Konsekuensi Muslim Ucapkan ‘Selamat Natal’ Menurut UAS

Umat Nasrani saban 25 Desember menggelar perayaan Natal. Di masyarakat, khususnya umat Islam timbul perdebatan apakah boleh mengucapkan ‘Selamat Natal’ kepada umat Nasrani sebagai upaya toleransi? Ustaz Abdul Somad (UAS) punya jawabannya.

“Ketika Anda mengucapkan ‘Selamat Natal’, ini sama artinya mengucapkan, ‘Selamat Allah sudah melahirkan anak’. ‘Selamat Tuhan sudah melahirkan anak pada 25 Desember’,” kata UAS dalam satu ceramahnya.

Menurut UAS, ada tiga konsekuensi ketika seorang Muslim mengucapkan ‘Selamat Natal’ kepada umat Nasrani. “Pertama, mengakui Tuhan punya anak. Padahal dalam Alquran (Surah Al-Ikhlas ayat 3) disebut ‘Lam yalid walam yulad’ (Dia tidak beranak dan tidak diperanakan). Kedua meyakini Tuhan lahir pada 25 Desember. Padahal Nabi Isa Alahisallam lahir pada musim panas, bulan Juli. Mana dalilnya? ‘Goncangkan pangkal kurma, akan gugur buah kurma dari atas’. Buah kurma gugur pada bulan Juli.”

Dijelaskan UAS, ketika Nabi Isa lahir, kambing-kambing sedang digembalakan di padang rumput hijau. Padang rumput, kata UAS, hanya ada di bulan Juli, karena bulan Desember rumput tak tumbuh karena permukaan rumput ditutupi es. “Ketika Nabi Isa lahir, bintang gemintang sedang terang. Bintang terang ada pada bulan Juli. Kalau bulan salju bintang gemintang tertutup kabut.”

Konsekuensi ketiga menurut UAS jika seorang Muslim mengucapkan ‘Selamat Natal’ adalah mengakui Nabi Isa mati dipalang salib. “Ketiganya bertentangan (dengan akidah).”

Pendapat serupa disampaikan Ustaz Khalid Basalamah yang menyatakan tidak boleh seorang Muslim mengucapkan ‘Selamat Natal’ kepada umat Nasrani. “Kenapa tidak boleh? mengucapkan ‘Selamat Natal’, berarti mengucapkan ‘Selamat Allah punya anak’. Tidak bisa dalam Islam. Kita berbuat baik (kepada non-Muslim), iya, membantu yang sakit, iya, menjenguk yang sakit, iya, membantu yang susah, iya, berbakti kepada orang tua yang non-Muslim, iya. Tapi berhubungan dengan masalah keyakinan yang telah Allah kufurkan, tidak boleh,” ucap Ustaz Khalid menegaskan.

Ustaz Adi Hidayat juga punya pendapat yang sama. Ia menjelaskan, Islam adalah agama yang indah. “La ikra fiddin, tidak ada paksaan dalam Islam. Tapi kita tidak boleh mengikuti keyakinan kita pada keyakinan orang lain,” ujar Ustaz Adi.

Dijelaskan Ustaz Adi, hukum mengucapkan selamat pada agama lain di luar keyakinan dan keimanan sebagai Muslim, itu tidak diperkenankan. “Haram hukumnya mengucapkan selamat, misalnya ada unsur pengakuan. Awas jika ada din selain Islam, ada agama yang dibenarkan selain islam, itu adalah wilayah keyakinan kita. yang non-Muslim pun meyakini kepercayaan mereka yang benar.”

 

KHAZANAH REPUBLIKA

 

Warga Aceh Galang Dana Beli Pesawat untuk UAS

Warga Sibreh, Aceh Besar dan Aceh kecewa karena pesawat yang ditumpangi Ustadz Abdul Somad (UAS) dalam agenda Safari Dakwah ke Aceh kembali mengalami keterlambatan atau penundaan.

UAS berangkat dari Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, transit di Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara, untuk menuju Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda Aceh, Senin (02/07/2018).

Terkait itu, warga Aceh pun bertekad untuk menggalang dana guna membeli pesawat pribadi untuk kegiatan dakwah UAS.

Jubir FPI Aceh Tgk Mustafa Husen Woyla mengungkapkan, tidak diragukan lagi sifat kedermawanan Muslim Aceh ketika agama Allah membutuhkannya. RI 001 Dakota RI-001 Seulawah atau Indonesian Airways 001 yang ada di Taman Mini Indonesia Indah dan Blang Padang jadi bukti sejarah yang tak terbantahkan.

Hal ini ungkapnya juga didukung penuh Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, sebagai pilot resmi di bidang dirgantara.

“Rencana besar itu bukan karena terjadi keterlambatan Ustadz Abdul Somad ke daerahnya, namun sudah jauh hari wacanakan oleh Abu Sibreh sepulang takziah salah seorang anggota KWPSI di warkong Wim 69, Samahani. Saya pikir ini momen yang paling tepat kembali kita bantu dakwah Islam agar tidak hambatan. Bayangkan ribuan warga larut dalam kekecewaan,” terang Abu Sibreh atau Lem Faisal, sapaan akrab Tgk H Faisal Ali selaku penanggungjawab Tabligh Akbar di Sibreh, Aceh Besar, yang dijadwalkan diisi UAS, sebagaimana rilis dari Tgk Mustafa kepada hidayatullah.com semalam.

Menurutnya, pesawat pribadi untuk UAS sudah sebuah tuntutan untuk mempermudah jalannya dakwah dari Sabang sampai Merauke. “Barusan Mawardi Ali Bupati Aceh Besar bersama panitia dikediamannya sudah bersedia membantu dan menggalang dana,” ungkapnya.

Beberapa waktu lalu, di Blang Pidie, tersebab delay-nya penerbangan, tuturnya, UAS terpaksa berangkat dengan pesawat Susi Air.

“Dan di Aceh, saya tidak meragukan sedikitpun rencana mulia itu. Pendahulu kita sudah berbuat, tentunya kita juga mesti berbuat untuk menolong dai ilallah sesuai dengan direncanakan di seluruh Nusantara hatta Asia Tenggara bahkan dunia,” dirincikan oleh Ustadz Fadhil Rahmi selaku tim Tafaquh dan Ketua IKAT Aceh.

Hingga semalam, sudah ada sejumlah ormas Islam yang bersedia jadi panitia penggalangan dana, antara lain; IKAT Aceh, ACT, TASTAFI ACEH, FPI Aceh, GSR Aceh, dan sejumlah ormas lainnya.

Tgk Mustafa menambahkan, Aceh terdiri dari 18 kabupaten, 5 kotamadya, 289 kecamatan, dan 6.497 gampong. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya diperkirakan mencapai 5.152.887 jiwa. Jika harga jet pribadi seharga Rp 4 miliar, maka per kecataman cuma mengumpulkan Rp 13.840.830. “Sebuah nominal yang sangat kecil bagi Muslim Aceh yang berdarah dermawan ini,” imbuhnya.

“Mari kembali menjadi ‘Nyak Sandang’ generasi baru, kirim infaq terbaik berupa emas, perhiasan, akta tanah, barang berharga, atau kirimkan langsung ke Bank Muamalat, No Rek. 2410033243 a.n KAFALAH IKAT ACEH atau Bank Aceh Syariah, No Rek. 61302200456789
a.n KAFALAH IKAT ACEH.

Simpan bukti pengiriman diantar ke sektariat IKAT Aceh, depan mesjid Lamgugop, Banda Aceh atau hubungi langsung HP/WA Ust Muhammad Fadhil Rahmi +6285210111000.

Laporan Ust Fadhil Rahmi, sebagai pembuka, Abu Sibreh/Lem Faisal selaku wakil MPU Aceh sudah menyerahkan satu juta rupiah,” pungkasnya.

Diketahui sebelumnya, setelah sempat delay beberapa jam, akhirnya UAS take off dari Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara ke Bandara SIM, Blang Bintang, Aceh Besar, Senin (02/07/2018) pukul 23.30 WIB.

Meskipun kehadiran UAS ke Masjid Baitul Makmur, Sibreh, Aceh terlambat karena delaypesawat. Namun ribuan warga Aceh Besar dan Banda Aceh masih antusias menunggu dai kondang tersebut di halaman masjid.

Mereka terdiri atas laki laki, perempuan, hingga anak-anak. Mereka memenuhi depan panggung ceramah yang berada dalam kompleks masjid.*

HDAYATULLAH

Masuk Bulan Syawal, Puasa Sunnah 6 Hari atau Bayar Utang Dulu? Berikut Penjelasan Ustaz Abdul Somad

Tak terasa bulan Ramadhan 1439 H sudah berakhir. Puasa Ramadhan yang dijalani sebulan penuh juga sudah diakhiri dengan hari kemenangan di Idul Fitri kemarin. Walau Ramadhan sudah berakhir, masih banyak amalan utama yang dianjurkan untuk dilakukan di bulan Syawal.

Salah satu yang paling terkenal adalah puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Ada dua hadist terkenal yang menyebutkan puasa sunnah ini.

Pertama: “Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].

Sementara kedua: “Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian melanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka dia seperti berpuasa satu tahun.” (HR. Imam Muslim).

Lantas, bagaimana dengan para wanita yang masih memiliki utang puasa di bulan Ramadhan kemarin?

Lebih utama menjalankan puasa sunnah 6 hari atau bayar utang terlebih dahulu?

Menanggapi hal ini, Ustaz Abdul Somad mempunyai jawaban yang tegas.

Ibu-ibu yang punya utang puasa 7 hari, maka harus dibayar dahulu baru puasa syawal 6 hari,” ujarnya.

Dirinya menambahkan, jika si wanita tak kuat melakukan keduanya (bayar utang dan puasa sunnah 6 hari), lebih baik mengutamakan membayar utang puasa saja di bulan Syawal.

Mengingat pahalanya juga sama seperti puasa sunnah 6 hari.

Ibu-ibu kalau tidak kuat mengganti utang puasa dan puasa sunnah Syawal maka cukup mengganti puasa di bulan Syawal,maka ibu puasa qadha di bulan Syawal, maka otomatis pahalanya seperti puasa sunnah Syawal, niatnya cuma satu, niatnya satu, saya niat puasa qadha besok hari lillahi ta’ala.,” ujar ustaz Abdul Somad.

Ustaz Somad menjelaskan, seorang wanita juga bisa mendapatkan 3 pahala sekaligus jika mengganti utang puasa di hari Senin bulan Syawal.

Ketiga pahala yang dimaksud adalah puasa Sunnah Senin-Kamis, Puasa Syawal, dan puasa pengganti.

Hal itu berlaku untuk laki-laki maupun perempuan,” ujar ustaz Abdul Somad.

 

Keutamaan Puasa Sunnah 6 Hari di Bulan Syawal

Tribunstyle melansir dari nu.or.id, dari hadit di atas dapat difahami bahwa orang yang berpuasa Ramadhan dan kemudian melanjutkan dengan berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa setahun.

Artinya pahala itu merupakan balasan dari paket puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan enam hari puasa di bualn Syawal. Jika ada orang yang tidak puasa Ramadhan tetapi puasa enam hari di bulan syawal maka secara teoritis ia tidak mendapatkan pahala tersebut.

Selain itu, puasa sunnah selama 6 hari di bulan Syawal berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan ibadah di bulan Ramadhan sebelumnya.

Puasa sunah ini memiliki banyak keutamaan,sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Qudsi, Allah Swt berfirman:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (قال الله عز وجل: كل عمل ابن آدم له إلا الصيام؛ فإنه لي وأنا أجزي به، والصيام جنّة، وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث، ولا يصخب، فإن سابّه أحد أو قاتله فليقل: إني امرؤ صائم، والذي نفس محمد بيده لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك، للصائم فرحتان يفرحهما: إذا أفطر فرح، وإذا لقي ربه فرح بصومه) رواه ومسلم

“Setiap amal manusia adalah untuk dirinya kecuali puasa, ia (puasa) adalah untuk-Ku dan Aku memberi ganjaran dengan (amalan puasa itu).”

Kemudian, Rasulullah melanjutkan, “Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dibandingkan wangi minyak kasturi.

Sebagian orang meragukan hadits berpuasa enam hari di bulan Syawal, akan tetapi keraguan itu terbantahkan oleh bukti-bukti periwayatan hadits.

Perhatikan ungkapan Syeikh Abdullah bin Abdulal- Bassam berikut.

Hadits berpuasa Enam hari di bulan Syawal merupakan hadits yang shahih, hadits ini memiliki periwayatan lain di luar hadits Muslim. Selain hadits Muslim yang meriwayatkan hadits berpuasa Enam hari di bulan Syawal antara lain; Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi.

 

Oleh karena itulah Hadits berpuasa Enam hari di bulan Syawal ini tergolong hadits mutawatir.

Tata Cara Puasa Sunnah 6 Hari di Bulan Syawal

Mengenai tata cara enam hari puasa, apakah harus berturut-turut ataukah boleh dipisah-pisah para ulama membebaskan memilih antara keduanya.

Artinya, boleh berturut-turut enam hari langsung semenjak tanggal dua syawal ataupun di pisah-pisah, keduanya dianggap sahih.

Untuk syarat dan rukunya sama seperti puasa ramadhan. Harus ada niat dan juga menghindari semua hal yang membatalkan puasa.

Adapun hikmah disunnahkannya puasa enam hari di bulan Syawwal adalah untuk menjaga agar diri kita tidak lepas kontrol setelah sebulan penuh melaksanakan puasa dan mengekang berbagai macam pantangan, kemudian dibebaskan untuk makan dan minum.

Lebih dari itu, puasa Syawal adalah ibadah sunnah yang sangat dianjurkan oleh ajaran agama kita. Sedangkan menurut Imam Malik puasa enam hari di bulan Syawal hukumnya makruh.

Dengan alasan dikhawatirkan adanya pemahaman yang meyakini bahwa puasa enam hari di bulan Syawwal masuk puasa Ramadhan. Namun Jikalau tidak ada kekhawatiran seperti itu, Imam Malik menyunahkannya bahkan memerintahkan untuk berlomba-lomba memperbanyak pahala.

Untuk memantapkan hati, ulama menganjurkan seseorang untuk melafalkan niatnya.

Niat Puasa Syawal

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

“Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ. Artinya, “Aku berniat puasa sunah Syawwal esok hari karena Allah SWT.”

Adapun orang yang mendadak di pagi hari ingin mengamalkan sunah puasa Syawwal, diperbolehkan baginya berniat sejak ia berkehendak puasa sunah.

Karena kewajiban niat di malam hari hanya berlaku untuk puasa wajib.

Untuk puasa sunah, niat boleh dilakukan di siang hari sejauh yang bersangkutan belum makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak subuh.

Ia juga dianjurkan untuk melafalkan niat puasa Syawwal di siang hari. Berikut ini lafalnya.

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

“Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ. Artinya, “Aku berniat puasa sunah Syawwal hari ini karena Allah SWT.” (Tribunstyle/ Irsan Yamananda)

TRIBUNNEWS

JK: Ceramah Ustaz Abdul Somad Meneduhkan

Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla menghadiri kajian dhuha bersama Ustaz Abdul Somad di Masjid Sunda Kelapa, Ahad (4/2). Jusuf Kalla mengatakan, ceramah-ceramah dari Ustaz Abdul Somad meneduhkan dan memiliki referensi yang kuat. “Ceramah-ceramah dari Ustaz Abdul Somad itu kan teduh, baik, dan referensinya kuat. Itu yang membedakan dengan ustaz lainnya,” ujar Jusuf Kalla usai kajian dhuha.

Adapun Jusuf Kalla menyebutkan, Ustaz Abdul Somad memilili pengetahuan yang dalam tentang agama. Selain itu, menurut Jusuf Kalla, cara Ustaz Abdul Somad menyampaikan ceramah mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. “Cara membawakannya juga gampang dipahami oleh masyarakat tingkat apa saja,” kata Jusuf Kalla.

Sebelumnya, diberitakan Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla menghadiri kajian dhuha bersama Ustaz Abdul Somad di Masjid Sunda Kelapa, Ahad (4/2). Dalam kesempatan tersebut, Jusuf Kalla selaku Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengapresiasi kehadiran Ustaz Abdul Somad di Masjid Sunda Kelapa yang memberikan tausiah kepada para jamaah.

Dalam sambutan singkatnya, Jusuf Kalla mengatakan dengan kehadiran Ustaz Abdul Somad ini memberikan kesempatan kepada para jamaah Masjid Sunda Kelapa untuk mendengarkan tausiah dan nasehat-nasehat secara langsung. Adapun Jusuf Kalla berkelakar bahwa, dengan kehadiran Ustaz Abdul Somad sekarang ini, para jamaah Masjid Sunda Kelapa tak perlu lagi menonton ceramahnya dari Youtube.

“Alhamdulillah dengan kehadiran Ustaz Abdul Somad tentu akan memberikan pencerahan, kalau selama ini mungkin lebih banyak anda nonton di Youtube, sekarang bisa langsung, saya juga,” ujar Jusuf Kalla sambil tertawa, yang kemudian disambut tawa oleh para jamaah.

 

REPUBLIKA

Ustaz Abdul Somad dan Isu Khilafah

Setelah Ustaz Abdul Somad dicekal di Hongkong, ada suara-suara yang kemudian berseliwerang, termasuk di sosial media bahkan di kalangan tokoh-tokoh masyarakat, seolah membenarkan pencekalan itu. Pembenaran itu dibangun di atas asumsi atau tepatnya kecurigaan  jika Ustaz Abdul Somad terkait HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang baru saja dibekukan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Indonesia.

Pembenaran atau kecurigaan itu dibangun di atas beberapa alasan atau kesimpulan oleh sebagian berdasarkan beberapa ceramah Ustaz yang ada di media sosial, termasuk youtube. Untuk mengetahui lebih jauh tuduhan itu, saya kembali menelusuri sebagian besar ceramah-ceramah Ustaz Abdul Somad, lalu mencoba menghubungkan antara satu ceramah atau pendapat dengan ceramah dan pendapat yang lain.

Dari penelusuran itu saya mendapati dua ceramah yang mungkin menimbulkan kecurigaan itu. Atau tepatnya satu ceramah yang memang disampaikan di sebuah hajatan HTI di Riau 4 tahun lalu dan satu lagi jawaban singkat beliau terhadap sebuah pertanyaan tentang arti khilafah dalam sebuah sesi tanya jawab sekitar setahun yang lalu.

Setelah mendengarkan berbagai ceramah yang pernah beliau sampaikan di masa lalu, saya berkesimpulan sebagai berikut:

1. Seperti yang beliau sendiri sering sampaikan, Ustaz Abdul Somad bukanlah anggota, apalagi pengurus HTi. Kehadiran beliau di acara HTI Riau 4 tahun silam itu sebagai undangan dalam kapasitasnya sebagai seorang ustaz dan ulama.

2. Selain itu, sebagaimana di masa lalu banyak ulama dan ustaz yang pernah diundang di acara HTI, kehadiran beliau di acara HTI itu juga tidak melanggar apa-apa. Karena saat itu (4 tahun lalu) HTI adalah sebuah organisasi massa yang diakui di negara Indonesia. Artinya, beliau diundang oleh sebuah organisasi yang resmi terdaftar dan legal beroperasi di negara Indonesia.

3. Perihal pendapat beliau mengenai khilafah, itu harusnya ditempatkan pada posisi “scholarly discourse” atau perdebatan di kalangan para ulama. Bahwa isu khilafah adalah isu yang diperdebatkan dan diperselisihkan di kalangan para ulama. Dan itu diakui oleh semua orang Islam yang tahu ajaran agamanya dengan baik. Pendapat mengenai khilafah ini ada di kalangan ulama-ulama nasional dan internasional. Tapi sekali lagi, itu adalah opini keulamaan yang memperkaya khazanah keilmuan dalam Islam.

4. Lalu apakah dengan pendangan tentang khilafah seperti itu dianggap bertentangan atau mengancam eksistensi NKRI? Sama sekali tidak. Beliau dalam berbagai ceramah yang jauh lebih banyak dan jelas menegaskan kecintaan dan loyalitasnya ke NKRI. Bahwa hiruk pikuk opini para ulama perihal khilafah tidak akan mengusik eksistensi NKRI yang sudah final, dengan Pancasila dan UUD 45 sebagai pijakan kehidupan nasioanalnya.

5. Komitmen Ustaz Abdul Somad terhadap NKRI, Pancasila dan UUD, serta sistim politik pemerintahan yang dianut oleh negeri ini, tidak diragukan lagi. Kita tahu bahwa mereka yang murni dalam ideologi khilafah alamiyah (global caliphate) ini “mengharamkan” partisipasi politik (pemilu), bahkan menganggapnya sistim kafir. Tapi, Ustaz Abdul Somad justeru menganjurkan umat ini mengambil bahagian dalam proses demokrasi dan politik. Bahkan beliau menyerukan agar umat ini menjadi pemimpin bagi bangsa dan negaranya.

6. Saya menilai Ustaz Abdul Somad hanyalah orang jujur, apa adanya, pantang dipengaruhi dan dibentuk oleh pihak luar. Beliau orang kampung yang mendalami agama, dan insya Allah berhati bersih serta lapang dada. Dan karenanya dalam menyampaikan pendapat tidak berbasa basi, apalagi menutup-nutupi adanya opini yang berbeda tentang sebuah isu, bahkan walau tidak populer. Termasuk di dalamnya perdebatan sistim kenegaraan dalam Islam.

7. Lalu bagaimana dengan isu Syariah? Indonesia itu sangat banyak menjalankan Syariah Islam. Bahkan boleh jadi lebih syar’i dari banyak negara Muslim lainnya. Ketuhanan Yang Maha Esa itu adalah akidah tauhid dalam penafsiran Islam. Dan karenanya, sila pertama itu adalah bagian syariah dalam keyakinan.

UUD menjamin setiap pemeluk agama untuk meyakini dan menjalankan agamanya. Itu juga adalah syariah Islam. Maka, umat Islam Indonesia shalat, puasa, zakat, haji, bahkan dalam urusan mu’amalat di mana-mana tumbuh bank-bank syariah. Lalu kenapa takut ketika orang Islam bersyariah, termasuk ketika Ustaz Abdul Somad mengajarkannya?

8. Oleh karenanya, ketika orang ingin mengambil kesimpulan tentang ustaz Abdul Somad hendaknya jangan hanya melalui satu atau dua dari ribuan ceramahnya. Sebagaimana beliau kerap kali sampaikan secara bercanda: “cukupkan pulsa sebelum dengarkan ceramahnya agar tidak sepotong-sepotong”.

Kasus Ustaz Abdul Somad ini mirip ketika sebagian orang mendengar wawancara saya di sebuah media tentang sebuah isu, apalagi secara parsial. Lalu mengambil kesimpulan tanpa mengimbangi dengan mendengarkan ceramah atau wawancara saya di tempat yang lain. Betapa sering saya divonis liberal, karena pendapat saya agar dalam memahami teks-teks agama diperlukan rasionalitas yang solid. Sebaliknya seringkali pula saya dituduh ekstrim karena pembelaan saya kepada idealisme keagamaan yang saya yakini.

Kesalah pahaman itu kerap terjadi karena mendengarkan ceramah atau wawancara secara sepotong-sepotong. Apalagi jika memang “mind-set” yang mendengarkan itu sudah penuh kecurigaan dan kebencian. Kesimpulannya pasti akan mengikut kepada warna otak yang telah terbentuk duluan.

9. Mengenai silap kata, menyinggung dengan kata-kata, tentu pertama beliau adalah manusia biasa dan pasti ada khilaf dan salah. Tapi jangan pula lupa bahwa dalam diri beliau ada sisi komedi yang sebagaimana komedian lainnya biasa menyinggung untuk tujuan yang baik. Tapi kalau itu dianggap menyinggung, kurang sensitif, ambil hikmah dan pelajaran darinya. Intinya adalah “who the hell is perfect”? Emangnya siapa yang sempurna?

Akhirnya, saya memang khawatir jangan-jangan yang sedang terjadi adalah bahwa sikap jujur dan istiqamah dalam beragama saat ini dianggap ancaman. Saya bahkan curiga, jangan-jangan yang diinginkan oleh sebagian pihak dari para ustaz dan ulama agar menyampaikan Islam berdasarkan kecenderungan hawa nafsu mereka.

Sekali lagi, saya justeru melihat ustaz Abdul Somad ini menjaga karakter “wasathiyah”. Yaitu karakter imbang yang merangkul semua pihak. Beliau mencoba merangkul kembali bahagian-bahagian keumatan yang sedang berserakan. Di Muhammadiyah beliau menyampaikan pendapat NU. Di NU beliau menyampaikan pendapat Muhammadiyah.

Dalam berbagai ceramahnya beliau hanya membahas masalah agama dan keumatan, serta bagaimana umat ini “get empowered” (menjadi kuat). Sebab jika umat kuat di Indonesia, dengan sendirinya bangsa dan negara ini menjadi bangsa dan negara yang kuat, mandiri dan disegani.

Tapi kenapa ada yang kurang senang, bahkan boleh jadi merasa terancam? Ustaz Abdul Somad memangnya sangar dan menakutkan? Punyakah kekuatan massa yang ditakutkan?

Entahlah. Tapi memang salah satu penyakit berbahaya dalam dunia kita yang semakin egoistik ini adalah “al-khauf wal-hazan”. Penyakit “takut dan sedih”. Takut tersaingi, terkalahkan, terpinggirkan, dan bahkan takut orang lain mendapatkan apa yang dimilikinya. Dan kalau itu terjadi akan tumbuh rasa sedih yang boleh jadi berujung kepada sikap destruktif dan prustrasi.

Akhirnya saya menghimbau semua pihak kiranya ulama-ulama seperti beliau  yang rendah hati, santun, namun jujur dengan keilmuannya dijaga dan dirangkul. Beliau adalah aset umat, bangsa dan negara. Dengan keilmuan yang luas, dada yang lapang, insya Allah tidak memiliki intrik-intrik politik, beliau bisa menjadi pilar kebangkitan umat dan bangsa.

Jika diperlakukan tidak sebagaimana mestinya maka beliau boleh saja dirangkul oleh pihak-pihak yang memang memilki kepentingan sempit dan sesaat. Dengan magnet dan daya tarik yang beliau miliki saat ini boleh jadi justeru disalah gunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk tujuan tertentu pula. Entahlah!

Oleh: Imam Shmasi Ali ,  Presiden Nusantara Foundation

REPUBLIKA

Jalan Terjal Ustaz Somad

Dai fenomenal itu bernama Ustaz Abdul Somad (UAS). Ceramah-ceramahnya viral melalui media sosial, seperti Youtube, Facebook, dan Whatsapp.

Ceramahnya yang renyah ditonton jutaan orang sehingga namanya melambung dan tawaran ceramah datang dari berbagai penjuru negeri sampai luar negeri. Masyarakat tertarik dan antusias mendengar siraman rohaninya secara langsung.

Sependek pengetahuan penulis, berikut kelebihan UAS yang membuatnya fenomenal. Pertama, UAS menguasai ilmu agama. Alumnus Al-Azhar Mesir dan Maroko bidang hadis ini adalah anggota MUI Riau, pengurus NU Riau, dan dosen hadis UIN Riau.

Dia adalah antitesis dai selebritas yang sering muncul di televisi, yang diragukan kedalaman ilmu agamanya. Jawaban spontannya terhadap pertanyaan-pertanyaan jamaah, menunjukkan keluasan dan kedalaman ilmunya.

Kedua, intonasi dan pilihan kata (diksi) dakwah UAS lembut, tidak keras, dan tidak kasar. Dia tidak berapi-api dan mengalir alami sehingga sesuai selera banyak kelompok Muslim. Dakwah yang keras dan kasar cenderung tidak bisa diterima Muslim Indonesia.

Dia juga bersedia menjawab pertanyaan jamaah tentang persoalan keagamaan. Ketiga, UAS tidak mengejar dunia tapi akhirat. Dia (sampai saat ini) tidak pasang tarif. Meski sudah menjadi dai level nasional bahkan internasional.

Ia menyerahkan honor kepada kesanggupan panitia, bahkan (konon) rela tidak dibayar asal bisa berdakwah di tengah masyarakat.

Jam terbang tinggi, jadwal padat, dan honor tinggi menyebabkan dai-dai sebelumnya hanya milik kelompok muslim tertentu (elitis). Hanya masyarakat, pejabat, dan lembaga pemerintah berduit yang bisa mengundang dai yang pasang tarif tinggi. Padahal, dai itu milik umat, siapa saja, dan kalangan mana saja, yang membutuhkan pencerahan.

Keempat, UAS juga menjaga komitmen. Ia tidak mau membatalkan janji ceramah di tempat tertentu karena diundang pihak yang lebih penting (istana, misalnya) atau karena bayarannya lebih besar. Ia mementingkan menepati janji kepada umat daripada mengejar uang dan popularitas.

Kelima, kecuali lembut dan santai, ceramah UAS juga tidak membosankan karena lucu. Ia mampu membuat jamaah tertawa atau tersenyum.

Ia secara spontan mampu menyelipkan guyonan dalam ceramahnya, seperti Zainudin MZ dan Aa Gym. Selain materi ceramah berbobot penuh ilmu, menjawab persoalan riil masyarakat, guyonan yang tidak berlebihan diperlukan agar dakwah tidak membosankan dan membikin kantuk.

Popularitas UAS tidak lepas dari peran media sosial. Media cetak dan daring turut membesarkan UAS. Dia dianggap dai harapan baru umat dalam menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.

Bobot ceramah dan gayanya menarik banyak media massa dan umat. Tiap-tiap masa ada tokohnya, mungkin inilah masanya UAS. Peluang ini harus dimanfaatkan UAS sebaik-baiknya. Umat membutuhkan dai yang sejuk, santun, sederhana, dan konsisten.

Dai yang dekat dan diterima semua golongan masyarakat. Dai yang mengabarkan Islam yang lembut, moderat, penuh cinta, mendukung NKRI, dan Pancasila. Perjalanan UAS dalam dakwah tidak akan mudah.

Jalan yang telah dan akan dilalui pasti terjal dan berliku. Fitnah mendukung khilafah, anti-NKRI dan Pancasila, tidak mendukung pemerintah, pendukung teroris, membuatnya dipersekusi dan ditolak di Bali dan dideportasi dari Bandara Hong Kong.

UAS juga batal tampil di Masjid Nurul Falah, Kompleks PLN Gambir, Jakarta Pusat (28/12/2017).Tahun politik 2018-2019 juga akan menguji konsistensi UAS dalam dakwah.

Popularitasnya bisa dimanfaatkan tokoh, ormas, atau partai politik tertentu untuk menaikkan elektabilitas. Dia sebaiknya tetap konsisten dalam gerakan dakwah, tidak menjadi partisan partai. Dia milik semua umat bukan golongan tertentu.

UAS juga harus bisa menundukkan ego dirinya. Saat ini masyarakat se-Indonesia mengelu-elukan, memuji, dan membanggakannya. Kultus masyarakat terhadapnya bukan hal mustahil-sesuatu yang pasti disadari dan tidak diinginkannya.

Ia harus bisa melewati fase berada di atas dan puja-puji ini agar tidak lupa diri dan terpuruk. Sebaliknya, UAS tidak boleh mundur dari gelanggang dakwah hanya karena takut kalah atau lupa diri.

Sebaliknya, ia harus tetap melanjutkan perjalanan panjang dakwah ini dengan tetap tawadhu sehingga banyak masyarakat tercerahkan. Ini baru fase awal dakwah UAS, fase-fase berikutnya akan lebih menantang sekaligus penuh tantangan.

Tantangan terakhir UAS adalah keseimbangan sebagai dosen dan dai. Dia saat ini jauh berbeda dengan yang dulu. Ia tidak lagi milik kampus UIN Riau tapi milik umat Islam Indonesia dan dunia. Waktu ceramahnya padat dan dari Sabang sampai Merauke.

Lelah, pasti. Meski demikian, ia harus tetap mengajar dan mendidik mahasiswa agar bisa mewariskan ilmunya yang luas. Popularitas dai ada masa dan batasnya, tetapi menjadi dosen tiada ada batasnya.

Dengan mengajar di kampus, siapa tahu kelak lahir muridnya yang meneruskan jejak dakwah lisannya. Di kampus, UAS bisa mencetak kader-kader ulama masa depan.

Popularitasnya saat ini adalah hanya bonus tambahan dari hasil ketekunan dan kerja kerasnya selama ini. Semoga Allah memberikan kesehatan dan umur panjang kepada dosen, ulama, dan dai ini sehingga umat Islam menjadi panutan penghuni bumi.

 

Oleh: Jejen Musfah, Ketua Magister MPI FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta/Tim Ahli PB PGRI

 

REPUBLIKA

Kronologi dan Klarifikasi Resmi Ustadz Abdul Somad

Ustadz Abdul Somad (UAS) menyampaikan klarafikasi dan kronologi kejadian penolakan atasnya oleh elemen ormas di Bali.

Ustadz Somad menjelaskan, pada Kamis, 7 Desember 2017, ia mendapat berita di group WA bahwa KRB menetapkan syarat bahwa Ustadz Somad diterima di Bali jika mau berikrar di Rumah Kebangsaan.

“Saya menolak karena, pertama, saya bukan pemberontak,” demikian rilis Ustad Abdus Somad (UAS) kepada hidayatullah.com, Ahad (10/12/2017). Alasan kedua karena Ustadz Somad menegaskan bahwa ia tidak terdaftar di ormas terlarang.

“Ketiga, saya mendapat beasiswa Mesir-Indonesia tahun 1998 setelah lulus Pancasila dan P4. Saya lulus tes PNS 2008 karena bukan anti Pancasila. Sampai sekarang mengajarkan cinta kebangsaan dari kampus sampai desa terpencil,” ungkapnya.

Lalu, pada Kamis, jam 22.15 WIB. Ustadz Somad mengiririmkan pesan WhatsApp (WA) ke panitia kajian Ustadz Somad.

“Pak, kalau mereka tetap meminta saya ikrar kebangsaan. Saya tidak hadir.” Panitia menjawab, “Kita masih dialog dengan Polda.”

Pada Jumat, 8 Desember 2017, pukul 00.15 WIB, Ustadz Somad mengirim pesan WA ke panitia, “Bagaimana Pak, sudah ada keputusan?”

Jam 04.17 WIB balasan dari panitia masuk: “Kami koordinasikan ke berbagai pihak, tafadh-dhol Ustad untuk berangkat.” “Saya pahami dari WA ini bahwa masalah sudah clear,” ungkap Ustadz Somad.

Pada Jumat pukul 12.30 WITA, Ustadz Somad dan tim mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali. “Kami sudah menunggu panitia di bandara, kami dibawa ke hotel. Makan dan istirahat.”

Jumat pukul 16.00 WITA.

“Saya dibangunkan, saya curiga akan ‘disidang’. Saya minta kepada tim untuk membeli tiket. “Kita pulang, karena ini di luar kesepakatan. Kelihatannya kita dijebak’. Saya dibawa ke salah satu ruangan hotel. Disana sudah menunggu sekitar 10-15 orang,” ungkapnya.

“Mereka meminta saya berikrar. Saya klarifikasi bahwa semua yang dituduhkan ke diri saya adalah fitnah. Karena saya menolak berikrar, mereka melontarkan kata-kata tidak layak: ‘Ngeles!’, ‘Seperti PKI’, ‘Panitia mendatangkan Ustadz otak SD’, ‘Pulangkan saja!’, dan lain-lain,” ungkapnya.

“Saya memilih pulang. Saya kembali ke kamar hotel untuk siap-siap pulang ke bandara.”

Sekitar pukul 17.00 WITA.

Ustadz Somad lanjut cerita. Saat itu Ketua PW NU Bali yang dari awal mendampingi, menangis, memikirkan apa yang akan terjadi kalau Ustadz Somad pulang. Dari pihak hotel menyampaikan bahwa situasi di seputaran hotel (lobby, halaman) tidak terkendali, massa KRB demo penolakan, hotel tidak bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Seorang Bapak Polisi masuk menyampaikan ada jalan belakang hotel menuju mobil jika ingin meninggalkan hotel karena pintu depan tidak terkendali,” ungkapnya.

“Kapolresta Denpasar dan Dandim masuk, meminta agar mempertimbangkan, selamatkan umat. Di Masjid An-Nur sudah ada 5.000-an jamaah yang siap datang ke hotel. Situasi memanas dan mencekam.”

Sekitar pukul 18.00 WITA.

“Bismillah. Saya dan semua yang ada di kamar menuju ruangan mediasi awal. Pak Kapolres memberikan sambutan singkat. Gus Yadi membawa bendera, dicium semua yang ada di ruangan,” tuturnya.

“Kami keluar ruangan menuju lobby hotel. Pengunjuk rasa bergemuruh. Pengawalan ketat.

Pengunjuk rasa tetap berteriak: ‘Nyanyikan dari hati, jangan di mulut saja!’. Menyanyikan Indonesia Raya. Saat bersalaman mereka menarik dan mencengkeram kuat.

Setelah usai, kami kembali ke kamar.”

Baca: ‘Ustadz Somad dan Tim Sehat Walafiat Tanpa Kekurangan Apapun’
Selepas Isya.

Ustadz Somad dan tim menuju Masjid An-Nur, ceramah 100 menit. Jamaah antusias.

“Acara selesai, kami kembali ke hotel. TvOne minta live call jam 22.00 WITA.”

“Saya sampaikan untuk menenangkan netizen yang heboh: ‘Saya dalam keadaan aman. Sudah Tabligh Akbar. Sudah di hotel’,” tuturnya.

Lalu pada Sabtu, 9 Desember 2017.

Kajian shubuh di Masjid Baiturrahmah berjalan lancar, kemudian seharian penuh Ustadz Somad istirahat dan menyambut tamu-tamu dan jamaah di hotel.

Menjelang maghrib, hadir PW NU, Muhammadiyah, MUI Bali, GNPF, dan lain-lain. “Bakda isya kami ke Masjid Baiturrahmah Tabligh Akbar terakhir.”

Ahad, 10 Desember 2017.

“Selepas shalat shubuh kami menuju bandara didampingi MUI, GNPF, dan Kepolisian.”

“Mereka masih memunculkan berita-berita di medsos bahwa saya menolak ikrar karena benar anti NKRI,” sebut Ustadz Somad, mungkin maksudnya “mereka” adalah pihak-pihak yang menolak kehadiran sang ustadz.

Menurutnya, “Jamaah tersakiti karena mereka menuduh saya tidak berani pulang karena sudah termakan honor. Saya sampaikan, ini fitnah. Semua honor di Bali sudah saya kembalikan ke panitia.”

“Kami orang Riau, walau tidak kaya masih tumbuh sebatang dua batang pohon sawit yang menghantarkan kami ke Kairo tahun 1998 saat 1 dolar Rp 20.000,- karena ongkos dibebankan ke siswa.”

Ustadz Somad pun berharap diambil tindakan hukum terhadap mereka yang sudah merusak kebinekaan yang terjaga di Bali selama ini. Hadirnya Raja Bali DR Ida Cokorde Pemecutan XI dan beberapa tokoh Hindu pada Tabligh Akbar tadi malam membuktikan bahwa para provokator ini tidak mewakili rakyat Bali.

“Agar kaum Muslimin Bali membentuk Aliansi Muslim Bali untuk menjaga internal dan eksternal tetap menjaga kerukunan dengan saudara Hindu Bali, untuk mengantisipasi para provokator yang dapat merusak kerukunan di masa akan datang,” tambahnya.

“NKRI Harga Mati الله اكبر,” ungkap Ustadz Somad.

“(Hamba Allah yang dhaif, Abdul Somad),” tulisnya mengakhiri. Informasi diterima hidayatullah.com, siang nanti Ustadz Somad akan menyampaikan konferensi pers zuhur nanti di Pekanbaru.*

 

HIDAYATULAH

Laskar Bali Minta Maaf pada Muslim Riau Atas Perlakuan ke Ustaz Somad

Organisasi kemasyarakatan (ormas) Laskar Bali menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Melayu, khususnya Muslim di Riau atas peristiwa yang dialami Ustaz Abdul Somad di Bali beberapa waktu lalu.

Sekretaris Jenderal Laskar Bali, I Ketut Ismaya mengatakan dirinya berharap ke depannya persaudaraan sebangsa dan setanah air semakin erat. “Kepada saudara kami di Riau yang sangat kami hormati. Kami umat Hindu di Bali sangat cinta damai, sangat cinta toleransi. Kami tidak bermaksud mengintimidasi ustaz. Kami salah paham karena kami tidak tahu. Saudara Muslim kami di Riau, jagalah kami, jagalah umat Hindu di Riau juga. Kami pun akan terbuka menjaga masyarakat Riau yang datang ke Bali. Semoga persaudaraan ini dipererat kembali,” kata Ismaya dijumpai Republika.co.id di Sanur, Denpasar, Senin (11/12) petang.

Ismaya mengatakan Laskar Bali bukan bagian dari Komponen Rakyat Bali (KRB) yang menolak rencana safari dakwah Ustaz Somad sedari awal. Ini karena dirinya telah mendapat informasi langsung dari pihak kepolisian yang menyebutkan Ustaz Somad adalah seorang yang cinta NKRI, tidak memiliki catatan kriminal, dan juga pegawai negeri sipil (PNS) yang dikenal baik.

Laskar Bali, sebut pimpinan ormas yang beristrikan seorang Muslim ini, tidak pernah dilibatkan dalam komunikasi, mediasi, dan fasilitasi sebelum kedatangan Ustaz Somad di Bali. Mediasi itu sempat disinggung senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Bali, Arya Wedakarna dalam sebuah wawancara langsung di salah satu televisi swasta.

Hal ini yang menjadi alasan Laskar Bali tidak ikut berunjuk rasa ke Hotel Aston Denpasar, tempat Ustaz Somad menginap pada Jumat (8/12). Kondisi berubah ketika Ismaya menerima panggilan telepon sekitar pukul 17.00 WITA dari salah satu perwakilan KRB yang menyampaikan Ustaz Somad tidak bersedia mencium Bendera Merah Putih dan tidak mau menyanyikan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya.’

Ustaz Somad justru akan meninggalkan Bali pada hari yang sama dan batal mengisi tablig akbar.
“Ini yang membuat saya agak marah dan bersama beberapa anggota merengsek masuk ke dalam hotel dengan tujuan bertemu langsung dengan Ustaz Somad. Tongkat komando saya dipegang salah satu anggota karena pada waktu itu saya sedang tidak berpakaian resmi organisasi. Kami memaksa masuk karena ingin duduk bersama, berdialog, dan bertanya pada beliau. Jika kami bermaksud sweeping, massa Laskar Bali yang datang pasti sangat banyak,” kata Ismaya.

Pertemuan di sebuah ruangan di Hotel Aston Denpasar berakhir damai. Ustaz Somad bersedia mencium bendera dan mereka bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya, dengan syarat sesuai permintaan ustaz, tidak ada kamera foto dan kamera video.

Ismaya pun menyampaikan permintaan maafnya kepada Ustaz Somad dan Laskar Bali berkomitmen menjadi pelindung safari dakwah Ustaz Somad di Bali. Saksi yang hadir pada waktu itu adalah Kapolresta Denpasar, Dandim Badung, Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bali, perwakilan KRB, dan panitia acara.

Ismaya juga sempat memberikan pernyataan pada saat mediasi di lokasi. Pernyataan yang ditujukannya kepada Ustaz Somad itu berupa permohonan maaf atas kesalahpahaman yang sudah terjadi.
“Kami ini orang Bali. Jumlah kami umat Hindu sedikit. Maka dari itu, kami menganggap umat lain yang datang ke Bali sebagai saudara kami yang ikut serta menjaga Bali. Siapa lagi yang mau menjaga Bali jika kami tak mau berkeluarga dan bersaudara dengan umat lain? Saya pun menitipkan pesan kepada ustaz saat itu supaya membimbing kami dan menjaga kami,” papar Ismaya.

Pria bernama lengkap Ketut Putra Ismaya Jaya ini meminta kepada media, ulama, kiai, ustaz, serta para sepuh dan guru seluruh Indonesia untuk membuka pintu hati melihat kebenaran dari seluruh pemaparannya. Laskar Bali tak ingin memperkeruh suasana yang hanya akan merugikan Bali sendiri.

“Kami di Bali tidak punya apa-apa. Kami tidak punya tambang. Kami tidak punya batubara. Kami tidak punya pabrik. Kami tidak punya kelapa sawit. Yang kami andalkan adalah pariwisata kami. Kenyamanan dan keamanan yang kami perlukan di sini. Jika kami ada masalah, hancurlah kami, sepilah Bali,” ujarnya.

REPUBLIKA