Kiat Khusyuk dalam Shalat

Shalat merupakan perintah wajib yang menjadi amalan pertama saat dihisab. Karenanya, saat mendirikan shalat kita harus benar-benar khusyuk. Tetapi terkadang sulit bagi kita mencapai kekhusyukan tersebut.

Sebagai manusia biasa kita dipenuhi oleh segala aktivitas dan masalah kehidupan yang pastinya banyak menyita waktu dan juga pikiran. Dan masalah tersebut sering terbawa saat hendak sholat membuat ibadah kita menjadi kurang khusyuk.

Dalam buku Sehat Tanpa Obat yang dituls oleh DR, H. Brilianto M. Soenarwo dan KH. Muhammad Rusli Amin, MA, dijelaskan terdapat kiat-kiat agar sholat menjadi khusyuk sebagaimana para ulama menyebutkannya,

1. Menyerahkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala secara total, saat kita shalat sikap pasarh, berserah diri, secara total sudah sewajarnya kita lakukan. Menumbuhkan kesadaran, betapa kita memerlukan bantuan dan pertolongan dari-Nya. Segala yang terjadi dalam kehidupan kita merupakan kehendak dari-Nya.

2. Merasa sebagai makhluk paling hina di alam semesta, ketika kita shalat terkadang kita masih membawa jabatan dunia. Merasa bahwa dirinya harus dihormati karen ajabatan yang dia miliki. Rasa seperti inilah yang harus dihapus saat mendirikan sholat. Bahkan kita harus merasa sebgai makhluk yang paling hina dihadapan-Nya.

3. Mengharap Rahmat dan Kasih Sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala, ketika sholat sudah selayaknya mengantarkan kita pada fase “kefakiran”. Saat shalat kita sedang berhadapan dengan Allah yang memiliki atas segalanya. Maka memintalah rahmat dan kasih sayang dari-Nya.

4. Takut akan keras dan pedihnya azab Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas dosa-dosa kita, sepeti yang tercermin pada kulit Ali bin Al-Hasan yang menjadi pucat pasi karena takut  saat hendak sholat. Rasa takut tersebut harus kita munculkan, ingat kita ini adalah makhluk pendosa, yang banyak berbuat khilaf dan dosa. Bayangkan kepedihan akan azab dari dosa kita selama ini.

5. Membayangkan nikmatnya Surga, selain membayangkan azab dari dosa, kita juga perlu membayangkan akan nikmatnya surge. Dengan begitu akan menimbulkan harapan dan optimism di dalam hati kita, dan akan mendorong kita memperbanyak amalan yang nantinya akan mengantarkan kita ke surga.

6. Mendambakan kebahagian melihat “Wajah” Allah Subhanahu Wa Ta’ala di akhirat nanti, tidak ada kebahagian bagi seorang hamba yang melebihi kebahagian dapat melihat “Wajah” Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena Allah sunggh-sungguh akan memperlihatkan “Dirinya” kepada hamba-hamba-Nya yang dirahmati.

 

REPUBLIKA

Doa tak Mesti Berbahasa Arab

Doa merupakan kekuatan seorang Mukmin. Setiap keinginan yang diucapkan merupakan doa. Namun bukan berarti setiap ucapan adalah doa.

Hal itu ditekankan Rektor Institut Ilmu Qur’an (IIQ) Prof Dr Akhsain Sakho kepada ROL pekan lalu. Menurut Prof Akhsin, berdoa bisa menggunakan bahasa apa saja.

Meskipun banyak doa mustajab menggunakan bahasa arab, tetapi menurut Akhsin tidak harus setiap Muslim menggunakan bahasa arab dalam berdoa.

“Nabi yang menggunakan bahasa arab hanya Muhammad SAW, doa nabi-nabi lain hanya dibahasa arabkan melalui Alquran,” ujar dia.

Jika hajat yang dipanjatkan tak kunjung terkabul, Akhsin menyebut tak semua doa dikabulkan. Doa tersebut bisa saja diganti dengan hal lain atau dipenuhi kelak di akhirat. Disamping itu ada adab yang harus dipenuhi.

Diantaranya didahulukan dengan mengucapkan pujian pada Allah SWT, lalu mengucapkan shalawat Nabi Muhammad SAW, setelah itu panjatkan doa yang diinginkan. “Umat Muslim jangan selalu meminta hal-hal duniawi,” ujar dia.

 

REPUBLIKA

Terlupa Salat? Ini Tata Cara Menggantinya (Qada)

DALAM masalah mengqadha shalat yang terlupa atau tertinggal ini, Syaikh Ibnu Utsaimin hafizhahullah berpendapat bahwa yang harus dilakukan adalah shalat yang tertinggal lebih dahulu, baru kemudian melaksanakan shalat yang sudah tiba waktunya.

Tidak boleh mengakhirkan shalat yang terlupa atau ketinggalan baik itu di waktu mengingat ataupun hari berikutnya. Di masyarakat kita pada khususnya, Anda mungkin pernah menjumpai seseorang berkata bahwa yang harus dilaksanakan pertama kali adalah shalat yang sudah tiba waktunya, baru kemudian shalat yang terlupa. Atau malah melaksanakannya di waktu shalat yang tertinggal di hari berikutnya.

Misalnya, untuk kasus di atas, umumnya orang akan melaksanakan shalat maghrib dulu baru kemudian shalat ashar yang tadi tertinggal. Atau malah melakukan shalat ashar yang tertinggal tadi di hari berikutnya saat shalat ashar, jadi shalat ashar 2 kali.

Hal ini tentulah salah dan tidak sesuai dengan perbuatan dan perkataan Rasulullah. Karena Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang tertidur atau lupa mengerjakan shalat, maka hendaklah shalat ketika dia ingat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits ini disebutkan “ketika dia ingat”. Maka kapanpun kita mengingat ada shalat yang terlupa atau tertinggal, maka segeralah mengambil wudhu dan laksanakan shalat yang tertinggal tadi. Bagaimana jika kita mengingat ada shalat yang terlupa di saat kita sedang melaksanakan shalat?

Misalnya, pada saat kita hendak melakukan shalat maghrib berjamaah, kita ingat kalau tadi kita lupa shalat ashar. Maka kita boleh shalat berjamaah dengan niat shalat ashar, meskipun imam berniat shalat maghrib.

Ketika imam duduk tahiyat di rakaat ketiga, kita ikut tahiyat, kemudian berdiri lagi untuk menyempurnakan shalat ashar saat imam salam. Kemudian kita shalat maghrib setelahnya. Atau, boleh juga mengerjakan shalat ashar sendiri terlebih dahulu, kemudian menyusul (jika masih bisa tersusul) shalat maghrib berjamaah.

Bagaimana jika mengingat shalat yang terlupa itu setelah salam dari shalat yang sudah masuk waktunya? Misalnya, kita baru ingat tadi belum shalat ashar setelah kita selesai shalat maghrib. Maka tidak mengapa untuk langsung berdiri dan menjalankan shalat ashar. Shalatnya sah, karena terlupa adalah udzur baginya. Wallahu alam. [Sumber : Majmu Fatawa Arkanil Islam Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin]

 

MOZAIK

Inilah Waktu dan Tempat Mustajab yang untuk Berdoa

Kala sesesorang memanjatkan doa dengan penuh harap, tentu ia ingin agar doanya diijabah oleh Allah SWT. Doa juga memiliki adab-adab. Selain harus bersih dari hal yang haram, ada pula waktu-waktu tertentu dan tempat-tempat khusus yang bisa mempercepat dikabulkannya doa.

Ketua IKADI Prof Dr Ahmad Satori Ismail mengatakan saat shalat adalah saat terbaik untuk doa. Karena hakikatnya seluruh bagian shalat yang dikerjakan umat Muslim merupakan doa. “Saat berpuasa juga dianjurkan banyak berdoa, dalam haji selain ibadah secara fisik juga harus berdoa, zakat pun tak hanya niat, dalam niat ada doa,” ujar dia.

Kiai Satori menjelaskan ada tempat dan waktu yang lebih mustajab untuk berdoa. Waktu khusus tersebut Allah SWT janjikan diijabahnya doa seperti setelah shalat fardhu, tengah malam, ketika bepergian, hari Jumat, bulan Ramadhan, saat berpuasa, menjelang berbuka, malam lailatul qadr, sedang mendapatkan kenikmatan, saat shalat ied, dan setelah lebaran.

“Sedangkan dari sisi tempat, sebagian besar tempat yang mustajab berada di Arab Saudi, seperti di Raudhah, Masjidil Haram, Makkah, depan Multazam, belakang Makam Nabi Ibrahim, Hijr Ismail, Padang Arafah, Muzdalifah, Mina, dan masjid-masjid yang selalu dijadikan tempat iktikaf,”ujar dia.

Orang mukmin harus berdoa dengan hati dan kekhusyuan. Dalam meminta harus sungguh-sungguh dan lebih bagus diulang sampai tiga kali.“Allah tidak menerima dari mulut yang hatinya lengah, lalai dan lupa,”jelas dia.

Orang yang dalam keadaan terdesak dan dizalimi pun dapat diijabah doanya.Begitu juga dengan doa orang tua terhadap anak dan sebaliknya serta guru pada murid-muridnya

 

REPUBLIKA

Keutamaan Muharram

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu- dia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَهُ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- mendatangi Kota Madinah, lalu didapatinya orang-orang Yahudi berpuasa di Hari ‘Asyura. Maka beliau pun bertanya kepada mereka, “Hari apakah ini, hingga kalian berpuasa?” mereka menjawab, “Hari ini adalah hari yang agung, hari ketika Allah memenangkan Musa dan Kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun serta kaumnya. Karena itu, Musa puasa setiap hari itu untuk menyatakan syukur, maka kami pun melakukannya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kami lebih berhak dan lebih pantas untuk memuliakan Musa daripada kalian.” kemudian beliau pun berpuasa dan memerintahkan kaumnya puasa di hari itu.” (HR. Al-Bukhari no. 3145, 3649, 4368 dan Muslim no. 1130).*

 

HIDAYATULLAH

Bulan Muharram

Muharram adalah bulan pertama dalam penanggalan Hijriyah. Dalam Bahasa Arab muharram berasal dari akar kata harramayang artinya mengharamkan. Sedangkan makna muharram adalah: ‘yang diharamkan’. Orang Arab menamakan bulan ini dengan Muharram (yang diharamkan) karena di bulan ini mereka melarang terjadinya peperangan.

Jauhari berkata, “Dalam penanggalan Arab terdapat empat bulan hurum yang orang Arab tidak memperkenankan perang di dalamnya kecuali dua kampung (yang membolehkan) yaitu Jats’am dan Thayyi’, sebagaimana ditulis Ibnul Mandzūr dalam kitab Lisānul ‘Arab.

Asyhurul hurum atau bulan-bulan yang terlarang ada empat; tiga diantaranya berurutan dan satu tidak. Yang berurutan adalah bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram. Yang terpisah adalah bulan Rajab.

Sebagaimana firman Allah ta’ala;

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّہُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَہۡرً۬ا فِى ڪِتَـٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡہَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٌ۬‌ۚ   (٣٦

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” [QS At Taubah:9 (36)]

Dahulu masyarakat Arab juga menamakan bulan-bulan haram dengan munshilul asinnah(Pencabut mata tombak atau panah). Karena ketika datang bulan tersebut mereka melepaskan mata-mata panah dan kepala-kepala tombak agar menghindari perang dan menghilangkan sebab-sebab fitnah (kekacauan) karenanya.

Keutamaan Bulan Muharram

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata, “Puasa paling utama setelah bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yaitu Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim, begitu juga Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasai)

Dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata bahwa Rasulullah berkata, “Barang siapa berpuasa sehari pada bulan Muharram, baginya setiap hari setara tiga puluh hari.” (HR Thabrani)

Hadist tersebut menjadi dalil atas kesunnahan puasa Muharram. Sekaligus memberikan kesimpulan bahwa Puasa Muharram adalah puasa paling utama setelah Ramadhan. Namun, seakan ada kontradiksi, dalam hadist yang lain dikatakan bahwa Puasa Sya’ban adalah puasa paling utama setelah Ramadhan.

Dalam masalah ini ulama berbeda pendapat. Imam as-Shon’ani dalam Kitab Subūlussalāmmenjelaskan bahwa kedua hadist tersebut benar dan tidak kontradiktif. Karena hanya berbeda sudut pandang saja. Beliau berpendapat hadist yang menunjukkan keutamaan puasa bulan Muharram adalah jika dilihat dari sisi bulan-bulan yang diharamkan. Sedangkan keutamaan puasa bulan Sya’ban adalah keutamaan yang mutlak. Wallahu a’lam.*/Auliya El Haq

 

HIDAYATULlAH

Masuk Surga Meski Ia Berzina dan Mencuri

DIRIWAYATKAN oleh Imam Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka berdua, dari Abu Dzar al- Ghifari radhiyallahu anhu ia berkata, “Ketika aku berjalan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di jalan kota Madinah menuju Uhud beliau bersabda, “Wahai Abu Dzar!”

Labbaika, ya Rasulullah.” Jawabku. Nabi bersabda, “Aku tidak senang sekiranya aku memiliki emas sebesar gunung Uhud lalu setelah tiga hari masih tertinggal satu dinar padaku selain untuk membayar hutang. Aku pasti membagi-bagikannya kepada hamba-hamba Allah seperti ini.” Beliau membentangkan tangannya ke kanan dan ke kiri, kemudian ke belakang. Kemudian beliau berjalan dan bersabda, “Ingatlah, orang yang banyak harta itu yang paling sedikit pahalanya di akhirat, kecuali yang menyedekahkan hartanya ke kanan, ke kiri, ke muka, dan ke belakang. Tapi sedikit sekali orang berharta yang mau seperti ini.”

Kemudian beliau berpesan kepadaku, “Tetaplah di tempatmu, jangan pergi kemana-mana hingga aku kembali.” Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pergi di kegelapan malam hingga lenyap dari pandangan. Sepeninggal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam aku mendengar gemuruh dari arah beliau pergi. Aku khawatir jika ada bahaya yang menghadang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ingin rasanya aku menyusul beliau! Tapi aku ingat pesan beliau, “Tetaplah di tempatmu, jangan pergi kemana-mana!”

Akhirnya beliau kembali. Aku menceritakan tentang suara gemuruh yang kudengar dan kekhawatiranku terhadap keselamatan beliau. Aku menceritakan semuanya kepada beliau. Lalu beliau bersabda, “Itu adalah malaikat Jibril alaihissalam. Ia menyampaikan kepadaku, “Barang siapa di antara umatmu yang mati dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu sesuatupun, maka ia pasti akan masuk surga.”

Aku bertanya, “Meskipun ia berzina dan mencuri?”
“Meskipun ia berzina dan mencuri!” Jawab Beliau. (HR. Muttafaqun Alaih)

 

[Sumber: Majalah Al-Ibar, edisi III]

MOZAIK

Astagfirullah, Zina Mata Dosa Paling Besar

DOSA zina mata adalah dosa terbesar di antara dosa-dosa kecil. Barangsiapa tidak mampu mengendalikan matanya, maka dia tidak dapat menyelamatkan anggota tubuhnya.

Nabi ‘Isa As mengatakan, “Jagalah mata kalian karena ia menaburkan benih nafsu syahwat ke dalam hati kalian dan itu sudah cukup untuk menimbulkan bahaya.” Nabi Yahya As ditanya, “Apakah sumber zina?” jawabnya, “Pandangan mata dan berangan-angan.”

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda, “Pandangan mata ibarat panah beracun yang keluar dari busur panah iblis. Allah Ta’ala menganugerahkan kepada seseorang yang meninggalkannya [zina mata] karena takut kepada Allah berupa iman yang memberikan kelezatan kepada hati.”

Beliau juga telah bersabda, “Tidak ada fitnah yang lebih besar bagi umatku setelah kematianku selain wanita.” Dalam hadis lainnya beliau bersabda, “Takutlah kalian pada fitnah dunia dan wanita. Fitnah pertama yang dialami oleh Bani Israil disebabkan oleh wanita.”

Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah kepada kaum laki-laki beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memerlihara kehormatannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka.” (Qs an_Nur [24]: 30).

Sabda Nabi Saw, “Setiap (anggota tubuh) Bani Adam mempunyai bahagian ada zina. Kedua matanya berzina dengan penglihatannya. Kedua tangannya berzina dengan rabaannya. Kedua kakinya berzina dengan berjalannya. Mulutnya berzina dengan ciumannya. Hatinya berzina dengan angan-angannya. Kemaluannya berzina dengan membenarkan [angan-angan] ke dalam perbuatan.”

Istri Rasulullah Ummu Salamah Ra berkata, “Ketika Ibn Ummi Maktum yang buta meminta izin bertemu dengan Rasulullah, aku dan Maimunah [istri beliau lainnya] ada di situ. Rasulullah Saw pun bersabda, “Tutuplah dengan hijab.” Kami bertanya, “Bukankah dia buta, tidak melihat kami ya Rasulullah?” Lalu kata beliau, “Memang dia tidak melihat kalian, tetapi kalian melihatnya.”

Ada sebagian orang menyangi anak belia yang belum berjenggot karena syahwatnya, sesuatu yang sebenarnya lebih berbahaya, dan karena itu, hukumnya haram. Seorang saleh berkata, “Di dalam umat ini akan ada tiga golongan manusia, yaitu orang yang suka berpegangan tangan dengan anak pria belia, orang yang suka memandang dengan syahwat, dan orang yang suka melakukan perbuatan yang tidak senonoh dengan anak priba belia. Maka ini semua adalah bahaya akibat pandangan dan penglihatan mata.” Semoga kita semua terhidar dari zina mata.

 

MOZAIK

 

Rohingya adalah Kita

a, di era modern ini, cukuplah jika kita merasa manusia, untuk dapat berempati pada penderitaan Rohingya.  Terlebih bagi Muslim, kepedulian pada Rohingya niscaya menjadi keharusan. Sebab mereka adalah saudara seiman.

Rohingya adalah etnis Muslim di Myanmar yang sudah berabad-abad tinggal menetap di negara bagian Arakan, Myanmar. Islam di Rohingya berkembang dengan kedatangan para juru dakwah sejak abad ke-8 Masehi.

Shah Barid Khandalam bukunya yang berjudul “Mohammad Hanifa O Khaira Pari” (yang ditulis sekitar tahun 1517-1550), mencatat, kafilah yang dipimpin putra Ali bin Abi Thalib ra yaitu Muhammad Abu Abdullah atau yang lebih dikenal sebagai Muhammad Al Hanafiah, pernah datang ke Arakan. Bahkan ia kemudian menikahi Ratu Kaiyapuri, dan tinggal di daerah Mayu Range (sekitar sungai Naf di perbatasan dengan Bangladesh).

Pribumi dan keturunan asimilasi Kafilah Muhammad Al Hanafiah itulah yang merupakan masyarakat Muslim Rohingya di Arakan. Jumlah Muslim Rohingya terus berkembang seiring dengan pesatnya dakwah di sana, terutama pada masa Kekuasaan Dinasti Mrauk-U (1430-1784).

Nama “Arakan”, menurut Ulama Rohingya, berasal dari kata“أركان “ yang merupakan bentuk jamak dari “al-rukun”, yang artinya pilar, prinsip, sendi, atau asas. Namun pada masa kekuasaan pemerintahan Myanmar (1948-sekarang), nama Arakan diganti menjadi Rakhine State. Ibukota Arakan yang semula adalah Akyab juga diganti menjadi Sittwe. Dan kini, Muslim Rohingya menjadi manusia paling teraniaya di muka bumi, menurut Tomas Ojea Quintana, Utusan Khusus PBB untuk Myanmar.

Padahal Rohingya adalah kita (Al Quran Surah Al-Hujuraat ayat 10). “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan, makan sekujur badan akan merasakan panas dan demam” (HR Muslim).

“Siapa yang menyelesaikan problem seorang mukmin di dunia, maka Allah SWT akan menyelesaikan problemnya di akhirat, siapa yang memudahkan orang yang kesulitan, maka Allah SWT akan memberikan kemudahan padanya di dunia dan di akhirat…  dan Allah SWT senantiasa akan menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya” (HR Muslim).

PPPA Daarul Qur’an saat ini tengah mempersiapkan perizinan untuk bisa masuk ke tempat-tempat pengungsian di Bangladesh. Insya Allah akhir September tim akan bergerak dengan membawa bantuan dari Masyarakat Indonesia.

Saat ini masyarakat Rohingya masih membutuhkan bantuan dari kita di Indonesia dan masyarakat Indonesia, #KitaBersamaRohingya.Untuk donasi dapat disalurkan melalui Rekening Kemanusiaan atas nama Yayasan Daarul Quran sebagai berikut: BCA 603-030-8059, CIMB Niaga Syariah 520-01-00384-006 dan Mandiri 101-00999-19993 atau klik https://s.id/BANTUROHINGYA

 

REPUBLIKA

Bingkisan untuk Penghafal Alquran

Rena Puspita Dewi (12 tahun) tak kuasa menahan tangis saat mengingat ayahnya yang meninggal enam tahun lalu.  Bersama ibu dan dua saudaranya, ia menjalani kehidupan apa adanya bahkan lebih sering kekurangan.

Sejak kepergian ayahnya, praktis ibu Rena bertumpu pada bantuan keluarga besar untuk keperluan sehari-hari. Tak ingin menjadi beban hidup sang ibu, Rena pun akhirnya mencari-cari beasiswa untuk melanjutkan sekolah, ia yakin pendidikan akan mengubah masa depannya.

Ikhtiar Rena berujung dengan tawaran dari Rumah Tahfizh As Salam tempatnya belajar mengaji untuk melanjutkan belajar Qur’an diPesantren Tahfizh Takhassus Daarul Qur’an Cikarang. Semangatnya makin membulat ingin menjadi hafizh Qur’an, alhasil Rena hafal 30 juz dalam waktu delapan bulan.

Padahal saat masuk ke pondok pesantren full beasiswa ini, Rena belum lancar membaca huruf hijaiyah hingga harus mengulang dari Iqra 1. “Sempat minder dan ingin pulang aja pada bulan pertama karena melihat kawan-kawan lain sudah memiliki hafalan yang banyak” kenang Rena.

Namun tekad untuk memakaikan mahkota di surga untuk kedua orang tuanya membuat Rena mengurungkan niat dan ia menjadi santri dengan hafalan tercepat. Selain itu rena juga bermimpi untuk mendakwahkan Quran ke berbagai penjuru dunia. “Insya Allah saya juga ingin memberangkatkan Ibu ke tanah suci” mimpi Rena lainnya.

Untuk berbagi kebahagiaan bersama Yatim dan Dhuafa di bulan Muharam ini, PPPA Daarul Qur’an menggulirkan program bingkisan untuk yatim dan dhuafa. Rencana program bingkisan senilai Rp 197 ribu ini akan diberikan kepada 50ribu santri penghafal Alquran di rumah tahfizh dan pesantren tahfizh binaan PPPA Daarul Qur’an di berbagai daerah di Indonesia.

Mari bantu mereka dengan menjadi bagian penting perjalanan mereka dalam meraih cita-cita. Kepedulian kita mengantar generasi muda hafizh Alquran menjadi calon-calon pemimpin masa depan.

Untuk sedekah Bingkisan untuk Yatim dan Dhuafa Santri Penghafal Alquran dapat melalui rekening Rek BCA 6030308041 atau klik http://s.id/bingkisanuntukyatim

 

REPUBLIKA