Ikhlas dan Dakwah

Saat kita diundang untuk memberikan tausiyah lalu kita penuhi dan kemudian menjalani syiar dakwah, maka tentu hal yang biasa dan begitulah seharusnya. Tapi, tidak ada undangan dan bahkan kita berupaya mendatangi objek dakwah lalu kita menjalani syiar dakwah, maka tentu hal ini luar biasa dan begitulah amal indah yang semestinya.

Kita berdakwah bukan karena diundang tapi kita tetap berdakwah mesti tidak diundang. Lisan kita tetap berujar nasihat penuh hikmah, meski tidak di atas podium. Kita tetap bersemangat menyampaikan ilmu-ilmu Allah dan Rasul-Nya, meski setelah itu tidak ada panitia yang salam tempel memberi fee transport. Kita tetap berdakwah sama penuh ghirah-nya, baik di perkantoran dan perkotaan ataupun di pelosok-pelosok kampung. Baik dengan jumlah jamaah yang membeludak atau hanya beberapa jamaah saja di gang-gang kecil.

Insya Allah kita bukan berkategori pendakwah air PDAM; keran air terbuka dan air akan keluar kalau sudah dibayar. Justru dakwah kita akan menjadi air hujan, yang siap mengguyur dan membasahi ruhiyah penduduk bumi, kapan pun dan di mana pun serta dalam kondisi bagaimanapun. Atau, dakwah kita akan menjadi air di tempayan besar; sesiapa saja yang haus dan butuh disilahkan mengambilnya.

Dalam hal dakwah kita belum diterima maka janganlah menyudahi amal mulia ini. Jangan lupa batu pecah bukan pada pukulan keseratus tapi karena terus dipukul. Teruslah jaga dengan istiqamah dan ikhlas. Saatnya kita memuhasabah harakah dakwah yang sudah kita jalani ini. Terutama dalam hal keikhlasan. Kita barangkali yang kurang dalam ikhlas sehingga dakwah kita pun sulit diterima di masyarakat, termasuk orang-orang dekat kita.

Ingat, ikhlas itu sebab paling besar diterimanya suatu penyampaian. Sindir al-Baihaqi dalam Al-Madkhal ila ‘Ilmi As- Sunan, “Kenapa perkataan ulama salaf di masa silam lebih terasa manfaat daripada perkataan kita?” Jawabnya, “Karena mereka ketika berucap hanya untuk meraih kejayaan Islam, supaya diri mereka mendapat keselamatan dan mereka hanya cari ridha Ar- Rahman. Sedangkan, kalau kita berucap lebih dominan untuk mencari popularitas, hanya cari kepuasan dunia dan cuma berbicara menyesuaikan selera manusia yang mendengar.”

Ikhlas dalam dakwah akan membuat amalan itu lebih langgeng. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.” (Dar-ut Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql, 2: 188).

Coba lihat Imam Nawawi, meskipun umurnya singkat, namun ilmunya terus kekal dan langgeng. Karya beliau yang begitu masyhur, seperti Hadits Arba’in An-Nawawiyah, Riyadhus Sholihin dan Syarh Shahih Muslim. Bahkan, kita dapati beliau punya karya dalam berbagai bidang ilmu. Itu semua beliau lakukan karena hanya ingin meraih ridha Allah, bukan ingin disebut orang paling cerdas, paling berilmu dan saleh. Bukan pula ingin meraih gelar mentereng dengan gemerlap dunia semata. Wallahu A’lam.

OLEH: Ustaz Arifin Ilham

REPUBLIKA

Bersiap Menyambut Ramadhan

“Ingar khidmat” malam Nishfu Sya’ban sudah sepekan berlalu. Semangat untuk menuliskan catatan kebaikan di buku baru terus tercanang lestari. Hal ini terbukti dengan banyak terdengar di  majelis-majelis pengajian, istilah “tawaqufan” yang tersanding sekaligus dengan “Tarhib Ramadhan”.

Istilah pertama untuk merujuk bahwa pengajian yang biasa digelar sepekan atau sebulan sekali, sementara ditutup. Dalihnya sebagaimana pada makna istilah kedua, “Tarhib Ramadhan”, karena akan menyambut datangnya bulan mulia nan agung bernama Ramadhan.

Dengan demikian, dalam beberapa hari ke depan kita akan benar-benar membersamai bulan yang dinanti-nantikan umat Muslim sejagat. Ya, Ramadhan akan segera tiba. Insya Allah, kita akan menemui tamu agung itu pada pekan terakhir bulan ini. Tentu saja ini sebuah kesempatan istimewa, karena bukan saja bilangan umur kita kian bertambah, melainkan juga belaian kasih Ar-Rahmaan akan menghampiri kita lagi.

Yuk, kita bersiap menyambutnya. Kita bentangkan kesadaran ruhiyah, demi rasa nyaman dan senangnya tamu mulia itu atas sambutan kita. Rasanya tidak salah jika kita buka lagi buku-buku atau informasi seputaran fikih puasa. Pelajari lagi tentang rukun, syarat sah, hal-hal yang membatalkan, perkara-perkara sunah dan makruh, serta hikmah yang terkandung di dalam berpuasa.

Berikutnya, lebih tumakninah, khusyuk, dan nikmat dalam berupaya menjemput dan menjalani Ramadhan sesuai tuntunan Rasulullah Saw. Beliau dan para sahabat mempersiapkan kedatangan Ramadhan sejak enam bulan sebelum bulan penghulunya para bulan tersebut tiba.

Di antara ciri bahwa kita telah memiliki kesadaran ruhiyah, hati dan jiwa kita sudah terkondisikan sejak sebelum Ramadhan dan rindu selalu untuk segera merasakan nikmatnya beribadah di dalamnya. Seperti doa yang terus didengungkan oleh para sahabat Nabi, “Allahumma baarik lanaa fii Rajab wa Sya’ban wa ballighnaa Ramadhan.” Artinya: “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan usia kami hingga bertemu bulan Ramadhan.”

Termasuk persiapan ruhiyah menjelang Ramadhan adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan ibadah wajib dan sunah. Serta menjauhi maksiat dan larangan-Nya. Semoga dengan kebiasaan untuk menahan diri sebelum Ramadhan, akan memudahkan kita menahan diri pada bulan Ramadhan dan menyempurnakan ibadah di dalamnya.

Tinggalkan kebiasaan yang memberatkan dan merugikan, seperti berbelanja berlebihan, tenggelam dalam arus maksiat, membuang waktu, dan melakukan perbuatan yang tidak mendatangkan faedah. Perhebat azzam (tekad) dengan memperbanyak ibadah, baik siang maupun malam.

Ucapkan tahniah kepada saudara seiman. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa’i dari Abi Hurairah RA bahwa Rasulullah senantiasa menggembirakan para sahabat saat kedatangan bulan Ramadhan. Rasulullah menggembirakan para sahabat dengan sabdanya, “Sesungguhnya akan datang kepada kamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkati, Allah mewajibkan kamu berpuasa di dalamnya. Pada bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, semua pintu neraka dikunci, semua setan dibelenggu. Di malamnya, ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barang siapa yang tidak memperoleh kebajikan pada malam itu, berartilah diharamkan baginya segala kebaikan untuk dirinya.”

Insya Allah Ramadhan esok Ramadhan terbaik. Ramadhan Karim.

 

Oleh: Ustaz Arifin Ilham

REPUBLIKA

Ustaz Arifin Ilham Bimbing Al Arifi Bersyahadat

Gemuruh takbir jamaah Az-Zikra membahana di waktu Subuh berjamaah. Tangis haru dan ucapan rasa syukur terucap pada proses syahadat, R Yugiantoro Menara Aji.

Proses syahadat dipimpin langsung Ustaz Arifin Ilham. Usai syahadat, ustaz memberi nama Islam untuk Aji, Muhammad Al Arifi.

“Beliau pun dengan keyakinan bulat masuk Islam setelah mempelajari kebenaran dan kemuliaan ajaran Islam. Alhamdulillah kini jumlah muallaf kita bertambah lagi, 618 muallaf melalui majlis yg kita cintai ini,” kata Ustaz.

“Semoga semakin banyak yang meyusul saudara saudara kita meraih hidayah Allah…aamiin.”

“Selamat bahagia hidup baru sebagai Muslim ya Muahmmad AlArifi.”

 

 

sumber: Republika Online

 

Syarat Meraih Ampunan Allah

Oleh: Ustaz Arifin Ilham

 

Meraih ampunan Allah SWT pada bulan Ramadhan adalah idaman Muslim, terutama bagi pendosa dan ahli maksiat. Adalah kerugian besar jika bulan suci ini hadir sementara ia tidak meraih ampunan-Nya. Sebab, Ramadhan merupakan bulan yang penuh ampunan Allah SWT.
Pada bulan yang penuh berkah ini, Allah membuka “bazar” ampunan seluas-luasnya. Pada bulan bertabur rahmat ini, ada amalan wajib yaitu shaum Ramadhan dan amalan sunah yaitu qiyam Ramadhan yang ditegaskan Nabi Muhammad mampu menghapuskan dosa yang lalu.

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala di sisi Allah, niscaya dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari, nomor 38 dan Muslim nomor 760).

“Barangsiapa shalat malam Ramadhan (tarawih dan witir) karena keimanan dan mengharapkan pahala di sisi Allah, niscaya dosanya yang telah lalu diampuni.” (HR Bukhari, nomor 37 dan Muslim, nomor 759)

Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua dosa-dosa yang telah lalu bisa dihapuskan oleh puasa Ramadhan dan shalat tarawih. Dosa itu sebatas dosa-dosa kecil. Sementara, dosa-dosa besar tidak akan terhapus hanya dengan puasa Ramadhan dan shalat tarawih.

“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang kalian diperintahkan untuk menjauhinya, niscaya Kami akan menghapuskan kesalahan-kesalahan (dosa-dosa kecil) kalian dan Kami memasukkan kalian ke dalam tempat yang mulia (surga).” (QS An-Nisa [4]: 31).

Rasulullah berkhutbah kepada kami, cerita Abu Hurairah melalui Abu Said al-Khudry, dari atas mimbar. Beliau bersabda: “Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya. Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya. Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya.”

Beliau lalu terdiam sehingga setiap orang di antara kami mulai menangis karena sedih mendengar sumpah beliau. “Tiada seorang hamba pun yang shalat lima waktu, shaum Ramadhan dan menjauhi tujuh dosa besar, melainkan akan dibukakan baginya pintu-pintu surga pada hari kiamat, sampai suara pintu-pintu surga itu berderit-derit.”

Lalu, beliau membacakan ayat: “Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang kalian diperintahkan untuk menjauhinya, niscaya Kami akan menghapuskan kesalahan-kesalahan (dosa-dosa kecil) kalian.” (QS An-Nisa [4]: 31). (HR An-Nasai, nomor 2.438, Al-Hakim nomor 719 dan 2.943, serta Ibnu Hibban, nomor 1.748. Dinyatakan sahih oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi).

Dengan demikian, terhapusnya dosa oleh amal Ramadhan adalah dosa kecil sementara dosa besar belum atau tidak, kecuali dengan tobat yang serius, yaitu tobat nasuha (baca QS At-Tahrim [66]: 8).

Dengan memahami hal ini, harusnya kita semakin terpacu untuk segera bertaubat dan  menyusulnya dengan beramal saleh. Berikutnya, tauhid yang bersih merupakan kunci  meraih ampunan. Namun, hal ini tidaklah sesederhana dan semudah yang dibayangkan oleh kebanyakan orang.

Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda: Allah berfirman, “Wahai anak Adam! Seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa hampir sepenuh isi bumi lalu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, niscaya Aku pun akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR Tirmidzi, dan dia menghasankannya).

Hadis yang agung ini menunjukkan bahwa tauhid merupakan syarat untuk bisa meraih ampunan Allah. Karena itu, jadikan Ramadhan ini sebagai momentum membersihkan tauhid kita dari kesyirikan dan hal lain yang bakal merusakkan kebersihannya. Wallahu a’lam.

 

sumber: Republika Online

Ustaz Arifin Ilham Bimbing Dua Mualaf Bersyahadat

Alhamdullillah, bersyahadat dua mualaf Michel dan Richel Rivani. Prosesi syahadat dipimpin oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham di Masjid Az-Zikra, Sentul, Jawa Barat, Ahad (7/6).

“Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar gemuruh takbir ribuan jamaah mesjid Az Zikra menyambut rasa syukur gembira atas masuk Islamnya dua sahabat kita, saudara Michel dengan nama Islam Muhammad Ismail Ilham, dan Richel Rivani dengan nama Islam Siti Rohima Hajar,” kata Ustaz Arifin Ilham dalam akun facebook, Senin (8/6).

“Alhamdulillah kini bertambah lagi saudara muallaf kita, 608 muallaf, insya Allah terus dan terus Allah gembirakan kita dengan banyaknya mualaf. Allahumma ya Allah tancapkan dihati kami kekuatan iman, hiasilah hidup kami dengan keindahan Islam, dan selamat kami dari fitnah dunia akhirat…aamiin,” ucapnya.