Ketika Para Ashabul Kahfi Keluar dari dalam Gua (1)

Salah seorang dari Ashabul Kahfi itu kaget, suasana kota begitu jauh berbeda

Atas izin Allah SWT, ketujuh pemuda Ashab al-Kahfiitu bangun dari tidur panjang. Ihwal ini dijelaskan secara perinci dalam Alquran surah al-Kahf ayat ke-19. Artinya sebagai berikut.

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: ‘Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?).’ Mereka menjawab: ‘Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.’

Berkata (yang lain lagi): ‘Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini).’

Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.’”

Utusan yang menjalankan tugas dari kawan-kawannya itu berjalan ke arah pusat kota. Di benaknya, terpikir bagaimana keadaan keluarga yang telah ditinggalkannya dan mata-mata pasukan Daqyanus yang harus dihindarinya sebisa mungkin. Dia hanya bisa berdoa. Berharap semoga sanak familinya yang beriman selamat serta tidak terlalu mencemaskan keadaan dirinya.

Yang terpenting sekarang, membeli makanan halal di pasar untuk segera diantarkan pada para sahabatnya yang menunggu di dalam gua.

Alangkah terkejutnya utusan ini begitu menyadari perubahan yang mencolok dari kota tempat tinggalnya. Tidak ada lagi gerbang kota Ephesus yang dihiasi ornamen dewa-dewi Romawi. Bahkan, hiasan yang dijumpainya adalah puji-pujian terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sungguh mengherankan!

Hanya dalam semalam atau beberapa hari negeri yang dipimpin Daqyanus sudah meninggalkan perbuatan menyembah berhala!

Pasar yang selama ini diketahuinya telah berubah drastis. Bukan hanya kios-kios yang tidak sesuai dengan letaknya semula, tetapi juga mereka yang ada di dalamnya. Tidak ada satu pun wajah para pengunjung dan pedagang yang familiar baginya. Orang-orang juga mulai melihatnya aneh. Mungkin karena pakaian yang disandangnya.

(Bersambung)

REPUBLIKA

Berapa Jumlah Pemuda Ashabul Kahfi?

Para Nasrani pada zaman Rasulullah SAW berselisih pendapat tentang jumlah mereka

Al-Kahf merupakan salah satu surah Makkiyah di dalam Alquran. Menurut Ahmad Fuad Effendy dalam buku Sudahkah Kita Mengenal Al-Qur’an? (2013: 41), di antara ciri-ciri yang dominan pada suatu surah yang turun di Makkah adalah banyak mengandung kecaman terhadap kaum musyrikin.

Surah al-Kahf ayat ke-22, umpamanya, menyinggung bagaimana orang-orang Nasrani pada zaman Rasulullah SAW berselisih pendapat tentang jumlah para pemuda Ashab al-Kahf.

Nanti (ada orang yang akan) mengatakan, ‘(jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan, ‘(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya’, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan, ‘(jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya.’ Katakanlah, ‘Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit.’ Karena itu, janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka”, demikian terjemahan ayat tersebut.

Orang-orang Nasrani dari Najran pada zaman Nabi SAW saling berbeda pendapat. Ada yang menegaskan jumlah para penghuni gua adalah tiga orang (anjingnya sebagai penghuni keempat).

Ada pula yang bersikeras jumlah mereka lima orang (anjingnya sebagai penghuni keenam). Padahal, seperti ditekankan dalam ayat Alquran di atas, kedua argumentasi tersebut hanyalah tebak-tebakan semata. Mereka hanya bisa mereka-reka ihwal yang gaib (rajman bilghaiib).

Alangkah lebih baik bagi seorang yang beriman untuk menyerahkan pengetahuan tentang hal-hal yang gaib pada Allah SWT. Ayat Alquran ini sekaligus untuk meneguhkan pendapat yang sahih, bahwa jumlah mereka adalah tujuh orang (anjingnya sebagai penghuni yang kedelapan).

 

Berapa Lama Ashabul Kahfi di Gua?

Dua ayat berikutnya membicarakan tentang berapa lama para Ashab al-Kahfdikondisikan tidur di dalam gua.

Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)”; Katakanlah, ‘Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.’”

Durasi ketujuh pemuda dan seekor anjing berada di dalam gua tersebut adalah 300 tahun syamsiah atau 309 tahun kamariah.

REPUBLIKA

4 Manfaat Kesehatan Madu Mentah

Madu mentah memiliki elemen menyehatkan.

Sebagian orang mungkin tidak begitu familiar dengan madu mentah. Madu mentah merupakan madu yang diambil langsung dari sarang lebah untuk dikonsumsi. Tidak seperti madu produksi pabrik, madu mentah tidak melalui berbagai proses pengolahan seperti penyaringan maupun pasteurisasi.

Madu mentah yang diambil langsung dari sarang lebah tanpa proses macam-macam biasanya memiliki beberapa elemen menyehatkan yang tak dimiliki madu ‘pabrikan’. Beberapa element tersebut adalah bee pollen, lilin lebah, propolis lebah, dan cukup banyak antioksidan.

Sejauh ini, penelitian ilmiah belum mengonfirmasi apakah madu mentah memiliki manfaat kesehatan yang lebih banyak dari madu biasa atau tidak. Meski begitu, madu mentah telah diketahui memiliki banyak manfaat kesehatan bagi tubuh.

Sebagai contoh, studi 2017 pada madu dan ulasan pada 2015 terhadap bee pollenmenunjukkan bahwa porpolis lebah dan bee pollen memiliki sifat antiinflamasi, antioksidan, antibakterial, dan antikanker.

Medical News Today mengungkapkan ada beragam manfaat yang bisa diambil dari madu mentah. Berikut ini adalah empat di antaranya.

Efek Antioksidan

Peneliti meyakini bahwa sebagian dari manfaat kesehatan madu berasal dari kandungan antioksidannya. Madu alami diketahui mengandung cukup banyak senyawa yang berperan sebagai antioksidan seperti phytochemical, flavonoid, dan asam askorbat.

Di dalam tubuh, antioksidan dapat menurunkan stres oksidatif dengan cara membersihkan radikal-radikal bebas. Stres oksidatif seringkali dikaitkan dengan beragam masalah kesehatan kronis.

Belum ada penelitian secara spesifik untuk melihat pengaruh proses pasteurisasi pada antioksidan di dalam madu. Akan tetapi berdasarkan studi-studi lain, proses pemanasan makanan dapat menurunan kandungan antioksidan.

Nutrisi

Nutrisi dan komposisi kimia pada madu mentah sangat bervariasi, bergantung pada negara, lingkungan hingga bunga yang digunakan lebah untuk mengumpulkan nektar. Terlepas dari itu, madu tetap memiliki banyak senyawa menyehatkan seperti antioksidan, asam amino, dan vitamin.

Satu sendok teh atau sekitar 21 gram madu mentah mengandung 64 kalori dan 16 gram gula. Madu alami juga memiliki sedikit kandungan vitamin dan mineral dalam jumlah kecil seperti niacin, riboflavin, pantothenic acid, kalsium, magnesium, mangan, kalium, fosfor dan zinc.

Efek Antibakteri

Madu merupakan agen antibakteri dan antimikroba alami. Madu mengandung hidrogen peroksida dan glukosa oksidase, serta memiliki tingkat pH yang rendah. Komposisi kimia madu yang untik juga membuat ragi maupun bakteri tidak dapat berkembang.

Karena sifat antibakteri ini, banyak orang yang menggunakan madu untuk membersihkan luka. Penelitian bahwan membuktikan bahwa jenis madu manuka dapat membunuh patogen-patogen umum seperti E.coli hingga S.aureus, dan H.pylori.

Menyembuhkan Luka

Beberapa studi menunjukkan bahwa madu dapat bekerja dengan baik untuk menyembuhkan luka. Madu dapat menyembuhkan luka dengan baik karena ditunjang oleh sifat antibakterial, antiinflamasi, dan antioksidannya.

Bila memiliki luka yang kecil atau bekas terbakar yang kecil, aplikasikan madu mentah secara langusng di area yang luka atau terbakar. Setelah itu, tutupi dengan plester atau perekat luka.

 

REPUBLIKA

Hati Adalah Cermin, Sudahkah Jernih dan Bening?

HATI itu bagaikan cermin. Ia mungkin saja bening, jernih dan memancarkan bayangan seindah aslinya. Namun ia juga bisa jadi buram, kotor dan menampakkan wajah kepalsuan.

Orang yang waras pasti menyukai cermin yang bening yang mampu memberikan gambaran kenyataan sebagaimana adanya. Hanya orang yang gila yang menyukai cermin buram dan kotor untuk menutupi kekurangan dan kekotoran dirinya sendiri. Ada kaidah sosial yang sering kita saksikan kebenarannya: “Orang kotor seringkali menuduh orang lain itu kotor untuk menyembunyikan kekotoran dirinya.”

Hati orang mukmin bagaikan cermin yang dimiliki seorang pengantin perempuan. Tak pernah dibiarkan cerminnya kotor sedikitpun karena setiap saat selalu ia gunakan untuk melihat tampilan dirinya. Hati orang fasik adalah bagai cermin yang dimiliki lelaki sepuh buruk muka, cermin itu tak pernah dibersihkan karena ditatapnyapun hanya setahun sekali.

Hati perlu bening biar bias cahaya semakin terang benderang. Jangan biarkan hati itu kotor dan gelap karena ia tak akan mampu memantulkan apa-apa dan bahkan senang bersahabat dengan kegelapan itu sendiri. Hati yang gelap akan disukai oleh iblis dan setan, karena iblis dan setan memang penyuka kegelapan. Sementara itu hati yang bening bercahaya akan disuka oleh Allah dan mailakat-malaikatNya.

Saudaraku dan sahabatku, kalau Anda melihat film horor, hantu, genderuwo, kuntilanak dan sejenisnya selalu muncul dalam kegelapan. Tidak pernah para setan itu muncul dalam cuaca terang benderang. Kalaupun ada, itu penulis skenario dan sutradaranya salah paham pada dunia iblis dan setan.

Sekarang, bagaimanakah caranya membeningkan hati? Sungguh jawaban atas pertanyaan ini menjadi sangat penting utuk diketahui demi kebahagiaan hati kita, demi kebercahayaan hati kiti. Semoga ita ada waktu untuk membahasnya. Salam, AIM, Pengasuh Pondok Pesantren Kota Alif laam Miim Surabaya. [*]

 

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi 

Al-Qur’an Membangun Karakter Indah dalam Dirimu

Al-Qur’an membimbing segala urusan yang menuntun manusia untuk meraih kebahagiaan. Al-Qur’an menuntun tentang cara hidup dihadapan Allah, dihadapan dirinya sendiri dan dihadapan sesama manusia. Al-Qur’an juga mengatur cara hidup manusia dengan lingkungan sekitarnya.

Semuanya telah diatur dan difasilitasi sehingga siapa yang benar-benar mengikuti tuntunan Al-Qur’an akan meraih kata “bahagia” yang sebenarnya.

Bukankah Al-Qur’an telah menyifati dirinya,

مَّا فَرَّطۡنَا فِي ٱلۡكِتَٰبِ مِن شَيۡءٖۚ

“Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab.” (QS.Al-An’am:38)

Al-Qur’an tidak hanya mengatur cara ibadahmu. Namun Al-Qur’an juga membimbingmu untuk memiliki karakter yang baik, kuat dan optimis. Bahkan Al-Qur’an juga mengatur cara berjalanmu, cara bicaramu, volume suaramu dan apa yang semestinya keluar dari lisanmu.

Al-Qur’an telah memberi cara agar suaramu tidak menganggu yang lain dan kata-katamu memiliki nilai yang bermanfaat, tidak keluar dengan sia-sia.

Al-Qur’an juga membimbing caramu mengatur penghasilanmu, pengeluaranmu dan dimana layaknya hartamu dikeluarkan.

Al-Qur’an membimbingmu untuk menjadi pribadi yang jujur, tidak bermuka dua dan menghindari sifat khianat.

Al-Qur’an membimbingmu menuju solat yang khusyu’ dan diluar solatmu tetap menjadi pribadi yang penuh kebaikan.

Al-Qur’an membimbingmu agar memiliki hati yang bersih. Bersih dari kedengkian, rasa iri dan hasut.

Al-Qur’an membimbingmu bagaimana cara untuk mengatur emosimu, menahan marahmu dan mudah memberi maaf kepada orang lain.

Semuanya telah diatur secara rinci dalam Al-Qur’an. Dalam genggamanmu setiap hari !

إِنَّ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ يَهۡدِي لِلَّتِي هِيَ أَقۡوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمۡ أَجۡرٗا كَبِيرٗا

“Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar.” (QS.Al-Isra’:9)

Sekarang semuanya tergantung kepada pola pikirmu. Apakah engkau masih menganggap ada konsep hidup yang lebih baik dari Al-Qur’an? Adakah bimbingan hidup yang lebih indah dari Al-Qur’an?

Jika engkau masih punya pandangan semacam ini maka sungguh engkau jauh dari Allah swt, jauh dari kebenaran dan jauh dari kebahagiaan yang sesungguhnya.

Karena sumber kebahagiaan hanya dari Allah dan telah ditentukan jalannya dalam Al-Qur’an.

طه – مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ

“Tha Ha. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah.” (QS.Tha-Ha:1-2)

Al-Qur’an tidak diturunkan untuk mengantarmu menuju kesulitan dan kesengsaraan. Namun Al-Qur’an datang untuk mengatur setiap sisi dari hidupmu agar engkau meraih ketentraman dan kebahagiaan.

Maka berkacalah dengan Al-Qur’an, sejauh mana engkau telah mengikuti tuntunan-Nya?

Semoga bermanfaat

 

KHAZANAH ALQURAN

Penghambat Qiamulail

Ibadah malam adalah sunah yang utama, salah satunya Qiamulail

Ibadah malam adalah sunah yang utama. Rasulullah sendiri tidak pernah melewati malam-malamnya, melainkan selalu dihiasinya dengan qiamulail (Tahajud). Bahkan, satu hadis meriwayatkan, apabila qiamulail, Rasulullah melakukannya dengan penuh kesungguhan, hingga bengkak kedua tapak kakinya.

Hal ini menunjukkan bahwa qiamulail adalah momentum penting yang seyogianya setiap Muslim tidak melalui malam, kecuali dengan mengikuti kebiasaan mulia Rasulullah itu. Di dalam Alquran, secara eksplisit Allah SWT menegaskan umat Islam untuk bangun di tengah malam. “Wahai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari.” (QS al-Muzzammil: 1-2).

Qiamulail Allah tegaskan adalah momentum yang baik untuk menyerap makna Alquran secara lebih berkesan, sehingga jiwa dapat merasakan ketenangan dan kenyamanan kala membacanya. “Sesungguhnya, bangun di waktu malam adalah lebih tepat dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS al-Muzzammil: 6).

Sementara itu, pada ayat yang lain Allah menjelaskan maksud dari diperintahkan qiamulail ini. “Dan pada sebagian malam hari shalat Tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS al-Isra: 79).

Namun demikian, ibadah ini tergolong tidak mudah untuk diamalkan. Apalagi, jika memang niat dan upaya yang dipersiapkan untuk bisa qiamulail tidak benar-benar maksimal. Utamanya, dalam hal menjaga hati. Sebab, ternyata di antara sekian banyak penghambat seorang Muslim bisa qiamulail satu di antaranya adalah berprasangka buruk.

Hal inilah yang dialami ulama sufi Sufyan ats-Tsauri sebagaimana termaktub dalam kitab Mi’atani Hikmah Min Hikam Ash-Shahabah wa Ash-Shalihin. Suatu ketika, Sufyan berkata, “Aku terhalangi untuk melakukan qiamulail selama lima bulan karena dosa yang telah aku perbuat.” Dikatakan, “Dosa apa itu?” Ia menjawab, “Aku melihat seorang laki-laki menangis tatkala shalat, lalu aku katakan, ia adalah orang yang riya.”

Dengan demikian, satu di antara syarat utama untuk terhindar dari penghambat qiamulail adalah tidak berprasangka buruk terhadap siapa pun, lebih-lebih terhadap mereka yang melakukan amal kebajikan. Memastikan hati dalam kondisi bersih juga merupakan syarat yang tidak boleh disepelekan agar kita benar-benar mampu mengisi sepertiga malam kita dengan qiamulail.

Dari apa yang dialami Sufyan ats-Tsauri ini dapat diambil hikmah bahwa disunahkannya qiamulail bagi umat Islam tidak lain agar dalam sehari semalam, hati senantiasa terjaga dari hal-hal yang tidak perlu, apalagi haram. Dengan begitu, semangat ibadah akan dimudahkan Allah SWT.

Sungguh suatu kerugian yang nyata apabila seorang Muslim, lebih-lebih yang mendakwahkan ajaran Islam, melewatkan malam harinya tanpa qiamulail. Oleh karena itu, mari kita jaga hati dari berprasangka buruk, iri, dan dengki. Sebab, pangkal segala penghambat dalam melakukan amal kebaikan adalah dari rusaknya hati yang dibiarkan. Wallahua’lam.

 

Oleh: Imam Nawawi

KHAZANAH REPUBLIKA

Haruskah Melepas Gigi Palsu dari Mulut Mayit?

PERTAMA, diperbolehkan bagi orang yang mengalami cacat di salah satu anggota badannya, untuk memperbaikinya atau menambalnya dengan benda lain, sekalipun dengan emas. Berdasarkan hadis Urfujah bin Asad radhiyallahu anhu, bahwa hidungnya pernah terpotong karena terkena pedang ketika perang. Kemudian ditambal perak, namun luka hidungnya makin parah. Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam menasehatkan agar ditambal dengan emas, dan ternyata cocok. (HR. An-Nasai 5161, Abu Daud 4232, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

Kedua, jenazah muslim wajib disikapi sebagaimana orang hidup. Artinya tidak boleh dikerasi, tidak boleh dilukai, atau diambil bagian tubuhnya, apalagi dipatahkan tulangnya. Dari Aisyah radhiyallahu anha, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Mematahkan tulang mayit, statusnya sama dengan mematahkan tulangnya ketika masih hidup.” (HR. Abu Daud 3207, Ibnu Majah 1616, dan yang lainnya).

Mengingat hadis ini, Fatawa Syabakah Islamiyah menegaskan satu kaidah, “Bagian prinsip penting dalam syariat, kehormatan seorang muslim ketika sudah mati statusnya sama dengan kehormatannya ketika masih hidup. Karena itu, tidak boleh dilanggar kehormatannya.” (Fatawa Syabakah islamiyah, no. 12511)

Ketiga, para ulama menegaskan bahwa tidak wajib mengambil benda asing yang ada pada tubuh mayit. Makna tidak wajib, artinya keberadaan barang itu di tubuh mayit, tidak memberikan dampak apapun bagi mayit. Keberadaan benda itu, tidaklah menyebabkan si mayit menjadi tertahan amalnya atau dia tidak tenang, atau keyakinan semacamnya.

Dalam kitab al-Inshaf, al-Mardawi al-Hambali (w. 885 H) mengatakan, “Dalam kitab al-Fushul dinyatakan, jika ada orang yang butuh untuk mengikat giginya dengan emas, kemudian giginya diberi kawat emas. Atau dia butuh hidung emas, kemudian dia diberi hidung emas lalu diikat, kemudian dia mati, maka tidak wajib dilepas dan dikembalikan kepada pemiliknya. Karena melepasnya menyebabkan menyayat mayat.” (al-Inshaf, 2/555).

Hal yang sama juga disampaikan Ibnu Qudamah, “Jika tulang seseorang ditambal dengan tulang hewan lain, lalu ditutup, kemudian dia mati, maka tidak boleh dilepas, jika tulang pasangan itu suci. Namun jika tulang pasangan itu najis, dan memungkinkan untuk dihilangkan tanpa menyayat mayit maka dia diambil. Karena ini termasuk benda najis yang mampu untuk dihilangkan tanpa membahayakan. Namun jika harus menyayat mayit maka tidak perlu dilepas.” (al-Mughni, 2/404).

Dari keterangan di atas, pada prinsipnya melepas benda yang ada di jasad mayit tidak diperbolehkan, kecuali jika ada 2 pertimbangan

Ada maslahat besar untuk mengambil benda itu, misalnya karena nilainya yang mahal atau karena benda yang ada di tubuh mayit itu najis. Tidak membahayakan bagi mayit, misal tidak menyebabkan harus menyayat mayit. Selain itu, tidak diperbolehkan mengambilnya.

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan, “Bagaimana hukum gigi emas atau semacamnya yang dipasang seseorang ketika hidup. Apakah dikubur bersama mayit ataukah boleh dilepas?.

Jawabannya, jika benda itu tidak bernilai, tidak masalah dikubur bersama mayit, seperti gigi yang bukan emas atau perak, atau hidung palsu yang bukan emas. Namun jika benda itu bernilai, maka boleh diambil, kecuali jika dikhawatirkan akan merusak badan mayit, misalnya ketika gigi itu diambil akan merusak rahang, maka gigi itu dibiarkan untuk dikubur bersama mayit.” (as-Syarh al-Mumthi, 5/283).

Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

 

INILAH MOZAIK

Tambahan Kuota Haji Akan Segera Ditindaklanjuti Kemenag

Jakarta (PHU)—Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin membenarkan bahwa Pemerintah Arab Saudi telah memberikan tambahan kuota untuk jemaah haji Indonesia sebanyak 10ribu. Tambahan kuota ini diberikan Raja Salman kepada Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Arab Saudi. Diketahui, Presiden bertemu dengan Raja Salman di Istana Pribadi Raja (Al-Qasr Al-Khas) pada Minggu (14/4/2019) sore.

“Info tentang penambahan kuota benar adanya. Saat ini, tambahan kuota tersebut juga sudah masuk dalam sistem e-Hajj Saudi,” terang Menag Lukman di Jakarta, Senin (15/04).

“Sebagai tindak lanjut, kami akan segera melakukan pembahasan dengan DPR,” lanjutnya.

Menurut Menag, pembahasan dengan DPR dan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) perlu segera dilakukan karena penambahan kuota berimplikasi pada sejumlah hal yang kompleks. Pertama, terkait biaya penyelenggaraan. Kemenag bersama DPR telah menyepakati Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) 1440H/2019M dengan skema kuota 221ribu, terdiri dari 204ribu jemaah haji reguler dan 17ribu jemaah haji khusus. Rata-rata BPIH untuk jemaah haji reguler tahun ini, Rp35.235.602,- atau setara USD2,481.

“Bersama DPR, kami sudah menyepakati biaya haji 2019 menggunakan dana optimalisasi sebesar Rp7,039 Trilyun untuk 204.000 jemaah. Itu artinya untuk 10.000 jemaah baru sebagai tambahan kuota diperlukan tambahan biaya tak kurang dari Rp346milyar. Penambahan kuota itu juga berdampak pada penambahan sekitar 25 kloter baru dan penambahan sekitar 125 petugas kloter. Maka perlu dibahas kembali hal-hal yang terkait dengan sumber biayanya,” ujarnya.

Dampak kedua, terkait pengadaan layanan haji, baik di dalam maupun luar negeri. Di dalam negeri, penambahan kuota akan mempengaruhi proses penyiapan dokumen dan manasik jemaah haji. Apalagi, proses penerbitan visa saat ini mempersyaratkan rekam biometrik yang saat sedang berjalan dan di sejumlah daerah sudah hampir selesai.

“Kami harus mendistribusikan kembali tambahan kuota ini ke tingkat provinsi,” ucapnya.

“Kami juga harus menambah petugas kloter. Jumlah 10ribu setidaknya akan terdistribusi dalam kurang lebih 25 penerbangan. Setiap penerbangan harus ada lima petugas kloter,” lanjutnya.

Di luar negeri, hampir seluruh pengadaan layanan akan terdampak. Proses pengadaan yang semestinya sudah hampir final, berarti harus ditambah, dan itu bukan hal mudah. Terkait akomodasi di Madinah misalnya, saat ini hampir seluruh hotel di kawasan Markaziyyah (jarak terdekat Masjid Nabawi), sudah penuh.

“Penambahan kuota tentu akan menambah kebutuhan hotel yang saat ini sudah banyak dipesan oleh berbagai negara, termasuk Indonesia,” tutur Menag.

Untuk akomodasi di Makkah, penambahan kuota akan berdampak pada sistem zonasi. Sistem ini baru diterapkan tahun ini. Jemaah haji Indonesia akan ditempatkan pada tujuh wilayah, berdasarkan kelompok embarkasi sebagai berikut:

1. Syisyah: Embarkasi Aceh (BTJ), Medan (KNO), Batam (BTH), Padang (PDG), dan Makassar (UPG)
2. Raudhah: Embarkasi Palembang (PLM) dan Jakarta – Pondok Gede (JKG)
3. Misfalah: Embarkasi Jakarta – Bekasi (JKS)
4. Jarwal: Embarkasi Solo (SOC)
5. Mahbas Jin: Embarkasi Surabaya (SUB)
6. Rei Bakhsy: Embarkasi Banjarmasin dan Balikpapan
7. Aziziah: Embarkasi Lombok (LOP)

“Penyediaan akomodasi di Makkah yang saat ini sedang berjalan, sudah hampir final dengan skema zonasi. Karenanya, kemungkinan besar, khusus untuk tambahan 10ribu ini tidak lagi menggunakan sistem zonasi,” jelasnya.

Selain akomodasi, kebutuhan lainnya yang harus disiapkan adalah terkait bus shalawat dan biaya angkut bagasi. “Semua membutuhkan biaya, baik direct maupun indirect. Karenanya, Kemenag akan segera melakukan pembahasan dengan DPR untuk mendapatkan persetujuan terkait penambahan kuota ini,” tandasnya. (hum/ab).

 

KEMENAG RI

Resep Atasi Dengki

bertawakallah seorang hamba dapat menampik tindakan lalim atau kebencian.

Mushthafa al-Adawi dalam karyanya yang berjudul, Fiqh al-Hasad memaparkan beberapa solusi dan cara sederhana guna mengikis kedengkian dalam diri seseorang. Ingat, bertawakallah selalu.

Karena, ungkap Ibnu al-Qayyim, hanya dengan bertawakallah seorang hamba dapat menampik tindakan lalim atau kebencian akan seseorang. Jika memosisikan Allah sebagai satu-satunya pelindung, sejauh itu pula penjagaan akan selalu ada.

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (QS at-Thalaq [65]: 3).

Sebagai langkah antisipasi, jangan sesekali menceritakan apalagi sengaja memanas-manasi ‘si pendengki’ dengan kisah-kisah tentang nikmat dan anugerah yang Anda peroleh.

Memang, ada anjuran untuk menceritakan nikmat, tetapi tak selamanya niat baik itu tepat sasaran. Inilah mengapa Nabi Ya’qub AS melarang putranya, Yusuf AS, mengisahkan mimpi yang dialami putra kesayangannya tersebut kepada segenap saudaranya. (QS Yusuf [12]: 5).

Larangan ini juga seperti ditegaskan dalam hadis Abu Qatadah riwayat Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW melarang menceritakan mimpi baik, kecuali kepada orang yang ia percayai.

Resep membendung rasa dengki selanjutnya, menukil dari pernyataan Ibn al-Qayyim, bersikap cuek dan berusaha membersihkan pikiran dari tingkah laku pendengki. Biarkan seperti angin lalu saja. Bahkan, akan sangat baik bila Anda membalas perlakuan buruk itu dengan tindakan baik. Memadamkan api kedengkian itu dengan balasan berupa perbuatan terpuji. “Tetapi, ini sangat sulit,” kata Ibn al-Qayyim.

Dan terakhir, selalu berlindunglah kepada Allah SWT hasutan orang-orang pendengki, entah mereka yang berada jauh dari Anda, ataupun yang dekat dengan Anda sekalipun. “Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” (QS al-Falaq [113]: 2)

 

MOZAIK REPUBLIKA

Berkah Memuliakan Ibu

Durhaka kepada ibu adalah dosa besar yang harus dihindari.

Di sudut Ka’bah, tampak seorang laki-laki tengah menggendong ibunya dan bertawaf bersama. Sang anak lalu bersandung puisi, “Saya akan menggendongnya tiada henti, ketika penumpang beranjak, saya tidak akan pergi. Ibuku mengandung dan menyusuiku lebih dari itu, Allah Tuhanku yang Mulia dan Mahabesar.” Ia melihat Abdullah bin Umar dan bertanya, apakah segala yang telah ia lakukan tersebut cukup membalas pengorbanan ibunya? “Tidak sedikit pun,” jawab Ibn Umar.

Kasih sayang ibu tak terhingga. Kebaikan yang telah ia curahkan kepada anak-anaknya tak akan pernah terhitung. Cinta kasih ibu laksana mentari menyinari dunia. Terus berbagi cahaya untuk alam semesta, tanpa pamrih. Sekali pun ia dipenuhi dengan panas yang membara.

Seorang ibu mengandung anak dengan segala kelelahan dan risiko yang ada. Bersusah payah melahirkan, lalu membesarkannya. Karena itu, Allah SWT memerintahkan agar manusia mengingat pengorbanan tersebut. “Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).” (QS al-Ahqaaf [46]:15).

Bagi generasi salaf, penghormatan atas jerih payah mereka tekankan. Mereka menempuh bermacam cara untuk menunjukkan bakti terhadap ibundanya. Muhammad bin al-Munakkar, misalnya. Ia sengaja meletakkan kedua pipinya di tanah. Hal ini bertujuan agar dijadikan sebagai pijakan melangkah ibunya.

Selain itu, Ali bin al-Husain tak ingin makan satu meja dengan ibundanya. Alasannya? Ia takut bila merebut menu yang diinginkan ibunya. Ada lagi Usamah yang pernah memanjat pohon kurma, lalu mengupasnya dan menyuapi ibunya. Mengapa ia melakukan hal itu? Ia menjawab, “Ibuku memintanya. Apa pun yang ia minta dan saya mampu, pasti saya penuhi.”

Begitulah perhatian salaf terhadap ibu mereka. Aisyah bahkan pernah bertutur, ada dua nama yang ia nilai paling berbakti kepada sosok ibu, yaitu Usman bin Affan dan Haritsah bin an-Nu’man. Nama yang pertama tak pernah menunda-nunda perintah ibundanya. Sedangkan yang kedua, rajin membasuh kepala sang ibu, menyuapinya, dan tidak banyak bertanya saat ibundanya memerintahkan suatu hal.

Menurut Syekh Muhammad bin Ali Asa’awy dalam artikelnya yang berjudul “al-Ihsan ila al-Umm”, pengabdian dan bakti kepada kedua orang tua, terutama ibu, wajib hukumnya. Ini merujuk pada surah al-Isra’ ayat 23-24. Tingkat kewajiban berbuat baik (ihsan) kepada ibu itu bertambah kuat saat anak-anaknya dewasa.

Ia menjelaskan, bentuk ihsan kepada ibu bervariasi. Di level pertama ialah menjauhkan segala perkara buruk darinya, memberikan hal positif, berinteraksi dengan pekerti yang luhur dan etika kesopanan, peka terhadap perkara yang ia suka dan tidak, berdoa untuknya, dan segala ihsan yang dilakukan bertujuan untuk menggapai ridanya.

Berbakti dan berihsan kepada ibu adalah kunci dikabulkannya doa. Pengabdian kepada sosok ibu juga dikategorikan sebagai sebab masuk surga. Ini seperti tertuang dalam kisah Uwais. Tabiin tersebut adalah orang yang beruntung.

Rasulullah SAW menyebut bahwa siapa pun yang melihat Uwais maka hendaknya  meminta doa ampunan kepadanya. Ini lantaran dirinya terkenal taat dan berbakti pada sang ibunda. Itulah yang mendorong Umar bin Khatab mencari keberadaan Uwais. Kisah pencarian Umar itu seperti tertuang di riwayat Muslim.

Syekh Asa’awy menjelaskan, pengabdian yang penuh (ikhlas) kepada ibu bisa mengantarkan seorang anak ke surga. Hal ini sebagaimana terjadi kepada Haritsah bin an-Nu’man. Dalam riwayat Ahmad disebutkan, Haritsah masuk surga berkat ihsan yang ia tujukan kepada ibunda. Dan, Haritsah adalah sosok paling berbakti untuk ibu.

Sebaliknya, mereka yang durhaka kepada kedua orang tua, khususnya ibu, akan mendapatkan ganjaran setimpal. Sanksi yang akan ia terima bukan hanya di akhirat. Akan tetapi, ia akan menerima akibat ulahnya itu di dunia.

Seperti ditegaskan dalam riwayat Muslim, setiap perbuatan dosa, Allah akan menunda siksaannya kapan pun Ia berkehendak hingga kiamat. Kecuali, durhaka kepada kedua orang tua. Allah akan mempercepat siksa bagi pelakunya di kehidupan dunia, sebelum mati. Ini mengingat durhaka—sebagaimana riwayat Bukhari—termasuk pelanggaran berat, dosa besar. Imam Syafi’i pernah bertutur dalam syairnya, “Tunduk dan carilah rida ibumu karena mendurhakainya termasuk dosa besar.

 

REPUBLIKA