Keutamaan Memakmurkan Masjid

Seorang orientalis barat pernah berkata: “Umat Islam akan senantiasa jaya bila mereka selalu berpegang teguh dengan Al-Quran dan memakmurkan masjid”. Ucapan populernya ini tentunya tidak muncul dari hayalan semata, namun ia adalah satu kesimpulan akhir dari penelitian dan pengkajian sejarah Islam yang ia tekuni dengan misi membantah dan meruntuhkan ajaran aqidah dan syariat Islam. Meskipun kita tidak menjadikan ucapannya sebagai dalil, bahkan kita menganggap dirinya sebagai musuh Islam, namun kita mesti membenarkan kesimpulan ini sebab faktanya peradaban Islam tidaklah jaya dan memancarkan cahaya hidayah melainkan berawal dari masjid yang merupakan pusat aktifitas keislaman.

Masjidlah yang menjadi parameter kejayaan umat ini selama berabad-abad, sebab ia adalah lambang keislaman dan syiar keimanan yang menjadi kekuatan umat Islam. Namun nampaknya, sekarang ini betapa banyak masjid yang berdiri gagah tak ubahnya istana-istana megah namun hanya sekedar menjadi bangunan bisu yang terabaikan, atau bangunan kosong yang sangat sedikit dari kalangan umat Islam yang mau mengunjungi dan memakmurkannya minimal lima kali sehari semalam. Bila shalat berjamaah di masjid saja sangat berat dilakukan maka apatah lagi bila harus menjadikannya sebagai pusat peradaban dan aktifitas keislaman, tentu akan lebih berat lagi. Sebab itu, solusi utama untuk mengembalikan masjid sesuai misi dan fungsi utamanya adalah memakmurkannya dengan berbagai jenis ibadah dan aktifitas keislaman, pendidikan dan sosial. Hal ini bisa dipahami secara tersirat dari firman Allah tentang memakmurkan masjid yang Dia selipkan dalam ayat-ayat yang memotivasi perjuangan Islam, sebagaimana dalam Surat At-Taubah ayat 18: “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”.  

Ayat ini sekaligus mengisyaratkan pada kita semua bahwa orang yang benar-benar memakmurkan masjid Allah secara ikhlas, bukan karena agar dipuji dan mengharapkan ganjaran dunia semata: memiliki empat kriteria:

  1. Beriman kepada Allah dan hari kiamat.
  2. Mendirikan shalat karena ia merupakan rukun terpenting dalam Islam setelah dua kalimat syahadat.
  3. Menunaikan zakat bagi yang mampu, ini juga merupakan salah satu rukun Islam.
  4. Merasa takut atau khasy-yah kepada Allah, beribadah dengan penuh keikhlasan, rasa takut dan harapan akan ampunan-Nya.

Sebagian muslim menganggap bahwa cara memakmurkan masjid hanyalah sekedar mendatangi dan meramaikannya pada waktu-waktu shalat lima waktu dan shalat jumat saja, padahal memakmurkan masjid dan menjadikannya sebagai pusat dan sumber peradaban Islam tidak hanya sekedar dengan meramaikannya dalam waktu-waktu shalat, tetapi bisa diwujudkan dengan berbagai aktifitas keIslaman lainnya diantaranya:

1.Membangun masjid dan menjaga keindahan dan kebersihannya.

Membangun masjid merupakan amalan yang sangat utama dalam Islam karena memberikan manfaat dan bantuan yang besar terhadap umat Islam dalam menjalankan ibadah dan aktifitas keIslaman mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membangun sebuah masjid karena Allah, niscaya Allah akan membangunkan baginya rumah di surga”. (HR Muslim: 24).

2. Mendatanginya untuk shalat lima waktu berjamaah.

Shalat lima waktu berjamaah ini merupakan salah satu kewajiban muslim yang mesti ditunaikannya dalam sehari semalam sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang mengancam orang yang tidak shalat berjamaah di masjid untuk membakar rumah-rumah mereka: ”Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, ingin kiranya aku memerintahkan orang-orang untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan mereka untuk menegakkan shalat yang telah dikumandangkan adzannya, lalu aku memerintahkan salah seorang untuk menjadi imam, lalu aku menuju orang-orang yang tidak mengikuti shalat jama’ah, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka” (HR Bukhari: 7224)

3. Menjadikannya sebagai tempat zikir, baca Al-Quran dan bermunajat kepada Allah Ta’ala.

Seorang muslim hendaknya menjadikan masjid sebagai tempat membaca dan mentadabburi Al-Quran baik secara sendiri-sendiri ataupun berjamaah, juga sebagai tempat melakukan zikir-zikir yang dianjurkan seperti zikir pagi petang, zikir biasa (muthlaq), atau zikir setelah shalat, serta menjadikannya sebagai tempat bermunajat dan banyak berdoa kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah memuji mereka yang menjadikan rumah-rumah-Nya sebagai tempat ibadah sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya: “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan petan: laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, dan dari membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. Mereka mengerjakan yang demikian itu supaya Allah memberi balasan kepada mereka dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunian-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas“. (QS An-Nur: 36-38).

4. Membentuk halaqah belajar baca Al-Quran atau halaqah tahfidzh (hafalan Al-Quran).

Tentunya dengan adanya halaqah ini, masjid akan sangat berguna bagi masyarakat Islam karena darinya akan lahir pemuda-pemudi muslim yang bisa fasih membaca Al-Quran atau menghafalkannya, serta bisa mengamalkan kandungannya dalam keseharian mereka.

5. Membentuk majelis pembinaan (tarbiyah) atau kajian-kajian keislaman.

Dengan adanya majelis pembinaan atau kajian Islam di masjid, maka umat Islam pun akan tercerahkan dengan berbagai ilmu keislaman yang bisa menguatkan iman, memperbaiki akhlak dan menambah taqwa mereka kepada Allah Ta’ala. Kajian masjid inilah yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya zaman dahulu, mereka menjadikan masjid sebagai pusat ilmu dan kajian keIslaman, sebagaimana yang banyak dikisahkan dalam sejarah perjalanan hidup beliau.

6. Menjadikan masjid sebagai tempat musyawarah.

Sejarah Islam mencatat bahwa kebanyakan musyawarah Nabi dan para sahabatnya adalah di masjid, sehingga ini merupakan sunnah beliau yang mesti dijaga.

Tentunya, setiap muslim sangat diharuskan untuk memakmurkan masjid sesuai kemampuannya, baik dengan bentuk materi maupun non materi sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Oleh karena itu, marilah kita berusaha untuk memakmurkan masjid-masjid Allah sesuai kesanggupan kita semua, sebab keimanan yang sempurna itu hanya ada pada diri orang-orang yang memakmurkan masjid-Nya, dan merekalah yang mendapat petunjuk dan akan meraih surga-Nya kelak. Dengan kembalinya misi masjid seperti dahulu kala lewat proses memakmurkannya dengan berbagai kegiatan atau aktifitas keIslaman, sosial, dan pendidikan, maka umat Islam akan menjadi kuat dari segi iman dan ilmu, meraih kejayaan peradaban, serta akan ditakuti oleh musuh-musuh mereka. Wallaahu a’lam.[]

Oleh Ustadz Maulana La Eda, Lc., MA.

Sumber dari: https://wahdah.or.id/keutamaan-memakmurkan-masjid/

Mengapa Rasulullah Singgah di Rumah Abu Ayyub al-Anshari?

Ketika tiba di Madinah, pembesar-pembesar Anshar berebut mendekati unta Nabi Muhammad, memegangi kendalinya, berdesak mengitarinya, dan saling menariknya. Masing-masing ingin Nabi tinggal bersamanya dan memberi layanan terbaiknya. Rumah-rumah mereka dipamerkan kelayakannya untuk beliau, status sosial mereka pun ditunjukkan.

Semua berharap Nabi menyambut tawaran jamuan mereka.

Di tengah kerumunan pembesar itu terdapat pula paman-paman beliau dari jalur ibu, dari Bani Najjar. Dan, tentu saja, mereka inilah orang teragung bagi Kanjeng Nabi. Tetapi, beliau adalah pemimpin agung yang bijak dan genius. Pria yang ingin diterima semua kalangan, membuka hati untuk semua orang, tak ingin menyulitkan siapa melukai perasaan.

Pada detik-detik yang dikenang dalam sejarah itu, dunia menyaksıkan Kanjeng Nabis bersabda, “Biarkan untaku berjalan, biarkan ia yang memilih. Unta ini ada yang menuntun. Dan, aku akan tinggal di mana aku ditempatkan Allah nanti.”

Semua takjub, semua terkesima. Tak ada hati yang tersinggung, tak ada pembesar yang merasa kalah saing, tak ada yang harus diperselisihkan. Semua puas menerima ucapan Kanjeng Nabi tersebut.

Unta itu melangkah pelan di ruas-ruas jalanan Madinah diikuti tatapan beratus mata manusia. Jalanan yang sama sekali asing baginya. Suasana demikian agung dan sakral. Sampai di suatu tempat unta berhenti, menatap ke sekeliling, seolah mencermati tempat itu, kemudian menderum tepat di depan rumah Abu Ayyub al-Anshari

Tak pernah terlintas di hati Abu Ayybu al-Anshari waktu di hadapan Nabi rumahnya akan mendapat kehormatan di luar dugan.

Di tengah para pemuka Quraisy yang bersaing ketat memperebutkan kehormatan itu, ia sadar dirinya bukan siapa-siapa. Tak berani ia berdiri se barisan dengan mereka. Maka, bukan kepalang bahagianya, ketika tanpa diduga kehormatan itu ternyata untuknya. Apa gerangan anugerah langit, embusan kudus, dan kebaikan Allah yang turun serta merta ini?

Maka, sebelum kesempatan tercabut, cepat-cepat Abu Ayyub menyambut Nabi dan sahabatnya lalu membawa mereka masuk. Sementara, bagi istri Abu Ayyub, Yatsrib terlalu sempit untuk merangkum kebahagiaan yang menyeruak di hatinya. Tak pernah ia bermimpi anugerah agung ini turun ke rumahnya, mengalahkan rumah-rumah lain di seluruh Madinah.

Sebelum masuk, Nabi dikepung gadis-gadis cilik Bani Najar, yang tak lain adalah kerabat-kerabat dekat beliau. Mereka bersenandung merayakan kedatangan beliau, menabuh rebana dengan riang. Kanjeng Nabi tampak bahagia dengan sambutan ini. Beliau menebar senyum kepada gadis-gadis cilik itu.

“Apakah kalian menyukaiku?” tanya Kanjeng Nabi.

“Ya, demi Allah, Wahai Rasulallah.” Suara mereka jernih dan polos.

“Allah Maha Mengetahui hatiku sangat mencintai kalian,” Nabi menimpali

Sebenarnya rumah Abu Ayyub tidak luas. Tak ada yang istimewa dibanding umumnya rumah penduduk Madinah. Tak ada kesan megah, tak ada yang layak diperhatikan. Ukurannya kecil, hanya ada dua kamar, satu di atas satu di bawah. Dindingnya lempung, tiangnya batang kurma, atapnya pelepah daun kurma yang rapuh.

Abu Ayyub pun bukan orang berpengaruh, bukan orang kaya, dan tidak memiliki status sosial terhormat. la hanya orang biasa seperti penduduk pada umumnya, cukup makan, hidup tenang.

Pilihan Kanjeng Nabi terhadap rumah itu menunjukkan bahwa beliau tidak menginginkan rumah kaya dan berlimpah harta, atau rumah miskin yang akan terbebani kehadiran beliau.

Rumah yang beliau cari adalah rumah bersahaja yang dipenuhi cinta dan rida. Rumah itu adalah rumah Abu Ayyub yang di belakang hari diketahui berasal dari Bani Najjar; klan paman Nabi dari jalur ibu, klan yang paling dekat dengan Nabi secara nasab dan kerabat.

Kelebihan lain, rumah itu terletak di tengah-tengah areal Madinah, bukan di pinggiran. Sesuatu yang kelak menjadi titik sentral Madinah, bahkan sentral bagi dunia hingga hari ini.

Nabi menempati kamar bawah. Sengaja tidak memili kamar atas agar tidak menyulitkan tamu yang akan menemui beliau, tidak perlu memaksa mereka naik ke kamar tingkat.

Malam pertama, Abu Ayyub dan istrinya di kamar atas saling berbisik tentang makanan yang akan dihidangkan besok dan penghormatan yang layak. Sehari berlalu. Dicengkeram rasa capek Abu Ayyub tak kuat menahan kantuk. Tetapi, ia hanya duduk termangu, seperti disengat ular

“Bagaimana mungkin tidur tenang, di bawah kan ada Nabi?” ia berbisik kepada istrinya.

“Lalu?”

Keduanya diam termangu. Lalu diputuskanlah tidur di ujung paling tepi agar, paling tidak, terhindar dari titik lurus tempat Nabi di bawah. Tetapi sial, baru saja beranjak mau ke pojok kamar, Abu Ayyub tersandung sebuah tempayan hingga terdorong dan air di dalamnya tumpah ruah.

la terkesiap. Begitu pula istrinya. Mereka khawatir air akan menetes melalui celah-celah atap darurat itu, lalu mengenai kepala dua tamu agung itu hingga mereka terganggu.

Tanpa ragu, Ummu Ayyub melesat meraih kain beludru miliknya, lalu dilapnya air itu hingga kering tandas. la tak peduli betapa bagus dan mahalnya beludru itu; betapa itu satu-satunya miliknya yang paling berharga. Beludru yang hanya ia pakai pada acara-acara tertentu dan hari raya.

Sejak kejadian itu, Abu Ayyub tak-henti-hentinya mendesak Nabi tinggal di atas. Desakan itu disambut Nabi demi menenangkan hati Abu Ayyub. Lagi pula, bukankah tamu mesti nurut tuan rumah? Sebab, ia yang lebih tahu bagaimana membuat tamunya betah.

ALIF ID

Ayo Kita Makmurkan Masjid!

Alhamdulillâh, wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillah…

Keimanan Terpusat di Hati

Keimanan itu aslinya berpusat di hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,

“التَّقْوَى هَاهُنَا” وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ.

“Takwa itu di sini”. Sambil beliau menunjuk ke dadanya tiga kali. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Sesuatu yang berada di dalam hati aslinya tidak terlihat. Sebab tersembunyi di dalamnya. 

Namun keimanan yang berada di dalam hati, bisa diketahui keberadaannya dengan tanda-tanda lahiriah yang terlihat mata.

Memakmurkan Masjid dan Tanda Keimanan

Di antara tanda keimanan tersebut adalah memakmurkan masjid. Allah ta’ala berfirman,

“إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ”

Artinya: “Yang memakmurkan masjid-masjid Allah itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kecuali kepada Allah. Mereka itulah golongan yang selalu mendapat petunjuk”. QS. At-Taubah (9): 18.

Makna Memakmurkan Masjid

Berbagai keterangan para ulama tafsir mengenai makna memakmurkan masjid, bisa disimpulkan menjadi dua: 

  1. Memakmurkan fisik bangunannya.
  2. Memakmurkan kegiatan di dalamnya.

Atau dengan kata lain menjaga masjid agar senantiasa makmur luar dan dalam.

Memakmurkan fisik bangunan masjid, dimulai dari mendirikan masjid baru. Kemudian juga merawat bangunan masjid yang sudah ada. Baik fasilitas penerangannya, pengairannya, sirkulasi udaranya, karpetnya, hingga kebersihan dalam dan luar masjid.

Adapun memakmurkan kegiatan di masjid, terutama adalah dengan menggunakannya untuk shalat fardhu berjamaah tepat waktu. Kemudian juga mengisinya dengan majlis taklim secara rutin. Untuk mengkaji al-Qur’an dan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Baik yang diperuntukkan buat kaum dewasa, maupun untuk anak-anak.

Bahagia Memakmurkan Masjid

Siapapun orang yang memiliki keimanan di hatinya, ia akan merasa bahagia untuk memakmurkan masjid. Atau minimal merasa bahagia melihat masjid-masjid dimakmurkan.

Maka, orang yang terjangkiti kegalauan dan kegelisahan saat melihat suatu masjid makmur, ini pertanda keimanannya bermasalah. Yang lebih parah dari itu, ada orang yang merasa lebih senang melihat masjid sepi dibanding makmur. Bahkan berusaha membuat sepi masjid yang telah makmur. Cuma hanya karena beda ormas atau pilihan politik.

Semoga Allah ta’ala memberikan hidayah kepada orang-orang yang terjangkiti hasad, iri, dengki dan berbagai penyakit hati lainnya. Amien

Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/52837-ayo-kita-makmurkan-masjid.html

Mengenang 37 Tahun Tragedi Kamp Palestina Sabra dan Shatila

Dari kejauhan terlihat kibaran bendera yang sudah sangat saya hapal. Hitam-putih-hijau-merah. Bendera Palestine! Allahu akbar!

Driver Abu Ismail menunjuk sebelah kiri, ia mengatakan kalau itu adalah kamp pengungsi Palestine. Rumah-rumah yang sudah terlihat tua, centang perentang. Ah, hati kembali basah.

Saya teringat buku yang ditulis Dr Ang Swee Chai “From Beirut to Jerusalem” tentang pembantaian di Kamp Sabra-Shatila.

Tiba-tiba tercetus tanya, “Where’s Sabra-Shatila Camp?”

“Sabra-Shatila is in Libanon, Mam,” wajah Abu Ismail berubah sendu.

Ah, tentu saja saya tahu kalau Kamp Sabra-Shatila ada di Libanon. Tapi entah kenapa pertanyaan itu terlontar begitu saja, ketika mendengarnya mengatakan bangunan yang ada di kiri jalan adalah kamp pengungsi Palestine.

Mungkin karena ini pertama kali saya melihat langsung kamp pengungsi yang sudah ratusan kali saya baca di buku maupun tonton di tayangan berita tentang Palestine.

Hari ini, mungkin tak banyak yang masih mengingat peristiwa memilukan yang terjadi mulai 16 September selama beberapa hari, 37 tahun lalu. Tragedi berdarah di kamp pengungsi Palestine yang bernama Sabra dan Shatila di Libanon.

Sebenarnya, Sabra adalah nama pemukiman miskin di pinggiran selatan Beirut, yang bersebelahan dengan kamp pengungsi UNRWA Shatila yang dibangun untuk pengungsi Palestine pada 1949.

Interaksi selama bertahun-tahun membuat penduduk kedua wilayah itu menjadi biasa menggunakan istilah kamp Sabra dan Shatila.

Pembantaian penduduk sipil di kamp pengungsi itu terjadi sewaktu zionis Israel menduduki Beirut. Mereka menggunakan tangan-tangan milisi Maronit yang dipimpin Elie Hobeika.

Selama beberapa hari kamp pengungsian itu berubah menjadi neraka. Ratusan orang, termasuk wanita dan anak-anak dibantai di tepi jalan. Tak kurang 500 orang syahid atau dinyatakan hilang.

Seorang saksi hidup bernama Magida mengatakan, “Tetangga kami ikut bersembunyi. Gaunnya berlumuran darah. Ia mengatakan orang-orang dibantai di jalanan. Awalnya kami tidak percaya, tapi setelah mendengar jeritan di sana-sini kami baru sadar apa yang terjadi.”

Pejabat yang dituding paling bertanggung jawab atas tragedi itu adalah Menteri Pertahanan Ariel Sharon. Dunia murka, hingga ia dipaksa meletakkan jabatannya.

Meski begitu, ia melenggang bebas tanpa pernah diadili. Belakangan, ia bahkan sempat menjabat menjadi Perdana Menteri Israel.

Kematian Sharon setelah koma selama 8 tahun disyukuri warga Sabra dan Shatila. Dirayakan dengan membagikan permen dan makanan manis. Beberapa menyanyi dan menabuh gendang.

Hari ini, mari sejenak kita mengingat para syuhada dan kirimkan doa untuk mereka. “Allahummaghfir lahum, warhamhum, wa’afihi wa’fu ‘anhum, waj’alil jannata matswahum”.

Duka untuk Sabra dan Shatila…

Oleh: Uttiek M Panji Astuti, Traveler dan Penulis Buku

IHRAM

Bahaya Takhbib: Merusak Rumah Tangga Orang lain

Merusak rumah tangga orang lain merupakan dosa besar, menyebabkan rumah tangga pasangan muslim menjadi hancur dan tercerai-berai. Perlu diketahui bahwa prestasi terbesar bagi Iblis adalah merusak rumah tangga seorang muslim dan berujung dengan perceraian, sehingga hal ini termasuk membantu mensukseskan program Iblis.

Perhatikan hadits berikut, Dari Jabir radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau” (HR Muslim IV/2167 no 2813)

Rusaknya rumah tangga dan perceraian sangat disukai oleh Iblis. Hukum asal perceraian adalah dibenci, karenanya ulama menjelaskan hadits peringatan akan perceraian

Al-Munawi menjelaskan mengenai hadits ini,

إن هذا تهويل عظيم في ذم التفريق حيث كان أعظم مقاصد اللعين لما فيه من انقطاع النسل وانصرام بني آدم وتوقع وقوع الزنا الذي هو أعظم الكبائر

“Hadits ini menunjukan peringatan yang sangat menakutkan tentang celaan terhadap perceraian. Hal ini merupakan tujuan terbesar (Iblis) yang terlaknat karena perceraian mengakibatkan terputusnya keturunan. Bersendiriannya (tidak ada pasangan suami/istri) anak keturunan Nabi Adam akan menjerumuskan mereka ke perbuatan zina yang termasuk dosa-dosa besar yang paling besar menimbulkan kerusakan dan yang paling menyulitkan” (Faidhul Qadiir II/408)

Merusak rumah tangga seorang muslim disebut dengan “takhbib”. Hal ini merupakan dosa yang sangat besar, selain ada ancaman khusus, ia juga telah membantu Iblis untuk mensukseskan programnya menyesatkan manusia.

Bentuk “takhbib” bisa berupa:

Menggoda salah satu pasangan pasutri yang sah dengan mengajak berzina, baik zina mata, tangan maupun zina hati sehingga ia menjadi benci dengan pasangan sahnya

Menggoda istri orang lain dengan memberikan perhatian dan kasih sayang yang semu, misalnya melalui SMS, WA atau inbox sosial media. Sang istri pun terpengaruh karena selama ini mungkin suaminya sibuk mencari nafkah di kantor seharian.

Bisa juga bentuknya menggoda suami orang lain dan mengajaknya berzina atau di zaman ini di kenal dengan istilah “PELAKOR” (Perebut Laki Orang).

Mengompor-ngompori salah satu pasutri agar membenci pasangannya

Semisalnya sering menyebut-nyebut kekurangan suaminya dengan membandingkan dengan dirinya atau suami orang lain. Padahal suaminya sangat baik dan bertanggung jawab, hanya saja pasti ada kekurangannya.

Ancaman dosa melakukan “takhbib” terdapat pada hadits berikut:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ ﻣَﻦْ ﺧَﺒَّﺐَ ﺍﻣﺮَﺃَﺓً ﻋَﻠَﻰ ﺯَﻭﺟِﻬَﺎ

”Bukan bagian dari kami, Orang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Daud 2175 dan dishahihkan al-Albani)

Ad-Dzahabi menjelaskan yaitu merusak hati wanita terhadap suaminya, beliau berkata,

ﺇﻓﺴﺎﺩ ﻗﻠﺐ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻋﻠﻰ ﺯﻭﺟﻬﺎ

”Merusak hati wanita terhadap suaminya.” (Al-Kabair, hal. 209).

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻓْﺴَﺪَ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﻋَﻠَﻰ ﺯَﻭْﺟِﻬَﺎ ﻓَﻠَﻴْﺲَ ﻣِﻨَّﺎ

”Barang siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya maka dia bukan bagian dari kami.”( HR. Ahmad, shahih)

Dalam kitab Mausu’ah Fiqhiyyah dijelaskan bahwa merusak di sini adalah mengompor-ngimpori untuk minta cerai atau menyebabkannya (mengompor-ngompori secara tidak langsung).

ﻣَﻦْ ﺃَﻓْﺴَﺪَ ﺯَﻭْﺟَﺔَ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﺃَﻱْ : ﺃَﻏْﺮَﺍﻫَﺎ ﺑِﻄَﻠَﺐِ ﺍﻟﻄَّﻼَﻕِ ﺃَﻭِ ﺍﻟﺘَّﺴَﺒُّﺐِ ﻓِﻴﻪِ ، ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﺗَﻰ ﺑَﺎﺑًﺎ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏِ ﺍﻟْﻜَﺒَﺎﺋِﺮِ ” ﺍﻧﺘﻬﻰ

“Maksud merusak istri orang lain yaitu mengompor-ngompori untuk meminta cerai atau menyebabkannya, maka ia telah melalukan dosa yang sangat besar.” (Mausu’ah Fiqhiyyah 5/291)

Demikian semoga bermanfaat

@ Gemawang, Yogyakarta Tercinta

Penulis: dr. Raehanul Bahraen
A

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/36777-bahaya-takhbib-merusak-rumah-tangga-orang-lain.html

Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga (Bag. 6)

Baca pembahasan sebelumnya Laki-Laki adalah Pemimpin Rumah Tangga (Bag. 5)

Jadilah Suami yang Paling Baik Sikapnya pada Istri

Ketika seorang istri diperintahkan untuk taat kepada suaminya, maka sudah selayaknya seorang suami itu bersikap yang lemah lembut dan sayang kepada istrinya. 

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta (yang tulus) dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ruum [30]: 21)

Allah Ta’ala juga berfirman,

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا

“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya.” (QS. Al-A’raf [7]: 189)

Kedudukan Istri Shalihah di Dunia

Seorang wanita (istri) yang shalihah, dia adalah sebaik-baik harta simpanan yang dimiliki oleh seorang suami. Inilah harta paling berharga yang dia miliki di dunia ini. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Dunia ini adalah perhiasan. Dan perhiasan dunia yang paling baik adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)

Sehingga sudah selayaknya seorang suami itu bersikap kepada istrinya dengan sikap-sikap yang terbaik. Ketika sang istri sudah berusaha taat dan berusaha melayani kebutuhan-kebutuhan suami, sang istri sudah berusaha menjadi wanita shalihah, maka sang suami juga selayaknya bersikap yang demikian kepada sang istri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِكُمْ

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya. Sedangkan yang terbaik di antara kalian adalah yang paling bersikap baik terhadap istrinya.” (HR. Ahmad 16: 114)

Suami yang Lembut di Luar tapi Keras di dalam Rumah

Seorang laki-laki bisa jadi dia menunjukkan sikap yang baik ketika di kantor, bertemu dengan rekan kerja, dan seterusnya. Karena memang sikap semacam itu bisa jadi adalah tuntutan pekerjaan dan sejenis dengan itu. Karena di kantor, dia berhadapan dengan atasan, pimpinan, dan koleganya. Sehingga mau tidak mau, dia akan berusaha “tampil” sebaik mungkin. 

Akan tetapi ketika di rumah, bisa jadi seorang laki-laki bersikap sebaliknya. Dia berubah menjadi manusia yang bermuka masam, pemarah, tidak mau membantu sama sekali pekerjaan-pekerjaan di rumah, karena dia berhadapan dengan sang istri, yaitu pihak yang dia nilai lemah dan berada di bawah “kekuasaan” suami. Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengibaratkan perempuan (istri) itu sebagai tawanan suami. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ

“Sesungguhnya mereka itu (wanita) hanyalah tawanan di sisi kalian (suami).” (HR. Tirmidzi no. 1163, hadits hasan)

Maka bisa jadi, tampaklah wujud asli akhlak dan karakter laki-laki tersebut ketika bersama istrinya di rumah. Jadi tidaklah mengherankan jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa laki-laki yang paling baik adalah yang paling baik sikap dan tingkah lakunya di depan istrinya. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Pergaulilah wanita dengan baik, sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk. Dan sesuatu yang paling bengkok yang terdapat tulang rusuk adalah bagian paling atas. Jika kamu meluruskannya dengan seketika, niscaya kamu akan mematahkannya (yaitu, menceraikannya). Namun jika kamu membiarkannya, maka dia pun akan selalu dalam keadaan bengkok. Karena itu, pergaulilah wanita dengan penuh kebijakan.” (HR. Bukhari no. 5186 dan Muslim no. 1468)

Allah Ta’ala memerintahkan suami untuk memperlakukan istrinya dengan baik dalam sejumlah ayat. Allah Ta’ala berfirman,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan cara yang ma’ruf (baik).” (QS. An-Nisa’ [4]: 19) 

Dalam Tafsir Jalalain disebutkan ketika menjelaskan ayat di atas,

أَيْ بِالْإِجْمَالِ فِي الْقَوْل وَالنَّفَقَة وَالْمَبِيت

“Yaitu dengan ucapan yang bagus (kepada istri), juga yang berkaitan dengan nafkah dan jatah bermalam (yaitu jika suami melakukan poligami, pent.).”

Allah Ta’ala berfirman,

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ

“Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 229) 

Suami, Jangan Dzalimi Istrimu

Jika seorang istri sudah taat kepada suami, maka tidak boleh bagi suami untuk mencari-cari kesalahan istri dan bersikap dzalim kepada istrinya. Allah Ta’ala mengatakan,

فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“Kemudian jika mereka (istri) mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. An-Nisa’ [4]: 34)

Dalam ayat di atas, jika seorang istri telah taat kepada suaminya dalam perkara-perkara yang diinginkan suami, maka setelah itu tidak boleh bagi suami untuk mencari-cari jalan dan celah untuk menyusahkan dan mendzalimi sang istri. Dia tidak boleh memukul istrinya, juga tidak boleh mendiamkannya. Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala menutup dengan menyebutkan dua nama-Nya yang mulia, yaitu “Maha Tinggi” dan “Maha Besar”. Hal ini mengandung faidah adanya ancaman bagi laki-laki yang berbuat dzalim dan melampaui batas kepada istrinya tanpa ada sebab yang dibenarkan oleh syariat. Maka Allah Ta’ala itu Maha Tinggi dan Maha Besar yang akan menghukum siapa saja yang berbuat dzalim kepada istri dan berbuat yang melampaui batas kepada istrinya.

Dalam Tafsir Jalalain disebutkan,

{إنَّ اللَّه كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا} فَاحْذَرُوهُ أَنْ يُعَاقِبكُمْ إنْ ظَلَمْتُمُوهُنَّ

“Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar”, (maksudnya adalah) waspadalah bahwa Allah Ta’ala akan menghukum kalian jika kalian berbuat dzalim kepada istri-istri kalian.”

[Selesai]

***

@Rumah Lendah, 9 Rabi’ul awwal 1441/6 November 2019

Penulis: M. Saifudin Hakim

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/52820-pemimpin-rumah-tangga-6.html

Ternyata Nabi Adam AS Pernah Membangun Kabah, Apakah Sama?

Sebagaimana dicatat hikayat yang didokumentasikan Alquran, bahwa Ka’bah yang berbentuk segi empat yang menjadi fokus spiritual umat Islam untuk mendulang kekayaan pengalaman religius itu, bermula dibangun Ibrahim as dan anaknya Ismail.

”Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan (membangun) dasar-dasar (pondasi) Baitullah beserta puteranya Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amal perbuatan kami), sesungguhnya Engkau Mahamendengar lagi Mahamengetahui’.” (QS  2: 127). 

Dalam riwayat lain, konon Ka’bah dibangun ketika Adam terusir dari surga. Adam teramat nestapa dan puncak kenestapaannya ditelantarankannya dia sehingga tidak bisa lagi melakukan laku spiritual mengikuti langkah ibadah bersama para malaikat mengitari Arsy (singgasana Tuhan). Maka, Tuhan pun menghiburnya dengan diperbolehkannya membuat Ka’bah sebagai tiruan dari Arsy. 

Adam pun lalu diperintahkan Tuhan mengelilingi Ka’bah (thawaf): sebentuk cara beribadah menirukan malaikat berputar mengelilingi Arsy. Sudah barangtentu, dalam perjalanan waktu, Ka’bah yang dibangun Ibrahim (atau Adam) itu sebelum terwariskan kepada umat Muhammad SAW mengalami pemugaran dan renovasi beberapa kali. Bahkan juga pernah terjadi penyelewengan fungsi berbanding terbalik secara diametral dengan tujuannya yang hakiki. 

Seperti dielaborasi sejarawan terkemuka Abdul Quddus al-Anshari dalam at-Tarikhul Mufashshal Li Ka’batil Musyarrafah Qablal Islam (1986), pembangunan Ka’bah kedua dan ketiga yang bersifat penyempurnaan dilakukan kaum Amlaqiah dan Bani Jurhum, dua kabilah berasal dari Yaman yang bermukim di Makkah. Kemudian Ka’bah jatuh dalam genggaman penguasaan Bani Khuza’ah yang berkuasa dalam waktu yang amat panjang (selama 300 tahun). 

Ka’bah terus dirawat, direnovasi dan dijaga. Pada zaman Khuza’ah inilah terjadi penyimpangan akidah itu dari keyakinan tauhid menjadi syirik dengan pelopornya seorang bangsawan Makkah ‘Amr ibn Luhaiy al-Azdiy yang telah melakukan perjalanan sampai ke negeri Syam dan di sana menemukan penduduk setempat menyembah berhala. 

Penemuan inilah yang dengan gigih didakwahkan kepada masyarakat Makkah, di samping keinginan tersembunyi dengan membawa ‘agama’ barunya itu hendak memupuk, memegang dan mengendalikan tampuk kekuasaan atas seluruh kabilah masyarakat Arab. Pemugaran tahap keempat dilakukan kabilah Quraisy (sebelum datang Islam dan Muhammad masih belia). 

Pemugaran ini dilakukan akibat kebakaran yang disebabkan api dalam pedupaan yang dinyalakan seorang wanita Quraisy, juga dilantarankan oleh turunnya hujan lebat dan terkaman banjir besar yang melanda Ka’bah. Setelah Ka’bah nampak anggun, suku Quraisy ‘menghiasi’ dengan sejumlah 360 berhala sekaligus dijelmakannya sebagai tuhan-tuhan mereka warisan leluhurnya: tempat dan sarana di mana mereka menambatkan keberimanannya yang telah jauh bersebarangan dengan jejak risalah pendiri Ka’bah (Ibrahim dan Ismail). 

Akhirnya perombakan (reformasi) secara besar-besaran baik secara fisik dan terlebih mengembalikan mental yang telah berkarat dirasuki mitos, takhayyul, kepercayaan-kepercayaan yang melecehkan akal sehat dan mendangkalkan nalar, dilakukan Rasulullah SAW dengan sebuah deklarasinya yang monumental, ”Kebenaran telah tiba dan lenyaplah kebatilan, karena kebatilan itu pasti terkelupas.” 

Kita mafhum, deklarasi yang dijangkarkan pada semangat transendensi dan humanisasi itu dikumandangkan dalam peristiwa Futuh Makkah (simpul kemenangan agama Ibrahim: Islam).

Kemudian disusul dengan tindakan kongkrit: melumat berhala-berhala yang terpancang di sekitar Ka’bah, meluluhlantakkan 360 tuhan-tuhan palsu yang telah mencengkram masyarakat Makkah, tuhan artifisial yang sudah menyebabkan mereka terserap dalam pusaran nafsu primitif kebendaan, terlempar dalam kemuliaan semu, dan terjebak dalam heroisme menipu: politik perkauman (sukuisme) membabi buta yang mengandaikan pembelaan mati-matian terhadap kabilah. 

Alhasil, usia Ka’bah setua usia perjalanan agama-agama besar yang bermuara pada sosok Ibrahim yang senantiasa labuh dalam kesadaran ilahiyah (hanif) pasrah di haribaan kebenaran sejati (Islam). Ka’bah telah memberikan kesaksian ihwal jejak-jejak ruhaniah perjalanan manusia.

IHRAM


Maulid Nabi Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah

Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW adalah acara rutin yang dilaksanakan oleh mayoritas kaum muslimin untuk mengingat, mengahayati dan memuliakan kelahiran Rasulullah. Menurut catatan Sayyid al-Bakri, pelopor pertama kegiatan maulid adalah al-Mudzhaffar Abu Sa`id, seorang raja di daerah Irbil, Baghdad. Peringatan maulid pada saat itu dilakukan oleh masyarakat dari berbagai kalangan dengan berkumpul di suatu tempat. Mereka bersama-sama membaca ayat-ayat Al-Qur’an, membaca sejarah ringkas kehidupan dan perjuangan Rasulullah, melantuntan shalawat dan syair-syair kepada Rasulullah serta diisi pula dengan ceramah agama. [al-Bakri bin Muhammad Syatho, I`anah at-Thalibin, Juz II, hal 364]

Peringatan maulid Nabi seperti gambaran di atas tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah maupun sahabat. Karena alasan inilah, sebagian kaum muslimin tidak mau merayakan maulid Nabi, bahkan mengklaim bid`ah pelaku perayaan maulid. Menurut kelompok ini seandainya perayaan maulid memang termasuk amal shaleh yang dianjurkan agama, mestinya generasi salaf lebih peka, mengerti dan juga menyelenggarakannya. [Ibn Taimiyah, Fatawa Kubra, Juz IV, hal 414].

Oleh karena itulah, penting kiranya untuk memperjelas hakikat perayaan maulid, dalil-dalil yang membolehkan dan tanggapan terhadap yang membid`ahkan.

Bukan Bid`ah yang Dilarang

Telah banyak terjadi kesalahan dalam memahami hadits Nabi tentang masalah bid`ah dengan mengatakan bahwa setiap perbuatan yang belum pernah dilakukan pada masa Rasulullah adalah perbuatan bid`ah yang sesat dan pelakunya akan dimasukkan ke dalam neraka dengan berlandaskan pada hadist berikut ini,

وإيَّاكم ومحدثات الأمور؛ فإنَّ كلَّ محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

Artinya: Berhati-hatilah kalian dari sesuatu yang baru, karena setiap hal yang baru adalah bid`ah dan setipa bid`ah adalah sesat”. [HR. Ahmad No 17184].

Pemahaman Hadits ini bisa salah apabila tidak dikaitkan dengan Hadits yang lain, yaitu,

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

Artinya:Siapa saja yang membuat sesuatu yang baru dalam masalah kami ini, yang tidak bersumber darinya, maka dia ditolak. [HR al-Bukhori No 2697]

Ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan أمرنا dalam hadits di atas adalah urusan agama, bukan urusan duniawi, karena kreasi dalam masalah dunia diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat. Sedangkan kreasi apapun dalam masalah agama adalah tidak diperbolehkan. [Yusuf al-Qaradhawi, Bid`ah dalam Agama, hal 177]

Dengan demikian, maka makna hadits di atas adalah sebagai berikut,

“Barang siapa berkereasi dengan memasukkan sesuatu yang sesungguhnya bukan agama, lalu diagamakan, maka sesuatu itu merupakan hal yang ditolak”

Dapat dipahami bahwa bid`ah yang dhalalah (sesat) dan yang mardudah (yang tertolak) adalah bid`ah diniyah. Namun banyak orang yang tidak bisa membedakan antara amaliyah keagamaan dan instrumen keagamaan. Sama halnya dengan orang yang tidak memahami format dan isi, sarana dan tujuan. Akibat ketidakpahamannya, maka dikatakan bahwa perayaan maulid Nabi sesat, membaca Al-Qur’an bersama-sama sesat dan seterusnya. Padahal perayaan maulid hanyalah merupakan format, sedangkan hakikatnya adalah bershalawat, membaca sejarah perjuangan Rasulullah, melantunkan ayat Al-Qur’an, berdoa bersama dan kadang diisi dengan ceramah agama yang mana perbuatan-perbuatan semacam ini sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an maupun Hadits.

Dan lafadz كل pada hadits tentang bid`ah di atas adalah lafadz umum yang ditakhsis. Dalam Al-Qur’an juga ditemukan beberapa lafadz كل yang keumumannya di takhsis. Salah satu contohnya adalah ayat 30 Surat al-Anbiya`:

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَي

Artinya:  Dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup itu dari air. (QS al-Anbiya’: 30)

Kata segala sesuatu pada ayat ini tidak dapat diartikan bahwa semua benda yang ada di dunia ini tecipta dari air, tetapi harus diartikan sebagian benda yang ada di bumi ini tercipta dari air. Sebab ada benda-benda lain yang diciptakan tidak dari air, namun dari api, sebagaimana firman Allah dalam Surat ar-Rahman ayat 15:

وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَار

Artinya: Dan Allah menciptakan jin dari percikan api yang menyala. Oleh karena itulah, tidak semua bid`ah dihukumi sesat dan pelakunya masuk neraka. Bid`ah yang sesat adalah bid`ah diniyah, yaitu meng-agamakan sesuatu yang bukan agama. Adapun perayaan maulid Nabi tidaklah termasuk bid`ah yang sesat dan dilarang karena yang baru hanyalah format dan instrumennya. Berkenaan dengan hukum perayaan maulid, As-Suyuthi dalam al-Hawi lil Fatawi menyebutkan redaksi sebagai berikut:

أَصْلُ عَمَلِ الْمَوْلِدِ بِدْعَةٌ لَمْ تُنْقَلْ عَنِ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنَ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ، وَلكِنَّهَا مَعَ ذلِكَ قَدْ اشْتَمَلَتْ عَلَى مَحَاسِنَ وَضِدِّهَا، فَمَنْ تَحَرَّى فِيْ عَمَلِهَا الْمَحَاسِنَ وَتَجَنَّبَ ضِدَّهَا كَانَتْ بِدْعَةً حَسَنَةً” وَقَالَ: “وَقَدْ ظَهَرَ لِيْ تَخْرِيْجُهَا عَلَى أَصْلٍ ثَابِتٍ.

“Hukum Asal peringatan maulid adalah bid’ah yang belum pernah dinukil dari kaum Salaf saleh yang hidup pada tiga abad pertama, tetapi demikian peringatan maulid mengandung kebaikan dan lawannya, jadi barangsiapa dalam peringatan maulid berusaha melakukan hal-hal yang baik saja dan menjauhi lawannya (hal-hal yang buruk), maka itu adalah bid’ah hasanah”. Al-Hafizh Ibn Hajar juga mengatakan: “Dan telah nyata bagiku dasar pengambilan peringatan Maulid di atas dalil yang tsabit (Shahih)”.

Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani, mengatakan:

وَالْحَاصِلُ اَنّ الْاِجْتِمَاعَ لِاَجْلِ الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ اَمْرٌ عَادِيٌّ وَلَكِنَّهُ مِنَ الْعَادَاتِ الْخَيْرَةِ الصَّالِحَةِ الَّتِي تَشْتَمِلُ عَلَي مَنَافِعَ كَثِيْرَةٍ وَفَوَائِدَ تَعُوْدُ عَلَي النَّاسِ بِفَضْلٍ وَفِيْرٍ لِاَنَّهَا مَطْلُوْبَةٌ شَرْعًا بِاَفْرِادِهَا.

Artinya: Bahwa sesungguhnya mengadakan Maulid Nabi Saw merupakan suatu tradisi dari tradisi-tradisi yang baik, yang mengandung banyak manfaat dan faidah yang kembali kepada manusia, sebab adanya karunia yang besar. Oleh karena itu dianjurkan dalam syara’ dengan serangkaian pelaksanaannya. [Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Mafahim Yajibu An-Tushahha, hal. 340]

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa perayaan maulid Nabi hanya formatnya yang baru, sedangkan isinya merupakan ibadah-ibadah yang telah diatur dalam Al-Qur’an maupun Hadits. Oleh karena itulah, banyak ulama yang mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi adalah bid`ah hasanah dan pelakunya mendapatkan pahala.

Dalil-dalil Syar`i Perayaan Maulid Nabi Di antara dalil perayaan maulid Nabi Muhammad menurut sebagian Ulama` adalah firman Allah:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Artinya: “Katakanlah, dengan anugerah Allah dan rahmatNya (Nabi Muhammad Saw) hendaklah mereka menyambut dengan senang gembira.” (QS.Yunus: 58) Ayat ini menganjurkan kepada umat Islam agar menyambut gembira anugerah dan rahmat Allah. Terjadi perbedaan pendapat diantara ulama dalam menafsiri الفضل dan الرحمة. Ada yang menafsiri kedua lafadz itu dengan Al-Qur’an dan ada pula yang memberikan penafsiran yang berbeda. Abu Syaikh meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA bahwa yang dimaksud dengan الفضل adalah ilmu, sedangkan الرحمة adalah Nabi Muhammad SAW. Pendapat yang masyhur yang menerangkan arti الرحمة dengan Nabi SAW ialah karena adanya isyarat firman Allah SWT yaitu,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Artinya: “Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Ambiya’:107).”[Abil Fadhol Syihabuddin Al-Alusy, Ruhul Ma’ani, Juz 11, hal. 186]

Menurut Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani Bergembira dengan adanya Nabi Muhammad SAW ialah dianjurkan berdasarkan firman Allah SWT pada surat Yunus ayat 58 di atas. [Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani, Ikhraj wa Ta’liq Fi Mukhtashar Sirah An-Nabawiyah, hal 6-7]

Dalam kitab Fathul Bari karangan al- Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani diceritakan bahwa Abu Lahab mendapatkan keringanan siksa tiap hari senin karena dia gembira atas kelahiran Rasulullah. Ini membuktikan bahwa bergembira dengan kelahiran Rasulullah memberikan manfaat yang sangat besar, bahkan orang kafirpun dapat merasakannya. [Ibnu hajar, Fathul Bari, Juz 11, hal 431]

Riwayat senada juga ditulis dalam beberapa kitab hadits di antaranya Shohih Bukhori, Sunan Baihaqi al-Kubra dan Syi`bul Iman. [Maktabah Syamilah, Shahih Bukhari, Juz 7, hal 9, Sunan Baihaqi al-Kubra, Juz 7, hal 9, Syi`bul Iman, Juz 1, hal 443].

Ahmad Muzakki, Santri Mahad Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyyah Situbondo

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/73506/maulid-nabi-perspektif-al-quran-dan-sunnah
Konten adalah milik dan hak cipta www.islam.nu.or.id

Ikhlas Berbuat Baik

ADA cerita tentang seorang santri yang sudah pulang ke rumah setelah dua tahun belajar di sebuah pesantren. Santri ini seorang yang rajin dan salehah. Sebelum ikut pesantren dia sudah rajin beribadah, maka tidak heran apabila sesudah lulus dari pesantren dia pun semakin rajin.

Lalu, setibanya di rumah dia bangun pagi-pagi untuk salat Tahajud, selanjutnya menyapu, mengepel lantai, mencuci piring, dan memasak air. Menjelang subuh, setelah semuanya selesai, dia beranjak beristirahat di sofa dan tertidur.

Santri itu memiliki seorang adik yang baru duduk di sekolah dasar. Adiknya ini terbangun hendak pergi ke kamar mandi. Tiba-tiba dia terpeleset ringan, dengan tangannya yang menempel pada kain pel yang ada di pinggir. Pada selang waktu yang sama, orangtua mereka juga terbangun. Orangtuanya menyangka kalau adiknya ini sedang mengepel dan bersih-bersih rumah.

Maka, disanjung dan dipujilah adik. Adapun santri yang tertidur di sofa tadi, dia dibangunkan oleh orangtuanya sambil dimarahi. Percuma saja menjadi santri dan tidak ada gunanya dua tahun belajar di pondok pesantren katanya. Dia dianggap tidak bisa lebih baik dari adiknya yang masih kecil.

Apabila kita mengalami kejadian serupa, kita tidak perlu membela diri, sakit hati, apalagi berbalik menyakiti, Sesungguhnya, Allah melihat semua yang kita lakukan dan Allah pasti senang melihat kita berbuat baik.

Allah Ta’ala yang membangunkan adik dan orangtuanya, lalu membuat sang adiknya terpeleset saat dia tertidur kelelahan. Semua itu merupakan ujian keikhlasan bagi santri tersebut. Pada waktunya, Allah akan membukakan kenyataan sesungguhnya dan sangat mudah bagi-Nya untuk membeberkan seluruhnya.

Maka, apabila kita memiliki usaha jasa kepada orang lain, layanilah para pelanggan dengan baik. Semua kebaikan itu bukan bermaksud untuk menarik mereka datang kembali, tetapi cukup sebagai amal saleh agar Allah meridhai. Soal ramai atau tidak yang menggunakan jasa kita, serahkan kepada Allah karena Dialah yang mengatur segalanya.

La haula wala quwwata ila billah. Semua makhluk tidak memunyai daya dan upaya, termasuk hatinya. Kita tidak perlu berharap disukai orang lain karena tidak mungkin orang akan suka kepada kita apabila hatinya di balikan oleh Allah untuk tidak suka. Kita tidak perlu merekayasa atau melebih-lebihkan perbuatan agar dicintai orang karena Allah yang membo|ak-balik hati manusia.

Bagi para pedagang, berdaganglah dengan jujur dan berilah pelayanan terbaik tanpa bermaksud agar disukai pembeli, apalagi sampai menjelek-jelekkan pedagang saingannya. Bagi siswa-siswi yang ingin memuliakan guru, lakukanlah tanpa berharap disayang dan diberi nilai tinggi. Pastikan diri kita tidak berstrategi mencari perhatian guru.

Ada yang membeli atau tidak dagangan kita, terserah Allah yang menggerakkan. Diperhatikan atau tidak oleh guru, semua ilmu hanyalah Dia yang memiliki. Cukup ikhlas saja dalam berbuat baik. Yakinilah bahwa seluruh makhluk itu ada dalam genggaman Allah Ta’ala. Jika niatnya selain Allah, apa yang kita lakukan hanya akan berakhir dengan kegelisahan dan kekecewaan.

Begitu pula kalau ingin membersihkan rumah, kita jangan menunggunya saat ada tamu. Jika ingin membersihkan pekarangan dan lingkungan, bersihkan saja tanpa berharap piala Adipura. Ketika ingin berbuat baik dan menolong orang lain, kita tidak usah berharap dan menanti ucapan terima kasih. Kita berbuat baik tidak berurusan dengan bonus, kamera, dan pencitraan.

Jadi, dalam berbuat baik, membantu dan menolong urusan kita hanya kepada Allah Ta’ala. Perkara ganjaran dan rezeki serahkan kepada-Nya. Dengan begitu, Insya Allah hidup kita lebih tenang, tenteram, dan bahagia. Sekali pun. seandai orang yang ditolong atau dibaiki ma|ah menghina, kita tetap tenang.Tujuan kita hanyalah Allah Ta’ala. ‘Dan Dia bersamamu di mana pun kamu bemda.” (QS. al-Hadid [571:4).

Allah Mahadekat, Maha Melihat, dan Mahakuasa untuk memberi balasan dengan sempurna. Allah lebih tahu keperluan hidup kita dibanding diri kita sendiri. Adapun balasan dari-Nya tidak harus saat itu juga. Apabila datang waktu bagi Allah untuk memberi ganjaran, tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi.

“Kalau kita berbuat baik, lalu dituduh tidak baik, tetaplah tenang. Allah Ta’ala pasti menyaksikan dan tidak akan menyia-nyiakan semua yang kita lakukan.” [*]

* Sumber: Buku Ikhtiar Meraih Ridha Allah Jilid 1

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar 

INILAH MOZAIK

6 Rahasia Pernikahan Awet Hingga Akhir Hayat

PERNIKAHAN artinya hubungan yang dijalin oleh satu pasangan, laki-laki dan perempuan. Dua sifat yang berbeda yang kemudian harus bisa saling menerima. Bagaimana pernikahan agar tetap awet sampai hari tua adalah sebuah harapan bagi semua pasangan. ⁣

Berikut ini 6 rahasia pernikahan agar tetap awet,

Mencintai Karena Allah ⁣⁣

Apabila cinta sudah didasarkan karena Allah, maka kita akan lebih siap menerima kelebihan dan kekurangan dari pasangan. Wajar memang, memilih pasangan dari parasnya yang tidak bosan untuk dipandang. Namun setelah pernikahan, mungkin saja kita akan cepat bosan karena melihat pasangan kita setiap hari. Untuk itulah penting sekali kalau kita meniatkan mencintai pasangan itu karena Allah ⁣⁣SWT.

Saling Mendoakan ⁣⁣

Adalah cinta apabila kita terus mendoakan pasangan di setiap sujud dan akhir shalat kita. Mendoakan agar pasangan kita tidak berpaling hatinya dan tidak berubah sifatnya. ⁣

Menerima kekurangan pasangan ⁣⁣

Mungkin, saat setelah menikah kita akan dikejutkan oleh banyak hal. Misalnya saja ‘wah, ternyata dia begini yah.’ ‘kok dia jadi gini sih?’ sesuatu yang sebelumnya belum pernah kita temui dari diri pasangan. Untuk itulah, kita harus bisa menerima kekurangan dari pasangan kita dan bersyukur dengan kelebihan yang diberikan dari pasangan kita. ⁣⁣

 Saling mengingatkan ⁣

Banyak pasangan kadang, acuh saja dengan pasangannya. Tidak memedulikan perbuatan yang dilakukan oleh pasangan. Pasangannya juga tidak mau diatur. Saling mengingatkan adalah kunci dari awetnya pernikahan. Bukan hanya sekedar mengingatkan sudah makan atau belum. Melainkan mengingatkan untuk perkara dosa, misalnya membuka aurat, belum mengerjakan shalat dan yang lainnya. ⁣⁣

BACA JUGA: Apakah dalam Pernikahan, Pasangan Boleh Tinggal secara Terpisah?

QualityTime ⁣⁣

Waktu dengan pasangan adalah hal yang harus dioptimalkan. Dengan berbagai macam kesibukan, maka perlu apabila ada waktu kosong dimanfaatkan untuk menghabiskan waktu sebaik mungkin dengan pasangan. ⁣⁣

Menyelesaikan Masalah Berdua⁣

Ini adalah rahasia yang penting dalam pernikahan. Tentu, dalam berumah tangga kita akan dihadapi dengan masalah-masalah. Namun, masalah kecil bisa jadi besar kalau ada orang lain yang ikut campur di dalamnya. []

SUMBER: HAITAMI/ISLAMPOS