Meraih 15 Hikmah Ketika Sakit

USTAZ Salim A Fillah menulis di twitternya, manakala seorang manusia sakit, seharusnya ia bersyukur. Allah tengah memberinya kesempatan berdekat-dekat, dan setidaknya diberi kesempatan untuk meraih 15 hikmah.

1. Sakit itu zikrullah.
Mereka yang menderitanya akan lebih sering dan syahdu menyebut Asma ALLAH di banding ketika dalam sehatnya.

2. Sakit itu istighfar.
Dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit. sehingga lisan terbimbing untuk mohon ampun.

3. Sakit itu tauhid.
Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, kalimat thoyyibat yang akan terus digetar?

4. Sakit itu muhasabah.
Dia yang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi,menghitung-hitung bekal kembali.

5. Sakit itu jihad.
Dia yang sakit tak boleh menyerah kalah,diwajibkan terus berikhtiar,berjuang demi kesembuhannya.

6. Bahkan sakit itu ilmu.
Bukankah ketika sakit, dia akan memeriksa, berkonsultasi dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah kena sakit.

7. Sakit itu nasihat.
Yang sakit mengingatkan si sehat untuk jaga diri,yang sehat hibur si sakit agar mau bersabar, Allah cinta dan sayang keduanya.

8. Sakit itu silaturrahim.
Saat jenguk, bukankah keluarga yang jarang datang akhirnya datang membesuk,penuh senyum dan rindu mesra? Karena itu pula sakit adalah perekat ukhuwah.

9. Sakit itu penggugur dosa.
Barang haram tercelup di tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan yang sakit dinyerikan dan dicuci-Nya.

10. Sakit itu mustajab doa.
Imam As-Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoakan oleh yang sakit.

11. Sakit itu salah satu keadaan yang menyulitkan setan.
Diajak maksiat tak mampu tak mau dosa,lalu malah disesali kemudian diampuni.

12. Sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis,satu sikap keinsyafan yang disukai Nabi dan para makhluk langit.

13. Sakit meningkatkan kualitas ibadah, rukuk-sujud lebih khusyuk, tasbih-istighfar lebih sering, tahiyyat-doa jadi lebih lama.

14. Sakit itu memperbaiki akhlak, kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadhu.

15. Dan pada akhirnya sakit membawa kita untuk selalu ingat mati.

 

MOZAIK

Jamaah Haji Dapat 12 Kali Sarapan Selama di Makkah

Ongkos Naik Haji pada musim haji 2017 sedikit lebih mahal dibandingkan musim haji tahu lalu. Namun kata Menteri Agama, Lukman Hakim Saefuddin, selisih sebesar Rp 249 ribu bukan kenaikan, karena jamaah haji akan mendapatkan fasilitas yang lebih bagus juga.

“Setidaknya jamaah haji akan dapat sarapan selama 12 hari selama di Makkah, yang tidak ada pada musim haji tahun lalu,” kata Lukman di Denpasar, Sabtu (8/4).

Hal itu dikemukakan Lukman menjawab wartawan seusai meresmikan gedung Balai Nikah dan Manasik Haji KUA Denpasar Timur. Dalam kunjungannya ke Denpasar, Lukman juga mersmikan Masjid Baiturrahman Kampung Wanasari Denpasar, serta menghadiri pertemuan tokoh lintas agama.

Tekait pelayanan yang diberikan selama pelaksanaan ibadah haji, Lukman mengatakan, pemerintah akan mencarikan tenda dengan mesin pendingin yang lebih baik. Sehingga saat wukuf di Arofah, para jamaah haji tidak merasa kepanasan.

“Tahun lalu, fasilitas ini juga tidak ada di Arofah dan akan kami usahakan. Jadi selisih biaya itu karena kami memberikan fasilitas yang lebih baik,” katanya.

Dikatakan Menag, persiapan pelaksanaan haji tahun ini sudah semakin membaik, dan pada Senin (10/4), jamaah haji yang telah dipanggil, bisal melakukan pelunasan ONH-nya.Dia menyebut, semakin cepat melakukan pelunasan, akan semakin baik, karena pemerintah bisa melakukan persiapan semakin cepat juga.

Menag mengingatkan, agar calon haji menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Antara lain sebaik Menag, dengan menjaga ketahanan tubuh atau stamina, mengingat sebagian besar prosesi perjalanan haji dengan berjalan kaki.

“Karenanya, perlu menjaga kesehatan dengan baik, perlu latihan berjalan-jalan, agar nantinya bisa menyesuaikan diri dalam pelaksanaan haji,” katanya.

Sementara dalam sambutannya, Menag menyebutkan, tujuan orang berhaji adalah menjadi haji yang mabrur. Kemabruran itu sebutnya, tidak hanya diukur dari kesalihan individual semata, melainkan juga dengan kesalihan sosial.

“Haji yang mabrur, selain ibadahnya kepada Allah membaik, tapi hubungan sosial kemasyarakatannya juga semakin bagus,” kata Lukman.

Karena itu Menag berharap, agar pembimbing haji memberikan arahan kepada para calon jamaah haji pada pengertian-pengertian yang luas tentang esensi haji. Tentu saja sambung Lukman, tatacara manasik atau tatacara mengerjakan ibadah haji juga tetap diajarkan, agar para jamaah haji bisa menunaikan hajinya sesuai dengan syariat yang telah ditentukan.

 

IHRAM

Andai Al-Fatih Silau Harta, Konstantinopel Mungkin tak Tertaklukan

Imbalan harta yang ditawarkan Kaisar Byzantium kepada Muhammad Al-Fatih tak membuatnya silau. Andai sultan ketujuh Dinasti Ustmani itu menerima tawaran harta, mungkin Konstantinopel akan lebih lama tertaklukan.

Sebelum Kontantinopel jatuh ke tangan Islam, Kekaisaran Byzantium sempat melakukan negosiasi-negosiasi dengan Sultan Mehmet II, nama lain Al-Fatih. Namun, negosiasi tersebut ditolak Al-Fatih yang memilih tetap mengepung Konstantinopel.

Dikutip dari buku Muhammad Al-Fatih: Penakluk Konstantinopel karya Syaikh Ramzi Al-Munyawi, negosiasi tersebut dilakukan Kaisar Byzantium untuk menarik mundur pasukan Turki Utsmani dengan imbalan harta. Namun, Al-Fatih menolak tawaran tersebut.

Sultan ingin agar Konstantinopel diserahkan saja kepadanya, dan dengan begitu ia berjanji tidak akan mengganggu penduduk dan gereja-gerejanya. Keinginan Sultan itu ditulis dalam bentuk surat-surat. Adapun isi kandungan surat yang dikirimkan Sultan adalah:

“Maka hendaklah kekaisaran Anda menyerahkan kota Konstantinopel kepadaku, dan saya bersumpah pasukan saya tidak akan mengganggu seorang pun (dari penduduk kota), baik jiwa, harta dan kehormatannya. Dan siapa yang mau tetap tinggal dan hidup di kota tersebut, maka ia akan aman dan selamat. Dan siapa yang ingin meninggalkannya ke mana saja ia mau, maka ia juga akan aman dan selamat”.

Keinginan Sultan Mehmet itu pun tidak dipenuhi oleh Kaisar, hingga akhirnya perang terus berkecamuk diantara kedua belah pihak. Selama berhari-hari perang, pasukan Islam yang dipimpin Sultan Mehmet yakin bahwa Konstantinopel tidak lama lagi akan jatuh. Meski demikian, ia tetap berusaha untuk memasuki kota itu dengan cara damai.

Maka ia kembali menulis surat kepada kaisar untuk memintanya menyerahkan kota itu tanpa pertempuran darah lagi. Sultan juga menawarkan jaminan keamanan bagi kaisar dan keluarganya serta para pendukungnya dan semua penduduk yang ingin keluar dari kota itupun akan dijaga dan tidak akan mendapatakan perlakuan buruk sedikitpun.

Ketika surat sampai ke tangan kaisar, ia segera mengumpulkan para penasehatnya untuk merundingkan surat yang diterima dari Sultan. Sebagian dari mereka cenderung menyerah, sementara yang lain bersikeras untuik melanjutkan upaya perlawanan melindungi kota itu hingga mati.

Ternyata kaisar cenderung untuk terus berperang hingga detik terakhir. Kaisar pun membalas surat Sultan dengan menyatakan: Ia bersyukur kepada Tuhan jika Sultan menawarkan perdamaian dan bahwa ia bersedia membayar jizyah (pajak non-Muslim) kepadanya. Namun untuk Konstantinopel, ia telah bersumpah untuk melindunginya hingga napas terakhir dalam hidupnya. Jika tidak berhasil menjaga singgasananya, maka ia akan dikuburkan di bawah pagar-pagar benteng Konstantinopel.

Setelah membaca balasan kaisar, pada Ahad, 18 Jumadil Ula, Sultan Mehmed mengarahkan pasukannya untuk meningkatkan kekhusyu’annya, mensucikan diri dan mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan melakukan shalat, ibadah lain secara umum, merendahkan diri dan berdo’a dihadapan-Nya. Dengan begitu ia berharap, kemenangan besar yang akan diraih akan menambah kemuliaan dan keagungan Islam.

 

REPUBLIKA

Penaklukan Konstantinopel Kembalikan Kewibawaan Umat Islam

Kejatuhan Konstantinopel ke tangan umat Islam menandai terbukanya dunia Timur Tengah menuju dunia modern. Selain itu, penaklukan ibu kota Romawi tersebut membangkitkan kembali semangat kaum muslimin untuk mengembalikan kejayaan dan kewibawaan Islam di mata dunia pascakeruntuhan Bani Abasyiah oleh Tartar Mongol.

Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari, Ahmad dan Al-Hakim, Rasulullah SAW bersabda, “Konstantinopel akan jatuh di tangan seorang pemimpin yang sebaik-baik pemimpin, tentaranya sebaik-baik tentara, dan rakyat sebaik-baiknya rakyat”.

Dilansir dari buku 1453: Detik-detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim karya Roger Crowley, menyebutkan Konstantinopel memang selalu menjadi kota rebutan bangsa-bangsa dunia. Baik dari Eropa, Rusia, Afrika, Persia, Arab-Muslim, bahkan keturunan Turki. Kekhalifahan Islam sendiri, dalam rentang 800 tahun sudah mencoba merebutnya, namun selalu gagal.

Sultan Mehmet II (Mahmud II) adalah putra Sultan Murad II yang berhasil membebaskan Kontantinopel dari tangan kaisar Contantine XI Paleologus. Di awal perjuangan, Sultan berkirim surat dengan penguasa Bizantium yang berisi ajakan untuk masuk Islam atau menyerahkan Konstantinopel secara damai. Namun penguasa Konstantinopel menolak seruan Sultan dan lebih memilih untuk perang.

Sultan menyadari Konstantinopel adalah kota laut dengan pertahanan tembok tebal berlapis dua setinggi 10 meter dan dikelilingi parit sedalam tujuh meter, yang tidak mungkin bisa dikepung kecuali menggunakan armada laut. Karenanya, dia pun membawa 400 unit kapal perang, meriam-meriam penghancur, dan peralatan berat canggih lainnya dengan jumlah pasukan 150 ribu personel.

Tepat pada Jumat 6 April 1453, Sultan Mehmet II bersama gurunya, Syaikh Aaq Syamsudin (nasabnya bersambung hingga Abu Bakar Shiddiq), beserta dua tangan kanannya, Halil Pasha dan Zaghanos Pasha, menyerbu benteng kota Konstantinopel. Diiringi hujan panah, tentara Islam Turki maju dalam tiga lapisan pasukan. “Irregular” lapisan pertama, “Anatolian Army” dilapis kedua, dan terakhir pasukan khusus “Janissari”.

Meski segala kemampuan dengan bantuan teknologi canggih dikerahkan, Konstantinopel sulit ditaklukkan. Banyak tentara Sultan tewas dan hampir saja membuat frustasi. Hingga akhirnya sebuah ide yang terdengar bodoh dilakukan hanya dalam semalam: memindahkan kapal-kapal tempur melalui darat untuk menghindari rantai penghalang. Usaha ini berhasil memasukkan 70 kapal ke wilayah Selat Golden Horn hingga mengejutkan musuh.

Hampir dua bulan pasukan Sultan menggempur pertahanan Konstantinopel. hingga Selasa 20 Jumadil Ula 857 H/ 29 Mei 1453 M, hari kemenangan itu tiba. Melalui pintu Edirne, pasukan Sultan memasuki kota dan mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyah di puncak kejayaa Konstantinopel. Dalam pertempuran hebat itu, Kaisar Constantine XI dikabarkan tewas, walau sampai saat ini jasadnya tidak pernah ditemukan.

 

REPUBLIKA

Jabal Uhud, Bukan Sembarang Gunung di Arab Saudi

Jabal Uhud di Madinah, Arab Saudi sering menjadi destinasi wisata religi jamaah umrah atau haji. Pengunjung bisa mengenang Perang Uhud dan perjuangan Nabi Muhammad SAW di sana.

Jabal Uhud adalah bukit terpanjang di Madinah yang membentang 6 km. Nama Jabal Uhud bisa diartikan sebagai bukit yang menyendiri. Berbeda dengan umumnya bukit dan gunung di Madinah yang saling menyambung, Jabal Uhud tidak bersambungan.

detikTravel berkesempatan berkunjung ke sana beberapa waktu silam. Jamaah umrah kala itu banyak juga yang datang ke Jabal Uhud. Itu memang bukan destinasi biasa.

Jabal Uhud menjadi saksi bisu dari Perang Uhud di tahun 625 silam. Sebanyak 70 orang syuhada gugur dan dimakamkan di sana. Dahulu Nabi Muhammad SAW kerap ziarah ke Jabal Uhud. Sehingga kemudian umat Muslim yang ke Tanah Suci untuk umroh atau haji pun kerap datang ke Jabal Uhud untuk berziarah.

Komplek pemakaman terlihat begitu sederhana. Di sekelilingnya diberi pagar berjeruji yang tingginya sekitar 3 meter.

Di area pemakaman terlihat batu-batu hitam membentuk kotak cukup besar sebagai tanda makam Hamzah bin Abdul Muthalib dan Abdullah bin Jahsyi, yang merupakan sepupu Nabi Muhammad SAW. Sementara itu makam para syuhada lainnya tidak terlihat ada tandanya.

Peziarah bisa leluasa melihat ke area dalam pemakaman. Namun tetap ada aturan berziarah yang harus ditaati. Aturannya ada yang tertulis dalam bahasa Indonesia sehingga mudah dimengerti.

Selama di Jabal Uhud pengunjung dapat mendaki bukit yang tidak terlalu tinggi, namun tidak mudah memang mencapai puncaknya. Tentunya tetap harus selalu berhati-hati ya!

Sebelum pulang dari Jabal Uhud pengunjung bisa mampir dulu ke area yang penuh dengan pedagang suvenir serta makanan khas Arab. Beragam suvenir yang ada antara lain perhiasan, tasbih hingga berbagai macam jenis kurma.

 

DETIK

Masjid Unik di Malaysia, Warnanya Pink!

Malaysia tidak hanya terkenal dengan Menara Petronas, tetapi juga banyak masjid indah untuk kunjungan wisata religi. Salah satunya masjid berwarna pink ini.

Masjid Putra yang terletak di daerah Putrajaya ini memiliki warna dan arsitektur menarik. Masjidnya berwarna pink dengan kubah berkaligrafi yang indah. Warna masjid ini bukan karena efek lampu lho, tetapi memang dari granit berwarna pink.

Masjid yang terletak di kawasan pemerintahan Malaysia ini dibangun pada tahun 1997 dengan luas 1,37 hektar. Nama masjid diambil dari nama anak Perdana Menteri Malaysia, Tunku Abdul Rahman Putra Al Haj.

Beberapa waktu lalu detikTravel berkesempatan berkunjung ke Masjid Putra. Di Masjid ini kita akan melihat gaya arsitektur Turki dan Timur Tengah yang dipadu dengan arsitektur Melayu. Cantik!

Di gerbang masjid, traveler akan disambut oleh gerbang masjid yang tinggi dan megah. Bangunan masjid terdiri dari 4 lantai dan memiliki lift, sehingga mempermudah wisatawan untuk menyaksikan keindahan tiap lantainya.

Masjid memiliki 3 area utama, yaitu ruang salat, sahn atau lapangan dan berbagai ruang kegiatan, serta fasilitas belajar. Ruang salat yang sangat luas dan indah disangga oleh 12 pilar yang kokoh. Sedangkan lapangan dihias dengan berbagai dekorasi air dipagari dan di kelilingi jajaran pilar.

Menara Masjid Putra merupakan salah satu menara mesjid tertinggi di kawasan ini, yaitu 116 m. Menara ini memiliki 5 tingkatan yang mencerminkan lima pilar agama Islam dan kewajiban shalat lima waktu.

Berhubung masjid merupakan tempat ibadah, tentu traveler harus berpakaian sopan alias tertutup untuk memasuki kawasan wisata ini. Siapapun boleh masuk ke kawasan ini. Bagi traveler yang tidak menggunakan jilbab, atau bagi laki-laki yang bercelana pendek jangan khawatir. Petugas akan mengarahkan traveler ke booth peminjaman jubah nantinya.

Sesampainya di pintu masjid, ada booth informasi. Jika traveler ingin mengetahui informasi mendalam tentang masjid tanyakan saja di booth ini. Dan traveler juga bisa mengambil selebaran mengenai masjid, agama Islam, dan tata cara salat di dekat booth.

Selain menikmati keindahan masjid berwarna pink ini, traveler juga bisa melihat danau dan gedung pemerintahan Malaysia yang terletak tidak jauh dari kawasan masjid. Jika diperhatikan dari danau, masjid akan terlihat seperti mengapung di atas air. Sangat indah!

Nah, Masjid Putra bisa menjadi destinasi ngabuburit traveler di bulan Ramadan. Menikmati keindahan masjid dan danau sambil menunggu waktu berbuka, habis itu lanjut tarawih di masjid indah ini. (krn/krn)

 

DETIKcom

29 Mei, Mengenang Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Umat Islam

Menjelang waktu Ashar pada Selasa, 29 Mei 1453, Konstantinopel berhasil dibebaskan. Takluknya ibu kota Romawi tersebut di tangan pasukan Muhammad Al Fatih menjadi pembuktian bisyarah (kabar gembira) Rasulullah saw delapan abad sebelumnya.

Di sela-sela persiapan perang Khandaq, Rasulullah ditanya salah seorang sahabat. “Ya Rasul, mana yang lebih dahulu jatuh ke tangan kaum Muslimin, Konstantinopel atau Romawi?” Nabi menjawab, “Kota Heraklius (Konstantinopel).” (Hadits riwayat Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim). Dan hampir 800 tahun kemudian bisyarah Rasulullah terbukti.

Dengan kekuatan tak kurang 100 ribu pasukan, pasukan kekalifahan Utsmani di bawah komando Mehmed II, panggilan Muhammad Al-Fatih, menaklukkan jantung peradaban Kristen terbesar saat itu. Mirip Tembok Besar di Cina, kota Konstantinopel dinaungi benteng yang terbentang sejauh total 20 kilometer guna menghindari serangan musuh. Serangan pasukan Al-Fatih sudah dimulai sejak 6 April atau lebih dari sebulan sebelumnya tanpa hasil memuaskan.

Tak mudah menundukkan Konstantinopel. Upaya penaklukan bahkan sudah dilakukan sejak tahun 44 Hijriah pada era Muawiyah bin Abu Sofian.

Pasukan artileri Al-Fatih gagal menusuk dari sayap barat lantaran dihadang dua lapis benteng kukuh setinggi 10 meter. Mencoba mendobrak dari selatan Laut Marmara, pasukan laut Al-Fatih terganjal militansi tentara laut Genoa pimpinan Giustiniani. Sadarlah Al-Fatih, titik lemah Konstantinopel adalah sisi timur yakni selat sempit Golden Horn (tanduk emas).

Selat ini dibentang rantai besar, memusykilkan armada kecil sekali pun untuk melewatinya. Tapi Al-Fatih saat itu usianya 21 tahun tak kehabisan akal.

Ia membawa kapal-kapalnya dari laut ke darat, demi menghindari rantai besar. Sebanyak 70 kapal digotong ramai-ramai ke sisi selat dalam waktu singkat pada malam hari. Inilah awal dari kejatuhan Konstantinopel yang fenomenal.

Jatuhnya Konstantinopel menjadi pintu gerbang bagi kekalifahan Utsmani untuk melebarkan sayap kekuasaanya ke Mediterania Timur hingga ke semenanjung Balkan. Peristiwa ini kelak menjadi titik krusial bagi stabilitas politik Utsmani sebagai kekuatan adikuasa kala itu, jika bukan satu-satunya di dunia. Tanggal 29 Mei 1453 juga ditandai sebagai era berakhirnya Abad Pertengahan.

Nama Konstantinopel kemudian diubah menjadi Istanbul yang berarti kota Islam. Istanbul, kerap dilafalkan Istambul, kemudian sebagai ibu kota kekalifahan Utsmani hingga kejatuhannya pada 1923. Kota pelabuhan laut ini menjadi pusat perdagangan utama Turki moderen saat ini.

Secara geografis, wilayah Istanbul ‘terbelah’ dua dan masing-masing terletak di Asia dan Eropa. Berpenduduk hingga 16 juta jiwa, Istanbul adalah salah satu kota terpadat di Eropa.

 

Inilah Manajemen Ramadhan Ala Rasulullah

Agar Ramadhan menjadi bulan rahmat, ampunan dan keselamatan dari neraka maka momentum yang penuh berkah ini perlu dijadikan sebagai momentum Training Manajemen Syahwat, dan sekaligus menjadi Training Manajemen Ibadah. Inilah yang dilakukan Rasul Saw. Sebab itu, kita perlu menelusuri bagaimana Rasulullah Saw. dan generasi Islam pertama, generasi terbaik umat ini, menjalankan manajemen Ramadhan.

Untuk mendapatkan gambaran utuh dari manajamen Ramadhan Rasul Saw. ada empat  situasi yang perlu kita perhatikan. Pertama, sebelum memasuki Ramadhan. Kedua, saat memasuki Ramadhan. Ketiga, setelah memasuki Ramadhan. Keempat, ketika memasuki 10 hari terakhir.

Pertama, sebelum memasuki Ramadhan

Para Sahabat dan generasi setelah mereka (Tabi’in) selalu merindukan kedatangan Ramadhan. Mereka selalu berdoa agar diberi Allah kesempatan menemui Ramadhan sejak enam bulan sebelum Ramadhan tiba. Imam Malik, misalnya, sering minta izin pada Sahabatnya setelah pengajian untuk mempelajari bagaimana Sahabat memenej kehidupan ini, termasuk hal-hal yang terkait dengan Ramadhan mereka. Kendati Beliau tidak hidup bersama para Sahabat, namun Beliau mampu meneladani mereka melalui sejarah hidup mereka.

Ma’la Bin Fadhal berkata : Dulu Sahabat Rasul Saw. berdoa kepada Allah sejak enam bulan sebelum masuk Ramadhan agar Allah sampaikan umur mereka ke bulan yang penuh berkah itu. Kemudian selama enam bulan sejak Ramadhan berlalu, mereka berdoa agar Allah terima semua amal ibadah mereka di bulan itu. Di antara doa mereka ialah : Yaa Allah, sampaikan aku ke Ramadhan dalam keadaan selamat. Yaa Allah, selamatkan aku saat Ramadhan dan selamatkan amal ibadahku di dalamnya sehingga menjadi amal yang diterima.

Dari sikap dan doa yang mereka lakukan, jelas bagi kita bahwa para Sahabat dan generasi setelahnya sangat merindukan kedatangan Ramadhan. Mereka sangat berharap dapat menjumpai Ramadhan agar mereka meraih semua janji dan tawaran Allah dan Rasul-Nya dengan berbagai keistimewaan yang tidak terdapat di bulan-bulan lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa para Sahabat dan generasi setelahnya memahami dan yakin betul akan keistimewaan dan janji Allah dan Rasul-Nya yang amat luar biasa seperti rahmah (kasih sayang), maghfirah (ampunan) dan keselamatan dari api neraka. Inilah yang diungkapkan Imam Nawawi : Celakalah kaum Ramadhaniyyin. Mereka tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan. Sungguh Rasulullah, Sahabat dan generasi setelahnya mengenal Allah sejak jauh-jauh hari sebelum Ramadhan dan di bulan Ramadhan pengenalan kepada Allah lebih mereka tingkatkan.

Kedua, saat memasuki Ramadhan

Saat hilal muncul di ufuk pertanda Ramadhan tiba, Rasul dan para Sahabat melihat dan menyambutnya dengan suka cita sambil membacakan doa seperti yang diceritakan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dalam hadits berikut :

 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِصلى الله عليه وسلمإِذَا رَأَى الْهِلاَلَ قَالَ : اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِوَالتَّوْفِيقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى ، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ

Dari Ibnu Umar dia berkata : Bila Rasul Saw. melihat hilal (anak bulan) dia berkata : Allah Maha Besar. Ya Allah, jadikanlah hilal ini bagi kami membawa keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman dan taufik kepada yang dicintai Robb kami dan diridhai-Nya. Robb kami dan Robbmu (hilal) adalah Allah. (HR. Addaromi).

Itulah contoh nyata dari Rasul Saw. dan para Sahabat ketika meyambut kedatangan Ramadhan. Bukan dengan hiruk pikuk pawai di jalanan sambil keliling kota memukul beduk dan sebagainya. Tidak pula dengan pesta petasan yang jelas-jelas menimbulkan keributan dan mubazir. Bukan pula dengan ajang promosi produk dan iklan diri agar dikenal dan dipilih masyarakat untuk jadi pejabat. Namun, keyakinan, pikiran, perasaan, kerinduan dan hati mereka tertuju hanya pada kebesaran Ramadhan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Dengan harapan, jika amal ibadah Ramadhan dijalankan dengan ikhlas dan khusyu’, mereka akan meraih rahmat, ampunan dan terbebas dari api neraka. Ketiga nikmat itu tidak akan ternilai harganya bagi mereka dibandingkan dengan dunia dan seisinya. 

Ketiga, setelah memasuki Ramadhan

Apa yang dilakukan Rasul dan para Sahabat setelah memasuki Ramadhan? Setelah memasuki bulan Ramadhan, sejak hari pertama dan sampai hari terakhir, Rasulullah dan para Sahabat meningkatkan kemampuan menahan diri dari berbagai syahwat, seperti syahwat telinga, syahwat mata, syahwat lidah, syahwat perut (makan dan minum), syahwat kemaluan, syahwat cinta dunia, syahwat kesombongan dan berbagai syahwat yang memalingkan mereka dari mengingat dan mencintai Allah serta akhirat. Latihan mengendalikan dan menundukkan berbagai syahwat ini dilakukan sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari. Inilah inti shaum (puasa)  Ramadhan yang diwajibkan Allah.

Apakah setelah sepanjang hari bergulat dengan dorongan-dorongan berbagai syahwat tersebut malam harinya digunakan untuk istirahat, makan, minum dan sebagainya? Ternyata tidak. Di malam harinya Rasulullah dan para Sahabat memanfaatkannya untuk qiyam (berdiri beramal ibadah) seperti shalat taraweh, berzikir, membaca dan tadabbur Al-Qur’an dan berbagai ibadah lainnya. Artinya, selama Ramadhan, Rasul dan para Sahabat benar-benar menfokuskan diri bertaqorrub kepada Allah melalu training manajemen syahwat dan sekaligus training manajemen ibadah. Dua hal inilah yang harus dimiliki oleh setiap hamba yang ingin mendapat ridha Allah di dunia dan bertemu dengan-Nya di syurga.

‘Aisyah meriwayatkan : Rasulullah adalah orang yang paling dermawan. Di bulan Ramadhan Beliau lebih dermawan lagi ketika bertemu Jibril. Jibril menemui Beliau setiap malam Ramadhan untuk mengajarkan (mudarosah) Al-Qur’an. Sebab itu, kederwawanan Rasul Saw. di bulan Ramadhan lebih  kencang dari (tiupan) angin. (HR. Bukhari).

Inilah contoh nyata dari Rasul Saw. dan para Sahabat ketika mereka memasuki bulan Ramadhan. Hampir tak satupun syahwat yang tidak dapat mereka tundukkkan dan kendalikan dan tak satupun kebaikan dan amal sholeh yang mereka tinggalkan. Ramadhan benar-benar menjadi sistem penyeimbang dalam hidup ini sehingga mereka berhasil terbebas dari pengaruh syahwat buruk, karena merekalah yang mengendalikannya. Pada waktu yang sama, mereka berhasil meningkatkan kualitas diri dengan berbagai amal ibadah yang mereka lakukan dalam rangka taqorrub ilallah. Dengan demikian tercapai janji Rasul Saw. Siapa yang shaum (puasa) di bulan Ramadhan dan dia mengetahui aturannya (batas-batasnya), dia menjaga apa yang seharusnya dijaga maka akan dihapus dosa-dosa sebelumnya. (HR. Ahmad dan Baihaqi).

Keempat, ketika memasuki 10 hari terakhir Ramadhan

Jika kita teliti perilaku hidup Rasul Saw. dan para Sahabat di bulan Ramadhan, kita menemukan berbagai keajaiban. Di antaranya ialah, saat memasuki 10 hari terakhir Ramadhan. Apa yang mereka lakukan sangat kontras dengan apa yang terjadi di masyarakat Muslim hari ini. 10 Hari terakhir Ramadhan mereka habiskan di masjid, bukan di pasar, tempat kerja, di pabrik, kunjungan daerah dan sebagainya.

Menurut presepsi dan perilaku kebanyakan masyarakat Muslim Indonesia, 10 terakhir Ramadhan itu adalah kesempatan berbelanja untuk mempersiapkan keperluan lebaran dan pulang kampung, kendati mengakibatkan harga-harga semua barang naik dan membubung. Anehnya, mereka ikhlas dan tetap semangat berbelanja. Sebab itu, mereka meninggalkan masjid-masjid di malam hari dan tumpah ruah ke tempat-tempat perbelanjaan sejak dari yang tradisional sampai ke mall-mall moderen.

Lalu apa  yang terjadi? Berbagai syahwat cinta dunia tidak berhasil dikendalikan, dan bahkan cenderung dimanjakan di bulan yang seharusnya dikendalikan. Pada waktu yang sama, semangat beramal ibadahpun tidak terbangun dengan baik sehingga kehilangan banyak momentum dan keistimewaan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Coba bayangkan, terhadap janji Allah yang bernama Lailatul Qadr yang nilainya lebih baik dari 1.000 bulan saja belum tertarik? Jika tertarik, tentu mereka mengejarnya di masjid pada 10 hari terakhir Ramadhan dengan cara beri’tikaf di dalamnya secara penuh seperti yang dicontohkan Rasul Saw. Ini yang terjadi pada salah seorang teman ketika ditanya kenapa gak jadi i’tikaf? Dia katakan : saya sedang sibuk-sibuknya sosialisasi ke daerah. Lalu saya katakana : Mana yang lebih mahal menurut Rasulullah, i’tikaf di masjid 10 hari terakhir Ramadhan atau sosialiasi pencalegan Anda? Kemudian Anda bisa jamin umur Anda akan sampai pada 10 terakhir Ramadhan yang akan datang? Sungguh terkadang kita berlagak seakan lebih pintar, lebih hebat dan lebih sibuk berjuang dari Rasul Saw.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari, Abu Daud dan Ibnu Majah bahwa Rasul Saw. beri’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan. Pada tahun terakhir berjumpa Ramadhan, Beliau i’tikaf selama 20 hari. Kebiasaan I’tikaf ini diteruskan oleh para Sahabat dan istri-istrinya setelah peninggalan Beliau.

Pertanyaannya adalah : Bukankah Rasulullah orang yang paling sibuk berdakwah dan mengurusi umatnya? Bukankah para Sahabat orang yang  paling giat berdakwah dan berjihad di jalan Allah? Lalu, kenapa mereka bisa melaksanakan i’tikaf pada 10 terakhir Ramadhan? Jawabanya ialah : itulah jalan yang harus ditempuh sebagai bagian dari sistem Allah yang menyampaikan hamba-Nya ke tingkat taqwa, tak terkecuali Rasulullah dan para Sahabatnya. Lalu bagaimana dengan kita? Sudah pasti jalannya sama jika menginginkan sampai ke peringkat yang sama pula (taqwa).

 

Oleh : Ustadz Fatuddin Jaffar

ERA MUSLIM

Siapakah yang Paling Banyak Pahalanya dalam Berpuasa?

Siapakah yang paling banyak pahalanya dalam berpuasa? Masya Allah…

عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ فَقَالَ: أَيُّ الْجِهَادِ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: ” أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا ” قَالَ: فَأَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: ” أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا “، ثُمَّ ذَكَرَ لَنَا الصَّلَاةَ، وَالزَّكَاةَ، وَالْحَجَّ، وَالصَّدَقَةَ كُلُّ ذَلِكَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا ” فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ لِعُمَرَ: يَا أَبَا حَفْصٍ ذَهَبَ الذَّاكِرُونَ بِكُلِّ خَيْرٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَجَلْ “.
رواه الإمام أحمد في المسند رقم: 15614 ط/ مؤسسة الرسالة.

Sahl Bin Mu’adz meriwayatkan dari ayahnya beliau berkata: Sesungguhnya ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam seraya berkata: apakah jihad yang paling besar/banyak pahalanya? Beliau menjawab: Mereka yang paling banyak dzikirnya kepada Allah. Ia bertanya lagi: siapakah orang yang berpuasa yang paling besar/banyak pahalanya? Beliau menjawab: Mereka yang paling banyak dzikirnya kepada Allah. Kemudia ia bertanya tentang shalat, zakat, haji dan shadaqah (siapakah yang paling besar pahalanya?), semuanya dijawab oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dengan jawaban: Mereka yang paling banyak dzikirnya kepada Allah.
Lalu Abu Bakr berkata kepada Umar: Wahai Abu Hafsh, sungguh orang yang (banyak) berdzikir telah pergi membawa seluruh kebaikan, maka Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam berkata: ya benar”.
H. R Ahmad dalam Musnad, no. 15614 Cet. Muassasah Ar-Risalah.

Dari hadits diatas jelaslah bahwa orang yang paling utama dan paling besar/ banyak pahalanya dalam perpuasa adalah orang yang paling banyak dzikirnya kepada Allah dalam setiap kesempatan dan keadaan.

Oleh karena itu terdapat dalam al qur’an dan hadits perintah untuk bayak berdzikir dipagi dan petang hari serta dalam setiap kondisi dan keadaan, bahkan tidak terdapat didalam al qur’an perintah untuk banyak beribadah selain dzikir kepada Allah, hal ini menunjukan akan keagungan dzikir dan besar pahalanya disisi Allah Ta’ala.

قال تعالى: (والذاكرين الله كثيرا والذاكرات أعد الله لهم مغفرة وأجرا عظيما) . الأحزاب: 35.

“Dan orang yang banyak berdzikir kepada Allah dari kalangan lelaki dan wanita, Allah janjikan bagi mereka keampunan dan pahala yang agung/besar”.

قال تعالى: (يا أيها الذين آمنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا وسبحوه بكرة وأصيلا). الأحزاب: 41-42.

“Wahai orang orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan banyak, dan bertasbihlah kepadanya dipagi dan petang”

قالت عائشة رضي الله عنها: (كان النبي صلى الله عليه وسلم يذكر الله في كل أحيانه) رواه مسلم.

Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan: “Nabi shalallahu’alaihi wasallam selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap waktu”. H. R Muslim, no. 373.

Oleh Karena itu gunakanlah lisan kita untuk selalau banyak menyebut Allah dan dzikir kepadaNya, terutama dalam ibadah kita, dan secara khusus puasa yang akan kita laksanakan dibulan Ramdhan yang penuh berkah.

Semoga Allah memberikan pertolonganNya kepada kita dalam berdzikir, bersyukur dan melakukan ibadah yang berkualitas.

“اللهم أعنا على ذكرك، وشكرك، وحسن عبادتك”.

“Ya Allah, berilah kami pertolongan untuk berdzikir kepadaMu, mensyukuri nikmatMu dan melakukan ibadah yang terbaik kepadaMu”

 

Ditulis oleh: Muhammad Nur Ihsan, Hafidzahullah.

ERA MUSLIM

Kata adalah Kematangan

Imam al-Haramain al-Juwaini, ulama terpandang masa itu, gusar dengan kecakapan ilmu sang murid sekaligus asistennya kala mengajar di Madrasah Naisabur. Sang murid baru saja membuahkan telaahnya dalam karya berjudul al-Mankhul.

Karya inilah yang membuat terkesima al-Juwaini sampai dengan nada gusar—tentu sembari bercanda—berujar pada sang murid, “Engkau telah menguburkanku sedangkan aku masih hidup! Tidak sabarkah engkau menunggu hingga aku meninggal?”

Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, sang murid, tentu wajar patut berbangga. Sayang, bangganya berkawankan besar kepala. Abu Hasan Abdul Ghafir bin Ismail al-Farisi memberikan kesaksian perangkai al-Ghazali, “Perangainya kurang terpuji, selalu memandang rendah kepada orang lain karena angkuh dan sombong dengan kecerdasan, kemahiran berbicara dan pangkat yang dimilikinya.”

Demikian dicatat Majid Irsan Kaylani (2000) dalam telaah emasnya soal kiprah al-Ghazali, Hakadha Zahara Jailu Salahu al-Din wa Hakadha ’Adat al-Quds. Riwayat kebesaran kepala al-Ghazali tersebut berlangsung saat usia mudanya. Kelak ketika bersua Fadhil bin Muhammad al-Farmadzi, perubahan drastis terjadi dalam diri al-Ghazali. Besar kepalanya berubah menjadi sikap tawadhuk.

Perkembangan umur seseorang sering jadi penanda kedewasaan berpikir (juga bersikap). Sering kali kecerdasan pikiran tak seiring kematangan jiwa bestari. Letupan emosi ringan meruahkan amarah. Dus, kecerdasan yang dimiliki sering kali ringkih saat hasrat amarah tak bisa dibendung hadir dengan kata-kata. Bisa hadir dengan sombong, antikritik, atau arogansi bersikap. Semua ini lebih mungkin dihadirkan pada mereka yang punya “modal”, semisal kecerdasan atau kekayaan jabatan.

Sesungguhnya seorang remaja putri dari Banyuwangi yang beberapa tempo ini menyita perhatian publik media sosial dengan ulasan soal isu keagamaan contoh betapa kebijakan menghadapi usia perkembangan masih relevan. Tetap diperlukan bagi kita agar mengerem potensi dari rahim umat agar tidak kebablasan dan jatuh sebagai musuh Islam pada waktunya kelak. Serupa peran al-Farmadzi saat mendapati potensi amat besar al-Ghazali. Ada kalangan lain yang senang dengan uraian sang remaja karena menguntungkan pandangan pemikirannya.

Uraiannya kelihatan hebat, tapi sebenarnya biasa saja karena muncul bukan dari sebuah perenungan matang. Informasi yang ada diseleksi sesuai mekanisme berpikirnya; berpikir saat ini yang mungkin berkembang. Ia belum beranjak hebat serupa al-Ghazali, sehingga tidak perlu berlampauan menghadapinya. Usia dan potensinya perlu diarahkan pada jalur keilmuan semestinya selaku muslim beradab.

Justru yang kadang dahi publik berkernyit patut adalah bilamana mendapati sosok berpengaruh dan sudah sepuh masih mengumbar kata-kata “menyalak” serupa remaja yang mencari perhatian. Tanpa data, apalagi perenungan mendalam, mudah membuat vonis. Masjid kampus dilabel radikallah; menonton tayangan asusila lebih mendinglah karena mengundang istighfar. Dan sayangnya, sang sosok bukan sekali dua kali berujar dangkal. Padahal, titel tinggi dan sebutan ulama terhormat dari mana-mana sudah didapuk. Sayang, dewasa berpikirnya belum hadir. Hasrat menilai pihak lain yang tidak sepakat dengannya mencerminkan krisis adab selaku anutan umat di kelompoknya.

Imam al-Ghazali muda memang pernah besar kepala. Kata-katanya begitu pongah. Tapi itu kemudian diganti dengan untaian hikmah. Bukan lisan meremehkan atau merendahkan yang hadir, apatah lagi al-Ghazali sudah semakin naik posisinya selaku teladan bagi banyak anak didiknya.

Perkembangan umur seseorang dan kapasitas kecerdasan yang dimilikinya mestilah bisa beriringan. Kalaupun pernah masuk dalam kontroversi, ini bukan selalu akhir perjalanan seseorang. Siapa tahu sekadar minimnya informasi. Atau ingin mencuri sensasi sebagai tipikal gairah usia muda para peniti ilmu. Nah, yang repot kalau usia sudah uzur tapi masih setia memerlukan sensasi ataupun kontroversi agar diperhatikan kepentingannya. Padahal, ujaran-ujaran semacam itu hanya merendahkan bobot kecerdasan sejati yang dimilikinya.

Repotnya, hari ini banyak orang yang mendakwa diri pengamat atau kaum akademisi tapi mudah asbun mengulas sesuatu. Berkomentar asal demi salurkan dengki kelompok. Mirip seorang pejabat publik yang tanpa risih mengomentari kejadian bom di Jakarta beberapa hari lalu tanpa melihat kedudukannya. Asalkan dengki punya celah penyaluran, kata-kata merusak persatuan anak bangsa diumbar. Akal dan kesadaran posisinya diruntuhkan olehnya. Hanya oleh kata dalam cuitan biadabnya.

 

Oleh Yusuf Maulana, Kurator pustaka lawas Perpustakaan Samben, Yogyakarta

REPUBLIKA