Buya Hamka:  Tasawuf Modern dan Konsep Bahagia

Konsep kebahagiaan bukan hanya sebatas kegembiraan sesaat atau kesenangan materi, kebahagiaan hakiki, kata Hamka, terletak pada keharmonisan antara manusia dengan Allah SWT

Oleh: Abdullah Rifat Dhorif

HAJI Abdul Malik Karim Abdullah atau lebih akrab disapa HAMKA menulis buku “Tasawuf Modern” berisi seputar pemikiran hidup dalam meraih kebahagiaan yang hakiki sesuai tuntunan ajaran agama.

Konsep kebahagiaan bukan hanya sebatas kegembiraan sesaat atau kesenangan materi. Kebahagiaan sejati diyakini sebagai hasil dari keseimbangan dan keharmonisan dalam berbagai aspek kehidupan.

Bagi Hamka, kebahagiaan hakiki terletak pada keharmonisan antara manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, serta sesama manusia yang dengan itu membawa keberkahan dalam kehidupan di dunia dan kebahagiaan yang abadi di akhirat.

Kebahagiaan dalam tasawuf dapat ditemukan melalui pencarian spiritual yang mendalam dan pemahaman akan hakikat kehidupan. Kebahagiaan sejati tidak hanya bersifat material atau fisik, melainkan juga bersumber dari kesadaran spiritual dan keseimbangan batin.

Kebahagiaan hakiki dicapai melalui hubungan yang erat dengan Allah, pemahaman akan tujuan hidup, serta kesadaran akan nilai-nilai spiritual.

Merawat jiwa, mencari kedekatan dengan Sang Pencipta, dan berusaha untuk hidup sesuai ajaran Islam adalah kunci utama menuju kebahagiaan sejati.

Seseorang dapat meraih kebahagiaan yang mendalam dan abadi, melebihi kebahagiaan sementara yang bersifat duniawi.

Buya Hamka, seorang ulama terkemuka dari Indonesia, memiliki pandangan yang kompleks terhadap tasawuf modern. Beliau menganggap bahwa tasawuf adalah bagian integral dari ajaran Islam yang memiliki nilai-nilai spiritual teramat penting. Salah satunya gapaian semua orang untuk mendapat hakikat kebahagiaan sejati.

Dr. Prof. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau biasa dikenal dengan nama Buya Hamka, beliau dilahirkan di Sungai Batang Maninjau (Sumatra Barat) pada 17 Februari 1908 (14 Muharram 1326 H). Ayahnya ulama terkenal, Dr. Haji Abdul Karim Amrullah alias Haji Rasul, pembawa paham-paham pembaharuan Islam di Minangkabau.

Buya Hamka mempunyai nama lain saat kecil, yaitu Abdul Malik, Ia adalah anak pertama dari empat bersaudara, anak pasangan Abdul Karim Amrullah “Haji Rasul” dan Safiyah. 

Haji Rasul menikahi Safiyah setelah istri pertamanya, Raihana yang merupakan kakak Safiyah meninggal di Makkah. Raihana memberi Malik seorang kakak tiri, Fatimah yang kelak menikah dengan Syekh Ahmad Rasyid Sutan Mansur.

Muhammad Amrullah adalah seorang pemimpin Tarekat Naqsyabandiyah. Istri Amrullah, anduang bagi Malik, bernama Sitti Tarsawa adalah seorang yang mengajarkan tari, nyanyian, dan pencak silat. Ayahnya sering bepergian untuk berdakwah.

Saat berusia empat tahun, Malik mengikuti kepindahan orangtuanya ke Padang panjang, belajar membaca al-Quran dan bacaan shalat di bawah bimbingan Fatimah, kakak tirinya.

Memasuki umur tujuh tahun, Malik masuk ke Sekolah Desa. Kemudian di tahun 1916, Zainuddin Labay El Yunusy membuka sekolah agama Diniyah School, menggantikan sistem pendidikan tradisional berbasis surau. Sambil mengikuti pelajaran setiap pagi di Sekolah Desa, Malik mengambil kelas sore di Diniyah School. Kesukaannya di bidang bahasa membuatnya cepat sekali menguasai bahasa Arab.

Pada 1918, Malik berhenti dari Sekolah Desa setelah melewatkan tiga tahun belajar. Karena menekankan pendidikan agama, Haji Rasul memasukkan Malik ke Thawalib. Sekolah itu mewajibkan murid-muridnya menghafal kitab-kitab klasik, kaidah mengenai nahwu, dan ilmu saraf.

Setelah belajar di Diniyah School setiap pagi, Malik menghadiri kelas Thawalib pada sore hari dan malamnya kembali ke surau. Namun, sistem pembelajaran di Thawalib yang mengandalkan hafalan membuatnya jenuh.

Kebanyakan murid Thawalib adalah remaja yang lebih tua dari Malik karena beratnya materi yang dihafalkan. Dari pelajaran yang diikutinya, ia hanya tertarik dengan pelajaran arudh yang membahas tentang syair dalam bahasa Arab.

Dibayangi nama besar ayahnya Abdul Karim Amrullah, Hamka remaja sering melakukan perjalanan jauh sendirian. Ia meninggalkan pendidikannya di Thawalib, menempuh perjalanan ke Jawa dalam usia 16 tahun.

Setelah setahun melewatkan perantauannya, Hamka kembali ke Padang Panjang membesarkan Muhammadiyah. Pengalamannya ditolak sebagai guru di sekolah milik Muhammadiyah karena tak memiliki diploma dan kritik atas kemampuannya berbahasa Arab melecut keinginan Hamka pergi ke Makkah. Dengan bahasa Arab yang dipelajarinya, Hamka mendalami sejarah Islam dan sastra secara otodidak.

Kembali ke Tanah Air, Hamka merintis karier sebagai wartawan sambil bekerja sebagai guru agama di Deli. Dalam pertemuan memenuhi kerinduan ayahnya, Hamka mengukuhkan tekadnya untuk meneruskan cita-cita ayahnya dan dirinya

Hamka adalah ulama, sastrawan, pengarang, pujangga, dan filosof Islam. Ia diakui oleh lawan dan kawannya. Karena keahliannya pada tahun 1952 Pemerintah mengangkatnya menjadi anggota “Badan Pertimbangan Kebudayaan” dari Kementerian PP dan menjadi Guru Besar pada Perguruan Tinggi Islam Universitas Islam di Makassar juga menjadi penasihat pada Kementerian Agama.

Di samping keasyikannya mempelajari “Kesusasteraan Melayu Klasik”, Hamka pun bersungguh-sungguh menyelidiki Kesusasteraan Arab, sebab bahasa asing yang dikuasainya hanyalah semata-mata bahasa Arab. 

Dan pada tahun-tahun 70-an keluar pula buku-bukunya, “Soal Jawab” (tentang Agama Islam), “Muhammadiyah di Minangkabau’, “Kedudukan Perempuan dalam Islam”, Do’a-do’a Rasulullah”, dan lain-lain.

Pada Sabtu 6 Juni 1974 mendapat gelar “Dr.” dalam Kesusateraan di Malaysia. Bulan Juli 1975 Musyawarah Alim Ulama Seluruh Indonesia dilangsungkan. Hamka dilantik sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia pada tanggal 26 Juli 1975 bertepatan dengan 17 Rajab 1395.

Menurut Hamka, untuk mencapai bahagia menurut agama, harus mencapai 4 (empat) perkara; I’tikad  yang bersih, yakin, iman dan agama.

I’tikad

I’tikad  berasal daripada mengikat tepi-tepi barang, atau mengikatkan suatu sudut kepada sudut yang lain. Jadi timbulnya I’tikad  di dalam hati, ialah setelah lebih dahulu pikiran itu terbang dan lepas entah ke mana, tidak berujung dan tak tentu tempat hinggap.

Kemudian dapatlah suatu kesimpulan pandangan, lalu menjadi keyakinan. Terikat tidak retak lagi.

Sebab itu maka suatu pendapat yang tidak timbul dari pertimbangan akal pikiran yang hanya lantaran taklid buta, lantaran ikut-ikutan belumlah bernama I’tikad .

Orang yang berI’tikad  di dalam suatu perkara tidaklah mau mengerjakan suatu atau meninggalkan suatu pekerjaan dengan tidak berpikir. Kesimpulan pikirannya ialah I’tikad nya.

Dalam bahasa Indonesia I’tikad  itu telah berubah menjadi tekad. “Dan orang-orang yang mengerjakan satu perbuatan, atau menganiaya dirinya sendiri maka ingat mereka akan Allah. Lalu mereka memohon ampun atas kesalahan itu serta tidak tetap juga mereka atas perbuatan itu, sedang mereka telah mengetahui.” (QS. Ali Imran [3]: 135).

Demikian keadaan orang yang mempunyai I’tikad , kalau mereka terlanjur mengerjakan kesalahan. Orang yang tidak mempunya I’tikad , adalah menjadi puncak aru, menggulai ke mana gerak angin saja, ke mari bukan ke sana entah. 

Orang yang begini, meskipun bagaimana datang dan terangnya kebenaran di mukanya, tidak ada nilai hidupnya sebab kompas jantungnya telah rusak, sebab itu jarumnya tidak dapat menunjukkan utara dan selatan lagi. Jiwanya telah dimakan karat.

Orang yang begini selamanya tidak akan mendapat I’tikad  yang jernih, sebab pikirannya tidak bekerja lagi. Atau laksana arloji yang pandai. Akan tetapi harus diingat, kalau sekali per itu telah rusak dan kerapkali diperbaiki, tentu jalannya tidak sebaik dahulu lagi.

Ada pepatah Arab, “Peliharalah keindahan hati dari suatu penyakit, karena sukar sekali memperbaikinya kalau sekali sudah rusak.” Itulah sebabnya kita lebih banyak diperintah untuk menjaga hati daripada mengobatinya. Karena ongkos penjagaan tidak sebanyak ongkos pengobatan.

Yakin

Yakin artinya nyata dan terang. Yakin itu ialah lawan dari syak dan ragu-ragu. Maka tidaklah akan hilang syak dan ragu-ragu itu kalau tidak ada dalil atau alasan yang cukup.

Dan datangnya yakin itu setelah memperoleh bukti-bukti yang terang. Keyakinan datang setelah menyelidiki, kadang- kadang tidak diselidiki lagi karena dalil itu cukup terbentang di hadapan mata.

Cara mencapai dalil itu tidaklah sama di antara manusia. Banyak perkara yang diyakini oleh seorang, masih diragui oleh yang lain, sebab belum mendapat dalilnya.

Akan tetapi dalam perkara yang terang misalnya alasan bahwa hari telah siang, atau dua kali dua empat, lekas orang yang meyakininya.

Kemudian Raghib membagi tiga pula tingkatan yakin, yaitu: Ilmul Yaqin, Haqqul Yaqin, Ainul Yaqin. Ilmul yaqin artinya, ilmu yang timbul dari pendapat yang lahir setelah memperoleh dalil yang cukup.

Setelah cukup dalil lalu dicobakan maka timbullah Haqqul Yaqin. Setelah mendapat Haqqul Yaqin, lalu disaksikan sendiri pula lalu naik tingkatan itu kepada Ainul Yaqin, itulah yang setinggi-tinggi derajat yakin.

I’tikad  ialah kesimpulan pendapat pikiran. Keyakinan lebih daripada I’tikad  karena keyakinan adalah setelah diselidiki. Tegasnya I’tikad  tingkat pertama, keyakinan tingkat kedua. Sebab itu maka tiap-tiap keyakinan itu adalah I’tikad , tetapi tidaklah tiap-tiap I’tikad  itu keyakinan.

Maka janganlah mempunyai I’tikad  saja dengan tidak mempunyai keyakinan. Hendaklah I’tikad  diuji dengan batu ujian keyakinan.

Segala agama dan pendirian di dunia ini umumnya bernama I’tikad, tetapi tidak semuanya keyakinan pada zatnya. Agama Islam adalah suatu I’tikad. Sebab itu hendaklah kita jalankan pikiran, bersihkan hati dan jiwa setiap pagi dan petang, siang dan malam, supaya dia jadi I’tikad yang diyakini.

Iman

Iman artinya percaya. Jika perkataan Iman itu disendirikan, termasuklah kepadanya segala amalan yang lahir atau batin. Berkata setengah ahli pikir Islam, “Iman itu ialah perkataan dan perbuatan (qaulun wa’amalun)” (Diucapkan oleh lisan, diyakini dengan hati, dan diamalkan oleh perbuatan).

Allah SWT berfirman, yang artinya; “Sesungguhnya orang-orang mukmin (yang sebenarnya) hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang benar.” (QS. Al-Hujurat [49]:15).

Firman-Nya pula, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal [8]:2-4).

Jadi, iman itu lebih umum dari Islam dan lebih meliputi. Tiap orang yang beriman itu dia Islam, tetapi tidaklah tiap-tiap orang Islam itu beriman.

Terang pula bahwa arti iman dengan arti Islam jauh perbedaannya. Islam adalah bekas dari keimanan. Dalam Al- Qur’an senantiasa disebut orang yang beriman dan beramal shaleh. Amal shaleh itulah Islam.

Bertambah nyata lagi pada suatu hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Sayyidina Umar bin Khaththab, bahwa seketika Jibril datang merupakan dirinya sebagai seorang laki-laki, dia bertanya kepada Nabi Saw.,

“Apakah Islam?”

Jawab Nabi, “Islam ialah engkau ucapkan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad utusan-Nya, mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat, puasa bulan Ramadhan, naik haji kalau kuasa.”

“Apakah Ihsan?”

“Ihsan ialah bahwa engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat Dia, jika engkau tidak melihat Dia, namun Dia tetap melihat engkau.”

Terang nyata kita lihat dari hadis itu bahwa uratnya ialah iman, pohonnya Islam, dan disiram terus supaya subur dengan ihsan. Apa sebab iman dikatakan uratnya? Memang karena tidaklah orang suka mengerjakan amal, yaitu Islam kalau hatinya sendiri belum percaya. Maka tidak diterima Allah amal orang yang munafik, sebab hatinya sendiri tidak percaya, meskipun dia sembahyang. Maka dari itu iman bisa subur dalam hati, hendaklah tersingkir hati dari sifat-sifat takabur, hasad, dan mencari kemegahan.

Keimanan memberikan perasaan kedamaian dan kepastian dalam menghadapi kehidupan. Ini memberikan ketenangan batin dan keyakinan bahwa ada sesuatu yang lebih besar di luar kendali manusia.

Melalui koneksi spiritual, orang sering merasa lebih terhubung dengan sesama manusia dan alam sekitar, yang dapat meningkatkan perasaan kebahagiaan dan kedamaian batin.

Selain itu, keyakinan akan adanya balasan ilahi atau pahala atas perbuatan baik juga bisa menjadi sumber motivasi yang besar dalam menjalani hidup. Ini memberikan perasaan bahwa kebaikan akan diakui dan dihargai, yang dapat meningkatkan kebahagiaan dan memberikan arti hidup yang lebih dalam.

Agama

Penyelidikan adalah tabiat manusia yang akil, itu sebabnya maka sudah beribu tahun agama-agama tersiar di dunia, padahal manusia belum berlindung kepada suatu agama saja. Hikmah kebenaran itu laksana berlian, mahal tetapi jauh tersembunyi.

Allah SWT berfirman, “Kalau Tuhanmu berkehendak, tentu dijadikannya segenap manusia ini menjadi umat yang satu: sekarang mereka masih tetap berselisih saja, kecuali orang yang beroleh rahmat dari Tuhanmu.” (QS. Hud [11]: 118-119)

“Kemudian mereka terpecah belah dalam urusan (agama)nya menjadi beberapa golongan. Setiap golongan (merasa) bangga dengan apa yang ada pada mereka (masing-masing).” (QS. [23]: 53).

Lantaran itu banyaklah perselisihan. Penganut suatu agama menyatakan agama lain salah, agamanya yang betul. Orang Yahudi mengatakan orang Nashrani itu tidak ada tempat tegaknya, orang Nashrani mengatakan agama Yahudi tak beralasan.

Kedatangan Islam ke dunia adalah di zaman pertikaian di antara agama-agama dengan sangat kerasnya, yang satu menghina yang lain, sepihak merendahkan lain pihak. Hanya sedikit golongan yang terlepas.

Datang Islam ke dunia mencela segala pertengkaran yang tak berujung itu. Islam menerangkan bahwa agama itu sekaliannya bukanlah kepunyaan manusia, tetapi kepunyaan Allah yang dibangun pada tiap-tiap zaman dengan perantaraan utusan-utusan-Nya. Dia ingatkan bahwa kedatangan Nuh, Ibrahim, Ismail sampai kepada Musa dan Isa, Sulaiman dan Daud, sampai kepada Muhammad ﷺ, hanyalah dari satu pihak, yaitu dari Tuhan.

Pokok agama itu satu, agama yang didatangkan Musa, itu juga yang dibawa oleh ‘Isa. Dan kedatangan Nabi Muhammad ﷺ di belakang itu adalah menyambung dan mencukupkan pelajaran yang telah dibawa oleh nabi nabi yang terdahulu daripadanya.

Agama itu satu ujud dan maksudnya, tidak dibangsakan kepada suatu keturunan sebagai Yahudi, dan tidak pula dibangsakan kepada suatu tempat sebagai negeri Nazareth, yaitu Nashrani. Ujud dan tujuannya satu, yaitu menyerahkan diri kepada Tuhan bulat- bulat, yang di dalam bahasa Arab dinamai Aslama, Yuslimu, Islaman (Menyerahkan diri, tunduk, patuh, dan taat).

Dari keempat poin tersebut perlu digaris bawahi bahwa keimanan kepada Allah dikaitkan dengan kebahagiaan karena banyak orang percaya bahwa memiliki keyakinan yang kuat kepada Sang Pencipta dapat memberikan rasa kedamaian, harapan, dan tujuan hidup yang mendalam.

Keyakinan ini juga bisa memberikan dukungan saat menghadapi cobaan dan kesulitan dalam hidup. Bagi sebagian orang, kesadaran akan keberadaan Dia Yang Mengatur Alam Raya juga memberikan perasaan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi segala hal karena sifat Maha Penyayang-Nya dapat memberikan ketenangan batin dan kebahagiaan yang lebih mendalam.*

Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, abdullahdhorif@gmail.com

HIDAYATULLAH

Ahli Psikologi Islam Ungkap Penyebab Orang Termotivasi Jadi Mualaf

Pengalaman mualaf berbeda-berbeda dalam menemukan Tuhannya.

Ahli Psikologi Islam dari Universitas Gajah Mada (UGM) sekaligus Presiden Asosiasi Psikolog Muslim Internasional Bagus Riyono mengungkapkan alasan orang termotivasi masuk Islam dan menjadi mualaf. Menurut dia, orang banyak menjadi mualaf karena ada kekosongan dalam hatinya.

Dia mengatakan pengalaman mualaf berbeda-berbeda dalam menemukan Tuhannya. Namun, secara psikologi manusia itu memiliki hati nurani yang jarang dirasakan. Jika sering berkontemplasi, kata dia, maka manusia itu akan merasakan ada kekosongan di dalam hatinya.

“Kekosongan di dalam hati itu lalu membuat mereka gelisah, tapi sering teralihkan dengan aktivitas yang lainnya. Nah, mereka yang peka hati nuraninya itu akan terus mencari apa sebetulnya yang kurang dalam hatinya,” ujar Bagus saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (27/12/2023).

“Mereka mencari. Nah, begitu mereka mengenal Allah itu langsung jawabannya terasa,” ucap dia.

Baru-baru ini, menurut dia, ada sekitar 30 perempuan Australia yang memeluk Islam setelah menyaksikan tragedi kemanusiaan di Gaza, Palestina. Mereka juga terkesan dengan perlawanan Gaza terhadap Israel. Di samping itu, menurut Bagus, sebenarnya mereka masuk Islam juga karena ada kekosongan dalam hatinya.

“Ketika diminta testimoni dia bilang menyaksikan kekejaman Israel di Gaza itu mereka setiap hari menangis, tapi gak tahu kenapa. Jadi ada sesuatu yang kosong dalam hatinya itu, dan sangat gelisah karena itu,” kata dia.

Bagus mengatakan, kegelisahan itu tidak bisa dipahami dengan akal. Setelah masuk Islam, kekosongan hati mereka pun terisi dan percaya bahwa segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah SWT.

“Mereka akhirnya ketika masuk Islam, kekosongan itu terisi bahwa segala sesuatu sudah menjadi rencana Allah. Dengan keyakinan Islam itu membuat mereka jadi senang, tidak lebih tergoncang,” jelas Bagus.

Seperti diketahui, semakin banyak orang-orang yang termotivasi memeluk agama Islam, tidak hanya generasi muda tapi juga dari generasi tua, mulai dari kalangan artis hingga olahragawan. Salah satu olahragawan yang baru menjadi mualaf adalah petinju juara dunia Gervonta Davis.

Gervonta Davis membagikan kabar menjadi mualaf secara langsung melalui Instagram mantan rapper Mutah Beale. Melalui akun @mutahbeale, Gervonta Davis mengucapkan syahadat dan memeluk agama Islam pada Senin (25/12/2023).

Petinju profesional tersebut juga membaca syahadat bersama dua orang lainnya yang dipandu oleh imam masjid. “Alhamdulillah saudara kita Hasan As-Somali imam dari @gtwonmasjidofficial di Philly, memberikan syahadat kepada saudara kita tank @gervontaa selamat datang di islam akhi, semoga Allah memberikan keteguhan kalian, turut hadir saat syahadat, Abdul-Haq (Big Durk),” kata akun @mutahbeale.

KHAZANAH

Hikmah Manusia Diciptakan Bertingkat-Tingkat

Ketika menciptakan manusia, Allah Ta’ala ciptakan dalam kondisi yang berbeda-beda levelnya dan bertingkat-tingkat. Tidak hanya dalam hal rezeki, tetapi juga dalam hal keimanan, ketakwaan, ilmu, fisik, dan sebagainya. Allah Ta’ala berfirman,

هُمْ دَرَجَٰتٌ عِندَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ بَصِيرٌۢ بِمَا يَعْمَلُونَ

“(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran: 163)

Dalam firman-Nya yang lain,

يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

“Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Asy-Syura: 12)

Tatkala Allah menciptakan manusia, Ia memberikan perbedaan level pada hamba-Nya. Hal ini merupakan salah satu bentuk keadilan Allah. Dan semua ketetapan Allah pasti ada hikmahnya. Hal ini sebagaimana firman-Nya,

وَهُوَ ٱلْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلْحَكِيمُ ٱلْخَبِيرُ

“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 18)

Ada beberapa hikmah bertingkat-tingkatnya level manusia sebagai berikut:

Pertama, agar menyadari bahwa di akhirat manusia pun tidak sama tingkatannya

Allah Ta’ala berfirman,

ٱنظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ وَلَلْءَاخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَٰتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا

“Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (QS. Al-Isra’: 21)

Hendaknya disadari bahwa tingkatan kehidupan di akhirat jauh berbeda dibandingkan dengan dunia. Ketika dibangkitkan, manusia akan memiliki fisik yang berbeda. Bahkan, sampai di surga dan neraka pun memiliki tingkatan-tingkatan.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ فِى ٱلدَّرْكِ ٱلْأَسْفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.” (QS. An-Nisa’: 145)

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إنَّ في الجنةِ مائةَ درجةٍ ، أعدَّها اللهُ للمجاهدين في سبيلِه ، كلُّ درجتيْنِ ما بينهما كما بين السماءِ والأرضِ ، فإذا سألتم اللهَ فسلُوهُ الفردوسَ ، فإنَّهُ أوسطُ الجنةِ ، وأعلى الجنةِ ، وفوقَه عرشُ الرحمنِ ، ومنه تَفجَّرُ أنهارُ الجنةِ

Surga itu ada 100 tingkatan, yang dipersiapkan oleh Allah untuk para mujahid di jalan Allah. Jarak antara dua surga yang berdekatan sejauh jarak langit dan bumi. Dan jika kalian meminta kepada Allah, mintalah surga Firdaus. Karena itulah surga yang paling tengah dan paling tinggi, yang di atasnya terdapat Arsy milik Ar-Rahman, darinya pula (Firdaus) bercabang sungai-sungai surga. (HR. Al-Bukhari)

Kedua, melatih syukur dan sabar

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati, kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan nikmat (kesenangan), maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan musibah (kesusahan), maka ia bersabar. Itu pun baik baginya. (HR. Muslim)

Allah Ta’ala membuat level manusia tidak sama agar mereka senantiasa bersabar dan bersyukur. Bersabar atas segala kekurangan dan kesusahannya, serta bersyukur atas kelebihan dan kenikmatan yang ia dapatkan.

Terkadang Allah berikan kesempitan kepada seorang hamba, agar ia ingat dan mau kembali kepada Allah. Sehingga ia bermunajat, berdoa, dan bertawakal kepada Allah.

Ketiga, agar saling melengkapi dan memberi manfaat

Allah Ta’ala berfirman,

وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَٰتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُم بَعْضًا سُخْرِيًّا

“…dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.” (QS. Az-Zukhruf: 32)

Allah jadikan sebagian orang lebih kaya, lebih pintar, lebih kuat dari yang lain agar saling melengkapi dan memberi manfaat. Jika semua orang kaya dan tidak ada yang miskin, apakah masih ada yang ingin menjadi pembantu, tukang sayur keliling, tukang sampah, tukang bangunan yang bisa memberi bantuan dan manfaat kepada orang kaya? Jika semua orang ingin jadi presiden atau direktur, siapa yang menjadi rakyat atau karyawannya?

Keempat, bentuk keadilan Allah agar manusia menjadi baik dan benar

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزْقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَآءُ ۚ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرٌۢ بَصِيرٌ

“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 27)

Sudah menjadi hal umum bahwa kebanyakan orang kaya suka menghambur-hamburkan harta. Berbeda dengan sebagian besar orang miskin yang berusaha menjaga dan menghemat hartanya. Allah juga lebih tahu yang terbaik untuk hamba-Nya sebagaimana hadis dha’if (tetapi maknanya benar), Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إنَّ مِنْ عِبَادِى مَنْ لاَ يَصْلُحُ إِيْمَانُهُ إِلاَّ بِالغِنَى وَلَوْ أَفْقَرْتُهُ لَكَفَرَ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِى مَنْ لاَ يَصْلُحُ إِيْمَانُهُ إِلاَّ الفَقْر وَلَوْ أَغْنَيْتُهُ لَكَفَرَ

Sesungguhnya di antara hamba-Ku, keimanan barulah menjadi baik jika Allah memberikan kekayaan padanya. Seandainya Allah membuat ia miskin, tentu ia akan kufur. Dan di antara hamba-Ku, keimanan barulah baik jika Allah memberikan kemiskinan padanya. Seandainya Allah membuat ia kaya, tentu ia akan kufur. (HR. Abu Nu’aim dalam Hilyah Al-Auliya, 8:318 . Lihat juga Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 5: 71)

Ada sebagian manusia yang menjadi tidak beriman dan lupa bersyukur jika ia diberikan kekayaan, kesehatan, atau kelebihan lainnya. Ketika dijadikan kaya, ia lalai dari ibadah, jauh dari ketaatan dan sibuk dengan urusan dunianya. Sebaliknya, ada sebagian orang yang cocoknya menjadi orang kaya. Ketika ia miskin, malah ia akan mudah mengeluh.

Kelima, kaya dan miskin itu sama-sama ujian

Allah Ta’ala berfirman,

وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’: 35)

Kaya bisa menjadi istridaj (jebakan nikmat yang disegerakan di dunia), sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah. (HR. Ahmad, 4: 145)

Dan miskin bisa jadi sebagai hukuman atas dosa yang diperbuat sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).(QS. Asy-Syura: 30)

Mutiara nasihat

Bagi yang Allah berikan kelebihan dari yang lain, hendaknya tidak boleh merasa sombong dan merendahkan orang-orang yang di bawahnya. Sedangkan bagi orang yang Allah berikan kekurangan, maka hendaknya ia mengejar dengan memperbanyak amal.

أَمَرَنِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ أَمَرَنِي بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ وَأَمَرَنِي أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِي وَلَا أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي

Kekasihku, yakni Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan tujuh perkara padaku: 1)Beliau memerintahkanku agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, 2) beliau memerintahkanku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada di atasku.…” (HR. Ahmad)

Dalam sabda beliau yang lain,

إذا نظر أحدكم إلى من فضل عليه في المال والخلق فلينظر إلى من هو أسفل منه

Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (rupa) [al-khalq], maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta benda kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim)

***

Penulis: Arif Muhammad N.

Sumber: https://muslim.or.id/90544-hikmah-manusia-diciptakan-bertingkat-tingkat.html
Copyright © 2023 muslim.or.id

Surat Al Waqiah Artinya Hari Kiamat, Mengapa Jadi Amalan Pembuka Pintu Rezeki?

Keutamaan dari Surat Al Waqiah adalah menarik rezeki.

Sudah sangat masyhur surat Al-Waqiah dijadikan amalan untuk membukakan pintu rezeki. Banyak Muslim mendapatkan anjuran dari para ulama agar mengamalkan Al-Waqiah ketika menghadapi kesulitan ekonomi.

Padahal Al-Waqiah memiliki arti hari kiamat. Mengapa Al-Waqiah yang memiliki arti hari kiamat bisa menjadi sangat masyhur sebagai amalan pembuka pintu rezeki?

Guru Besar UIN Sunan Kalijaga bidang Ilmu Tafsir Prof Sahiron Syamsuddin mengatakan Al-Waqiah memang diamalkan banyak orang. Salah satu harapannya agar diberikan rezeki yang lebih baik dari Allah. Hal tersebut berdasarkan beberapa riwayat hadits.

Diriwayatkan dalam biografi Abdullah ibn Mas’ud, seorang sahabat besar Nabi Muhammad Saw., bahwa ketika Abdullah sakit (yang karena beliau wafat), Utsman ibn Affan menjenguknya. Lalu terjadilah dialog antara dua sahabat tersebut.

Ustman: “Apa yang engkau keluhkan?”

Abdullah: “Dosa-dosaku.”

Ustman : “Apa yang engkau harapkan?”

Abdullah: “Rahmat Tuhanku.”

Ustman: “Perlukah saya memerintah (seseorang) untuk mengundang seorang dokter untukmu?”

Abdullah: “Dokter sudah mengobatiku.”

Ustman: “Perlukah saya memerintah (seseorang) untuk memberikan sesuatu untukmu?”

Abdullah: “Saya tidak memerlukannya.”

Ustman: “Barangkali saja sesuatu itu bermanfaat bagi anak-anak perempuanmu setelah kamu nanti.”

Abdullah: “Apakah engkau mengkhawatirkan kemiskinan atas anak-anakku? Sesungguhnya saya memerintahkan mereka membaca Surat al-Waqiah setiap malam. Sungguh saya mendengar Rasulullah bersabda: “Barangsiapa membaca Surat al-Waqiah setiap malam, maka dia tidak akan jatuh pada kemiskinan.”

Prof Sahiron mengatakan atas dasar sabda Rasulullah dalam percakapan dua sahabat tersebut, surat Al-Waqiah juga mempunyai keutamaan melapangkan rezeki. Meskipun Al-Waqiah banyak membicarakan tentang Hari Kiamat, namun sebagian ayat-ayatnya berbicara tentang kenikmatan dari Allah SWT.

“Coba perhatikan ayat 63-76, ayat-ayat tersebut membicarakan bahwa Allah itu sumber kenikmatan dan kebahagiaan,” ujar Prof Sahiron kepada Republika.co.id, Kamis (28/12/2023).

Sayyid Muhammad bin al-Alawy al-Maliki al-Hasani dalam karyanya Abwab al-Farah sebagaimana termuat di Republika.co.id menyebutkan bahwa keutamaan dari Al-Waqiah adalah menarik rezeki. Dan dalam riwayat dari Ibnu Mas’ud yang dinukilkan oleh Abu ‘Ubaidah dalam Fadhail, Ibn ad-Dharis, al-Harits bin Abi Usamah, Abu Ya’la, Ibn Mardawaih, dan al-Baihaqi dalam Sya’b al-Iman menyebutkan hadis Rasulullah SAW yang berbunyi,

”Barang siapa yang membaca surah al-Waqiah tiap malam, ia tak akan terjangkit kemiskinan selamanya.”

Baca Surat Al Waqiah Arab, Latin, dan Terjemahan di sini

IQRA

Selain Bershalawat, Lakukan Dua Hal Ini untuk Mendatangkan Rezeki

Besar kecilnya rezeki seseorang tidak akan tertukar atau salah alamat.

Setiap manusia telah ditetapkan rezekinya sejak dalam kandungan hingga dia meninggal. Sehingga besar kecilnya rezeki seseorang tidak akan tertukar atau salah alamat.

Karena besar kecilnya rezeki itu sejatinya adalah karunia dari Allah yang patut kita syukuri, maka kewajiban kita sebagai hamba Allah adalah berikhtiar dan bertawakal kepada Allah.  Sudah sepatutnya kita berusaha mencari rezeki dengan jalan yang diridhai Allah.

Kita juga melakukan amalan-amalan untuk memperlancar rezeki seperti memperbanyak membaca shalawat atau sedekah. Tetapi, selain bershalawat, ternyata dengan memperbanyak membaca istighfar dan bertawakal kepada Allah pun dipercaya ampuh mendatangkan rezeki.

Amalan untuk Mendatangkan Rezeki

1. Tawakal

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Majah.

حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ ابْنِ هُبَيْرَةَ عَنْ أَبِي تَمِيمٍ الْجَيْشَانِيِّ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانً

Telah menceritakan kepada kami (Harmalah bin Yahya) telah menceritakan kepada kami (Abdullah bin Wahb) telah mengabarkan kepadaku (Ibnu Lahi’ah) dari (Ibnu Hubairah) dari (Abu Tamim Al Jaisyani) dia berkata: Saya mendengar (Umar) berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki terhadap burung, ia pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.” (Hadith Ibnu Majah).

Hadits ini bermakna jika saja orang-orang bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan datangkan rezeki dengan mudah sebagaimana Allah mendatangkan rezeki untuk burung-burung agar kenyang.

Karenanya, barang siapa bertawakal kepada Allah, menyerahkan semua atas usahanya kepada Allah, maka Allah yang akan mencukupi kebutuhannya. Seperti firmannya dalam surat At Talaq:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS Ath Thalaq ayat 2-3).

2. Istighfar

Istighfar bukan hanya bacaan dzikir untuk mendekatkan diri seorang hamba kepada penciptanya. Keajaiban istighfar juga ternyata mampu mendatangkan rezeki, sebagaimana tertulis dalam surat Nuh ayat 10-12

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا* يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا* وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَننِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا

Artinya: “Lalu, aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengatakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.”

Imam Al Qurthubi dalam kitabnya Tafsir Al Qurthubi menjelaskan, sesungguhnya ayat-ayat ini menjelaskan istighfar dapat menarik rezeki dan karunia Allah Swt. Istighfar juga dapat mengundang dan mendatangkan hujan yang kita butuhkan dan menyelamatkan kita dari kekeringan.

IQRA

3 Alasan Tawakal kepada Allah Jadi Kunci Membuka Rezeki

Tawakal berarti kesungguhan hati dalam bergantung secara penuh kepada Allah SWT.

Seorang Muslim yang beriman tidak perlu khawatir dengan perkara-perkara dunia, seperti rezeki. Mereka sepenuhnya telah menyerahkan urusan dunia mereka kepada Allah SWT yang telah menciptakan dunia itu sendiri.

Sebagaimana disebutkan Imam Ghazali dałam kitabnya Minhajul Abidin, “Sebenarnya rezeki itu menjadi cukup dengan tawakal. Engkau dianjurkan bertawakal kepada Allah pada sumber-sumber rezeki dan semua kebutuhan dunia.”

Menurut Imam Ghazali, tawakal berarti kesungguhan hati dalam bergantung secara penuh kepada Allah SWT untuk mendapatkan kebaikan dan menjauhkan diri dari kemudharatan duniawi dan ukhrawi.

Hal senada dikatakan Syaikh Ibnu Utsaimin, tawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah dalam mengupayakan yang dicari dan menolak apa-apa yang tidak disenangi disertai percaya penuh kepada Allah dan menempuh sebab (upaya dan aktivitas yang dilakukan untuk meraih tujuan, seperti berobat agar sembuh, bekerja agar dapat rezeki dan sejenisnya yang diizinkan syariat).

Dengan kata lain, tawakal harus memenuhi dua syarat. Pertama, menyandarkan segala urusan kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Kedua, berusaha sebaik-baiknya dengan tidak melanggar syariat.

Jika sudah demikian, maka pintu rezeki akan terbuka dengan sendirinya. Karena salah satu kunci membuka pintu rezeki adalah dengan tawakal kepada Allah SWT dan tidak berburuk sangka.

Berikut ini tiga alasan sebab tawakal menjadi kunci pembuka pintu rezeki.

Alasan Tawakal Menjadi Kunci Pembuka Rezeki

1 Allah menjamin rezeki setiap makhluknya

عَنْ عُمرَ بن الخطَّابِ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – عَنِ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ : لَو أَنَّكُمْ تَوكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرزُقُ الطَّيرَ ، تَغدُو خِماصاً ، وتَروحُ بِطَاناً

Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi di waktu pagi dalam keadaan lapar dan kembali di waktu sore dalam keadaan kenyang.”

2. Rezeki yang tidak disangka

Dengan bertawakal, Allah akan mendatangkan rezeki kepada hamba-Nya dari arah yang tidak pernah disangka-sangka.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq ayat 2-3)

3. Dengan bertawakal hati akan tenang dan rezeki akan datang

Surat At Talaq ayat 2-3 disebut juga ayat seribu dinar. Nabi Muhammad membacakan ayat ini kepada Abu Dzar.

  يَا أَبَا ذَرٍّ، لَوْ أَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ أَخَذُوا بِهَا كَفَتْهُمْ”. وَقَالَ: فَجَعَلَ يَتْلُوهَا ويُرددها عَلَيَّ حَتَّى نَعَست،

Artinya: “Hai Abu Dzar, “Seandainya semua manusia mengamalkan ayat ini yakni Surat At-Talaq ayat 2-3, niscaya mereka akan diberi kecukupan. Abu Dzar melanjutkan, bahwa lalu Rasulullah membaca ayat ini berulang-ulang kepadanya hingga ia merasa mengantuk.”

Maksudnya, seandainya kaum muslimin merealisasikan taqwa dan tawakal dengan benar, urusan dunia dan agama mereka akan tercukupi. (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:497)

ISLAMDIGEST

Sholat Paling Utama di Awal Waktu, Kecuali dalam Beberapa Kondisi Berikut

Sholat 5 waktu mempunyai sejumlah keutamaan yang agung

Sholat fardhu merupakan rukun Islam ke dua dan amalan pertama kali yang akan dihisab di akhirat. Artinya, mereka yang meninggalkan sholat fardlu lima waktu akan berdosa. 

Lalu bagaimana jika seorang Muslim tersebut gemar menunda-nunda atau mengakhirkan waktu sholat? Jelas, ulama sepakat bahwa mengakhiri waktu sholat hingga ia lalai adalah dosa.

“Bila seseorang dengan lalai dan sengaja menunda-nunda pengerjaan sholat, hingga terlewat waktunya, para ulama sepakat dia telah berdosa,” kata Ustadz Ahmad Sarwat dalam bukunya Enslikopdia Fikih Indonesia 3: Sholat. 

Akan tetapi lanjut dia, Islam bukanlah agama yang memberatkan pemeluknya. Dengan kata lain, jika ada udzur yang mengharuskan menunda sholat, maka dibolehkan selama waktu sholat masih ada.

“Mengakhirkan sholat hingga ke bagian akhir dari waktunya oleh para ulama disepakati kebolehannya dan bahwa sholat masih dibenarkan untuk dikerjakan,” kata Ahmad Sarwat.

“Karena prinsipnya agama Islam diturunkan sebagai bentuk keringanan dan bukan sebagai agama yang menghukum manusia sehingga Allah SWT memberikan kelonggaran buat manusia untuk mengerjakan sholat, bukan pada waktu yang sempit dan terbatas, melainkan diberikan keluasan untuk mengerjakan sholat fardu di dalam rentang waktu yang lebar,” jelasnya lagi. Rasulullah SAW bersabada

 عن أبي مَحْذُورة -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: أولُ الوقت رِضْوَان الله، ووسَط الوقت رحمة   الله، وآخر الوقت عَفْو الله

“Sholat di awal waktu akan mendapat keridhaan dari Allah. Sholat di tengah waktu mendapat rahmat dari Allah. Dan sholat di akhir waktu akan mendapatkan maaf dari Allah.” (HR Ad-Daruquthuni). Namun udzur seperti apa yang membolehkan sholat di akhir waktu ini?

1. Tidak ada air

Dalam keadaan kelangkaan air untuk berwudu, tapi masih ada keyakinan dan harapan untuk mendapatkannya di akhir waktu, para ulama sepakat memfatwakan bahwa sholat lebih baik ditunda pelaksanaannya, bahkan meski sampai di bagian akhir dari waktunya.

Mazhab Asy-Syafiiyah menegaskan lebih utama menunda sholat tetapi dengan tetap berwudu menggunakan air, daripada melakukan sholat di awal waktu, tetapi hanya dengan bertayamum dengan tanah.

2. Menunggu jamaah

Meski sholat di awal waktu itu lebih utama, kenyataanya hal itu tidak bersifat mutlak. Sebab ternyata Rasulullah SAW sendiri tidak selamanya sholat di awal waktu. Ada kalanya beliau menunda sholat hingga beberapa waktu, tetapi tetap masih di dalam waktunya.

Salah satunya adalah sholat Isya yang kadang beliau mengakhirkannya, bahkan dikomentari sebagai waktu sholat yang lebih utama. 

Beliau seringkali memperlambat dimulainya sholat bila melihat jamaah belum berkumpul semuanya. 

Misalnya, dalam sholat Isya beliau seringkali menunda dimulainya sholat manakala dilihatnya para sahabat belum semua tiba di masjid.

3. Menunda sholat Zuhur

Rasulullah SAW menunda sholat saat matahari sedang panas-panasnya, sehingga ulama mengatakan hukumnya mustahab bila sedikit diundurkan.

“Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa Nabi bila dingin sedang menyengat menyegerakan sholat. Tapi bila panas sedang menyengat, beliau mengundurkan sholat.” (HR Bukhari).

4. Menunda sholat maghrib

Terkadang Rasulullah menunda sholat maghrib bila sedang berbuka puasa. Padahal waktu maghrib adalah waktu yang paling pendek.

5. Menunda sholat bila makanan dihidangkan 

Sholat juga lebih utama untuk ditunda atau diakhirkan manakala makanan telah terhidang. Beliau SAW juga menganjurkan untuk menunda sholat manakala seseorang sedang menahan buang hajat.

لا صلاة بحضرة طعام ولا هو يدافعة الأخبثان

“Tidak ada sholat ketika makanan telah terhidang atau menahan kencing atau buang hajat.” (HR Muslim)

Maka mengakhirkan atau menunda pelaksanaan sholat tidak selamanya buruk, ada kalanya justru lebih baik, karena memang ada ‘illat yang mendasarinya.

Dalam format sholat berjamaah di masjid, wewenang untuk mengakhirkan pelaksanaan sholat berada sepenuhnya di tangan imam masjid. 

ISLAMDIGEST

Rambu-Rambu Allah dalam Mencari Rezeki, Apa Saja?

Bekerja adalah bentuk tanggung jawab seseorang.

Bekerja adalah sebuah keharusan bagi setap manusia. Bekerja adalah bentuk tanggung jawab seseorang untuk menghidupi diri sendiri maupun orang lain, seperti anak dan istri atau keluarga lainnya.

Oleh karena itu mayoritas orang berbondong-bondong membangun usaha agar ekonominya terjamin. Namun demikian, Islam memberikan rambu-rambu bagaimana membangun dan menjalankan usaha dalam mencari rezeki agar sesuai dengan perintah agama.

Sebab manusia dipenuhi oleh hawa nafsu yang besar sehingga Allah memberikan batasan-batasan dalam bekerja. Dalam firman Allah disebutkan:

“Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa dan kamu mengetahuinya”. (QS al-Baqarah (2):188).

Rasulullah juga bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan darah, harta dan kehormatan kalian”.

Al-Harits al-Muhasibi dalam bukunya Kerja Halal Hidup Berkah menekankan bagaimana seseorang dalam bekerja untuk mencari rezeki tidak melampaui batas. Sebab melampaui batas adalah sesuatu yang dibenci oleh Allah. Al-Harits menegaskan bersikap melampaui batas adalah suatu sikap tercela.

Ia mengajak kepada umat Islam agar dalam berusaha tetap mengikuti rambu-rambu yang telah diperingatkan oleh Allah dan Rasulullah. Beberapa sifat terpuji dalam berusaha, yaitu menegakkan ketaatan kepada Allah, mencari usaha yang cocok dan dibenarkan oleh Allah, dan berhenti ketika melampaui batas.

Dalam berusaha mencari rezeki, Islam juga mengajarkan beberapa amalan dzikir, sholat dan doa-doa. Tujuannya agar rezeki yang didapatkan berkah dan dimudahkan.

ISLAMDIGEST

10 Nama Surga

ADA beberapa nama Surga yang sudah disebutkan dalam Al-Quran. Ini dia:

1. Nama Surga: Darussalam (دَارُ السَّلامِ)

Allah Ta’ala berfirman,

لَهُمْ دَارُ السَّلامِ عِنْدَرَبِّهِمْوَهُوَوَلِيُّهُمْبِمَاكَانُوايَعْمَلُونَ

“Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal shalih yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 127)

Sebagian ulama mengatakan, “Disebut darussalam karena surga adalah tempat yang terbebas dari hal yang kotor, hal yang membahayakan dan hal yang tidak disukai”. Pendapat yang lain mengatakan artinya Darullah, karena As-Salam adalah salah satu nama Allah.

2. Nama Surga: Jannatul Khuld (جَنَّةُ الْخُلْدِ)

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ أَذَلِكَ خَيْرٌ أَمْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ كَانَتْ لَهُمْ جَزَاءً وَمَصِيرًا

“Katakanlah (Muhammad), “Apakah (adzab) seperti itu yang baik, atau surga yang kekal yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa sebagai balasan, dan tempat kembali bagi mereka?” (QS. Al-Furqan: 15)

Disebut dengan nama ini karena penduduk surga itu kekal berada di dalam surga, tidak berpindah posisi ke tempat yang lain, dan tidak mencari cari tempat lain selain surga.

3. Nama Surga: Jannatul Ma’wa (جَنَّةُ الْمَأْوَى)

Allah Ta’ala berfirman,

عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (١٤) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى

“(yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.” (QS. An-Najm: 14-15)

4. Nama Surga: Darul Muqamah (دَارَ الْمُقَامَةِ)

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ (٣٤) الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهِ لا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ (٣٥)

“Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang dengan karunia-Nya menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga); di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu”. (QS. Fathir: 34-35)

5. Nama Surga: Jannatu ‘Adn (جَنَّاتِ عَدْنٍ)

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. Ash-Shaff: 12)

6. Nama Surga: Maq’adu Shidq (مَقْعَدِ صِدْقٍ)

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ (٥٤)فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ (٥٥)

“Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.” (QS. Al-Qamar: 54-55)

7. Nama Surga: Qadama Shidq (قَدَمَ صِدْقٍ)

Allah Ta’ala berfirman,

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِنْدَ رَبِّهِمْ

“Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang yang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Rabb kalian.” (QS. Yunus: 2)

8. Nama Surga: Al-Maqamul Amin (مَقَامٍ أَمِينٍ)

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي مَقَامٍ أَمِينٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam tempat yang aman.” (QS. Ad-Dukhan: 51)

9. Nama Surga: Jannatun Na’im (جَنَّاتُ النَّعِيمِ)

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيمِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka akan mendapat surga-surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Luqman: 8)

(Referensi: Kitab Washful Jannah Karya Musthafa Al ‘Adawi, penulis: Wiwit Hardi P.)

10. Nama Surga: Jannatul firdaus

الْفِرْدَوْسُ رَبْوَةُ الْجَنَّةِ وَأَوْسَطُهَا وَأَفْضَلُهَا

Firdaus adalah surga yang paling tinggi, yang paling bagus, dan yang paling afdhal. (HR. Turmudzi 3174

“Di surga itu terdapat seratus tingkatan, Allah menyediakannya untuk para mujahid di jalan Allah, jarak antara keduanya seperti antara langit dan bumi. Karena itu, jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus, karena sungguh dia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya ada Arsy Sang Maha Pengasih, dan darinya sumber sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari 2790 & Ibnu Hibban 4611). []

ISLAMPOS

Ke Kajian Selfie Dulu?

SEKITAR awal tahun lalu, seseorang ngajak saja ke kajian yang baru dia gagas bersama kawan-kawannya. Malam Kamis. Nggak bisa lah saya. Sudah lebih dari 20 tahun, saya punya jadwal hadir ke kajian setiap pekan. Ya di malam Kamis. Saya tolak.

Sepekan kemudian, 2 orang karib ke rumah. Mereka berkata, “Pak B berkata sama kita-kita kalau antum itu gimana sih, nggak mau hadir ke kajian. Ilmu antum udah banyak mungkin yah…”

Hah, saya mengernyit, nggak mengerti.

Oh jadi, si Pak B itu, yang ngajak saya ke kajian yang digagas oleh dia sama teman-temannya mungkin nggak ngerti, nggak paham, atau nggak tahu soal prioritas.

Atau dia nggak percaya sama saya, alias nyangka saya bohong kalau di malam Kamis itu saya udah ada jadwal rutin kajian, nyaris separuh hidup saya. Saya jadi heran, kok gitu ya, masa teman ga percaya sama temannya, dan temannya bohong, teman macam apa saya ini?

Saya sih cuma tertawa aja kemudian sambil garuk-garuk kepala. Masa setiap kali ke kajian, saya musti foto dan unggah di medsos, “Cheeeseee…. Selfie dulu!” sebagai bukti sih?

Terus saya bilang, “Itu bukan urusan saya dia mau ngomong apa. Itu urusan dia sama dirinya sendiri hehehee….”

Saya denger-denger, bukannya kepo, karena 2 orang yang datang ke saya itu juga bilang kalau mereka udah ga pernah hadir lagi, kajian yang dia gagas sekarang udah ga jalan lagi. Sementara saya, Allah masih mengizinkan, sampai saat ini, masih diberikan jalan dan kemudahan duduk di majelis ilmu menyimak kajian pada Ustadz. Alhamdulillah.

ISLAMPOS