Kunci Makmurnya Negara

Sebagai negara multikultural, Indonesia dihadapkan dengan banyak perbedaan baik dari perbedaan suku, adat, maupun agama. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang dakwah KH Cholil Nafis dalam ceramahnya menjelaskan, Pancasila sebagai dasar negara Indonesia ti dak akan cukup untuk merangkul seluruh perbedaan yang ada.

Pancasila bukan suatu agama atau suatu bentuk gerakan anti agama, tapi Pancasila adalah dasar negara yang merujuk pada agama, kata Cholil Nafis saat memberikan kajian agama di Masjid Al-Hikam, Depok, pada Sabtu (24/3) lalu.

Menurut dia, kombinasi sempurna dalam terbentuknya suatu negara yang kuat dan memiliki toleransi tinggi, harus juga didasari dengan agama. Berdasar pada perkataan Imam Al-Ghazali bawa agama adalah fondasi dan negara adalah penjaganya, maka sangat diperlukan keselarasan dari keduanya agar negara tetap kuat dan nyaman bagi warganya.

Negara yang tidak dilandasi agama maka akan runtuh, begitu juga agama tan pa negara bagikan rumah tanpa penjaga sehingga tidak dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi peng huninya, kata dia.

Merujuk pada masa-masa terben- tuknya pemerintahan Islam pertama, Madinah, Rasulullah saat itu menggu- nakan nama Madinah yang berarti per- adaban, dengan maksud agar pemerin- tahan tersebut dapat melahirkan perad- aban Islam yang maju. Asas pemerinta- han saat itu, bukan terfokus pada takhta atau jabatan, melainkan kesatuan dan kekompakan warganya untuk memben- tuk negara yang maju.

Negara pada hakikatnya bertugas untuk melindungi hak warganya, baik hak untuk hidup, memperoleh pekerjaan, kesejahteraan, maupun menjalankan perintah agama yang mereka anut. Mengambil perkataan Kiai Hasyim Muzadi, tentang prinsip keadilan suatu negara, yaitu keadilan hukum yang harus sama rata sama rasa, tapi keadilan ekonomi itu sama rasa tapi tak sama rata.

Perbedaan ini disesuaikan dengan proporsinya masing-masing, baik sesuai kinerja kerja, kepandaian, dan aspek lainnya, kata dia.

Patokan suatu negara yang dapat dikatakan makmur, yaitu saat seluruh komponen negara tersebut, baik war- ganya hingga alamnya dapat sejahtera. Sedangkan untuk mendapatkan kemak- muran tersebut, diperlukan adanya kebi- asaan untuk selalu bersyukur dan memanfaatkan nikmat Allah SWT sebaik- baiknya tanpa berlebih-lebihan.

 

REPUBLIKA

Rasul: Barang Siapa yang Mampu maka Menikahlah

RASULULLAH shallallahu alaihi wa sallam memberikan nasihat berharga kepada segenap pemuda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Masud, ia berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagai kelompok pemuda yang tidak mempunyai apa-apa.” Beliau bersabda,

“Wahai sekalian pemuda, barang siapa di antara kalian yang telah mampu maka menikahlah, karena menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu maka hendaknya ia berpuasa sebab puasa bisa menjadi perisai baginya.” (H.r. Bukhari, no. 5066; Muslim, no. 1400)

Karena itu, para pemuda tersebut segera menunaikan wasiat Rasulullah, betapapun kondisi sulit yang tengah mereka hadapi. Kitab-kita sirah menceritakan untuk kita contoh-contoh pernikahan dini mereka. Kisah pernikahan Abdullah bin Amru bin Ash amat terkenal. Yakni, ketika ayahnya menikahkan dirinya dengan seorang perempuan dari kalangan Quraisy.

Jabir bin Abdillah bin Amru bin Haram. Kisahnya amat terkenal. Ia berkata, “Aku menikah dengan seorang perempuan pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Aku bertemu dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Beliau bertanya, Wahai Jabir, apakah kamu telah menikah? Aku menjawab, Iya. Beliau bertanya, Dengan perawan ataukah dengan janda? Aku menjawab, Dengan janda. Beliau bertanya, Mengapa kamu tidak menikah dengan seorang perawan, sehingga kamu bisa bercanda dengannya?

Aku menjawab, Wahai Rasulullah, aku mempunyai beberapa orang saudara perempuan, dan aku khawatir jika istriku menjadi penghalang hubunganku dengan mereka. Beliau bersabda, Sudah benar jika memang demikian. Sesungguhnya, seorang perempuan itu dinikahi karena agamanya, hartanya, dan kecantikannya. Hendaklah kamu mengutamakan perempuan yang memiliki agama, niscaya kamu tidak akan merugi.”

 

 

Tertutupnya Satu Pintu Surga

PADA suatu hari Harits al-Uqla dia menangis tatkala mengantarkan jenazah ibundanya.

Dia adalah seorang alim ulama yang seharusnya tabah mendapatkan musibah itu.

Yang seharusnya bersabar mengucapkan Innalillahi wa Inna Ilaihi Roojiuun.

Orangorang yang mendapati dia menangis maka orangorang berkata:

“Kenapa engkau menangis?”, maka dia menjawab: “Bagaimana aku tidak akan menangis, salah satu pintu surga sudah ditutup buatku.”

 

[Ustaz Dr. Syafiq Basalamah]

 

Kewajiban Orang Berakal

SYAIKH Abdurrahman As Sa’di rahimahullah berkata,

“Termasuk kesalahan yang berat adalah langsung menerima perkataan sebagian orang yang memburuk-burukkan orang lain, lalu membangun cinta dan benci serta pujian dan celaan di atasnya.

Berapa banyak kesalahan yang terjadi yang berakibat kepada penyesalan. Berapa banyak berita yang disebarkan oleh manusia ternyata tidak demikian kenyataannya.

 

SYAIKH Abdurrahman As Sa’di rahimahullah berkata,

“Termasuk kesalahan yang berat adalah langsung menerima perkataan sebagian orang yang memburuk-burukkan orang lain, lalu membangun cinta dan benci serta pujian dan celaan di atasnya.

Berapa banyak kesalahan yang terjadi yang berakibat kepada penyesalan. Berapa banyak berita yang disebarkan oleh manusia ternyata tidak demikian kenyataannya.

 

INILAH MOZAIK

Hoax Pernah Menimpa Istri Rasulullah

Untuk membentengi perlu diri dari berita hoax, perlu tabayyun.

Berita bohong atau hoax bukan baru terjadi pada zaman sekarang. Hoax sudah terjadi sejak zaman Rasulullah SAW, 15 abad silam.

“Berita hoax sebenarnya telah berkembang jauh pada zaman-zaman dahulu, termasuk ketika zaman Rasulullah SAW.  Bahkan istri Rasulullah sendiri, Siti Aisyah RA, pernah menjadi korban berita hoax yang sempat menghebohkan kaum Muslimin ketika itu,” ungkap Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh, Tgk Mulyadi Nurdin Lc MH, saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (28/3) malam.

Mulyadi Nurdin lantas menjelaskan peristiwa munculnya berita hoax yang menimpa Siti Aisyah yang bahkan membuat Rasulullah tak berdaya melawan fitnah tersebut.

Saat itu Ummul Mukminin Aisyah RA menjadi korban fitnah karena diisukan telah berselingkuh dengan Shafwan ibn Muaththal. Di satu sisi Nabi Muhammad sangat sayang pada Aisyah dan berpikir bahwa tak mungkin Siti Aisyah melakukan tindakan tercela tersebut.

Tapi di sisi lain, Nabi juga tak berdaya menghadapi isu tersebut yang menyebar luas. Orang munafik seperti Abdullah bin Ubay bin Salul memfitnah bahwa Siti Aisyah telah berselingkuh dengan Shafwan.

“Fitnah tersebut dengan cepat beredar hingga di Madinah sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum Muslimin,” kata Mulyadi dalam rilis KWPSI yang diterima Republika.co.id, Kamis (29/3).

Karena tuduhan berselingkuh tersebut, sampai-sampai Rasulullah menunjukkan perubahan sikap atas diri Aisyah. Diceritakan Aisyah, karena peristiwa itu dirinya akhirnya jatuh sakit.

“Akibatnya sampai membuat sikap Nabi terhadap Aisyah berubah. Nabi bersikap dingin terhadap Aisyah selama satu bulan,” ujar Mulyadi menceritakan kisah yang membuat Aisyah cukup bersedih.

Kondisi fitnah itu terus menyebar hingga mencapai satu bulan lamanya. Selama itu pula, tak ada wahyu yang diterima Nabi Muhammad.

Efek negatif berita hoax yang menimpa istri Rasulullah tersebut bahkan baru bisa teredam dengan turunnya wahyu dari Allah SWT sebagaimana termaktub dalam Al Quran Surat An Nur, ayat 11-20.

Ayat ini Allah turunkan sebagai jawaban atas beredarnya fitnah yang menimpa Ummul Mukminin Aisyah RA. Setelah ayat ini turun, kondisi kaum Muslimin kembali normal dan bahkan semakin membaik dibandingkan dengan kondisi sebelumnya.

Kisah ini memberi pelajaran penting kepada kaum Muslimin, bahwa orang-orang munafik seperti Abdulah bin Ubay bin Salul, dari sejak Rasulullah sampai sekarang akan terus menebarkan fitnah dan kebencian kepada orang-orang mulia. “Tak tanggung-tanggung, Abdullah bin Ubay berani memfitnah Rasulullah dan keluarganya dengan berita bohong,” tuturnya.

Untuk itu, Mulyadi Nurdin meminta semua pihak untuk membentengi diri dari pengaruh berita bohong dengan melakukan tabayyun terhadap isu-isu yang berkembang.

Tabayyun harus menjadi prosedur tetap bagi setiap Muslim dalam menerima informasi dari mana pun dan dalam lingkup apapun. Baik dalam keluarga, masyarakat, dan bahkan bernegara. Betapa banyak perselisihan terjadi karena salah dalam memahami informasi, atau tidak melakukan verifikasi dan klarifikasi terkait objek yang disampaikan,” pungkas Mulyadi.‎‎

 

REPUBLIKA

 

Inilah 7 Golongan yang Dinaungi Allah SWT di Hari Kiamat

Di hari kiamat nanti,  manusia akan dikumpulkan untuk dimintai pertanggungjawabannya dari apa yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia. Tentu saja, kondisi di hari itu sangatlah panas, karena matahai didekatkan dengan jarak satu mil di atas ubun-ubun.

Bahkan, mereka juga dikumpulkan di Padang Mahsyar dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak dikhitan, dan tidak berpakaian. Namun, ada 7 golongan yang akan mendapatkan naungan di hari yang sangat panas tersebut. Siapakah 7 golongan tersebut?

Dalam sebuah hadits  shahih, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: اْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دعته امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan ‘Arsy Allah Ta’ala dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan Allah Ta’ala. Yaitu:

  1. Pemimpin yang adil
  2. Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah Ta’ala
  3. Seorang yang hatinya senantiasa bergantung di masjid
  4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah Ta’ala. Mereka berkumpul karena Allah dan mereka pun berpisah juga karena Allah Ta’ala.
  5. Seorang yang diajak wanita untuk berbuat yang tidak baik, dimana wanita tersebut memiliki kedudukan dan kecantikan, namun ia mampu mengucapkan, “Sungguh aku takut kepada Allah”.
  6. Seorang yang bersedekah, dan disembunyikannya sedekah itu sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.
  7. Seorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian hingga membuat kedua matanya meneteskan air mata.

 

RADIO RODJA

Hidup Ruwet dan Rezeki Seret? Amalkan Ayat Ini

Mungkin Anda pernah mendengar curhat yang menggambarkan hidup ruwet dan rezeki seret. Atau bahkan Anda sendiri yang mengalaminya? Semoga saja tidak.

“Gaji saya naik tiap tahun, tapi kayaknya nggak pernah cukup. Cicilan nggak lunas-lunas.”

“Gaji saya besar. Tapi ada saja masalah membelit. Kecelakaan, anak sakit, istri nggak akur…” dan sederet masalah lain pun disebutkannya.

Siapapun yang mengalami, baik hidup ruwet maupun rezeki seret, Allah memberikan solusi dalam firmanNya. Jika diamalkan, keajaiban benar-benar akan terjadi. Sebab janji Allah adalah pasti. Tak pernah meleset dan tak akan Dia mengkhianati.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“..Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar bagi Nya dan Dia memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka..” (QS. Ath Thalaq: 2-3)

Inilah rangkaian ayat yang berisi jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kuncinya adalah taqwa. Siapa yang bertaqwa kepada Allah, Dia sendiri yang menjamin solusi untuknya. Dia sendiri yang berjanji akan memberikan rezeki, bahkan dari arah yang tidak disangka-sangka.

 

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada apa yang diperintahkan, meninggalkan apa yang dilarang dan tidak melanggar batasan-batasan yang telah digariskanNya bagi hambaNya, maka Allah memberikan untuknya jalan keluar dan pintu penyelamat dari persoalan yang dihadapinya serta memberi rezeki dari arah yang tidak pernah terbersit dibenaknya, tidak pernah ia prediksikan dan tidak pernah iasangka-sangka,” terang Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir ketika menjelaskan ayat ini.

“Ini menjadi dalil yang menunjukkan bahwa taqwa adalah jalan keselamatan dari berbagai kebuntuan, situasi krisis, kesempitan, kesulitan, himpitan kesusahan dan kesedihan duniawi dan ukhrawi serta ketika mati. Ketaqwaan juga menjadi sebab yang mendatangkan rezeki yang baik, halal dan luas yang tidak disangka-sangka dan diprediksikan,” lanjutnya.

Telah banyak kisah nyata yang membuktikan kebenaran janji Allah ini. Pengusaha yang terbelit hutang karena riba, lalu bertaubat dan bertaqwa dengan menjauhi riba, akhirnya usahanya bangkit kembali dan mencapai kesuksesan.

Seseorang yang tadinya suka foya-foya dan menghamburkan uang di klub malam, rumah tangganya berantakan dan gaji besarnya tak pernah bersisa. Pendek kata, hidup ruwet menimpanya. Setelah ia bertaubat dan bertaqwa, Allah mengembalikan semuanya; keluarga menjadi sakinah, kekuatan ekonomi pulih dan hidupnya bahagia.

Tak hanya di ayat ini. Allah menegaskan lagi di ujung ayat berikutnya. Agar tak ada lagi orang yang ragu-ragu dengan janjiNya. Bahwa hidup riwet seruwet apa pun, dengan taqwa Allah akan memberinya solusi.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“..Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya..” (QS. Ath Tlahaq: 4)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili menyimpulkan, “ini merupakan sebuah penegasan tentang keutamaan taqwa di dunia dan akhirat.”

 

Ayat ini tidak hanya berlaku bagi masalah pribadi atau keluarga seperti secara khusus mengiringi ayat-ayat di awal Surat Ath Thalaq ini. Namun juga berlaku bagi problematikan keutaman, perosalan dakwah dan gerakan Islam.

Bukankah sebuah jamaah merupakan kumpulan dari individu-individu dalam jamaah itu? Jika semuanya bertaqwa, jamaah itu secara komunal juga menjadi jamaah yang bertaqwa. Sehingga tribulasi sebesar apa pun yang dihadapinya, makar secanggih apa pun yang dilancarkan musuh-musuhnya, jika mereka bertaqwa, Allah yang akan memberikan solusi dan menyelesaikan urusannya.

“Kalau ada taqwa di jiwa,” kata Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar, “bagaimanapun sukar dan sulitnya urusan, akan ada saja jalan keluar yang ditunjukkan oleh Allah.” [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

BERSAMA DAKWAH

Menjadikan Setan Kurus Kering

Keberadaan setan di dunia ini memang hal yang tidak bisa disangkal. Pekerjaan utamanya adalah menggoda umat manusia untuk menjauh dari agama. Dengan cara pelan-pelan dan kadang tidak kita sadari sama sekali.

Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin pernah berkata bahwa diantara hal yang harus dimengerti oleh seorang hamba adalah mengetahui tipu daya setan dan godaannya. Sesungguhnya pemahaman ini fardhu ain adanya. Hanya saja kebanyakan manusia tidak mau mengerti dan kerap disibukkan oleh pengetahuan-pengetahuan yang menjebak dirinya sendiri masuk ke dalam kubangan setan.

Oleh karena akutnya tipu daya setan, maka seorang hamba harus mengerti berbagai kiat mematahkan bujuk rayu setan yang terkutuk. Terkutuk karena godaan dan rayuan itu diembuskan oleh setan bersama dengan embusan nafas manusia.

Al-Hasan suatu ketika pernah ditanya oleh Abu Said, “Apakah setan itu tidur?”

Al-Hasan pun menjawab, “Jika setan itu tidur, pasti kita bisa istirahat”. Sayangnya setan tidak mengenal sekat ruang dan waktu. begitu juga godaan-godaan mereka yang mengalir bersama arus dalam darah seorang hamba.

Manusia sebagai makhluk yang dibekali Allah dengan kemampuan bernalar harus memiliki kemauan dan kemampuan untuk mngalahkan setan. Oleh karenanya Al-Ghazali dengan jelas menerangkan lima kiat mematahkan godaan setan.

Pertama, membuat kurus setan dengan memperbanyak dzikir kepada Allah swt. Rasulullah saw pernah bersabda:

إن المؤمن ينضى شيطانه كما ينضى أحدكم بعيره فى سفره

Sesungguhnya orang mukmin itu membuat kurus setannya, sebagaimana seseorang diantara kamu membuat kurus ontanya dalam perjalanan.

Jika sebuah binatang liar telah dikuruskan pastilah ia akan mudah diatur dan menjadi penurut. Karena ketergantungan kepada majikannya. Begitu juga setan, jika seorang hamba telah bisa menguasai setan dengan tidak serta merta memenuhi keinginannya, pastilah setan akan kurus badannya.

Kedua, janganlah seorang hamba mendekatkkan dirinya kepada tempat-tempat kemaksiatan dan orang-orang mungkar. Sungguh hal itu memperkuat daya pikat setan membujuk manusia. Rasulullah secara legoris menyatakan:

من حام حول الحمى يوشك أن يقع فيه

Barang siapa berputar-putar di sekitar tempat larangan, maka besar kemungkinan ia akan terjerembab ke dalamnya.

Dua langkah pertama mencoba membikin setan tidak nyaman menggoda kita dengan harapan setan akan segera bosan dan kecewa karena keteguhan kita. Meskipun keduanya bukan hal yang mudah tetapi harus terus dicoba.

Ketiga, hendaknya seorang hamba selalu sadar bahwa sesungguhnya tujuan setan menggoda hanyalah ingin menjerumuskan kita ke lembah kenistaan dan kemadharatan abadi. Tidak ada godaan setan yang membawa pada kemanfaatan. Sesungguhnya setan berbuat demikian karena setan ahli cuci tangan. Ibarat penjegal yang merasa puas jika korbannya jatuh tersungkur dan dia terkekeh dengan bangganya.

Dalam surat al-Hasyr ayat 16 Allah menerangkan;

…إِذْ قَالَ لِلْإِنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ …

…ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu…

Keempat, seorang hamba harus selalu ingat bahwa selain berusaha cuci tangan, setan juga bersifat pengecut. Ia menginginkan banyak teman dalam kesesatannya. Semakin banyak teman yang menemani dirinya dalam kesesatan ia akan semakin puas. Karena sesungguhnya neraka sair itu sungguh luasnya. Dan karenanya setan menginginkan kawan untuk mengisinya.

Demikian keterangan al’A’raf 16-17 menerangkan;

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16) ثُمَّ لَآَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ –

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).

Kelima, guna mendukung keempat kiat tersebut seorang hamba harus senantiasa dalam kondisi lapar. Karena kondisi lapar akan mempermudah seorang hamba dalam mengingat Allah swt.

إن الشيطان يجرى من ابن أدم مجرى الدم فضيقوا مجاريه بالجوع

Sesungguhnya setan itu berjalan pada manusia di tempat jalannya darah. Maka persempitlah jalannya itu dengan mengosongkan perut.

Semoga kita selalu bisa mengatasi godaan setan yang terkutuk.

 

[Paramuda/BersamaDakwah]

Peter Gould: Alquran Menakjubkan

Seusai meluncurkan permainan edukasi Islam 5 Pilar, desainernya Peter Gould bercerita mengenai kisahnya bersyahadat. Ini bukan perjalanan mudah. Di dalamnya ada per gulatan batin yang mengantarkan  pebisnis itu kepada tauhid.

Dia memiliki perusahaan branding dan desain internasional yang sukses. Karyanya berupa fotografi Islam kontemporer dipamerkan di seluruh dunia, termasuk Arab Saudi, Turki, Amerika Serikat, Inggris, Malaysia, dan Uni Emirat Arab. Ketekunannya dalam menghasilkan karya seni membuahkan penghargaan Islamic Economy Award pada Global Islamic Economy Summit di Dubai pada 2015.

Namun, di tengah segala kesuksesan yang dia miliki, Gould tak pernah lupa akan Sang Pencipta. Setidaknya lima kali dalam sehari dia selalu mengumandangkan takbir, bersujud kepada Allah, menunjukkan kepasrahannya kepada Ilahi Rabbi. Kehidupannya kini sangat bergantung dengan Allah.

Islam telah membawa kedamaian dan kesejahteraan tak hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga keluarga yang menjadi tempatnya bersandar, mencurahkan kasih sayang, dalam kebersamaan. Hati menjadi tenang. Sikap dan etika yang dijalani dengan penuh keyakinan.

Mengenal Islam

Sebelum menjadi Muslim, Gould ingat, bahwa agama sama sekali tidak menarik per hatiannya. Australia yang menjadi tempatnya tumbuh menjadi dewasa jauh dari nuansa kehidupan islami. Agama bu kan hal mendasar. Hidup baginya hanya men jalani rutinitas sehari-hari, bersosialisasi, bekerja, dan ber ke luarga.

Namun, pandangan itu perlahan mulai berubah. Kepribadiannya yang ang kuh, penuh percaya diri, tak peduli agama, berujung pada keham paan batin, kesepian, kesunyian, kesendirian yang sangat menjenuhkan.

Tiba-tiba dia mulai tertarik dengan Risalah Ilahiyah yang dibawa Ra sulullah SAW. Perasaan itu muncul ketika Gould menginjak tahun terakhir sekolah menengah atas. Di sebuah halte bus, dia bertemu dengan se orang Muslim. Ketika itu saya berkir, ini seseorang yang sangat cerdas, kenapa sih mereka percaya kepada Tuhan? Dan itu benar-benar mem bawa saya ke jalan penemuan personal,” ujar dia di Jakarta, Sabtu (17/3).

Banyak pertanyaan mengenai Islam yang diajukannya. Temannya yang seorang Muslim enggan asal menjawab. Dia melakukan penelitian untuk menjawab semua pertanyaan. Gould menginginkan jawaban yang faktual dan analitis.

“Saya mulai membaca, saya mulai mempelajarinya, dan saya langsung mem praktikannya. Saya merasa se makin yakin bahwa ada kebenaran yang mendalam tentang Islam,” jelas dia. Beberapa tahun setelah lulus sekolah, Gould memutuskan masuk Islam pa da suatu malam, tepatnya pada Ramadhan 2002. Kemantapan itu di dasarkan pada kenyataan bahwa Islam benar-benar menarik perha tian nya.

Di dalamnya ada ketenangan yang membuat batin nyaman. Hidup berjalan tanpa keraguan. Percaya diri dan ibadah berjalan beriringan. Kedamaian adalah dambaan setiap insan, tak terkecuali Gould. Dia telah men coba berpuasa selama Ramadhan. Awalnya tera sa berat. Namun, lambat laun, tubuh nya mulai terbiasa.

Batinnya semakin ber se mangat untuk menahan diri. Hatinya se makin teguh untuk memasrahkan diri kepada Allah. Pada suatu malam dia menyadari, batin nya sungguh berada dalam kedamaian. Itu adalah malam ke-27 Ramadan. Ketika itu, dia tidak menyadari pentingnya malam tersebut. Saya berdoa dan saya merasakan sesuatu yang sangat kuat sehingga membuatnya yakin untuk bersyahadat.

Ini adalah malam seribu bulan, malam Qadar. Ketika itu, malaikat turun mem bawa kebaikan seizin Allah. Mereka selalu mendoakan keselamatan kepada hamba yang ketika itu beribadah hingga fajar terbit.

Sejak itu, dia memahami arti kehi dupan sebenarnya. Mulanya dia hanya tahu bahwa seseorang hidup dari sekumpulan sel dan atom yang membentuk tubuh sebagai fisik manusia. Padahal, jauh lebih dalam di diri ini, setiap orang memiliki h ubungan dengan Sang Pencipta. Hubungan primordial ini sungguh kuat.

Allah sangat mencintai manusia, selalu membuka pintu tobat kepada siapa pun yang memohon ampunan dan menyesali dosa yang diperbuat. Manusia berusaha sekuat tenaga mewujudkan impian, kemudian berdoa kepada Sang Pencipta. Setelah itu, dia memasrahkan segalanya, bertawakkal menunggu kepastian Allah.

Setelah memeluk Islam, Gould sangat takjub dengan Alquran. Wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ini bertahan lebih dari 1400 tahun dan dijamin ke asliannya oleh Allah hingga akhir za man. Bagi Gould, isi dan kandungan Al qur an sangat cocok bagi semua kalangan: tua, muda, dan setiap orang yang berasal da ri berbagai negara. Bahkan, Alquran mam pu mengupas berbagai topik yang terjadi di masa lalu, saat ini, dan yang akan datang.

Setelah memeluk Islam, Gould pun baru memahami arti penting ibadah. Shalat, merupakan wujud syukur kepada Allah. Dia selalu mengajarkan anak-anaknya untuk mendirikan shalat lima waktu dalam sehari.

Ibadah yang unik, menurutnya, adalah puasa. Di saat orang terbiasa untuk selalu ma kan dan minum, Islam justru mewa jibkan umatnya untuk menahan lapar dan haus selama bulan Ramadhan. Ternyata ada hikmah di dalamnya, yaitu menahan diri dari segala yang membatalkan puasa, mengistirahatkan dan menenangkan batin, menekan nafsu, sehingga diri hanya berpasrah kepada Sang Pencipta.

Gould mulai mempelajari Islam yang sederhana. Pertama adalah bersyukur dengan tidak meninggalkan shalat lima waktu. Bersyukur juga bisa dilakukan sederhana hanya dengan mengucapkan alhamdulillah setiap saat. Kedua, berpuasa selama tiga puluh hari lalu berzakat dan bersedekah kepada mereka yang membutuhkan. ed: erdy nasrul

Menghadapi Keluarga

Gould mengakui, awal memeluk Islam adalah waktu-waktu yang sulit, terutama saat berhadapan dengan keluarga. Meskipun, dia sangat tahu bahwa ke dua orang tuanya sangat bijak. Mereka berpikir, Gould memiliki kesalahan berpikir karena menganggap ikut-ikutan dengan orang Arab.

Kedua orang tuanya hanya tahu bahwa Islam adalah budaya Arab. Padahal, jelas Nabi Muhammad menyebarkan Islam untuk semua orang bahkan seluruh alam. Allah sebaik-baikya perencana, orang tua menentangnya hanya karena mereka tidak tahu. Tetapi, saat ini mereka paham dan mengerti agama yang dijalaninya dan mendukungnya meski mereka belum mau menerima Islam sebagai agama.

Mereka mengerti bahwa Islam adalah agama cinta kasih. Hubungan Gould dengan kedua orang tuanya pun semakin baik. Istri adalah orang pertama yang mengenalkannya kepada Islam. Dia adalah pelajar Muslim yang ditemuinya di halte bus. Dia juga yang harus menghabiskan banyak waktu meneliti Islam setelah Gould mengajukan banyak pertanyaan.

Setelah enam bulan menjadi Muslim, Gould menikahinya. Kini usia pernikahannya telah menginjak 15 tahun dan telah memiliki tiga orang anak. Dia beruntung karena anak dan istrinya mendukung karier. Dari anaknyalah ide lima Pilar tercipta. Gould mengatakan, anak-anak Muslim mem butuhkan permainan edukasi Islam yang menyenangkan dan tidak melulu bermain dengan televisi, video gim, media sosial.

Anakanak Muslim membutuhkan permainan yang da pat mengakrabkan keluarga dan menambah il mu pengetahuan terutama tentang keislaman. Setelah kreasi lima pilar ini,Goul berharap, dapat menciptakan berbagai teknologi dan kreativitas lain untuk mendukung perkembangan Islam. Bagi Gould, mempelajari Islam tidak melulu hanya dari buku, ceramah, ataupun khutbah. Melalui permainan dan hal-hal menyenangkan, Islam dapat dipelajari dan lebih mudah dipahami.

 

REPUBLIKA

Roti dan Daging Tak Ada Habisnya dari Tangan Rasul

PADA perisitiwa perang Khandaq, di saat penderitaan kaum muslimin menjadi-jadi, Jabir merasa sedih melihat kondisi yang menimpa Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ia memiliki kisah kepahlawanan tersendiri yang ia tuturkan sendiri, “Pada hari-hari pertempuran Khandaq, kami menggali parit. Ada sebongkah batu keras yang menghalang. Orang-orang datang menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam seraya berkata, Ada batu keras yang melintang di parit. Beliau bersabda, Aku yang akan turun (tangan).

Lalu, beliau berdiri, sedangkan ketika itu ada batu yang terikat di perut beliau. Kami melewati tiga hari tanpa menyantap makanan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengambil godam dan memukulkannya (ke batu), hingga batu itu hancur menjadi pasir berhamburan. Aku berkata, Wahai Rasulullah, izinkan aku kembali pulang ke rumah. Aku berkata kepada istriku, Aku melihat pada diri Rasulullah sebuah kesabaran. Apakah kamu ada sedikit makanan? Istriku menjawab, Aku punya gandum dan seekor anak kambing. Aku pun menyembelih kambing dan menumbuk gandum. Lalu, aku masukkan daging ke dalam periuk.

Aku datang menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika adonan telah melunak dan daging dalam wadah di atas tungku hampir matang. Aku berkata, Aku mempunyai sedikit makanan, silakan Anda datang bersama satu atau dua orang ke rumahku. Beliau bertanya, Seberapa banyak makanan itu? Aku beritahukan jumlahnya. Beliau bersabda, Makanan yang banyak dan baik. Beliau melanjutkan, Katakan kepada istrimu untuk tidak mengangkat pembakaran dan adonan roti dari perapian hingga aku datang.

Beliau berkata kepada para sahabatnya, Bangkitlah kalian! Maka, segenap kaum Muhajirin dan Anshar bangkit berdiri.” Ketika Jabir masuk menemui istrinya, ia berkata, “Rasulullah akan datang bersama kaum Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang ada bersama mereka.” Istrinya bertanya, “Apakah beliau menanyakan sesuatu kepadamu?” Jabir menjawab, “Ya.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Masuklah kalian dan jangan berdesak-desakan.”

Beliau mulai memotong-motong roti dan menaruh daging di atasnya, lalu menutup periuk dan perapian bila mengambil (daging atau roti) darinya. Lalu, beliau mendekatkannya kepada para sahabatnya dan mengambilkannya. Beliau terus memotong-motong roti hingga semua orang kekenyangan, dan ternyata makanan itu masih tersisa.” Jabir berkata kepada istrinya, “Makanlah ini dan hadiahkanlah, sungguh orang-orang sedang ditimpa kelaparan.” (HR Bukhari, no. 4101; Muslim, no. 2039)

 

INILAH MOZAIK