Toleransi dalam Al-Qur’an (Bag 2)

Al-Qur’an memberikan cara yang begitu indah dalam bersikap kepada orang yang berbeda dengan kita. Bukan seperti maraknya intoleransi atas nama Islam, Al-Qur’an memberikan cara yang berbeda.

Dalam Surat Saba’, Allah memberikan pelajaran tentang toleransi yang begitu tinggi. Allah berfirman:

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَى هُدًى أَوْ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ -٢٤-

Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah, “Allah,” dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.
(Saba’ 24)

Coba perhatikan ayat ini, Allah mengajarkan cara yang indah kepada Rasulullah dalam menghadapi orang yang berbeda. Di akhir ayat itu disebutkan bahwa kami atau kalian pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan. Tidak akan lepas dari dua hal tersebut.

Coba bayangkan, Rasulullah saw sangat yakin akan kebenaran yang ia bawa. Tak ada keraguan sedikitpun. Namun, ketika menghadapi orang yang berbeda, Rasulullah seakan memposisikan diri beliau sama dengan orang yang berbeda dengannya. Kami dan kalian, mungkin berada di pihak kebenaran atau kesesatan. Maka marilah kita duduk dan berdialog untuk sama-sama mencari kebenaran.

Ada kata-kata populer yang indah. Ia sedang berbicara tentang toleransi.

“Pendapatku benar tapi mungkin ada salahnya. Pendapat selainku salah tapi mungkin ada benarnya”

Kata-kata ini sepertinya cukup menggambarkan indahnya toleransi. Namun kualitas toleransi Al-Qur’an berada diatas itu. Al-Qur’an mengajarkan kita untuk tidak mengatakan bahwa kita benar dihadapan orang yang berbeda. Al-Qur’an mengajarkan untuk menyamakan posisi ketika kita menghadapi mereka, kita sama-sama dalam posisi mungkin benar mungkin salah. Karenanya, mari kita berdialog untuk sama-sama mencari kebenaran. Walaupun, kita tetap meyakini bahwa pilihan kita adalah yang terbaik tanpa keraguan sedikitpun.

Kita lanjutkan kepada ayat setelahnya, masih dalam Surat Saba’. Allah berfirman:

قُل لَّا تُسْأَلُونَ عَمَّا أَجْرَمْنَا وَلَا نُسْأَلُ عَمَّا تَعْمَلُونَ -٢٥-

Katakanlah, “Kalian tidak akan dimintai tanggung jawab atas dosa yang kami lakukan dan kami juga tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kalian lakukan.”
(Saba’ 25)

Masih tentang toleransi Al-Qur’an yang amat tinggi. Perhatikan ayat diatas, saat Rasulullah berkata tentang dirinya, beliau memakai kata “perbuatan dosa”.

“Kalian tidak akan dimintai pertanggung jawaban atas dosa yang kami lakukan.”

Andai pilihan beliau itu menyebabkan dosa, orang yang berbeda dengan Rasul tidaklah dimintai pertanggung jawaban. Padahal Rasulullah bersih dari itu segala dosa. Namun lihatlah, saat Rasulullah  mengatakan tentang perbuatan mereka, beliau tidak menggunakan kata “berbuat dosa”.

“Kami juga tidak akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatan yang kalian lakukan”

Lihatlah ! Betapa tinggi Islam menjunjung toleransi. Masih adakah mereka yang berbuat intoleran dengan mengatasnamakan Al-Qur’an? Sungguh, mereka hanya berdusta atas nama Al-Qur’an. Dan hanya Allah lah yang akan menghakimi perbedaan dan perselisihan yang terjadi.

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ -٢٦-

Katakanlah, “Tuhan kita akan Mengumpulkan kita semua, kemudian Dia Memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia Yang Maha Pemberi keputusan, Maha Mengetahui.”

(Saba’ 26)

Begitulah Al-Qur’an mengajarkan tentang cara menghadapi orang yang beda pilihan dengan kita. Ayat-ayat diatas bercerita tentang Rasulullah yang menghadapi orang-orang yang belum menerima risalahnya. Al-Qur’an sangat menghormati mereka padahal mereka adalah non-muslim. Lalu bagaimana dengan saudara sesama muslim kita? Mereka yang non-muslim saja diberi penghormatan dan toleransi yang amat tinggi oleh Al-Qur’an, bagaimana saudara kita yang sama-sama percaya ke-Esaan Allah, percaya Nabi terakhir Muhammad Rasulullah dan percaya pada Hari Akhir. Harusnya, kita wajib beri penghormatan lebih kepada saudara satu agama kita yang berbeda hanya pada masalah-masalah kecil. Semoga dengan Al-Qur’an, kita bisa memperbaiki kualitas toleransi kita.

Lihatlah bagaimana Imam Ali begitu mengutamakan persatuan diatas segalanya. Ketika perang Shiffin berkecamuk, ada seorang sahabat Imam Ali yang bertanya, “Wahai Imam, jika saat perang ini berkecamuk, tiba-tiba pasukan Romawi menyerang muslimin di Syam, apa yang akan kita lakukan?” Imam menjawab, “Aku dan pasukan Muawiyah akan bersatu untuk melawan pasukan Romawi di Syam.”

Bayangkan, ditengah permusuhan Muawiyah kepada Imam Ali, beliau tetap memikirkan Persatuan Islam yang besar. Masalah-masalah kecil harus dikesampingkan demi kekuatan Islam untuk bisa bertahan melawan musuh-musuh yang ingin menghancurkan Islam. Musuh Islam bersorak sorai melihat sesama muslim saling bunuh, mereka tertawa seperti melihat pertarungan sabung ayam yang bersaudara.

Tapi kan tetap kita harus Nahi Munkar?

Memang benar, amar ma’ruf nahi munkar adalah wajib. Tapi sampai mana batasannya?

Dalam kisah bani Israil, Allah pernah melarang mereka untuk memancing di hari sabtu. Dan yang melanggar akan terkena adza dari Allah. Saat itu bani Israil terbagi menjadi tiga kelompok. Ada yang melanggar, ada yang diam dan membiarkan mereka yang melanggar dan ada yang tidak melakukan sekaligus menegor mereka yang melanggar. Kelompok yang acuh itu berkata kepada mereka yang sibuk menegor:

وَإِذَ قَالَتْ أُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْماً اللّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَاباً شَدِيداً قَالُواْ مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ -١٦٤-

Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, “Mengapa kamu menasihati kaum yang akan Dibinasakan atau Diazab Allah dengan azab yang sangat keras?” Mereka menjawab, “Agar kami mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) kepada Tuhan-mu, dan agar mereka bertakwa.”
(Al-A’raf 164)

Mereka yang mengingatkan orang-orang yang melanggar punya dua alasan kenapa mereka melakukan nahi munkar. Yang pertama adalah agar punya alasan dihadapan Allah karena mereka telah mengingatkan saudaranya yang berbuat salah. Yang kedua adalah agar saudara mereka tidak sampai melakukan maksiat.

Dari ayat itu, kita temukan bahwa batasan seseorang dalam nahi munkar adalah sebatas mengingatkan. Tidak boleh menghukum atau mengambil sikap lainnya. Jika yang diingatkan tetap tidak peduli maka dia telah melakukan kewajiban nahi munkar. Tidak ada wewenang untuk memaksa dan menghukum. Yang berhak menghukum adalah pemimpin disaat itu. Rasulullah saw melakukan potong tangan bagi pencuri dan merajam pezina saat beliau sudah menjadi pemimpin di Madinah. Lihatlah Nabi Nuh, apakah beliau tidak berhasil berdakwah saat anaknya sendiri berpaling darinya? Lihatlah Nabi Luth, apakah beliau tidak berhasil karena tak mampu menjadikan istrinya beriman? Mereka semua berhasil karena yang dinilai oleh Allah adalah proses nahi munkar dan kewajiban mereka hanya menyampaikan. Mereka walau berstatus nabi tidaklah punya mandat untuk memaksa seseorang. Nabi saja tidak boleh memaksa, layakkah kita memaksa orang lain dalam nahi munkar? Akankah ada gejala ingin mengungguli para nabi?

Orang yang suka teriak dalam menjelaskan, suka menggunakan kekerasan dalam bertindak adalah mereka yang tidak memiliki argumen. Sekali lagi, tidak ada seorang pun yang berhak memaksa orang lain. Jika mereka tetap memaksa dan menggunakan pakaian islam, sebenarnya mereka bukanlah belajar dari Al-Qur’an.

Untuk mengakhiri kajian kali ini, ada 6 tips untuk mereka yang ingin berdialog dengan orang yang berbeda.

1.    Tujuan berdialog adalah untuk mencari kebenaran bukan untuk mencari siapa yang menang dan kalah.
2.    Tidak meremehkan atau menghina orang yang diajak berdialog. Mereka adalah manusia dan Allah memuliakannya karena kemanusiaannya. Apalagi lawan bicara kita adalah saudara sesama muslim, kita harus memberi penghormatan kepada mereka.

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ -٧٠-

“Dan sungguh, Kami telah Memuliakan anak cucu Adam”.
(Al-Isra’ 70)

3.    Berdialog untuk kemaslahatan islam yang besar, bukan untuk kepentingan pribadi maupun golongan.
4.    Memberi penghargaan dan penghormatan kepada lawan bicara tanpa berburuk sangka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ -١٢-

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”
(Al-Hujurat 12)

5.    Jangan memancing emosi lawan bicara dengan kalimat kasar.
6.    Jangan pernah memaksa orang untuk menerima argumen kita.

 

KHAZANAH ALQURAN

 

 

————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Share Aplikasi Andoid ini ke Sahabat dan keluarga Anda lainnya
agar mereka juga mendapatkan manfaat!

Toleransi Islam Berakar pada Empat Prinsip

Pada suatu hari, Rasulullah SAW sedang ditemani banyak sahabat. Tiba-tiba, lewat jenazah diantar menuju ke pemakaman. Rasulullah berdiri, seperti memberi hormat. Disampaikan kepada beliau bahwa jenazah itu orang Yahudi, tak pantas memperoleh penghormatan. Namun, Nabi balik bertanya, “Alaisat nafsan (bukankah ia juga manusia)?” (HR Bukhari dan Muslim).

Riwayat ini dikutip oleh Syekh Qardhawi sebagai salah satu contoh torelansi Islam. Dikatakan, toleransi adalah sikap menghormati dan menghargai adanya perbedaan-perbedaan, baik pendapat, pemikiran, agama, dan adat istiada (budaya). Toleransi selanjutnya bermakna membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia (hablun minannas).

Dalam Alquran ditemukan banyak contoh soal teleransi. Dalam kontes keluarga, misalnya, disebutkan apabila kedua orang tua kita menyuruh kepada agama lain (kemusyrikan), kita tidak boleh mematuhinya karena dalam Islam tiada kepatuhan kepada makhluk apabila durhaka kepada khalik. Namun demikian, kita disuruh tetap membangun hubungan yang baik dengan kedua orang tua (baca: QS Luqman [31]: 15).

Dalam konteks kemasyarakat lebih luas, disebutkan bahwa orang-orang yang mulia berkenan memberi bantuan dan donasi kepada orang-orang lemah, orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (QS al-Insan [76]: 8). Yang dimaksud dengan orang yang ditawan ketika ayat ini turun tentu adalah kafir Quraisy Mekah yang bukan hanya berbeda agama, melainkan musuh yang sangat anti Islam. Begitupun, Allah SWT meminta Nabi dan kaum Muslim agar memperlakukan tawanan perang dengan santun.

Toleransi Islam, menuret Qardhawi, berakar pada empat prinsip. Pertama, prinsip keragaman, pluralitas (al-ta`addudiyah). Keragaman sejatinya merupakan watak alam, dan bagian dari sunanatullah. Orang Muslim, kata Qardhawi, meyakini Keesaan Allah (al-Khalik) dan keberagaman ciptaan-Nya (makhluk). Dalam keragaman itu, kita disuruh saling mengenal dan menghargai. (QS al-Hujurat [43]: 13).

Kedua, prinsip bahwa perbedaan terjadi karena kehendak Tuhan (waqi` bi masyi’atillah). Alquran sendiri menegaskan bahwa perbedaan agama karena kehendak-Nya. Allah SWT tentu tidak berkehendak pada sesuatu kecuali ada kebaikan di dalamnya. Kalau Allah menhendaki maka semua penduduk bumi menjadi Islam. Namun, hal demikian tidak dikehendaki-Nya. (QS Yunus [10]: 99).

Ketiga, prinsip yang memandang manusia sebagai satu keluarga (ka usrah wahidah). Semua orang, dari sisi penciptaan, kembali kepada satu Tuhan, yaitu Allah SWT, dan dari sisi nasab, keturunan, ia kembali kepada satu asal (bapak), yaitu Nabi Adam AS. Pesan ini terbaca dengan jelas dalam surah al-Nisa ayat 1 dan dalam dekalrasi Nabi SAW yang amat mengesankan pada haji wada`.

Keempat, prinsip kemuliaan manusia dari sisi kemanusiannya (takrim al-Insan li-insaniyyatih). Manusia adalah makhluk tertingi ciptaan Allah, dimuliakan dan dilebihkan atas makhluk-makhluk lain (QS al-Isra [17]: 70), dan dinobatkannya sebagai khalifah (QS al-Baqarah [2]: 30). Penghormatan Nabi kepada jenazah Yahudi dilakukan semata-mata karena kemanusiannya, bukan warna kulit, suku, atau agamanya.

Toleransi Islam diajarkan dalam konteks sosial, bukan vertikal dengan satu tujuan, yaitu mewujudkan rasa aman dan damai. (QS Quraisy [106]: 3-4). Wallahu a`lam!

Oleh: A Ilyas Ismail

 

 

sumber: Republika Online