Pendapat Ulama Soal Pemberian Nama Nabi pada Anak

DI dalam Alquran Al-Kariem memang ada disebutkan tentang panggilan kepada Maryam, ibunda Isa alaihissalam dengan sapaan: saudara perempuan Harun. “Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” (QS Maryam: 28)

Tentu saja para ulama berbeda pendapat dalam masalah siapakah yang dimaksud dengan Harun dalam ayat ini? Nabi Harun kah atau Harun lainnya? Sebab Nabi Harun alaihissaam adalah saudara nabi Musa alaihissalam dan hidup dalam satu zaman yang jauh dari zaman Maryam. Paling tidak ada 600 tahunan atau ada yang mengatakan lebih dari 1.000 tahun terpaut, sebagaimana keterangan Az-Zamakhsyari.

Tapi bagaimana Alquran bisa menyebutkan Maryam sebagai saudara Harun? Berikut ini kami nukilkan perbedaan-perbedaan serta tanggapan para ulama dalam masalah ini. Yang pertama bereaksi terhadap ayat ini adalah seorang shahabat nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama Ka’ab Al-Ahbar. Dahulu dia seorang pemeluk agama ahli kitab lalu masuk Islam. Sebagai mantan ahli kitab, tentunya beliau punya banyak pengetahuan tentang sejarah dan tsaqafah ahli kitab.

Beliau datang kepada Aisyah dan menyatakan bahwa Maryam itu bukan saudara perempuan Harun, saudara Musa. Lalu Aisyah berkata, “Kamu bohong.” Beliau lalu menjawab, “Wahai ibunda mukminin, kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memang menyatakan hal itu, tentu beliau lebih benar dan lebih mengetahui. Tapi kalau tidak ada keterangan dari beliau, sesungguhnya aku mendapatkan bahwa di antara keduanya terpisah jarak waktu 600 tahun.” Maka Aisyah pun terdiam.”

Dari kisah di atas bisa disimpulkan bahwa Harun yang dimaksud dalam ayat tersebut memang bukan nabi Harun alaihissalam saudara nabi Musa, melainkan orang lain yang bernama Harun, yang menjadi saudara Maryam. Kesimpulan ini dikuatkan lagi dengan hadis lain yang sahih dari riwayat imam Muslim.

Dari Muhgirah bin Syu’bah berkata, ‘Ketika aku tiba di Najran, penduduknya bertanya kepadaku, “Kalian membaca (Quran), “Wahai saudara perempuan Harun”, padahal Musa hidup sebelum Isa selama sekian dan sekian tahun.” Ketika bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam aku tanyakan hal itu dan beliau menjawab, “Sesungguhnya mereka biasa menamakan anak mereka dengan nama nabi dan orang-orang saleh yang hidup sebelum mereka.” (HR Muslim)

Maka jelaslah apa yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa nama Harun dalam ayat ini bukan Nabi Harun saudara Musa, melainkan Harun saudara Maryam, kebetulan dia bernama Harun. Lantaran kebiasaan mereka untuk menamakan anak-anak mereka dengan nama nabi atau nama orang saleh. Penjelasan Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini kemudian disimpulkan oleh para ulama bahwa ada kebolehan memberi nama anak dengan nama nabi atau nama orang-orang saleh di masa lalu.

Sebenarnya masih ada beberapa versi jawaban lagi dalam masalah ini, namun kami cukup sekian dulu, lantaran jawaban ini pun sudah lumayan bisa menjawab. Untuk lebih jelasnya, anda bisa bukan kitab tafsir Al-Jmi’ li Ahkamil Quran karya Al-Imam Al-Qurthubi pada tafsir surat Maryam ayat 28.

Wallahu a’lam bishshawab. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Ahmad Sarwat, Lc.]

 

INILAH MOZAIK

Ini 5 Ciri Orang yang Mendapatkan Hidayah

Seorang Muslim yang menegakkan shalat lima waktu, sesungguhnya ia meminta hidayah 17 kali dalam sehari. “Setiap kali membaca Surat Al-Fatihah, pada ayat keenam ia membaca “Ihdinash shirathal mustaqim”, yang artinya “tunjukilah (berilah hidayah) kepada kami jalan yang lurus,” kata Habib Abdurrahman Al-Habsy saat mengisi pengajian guru dan karyawan Sekolah Bosowa Bina Insani (SBBI) di Masjid Al-Ikhlas Bosowa Bina Insani Bogor, Jawa Barat, Jumat (22/9).

Abdurrahman menambahkan, ada dua bentuk hidayah. Pertama, hidayah bayan wal irsyad (penjelasan dan petunjuk). “Hidayah ini cenderung dimiliki oleh para nabi dan rasul. Hidayah turun kepada mereka dan mereka punya kewajiban menyampaikan dan menjelaskan hal tersebut kepada umat yang ada bersama mereka pada saat itu,” ujarnya.

Kedua, hidayah taufiq. Ini adalah hidayah yang Allah turunkan kepada hamba-hamba Allah, siapa saja, dengan syarat punya kemauan dan kesungguhan untuk mendapatkan hidayah Allah. “Hidayah ini akan sampai kepada seseorang manakala dia mau menjemputnya. Hanya hamba-hamba Allah yang punya persiapan yang baik, punya keinginan yang baik dalam hidupnya, dan mau berikhtiar sungguh-sungguh untuk menjemputnya, yang akan mendapatkan hidayah taufiq,” tuturnya.

Lalu, apa kendaraan untuk menjemput hidayah taufiq tersebut? Menurut Abdurrahman, ada dua kendaraannya, yakni Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW. “Hendaklah kita selalu mengakrabi Alquran, baik dengan cara membacanya, memahaminya, mendalaminya dan mengamalkannya. Selain itu, pelajari Sunnah Rasulullah SAW dengan sebaik mungkin, baik perkataan, perbuatan maupun penetapan beliau,” paparnya.

Abdurrahman lalu mengungkapkan lima cirri orang yang mendapat hidayah Allah. Pertama, ia merasakan mudah atau tidak berat melaksanakan kewajiban (ketaatan) kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya. “Termasuk di dalamnya tidak berat melaksanakan Tahajud, shalat fardhu berjamaah dan ketaatan lainnya kepada Allah,” ujarnya.

Kedua, kalau mendengar nama Allah disebut cintanya kepada Allah bertambah, hatinya bergetar.   “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetar hati mereka. dan apabila dibacakan ayat-ayatnya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS Al-Anfal: 2)

Ketiga, senantiasa istiqamah/ konsisten. Artinya berpegang teguh pada nilai-nilai keimanan yang dimiliki. “Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS Ali ‘Imran: 101)

Keempat, rajin dan sungguh-sungguhn menghadiri majelis-majelis ilmu, guna menambah perbendaharaan keilmuan dan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. “Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan (iImu) beberapa derajat.” (QS Al Mujadalah: 11)

Kelima, hidupnya bermahkotakan rasa malu. Baik malu kepada Allah maupun makhluk Allah.

Abdurrahman mengatakan, banyak sekali hadits Rasulullah yang menegaskan pentingnya sifat malu (haya’).  Salah satu di antaranya, “Malu itu sebagian dari iman.” Hadits lainnya, “Jika kamu tidak punya rasa malu, silakan lakukan sesuka hatimu.” “Malu dan iman itu ibarat saudara kembar. Orang yang beriman pasti punya rasa malu.” “Malu itu tidak mendatangkan sesuatu, kecuali kebaikan.”

 

REPUBLIKA

Mengapa Hijrah Rasulullah Jadi Dasar Penanggalan Islam?

Allah SWT menegaskan dalam Surah at-taubah (9) ayat 36, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram[640]. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Dalam kalender Hijriyah, terdapat 4 bulan haram. Yakni bulan Dzulqoidah, Dzulhijah, Muharram, dan Rajab. Dalam keempat bulan ini, Allah SWT melarang kaum Muslimin menganiaya diri dan berperang.

Menurut Guru Besar IPB Prof Didin Hafidhuddin MS, dalam sistem penanggalan ini, terdapat perbedaan yang substansial antara penanggalan Masehi dan Hijriyah. “Dalam penanggalan Masehi, hanya penamaan bulan. Sedangkan, dalam bulan-bulan Hijriyah, tidak hanya penamaan bulan, tetapi terkandung di dalamnya peristiwa yang penting juga perintah-perintah untuk beribadah,” kata Didin Hafidhuddin saat mengisi pengajian guru dan karyawan Sekolah Bosowa Bina Insani (SBBI) di Masjid Al-Ikhlas Bosowa Bina Insani Bogor, Jawa Barat, Jumat (6/10) pagi.

Sebagai contoh, dalam setiap bulan hijriyah, Rasulullah Saw. menganjurkan untuk melaksanakan puasa tiga hari, di pertengahan bulan, tanggal 13, 14, dan 15 yang dinamakan shaum yaumun bidh.

Kiai Didin mengutip Surah al-Baqarah (2) ayat 189, “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji …”

“Dengan demikian, perhitungan bulan ini menunjukkan waktu-waktu tertentu di bulan-bulan hijriyah ini yang terdapat perintah untuk beribadah secara khusus,” kata Direktur Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor itu.

Hari ini, kata mantan ketua Baznas itu, sedang terjadi ghazwul fikri (perang pemikiran) di tengah-tengah kaum Muslimin. “Tanpa disadari, sedikit demi sedikit, kaum Muslimin dijauhkan dari agamanya. Termasuk pengetahuan mereka tentang urgensitas penanggalan hijriyah. Banyak kaum Muslimin yang lebih mengutamakan penanggalan Masehi,” tuturnya.

Didin menjelaskan, dalam sistem penanggalan Islam, momentum hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah yang dijadikan dasar oleh Sahabat Umar ibn Khaththab ra dan juga Utsman ibn Affan ra. untuk menetapkan penanggalan. Hal ini karena: pertama, Islam melarang umatnya untuk mengultuskan individu.

Siapa pun dia, tidak boleh dikultuskan. Termasuk diri pribadi Rasulullah SAW.  “Kita memang diperintahkan untuk mencintainya, mengikuti sunnahnya, tetapi tidak untuk dikultuskan. Maka dari itu, penanggalan hijriah ini tidak diambil dari hari kelahiran atau wafatnya Rasulullah SAW,” ujarnya.

Kedua, hijrah merupakan pergerakan bersama kaum Muslimin, atas perintah Allah. “Hijrah itu, wujud keimanan seseorang. Agar kehidupan kaum Muslimin hidup lebih baik,” tuturnya.

Ketiga, momentum hijrah merupakan wujud bangunan peradaban yang mulia dan sebenarnya. Dalam pada itu, inilah satu-satunya peradaban yang memuliakan wanita, menghilangkan perbudakan, menghargai ilmu, mengajarkan kebaikan, dan sebagainya, mengeluarkan manusia dari kejahiliyahan menuju cahaya yang terang benderang.

“Inilah beberapa alasan yang melatarbelakangi momentum hijrah Rasulullah SAW  dari Makkah ke Madinah dijadikan sebagai dasar penanggalan Islam,” papar Kiai Didin Hafidhuddin.

 

REPUBLIKA

Alquran Sebut Syukur dan Bala’ 75 Kali, Apa Hikmahnya?

Alquran menyebut kata “syukur” sebanyak 75 kali. Alquran pun menyebut kata “bala’” (ujian atau cobaan) 75 kali. Tentunya ini bukan hal kebetulan.

“Alquran menyebut kata ‘syukur’ dan ‘bala’’ masing-masing 75 kali. Tentunya ini ada hikmahnya. Hikmahnya adalah manusia yang pandai bersyukur kepada Allah, hidupnya tercegah dar segala malam bala’ atau musibah dan ujian,” kata Habib Abdurrahman Al-Habsy saat mengisi pengajian guru Sekolah Bosowa Bina Insani di Masjid Al-Ikhlas Bosowa Bina Insani, Bogor, Jawa Barat, Jumat (20/10) pagi.

Sebaliknya, Abdurrahman menambahkan, orang yang hidupnya kurang bersyukur dan pandai mengeluh, maka hidupnya tidak akan bahagia. “Manusia yang tidak pandai bersyukur , hidupnya akan akrab dengan musibah dan bencana,” ujarnya.

Syukur, kata Abdurrahman, merupakan maqam (kedudukan) yang tinggi di sisi Allah. Syukur merupakan tanda pengabdian seorang hamba kepada Allah. Syukur adalah tanda penghubung seorang hamba kepada Tuhannya.

Hal itu dikemukakan dalam salah satu ayat Alquran yang artinya, “Dan bersyukurlah kepada Allah, jika hanya kepada Allah kamu menyembah.” (QS Al-Baqarah: 72)

Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW menegaskan, “Manfaatkanlah yang lima sebelum datang lima perkara yang lain: mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu senggangmu sebelum kesibukanmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR Baihaki).

“Kalau kita cermati, hadits Rasulullah SAW mengajari kita untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Pemanfaatan waktu dengan sebaik mungkin itu merupakan maifestasi dari rasa syukur kepada Allah,” kata Abdurrahman.

Ia juga mengutip Surat Ibrahim ayat 7 yang artinya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

“Redaksi ayat ini bersifat umum dan berlaku bagi siapa saja. Intinya adalah siapa pun yang pandai bersyukur kepada Tuhan, apa pun latar belakang agama dan kepercayaannya, Allah tambahkan nikmatnya di dunia,” tuturnya.

Karena itu, kata Habiburrahman, setiap Muslim harus selalu memelihara energi syukur dalam hidupnya. “Hendaklah sebagai Muslim kita selalu bersyukur ‘ala kulli hal (dalam setiap keadaan). Energi syukur perlu terus kita jaga, bahkan tingkatkan. Itulah jalan hidup bahagia di dunia maupun akhirat,” papar Habib Abdurrahman Al-Habsy.

 

REPUBLIKA

 

—————————————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Rebana, Sarana Syiar Islam

Agama Islam masuk ke Indonesia dengan wajah bersahabat dan ramah sehingga ajarannya dapat diterima oleh masyarakat lokal Indonesia. Kesuksesan penyebaran ajaran agama Islam tak terlepas dari peran para ulama yang menggunakan kesenian sebagai media dakwah.

Di dalam kesenian tersebut banyak terdapat alat-alat musik bernuansa Islam, salah satunya, yaitu rebana. Alat perkusi inilah yang akan digali lebih dalam dalam tulisan ini. Rebana atau yang dikenal juga dengan tamborin ini merupakan alat musik yang sudah tidak asing lagi di Indonesia, khususnya bagi masyarakat yang beragama Islam.

Menurut Ensiklopedi Islam Jilid 3, secara bahasa, rebana berasal dari kata Arab, yaitu rabbana yang berarti “Tuhan kami.” Pengertian tersebut menunjukkan bahwa alat ini biasa digunakan untuk menyerukan nama Allah SWT dalam bentuk doa-doa dan pujian yang dilantunkan. Tidak hanya itu, rebana juga juga digunakan untuk menyerukan nama Rasulullah SAW.

Secara istilah, rebana adalah sejenis alat kesenian tradisional yang terbuat dari kayu, dibuat dalam bentuk lingkaran dan di tengah-tengahnya dilubangi. Kemudian di tempat yang dilubangi itu ditempeli kulit binatang, biasanya kulit kambing yang telah dibersihkan bulu-bulunya.

Biasanya rebana sering digunakan dalam kegiatan-kegiatan yang bernapaskan Islam dan banyak dipengaruhi oleh budaya Timur Tengah. Selain itu, rebana juga mempunyai sebutan berbeda-beda di setiap negara. Seperti di Mesir, Irak, Suriah, dan di negara-negara Arab lainnya, rebana disebut dengan riq. Di Rusia, Ukrania, Slovia, Cekoslovakia dan Polandia alat musik perkusi ini disebut dengan istilah buben.

Di Balkan, Persia, dan di negara-negara Asia Tengah rebana juga disebut dengan dajre. Kemudian, masyarakat India Selatan menyebut rebana dengan sebutan kanjira. Tetapi, walaupun berbeda-beda, semua istilah tersebut sama-sama diterima sebagai instrumen perkusi, yang memiliki fungsi utama menjaga ritme dalam suatu karya musik.

Pukulan tangan pada alat musik rebana akan dapat menimbulkan bunyi yang enak didengar. Alat musik ini digunakan dengan cara memukul tubuh kulitnya atau mengguncangkan lempengan-lempengan logamnya atau memukul bagian dari tubuh kulitnya sambil mengguncangkan untuk mendapatkan keduanya secara simultan.

Namun, perlu ditegaskan kembali bahwa untuk menggunakan alat ini barangkali harus sesuai dengan fungsi pertama kalinya, yaitu sebagai instrumen dalam menyanyikan lagu-lagu keagamaan berupa pujian terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya, shalawat, syair-syair Arab, dan lain-lain.

 

REPUBLIKA

Dicabutnya Anugerah Allah kepada si Ahli Ibadah

DAHULU di kalangan Bani Israil, ada seorang fasik yang gemar berbuat berbagai dosa, keji, dan kemungkaran. Setelah menghabiskan sebagian umurnya berbuat keburukan, munculah penyesalan dalam hatinya. Dia mulai berpikir untuk bertobat.

Lalu dia mendengar ada seorang zuhud dan ahli ibadah di kalangan Bani Israil. Bahkan berkat kezuhudannya, Allah memerintahkan awan untuk senantiasa mengikuti dan menaunginya dari teriknya matahari. Ahli ibadah ini juga termasuk yang doanya dikabulkan.

Akhirnya si fasik yang ingin bertobat itu memutuskan bertemu dengan orang zuhud untuk meminta didoakan agar dosanya diampuni.

Ketika berhasil menemukan tempat peristirahatan orang zuhud, si fasik melihatnya sedang bersandar pada sebuah dinding. Seperti biasa, dia dinaungi awan dari sengatan matahari.

Ketika si ahli ibadah melihat orang fasik mendatanginya, ia langsung beranjak dan menjauh. Bahkan semakin dekat orang fasik, semakin kasar dan buruk celaan ahli ibadah untuk mengusirnya.

Orang fasik yang ingin bertobat itupun pulang dengan hati yang hancur, tak berdaya. Tangisannya mengalir deras. Bersamaan dengan itu, awan yang menaungi si ahli ibadahpun hilang dan malah menaungi oranf fasik yang menyesali dosanya.

Kemudian Allah SWT berfirman pada nabi di zaman itu, “Sesungguhnya Allah lebih menyayangi dan mengasihi hamba-Nya melebihi diri mereka sendiri.”

Demikianlah Allah mencabut anugerah dari seorang ahli ibadah yang zuhud. Derajat dan kedudukannya sirna ketika ia berperilaku buruk bahkan pada orang fasik sekalipun. Kedekatan seorang manusia dengan Yang Maha Esa harusnya dibarengi kedekatan dengan makhluk ciptaan-Nya. Karena cinta tak melahirkan apapun selain cinta.[Islamindonesia]

 

INILAH MOZAIK

Perempuan Inggris Pertama yang Pergi Haji

Pada musim haji tahun 1933 silam, menyimpan cerita tersendiri bagi masyarakat Kota Suffolk, Inggris, khususnya umat Islam. Sebab, pada tahun itu, salah seorang penduduknya pergi ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Hebatnya lagi, ia adalah seorang perempuan. Namanya adalah Lady Evelyn Zainab Murray Cobbold. Konon, dialah Muslimah pertama asal Inggris yang menunaikan ibadah haji.

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya memeluk kepercayaan Anglikan, berita kepergian Evelyn Cobbold ke Makkah itu membuat kaget masyarakat Inggris, terutama penduduk Kota Suffolk. Mengingat Evelyn Cobbold berasal dari keluarga bangsawan Suffolk yang paling berpengaruh. Kabar tersebut langsung menghiasi pemberitaan media-media di Inggris saat itu. Sejumlah media bahkan menempatkannya sebagai headline di halaman depan.

Ia berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji pada April 1933. Saat menunaikan haji, usianya terbilang lanjut, 65 tahun. Lady Evelyn mengakui, ibadah haji memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupannya. Ia pun merasa takjub dengan ritual ibadah rukun Islam ini.

“Bayangkan! Seseorang menceburkan diri ke dalam kelompok manusia yang begitu besar dengan jumlahnya mencapai jutaan orang, dan datang dari segenap penjuru dunia untuk melakukan ibadah suci di tempat yang suci. Mereka menceburkan diri ke dalam kelompok manusia, lalu dengan segala kerendahan hati, khusyuk, dan tunduk bersama-sama memuji, membesarkan, dan menyucikan Allah,” ujarnya.

Mengunjungi negeri tempat awal munculnya agama Islam dan menyaksikan tempat-tempat bersejarah dalam perjuangan Rasulullah SAW, menjadi pengalaman yang hebat sepanjang hidupnya.

“Dari pengalaman ini, saya terdorong untuk mencontoh kehidupan Rasulullah,” paparnya.

Ia juga melihat ibadah haji sebagai sarana untuk memperkokoh rasa persaudaraan di kalangan kaum Muslimin di seluruh dunia. Perbedaan warna kulit dan jarak antara satu dan yang lain tidak menjadi penghalang. Segala perbedaan kesukuan dan mazhab dikesampingkan pada saat itu.

“Kesatuan akidah umat Islam telah menjadi persaudaraan yang kokoh kuat, persaudaraan yang telah memberikan inspirasi kepada mereka untuk dapat mewarisi kebesaran nenek moyang mereka,” katanya.

Pengalamannya selama menunaikan haji ini, kemudian ia tuangkan dalam sebuah buku berjudul Pilgrimage to Mecca. Buku ini dirilis pertama kali pada 1934. Seiring perjalanan waktu dan usia yang cukup lanjut, perempuan bangsawan kerajaan Inggris ini akhirnya wafat pada Januari 1963.

 

REPUBLIKA

Terlanjur Pamer Aurat di Sosial Media

ALLAH Ta’ala tidak membebani manusia di atas kemampuannya, dan memberikan ganjaran terbaik mereka yang bersegera dalam seluruh urusan ketaatan dan kebaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Abu Hurairah berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apa yang aku larang hendaklah kalian menjauhinya, dan apa yang aku perintahkan maka lakukanlah semampu kalian. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian adalah karena mereka banyak bertanya dan karena penentangan mereka terhadap para nabi mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Setiap manusia banyak berbuat salah (dosa). Dan sebaik-baik dari orang-orang banyak berbuat salah (dosa) adalah orang-orang yang banyak bertobat.” (HR Tirmidzi, no. 2499 dari sahabat Anas bin Malik).

“Orang yang telah bertobat dari dosa-dosanya (dengan sungguh-sungguh) adalah seperti orang yang tidak punya dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 4250)

Berkata Fudhail bin ‘Iyadh,

“Engkau berbuat kebaikan (amal saleh) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (dosa-dosamu) di masa lalu, karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan di siksa (pada hari kiamat) karena (dosa-dosamu) di masa lalu dan (dosa-dosamu) pada sisa umurmu.”

Maka, terhadap foto-foto yang telah lalu, jika masih ada dijumpai lakukanlah semampu kita dengan hal berikut:

1. Meminta kepada sahabat yang memposting foto untuk menghapusnya, jika tidak mau melakukannya, un-friend adalah salah satu opsi agar ia tidak tampil dalam wall kita, dan un-friend bukan bermaksud memutuskan silaturrahim, ia hanya sekedar sarana agar foto tidak tampil.

2. Melakukan un-tag terhadap foto-foto yang terkait dengan diri kita dengan posisi tidak syar’i.

Semoga Allah Ta’ala memberikan keistiqamahan atas hijrah yang telah dilakukan. Yassirlana. [Ustadz DR. Wido Supraha]

INILAH MOZAIK

Mengapa Nabi SAW Lahir di Arab?

Kita memang perlu menelisik hikmah ilahiah di balik pemilihan Semenanjung Arab, bukan bagian dunia yang lain, sebagai tempat diangkatnya Muhammad Saw. sebagai nabi dan rasul. Kemudian, menggali hikmah di balik terpilihnya masyarakat Arab sebagai bangsa pertama yang diserahi tanggungjawab untuk memikul dakwah Islam.

Untuk itu, pertama, kita harus mengenal karakter dan ciri khas bangsa Arab sebelum kelahiran Islam. Selain itu, kita harus mengetahui gambaran geografis kawasan yang mereka diami, termasuk posisinya di antara beberapa daerah yang mengelilinginya. Bahkan, kita harus memiliki gambaran tentang berbagai bangsa lain yang ada pada saat itu, seperti Persia, Romawi, Yunani, dan India termasuk termasuk tradisi yang berkembang, kebiasaan, dan ciri khas peradaban masing-masing.

Saat itu, di dunia terdapat dua bangsa besar yang menjadi pusat peradaban dunia, yaitu Persia dan Romawi. Selain itu, ada pula Yunani dan india.

Kala itu, Persia menjadi tempat pertarungan berbagai pandangan agama dan filsafat. Di wilayah ini terdapat aliran Zoroaster yang dianut para penguasa. Salah satu ajarannya adalah menganjurkan setiap laki-laki untuk menikahi ibu, anak perempuan, atau saudara perempuannya. Bahkan, Raja Yazdajird II yang berkuasa pada pertengahan abad kelima Masehi menikahi putri kandungnya sendiri. Ajaran aneh ini hanya salah satu dari sekian banyak ajaran agama Zoroaster yang benar-benar menyimpang dari akal sehat. Akan tetapi, tentu bukan di sini tempatnya untuk membeberkan semua itu.

Selain itu, di Persia juga terdapat kepercayaan Mazdakiah. Menurut imam Al-Syahristani, agama ini setali tiga uang dengan Zoroaster; sama-sama aneh. Salah satu ajarannya adalah menghalalkan semua wanita dan harta yang ada di dunia ini. Dalam pandangan mereka, manusia adalah milik bersama, sebagaimana air, api, dan harta. Agama sesat ini mendapatkan banyak pengikut dari kalangan sesat yang gemar menuruti dan mengumbar hawa nafsu.

Sementara itu, imperialisme Romawi mencengkeram kuat. Kerajaan besar ini terlibat konflik berkepanjangan dengan kaum Nasrani Syria dan Mesir. Berbekal kekuatan militer yang mereka miliki, Romawi mengobarkan semangat imperialisme ke penjuru dunia, Salah satu misinya adalah menyebarkan ajaran Kristen yang telah dimodifikasi sesuai keinginan mereka.

Sebagaimana Persia, Romawi juga pernah “sakit keras”. Pada saat itu, hampir seluruh wilayah Romawi dilanda kesulitan. Ketimpangan ekonomi muncul dalam bentuk penindasan dan pajak yang mencekik kebanyakan rakyat.

Adapun Yunani kala itu masih tenggelam dalam kubangan takhayul dan mitologi teologis yang menjebak penduduknya dalam debat kusir yang tidak bemanfaat.

Sementara itu, tentang India dinyatakan Prof. Abu Hasan Al-Nadwi sebagai berikut. Semua penulis sejarah India sepakat menyatakan, sejak paruh awal abad itulah, akhirnya mereka banyak yang tersesat. Mereka tega membunuh anak-anak perempuan dengan dalih menjaga kehormatan. Mereka rela mengeluarkan harta secara berlebihan demi mengejar kemuliaan. Mereka juga tak segan untuk saling membunuh satu sama lain demi menjaga harga diri.

Kondisi seperti inilah yang digambarkan Allah Swt. dalam firmanNya, “… dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat,” (QS Al-Baqarah [2]: 198).

Ayat ini lebih merupakan petunjuk bahwa kesesatan bangsa Arab rupanya lebih dapat “dimaafkan” dibandingkan bangsa lain kala itu, bukan untuk menunjukkan kebodohan atau penghinaan terhadap mereka. Alasannya, bangsa lain tenggelam dalam kemerosotan moral, padahal mereka di tengah obor peradaban dan tamadun yang terang-benderang. Kelebihan yang mereka miliki justru memerosokkan mereka ke dalam jurang kerusakan.

Sementara itu, secara geografis, Semenanjung Arab terletak tepat di antara semua bangsa yang tengah bergejolak.

Prof. Muhammad Al-Mubarak menyatakan, siapa pun yang melihat Semenanjung Arab pasti akan melihat bahwa wilayah ini memang terletak tepat di tengah-tengah dua peradaban besar: peradaban Barat materialis yang menciptakan potret manusia dalam bentuk yang sama sekali tidak sesuai dengan kebenaran dan peradaban spiritual-khayali yang berpusat di Timur, seperti India dan Cina.

***

Melalui gambaran kondisi bangsa Arab dan bangsa lain di sekitarnya sebelum Islam, kita dapat dengan mudah mengungkap hikmah ilahiah yang tersembunyi di balik ketetapan Allah Swt. memilih Semenanjung Arab, bukan wilayah yang lain, sebagai tempat kelahiran Rasulullah Saw. sekaligus pengangkatan beliau sebagai utusan-Nya. Allah SWT. menjadikan bangsa Arab sebagai bangsa pertama yang menerima dakwah agung ini. Dari kalangan merekalah yang pertama dititahkan Allah untuk menebarkan dakwah islam ke seluruh penjuru bumi agar semua manusia menyembah Allah SWT.

Banyak orang berpendapat, pemeluk agama sesat dan pemuja peradaban yang rusak akan sulit diobati sebab mereka memandang baik kerusakan yang menjangkiti diri mereka, bahkan membanggakannya. Adapun mereka yang berada dalam fase pencarian akan lebih mudah menerima kebodohan karena tidak akan membanggakan tamadun atau peradaban yang mereka sendiri belum mencapainya. Kelompok yang kedua ini tentu lebih mudah untuk diobati dan diarahkan. lni tentu bukan hikmah ilahiah yang kita maksud karena analisis seperti ini hanya pantas dilakukan oleh mereka yang mempunyai kemampuan terbatas dan jengah bersusah-payah.

Kalau saja Allah SWT. berkehendak menjadikan Islam lahir di tempat lain, seperti Persia, Romawi, atau India, pastilah Dia menyiapkan segala sesuatu yang mendukung keberhasilan dakwah di sana, sebagaimana yang Dia siapkan di Semenanjung Arab. Demikian itu tidaklah sulit bagi Allah SWT karena Dialah Zat Yang Maha Menciptakan segala sesuatu.

Hikmah terpilihnya Semenanjung Arab ini senada dengan hikmah terpilihnya Rasulullah yang ummi alias tidak dapat membaca dan menulis. Bagi Allah, demikian itu bisa jadi agar manusia tidak meragukan misi kenabian yang diemban Muhammad SAW. Selain itu, Allah SWT. mengunci mati semua pintu keraguan terhadap keabsahan dakwah Rasulullah SAW.

Hal lain yang turut menyempurnakan hikmah ilahiah yang sedang kita bicarakan ini ialah, lingkungan tempat tinggal rasul yang buta huruf itu memang seharusnya lingkungan yang juga ”buta huruf”, berbeda dengan semua bangsa yang ada di sekitarnya. Maksudnya, bangsa Arab kala itu adalah bangsa yang belum ”terkontaminasi” peradaban yang ada di sekelilingnya. Pikiran mereka belum dicemari berbagai macam filsafat yang tidak jelas ujung-pangkalnya.

Hikmah ilahiah lainnya adalah menyingkirkan keraguan dari dada semua manusia. Tidaklah mudah untuk dipercaya, andaikata nabi yang diutus Allah SWT. dari kalangan terpelajar yang menguasai kitab-kitab kuno, sejarah bangsa-bangsa purba, dan peradaban di sekitarnya. Di samping itu, Allah SWT. juga ingin menyingkirkan keraguan manusia, seandainya dakwah islam lahir di tengah bangsa ‘ berperadaban tinggi dan memiiiki pemikiran filsafat yang sudah terbangun, semisal Persia, Yunani, atau Romawi. Jika itu terjadi, pasti akan muncul banyak ”setan” yang menyangkal kenabian Muhammad Saw. Mereka akan menuduhnya sebagai upaya eksperimental-kebudayaan atau sebagai salah satu pemikiran lilsafat belaka.

Berkenaan dengan hikmah Ilahiah ini, Al-Qur’an secara gamblang menyatakan, ”Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (AI-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” (QS Al-Jumu’ah [62]: 2).

Memang sudah kehendak Allah untuk memilih utusan yang buta huruf. Adalah kehendak-Nya memilih tempat kelahiran rasul pilihan-Nya di tengah bangsa yang sebagian besar masyarakatnya buta huruf. Tujuannya agar mukjizat kenabian dan syariat islam dapat menyala terang di dalam dada setiap insan, tanpa harus dikotori berbagai paham dan ajaran karsa kreatif manusia. Hal ini menunjukkan, betapa besar rahmat Allah SWT.  bagi hamba-hamba-Nya. Wallahua’ lam. [Paramuda/BersamaDakwah]

BERSAMA DAKWAH

Sholawat Nabi; Keutamaan, Bacaan dan Artinya

Sholawat Nabi merupakan salah satu amal yang harus dilakukan oleh setiap umat Islam. Sebagai bentuk ibadah kepada Allah sekaligus sebagai bukti kecintaan kita kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Keutamaan sholawat Nabi sungguh luar biasa. Melalui artikel ini, kita berusaha menyajikannya disertai contoh-contoh bacaan sholawat Nabi untuk diamalkan sehari-hari.

Pengertian Sholawat

Sholawat secara bahasa merupakan bentuk jamak dari sholla yang artinya doa. Secara istilah, sholawat merupakan doa dan pujian untuk Nabi.

Sholawat ada tiga macam. Pertama, sholawat dari Allah. Kedua, sholawat dari malaikat. Ketiga, sholawat dari manusia atau umatnya.

Menurut Ibnu Katsir, sholawat dari Allah artinya adalah pemberian rahmat dan kemuliaan. Jika dari malaikat, artinya adalah memohonkan ampunan. Dan jika dari umatnya artinya adalah doa agar beliau dilimpahi rahmat dan kemuliaan.

Imam Nawawi menjelaskan bahwa sholawat dari Allah berarti menambah kemuliaan. Ada pula ulama yang menjelaskan bahwa Allah bersholawat kepada Nabi Muhammad artinya Allah memujinya di hadapan malaikat-malaikat-Nya.

Keutamaan Sholawat Nabi

Membaca sholawat Nabi memiliki banyak keutamaan. Di antaranya:

1. Allah memerintahkan hambaNya untuk bersholawat

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hambaNya untuk bersholawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzaab: 56)

2. Allah bersholawat untuk Nabi Muhammad

Berbeda dengan perintah lainnya yang Allah memerintahkan saja, sholawat ini luar biasa. Dia memerintahkan sekaligus melakukannya juga. Sebagaimana surat Al Ahzab ayat 56 di atas.

Dan seperti penjelasan sebelumnya, Allah bersholawat untuk Nabi Muhammad maknanya Dia memuliakannya di depan para malaikat dan memberinya rahmat.

3. Malaikat bersholawat untuk Nabi Muhammad

Sebagaimana ayat 56 dari Surat Al Ahzab di atas, para malaikat juga bersholawat untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang artinya, malaikat memohonkan ampunan untuk beliau.

4. Siapa bersholawat satu kali, Allah membalasnya 10 kali

Di antara keutamaan sholawat, siapa yang bersholawat kepada Nabi Muhammad sekali, Allah bersholawat kepadanya 10 kali.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Barangsiapa bersholawat kepadaku satu kali, niscaya Allah bersholawat kepadanya sepuluh kali” (HR. Muslim)

Sholawat dari Allah ini artinya adalah pemberian kebaikan. Sebagaimana hadits lain:

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ مَرَّةً وَاحِدَةً كَتَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بِهَا عَشْرَ حَسَنَاتٍ

“Barangsiapa bersholawat kepadaku satu kali, niscaya Allah Azza wa Jalla mencatat untuknya sepuluh kebaikan” (HR. Ahmad)

5. Bersholawat satu kali, dihapus 10 dosa

Keutamaan lainnya yang sangat luar biasa, siapa yang bersholawat satu kali, Allah akan menghapus sepuluh dosanya.

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحَطَّ عَنْهُ عَشْرَ خَطِيئَاتٍ

“Barangsiapa bersholawat kepadaku satu kali, niscaya Allah bersholawat kepadanya sepuluh sholawat dan menghapus darinya sepuluh dosa” (HR. Ahmad)

6. Bersholawat satu kali, diangkat 10 derajat

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ

“Barangsiapa bersholawat kepadaku satu kali, niscaya Allah bersholawat kepadanya sepuluh sholawat, menghapus darinya sepuluh dosa dan mengangkat derajatnya sepuluh derajat.” (HR. An Nasa’i)

7. Mendapat syafaat Rasulullah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan memberikan syafa’at kepada umatnya di akhirat nanti. Siapakah yang paling berhak dengan syafaa itu? Yang paling berhak adalah yang paling banyak bersholawat kepada beliau.

أَوْلَى النَّاسِ بِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً

“Orang yang paling berhak mendapatkan syafa’atku di hari kiamat adalah orang yang paling banyak bersholawat kepadaku” (HR. Tirmidzi)

8. Menjadi orang paling dekat dengan Nabi

Orang yang memperbanyak sholawat juga akan semakin dekat kedudukannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً

“Perbanyaklah bersholawat kepadaku pada hari Jumat, karena sesungguhnya sholawat umatku diperlihatkan kepadaku pada setiap hari Jumat. Siapa saja yang paling banyak sholawatnya, maka ia menjadi orang yang paling dekat kedudukanya dariku” (HR. Baihaqi)

9. Memudahkan terkabulnya doa

Doa memiliki syarat dan adab agar dikabulkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara adab berdoa agar lebih dikabulkan Allah adalah bersholawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi waallam.

كل دعاء محجوب حتى يصلي على محمد

“Setiap doa akan terhalang hingga diucapkan sholawat kepada Muhammad” (HR. Thabrani)

10. Dimasukkan ke dalam surga

Orang yang banyak membaca sholawat akan dimudahkan untuk masuk surga. Sebaliknya, orang yang disebut nama Nabi Muhammad namun tidak bersholawat kepada beliau, orang itu akan disimpangkan dari jalan surga.

مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَخَطِئَ الصَّلاةَ عَلَيَّ ، خَطِئَ طَرِيقَ الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang aku disebutkan di sisinya lalu ia tidak mengucapkan sholawat kepadaku, maka ia akan disimpangkan dari jalan surga” (HR. Thabrani)

 

Hakikat Sholawat

Di antara misionaris ada yang berupaya untuk menyebarkan syubhat terkait sholawat. Mereka mengatakan kepada umat Islam terutama yang masih awam, “Kalian bersholawat meminta agar Nabi Muhammad mendapat keselamatan, berarti belum ada jaminan keselamatan. Jika Nabi saja belum ada jaminan keselamatan, bagaimana mungkin bisa memberikan jaminan keselamatan kepada kalian?”

Hal seperti itu adalah syubhat yang mereka lontarkan. Agar umat Islam yang masih awam menjadi ragu-ragu dengan agamanya.

Mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa hakikat sholawat bukanlah karena Nabi Muhammad belum mendapat jaminan keselamatan lantas didoakan agar selamat. Namun seperti telah dijelaskan di atas, sholawat itu adalah doa agar beliau dilimpahi rahmat dan kemuliaan. Beliau pasti mendapat keselamatan. Beliau pasti mendapat rahmat. Beliau pasti mendapat kemuliaan. Sebab beliau adalah hamba Allah yang paling dicintai-Nya.

Namun, kitalah umat yang membutuhkan keselamatan dan rahmat sehingga dengan bersholawat kepada beliau, kita dibalas Allah dengan sholawat dalam arti diselamatkan, diampuni dosa kita dan diangkat derajat kita.

Ibaratnya, kemuliaan Rasulullah adalah sebuah wadah yang telah penuh sempurna. Ketika kita bersholawat, kita menuangkan air ke wadah tersebut dan jatuhnya kepada kita. Kita bersholawat kepada beliau, kebaikan dan hasilnya kembali kepada kita.

Bacaan Sholawat Nabi

Bacaan sholawat Nabi banyak macamnya. Ada yang pendek, ada yang panjang. Jadi tidak harus kita membaca sholawat yang panjang-panjang, khususnya jika kita orang awam yang memiliki banyak kesibukan. Bacaan sholawat yang pendek pun bisa kita amalkan.

Berikut ini adalah contoh-contoh bacaan sholawat:

1. Sholawat ketika mendengar nama Nabi Muhammad disebut

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Semoga shalawat dan salam dari Allah atasnya (Rasulullah)”

2. Sholawat paling ringkas

صَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Semoga shalawat dari Allah atas (Nabi) Muhammad”

3. Sholawat ringkas untuk beliau dan keluarganya

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ

“Ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad”

4. Sholawat tasyahud

Sholawat ini diajarkan Rasulullah sendiri dan diriwayatkan Imam Bukhari. Sholawat ini juga menjadi sholawat saat tasyahud dalam sholat.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia

Masih banyak bacaan sholawat lain, baik dalam hadits maupun yang disusun oleh para ulama. Semoga kita semua dimudahkan Allah untuk membiasakan bersholawat dan kelak mendapat syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

 

BERSAMA DAKWAH

 

 

—————————————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!