Hijrah Menuju Allah dan Rasul-Nya

Bismillah. Wa bihi nasta’iinu

Adalah suatu hal yang gamblang bagi kaum beriman, bahwa tujuan hidup setiap insan adalah mewujudkan penghambaan kepada Allah Rabb seru sekalian alam. Penghambaan kepada Allah tegak di atas dua pilar, yaitu puncak perendahan diri dan puncak kecintaan.

Orang yang merendahkan diri kepada Allah dan mencintai-Nya akan tunduk kepada perintah dan larangan-Nya. Dia akan melakukan apa-apa yang Allah cintai dan meninggalkan apa-apa yang Allah benci. Oleh sebab itu ibadah meliputi segala hal yang membuat Allah ridha, berupa keyakinan, perkataan, dan amal perbuatan dengan anggota badan. Inilah hakikat keimanan. 

Cakupan Iman

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh lebih cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah termasuk cabang iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pokok-pokok keimanan adalah amalan-amalan hati, karena tidaklah bermanfaat amalan lahiriah tanpa dilandasi keyakinan dan keikhlasan dari dalam hati. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh malaikat Jibril yang datang dalam bentuk manusia lalu menanyakan tentang iman, beliau menjawab bahwa iman itu adalah, “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim)

Para ulama salaf menegaskan bahwa iman itu mencakup ucapan dan amalan. Ucapan hati dan ucapan lisan serta amalan hati dan amal anggota badan. Iman bertambah dengan amal salih dan ketaatan serta berkurang akibat maksiat dan kedurhakaan. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah takutlah hati mereka, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah imannya, dan kepada Rabbnya mereka bertawakal.” (al-Anfal : 2)

Iman itu sendiri adalah amal dengan makna yang luas. Oleh sebab itu ketika ditanya oleh sebagian sahabatnya mengenai amal apakah yang paling utama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman kepada Allah dan rasul-Nya.” (HR. Bukhari). Sebagaimana amal anggota badan adalah bagian dari iman secara syar’i. Oleh sebab itu di dalam al-Qur’an Allah menyebut sholat dengan iman. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Allah sama sekali tidak akan menyia-nyiakan iman kalian.” (al-Baqarah : 143). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘iman’ dalam ayat ini adalah sholat yang dilakukan oleh kaum muslimin sebelum perpindahan kiblat. Maksudnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal sholat mereka. 

Iman dan Islam

Sebagaimana diterangkan oleh para ulama bahwa istilah iman dan islam apabila bertemu memiliki makna sendiri-sendiri. Iman mencakup amalan batin sementara islam mencakup amalan lahir. Namun apabila islam dan iman terpisah -tidak disebutkan dalam satu konteks pembahasan- maka islam sudah mencakup iman, begitu pula iman telah mencakup islam. Misalnya, Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya agama di sisi Allah hanya Islam.” (Ali ‘Imran : 19). Istilah islam di sini sudah mencakup amalan batin maupun amalan lahir. Artinya orang yang diterima keislamannya adalah orang yang beriman secara lahir dan batin, bukan kafir dan bukan munafik.

Dengan demikian ayat yang sering kita dengar ketika khutbah Jum’at (yang artinya), “Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Ali ‘Imran : 102) mengandung perintah untuk beriman secara lahir dan batin. Karena syarat untuk masuk surga adalah beriman secara lahir dan batin. Oleh sebab itu Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah ‘janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan beriman’ 

Iman juga tidak cukup hanya dengan amalan hati. Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan atau menghias-hias penampilan. Akan tetapi hakikat iman itu adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Oleh sebab itu orang yang benar-benar beriman adalah yang mengucapkan keimanan dengan lisan (bersyahadat), menyakininya di dalam hati, dan beramal dengan anggota badan. Barangsiapa mencukupkan diri dengan ucapan lisan dan pembenaran hati tanpa melakukan amalan maka dia bukan pemilik keimanan yang benar 

Hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya

Iman itu sendiri tidak akan terwujud dan sempurna kecuali dengan hijrah kepada Allah dan rasul-Nya. Oleh sebab itu hijrah kepada Allah dan rasul-Nya menjadi kewajiban bagi setiap individu di sepanjang waktu. Yang dimaksud di sini adalah hijrahnya hati seorang hamba menuju Allah dan rasul-Nya. Inilah hijrah yang sebenarnya. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hijrah ini mencakup hijrah dengan hati dari kecintaan kepada sesembahan selain Allah menuju kecintaan kepada Allah, hijrah dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan kepada Allah, hijrah dari takut, harap, dan tawakal kepada selain Allah menuju takut, harap, dan tawakal kepada Allah, hijrah dari berdoa dan tunduk kepada selain Allah menuju doa dan tunduk kepada Allah. Inilah yang disebut dengan al-firar ila Allah (berlari menuju Allah) sebagaimana diperintahkan dalam ayat (yang artinya), “Maka berlarilah kalian menuju Allah.” (adz-Dzariyat : 50) 

Hijrah menuju Allah mengandung sikap meninggalkan segala hal yang dibenci oleh Allah dan mewujudkan segala perkara yang dicintai dan diridhai oleh-Nya. Sumber dari hijrah ini adalah rasa cinta dan benci. Dimana orang yang berhijrah meninggalkan apa-apa yang dibenci oleh Allah menuju apa-apa yang dicintai dan diridhai Allah. Sehingga dia lebih mencintai apa yang menjadi tujuan hijrahnya daripada asal dia berhijrah. Dalam menempuh hijrah ini setiap hamba harus berhadapan dengan tiga musuh; dirinya sendiri, hawa nafsu, dan setan. Dan untuk bisa berhasil setiap insan harus berjuang menaklukkan musuh-musuhnya itu di sepanjang waktu. Oleh sebab itu setiap orang wajib berhijrah kepada Allah di sepanjang waktu. Dia tidak akan terlepas dari segala bentuk hijrah ini sampai kematian datang 

Urgensi Belajar Agama

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, dengan demikian seorang yang hendak meniti jalan hijrah kepada Allah dan rasul-Nya tidak bisa tidak harus belajar ilmu agama. Dengan memahami agama Islam inilah dia akan bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara kebaikan dan keburukan, antara iman dan kekafiran, antara tauhid dan kesyirikan, antara sunnah dan bid’ah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah akan pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sungguh benar ucapan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah“Manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu diperlukan sebanyak hembusan nafas.” Tidak kita pungkiri bahwa manusia butuh makan dan minum. Namun yang memprihatinkan adalah ketika kebutuhan makan dan minum jauh lebih diutamakan di atas kebutuhan ilmu dan iman. Orang yang kehilangan ilmu dan iman akan lalai dari mengingat Allah dan sekaligus akan lalai dari kemaslahatan dirinya sendiri. Orang yang lalai mengingat Allah adalah orang yang mati hatinya walaupun jasadnya berjalan di muka bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti perbandingan antara orang hidup dengan orang mati.” (HR. Bukhari). 

Wallahul muwaffiq

Penulis: Abu Muslih Ari Wahyudi

Artikel: Muslim.or.id

Pesan Muhammad SAW Terakhir yang Buat Abu Bakar Menangis

Abu Bakar paham bahwa nabi akan segera wafat.

“Perhatikanlah kata-kataku ini, saudara-saudara. Aku sudah menyampaikan ini. Ada masalah yang sudah jelas kutinggalkan ditangan kamu, yang jika kamu pegang teguh, kamu takkan sesat selama-lamanya – Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.,” pesan indah dari Rasullah Muhammad SAW ini dikutip dalam buku Sejarah Muhammad’ karya Muhammad Husaen Haeakal.

Tak  hanya itu, kemudian ada lanjutan mengenai pernyataan Nabi SAW tersebut, “Wahai Manusia sekalian!5 Dengarkan kata-kataku ini dan perhatikan! Kamu akan mengerti, bahwa setiap Muslim adalah saudara buat Muslim yang lain, dan kaum Muslimin semua bersaudara. Tetapi seseorang tidak dibenarkan (mengambil sesuatu) dari saudaranya, kecuali jika dengan senang hati diberikan kepadanya. Janganlah kamu menganiaya diri sendiri.

“Ya Allah! Sudahkah kusampaikan?”

Sementara Nabi mengucapkan itu, Rabi’a mengulanginya kalimat demi kalimat, sambil meminta kepada orang banyak itu menjaganya dengan penuh kesadaran. Nabi juga menugaskan dia supaya menanyai mereka, misalnya: Rasulullah bertanya “hari apakah ini? Mereka menjawab: Hari Haji Akbar! Nabi bertanya lagi: “Katakan kepada mereka, bahwa darah dan harta kamu oleh Tuhan disucikan, seperti hari ini yang suci, sampai datang masanya kamu sekalian bertemu Tuhan.

Setelah sampai pada penutup kata-katanya itu ia berkata lagi:

“Ya, Allah sudah kusampaikan.” Maka dari segala penjuru orang kemudian  menjawab.

“Ya!” kata orang ramai menjawab.

Lalu, setelah selesai Nabi mengucapkan pidato ia turun dari al-Qashwa’ – untanya itu. Ia masih di tempat itu juga sampai pada waktu sembayang Zuhur dan Ashar. Nabi kemudian menaiki kembali untanya menuju Shakharat. Pada waktu itulah Nahi a.s. membacakan firman Tuhan ini kepada mereka:

“Hari inilah Kusempurnakan agamamu ini untuk kamu sekalian dengan Kucukupkan NikmatKu kepada kamu, dan yang Kusukai Islam inilah menjadi agama kamu.” (Qur’an, 5: 3)

                                             *****

Abu Bakr ketika mendengarkan ayat itu ia menangis, ia merasa, bahwa risalah Nabi sudah selesai dan sudah dekat pula saatnya Nabi hendak menghadap Tuhan.

Setelah meninggalkan Arafat malam itu Nabi bermalam di Muzdalifa. Pagi-pagi ia bangun dan turun ke Masy’ar’l-Haram. Kemudian ia pergi ke Mina dan dalam perjalanan itu ia melemparkan batu-batu kerikil. Bila sudah sampai di kemah ia menyembelih 63 ekor unta, setiap seekor unta untuk satu tahun umurnya, dan yang selebihnya dari jumlah seratus ekor unta kurban yang dibawa Nabi sewaktu keluar dari Madinah – disembelih oleh Ali. Kemudian Nabi mencukur rambut dan menyelesaikan ibadah hajinya.

Dengan selesainya ibadah haji ini, ada orang yang menamakannya ‘Ibadah haji perpisahan’ yang lain menyebutkan ‘ibadah haji penyampaian’ ada lagi yang mengatakan ‘ibadah haji Islam.’ 

Nama-nama itu memang benar semua. Disebut ‘ibadah haji perpisahan’ karena ini yang penghabisan kali Muhammad melihat Mekah dan Ka’bah.  Dengan ‘ibadah haji Islam,’ karena Tuhan telah menyempurnakan agama ini kepada umat manusia dan mencukupkan pula nikmatNya.

Sedangkan disebut, ‘Ibadah haji penyampaian’ berarti Nabi telah menyampaikan kepada umat manusia apa yang telah diperintahkan Tuhan kepadanya. Tiada lain Muhammad hanya memberi peringatan dan pembawa berita gembira kepada orang-orang beriman.

Tapi dibalik kegembiraan tersebut, Abu Bakar malah menangis. Dia paham bahwa itu firasat dari Rasullah Muhammad SAW akan segera berpisah atau wafat. Abu Bakar tahu dan dia hanya menangis. 

Dan kelak ketika Rasullah benar-benar meninggal di Madinah, di depan jenazahnya dia menyeru kepada kaum Muslim di sana. Dia berpidato dengan penuh haru tapi bernas: “Saudara-saudara, barang siapa mau menyembah Muhammad, maka Muhammad sudah meninggal. Tetapi barang siapa mau menyembah Allah, maka Allah selalu hidup dan tak pernah mati!”

KHAZANAH REPUBLIKA


Permulaan Sakitnya Rasulullah Sebelum Wafat

Rasulullah sholat bersama para sahabat dalam keadaan sakit selama 11 hari.

Pada tanggal 29 Safar tahun 11 Hijriyah (Senin) Rasulullah menghadiri penguburan jenazah seorang sahabat di Baqi. Ketika kembali di tengah perjalanan, beliau merasakan pusing di kepalanya dan panas mulai merambat sekujur tubuhnya sehingga (para sahabat) dapat merasakan pengaruh panasnya pada serban yang beliau pakai (Ar-Rahiiq al-Makhtuum).

Dikutip dari buku Bekal Haji karya Ustadz Firanda Andirja, Aisyah Radhiyallahu Anha berkata: “Suatu hari, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pulang setelah menghadiri (pemakaman) jenazah di Pekuburan al-Baqi. Lalu, ia mendapatiku (di rumah) sementara kepalaku pusing, dan aku berkata, ‘Aduh, sakitnya kepalaku’. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata, ‘Justru aku, wahai Aisyah, yang sakit kepalaku’. Beliau berkata lagi, ‘Apa masalahnya bagimu? Jika engkau meninggal sebelumku, aku yang akan memandikan mayatmu dan mengafanimu serta menyalatkanmu dan menguburkanmu?’ Maka, aku berkata, ‘Sepertinya aku melihatmu -demi Allah- jika engkau melakukan hal tersebut, lalu (setelah menguburkan aku) engkau pulang ke rumahku, lalu engkau tidur di rumahku dengan sebagian istrimu (yang lain)’. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pun tersenyum. Lalu, mulailah beliau sakit yang akhirnya beliau meninggal,” (hadits riwayat Ahmad, Ibnu Majah, Ad-Daarimi).

Nabi sholat bersama para sahabat dalam keadaan sakit selama 11 hari. Sedangkan jumlah hari sakit beliau adalah 13 hari menurut pendapat mayoritas ulama (Faathul Baari).

Meskipun sakit, Nabi tetap mengimami para sahabat hingga akhirnya sakit beliau sangat parah. Beliau tidak bisa mengimami para sahabat selama tiga hari, dan yang menjadi imam adalah Abu Bakar Radhiyallahu Anhu.

KHAZANAH REPUBLIKA

Belajar Dulu atau Berdakwah?

Fatwa Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan

Pertanyaan:

Manakah yang lebih afdhal (lebih utama), menuntut ilmu agama (thalabul ‘ilmi) ataukah berdakwah kepada Allah Ta’ala?

Jawaban:

(Tentu) menuntut ilmu (thalabul ‘ilmi) terlebih dahulu. Karena seseorang tidak mungkin untuk berdakwah kepada Allah Ta’ala kecuali jika dia memiliki ilmu (agama). Jika dia tidak memiliki ilmu, dia tidak akan mampu untuk berdakwah kepada Allah Ta’ala. Jika dia (tetap) berdakwah (tanpa memiliki ilmu, pent.), maka dia akan lebih banyak melakukan kesalahan (merusak) daripada berada dalam kebenaran (memperbaiki).

Disyaratkan untuk setiap orang yang ingin berdakwah agar dia memiliki ilmu agama sebelum terjun di medan dakwah. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي

“Katakanlah, “Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (QS. Yusuf [12]: 108)

Namun, terdapat beberapa perkara yang memungkinkan bagi orang awam untuk mendakwahkannya. Misalnya, (mengajak orang) untuk menegakkan shalat; mencegah dari meninggalkan shalat jama’ah dan shalat bersama keluarga (di rumah); dan memerintahkan anak-anak untuk shalat.

Perkara-perkara ini sangat jelas, sama-sama diketahui (diilmui), baik oleh orang awam atau pun orang yang belajar agama. Akan tetapi, perkara-perkara yang membutuhkan fiqh, ilmu (ilmu agama yang kuat, pent.), perkara tentang halal dan haram, perkara tauhid dan syirik, maka perkara-perkara tersebut harus dilandasi oleh ilmu.

 ***

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Semoga Kita Terdorong Melaksanakan Puasa ‘Asyura (Bag. 1)

Sungguh puasa memiliki keutamaan yang sangat besar bagi pelakunya. Tidakkah engkau mengetahui bahwa puasa adalah rahasia antara hamba dan Rabbnya?!

Dalam riwayat Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى »

“Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.” (HR. Muslim no. 1151)

Bagi orang yang berpuasa juga akan disediakan pintu surga yang khusus untuk mereka. Inilah kenikmatan di akhirat yang dikhususkan bagi orang yang berpuasa.

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka,’Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut.” (HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152)

Juga dalam ayat yang mulia ini dijelaskan mengenai balasan bagi orang yang berpuasa. Allah Ta’ala berfirman,

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ

“(Kepada mereka dikatakan): ‘Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.’” (QS. Al Haqqah [69]: 24)

Mujahid dan selainnya mengatakan, “Ayat ini turun pada orang yang berpuasa: Barangsiapa yang meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Allah, maka Allah akan memberi ganti dengan yang makanan dan minuman yang lebih baik.” (Latho’if Ma’arif, hal. 36)

Penjelasan-penjelasan tadi adalah motivasi agar kita gemar melakukan puasa.

Karena kita sekarang berada di bulan Muharram, ada suatu amalan yang sangat mulia ketika itu yaitu puasa hari ‘Asyura. Hari ‘Asyura -menurut mayoritas ulama- adalah tanggal 10 Muharram dan bukan tanggal 9 Muharram sebagaimana pendapat Ibnu Abbas. Yang lebih tepat adalah pendapat mayoritas ulama sesuai dengan yang nampak jelas pada hadits (baca: zhohir hadits) dan sesuai dengan tuntunan lafazh. Ulama yang menyatakan hari Asyura adalah tanggal 10 Muharram yaitu Sa’id bin Al Musayyib, Al Hasan Al Bashri, Malik, Ahmad, Ishaq dan Khola’iq. (Lihat Syarh Muslim, 4/114)

Lalu apa saja keutamaan puasa tersebut? Semoga dengan mengetahui keutamaannya kita terdorong untuk melaksanakan puasa yang satu ini. Namun, sebelumnya kita lihat terlebih dahulu mengenai keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melakukan puasa ‘Asyura. Ya Allah, mudahkanlah urusan ini.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Melakukan Puasa ‘Asyura di Makkah

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

“Di zaman jahiliyah dahulu, orang Quraisy biasa melakukan puasa ‘Asyura. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukan puasa tersebut. Tatkala tiba di Madinah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan puasa tersebut dan memerintahkan manusia untuk melakukannya. Namun tatkala puasa Ramadhan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa ‘Asyura. (Lalu beliau mengatakan:) Barangsiapa yang mau, silakan berpuasa. Barangsiapa yang mau, silakan meninggalkannya (tidak berpuasa).” (HR. Bukhari no. 2002 dan Muslim no. 1125)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Melakukan Puasa ‘Asyura di Madinah

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi melakukan puasa ‘Asyura. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Hari yang kalian bepuasa ini adalah hari apa?” Orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Ini adalah hari yang sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Ketika itu pula Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Kita seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian.” Lalu setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa. (HR. Muslim no. 1130)

Apakah ini berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meniru-niru Yahudi? Tidak sama sekali.

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan puasa ‘Asyura di Makkah sebagaimana dilakukan pula oleh orang-orang Quraisy. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah dan menemukan orang Yahudi melakukan puasa ini, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun ikut melakukannya. Namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan puasa ini berdasarkan wahyu, berita mutawatir (dari jalur yang sangat banyak), atau dari ijtihad beliau, dan bukan semata-mata berita salah seorang dari mereka, orang Yahudi. Wallahu a’lam.” (Syarh Muslim, 4/119)

Ketika Diwajibkannya Puasa Ramadhan

Ketika diwajibkannya puasa Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa siapa yang ingin berpuasa, silakan dan siapa yang tidak ingin berpuasa, silakan. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha di atas dan Ibnu ‘Umar berikut ini. Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,

أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَامَهُ وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ ».

“Sesungguhnya orang-orang Jahiliyah biasa melakukan puasa pada hari ‘Asyura. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melakukan puasa tersebut sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, begitu pula kaum muslimin saat itu. Tatkala Ramadhan diwajibkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: Sesungguhnya hari Asyura adalah hari di antara hari-hari Allah. Barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa. Barangsiapa meninggalkannya juga silakan.” (HR. Muslim no. 1126)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bertekad Menambah Puasa pada Hari Kesembilan Muharram

Di akhir umurnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad untuk menambah puasa pada hari kesembilan Muharram untuk menyelisihi Ahlu Kitab.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan puasa hari ‘Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, kemudian pada saat itu ada yang berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashara.”

Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

« فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ »

“Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.”

Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134)

Jadi ringkasnya, sebagaimana yang dimaksudkan oleh Ibnu Rojab bahwa puasa ‘Asyura yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada empat keadaan:

Pertama: beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di Makkah, namun beliau tidak memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.

Kedua: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Ahlu Kitab berpuasa dan mengagungkan hari tersebut. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin sama dengan mereka dalam perkara yang tidak diperintahkan baginya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan puasa pada hari Asyura tersebut.

Ketiga: ketika diwajibkannya puasa Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa siapa yang ingin berpuasa, silakan dan siapa yang tidak ingin berpuasa, silakan.

Keempat: Di akhir umurnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad untuk menambah puasa pada hari kesembilan Muharram untuk menyelisihi ahlu kitab. (Lihat Latho’if Ma’arif, hal. 53)

Saatnya kita melihat keutamaan khusus dari puasa ‘Asyura.

***

Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.
Artikel www.muslim.or.id

Surat Al Zalzalah beserta Artinya, Tafsir dan Asbabun Nuzul

Surat Al Zalzalah (الزلزلة) adalah surat ke-99 dalam Al Quran. Berikut ini terjemahan, asbabun nuzul, dan tafsir Surat Al Zalzalah.

Surat ini terdiri dari 8 ayat. Termasuk Surat Makkiyah. Dinamakan surat Al Zalzalah yang berarti kegoncangan. Pada masa sahabat, banyak yang menamainya dengan nama Idza Zulzilat. Ada pula yang menamainya Al Zilzal. Ketiga nama ini diambil dari ayat pertama.

Surat Al Zalzalah dan Artinya

Berikut ini Surat Al Zalzalah dalam tulisan Arab, tulisan latin dan artinya dalam bahasa Indonesia:

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2) وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا (3) يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5) يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6) فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

(Idzaa zulzilatil ardlu zilzaalahaa. Wa akhrojatil ardlu atsqoolahaa. Waqoolal insaanu maalahaa. Yaumaidzin tuhadditsu akhbaarohaa. Bianna robbaka auhaalahaa. Yauma-idziy yashdurun naasu asytaataaliyurow a’maalahum. Famay ya’mal mitsqoola dzarrotin khoiroy yaroh. Wamay ya’mal mitsqoola dzarrotin syarroy yaroh)

Artinya:
Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?” Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Asbabun Nuzul

Mayoritas ulama berpendapat bahwa surat ini turun sebelum hijrah. Termasuk surat makkiyah. Namun ada pula sebagian ulama yang berpendapat bahwa surat ini turun setelah hijrah. Khususnya ayat 7 – 8.

Ibnu Katsir, Sayyid Qutb dan Buya Hamka termasuk ulama yang berpendapat surat ini makkiyah. Sedangkan Syaikh Wahbah Az Zuhaili termasuk ulama yang berpendapat surat ini madaniyah.

Dalam Tafsir Al Munir, Syaikh Wahbah Az Zuhaili menyebutkan asbabun nuzul Surat Al Zalzalah. Bahwa orang-orang kafir bertanya tentang hari kiamat dan hari perhitungan. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan surat ini. Menjelaskan kepada mereka tentang tanda-tanda hari kiamat agar mereka mengetahui bahwa hari kiamat itu hanya Allah yang tahu kapan datangnya.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu mengatakan terkait turunnya surat ini. “Idza Zulzilat turun sementara saat itu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu sedang duduk menangis.”

Secara umum, surat ini berbicara tentang kondisi mencekam hari kiamat. Mulai terjadinya gempa dan guncangan dahsyat di bumi hingga perginya manusia ke padang mahsyar hingga mendapat balasan atas sekecil apa pun perbuatannya.

Tafsir Surat Al Zalzalah

Tafsir surat Al Adiyat ini kami sarikan dari Tafsir Ibnu KatsirTafsir Fi Zhilalil QuranTafsir Al AzharTafsir Al Munir dan Tafsir Al Misbah. Ia bukan tafsir baru melainkan ringkasan kompilasi dari tafsir-tafsir tersebut. Juga ditambah dengan referensi lain seperti Awwal Marrah at-Tadabbar al-Qur’an dan Khawatir Qur’aniyah.

Surat Al Zalzalah ayat 1

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat).

Kata idzaa (إذا) digunakan Al Quran untuk sesuatu yang pasti akan terjadi. Berbeda dengan kata in (إن) yang biasa digunakan untuk sesuatu yang belum atau jarang terjadi. Dengan demikian, ayat ini mengisyaratkan bahwa keguncangan bumi ini pasti terjadi.

Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini. Yakni bumi bergerak dan bergetar di bagian bawahnya hingga menimbulkan gempa yang dahsyat.

Surat Al Zalzalah ayat 2

وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا

Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. (QS. Al Zalzalah: 2)

Pengulangan kata al ardl (الأرض) pada ayat kedua ini menunjukkan bahwa guncangan atau gempa ini terjadi di seluruh wilayah bumi. Bukan hanya sebagian wilayah sebagaimana gempa bumi yang kita ketahui saat ini.

Ibnu Katsir mengatakan bahwa sebagian ulama salaf menafsirkan, bumi mengeluarkan orang-orang mati dari dalam perutnya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ . وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ

dan apabila bumi diratakan, dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong. (QS. Al Insyiqaq: 3-4)

Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Quran menjelaskan, hari itu adalah hari kiamat. Bumi bergetar dan berguncang dengan sekeras-kerasnya sehingga apa yang terkandung di dalamnya termuntahkan seluruhnya. Baik yang berupa jasad-jasad berbagai makhluk maupun barang tambang. Seakan-akan dengan termuntahkannya semua itu, bumi menjadi ringan dari beban-beban berat yang dikandungnya selama ini.

Surat Al Zalzalah ayat 3

وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا

Dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?” (QS. Al Zalzalah: 3)

Manusia bertanya-tanya keheranan. Mereka heran mengapa terjadi guncangan hebat dan gempat dahsyat padahal sebelumnya bumi tenang-tenang saja. Manusia hidup nyaman di atasnya. Namun sekarang bumi berguncang hebat dan mengeluarkan semua isinya.

Surat Al Zalzalah ayat 4

يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا

Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, (QS. Al Zalzalah: 4)

Pertanyaan dan keheranan itu tidak berlangsung lama. Ia segera terjawab karena pada hari itu bumi menyampaikan beritanya. Yakni mengenai sebab keguncangan dahsyat tersebut.

Bumi juga memberitakan apa yang terjadi di atas permukaanya. Tentang perbuatan manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sehubungan dengan ayat ini:

فَإِنَّ أَخْبَارَهَا أَنْ تَشْهَدَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ بِمَا عَمِلَ عَلَى ظَهْرِهَا أَنْ تَقُولَ عَمِلَ كَذَا وَكَذَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَهَذِهِ أَخْبَارُهَا

“Sesungguhnya berita bumi adalah bila ia mengemukakan persaksian terhadap setiap hamba laki-laki dan perempuan tentang apa yang telah dikerjakannya di atas permukaannya. Bumi mengatakan bahwa Fulan telah mengerjakan anu dan anu di hari anu. Demikianlah yang dimaksud dengan beritanya.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad, menurut Tirmidzi hasan shahih)

Sebagian ulama mengatakan bahwa akhbaarahaa (أخبارها) tidak berarti bumi berbicara. Tetapi memberikan isyarat yang dengannya manusia tahu apa makna beritanya. Sebagaimana lampu merah memberitakan harus berhenti dan lampu hijau memberitakan harus jalan.

Surat Al Zalzalah ayat 5

بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا

karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. (QS. Al Zalzalah: 5)

Bumi bisa menceritakan beritanya karena Allah-lah yang memerintahkan dan mengizinkannya. “Yakni Tuhannya telah berfirman kepada bumi ‘berbicaralah kamu’ maka bumi pun dapat berbicara,” kata Ibnu Abbas menjelaskan.

Surat Al Zalzalah ayat 6

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ

Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. (QS. Al Zalzalah: 6)

Kata yashdur (يصدر) artinya keluar dari satu tempat berkumpul, baik untuk kembali ke tempat semula maupun menuju tempat lain.

Ibnu Katsir menjelaskan, manusia kembali dari mauqif hisab (tempat penghisaban) dalam keadaan bercerai-berai dan bermacam-macam. Ada yang celaka, ada yang berbahagia. Yang celaka, karena melihat balasan amal mereka memasukkan ke neraka. Yang  berbahagia, karena melihat balasan amal mereka memasukkan ke surga.

Surat Al Zalzalah ayat 7

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.(QS. Al Zalzalah: 7)

Kata dzarrah (ذرة) digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang terkecil. Semut kecil pada awal kehidupannya disebut dzarrah. Biji sawi juga disebut dzarrah. Debu yang terlihat saat cahaya matahari menerobos melalui celah atau jendela juga disebut dzarrah.

Kata yarah (يره) berasal dari kata ra’a (رأى) yang artinya melihat. Awalnya adalah melihat dengan mata kepala. Namun kata ini juga berarti mengetahui.

Amal kebaikan sekecil apa pun, di akhirat nanti akan terlihat balasannya. Dan amal di sini tak hanya berupa perbuatan fisik tetapi juga pekerjaan hati termasuk niat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan umatnya untuk tidak menyepelekan amal kebaikan sekecil apa pun.

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

Jangan sekali-kali kamu meremehkan sesuatupun dari kebaikan meskipun hanya menyambut saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.(HR. Muslim)

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

Hindarilah neraka, sekalipun dengan (menyedekahkan) sebutir kurma.(HR. Bukhari)

فَلْيَتَّقِيَنَّ أَحَدُكُمُ النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

Maka hendaklah kalian menghindari neraka, sekalipun dengan (menyedekahkan) sebutir kurma. Jika tidak mampu, maka dengan mengucapkan kalimat thayyibah. (HR. Bukhari)

Surat Al Zalzalah ayat 8

وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Al Zalzalah: 8)

Demikian pula amal keburukan sekecil apa pun, di akhirat nanti akan terlihat balasannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan umatnya untuk tidak meremehkan dosa, meskipun itu dosa kecil.

يَا عَائِشَةُ إِيَّاكِ وَمُحَقَّرَاتِ الأَعْمَالِ فَإِنَّ لَهَا مِنَ اللَّهِ طَالِبًا

Hai Aisyah, jauhilah dosa-dosa kecil, karena sesungguhnya kelak Allah akan menuntutnya. (HR. Ibnu Majah, Ad Darimi dan Ibnu Hibban)

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ

Hindarilah dosa-dosa kecil, karena sesungguhnya dosa-dosa kecil itu bila menumpuk pada diri seseorang, niscaya ia akan membinasakannya. (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Penutup Tafsir Surat Al Zalzalah

Sayyid Qutb menyebut surat ini mengguncang hati. Bagaimana tidak, bagi orang yang memahami isinya dan mengetahui kedalaman bahasanya, terbayang betapa dahsyat saat kiamat tiba. Bumi berguncang sehebat-hebatnya dan mengeluarkan segala isinya. Lalu setelah manusia dibangkitkan dan dihisab, mereka berhamburan dalam berbagai kondisinya.

Ada yang menampakkan wajah-wajah ceria. Ada yang menampakkan wajah-wajah penuh derita. Pada hari itu semua manusia mengetahui balasan amalnya. Sekecil apa pun amal itu. Baik sekecil debu maupun lebih kecil lagi, semua ada balasannya.

Maka mereka yang wajahnya ceria, karena melihat balasan amal kebaikannya yang membawa ke surga. Sedangkan mereka yang wajahnya penuh derita, karena melihat amal keburukannya yang menyeret ke neraka.

Demikian Surat Al Zalzalah mulai dari terjemahan, asbabun nuzul hingga tafsirnya. Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq-Nya sehingga kita memperbanyak amal kebaikan dan menghindari keburukan, sekecil apa pun itu. Wallahu a’lam bish shawab.

[Muchlisin BK/BersamaDakwah]

Hari Itu Pasti Akan Tiba!

Allah Swt Berfirman :

إِنَّ يَوۡمَ ٱلۡفَصۡلِ مِيقَٰتُهُمۡ أَجۡمَعِينَ

“Sungguh, pada hari keputusan (hari Kiamat) itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya.” (QS.Ad-Dukhan:40)

Ayat ini singkat namun bisa menggetarkan hati yang lalai. Ancaman bagi orang-orang yang dzalim. Penyejuk hati bagi orang-orang yang teraniaya. Dan kabar gembira bagi hati yang menyimpan cinta pada Tuhannya.

Kelak waktunya kan tiba. Semua kedzaliman akan terbalas dengan adil. Semua kesabaran akan berbuah dengan indah. Dan semua pengorbanan akan terbayarkan.

Waktu ini sangat singkat. Mungkin hari ini mereka yang dzalim masih bisa tertawa dan menghina, tapi esok hari mereka akan tertunduk dan merana. Dan mungkin hari ini orang-orang yang teraniaya akan menahan luka dengan kesabaran dan esok mereka pasti akan jadi pemenang.

Berhati-hati lah.. Jangan sampai kita menjadi mereka yang menyesal di saat hari itu telah tiba.

Ingatlah bahwa orang yang dzalim kelak pasti akan menyesal.

وَيَوۡمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيۡهِ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا

“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zhalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul.” (QS.Al-Furqan:27)

Semoga bermanfaat…

KHAZANAH ALQURAN

Amalmu Tidak Terhenti dengan Kematianmu

Kita diperintahkan oleh Allah swt untuk selalu berlomba dalam beramal. Semua amal itu akan tercatat dengan detail dan kelak akan kembali kepada kita.

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

Dan katakanlah, “Beramal-lah kalian, maka Allah akan melihat amalmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” (QS.At-Taubah:105)

Namun yang ingin kita kaji hari ini adalah bahwa ternyata amal itu tidak terhenti dengan kematian. Manusia masih bisa beramal setelah kematiannya.

Lalu bagaimana cara agar kita selalu dapat transfer pahala setelah kematian kita?

Beberapa ayat dalam Al-Qur’an menjelaskan bahwa amal manusia yang dicatat adalah amalan ketika ia hidup dan setelah ia mati.

Allah swt berfirman,

وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas.” (QS.Ya-Sin:12)

يُنَبَّأُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ

“Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.” (QS.Al-Qiyamah:13)

Semua yang kita lakukan di masa hidup meliputi ibadah, sosial dan apapun bentuk kebaikannya akan tercatat rapi.

Lalu bagaimana bentuk amal yang tetap mengalir setelah kematian kita?

Ada kebaikan-kebaikan yang memiliki efek jangka panjang.

Seperti nasehatmu kepada saudaramu…

Perbuatan baikmu yang menjadi inspirasi bagi orang lain…

Buku yang kau tulis…

Sesuatu yang kau wakafkan..

Sumur yang kau gali dan terus bermanfaat bagi manusia..

Sesuatu yang kita tinggalkan bisa menjadi sumber pahala setelah kematian kita. Asal bisa terus memberi kebaikan dan manfaat bagi manusia.

Dalam sebuah riwayat disebutkan,

“Siapa yang melakukan kebaikan akan memperoleh pahala kebaikan tersebut dan mendapat pahala orang yang terinspirasi oleh kebaikan tersebut hingga hari kiamat.

Dan apabila seseorang berbuat keburukan maka akan mendapatkan dosanya dan dosa orang yang terinspirasi dari perbuatannya hingga hari kiamat.

Ayo kita berlomba selama masih ada kesempatan sebelum ajal tiba. Perbanyak investasi amal yang akan terus mengalirkan pahala bahkan setelah kematian kita.

Bangunlah fasilitas umum yang memberi manfaat bagi orang banyak. Sebarkan inspirasi-inspirasi kebaikan agar semakin banyak orang yang terdorong untuk berbuat baik.

Dan di waktu yang sama, jangan pernah kau tinggalkan contoh perbuatan yang buruk, karena sampai kapanpun keburukan yang menjadi ide bagi orang lain itu akan mengalir walau kita telah mati.

Semoga bermanfaat…

KHAZANAH ALQURAN

Anda ingin wakafkan Jam Masjid untuk masjid atau musholah? Klik di sini!

Syekh Siti Jenar Pernah Berhaji, Ini Beberapa Renungannya

Syekh Siti Jenar merupakan salah seorang ulama yang terkenal di nusantara. Dia lahir di daerah Gunung Jati, sebuah daerah di antara Indramayu-Cirebon. Selama hidupnya, Syekh Siti Jenar juga pernah menunaikan ibadah haji.

Dalam buku “Pengakuan-Pengakuan Syekh Siti Jenar” karya Argawi Kandito diceritakan, setelah beberapa waktu menimba ilmu di Baghdad dan menjelang kepulangannya ke Jawa, Syekh Siti Jenar menyempatkan diri untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah.

Selama melakukan ibadah haji, Syekh Siti Jenar merasa memperoleh inspirasi dari rangkaian ibadah haji. Dia pun memberikan pemaknaan terhadap ibadah haji yang dilakukannya. Tiap rukun haji juga dimaknainya secara mendalam.

Menurut Syekh Siti Jenar, haji ditandai dengan datangnya orang dari seluruh penjuru dunia. Dari bagian selatan, barat, utara, dan ujung timur bumi. Orang-orang datang menuju satu titik yang ditandai dengan bangunan Ka’bah.

Hal ini, menurut Syekh Siti Jenar, menunjukkan arti moniteisme, yaitu kepercayaan bahwa Tuhan itu tunggal. Menurut dia, ibadah haji merupakan wujud dari syahadat tauhid, yang berisi persaksian bahwa Tuhan itu esa. Yaitu, Asyhadu an la ilaha illallah yang artinya aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah.

Menurut Syekh Siti Jenar, kedatangan kedatangan kaum Muslimin ke Ka’bah untuk melakukan ritual-ritual yang berdasarkan rukun dan syaratnya menunjukkan manifestasi dari persaksiannya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah benar-benar utusan Allah, Wa Asyhadu anna Muhammad Rasulullah.

Jadi, menurut Syekh Siti Jenar, ibadah haji itu menunjukkan dan membuktikan bahwa mereka betul-betul percaya bahwa apa yang disampaikan Rasulullah itu adalah benar-benar bersumber dari Allah SWT.

IHRAM

15 Wasiat Kebaikan Imam Husain bin Ali Cucu Rasulullah SAW

Imam Husain menyampaikan 15 wasiat kebaikan untuk segenap umat Islam.

 Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib, adalah cucu kesayangan Rasulullah SAW.  Semasa hidupnya, Husain yang wafat pada 10 Muharram, pada peristiwa Karbala 680 Masehi. 

Semasa hidupnya, Husain dikenal sebagai sosok yang bijak dan cerdik pandai. Banyak pesan-pesan hikmah yang disampaikan untuk umat. Berikut ini beberapa wasiat kebajian sebagaimana dikutip dari kitab Bihar al-Anwar dan Nuzhat an-Nadzir wa Tanbih al-Khathir, dilansir dari laman About Islam, Senin (24/8):   

1. Orang yang paling dermawan adalah orang yang menawarkan bantuan kepada mereka yang tidak mengharapkan dia untuk membantu 

2. Siapapun yang mencari kepuasan orang melalui ketidaktaatan pada Tuhan, Tuhan akan menundukkannya kepada orang-orang 

3. Hikmat tidak akan lengkap kecuali dengan mengikuti kebenaran 

4. Bagiku kematian tidak lain adalah kebahagiaan, dan hidup di bawah tiran hanyalah hidup di neraka 

5. Mereka yang menyembah Tuhan untuk harapan mendapatkan, mereka bukanlah penyembah sejati, mereka adalah pedagang. Mereka yang menyembah Tuhan karena takut (akan hukuman), mereka adalah budak. Mereka yang menyembah Tuhan untuk bersyukur kepada penciptanya, mereka adalah orang-orang merdeka, dan ibadah mereka adalah nyata  

6. Berhati-hatilah karena kebutuhan orang-orang terhadap kamu termasuk di antara berkat-berkat Tuhan bagi kamu. Jadi jangan menakuti orang-orang yang membutuhkan ketika mereka datang kepada kamu, karena berkah Tuhan akan kembali dan pergi ke tempat lain 

7. Orang yang mengungkapkan kesalahan kamu seperti cermin adalah teman sejati kamu. Orang yang menyanjung kamu dan menutupi kesalahan kamu adalah musuh kamu 

8. Tergesa-gesa dan mudah marah adalah kebodohan 

9. Di antara tanda-tanda ketidaktahuan adalah berdebat dengan orang-orang yang tidak rasional 

10. Di antara tanda-tanda orang terpelajar adalah mengkritik kata-katanya sendiri dan diberitahu dari berbagai sudut pandang 

11. Bersyukur atas anugerah Tuhan membuat Tuhan memberimu anugerah lain 

12. Berhati-hatilah bahwa kebutuhan orang-orang untukmu ada di antara rahmat Tuhan, jadi jangan abaikan yang membutuhkan karena rahmat itu akan berubah menjadi kesulitan. Ketahuilah bahwa perbuatan baik memberi kamu rasa hormat dan pujian dan pahala dari Tuhan. Jika kamu dapat mempersonifikasikan dan memvisualisasikan perbuatan baik sebagai manusia, kamu akan melihatnya sebagai orang yang baik dan tampan, yang penglihatannya menyenangkan untuk dilihat semua orang. Dan jika kamu bisa membayangkan tindakan jahat, kamu akan melihatnya jelek dan menjijikkan, hati membencinya dan mata tertutup ke pandangannya 

13. Kekayaan terbaik adalah yang dengannya seseorang melindungi ketenaran dan martabatnya 

14. Hindari melakukan apa yang nantinya membuat kamu mungkin akan diminta untuk meminta maaf. Karena orang mukmin tidak merugikan dan tidak meminta maaf, sedangkan orang munafik selalu menyakiti dan meminta maaf 

15. Ketika kamu frustrasi dan tidak tahu jalan keluar, hanya fleksibilitas dan moderasi terhadap kesulitan yang akan menyelamatkan kamu  

Sumber: https://aboutislam.net/family-life/culture/15-quotes-wisdom-imam-al-hussain/

KHAZANAH REPUBLIKA