat komunikasi verbal. Tak sekadar itu, bahasa juga menyimpan potensi membentuk pola pikir dan keyakinan sang mukhatab. Atau dengan kata lain, bahasa berfungsi sebagai pencipta realitas sekaligus realitas itu sendiri.

Untuk itu, sudah saatnya kita menggunakan segenap keinsafan diri agar tak larut dalam jeratan angkara emosi yang berujung ujaran kebencian. Peliharalah lisan dan jari kita dari tuturan yang nirmakna. Disebabkan pada dasarnya, memelihara lisan dan jemari berarti menjaga orisinalitas modus keberislaman yang autentik.

Dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah berpesan bahwa di antara kebaikan kadar keislaman seseorang ialah bila ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya. Bahkan, indikator keimanan pun ditera melalui ucapan dan tutur yang memadukan antara nalar yang waras dan nurani yang sehat. Wallahu a’lam

Oleh: Mohammad Farid Fad

Tengoklah ke Bawah

Sungguh, musibah jatuhnya pesawat Lion Air JT610 dua pekan lalu yang menewaskan 189 orang, membuat kita sangat berduka.Terlepas apa pun penyebabnya, apakah faktor teknis, nonteknis, ataupun kelalaian manusia, kejadian itu adalah malapetaka yang harus diterima dengan lapang dada.

Seraya mengembalikan segalanya sebagai ketentuan Allah SWT (takdir) dengan berucap, innalillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali).Ungkapan istirja’ inilah yang menguatkan iman dan menyadarkan kita akan hakikat kehidupan (QS 2: 155-156).

Ketika musibah terjadi, kita selalu diingatkan tentang kematian. Seakan-akan, ada yang menuju pintu kematian dan ada pula yang diselamatkan.Sejatinya, kematian itu tidak perlu sebab dan tidak pula bisa dipercepat atau diperlambat. Setiap orang akan menemuinya pada saat dan tempat yang ditentukan (ajal) dengan caranya sendiri (QS 3:145, 16: 61).

Tiada musibah yang terjadi kecuali atas izin Allah SWT (QS 57: 22). Untuk mengobati hati yang berduka, pesan Nabi SAW penting diresapi.”Tengoklah orang yang di bawah dan jangan menengok orang yang di atasmu. Hal itu akan lebih layak membuatmu tidak menyepelekan nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadamu.” (HR Muslim).

Nasihat Nabi SAW tersebut mengandung makna yang mendalam. Beliau ingin mengajarkan makna syukur dan sabar dalam menjalani kehidupan. Keduanya tidak terpisahkan, tetapi mesti hadir bersamaan. Dalam kenikmatan diperlukan syukur dan sabar, begitu pun dalam menghadapi kesusahan, dibutuhkan sabar dan syukur (QS 42: 27). Bukankah sesuatu yang menyenangkan belum tentu membawa kebaikan, begitu juga sebaliknya, kepahitan pun belum tentu mengandung keburukan (QS 2: 216).

Mengapa menengok ke bawah? Tiada lain, kecuali agar kita pandai menghargai nikmat yang diberikan Allah SWT. Jangan menengok ke atas, karena bisa menafikan karunia berharga dan diliputi penyesalan. Melihat orang yang punya suami atau istri, anak, dan harta akan membuat kita remeh terhadap nikmat yang ada. Padahal, karunia yang sudah kita dapatkan begitu banyak hingga tak terkira (QS 16: 18, 14: 34).

Setiap orang pasti pernah merasakan kehi langan, baik barang berharga maupun orang tercinta.Karunia yang didapatkan itu sungguh bukan milik kita, melainkan titipan yang cepat atau lambat akan diambil kembali Sang Pemiliknya. Sebesar apa pun kehilangan, tak boleh membuat kita pupus harapan, apalagi kehilangan Tuhan (QS 12: 87, 41:49). Sebab, tujuan akhir kehidupan ini adalah menemui Allah SWT kelak pada Hari Akhir dengan keridhaan dan ketenangan (QS 17: 110, 89: 27-30).

Petuah nan indah Dr `Ain al-Qarni, sang penulis Laa Tahzan(2014: 59), patutlah direnungkan.Jangan bersedih karena kesedihan itu akan membuat rumah yang luas, istri yang cantik, harta yang berlimpah, kedudukan yang tinggi, dan anak- anak yang cerdas tidak ada gunanya sedikit pun.Jangan bersedih karena Anda masih memiliki dua mata, dua telinga, dua bibir, dua tangan dan kaki, lidah dan hati. Jangan bersedih karena Anda masih memiliki kedamaian, keamanan, kesehatan, agama yang diyakini, dan rumah yang didiami…

Sekali lagi, tengoklah ke bawah supaya tumbuh rasa syukur dan optimistis menjalani masa depan. Banyak orang yang tetap tegar walau terimpit kesusahan. Jangan tengok ke atas, jika hanya menambah keluh kesah berkepanjangan.Keteladanan inilah pendidikan karakter terbaik buat anak kita dalam menanamkan syukur dan sabar. Allahu a’lam bish-shawab.

OLEH DR HASAN BASRI TANJUNG

Jangan Merasa Paling Benar

Dalam interaksi kehidupan sehari-hari, sering kali terjadi baik di dunia nyata maupun maya ditemukan kalimat celotehan “jangan merasa paling benar”, “jangan merasa benar sendiri”, “jangan merasa paling baik”, dan “jangan merasa paling suci”. Kalimat-kalimat seperti itu biasanya muncul saat orang dihadapkan pada kondisi perdebatan, perbedaan pandangan politik, keterusikan akan keyakinan, dan rasa tidak senang saat mendapatkan teguran atau nasihat.

Pada kondisi seperti itu, tidak jarang perilaku merasa paling benar membawa dampak buruk bagi diri yang bersangkutan dan lingkungan sekitarnya. Setidaknya, orang yang merasa paling benar tergolong ujub dan takabur yang menjadikannya kurang dipercaya dan dihargai oleh orang lain. Sikap dan perilaku itulah yang pada akhirnya dapat memicu terjadinya konflik di antara sesama umat manusia.

Terkait dengan bahaya dan buruk nya perilaku merasa paling benar, Ra sulullah SAW memberikan peringatan kepada umatnya melalui suatu kisah yang terkandung dalam salah satu hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Ahmad.

Alkisah, ada dua orang bersaudara dari kalangan Bani Israil dengan sifat yang sangat kontras. Satu di antara me reka sering berbuat dosa, sementara yang satu lagi sangat rajin beribadah. Suatu ketika, rupanyanya si ahli ibadah selalu menyaksikan saudaranya itu selalu melakukan dosa, hingga lisannya tak betah untuk tidak menegurnya.

Teguran pertama pun terlontar: “Berhentilah!” Teguran seolah tak memberikan efek apa pun dan hanya masuk melalui telinga kanan keluar lagi lewat telinga kiri, perbuatan dosa tetap berlanjut dan sekali lagi tak luput dari pantauan saudaranya yang rajin beribadah.

“Berhentilah!” ujarnya untuk kedua kali. Si pendosa lantas berucap: “Tinggalkan aku bersama Tuhanku. Apakah kau diutus untuk mengawasi ku?” Mungkin karena sangat kesal, lisan saudara yang ahli ibadah itu tibatiba mengeluarkan ucapan kecaman yang berbunyi: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu. Allah tidak akan memasukkanmu ke surga.”

Pada bagian akhir, hadis tersebut memaparkan, tatkala keduanya me ninggal dunia, keduanya pun dikum pulkan di hadapan Allah SWT. Kepada yang rajin beribadah, Allah mengata kan: “Apakah kau telah mengetahui tentang-Ku? Apakah kau sudah me miliki kemampuan atas apa yang ada dalam genggaman-Ku?” Drama keduanya pun berlanjut dengan akhir yang mengejutkan. “Pergi dan ma suklah ke surga dengan rahmat-Ku,” kata Allah kepada si pendosa. Sementara kepada si ahli ibadah, Allah mengatakan: “Wahai malaikat giringlah ia menuju neraka.”

Hikmah yang dapat kita petik dari kisah dalam hadis tersebut adalah bah wa orang yang rajin beribadah sering diasosiasikan sudah merasa pa ling benar secara mutlak dengan ja minan masuk surga, sementara orang lain yang sering melakukan dosa akan selalu dalam kondisi hina dan nerakalah balasannya, dalam hadis di atas kondisi itu justru sebaliknya. Selain itu, kisah di atas juga menyiratkan pesan secara tegas agar kita tidak merasa paling benar untuk hal-hal yang sesungguhnya menjadi hak prerogatif dan kewenangan Allah SWT.

Tekun beribadah dan meyakini kebenaran adalah hal yang utama bagi setiap orang, tetapi justru menjadi malapetaka ketika perilaku tersebut diikuti dengan rasa ujub dan takabur dengan kewenangan menghakimi (memvonis) orang atau kelompok lain sebagai golongan yang mulia atau hina, masuk neraka atau surga dan dilaknat atau diberi rahmat. Secara lahiriah tidak ada tolok ukur apa pun yang mampu mendeteksi kualitas hati dan keimanan seseorang secara pasti sebagai suatu kebenaran.

Islam sebagai agama yang hu manis mengajarkan kepada umatnya agar terhindar dari perilaku merasa paling benar dan diperintahkan untuk selalu melakukan koreksi diri (muhasabah) serta meluruskan niat untuk kebaikan daripada mencari kesalahan pribadi orang lain yang belum tentu lebih buruk di hadapan Allah SWT.

Terakhir, begitu pula dalam menentukan suatu kebenaran atas per bedaan seharusnya selalu bersumber pada wahyu Allah dan rasionalitas akal sehat. Sebagaimana dikatakan dalam Alquran bahwa kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekalikali kamu termasuk orang-orang yang ragu (QS al-Baqarah: 147). Wallahu a’lam bisshawab…

 

REPUBLIKA

11 Fakta dan Keuntungan Orang Bertakwa

ALLAH SWT menciptakan manusia untuk beribadah. Ibadah, menurut Alquran, adalah jalan lapang bagi manusia untuk memperoleh ketakwaan. Tapi apa sebenarnya takwa? Apa keuntungan orang yang bertakwa?

Apa rahasia di baliknya? Berikut 11 fakta dan keuntungan tentang takwa menurut Alquran:

1. Takwa adalah wasiat (perintah) Allah untuk seluruh umat manusia.

“Dan sungguh Kami telah mewasiatkan (memerintahkan) kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah.” (An-Nisa: 131)

2. Takwa adalah perisai penjagaan dari tipu daya setan.

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu.” (Ali Imran: 120) .

3. Takwa adalah jalan untuk memperoleh solusi kehidupan dan rezeki yang tidak terduga-duga.

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (At-Thalaq: 2-3)

4. Takwa adalah media untuk mensucikan diri dari semua kekurangan dan aib.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (Al-Ahzab: 70-71)

5. Takwa adalah jalan untuk menjadi kekasih Allah.

“Maka sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran: 76)

6. Takwa adalah syarat diterimanya amal manusia.

“Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (Al-Maidah: 27)

7. Takwa adalah salah satu kendaraan menuju kemuliaan.

“Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat: 13)

8. Takwa adalah media untuk memperoleh bimbingan Allah.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan Memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu.” (Al-Anfal: 29)

9. Takwa adalah penyelamat dari siksaan.

“Kemudian Kami akan Menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut.” (Maryam: 72)

10. Takwa adalah pintu terbukanya ilmu pengetahuan.

“Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 282)

11. Takwa akan mendatangkan kebulatan tekad.

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan.” (Ali Imran: 186). [Islam Indonesia]

 

INILAH MOZAIK

Bertakwalah dalam Segala Kondisi

TAKWA dan sikap kehati-hatian bisa memiliki muara yang sama. Ini terungkap dalam percakapan antara Umar bin Khathab dan Ubay bin Ka’ab. Ketika itu Ubay bertanya kepada Umar tentang makna takwa. Khalifah kedua ini malah balik bertanya, “ Pernahkah engkau berjalan di tempat yang penuh duri?”

Ubay bin Ka’ab menjawab, “Ya pernah.” “Apakah yang engkau lakukan?” tanya Umar kembali.

“Tentu aku sangat berhati-hati melewatinya!” jawab Ubay bin Ka’ab. “Itulah yang dinamakan takwa,” tegas Umar.

Jadi orang bertakwa adalah orang yang berhati-hati dalam bertindak. Semua yang dilakukannya penuh perhitungan.

Pemahaman, emosi, dan gerak fisiknya benar-benar dipandu aturan Ilahi agar seiring sejalan. Sebagai contoh mereka tidak mau menerima uang kecuali uang tersebut didapat dengan cara yang diridhahi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Mereka tidak mau makan kecuali makanan tersebut terjamin kehalalannya, baik zatnya atau cara mendapatkannya. Mereka tidak mau berbicara, kecuali pembicaraannya benar dan tidak menyakiti.

Mereka tidak berdua-dua dengan lawan jenis, kecuali yang telah dihalalkan Allah. Mereka tidak mau berbisnis, kecuali bisnis yang tidak merugikan orang banyak, barang yang dijual terjamin kehalalannya, tidak melanggar undang-undang, dan tidak tersentuh unsur riba.

Intinya, dalam hal apa pun, orang bertakwa selalu menyertakan sikap hati-hati yang bersumber dari rasa takut melanggar aturan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Orang bertakwa adalah orang yang proaktif. Ia mampu memanfaatkan ruang antara stimulus (rangsangan) dan respons (tindakan) untuk berpikir sesuai prinsip. Sederhananya, orang bertakwa itu selalu melibatkan pikiran dalam setiap tindakannya, sehingga semua yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat. Semuanya didasarkan pada prinsip-prinsip yang telah digariskan Yang Mahakuasa.

Saat seorang pejabat publik menerima cek sebesar dua puluh juta rupiah misalnya, ini stimulus atau rangsangan? Apa respon pejabat ini? Kalau ia orang bertakwa, ia tidak akan menerima cek tersebut begitu saja. Ia akan bertanya, “Ini uang dari siapa? Untuk apa? Apakah sesuai dengan prosedur yang dibenarkan? Apakah terjamin kehalalannya? Apakah tidak menyalahi nilai-nilai kejujuran yang dicontohkan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam?“, dan sebagainya.

Kalau memang uang tersebut benar-benar haknya, terjamin kehalalannya, dan benar proses pendapatannya, ia akan menerima dengan penuh syukur. Namun jika tidak, ia akan menolak apa pun konsekuensinya. Itulah respons yang didahului proses “berhenti sejenak” untuk berpikir dan menyelaraskan diri dengan prinsip-prinsip Ilahi.

Dalam hal apa pun, tidak hanya berkaitan dengan uang, ucapannya benar-benar terkendali dan penuh kehati-hatian. Sesungguhnya, sikap seperti ini akan menjamin keselamatan seseorang di dunia dan akhirat, juga akan mengundang datangnya pertolongan Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

Bahwa siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Siapa yang bertakwakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan baginya dalam urusannya. Dan siapa pun bertakwa kepada Allah nicaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.“ (QS. ath-Thalaaq: 2-5).*/Sudirman STAIL

Sumber buku: Haram Bikin Seram. Penulis buku: Tauhid Nur Azhar.

 

HIDAYATULLAH

Harga Ketakwaan bagi Orang Beriman

IMAN dan takwa adalah hal pokok dalam kehidupan seorang Muslim. Segala perbuatan bisa terhitung baik jika mengalir dari telaga iman tersebut. Sedang takwa biasanya berfungsi mengawal hal itu menjadi kebaikan yang sempurna.

Tak heran, dalam setiap nasihat khutbah, juru khatib selalu berpesan untuk merawat serta meninggikan kadar iman dan takwa dalam diri setiap orang beriman.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya,  dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS: Ali Imran [3] : 102)

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu (Ra) berkata, jika kalian mendapati ayat yang dimulai dengan kalimat “Ya ayyuha al-ladzina amanu” hendaklah kalian sungguh-sungguh memperhatikan ayat tersebut. Sebab sesudah (lafazh) itu, datang perintah yang wajib dikerjakan atau larangan yang mesti dijauhi.

Membersihkan Hati dengan Terus Memperbarui Iman

Ibnu Mas’ud menambahkan, maksud sebenar-benar takwa di adalah menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) dan tidak bermaksiat kepada-Nya. Senantiasa mengingat Allah serta bersyukur kepada-Nya tanpa ada pengingkaran (kufr) di dalamnya (Tafsir Ibnu Katsir: Dar at-Thayyibah, 1999).

Senada, Imam az-Zuhri Rahimahullahu menegaskan, jika kalian mendapati firman Allah “Ya ayyuha al-ladzina amanu” maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh. Sebab Nabi Shallallahu alaihi wasallam (Saw) sebagai teladan umat Islam juga telah mengerjakan hal tersebut.

Ayat di atas menggunakan maf’ul muthlaq (penyebutan obyek yang berasal dari kata kerja), yaitu “ittaqullaha haqqa tuqatihi”.

Disebutkan, semacam itu mengandung penegasan sebuah makna. Allah menyuruh bertakwa dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, bukan setengah atau separuh, apalagi jika agama ini dijadikan permainan.

Selain itu terdapat nafyu (penegasian) dan itsbat (penetapan) dalam lafazh “wa la tamutunna illa wa antum muslimuna“.

Sebuah gaya bahasa penegasan dari Allah tentang larangan mati selain di atas agama Islam. Bahwa hendaknya seorang Muslim tak henti berproses menjaga iman dan takwanya hingga akhir hayat nanti

 

Takwa Menurut Ulama

Pengarang kitab Jami al-Ulum wa al-Hikam, Ibnu Rajab menyebutkan, takwa adalah perilaku seorang hamba yang menjadikan sesuatu yang menghalanginya dari apa yang ia takutkan dan terjadi padanya.

Ketika hamba itu bertakwa kepada Allah berarti ia melakukan segala upaya yang menghindarkan dirinya dari ancaman dan murka Allah Ta’ala. Yaitu memenuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Al-Qusyairi berpendapat, takwa adalah kumpulan segala kebaikan dan ketaatan kepada Allah. Bermula dari menjauhi perbuatan syirik lalu meninggalkan maksiat dan keburukan. Setelah itu berusaha menjauhi perkara syubhat hingga akhirnya tak berlebihan dalam hal-hal yang mubah.

Jelasnya, takwa ialah manifestasi dari rangkaian amalan kebaikan yang berpangkal dari kokohnya iman yang menancap pada diri seorang beriman.

dua sisi mata uang, iman dan takwa adalah sesuatu yang tak terpisahkan. Keduanya saling menguatkan. Iman bisa bertambah seiring nilai ketakwaan yang meningkat. Sedang takwa itu lahir dari adanya iman pada diri orang tersebut.

Sebagai modal utama dalam mengarungi kehidupan, persediaan bekal iman dan takwa sedikitpun tak boleh menipis apalagi habis. Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika seorang musafir yang kehabisan bekal di tengah bentangan padang pasir misalnya.

Seperti itulah harga ketakwaan bagi orang beriman. Takwa menjadi harga mati dalam kamus orang beriman. Olehnya Allah senantiasa mengulang-ulang pesan takwa tersebut.

Syarat Utama Takwa

Meski menjadi bekal utama, ternyata takwa tak semudah membalik tangan. Takwa tersebut hanya bisa diraih melalui mujahadah (upaya sungguh-sungguh) dalam beribadah mendekat kepada Allah.

Disebutkan, selain iman maka perkara ilmu menjadi syarat utama meraih takwa. Sebab orang yang buta ilmu agama tak mungkin menjadi pribadi yang bertakwa. Sebaliknya sosok orang bertakwa niscaya punya ilmu tentang agamanya.

Imam Ibnu Rajab menjelaskan, prinsip dasar takwa adalah mengetahui urusan ketakwaan tersebut lalu ia bertakwa di dalamnya.

Seorang alim Bakr bin Khunais juga berkata, bagaimana mungkin seseorang bisa bertakwa sedang ia tak mengetahui mana (perintah) yang ia harus kerjakan dan mana (larangan) yang ia harus tinggalkan.

Penutup

Dengan segala dinamika persoalan yang dihadapi sekarang ini, ada baiknya para pemimpin bangsa dan seluruh elemen masyarakat mentadabburi ayat berikut ini. Allah berfirman:

(وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS: Al-A’raf [7]: 96)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

 … Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah jadikan baginya jalan keluar (atas segala permasalahan.” (QS: At-Talaq [65]: 2).*/Masykur Abu Jaulah

 

sumber: Hidayatullah.com

Mengejar Akhirat dan Dunia dengan Takwa

Rasulullah berkhutbah saat Jumat pertama hijrah ke Madinah. Inilah isi khutbahnya:

“Alhamdulillah. Aku memuji-Mu, meminta pertolongan-Nya, meminta ampunan-Nya, dan meminta hidayah-Nya. Aku beriman kepada-Nya, tidak kafir kepada-Nya. Aku memusuhi orang yang mengingkari-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak tuhan selain Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Dia mengutusnya dengan petunjuk dan agama yang benar, dengan cahaya, dan mauizhah setelah lama tidak diutus para rasul, di tengah sedikitnya ilmu dan kesesatan manusia serta kedekatan dengan kiamat. Barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah lurus. Dan barangsiapa mendurhakai mereka, maka ia telah melampui batas dan sesat dengan jelas.”

“Aku berwasiat kepada kalian dengan takwa kepada Allah. Hal terbaik yang aku wasiatkan kepada seorang Muslim adalah mendorongnya agar beramal demi akhirat dan menyuruhnya bertakwa kepada Allah. Takutlah kepada hal yang telah diperingatkan-Nya kepada kalian. Tidak ada nasihat yang lebih afdhal daripada itu. Tidak ada peringatan yang lebih baik daripada itu. Itu adalah ketakwaan bagi orang yang mengamalkannya dengan perasaan takut dan gentar.

Merupakan penyokong yang kuat atas pahala akhirat yang kalian dambakan. Barang siapa memperbaiki perkara rahasia dan terang-terangan antara ia dan Allah dengan tidak meniatkannya kecuali untuk Allah, maka hal itu akan menjadi pengingat baginya pada kehidupan dunianya dan bekal setelah mati ketika seorang manusia membutuhkan apa yang telah ia kerjakan”.

“.. Ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu (kiamat) ada masa yang jauh, dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksanya. Dan, Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya”. (Ali Imran: 30).

Zat yang firman-Nya benar dan Dia mewujudkan janji-Nya. Dia berfirman: “Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku”. (Qaaf: 29).

“Bertakwalah kepada Allah dalam masalah dunia dan akhirat kalian, baik yang rahasia maupun yang terang-terangan karena: “.. Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya”. (ath-Thalaaq: 5).

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya ia telah mendapat untung yang sangat besar. Sesungguhnya, takwa kepada Allah akan melindungi kalian dari murka-Nya, hukuman-Nya, dan amarah-Nya. Takwa kepada Allah akan mencerahkan wajah, membuat Tuhan ridho, dan meninggikan derajat. Carilah keberuntungan kalian, jangan melalaikan hak Allah. Allah mengajarkan Kitab-Nya kepada kalian dan menjelaskan jalan-Nya agar mengetahui mana orang-orang yang benar, dan mana yang berbohong. Oleh karena itu, berbuatlah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kalian. Musuhilah musuh-musuh-Nya dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya.

Dia telah memilih kalian dan menamai kalian muslimin, ” agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula)”. (al Anfal :42).

Tiada kekuatan selain dengan-Nya. Perbanyaklah zikir mengingat Allah. Beramallah untuk bekal setelah mati. Barangsiapa yang menjaga hubungan dirinya dengan Allah, maka Dia yang akan menjaga hubungannya dengan sesama manusia karen Allah menetapkan keputusan atas diri manusia dan mereka tidak dapat menetapkan keputusan atas-Nya. Dia memiliki dari-Nya. Allah Mahabesar. Dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Mahatinggi dan Mahaagung.”

Hendaknya kita mengingat ini semua. Mari kita manfaatkan baik-baik setiap dari hidup kita ini. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah shallahu alaihi wa salam bahwa Rasulullah Saw, bersabda : “Bersegeralah melakukan amal-amal shaleh, karena akan datang fitnah seperti malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seseorang msih mukmin, tapi sorenya sudah menjadi kafir, atau pada sore hari ia mukmin dan pada keesokan harinya ia menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi mendapat harta dunia”. (HR.Muslim)

Addy bin ZHatim meriwayatkan bahwa Rasulullah shallahu alaihi wa salam bersabda: “Lindungilah diri kalian dari neraka, meski dengan sebiji kurma. Jika ada yang tidak punya,ia dapat melakukannya dengan menyampaikan perkataan yang benar”. (HR.Buchori dan Muslim).

Khotbah Baginda Rasulullah Shallahu alaihi wa salam penuh dengan makna. Marilah kita memperhatikan dan menghayati khotbah beliau. Sebagai bekal hidup. Jangan sampai kita semakin jauh dari apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallahu alaihi wa salam. Agar manusia terbebas dari beratnya siksa neraka kelak di akhirat.

Tak ada manusia yang bebas dari janji Allah Azza Wa Jalla, bagi mereka yang berbuat baik di dunia, ia akan mendapatkan ganjaran pahala, dan akan kekal di surga-Nya. Sebaliknya, bagi mereka yang menegakkan kebathilan dalam hidupnya, maka ia akan mendapatkan ganjaran yang setimpal, neraka jahanam, dan kekal di dalamnya.

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2279527/mengejar-akhirat-dan-dunia-dengan-takwa#sthash.DpHAsphT.dpuf