Tetaplah Beristiqomah dalam Berdoa

SALAH satu obat yang paling mujarab adalah aktivitas berdoa secara kontinu. Doa yang dilakukan secara kontinu, baik dalam kondisi senang maupun susah, lapang maupun sempit, bahagia maupun sedih, kaya maupun miskin, akan memperoleh kecintaan Allah dan banyaknya kemakbulan yang diperoleh para pelakunya.

Memang, pada dasarnya manusia itu bersifat suka tergesa-gesa. Segala sesuatu diharapkan ingin segera terwujud. Begitu pula dalam berdoa, bersifat tergesa-gesa ingin cepat-cepat dikabulkan tanpa mau berproses untuk meraihnya sehingga kehilangan intensitas dalam melakukan aktivitas doanya.

Bahkan, ada di antara mereka yang merasa enggan untuk berdoa secara kontinu karena merasa putus asa doa-doa yang mereka panjatkan tidak kunjung dikabulkan oleh Allah. Mestinya mereka memahami dan menyadari bahwa kemakbulan doa itu harus didukung oleh beberapa hal, di antaranya adalah waktu dan tempat berdoa yang mustajab, memenuhi adab atau etikanya, dan syarat-syarat bagi terkabulnya sebuah doa sebagaimana telah dijelaskan di atas. Dengan demikian, tentulah mereka tidak berputus asa hingga menyalahkan Allah karena kondisi yang tengah mereka hadapi.

Kita lihat bagaimana Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam telah banyak memberikan teladan kepada umatnya. Seluruh aktivitasnya dari bangun tidur hingga tidur lagi selama dua puluh empat jam penuh senantiasa diiringi dengan doa dan dzikir kepada Allah. Doa-doa tersebut senantiasa diulang-ulang oleh beliau sehingga hal itu menjadikan beliau hamba yang ahli berdoa dan doa beliau senantiasa dikabulkan oleh Allah.

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa hendak mendapatkan kesenangan ada padanya ketika ia mengalami penderitaan dan kesusahan karena doanya diperkenankan Allah, maka hendaklah ia memperbanyak berdoa ketika berada dalam keadaan masih baik (senang).” (HR. Tirmidzi).

Dalam kitab as-Sunan, Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang tidak mau memohon kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.”

Dalam kitab al-Adab al-Mufrad, Bukhari juga meriwayatkan sebuah hadits yang teksnya adalah: “Barangsiapa yang tidak mau berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka Allah akan murka kepadanya.”

Dalam kitab Shahih al-Hakim juga disebutkan sebuah hadits dari Anas r.a. bahwa Nabi Muhammad bersabda:

“Jangan sekali-kali kalian lemah dalam berdoa, karena sesunggubnya tidak ada seorang pun yang celaka karena berdoa.”

Al-Auza’i meriwayatkan sebuah hadits yang berasal dari az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah r.a. bahwa Rasulullah pernah bersabda:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang yang terus-menerus di dalam berdoa.”

Dalam kitab az-Zuhud karya Imam Ahmad disebutkan sebuah hadits yang bersumber dari Qatadah, Muwarraq berkata, “Aku tidak pernah menemukan suatu perumpamaan bagi seorang mukmin melainkan ia bagaikan seseorang yang terapung-apung dalam lautan dengan menumpang pada sebatang kayu sambil berdoa, ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku!’ Dengan suatu harapan agar ia diberikan keselamatan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Rasulullah bersabda:

“Bersahajalah kamu dan tetaplah dalam beramal, dan ketahuilah bahwa tak ada seorang pun dari kamu yang akan selamat dengan amalnya.” Sahabat bertanya, “Dan tidak juga engkau wahai Rasulullah?” Sabdanya, “Tidak pula saya, kecuali bila Allah melimpahkan rahmat dan keutamaan-Nya kepadaku.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a.).

Dari `Aisyah r.a. bahwasanya Nabi ketika masuk ke rumahnya kebetulan ada seorang wanita, beliau bertanya:

“Siapakah wanita ini?” Jawab `Aisyah, “Inilah fulanah yang terkenal ibadah shalatnya banyak sekali.” Nabi bersabda, “Mah, kerjakan saja menurut kemampuanmu jangan memaksakan diri. Allah tidak akan jemu menerima amalmu sehingga kamu bosan beramal. Ada pun perilaku agama yang lebih dicintai Allah adalah yang dapat kamu kerjakan secara rutin.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash r.a. berkata, Rasulullah pernah bersabda kepadaku:

“Wahai `Abdullah, kamu jangan seperti si fulan, semula dia rajin bangun untuk shalat malam, tetapi kemudian dia meninggalkan bangun malam.” (HR. Bukhari dan Muslim).*/Rachmat Ramadhana Al-Banjari, dikutip dari bukunya Bila Doamu Tak Kunjung Dikabul, Inilah Cara Mengasahnya…

HIDAYTULLAH