Lima Faedah Istihdad (Cukur Bulu Kemaluan)

Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk rutin istihdad (mencukur bulu kemaluan). Istihdad dijelaskan Rasulullah sebagai salah satu fitrah manusia.

“Ada lima hal yang termasuk fitrah; khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan memangkas kumis” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di zaman modern, istihdad diketahui memiliki banyak manfaat, diantaranya adalah lima poin sebagai berikut:

1. Kebersihan terjaga

Rambut kemaluan yang tidak dicukur membuat area rahasia tersebut lebih cepat kotor. Keringat dan bakteri mudah menumpuk. Berbeda jika rambut tersebut dicukur. Kebersihannya menjadi lebih terjaga.

2. Terhindar dari bau

Rambut kemaluan yang dibiarkan panjang dan tidak terawat membuat area tersebut menjadi lebih bau. Pasalnya, panas, keringat dan bakteri bercampur jadi satu. Dengan rutin mencukurnya seperti nasehat Rasulullah, maka aroma area tersebut dapat lebih terjaga.

3. Sehat

Bulu rahasia yang panjang dan tidak terawat membuat keringat dan bakteri menumpuk di tempat itu. Jika lama dibiarkan, bakteri yang menumpuk dapat menimbulkan penyakit/infeksi. Dengan mencukur rambut kemaluan, kebersihan lebih terjaga dan penyakit/infeksi dapat dihindari.

Area kemaluan yang terjaga kebersihannya menjadikan seseorang lebih sehat. Bukan saja terhindar dari bau, dengan mencukur bulu kemaluan secara rutin juga dapat terhindar dari infeksi atau penyakit kulit.

4. Meningkatkan sensitivitas saat bercinta

Seperti dikutip dari Health Me Up, kulit di sekitar selangkangan sangat sensitif terhadap sentuhan. Namun, bulu kemaluan yang panjang bisa membatasi kontak langsung dengan kulit sensitif tersebut. Dengan mencukurnya, membuat suami/istri lebih mudah memberi stimulasi di area tersebut.

5. Lebih higienis bagi wanita

Khusus bagi wanita, manfaat lain dari mencukur bulu rahasia tersebut adalah menjadikannya lebih higienis. Terutama saat menstruasi. Mencukur bulu rahasia membuat area tersebut tidak mudah terkena jamur dan relatif terhindar dari rasa gatal.

Demikianlah lima di antara manfaat istihdad. Ternyata apa yang diajarkan Rasulullah belasan abad lalu, kini terbukti manfaat dan hikmahnya bagi manusia. [bersamadakwah]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2374209/lima-faedah-istihdad-cukur-bulu-kemaluan#sthash.kOMl8ksK.dpuf

Sifat Sidratul Muntaha Serupa Pohon

TERDAPAT beberapa riwayat shahih yang menjelaskan sifat fisik Sidratul Muntaha, berikut diantaranya,

  1. Hadis dari Anas radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Aku melihat Shidratul-Muntaha di langit ke tujuh. Buahnya seperti kendi daerah Hajar, dan daunnya seperti telinga gajah. Dari akarnya keluar dua sungai luar dan dua sungai dalam. Kemudian aku bertanya, “Wahai Jibril, apakah keduanya ini?” Dia menjawab, “Adapun dua yang dalam itu ada di surga sedangkan dua yang di luar itu adalah Nil dan Eufrat.” (HR. Bukhari 3207). Dalam riwayat Ahmad (12673), terdapat keterangan, “..kemudian aku melihat sidratul muntaha di langit ketujuh..”
  2. Hadis dari Asma bintu Abu Bakr radhiyallahu anhuma, beliau mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan tentang Sidratul Muntaha, “Orang yang naik kuda baru bisa melintasi bayang-bayangnya selama seratus tahun atau seratus penunggang kuda, bisa dinaungi bayang-bayangnya, di sana ada laron dari emas, buahnya seperti kendi besar.” (HR. Turmudzi 2541 dan beliau menilai: Hasan Shahih).
  3. Hadis dari Abu Dzar radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “hingga saya berhenti di sidratil muntaha, dan pohon ini diliputi warna, yang saya tidak tahu apa itu.”
  4. Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ketika saya dimirajkan ke langit ke tujuh, saya diajak ke sidratul muntaha, ketika pohon ini diliputi perintah Allah, dia berubah. Tidak ada seorangpun manusia yang mampu menggambarkannya, karena sangat indah.” (HR. Abu Yala Al-Mushili 3450 dan dishahihkan Husain Salim Asad).

Dari beberapa hadis di atas, kita bisa menyimpulkan gambaran Sidratul Muntaha,

  • Sidratul muntaha bentuknya pohon, layaknya pohon bidara. Sama nama, namun beda hakekat.
  • Pohon ini berada di atas langit ketujuh.
  • Pohon ini sangat besar, hingga ketika penunggang kuda hendak melintasi bayang-bayangnya, dia membutuhkan waktu 100 tahun baru bisa sampai ke ujung.
  • Sidratul muntaha memiliki duan dan buah
  • Daun sidratul muntaha seperti telinga gajah, dan buahnya seperti kendi yang sangat besar.
  • Terdapat laron-laron dari emas di sana.
  • Diliputi dengan perintah Allah, hingga warnanya berubah.
  • Pohon sidratul muntaha sangat indah, hingga tidak ada manusia yang mampu menggambarkan keindahannya.
  • Di dekat sidratul muntaha terdapat surga

Ya Rabb, berikan kami kekuatan istiqamah dan masukkan kami ke dalam surga-Mu dengan rahmat-Mu. Amiin. Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2374208/sifat-sidratul-muntaha-serupa-pohon#sthash.r1XRLNiO.dpuf

Makna Kata Sidratul Muntaha

SIDRAH artinya pohon sidr (bidara), sama nama namun hakikatnya beda. Muntaha artinya puncak. Ibnu Abbas dan para ahli tafsir mengatakan,

“Dinamakan sidratul muntaha (pohon puncak), karena ilmu malaikat puncaknya sampai di sini. Tidak ada yang bisa melewatinya, kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dan diriwayatkan dari Ibnu Masud radhiyallahu anhu, bahwa dinamakan sidratul muntaha karena semua ketetapan Allah yang turun, pangkalnya dari sana dan semua yang naik, ujungnya ada di sana.” (Taliqat ala Shahih Muslim, Muhamad Fuad Abdul Baqi, 1/145).

Tidak jauh berbeda dengan apa yang dsampaikan Imam As-Sadi. Dalam tafsirnya, beliau menjelaskan alasan penamaan sidratul muntaha, “Dinamakan sidratul muntaha, karena tempat pohon ini merupakan puncak segala sesuatu yang naik dari bumi, dan yang Allah turunkan, pangkalnya di sidratul muntaha, baik wahyu atau lainnya. Bisa juga dimaknai, karena sidartul muntaha merupakan puncak yang diketahui makhluk. (lebih dari itu, makhluk tidak tahu), karena pohon ini berada di atas langit dan bumi. Sehingga sidratul muntaha merupakan puncak ketinggian, atau lainnya. Allahu alam.”

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2374207/makna-kata-sidratul-muntaha#sthash.16zyrkbW.dpuf

Tahukah Kamu Apa itu Sidratul Muntaha?

SIDRATUL muntaha, Allah sebutkan makhluk istimewa ini dalam Alquran, di surat An-Najm, “Apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, yaitu di Sidratil muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm: 12 18)

Tafsir Umum

Apakah orang musyrikin hendak meragukan dan membantah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah melihat Jibril. Padahal dia telah melihat Jibril dalam bentuk aslinya sebanyak 2 kali: (1) ketika Jibril berada di atas ufuk yang tinggi (di bawah langit dunia) dan jibril mendekat untuk menyampaikan wahyu kepadanya. (2) ketika di Sidratil muntaha di atas langit ke tujuh, pada saat beliau menjalani isra miraj. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam melihat Jibril di tempat tersebut, tempat para arwah yang tinggi dan suci, yang tidak bisa didekati setan atau arwah yang buruk.

Di dekat sidratul muntaha terdapat surga yang berisi seluruh puncak kenikmatan, yang menjadi puncak angan-angan. Ini dalil bahwa surga berada di tempat yang sangat tinggi, di atas langit ketujuh. Ketika sidratul muntaha diliputi dengan ketetapan dari Allah. Menjadi sesuatu yang sangat besar dan indah dengan gemerlap warna. Tidak ada yang bisa menggambarkan keindahannya dengan rinci kecuali Allah. Pandangan Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak tolah toleh dari arah yang menjadi tujuannya, tidak juga melebihi batas yang diizinkan. Ini menunjukkan bagaimana adab beliau shallallahu alaihi wa sallam.

Beliau melihat berbagai kejadian yang luar biasa. Beliau melihat surga, melihat neraka dan melihat kejadian gaib pada malam isra miraj. (simak Taisir Karim Ar-Rahman, hlm. 818)

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2374206/tahukah-kamu-apa-itu-sidratul-muntaha#sthash.SZTYXhVk.dpuf

Menjawab Salam dari Orang Non Islam

DARI ‘Aisyah radhiallahu anha berkata, “Sekelompok orang-orang Yahudi minta izin untuk bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mereka mengucapkan: Assaamu’alaikum (kematian bagimu).” ‘Aisyah menjawab; ‘Bal ‘alaikumus saam wal la’nah.’ (Justru bagi kalian kematian dan laknat)”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai, kelemahlembutan dalam segala urusan.’ Lalu ‘Aisyah berkata, ‘Tidakkah Anda mendengar ucapan mereka?’ Jawab beliau: ‘Ya, aku mendengarnya, dan aku telah menjawab; wa’alaikum.’ (HR. Muslim, hadits no 4027)

 

Hikmah Hadits:

1. Kedengkian orang-orang kafir, khususnya orang-orang Yahudi terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga dalam mengucapkan salam kepada beliau pun mereka “memplesetkannya” dari ucapan “assalamualaikum” (semoga Allah memberikan keselamatan bagimu) menjadi “assaamualaikum” (kematian bagimu). Ungkapan ini adalah bentuk kebencian mereka terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menginginkan keburukan menimpa beliau.

2. Bahwa tidak selalu setiap keburukan harus dibalas dengan keburukan juga. Terbukti bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ‘menegur’ Aisyah yang marah dengan ucapan salam orang Yahudi kepada beliau. Lalu Aisyah membalasnya dengan “bal alaikumussaamu wal la’nah” (justru bagi kalian kematian dan laknat). Dan kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menasihatinya, ‘Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah itu mencintai kelemahlembutan dalam segala urusan.’ Artinya bahwa seyogianya kita juga tetap berusaha berlaku baik dan bijak, meskipun terhadap orang yang berlaku buruk sekalipun terhadap kita.

3. Dalam hal ada orang kafir yang kemudian mengucapkan salam kepada kita, maka anjurannya adalah tetap dijawab salamnya, namun dengan jawaban “waalaikum” (saja). Hal ini sebagaimana hadits di atas dan juga hadits lainnya sebagai berikut, dari Anas bahwa Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada beliau, ‘Sesungguhnya orang-orang Ahli Kitab memberi salam kepada kami, bagaimana kami menjawabnya? ‘ Jawab beliau, jawablah dengan Wa’alaikum’ (saja).’ (HR. Muslim, hadits no 4025).

4. Bahwa salam adalah doa, cita-cita dan harapan, agar Allah Ta’ala memberikan keselamatan, rahmat dan keberkahan tethadap orang yang kita tujukan salam kepadanya. Karena doa adalah termasuk bagian dari aqidah dan ibadah. Maka oleh karenanya hanya boleh ditujukan dan atau dijawab antara saudara sesama muslim saja. Bahkan dalam riwayat lainnya, ternyata salam adalah jalan untuk mempererat ukhuwah, memperkokoh iman dan mengantarkan menuju jannah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling menyayangi. Maukan kalian aku tunjukkan atas sesuatu yang mana apabila kalian mengerjakannya niscaya kalian akan saling menyayangi? (Yaitu) Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim, hadits no 81).

Wallahu A’lam. [Rikza Maulan, Lc., M.Ag]

 

MOZAIK

Kemenag klaim layanan haji tahun ini sudah 95%

Kementerian Agama (Kemenag) tengah mempersiapkan kebutuhan dan pelayanan haji tahun 2017 atau 1438 hijriyah. Pihaknya mengklaim persiapan pelayanan haji di Mekah dan Madinah sudah mencapai 95%.

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nur Syam mengatakan kini tinggal menyisakan permasalahan pemondokan, transportasi dan katering yang masih butuh negosiasi. “Secara umum persiapan haji sudah on the track sebab yang terkait pelayanan di Mekah dan Madinah nyaris selesai,”kata Nur Syam pada KONTAN, Senin (24/4).

Ia bilang, kendala yang sedikit tersisa karena masih ada perumahan di Madinahyang belum diselesaikan. Dan juga mengingat tahun ini kuota haji Indonesiaditambah menjadi 220 ribu jemaah maka secara langsung berdampak pada kesulitan mencari tambahan pemondokan jemaah.

“Jadi tambahan jemaah ini kan juga tidak mudah, tapi yakinlah tim yang kita kirim dan petugas sudah punya pengalaman bertahun-tahun , Insya Allah tidak ada masalah yang krusial,” pungkas Nur Syam.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Sodik Mudjahid menyatakan masih ada beberapa hal yang Kementerian Agama harus perbaiki dalam layanan haji tahun ini.

Paling tidak, kata Sodik ada tiga permasalahan utama yang harus diatasi,antara lain mengenai bimbingan ibadah, perlindungan dan keamanan jemaah haji, kemudian ihwal penyediaan dan pelayanan fasilitas.

“Inilah yang selama ini menjadi masalah, karena background dan kompetensi sumber daya manusia di Kementerian Agama bukan di bidang tersebut,” kata Sodik.

Selain itu, Sodik bilang diperlukan pengawasan kualitas kepada fasilitas-fasilitas yang telah direncanakan dan ditetapkan agar berjalan dengan baik.

“Diperlukan pengawasan agar sesuai standar seperti kualitas makan, pemondokan dan transportasi,” pungkas Sodik.

 

KONTAN

Hukum Menelan Makanan karena Serdawa saat Salat

MENELAN makanan ketika salat bisa menyebabkan salat batal. Ibnu Qudamah menukil keterangan Ibnul Mundzir tentang adanya kesepakatan ulama mengenai hukum makan atau minum secara sengaja. Ibnul Mundzir mengatakan, “Ulama sepakat bahwa orang yang salat dilarang untuk makan dan minum. Semua ulama yang kami ketahui sepakat bahwa siapa yang makan atau minum ketika salat secara sengaja maka dia harus mengulangi salatnya.” (al-Mughni, 1/749).

Ini berlaku jika makan dan minum dengan disengaja. Baik banyak maupun sedikit. Bagaimana jika makanan yang ditelan ketika serdawa? Sebatas serdawa, tidak membatalkan salat. Akan tetapi jika serdawa menyebabkan keluar makanan, dan mampu dia keluarkan, maka wajib baginya untuk mengeluarkannya. Dia bisa gunakan tisu atau sapu tangan. Karena jika ditelan secara sengaja maka salatnya batal.

An-Nawawi mengatakan, “Jika di sela-sela gigi ada sisa makanan, lalu dia telan secara sengaja maka salatnya batal tanpa ada perbedaan dalam hal ini.” Kemudian an-Nawawi menyebutkan kondisi tidak sengaja, “Namun jika dia menelan sisa makanan karena tidak bisa dikendalikan, misalnya sisa makanan yang larut dengan ludah, tanpa sengaja, maka salat tidak batal dengan sepakat ulama.” (al-Majmu, 4/89).

Keterangan semisal disebutkan Ibnu Qudamah, “Jika ada sisa makanan di sela-sela gigi, atau sisa makanan sedikit, yang larut dengan ludah, lalu dia telan, maka shalatnya tidak batal. Karena tidak memungkinkan baginya untuk menghindarinya.” (al-Mughni, 1/749)

Untuk itu, dalam kondisi ketika cairan makanan serdawa yang keluar tidak bisa dikendalikan, sehingga langsung tertelan, maka salatnya tidak batal. Karena tidak sengaja dan tidak memungkinkan baginya untuk menghindarinya. Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2374152/hukum-menelan-makanan-karena-serdawa-saat-salat#sthash.MuVxz1JW.dpuf

Hukum Islam bagi Pengendara yang Tak Miliki SIM

PADA prinsipnya setiap muslim harus memenuhi setiap aturan yang berlaku baginya. Termasuk aturan ketika dia ber-lalu lintas. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Setiap muslim harus mengikuti kesepakatan mereka.” (HR. Abu Daud 3596, ad-Daruquthni 2929 dan yang lainnya).

Dalam Fatwa Lajnah Daimah dinyatakan, “Peraturan lalu lintas ditetapkan demi kemaslahatan umum kaum muslimin. Wajib bagi seluruh pengemudi untuk memerhatikan dan melaksanakan peraturan tersebut. Karena ketika aturan itu dilaksanakan menghasilkan maslahat bagi masyarakat. Sebaliknya ketika itu dilanggar, akan terjadi banyak kecelakaan dan membahayakan orang lain serta akan ancaman bahaya lainnya.” (Fatwa Lajnah no. 15752)

Syaikh Ibnu Baz juga menerangkan, “Setiap muslim dan non muslim tidak diperbolehkan melanggar aturan negara dalam hal lalu lintas. Karena pelanggaran itu bisa membahayakan dirinya dan orang lain. Negara membuat aturan itu didasari semangat untuk mewujudkan maslahat bagi semua masyarakat dan menghindari bahaya yang mengancam kaum muslimin. Oleh karena itu siapapun tidak boleh melanggar aturan itu. Para penanggung jawab berhak untuk memberi sanksi orang yang melakukan pelanggaran.” (Fatawa Islamiyah, 4/536).

Standarisasi di negara kita, bagi mereka yang hendak menggunakan kendaraan bermotor, dia diharuskan memiliki surat izin yang dikeluarkan pihak kepolisian. Tujuannya adalah untuk menekan angka pengguna jalan yang belum memenuhi kelayakan, sehingga bisa memicu kecelakaan.

Karena itu:
1. Sudah selayaknya setiap calon pengendara yang belum memiliki SIM agar mengikuti standar yang ditetapkan pemerintah.
2. Selayaknya bagi penyelenggara penerbitan SIM untuk mengikuti SOP dalam penerbitan sim, agar pengguna kendaraan di masyarakat bisa lebih baik.

Allahu alam. [Uztaz Ammi Nur Baits]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2372465/hukum-islam-bagi-pengendara-yang-tak-miliki-sim#sthash.7DHHAlhp.dpuf

Hukum Wanita Mimpi Disetubuhi Seorang Lelaki

Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Apa yang wajib dikerjakan seorang wanita jika mimpi bersetubuh dengan seorang lelaki?

Jika seorang lelaki bermimpi menyetubuhi seorang wanita, atau seorang wanita bermimpi disetubuhi oleh seorang pria, maka tak ada dosa bagi keduanya, karena sesuatu ketetapan hukum tidak berlaku dalam keadaan tidur.

Juga karena tidak mungkin bagi seseorang untuk menghindarkan dirinya dari mimpi tersebut, juga dikarenakan Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan sesuatu yang mampu diembannya.

Lain dari itu, terdapat hadis sahih dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam , bahwa beliau bersabda: “Telah diangkat pena (ketetapan hukum tidak berlaku) pada tiga go-longan, yaitu; pada orang yang sedang tidur hingga ia terbangun, pada orang gila hingga ia sadar, dan pada anak kecil hingga ia mengalami mimpi (yang menyebabkan ia mandi)”. Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i dan Al-Hakim, Al-Hakim berkata: “Memenuhi syaratnya dan wajib mandi bagi orang yang mengalami mimpi jika mengeluarkan mani.[]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2373917/hukum-wanita-mimpi-disetubuhi-seorang-lelaki#sthash.yYNh3geP.dpuf

Turuti Nafsu, Langit dan Bumi Pun Binasa

SALAH satu sifat dari hawa nafsu adalah “tidak pernah terpuaskan”. Di saat kita menuruti satu keinginannya, nafsu itu akan menuntut hal yang lain.

Terus begitu hingga tak ada habisnya. Mempunyai satu gunung emas pun masih tak cukup. Ia masih ingin yang lebih. Karena itu, Allah tidak hanya Menciptakan nafsu. Dia juga Menciptakan akal sebagai alat untuk mengontrolnya.

Kenapa hawa nafsu diciptakan? Karena manusia tidak dapat hidup tanpa hawa nafsu. Mereka tak bisa hidup jika tidak ada “keinginan” untuk makan, mencari harta dan keinginan lainnya. Nafsu itu termasuk hal yang paling penting dalam hidup manusia. Tapi jika tidak dikontrol akal, keinginan itu akan terus meledak dan akibatnya sangat berbahaya.

Apa gambaran Alquran tentang bahaya mengikuti hawa nafsu? Allah swt Berfirman,

“Dan seandainya kebenaran itu menuruti keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi, dan semua yang ada di dalamnya.” (QS.Al-Mukminun:71)

Ya, menuruti hawa nafsu tanpa kontrol akal akan memberikan dampak yang sangat berbahaya. Bahkan Alquran menggambarkan akibatnya dengan “pasti binasalah langit dan bumi, dan semua yang ada di dalamnya.”

Coba perhatikan, kehancuran di muka bumi ini terjadi karena hawa nafsu manusia yang tak terkontrol. Manusia tidak memikirkan dampak atau akibatnya, yang ada dalam pikirannya hanyalah keuntungan dan kenikmatan. Lihatlah hutan yang gundul, tambang yang merusak alam, bangunan-bangunan yang mengganggu, penyakit yang berkembang, semua itu karena nafsu manusia yang tak pernah puas.

Dan pada akhirnya dunia ini akan semakin dekat pada kehancuran karena ketamakan manusia. Mari kita jaga diri dan lingkungan sekitar dengan mengontrol hawa nafsu. Jadikan “keinginan-keinginan” itu sebagai jalan untuk mendekatkan kepada-Nya. Dan jangan jadikan itu semua sebagai media untuk merusak kehidupan dunia dan akhirat kita.

“Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams : 9-10). []

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2359793/turuti-nafsu-langit-dan-bumi-pun-binasa#sthash.QKwovQKI.dpuf