Ibadah Terbaik dan Paling Bermanfaat Menurut Ibnu Qayyim

Ibnu Qayyiim menyatakan ibadah terbaik adalah yang paling bermanfaat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Seorang Muslim yang memiliki tingkat keimanan atau maqom yang tinggi, melaksanakan ibadah yang terbaik, bermanfaat dan paling layak untuk dirinya. Salah satu bentuk ibadah terbaik ialah ibadah yang paling bermanfaat dan paling sulit bagi dirinya

Apa yang dimaksud ibadah tersulit dan paling bermanfaaat? Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam Madarij As Salikin Baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, menjelaskan jenis ibadah ini ialah ibadah yang menjauhkan dari hal-hal yang sangat diinginkan. Dan ini adalah ibadah yang sejati.

Besar kecilnya pahala yang diperoleh seorang Muslim itu tergantung pada tingkat kesulitannya. Mereka mengatakan bahwa amalan yang paling utama untuk dikerjakan adalah sesuatu yang paling dibencinya. Artinya adalah amalan yang paling sulit.

Karenanya, merekalah orang-orang yang berjuang dan berusaha mengalahkan hawa nafsunya. Jiwa seorang Muslim tidak akan bangkit dengan melakukan berbagai kemalasan, dan penghinaan, kecuali, jika jiwa tersebut siap berhadapan dengan ketakutan dan menanggung kesulitan.

Ibadah lain yang diutamakan untuk dikerjakan, adalah zuhud terhadap dunia, dan menghilangkan keinginan yang bersifat duniawi. Mereka bermaksud untuk mengabdikan hatinya untuk Allah SWT, mengosongkan hati untuk mengisinya dengan rasa cinta kepada Allah SWT secara penuh.

Selain itu, jenis ibadah terbaik lainnya yaitu mengerjakan sesuatu untuk mencapai keridhaan Allah SWT setiap saat, sesuai waktu yang diperlukan dan tugasnya. Misalnya, memenuhi hak istri dan keluarga, memenuhi hak tamu yang datang.

Termasuk juga meninggalkan apa yang sedang dikerjakan saat mendengar adzan, lalu segera menunaikan kewajiban shalat dengan khusyu dan dengan cara yang semaksimal mungkin misalnya shalat di awal waktu di masjid secara berjamaah. Tentu saja ini jauh lebih utama.

Sumber: islamweb 

KHAZANAH REPUBLIKA

Khutbah Rasul Menjelang Ramadhan Tiba

“WAHAI manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat.

Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.

Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba- Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu.

(Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”)

Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirothol mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat.

Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka.

Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu.

Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.

(Amirul mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?”)

Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah.”

Wahai manusia! Sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”

“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.” Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan (syahrul muwasah) dan bulan Allah memberikan rezeki kepada mukmin di dalamnya.”

“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”

(Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa.) Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”

“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”

“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.“

“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”
“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah)*

HIDAYATULLAH

Hadis-Hadis Nabi Perintah untuk Berobat

Berikut keterangan tentang pelbagai hadis nabi perintah untuk berobat dalam Islam.

Ada pun berobat merupakan perintah syariat Islam. Dalam Mazhab Syafi’i berobat hukumnya sunat. Menurut Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ Syarah al Muhadzab, mengatakan sunat hukumnya bagi orang yang sakit berobat.

Imam Nawawi berkata dalam Majmu’Jilid V, halaman 106;

ومن مرض استحب له ان يصبر  ويستحب ان يتداوي

Artinya: Barang siapa yang berpenyakit, sunat hukumnya ia untuk bersabar, dan sunat pula hukumnya agar ia berobat.

Sunat hukumnya berobat, juga tertuang dalam kitab Nihayatul Muhtaj. Kitab ini adalah karya seorang ulama besar, Syamsuddin Muhammad bin Abul Abbas Ahmad bin Hamzah bin Syihabuddin al Ramli al Manufi al Mishri al Anshori, menyebutkan bila seseorang tertimpa penyakit, maka ia dianjurkan syariat untuk berobat. Perintah untuk berobat adalah sunat hukumnya.

Imam Ramli berkata dalam Nihayatul Muhtaj;

ويسن للمريض  التداوي  لحديث  إن الله لم يضع داء إلا وضع له دواء غير الهرم. وروى ابن حبان والحاكم عن ابن مسعود  ما أنزل الله داء إلا وأنزل له دواء ، جهله من جهله وعلمه من علمه

Artinya; Sunat hukumnya orang yang sakit untuk berobat. Pendapat ini berdasarkan hadis Nabi; ‘Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali Allah pun telah menurunkan obat bagi penyakit tersebut, kecuali penyakit pikun.

Pada sisi lain, Ibnu Hibban dan al-Hakim meriwayatkan hadis yang bersumber dari Ibnu Mas’ud, nabi bersabda; “Allah tidak menurunkan penyakit kecuali Allah turunkan pula obat untuk menanganinya. Tetapi kendalanya, ada yang tidak mengetahui obat tersebut, dan  banyak juga  yang tidak mengetahuinya.”

Di samping itu, terdapat pula hadis perintah untuk berobat. Dalam pelbagai hadis, tercantum perintah nabi kepada umatnya untuk segera berobat ketika sakit. Nabi tak melarang seseorang yang sakit untuk berobat. Pasalnya, berobat merupakan suatu ikhtiyar untuk segera sembuh dari penyakit.

Hal ini berdasarkan hadis riwayat oleh Imam Abu Daud:

إن الله تعالى أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فتداووا ولا تداووا بالحرام

Artinya: Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya dan menjadikan bagi setiap penyakit ada obatnya. Maka berobatlah kalian, dan jangan kalian berobat dengan yang haram

Selanjutnya ada juga hadis riwayat hakim dan Ibn Hibban. Dalam wejangannya, Nabi menyebutkan setiap penyakit ada obatnya. Namun, tak semua orang mengetahuinya. Kadang ada juga penyakit yang belum ditemukan obatnya. Maka manusia—khususnya yang bergulat dalam dunia kesehatan— dituntut untuk terus berinovasi demi menemukan pelbagai obat yang masih samar itu.

Nabi Muhammad  yang mulai bersabda;

ما أنزل الله عز وجل داء إلا أنزل له دواء علمه من علمه وجهله من جهله

ArtinyaSesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali Allah juga menurunkan obatnya. Ada orang yang mengetahui ada pula yang tidak mengetahuinya.

Perawi hadis masyhur, Imam Bukhari (810-870 M) dan Muslim  (817-875 M) pun turut meriwayatkan hadis perintah Nabi untuk berobat. Pasalnya, saban penyakit, pasti ada obatnya. Manusia tinggal berikhtiyar dan Allah yang memutuskan hasilnya. Apakah pasien itu akan sembuh atau sakit. Manusia tak bisa hanya bertawakal tanpa berusaha. Atau berdoa tanpa usaha.

Tawakal adalah bagian dari usaha. Tak boleh timpang. Pada satu sisi, manusia berusaha. Di sisi lain, manusia bertawakal pada Ilahi. Hadis anjuran berobat dari baginda Nabi Muhammadberbunyi;

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ

Artinya:  Sejatinya semua penyakit ada obatnya. Maka apabila sesuai antara penyakit dan obatnya, maka akan sembuh dengan izin Allah” (H.R. Imam Muslim, Nomor Hadis 2204)

Lihat juga hadis riwayat Imam Bukhari berikut;

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَل لَهُ شِفَاءً

Artinya; Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan ketika itu juga Allah menurunkan obatnya/penawarnya ( H.R. Imam Bukhari, Nomor 5354).

Alkisah, suatu ketika terjadi dialog antara sahabat dan Nabi Muhamad. Ada seorang sahabat baginda terkena penyakit. Sahabat tersebut lantas bertanya kepada baginda Muhammad SAW, apa yang harus ia perbuat—berobat atau ia pasrah terhadap sakitnya, atau terus memohon kesembuhan pada Allah—, ia bingung dalam keadaan itu.  Di tengah kebingungannya, Baginda pun menyuruh sahabat itu untuk berobat.

Kisah itu terdokumentasi dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Turmidzi, Ibn Majah, Abu Daud, Ahmad. Ini teks hadis tersebut;

عن أُسامةَ بنِ شَريكٍ رَضِيَ اللَّهُ عنه، قال: ((قالَتِ الأعرابُ: يا رسولَ الله، ألَا نتداوَى؟ قال: نَعمْ، يا عبادَ اللهِ تداوَوْا؛ فإنَّ اللهَ لم يَضَعْ داءً إلَّا وضَعَ له شفاءً،

Artinya: Usamah bin Syarik, semoga rahmat Allah senantiasa menyertainya, berkata; Seorang Arab berkata kepada Nabi; “Wahai Rasulullah, apakah kami harus berobat? Lalu Nabi menjawab: “Iya, berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena Allah tidak menciptakan penyakit, kecuali juga menciptakan obatnya,”

Selain menyuruh untuk berobat, Rasullulah dalam pelbagai hadis merekomendasikan pelbagai macam obat untuk menyembuhkan penyakit. Salah satu obat mujarab yang dianjurkan Nabi adalah habbatus sauda’.

Penjelasan ini termaktub dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Berikut sabda Nabi;

في الحبَّةِ السَّوْداءِ شفاءٌ من كُلِّ داءٍ إلَّا السَّامَ

Artinya; Pada Habbatus Sauda’  terdapat obat dari segala penyakit, kecuali kematian.

Menurut Ibn Syihab, makna dari kata “al Sam” dalam hadis tersebut adalah kematian. Menurut Ibn Hajar Al Asqallani, dalam kitab Fathul Bari, maksud dari hadis habbah sauda’ obat pelbagai penyakit, ia tidak berarti dipakai pada segala penyakit begitu saja. Terkadang habbah sauda’ dipakai sendirian, kadang juga digunakan dengan campuran lain.

Cara pakainya pun beragam. Kadang ia habbah sauda dimakan. Ada juga yang diminum. Sebagian lain ada yang memakainya dengan ditumbuk, lalu dioleskan ke bagian tubuh. Perlu pemahaman lanjut untuk mengetahui cara penggunaan habbah sauda’. Namun, satu yang pasti, ia merupakan obat mujarab.

Demikian pelbagai hadis perintah  Nabi Muhammad  untuk berobat. Hadis itu menganjurkan manusia untuk berobat. Pelbagai hadis di atas merupakan hadis yang berstatus shahih. Hadis ini termaktub dalam dalam kitab yang shahih pula. Pendek kata; perintah orang sakit untuk berobat merupakan anjuran resmi dari Nabi, bukan yang dibuat-buat.

BINCANG SYARIAH

Kemenag Buka Seleksi Calon Mahasiswa Ke Timur Tengah 2021

Kemenag memastikan pendaftaran Seleksi calon Mahasiswa Baru Timur Tengah dibuka April

Subdit Kelembagaan dan Kerjasama Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama (Kemenag) menyelenggarakan rapat koordinasi bersama dengan Pusat Bahasa Perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia (PTKIN) di Jakarta, beberapa waktu lalu. Rapat tersebut diselenggarakan dalam rangka mematangkan persiapan pembukaan seleksi calon Mahasiswa Baru Timur Tengah tahun 2021.

Setelah adanya penundaan seleksi pada 2020 karena Covid-19, Kementerian Agama memastikan pendaftaran Seleksi calon Mahasiswa Baru Timur Tengah (Mesir dan Maroko) akan dibuka pada April 2021. Pendaftaran dilakukan secara daring, melalui website resmi http://diktis.kemenag.go.id.

Direktur Dit. Timur Tengah dan Afrika, Bagus Hendraning Kobarsyih, menyampaikan peluang kerjasama dengan negara-negara Arab terbuka luas. Tujuan pendidikan tidak hanya Mesir, tetapi ada Maroko, UEA, serta Saudi Arabia.

Meski demikian, ia menilai Kemenag tetap perlu mempersiapkan anak-anak peserta didik, terutama dalam sisi bahasa Arab dan Inggris. “Negara-negara Arab lain, seperti Yaman dan Syria, juga sangat bagus untuk studi KeIslaman. Namun saat ini kondisi politik di Negara tersebut masih rawan”, ujarnya dikutip di laman resmi Kemenag, Ahad (11/4).

Di sisi lain, Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama, Adib Abdushomad, menyatakan seleksi calon mahasiswa baru (CAMABA) timur tengah ini sangat penting. Ke depan, pihaknya akan berupaya membangun jaringan dan kerja sama yang lebih luas dengan negara-negara Arab dan timur tengah lainnya.

“Disisi lain, PTKIN kita harus bekerja keras agar mampu menarik mahasiswa-mahasiswa asing belajar di Indonesia. Inilah tantangan ke depan PTKIN, bagaimana menjadikan PTKIN kita sebagai destinasi pendidikan Dunia,” kata Adib.

Pada pertemuan ini, dibahas pula terkait kesiapan aplikasi pendaftaran dan aplikasi tes CBT secara daring, sekaligus pelaksanaan simulasi penyelenggaraan tes di 15 lokasi di UIN. Secara umum, pelaksanaan uji coba tes berjalan dengan baik.

Tes ini merupakan seleksi pertama yang dilaksanakan oleh Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) UIN melalui computer based test atau CBT. Sistem aplikasi ini dibangun oleh konsorsium PPB UIN.

Soal ujian CBT dibuat berdasarkan standar Lughoh Mesir, hasil koloborasi antara Pusat Pengembangan Bahasa UIN dan Ikatan Alumni Al Azhar cabang Indonesia.

Dalam laporannya, Tim Pengembang aplikasi CBT daring menyatakan secara sistem semua sudah siap. Namun, simulasi uji coba tetap harus dilakukan agar saat pelaksanaan bisa berjalan dengan lancar.

Kasi Kerjasama direktorat, Zulfakhri, mengatakan seleksi Camaba Timur Tengah tahun ini merupakan ujian pertama bagi Pusat Pengembangan Bahasa. Sehingga, pihaknya akan melakukan persiapan matang agar pelaksanaan seleksi tahun ini berjalan dengan lancar.

“Demi kelancaran seleksi tahun ini, kami melibatkan dari PPB, OIAA, PUSIBA dan Forum Konsultasi Pendidikan Timur Tengah untuk secara bersama-sama mensukseskan seleksi timur tengah ini,” kata Zulfakhri.

Terakhir, kepada seluruh masyarakat diminta selalu waspada terhadap segala bentuk informasi yang tidak bertanggung jawab. Seluruh informasi terkait seleksi ini diinfokan melalui website http://diktis.kemenag.go.id.  

KHAZANAH REPUBLIKA

E-book Spesial Ramadhan Baca

Bersemilah Ramadhan…

di hati orang-orang yang beriman.
Hadirnya disambut kebahagiaan,
Detik-detiknya diisi ketaatan,

Sudah siap kencangkan ikat pinggang?
Untuk “dia” yang segera akan bertandang..

Kiranya kita menyiapkan diri, agar Ramadhan tak hanya datang dan kemudian menghilang (tanpa meraih banyak keutamaannya).

***
Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihat.
Telah terbit E-book pertama dari muslimah.or id yang berjudul “Bersemilah Ramadhan”.

E-book ini adalah E-book kumpulan artikel pilihan seputar ramadhan yang dimuat di website Muslimah.Or.Id.

Berisi artikel tentang ilmu, nasihat, penyemangat dan motivasi khususnya bagi muslimah untuk mempersiapkan diri menyambut ramadhan, produktif selama ramadhan dan istiqomah beramal setelah ramadhan.

Memuat beberapa artikel, diantaranya:
(1) Nasihat
(2) Fiqh wanita
(3) Fatwa ulama
(4) Pendidikan anak
(5) Kumpulan tips,
(6) Kesehatan
(7) Serba-serbi hari raya
(8) Qadha puasa, dan
(9) Puasa Syawal.

https://www.dropbox.com/s/jyruodj9s35nych/E-Book%20Bersemilah%20Ramadhan%20Muslimah.or.id.pdf?dl=0

Atau

https://drive.google.com/file/d/1IahHZFOS-FtH6qHbptOiyfYptMlvQ1Ii/view?usp=drivesdk

Semoga Allah memudahkan kita untuk beramal di bulan Ramadhan.

dianjurkan untuk memperbanyak dan menyebarluaskan e-
book ini *dengan atau tanpa izin redaksi selama bukan untuk tujuan komersil*.

Tidak diperkenankan mengurangi, menambah atau
menghapus bagian e-book.

Artikel dalam e-book akan kami posting secara berkala di website muslimah.or.id

MUSLIMAH

Menyambut Ramadhan

Ramadhan adalah sekolah untuk menggembleng spiritualitas.

Sebentar lagi bulan mulia itu akan tiba. Satu bulan yang penuh dengan rahmat dan keberkahan sehingga di dalamnya ada pengampunan dan doa dikabulkan. Pada bulan ini juga ada jaminan pembebasan dari api neraka bagi mereka yang mengisi bulan suci dengan penuh keikhlasan. 

Ramadhan adalah bulan istimewa sehingga ibadah puasa menjadi milik Sang Penguasa Alam Semesta. Rasulullah SAW bersabda, “Semua amal manusia adalah miliknya kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya.” (HR Bukhari).

Saking istimewanya, tidak mengherankan jika Nabi SAW selalu menampakkan kerinduan terhadap Ramadhan dengan melantunkan sebuah doa ketika memasuki bulan Rajab. “Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban, dan sampaikanlah (pertemukanlah) kami dengan bulan Ramadhan.” Rasulullah sungguh merindukan bulan Ramadhan.

Beliau tidak hanya memohon keberkahan bulan Rajab dan Sya’ban saja, tapi juga memohon supaya bisa berjumpa dengan Ramadhan. Bahkan, Rasulullah selalu melakukan persiapan khusus, yakni dengan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban.

Sebagai Muslim, sambutlah Ramadhan dengan sukacita. Persiapkan jasmani dan rohani. Mantapkan keimanan serta luruskan niat. Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengingatkan umat Islam untuk menyambut bulan Ramadhan dengan terlebih dahulu menyucikan diri dari dosa dan bertobat dari semua kesalahan masa lalu.

Bersihkan hati sebelum bertemu dengan bulan suci. Dengan begitu, Ramadhan tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan kuantitas ibadah, tapi juga kualitas penghambaan kita kepada Allah SWT.https://www.youtube.com/embed/4oL8yHjhbNE

Ramadhan adalah sekolah untuk menggembleng spiritualitas. Ibadah puasa menjadi sarana untuk meningkatkan religiositas. Pencapaian akhir yang diharapkan adalah ketakwaan kepada Allah SWT. Berkaitan dengan itu, Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS al-Baqarah:183).

Buah dari puasa adalah takwa. Derajat takwa tidak akan bisa dicapai jika hanya mengandalkan puasa jasmani semata. Puasa yang dimensinya hanya ritual formal saja. Puasa semacam ini disebut Imam al-Ghazali sebagai puasa awam.

Barangkali puasa seperti inilah yang diwanti-wanti oleh Rasulullah SAW, “Banyak orang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa pun dari puasanya kecuali rasa lapar saja.” (HR Imam Ahmad).

Dalam berpuasa, kita tidak hanya berfokus pada dimensi ritual formal saja, tetapi juga harus memperhatikan dimensi spiritual. Dalam berpuasa, kita harus mampu menahan lapar, dahaga, nafsu, pancaindra, dan juga menghindari apa saja yang dilarang hati nurani. Di tahap itulah akal dan pikiran kita juga mesti ikut berpuasa.

Wallahu a’lam.

OLEH ABDILLAH

KHAZANAH REPUBLIKA

Ramadhan Cerdas dan Ceria untuk Anak

Ceritakan manfaat dan kabarkan berita gembira tentang balasan orang-orang yang berpuasa pada anak

Seorang anak bertanya pada ibunya, “Bu, kata teman-teman aku sebentar lagi puasa ya? Aku ke masjid lagi dong, Bu, buka puasa bersama, habis itu Lebaran. Nanti aku shalat di lapangan lagi ya Bu, sama teman-teman aku?” Ibunya tersenyum, “Puasa dulu satu bulan, Nak. Baru setelah itu kita Lebaran.” Anak yang baru berumur lima tahun itu tercenung sesaat, “Oh, puasa lama ya Bu. Tapi… aku mau puasa deh, Bu. Setelah itu Lebaran ‘kan ya Bu?”

Merupakan hal yang biasa bila yang diingat anak tentang Ramadhan adalah hal-hal yang menyenangkan. Karena itulah, alangkah bijaknya bila orangtua dan mereka yang mencintai anak, juga mengisi Ramadhan bersama anak dengan hal-hal yang menyenangkan. Sehingga, mereka akan semakin mencintai Allah SWT yang telah memerintahkan mereka melakukan puasa Ramadhan.

Satu hal yang tak terlupakan oleh seorang ibu adalah pertanyaan anaknya tentang mengapa orang Islam mesti berpuasa satu bulan penuh. “Padahal puasa itu kan lapar, Bu? Kok, Allah suruh kita puasa, Bu?” Sang Ibu yang sempat bingung itu menjelaskan, “Karena Allah sayang kamu, Nak. Kamu pernah lihat kulkas Ibu yang tidak dibersihkan sama Ibu satu bulan kan?” Sang anak berusaha mengingat-ingat. “Iya, Bu. Kadang-kadang banyak makanan sisa yang lupa Ibu keluarin,” sahutnya semangat.

Si Ibu melanjutkan, “Ya, seperti itu juga perut kita, Nak. Hanya saja, perut kita tidak ada pintunya.” Ibu dan anak itu tergelak sesaat. “Tapi, bisa kelihatan kalau kamu pakai alat canggih punya dokter. Itu pun tidak kelihatan semua. Karena, Allah Maha Melihat, Dia tahu, dalam perut kita banyak sisa makanan nyelip, banyak kotoran yang tak bisa keluar, terus bauuu. Karena, mesin pengolah makanan di tubuhmu, yang namanya usus, lambung, dan teman-temannya itu terus bekerja setiap waktu, tidak ada waktu untuk istirahat. Juga tidak ada waktu untuk bersih-bersih dan perawatan. Karena, Allah sayang kita dan tahu  mesin didalam perut kita perlu istirahat maka Allah SWT menyuruh kita berpuasa. Supaya ada waktu untuk bersih-bersih dan dibetul-betulin bagian yang rusak,” jelas Ibunya panjang lebar.

Beri Kabar Gembira

Memberikan pengertian kepada anak tentang pentingnya berpuasa memang bukan pekerjaan yang mudah. Hanya memberi informasi pada anak bahwa setiap Muslim harus berpuasa karena bila tidak melaksanakannya akan masuk neraka, sejatinya hanya akan membuat anak merasa bahwa Islam adalah agama kejam. Logikanya, bila tidak ingin mendapat siksa neraka, seorang Muslim harus menyiksa dirinya di dunia dengan rasa haus dan lapar. Padahal, tentu hal ini berdampak buruk jika tertanam kuat di benak anak. Islam akan menjadi agama yang tidak menyenangkan dan seluruh amalannya membuat seseorang terpaksa melaksanakannya dibawah ancaman.

Karena itu, alangkah bijaknya bila setiap orangtua mengenalkan “kabar gembira” terlebih dahulu, sebelum menyampaikan “ancaman” pada anak. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW kepada para Sahabat, “Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk surga dengan melewatinya pada hari kiamat nanti. Tidak ada orang yang memasukinya selain mereka. Diserukan kepada mereka, ‘Manakah orang-orang yang rajin berpuasa?’ Maka merekapun bangkit. Tidak ada yang masuk melewati pintu itu selain golongan mereka. Dan kalau mereka semua sudah masuk maka pintu itu dikunci sehingga tidak ada lagi seorangpun yang bisa melaluinya.” (Riwayat Bukhari)

Biarkan anak bertanya-tanya tentang apa itu puasa Ramadhan dan apa manfaat puasa untuk anak. Jangan takut anak akan menjadi orang-orang yang tidak ikhlas menjalankan ibadah dan selalu mengharap imbalan. Karena, membuat anak mengetahui bahwa janji Allah SWT lebih indah dibandingkan janji siapapun di dunia ini dan Allah SWT tidak akan mengingkari janji, akan membuat anak hanya berharap pada Allah SWT saja.

Kembali pada masalah menyampaikan janji Allah SWT untuk mereka yang berpuasa, sangat baik menggambarkan pada anak tentang indahnya surga dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya. Menggambarkan berlimpah-ruahnya kenikmatan di surga akan membuat anak memiliki visi yang jelas tentang alasan melakukan amal saleh. Mengiang-ngiangkan di telinganya tentang luar biasanya surga akan membuatnya hidup dengan berpegang pada segala cara yang ditunjukkan Allah SWT untuk mengantarkannya ke surga.

Mari berikan waktu yang luas untuk berbicara dan bercerita pada anak bahwa puasa memiliki manfaat yang juga dapat dirasakan secara langsung di dunia. Sekaligus menanamkan kecintaan pada setiap perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebab, semua yang diperintahkan pastilah bermanfaat bagi kehidupan. Seperti dialog ibu dan anak di atas bahwa puasa secara medis sangat bermanfaat untuk merawat kesehatan alat-alat pencernaan. Akan semakin menarik, jika penjelasan orangtua disertai dengan gambar-gambar tentang alat pencernaan yang sehat atau disertai video tentang mekanisme kerja alat pencernaan.

Biasakan dengan Menyenangkan

Membiasakan anak untuk berpuasa pun harus dilakukan sejak usia dini. Minimal ketika usianya menginjak lima tahun. Diusia ini, anak sudah mulai bisa menahan rasa haus dan lapar. Latihan dan pembiasaan ini penting karena sebagai orangtua, kita tentu tidak ingin memukul anak-anak kita ketika mereka sudah mukallaf (terkena beban hukum).

Melatih mereka sedikit demi sedikit untuk membiasakan diri berpuasa dibarengi berbagai pengetahuan, permainan, dan cerita menarik tentang manfaat berpuasa, tentu akan lebih menyenangkan dibanding harus memarahi dan memukul mereka.

Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz; dia berkata, “Rasulullah mengutus untuk mengumumkan pada pagi hari Asyura’ di wilayah kaum Anshar yang berada di sekitar kota Madinah. ‘Barang siapa yang pagi hari ini berpuasa, hendaklah menyelesaikannya. Barang siapa yang tidak berpuasa, hendaknya menahan (makan dan minum) sampai malam.’ Setelah adanya pengumuman itu, kami berpuasa dan mengajak anak-anak untuk melaksanakan puasa. Kami juga mengajak mereka ke masjid dan memberikan mereka mainan dari kulit (wol). Jika mereka menangis karena lapar, kami menyodorkan mainan sampai waktu berbuka puasa tiba.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Nah, bila Ramadhan beramal saleh lebih bermakna bersama anak, berburu ilmu pengetahuan lebih luas, bercerita lebih lama, dan bermain lebih seru bersama anak, maka berarti kita dapat memastikan bahwa Ramadhan adalah hal yang menyenangkan. Bukan hanya untuk anak. Namun, juga bagi orangtua. Sehingga, anak-anak kita kelak akan belajar bahwa menahan lapar dan haus serta mengendalikan diri adalah cara terbaik menjadi orang-orang pilihan yang tetap menyenangkan.

Oleh Kartika Ummu Arina, ibu rumah tangga tinggal di Bakasi, Artikel ini dikuti dari majalah Suara Hidayatullah

HIDAYATULLAH

Doa Menjelang Bulan Ramadhan

Ada doa masyhur menjelang bertemu bulan Ramadhan.

 Tak terasa, bulan suci Ramadhan tinggal menghitung hari. Dalam menyambut Ramadhan, ada baiknya umat Islam memperbanyak ibadah-ibadah sunnah. Ada doa masyhur menjelang bertemu bulan Ramadhan. Doa ini sering dibaca oleh masyarakat Indonesia yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik ra dari Nabi Muhammad saw:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Allahumma bariklana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhan. “Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada Ramadhan.”

Saiyid Mahadhir menjelaskan dalam bukunya berjudul Menyambut Ramadhan, hadits tersebut dikeluarkan oleh al-Baihaqi di dalam kitab Syu’ab al-Iman, Abu Nu’aim di dalam kitab al-Hilyah, dan ath-Thabrani di dalam al-Mu’jam al-Ausath. Namun, beberapa ulama menilai hadits tersebut dhaif karena ada illah pada perawinya, yaitu Zaidah bin Abi ar-Raqqad dan Ziyad an-Numairi. Keduanya dianggap bermasalah oleh para ulama sehingga hadits yang diriwayatkan oleh mereka rata-rata dianggap bermasalah.

Ini berarti doa tersebut tidak kuat disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. Akan tetapi, perkara apakah hadits dhaif itu boleh atau tidak dipakai dalam berdoa adalah hal lain. Imam an-Nawawi dalam madzhab Sayfi’I dalam al-Majmu mengatakan “Telah kami sampaikan di beberapa tempat (di kitab ini) bahwa semua ahli sepakat untuk mengamalkan hadits dhaif pada selain penetapan hukum dan ushul akidah.”

Jadi, tidak ada kesalahan dalam mengamalkan doa yang diambil dari hadits dhaif. Yang tidak boleh dilakukan adalah meyakini dengan sepenuhnya bahwa doa itu adalah doa persis benar-benar dulunya diucapkan oleh Rasulullah.

KHAZANAH REPUBLIKA

Ketika Nabi Musa Ingin Tahu Keadilan Tuhan

“Barangsiapa mengerjakan amal perbuatan kebaikan sebesar dzarrah pun, niscaya ia akan mendapatkan balasannya. Dan, barangsiapa mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (QS. Al Zalzalah 7-8).

Suatu hari, Nabi Musa as begitu ingin mengetahui bentuk keadilan Tuhan yang diberikan kepada para hamba-Nya tatkala mereka masih ada di dunia. Ia pun pergi ke Gunung Sinai untuk bermunajat, dan tentu saja mencari jawab atas rasa penasarannya yang mendalam terkait bentuk keadilan Tuhan.

Sesampainya di tempat tujuan, ia pun segera memohon pada Tuhannya, “Robb, perlihatkanlah padaku keadilan dan kejujuran-Mu.”

Tuhan berkata, “Engkau adalah seorang yang terburu-buru, dan tidak mampu bersabar.”

“Kami dapat bersabar dengan pertolongan-Mu,” jawab Musa membujuk.

Tak lama kemudian, Allah pun menyuruh Musa untuk pergi ke sebuah sumber air dan bersembunyi di belakangnya, “Di sana, kau akan lihat kekuasaan dan ilmu-Ku tentang kegaiban.”

Menyadari akan jawaban Sang Maha Kasih, Musa pun bergegas menuju sebuah bukit di hadapan sumber air yang ditujukan Tuhannya. Di sana, ia duduk bersembunyi untuk memperhatikan apa pun yang kelak akan terjadi di depan matanya.

Tak menunggu lama, Musa melihat seorang penunggang kuda datang ke sumber air tersebut. Ia turun dari kudanya, berwudlu dan mengambil sedikit air untuk ia minum. Musa juga melihat sang penunggang kuda itu meletakkan sebuah tas koper berisi uang seribu dinar di sampingnya. Kemudian shalat, lalu kembali menaiki kudanya. Ia lupa koper yang diletakkan di sampingnya dan terus pergi memacu kudanya.

Berikutnya, datanglah seorang anak kecil. Mengambil air minum di sumber air yang sama. Dan, kemudian membawa pergi koper yang ia lihat di sampingnya itu. Tak lama kemudian, datanglah seorang kakek tua yang buta. Ia minum air sumber itu, lalu mengambil air wudlu dan melaksanakan shalat.

Di tengah perjalanan, sang penunggang kuda teringat kopernya yang terlupa. Ia segera kembali ke tempat semula, dan dijumpainya seorang kakek tua tunanetra itu. Si penunggang kuda langsung berkata, “Hai Buta, koperku yang berisi seribu dinar baru saja tertinggal di tempat ini. Karena tidak ada orang lain di sini selain engkau, pastilah kau yang mengambilnya!”

Kakek tua itu menjawab, “Anda kan tahu, aku buta. Bagaimana aku dapat melihat koper?”

Mendengar ucapan kakek itu, si penunggang kuda marah dan naik pitam, lalu mencabut pedangnya. Ditebasnya leher kakek yang malang itu, dan tewas. Ia menggeladah dan mencari kopernya, namun tidak menemukannya. Ia pun pergi, meninggalkan tempat itu.

Pada saat itu, Nabi Musa berkata, “Wahai Tuhanku, kami telah sabar dan Engkau adil. Tapi mohon jelaskanlah maksud peristiwa yang baru saja itu terjadi, agar aku tidak dalam kebingungan.”

Sedangkan si buta pernah melakukan pembunuhan terhadap pemilik koper yang merupakan ayah si bocah kecil tadi. Ia mendapat hukum qisash darinya. Dan sampailah setiap orang yang punya hak akan mendapat haknya. Baik yang terlihat mata manusia, atau yang sengaja Allah sembunyikan. Keadilan dan kejujuraan Kami sangat rahasia.

Usai mendengar penjelasan itu, Musa segera mengucap istighfar. []

keterangan:

Kisah ini diolah dari buku “Nasihat Al Ghazali Bagi Penguasa”.

Menurut Imam Al Ghazali, semua orang pada dasarnya menyadari bahwa tak ada sesuatu pun yang lepas dari pengawasan Allah. Dan, karenanya, tak ada satu pun yang bisa lolos dari balasan-Nya. Entah itu yang berlaku zalim atau berbuat baik. Balasan itu, kadang langsung Allah berikan tatkala manusia masih hidup di dunia, atau kelak nanti di Hari Pembalasan, baik melalui orang lain atau langsung ditujukan padanya.

Sayangnya, kita sering lupa tentang peristiwa yang menimpa kita, dan kita pun tidak mengerti dari mana peristiwa itu datang menimpa kita. Parahnya, kadang kita malah menyalahkan orang lain atas berbagai kegagalan yang menimpa hidup kita–yang tak jarang pada akhirnya berujung pada fitnah.

Padahal, sejak dulu, Allah memperingatkan kita dalam kitab suci-Nya, “Barangsiapa mengerjakan amal perbuatan kebaikan sebesar dzarrah pun, niscaya ia akan mendapatkan balasannya. Dan, barangsiapa mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah 7-8)

Pada suatu kesempatan, Dzul Qarnain ditanya, “Apa yang paling membuatmu senang?”

Ia menjawab, “Dua hal. Pertama, adil dan jujur. Kedua, membalas kebaikan seseorang lebih besar dari kebaikannya.

Dalam hal ini, Rasul Saw. bersabda, “Allah sungguh amat suka pada kebaikan setiap hal. Dan, aku (Rasul) senang jika manusia memotong kambing dengan mempertajam pisaunya, agar ia dapat menghilangkan sakitnya sesembelihan kambing.”

Bayangkan, kepada hewan (saja), Rasul tak mau menyakiti. Lantas, bagaimana dengan sesama manusia, yang bahkan disebut sebagai sebaik-baik penciptaan (Ahsani taqwim)?

“Hai anak manusia, berbuatlah adil, seperti kau senang mendapatkan perlakukan yang adil,” demikian firman Allah, yang dalam Quran disebut tatghaw fil mizan, dan ditafsirkan Ibn Qatadah sebagai adil.

Lantas, masihkah (kita) menyalahkan orang lain saat kegagalan menimpa diri kita? Saat gagal dalam ujian, misalnya? Saat gagal dalam bisnis, misalnya? Atau mungkin saat benda kita hilang, misalnya? [islamindonesia]

INILAH MOZAIK

Pengaruh Nama dan Sifat Allah bagi Insan Beriman (Bag. 2)

Pengaruh Mengimani Sifat Mahabbah

Seorang hamba apabila mengimani sifat Allah (الحب و المحبة) (cinta) dan juga sifat (رحيم و ودود) (kasih sayang), niscaya dia akan mencintai Rabbnya, dan akan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan yang akan menambah kecintaan Allah kepada dirinya. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

 Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.” (H.R Bukhari)

Dia pun juga akan berusaha untuk menjadi bagian orang-orang yang Allah berkata tentang mereka :

إني أحب فلانا فأحبه قال فيحبه جبريل ثم ينادي في السماء فيقول إن الله يحب فلانا فأحبوه فيحبه أهل السماء قال ثم يوضع له القبول في الأرض

‘Sesungguhnya Aku mencintai fulan, oleh karena itu cintailah si fulan.’ Maka, Jibril pun mencintainya. Lalu, malaikat Jibril menyeru di langit, beliau berkata, ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan, oleh karena itu hendaklah kalian mencintai fulan.’ Maka, penduduk langit pun mencintai si fulan. Kemudian, diletakkan untuk si fulan tersebut penerimaan di muka bumi” (HR. Muslim).

Di antara pengaruh mengimani sifat mahabbah yaitu barangsiapa yang ingin mendapat kecintaan Allah hendaknya ia mengikuti petunjuk Nabi shalllahu ‘alaihi wa sallam , sebagaaimana firman Allah :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. (Ali Imran: 31)

Kecintaan Allah kepada hamba berkaitan dengan kecintaan hamba kepada Allah. Jika tertanam kuat pohon iman di dalam hati, dan disirami dengan keikhlasan serta senantiasa mengikuti petunjuk Al Habiib Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka akan menghasilkan buah kebaikan yang senantiasa bertkembang.

Pengaruh Mengimanai Sifat Ilmu dan Ma’iyyah

Jika seorang hamba mengimani bahwa Allah memiliki sifat ilmu dan Allah bersama dengan makhluk-Nya (ma’iyyah) maka akan membuahkan rasa takut kepada-Nya, merasa diawasi oleh-Nya, dan sekaligus merasa dekat dengan-Nya.

Pengaruh Mengimani Sifat Rahmat

Apabila seorang hamba mengetahui bahwa Allah memiliki sifat rahmat, maka setiap dia terjerumus perbuatan dosa niscaya dia segera memohon kepada Allah agar merahmati dan mengampuni dosanya. Dia pun tidak mudah berputus asa dari rahmat Allah. Bagaimana seorang akan berputus asa jika dia mengimani Allah memiliki sifat rahmat terhadap para hamba-Nya ?

Pengaruh Mengimani Sifat Qudrah

Allah memiliki sifat-sifat (القهر و الغلبة و السلطان و القدرة و الهيمنة و الجبروت) yang maknanya adalah memiliki sifat kemampuan yang sempurna terhadap segala sesuatu. Jika hamba mengimani hal ini maka dia mengetahui bahwa tidak ada satu pun yang mampu melemahkan Allah. Dia mampu menundukkan bumi sleuruhnya, Dia mampu memberi hukuman bagi hamba di dunai sebelum di akhirat, Dia maha mampu di atas seluruh makhluk-Nya. Dia akan mengalahkan semua yang melawan dan menantang.

Pengaruh Mengimanai Sifat Quwwah

Seorang hamba apabila mengimani bahwa Allah memiliki sifat (القوةو العزة الغلبة) maka dia akan meyakini bahwa kekuatan dan kemuliaannnya berasal dari Allah. Tidak akan menghinakan dan merendahkan Allah perbuatan orang-orang kafir. Apabila kita bersama Allah maka niscaya Allah kan membersamai kita dan tidak akan ada yang mampu mengalahkan ketentuan-Nya (untuk mengalahkan orang-orang kafir).

Pengaruh Mengimani Sifat As Salam

Apabila seorang hamba mengimanai sifat Allah ini maka akan merasakan ketenangan hati. Allah adalah As-Salaam. Dia juga mencintai as-salaam (keselamatan), maka sebarkanlah salam di antara orang beriman agar timbul kecintaan di antara sesama mukmin.

Pengaruh Mengimani Sifat Makar

Di antara sifat Allah adalah  ( المكر و الكيد) yang maknanya adalah membalas tipu daya kepada yang berhak mendapatkannya.  Apabila seorang hamba mengimani sifat ini sesuai dengan keagungan Allah, maka niscaya dia meyakini bahwa tidak akan ada makhluk yang mampu membuat makar dan tipu daya kepada Allah. Allah adalah sebaik-baik pemberi makar kepada siapa saja yang berhak mendapatkannya.

Pengaruh Mengimani SIfat al ‘Uluw dan Istiwa’, An Nuzul, dan Al Qurb

Apabila seorang hamba mengimani sifat ini maka dia akan mengetahui bahwa Allah tersucikan dari bercampur dengan makhluk. Dia berada tinggi (العلوّ) di atas seluruh makhluk-Nya dan terpisah dari makhluk-Nya. Dia istiwa’  (الاستواء) di atas ‘Arsy, namun Dia juga dekat (القرب) dengan hamba-Nya secara pengilmuan. Jika seorang hamba membutuhkan Allah maka Dia dekat dengan hamba. Dia megabulkan doa orang yang meminta. Dia turun (النُّزول) ke langit dunia di waktu seperiga malam terakhir sesuai dengan keagungan-Nya, kemudian berfirman :

مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

”’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini semua akan berdampak bagi hamba menjadi bersemangat untuk memperhatikan waktu tersebut. Dan sifat-sifat di atas tidaklah bertentangan satu dengan yang lainnya. Kita wajib mengimaninya sesuai dengan keaguangan Allah Ta’ala.

Pengaruh mengimani Sifat Kalam

Al Qur’an adalah kalamullah. Mengimanai sifat kalam (berbicara) akan menjadikan hamba merasa apabila dia membaca Al Qur’an maka berarti dia membaca kalamullah. Apabila dia membaca ayat Al Qur’an misalnya :

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ

“ Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. “ (Al Infithar : 6)

Ketika membaca ayat ini maka dia merasa seolah Allah berbicara kepadanya sehingga akan muncul dalam hatinya pengagungan. Seorang hamba apabila mengimani sifat kalam ini dan dia juga mengetahui bahwa di dalam hadits shahih disebutkan bahwa Allah akan berbicara kelak pada hari kiamat tanpa ada penerjemah antara hamba dengan Rabb-Nya, maka diapun akan berusaha menghindar dari perbuatan kemaksiatan selama di dunia dan dia akan mempersiapkan jawaban untuk menghadapai hisab ketika ditanya oleh Allah kelak.

Pengaruh Mengimani Sifat-Sifat Dzatiyyah Khabariyyah

Allah memiliki sifa-sifat khabariyyah seprti wajah, tangan, jari, telapak kaki, betis, dan yang lainnya. Barangsiapa mengimani dan membenarkannya sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah tanpa melakukan tahrif, ta’thil, tamtsil, dan takyif  maka sungguh dia telah mendapatkan keberuntungan. Sebaliknya, barangsiapa yang lebih mengedepankan akalnya yang rusak daripada dalil shahih kemudian menolak sifat-sifat tersebut, atau menyelewengkan maknanya, atau menganggapnya sebagai majaz, maka dia sungguh telah melakukan kesalahan fatal dan merugi. Mengapa? Karena dengan demikan berarti dia telah membedakan antara sebagian sifat Allah dengan sifat-sifat yang lain. Dia juga berarti telah mendustakan Allah mengenai sifat-sifat yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya yang disebutkan dalam Al Qur’an. Demikian pula, berarti dia telah mendustakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai sifat-sifat Allah yang telah beliau tetapkan untuk Allah melalui hadits-hadits yang shahih.

Seandainya tidak ada buah manis mengimani sifat-sifat ini kecuali menjadikan orang yang mengimaninya termasuk ke dalam golongan orang beriman dan bertauhid, maka ini sudah cukup. Seandainya tidak ada pengaruh mengimani sifat-sifat tersebut kecuali hal ini menjadi menjadi pembeda antara orang yang jujur dalam keimanan dan tauhidnya dengan orang-orang yang berdusta dan menyelewengkan makna firman Allah dan sabda rasul-Nya, maka ini pun sudah cukup.

Namun ternyata masih ada pengaruh penting yang lain dalam mengimani sifat-sifat khabariyyah tersebut, di antaranya:

  • Jika Engkau mengimani bahwasanya Allah memiliki wajah yang sesuai dengan kemuliaan dan keagungan Allah, dan melihat wajah-Nya adalah di antara nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya di hari kiamat, niscaya hal ini akan menjadi motivasi besar bagi hamba untuk beramal dan meminta kepada Allah agar kelak bisa melihat wajah-Nya yang mulia.
  • Jika Engkau beriman bahwa Allah memiliki tangan dan seluruh kebaikan berada di tangan-Nya, maka Engkau pun akan termotivasi untuk hanya meminta kepada Allah, yang segala sesuatu berada di tangan-Nya.
  • Jika Engkau mengetahui dan mengimani bahwa hatimu berada di antara jari-jemari Allah, niscaya Engkau akan terus meminta kepada Allah agar menetapkan hati di atas agama Islam.

Masih terdapat banyak sifat-sifat Allah yang lain Tidak ada satupun sifat Allah  kecuali bagi orang yang megimaninya dengan benar pasti akan mendapat buah yang manis dan pengaruh positif dari keimanannya tersebut. Merupakan nikmat yang sangat agung bagi Ahlus sunnah wal jamaah yang memiliki keimanan yang benar terhadap setiap sifat-sifat Allah sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala sehingga merasakan buah manisnya iman dan pengaruh yang bermanfaat bagi dirinya.

Semoga bermanfaat. Allahu waliyyu at taufiik. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad

Penulis: Adika Mianoki

Artikel: Muslim.or.id