Bertobatlah, Meminta Kemudian

Pernah suatu ketika seorang laki-laki dengan wajah bersedih datang menemui ulama besar yang bernama al-Hasan al-Bashri untuk mengadukan permasa lahannya. Al-Hasan al-Bashri pun memberikan nasihatnya, Mohon ampunlah (istighfar) kepada Allah!

Di lain kesempatan, banyak orang datang mengadukan berbagai keluhan kepada ulama saleh ini. Ada yang menga dukan masalah kemiskinan yang dialaminya, kematian anak nya, hasil panen kebunnya yang sedikit, dan masalah-ma salah yang lainnya. Apa kata al-Hasan al-Bashri? Beliau me nyarankan kepada mereka untuk memperbanyak istigh far.

Melihat saran dan jawaban dari al-Hasan al-Bashri yang ha nya itu-itu saja, padahal permasalahannya berbeda, beberapa orang berkata kepada beliau, Banyak orang datang kepadamu mengeluh ini dan itu, tapi mengapa engkau malah menyuruh mereka semua untuk membaca istighfar?

Al-Hasan al-Bashri pun membacakan sebuah ayat kepada mereka, Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, mem banyak kan harta dan anak-anakmu, serta mengadakan untukmu kebunkebun dan sungai-sungai. (QS Nuh [71]: 10-12).

Sungguh, Allah begitu adil kepada kita sebagai hamba- Nya. Dia memberikan kunci untuk berbagai permohonan dan kebaikan-kebaikan dengan satu syarat saja, yaitu me mohon ampun terlebih dahulu, menyucikan diri agar bersih. Jika proses membersihkan diri sudah selesai, mintalah kepada Allah dengan penuh kesungguhan hati, maka Allah akan mengabulkannya.

Sungguh, Allah akan meninggalkan kita dan mengabai kan permohonan yang kita panjatkan, jika di dalam diri ma sih tersimpan noda hitam akibat dosa yang belum dibersih kan. Allah menyediakan berbagai pintu tobat yang ter buka setiap saat.

Untuk itu, maka Rasulullah mengajarkan kita doa dan istighfar yang paling utama, yaitu Sayyid al-Istighfar, yang artinya: Wahai Allah Tuhanku! Tidak ada tuhan selain Engkau. Engkau telah menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu.

Sungguh, aku berada dalam perjanjan dengan-Mu, sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan-keburukan perbuatanku. Aku mengaku banyaknya nikmat yang Engkau anugerahkan kepadaku.

Aku mengakui dosa-dosaku. Maka ampunilah dosa-dosaku, karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosaku itu kecuali Engkau. (HR al-Bukhari, Ahmad, dan lainnya) Sesungguhnya, Allah Maha Bijaksana lagi Pengampun! Semoga Allah mengampuni kita serta mengabulkan semua keinginan dan doa-doa yang kita panjatkan. Aamin.

 

Oleh: Feri Anugrah

REPUBLIKA

Syari’at Islam: Nikmat yang telah Disempurnakan, Syukurilah!

Bersyukurlah kepada Allah Ta’ala atas segala nikmat dengan mentauhidkan dan menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ a la! Janganlah kufur (mengingkari) nikmat.

 

Allah Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kusempurnakan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagi kalian.” (QS. Al-Maaidah [5]: 3)

Ayat ke-3 dari suroh Al-Maaidah adalah ayat istimewa. Istimewa karena ayat ini merupakan ayat pamungkas. Melalui ayat ini Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama Islam, menyempurnakan nikmat-Nya dan meridhoi Islam sebagai agama bagi Nabi Muhammad Saw. beserta umat beliau…

 

Tafsir ayat

Berkaitan dengan penggalan ayat di atas Al-Jazaairy dalam kitab tafirnya Aysaar At-Tafaasiir mengatakan bahwa ini adalah berita dari Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman bahwa Allah Ta’ala telah menganugerahkan tiga kenikmatan kepada mereka. Dua di antaranya adalah: Pertama, berupa disempurnakannya agama Islam yang meliputi aqidah, ibadah, hukum, dan adab. Kedua, keridhoan Allah Ta’ala atas Islam sebagai agama bagi mereka dimana Allah Ta’ala mengutus rasul-Nya dan menurunkan kitab-Nya yang mengandung aqidah dan syari’ah, menjauhkan mereka dari agama-agama batil seperti Yahudi, Nasrani dan Majusi, serta mencukupkan bagi mereka atas nikmat itu dengan diridhoi-Nya agama ini bagi mereka, yakni Al-Islam yang berdasarkan pada penyerahan diri kepada Allah Ta’ala secara dhohir dan bathin.

Sedangkan Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menulis, “Ini merupakan nikmat Allah yang paling besar kepada umat ini, kare¬na Allah telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka; mereka tidak memerlukan lagi agama yang lain, tidak pula memerlukan nabi lain selain nabi mereka.” Lebih lanjut beliau mengatakan, “Setelah Allah menyempurnakan bagi mereka agama mereka, ber¬arti telah cukuplah kenikmatan yang mereka terima dari-Nya.”

 

Syari’at penutup

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas Al-Maaidah ayat ke-3 menyebutkan bahwa agama Islam – yang salah satu komponennya adalah syari’at – telah sempurna, yang berarti telah sempurnalah nikmat batin (jenis nikmat yang disempurnakan Allah Ta’ala ada dua: dhohir dan batin. Lihat QS. 31: 20) yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.  Lalu ketentuan syari’at apa yang telah menutup ajaran Islam? Jawabannya terdapat pada penggalan pertama ayat ini.

Penggalan tersebut membahas ketentuan syari’at terkait makanan dan mengundi nasib dengan anak panah. Syari’at terkait makanan yang dibahas adalah keharaman memakan bangkai, darah, daging babi, hewan yang disembelih dengan nama selain Allah. Selain itu juga hewan yang mati karena tercekik, dipukul/terpukul, jatuh dari tempat tinggi atau terperosok ke dalam sumur, ditanduk oleh hewan lainnya, dan diterkam binatang buas – kecuali yang sempat disembelih sebelum mati -, serta hewan yang disembelih untuk dikorbankan kepada berhala.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ

“Diharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan yang disembelih untuk berhala. Dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah kefasikan.” (QS. Al-Maaidah [5]: 3)

 

Tanasub ayat

Selain pada ayat di atas, informasi bahwa Allah Ta’ala menyempurnakan nikmat-Nya yang berkaitan dengan ketentuan syari’at juga terdapat pada Al-Baqoroh: 150 yang menjelaskan syari’at bergantinya arah kiblat dari Masjid Al-Aqsho ke Ka’bah, dan Al-Maaidah: 6 yang menjelaskan syari’at Wudhu dan Tayammum.

Terkait QS. 2: 150 Ibnu Katsir menulis, “Untuk akan Aku sempurnakan nikmat-Ku untuk kalian, dimana Aku telah mensyari’atkan kepada kalian untuk menghadap ke arah Ka’bah, agar sempurna syari’at bagi kalian dari segala seginya”

 

Berkaitan dengan kata ni’matiy pada ayat tersebut Al-Jazaairy menafsirkannya dengan mengatakan, nikmat Allah Ta’ala itu banyak dan yang paling besar adalah nikmat Islam beserta penyempurnaanya dengan kontinyuitas tasyri’ dan pengamalannya hingga akhir penyempurnaannya, yakni pada Haji Wada’ di Arofah ketika diturunkannya ayat:

{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الأِسْلامَ دِيناً}

Al-Jazaairy ketika menafsirkan frasa liyutimma ni’matahu ‘alaikum pada QS. 5: 6 mengatakan maksudnya adalah dengan memberi hidayah kalian kepada Islam dan mengajarkan syari’at-Nya kepada kalian.

Seusai menyebutkan menyempurnakan nikmat tersebut dalam QS. 2: 150 Allah Ta’ala dalam ayat ke-152 menyuruh hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengingat-Nya dan bersyukur kepada-Nya dengan jalan menjalankan semua ibadah, serta melarang lupa dan kufur kepadanya-Nya. Demikian juga halnya dalam QS. 5: 6 Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia menyempurnakan nikmat tersebut agar hamba-hamba-Nya yang beriman bersyukur kepada-Nya. Adapun dalam ayat selanjutnya Allah Ta’ala menyuruh mereka untuk ingat akan nikmat-Nya, serta taat dan bertaqwa kepada-Nya.

 

Tadabbur

Allah Ta’ala telah menganugerahkan beragam nikmat yang jumlahnya tidak terhingga, khususnya nikmat sempurnanya ajaran Islam, nikmat Islam, nikmat hidayah, serta nikmat iman. Allah Ta’ala menganugerahkan segala nikmat tidak lain dan tidak bukan agar kita bersyukur. Bersyukur, selain dengan mengucapkan hamdalah juga mesti dengan mengamalkan ajaran Islam secara kaafah.

Allah Ta’ala telah berjanji akan menambah nikmat dan tidak mengazab jika kita bersyukur (lihat QS. 14: 7, 4: 147). Allah juga telah berjanji akan membukakan bagi kita keberkahan dari langit dan dari bumi jika kita beriman dan bertaqwa (lihat QS. 7: 96).

Bertambahnya segala jenis nikmat, jauh dari azab-Nya, serta dibukanya keberkahan dari langit dan bumi akan kita raih jika kita mengamalkan ajaran Islam secara komprehensif dalam ranah privat dan ranah publik.  Untuk memudahkan pengamalan ajaran Islam secara komprehensif dalam kedua ranah tersebut diperlukan pemimpin-pemimpin yang tidak sekadar Muslim, tapi juga mesti sholeh dan berjiwa mushlih – yakni pribadi yang mau dan mampu menjadikan orang lain sholeh -.

Bersyukurlah kepada Allah Ta’ala atas segala nikmat dengan mentauhidkan dan menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ a la! Janganlah kufur (mengingkari) nikmat dengan menjalankan kekufuran dan kedurhakaan kepada Allah Ta’ala! Jika kedua perkara tersebut dilakukan oleh bangsa ini – dalam ranah privat dan publik – maka insya Allah negeri ini akan menjadi baldatun thoyyibun wa robbun ghofur. Wallahu ‘alam.

 

Oleh: Abdullah al-Mustofa, Anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Jawa Timur

HIDAYATULLAH

Rasa Takut yang Benar

Orang-orang yang menempatkan rasa takut yang pada posisi yang tepat. Mereka itu adalah pewaris para nabi

SETIAP orang pernah mengalami rasa takut. Seorang muslim juga harus memiliki sifat takut dalam hidup, namun pada dimensi yang tepat.

Betapa banyak orang mengalami ketakutan dalam hidupnya namun tidak pada jalan yang benar. Takut tatkala dipecat bosnya, takut disaingi bisnisnya, takut miskin karena menyekolahkan anak dan masih banyak ketakutan-ketakutan lainnya. Takut seperti itu tidak benar. Allah Subhanahu Wata’ala telah singgung tentang orang-orang seperti tipe diatas.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

ولا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا (الإسراء 31)

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”

Disisi lain, Allah Subhanahu Wata’ala menceritakan orang-orang yang menempatkan rasa takut yang pada posisi yang tepat. Mereka itu adalah pewaris para nabi.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ (فاطر 28)

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Dari pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa rasa takut itu sangat perlu, namun harus pada domain yang benar; karena jangan sampai rasa takut yang dititipkan Allah swt kepada kita di salah artikan.*/Wandi Bustami

 

HIDAYATULLAH

Visa Telah Terbit, Haji Gelombang Pertama Siap Diberangkatkan

Jakarta – Kementerian Agama memastikan visa jemaah haji gelombang pertama sebanyak 102.663 jemaah telah terbit. Mereka akan segera diberangkatkan.

“Visa jemaah haji Indonesia yang berangkat pada gelombang pertama sudah selesai semua. Total 102.663 jemaah gelombang pertama, visanya sudah diterbitkan Kedutaan Besar Saudi Arabia (KBSA),” ujar Kasubdit Dokumen dan Perlengkapan Haji M Sofwan, dalam keterangannya, Minggu (23/7/2017).

Kloter pertama jemaah haji Indonesia akan mulai diberangkatkan secara bertahap melalui 13 embarkasi di Indonesia. Pemberangkatan gelombang pertama jemaah haji mulai 28 Juli-11 Agustus 2017, disusul gelombang kedua pada 12-26 Agustus 2017.

Shofwan mengatakan, hingga Jumat (21/7) sore, visa yang diterbitkan KBSA mencapai 108.275. Angka ini diperkirakan masih akan bertambah mengingat paspor yang sudah berada di Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama RI untuk diproses visanya di KBSA mencapai 191.838.

“Kami secara bertahap terus mengirim paspor dan pemaketan layanan jemaah yang sudah siap ke KBSA untuk segera diterbitkan visanya. Dari yang sudah berjalan, rata-rata dalam satu hari proses penerbitan visa bisa mencapai 10.000,” ujarnya.

Shofwan optimis pengurusan visa tahun ini berjalan lancar dan seluruhnya akan terbit sesuai jadwal. “Saya berharap pengurusan visa berjalan lancar dan tidak ada persoalan terkait visa yang harus dialami jemaah,” tambahnya.

Total kuota jemaah haji Indonesia tahun ini sebanyak 221.000, terdiri dari 204.000 jemaah haji reguler dan 17.000 jemaah haji khusus. Ia menyebut dari sekitar 108.000 visa saat ini, masih ada sekitar 96.000 visa jemaah yang masih dalam proses.

“Masih cukup waktu dan semoga semuanya lancar dan sesuai,” ucap Shofwan.

“Jelang keberangkatan, kami juga sedang memastikan persiapan, khususnya untuk lima kloter pertama di semua embarkasi sudah fix semua, sehingga tidak ada kursi yang kosong dan seluruh jemaah siap diberangkatkan,”imbuhnya.

Gelombang pertama akan terbang menuju Madinah Arab Saudi untuk menjalani ibadah Arbain (Jamaah haji mengejar keutamaan salat wajib 40 waktu tanpa putus di masjid Nabawi) selama 8-9 hari. Setelah itu, mereka secara bertahap diberangkatkan menuju Makkah untuk menjalani proses ibadah haji.

Gelombang kedua akan terbang menuju Jeddah lalu ke Makkah. Mereka baru akan diberangkatkan ke Madinah setelah menjalani ibadah haji. Menurut Undang – Undang nomor 13 tahun 2008, Penyelengaraan haji adalah tugas nasional. Negara menjamin memberikan 3 layanan bagi jemaah haji resmi seperti pembinaan, pelayanan, dan perlindungan.
(yld/rna)

 

DETIK

Syeikh Al Qaradhawi: Membela Baitul Maqdis Adalah Urusan Umat Islam

Syeikh Qaradhawi menegaskan pertempuran yang terjadi di Baitul Maqdis adalah urusan umat Islam. Bukan hanya persoalan Palestina atau Arab

Ketua Persatuan Ulama Islam Dunia, Syeikh Yusuf al-Qaradhawi mengatakan bahwa Baitul Maqdis bukan hanya masalah Palestina, tapi urusan umat Islam.

Syeikh Qaradhawi  menegaskan bahwa pertempuran yang terjadi di Baitul Maqdis adalah urusan umat Islam dan membela Baitul Maqdis bukan hanya persoalan Palestina atau Arab, tapi umat Islam di seluruh dunia. Demikian cuitnya dalam akun Twitter-nya.

Jum’at (21/07/2017) lalu, tiga warga Palestina syahid dan sejumlah besar lainnya terluka saat demonstrasi massal di sejumlah lokasi di Baitul Maqdis terjajah untuk memprotes langkah keamanan terbaru ‘Israel’ terhadap Masjidil Aqsha.*

 

HIDAYATULLAH

Terkesan Pergaulan Umat Islam, Petrus Sekeluarga Bersyahadat di Kupang

Petrus sehari-hari bekerja sebagai tukang kuli bangunan. Ia pun tak ketinggalan ketika mendengar akan ada pembangunan masjid. Ia turut mengambil bagian membangun masjid bersama masyarakat Muslim sekitar.

 

Kemarin, Ahad (23/07/2017), di Masjid Agung Baiturrahman Perumnas, Jl Ainiba No 17, Perumnas, Nefonaek, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, NTT, satu keluarga mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Imam Amir Kiwang dan puluhan jamaah yang hadir.

Sebut saja Petrus (bukan nama sebenarnya), beberapa waktu lalu ia datang menemui Ustadz Sarifudin mengutarakan niatnya berpindah agama. Sarifudin, dai kelahiran NTT yang kini bertugas di kampung halamannya, pedalaman Soe, menanyakan niat baik Petrus.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya sang ustadz.

“Begini, Ustadz, saya sekeluarga ingin memeluk agama Islam. Bolehkah?” kata Petrus.

Tak menunggu lama, langsung saja Sarifudin menyambut kabar gembira dari Petrus. Sarifudin segera mengabarkan kepada Ustadz Pono di Kupang. Pono, dai yang juga aktif membina Desa Fatukopa, Soe TTS, NTT, bersama Sarifudin. Pono pun menyampaikan agar Petrus beserta keluarga berangkat ke Kota Kupang untuk segera disyahadatkan.

Hidayah yang didapat Petrus sekeluarga bermula dari kisah setahun lalu. Saat itu, ada seorang donatur dari Jakarta bernazar ingin membangun masjid. Ketika dicari tempat yang layak, donatur ini menemukan tempat pembangunan masjid di desa tempat tinggal Sarifudin dan Petrus.

Petrus sehari-hari bekerja sebagai tukang kuli bangunan. Ia pun tak ketinggalan ketika mendengar akan ada pembangunan masjid. Ia turut mengambil bagian membangun masjid bersama masyarakat Muslim sekitar.

Lama bergaul, ia sangat berkesan dengan kehidupan dan pergaulan orang-orang Islam. Anak-anak Petrus pun selalu diperhatikan oleh Pono dan Sarifudin. Dari situlah ketertarikan Petrus di awal mengenal Islam.

 

Hari bersejarah, Ahad kemarin, tepat pukul 10.30 WITA, Petrus bersyahadat di hadapan Imam Masjid. Walau terbata-bata mengucapkan dua kalimat syahadat, tetapi semangat keislamannya ia buktikan lebih dulu sebelum memeluk Islam. Yakni ia bersama anak-anaknya telah dikhitan oleh Pono dan pegiat dakwah lainnya di NTT.

 

Kini nama Islam Petrus adalah Muhammad Nasir, sedangkan istrinya bernama Siti Aisyah, adapun nama anak-anaknya menyusul.

“Semoga istiqamah di atas jalan yang diridhai oleh Allah Subhanahu Wata’ala, yaitu dinul Islam,” doa salah seorang jamaah yang hadir dan mendukung kegiatan itu.

 

* Usman Aidil Wandan, pegiat komunitas menulis PENA. Berita ini hasil kerja sama dengan hidayatullah.com

 

 

Tiga Keburukan yang Berbalik Menyerang Orangnya

“Ada tiga perbuatan (buruk) dalam Alquran yang jika dilakukan akan kembali kepada pelakunya,” kata sahabat nabi Ali bin Abi Tholib.

Apakah ketiga perbuatan tersebut?

1. Melanggar Janji

“Maka barangsiapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar (janjinya) sendiri.” (Al-Fath 10)

2. Rencana Jahat

“Rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri.”(Fathir 43)

3. Zalim

“Wahai manusia! Sesungguhnya kezalimanmu bahayanya akan menimpa dirimu sendiri.” (Yunus 23).

 

MOZAIK

Orang Lain Bisa Dibohongi, Diri Sendiri tak Bisa

MUNGKIN manusia bisa membohongi orang lain, tapi ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Didalam hatinya ada pengadilan yang akan mengadilinya sebelum menghadapi Mahkamah Agung dihadapan Allah swt.

“Aku bersumpah dengan hari Kiamat, dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu mencela (dirinya sendiri).” (QS.Al-Qiyamah:1-2)

Itulah kenapa Allah menggandengkan Hari Kiamat dengan Nafsil Lawwamah (Jiwa Manusia yang Mencela Dirinya). Setiap kali berbuat salah, hati kecil kita pasti mencela dan menyesali perbuatan itu. Dan ternyata, rasa penyesalan ini adalah hukuman pertama atas kesalahan yang kita perbuat.

Semua orang pasti mengalami kegelisahan yang sangat ketika pertama kali berbuat dosa. Jiwanya terus menyalahkan, hati kecilnya berontak dan mengadili kesalahan itu. Disaat seperti ini jalan untuk kembali masih mudah karena fungsi Nafsil Lawwamah nya belum mati.

Namun jika dosa itu terus terulang, maka rasa penyesalan itu semakin hilang. Hati kecil yang mencela keburukan itu semakin redup. Tak ada lagi rasa gelisah jika bersalah. Dalam posisi ini, jalan untuk kembali semakin sulit.

Hilangnya rasa penyesalan ini adalah hukuman yang lebih berat dari sekedar kegelisahan, karena Allah telah mencabut fungsi Nafsil Lawwamah yang selalu mengingatkan kesalahan dan Membiarkannya terjerumus dalam kemaksiatan. Baginya semua dosa ini adalah hal yang wajar. Tidak ada lagi antibody yang menahannya untuk berbuat buruk.

Selain Mahkamah Hati, ada juga Mahkamah Agung yang menanti di Hari Pembalasan. Terlalu banyak saksi yang akan berbicara tentang apa yang selama ini kita lakukan. Mulai bumi hingga anggota badan kita sendiri.

Jika manusia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bagaimana ia akan membohongi Tuhan yang memiliki banyak saksi?

“Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri dan meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (QS.Al-Qiyamah:14-15). [Khazanahalquran]

 

MOZAIK INILAHcom

Inilah Enam Kebanggaan Manusia di Dunia

DALAM Hadis Qudsi-Nya, Allah swt pernah berfirman kepada Rasulullah saw: Kebanggaan manusia di dunia ini ada dalam enam hal. Bangga dengan wajah yang elok, (lisan) yang fasih, harta dan anak, kedudukan dan nasab, kekuatan serta kekuasaan.

“Wahai Muhammad, katakan kepada mereka yang bangga dengan wajah eloknya,

“Wajah mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan yang cacat.”(Al-Muminun 104)

Katakan kepada mereka yang bangga dengan kefasihan lisannya,

“Pada hari ini Kami Tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”(Yasiin 65)

Katakan kepada mereka yang bangga dengan harta dan anak,

“Pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna”(Asy-Syuara 88)

Katakan kepada mereka yang bangga dengan kedudukan dan nasab,

“Apabila sangkakala ditiup, maka tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka pada hari itu (hari Kiamat), dan tidak (pula) mereka saling bertanya.”(Al-Muminun 101)

Katakan kepada mereka yang bangga dengan kekuatannya,

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia Perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(At-Tahrim 6)

Katakan kepada mereka yang bangga dengan kekuasaannya,

“Pada hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tidak sesuatu pun keadaan mereka yang tersembunyi di sisi Allah. (Lalu Allah Berfirman), “Milik siapakah kerajaan pada hari ini?” Milik Allah Yang Maha Esa, Maha Mengalahkan.”(Ghofir 16)

Ketika manusia saling berbangga dengan dirinya, kita akan belajar dari jawaban sahabat Nabi yang bernama Salman. Ketika dia ditanya tentang kedudukan dan nasabnya, kira-kira apa yang beliau banggakan?

Suatu hari, ada seorang bertanya kepada Salman, “Beritahukan siapa dirimu, siapa ayahmu dan darimana asalmu !”Kemudian Salman menjawab, “Aku Salman putra dari hamba Allah. Dulu aku sesat, kemudian Allah memberiku hidayah dengan Nabi Muhammad saw. Dulu aku miskin, kemudian Allah memberiku rezeki melalui Nabi Muhammad saw. Dulu aku budak, kemudian Allah membebaskanku dengan Nabi Muhammad saw. itulah kedudukan serta nasabku.”

Salman tidak membanggakan kedudukan dan kemuliaan pribadinya. Yang terucap dari lisannya hanyalah kebanggaan kepada Nabinya, Muhammad saw. [khazanahalquran]

 

MOZAIK

Bolehkan Saat Berwudhu Berbicara?

ADA fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Ustaimin rahimahullah seputar hal yang banyak dipertanyakan di kalangan umat Islam ini.

Menurut beliau, berbicara saat wudhu tidaklah makruh. Hanya saja, sebenarnya hal itu menyibukkan seorang dari aktivitas wudhunya. Karena seorang ketika sedang berwudhu, seyogyanya menghadirkan perasaan ibadah; saat ia membasuh wajahnya, mencuci kedua tangan, mengusap kepala, dan kedua kakinya, hendaknya ia menghadirkan niat dalam hatinya.

Karena jika ia mengobrol, perasaan menghadirkan niat ini terputus, dan bisa mengganggu aktivitas wudhunya. Tidak menutup kemungkinan, akan datang perasaan was-was disebabkan obrolan itu.

Maka yang lebih utama, tidak berbicara sampai wudhunya selesai. Tapi kalaupun mengobrol, itu tidak mengapa.[]

Sumber: Silsilah Fatawa Nur ala Ad-Darb. Serial kaset nomor 344. Bab Thoharoh: Ma Yusannu Lahul Wudhu (Hal-hal yang disunahkan saat wudhu).

 

MOZAIK.INILAHcom