Pengertian Tauhid, Urgensi dan Keutamaannya

Sebagaimana kita bahas dalam pengertian aqidah, salah satu sinonim dari aqidah adalah tauhid. Jika aqidah merupakan istilah baru, tauhid adalah istilah yang telah digunakan sejak masa awal Islam. Berikut ini pengertian tauhid, urgensi dan keutamaannya.

Pengertian Tauhid

Tauhid berasal dari kata وحد  – يوحد  – توحيدا , yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Secara istilah, tauhid adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan meyakini keesaan-Nya tanpa menyekutukan-Nya dalam rububiyah-Nya, uluhiyah dan ibadah kepada-Nya serta nama-nama dan sifat-Nya.

Jika istilah aqidah merupakan istilah baru yang kita tidak menjumpainya dalam Al Qur’an, istilah tauhid telah ada sejak awal Islam. Dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kita akan menjumpai istilah ini. Di antaranya sabda beliau kepada Muadz bin Jabal ketika mengutusnya ke Yaman:

إِنَّكَ سَتَأْتِيْ قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَىْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلٰـهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ– وَفِيْ رِوَايَةٍ – : إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللهَ – فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذٰلِكَ ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَـمْسَ صَلَوَاتٍ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذٰلِكَ ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذٰلِكَ ، فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ ، وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْـمَظْلُوْمِ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum Ahli Kitab, maka hendaklah yang engkau sampaikan kepada mereka pertama kali adalah syahadat La ilaha illallah wa anna Muhammadar Rasulullah -dalam riwayat lain disebutkan, ‘Sampai mereka mentauhidkan Allâh.’-

Jika mereka telah mentaatimu dalam hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah mentaati hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir.

Dan jika mereka telah mentaati hal itu, maka jauhkanlah dirimu (jangan mengambil) dari harta terbaik mereka. Dan lindungilah dirimu dari doa orang yang teraniaya karena sesungguhnya tidak satu penghalang pun antara doanya dan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Urgensi dan Keutamaan Tauhid

Tauhid memiliki urgensi yang sangat besar dalam Islam. Sebab dialah pondasi. Dialah yang paling utama membedakan orang mukmin dan orang kafir. Berikut ini delapan urgensi dan keutamaannya.

1. Tujuan penciptaan manusia

Tauhid merupakan tujuan penciptaan manusia. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz Dzariyat: 56)

2. Hakikat dakwah para Rasul

Semua nabi dan rasul, mereka berdakwah kepada manusia sesuai zamannya. Dalam syariat termasuk ritual ibadah, bisa jadi tiap rasul berbeda. Misalnya puasa Puasa Nabi Adam tiga hari setiap bulan yang kini kita kenal sebagai puasa ayyamul bidh. Puasa Nabi Daud dan umatnya, sehari puasa sehari tidak. Yang kini kita kenal sebagai Puasa Daud. Keduanya kini menjadi sunnah. Sedangkan yang wajib bagi umat Nabi Muhammad adalah Puasa Ramadhan.

Demikian pula shalat. Umat terdahulu shalatnya bukan lima waktu seperti sekarang. Bahkan Nabi Isa dan umatnya hanya boleh shalat di mihrab. Tidak seperti sekarang yang mudah bisa kita lakukan di mana pun, khususnya ketika sedang safar.

Meskipun kadang syariatnya berbeda, tetapi inti dakwah semua Nabi dan Rasul sama. Yakni mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut” (QS. An Nahl: 36)

3. Intisari ajaran Islam

Ajaran Islam sangat luas. Ia mencakup segala segi kehidupan. Tidak ada satu pun bidang kecuali Islam punya aturannya. Mulai dari pribadi, keluarga, pendidikan, ekonomi, sosial, politik dan hukum. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi.

Islam adalah din yang komprehensif dan sempurna. Dan intisari ajarannya adalah tauhid. Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala baik dalam rububiyah, uluhiyah maupun asma wa shifat.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. Al Anbiya’: 25)

4. Kunci keselamatan

Tauhid adalah kunci keselamatan hidup, terutama kehidupan di akhirat. Tanpa bertauhid, seseorang akan celaka, kekal abadi di neraka.

عَنْ مُعَاذٍ – رضى الله عنه – قَالَ كُنْتُ رِدْفَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ ، فَقَالَ يَا مُعَاذُ ، هَلْ تَدْرِى حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ . قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ . قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا. فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَفَلاَ أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ قَالَ لاَ تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا

Dari Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ia berkata, aku pernah dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas seekor keledai yang dinamakan Ufair. Maka beliau bersabda, “Wahai Muadz, tahukah engkau apa hak Allah yang wajib dipenuhi hamba-Nya dan apa hak hamba yang wajib dipenuhi Allah?”

Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau pun bersabda, “Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya adalah supaya mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya. Sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah, bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya.”

Aku bertanya, “Ya Rasulullah, tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang?” Beliau menjawab, “Janganlah engkau menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, yang karenanya mereka akan menyandarkan diri (tak mau berbuat lebih).” (HR. Bukhari dan Muslim)

فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . يَبْتَغِى بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas, semata mengharap wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Kunci keamanan dan petunjuk

Tauhid adalah kunci keamanan dan petunjuk. Seseorang yang mentauhidkan Allah, di dunia mereka merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki dan di akhirat mereka aman dari siksa yang pedih. Dengan bertauhid, seseorang akan mendapat petunjuk Allah untuk melakukan kebaikan-kebaikan berikutnya yang tidak didapatkan orang-orang yang menyekutukan-Nya.

الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.  (QS. Al Anbiya’: 25)

6. Kunci masuk surga

Tauhid adalah kunci masuk surga. Tanpa tauhid, seseorang tak bisa memasukinya. Sebaliknya, sebanyak apa pun dosa seseorang, jika ia bertauhid kepada Allah, niscaya ia akan masuk surga meskipun terlebih dahulu harus mempertanggungjawabkan doa-dosa yang belum mendapat ampunan. Ketika dosanya Allah ampuni, ia akan masuk surga dan abadi di sana.

أَتَانِى جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – فَقَالَ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِكَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Jibril ‘alaihis salam datang kepadaku dan mengatakan, “barangsiapa mati dari kalangan umatmu sedangkan dia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, maka ia masuk surga.” (HR. Bukhari)

7. Kunci ampunan Allah

Seseorang yang meninggal dalam kondisi bertauhid tanpa menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dosa-dosanya akan Allah ampuni. Meskipun dosa itu sebesar langit dan bumi.

قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Allah berfirman, “Hai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-ku dengan dosa sepenuh bumi, sedangkan ketika engkau bertemu denganku berada dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikitpun, niscaya akan Aku berikan kepadamu ampunan sepenuh bumi juga.” (HR. Tirmidzi)

8. Keutamaan besar

Kalimat tauhid laa ilaaha illallah memiliki keutamaan yang sangat besar. Di hadapan Allah, kalimat thayyibah ini lebih berat timbangannya daripada tujuh langit dan bumi.

قَالَ مُوسَى : يَا رَبِّ ، عَلِّمْنِي شَيْئًا أَذْكُرُكَ وَأَدْعُوكَ بِهِ ، قَالَ : قُلْ يَا مُوسَى : لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، قَالَ : كُلُّ عِبَادِكَ يَقُولُ هَذَا ، قَالَ : قُلْ : لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، قَالَ : لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ ، إِنَّمَا أُرِيدُ شَيْئًا تَخُصَّنِي بِهِ ، قَالَ : يَا مُوسَى ، لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي وَالأَرَضِينَ السَّبْعَ فِي كِفَّةٍ ، وَلا إِلَهَ إِلا اللَّهُ فِي كِفَّةٍ مَالَتْ بِهِنَّ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ

Musa berkata, “Ya Tuhanku, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk berdzikir dan berdoa kepada-Mu.” Allah berfirman, “Katakan hai Musa, Laa ilaaha illallah.” Musa berkata lagi, “Semua hamba-Mu mengucapkan ini.” Allah berfirman, “Katakan hai Musa, Laa ilaaha illallah.” Musa berkata lagi, “Laa ilaaha illa anta. Aku hanya ingin sesuatu yang istimewa untukku.” 

Allah berfirman, “Hai Musa, seandainya ketujuh langit dan penghuninya selain Aku serta ketujuh bumi diletakkan pada salah satu daun timbangan, sedang Laa ilaaha illallah diletakkan pada daun timbangan yang lain, maka Laa ilaaha illallah niscaya lebih berat timbangannya.”(HR. Tirmidzi)

Kalimat tahlil laa ilaaha illallah juga merupakan dzikir paling utama. Rasulullah menganjurkan untuk memperbarui keimanan dengan kalimat thayyibah ini.

Demikian pengertian tauhid, urgensi dan keutamannya. Semoga Allah mengokohkan kita dalam tauhid dan istiqamah memegangnya. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

BERSAMA DAKWAH


Urutan Sedekah

Sayyid Sabiq menyebutkan orang yang paling layak menerima sedekah.

Sedekah merupakan salah satu ajaran dalam Islam untuk membantu orang lain. Lalu, siapa yang paling layak untuk menerima sedekah?

Sayyid Sabiq dalam kitabnya yang berjudul Fiqh Sunnah menyebutkan orang yang paling layak menerima sedekah ialah anak-anaknya, keluarga dan kaum kerabatnya. Tidak diperbolehkan sedekah kepada orang lain jika orang tersebut memerlukan untuk nafkah hidup dirinya dan keluarganya.

Dijelaskan dari hadits riwayat Ahmad dan Muslim, Rasulullah bersabda: “Jika salah seorang di antara kamu miskin, hendaklah dimulai dengan dirinya. Dan jika dalam itu ada kelebihan, barulah diberikannya buat keluarganya. Lalu bila ada kelebihan lagi, maka buat kaum kerabatnya” atau sabdanya “buat yang ada hubungan kekeluargaan dengannya. Kemudian bila masih ada kelebihan, barulah untuk ini dan itu”

Hadits lain mengatakan, akan mendapatkan dosa besar jika seseorang tersebut menyia-nyiakan tanggungannya. Riwayat Muslim dan Abu Daud, Rasulullah bersabda: “Cukup besarlah dosa seseorang jika ia menyia-nyiakan tanggungannya.”

Sabda Rasullah yang juga mengatakan bahwa paling utama sedekah diberikan kepada kaum kerabatnya.  “Sedekah yang paling utama ialah sedekah kepada kaum kerabat yang memendam rasa permusuhan.” (HR Tabhrani)

KHAZANAH REPUBLIKA

Meninggalkan Amalan Sunnah, Apakah Makruh?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang meninggalkan amalan sunnah, apakah makruh?
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga. Saya mau bertanya ustadz.

Ustadz, jawaban dari hukum meninggalkan amalan dalam masalah Sunnah adalah makruh, bisa di beri penjelasan ustadz? Karena saya kira hal tersebut adalah mubah.

(Disampaikan oleh Fulan, Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Terkait dengan meninggalkan amalan sunnah ada beberapa keadaan yang dimaksudkan:

Bila yang dimaksudkan dengan meninggalkan sunnah karena keyakinannya bahwa amalan itu tidaklah wajib maka ia tidak berdosa, karena bukan kewajiban yang ia tinggalkan .

Namun bila dia meninggalkan sunnah dengan terus menerus, padahal tidak ada kesulitan untuk dilakukan, imannya tidak tergerak untuk melakukan apa yang telah dilakukan dan dicintai oleh Nabinya dan orang orang yang baik lainnya. Dengan keadaan seperti ini, menunjukkan ada masalah dan kelemahan dengan agama dan imannya. Karena tidak selayaknya seorang muslim meremehkan sunnah, karena bisa jadi adan indikasi yang menunjukkan ketidaksukaan dia dengan sunnah tersebut sehingga dikatakan meninggalkan sunnah adalah amalah yang tiada disuka/makruh. Sebagaimana sabda Rasulullah ,”

من رغب عن سنتي فليس مني

“Maka barangsiapa membenci sunnahku, maka dia itu bukan dari golonganku.”
(HR. Al Bukhory (5063) dan Muslim (1401) dari Anas -rodhiyallohu ‘anhu-).

قال الحافظ ابن حجر في فتح الباري عند شرح حديث الرجل الذي سأل عن الفرائض: وحلف ألا يزيد عليها.. قال القرطبي: في هذا الحديث وكذا حديث طلحة في قصة الأعرابي وغيرهما دلالة على جواز ترك التطوعات، لكن من داوم على ترك السنن كان نقصاً في دينه، فإن كان تركها تهاوناً بها ورغبة عنها كان ذلك فسقاً يعني لورود الوعيد عليه حيث قال صلى الله عليه وسلم: من رغب عن سنتي فليس مني. انتهى

Berkata Ibnu Hajar di dalam kittab Fathul baari, dalam menjelaskan maksud hadist yang terkait dengan seseorang yang berkata dan bertanya tentang perkara wajib, (setelah di jelaskan) ia bersumpah tidak akan menambahnya.
Berkata Qurtubi, ”Dalam hadist ini, juga pada hadist Thalhah pada kisah seorang badui, dan hadist selain keduanya, menunjukkan atas bolehnya meninggalkan perkara sunnah. Namun jika seseorang “selalu” meninggalakan sunnah berarti ia seorang yang lemah agamanya.
Maka barang siapa yang meninggalakan sunnah karena meremehkan dan tidak menyukainya maka ia seorang yang fasik. Yang demikian karena adanya ancaman atas orang tersebut, sebagai mana di katakan oleh Rasulullah sallahu alaihi wasallam,” barang siapa yanng membenci sunnahku maka ia bukan dariku ,”

Semoga Allah membimbing kita untuk selalu istiqomah dalam menjalankan sunnah sunnah Rasulullah sallahu alaihi wasallam sebagai tanda kecintaan kita kepada Allah dan rasulNya. Wallahua a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله
Kamis, 05 Rabiul Awwal 1442 H/ 22 Oktober 2020 M

BIMBINGAN ISLAM

Rahmat Allah SWT untuk Para Pedagang yang Jujur dan Ramah

Allah SWT memberikan rahmat kepada pedagang yang ramah dan jujur.

Timbang-menimbang barang merupakan bagian dari aktivitas muamalah jual beli. Penjual tidak boleh mengurangi timbangan dan menyembunyikan kecacatan barang yang dijualnya. 

“Jual beli harus menyamakan berat timbangan. Bila diabaikan akan menerima siksaan berat,” kata Imam al-Ghazali melalui Ikhtisar Ihya Ulumuddin.

Sang hujjatul Islam ini menyampaikan, jika penjual tidak menyamakan berat timbangannya dalam menjual barang maka Allah SWT akan melaknatnya. Ancaman Allah ditegaskan dalam QS al-Mutfhaffifin ayat

 وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ

“Celakalah bagi orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang.” 

Ringkasnya, kata Imam al-Ghazali, semua bentuk manipulasi dalam transaksi jual beli hukumnya haram. Oleh karena itu, tidak boleh menghampiri suatu barang yang tidak ingin dibelinya sambil meminta harga di atas harga jual beli dengan tujuan menggerakkan keinginan pembeli lain pada barang tersebut.  

Penduduk kota juga dilarang melakukan jual beli dengan penduduk pedesaan. Maksudnya orang desa hendak menjual bahan makanan ke kota. Namun, sebelum sampai tujuan, dihadang salah seorang dari kota yang berniat memborong barang dagangannya dengan kemudian menimbunnya sampai harga naik tinggi. 

Misalnya, seseorang membeli barang karena memperoleh toleransi dari temannya atau anaknya, maka hendaklah menyebutkannya pada pembeli lain supaya pembelinya tidak dijadikan acuan. Hendaknya berbuat ihsan (bersikap baik) seperti tidak menipu orang lain dengan praktik muamalah yang berjalan tidak sesuai kebiasaan. “Saling memudahkan urusan jual beli sangat dianjurkan,” katanya.

Hal ini seperti yang disampaikan Nabi Muhammad SAW dari Jabir bin Abdullah RA: 

 عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: رحم الله عبداً سمحاً إذا باع، سمحاً إذا اشترى، سمحاً إذا اقتضى. 

“Allah merahmati orang yang mempermudah penjualan dan pembelian. Pelunasan utang dan penagihan.” 

KHAZANAH ISLAM

Anda mau Berdagang secara online? Join di sini agar bisa punya Toko Online-nya secara gratis!


Syarat untuk Pedagang yang Ingin Masuk Surga tanpa Hisab

Islam memberikan panduan Islami untuk para pedagang.

Para pedagang merupakan salah satu kelompok yang akan masuk surga tanpa hisab, jika perdagangan mereka tidak melalaikannya dari mengingat Allah SWT. 

Tidak lalai dalam menunaikan kewajiban inilah yang selalu dilakukan para sahabat Nabi Muhammad SAW. 

Syeikh Maulana Muhammad Zakkariya Al-Kandahlawi dalam kitabnya “Fadhilah Amal,” menceritakan, suatu hari, Abdullah Ibnu Umar RA sedang berada di pasar, dan tibalah waktu sholat berjamaah. Setiap pemilik toko langsung menutup toko mereka dan segera pergi ke masjid.   

Melihat hal ini Ibnu Umar mengatakan, mereka adalah orang yang difirmankan Allah SWT dalam surat An-Nur ayat 37: 

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ 

“(Di dalam masjid terdapat) orang-orang (yang di pagi dan sore hari selalu mensucikan Allah dengan mengingat-Nya) yang perniagaan dan jual-beli mereka tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah, terutama mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Mereka takut terhadap keadaan suatu hari yang hati dan penglihatan menjadi goncang (hari kiamat).”

Ibnu Abbas RA mengatakan,  mereka sibuk dengan perniagaan dan jual-beli, tetapi jika mendengar suara adzan, mereka segera meninggalkannya dan pergi ke masjid.” 

Dia juga berkata, “Demi Allah mereka adalah para pedagang, tetapi perdagangan mereka tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah SWT. “

Baginda Nabi SAW bersabda, “Ketika seluruh manusia dikumpulkan di suatu tempat pada hari kiamat Allah SWT berfirman:  

“Di manakah orang-orang yang selalu memuji-Ku ketika senang dan susah? Maka sekelompok kecil manusia akan bangkit dan masuk ke surga tanpa hisab. Lalu diumumkan lagi, di manakah orang-orang yang meninggalkan tempat tidurnya dan menghabiskan malamnya dengan beribadah kepadaku dengan takut dan harap? Maka sekelompok kecil manusia bangkit dan masuk surga tanpa hisab.

Lalu diumumkan lagi di manakah orang-orang yang perniagaannya tidak menghalanginya dari mengingat-Ku? Mereka sekelompok kecil ketiga bangun dan masuk surga tanpa hisab. Setelah ketiga kumpulan itu masuk surga, dimulailah hisab terhadap manusia lainnya.”

KHAZANAH REPUBLIKA


Macam-macam Adab Berbicara dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an mengajarkan beberapa cara berkomunikasi yang baik dengan orang lain, yaitu :

1. Gunakan perkataan yang lemah lembut.

فَقُل لَّهُمۡ قَوۡلٗا مَّيۡسُورٗا

“Maka katakanlah kepada mereka ucapan yang lemah lembut.” (QS.Al-Isra’:28)

فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلٗا لَّيِّنٗا

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut.” (QS.Tha-Ha:44)

2. Gunakan perkataan yang baik dan mulia.

وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا

“Dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS.Al-Isra’:23)

وَقُولُواْ لَهُمۡ قَوۡلٗا مَّعۡرُوفٗا

“Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (QS.An-Nisa’:5)

3. Gunakan perkataan yang benar.

وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا

“Dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS.Al-Ahzab:70)

4. Gunakan perkataan yang jelas.

وَقُل لَّهُمۡ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ قَوۡلَۢا بَلِيغٗا

“Dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya.” (QS.An-Nisa’:63)

Itulah beberapa ayat tentang komunikasi dengan orang lain dalam Al-Qur’an.

Semoga bermanfaat.

KHAZANAH ALQURAN

Akhir Cerita Orang-Orang yang Beriman

Sebelumnya telah kita sebutkan bahwa akhir cerita manusia bergantung pada bagaimana ia memandang dunia. Bila ia memandang dunia adalah segalanya, maka ia akan mengejarnya dengan menghalalkan segala cara.

Namun apabila ia memandang dunia sebagai tempat transit saja, maka ia akan mengejar dunia sekedarnya saja dan fokus untuk membangun akhiratnya.

Pertanyaan kita hari ini, bagaimana akhir cerita dari orang-orang beriman ?

Mari kita simak ayat-ayat berikut ini :

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan..”

(1) Yakni orang-orang yang memandang dunia hanya sebuah halte tempat pemberhentian saja, sementara akhirat adalah tujuan terakhir yang sebenarnya. Mereka juga meyakini bahwa dunia adalah ladang, sementara akhirat adalah tempat memanennya. Keyakinan ini mendorong mereka untuk menguatkan keimanan dan menabung amal kebaikan sebanyak-banyaknya. Inilah orang-orang yang hatinya telah di bukakan oleh Allah Swt untuk setiap kebaikan.

يَهۡدِيهِمۡ رَبُّهُم بِإِيمَٰنِهِمۡۖ

“..niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya..”

(2). Ketika keimanan tumbuh di akal manusia dan menyatu dalam hati mereka, maka keimanan itu bagai cahaya yang akan menerangi jalan kehidupannya. Cahaya itu akan selalu membimbing untuk melakukan amal kebaikan dan menjauhi segala keburukan.

Lalu bagaimana akhir cerita dari orang-orang beriman ini ? Apa yang akan mereka dapatkan ?

تَجۡرِي مِن تَحۡتِهِمُ ٱلۡأَنۡهَٰرُ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ

“..mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS.Yunus:9)

(3). Mereka yang berbuat kebaikan dan beriman kepada Allah, serta istiqomah di jalan kebenaran, maka tentu akhir cerita hidup mereka adalah Surga.

Dan bagaimana nasib mereka di Surga ?

دَعۡوَىٰهُمۡ فِيهَا سُبۡحَٰنَكَ ٱللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمۡ فِيهَا سَلَٰمٞۚ وَءَاخِرُ دَعۡوَىٰهُمۡ أَنِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

Doa mereka di dalamnya ialah, “Subhanakallahumma” (Mahasuci Engkau, ya Tuhan kami),

dan salam penghormatan mereka ialah, “Salam” (salam sejahtera).

Dan penutup doa mereka ialah, “Al-Hamdu lillahi Rabbil ‘alamin” (segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam) (QS.Yunus:10)

Mereka benar-benar merasakan keagungan Allah Swt di Surga. Semua kenikmatan yang ia lihat di dunia, semuanya terasa sangat kecil di banding apa yang mereka saksikan di akhirat. Maka sekarang waktunya mereka merasakan kenikmatan yang belum pernah di lihat mata, belum pernah di dengar telinga dan belum pernah terpikirkan di benak siapapun juga.

Dan lebih dari itu semua, mereka memperoleh kenikmatan yang terbesar yaitu kerelaan Allah Swt. Seperti yang di sebutkan dalam sebuah ayat :

وَرِضۡوَٰنٌ مِّنَ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ

“Dan keridhaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.” (QS.At-Taubah:72)

Semoga bermanfaat..

KHAZANAH ALQURAN

Kenangan Rasulullah atas Cinta Pertamanya yang tak Terlupa

Rasulullah Muhammad SAW sangat mencintai Khadijah cinta pertama.

Dengan cinta, hati bisa tentram. Dan Nabi Muhammad SAW pun mencontohkan bagaimana mengelola cinta dapat melembutkan hubungan, atas cinta pertamanya kepada Sayyidah Khadijah pun beliau utarakan kenangannya.

Nabi sangat menghargai istri pertamanya itu, cinta pertama Nabi. Dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad karya Prof Quraish Shihab dijelaskan, Nabi kerap menyebut-nyebut kenangannya tentang Sayyidah Khadijah ketika istri pertamanya itu meninggal dunia. Nabi memberikan pujian kepada beliau yang cukup sering hingga membuat Aisyah istrinya cemburu.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا ذكر خديجة أثنى عليها فأحسن الثناء قالت: فغرت يوماً فقلت ما أكثر ما تذكرها حمراء الشدق قد أبدلك الله عز وجل بها خيراً منها قال: ما أبدلني الله عز وجل خيراً منها قد آمنت بي إذ كفر بي الناس وصدقتني إذ كذبني الناس وواستني بمالها إذ حرمني الناس ورزقني الله عز وجل ولدها إذ حرمني أولاد النساء

Aisyah berkata: “Apa yang engkau ingat dari seorang wanita tua dari kelompok wanita-wanita tua suku Quraisy yang kedua bibirnya putih dan telah dilewatkan masa? Allah SWT pun telah menggantikan untukmu yang lebih baik darinya.” 

Mendengar hal itu, Nabi pun menjawab: “Allah tidak pernah menggantinya dengan yang lebih baik untukku. Sungguh ia (Khadijah) beriman kepadaku pada saat orang-orang kufur kepadaku, mempercayaiku pada saat orang-orang mendustakanku, mempekerjakanku dengan hartanya ketika orang-orang mencegahnya, dan memberikan anak-anaknya kepadaku (memberikan keturunan) ketika istri-istri yang lain tidak memberikannya.” 

Kenangan Nabi kepada Sayyidah Khadijah pun diungkapkannya melalui tindakan. Nabi pernah menyembelih kambing dengan maksud dan tujuan sedekah bagi Sayyidah Khadijah. Potongan daging kambing tersebut kemudian dibagi-bagikan sebagai hadiah kepada teman-teman Sayyidah Khadijah.

KHAZANAH REPUBLIKA


Shalat, Kewajiban Seluruh Nabi (Bag. 1)

Termasuk yang menunjukkan agungnya kedudukan shalat adalah kewajiban shalat tersebut yang berlaku kepada seluruh Nabi ‘alaihimush shalaatu was salaam. Juga berita yang menunjukkan betapa seluruh Nabi tersebut mengagungkan ibadah shalat. Terdapat banyak dalil yang menguatkan dan menunjukkan hal tersebut dalam Al-Qur’an Al-Karim.

Kisah Nabi Yunus ‘alahis salaam

Allah Ta’ala berfirman ketika beliau dimakan ikan,

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنْ الْمُسَبِّحِينَ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. Ash-Shaaffat [37]: 143-144)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

“Termasuk orang-orang yang mendirikan shalat.”

Demikian juga semisal penafsiran tersebut dari Sa’id bin Jubair, Qatadah, dan lain-lain. (Tafsir Ath-Thabari, 21: 109)

Kisah Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimus salaam

Ketika beliau meninggalkan Isma’il ‘alaihis salaam di sebuah lembah yang tidak ada seorang manusia lain di sana. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah Ta’ala dengan mengatakan,

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat.” (QS. Ibrahim [14]: 37)

Dan beliau tidak menyebutkan amalan lain selain shalat. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada amalan yang lebih afdhal dibandingkan shalat, juga tidak ada amalan yang sebanding dengannya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadah, dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.’” (QS. Al-Hajj [22]: 26)

Allah Ta’ala juga menyebutkan bahwa di antara doa beliau adalah,

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim [14]: 40)

Adapun Nabi Isma’il ‘alaihis salaam, Allah Ta’ala berfirman menceritakan kondisi beliau,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولاً نَّبِيّاً وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيّاً

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat. Dan dia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.” (QS. Maryam [19]: 54-55)

Kisah Nabi Ishaq ‘alaihis salaam dan keturunannya

Allah Ta’ala berfirman,

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلّاً جَعَلْنَا صَالِحِينَ وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ

“Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka agar mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 72-73)

Kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salaam

Allah Ta’ala menceritakan kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salaam, ketika beliau melarang kaumnya dari beribadah kepada selain Allah Ta’ala dan juga melarang mereka melakukan kecurangan dalam takaran dan timbangan,

قَالُواْ يَا شُعَيْبُ أَصَلاَتُكَ تَأْمُرُكَ أَن نَّتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَن نَّفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاء إِنَّكَ لَأَنتَ الْحَلِيمُ الرَّشِيدُ

“Mereka berkata, ‘Hai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.’” (QS. Huud [11]: 87)

Hal ini menunjukkan bahwa kaum Nabi Syu’aib tidak melihat Nabi Syu’aib mengagungkan sesuatu melebihi pengagungan terhadap ibadah shalat.

Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini,

“Shalat terus-menerus disyariatkan atas para Nabi terdahulu dan shalat merupakan amal yang paling utama. Sampai-sampai tertanam dalam diri orang kafir tentang keutamaan dibandingkan amal-amal yang lain. Bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, dan shalat merupakan timbangan bagi iman dan syariat. Dengan mendirikan shalat, sempurnalah kondisi seseorang, dan dengan tidak mendirikan shalat, maka cacatlah kondisi agamanya.”

Kisah Nabi Musa ‘alaihis salaam

Allah Ta’ala mengajak Nabi Musa berbicara secara langsung. Dan perkara yang pertama kali diwajibkan kepada Nabi Musa setelah Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Musa beribadah kepada-Nya adalah kewajiban shalat. Allah Ta’ala berkata secara langsung kepada Nabi Musa tanpa ada penerjemah,

فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaaha [20]: 13-14)

Hal ini menunjukkan tingginya kedudukan shalat dibandingkan seluruh amal ibadah yang lain. Karena Allah Ta’ala tidaklah memulai pembicaraan untuk menyebutkan kewajiban suatu ibadah, kecuali menyebutkan ibadah shalat.

Kemudian di antara yang diperintahkan oleh Nabi Musa ‘alaihis salaam kepada kaumnya Bani Israil setelah perintah agar mereka beriman adalah perintah untuk mendirikan shalat. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتاً وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, ‘Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah shalat, serta gembirakanlah orang-orang yang beriman.’” (QS. Yunus [10]: 87)

[Bersambung]

***

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Khutbah Jum’at Sebuah Kalimat yang Berharga

إن الحمد لله، نحمدُه ونستعينُه ونستهديه وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، ونعوذُ باللهِ من شرورِ أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا، من يهدِه الله فلا مضلَّ له، ومن يضلِلْه فلا هادي له، وأشهدُ أنْ لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له، وأشهدُ أن محمداً عبده ورسوله. أما بعد:
فيا عباد الله، إني أًوصي نفسي وإياكم بتقوى الله، فقد فاز المتقون الموحدون وخاب المجرمون الفاسقون
فقد قال الله تعالى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
أما بعد:
فإن أحسن الكلام كلام الله، وخيرَ الهدى هدى محمد صلى الله عليه وسلم، وشرَّ الأمورِ محدثاتُها، وكلَّ محدثة بدعةٌ، وكلَّ بدعة ضلالةٌ، وكلَّ ضلالة في النار

Suatu hari seorang sahabat yang bernama Sufyan bin Abdillah ats – tsaqafy mendatangi rasulullah ﷺ untuk bertanya tentang perkara agama, beliau berkata

يَا رسول الله، قُلْ لِي فِي الإِسْلَامِ قَوْلًا، لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أحدًا بَعْدَك

“Ya rasulullah, sampaikanlah kepadaku sebuah perkataan yang tidak perlu lagi aku tanyakan kepada orang lain.”
Mendengar pertanyaan tersebut, rasulullah ﷺ pun bersabda:

قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ، ثُمَّ اسْتَقِمْ

“Katakanlah : aku beriman kepada Allah ﷻ, kemudian istqamahlah.”
(HR. Muslim).

Kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah.
Hadits ini menunjukkan kepada kita betapa bersemangatnya seorang sahabat nabi ﷺ untuk mengetahui bagaimana cara meningkatkan kualitas keislamannya, beliau bertanya tentang suatu perkara yang jelas, gamblang, bisa langsung beliau amalkan tanpa bertanya lagi kepada orang lain. Beliau berkata:

قولًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ

Katakanlah kepadaku sebuah perkataan yang ringkas tapi mengumpulkan kemanfaatan di dunia dan akhirat. Yang bisa aku hafal dan amalkan tanpa harus butuh bertanya kepada orang lain.

Rasulullah ﷺ pun langsung memberikan beliau sebuah kalimat ringkas, namun mengandung banyak mutiara hikmah, sebuah perkataan yang akan menghantarkan orang tersebut kepada kesuksesan di dunia dan akhirat. Beliau ﷺ bersabda:

قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ، ثُمَّ اسْتَقِمْ

Katakanlah : aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah.

Maksud dari hadits di atas adalah bukan sekedar mengucapkan iman kepada Allah, namun, perkataan tersebut harus didasari oleh keyakinan dalam hati tanpa ada keraguan sedikitpun dan perkataan tersebut melazimkan adanya amalan anggota tubuh sebagai bukti kejujuran kata iman.
Karena iman mencakup keyakinan dalam hati, ucapan dengan lisan dan amalan dengan anggota tubuh sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama ahlussunnah.

Sebagai contoh, orang yang meyakini kebenaran islam tapi belum mengucapkan perkataan keimanan, belum mengucapkan dua kalimat syahadat, maka belum sah keimanannya. Sehingga jika ada orang yang ingin memeluk agama islam, tidak boleh kita tunda dirinya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat walaupun sebentar, karena kita tidak tahu kapan maut akan mendatanginya.

Jika dia mati sebelum mengucapkan dua kalimat syahadat, bagaimana hukumnya?
Maka orang tersebut tetap dihukumi sebagai orang kafir di dunia, sedangkan di akhirat dikembalikan urusannya kepada Allah ﷻ.

Begitu pula amalan, juga merupakan syarat / rukun keimanan, seseorang yang beriman kepada Allah ﷻ tentu akan beribadah kepada Allah, mentaatiNya dan menjauhi laranganNya.

Kaum Muslimin yang semoga diberikan keberkahan.

Lalu rasulullah ﷺ bersabda:

ثُمَّ اسْتَقِمْ

Sabda beliau ini menunjukkan keutamaan istiqamah dalam islam. Apa yang dimaksud dengan istiqamah?
Istiqamah yaitu: selalu bersabar untuk berada di atas jalan agama yang qawim/lurus ini. Sebagaimana firman Allah ﷻ:

واعبد ربك حتى يأتيك اليقين

“dan sembahlah Rabbmu sampai kematian mendatangimu”

Kalau ini yang difirmankan Allah ﷻ kepada rasulullah ﷺ untuk selalu istiqamah dalam ketaatan dan beribadah kepada Allah ﷻ, lalu bagaimana dengan orang selain rasulullah ﷺ?.

Oleh karenanya kaum muslimin, jadilah orang yang beriman kepada Allah ﷻ dan pertahankan keimanan tersebut sampai datangnya kematian.


Khutbah Kedua

الحمد لله رب العالمين، وبه نستعين على أمور الدنيا والدين، أشهد أن لا إلا الله إله الأولين والآخرين، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمد عبده وورسوله المبعوث رحمة للعالمين.
صلوات ربي وسلامه عليه وعلى آله وصحبه أجمعين

Kaum muslimin yang semoga dimuliakan Allah ﷻ.
Istiqamah di atas jalan ketaatan merupakan kunci untuk medapatkan ketenangan dan kebahagiaan di dunia dan mendapatkan surga Allah nanti di akhirat.
Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang – orang yang berkata : Rabb kami Adalah Allah, kemudian mereka istiqamah, para malaikat akan turun dan berkata kepada mereka: “janganlah kalian takut lagi bersedih, dan terimalah kabar gembira yang telah dijanjikan kepada kalian berupa surga”.

Oleh karenanya para ulama berkata:

أَعْظَمُ الكَرَامَةِ لُزُوْمُ الاِسْتِقَامَة

“Karamah teragung (yang Allah berikan kepada hamba) adalah berupa selalu istiqamah (dalam ketaatan)”.

أَيُّهَا المؤمِنُوْن صَلُّوْا عَلَى نَبِيِّكُمْ فَقَدْ أَمَرَكُمُ الله بِهِ فَقَالَ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتْ

اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

BIMBINGAN ISLAM