Keutamaan Amalan Sunnah Malam Jumat

Jumat merupakan hari agung yang disebut Rasulullah sebagai sayyidul ayyam. Berbeda dengan perhitungan dalam kalender Masehi yang memulai hari baru pada tengah malam, kalender hijriyah memulai hari sejak Maghrib tiba.

Malam Jumat dengan demikian- merupakan bagian dari hari Jumat.

“Sesungguhnya hari Jumat adalah tuannya hari dan paling agung di sisi Allah” (HR. Ibnu Majah; hasan)

“Hari yang paling baik saat terbitnya matahari adalah hari Jumat. Pada hari tersebut adalah Adam diciptakan, Adam dimasukkan ke dalam surga dan Adam dikeluarkan dari surga. Hari kiamat tidaklah terjadi kecuali pada hari Jumat” (HR. Muslim)

Sebagian amal yang disunnahkan pada hari Jumat, bisa dikerjakan di malam Jumat. Inilah yang dimaksud amalan sunnah di malam Jumat, sebagaimana dibeberkan bersamadakwah:

Membaca surat Al Kahfi

 

 

Membaca surat Al Kahfi merupakan amalan sunnah di malam Jumat. Bisa pula dikerjakan di siang hari Jumat.

“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada malam Jumat, maka akan dipancarkan cahaya untuknya antara dirinya hingga Baitul Atiq” (HR. Al-Hakim, Al-Baihaqi dan Ad-Darimi; shahih)

Dalam hadits yang lain diterangkan bahwa keutamaan membaca surat Al Kahfi di hari Jumat bertahan hingga satu pekan.

“Barangsiapa membaca Surat Al Kahfi pada hari Jumat, maka dia diterangi oleh cahaya antara dua Jumat” (HR. An Nasai, Baihaqi dan Al Hakim; shahih)

Membaca shalawat

Amalan sunnah lainnya di hari atau malam Jumat adalah membaca shalawat. Bahkan Rasulullah menganjurkan memperbanyak membaca shalawat. Di antara keutamaan membaca shalawat adalah sebagaimana yang diterangkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri bahwa muslim yang paling banyak membaca shalawat kelak akan menjadi orang yang paling dekat dengan beliau di surga.

“Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada setiap hari Jumat. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap hari Jumat. Barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Baihaqi; hasan lighairihi). [ ]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2260321/keutamaan-amalan-sunnah-malam-jumat#sthash.5YrNghaB.dpuf

————————————————–

Apa saja yang bisa kita lakukan di malam dan hari Jumat? Klik link-link di bawah ini.

Mata Hati Ditutup Jika Tinggalkan Salat Jumat

Salat Jumat Menghapus Dosa Sepekan

Inilah 10 Keutamaan Hari Jumat

3 Hal yang Perlu Diingat di Hari Jumat

Cerita Lucu Pemuda yang Bersedekah di Hari Jumat

Berdagang Setelah Shalat Jumat

Hari Jumat, Hadiah Tepat untuk Umat Muhammad

Jangan Sia-siakan Sunah di Malam dan Hari Jumat

Jemaah Langsung Dapat Buku Manasik Saat Pelunasan

Jakarta (Kemenag) — Kasubdit Pembinaan Ibadah Haji Ali Rokhmad memastikan jemaah haji Indonesia tahun ini akan langsung mendapatkan buku manasik haji pada saat pelunasan.

Pengadaan buku oleh Bank Penerima Setoran (BPS) Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) sudah selesai dan siap diserahkan kepada jemaah bersamaan dengan pemberian souvenir lainnya, seperti baju ihram, mukena, dan baju batik haji.

“Alhamdulillah, buku manasik tahun ini akan diberikan lebih awal. Begitu jemaah melunasi BPIH (Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji), akan langsung diberikan buku manasik oleh Bank Penerima Setoran BPIH setempat,” kata Ali Rokhmad di Jakarta, Kamis (23/03).

Menurut Ali, distribusi buku lebih awal penting agar jemaah mempunyai waktu yang cukup untuk membaca dan memahami manasik haji. Dengan begitu, bimbingan manasik yang diselenggarakan Kemenag akan berjalan lebih baik dan efektif.

“Kegiatan manasik di KUA Kecamatan akan dilaksanakan sebanyak 10 kali, kecuali di Prov. DKI Jakarta, Jabar, Jatim, dan Jateng, sebanyak 8 kali,” ujarnya.

Selain distribusi buku lebih awal, lanjut Ali, upaya lain Kemenag agar kegiatan manasik lebih efektif adalah dengan menyusun kurikulum manasik berbasis regu/rombongan. Selain materi ibadah, kurikulum ini juga berisi materi pembekalan tugas dan fungsi ketua regu, termasuk pendalaman permasalahan aktual (waqiiyah) dalam manasik.

Ali menambahkan, bimbingan manasik yang dilakukan pemerintah kepada jemaah sesuai dengan standar standar mutu yang diharapkan. Sehingga, jemaah mampu melaksanakan ibadah sesuai dengan ketentuan syariat agama Islam.

“Prinsip pelayanan ibadah oleh pemerintah adalah sah, bukan mengejar afdhaliyat,” ujarnya.

“Bagi masyarakat yang ingin memperoleh layanan bimbingan manasik lebih dari standar yang diberikan Pemerintah, termasuk ingin mendalami aspek ibadah lainnya, dipersilahkan mengikuti pembimbingan di KBIH. Tentu saja ada biaya tambahan yang disepakati bersama,” tambahnya.

Kemenag dan KBIH, menurut Ali akan terus menjalin sinergi yang berorientasi pada kebutuhan jemaah supaya mereka bisa beribadah dengan khusu’ dan memperoleh haji mabur. Kehadiran KBIH menjadi salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam pembinaan ibadah haji.

“Penyelenggaraan haji itu menjadi tugas nasional yang tidak bisa dilepaskan dari peran pemerintah dan masyarakat. Oleh karena itu sukses haji, sukses bersama bangsa Indonesia,” tandasnya. (mkd/mkd)

 

sumber: Kemenag RI

Mengapa Dinamakan Surat Al-Fatihah?

Al-Fatihah menjadi pembuka dalam kitab suci Al-Qur’an. Al-Fatihah pula sebagai pembuka dalam bacaan sholat wajib maupun sunah.

Membaca Al-Fatihah merupakan bagian dari rukun shalat yang disepakati semua ulama. Tidak sah shalatnya bila tidak membaca surat Al-Fatihah. Sebagaimana hadits berikut:

Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (HR Sittah)

Al-Fatihah dalam sholat,  dibaca usai doa Iftitah. Setelah disambut dengan “Aamiin” (“Aamiin” dalam sholat jahr biasanya didahului oleh imam dan kemudian diikuti oleh makmum), lalu membaca surah al-Qur’an (pada rakaa’at tertentu). Al-Fatihah yang dibaca pada rakaat pertama dan kedua dalam sholat, harus diiringi dengan surah lain al-Qur’an. Sementara ketika rakaat ketiga hingga keempat, hanya Al-Fatihah saja yang dibaca.

Surah ini disebut Al-Fatihah–yang bermakna pembukaan–karena dengan surah inilah dibuka dan dimulainya Al-Quran.

Surat ini juga disebut sebagai Ummul Qur’an, induk al-Quran sebab ia merupakan induk dari semua isi Al-Quran.

Surat ini disebut pula sebagai As Sab’ul matsaany, tujuh yang berulang-ulang karena jumlah ayatnya yang tujuh dan dibaca berulang-ulang ketika sholat.

Surat ini disebut sebagai Al-Fatihah karena seluruh kandungannya apabila dipahami dengan baik dan benar hingga kita benar mendalaminya, maka isinya bisa membimbing kita membuka kebaikan-kebaikan dalam hidup ini yang telah dipersiapkan oleh Allah SWT.

Oleh sebab itu, jangan pernah merasa heran ketika ada di zaman Nabi Rasulullah SAW, seseorang terkena sengatan kalajengking. Sakit luar biasa di seluruh bagian tubuhnya. Tabib yang mengobati sudah angkat tangan, tidak mampu lagi mengobatinya. Lalu seorang sahabat Rasulullah SAW, dengan izin Allah SWT, membacakan surat Al-Fatihah, tak lama kemudian terbuka semua segala kesulitannya. Yang sakit terkena sengatan itu sembuh dari rasa sakitnya.

Dibaca satu kali, tidak menggunakan perantara apapun. Hal itu terjadi karena sahabat paham kandungan suratnya dan diamalkan. Maka ketika segala kebaikan yang tidak terbuka tadi menjadi terbuka.

Lihat Al-Fatihah Ayat 6 “ihdinaash shiraathaal mustaqiim” yang artinya tunjukilah kami jalan yang lurus.

 

 

[Paramuda/BersamaDakwah]

Janji Rasulullah kepada Pembaca Kalimat Pendek Ini

Neraka adalah tempat terburuk dan penuh rasa sakit. Diperuntukkan buat mereka yang hidup bergelimang dengan dosa di dunia. Penuh kobaran api yang panasnya sungguh dahsyat. Batu yang dilemparkan ke dalamnya baru akan mencapai dasarnya 70 tahun kemudian. Bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Serta minuman buat para penghuninya adalah air kental yang berbau busuk dan membakar.

Sebagai manusia yang beriman tentunya kita tidak akan pernah mau dijerumuskan ke dalam neraka karena dosa-dosa yang telah dilakukan. Rasulullah saw pun tidak pernah rela umatnya menjadi bahan bakar neraka. Oleh karenanya Rasulullah saw seringkali bicara dalam nada tarhib (peringatan) kepada para sahabat agar berhati-hati dengan amalan-amalan ahli neraka yang akan menjerumuskan mereka kepada siksa.

Selain itu Rasulullah SAW banyak memberikan cara kepada umatnya agar terhindar dari lubang yang sangat dalam itu. Salah satunya dengan doa perlindungan seperti yang ada pada sebuah hadits hasan berikut ini.

Dari Alharits bin Muslim Attamimi ra, ia berkata: Nabi saw bersabda kepadaku: “Apabila kamu selesai salat Subuh maka ucapkanlah sebelum berbicara: “Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka (Allahumma ajirni minannar)”, tujuh kali; karena sesungguhnya jika kamu meninggal pada harimu itu niscaya Allah menulis bagimu perlindungan dari api neraka, dan apabila kamu selesai salat Magrib maka ucapkanlah sebelum berbicara, “Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka (Allahumma ajirni minannar)”, tujuh kali; karena sesungguhnya jika kamu meninggal pada malammu itu niscaya Allah menulis bagimu perlindungan dari api neraka.”

 

Dalam kitab Almuntaqa min KitabAttarghib wa Attarhib Lil Mundziri karya Dr. Yusuf Alqaradhawi, disebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Nasa’i, lafaz ini baginya, dan Abu Dawud dari Alharits bin Muslim dari bapaknya Muslim bin Alharits. Alhafizh Almundziri berkata: “Ia benar, karena Alharits bin Muslim adalah tabi’i. Abu Zar’ah dan Abu Hatim Arrazi mengatakannya.” Catatan kaki dalam kitab itu tertulis: Alhafizh berkata, “Ia adalah hadis hasan (sumber yang lain sama yakni Syarh Alazhar, hal.68).”

Hadits ini mengajarkan kepada kita beberapa hal. Pertama, berlindung dari api neraka dapat dengan berdoa menggunakan kalimat yang pendek dan bisa dihafal dengan mudah serta tidak membutuhkan waktu yang lama. Langsung pada tujuan dan sasarannya. Tidak seperti kebanyakan doa pada manusia zaman sekarang yang bersajak-sajak dan berlebihan.

Kedua, Islam mengajarkan umatnya untuk berlaku istikamah. Bahwa doa ini menuntut kepada pembacanya untuk dibaca setiap hari dan malam. Cukup membacanya sebanyak tujuh kali setelah salat Subuh dan Magrib.

Ketiga, sifat menepati janji melekat pada semua nabi dan tentunya Rasulullah SAW. Manusia mulia ini memberikan jaminan bahwa Allah akan melindungi dari api neraka jika si pembaca kalimat ini meninggal di hari atau malam itu.

Semoga kita terhindar dari siksa api neraka.

Wallahua’lam bishshawab.

 

 

[Riza Almanfaluthi/BersamaDakwah]

Inilah Manfaat Berbuat Baik di Dunia dan Akhirat (Bagian 4)

Keberuntungan di akhirat dan masuk surga

Melakukan ibadah dengan baik akan menimbulkan sikap khusyuk dan tunduk dalam beribadah. Hal itu merupakan salah satu sebab mendapatkan kemenangan di akhirat kelak.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ – الَّذِيْنَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُوْنَ

Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu`minun: 1-2).

Berbuat kebaikan juga merupakan sebab masuk surga, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang menerangkan sifat-sifat penduduk surga,

إِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ – آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِيْنَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air, mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Adz-Dzariyat: 15-16).

Firman Allah Ta’ala,

إِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِي ظِلَالٍ وَعُيُونٍ – وَفَوَاكِهَ مِمَّا يَشْتَهُونَ – كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ – إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِيْنَ

Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (pepohonan surga yang teduh) dan (di sekitar) mata air, dan buah-buahan yang mereka sukai. (Katakan kepada mereka), “Makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Mursalat: 41-44).

Berbuat baik merupakan bukti ketakwaan

Allah Ta’ala berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133).

Pada ayat selanjutnya disebutkan sifat-sifat orang bertakwa, di antaranya berlaku ihsan kepada sesama, sebagaimana Firman Allah Ta’ala,

الَّذِيْنَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134).

Allah Ta’ala menerangkan bahwa sifat orang bertakwa adalah gemar berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, memaafkan manusia, bersabar atas gangguan mereka, dan berlaku baik kepada mereka.

Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan di mana pun kita berada. Aamiin.

Sebagian tulisan ini berasal dari Kitab Haditsul Ihsan karya Prof. Dr. Falih bin Muhammad bin Falih Ash-Shughayyir.

berbuat baik

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Kuota haji ditambah, pemerintah harus perhatikan pelayanan dan fasilitas jamaah

Pemerintah melakukan antisipasi terkait penambahan kuota haji 2017 sebanyak 221 ribu orang.

Demikian dikatakan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, Rabu (22/3), seperti dilaporkan Reporter Elshinta, Ragil Lestari.

Puan mengatakan, di samping pelayanan yang harus semakin baik, penempatan jamaah haji juga harus diperhatikan khususnya di Mina, mengingat normalnya kuota haji dan tambahan kuota haji.

Tambahan kuota haji, terangnya, akan berpotensi menaikkan harga sewa hotel karena semua negara akan bersaing untuk mendapatkan fasilitas yang terbaik bagi warganya, termasuk di Madinah.

Puan menuturkan, pelaksanaan ibadah haji dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS), seperti tahun 2010 sebanyak 81,45 persen, 2011 sebanyak 83,31 persen, 2012 sebanyak 81,32 persen, 2013 sebanyak 82,69 persen, 2014 sebanyak 81,52 persen, 2015 sebanyak 82,69 persen, dan tahun 2016 sebanyak 83,83 persen.

Untuk meningkatkan pelayanan haji tahun 2017, Menteri Puan Maharani melakukan rapat koordinasi dengan Menteri Kesehatan dan Menteri Agama serta jajarannya.

 

ELSHINTA

Inilah Manfaat Berbuat Baik di Dunia dan Akhirat (Bagian 3)

Maka orang itu pun pergi mengikuti jejak Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berhenti di suatu tempat, lalu berkata, “Siapakah yang akan menjaga kita?”

Maka berdirilah seorang dari kaum Anshar dan seorang dari kaum Muhajirin. Nabi berkata, “Berjagalah kalian di jalan utama.”

Jabir berkata, “Ketika keduanya keluar ke jalan utama, salah seorang di antara mereka tidur dan shahabat Anshar melaksanakan shalat.

 

Kemudian orang musyrik itu sampai ke tempat mereka, ketika melihat orang yang sedang shalat itu, ia mengetahui kalau orang itu termasuk orang yang dimuliakan di kaumnya.

Maka ia melemparkan panah tersebut dan tepat mengenai sasarannya, kemudian shahabat Anshar itu mencabut panah yang menancap di tubuhnya.

Setelah itu, orang musyrik tersebut melemparkan lagi tiga buah panah, namun orang Anshar itu tetap shalat, ia rukuk dan sujud. Barulah kemudian temannya yang sedang tidur itu terbangun.

Melihat hal itu, orang musyrik tersebut langsung kabur. Ketika shahabat dari kaum Muhajirin mengetahui apa yang menimpa temannya orang Anshar, ia berkata,

“Subhanallah! Mengapa kamu tidak membangunkanku ketika kamu dipanah yang pertama kali tadi?”

Ia menjawab, “Saat itu saya sedang membaca surat, dan tidak mau berhenti untuk menyudahinya.” (HR. Abu Dawud).

Maimun bin Hayyan pernah berkata,

“Saya tidak pernah melihat Muslim bin Yasar menoleh dalam shalat, baik shalat yang dengan bacaan pendek maupun panjang.

Suatu waktu salah satu tiang masjid roboh sehingga semua orang pedagang di pasar panik, sedangkan Muslim sedang shalat di masjid dan tidak menoleh sedikit pun.”

Disebutkan dalam sebagian biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, bahwa ketika syaikh memulai shalat dengan takbiratul ihram, maka orang yang berada di sekitarnya menjadi segan dan takjub karena ketenangan dan kekhusyukannya dalam shalat.

Itulah beberapa contoh istimewa, yang menunjukkan kepada kita bahwa mereka mendapatkan kenikmatan dalam beribadah. Semua itu tidak bisa diraih melainkan karena mereka melakukan ibadah dengan ihsan (baik).

 

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Inilah Manfaat Berbuat Baik di Dunia dan Akhirat (Bagian 2)

Dari keterangan sebelumnya, kita dapat memahami bahwa berbuat baik (ihsan) merupakan sebab bertambahnya keimanan seorang hamba, bahkan bentuk ibadah yang paling tinggi kepada Allah Ta’ala.

Merasakan manisnya iman

Berlaku baik kepada sesama makhluk Allah, khususnya hamba-hamba Allah yang shalih, akan menumbuhkan rasa mencintai mereka karena Allah. Bahkan, seseorang itu tidak mungkin berbuat baik sampai hatinya tenang karena iman kepada Allah, dan penuh dengan cinta kepada sesama hamba Allah.

Inilah yang menyebabkan seseorang tersebut merasakan manisnya iman, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Tiga hal yang jika seseorang berada padannya, maka ia akan merasakan manisnya Iman:

Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada yang lain, orang yang mencintai seseorang yang tidak dia cintai kecuali karena Allah, dan orang dia benci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya darinya sebagaimana dia benci jika dilemparkan ke dalam api Neraka.” (HR. Muslim).

Merasakan manisnya ibadah

Ketika Anda beribadah seakan-akan melihat Allah, jika Anda tidak bisa melihat-Nya, maka Dia Maha Melihatmu, sehingga pasti Anda akan melaksanakan ibadah dengan sebenar-benarnya.

Beribadah mempunyai kenikmatan dan kelezatan tersendiri, yang akan dirasakan oleh siapa saja yang melaksanakannya sesuai rukun dan adabnya.

Banyak sekali kisah-kisah kaum salaf yang menjadi bukti atas apa yang kami sampaikan. Di antaranya yang diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu Anhu, ia berkata,

”Kami ikut keluar bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam perang Dzat Ar-Riqa’. Salah seorang di antara kami membunuh seorang istri kaum musyrikin, sang suami bersumpah tidak akan berdamai, sampai bisa melukai salah satu shahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

 

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Inilah Manfaat Berbuat Baik di Dunia dan Akhirat

Sungguh, agama Islam memerintahkan kepada kaum muslimin untuk berinteraksi dengan baik dalam segala hal. Sebab, berbuat baik itu mempunyai hasil dan pengaruh yang baik bagi seseorang, baik ketika ia masih hidup di dunia maupun di akhirat kelak.

Di antara manfaat yang didapatkan seseorang yang senantiasa berbuat baik adalah sebagai berikut:

Iman seseorang bertambah

Akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah menyakini, bahwa keimanan itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Ihsan merupakan tingkatan paling tinggi dari pengamalan ketaatan, bahkan itu adalah inti dari pengamalan ketaatan. Oleh karena itu, Jibril menyampaikan pertanyaan tentang Ihsan setelah Iman dan Islam ketika bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sebagaimana dalam hadits yang sudah masyhur, yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata,

“Suatu hari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama kaum muslimin, maka datanglah Jibril bertanya, “Apakah makna Iman?”

Nabi menjawab, “Iman adalah kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan hari akhir.”

Ia bertanya lagi, “Apakah makna Islam?”

Nabi menjawab,

“Islam adalah engkau beribadah hanya kepada Allah semata, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan.”

Ia bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan Ihsan?”

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab,

“Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, jika kamu tidak melihat-Nya maka Allah Maha melihatmu.”

Ia bertanya lagi, “Kapankah Hari Kiamat?”

Nabi menjawab,

“Yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya, saya akan menyebutkan tanda-tandanya; yaitu apabila seorang budak melahirkan majikannya, apabila pengembala onta hitam berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan, dan (ilmu tentang hari kiamat) ini termasuk pada lima hal yang tidak ketahui kecuali Allah.”

Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membacakan ayat,

إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ

“Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat.” (QS. Luqman: 34).

Kemudian orang itu pergi.

Nabi bersabda, ”Suruh ia kembali.” Namun, para shahabat sudah tidak menemukan jejaknya lagi.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

”Dia adalah Malaikat Jibril, yang datang mengajarkan kepada manusia tentang agama mereka.” (HR. Al-Bukhari).

 

 

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Asuransi Haji, Produk Perlindungan Diri Saat Ibadah

Kedatangan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud di Indonesia menjadi berita baik bagi umat muslim. Selain mempererat kerjasama bilateral antara Indonesia dan Arab Saudi, Raja Salman juga menyepakati tambahan kuota haji Indonesia per tahun 2017. Hal ini menjadi angin segar dan berkah bagi umat islam yang berencana menunaikan ibadah haji.

Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan pengiriman jemaah haji terbanyak di dunia. Berdasarkan data kementerian agama, Indonesia mengirimkan sekitar 200.000 jamaah haji setiap tahunnya. Namun sejak 2013 terjadi pemangkasan kuota haji hingga 20% untuk jamaah Indonesia dan negara lainnya karena renovasi masjidil haram. Alhamdulillah, kini Raja Salman telah mengabulkan permintaan Indonesia untuk mengembalikan jumlah kuota seperti awal, yakni di kisaran 200.000 jamaah per tahunnya.

Sementara itu, biaya untuk berhaji juga kian naik. Kisaranya, untuk jamaah haji regular dibutuhkan dana berkisar US$2.585 atau setara Rp34,639 juta (1 USD = Rp13.400) dengan masa tunggu maksimal 17 tahun. Adapun untuk jamaah haji plus, biayanya berkisar US$9.500 atau setara dengan Rp127,300 juta, dengan masa tunggu sekitar 7-8 tahun.

Tapi, tahukah Anda, selain biaya haji yang perlu dipersiapkan, Anda juga perlu memahami tentang asuransi haji sebagai salah satu bentuk perlindungan Anda saat menunaikan ibadah di kota suci Mekkah. Asuransi memiliki fungsi penting dan tidak boleh disepelekan. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang asuransi haji, simak ulasannya berikut ini.

Pengertian Asuransi Haji

Asuransi haji merupakan bentuk perlindungan finansial terhadap jamaah haji atas risiko yang mungkin terjadi. Umumnya asuransi haji sudah termasuk dalam komponen biaya perjalanan haji yang dibayarkan ke Departemen Agama. Artinya besaran biaya yang dibayarkan untuk naik haji sudah termasuk biaya asuransi di dalamnya.

Hampir semua produk asuransi haji dijual satu paket dengan paket perjalanan haji yang ditawarkan, baik paket haji regular atau haji plus. Asuransi haji termasuk dalam asuransi jiwa yang memberikan perlindungan terhadap jemaah haji yang meninggal dunia atau kecelakaan. Selain itu, asuransi ini juga memberikan perlindungan terhadap jemaah haji yang mengalami cacat baik tetap maupun sebagian yang disebabkan oleh musibah selama perjalanan haji.

 

Fatwa MUI Tentang Asuransi Haji

Asuransi haji sudah diatur dan memang dianjurkan. Hal ini dipertegas lewat fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) nomor 39/DSN-MUI/X/2002 tentang asuransi haji. MUI menyatakan diperlukan sebuah perlindungan keselamatan atas risiko berupa kecelakaan atau kematian. Mengingat lamanya masa ibadah haji dan risiko-risiko yang mungkin terjadi. Adapun pengelolaan asuransi haji diharuskan sesuai dengan syariat Islam. Artinya, pengelolaan asuransi haji terdapat unsur-unsur seperti yang ada pada asuransi syariah.

Umumnya, produk asuransi haji yang dijual di pasar sudah termasuk dalam pembayaran tabungan haji. Jadi saat Anda mengikuti program tabungan haji yang diadakan oleh lembaga bank maupun non-bank, Anda secara otomatis sudah terdaftar dalam asuransi haji. Untuk hal ini, Anda bisa memastikan langsung saat Anda membuka rekening tabungan haji.

Pilih produk tabungan haji yang sesuai dengan kebutuhan Anda, pahami dahulu prosedurnya dan lakukan perbandingan. Misal, paket tabungan haji bank syariah A lebih lengkap dan sudah termasuk asuransi haji didalamnya, tapi modal awal yang harus ditabung cukup tinggi nilainya ketimbang produk tabungan haji dari bank syariah B.

 

Persyaratan Umum

Syarat utama untuk mengikuti asuransi haji adalah memiliki tabungan haji. Untuk membuka tabungan haji, Anda dapat membukanya di bank-bank yang sudah bekerjasama dengan Kementrian Agama Republik Indonesia untuk menangani perihal keberangkatan haji.

Siapkan juga berkas-berkas penting untuk mendaftar tabungan haji sekaligus asuransi haji. Berikut syarat umum yang harus Anda ketahui menurut kementerian agama:

  1. Beragama Islam;
  2. Berusia Minimal 12 (dua belas) tahun pada saat mendaftar;
  3. KTP yang masih berlaku sesuai dengan domisili atau bukti identitas lain yang sah;
  4. Kartu keluarga;
  5. Akta kelahiran atau surat kenal lahir atau kutipan akta nikah atau ijazah;
  6. Tabungan atas nama Jemaah yang bersangkutan pada BPS*) BPIH (Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji)
  7. Pas Foto berwarna 3×4 berjumlah 10 lembar dengan latar belakang berwarna putih dengan ketentuan :
  8. Warna baju/kerudung harus kontras dengan latar belakang;
  9. Tidak memakai pakaian dinas;
  10. Tidak menggunakan kacamata;
  11. Tampak wajah minimal 80 persen;
  12. Bagi jemaah haji wanita menggunakan busana muslimah.
  13. Gubernur dapat menambahkan persyaratan berupa surat keterangan domisili.

Hal Yang Ditawarkan

Perlindungan yang diberikan oleh asuransi haji meliputi keselamatan Anda selama mengikuti ibadah haji. Dari mulai berangkat dari rumah hingga kembali lagi ke rumah. Ringkasan kegiatan Anda yang dilindungi oleh asuransi haji adalah sebagai berikut:

  • Berangkat dari rumah ke embarkasi haji
  • Selama berada di emabarkasi haji
  • Berangkat menuju bandar udara
  • Berangkat menuju Jeddah
  • Selama di Mekah dan Madinah
  • Mabit di Mina
  • Mabit di Muzdalifah
  • Lempar Jumroh
  • Tawaf (Tawaf Ifadah, Tawaf Qudum dan Tawaf Wada)
  • Sai’ antara bukit Marwah dan Shafa
  • Wukuf di Arafah
  • Kembali Ke Jeddah
  • Berangkat ke bandara King Abdul Aziz
  • Kembai ke Indonesia

Premi Asuransi

Pembayaran premi tiap perusahaan asuransinya berbeda-beda sesuai dengan ketentuan perusahaan tersebut. Bagi perusahaan asuransi yang sudah bekerja sama dengan bank penyedia tabungan haji biaya asuransi sudah termasuk dalam pembayaran biaya haji. Untuk hal ini, setiap preminya akan berbeda nilainya, semua tergantung dengan produk tabungan haji yang Anda pilih.

 

Masa Asuransi

Masa berlaku asuransi haji dimulai dari berangkatnya jamaah haji ke embarkasi asrama haji setelah menerima Surat Panggilan Masuk Asrama (SPMA) hingga jamaah tersebut kembali lagi ke rumahnya.

Sementara itu, masa pengajuan klaim asuransi selambat-lambatnya 60 hari kalender atau 30 hari setelah jamaah kloter terakhir kembali ke Indonesia. Pengajuan klaim asuransi yang melewati batas tenggat yang telah ditentukan, maka pengajuan klaim asuransi akan diselesaikan melalui konfirmasi dari Kementrian Agama Pusat. Tidak disarankan menunda-nunda pengajuan klaim asuransi jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

Proses Klaim

Pengajuan klaim asuransi haji umumnya diurus oleh keluarga jamaah haji yang bersangkutan, oleh karena itu baik jamaah haji maupun keluarga harus mengetahui perihal cara melakukan klaim.

Hal pertama yang dapat dilakukan adalah mengumpulkan berkas-berkas yang diperlukan guna mencairkan dana asuransi. Berkas yang diperlukan berbeda-beda bergantung pada perusahaan asuransi yang menyediakan, umumnya berkas yang dibutuhkan untuk klaim asuransi haji adalah:

  • Surat Panggilan Masuk Asrama (SPMA)
  • Surat Keterangan Kematian (untuk peserta yang wafat)
  • Surat keterangan dari dokter (untuk peserta yang mengalami cacat)
  • Fotokopi kartu identitas
  • Formulir Pengajuan Klaim Asuransi
  • Fotokopi sampul buku Rekening Tabungan
  • Surat pengantar dari Kantor Kementerian Agama dimana Jemaah terdaftar.

Setelah semua berkas yang diperlukan sudah terkumpul, selanjutnya adalah penyerahan berkas ke perusahaan asuransi. Untuk penyerahan berkas ini sendiri, Anda harus datang ke lokasi atau kantor pusat dari perusahaan penyedia asuransi haji. Selanjutnya perusahaan asuransi akan memproses klaim.

Asuransi dapat diklaim apabila jamaah haji meninggal dunia baik secara normal maupun kecelakaan. Adanya kecelakaan yang membuat jamaah haji cacat tetap maupun sebagian, kepada jamaah haji yang jatuh sakit selama mengikuti prosesi haji.

Bagi jamaah haji yang meninggal, biaya santunan akan diberikan kepada ahli waris yang telah ditentukan sebelumnya saat mendaftar asuransi. Sedangkan, biaya santunan bagi jamaah haji yang mengalami cacat, biaya akan diberikan kepada jamaah haji tersebut. Kemudian, bagi jamaah haji yang sakit, pihak asuransi akan memberikan fasilitas pengobatan yang biayanya dibebankan kepada asuransi.

Pahami Pentingnya Asuransi Haji

Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi hari esok. Asuransi tercipta sebagai bentuk perlindungan diri saat Anda menunaikan haji. Persiapkan dengan baik dari sekarang, mulai dari persiapan tabungan haji, asuransi haji dan persiapan batin dan kesehatan untuk menunaikan ibadah haji.

 

sumber:ELSHINTA