3 Doa Ketika Minum Air Zam-zam

Berikut ini doa ketika minum air zam-zam. Menurut agama Islam, air Zam Zam adalah air suci yang memiliki makna dan keistimewaan khusus bagi umat Muslim. Air ini diperoleh dari sumur Zam Zam di Kota Mekah, Arab Saudi, dan diyakini sebagai air yang dikaruniakan oleh Allah SWT kepada umat Nabi Ibrahim (AS) dan Ismail (AS).

Air Zam Zam telah menjadi bagian penting dalam ibadah haji dan umrah, tetapi juga dapat diminum oleh umat Muslim di seluruh dunia. Selain itu, terdapat keutamaan dan manfaat yang luar biasa ketika meminum air Zam Zam, terutama ketika disertai dengan doa yang tulus dan penuh keyakinan. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda;

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ، إنْ شَرِبْتَهُ تَسْتَشْفِي بِهِ شَفَاكَ اللَّهُ، وَإِنْ شَرِبْتَهُ يُشْبِعُكَ أَشْبَعَكَ اللَّهُ بِهِ، ‌وَإِنْ ‌شَرِبَتْهُ ‌لِقَطْعِ ‌ظَمَئِكَ ‌قَطَعَهُ ‌اللَّهُ وَهِيَ هَزْمَةُ جِبْرِيلَ وَسُقْيَا إسْمَاعِيلَ.» رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيّ.

Artinya; “Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Air Zam-Zam sesuai dengan niat ketika meminumnya. Bila engkau meminumnya untuk obat, semoga Allah menyembuhkanmu. Bila engkau meminumnya untuk menghilangkan dahaga, semoga Allah menghilangkannya. Air Zam-Zam adalah galian Jibril, dan curahan minum dari Allah kepada Ismail.” (HR. Ad-Daruqutni).

3 Doa Ketika Minum Air Zam-zam

Nah sebelum minum air zam zam, disunnahkan membaca doa. Adapun doa pertama ketika minum air zam-zam sebagaimana dibaca dan amalkan Ibnu Abbas dalam Ad-Daruqutni:

  اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا وَاسِعًا وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ

 Allāhumma innī as’aluka ‘ilman nafi‘an, wa rizqan wasi‘an, wa syifā’an min kulli dā’in,

Artinya: Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepada mu untuk menganugerahkan ilmu yang bermanfaat, dan rizki yang luas, dan jadikan sebagai obat dari segala penyakit.

Kedua, ada juga doa saat meminum air zam-zam berikutnya:

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لِي شِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ وَسَقَمٍ، وَبَرَكَةً فِي عِلْمِي وَعَمَلِي، وَرَفْعَةً لِي فِي الدَّرَجَاتِ

Allahumma ij’alhu li syifa’an min kulli da’in wa saqamin, wa barakatan fi ‘ilmee wa ‘amalee, wa raf’atan li fi ad-darajat.”

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah air zam-zam ini sebagai penyembuh bagi segala penyakit dan keluhan, sebagai berkah dalam ilmu dan amalku, serta sebagai peningkatan derajat bagiku.”

Ketiga inilah doa  ketika meminum air zam-zam.  :

اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ شَرَبَ مِنْهَا الشَّفَاءَ، وَالْبَرَكَةَ، وَالْعَفْوَ، وَالْعِلْمَ، وَالسَّلَاَمَةَ، وَالتَّقْوَى، وَالْهُدَى

Allahumma at’im man sharaba minha ash-shifa’a, wal barakata, wal ‘afwa, wal ‘ilm, was-salamah, wat-taqwa, wal-huda.

Artinya: “Ya Allah, berikanlah makanan kepada orang yang minum air zam-zam ini dengan kesembuhan, berkah, pengampunan, ilmu, keselamatan, ketakwaan, dan petunjuk.”

Semoga doa-doa ini bermanfaat bagi Anda ketika ingin minum air zam-zam.

BINCANG SYARIAH

Meminum Air Zamzam Sebagai Sarana Kebaikan (3)

Imam Zainuddin Al-Iraqi

Imam Taqiyyudin Al-Fasi menyebutkan dalam kitabnya Al-Ghiram, dari gurunya Syeikh Al-Hafidz Zainuddin Al-Iraqi, bahwa beliau meminum air zamzam untuk beberapa urusan, di antaranya memohon kesembuhan dari penyakit yang menyerang perut, lalu ia disembuhkan dari penyakit tersebut tanpa obat-obatan.

Ibnu Hajar Al-Asqalani

Ibnu Hajar Al-Asqalani adalah seorang ulama ahli hadist yang cukup terkenal. Diriwayatkan bahwa Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Suatu ketika aku minum air zamzam dan memohon kepada Allah. Waktu itu aku baru belajar hadist. Aku berdoa agar Allah memberi kemampuan seperti Az-Zahabi. Beliau adalah Al-Imam AI-Hafidz Syamsudin Muhammad bin Ahmad, dalam menghafal hadist. Kemudian aku menunaikan ibadah haji. Setelah lebih kurang 20 tahun, aku mendapati diriku dalam tingkatan yang lebih tinggi daripadanya, kemudian aku memohon agar dilebihkan lagi oleh Allah dan aku berhasil.”

Salah seorang muridnya bernama As-Sakhawi berkata, “Allah telah mengabulkan permintaan beliau.” Salah seorang muridnya yang lain, Imam As-Suyuti berkata, ” Hajatnya terkabul dan ilmunya bertambah.”

Imam As-Suyuthi

Imam Jalaluddin As-Suyuthi adalah ulama terkemuka, salah seorang pengarang Tafsir Jalaian. Ia pernah berkata, “Ketika aku melaksanakan ibadah haji, aku meminum air zamzam untuk beberapa keperluan, di antaranya agar aku mencapai tingkatan ilmu fikih sebagaimana Syeikh Sirajudin Al-Bulquni dan mencapai kemampuan dalam bidang ilmu hadist seperti Al-Hafidz Ibnu Hajar.”

Salah seorang murid beliau bernama Imam Syamsudin Muhammad bin Ali Ad-Dawudi Al-Maliki, penulis Tabaqat Al-Mufassirin, berkata, “Demi Dzat yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya aku yakin bahwa tindakan ilmu yang beliau capai belum pernah dicapai oleh orang lain, bahkan oleh guru-gurunya sekalipun, apalagi oleh murid-muridnya.”

Syeikh Zafar Ahmad Al-Usmani

Syeikh Zafar Ahmad Al-Usmani At-Tahanuwi adalah seorang ulama besar, ahli hadist, dan pakar fikih di India dan Pakistan, yang meninggal dunia pada tahun 1394 H. Beliau pernah bercerita, “Aku pernah meminum air zamzam sewaktu melaksanakan ibadah haji pertama kali dengan niat memohon dimudahkan dalam berbagai urusan dunia dan agama. Sebagian besar permohonan itu aku dapatkan.

Pada haji kedua, aku meminumnya lagi untuk beberapa keperluan dan aku mendapat lebih banyak lagi.

Kemudian pada haji ketiga, aku meminumnya sekali lagi untuk suatu hajat, karena ketika itu aku mengidap suatu penyakit di mulutku sampai sukar menyampaikan pelajaran dan khutbah. Sebelum ibadah haji selesai dengan sempurna, aku sudah mampu berbicara dan berkhutbah setelah minum air zamzam dengan niat untuk menghilangkan penyakit tersebut.

Dengan karunia dan kemuliaan-Nya, Allah memberikan kemampuan yang sempurna kepada diriku untuk berkhutbah dan berzikir serta memberikan nasihat kepada para pendengar. Segala puji bagi Allah dan shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alahi Wasallam.”

Jarullah bin Muhammad Abdul Aziz

Jarullah bin Muhammad Abdul Aziz, pengarang kitab Ni’matur Rahman Fima Yu’inu ‘ala Hifzil Qur’an (wafat tahun 954 H), pernah menderita sakit mata pada tahun 910 M. la menuturkan, “Pada saat itu di kelopak mataku terdapat benda kecil yang menyulitkanku untuk membaca kitab, juga menghalangiku untuk berjalan pada malam hari sewaktu musim haji dan umrah di Masjidil Haram. Lalu aku mendirikan shalat Subuh di tempat thawaf dan masuk ke sumur zamzam, meminum airnya dan aku membenamkan kepala di tengah sumur yang berhadapan dengan Hajar Aswad itu. Kemudian aku membuka di dalam air dan berdoa kepada Allah sambil mengharapkan kesembuhannya. Ketika itu aku mengalami tekanan perasaan yang berat. Maka Allah menyembuhkan aku dua tahun kemudian.”

Abu Al-Fadhal Al-Musili

Al-Hafidz Diya’uddin Muhammad bin Abdul Wahid Al-Maqdisi meriwayatkan dari Abu Fadhal Al-Musili, Abul Barakah An-Naisaburi, Abul Qasim As-Sakari, Abu Tahir Al-Mukhlis, Abdullah bin Ja’far, Muhammad bin Ahmad Al-Ubaidi, dan Abdul Aziz Al-Hasyimi, dia berkata, “Pada suatu ketika di Makkah aku melakukan perjalanan melalui laut dari Jeddah. Waktu itu aku membawa air zamzam. Ketika ombak laut meninggi, aku percikkan air zamzam itu ke laut, maka laut pun menjadi tenang.”

Imam Abu Bakar bin Iyyasy

Air zamzam tergantung niat meminumya. Ada orang yang meminum air zamzam dan ingin rasanya seperti madu atau susu, dan ternyata Allah mengabulkan keinginan itu. Di antaranya hal itu dialami oleh Imam Abu Bakar bin Iyyasy. Beliau adalah seorang ahli fikih dan ahli hadist di Kuffah yang dikenal sebagai Syeikhul Islam.

Diriwayatkan oleh Yahya bin Abdul Hamid Al-Himmani, ia berkata, “Aku mendengar Abu Bakar bin Iyyasy berkata, ‘Aku minum madu dan susu (dengan meminum) air zamzam’.”*

Dari buku Mukjizat Penyembuhan Air Zamzam karya Badiatul Muchlisin Asti.

HIDAYATULLAH

Meminum Air Zamzam Sebagai Sarana Kebaikan (1)

RASULULLAH Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda, “Air zamzam tergantung (niat) untuk apa ia diminum.” (HR Ibnu Majah).

Dalam hadist lain disebutkan,

“Air zamzam tergantung (niat) untuk apa ia diminum. Barangsiapa meminumnya untuk menyembuhkan penyakit, niscaya Allah akan menyembuhkan penyakitnya, atau untuk mengganjal rasa lapar, niscaya Allah akan membuatnya kenyang, atau untuk suatu hajat (keperluan), niscaya Allah akan memenuhinya.” (HR. Ad-Dailami).

Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam juga bersabda, “Sebaik-baik air di muka bumi ini adalah air zamzam, di dalamnya ada makanan yang mengenyangkan dan obat yang menyembuhkan.” (HR Thabrani dan Ibnu Hibban).

Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam telah membuktikan keistimewaan air zamzam sebagai ‘makanan yang mengenyangkan’. Ummu Aiman, penjaga dan ibu susu Rasulullah meriwayatkan, “Saya tidak pernah melihat Muhammad ketika kecilnya mengeluh karena lapar ataupun haus, bahkan ketika beliau dewasa. Setiap pagi beliau meminum air zamzam. Ketika kami tawarkan makanan, beliau berkata, ‘aku belum ingin makan karena masih kenyang’.” (HR Ibnu Sa’ad).

Para sahabat, tabi’in, dan para ulama shalih dengan bersandar pada keteladanan Rasulullah telah memberikan contoh nyata dan pengakuan mengenai aneka ragam niat, doa, dan keinginan atau keperluan yang dipanjatkan ketika meminum air zamzam. Berikut berbagai riwayat mereka saat meminum air zamzam:

Umar bin Khattab

Umar bin Khattab ra. termasuk sahabat Rasulullah paling utama. Beliau menjadi kalifah kedua menggantikan kalifah Abu Bakar As-Shiddiq. Beliau dijuluki sebagai Al-Faruq (pemisah), karena beliau dikenal merupakan pemisah antara kebenaran dan kebatilan. Beliaulah sahabat yang pertama kali menyatakan keislamannya dengan terang-terangan. Dengannya, Allah mengokohkan dakwah Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alahi Wasallam.

Diriwayatkan, Umar bin Khattab ra. sewaktu meminum air zamzam, senantiasa mengucapkan doa, “Ya Allah, aku minum air zamzam untuk menghilangkan rasa haus pada hari kiamat.”

Abdullah bin Abbas

Abdullah bin Abbas ra. atau yang dikenal dengan nama Ibnu Abbas, dilahirkan tiga tahun sebelum hijrah. Beliau dijuluki sebagai Turjumanul Qur’an (Penafsir Al-Qur’an). Beliau dijuluki juga sebagai ” Samudra” karena keluasan ilmu yang dimilikinya. Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alahi Wasallam pernah memanjatkan doa untuknya, “Ya Allah, pahamkanlah ia dalam urusan agama dan ajarkanlah tafsir kepadanya.”

Ibnu Abbas ra meninggal pada usia 71 tahun. Di antara yang ikut menshalatkan adalah Muhammad bin Hanifah, dan ia mengatakan, “Demi Allah, pada hari ini telah meninggal sebaik-baik umat ini.”

Bagaimana orang mulia ini memanfaatkan air zamzam? Diriwayatkan, Abdullah bin Abbas ra sewaktu meminum air zamzam, senantiasa berdoa, “Ya Allah aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, dan diberi kesembuhan dari segala penyakit.”

Abu Hanifah

Namanya Nu’man bin Tsabit bin Al-Marzuban, namun beliau lebih dikenal dengan nama Abu Hanifah. Beliau dikenal sebagai ulama peletak dasar-dasar fikih, pendiri Madzhab Hanafiah dan mengajarkan hikmah-hikmah yang baik. Beliau hidup di dua masa kerajaan besar Islam, yaitu Bani Umayah dan Bani Abbasiyah.

Beliau hidup di suatu masa di mana para kalifah dan para gubernur memanjakan para ilmuwan dan ulama sehingga rezeki datang dari segala arah tanpa mereka sadari. Meski demikian, Abu Hanifah senantiasa menjaga martabat dan ilmunya dari semua itu. Beliau berusaha konsisten untuk memakan dari hasil karyanya sendiri dan menjadikan tangannya selalu di atas –kiasan untuk kebiasaan memberi.

Bagaimana beliau memanfaatkan air zamzam? Az-Zamzami menyebutkan, Imam Abu Hanifah ketika meminum air zamzam memohon agar menjadi seorang yang alim, dan terbuktilah kealimannya.*

Dari buku Mukjizat Penyembuhan Air Zamzam karya Badiatul Muchlisin Asti.

HIDAYATULLAH

Keajaiban Zamzam

Terlepas dari riwayat mana yang benar, yang pasti air atau sumur zamzam itu menyimpan rahasia yang luar biasa. Di antaranya, dipercaya bisa menyembuhkan penyakit sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA. Rasulullah SAW bersabda, ”Sebaik-baik air di muka bumi ialah air zamzam. Air zamzam merupakan makanan yang mengenyangkan dan penawar bagi penyakit.” (HR dari Ibnu Abbas).

Tidak seperti air mineral pada umumnya, air zamzam mengandung elemen-elemen alamiah sebesar 2000 miligram (mg) per liter. Biasanya, air mineral alamiah (hard carbonated water) tidak akan lebih dari 260 mg per liter. Elemen-elemen kimiawi yang terkandung dalam air zamzam meliputi positive ions, seperti sodium (250 mg per liter), kalsium (200 mg per liter), potassium (20 mg per liter), dan magnesium (50 mg per liter), serta negative ions, seperti sulfur (372 mg per liter), bicarbonates (366 mg per liter), nitrat (273 mg per liter), fosfat (0.25 mg per liter), dan ammonia (6 mg per liter).

Kandungan-kandungan elemen-elemen kimiawi inilah yang menjadikan rasa dari air zamzam sangat khas dan dipercaya dapat memberikan khasiat khusus.

Satu hal yang paling menarik, ternyata selama ribuan tahun (lebih dari 14 abad) sumur zamzam tak pernah kering dan airnya tak habis kendati dipergunakan oleh lebih dari jutaan umat manusia setiap tahunnya. Di samping kehendak Allah SWT, secara ilmiah ternyata juga dapat diungkapkan fakta-faktanya.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin, secara logika, hal itu tidak masuk akal. Sebab, sumur zamzam ini hanya memiliki luas permukaan selebar 3-4 meter dan panjang (kedalaman) sekitar 30 meter, sangat kecil untuk menghasilkan air yang demikian besar untuk memenuhi jutaan umat manusia, termasuk 2,2 juta orang jamaah haji setiap tahunnya yang masing-masing membawa 5-20 liter.

Anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Rovicky Dwi Putrohari, dalam tulisannya tentang ”Rahasia Air Zamzam” menyebutkan, dalam sebuah uji pemompaan (pump test), sumur ini mampu mengalirkan air sebesar 11-18.5 liter per detik atau mencapai 660 liter per menit atau sekitar 40 ribu liter per jam. Ini dilakukan sebelum tahun 1950-an.

Kemudian, pada tahun 1953, dibangunlah pompa air. Pompa ini menyalurkan air dari sumur ke bak penampungan air dan di antaranya juga ke keran-keran yang ada di sekitar sumur zamzam. Pada saat dilakukan pengujian, pada pemompaan 8000 liter per detik selama 24 jam, air yang ada dalam sumur zamzam mengalami penyusutan sedalam 3,23 meter. Dan, ketika pemompaan dihentikan, hanya dalam waktu 11 menit kemudian permukaan sumur kembali ke asalnya. Padahal, jarak Kota Makkah ke laut (pantai) sejauh 75 kilometer. Ini menunjukkan bahwa banyak air yang tersimpan dalam sumur zamzam hasil dari rekahan (celah) bebatuan yang ada pada perbukitan di sekitar Makkah.

Kemusykilan inilah yang kemudian ‘mengusik’ para ahli hidrogeologi untuk meneliti lebih lanjut tentang keanehan sumur zamzam. Dengan jarak yang relatif jauh dari laut, dari mana sumber air begitu cepat berkumpul kembali di sumur zamzam?

Rovicky dalam tulisannya menyebutkan, banyak celah atau rekahan bebatuan yang ada di sekitar tempat itu. Disebutkan, ada celah (rekahan) yang memanjang ke arah Hajar Aswad dengan panjang 75 cm dengan ketinggian 30 cm, juga beberapa celah kecil ke arah Shafa dan Marwah.

Keterangan geometris lainnya menyebutkan, celah sumur di bawah tempat tawaf sekitar 1,56 meter, kedalaman total dari bibir sumur 30 meter, kedalaman air dari bibir sumur sekitar empat meter, dan kedalaman mata air 13 meter. Dari mata air sampai dasar sumur mencapai 17 meter dan diameter sumur berkisar antara 1,46-2,66 meter. Celah-celah inilah yang kemudian memasok air ke sumur zamzam.

Mungkinkah air zamzam tercemar?

Pertanyaan ini sering kali diembuskan oleh kelompok yang tidak percaya akan keajaiban sumur zamzam ataupun mereka yang berusaha menyelamatkan sumur zamzam.

Tahun 1971, kata Rovicky, dilakukan penelitian hidrologi oleh seorang ahli hidrologi dari Pakistan bernama Tariq Hussain dan Moin Uddin Ahmed. Penelitian ini dipicu oleh pernyataan seorang doktor dari Mesir yang menyatakan bahwa air zamzam tercemar air limbah dan berbahaya untuk dikonsumsi.

”Tariq Hussain, termasuk saya (Rovicky–Red), dari sisi hidrogeologi, juga meragukan spekulasi adanya rekahan panjang yang menghubungkan laut merah dengan sumur zamzam karena Makkah terletak 75 Kilometer dari pinggir pantai,” ujar Rovicky.

Hasil dari penelitian ini menyangkal dengan tegas tuduhan doktor Mesir tersebut. ”Namun, dari penelitian Tariq Hussain ini, kemudian memacu Pemerintah Arab Saudi untuk senantiasa memerhatikan sumur zamzam dan merawatnya dengan baik,” jelas Rovicky yang juga anggota Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI).

Langkah-langkah yang dilakukan badan riset sumur zamzam yang berada di bawah SGS (Saudi Geological Survey) bertugas untuk (a) memonitor dan memelihara sumur ini dari kekeringan; (b) menjaga urban di sekitar Wadi Ibrahim karena memengaruhi pengisian air; (c) mengatur aliran air dari daerah tangkapan air (recharge area); (d) memelihara pergerakan air tanah dan juga menjaga kualitas melalui bangunan kontrol; (e) meningkatkan (up-grade) pompa dan tangki-tangki penadah; serta (f) mengoptimalisasi suplai dan distribusi air zamzam.

 

IHRAM