10 Poin Penting Seputar Ikhlas dan Riya yang Diwanti-wanti Imam Ghazali

10 Poin Penting Seputar Ikhlas dan Riya yang Diwanti-wanti Imam Ghazali

Ikhlas merupakan salah satu syarat mutlak amalan seorang hamba

Imam Al-Ghazali adalah seorang filsuf dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat. 

Ulama yang dijuluki Hujjatul Islam ini menjelaskan tentang hakikat ikhlas dan riya dalam kitabnya, Raudhah ath-Thalibin wa Umdah as-Salikin dalam buku “Hidup di Dunia, Apa yang Kau Cari?” yang diterbitkan Rene Turos. Berikut ini beberapa poinnya: 

1. Menurut para ulama, ikhlas ada dua macam, yaitu ikhlas dalam beramal dan ikhlas dalam mencari pahala. 

2. Ikhlas dalam beramal adalah kehendak untuk mendekat kepada Allah SWT, mengagumkan urusan-Nya dan menjawab seruan-Nya. 

Munculnya keikhlasan semacam ini didorong keyakinan yang benar kebalikan dari semuanya adalah nifaq atau kemunafikan atau mendekat kepada selain Allah SWT    

3. Adapun ikhlas dalam mencari pahala berarti kehendak untuk memperoleh keuntungan akhirat dengan melakukan kebaikan  

4. Kebalikannya adalah riya atau keinginan mendapatkan keuntungan dunia dengan amal akhirat, baik mengharap dari Allah SWT maupun dari manusia

5. Al-Ghazali menjelaskan, hal yang diperhitungkan dalam perilaku riya adalah apa yang diinginkan, bukan dari siapa  

6. Selain itu, kedua bentuk keikhlasan di atas mempunyai pengaruh yaitu bahwa keikhlasan dalam beramal menjadikan amal sebagai sarana mendekatkan diri pada Allah SWT (taqarrub), dan keikhlasan mencari pahala membuat amal diterima serta memperoleh pahala berlimpah  

7. Sebaliknya, lanjut Al-Ghazali, kemunafikan itu merusak amal dan mengeluarkannya dari posisi taqarrub. Sementara riya mengakibatkan ditolaknya amal.  

8. Menurut sebagian ulama, amal itu ada tiga macam. Pertama, amal yang mengandung kedua macam ikhlas di atas sekaligus. Kedua, ibadah lahir yang murni. Ketiga, ibadah yang tidak mengandung keikhlasan mencari pahala tetapi mengandung keikhlasan beramal, yaitu hal-hal mubah yang diambil sebagai bekal. 

“Guru kita berkata, setiap ibadah murni yang mungkin dibelokkan kepada selain Allah mengandung keikhlasan amal. Mayoritas ibadah batin mengandung keikhlasan dalam beramal,” jelas Al-Ghazali

9. Berkaitan dengan keikhlasan dalam mencari pahala, guru Al-Ghazali berkata, “Jika dengan melakukan ibadah-ibadah batin seseorang menginginkan keuntungan dunia dari Allah, hal itu termasuk riya.”

10. Maka, lanjut Al-Ghazali, tidak salah jika kebanyakan ibadah batin mengandung kedua macam ikhlas, begitu pula Ibadah sunnah. 

“Oleh karena itu, saat melaksanakan ibadah-ibadah batin dan sunnah harus disertai kedua macam keikhlasan ini sekaligus. Perbuatan-perbuatan mubah yang diambil sebagai persiapan hanya mengandung keikhlasan dalam mencari pahala tanpa keikhlasan beramal,” kata Al-Ghazali.   

KHAZANAH REPUBLIKA