Astagfirullah, Kemana Catatan Amalku?

Rasulullah saw pernah bersabda, “Akan datang seseorang di Hari Kiamat, berdiri dihadapan Tuhannya lalu disodorkan buku catatan amal kepadanya. Namun ia tak menemukan kebaikan-kebaikan yang pernah ia lakukan.”

Ia pun berkata, “Ya Allah, ini bukanlah buku catatan amalku. Tak kutemukan kebaikan yang kulakukan.”

Maka dikatakan kepadanya, “Tuhanmu tidak akan salah dan lupa. Amal baikmu habis karena engkau menggunjing orang lain.”

Dan akan datang orang lain menghadap kepada Allah, lalu disodorkan buku catatan amal kepadanya. Namun ia melihat begitu banyak kebaikan dalam buku itu.Ia pun berkata, “Ya Allah, ini bukanlah buku ku. Aku tak pernah melakukan kebaikan-kebaikan (sebanyak ini).”


Lalu dikatakan kepadanya, “Seseorang telah menggunjingmu maka amal-amal baiknya berpindah kepadamu.”

Subhanallah.. Pesan Rasulullah ini sudah cukup untuk membuat kita berhati-hati dalam menjaga lisan. Maukah kita melihat amal baik yang telah kita perjuangkan lalu habis sia-sia bagai debu yang beterbangan ?

“Dan Kami akan Perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan Jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (QS.Al-Furqon:23)[ ]

INILAH MOZAIK

Hukum Memakai Masker Saat Berpuasa

Di antara fungsi dari pemakaian masker adalah agar terlindungi dari pengaruh negatif dari partikel polusi, virus, kuman dan lainnya. Biasanya masker digunakan ketika hendak bepergian. Namun dalam kondisi tertentu, seperti ketika terjadi wabah virus corona, maka masker harus digunakan setiap saat, termasuk ketika sedang berpuasa. Bagaimana hukum memakai masker saat berpuasa?

Memakai masker saat kita sedang berpuasa, hukumnya adalah boleh, tidak masalah. Memakai masker tidak menyebabkan puasa batal atau mengurangi pahala puasa. Bahkan jika memakai masker bisa menghindarkan diri dari masuknya debu ke dalam mulut, atau benda-benda lainnya, maka menutup mulut dengan memakai masker atau lainnya hukumnya dianjurkan, meskipun tidak wajib.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu berikut;

اتَّفَقَ أَصْحَابُنَا عَلَى أَنَّهُ لَوْ طَارَتْ ذُبَابَةٌ فَدَخَلَتْ جَوْفَهُ أَوْ وَصَلَ إلَيْهِ غُبَارُ الطَّرِيقِ أَوْ غَرْبَلَةُ الدَّقِيقِ بِغَيْرِ تَعَمُّدٍ لَمْ يُفْطِرْ قَالَ أَصْحَابُنَا وَلَا يُكَلَّفُ إطْبَاقَ فَمِهِ عِنْدَ الْغُبَارِ وَالْغَرْبَلَةِ لان فِيهِ حَرَجًا فَلَوْ فَتْحَ فَمَهُ عَمْدًا حَتَّى دخله الغبار ووصل وجهه فَوَجْهَانِ حَكَاهُمَا الْبَغَوِيّ وَالْمُتَوَلِّي وَغَيْرُهُمَا قَالَ الْبَغَوِيّ (أَصَحُّهُمَا) لَا يُفْطِرُ لِأَنَّهُ مَعْفُوٌّ عَنْ جِنْسِهِ (وَالثَّانِي) يُفْطِرُ لِتَقْصِيرِهِ

Ulama Syafiiyah sepakat bahwa jika ada lalat terbang kemudian masuk ke lubang tubuh, atau yang masuk ke lubang tubuh adalah debu jalanan atau ayakan tepung, semuanya tanpa disengaja, maka hal itu tidak membatalkan puasa.

Ulama Syafiiyah berkata; Orang yang berpuasa tidak dituntut selalu menutup mulutnya ketika ada debu atau ayakan tepung karena hal itu menyulitkan. Jika dia membuka mulutnya dengan sengaja sehingga ada debu yang masuk sampai rongganya, maka ada dua pendapat dalam hal ini, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Baghawi dan Al-Mutawalli dan lainnya.

Imam Al-Mutawalli berkata; Yang paling shahih dari pendapat tersebut adalah tidak batal karena dimaafkan. Kedua, membatalkan karena terjadi kelalaian.

Dengan demikian, memakai masker saat sedang berpuasa hukumnya boleh. Ini apalagi bila memakai masker tersebut sangat dibutuhkan, itu malah dianjurkan. Misalnya, memakai masker dimaksudkan untuk menghindarkan diri dari masuknya benda-benda ke dalam mulut, menghindarkan diri dari penyakit dan lainnya.

BINCANG SYARIAH

Mendzalimi Diri Sendiri?

Apa yang dimaksud dengan mendzalimi diri yang disebutkan dalam Al-Qur’an?

Dzalim secara bahasa artinya berbuat kejam, menindas dan melampaui batas atau melawan kebenaran.

Allah Swt Berfirman:

تِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَعۡتَدُوهَاۚ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ ٱللَّهِ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

“Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang zhalim.” (QS.Al-Baqarah:229)

Sedangkan mendzalimi diri sendiri artinya seorang manusia berbuat jahat kepada dirinya sendiri, sebagai hasil dari perbuatannya atau ucapannya yang melampaui batas-batas syariat, atau batas etika dan akhlak.

Maka jelas bila menyakiti orang lain adalah sebuah kedzaliman maka menyakiti atau merugikan diri sendiri dengan berbuat dosa dan kemaksiatan juga termasuk kedzaliman.

وَتِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِۚ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ ٱللَّهِ فَقَدۡ ظَلَمَ نَفۡسَهُ

“Itulah hukum-hukum Allah, dan barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, maka sungguh, dia telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri.” (QS.Ath-Thalaq:1)

Dalam ayat lain Allah Swt Berfirman :

وَدَخَلَ جَنَّتَهُۥ وَهُوَ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ قَالَ مَآ أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِۦٓ أَبَدٗا

Dan dia memasuki kebunnya dengan sikap merugikan dirinya sendiri (karena angkuh dan kafir); dia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.” (QS.Al-Kahfi:35)

Sebenarnya dia sedang mendzalimi dirinya sendiri dengan mengikuti ajakan hawa nafsu dan syahwatnya yang menyeretnya menuju kebinasaan.

Dalam ayat lain Allah Swt Berfirman :

ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ وَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٞ وَمِنۡهُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٰتِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzhalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.” (QS.Fathir:32)

Dalam ayat ini Allah Swt membagi manusia dalam tiga kelompok.

Pertama, orang yang mendzalimi dirinya yaitu orang yang keburukannya lebih mendominasi daripada kebaikannya.

Kedua, orang yang selalu ingin berlomba dalam kebaikan. Yaitu orang yang tidak memiliki keburukan atau mereka yang kebaikannya lebih dominan daripada keburukannya.

Ketiga, orang yang seimbang kejelekan dan kebaikannya.

Semoga bermanfaat…

KHAZANAH ALQURAN

Mereka adalah Orang-Orang yang Khusyu’ dalam Shalat (Bag. 1)

Di antara petunjuk dari Allah Ta’ala adalah dengan menyebutkan hamba-hamba-Nya yang beriman, keberuntungan dan kebahagiaan mereka, dan juga sarana-sarana yang bisa mewujudkan hal tersebut. Terkandung dalam petunjuk itu adalah agar kita termotivasi untuk memiliki sifat (karakter) sebagaimana sifat yang mereka miliki. Sifat pertama dan utama dari sifat-sifat tersebut adalah khusyu’ dalam shalat.

Pengertian khusyu’

Khusyu’ adalah menghadirkan hati ketika menghadap Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sehingga hati, jiwa, dan gerakan anggota badan pun menjadi tenang, tidak berpaling memikirkan hal-hal lainnya, dan menjaga adab ketika menghadap Rabb-Nya. Dia merenungi semua ucapan (dzikir dan doa) dan juga gerakan dalam shalat, sejak awal hingga akhir shalat. Dengan sebab itu, hilanglah was-was dan pikiran-pikiran yang tidak berguna selama mendirikan shalat. Inilah ruh dan inti shalat, dan juga menjadi tujuan dari ibadah shalat. Inilah shalat yang dicatat pahala untuk orang yang mendirikannya. Shalat yang tidak diiringi dengan khusyu’ dan juga disertai dengan hati yang lalai itu bagaikan jasad yang tidak memiliki ruh.

Terdapat berbagai keajaiban dari nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala (yang diucapkan atau dibaca ketika shalat) yang apabila direnungkan bisa mewujudkan khusyu’ dalam shalat. Namun hal itu tidaklah bisa terwujud, kecuali bagi orang-orang yang hatinya mengetahui makna-makna yang terkandung dalam Al-Qur’an dan hatinya tersebut juga telah merasakan manisnya keimanan. Sehingga dia pun benar-benar mengetahui bahwa setiap nama dan sifat Allah Ta’ala dalam setiap bacaan shalat itu sesuai dengan tempatnya masing-masing.

Renungan ketika takbir dan membaca doa istiftah

Ketika seseorang berdiri menghadap Allah Ta’ala, dia hadirkan dalam hatinya bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha berdiri sendiri (al-qayyuum). Ketika dia mengucapkan takbir (Allahu akbar), dia mempersaksikan kebesaran dan keagungan Allah Ta’ala.

Kemudian dia membaca doa istiftah berikut ini,

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

“Maha suci Engkau, ya Allah. Aku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau.”

Dia mempersaksikan dengan hatinya bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb (Tuhan) yang tersucikan dari semua aib dan tidak memiliki sifat-sifat kekurangan. Allah Ta’ala berhak dipuji dengan semua pujian yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Dalam pujian untuk Allah Ta’ala terkandung sifat kesempurnaan untuk Allah Ta’ala dari semua sisi. Konsekuensinya, Allah Ta’ala itu tersucikan dari semua sifat cela (aib) dan kekurangan.

“Nama-Mu penuh keberkahan”; tidaklah nama Allah Ta’ala disebut untuk sesuatu yang jumlahnya sedikit, kecuali Allah Ta’ala akan memperbanyak jumlahnya. Tidaklah nama Allah Ta’ala disebut untuk kebaikan, kecuali Allah Ta’ala akan menambah dan memberikan keberkahan pada perkara tersebut. Tidaklah nama Allah Ta’ala disebut untuk suatu penyakit, kecuali Allah Ta’ala akan menghilangkannya. Tidaklah nama Allah Ta’ala disebut kecuali setan akan terusir dengan hina dina.

“Maha tinggi Engkau”; Allah Maha tinggi dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Allah Maha tinggi sehingga tidak mungkin menerima sekutu dalam kerajaan-Nya, dalam rububiyyah, uluhiyyah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Renungan ketika membaca doa ta’awudz

Ketika seorang hamba mengucapkan,

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk”; dia memohon perlindungan dengan kekuatan Allah Ta’ala, dia bersandar dengan daya dan kekuatan Allah Ta’ala agar terhindar dari kejahatan musuh (setan) yang berusaha untuk mengganggu dan menjauhkan dirinya dari ibadah dan mendekatkan diri kepada Rabbnya.

Renungan ketika membaca surat Al-Fatihah

Ketika seorang hamba mengucapkan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,

حَمِدَنِي عَبْدِي

“Hamba-Ku memujiku.”

Ketika seorang hamba mengucapkan,

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,

أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي

“Hamba-Ku menyanjungku.” (sanjungan yaitu pujian yang berulang-ulang, pent.)

Ketika seorang hamba mengucapkan,

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

“Yang menguasai hari pembalasan”; dia pun berdiri sejenak menunggu jawaban dari Rabbnya,

مَجَّدَنِي عَبْدِي

Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memuliakanku.”

Betapa lezat kenikmatan yang dirasakan oleh hatinya, kesejukan (kedamaian) yang dirasakan oleh matanya, dan juga kebahagiaan yang dirasakan oleh jiwanya, dengan perkataan Rabbnya,

عَبْدِي

“Hamba-Ku”, sebanyak tiga kali. (HR. Muslim no. 395)

Demi Allah, seandainya dalam hati manusia itu tidak ada kabut syahwat dan gelapnya jiwa, tentu hati tersebut akan terliputi dengan kebahagiaan dan kegembiraan ketika Rabbnya mengatakan kepadanya dengan perkataan-perkataan seperti tersebut dalam hadits di atas.

Kemudian hatinya pun berusaha untuk menghadirkan tiga nama Allah Ta’ala, yang merupakan inti dari asmaaul husnaa, yaitu nama “Allah” (الله); “Ar-Rabb” (الرب); dan nama “Ar-Rahman” (الرحمن).

Ketika menyebut nama “Allah” (الله), dia mempersaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang berhak untuk diibadahi. Ibadah tersebut tidaklah layak ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Semua makhluk tunduk dan menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ

“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka.” (QS. Al-Isra’ [17]: 44)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَّهُ قَانِتُونَ

“Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya tunduk hanya kepada-Nya.” (QS. Ar-Ruum [30]: 26)

Ketika menyebut “Rabbul ‘alamiin” (رَبِّ الْعَالَمِينَ), dia mempersaksikan bahwa Allah adalah Dzat yang Maha berdiri sendiri, tidak membutuhkan satu pun makhluk, bahkan semua makhluk butuh kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala tinggi di atas ‘arsy-Nya. Allah Ta’ala satu-satunya Dzat yang mengurusi dan memelihara makhluk-Nya. Semua urusan ada di tangan-Nya. Semua pengaturan dan pemeliharaan tersebut berasal dari Allah Ta’ala, melalui perantaraan malaikat yang bertugas untuk memberi atau mencegah (rizki), menundukkan atau memuliakan, menghidupkan atau mematikan, memberikan kekuasaan atau menimpakan kehinaan, mengangkat semua kesulitan (musibah), dan mengabulkan doa orang-orang yang membutuhkan.

Allah Ta’ala berfirman,

يَسْأَلُهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS. Ar-Rahman [55]: 29)

Ketika menyebut nama “Ar-Rahman” (الرحمن), dia mempersaksikan bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang telah berbuat baik kepadanya dengan memberikan berbagai macam nikmat dan kebaikan. Ilmu dan rahmat-Nya meliputi semua makhluk-Nya. Nikmat-Nya meliputi semua makhluk-Nya. Allah Ta’ala meliputi makhluk dengan segala nikmat dan keutamaan-Nya. Allah Ta’ala istiwa’ di atas ‘arsy dengan rahmat-Nya, Allah Ta’ala menciptakan makhluk dengan rahmat-Nya, menurunkan kitab-kitab dengan rahmat-Nya, mengutus rasul dengan rahmat-Nya, membuat aturan syariat dengan rahmat-Nya, menciptakan surga dan neraka juga dengan rahmat-Nya.

Renungkanlah bahwa dalam perintah, larangan, dan wasiat-Nya terdapat kasih sayang yang sempurna dan kenikmatan yang banyak. Rahmat (kasih sayang) adalah sebab yang menghubungkan Allah Ta’ala dengan hamba-Nya. Sebaliknya, ‘ubudiyyah (ibadah) adalah sebab dan sarana yang mengantarkan seorang hamba kepada Allah Ta’ala.

Dan termasuk rahmat-Nya yang bersifat khusus adalah rahmat-Nya sehingga dia bisa berdiri (shalat) menghadap Rabbnya. Allah Ta’ala menjadikan dirinya sebagai hamba yang bisa mendekatkan diri dan bermunajat kepada-Nya. Allah Ta’ala memberikan nikmat tersebut kepada dirinya dan tidak kepada yang lainnya. Dia juga bisa menghadirkan hatinya untuk menghadap Allah Ta’ala dan berpaling dari selain Allah Ta’ala. Itu semua termasuk perwujudan kasih sayang Allah Ta’ala kepada dirinya.

Lalu dia pun membaca,

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

“Yang menguasai hari pembalasan.” (QS. Al-Fatihah [1]: 4)

Ketika seseorang mengucapkan ayat tersebut, dia bersaksi tentang kemuliaan Allah Ta’ala sebagai Raja yang haq. Dia bersaksi bahwa Allah adalah Raja yang Maha kuasa. Makhluk benar-benar tunduk kepada-Nya dan segala macam kekuatan tunduk pula kepada keperkasaan-Nya. Dia bersaksi di dalam hatinya bahwa Allah adalah Raja yang Maha mengawasi yang beristiwa’ di atas ‘arsy.  Raja dan penguasa yang haq dan sempurna, pasti adalah Dzat yang maha hidup, maha berdiri sendiri, maha mendengar, maha melihat, dan maha memelihara.

Kemudian sampailah dia dengan ayat,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah [1]: 5)

Dalam ayat ini, terkandung tujuan yang paling utama dan juga sarana yang paling agung untuk meraih tujuan paling mulia tersebut. Tujuan paling utama dalam hidup ini adalah untuk menegakkan ‘ubudiyyah kepada Allah Ta’ala. Sedangkan sarana terbesar untuk bisa menegakkan ‘ubudiyyah tersebut adalah adanya pertolongan dari Allah Ta’ala. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala semata. Tidak ada yang memberikan pertolongan untuk beribadah kepada-Nya kecuali Allah Ta’ala saja.

Kalimat ini mengandung dua macam tauhid, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah. ‘Ubudiyyah tersebut dikandung oleh nama Allah Ta’ala “Ar-Rabb” dan “Allah”. Allah Ta’ala diibadahi karena memiliki hak uluhiyyah, dan Allah Ta’ala dimintai pertolongan karena sifat rububiyyah-Nya. Allah Ta’ala memberikan hidayah (petunjuk) ke jalan yang lurus dengan sebab rahmat-Nya. Oleh karena itu, di awal surat disebutkan nama “Allah”, “Ar-Rabb”, dan “Ar-Rahman” yang ini bersesuaian dengan permintaan untuk bisa beribadah kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta hidayah kepada-Nya.

Dia-lah satu-satunya Dzat yang memiliki kekuasaan untuk memberikan itu semuanya. Tidak ada yang bisa membantunya untuk beribadah kepada Allah kecuali Allah Ta’ala, dan tidak ada yang bisa memberikan hidayah kecuali Allah Ta’ala saja.

Kemudian seseorang mengucapkan,

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah [1]: 6)

Hatinya hadir dan menunjukkan bahwa dia sangat butuh dan urgen (mendesak) untuk meminta hidayah tersebut. Seakan-akan tidak ada perkara lain yang lebih dia butuhkan melebihi permintaan hidayah tersebut. Hidayah itu dibutuhkan oleh setiap jiwa dalam setiap kesempatan. Apa yang kita minta dalam doa tersebut tidaklah terwujud kecuali kita mendapatkan hidayah untuk bisa meniti jalan yang lurus menuju Allah Ta’ala. Kita mendapatkan taufik untuk mewujudkan hidayah tersebut sesuai dengan yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala, dan juga menjaganya dari hal-hal yang bisa merusaknya.

Kemudian jelaslah bahwa orang-orang yang mendapatkan hidayah tersebut adalah orang-orang yang memang mendapatkan nikmat dan karunia dari Allah Ta’ala. Bukan orang-orang yang dimurkai (غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ), yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran (al-haq) namun tidak mau mengikuti kebenaran tersebut. Bukan pula orang-orang yang sesat (وَلاَ الضَّالِّينَ), yaitu orang-orang yang beribadah kepada Allah Ta’ala tanpa dasar ilmu. Dua kelompok tersebut sama-sama berserikat dalam hal berkata tentang Allah, tentang ciptaan, perintah, nama, dan sifat-Nya namun tanpa ilmu. Adapun jalan orang-orang yang mendapatkan nikmat tersebut berbeda dengan dua kelompok tersebut, baik dari sisi ilmu dan amal.

Ketika dia selesai dari pujian, doa, dan juga tauhid yang terkandung dalam surat Al-Fatihah, disyariatkan baginya untuk mengucapkan “aamiin”, sebagai penutup dan juga diiringi oleh malaikat yang ada di langit. Ucapan “aamiin” ini merupakan perhiasan shalat, sebagaimana mengangkat dua tangan juga merupakan perhiasan shalat, dan juga bentuk mengikuti sunnah, mengagungkan perintah Allah, dan juga sebagai syi’ar berpindah dari satu rukun ke rukun yang lain.

[Bersambung]

***

Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc., PhD

Artikel: Muslim.or.id

Siapa Saja Orang yang Dapat Disebut Mati Syahid?

Para ulama berbeda pendapat mengenai makna mati syahid.

Dalam syariat Islam dikenal istilah mati syahid yang mendapatkan tempat istimewa di sisi Allah SWT. Orang yang mati syahad nantinya akan masuk surga tanpa dihisab, dan jenazahnya tidak wajib dimandikan atau dikafani. Lantas, siapa saja yang dapat disebut mati syahid dalam Islam?

Dalam buku Mati Syahid karya Ustadz Ahmad Sarwat dijelaskan, orang yang mati syahid adalah mereka yang menjadi saksi. Para ulama berbeda pendapat mengenai makna saksi dalam hal ini. Sebagian ulama berpendapat bahwa mereka yang mati syahid akan menyaksikan pahala dan kemuliaan yang Allah SWT berikan pada saat mereka meninggal dunia.

Sebagian yang lain mengatakan orang yang mati syahid itu menyaksikan datangnya para malaikat yang menaungi mereka dengan sayap-sayap mereka di saat kematiannya. Serta ada juga ulama yang berpendapat mereka yang mati syahid itu menyaksikan dunia dan akhirat.

Ulama lainnya mengatakan orang yang mati syahid menjadi saksi atas perjuangan membela kebenaran dari Allah SWT. Sehingga dirinya menemui kematian dalam melakukan pembelaan itu. Ulama kalangan Al-Azhari bahkan menyebut, seorang syahid akan menyaksikan Darus Salam sebelum terjadinya hari kiamat.

Allah berfirman dalam Alquran Surah Ali Imran ayat 169: “Wa laa tahsabanna alladzina qutiluu fi sabilillahi amwaatan bal ahyaa inda Rabbihim yurzaqun,”. Yang artinya: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezeki,”.

Namun demikian, ternyata ada sebagian ulama memaknai kata syahid bukan sebagai orang yang menjadi saksi. Namun justru bermakna sebaliknya, yaitu orang yang disaksikan (masyhud).

Dasar pendapat mereka bahwa terkadang wazan (susunan grammatikal Arab) berupa fa’il bisa juga bermakna bukan sebagai pelaku. Namun, dapat menjadi objek yang kepadanya dilakukan suatu pekerjaan.

Sehingga orang yang mati syahid itu bukanlah orang yang menjadi saksi, justru maknanya adalah orang yang kematiannya disaksikan. Umumnya kalangan ulama menyatakan, yang menyaksikan atau yang menjadi saksi bagi orang yang mati syahid tidak lain adalah para malaikat yang mulia.

Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran Surah Al-Hajj ayat 78: “Innalladzina qaalu Rabbunallahu tsumma-staqaamuu tatanazzalu alaihim al-malaa-ikatu alla takhaafuu wa laa tahzanuu wa absyiruu bil-jannati allati kuntum tuw’adun,”. Yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu,”.

Disebutkan juga para malaikat dapat menjadi saksi atas kebaikannya pula serta atas haknya masuk ke surga. Bagi ulama kalangan Hanafiyah, orang yang mati syahid ialah semua orang mukallaf, Muslim, suci dari hadas, dan mereka yang terbunuh secara zalim dengan luka-luka.

Ulama dari kalangan Malikiyah berpendapat orang yang mati syahid adalah mereka yang hanya ikut dalam perang fisik saja. Meski matinya di negeri Islam dan tidak ikut membunuh, meskipun berjanabah, dan bukan orang yang keluar dalam keadaan hidup meski ditolong oleh lawan, serta bukan orang yang maghmur. Sedangkan ulama dari kalangan Syafiiyah menyebut definisi orang yang mati syahid adalah mereka yang mati karena sebab memerangi orang-orang kafir ketika terjadi peperangan.

KHAZANAH REPUBLIKA

Di Manakah Kepedulian Kita?

Segala puji bagi Allah, Rabb yang telah menetapkan takdir segala makhluk lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi pembawa cahaya, pemberi kabar gembira dan peringatan, seorang da’i yang mengajak umatnya untuk mengabdi kepada Allah semata dengan hati dan segenap anggota badan mereka. Amma ba’du.

Saudaraku, .. deraan musibah masih terasa menyisakan kepedihan di hati saudara-saudara kita yang tertimpa bencana letusan Gunung Merapi di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Rumah-rumah yang hancur, ternak yang musnah, sanak saudara yang hilang dan meninggal, kebutuhan hidup sehari-hari yang tidak menentu. Itu semua menyisakan bongkahan-bongkahan keputus-asaan dan mempertipis harapan. Belum lagi, ketika musibah yang menimpa jasad ini diperparah dengan musibah yang menimpa hati dan aqidah mereka, berupa upaya untuk mencari keselamatan dan menolak bala yang menyimpang dari syari’at, munculnya ritual-ritual kemusyrikan, ditambah lagi gerakan pemurtadan terselubung pun mulai menebarkan jaring-jaring maut demi mengantarkan kaum muslimin yang lemah aqidahnya menuju jurang kehancuran… Allahul musta’aan.

Saudaraku, … tidakkah kita ingat, bahwa sesama kaum muslimin adalah bersaudara. Satu sama lain saling memperkuat dan mendukung, bukan saling melemahkan dan merongrong. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya hanya orang-orang beriman itulah yang bersaudara….” (QS. al-Hujurat: 10). Sebuah persaudaraan suci, ikatan keimanan yang tumbuh dari perasaan cinta karena Allah yang akan menyisakan rasa manis dalam hati seorang mukmin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa yang memilikinya maka dia akan bisa merasakan manisnya iman… di antaranya tidaklah dia mencintai seseorang melainkan karena cintanya kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah jalinan persaudaraan yang telah dicontohkan oleh kaum pendahulu kita yang salih. Tatkala rasa kikir telah tercabut dari dalam hati mereka. Sehingga mereka tidak segan-segan untuk lebih mendahulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingan dirinya sendiri. Allah mengabadikan keteladanan mereka dalam kitab-Nya (yang artinya), “Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. al-Hasyr: 9). Aduhai, dimanakah posisi kita dibandingkan dengan mereka? Pantaskah kita mengaku sebagai pengikut mereka sementara rasa kikir itu masih kental dan melekat dalam hati dan jiwa kita?

Kaum muslimin -semoga Allah merahmati kami dan anda sekalian-musibah yang besar ini telah menelan korban yang tidak sedikit. Yang akan sangat susah apabila hanya dihitung dengan rupiah dan dirangkum dalam data-data statistik. Bisa jadi status Gunung Merapi menurun besok atau lusa, akan tetapi betapa banyak saudara kita yang tidak bisa menikmati kembali teduhnya suasana rumah mereka akibat landaan awan panas yang menghancurkan rumah beserta perabotan yang ada di dalamnya. Maka di saat yang demikian kritis, muncullah gerakan pemurtadan yang menawarkan berbagai kesenangan dunia untuk mereka -di saat mereka sedang haus-hausnya terhadap itu semua- maka apa yang bisa kita perbuat untuk menyelamatkan aqidah dan keimanan mereka?

Apakah kita bisa menyelamatkan mereka dengan hanya berteriak-teriak di atas mimbar mengutuk perbuatan orang-orang kafir tanpa kita berupaya untuk menggapai tangan-tangan mereka? Wahai saudaraku, para salafus shalih adalah imam/panutan bukan hanya dalam hal ilmu, namun juga dalam hal amal! Tidakkah kita ingat ucapan emas seorang ulama yang mulia Fudhail bin Iyadh rahimahullah, “Seorang yang alim/ahli ilmu akan tetap dinilai sebagai jahil/orang bodoh selama dia belum beramal dengan ilmunya. Apabila dia sudah beramal dengan ilmunya barulah dia benar-benar menjadi seorang yang alim.” (Diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam Iqtidha’ al-‘Ilmi al-‘Amala)

Oleh sebab itu, keilmuan yang ada pada diri seseorang diukur dengan rasa takut dan ketakwaannya kepada Allah, bukan semata-mata banyaknya hafalan dan riwayat yang dia bawakan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28). Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Hakekat ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat, akan tetapi adanya rasa takut -kepada Allah-.” (disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya al-Fawa’id). Para ulama kita juga memperingatkan, “Orang-orang yang rusak di antara ulama kita, maka padanya terdapat kemiripan dengan kaum Yahudi. Dan orang-orang yang rusak di antara ahli ibadah kita, maka padanya terdapat kemiripan dengan Nasrani.”

Betapa banyak bantuan logistik yang dicari, ditawarkan dan disalurkan, akan tetapi betapa sedikit bantuan bimbingan aqidah yang didapatkan oleh pengungsi. Seolah-olah urusan perut dan ekonomi adalah segalanya, dan urusan agama dan iman selalu dikebelakangkan. Sampai-sampai -kalau perlu- agama pun mereka jual demi mendapatkan ceceran-ceceran kesenangan dunia yang sementara. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan, “Bersegeralah kalian untuk beramal sebelum datangnya terpaan fitnah/cobaan bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang masih beriman dan di sore harinya menjadi kafir. Atau di sore harinya beriman dan pagi harinya menjadi kafir. Dia rela menjual agamanya demi mendapatkan ceceran kesenangan dunia.” (HR. Muslim).

Belum lagi, upaya sebagian kalangan yang ingin menghibur para pengungsi dengan hiburan-hiburan yang melanggar norma-norma syari’at. Bukannya menambah tenang, justru menambah hati resah dan gelisah. Subhanallah! Betapa berharganya ilmu syar’i ini di tengah gelombang musibah yang melanda umat ini. Yang dengan ilmu itu seorang hamba akan terbentengi dari tindakan-tindakan yang mencelakakan dirinya -dalam keadaan dia tidak menyadarinya-. Sungguh tepat ucapan para ulama pendahulu kita, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan akan tetapi tidak menepatinya.”

Sehingga ilmu agama inilah yang akan membukakan berbagai pintu kebaikan bagi mereka yang tertimpa musibah secara khusus dan umat manusia secara umum. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, niscaya akan dipahamkan dalam masalah agama.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan bekal ilmu inilah seorang muslim meniti jalan menuju kebahagiaan yang hakiki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu -agama- maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Dari situlah, maka bimbingan aqidah dan kajian-kajian islam ilmiah bagi para pengungsi merupakan solusi kongkret untuk menyelamatkan nasib mereka, selain bantuan material lainnya. Tidakkah kita ingat ucapan Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Umat manusia jauh lebih banyak membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari hanya sekali atau dua kali saja. Adapun ilmu, maka ia dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.” (disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Miftah Daar as-Sa’aadah). Wahai kaum muslimin, sudahkah kita berperan serta dalam proyek dakwah dan penyelamatan aqidah yang mulia ini? Ataukah kita akan duduk berpangku tangan saja… Hanya Allah Sang pemberi taufik..

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel www.muslim.or.id

Sedekah adalah Bukti Keimanan

Salah satu cara kita mengetahui kadar keimanan kita adalah dengan melihat apakah kita suka bersedekah atau tidak. Bersedekah tidak harus banyak dan tidak harus dengan uang, sehingga tidak kaya atau tidak punya uang bukanlah menjadi alasan kita untuk tidak bersedekah. Bersedekah dengan uang Rp 10.000, Rp 20.000, atau Rp 50.000 itu sudah cukup. Atau bersedekah dengan beras yang kita miliki sebanyak satu kilo atau dua kilo, ini pun sudah cukup.

Sedekah adalah bukti keimanan. Bukti keimanan kita terhadap hari akhir, bahwasanya kelak di hari kiamat kita akan mendapat balasan pahala dari Allah, meskipun di dunia kita tidak mendapatkan apa-apa. Kita lelah bekerja mencari uang dan harta, lalu uang tersebut kita berikan tanpa kompensasi dan kita hanya berharap balasan di hari kiamat kelak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut bahwa sedekah itu adalah bukti keimanan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

وَالصَّلَاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

“Shalat adalah cahaya, sedekah merupakan bukti, sabar itu sinar panas, sementara Al-Qur’an bisa menjadi pembelamu atau sebaliknya, menjadi penuntutmu” (HR. Muslim).

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa penamaan sedekah karena satu akar kata dengan kata ash-Shidqu” (huruf ص, د, ق) yaitu jujur. Sehingga sedekah menunjukkan kejujuran iman seseorang dan ini adalah bukti. Beliau rahimahullah berkata,

أي: دليل على صحة إيمان صاحبها، وسميت صدقة؛ لأنها دليل على صدق إيمانه، وبرهان على قوة يقينه.

“Sedekah adalah dalil atas kebenaran keimanan seseorang. Itulah mengapa dinamakan sedekah karena menunjukkan jujurnya keimanan seseorang dan bukti kuatnya keyakinannya” (Syarh Muslim, 3: 86).

Yang menguatkan juga bahwa sedekah adalah bukti keimanan yaitu manusia sangat cinta terhadap harta yang didapatkannya. Sehingga manusia punya sifat dasar tidak ingin berpisah dengan harta yang dia miliki. Hanya keimanan yang kuat yang bisa melawan hal ini. Begitu besarnya cinta manusia terhadap harta, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut harta sebagai fitnah terbesar bagi umatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujian), dan fitnah umatku adalah harta” (HR. Bukhari).

Sedekah adalah bukti keimanan, sedangkan sifat pelit dan kikir itu sebaliknya. Oleh karena itu, dua hal ini tidak akan menyatu dalam keimanan seorang mukmin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَـجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيْمَانُ فِـيْ قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا.

“Tidak akan pernah berkumpul antara kekikiran dan iman di hati seorang hamba selama-lamanya” (HR. Ahmad. Lihat Shahih al-Jaami’ Ash-Shaghir no. 7616).

Seorang mukmin yang bersedekah juga yakin dengan keimanannya bahwa Allah akan mengganti harta yang telah disedekahkan dengan balasan yang jauh lebih baik.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya. Dan Dia-lah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Tidak hanya itu, seorang mukmin yang bersedekah juga yakin bahwa apa yang disedekahkan akan diberi balasan yang berlipat ganda oleh Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّـهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّـهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّـهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS Al-Baqarah: 261).

Seorang muslim yang bersedekah juga yakin dengan keimanannya bahwa hartanya tidak akan berkurang dengan sedekah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ

“Harta seorang hamba tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR Tirmidzi. Lihat Shahih Sunan Ibni Majah).

Syaikh Muhammad Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan bahwa harta yang disedekahkan akan bertambah berkahnya. Beliau rahimahullah berkata

تصدق بها منه بل يبارك له فيه

“Harta yang disedekahkan akan diberkahi (diberikan kebaikan yang banyak)” (Tuhfatul Ahwadzi, 6: 212).

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa sedekah bisa menambah harta kita (misalnya bisnis menjadi lebih lancar) dan Allah Ta’ala akan menggantikan harta tersebut dengan yang lebih baik. Beliau rahimahullah berkata,

فالصَّدقات يزيد الله بها الأموال، ويُنزل بها البركة، ويُعَوِّض الله فيها صاحبها الخير العظيم

“Dengan sedekah, Allah akan menambahkan hartanya, Allah turunkan keberkahan dan Allah akan gantikan hartanya dengan kebaikan yang besar” (Syarh Riyadhus Shalihin, https://binbaz.org.sa/audios/2514/191).

Demikian, semoga bermanfaat.

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel: www.muslim.or.id

Doa Ketika Mengambil Al-Qur’an

Ketika kita hendak menyentuh atau mengambil Al-Quran, tentunya selain harus suci dari hadas besar dan kecil, kita juga dianjurkan untuk membaca doa. Tidak ada yang lebih mulia dan agung sebagai imamnya orang Islam selain kitab suci (Al-Qur’an). Posisi Al-Qur’an menjadi rujukan pertama dan utama dalam setiap pergulatan hukum dan tindakan sosial.

Al-Qur’an akan menjadi syafaat tersendiri bagi pembacanya manakala pembaca tersebut mampu mengimplementasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai dan ajaran yang terkandung di dalamnya dan memiliki niat yang baik. Namun, bukan sesuatu yang tidak mungkin Al-Qur’an akan mendatangkan laknat kepada pembacanya manakala Al-Qur’an menjadi bahan komoditas.

Adapun lafadz doa mengambil Al-Quran, sebagaimana disebutkan dalam kitab Majmu’ah Ahzab wa Awrad Al-Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi, adalah sebagai berikut;

رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ بِسْمِ اللهِ سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهِ وَﭐللهُ أَكْبَرْ وَلاَ حَوْلاَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ عَدَدَ كُلِّ حَرْفٍ كُتِبَ أَوْ يُكْتَبُ أَبَدَ الأَبِدِيْنَ وَدَهْرَ الدَّاهِرِيْنَ يَا رَبَّ العالَمِيْنَ

Robbanaa aamannaa bimaa anzalta wattaba’nar rosuula faktubnaa ma’asy syaahidiin. Bismillaahi, subhaanallaahi walhamdu lillaahi wallaahu akbaru wa laa hawla wa laa quwaata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi ‘adada kulli harfin kutiba aw yuktabu abadal aabidiin wa dahrod daahiriina yaa robbal ‘aalamiin.

Artinya:

Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi. Dengan menyebut nama Allah.

Maha Suci Allah, dan segala puji bagi Allah. Tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Besar. Tiadalah daya dan kekuatan melainkan daya dan kekuatan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar, sebanyak setiap huruf yang telah ditulis (oleh manusia) atau yang akan ditulis, terus menerus selama berkekalan kurun dan berterusan masa, wahai Tuhan semesta alam.

Hukum Mencium Al-Qur’an Setelah Membacanya

Ketika kita membaca dan mengambil Al-Quran secara bersama-sama atau tadarus di masjid, sering kita menjumpai seseorang mencium Al-Qur’an setelah dia selesai membacanya. Bahkan para kiai sering kita juga lihat mencium Al-Qur’an setelah membacanya. Sebenarnya, bagaimana hukum mencium Al-Qur’an setelah membacanya, apakah boleh?

Mencium Al-Qur’an merupakan pemandangan yang sering kita jumpai di tengah masyarakat Muslim Indonesia. Setelah membaca Al-Qur’an, mereka biasanya menciumnya terlebih dahulu sebelum ditutup dan diletakkan. Bahkan di kalangan masyarakat pesantren, bukan hanya Al-Qur’an yang dicium, namun kitab-kitab kuning juga mereka cium setelah mereka membaca dan mempelajarinya.

Pada dasarnya, seseorang mencium Al-Qur’an karena didorong oleh kecintaan dan sikap mengagungkan Al-Qur’an. Ini sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Ikrimah bin Abu Jahl. Ia mencium Al-Qur’an karena didorong oleh sikap mengagungkan pada Al-Qur’an. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Darimi dari Abi Mulaikah, dia berkata;

أَنَّ عِكْرِمَةَ بْنَ أَبِي جَهْلٍ، كَانَ يَضَعُ الْمُصْحَفَ عَلَى وَجْهِهِ وَيَقُولُ: كِتَابُ رَبِّي، كِتَابُ رَبِّي

“Sesungguhnya Ikrimah bin Abi Jahl biasanya meletakkan mushaf di wajahnya lalu berkata, ‘Kitab Tuhanku, kitab Tuhanku.’”

Melalui riwayat ini, maka Imam al-Suyuthi mengatakan bahwa mencium Al-Qur’an adalah sunah. Dalam kitab al-Itqan fi ‘Ulumil Quran, beliau berkata sebagai berikut;

يُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ الْمُصْحَفِ لِأَنَّ عِكْرِمَةَ بْنَ أَبِي جَهْلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يَفْعُلُهُ وَبِالْقِيَاسِ عَلَى تَقْبِيلِ الْحَجَرِ الاَسْوَدِ ذَكَرَهُ بَعْضُهُمْ وَلِأَنَّهُ هَدْيُهُ مِنَ اللهِ تَعَالَى فَشِرعَ تَقْبِيلُهُ كَمَا يُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ الْوَلَدِ الصَّغِيرِ

“Disunahkan mencium mushaf karena Ikrimah bin Abu Jahl melakukaknnya, dan (dalil lain) adalah dengan dikiaskan dengan mencium Hajar Aswad sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama, dan karena mushaf Al-Qur’an merupakan anugerah dari Allah swt. Karenanya disyariatkan menciumnya seperti disunahkannya mencium anak kecil.”

Dengan demikian, mencium Al-Qur’an setelah membacanya, atau karena  hal lain, hukumnya adalah sunah. Di dalam Islam, kita disunahkan untuk senantiasa mencintai dan mengagungkan syiar-syiar Islam, seperti Al-Qur’an dan Hajar Aswad. Dan salah satu bentuk mencintai dan mengagungkan syiar-syiar tersebut adalah dengan menciumnya.

BINCANG SYARIAH

Tuhanmu Mengenal Hakikat Dirimu!

Allah Swt Berfirman :

رَّبُّكُمۡ أَعۡلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمۡۚ إِن تَكُونُواْ صَٰلِحِينَ فَإِنَّهُۥ كَانَ لِلۡأَوَّٰبِينَ غَفُورٗا

“Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang yang baik, maka sungguh, Dia Maha Pengampun kepada orang yang bertobat.” (QS.Al-Isra’:25)

Prasangka orang lain tidak akan merugikanmu dan pendapat mereka tidak berpengaruh terhadap dirimu. Perbaiki hubunganmu dengan Allah karena Dia lah yang mengetahui semua tentang dirimu.

Jangan bangga dengan pujian manusia kepadamu. Dan jangan membanggakan diri dengan tampilan suci dan baik, tapi fokuskan hidupmu untuk mencari keridoan Allah dan menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya. Lalu jangan pernah peduli apakah orang akan memujimu atau mencelamu.

Allah mengenalmu melebihi dirimu sendiri. Bukankah Allah Swt berfirman :

فَلَا تُزَكُّوٓاْ أَنفُسَكُمۡۖ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS.An-Najm:32)

Maka kembalilah kepada Allah dengan dirimu apa adanya. Akui segala kesalahan dan kekuranganmu. Karena Allah Swt berfirman :

فَإِنَّهُۥ كَانَ لِلۡأَوَّٰبِينَ غَفُورٗا

“Maka sungguh, Dia Maha Pengampun kepada orang yang bertobat.” (QS.Al-Isra’:25)

Al-awwab adalah orang yang selalu kembali kepada Allah. Dan sebagian ahli tafsir menyebut kata “awwabiin” disini adalah orang yang berbuat dosa kemudian bertaubat, lalu berbuat dosa lagi kemudian bertaubat.

Allah sangat menanti mereka yang kembali walau sebanyak apapun dosa yang pernah ia lakukan. Allah Swt Berfirman melalui lisan Nabi Nuh as.

فَقُلۡتُ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارٗا

Maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun.” (QS.Nuh:10)

Semoga bermanfaat…

KHAZANAH ALQURAN

Saran Imam Al-Ghazali untuk Jamaah Setelah Jalankan Haji

 Setelah melaksanakan rukun dan wajib haji, jamaah disarankan mengunjungi pemakaman Syuhada, masjid dan sumur yang pernah digunakan Rasulullah. Pemakaman, Syuhada, Masjid dan Sumur yang disarankan dikunjungi itu lokasinya ada di Madinah.

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Asrar al-Haj mengatakan, bahwa jumlah pemakaman Syuhada dan masjid di Madinah berjumlah 30, semuanya dikenal oleh penduduk setempat. Masjid yang sering dikunjungi Rasulullah di aantaranya Masjid Qiblatain, Masjid Ibnu Abd al-Asyhal, Masjid Bani Ashifah, Masjid Bani Muawiyah dan Masjid Bani Jhafar yang di dalamnya terdapat batu yang pernah diduduki oleh Rasulullah SAW

“Maka dianjurkan mengunjungi tempat-tempat tersebut semampunya,” katanya.

Selain itu juga Imam Ghazali menyarankan agar jamaah haji dan umrah mengunjungi tujuh sumur yang airnya pernah digunakan Rasulullah untuk wudhu, minum dan mandi. Sumur-sumur itu di antaranya sumur Aris, sumur Ha, sumur Rauqah, sumur Aras, sumur Bidha’ah, sumur Bashshah.

“Ketika mengunjungi sumur itu niatkan untuk mengharap keberkahan dari nabi dan meminta kesembuhan kepada Allah,” katanya.

Imam Ghazali mengatakan, jika dia mampu menetap di Madinah dengan tetap megindahkan status keihramannya, maka dia mendapatkan anugerah yang besar. Rasulullah SAW bersabda.

“Tidaklah seseorang bersabar menahan kesusahan dan kesulitan yang dideritanya di kota ini melainkan aku akan menjadi penolongnya kelak pada hari kiamat. “HR Muslim).

Nabi SAW juga bersabda. “Barangsiapa bisa meninggal di Madinah, hendaklah dia meninggal di sana karena tidak akan meninggal seseorang di Madinah melainkan aku (Rasulullah) akan menjadi penolong dan saksi baginya pada hari kiamat. “HR. Tirmidzi).

Setelah itu kata Imam Ghazali ketika kita sudah selesai mengerjakan semua amalan dan urusan agama lain berniat keluar dari Madinah, maka disunahkan mendatangi Makam kembali untuk berziarah dan berpamitan kepada Rasulullah. Saat berziarah juga dianjurkan membaca doa-doa masyhur.

“Memohon kepada Allah agar berkenan memberi kesempatan kembali ke Madinah serta meminta keselamatan selama perjalanan pulang ke kampung halaman,” katanya.

Kemudian salat dua rakaat di Raudhah tempat Rasulullah berdoa dan bermunajat sebelum dibangun bilik kecil di dalam masjid. Ketika keluar seyogianya keluar dengan melangkahkan kaki kiri terlebih dahulu kemudian kaki kanan sambil membaca doa.

“Ya Allah berikanlah rahmag Agung kepada Nabi Muhammad dan keluarga Muhammad dan janganlah engkau jadikan ini sebagai saat terakhirku dengan Nabi-Mu. Gugurkan semua dosaku dengan menziarahinya. Sertakanlah keselamatan dalam kepulanganku, mudahkanlah aku kembali pada keluarga dan kampung halaman dengan selamat wahai Dzat Yang Paling Menyayangi di antara segala yang menyayangi.”

“Sebelum pergi hendak mengeluarkan sedekah untuk para tetangga Rasulullah sesuai kemampuan. Hendaklah pula mengunjungi setiap masjid yang berada di antara Madinah dan Makkah, Lalu Salat di sana yang masjidnya kurang lebih berjumlah 20 masjid,” kata Imam Ghazali.

IHRAM