Abu Said al-Khudri

Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu adalah salah seorang ulamanya para sahabat. Ia termasuk seorang Anshar yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan termasuk yang terbanyak riwayatnya di antara sahabat lainnya.

Nasabnya

Nama dan nasab Abu Said al-Khudri adalah Saad bin Malik bin Sinan bin Ubaid bin Tsa’labah al-Abjar -Abjar adalah Khudrah- bin Auf bin al-Harits bin al-Khazraj al-Anshari al-Kahzraji. Yang masyhur dengan kun-yah Abu Said al-Khudri.

Masa Rasulullah

Abu Said bercerita, “Rasulullah datang kepada kami. Kami adalah orang-orang biasa (bukan tokoh) dari kalangan kaum muslimin. Aku kira Rasulullah tidak mengenal salah seorang dari kami. Sebagian dari kami hampir-hampir tak berpakaian. Rasulullah mengisyaratkan bentuk lingkarangan dengan tangannya. Beliau bersabda, “Dengan apa kalian saling mengingatkan?” Mereka menjawab, “Ini ada seseorang yang membacakan Alquran kepada kami dan mendakwahi kami.” Beliau berkata, “Serulah! Mengapa kalian bersamanya.” Kemudian beliau berkata, “Segala puji bagi Allah yang menjadikan untuk umatku seseorang yang aku perintahkan untuk bersama mereka.” Beliau melanjutkan, “Berilah kabar gembira pada orang-orang beriman yang miskin bahwa mereka akan lebih dahulu masuk surge dibanding orang-orang kaya pada hari kiamat kelak dengan lama 500 tahun lebih awal. Mereka berada di dalam surga dan menikmati kenikmatannya. Sementara orang-orang kaya masih dihisab.” (HR. Abu Dawud).

Masa Para Sahabat

Saat orang-orang membaiat Yazid bin Muawiyah, cucu Nabi, Husein bin Ali radhiallahu ‘anhuma tidak membaiatnya. Mendengar kabar tersebut, orang-orang Kufah mengirimi Husein surat. Mengajaknya untuk datang ke Kufah. Awalnya Husein menolak. Kemudian mereka mengajak Muhammad bin al-Hanafiyah (saudara seayah dengan Husein bin Ali). Beliau pun menolak. Mereka kembali membujuk Husein, Husein berkata, “Sesungguhnya mereka ini hendak memangsa kita dan bersemangat mengucurkan darah kita.”

Bujukan dan godaan orang-orang kufah ini membuat Husein risau. Terkadang beliau merasa condong kepada mereka. Terkadang ia tidak ingin keluar. Kemudian datanglah Abu Said al-Khudri, ia berekata, “Hai Abu Abdullah (kun-yah Husein), sungguh aku termasuk pemberi nasihat untuk Anda. Aku adalah orang yang menyayangimu. Sampai kabar padaku bahwa para pendukungmu di Kufah mengirimimu surat. Mereka mengajakmu menuju mereka. Jangan kau keluar! Sungguh aku mendengar ayahmu saat di Kufah, ia berkata, “Demi Allah, aku telah membuat mereka bosan dan marah. Mereka pun membuatku bosan dan marah. Tidak kudapati sifat memenuhi janji pada mereka. Siapa yang selamat dari mereka, dia telah selamat dari panah yang jelek. Demi Allah, tidak ada keteguhan dan ketetapan hati dalam suatu urusan. Tidak ada kesabaran pada mereka saat menghadapi pedang.”

Masa Tabi’in

Pada saat terjadi kekacauan di Kota Madinah, Abu Said al-Khudri keluar dan bersembunyi di sebuah goa. Ia disusul oleh seorang pasukan Syam. Kata Abu Said, “Saat ia melihatku, ia hunus pedangnya menginginkanku. Saat ia dekat denganku, ia arahkan pedangnya padaku. Kutahan pedangku. Dan kubaca firman Allah,

إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ

“Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim”. [Quran Al-Maidah: 29]

Mendengar hal itu, ia bertanya, “Siapa Anda?” “Aku Abu Said al-Khudri”, jawabku. “Sahabatnya Rasulullah?” tanyanya. “Iya”, jawabku. Ia pun berlalu dan meninggalkanku.

Riwayat Abu Said

– Dari Ismail bin Raja bin Rabi’ah dari ayahnya. Ia berkata, “Kami bersama Abu Said al-Khudri saat ia sedang sakit yang mengantarkannya pada wafat. Ia mengalami pingsan. Kemudian saat tersadar, kami berkata padanya, ‘Shalat, Abu Said’. Ia berkata, ‘Kafan’. Abu Bakr (perwari) berkata, ‘Ia menginginkan kafan. Kemudian ia menyebutkan beberapa hadits yang ia riwayatkan dari Nabi’.”

– Terdapat suatu riwayat:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنْ الْفِتَنِ

“Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Sha’Sha’ah dari bapaknya dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Hampir saja terjadi (suatu zaman) harta seorang muslim yang paling baik adalah kambing yang digembalakannya di puncak gunung dan tempat-tempat terpencil, dia pergi menghindar dengan membawa agamanya disebabkan takut terkena fitnah”.” (HR. Al-Bukhari).

– Abu Said al-Khudri meriwayatkan sebuah hadits:

يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ، ثُمَّ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَخْرِجُوْا مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ، فَيُخْرَجُوْنَ مِنْهَا قَد ِاسْوَدُّوا فَيُلْقَوْنَ فِي نَهْرِ الْحَيَاءِ -أَوِ الْحَيَاةِ، شَكَّ مَالِكٌ- فَيَنْبُتُوْنَ كَمَا تَنْبُتُ الْحَبَّةُ فِي جَانِبِ السَّيْلِ، أَلَمْ تَرَ أَنَّهَا تَخْرُجُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً؟

“Setelah penghuni Surga masuk ke Surga, dan penghuni Neraka masuk ke Neraka, maka setelah itu Allah pun berfirman: ‘Keluarkan (dari Neraka) orang-orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi iman!’ Maka mereka pun dikeluarkan dari Neraka. Hanya saja tubuh mereka sudah hitam legam (bagaikan arang). Lalu mereka dimasukkan ke sungai kehidupan, maka tubuh mereka tumbuh (berubah), sebagaimana tumbuhnya benih yang berada di pinggiran sungai. Tidakkah engkau perhatikan, bahwa benih itu tumbuh berwarna kuning dan berlipat-lipat?” (HR. Al-Bukhari dari Abu Sa’id al-Khudriy Radhiyallahu anhu).

– Abu Said juga meriwayatkan sebuah hadits:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُ النَّاسَ يُعْرَضُونَ عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ قُمُصٌ مِنْهَا مَا يَبْلُغُ الثُّدِيَّ وَمِنْهَا مَا دُونَ ذَلِكَ وَعُرِضَ عَلَيَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَعَلَيْهِ قَمِيصٌ يَجُرُّهُ قَالُوا فَمَا أَوَّلْتَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الدِّينَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaidillah berkata, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Shalih dari Ibnu Syihab dari Abu Umamah bin Sahal bin Hunaif bahwasanya dia mendengar Abu Said Al Khudri berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ketika aku tidur, aku bermimpi melihat orang-orang dihadapkan kepadaku. Mereka mengenakan baju, diantaranya ada yang sampai ke buah dada dan ada yang kurang dari itu. Dan dihadapkan pula kepadaku Umar bin Al Khaththab dan dia mengenakan baju dan menyeretnya. Para sahabat bertanya: “Apa maksudnya hal demikian menurut engkau, ya Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ad-Din (agama).” (HR. Al-Bukhari).

– Riwayat berikutnya:

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ: قَالَتِ النِّسَاءُ لِلنَّبِيِّ : غَلَبَنَا عَلَيْكَ الرِّجَالُ, فَاجْعَلْ لَنَا يَوْمًا مِنْ نَفْسِكَ. فَوَعَدَهُنَّ يَوْمًا لَقِيَهُنَّ فِيْهِ فَوَعَظَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ, فَكَانَ فِيْمَا قَالَ لَهُنَّ : مَا مِنْكُنَّ امْرَأَةٌ تُقَدِّمُ ثَلاَثَةٌ مِنْ وَلَدِهَا إِلاَّ كَانَ لَهَا حِجَابًا مِنَ النَّارِ. فَقَالَتِ امْرَأَةٌ : وَاثْنَيْنِ؟ فَقَالَ : وَاثْنَيْنِ.

Dari Abu Sa’id al-Khudri menceritakan bahwa sejumlah para wanita berkata kepada Nabi: “Kaum lelaki lebih banyak bergaul denganmu daripada kami, maka jadikanlah suatu hari untuk kami”. Nabi menjanjikan mereka suatu hari untuk bertemu dengan mereka guna menasehati dan memerintah mereka. Diantara sabda beliau saat itu: “Tidak ada seorang wanitapun yang ditinggal mati oleh tiga anaknya kecuali akan menjadi penghalang baginya dari neraka”. Seorang wanita bertanya: “Bagaimana kalau Cuma dua?”. Nabi menjawab: “Sekalipun Cuma dua” (HR. Al-Bukhari).

Al-Khatib al-Baghdadi berkata tentang Abu Said al-Khudri, “Dia termasuk sahabat yang paling utama dan penghafal hadits yang banyak.”

Wafat

Ada beberapa pendapat tentang tahun wafat Abu Said al-Khudri. Ada yang mengatakan beliau wafat tahun 74 H. Ada pula yang mengatakan 64 H. Al-Madaini mengatakan, “Ia wafat tahun 63 H”. Sedangkan al-Askari mengatakan, “Ia wafat tahun 65 H.”

Semoga Allah meridhainya.

Diterjemahkan dari: https://islamstory.com/ar/artical/33989/أبوسعيدالخدري

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Read more https://kisahmuslim.com/6272-abu-said-al-khudri.html

Ikhlas, Itukah Yang Anda Cari?

Ikhlas itukah yang Anda cari?

Berbicara tentang ikhlas pun membutuhkan keikhlasan. Ikhlas dibutuhkan dimana pun dan kapan pun, oleh siapa pun.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Sebagaimana telah diketahui, ikhlas adalah pondasi amalan. Selain harus sesuai tuntunan, amalan juga harus dilandasi dengan keikhlasan. Tanpanya, amal dan kebaikan hanya akan menjadi sirna. Bagaikan debu-debu yang beterbangan.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, sejak kapan kiranya kita mendengar kata ikhlas? Ya, mungkin ada diantara kita yang sudah mendengarnya belasan atau puluhan tahun. Kita harus ikhlas, karena kalau tidak ikhlas maka amal kita tidak diterima di sisi Allah, sebesar apapun amal itu.

Kita sudah mengetahui hal itu sejak lama. Namun, pada kenyataannya seringkali nilai-nilai keikhlasan itu terkikis, terkoyak, tercabik-cabik oleh berbagai ambisi dan kepentingan dunia. Ambisi terhadap kedudukan, pujian, sanjungan, pangkat dan jabatan. Orang rela mencurahkan segala energi dan potensinya, hanya demi mengejar popularitas dan ketenaran belaka.

Amal demi amal dia tumpuk. Kebaikan demi kebaikan dia kerjakan. Prestasi demi prestasi dia koleksi dan banggakan. Setiap jengkal bumi seolah menjadi saksi akan langkah dan segenap jasa yang dia berikan kepada umat manusia dan peradaban. Akan tetapi, Allah Yang Maha Mengetahui isi hati tidak bisa ditipu mengenai apa yang terdapat di dalam hatinya. Apakah dia seorang yang mukhlis/benar-benar ikhlas. Ataukah itu semuanya hanya topeng dan pemanis belaka…

Saudaraku yang dirahmati Allah, Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah menafsirkan tentang makna ahsanu amalan; amalan yang terbaik. Kata beliau, ahsanu ‘amalan itu adalah ‘akhlashuhu wa ashwabuhu’ yaitu yang paling ikhlas dan paling benar. Amal yang Allah terima adalah yang ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah, sedangkan benar maknanya jika ia berada di atas tuntunan/as-Sunnah. Poin yang ingin kita petik di sini adalah perihal keikhlasan…

Syi’ar orang-orang yang ikhlas itu adalah seperti yang Allah kisahkan perkataan mereka, “Sesungguhnya kami memberikan makanan kepada kalian demi mencari wajah Allah, kami tidak ingin balasan ataupun ucapan terima kasih.” Demikianlah syi’ar dan isi hati mereka. Tidak mengharapkan balasan dan imbalan dari manusia. Yang mereka inginkan adalah keridhaan Allah. Mereka juga tidak mencari sanjungan dan simpati massa. Sebab yang mereka cari adalah wajah Allah semata. Inilah potret keikhlasan yang sering kita lupakan.

Kita pun pernah mendengar kisah, tentang tiga orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat. Seorang mujahid, seorang yang berilmu dan pandai membaca al-Qur’an, dan seorang kaya yang suka memberikan bantuan dan kepedulian. Ketiga-tiganya harus menerima kenyataan pahit bahwa amal mereka ditolak di sisi Allah dan membuat mereka masuk ke dalam neraka.

Bukan karena amalan itu tidak sesuai Sunnah, bukan karena amalan itu kecil atau tidak memberikan manfaat untuk umat, bukan karena amalan itu remeh. Namun, karena amal-amal besar yang mereka lakukan telah tercabut dari akar keikhlasan. Amal dan kebaikan mereka hangus gara-gara tidak ditegakkan di atas niat yang ikhlas… Sungguh benar ucapan Abdullah bin al-Mubarok rahimahullah, “Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niatnya. Dan betapa banyak amal yang besar justru menjadi kecil juga karena niatnya.”

Marilah kita renungkan! Apa beda takbirnya orang yang ikhlas seratus karat dengan takbirnya orang yang munafik tulen? Apa bedanya? Tidak ada bedanya. Karena ucapan takbir ‘Allahu akbar’ ketika sholat diucapkan siapa pun, entah dia muslim atau munafik. Jadi, masalah ikhlas ini bukan masalah penampilan, tata-cara dan sifat fisik yang bisa ditangkap dengan indera. Ikhlas adalah persoalan hati. Sesuatu yang tertancap dan bergolak di dalam hati seorang insan.

Ikhlas ini harus berjuang mati-matian untuk bisa eksis dan berjaya di pentas pertarungan antara pasukan tauhid dan pasukan kemusyrikan, perang yang dahsyat antara brigade iman dengan gerombolan kekafiran, ikhlas harus menang dan mengatasi keadaan. Banyak musuh yang mengincarnya. Musuh mengetahui bahwa ikhlas itulah yang menjadi rahasia kemenangan dan gerbang keselamatan. Sebagaimana kisah Yusuf ‘alaihis salam yang begitu menyentuh dan menegangkan. Keikhlasan beliau adalah pintu cahaya Allah, kunci hidayah dan kesucian diri. Godaan wanita cantik dan berkedudukan tak berhasil menyeretnya dalam kenistaan.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, ikhlas selalu berada dalam incaran dan ancaman. Musuh mengintai dan terus mengawasi gerak-gerik hati. Sebisa mungkin mereka menargetkan agar hati itu terus terbuai oleh kenikmatan semu dan kebahagiaan palsu yang dibungkus dengan selebung ketenaran dan harumnya popularitas. Bahkan, setan berusaha menanamkan pikiran kepada si manusia bahwa jerih payah memburu popularitas inilah sejatinya cermin dari keikhlasan. Dia ingin memberikan wajah ikhlas kepada kesyirikan. Na’udzu billahi min dzalik.

Berbicara tentang ikhlas pun membutuhkan keikhlasan. Ikhlas dibutuhkan dimana pun dan kapan pun, oleh siapa pun. Oleh sebab itu, wajarlah jika Imam Bukhari rahimahullah menempatkan hadits innamal a’malu bin niyaat; bahwa amal dinilai dengan niatnya di bagian awal kitab Sahihnya. Demikian pula Imam Abdul Ghani al-Maqdisi dalam kitabnya ‘Umdatul Ahkam serta Imam an-Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Shalihin dan al-Arbain an-Nawawiyah. Ini semua menunjukkan kepada kita tentang pentingnya meluruskan niat dan menjaga keikhlasan.

Sebagian ulama salaf bahkan mengatakan, “Tidaklah aku berjuang menundukkan diriku dengan perjuangan yang lebih berat seperti perjuangan untuk mencapai ikhlas.” Sebagian mereka juga mengatakan, “Ikhlas itu adalah ‘barang’ yang paling mahal.” Ada juga yang mengatakan, “Ikhlas sesaat adalah kunci keselamatan untuk selama-lamanya.” Ada pula yang menasihatkan, “Wahai jiwaku, ikhlaslah kamu niscaya kamu akan selamat.”

Pada hari kiamat nanti, di padang mahsyar, tatkala matahari didekatkan sejarak satu mil. Ketika itu manusia bermandikan peluh dan terjebak dalam genangan keringatnya masing-masing. Di saat itulah Allah berkenan memberikan naungan Arsy-Nya untuk sebagian hamba pilihan. Hamba-hamba yang menghiasi dirinya dengan rona keikhlasan dan semangat ketulusan. Diantara mereka itu adalah, “Seorang lelaki yang berzikir kepada Allah dalam kesendirian lalu mengalirlah air matanya.” Inilah air mata keikhlasan dan rasa takut kepada Allah. Ada juga “Seorang lelaki yang memberikan sedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” Ini semua adalah cerminan keikhlasan.

Penulis: Ari Wahyudi

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/22382-ikhlas-itukah-yang-anda-cari.html

Kisah Hidup Syaikh al-Albani, Pakar Hadits Abad Ini (2/2)

Di Perpustakaan Azh-Zhahirah

Perpustakaan azh-Zhahirah menjadi saksi kecintaan Syaikh al-Albani akan membaca dan menilit hadits. Perpustakaan yang merupakan salah satu pusat perbendaharaan ilmu Kota Damaskus itu, menyimpan ribuan arsip, karya tulis, dan buku-buku klasik. Bagi Syaikh al-Albani, perpustakaan ini adalah surga dunia, kegemarannya membaca bisa ia tumpah ruahkan di sana, di tengah ketidak-mampuannya membeli buku-buku.

 

Syaikh Al-Albani terus menyibukkan diri dengan ilmu hadits yang ia cintai. Kesibukan yang membuatnya tidak memiliki aktivitas lainnya. Bagi seorang yang kasmaran, tak ada rasa bosan duduk seharian bersama kekasihnya. Terbit dan terbenamnya matahri adalah detik-detik yang tak terasa. Begiulah keadaan Syaikh al-Albani dengan ilmu hadits. Ia duduk 18 jam sehari di perpustakaan azh-Zhahirah mengkaji, meneliti, memberikan komentar, dan men-tahqiq (penelitian ilmiah tentang suatu) riwayat-riwayat hadits. Waktu istirahatnya hanya jam shalat. Karena kesungguhan dan keseriusannya itu, pegawai perpustakaan memberikan ruang khusus untuknya. Agar ia lebih konsentrasi dalam kegiatan ilmiahnya (Hayatu al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana-u al-Ulama ‘Alaihi oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani, Hal: 51-52).

Jika Anda melihat orang sukses atau ahli di bidang tertentu, jangan hanya kagum dengan pencapaian mereka. Lihatlah bagaimana usaha mereka mendapatkannya. Mereka mendapatkannya dengan kesungguhan dan jerih payah. Syaikh al-Albani duduk membaca 18 jam sehari bahkan lebih. Sehingga ia mencapai kedudukannya sekarang. Berapa lama waktu yang Anda habiskan untuk membaca dalam sehari? Atau berlatih melakukan suatu bidang yang Anda tekuni?

Al-Mutanabbi mengatakan,

لَوْلا المَشَقّةُ سَادَ النّاسُ كُلُّهُمُ؛            ألجُودُ يُفْقِرُ وَالإقدامُ قَتّالُ

Kalau bukan karena rintangan, semua orang akan jadi tokoh yang sukses.
Kedermawanan bisa menyebabkan kemiskinan. Dan maju ke medan perang mengundang kematian.

Penjara Yang Sama dengan Ibnu Taimiyah

Di sela-sela kesibukkannya menelaah buku-buku dan menulis, Syaikh al-Albani rahimahullah juga meluangkan waktu untuk berdakwah. Dalam satu perjalanan dakwahnya, terjadilah dialog dan diskusi antara dirinya dengan ulama dan imam-imam masjid. Hingga akhirnya ia dicap sebagai seorang Wahabi yang sesat. Para imam-imam masjid menyuarakan pengingkaran terhadap al-Albani di mimbar-mimbar masjid. Hingga ia diboikot dari menyampaikan pelajaran di masjid-masjid Damaskus, Aleppo, Latakia, dan kota-kota Suriah lainnya.

Desas-desus tentang Syaikh al-Albani semakin liar, hingga ia difitnah hendak melakukan makar terhadap pemerintah. Kontan, pemerintah Suriah yang sangat sensitif dengan isu ini segera menahannya. Al-Albani pun mendekam di penjara Damaskus pada tahun 1967. Penjara yang sama dengan Ibnu Taimiyah rahimahullah. Saat di penjara, ia menegakkan kembali shalat berjamaah dan Jumat yang telah hilang di sana. Ada yang mengatakan, tidak lagi ditegakkan shalat jamaah dan Jumat setelah masa Ibnu Taimiyah hingga al-Albani masuk penjara (Hayatu al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana-u al-Ulama ‘Alaihi oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani, Hal: 51-52).

Perjalanan Dakwah Sang Ulama

Syaikh al-Albani hampir mengunjungi semua kota di Suriah dalam rangka kunjungan dakwah. Aleppo, Idlib, Latakia, Hama, Homs, dll sudah ia hampiri. Ia juga pernah datang ke wilayah-wilayah di Jordania, Libanon, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, Palestina, Mesir, Maroko, Spanyol, dll.

Dalam setiap kunjungan tersebut Syaikh al-Albani selalu memberikan ceramah, menjawab pertanyaan, dan memberikan fatwa. Biasanya kegiatan-kegiatan itu didokumentasikan dalam bentuk kaset. Selain ceramah secara non formal, Syaikh al-Albani juga memiliki pengalaman mengajar secara formal. Seperti menjadi staf pengajar Universitas Islam Madinah dari awal tahun 1381 H/1961 M sampai akhir tahun 1383 H/1964 M.

Metode dakwahnya tidak hanya dilakukan secara tatap muka, beliau juga sering menjawab pertanyaan-perntanyaan melalui surat dan telepon.

Beliau pernah shalat di Masjid al-Aqsha. Dan berkunjung ke Granada menghadiri Muktamar ath-Thalabah al-Muslimin.

Ada beberapa sunnah yang di masa hidupnya terasa begitu asing, namun beliau populerkan kembali sunnah-sunnah tersebut. Seperti mengerjakan dua shalat Id (Idul Adha dan Idul Fitri) di lapangan. Beliau populerkan hal itu di Damaskus dan Beirut. Kemudian sunnah aqiqah, shalat tarawih di malam Ramadhan dengan 11 rakaat, membaca khotbah hajah pada khotbah Jumat, jilbab yang syar’i, mengingatkan umat agar tidak membangun masjid di atas kuburan dan shalat di dalam masjid yang demikian. Di tahun 60-an tentu sunnah-sunnah tersebut belum dikenal seperti sekarang. Bahkan saat ini, sebagian sunnah itu pun masih terasa asing.

Beliau juga memotivasi para pemuda agar memberi perhatian besar terhadap pengkajian sunnah. Kemudian menciptakan sarana-sarana modern untuk memudahkan masyarakat mempelajari hadits-hadits Nabi ﷺ  (A’lam ad-Da’wah Muhammad Nashiruddin al-Albani Muhaddits al-‘Ashr Nashir as-Sunnah oleh Abdullah al-Aqil, Hal: 1063-1064).

Faidah yang dapat kita petik adalah walaupun Sunnah Nabi ﷺ dianggap asing, mulailah dulu melakukannya. Seiring waktu, masyarakat akan mengenalnya.

Menjalin Hubungan Dekat Sesama Ulama

Syaikh al-Albani bertemu dengan banyak ulama dan penuntut ilmu. Beliau belajar dari mereka dan juga sebaliknya. Al-Albani bertemu dan memberi ijazah sanad kepada sejarawan dan muhadits Aleppo, Syaikh Raghib ath-Thabbakh (A’lam ad-Da’wah Muhammad Nashiruddin al-Albani Muhaddits al-‘Ashr Nashir as-Sunnah oleh Abdullah al-Aqil, Hal: 1062).

Beliau juga pernah bertemu Syaikh Hamid al-Faqi ketua Jam’iyah Anshar as-Sunnah al-Muhammadiyah di Mesir dan al-Muadditsh al-Muhaqqiq Ahmad Syakir.

Syaikh al-Albani memiliki hubungan spesial dengan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah. Keduanya kadang kala berdiskusi dan saling menyurati.

Dan banyak ulama-ulama lainnya yang pernah bertemu dan memiliki hubungan dekat dengannya. Tidak hanya berasal dari Jazirah Arab, tapi ada juga yang berasal dari India, Turki, Syam, Mesir, Maroko, dll (Hayatu al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana-u al-Ulama ‘Alaihi oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani, Hal: 64-73).

Kepakaran Dalam Bidang Hadits

Seseorang dikatakan seorang ahli, pakar atau maestro dalam suatu bidang dilihat dari karyanya dalam bidang yang ia geluti. Syaikh al-Albani rahimahullah memiliki banyak karya ilmiah dan penelitian dalam bidang hadits. Karya-karyanya tersebar di penjuru dunia dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Banyak da’i dan pelajar ilmu agama yang mengambil faidah dari karya-karyanya. Ia pun menjadi rujukan utama, khususnya dalam bidang hadits.

Kepakarannya diakui berbagai kalangan. Di antaranya:

Pertama: Fakultas Syariah Universitas Damaskus memilihnya sebagai orang yang mengecek status sebuah hadits pada Mausu’ah al-Fiqh al-Islami (Ensiklopedi Hukum Islam), khusus bab perdagangan. Universitas menjadikan hasil penelitiannya itu sebagai standarisasi status sebuah hadits pada tahun 1955.

Kedua: Universitas as-Salafiyah di Kota Varnasi, India, memintanya sebagai mentor syaikh-syaikh universitas dalam bidang hadits. Namun Syaikh al-Albani tidak menyanggupi permintaan tersebut.

Ketiga: Pada tahun 1395 H/1975 M sampai 1398 H/1978 M, melalui permintaan Raja Khalid bin Abdul Aziz (Raja Arab Saudi kala itu) meminta Syaikh al-Albani menjadi anggota dewan guru besar (dewan senat) Universitas Islam Madinah.

Kelima: Dewan Fatwa di Riyadh, Arab Saudi, menugaskannya ke Mesir, Maroko, dan Inggris mengadakan kuliah tentang akidah tauhid dan metode beragama Islam yang benar.

Dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan ilmiah Syaikh al-Albani. Semuanya merupakan pengakuan tentang kepakarannya dari lembaga-lembaga besar Islam hingga tingkat internasional (Hayatu al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana-u al-Ulama ‘Alaihi oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani, Hal: 75-76).

Karya Ilmiah

Syaikh al-Albani adalah seorang ulama yang produktif. Banyak karya ia lahirkan dalam rangka berkhidmat memperjuangkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Karya-karya itum masih bisa kita nikmati hingga hari ini. Lebih dari 100 karya ilmiah ia hasilkan. Ada yang murni tulisannya, ada yang merupakan tahqiq (penelitian ilmiah secara seksama tentang status suatu hadits: shahih, hasan, dhaif, atau maudhu), ta’liq (komentar), dan takhrij (menisbatkan hadits pada sumbernya).

Di antara karya-karyanya adalah:

  1. Adabu az-Zifaf fi Sunnati al-Muthahharah.
  2. Ahadits al-Isra wa al-Mi’raj.
  3. Ahkam al-Jana-iz.
  4. Irwa-u al-Ghalil fi Takhrij Ahadits Manar as-Sabil.
  5. Al-As-ilatu wa al-Ajwibah.
  6. Shifatu Shalat an-Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam min at-Takbir ila at-Taslim Ka-annaka Taraha.
  7. Shahih wa Dha’if al-Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatuhu.
  8. Shahih as-Sirah an-Nabawiyah.
  9. Shahih wa Dha’if at-Targhib wa at-Tarhib.
  10. Jilbab al-Mar-ah al-Muslimah.
  11. Silsilatu al-Ahadits ash-Shahihah wa Syaiun min Fiqhiha wa Fawa-iduha.
  12. Silsilatu al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah wa Atsaruha as-Sayyi’ fi al-Ummah.
  13. Manzilatu as-Sunnah fi al-Islam.

Ini beberapa karya ilmiahnya. Bagi Anda yang pernah membaca salah satunya, Anda akan menemukan metodologi yang berbeda dengan penulis-penulis lainnya. Karena kita akan menikmati kajian periwayat-periwayat hadits dalam catatan-catatan kakinya. Di situlah terasa gaya penulisan seorang ahli hadits.

Pujian Ulama Terhadapnya

Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata, “Al-Albani adalah seorang reformis abad ini dalam ilmu hadits.”

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin memujinya dengan mengatakan, “Sesungguhnya al-Albani memiliki ilmu yang luas dalam bidang hadits, dirayat dan riwayat-nya. Dialah pakar hadits abad ini.”

Al-Muhaqqiq Muhibuddin al-Khatib mengatakan, “Sesungguhnya al-Albani adalah orang yang menyeru kepada sunnah. Ia mendermakan hidupnya untuk beramal dan menghidupkan sunnah (hadits Nabi ﷺ).

Syaikh Ali ath-Thanthawi mengatakan, “Syaikh Nashiruddin al-Albani lebih berilmu dariku dalam permasalahan hadits. Aku menaruh hormat padanya karena kesungguhannya, semangatnya, dan banyaknya karya tulisnya yang dicetak oleh saudaraku sekaligus orang tuaku (ucapan penghormatan) Zuhair asy-Syawisy. Aku merujuk pada Syaikh Nashir dalam permasalahan hadits dan aku tidak mempertanyakannya karena mengetahui keutamaannya (dalam permasalahan hadits) (A’lam ad-Da’wah Muhammad Nashiruddin al-Albani Muhaddits al-‘Ashr Nashir as-Sunnah oleh Abdullah al-Aqil, Hal: 1068).

Menggabungkan Ilmu dan Amal

Syaikh al-Albani adalah orang yang sangat bersemangat menyelaraskan praktik ibadah dengan sunnah Nabi ﷺ. Baik dalam tata cara ibadah tersebut, jumlahnya, dan waktunya. Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin mengatakan, “Yang aku kenal dari Syaikh al-Albani dari perjumpaanku dengannya, ia adalah seorang yang sangat bersemangat menyelaraskan amal dengan sunnah dan mengkritik bid’ah. Baik dalam hal akidah atau amal ibadah”.

Tidak jarang ketika mendengar lantunan Alquran atau hadits Nabi ﷺ tentang janji dan ancaman Allah, Syaikh al-Albani menangis. Alquran dan hadits begitu mudah menyentuh hatinya.

Di antara kebiasaan Syaikh al-Albani adalah merutinkan puasa Senin dan Kamis. Saat musim dingin maupun di musim panas. Kecuali apabila ia sakit atau sedang bersafar. Saat memasuki hari Jumat, ia senantiasa shalat dua rakaat, dua rakaat, hingga khotib naik ke mimbarnya. Ia berhaji dan berumrah setiap tahun, jika tidak ada yang menghalanginya. Terkadang beliau berumrah dua kali dalam setahun. Ia berhaji sebanya 30 kali (al-Imam al-Albani Durus wa Mawaqif wa ‘Ibar oleh Abdul Aziz bin Muhammad as-Sadhan, Hal: 88).

Tentu haji ketika itu tidak seperti sekarang. Sehingga lebih memungkinkan dilakukan berulang kali.

Murid-Muridnya

Murid-murid Syaikh al-Albani tersebar luas di dunia Islam. Beberapa yang masyhur di antara mereka adalah:

  • Syaikh Muqbin bin Hadi al-Wadi’i,
  • Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu,
  • Syaikh Husein al-Awaisyah,
  • Syaikh Ali Hasan al-Halaby,
  • Syaikh Masyhur Hasan Salman,
  • Syaikh Salim bin Id al-Hilay,
  • Syaikh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani,
  • Syaikh Hamdi bin Abdul Majid as-Salafy, dll (Hayatu al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana-u al-Ulama ‘Alaihi oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani, Hal: 94-106).

Wafatnya Sang Mujaddid

Di akhir hayatnya, Syaikh al-Albani menderita beberapa penyakit. Dengan keadaan itu, beliau tetap sabar dan berharap pahala dari Allah ﷻ. Di antara penyakit yang beliau idap adalah Anemia, gangguan hati dan ginjal. Kondisi ini tidak membuatnya beristirahat. Ia tetap meneliti dan mengkaji hadits. Sampai-sampai ketika tidur, orang-orang mendengarnya mengigau, “Berikan aku buku al-Jarh wa at-Ta’dil, juz sekian dan halaman sekian” dan ia menyebut nama-nama buku yang lain.

Hal itu dikarenakan semangatnya dalam membaca dan meneliti. Hingga dalam buku-buku itu terbawa ke dalam mimpi (Shafahat Baidha min Hayati al-Albani oleh Athiyah Audah, Hal: 93-94).

Setelah mengisi hidupnya dengan ilmu, amal, dan dakwah, juga mengidap beberapa penyakit, Syaikh al-Albani pun wafat. Beliau wafat pada hari Sabtu 22 Jumadil Akhir 1420 H/ 2 Oktober 1999 M. Pada hari itu pula prosesi jenazahnya diselesaikan. Hal ini merupakan wasiatnya agar menyegerakan pemakamannya. Karena yang demikianlah yang terbaik menurut tuntunan (sunnah) Nabi ﷺ. Muridnya, Muhammad bin Ibrahim Syaqrah menjadi imam shalat jenazahnya. Beliau dimakamkan setelah shalat Isya (al-Imam al-Albani Durus wa Mawaqif wa ‘Ibar oleh Abdul Aziz bin Muhammad as-Sadhan, Hal: 292).

Semoga Allah merahmati Syaikh al-Albani dengan rahmat yang luas. Menempatkannya di surga-Nya yang tertinggi. Membalas jasa-jasanya berkhidmat kepada Sunnah Nabi ﷺ.

Sumber:
– islamstory.com/ar/islamstory.com/ar/

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Read more https://kisahmuslim.com/5674-kisah-hidup-syaikh-al-albani-pakar-hadits-abad-ini-22.html

Kisah Hidup Syaikh al-Albani, Pakar Hadits Abad Ini (1/2)

Kali ini, kita membuka lembaran kisah tentang seorang pakar ilmu hadits. Seorang yang menghidupkan Sunnah Nabi, membelanya, dan menghibahkan usia untuknya. Ia habiskan hari-hari untuk membela Sunnah dari para pengikut hawa nafsu dan pembuat ajaran baru. Sosok ulama hadits dalam arti yang sebenarnya terperankan oleh dirinya. Dialah Syaikh al-Imam al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah. Yang lebih kita kenal dengan Syaikh Nashiruddin al-Albani.

Nasab Syaikh al-Albani

Nama beliau adalah Muhammad bin Nuh bin Adam bin Najati al-Albani. Ia dilahirkan para tahun 1332 H/1914 M di Kota Shkodër, ibu kota Albania kala itu. Allah menganugerahkannya nikmat lahir di lingkungan keluarga yang taat dan akrab dengan ilmu agama. Ayahnya, Nuh bin Adam, merupakan alumni al-Ma’had asy-Syar’iyah di ibu kota Daulah Utsmaniyah, Istanbul. Setelah menyelesaikan pendidikan di sana, sang ayah kembali ke Albania. Berkhidmat kepada umat dengan mengajarkan mereka agama. Sampai akhirnya ia dikenal sebagai ulama besar Albania dan rujukan kaum muslimin di negeri Balkan itu (Hayatu al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana-u al-Ulama ‘Alaihi oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani, Hal: 44).

Hijrah ke Negeri Syam

Pada tahun 1922-1939, Albania dipimpin oleh seorang raja sekuler yang mengidolakan modernitas ala Eropa. Namanya Ahmad Mukhtar Zogoli atau Zog I atau Zogu. Di dua tahun pertama kekuasaannya, ia mulai mengubah Albania Islam menjadi lebih beraroma barat sekuler. Ia meniru langkah Kemal Ataturk dalam me-westernisasi Turki dan menyingkirkan Kerajaan Ottoman pada tahun 1343 H/1924 M. Zogu menyusun undang-undang sekuler untuk masyarakat Albania. Ia tetapkan aturan yang memaksa muslimah melepaskan hijabnya. Mewajibkan militer memakai topi dan celana panjang ala Eropa. Dan segala sesuatu yang berbau Arab diganti dengan kultur barat.

Menariknya, langkah sekulerisasi di berbagai negeri, mirip bahkan tak jauh berbeda sehingga mudah terbaca. Segala sesuatu yang berbau Arab diganti atas nama nasionalisme dan menjaga budaya lokal. Syariat dianggap adat, kemudian dilarang mengamalkannya.

Sekulerisasi yang dilakukan Zogu membuat ayah Syaikh al-Albani mengambil sikap. Ia khawatir agamanya dan anggota keluarga rusak gara-gara terhembus korosit sekuler. Ia berazam untuk hijrah ke negeri Islam yang lebih menangkan hati. Dibawanyalah anggota keluarganya menuju Syam. Tepatnya di ibu kota Suriah, Damaskus. Saat itu al-Alabani baru berusia 9 tahun.

Mengkaji Ilmu

Al-Albani kecil baru saja tiba di salah satu negeri Arab. Anak Eropa ini sama sekali tidak mengetahui bahasa masayarakat padang pasir itu. Ia pun mulai mempelajari bahasa ini di Madrasah al-Is’af al-Khoriyah. Kemudian pindah ke sekolah lain di Pasar Sarujah, Damaskus, karena sekolah pertamanya itu mengalami musibah kebakaran. Di tempat ini, al-Albani menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya dalam masa 4 tahun. Rasa cintanya terhadap bahasa Alquran ini kian berbinar di hati. Kemahirannya diakui dan mengalahkan teman-temannya, anak-anak Suriah asli.

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran, al-Albani yang berasal dari Albania tidak mengetahui sama sekali tentang bahasa Arab. Namun ia bisa mahir memahami bahasa itu. Bahkan di kemudian hari menjadi seorang ahli hadits. Anda yang ingin mempelajari bahasa Arab jangan patah semangat dan mundur menyerah. Tidak kurang dari 1.495 kata bahasa Indonesia diserap dari bahasa Arab. Artinya, kita masyarakat Indonesia ‘tidak buta-buta amat’ tentang bahasa Arab.

Al-Albani kecil telah tumbuh remaja. Ia mulai menemukan kegemaran lain pada dirinya. Yaitu membaca. Namun selera membacanya masih begitu umum. Ia suka membaca Syair-syair Antharah bin Syaddad. Kisah detektif Arsene Lupin. Dan kisah-kisah detektif lainnya (Ahdats Mutsirah fi Hayati asy-Syaikh al-Alamah al-Albani oleh Muhammad Shalih al-Munajjid, Hal: 9). Inilah perjalanan awal kehidupan al-Albani dalam dunia membaca dan menimba ilmu.

Seiring berjalannya waktu, konten bacaan al-Albani pun berubah. Dari bacaan masyarakat awam beralih memperdalam ilmu agama. Hal itu bermula ketika sang ayah melihat sesuatu yang buruk –dari sisi agama- di sekolah negeri. Ayah al-Albani pun memutus sekolah putranya. Ia menyediakan waktu khusus untuk mendidik anaknya dengan pelajaran Alquran, tauhid, sharf, dan fikih Madzhab Hanafi (Hayatu al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana-u al-Ulama ‘Alaihi oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani, Hal: 9).

Ada saja jalan yang Allah ﷻ takdirkan bagi mereka yang Dia kehendaki kebaikan. Memalingkan mereka dari yang tidak bermanfaat menuju kepada yang manfaat. Dan kebaikan yang paling baik adalah memahami dan mengamalkan agama ini.

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْـرًا يُـفَـقِـهْهُ فِي الدِّيْنِ .

“Barang siapa yang dikehendaki kebaikannya oleh Allah, Dia akan menjadikannya mengerti tentang (urusan) agamanya.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (no. 71, 3116, 7312), Muslim (no. 1037), Ahmad (IV/92, 95, 96), dll).

Selain belajar dengan sang ayah, al-Albani juga belajar dari banyak guru dan ulama yang merupakan kolega ayahnya. Seperti: mengkaji kitab fikih Hanafi, Muraqi al-Falah Syarh Nur al-Idhah bersama Syaikh Muhammad Said al-Burhani. Mempelajari kaidah-kaidah bahasa Arab, terutama bersama Syaikh Izuddin at-Tanukhi (Shafahat Baidha min Hayati al-Albani oleh Athiyah Audah, Hal: 22, 71-72).

Ulama Pun Bekerja Mencari Nafkah

Sambil menyibukkan diri dengan ilmu agama, al-Albani meluangkan sebagian waktunya untuk menghidupi diri. Tentu ini langkah yang bijaksana. Agar di kemudian hari, ketika terjun di dunia dakwah, ia tidak menjadikan dakwah sebagai sumber mata pencariannya.

Tukang Kayu

Pekerjaan pertama yang dilakukan oleh al-Albani adalah menjadi tukang kayu. Ia bekerja dengan pamannya dan seorang warga Suriah yang dikenal dengan Abu Muhammad. Pekerjaan ini ia geluti selama dua tahun. Kemudian karena dirasa melelahkan, menghabiskan banyak waktu dan tenaga, al-Albani pun meninggalkan pekerjaan ini.

Reparasi Jam

Di musim panas, tukang kayu tidak mendapat pekerjaan. Pada waktu itu, al-Albani lewat di depan toko ayahnya. Sang ayah sedang mereparasi jam. Ayahnya menyarakannya agar ia memanfaatkan waktu dengan mereparasi jam. Ia pun menerima saran sang ayah. Profesi baru itu ia jalani dengan sungguh-sungguh, hingga ia terkenal sebagai tukang reparasi jam yang handal.

Profesi baru ini tidak memakan banyak tenaga dan waktu. Sehingga waktu-waktunya bisa ia sibukkan dengan belajar agama (Hayatu al-Albani wa Atsaruhu wa Tsana-u al-Ulama ‘Alaihi oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani, Hal: 48).

Mempelajari Ilmu Hadits

Pada saat menginjak usia 20 tahun, al-Albani mulai menyukai ilmu hadits. Ia terinspirasi dari kajian hadits di Majalah al-Manar yang diasuh oleh Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah.

Syaikh al-Albani menceritakan bahwasanya ia tertarik membaca riwayat-riwayat sejarah. Suatu hari, ia melihat di tumpukan buku seorang pedagang buku, satu pembahasa dari Majalah al-Manar. Ia baca komentar Syaikh Rasyid Ridha terhadap buku Ihya Ulmuddin yang ditulis oleh Imam al-Ghazali rahimahullah. Dalam pembahasan tersebut Syaikh Rasyid Ridha mengutip komentar al-Hafizh al-Iraqi terhadap Ihya Ulumuddin. Al-Iraqi mengomentari dan memilah mana hadits yang shahih dan mana yang dhaif. Kemudian mengumpulkannya dalam al-Mughni ‘an Hamli al-Asfar fi al-Asfar fi Takhrij ma Fi al-Ihya mi al-Akhbar.

Karya al-Iraqi ini menarik perhatian al-Albani. Ia pun mengadakan kajian hadits terhadap kitab tersebut. Sebuah kajian yang memberinya jalan memperdalam ilmu-ilmu lainnya. Seperti: ilmu bahasa, balaghah, gharib al-hadits, dll. Itulah kajian ilmiah pertamanya dalam bidang hadits. Kajian ini bagai candu yang membuat al-Albani terus bersemangat meniliti hadits-hadits lainnya.

Bagi al-Albani, ilmu hadits menjadi jalan yang membuka cabang-cabang keilmuan lainnya. Dan ia terus mengenang Syaikh Rasyid Ridha sebagai wasilahnya dalam mempelajari ilmu hadits.

Sumber:
– islamstory.com/ar/islamstory.com/ar/

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

 

Read more https://kisahmuslim.com/5668-kisah-hidup-syaikh-al-albani-pakar-hadits-abad-ini-12.html

Wanita Dan Perdukunan

Di era global saat ini, tak sedikit kaum Hawa yang memanfaatkan jasa dukun atau paranormal untuk kesuksesan bisnisnya, biar disayang suami, atau ingin cantik spontan dengan cara yang mudah dan cepat. Lemahnya iman dan minimnya bekal agama telah mendorongnya mencari jalan pintas terlarang. Meski untuk menempuh jalan ini mereka harus berkubang dalam kemusyrikan.

Inilah fenomena tragis yang melanda kaum muslimin. Lebih parah lagi, para penjaja kesyirikan ini terang-terangan “go public”, baik melalui media elektronik, jejaring sosial, maupun cerita dari mulut ke mulut tentang “kehebatan” seorang dukun.

Realita ini semakin menjamur ketika praktik perdukunan ini dibungkus dengan istilah pengobatan islami. Tampilan sang dukun terkesan lebih santun dengan jubah, jenggot, dan berbagai atribut keislaman, seperti menggunakan ayat-ayat Al-Qur`an. Dengan kondisi ini, banyak orang tertipu, sebagaimana kesaksian seorang wanita bernama Nurul Fitriah-Hongkong: “Sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak kepada pak ustadz karena tanpa ajian nirwana mungkin saya tidak seperti saat ini. Majikan tambah baik dan tidak kasar. Saya dianggap sebagai keluarga sendiri, selalu dikasih bonus. Di kampung, saya sekarang sudah bisa beli sawah, rumah, dan tempat usaha untuk keluarga. Bahkan, tiap minggu pasti saya libur. Sampai-sampai, teman saya pada iri melihat majikan saya yang berubah 180 derajat, karena dulu sadisnya minta ampun. Bahkan, dulu saya sempat mau kabur dan bunuh diri. Tapi setelah konsultasi sama pak ustadz, sekarang semuanya berubah.” (Membongkar Tipu Daya Dukun Sakti Berkedok Wali, Ust. Zainal Abidin bin Syamsyuddin, hlm. 55).

Hakikat dukun, paranormal, kyai sakti, atau sebutan lainnya adalah orang yang mengaku-ngaku memiliki kelebihan meramal, menerawang hal yang gaib dan kekuatan linuwih yang ia peroleh dari bantuan jin melalui ritual-ritual kesyirikan atau dengan matra-mantra tertentu, azimat, benda keramat, dan lainnya.
Disebutkan dalam hadits, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al-Qur`an yang telah diturunkan pada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Ahmad no. 9532, Syaikh Syu’aib al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Seorang muslimah harus berhati-hati dan jangan mudah terpedaya dengan praktik perdukunan, meski dengan label islami sekalipun. Perkuat keimanan dan keyakinan bahwa hanya Allah lah satu-satunya yang mengetahui perkara gaib. Allah Ta’ala telah berfirman,

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (QS. An-Naml : 65)

Wanita muslimah hendaklah menjauhi teman-teman yang hobi ke dukun agar tidak terpengaruh olehnya, karena perdukunan merupakan salah satu pembatal keislaman. Sungguh masih banyak cara-cara penyelesaian suatu masalah yang bisa ditempuh dan tidak melanggar syariat. Seorang yang sakit, maka bisa diobati dengan terapi bekam, mengonsumsi habbatussauda, madu, dan berbagai ramuan herbal lainnya yang terbukti bermanfaat. Bisa juga dengan pengobatan medis melalaui dokter yang berkompeten.

Ketika bisnis kian suram, cobalah lebih mengevaluasi diri, mungkin faktor sedekah yang kurang atau dengan mengikuti pelatihan bisnis, memperbaiki manajemen, atau kiat lain yang tidak melanggar syariat. Ketika Anda merasa dizalimi orang lain, jangan lantas ke dukun. Namun, lakukan pendekatan diri pada orang tersebut lalu bicara dengan baik-baik, serta lakukan banyak kebaikan. Tidak lupa, iringi doa pada setiap kebutuhan kita.

Teruntuk muslimah agar lebih disayang suami maka lebih mendekatlah kepada Allah, perbanyak amal shalih, tampilkan akhlak mulia, seperti rendah hati, ramah, menghargai, dan lainnya. Jangan pernah percaya dengan kehebatan minyak pelet, susuk bertuah, pelaris, santet, tenung, gendam, kekebalan, dan lain sebagainya dari produk-produk kesyirikan.
Allah Ta’ala telah mengingatkan,

وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا

Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 60)

Referensi:
– Membongkar Tipu Daya Dukun Sakti Berkedok Wali, Zainal Abidin, Pustaka Imam Bonjol, Jakarta, 2014.
– Mutiara Faidah Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad at-Tamimi, penyusun Abu Isa Abdullah bin Salam, LBI al-Atsary, Yogyakarta, 1426H.
– Kitab Tauhid 3, Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-fauzan, Darul Haq, Jakarta, 2002.
Penulis: Isruwanti Ummu Nashifah
Muraja’ah: Ustadz Yulian Purnama

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/11290-wanita-dan-perdukunan.html

Muhammad bin Sirin, Tabi’in Yang Utama

Selalu banyak ibroh dari perjalanan kehidupan seorang shaleh. Tindakan mereka adalah teladan. Ucapan mereka tuntunan. Bahkan takdir yang mereka alami pun membuahkan faidah pelajaran. Seorang tabi’in (murid para sahabat Nabi) yang bernama Muhammad bin Sirin rahimahullah adalah salah satu di antara mereka.

Ayahnya masuk ke wilayah Islam dengan status seorang budak tawanan perang. Tapi dari sanalah jariyah sang ayah dilahirkan. Anaknya, Muhammad, hidup di tengah sahabat Rasulullah. Terlahir dengan status sebagai anak budak menyandang status sosial terendah. Kemudian melejit melampaui bintang tsurayya di langit sana. Sang anak menjadi seorang faqih, ahli hadits, dan Syaikhul Islam. Inilah di antara kejaiban-keajaiban takdir Allah untuk manusia.

Kisah Awal Kehidupan

Muhammad bin Sirin al-Anshari al-Anasi al-Bashri berkun-yah Abu Bakr. Ia adalah seorang imam panutan dan Syaikhul Islam. Ayahnya adalah bekas sahaya Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Anas membelinya dari Khalid bin al-Walid yang menawannya di Ain at-Tamr di gurun pasir Irak dekat al-Anbar. Anas menjanjikan kebebasan bagi budaknya itu bila ia mampu membayar sejumlah uang. Sirin pun berhasil melunasinya hingga menjadi seorang yang merdeka. Adapun Ibu Muhammad bin Sirin bernama Shaffiyah. Sang ibu pernah menjadi sahaya Abu Bakar.

Nasab dan status sosial rendah tidak menghalangi seseorang dari kemuliaan. Kedua orang tua Muhammad bin Sirin adalah bekas budak, namun sang anak menjadi tokoh terkemuka. Diingat hingga sekarang, belasan abad lamanya. Siapa yang nasabnya tinggi, memiliki jabatan dan kedudukan, tapi jauh dari ketakwaan, hal itu hanyalah kebanggaan yang tak bermanfaat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ومن بطع به عمله لم يسرع به نفسه

“… Siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya.” (HR. Muslim, No. 6299).

Anas bin Sirin -saudara Anas- berakta, “Saudaraku, Muhammad, dilahirkan dua tahun sebelum kekhalifahan Umar berakhir. Sedangkan aku dilahirkan satu tahun setelahnya.” (Adz-Dzahabi: Siyar A’lam an-Nubala, 4/606).

Mengenal Muhammad bin Sirin

Diriwayatkan oleh Ibnu Saad dalam Thabaqat-nya bahwa Muhammad bin Sirin adalah seorang yang sibuk setiap harinya (Ibnu Saad: ath-Thabaqat al-Kubra, 7/149). Beliau adalah seorang yang sering was-was. Sampai-sampai kalau berwudhu, ia mencuci kakinya hingga betis (Adz-Dzahabi: Siyar A’lam an-Nubala, 4/618).

Di zaman dulu, orang-orang membuat stempel (bisa mewakili tanda tangan) dengan cincin yang mereka pakai. Karena itu, cincinnya biasanya diberi nama. Muhammad bin Sirin pun demikian. Ia menamai cincinnya dengan kun-yahnya Abu Bakr. Dan ia kenakan cincin itu di tangan kirinya (Adz-Dzahabi: Siyar A’lam an-Nubala, 4/618). Ia juga terbiasa menggunakan syal. Di musim dingin ia memaki jubah putih, imamah putih, dan pakaian dari kulit hewan (Ibnu Saad: ath-Thabaqat al-Kubra, 7/153). Sulaiman bin al-Mughirah mengatakan, “Aku melihat Ibnu Sirin mengenakan pakaian tebal, syal, dan imamah (Ibnu Saad: ath-Thabaqat al-Kubra, 7/153).

Kehati-hatian Dalam Mencari Rezeki

Dari as-Sirri bin Yahya, ia berkata, “Muhammad bin Sirin pernah meninggalkan nilai keuntungan 40.000 dalam suatu permasalahan yang masih diperselisihkan oleh seorang ulama.” (Ismail al-Ashbahani: Siyar Salaf ash-Shalih. Tahqiq Dr. Karom bin Hilmi. Cet. Dar ar-Rayah li an-Nasyr wa at-Tauzi, Riyadh. Hal: 920).

Terkadang ada suatu permasalahan yang diperselisihkan hukum fikihnya. Apakah ini mubah atau makruh. Kasus lainnya, ini makruh atau haram. Dalam kasus Muhammad bin Sirin, banyak ulama menyebutkan keuntungan dari usaha yang ia lakukan adalah sah. Namun ada minoritas ulama yang menyebutkan cara memperoleh keuntungan tersebut adalah cara yang tidak sah. Artinya, keabsahannya diperselisihkan. Walaupun dominannya menyatakan sah. Tapi untuk kehati-hatian Muhammad bin Sirin lebih memilih meninggalkannya.

Kerendahan Hati

Muhammad bin sirin adalah seseorang yang dikenal memiliki kemampuan menafsirkan mimpi. Suatu hari Ma’mar berkata, “Ada seseorang yang datang menemui Ibnu Sirin. Ia berkata, ‘Aku melihat dalam mimpiku ada seekor merpati memakan mutiara. Keluarlah dari merpati itu sesuatu yang lebih besar dari apa yang dia makan. Aku lihat merpati lain yang juga memakan Mutiara. Kemudian keluar sesuatu yang lebih kecil dari apa yang dia makan. Setelah itu, kulihat merpati lain memakan Mutiara. Kemudian keluar darinya sesuatu yang sama besarnya dengan yang ia makan.” Muhammad bin Sirin berkata, “Yang pertama, itu adalah al-Hasan. Ia mendengar hadits dan ia perbagus pengucapannya. Kemudian ia dapatkan hikmah-hikmahnya. Adapun yang kecil, itu adalah aku. Aku mendengar hadits, namun aku lupa hadits tersebut. Adapun yang keluar sama dengan yang masuk, itu adalah Qatadah. Ia adalah orang yang paling kuat hafalannya.” (Khalid ar-Ribath/Sayid Azat Id: al-Jami’ li Ulumi al-Imam Ahmad, 18/469).

Mimpi Ma’mar ini ditafsirkan oleh Muhammad bin Sirin dengan bagaimana para pewarta (perawi) hadits tatkala menerima hadits. Di antara nama yang beliau sebutkan adalah al-Hasan al-Bashri, Qatadah bin Di’amah as-Sadusi, dan beliau sendiri. Yang paling terbaik dalam menerima hadits adalah al-Hasan. Ia hafal teksnya secara utuh. Dan mampu memahami kandungannya dengan baik. Sementara Qatadah di bawah al-Hasan. Dan ia sendiri menyatakan bahwa dua tabi’in tersebut lebih baik darinya.

Berbakti Pada Ibu

Diriwayatkan dari Muhammad bin Sirin sendiri bahwa setiap ibunya memandang dan berbicara dengannya, pasti ia menunduk dan merendah pada ibunya (Ismail al-Ashbahani: Siyar as-Salaf ash-Shalih. Hal: 923).

Hisyam bin Hasan berkata, Hafshah binti Sirin (saudari Muhammad) berkata, “Ibu Muhammad bin Sirin adalah ibu Muhammad al-Hijaziyah. Sang ibu sangat suka dengan pakaian yang diwantek. Apabila Muhammad bin Sirin membeli pakaian, ia akan belikan pakaian terbaik untuk ibunya. Saat tiba hari Id, ia wantek pakaian itu. Aku tak pernah melihatnya meninggikan suara kepada ibu. Saat ia bicara dengannya, ia bicara penuh dengan kelembutan.” (Ibnu Asakir: Tarikh Dimasyq, 53/216).

Diriwayatkan, apabila Muhammad bin Sirin bersama ibunya dan orang yang tak mengenalnya melihat hal itu, pastilah orang orang itu menyangka dia sedang sakit. Karena ia menundukkan suaranya saat berbicara dengan sang ibu.” (Ibnu Saad: ath-Thabaqat al-Kubra, 7/148).

Wara’ (Menjauhi Yang Haram dan Syubhat)

Wara’ secara sederhana berarti meninggalkan perkara haram dan syubhat, itu asalnya. Para ulama seringkali memaksudkan wara’ dalam hal meninggalkan perkara syubhat dan perkara mubah yang berlebih-lebihan, juga meninggalkan perkara yang masih samar hukumnya.

Dari Bakr bin Abdullah al-Mazini, ia berkata, “Siapa yang senang melihat orang yang paling wara’ di zamannya, maka lihatlah Muhammad bin Sirin. Demi Allah, kami tidak menemui orang yang lebih wara’ melebihi dirinya.” (al-Ka’bi: Qubul al-Akhbar wa Ma’rifati ar-Rijal, 1/213).

Dari Ashim al-Ahul, ia mendengar Muriqan al-Ujli berkata, “Aku tak pernah melihat seorang yang paling paham tentang wara’ dan paling wara’ dalam fikihnya melebih Muhammad bin Sirin.” (al-Khatib al-Baghdadi: Tarikh Baghdad, 3/283).

Dari Hammad bin Zaid, dari Utsman al-Buti, ia berkata, “Tidak ada seorang pun di Kota Bashrah yang paling berilmu tentang hukum melebihi Ibnu Sirin.” (Adz-Dzahabi: Siyar A’lam an-Nubala, 4/608).

Asy’ats berkata, “Apabila Muhammad bin Sirin ditanya tentang perkara halal dan haram, rona wajahnya berubah. Sampai orang-orang berkata, ‘Seakan-akan itu bukan dia’.” (Adz-Dzahabi: Tarikh al-Islam, 3/153).

Ketika orang mendesaknya untuk memutuskan hukum suatu permasalahan, apakah halal, haram, mubah, atau makruh, ia tidak senang dengan hal itu. Karena ia tidak bermudah-mudahan dalam berfatwa.

Hisyam bin Hasan, “Suatu hari Muhammad bin Sirin tampak murung dan bersedih. Ada yang bertanya, ‘Mengapa murung seperti ini, Abu Bakr (kun-yah Ibnu Sirin)?’ Ia menjawab, ‘Kesedihan ini dikarenakan dosa yang kulakukan 40 tahun yang lalu’.” (Ibnu Asakir: Tarikh Dimasyq, 53/226).

Dari ucapan Ibnu Sirin ini, kita mengetahui dari mana datangnya perasaan sedih dan gundah yang sering kita alami. Itu adalah buah pahit dari dosa yang telah kita lakukan. Bedanya adalah kita tidak mengetahui gundah tersebut akibat dosa yang mana. Karena terlalu banyak kita melakukan perbuatan dosa. Kita tak mampu menunjuk dari dosa mana kesedihan itu berasal. Sedangkan Muhammad bin Sirin, ia bisa tahu gundah itu berasal dari dosa yang mana. Karena sedikitnya perbuatan dosa yang ia lakukan, masyaallah… Seperti halnya Nabi Ibrahim, ia mampu mengingat jumlah kebohongannya. Karena beliau sedikit sekali berbohong. Sementara kita tak bisa menghitung lagi berapa jumlah kebohongan kita. Karena terlalu banyak untuk diingat.

Muhammad bin Sirin berkata, “Sungguh aku tahu dosa mana yang membuatku memiliki utang. 40 tahun yang lalu aku pernah berkata pada seseorang, ‘Hai orang yang bangkrut’.” (Ibnu Asakir: Tarikh Dimasyq, 43/545-546). Ucapan ini serupa dengan riwayat sebelumnya. Menunjukkan betapa beliau sedikit berbicara. Kalaupun berbicara, ia jaga lisannya sehingga sedikit terjatuh dalam salah ucapan.

Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata, “Tidak ada orang Kufah atau Bashrah yang memiliki sifat wara’ semisal Muhammad bin Sirin.” (Adz-Dzahabi: Siyar A’lam an-Nubala, 4/610).

Ibnu Syubrimah berkata, “Aku berjumpa dengan Muhammad bin Sirin di Wasath. Aku tak pernah melihat seorang yang ‘pelit’ dalam fatwa dan paling mampu menafsir mimpi melebihi dirinya.” (Adz-Dzahabi: Siyar A’lam an-Nubala, 4/614). Ini menunjukkan kehati-hatiannya dalam menjawab permasalahan agama. Walaupun ia seorang ulama yang diakui keilmuannya.

Yunus bin Ubaid berkata, “Apabila Muhammad bin Sirin dihadapkan pada dua perkara tentang jaminan/perjanjian, pastilah ia ambil salah satu yang paling yakin ia mampu tunaikan.” (Adz-Dzahabi: Siyar A’lam an-Nubala, 4/614).

Hisyam berkata, “Aku tak pernah melihat seseorang yang paling teguh pendiriannya di hadapan penguasa melebihi Ibnu Sirin.” (Adz-Dzahabi: Tarikh al-Islam, 3/155).

Teguh pendirian di hadapan penguasa tidaklah mudah. Kita sendiri saja sering goyah ketika berhadapan dengan teman kita. Teman kita meminta suatu hal, padahal urusan tersebut menimbulkan dosa, tapi karena merasa tidak enak, kita pun melakukannya. Banyak orang yang tahu hukum jabat tangan dengan non mahram itu haram, tapi karena tidak enak beda sendiri, ia pun jabat tangan non mahram tersebut. Baru diuji dengan teman saja kita sudah tak mampu mempertahankan prinsip. Apalagi diuji berhadapan dengan penguasa. Wallahul musta’an.

Menjaga Kehormatan dan Wibawa

Ada yang mengatakan bahwa Muhammad bin Sirin tidak makan di hadapan banyak orang. Saat ia diundang, ia akan datang namun tidak makan. Apabila Muhammad bin Sirin diundang ke sebuah acara, beliau masuk ke rumahanya dan berkata, “Beri aku sedikit minuman.” Orang-orang bertanya mengapa hanya sedikit saja. Ia menjawab, “Aku tidak suka memuaskan rasa laparku dengan mengambil jatah makan orang.” (Ismail al-Ashbahani: Siyar as-Salaf as-Shalihin, Hal: 921). Mungkin kondisi di zaman dulu, jamuan makan itu tidak sebanyak di zaman sekarang. Sehingga ia lebih mengedepankan orang lain dibanding dirinya.

Muhammad bin Sirin mendengar seseorang yang mencela al-Hajjaj bin Yusuf, ia datangi orang tersebut dan berkata, “Ada apa? Di akhirat nanti, dosa terkecil yang pernah kau lakukan lebih berat bagimu dari dosa terbesarnya al-Hajjaj. Ketahuilah bahwa Allah itu Maha Bijaksana dan Maha Adil. Kalau Allah menyiksa al-Hajjaj atas kezalimannya terhadap orang lain, pasti Allah juga akan mengadzab seseorang yang menzalimi al-Hajjaj. Karena itu, jangan sibukkan dirimu dengan mencela seorang pun.” (ash-Shufdi: al-Wafi bil Wafiyat, 11/241).

Pemimpin yang zalim akan dihisab bahkan diadzab karena kezalimannya. Tapi hal itu tidak membuat mencelanya dihadapan orang-orang atau di sosial media menjadi halal dan legal. Mencela orang tetaplah perbuatan tercela. Dan akan dimintai pertanggung-jawabannya.

Ibadahnya

Ibnu Sirin punya kebiasaan membaca tujuh wirid di malam hari. Kalau ada bacaan tersebut yang ia lewatkan, maka akan ia baca di siang hari (Ibnu Saad: ath-Thabaqat al-Kubra, 7/149). Ia terbiasa berpuasa satu hari dan tidak puasa di hari berikutnya (puasa Dawud) (Ibnu Asakit: Tarikh Dimasyq, 53/210). Hal ini menunjukkan konsistennya dalam menunaikan amalan hariannya. Dan amalan yang utama adalah amalan yang dilakukan secara konsisten.

Dari Bisyr bin Umar, ia berkata, “Ummu Ibad istri dari Hisyam bin Hasan menyampaikan padaku, ‘Kami pernah singgah bersama Muhammad bin Sirin di suatu tempat. Kami mendengar tangisnya di malam hari dan tawanya di siang hari’.” (Jamaluddin al-Mizzi: Tahdzib al-Kamal fi Asma-i ar-Rijal, 25/352). Artinya, saat ia menyendiri dengan mengagungkan Allah, ia menunjukkan rasa takut dan merenungi kesalahan-kesalahannya. Saat bersama dengan manusia di siang hari, ia menunjukkan wajah yang ceria. Bukan sebaliknya. Ia tidak bersedih-sedih menampilkan keshalehan dan rasa takut saat bersama orang-orang. Tapi, saat sendiri tak ada manusia yang melihat malah berbuat dosa.

Kalau lewat di pasar dan bertemu orang-orang, ia ingatkan mereka untuk bertasbih mensucikan Allah dan mengingat-Nya Azza wa Jalla (Khatib al-Baghdadi: Tarikh Baghdad, 2/420). Inilah di antara gambaran pasa di zaman salaf. Aktivitas pedagang dan pengunjung tidak hanya membicarakan dunia semata. Tapi juga tetap berdzikir bahkan terdapat riwayat mereka ngobrol-ngobrol permasalahan fikih di pasar. Masyaallah…

Diriwayatkan pula bahwa Muhammad bin Sirin rahimahullah tidaklah memasuki pasar di siang hari kecuali dalam keadaan bertakbir, bertasbih, dan berdzikir kepada Allah Ta’ala. Kemudian seseorang berkata padanya, “Hai Abu Bakr, apakah di waktu seperti ini?” Ia menjawab, “Ini adalah waktu dimana banyak orang sedang lalai.” (Ismail al-Ashbahani: Siyar as-Salaf as-Shalihin, Hal: 923).

Allah Ta’ala memuji orang-orang yang demikian:

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An Nur: 37)

Bercanda

Dikenal sebagai sosok yang teguh pendirian. Penasihat. Kuat memegang kebenaran. Semua itu bukan berarti beliau tak memiliki selera humor yang baik. Bahkan ia dikenal sebagai seorang yang suka tertawa dan bercanda. Pernah ia tertawa sampai terguling (al-Ka’bi: Qabul al-Akhbar wa Ma’rifati ar-Rijal, 1/215).

Sebagian orang kalau sudah menjadi tokoh hilanglah selera humornya. Ia menganggap wibawanya akan jatuh kalau sesekali bercanda dan tertawa. Padahal canda tan tawa adalah pemanis interaksi. Dan merekatkan hubungan. Selama itu tidak berlebihan.

Tafsir Mimpi

Sebagian orang dikaruniakan Allah memiliki ketajaman firasat dan kemampuan menafsirkan mimpi dengan tepat. Di antara orang tersebut adalah Muhammad bin Sirin. Pernah ada seseorang bertanya padanya, “Aku bermimpi bahwa aku menjilat madu dari sebuah gelas minum yang terbuat dari permata.” Ibnu Sirin menjawab, “Bertakwalah kepada Allah. Ulangilah hafalan Alquranmu. Karena sesungguhnya engkau membacanya kemudian melupakannya.”

Ada seorang yang bertanya, “Aku bermimpi buang air kecil darah.” Ia menjawab, “Apakah kau mendatangi istrimu dalam keadaan haidh?” “Iya”, jawabnya. “Bertakwalah kepada Allah dan jangan kau ulangi hal itu,” kata Ibnu Sirin.

Ibnu Sirin bermimpi seolah melihat bintang al-jauza mendahului bintang tsurayya. Kemudian ia berwasiat. Dan berkata, “al-Hasan al-Bashri akan wafat. Kemudian aku. Dan dia lebih mulia dariku.” (Ismail al-Ashbahani: Siyar as-Salaf as-Shalihin, Hal: 924-925).

Ada seseorang yang berkata pada Ibnu Sirin, “Aku bermimpi bahwa aku memegang gelas terbuat dari kaca yang berisi air. Kemudian gelas itu pecah. Tapi airnya tetap ada.” Ibnu Sirin menanggapi, “Bertakwalah pada Allah. Engkau tidak mimpi apapun.” “Subhanallah,” kata orang tersebut. Ibnu Sirin melanjutkan, “Siapa yang dusta, aku tidak menanggungnya. Tapi istrimu akan melahirkan kemudian meninggal. Sementara anaknya tetap hidup.” Saat orang tersebut pergi, ia berkata, “Demi Allah, aku memang tak memimpikan apapun.” Kemudian istrinya melahirkan dan meninggal (Ibnu Asakir: Tarikh Dimasyq, 53/232).

Wafat

Sejarawan sepakat kalau Muhammad bin sirin wafat di Kota Bashrah pada tahun 110 H. Tepat 100 hari setelah wafatnya al-Hasan al-Bashri. Muhammad bin Zaid berkata, “Hasan wafat di awal Rajab tahun 110 H. Kemudian Muhammad bin Sirin wafat 9 hari setelah berlalu bulan Syawal tahun 110 H (An-Nawawi: Tadzhib al-Asma wa al-Lughat, 1/84 dan adz-Dzahabi: Tarikh al-Islami, 3/159).

Wasiat Muhammad bin Sirin rahimahullah untuk keluarganya sepeninggalnya adalah agar mereka bertakwa kepada Allah. Dan memperbaiki hubungan sesama mereka. Kemudian agar mereka menaati Allah dan Rasul-Nya kalau mereka benar-benar orang yang beriman. Ia juga mewasiati keluarganya dengan wasiat Ibrahim dan Ya’qub kepada keluarganya:

يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفى لَكُمُ الدِّينَ فَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.”

Ia juga mewasiatkan agar keluarganya menjadi saudara yang saling menolong dan mencintai di atas agama. Dan mengatakan bahwa menjaga kesucian diri dan jujur adalah lebih baik, lebih kekal, dan lebih mulia dari zina dan dusta (Ibnu Saad: ath-Thabaqat al-Kubra, 7/153-154).

Oleh Nurfitri Hadi (IG: @nfhadi07)

Read more https://kisahmuslim.com/6339-muhammad-bin-sirin-tabiin-yang-utama.html

Hukum Shalat Sambil Duduk

Shalat Sambil Duduk

Assalamualaikum wr.wb. di kampung saya ada sebagian org melakukan sholat sunat dengan duduk padahal dia melakukan sholat wajib dengan berdiri dan masih sehat dan kuat berdiri. mereka melakukan sholat sunat dengan duduk ketika sholat sunat saja. apa hukumnya? terima kasih. wassalamualaikumwarohmatullohiwabarokatuh

Dari: Rahmat Taufik

Jawaban:

Wa alaikumus salam warohmatullohiwabarokatuh

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Terdapat beberapa aturan tentang berdiri dalam shalat,

Pertama, Berdiri ketika shalat fardhu (wajib) merupakan bagian dari rukun shalat. Allah berfirman,

حافظوا على الصَلَوات والصلاة الوسطى وقوموا لله قانتين

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa (shalat asar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. (QS. Al-Baqarah: 238).

Kedua, Orang yang mampu dengan mudah untuk berdiri (baik sakit maupun sehat selama mudah untuk berdiri) tidak bolehshalat fardhu sambil duduk. Orang yang shalat fardhu sambil duduk, padahal dia mampu berdiri maka shalatnya batal dan harus diulangi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah ditanya tentang seseorang yang sakit wasir, sehingga sulit berdiri ketika shalat. Beliau menasehatkan,

صَلِّ قائماً، فإِن لم تستطع فقاعداً، فإِن لم تستطع فعلى جَنب

“Shalatlah sambil berdiri, jika kamu tidak mampu sambil duduk, dan jika kamu tidak mampu, sambil berbaring miring.” (HR. Bukhari 1117).

Ketiga, Orang sakit yang masih mampu berdiri namun dengan susah payah, boleh shalat sambil duduk. Tetapi jika berusaha untuk shalat sambil berdiri maka pahalanya dua kali dari pahala shalat sambil duduk ketika sakit.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من صلى قائماً فهو أفضل، ومن صلّى قاعداً فله نصف أجر القائم، ومن صلى نائماً فله نصف أجر القاعد

“Orang yang shalat sambil berdiri adalah yang paling baik. Orang yang shalat sambil duduk mendapat pahala separo dari yang berdiri. Orang yang shalat sambil berbaring mendapat pahala separo dari yang duduk.” (HR. Bukhari 1116 dan Muslim 735).

Keempat, shalat sunah boleh dilakukan sambil berdiri maupun duduk, meskipun dia sehat dan mampu berdiri.

Diantara kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menaiki kendaraan (onta), beliau melakukan shalat sunah di atas punggung tunggangannya. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menceritakan,

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي فِى السَّفَرِ عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ يُومِئُ إِيمَاءً

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat ketika safar di atas kendaraan, mengikuti arah kendaraannya. Beliau bergerak (sujud-rukuk) dengan isyarat. (HR. Bukhari 955)

Ibnu Qudamah mengatakan, ulama sepakat, boleh shalat sunah sambil duduk, meskipun mampu berdiri. Dalam kitabnya al-Mughni, beliau menegaskan,

” لا نعلم خلافاً في إباحة التطوع جالساً ، وأنه في القيام أفضل ، وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم : ( مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ ، وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ ) متفق عليه

“Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat tentang bolehnya shalat sunah sambil duduk. Hanya saja, berdiri lebih utama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang shalat sambil berdiri, itu yang paling baik. Siapa yang shalat sambil duduk, dia mendapat pahala setengah dari pahala yang shalat berdiri.” Riwayat Bukhari-Muslim. (al-Mughni, 2/105)

Kelima, Orang yang shalat sunah sambil duduk, padahal dia mampu berdiri, dia mendapatkan pahala setengah jika dia mengerjakannya sambil berdiri.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من صلى قائماً فهو أفضل، ومن صلّى قاعداً فله نصف أجر القائم، ومن صلى نائماً فله نصف أجر القاعد

“Orang yang shalat sambil berdiri adalah yang paling baik. Orang yang shalat sambil duduk mendapat pahala separo dari yang berdiri. Orang yang shalat sambil berbaring mendapat pahala separo dari yang duduk.” (HR. Bukhari 1116 & Muslim 735).

Keenam, Bagi yang tidak kuat untuk berdiri lama ketika shalat, dibolehkan untuk duduk di tengah-tengah shalat.

Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي جَالِسًا، فَيَقْرَأُ وَهُوَ جَالِسٌ، فَإِذَا بَقِيَ مِنْ قِرَاءَتِهِ نَحْوٌ مِنْ ثَلاَثِينَ – أَوْ أَرْبَعِينَ – آيَةً قَامَ فَقَرَأَهَا وَهُوَ قَائِمٌ، ثُمَّ يَرْكَعُ، ثُمَّ سَجَدَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam sambil duduk. Beliau membaca al-Fatihah dan surat sambil duduk. Ketika yang beliau baca tinggal 30 atau 40 ayat, beliau berdiri. Lalu beliau melanjutkan bacaan shalat sambil berdiri. Kemudian beliau rukuk, kemudian sujud. (HR. Bukhari 1119 dan Muslim 731).

Ketujuh, orang yang shalat sambil duduk dan tidak bisa untuk sujud di tanah, maka rukuk dan sujudnya dilakukan dengan isyarat gerakan punggung. Dimana posisi punggung ketika sujud lebih rendah daripada ketika rukuk.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menceritakan,

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي فِى السَّفَرِ عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ يُومِئُ إِيمَاءً

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat ketika safar di atas kendaraan, mengikuti arah kendaraannya. Beliau bergerak (sujud-rukuk) dengan isyarat. (HR. Bukhari 955)

Allahu a’lam.

Read more https://konsultasisyariah.com/21956-hukum-shalat-sambil-duduk.html

Kemenkes Jelaskan Cara Antisipasi Suhu Panas Ekstrem

Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta jamaah haji untuk mengantisipasi suhu ekstrem di Arab Saudi. Ada beberapa hal yang perlu disiapkan jamaah haji sebagai bentuk antisipasi terhadap suhu panas ekstrem.

Kepala Pusat Kesehatan Haji, Eka Jusup Singka menuturkan, jamaah haji harus menghindari kontak langsung dengan sinar matahari. Caranya yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri seperti payung saat melakukan perjalanan di luar.

“Suhu panas harus diantisipasi jamaah. Jangan kena kontak langsung dengan sinar matahari. Pakai payung, dan ini harus terus dibawa. Orang Saudi sendiri kalau musim panas itu memproteksi dirinya,” papar dia, Ahad (23/6).

Kemudian, lanjut Eka, jamaah juga harus terus membawa alat semprotan air. Alat yang berisi air ini untuk disemprotkan ke wajah dan airnya dapat diminum. “Air minum juga harus terus dibawa. Boleh air zamzam, yang penting bisa diminum,” jelasnya.

Eka menambahkan, cara mengantisipasi berikutnya, harus menggunakan sandal. Tetapi, ia mengingatkan untuk tidak menggunakan sandal jepit, apalagi bagi penderita kencing manis. “Karena akan mengiritasi dan merusak kulit kita. Pakai yang bukan sandal jepit,” papar dia.

Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) juga diminta untuk aktif memberi penyuluhan, bukan hanya di Arab Saudi tetapi juga saat masih di Indonesia. Puskes Haji pun telah memproduksi video blog (vlog) agar bisa ditonton jamaah soal apa yang harus dilakukan dalam pengendalian faktor risiko.

Suhu Tanah Suci Panas, Jamaah Siapkan Alat Pelindung Diri

Suhu di Tanah Suci sedang panas ekstrem  hingg mencapai 50 derajat celcius. Diperkirakan suhu panas ini berlanjut pada musim haji 2019.

Direktur Utama PT Patuna Mekar Jaya H Syam Resfiadi mengatakan suhu panas pada musim haji memang selalu terjadi setiap tahunnya. “Iya memang betul setiap musim haji selalu panas,” katanya, Ahad (24/6).
Bahkan menurut Syam suhu panas akan terjadi sampai bulan Maret Tahun 2020. Untuk itu semua pihak yang berada di Tanah Suci baik secara pribadi atau organisasi perusahaan penyelenggara ibadah haji khusus (PIHK) seperti Patuna sudah mengantisipasi agar tidak sakit karena suhu panas.
“Maka dari itu hindari kena terik matahari langsung,” katanya.
Syam mengatakan, antisipasi lain selain menghindari terik matahari langsung, jamaah juga disarankan menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti payung, topi dan kacamata hitam. “Dan juga jangan lupa selalu membawa air minumdi botol,”
Syam menuturkan tahun ini Patuna memiliki 400 lebih jamaah haji kusus yang diberangkatkan. Untuk mendampingi jamaah haji selama di Tanah Suci Patuna menerjunkan 4 dokter 10 pembimbing ibadah ada 10 dan 6 crew.
“Insya Allah kita berusaha agar Allah Swt memberi yang terbaik. Amiin,”katanya.

Transaksi Jual-Beli Di Masjid

Pembaca yang budiman, diantara adab ketika di masjid adalah tidak melakukan jual-beli di dalamnya. Bahkan hal ini dilarang oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Simak penjelasan berikut.

Dalil-dalil terlarangnya jual-beli di masjid

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إذا رأيتُم من يبيعُ أو يبتاعُ في المسجدِ، فقولوا : لا أربحَ اللهُ تجارتَك . وإذا رأيتُم من ينشدُ فيه ضالة فقولوا : لا ردَّ اللهُ عليكَ

“Jika engkau melihat orang berjual-beli atau orang yang barangnya dibeli di masjid, maka katakanlah kepada mereka: semoga Allah tidak memberikan keuntungan pada perdaganganmu. Dan jika engkau melihat orang di masjid yang mengumumkan barangnya yang hilang, maka katakanlah: semoga Allah tidak mengembalikan barangmu” (HR. At Tirmidzi no. 1321, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami no. 573).

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia mengatakan:

نهَى رسولُ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عنِ الشراءِ والبيعِ في المسجدِ وأن تُنشَدَ فيه الأشعارُ وأن تُنشَدَ فيه الضَّالَّةُ وعنِ الحِلَقِ يومَ الجمُعَةِ قبلَ الصلاةِ

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang melakukan jual-beli di masjid, dan melarang melantunkan nasyid berupa sya’ir-sya’ir, dan melarang mengumumkan barang yang hilang, dan melarang mengadakan halaqah sebelum shalat Jum’at” (HR. Ahmad 10/156, Ahmad Syakir mengatakan: “sanadnya shahih”).

Hukum jual-beli di masjid

Ulama berbeda pendapat mengenai hukum jual beli di masjid antara haram dan makruh. Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan:

أَمَّا الْبَيْعُ وَالشِّرَاءُ فَذَهَبَ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ إلَى أَنَّ النَّهْيَ مَحْمُولٌ عَلَى الْكَرَاهَةِ، قَالَالْعِرَاقِيُّ: وَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ مَا عُقِدَ مِنْ الْبَيْعِ فِي الْمَسْجِدِ لَا يَجُوزُ نَقْضُهُ، وَهَكَذَا قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ. وَأَنْتَ خَبِيرٌ بِأَنَّ حَمْلَ النَّهْيِ عَلَى الْكَرَاهَةِ يَحْتَاجُ إلَى قَرِينَةٍ صَارِفَةٍ عَنْ الْمَعْنَى الْحَقِيقِيِّ الَّذِي هُوَ التَّحْرِيمُ عِنْدَ الْقَائِلِينَ بِأَنَّ النَّهْيَ حَقِيقَةٌ فِي التَّحْرِيمِ وَهُوَ الْحَقُّ وَإِجْمَاعُهُمْ عَلَى عَدَمِ جَوَازِ النَّقْضِ وَصِحَّةِ الْعَقْدِ لَا مُنَافَاةَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّحْرِيمِ فَلَا يَصِحُّ جَعْلُهُ قَرِينَةً لِحَمْلِ النَّهْيِ عَلَى الْكَرَاهَةِ وَذَهَبَ بَعْضُ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ إلَى أَنَّهُ لَا يُكْرَهُ الْبَيْعُ وَالشِّرَاءُ فِي الْمَسْجِدِ وَالْأَحَادِيثُ تَرُدُّ عَلَيْهِ

“Adapun masalah jual-beli di masjid, jumhur ulama berpendapat bahwa larangan dalam hadits di bawa kepada hukum makruh. Al Iraqi mengatakan: “Ulama ijma bahwa akad jual-beli yang sudah terjadi di masjid tidak boleh dibatalkan”. Demikian juga yang dikatakan Al Marwadi. Maka anda yang mengatakan bahwa larangan dalam hadits di bawa kepada hukum makruh, maka ia butuh kepada qarinah yang memalingkan dari makna yang hakiki dari larangan yaitu pengharaman. Dan ini merupakan pendapat sebagian ulama, yaitu bahwa larangan dalam hadits dimaknai secara hakiki, yaitu pengharaman. Dan inilah pendapat yang tepat.

Adapun ijma ulama bahwasanya akad jual-beli tidak boleh dibatalkan dan akadnya tetap sah maka ini tidak bertentangan dengan pengharaman. Maka tidak sah menjadikannya qarinah untuk memalingkan larangan kepada hukum makruh. Sebagian ulama Syafi’iyyah berpendapat hukumnya tidak makruh (baca: boleh) berjual-beli di masjid, namun ini terbantah oleh hadits-hadits yang ada” (Nailul Authar, 2/185-186).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan:

البيعُ والشِّراءُ والتَّأجيرُ والاستئجارُ محرَّمٌ في المسجد، لأنَّه ينافي ما بُنِيَتْ المساجِدُ من أجلِه

“Menjual, membeli, menyewakan, menawarkan sewaan, semuanya haram dilakukan di masjid, karena ini menafikan tujuan masjid dibangun (yaitu untuk ibadah, pent.)” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 33/22)

Maka dari penjelasan ini semua bentuk jual beli dan yang terkait dengannya seperti promosi, menawarkan barang, menyerahkan barang yang terutang pembayarannya, dan semisalnya semua itu terlarang.

Dari penjelasan Asy Syaukani di atas juga kita ketahui bahwa ulama ijma bahwa jual-beli yang dilakukan di masjid tetap sah akadnya, namun berdosa jika dilakukan dengan sengaja.

Alasan terlarangnya jual-beli di masjid

Jual-beli di masjid dilarang agar orang tidak sibuk dengan urusan dunia di masjid. Sehingga ia lalai dari akhirat dan lalai dari dzikir kepada Allah di rumah Allah. Lihat bagaimana sikap Atha’ bin Yasar (seorang ulama tabi’in) rahimahullah berikut ini:

كَانَ إِذَا مَرَّ عَلَيْهِ بَعْضُ مَنْ يَبِيعُ فِي الْمَسْجِدِ، دَعَاهُ فَسَأَلَهُ مَا مَعَكَ (1) وَمَا تُرِيدُ؟ فَإِنْ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَبِيعَهُ، قَالَ: عَلَيْكَ بِسُوقِ الدُّنْيَا. فَإِنَّمَا هذَا سُوقُ الآخِرَةِ

“Jika Atha bin Yasar melewati orang yang berjual-beli di masjid, ia memanggilnya dan menanyakan apa yang ia bawa dan apa yang ia inginkan? Jika orang tersebut menjawab bahwa ia ingin berjual beli maka Atha akan berkata: silakan anda pergi ke pasar dunia, karena di sini adalah pasar akhirat” (Al Muwatha Imam Malik, no. 601).

Juga sebagaimana dijelaskan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, jual beli di masjid terlarang karena tidak sesuai dengan tujuan dibangunnya masjid.Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجِلَّ وَتاصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

“Sesungguhnya masjid-masjid dibangun hanya untuk dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, untuk shalat, dan membaca Al Qur’an” (HR. Muslim, no. 285).

Batasan area masjid yang dilarang jual-beli

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda dalam hadits di atas:

إذا رأيتم من يبيع أو يبتاع في المسجد

“Jika engkau melihat orang berjual-beli atau orang yang barangnya dibeli di masjid…”

Maka larangan berjual-beli di sini terkait dengan tempat yang disebut “masjid”. Sehingga penting untuk mengetahui apa saja batasan area masjid, karena jika suatu area termasuk batasan masjid maka berlakulah larangan berjual-beli di sana. Dalam kitab Fiqhul I’tikaf (hal. 128-134), Syaikh Khalid Al Musyaiqih menjelaskan batasan-batasan masjid. Yang ringkasnya sebagai berikut:

  1. Semua tempat yang digunakan untuk shalat adalah termasuk masjid. Para ulama sepakat akan hal ini.
  2. Atap masjid. Jumhur ulama berpendapat atap masjid adalah bagian dari masjid dan sahnya beri’tikaf di sana. Adapun Malikiyyah berpendapat atap masjid bukan bagian dari masjid karena tidak sah shalat Jum’at di sana. Namun ini pendapat yang lemah.
  3. Halaman masjid. Dalam hal ini ada tiga pendapat berkaitan dengan apakah halaman masjid termasuk masjid?
    1. Jika bersambung dengan masjid dan dilingkupi oleh sesuatu seperti pagar, maka termasuk masjid. Jika tidak bersambung atau tidak ada pagar, maka halaman masjid tidak termasuk masjid, dan dianggap keluar masjid jika berada di sana. Ini merupakan pendapat Syafi’iyyah, Imam Ahmad, sebagian Hanabilah.
    2. Halaman masjid secara mutlak (tidak ada pembatasnya), maka tidak termasuk masjid. Ini merupakan pendapat Malikiyyah dan pendapat pegangan mazhab Hanabilah.
  4. Menara masjid yang digunakan untuk adzan. Ada tiga keadaan:
    1. Jika menara berada di dalam masjid, maka ia bagian dari masjid menurut jumhur ulama. Namun Malikiyyah menyatakan tidak sah.
    2. Jika menara berada di luar masjid, ada tiga pendapat:
      1. Dianggap bagian masjid bagi muadzin tetap. Ini pendapat sebagian Hanafiyyah, pendapat pegangan mazhab Syafi’iyyah, sebagian Hanabilah dan Ibnu Hazm.
      2. Bukan bagian dari masjid, ini pendapat mu’tamad mazhab Hanafiyyah, dan sebagian Syafi’iyyah.
      3. Merupakan bagian dari masjid. Ini pendapat sebagian Syafi’iyyah, pendapat pegangan madzhab Malikiyyah dan Hanabilah. Pendapat pertama yang lebih rajih, karena menara dibangun hanya untuk kemaslahatan adzan masjid.
    3. Jika berada di halaman masjid, hukumnya sebagaimana hukum halaman masjid.

Syaikh Abdul Aziz Alu Asy Syaikh juga mengatakan:

ما كان حائط المسجد شاملاً ومُدخلاً له في المسجد فهو من المسجد، وما كان خارج محيط المسجد فهو خارج المسجد

“Selama dinding (pagar) masjid itu sempurna mengelilingi masjid maka semua yang di dalamnya termasuk masjid, dan semua yang di luarnya tidak termasuk masjid” (Majalah Al Buhuts Al Islamiyah, 59/81).

Sebagaimana juga kaidah fikih:

الحَرِيمُ لَهُ حُكْمُ مَا هُوَ حَرِيمٌ لَهُ

“Lingkar luar dari sesuatu memiliki hukum yang sama dengan sesuatu tersebut” (Al Asybah wan Nazhair, As Suyuthi, 1/125).

Kaidah ini didasari oleh hadits:

أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ

“Ketahuilah bahwa setiap raja itu memiliki daerah perbatasan, dan daerah perbatasan Allah adalah yang Allah haramkan” (HR. Bukhari no. 52, Muslim no. 1599).

Ringkasnya, jika masjid memiliki pagar, maka tidak boleh berjual-beli di area dalam pagar. Adapun jika masjid tidak memiliki pagar, maka batasan terlarangnya jual beli adalah area yang dipakai untuk shalat, demikian juga semua bangunan yang bersambung dengan bangunan masjid.

Boleh hutang-piutang di masjid

Kita ketahui bersama, hutang-piutang berbeda dengan jual beli. Sehingga dibolehkan dilakukan di masjid selama tidak berpanjang-panjang dan dan berlama-lama. Dalam Al Mukhtashar karya Al Khalil Al Maliki rahimahullah di sebutkan:

وجاز بمسجد سكنى لرجل تجرد للعبادة وَعَقْدُ نِكَاحٍ وَقَضَاءُ دَيْنٍ وَقَتْلُ عَقْرَبٍ وَنَوْمٌ بِقَائِلَةٍ

“Hal-hal berikut ini boleh dilakukan di masjid: bertempat tinggal di masjid bagi lelaki yang kesehariannya hanya beribadah, melakukan akad nikah, melunasi hutang, membunuh kalajengking, dan tidur qailulah” (Mukhtashar Al Khalil,1/211).

Ibnu Naji At Tanukhi rahimahullah mengatakan:

ينبغي أن تنزه المساجد عن البيع والشراء، واستخف في البيان قضاء الدين وكتب الحق فيه ما لم يطل

“Hendaknya masjid dibersihkan dari semua bentuk jual-beli, namun berdasarkan penjelasan penulis, diberikan kelonggaran untuk melunasi hutang dan menulis hak-hak hutang, selama tidak berpanjang-panjang” (Syarah Ibnu Naji At Tanukhi ‘ala Matnir Risalah, 2/482).

Ini menunjukkan bahwa boleh melakukan akad hutang-piutang di masjid, namun hendaknya tidak menyibukkan diri dengannya.

Demikian paparan singkat mengenai masalah jual-beli di masjid. Semoga bermanfaat.

Wabillahi at taufiq was sadaad.

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/35692-transaksi-jual-beli-di-masjid.html