Sabar dan Syukur

Penyandang predikat sabar dan syukur memiliki daya pikir yang kuat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur. (QS Lukman [31]: 31)

Sabar terdiri dari huruf shad, ba dan ra,  yang secara bahasa adalah masdar dari fi’il madli, shabara, yang berarti ‘menahan’. Menurut Rasyid Ridho, sabar adalah menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan dengan perasaan rida, ikhtiar, dan penyerahan diri. Dalam maknanya yang lebih luas, sabar mencakup tiga hal, yakni sabar melaksanakan perintah Allah, sabar menjauhi dosa atau maksiat, dan sabar menghadapi kesulitan dan cobaan.

Sedangkan, syukur (al-Syukr) adalah bentuk masdar dari kata kerja lampau syakara. Maknanya adalah mengakui nikmat dan menampakkannya. Lawannya adalah al-Kufr, melupakan nikmat dan menyembunyikannya. Hakikat syukur adalah sikap positif dalam menghadapi nikmat yang mencerminkan hubungan timbal balik antara penerima dan pemberi nikmat. Dalam pandangan al-Ghazali, syukur merupakan salah satu maqam (tempat) untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Ketika menghadapi berbagai macam musibah, seperti banjir, tanah longsong, dan gempa, kita diperintahkan untuk bersabar dalam menghadapinya seraya mengucapkan, Innalillahi wainna ilaihi rajiun.” (segala sesuatu datangnya dari Allah, dan kita semua akan kembali kepada-Nya). Tentunya, ini disertai dengan tindakan nyata, yakni segera bangkit kembali untuk memulai kehidupan dan tak berputus asa.

 Sebab, dengan kesabaran itu, kita akan dicirikan sebagai orang yang al-mukhbitin atau tunduk dan taat kepada Allah (QS [103]: 34-35), al-Mukhlisin atau orang yang berbuat baik (QS [11]: 115), ulu al-albab atau orang yang arif, dan al-Muttaqin atau ciri orang yang bertakwa (QS [3]: 15-17).

Sebaliknya, jika tidak mengalami musibah tersebut, kita diperintahkan untuk bersyukur dengan mengucap, Alhamdulillahi rabbil alamiin.” (segala puji bagi Allah yang telah menciptakan alam semesta). Rasa syukur itu tidak hanya sebatas ucapan, tetapi juga dalam bentuk tindakkan nyata, yakni dengan membantu saudara-suadara kita yang terkena musibah, baik dalam bentuk materi maupun bukan materi.  Sesungguhnya, musibah dapat menimpa siapapun, kapanpun, dan di mana pun.

Kemampuan yang dimiliki oleh orang yang memiliki predikat sabar dan syukur tidak terbatas dalam memahami tanda-tanda yang dapat diamati dan dirasakan, atau yang bersifat empiris (qauniyah). Namun, mereka juga dapat memahami tanda-tanda dalam bentuk pemberitaan firman Tuhan, seperti termaktub dalam kitab suci, atau ayat qauliyah. 

Dengan mengacu kepada beberapa tanda dalam Alquran, penyandang predikat sabar dan syukur memiliki daya pikir yang kuat, mampu berfikir secara empiris maupun rasional, serta memiliki kepekaan rasa yang tinggi terhadap berbagai hal yang menyenangkan ataupun menyusahkan. Kemampuan tersebut mengantarkan mereka menjadi hamba yang beriman kepada Allah SWT. Wallahu A’lam.

HIKMAH REPUBLIKA


Anak-Anak yang Terlepas

Mendidik anak adalah amanah terbesar yang Allah berikan kepada orang tua.

Dua pekan lalu, di tengah aksi unjuk rasa pelajar di Jakarta, ada kejadian yang mengharukan. Seorang ibu seketika tampil dengan pengeras suara untuk menenangkan massa yang anarkistis dan memanggil nama anaknya.

“Nak, kamu anak sekolah. Belajar, belajar, itu tugas kalian. Orang tua kalian menunggu di rumah. Kamu anak saleh, tolong hentikan, untuk apa kamu lakukan ini. Kasihan orang tua kalian, pasti mereka sangat waswas. Anakku Faiz, tolong pulang ya sayang…” Itulah ungkapan hati seorang ibu sambil menangis setelah mengetahui anaknya ikut dalam aksi tersebut.

Kejadian di atas menyadarkan bahwa ada masalah dalam pendidikan anak-anak kita. Paling tidak, ada tiga hal yang patut dievaluasi dan dicari solusi.

Pertama, sedemikian rapuhnya relasi dan komunikasi antara orang tua dan anak di rumah, sehingga tidak merasa perlu minta izin untuk melakukan sesuatu. Sekolah Pertama (al-madrasah al-uulaa) adalah keluarga, di mana ayah dan ibu menjadi guru utama. Dalam keluarga nilai-nilai keimanan (akidah), ketaatan (ibadah), dan kebaikan (akhlak) ditanam dan ditumbuhkan. Adakah anak-anak kita kehilangan adab atau orang tua yang belum sungguhsungguh mengajarkannya?

Kedua, sedemikian renggangnya hubungan intelektual dan emosional antara guru dan murid sehingga begitu mudah tidak hadir di sekolah. Sekolah Kedua (al-madrasah ats-tsaaniyah) adalah lembaga pendidikan formal, di mana guru menjadi orang tuanya. Ketika murid meninggalkan pembelajaran, rasa hormat mereka telah sirna. Pendidikan adab dalam keluarga lalu dipupuk di sekolah, semestinya membuat anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang berkeadaban.

Ketiga, sedemikian kuatnya pengaruh media sosial dan teman sebaya sehingga mementahkan peran orang tua dan guru. Sekolah Ketiga (al-madrasah ats-tsaalitsah) adalah media. Kejadian di atas menyatakan, ada kekuatan besar yang sangat menentukan pertumbuhan anak-anak kita, yakni media sosial (medsos). Oleh karenanya, baik orang tua maupun guru harus menguatkan dan mengeratkan kembali jalinan kasih sayang dengan anak-anaknya.

Dr Abdul Aziz Bin Fauzan dalam buku “Aturan Islam tentang Bergaul dengan Sesama” (2010), mengatakan, hubungan antara orang tua dan anak adalah resiprokal dan saling menopang. Setiap kali anak merasakan adanya perhatian orang tua, ia akan semakin berbakti, tulus, dan terdorong untuk memberikan hak-haknya. Adapun sebaliknya, jika yang dirasakan adalah kurang kasih sayang, kurang perhatian, dan tidak peduli dengan pendidikannya, relasi akan menjadi kaku, dingin, dan hampa.

Mendidik anak adalah amanah terbesar yang Allah berikan kepada orang tua. (QS 8:27-28). Karena itu pula, orang tua diperintahkan menjaga keluarganya dari siksa neraka. (QS.66:6). Sejatinya, neraka bukan hanya api yang membara di akhirat nanti, melainkan juga segala tindakan atau keadaan yang menyengsarakan hidup di dunia. Oleh karena itu, Nabi SAW mengingatkan akan arti kepemim pinan dalam keluarga, yang kelak akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT. (HR Bukhari).

Akhirnya, jika hari ini anak-anak terlepas dari geng gaman karena kuatnya pengaruh media sosial dan ling kungan, boleh jadi suatu hari mereka akan terhempas dari pelukan. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain kecuali menguatkan pendidikan adab, serta meningkatkan perha tian dan pengawasan dalam pergaulannya. Insya Allah, anak-anak kita tidak akan terlepas lagi, aamiin. Allahu a’lam bish-shawab. 

Oleh: Hasan Basri Tanjunh

KHAZANAH REPUBLIKA


Saat Anakku Bilang “Aku Nggak Mau Jadi Orang Islam”

“Ayah, aku nggak mau jadi orang Islam.” Rasanya bagai disambar geledek saat aku mendengar kalimat itu keluar dari lisan anakku. Tapi aku menahan diri untuk tidak berkomentar dulu. Aku tak mau menanggapinya dengan emosi.

“Ayah sedang nyetir, Sayang. Nanti saja ya kita bicara lagi,” istriku berusaha mengambil alih. Agar ada jeda. Kami memang sudah punya kesepakatan, jika kami belum siap memberikan jawaban atau tanggapan atas pertanyaan anak-anak, lebih kami kami tidak berkomentar dulu. Sampai kami siap dengan jawabannya.

“Nanti malam ya, Sayang,” pintaku.

“Nggak mau. Jam 4 sore saja.”

“Kalau jam 4 sore, mungkin kita baru nyampai rumah. Malam saja ya Sayang,” istriku menjelaskan.

“Ya udah, nanti malam.”

Sesampainya di rumah, anakku minta waktunya dimajukan. “Aku maunya habis Maghrib. Kita kan tibanya lebih awal.”

Segera aku dan istri masuk kamar. Kami mendiskusikan jawaban apa yang terbaik. Semua kemungkinan pertanyaan kami siapkan jawabannya. Jika nanti terkait tauhid, bagaimana jawabannya. Meskipun sejak kecil kami telah membiasakan pendidikan tauhid, bisa saja muncul pertanyaan itu. Mungkin karena ia pernah mendengar sesuatu dari teman, membaca dari buku atau tontonan yang kurang bijak.

Jika nanti ia ‘protes’ terkait shalat, puasa atau ibadah lainnya, kami juga menyiapkan jawabannya. Bahkan bagaimana argumentasinya untuk anak seusia dia. Pun jika nanti ia ‘protes’ terkait ajaran Islam yang lain, kami berusaha memprediksi semua pertanyaan dan menyiapkan jawabannya.

Ba’da Maghrib, sepulang dari masjid, aku dan istri menemuinya. Bismillah, kami siap.

“Nak, silakan sekarang kita bicara. Kita lanjutkan ngobrol di mobil tadi.”

“Aku nggak mau jadi orang Islam.” Kalimat yang sama. Persis. Masih agak kaget, tapi aku berusaha lebih tenang. Toh kami sudah menyiapkan penjelasannya jika ada ajaran Islam yang ia persoalkan.

“Mengapa kamu nggak mau jadi orang Islam?” Kami nggak mau menghakimi, bahkan menyimpulkan, sebelum tahu alasannya.

“Soalnya aku nggak boleh makan Kinder Joy.” Kinder Joy? Ya Allah… kami sudah menyiapkan demikian banyak jawaban untuk sekian banyak kemungkinan, ternyata alasannya hanya Kinder Joy. Mungkin ini karena standar orang dewasa terlalu serius, sementara anak-anak punya standarnya sendiri.

“Kenapa dengan Kinder Joy?”

“Kan Kinder Joy nggak ada label halalnya. Sedangkan orang Islam nggak boleh makan yang nggak halal,” jawabnya polos.

Ya Allah… ternyata sesederhana itu. Jawaban itu juga membuat aku bersyukur, selama ini value dalam keluarga kami demikian menancap di hati. Kami memang mengajarkan, kalau beli makanan kemasan, harus diperiksa ada label halal atau tidak. Sebab sebagai pemeluk Islam, harus memastikan makanan yang dimakannya halal. Sementara Kinder Joy waktu itu belum ada label halalnya.

Kini kami berpikir, bagaimana mengatasi masalah sederhana ini.

“Adik mau Kinder Joy, suka mainannya atau mau makan coklatnya?” tanya istriku.

“Aku kepingin mainannya. Tapi kalau coklatnya boleh dimakan, aku juga mau.”

“Baiklah. Kalau begitu, nanti Ayah belikan mainan seperti Kinder Joy.”

“Memang ada, Ayah?”

“Ada. Di pasar Kapasan.”

Besoknya, saat mendapat KinderJoyKinderJoy-an itu, ia memamerkan kepada teman-temannya. “Nih, aku juga punya. Harganya jauh lebih murah.”

Beberapa pekan kemudian, sepulang sekolah, wajahnya tampak sumringah.

“Ayaahh… ada kabar gembira!”

“Kabar gembira apa?”

“Sekarang Kinder Joy sudah ada label halalnya.” Aduh. Ini persoalan baru. Bukan soal lain, tapi soal harganya.

***

Kisah ini diadaptasi dari kisah nyata yang dialami Ayah Adri Suyanto, motivator yang dikenal dengan seminar Ngguyu Oleh Ilmu.

Tidak sedikit orang tua yang kadang lupa, bahwa anak memiliki standarnya sendiri. Yang perlu dilakukan orang tua bukan mematikan daya kritis anak, tetapi bagaimana mendampinginya dan mengarahkan pada jalur yang benar.

Biasakan anak mendapatkan jawaban logis dan latih mereka untuk berpendapat. Jangan menghakimi, namun tanyakan mengapa ketika anak bersikap atau berkata yang tidak sesuai harapan kita. Insya Allah, anak akan tumbuh menjadi anak yang taat. Yang selalu mentaati Allah kemudian mentaati aturan yang telah disepakati bersama.

[BersamaDakwah]


Hati Siapakah yang Marah ketika Melihat Kesyirikan? (Bag. 4)

Baca pembahasan sebelumnya Hati Siapakah yang Marah ketika Melihat Kesyirikan? (Bag. 3)

Kondisi Kaum Muslimin Saat Ini

Realita yang kita temukan pada kaum muslimin saat ini adalah mereka belum memahami aqidah al-wala’ wal bara’  ini. Kita bisa melihat bersama, ketika hak Allah Ta’ala yang dilecehkan, dengan tidak menujukan ibadah hanya kepada-Nya saja, kubur wali disembah, kotoran kerbau atau nasi tumpeng dijadikan rebutan untuk dimintai berkahnya, dukun dan paranormal ramai-ramai beriklan di televisi dan majalah-majalah, maka hati siapakah yang miris? Hati siapakah yang menjadi benci, marah, dan murka? Siapakah yang berteriak lantang untuk mengingkari itu semua? Demikianlah, kemarahan dan kebencian hati kita ketika melihat kesyirikan mungkin masih kalah jauh daripada ketika kita melihat ribuan orang dibantai di Palestina atau kejahatan-kejahatan mengerikan lainnya. Kebencian kita terhadap pelaku kemusyrikan mungkin masih kalah jauh daripada kebencian kita terhadap penjudi, perampok, atau pembunuh. Apakah kita menyadari hal ini?

Bahkan, yang kita dapati justru dukungan dan sambutan mereka yang meriah terhadap pelecehan Allah Ta’ala itu dengan ikut menonton dan menikmatinya melalui acara-acara di televisi, membaca iklan-iklan atau liputan berita tentang kesyirikan itu di koran dan majalah, bahkan ikut serta memeriahkan acaranya. Masyarakat pun merasa enjoy dengan kejahatan syirik itu dan menganggapnya sebagai hal yang biasa-biasa saja. Atau, mereka justru ikut mengunjungi dan meramaikan tempat-tempat kesyirikan itu. Buktinya, masyarakat kita tidak segan-segan mengeluarkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit untuk berwisata ke tempat-tempat kesyirikan dan menganggapnya sebagai aktivitas rutin biasa dalam kehidupan mereka. Sehingga kita lihat makam-makam dan petilasan-petilasan para wali penuh disesaki pengunjung, candi-candi peninggalan sejarah masa lampau berdiri dengan megahnya dengan dilengkapi fasilitas yang lengkap, serta masjid-masjid yang menjadi satu dengan makam orang shalih ramai dipenuhi peziarah. 

Sikap Bertolak Belakang dengan Aqidah Al-wala’ Wal  bara’

Bukannya membenci, memusuhi, mengingkari, dan menjauhkan diri dari tempat-tempat kesyirikan dan pelakunya, mereka justru ikut meramaikan dan memelihara kelestarian syirik tersebut. Menurut mereka, inilah bentuk melestarikan warisan budaya bangsa yang luhur dan menyelamatkannya dari kepunahan. Sehingga, mereka justru menjuluki orang-orang yang membenci dan memusuhinya sebagai “orang yang tidak tahu adat” atau sebagai “orang yang tidak mau menghargai budaya bangsa dan warisan leluhur”.

 Alasan “melestarikan adat/budaya” atau “melestarikan warisan leluhur” untuk ”melestarikan kesyirikan” merupakan alasan yang dipakai oleh umat-umat pada zaman dahulu untuk membela kesyirikan mereka. Sebagaimana perkataan kaum Nuh ‘alaihis salaam, ketika mereka diajak untuk mentauhidkan Allah Ta’ala, 

فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُرِيدُ أَنْ يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَنْزَلَ مَلَائِكَةً مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ

“Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab, ’Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu’.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 24)

Dalam ayat ini, mereka melawan dakwah Nuh’alaihis salaam dengan mengatakan bahwa ajaran nenek moyangnya itulah ajaran yang benar. Sedangkan ajaran Nuh adalah ajaran yang batil karena menyelisihi ajaran nenek moyang mereka.

Menjadikan Budaya Nenek Moyang Sebagai Alasan

Adapun kaum kafir Quraisy, mereka mengatakan,

مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي الْمِلَّةِ الْآخِرَةِ إِنْ هَذَا إِلَّا اخْتِلَاقٌ

Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir. Ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan.” (QS. Shaad [38]: 7)

Kaum kafir Quraisy menyebut ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sebuah dusta dan kebohongan karena menyelisihi budaya nenek moyang mereka, yaitu budaya menyembah berhala. Mereka tidak merujuk kepada agama pendahulu mereka, yaitu Ibrahim ‘alaihis salaam, akan tetapi justru merujuk kepada nenek moyang mereka yang lebih dekat, yaitu nenek moyang mereka di Mekah dari kaum kafir Quraisy. [1]

Pertanyaannya, apakah kita juga akan menggunakan alasan yang sama untuk melestarikan kesyirikan di negeri kita ini? Apakah kita juga akan menggunakan alasan yang sama untuk mengunjungi candi-candi, makam para wali, petilasan-petilasan, tempat-tempat keramat, dan tempat-tempat kesyirikan lainnya? Apakah kita juga akan menggunakan alasan yang sama ketika kita ikut menghadiri dan memeriahkan acara kirab Kerbau Kyai Slamet, pemandian pusaka-pusaka kerajaan, atau acara sedekah laut yang marak diadakan setiap tanggal 1 Suro? Apakah kita masih menginginkan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab? Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari kesyirikan dan para pelakunya.

[Selesai]

***

Penulis: M. Saifudin Hakim

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/51975-marah-ketika-melihat-kesyirikan-bag-4.html

Allah Sangat Dekat: Yakinlah, Jangan Resah-Gelisah

DI tengah ayat-ayat shiyam yaitu ayat 183-187 surah Al-Baqarah, ayat 186 menyatakan:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (wahai Rasul) tentang Daku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Sepintas lalu ayat ini seakan-akan tidak ada hubungannya dengan puasa; keterangannya seperti terselip di antara berita-berita lain. Tentu saja Allah tidak akan khilaf menempatkan ayat-ayat-Nya. Ayat ini diletakkan di tengah-tengah ayat tentang puasa justru karena berkenaan dengan orang-orang yang menunaikan puasa, yaitu orang-orang yang dibicarakan pada ayat sebelum dan sesudahnya.

Kita perlu memahami makna ayat tersebut seperti ini: “Apabila hamba-hamba-Ku yang sedang berpuasa Ramadan ini bertanya kepadamu wahai Rasul, tentang Daku, jawablah bahwa Aku sungguh sangat dekat kepada mereka!”.

Allah sangat dekat berarti perlindungan-Nya sangat dekat, dan pertolongan-Nya sangat dekat, dan pemberian-Nya sangat dekat. Maka orang-orang yang yakin akan pernyataan ini tidak akan resah dan gelisah.

Dengan pertolongan Allah tidak akan ada bahaya yang tidak terbentengi, tidak ada kesulitan yang tak teratasi, tidak ada kekurangan yang tak terisi. Dekatnya Allah berarti pula dekatnya petunjuk kepada kebenaran, sehingga orang yang beriman dapat dengan mudah dan tenang tenteram meniti jalan kebenaran yang menyelamat-kan hidupnya di dunia, dan mengantarnya menuju kebahagiaan abadi di alam akhirat kelak.

Demikianlah firman Allah pada pangkal ayat yang kita baca tadi menyentuh hati sampai ke hulu dengan cinta kasih yang agung tak berbatas. Allah senantiasa dekat kepada hamba-Nya, namun banyak hamba yang tidak menyadarinya. Maka hanya orang-orang yang berusaha mendekatkan diri (antara lain dengan menunaikan puasa Ramadhan), yang menghayati betapa dekatnya Allah kepadanya.

Dalam sebuah hadits Qudsi Allah swt berfirman: “Idzaa taqorroba ilayyal abdu syibran taqorrobtu ilaihi dzirooan wa idzaa taqorroba ilayya dzirooan taqorrobtu minhu baaan wa idzaa ataa ilayya masy-yan ataituhu harwalatan apabila seorang hamba datang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta, dan jika dia mendekati-Ku sehasta Aku mendekat kepadanya sedepa, dan jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari”. (HR Bukhari dan Al-Thobbroni).

Alangkah mesra sikap Allah Swt kepada kita.[Sakib Machmud]

INILAH MOZAIK

‘Jangan Asal Pukul Istri Anda Bermodal Surah an-Nisa: 34’

Ayat ini tidak boleh dijadikan legitimasi berbuat kekerasan pada perempuan.

“Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan Tinggalkanlah mereka di tempat-tempat pembaringan serta pukullah mereka. Lalu jika mereka telah menaati kamu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar,” (QS an-Nisa [4]: 34). 

Ayat ini kerap disalahartikan sebagai alasan dibolehkannya tindakan kekerasan pada istri, nyatanya diperlukan kajian yang cukup mendalam untuk memahami makna dari ayat tersebut. Seperti yang dijelaskan Quraish Shihab dalam bukunya, Perempuan

Kesalahpahaman dapat muncul jika seseorang buta terhadap penggunaan kosa kata atau melepaskan pemahaman satu ayat dari penjelasan Nabi SAW. “Padahal keduanya mutlak diperlukan dalam memahami Alquran,” tulis Quraish Shihab.  

Menurut penjelasannya, kata nusyuz diambil dari kata yang berarti tempat yang tinggi. Sebagian ulama mengartikan nusyuz-nya seorang istri adalah kebencian istri kepada suaminya sambil menempatkan dirinya di atasnya, baik dengan membangkang perintah suami (yang tidak bertentangan dengan ajaran agama), sedangkan matanya berpaling pada lelaki lain.  

Sementara pakar lainnya memahami bahwa nusyuz bukan hanya dapat dilakukan istri, tapi juga suami. Suami yang dinamai nasyiz (orang yang melakukan nusyuz) adalah suami yang tidak memenuhi kewajibannya, seperti enggan memberi nafkah atau bersikap kasar. 

Sedangkan istri yang dinilai nasyizah adalah istri yang enggan dalam kewajiban agama, bepergian tanpa izin atau restu suami.  “Nusyuz juga diartikan sebagai bentuk pembangkangan yang lahir karena merasa lebih tinggi daripada pasangannya,” tulis Quraish Shihab. 

Persoalan yang sering dinilai dari penafsiran ayat di atas (QS an-Nisa: 34), adalah keberpihakan pada lelaki. Jika dinilai dari kata pukullah mereka (fadhribuhunna) sejatinya berasal dari kata memukul (dharaba) yang digunakan Alquran untuk pukulan yang keras maupun lemah lembut. 

Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan agar “Jangan memukul wajah dan jangan pula menyakiti.” Beliau juga bersabda, “Tidakkah kalian malu memukul istri kalian seperti memukul keledai?” 

Tuntunan peneguran atas sikap nusyuz dalam surat An-Nisa ayat 34 memiliki beberapa tahapan, yaitu dimulai dengan nasihat, meninggalkannya di tempat tidur (pisah ranjang), dan diakhiri dengan pukulan. Namun sikap nusyuz disini memang benar-benar telah melampaui batas dan perlu ditegur. 

Perlu disadari bahwa dalam kehidupan rumah tangga, tentu ada saja anggota keluarga yang tak mempan dengan teguran berupa nasihat, maka diperlukan cara lain agar mereka sadar atas kesalahannya. Namun perlu diingat bahwa pendidikan dalam hukuman tidak hanya ditujukan kepada istri tapi secara umum bagi siapa pun yang membangkang.

“Jangan pula berkata bahwa memukul dalam artian ini bukanlah pukulan yang mencederai atau menyakitkan,” tulis Quraish Shihab. 

Sementara itu, ulama besar Atha’ berpendapat bahwa suami tidak boleh memukul istrinya, paling tinggi hanya memarahinya. Ibnu al-Arabi berkata, “Pemahamannya (ulama Atha’) berdasar pada perkataan Nabi SAW kepada para suami yang memukul istrinya, beliau bersabda, “orang-orang terhormat tidak memukul istrinya.”


KHAZANAH REPUBLIKA

Alquran Bersumpah Atas Nama Dewi Pertiwi?

Oleh: Menachem Ali
, Dosen Philology di Universitas Airlangga

Saya baru saja memberikan tausiyah/ceramah kepada para jamaah berkaitan dengan tema: “Quran terjemah Bahasa Hindi dan Islam di Asia Tenggara.” Hasilnya mengagetkan, pada forum tanya jawab, ternyata banyak jamaah yang punya nama berbau Sanskrit: Indra, Brama, Wisnu, Surya. Mereka Muslim, dan mereka bertanya; apa perlu namanya diganti?

Saya menjawab dengan jawaban yang termaktub dalam Quran saja. Berpedoman pada Quran terjemahan bahasa Hindi (India) dan Quran terjemahan bahasa Benggali (Bangladesh), keduanya terbitan  ‘Negeri Salafi’ Saudi Arabia, saya mengatakan bahwa dalam Quran terjemahan bahasa Hindi dan Benggali, ternyata “petir” disebut “Indra”, “matahari” disebut “Surya”, “bulan” disebut “Candra”, maka ini bukan berarti nama para jamaah bernuansa syirik semua.

Ini juga bukan berarti penyembah dewa Indra (dewa Petir), penyembah dewa Surya (dewa Matahari), dan penyembah dewi Candra (dewi bulan). Istri saya juga bernama Dewi Utami, bukan berarti nama istri saya berbau kesyirikan, meski namanya DEWI. Semua itu sekedar makna generic alias etimologis, bukan bermakna teologis. Makna teologisnya sudah dibuang. Sama halnya, nama Qamarun, Syamsun dan lainnya.

Meskipun itu semua istilah Arab, bukan berarti yang empunya nama itu musyrik, karena hanya sekedar makna etimologis, bukan makna teologis. Bila dimaknai teologis hasilnya sama saja, penyembah dewi Al-Qamar (dewi Bulan), penyembah dewa Al-Syams (dewa Matahari). Misalnya, bukankah ada nama Arab tapi mengandung kesyirikan? Abdus Syams (hamba dewa Matahari). Ini musyrik. Sebaliknya, kalau namanya Syamsul ‘Arifin namanya ngak perlu diganti meskipun ada unsur Syams, tetapi bukan berarti penyembah dewa Al-Syams.

Dalam Quran terjemahan  bahasa Benggali (Bangladesh), Muslim Bangladesh kalau menyebut “bumi” juga menggunakan sebutan/nama “prthiwi.” Apakah mereka menyembah Dewi Prthiwi? Apakah Quran terjemahan Benggali terbitan lembaga kerajaan Saudi Arabia juga mengakui dan berkeyakinan adanya tuhan selain ALLAH yakni Dewi Prthiwi? Sebab والارض ( wal ardh ) diterjemahkan “demi Prthiwi.”

Apakah ulama Saudi mengajarkan kesyirikan karena bersumpah demi dewi Pertiwi? Tentu tidak. Silakan baca teks bahasa Benggali yang saya tunjuk pada gambar tersebut.

Hal ini penting dibahas karena sebelumnya ada wacana yang sudah viral dan membuat umat bingung. Saya memberikan solusi agar mereka tidak bingung dan resah sesuai dalil naqli dan ‘aqli. Ini menyebabkan kegaduhan bagi warga Muhammadiyah pada khususnya, dan umat Islam di Indonesia pada umumnya.

Wacana yang salah dan viral harus diluruskan dengan wacana pembanding dengan saling menyodorkan data yang lebih shahih dan valid. Wacana kalau dibiarkan liar tanpa ada wacana pembanding, pasti hal itu akan menimbulkan berbagi kegaduhan yang berkelanjutan di antara umat Islam. Biarlah kita semakin bijak dalam mewacanakan sesuatu di ruang publik secara ilmiah dan bertanggung jawab.

Silakan Anda baca sendiri teks Quran terjemahan Benggali (Bangladesh) terbitan Saudi Arabia tersebut. Teks sudah saya tunjuk dengan tangan saya sesuai gambar. Itu bukti shahih terhadap sebuah data yang berdalil. Apakah Anda akan mengatakan bahwa semua Muslim di Bangladesh menyembah dewa Surya dan dewi Candra serta dewi Pertiwi karena Quran terjamahan Benggali memakai istilah Surya, Prthiwi dan Candra?

Janganlah Anda fanatik dan kultus individu pada sesuatu tanpa dalil. Saya berhujjah memakai dalil dan data resmi dari teks terbitan lembaga Salafi yang diakui kredibiliasnya oleh para ulama kerajaan Saudi Arabia. Bagaimanapun, upaya pengalihbahasaan sebuah kitab, termasuk penerjemahan kitab suci Quran di Saudi Arabia tentu bukan sebuah pekerjaan perorangan. Hal tersebut merupakan sebuah proyek panjang sebuah tim ahli yang pakar bahasa Arab dan bahasa terjemahan.

Apalagi proses penerjemahan Quran memakai standar “tim ahli Saudi Arabia”. Tim Saudi tidak mungkin bekerja secara serampangan, dan tanpa melibatkan masyarakat pengguna bahasa sasaran, termasuk pengguna bahasa Benggali, dan pengguna bahasa Hindi.

Wacana pembanding yang saya tulis ini sangat urgen untuk meluruskan wacana sebelumnya yang telah viral. Bila wacana yang viral itu dibiarkan tanpa ada upaya kritik, maka dikhawatirkan akan menjadi fatwa/ rujukan umat “zaman now.” Fatwa populis ini berdampak pada upaya untuk “menghakimi” orang lain tanpa dasar, dan hanya berdasarkan pada asumsi tanpa landasan keilmuan yang terverifikasi validitas datanya. Bila fatwa populis itu hanya berkaitan dengan soal fiqh, misalnya sekedar bagaimana meluruskan tangan saat ber-i’tidal maka saya kira ini tidak ada masalah.

Namun, fatwa populis yang lagi viral tersebut menyentuh tataran aqidah, antara Tauhid dan Syirik. Apakah Anda bisa membayangkan, berapa juta orang bernama “SRI”, “PERTIWI”, “CANDRA”, “SUPARNO”, “SURYA”, “INDRA”, MITRA, yang akan dituduh sebagai “berbau” Hindu, dan akan dipersalahkan oleh para pengikut fatwa populis tersebut, terutama akibat “dosa orang tua” mereka dahulu yang telah memberi nama anak-anak mereka dengan nama dewa-dewi Hindu.

Itulah sebabnya, fatwa populis yang viral tersebut harus diluruskan karena sudah menyentuh soal aqidah, bukan sekedar perbedaan persoalan fiqh semata.

Mewacanakan sesuatu itu boleh saja, asal sesuai dengan bukti yang shahih dan berdalil sesuai standard yang jelas. Bagi saya, penerbitan Quran dari “tim Saudi Arabia” adalah kebenaran dalil yang tidak dapat ditolak oleh siapapun, termasuk para ustadz lulusan Saudi Arabia.

Semoga kita semakin arif dan bijaksana dalam mewacanakan sesuatu yang bernuansa keagamaan.

KHAZANAH REPUBLIKA



Pentingnya Sikap Ilmiah dalam Beragama

Agama Islam ini dibangun di atas ilmu. Beragama itu dengan ilmu, bukan dengan perasaan, bukan dengan sekedar “pendapat terbanyak”,  bukan dengan wangsit & mimpi, bukan juga dengan sekedar warisan adat turun-temurun.

Muhammad bin Sirin  berkata,

ﺇﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺩﻳﻦ ﻓﺎﻧﻈﺮﻭﺍ ﻋﻤﻦ ﺗﺄﺧﺬﻭﻥ ﺩﻳﻨﻜﻢ

”Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian.” [Muqaddimah Shahih Muslim]

Agama Islam adalah agama yang ilmiah. Contohnya adalah dalam dunia akademis, seseorang harus mencantumkan jurnal dan sumber ilmiah dari nukilan yang kami sebutkan. Apabila tidak, tentu nilai ilmiahnya tidak akan sempurna atau bahkan diragukan kebenarannya. Dalam ajaran Islam pun demikian, kita diajarkan bersikap ilmiah agar tidak semata-mata berpendapat sendiri tanpa ada sumber rujukan yang jelas, bahkan dalam masalah kontemporer sekalipun harus ada sumber ilmiah yang dijadikan rujukan. Menyampaikan suatu pendapat tanpa ada rujukan sebelumnya akan mengurangi keilmiahan hal tersebut.

Perhatikan perkataan Imam Ahmad berikut:

إيَّاكَ أنْ تتكلمَ في مسألةٍ ليسَ لكَ فيها إمامٌ

“Berhati-hatilah berkata dalam satu permasalahan yang engkau tidak memiliki pendahulunya.” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 11/296].

Contoh lainnya lagi adalah adanya ilmu sanad dalam agama Islam. Ilmu sanad ini sangat ilmiah, kita bisa mengecek keilmiahan suatu pendapat dari ilmu sanad ini.

Abdullah bin Mubarak berkata,

إن الإسناد من الدين، ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء

“Sanad itu bagian dari agama. Kalau lah tidak ada ilmu Isnad, pasti siapaun bisa berkata apa yang dia kehendaki.” [HR. Muslim]

Sofyan Ats-Tsauri berkata:

الإسناد سلاح المؤمن فإذا لم يكن معه السلاح فبأي شيء يقاتل

“Sanad adalah senjatanya orang-orang beriman. Apabila tidak ada senjata tersebut, lalu dengan apa mereka berperang?” [Jami Al-Ushul hal 109]

Masih sangat banyak contoh bahwa Islam adalah agama yang ilmiah dan menjunjung tinggi ilmu. Sikap keilmiahan ini hanya bisa didapat dengan menuntut ilmu. Agama Islam mendorong kita untuk selalu berilmu, mempelajari hal yang bermanfaat baik dunia maupun akhirat. Allah mengangkat derajat orang yang berilmu. Allah berfirman,

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah: 11)

Allah juga menegaskan bahwa tentu tidak sama antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu. Allah berfirman,

Allah Ta’ala berfirman

هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ

“Apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya hanya orang yang berakallah yang bisa mengambil pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Semoga kita selalu bisa menumbuhkan sikap ilmiah dalam beragama agar kita bisa selamat dunia dan akhirat.

Penyusun: Raehanul Bahraen

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/47683-ilmiah-dalam-beragama.html