Empat Manfaat Memelihara Anak Yatim yang Jarang Diketahui

Yatim, secara bahasa berarti artinya infirad atau sendiri. Setiap yang sendiri dalam Bahasa Arab disebut dengan yatim, termasuk juga makna al-yatimah adalah janda yang sendiri. (Muhammad Abu Manshur al-Harawi w. 370 H, Tahdzib al-Lughat, h. 14/ 242, lihat pula: Ibnu Faris ar-Razi w. 395 H, Mujmal al-Lughat, h. 1/ 941)

Seseorang yang meninggal bapak dan ibunya biasa di Indonesia disebut dengan istilah yatim piatu. Dalam Bahasa Arab disebut dengan istilah Lathim (Ibnu Mandzur al-Ifriqi w. 711 H, Lisan al-Arab, h. 12/ 645). Sedangkan kata yatim untuk hewan adalah hewan masih kecil yang ditinggal mati ibunya.

Kadang kata yatim juga dipakai dalam makna majazi atau bukan makna sebenarnya. Dalam syariah tak jauh beda dengan makna secara bahasa, yaitu seseorang yang ditinggal wafat bapaknya dan belum baligh. Imam as-Syairazi as-Syafi’i (w. 476 H).

Lalu apa manfaat memelihara anak yatim?

1. Melembutkan Hati, Segala Kebutuhan Terpenuhi

Rasulullah Saw. bersabda,
“Sukakah kamu, jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu terpenuhi ? Kasihilah anak yatim, usaplah mukanya, dan berilah makan dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu akan terpenuhi.” (HR. Al-Baniy, Shahi Al-Jami’, Abu Darda: 80).

2. Pahala Setara Jihad

Rasulullah Saw. bersabda,
“Barang siapa yang mengasuh tiga anak yatim, maka bagaikan bangun pada malam hari dan puasa pada siang harinya, dan bagaikan orang yang keluar setiap pagi dan sore menghunus pedangnya untuk berjihad di jalan Allah. Dan kelak di surga bersamaku bagaikan saudara, sebagaimana kedua jari ini, yaitu jari telunjuk dan jari tengah.” (H.R. Ibnu Majah)

3. Mendapat Perlindungan di Hari Kiamat

Rasulullah Saw. bersabda,
“Demi Allah yang mengutusku dengan kebenaran, di hari kiamat Allah Swt. tidak akan mengazab orang yang mengasihi anak yatim, dan bersikap ramah kepadanya, serta bertutur kata yang manis. Dia benar-benar menyayangi anak yatim dan memaklumi kelemahannya, dan tidak menyombongkan diri pada tetangganya atas kekayaan yang diberikan Allah kepadanya.” (H.R. Thabrani)

4. Masuk Surga dengan Mudah

Rasulullah Saw. bersabda,
“Barangsiapa yang memelihara anak yatim di tengah kaum muslimin untuk memberi makan dan minum, maka pasti Allah memasukkannya ke dalam surga, kecuali jika ia telah berbuat dosa yang tidak dapat diampuni.” (H.R. Tirmidzi)

5. Bertetangga Dekat dengan Baginda Nabi Muhammad Saw. di Surga

Rasulullah SAW bersabda: “Aku dan orang yang mengurus (menanggung) anak yatim (kedudukannya) di dalam surga seperti ini.”_ Beliau mengisyaratkan dengan (kedua jarinya yaitu) telunjuk dan jari tengah serta agak merenggangkan keduanya.” (HR. Imam Al-Bukhari).

Wallahua’lam.

 

BERSAMA DAKWAH

Arab Saudi Hadiahkan Bintang Liverpool Mohammad Salah Tanah di Makkah

Wakil Wali Kota Makkah Fahd Al-Rowky mengumumkan hari Senin mengabarkan, dirinya berencana memberi hadiah pemain sayap kanan Liverpool, Mohammad Salah sebidang tanah di Makkah, sebagai bentuk ucapan selamat telah memenangkan penghargaan “Premier League Player of the Year“, dengan mencetak 41 gol dan sebagai Pemain Terbaik PFA 2017/2018, di musim pertamanya bersama Liverpool, tulis harian online Saudi Sabq.

Al-Rowky mengatakan pada Sabq bahwa beberapa pilihan bagaimana bentuk hadiah itu sedang dipertimbangkan.

“Ada beberapa pilihan terkait pemberian tanah ini. Yang akan ditentukan sendiri oleh kapten Mohammad Salah serta sistem administrasi Saudi. Jika sistem Saudi memperbolehkan tanah dimiliki oleh Salah, dia akan diberikan sebidang tanah di Makkah di luar wilayah Haram. Pilihan lain Mo Salah akan dibuatkan sebuah masjid di tanah dengan namanya.”

Dia juga menambahkan pilihan ketiga yaitu menjual sebidang tanah itu dan memberikan uangnya pada Salah, jika dia meminta begitu.

Al-Rowky menambahkan bahwa dia menganjurkan pemberian tanah pada Salah ini untuk menunjukkan dukungannya pada pemuda dengan potensial dan sebagai salah satu yang seharusnya diidolakan.

Rowky mengatakan, hadiah ini  sebuah apresiasi Saudi untuk Salah dan sikapnya yang terpuji,  dan menganggap Mohammad Salah adalah duta besar yang sangat bagus untuk Islam di Inggris.

“Langkah itu akan menunjukkan dukungan terhadap orang-orang muda yang berpotensi besar,” kata Fahd Al-Rowky.

Sebelumnya, pemain depan Mesir dan Liverpool itu dimahkotai penghargaan Premier League Player of the Year oleh Asosiasi Sepakbola Profesional (FPA) pada Senin setelah debut yang spektakuler dengan mencetak 41 gol.

Salah berhasil mengumpulkan suara terbanyak dan yang diikuti De Bruyne di posisi kedua. Sementara striker timnas Inggris yang baru saja mengklaim gol milik Christian Eriksen berada di posisi ketiga.

Meskipun begitu, Salah telah menarik hati dunia karena sikap dan tindakan dermawannya, selain kemampuan sepakbolanya. Dunia tidak pernah berhenti menunjukkan kecintaan mereka pada pemain kelahiran Nagrig, Gharbia, Mesir, 15 Juni 1992 itu.

Sebuah restauran Falafel di Liverpool mengumumkan mereka akan memberikan makanan gratis setiap Salah mencetak gol dan bulan Ramadhan dan bakal menghiasi tempatnya dengan lentera-lentera berbentuk/bergambar Mo Salah, begitu panggilan akrab Salah.

Salah juga telah menjadi duta Islam dengan membuat fans Liverpoolnya bernyanyi, “dan jika dia cukup baik untukmu Saya akan ikut menjadi Muslim.”

Negara-negara Teluk seringkali menggunakan tanah sebagai hadiah bagi para pesepakbola yang memiliki sikap terpuji.

Pada Januari, Sultan Qaboos bin Said, pemimpin Oman, menghadiahi tim sepak bola nasionalnya dengan uang dan beberapa bidang tanah sebagai apresiasi karena memenangkan Piala Arab Teluk di Kuwait.*/Nashirul Haq AR

 

HIDAYATULLAH

 

Baca juga:

Mohamed Salah: Bangga Negara dan Dirinya Bisa Tampil di Piala Dunia. Semua Mau itu!

Takbir Iringi Keberangkatan Jenazah Imam asal Palestina menuju Gaza

Lautan takbir iringi jenazah Dr Fadi M R Albatsh,  Imam asal Palestina yang juga dosen di Malaysia sebelum diberhentikan di Surau Medan Idaman, Setapak  untuk dishalati.

Sekitar 2.000 jamaah hadir untuk ikut shalat dan memberi penghormatan terakhir kepada almarhum.  “Laillahaillallah, as-Syahid Habibullah” bergemuruh di Surau Medan Idaman, Setapak, ketika jenazah Imam  Fadi Al-Batsh dibawa ke kompleks surau.

Ikut hadir dalam shalat, para mahasiswa dan staf UniKL BMI dan Duta Besar Palestina Palestina Dr Anwar Al Agha. Anwar ikut bergabung dengan konvoi sekitar 10 mobil yang menyertai almarhum Fadi menuju bandara.

Suasana haru menyelimuti surau ketika ada jemaat menangis. Usai dishalati,  alhamrhum kemudian diberangkatkan menuju Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA).

Sebagaimana diketahui bahwa jenazah akan dibawa ke Gaza melalui Mesir.

Direktur Eksekutif Humanitarian Care Malaysia ( MyCARE) Kamarul Zaman Shaharul Anwar mengatakan bahwa jenazah  akan dibawa dengan menggunakan ambulance ke Perbatasan Rafah.

“Perjalanan akan memakan waktu sekitar lima jam ke Rafah, tiba di Rafah, akan dibawa ke Gaza, Palestina.

“Kedua orang tua dan saudara-saudara mereka akan menunggu mereka yang diharapkan tiba pukul 9 pagi,” katanya sebagaimana dikutip laman HMetro, Malaysia.

MyCARE mengaku akan ikut mengirim dua orang untuk mendampingi istri almarhum Enas Albatsh dan ketiga anaknya.

“Keluarga almarhum juga akan tinggal di Gaza, Palestina dan kami berharap perjalanan mereka akan dimudahkan,” katanya.

Jenazah Fadi dibawa keluar dari Rumah Sakit Selayang, pukul 12.45 siang  dengan ditutupi bendera Palestina.

Dr Fadi M R AlBatsh Fatma, yang juga pengajar di Universitas Kuala Lumpur British Malaysian Institute (UniKL BMI) ditembak dua pria asing hari Sabtu (20/04/2018) saat akan melaksanakan shalat Subuh.

Jenazah Fadi akan dibawa pulang ke Jalur Gaza, melalui Mesir melalui penerbangan Egypt Air yang dijadwalkan berangkat dari Bandara Kuala Lumpur (KLIA) pada 7 malam.

Sementara itu, penjajah Zionis mendesak pemerintah Mesir untuk tidak mengizinkan jenazah ilmuwan Palestina yang ditakuti Israel itu melewati pelintasan perbatasan Rafah menuju Jalur Gaza yang terblokade.

Menteri Perang Zionis Israel, Avigdor Lieberman, mengungkapkan hari Ahad (22/04/2018), Al-Batsh, katanya, sedang mengerjakan perbaikan roket-roket yang selama digunakan pejuang Hamas melawan penjajah.*

 

HIDAYATULLAH

Menikmati Hidup Apa Adanya

BAGAIMANA cara kita mempersepsi sesuatu adalah penentu bahagia tidaknya kita dalam kehidupan. Bagaimana kita bersikap akan apapun yang terjadi adalah penentu tenang tidaknya kita dalam menjalani hidup. Responslah segala sesuatu dengan respons terbaik.

Seteguk air bisa sangat bermanfaat menghilangkan dahaga, terlalu melimpahnya air bisa bermakna banjir yang menenggelamkan dan melahirkan bahaya. Ternyata, yang lebih sedikit tidak selalu kurang bermakna dibandingkan yang banyak. Syukuri saja yang kita miliki, dan nikmati saja apa yang ada di tangan kita, maka hidup akan terasa lebih mampu membuat kita tersenyum.

Kalau kita ditakdirkan memiliki yang sedikit, syukurilah maka ia akan menjelma menjadi banyak. Minimum ia akan menjelma menjadi lebih berharga. Cara ini akan menghindarkan kita dari mengemis dan merasa terhina. Terhina itu bukan karena memiliki sesuatu yang sedikit. Terhina itu adalah saat selalu merasa kurang dengan apa yang sebenarnya sudah cukup.

Kalaulah kita ditakdirkan memiliki yang banyak, sungguh itu akan menjadi beban kalau dipikul dan dipikir sendiri. Allah selalu ada untuk membantu mengatur dan menjaganya dengan cara kita berluas dada menggunakannya untuk membantu dan membahagiakan hamba-hambaNya. Kesombongan dan ketamakan yang selalu memanas-manasi pemiliknya untuk menjadi satu-satunya yang tiada tanding hanya akan menyebabkan ketertutupan jalan menuju kebahagiaan sejati.

Ada seorang lelaki yang rajin bekerja sampai menjadi kaya. Dia tidak kawin karena takut nanti kalau mati hartanya pindah ke tangan isterinya. Dia juga tak membangun rumah mewah karena takut kalau mati nanti akan ditempati orang.

Ketika sakit menjelang kematiannya, dimakannya emas dan uang yang dimilikinya karena takut pindah ke orang lain dan kemudian menjadi lebih kaya dari dirinya. Inilah yang menjadikannya semakin cepat menuju kematiannya.

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi 

INILAH MOZAIK

Hajar Aswad Bukan Batu Biasa atau Batu Meteor

Sebagaimana diterangkan dalam sejumlah hadis yang diriwayatkan dari berbagai perawi hadis tepercaya, Hajar Aswad adalah sebuah batu mulai yang berasal dari surga. Dahulu, saat pertama kali diturunkan, batu ini berwarna putih laksana susu. Namun, karena dosa-dosa manusia hingga ia menjadi hitam (aswad).

Terkait dengan banyaknya riwayat yang menyebutkan bahwa batu hitam ini berasal dari surga, banyak pihak yang penasaran dengan hal tersebut. Ada yang berusaha mengambil atau mencurinya. Namun, ada pula yang mengaitkannya dengan batu yang bukan berasal dari bumi. Kalangan ini menyebutnya dengan batu meteor. Namun, sebagaimana disebutkan dalam sejumlah hadis, batu hitam tersebut adalah batu yang berasal dari surga.

Namun, terdapat perbedaan pendapat mengenai asal mula diturunkan. Ada yang menyebutkan, batu ini diturunkan oleh Allah SWT melalui perantaraan malaikat Jibril. Sebagian lagi berpendapat, ia dibawa oleh Nabi Adam AS ketika diturunkan dari surga. Pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Katsir, dalam bukunya Qishash al-Anbiyaa’ (Kisah Para Nabi dan Rasul). Wa Allahu A’lam.

Para pihak yang masih ‘penasaran’ dengan batu ini, berusaha mencari tahu asal sumbernya. Ada yang berusaha menelitinya, dan menyatakan batu ini memang batu yang bukan berasal dari bumi. Di antaranya menyatakan, batu ini adalah pecahan dari batu meteor.

Bahkan, seorang ilmuwan Muslim asal Mesir, Prof Dr Zaghlul An-Najjar, meminta dunia Islam untuk mengambil sampel satu atau dua mikro Hajar Aswad untuk bahan penelitian dan pembuktian dari hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa batu tersebut itu tidak berasal dari bumi, tapi berasal dari surga.

Sebagaimana dikutip Muslimdaily.com, An-Najjar meyakinkan dunia Islam tujuan pengambilan sampel itu semata-mata untuk penelitian. Ia meyakinkan, pengambilan sampel itu tidak akan merusak Hajar Aswad.

An-Najjar menyatakan, Lembaga Geografi asal Inggris, pernah mengutus seorang perwira tinggi untuk mencermati Hajar Aswad. Dan sang perwira merasa takjub dengan pemandangan Ka’bah. Lebih lanjut An-Najjar menegaskan bahwa Makkah adalah pusat bumi.

 

REPUBLIKA

Tukang Tambal Ban Ini Menginspirasi Ketua MPR

Dalam perjalanannya ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan secara mengejutkan bertemu dengan sosok inspiratif bernama Ismail. Dia adalah tukang tambal ban yang menabung selama 10 tahun untuk bisa berangkat haji dan menghajikan ibunya.

Zulkifli menemui Ismail di pangkalan tambal bannya, di Jalan Cempaka Djok Mentaya, Kota Banjarmasin, Jumat, 3 November 2017. Ismail bercerita bagaimana ia berjuang mengumpulkan uang selama 10 tahun untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah bersama ibunya.

“Kalau dapat Rp 50 ribu, saya tabung Rp 30 ribu. Kalau dapatnya kurang dari itu, yang bisa disisihkan cuma Rp 10 ribu. Jadi, saya kerja hampir 24 jam sehari dan semua hasilnya saya tabung di bawah bantal, Pak,” ujarnya.

Zulkifli serius mendengarkan cerita Ismail. “Akhirnya pada 2012, saya bisa bayar setoran awal dan ternyata bisa cepat prosesnya oleh Kementerian Agama karena mendampingi ibu sebagai manula,” katanya.

Ismail juga menceritakan kalau ia merasakan banyak kemudahan dalam melunasi pembayaran hajinya, mulai usaha istrinya yang berkembang, semangat kerja 24 jam, hingga kerabat yang tiba-tiba datang membayar utang pada ibunya.

“Alhamdulillah pada 2017 saya dipanggil Allah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Saat itu, satu kloter dengan Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina,” ucapnya.

Zulkifli yang mendengar cerita Ismail mengaku terinspirasi dengan kerja kerasnya agar bisa berangkat naik haji. “Inspirasi itu ada di sekitar kita, dekat dengan kita. Ismail memang tukang tambal ban, tapi perjuangannya untuk naik haji telah mengajarkan hasil tak akan khianati kerja keras,” tuturnya.

Sebagai Ketua MPR, ia akan terus berusaha menemukan inspirasi baru di setiap perjalanannya. “Negeri ini butuh lebih banyak optimisme daripada pesimisme. Inspirasi adalah jawabannya,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Zulkifli menghadiahkan satu buah kompresor terbaru untuk membantu usaha tambal ban Ismail. “Semoga dengan kompresor ini, tambal ban Ismail semakin berkah,” katanya. (*)

 

TEMPO

Berkah al-Haram

Bagi pengunjung dua Tanah Suci (Makkah dan Madinah), air zam zam yang sumbernya tak pernah mengering, menjadi tujuan utama. Kisah penemuan mata air zamzam selalu didengungkan sehingga umat Islam di berbagai zaman selalu mendengarnya.

Dahulu, Nabi Ibrahim AS (Lahir 2510 SM) mendambakan anak. Sementara istrinya, Sarah, tak kunjung hamil. Kisah-Kisah Shahih dalam Alquran dan Sunnahkarya Syekh Umar Sulaiman al- Asyqor menyebutkan, Ibrahim memohon kepada Allah untuk diberi keturunan yang baik.

Allah mewujudkan keinginan itu. Saat Ibrahim menetap di Baitul Maqdis, Sarah berkata kepada Ibrahim untuk menikah dengan hamba sahayanya Hajar agar memiliki anak. Ibrahim kemudian menikah dan setelah itu Hajar hamil.

Ismail anak dari Hajar dan Ibrahim lahir di bumi yang diberkahi, Palestina. Hajar melahirkan Ismail saat Ibrahim ber usia 86 tahun, tepat tiga tahun sebelum kelahiran Ishaq.

Setelah Ismail lahir, Allah menurunkan wahyu kepada Ibrahim berisi berita gembira kelahiran Ishaq dari Sarah. Ibrahim langsung bersujud. Allah berfirman kepadanya, Aku telah mengabulkan permintaanmu terkait Ismail, Aku memberkahinya, Aku akan memperbanyak keturunannya, dan ia akan memiliki 12 orang besar dan Aku akan menjadikannya seorang pemimpin suku bangsa yang besar.

Saat Hajar melahirkan Ismail, kecemburuan Sarah semakin besar dan me minta Ibrahim agar membawanya per gi, supaya Sarah tidak lagi melihat wa jahnya. Ibrahim akhirnya membawa Hajar pergi bersama anaknya, lalu ditempatkan di sebuah padang pasir, Makkah. Ismail saat itu masih disusui.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab sahihnya, Hajar mengikat kakinya ketika berjalan sehingga tak mening galkan jejak dan tidak ada yang bisa mengikutinya. Makkah ketika itu tak berpenghuni, hanya hamparan padang pasir tandus.

Saat Ibrahim meninggalkan keduanya di sana dan beranjak pergi, Hajar menghampirinya dan menarik bajunya. Ia berkata, Ibrahim! Hendak pergi kemana engkau dan meninggalkan kami di sini tanpa perbekalan untuk mencukupi keperluan kami? Ibrahim tidak menyahut.

Namun, karena terus mendesak bertanya tanpa diberi jawaban, Hajar akhir nya bertanya, Allah-kah yang menyuruhmu untuk melakukan hal ini? Ibra him mengiyakan. Hajar kemudian meyakini hidupnya tak akan telantar.

Air zamzam

Ibrahim terus pergi, kemudian setelah tiba di bukit Tsaniyah, tempat di mana Hajar dan Ismail sudah tidak melihatnya, Ibrahim memanjatkan doa berikut dengan mengangkat kedua tangan, Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunan ku di lembah yang tidak mem punyai tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb kami berharap mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Ibrahim: 38).

Hajar kemudian menyusul Ismail dan meminum air yang diberikan Ibrahim. Setelah persediaan air habis, keduanya kehausan. Sang ibu menatap anaknya yang tengah berbaring. Ia akhirnya pergi karena tidak tega melihat anaknya. Ia melihat bukit paling dekat di sekitarnya Safa. Ia kemudian berdiri di puncak bukit Safa dan melihat ke berbagai arah apa kah ada seseorang, tapi ternyata sepi.

Ia kemudian turun, setelah tiba di perut lembah, ia melipat pakaian hingga sebatas lengan, kemudian berlari-lari kecil layaknya orang yang sudah kele tihan. Setelah melalui lembah tersebut, ia menghampiri bukit Marwa, lalu ber diri di puncaknya. Di sana ia mengham piri bukit Marwa, lalu berdiri di pun caknya.

Sebelum mencapai tujuh kali, Hajar pergi untuk menengok anaknya. Melihat Ismail yang berguling-guling, Hajar memutuskan untuk kembali ke bukit Safa. Apa yang dilakukan Hajar ini di abadikan sebagai salah satu rukun dalam umrah dan haji. Setiap jamaah diwajibkan melaksanakan sa’i berlari-lari kecil antara Safa dan Marwa.

Saat berada di atas bukit Marwa, Hajar mendengar suara, ia pun berkata dalam hati, Diamlah. Sesaat kemudian Hajar mendengar suara yang sama.

Hajar pun berkata, Kami mendengar suaramu, jika kau bisa menolong, tolonglah kami! Ternyata di hadapannya ada malaikat di tempat zamzam berada. Malaikat itu lantas menghentakkan tumit, atau sayapnya, hingga air memancar. Hajar kemudian mengumpulkan air itu di tangannya dan memasukkan air ke dalam wadah. Air itu memancar deras setelah diciduk.

Rasulullah bersabda, Andai ia tidak menciduk air zamzam, niscaya akan mengalir (ke seluruh permukaan bumi). Ia pun minum dan menyusui Ismail kecil. Kemudian malaikat itu berkata kepadanya, jangan takut telantar karena di sini akan berdiri rumah Allah yang dibangun bocah ini dan Ayahnya, Allah tidak akan menelantarkan keluarganya.

Pada mulanya Ka’bah berada di ketinggian seperti bukit. Kemudian banjir besar melanda hingga mengikis sebelah kiri dan kanannya. Setelah air zamzam muncul, Hajar dan Ismail tetap bertahan di sana.

Hingga suatu hari rombongan dari suku Jurhum singgah di Makkah. Mereka melihat seekor burung terbang berputar-putar. Mereka berkata, Sungguh, burung itu berputar mengelilingi air, tapi setahu kita di sini tidak ada air.

Mereka mengirim pencari jejak dan menemukan air. Rombongan itu langsung menikmati zamzam. Hajar berpesan, mereka tak punya hak untuk memiliki mata air itu, tapi mereka boleh meminumnya.

Ismail menikah

Ismail kemudian tumbuh dewasa. Dia pun dinikahkan dengan salah satu wanita dari suku Jurhum. Tak lama setelah mereka menikah, Hajar meninggal dunia. Kemudian, Ibrahim yang diberi pe tunjuk oleh Allah, datang menemui Ismail. Saat datang ke rumah Ismail, Ibrahim tidak bertemu dengan anaknya.

Dia hanya bertemu istrinya, Ibrahim bertanya kepada istri Ismail, ia menjawab, `Ia sedang pergi mencari nafkah untuk kami.’ Setelah itu, Ibrahim menanyakan kehidupan dan kondisi mereka. Istrinya mengeluh kepada Ibrahim bahwa keluarganya hanya manusia biasa yang serbasulit dan miskin.

Ibrahim kemudian mengatakan agar menyampaikan salamnya dan meminta untuk mengubah palang pintu rumah nya.Setelah Ismail pulang, ia bertanya ke pada istrinya, Apa tadi ada tamu yang datang? istrinya menjawab, Ya. Tadi ada orang tua datang kemari, ciri nya begini dan begitu. Ia menanya kan mu, aku pun memberitahukan padanya. Setelah itu, ia bertanya kepadaku ten tang kehidupan kami. Aku berkata pa danya bahwa aku berada dalam kesu litan.

Ismail kemudian menceritakan jika tamu yang datang adalah ayahnya Ibrahim dan melalui pesannya itu dia meminta untuk menceraikan istrinya. Ismail kemudian menceraikan istrinya itu lalu menikah dengan wanita lain.

Selang berapa waktu, Ibrahim tidak kunjung datang. Namun saat datang, Ibrahim kembali tidak bertemu Ismail. Ibrahim masuk menemui istri Ismail lalu menanyakan Ismail padanya. Istrinya menjawab, Ia sedang mencari nafkah un tuk kami. Setelah itu Ibrahim bertanya, Bagaimana kondisi kalian? Istri nya yang kini berbeda dengan sebelum nya, dia tidak menceritakan kesulitan dan kesusahannya berumah tangga selama bersama Ismail.

Istrinya menceritakan, hidupnya bahagia dan sejahtera karena tersedia da ging dan air untuk memenuhi kebutuhan hi dupnya. Berkat sifat qanaah istri Ismail, Ibrahim kemudian berdoa, Ya Allah ber ka hilah daging dan air mereka.

 

REPUBLIKA

Awas, Makanan Haram Menolak Doa

DOA orangtua adalah salah satu doa yang diijabah Allah. Namun mengapa ada doa orangtua yang tertolak, hingga seakan tak berpengaruh sama sekali untuk anak? Berikut ini kisah dan penjelasan tertolaknya doa orangtua akibat makanan.

“Saya sudah mendoakan anak saya untuk sekian lama, ustaz. Selesai salat fardhu, selesai salat malam. Tapi anak saya tetap nakal. Tidak ada perubahan sama sekali. Doa saya seperti tidak mempan,” kata seorang ibu menceritakan kondisi anaknya yang duduk di bangku sekolah menengah.

Sang ustaz diam sejenak. Ia mencoba mencerna keseluruhan cerita ibu tadi. Dengan nada berhati-hati ia mencoba menggali pertanyaan. “Mohon maaf apakah ibu pernah memberikan makanan dari hasil syubhat atau haram kepada anak ibu?”

Mendengar pertanyaan itu, sang ibu terdiam. Air mukanya menyiratkan kegundahan dan perlahan matanya berkaca-kaca.

“Iya, ustadz. Kalau dari uang syubhat sering. Suami saya sering mendapatkan uang yang tidak jelas. Kadang sebagai bentuk terima kasih customer yang telah dilayaninya. Kadang pemberian pimpinan yang nggak jelas dari mana. Kadang juga ada rekayasa laporan di tempat kerjanya.”

“Nah, itu bu. Ketika anak-anak mendapatkan asupan makanan yang haram atau syubhat, salah satu efeknya ia bisa terhijab dari doa. Apalagi orangtuanya juga memakan makanan haram. Semakin tidak nyambung itu doanya. Allah tidak berkenan mengabulkan doa orang tua tersebut”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah Maha Baik dan hanya menerima yang baik. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan orang-orang mukmin untuk sama seperti yang diperintahkan kepada para nabi. Kemudian beliau membaca firman Allah yang artinya, Wahai para rasul, makanlah makanan yang baik dan kerjakanlah amal shalih. Dia juga berfirman yang artinya, Hai orang-orang mukmin, makanlah makanan yang baik yang telah Kami anugerahkan kepadamu. Kemudian beliau menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh hingga rambutnya kusut dan kotor, ia menengadahkan tangannya ke langit seraya berdoa, Ya Rabb, ya Rabb. Akan tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan ia kenyang dengan yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan.” (HR. Muslim)

Ketika menjelaskan hadits ini, para ulama menerangkan bahwa laki-laki tersebut telah memenuhi empat hal yang semestinya membuat doanya terkabul yakni ia seorang musafir, ia lelah, ia menengadahkan dua tangan dan sangat berharap kepada Allah. Namun karena ia menggunakan barang haram, doanya tertolak. Sebab makanan haram, minuman haram dan pakaian haram adalah penghalang terkabulnya doa.

Para orangtua muslim, mari kita menjaga diri dari makanan dan hal-hal yang haram. Kita jaga pula anak-anak kita dari makanan dan hal-hal yang haram. Dengan demikian, semoga tak ada penghalang antara doa kita dan ijabah Allah. Semoga tak ada penghalang terkabulnya doa kita untuk kebaikan anak-anak kita. [bersamadakwah]

 

INILAH MOZAIK

Ibrahim Call (2)

Current Impact on Ibrahim Call

Dalam dunia property dan hospitalities misalnya, siapa yang mengelola hotel-hotel besar yang mengelilingi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi? Nama-nama besar jaringan perhotelan dunia yang datang dari negeri-negeri kapitalis ribawi. Sebut saja satu nama jaringan hotel besar dunia ? Anda cari hotelnya di Makkah atau Madinah insyaallah akan ketemu tidak jauh – jauh dari sekeliling Masjidil Haram ataupun Masjid Nabawi.

Di dunia perhotelan global, mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membuka jaringannya di dua kota yang tidak pernah mengenal musim sepi ini. Bila di perhotelan di belahan dunia lain ada dikenal dua musim yaitu High Season (HS) and Low Season (LS), di kota Makkah dan Madinah juga mengenal dua musim – tetapi dua musim ini adalah Very High Season (VHS) and Very Very High Season(VVHS) – yaitu musim di luar Haji dan Ramadhan dan musim Haji dan Ramadhan..

Lantas siapa yang mengisi barang-barang yang diperdagangkan di Makkah dan Madinah? Mulai dari kain ihram, sajadah, sandal jepit sampai oleh-oleh yang diborong oleh para Jama’ah Haji Indonesia ke kampungnya masing-masing?

Mayoritas barang dagangan ini datang dari negeri kapitalis komunis yaitu China.

Bagaimana dengan bahan makanan yang ada di sana, berbagai mesin dan teknologi yang ada? Lagi-lagi mayoritasnya bukan dari negeri-negeri yang penduduknya berduyun-duyun ke dua kota suci ini.

Bukan salah mereka dari negeri kapitalis ribawi maupun kapitalis komunis yang mengambil manfaat dari pasar yang tumbuh begitu besar dan sangat terkonsentrasi ini, tetapi salah kita sendiri – yang gagal untuk secara comprehensive  menjadi ‘mereka’ yang memperoleh berbagai manfaat yang disebut di ayat ke dua (QS 22:28).

Kita hanya mau berdagang secara pasif, yaitu sebagai pembeli dari barang dan jasa yang mereka sediakan – tetapi kita tidak berdagang secara aktif yang justru menyediakan produk barang dan jasa yang diperlukan oleh para jema’ah haji itu sendiri. Kita menjadi pasar, dan belum menjadi pemasar – kita yang ‘dinikmati’ dan belum menjadi ‘yang menikmati berbagai manfaat’ yang diijinkan oleh Allah tersebut.

Padahal mengambil manfaat  terkait dengan duniawi bukan hanya diperbolehkan di ayat tersebut, hal yang senada juga ada di ayat lainnya yaitu Surat Al-Baqarah 198 : “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam…”

Diijinkannya kita mengambil manfaat yang sifatnya duniawi ini selain agar kebutuhan umat sedapat mungkin diurus oleh umat ini sendiri, juga menjadi hikmah tersendiri. Yaitu agar menjadi insentif bagi kita untuk mau menyelesaikan tantangan-tantangan besar yang selalu muncul dalam kaitan dengan urusan berhaji ini di setiap jamannya masing-masing.

Kini hampir 1,500 tahun sesudah disyariatkannya berhaji dalam Islam, challenge-nya bukan lagi masalah perjalanan – karena kita bisa naik apa saja yang membuat manusia dari segala penjuru bisa sampai ke tempat ini dengan nyaman dan cepat. Tetapi challenge baru muncul sesuai dengan jamannya, kini saudara-saudara kita di kabupaten yang kaya di Sulawesi Tengah misalnya – perlu antri hingga 35 tahun untuk bisa memenuhi seruan tersebut.

Allah Yang Maha Tahu dan Maha Teliti tentu sudah mengetahui jauh sebelumnya dan telah memperhitungkannya, bahwa berbagai challenge ini akan bermunculan sesuai dengan jamannya masing-masing. Kita yang hidup di jaman ini tidak ada lagi masalah transportasi, juga biaya terjangkau oleh begitu banyak manusia di seluruh penjuru dunia untuk sampai ke tempat ini – tetapi challenge capacity-lah yang kini sangat perlu inovasi tersendiri.

Di era innovative disruption ini, peluang untuk melakukan terobosan dalam segala bidang memang terbuka untuk menyelesaikan masalah-masalah besar kehidupan – tidak terkecuali untuk masalah haji ini. Umat Islam Indonesia yang telah berhasil melakukan innovative disruption sekaliber Go-Jek dan Buka Lapak, mengapa tidak melahirkan innovative disruption– yang memungkinkan kita semua bisa pergi berhaji tanpa harus menunggu berpuluh tahun seperti saudara kita di Sulawesi Tengah?

Dan innovative disruption dalam hal pengelolaan capacity berhaji ini boleh diambil keuntungan atau manfaatnya yang bersifat duniawi juga selain manfaat untuk agama dan akhirat kita. Selain do’a yang sangat mashur – do’a sapu jagad untuk meminta kebaikan di dunia dan di akhirat sekaligus yang kita semua hafal, do’a ini ada contohnya yang lebih detil – untuk menjaga keseimbangan antara agama, dunia dan akhirat kita.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“Ya Allah, perbaikilah agamaku sebagai benteng urusanku, perbaikilah duniaku yang menjadi tempat kehidupanku, perbaikilah akhiratku yang menjadi tempat kembaliku. Dan jadikanlah kehidupan ini memberi nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan, dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan.” (HR. Muslim no. 2720.)

Lantas apa hubungannya antara ayat-ayat dan do’a yang dicontohkan dalam hadits tersebut dengan problem kapasitas peribadatan jema’ah haji saat ini? Umat inilah yang tahu problem ini, betapa penantian 35 tahun untuk bisa pergi berhaji sungguh tidak mudah untuk bisa diterima yang justru terjadi di jaman modern ini. Di sisi lain masalah kapasitas untuk pengadaan akomodasi, tranportasi dlsb. tentu juga tidak mudah untuk bisa diatasi.

Problem besar juga berarti peluang besar bagi yang bisa mengatasinya, hanya saja peluang ini juga harus dilihat dari tiga sisi yang dicontohkan dalam do’a yang sahih tersebut. Dan inilah peluang kita untuk bisa mengatasi masalah besar jaman kita yang terkait dengan panggilan haji yang sudah dikumandangkan hampir 4,000 tahun lalu itu.

Peluang kita untuk ber-inovasi menyelesaikan urusan besar umat ini untuk merespon panggilan Ibrahim yang telah diteruskanNya hingga sampai ke anak cucu kita di jaman ini hingga akhir jaman nanti. Andakah yang akan bisa memberikan innovative solution agar orang-orang bisa berbondong-bondong dari seluruh penjuru dunia untuk bisa merespon Seruan Ibrahim ‘Alaihi Salam, agar semua kita bisa ‘berjalan kaki’ atau ‘ naik unta yang kurus’ sampai rumah Allah, dan agar kita bisa menyaksikan berbagai manfaat yang banyak bagi ‘mereka’ yang berarti juga kita sendiri?*

Oleh: Muhaimin Iqbal, Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

 

HIDAYATULLAH

Ibrahim Call (1)

KETIKA sekitar 4.000 tahun lalu Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam diperintahkan untuk memanggil manusia untuk melaksanakan haji, dia bertanya kepada Allah “Ya Tuhanku, bagaimana saya bisa menyampaikan pesan ini kepada manusia, sedang suaraku tidak akan sampai kepada mereka ?”, dijawab oleh Allah “Panggillah mereka, Kami yang akan menyampaikannya !”. Maka Ibrahim-pun memanggil “Wahai manusia, Tuhanmu telah membangun rumah maka datanglah untuk beribadah kepadaNya”. Di jaman ini, dialog yang diceritakan dalam kitab tafsir Ibnu Katsir tersebut seharusnya dapat menginspirasi berbagai inovasi dan solusi.

Diceritakan pula dalam kitab tafsir tersebut bahwa Allah menurunkan tinggi gunung-gunung agar seruan tersebut sampai, bukan hanya sampai kepada manusia yang hidup saat panggilan tersebut dikumandangkan tetapi juga pada seluruh manusia yang hidup hingga kini dan hingga akhir jaman nanti.

Seruan tersebut telah sampai ke kita bahkan ketika ayah ibu kita belum bertemu satu sama lain, ketika kakek-nenek kitapun belum menikah – ketika kita masih berupa sesuatu yang belum bisa disebut!

Point-nya adalah panggilan tersebut telah sampai ke kita, tinggal apakah kita mampu meresponse-nya secara comprehensive  atau tidak. Comprehensive  responses ini penting sekali sepanjang jaman, karena sepanjang jaman ada permasalahannya tersendiri untuk memenuhi panggilan tersebut.

Hingga 2,500 tahun setelah seruan tersebut disampaikan – yaitu jaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam hidup bersama para sahabatnya, challenge untuk comprehensive  responses itu antara lain berupa beratnya perjalanan menuju dan pulang balik dari Makkah. Hingga lebih dari 1,000 tahun sesudah itu-pun perjalanan haji masih sungguh tidak mudah, bahkan hingga awal abad 20-pun perjalanan untuk pergi haji itu tetap tidak mudah.

Anda yang sudah beruntung mengunjungi tanah suci, pasti bisa membayangkan betapa beratnya perjalanan ke sana, seandainya Anda harus menempuhnya dengan berjalan kaki atau naik unta yang kurus. Dan ini yang antara lain  disampaikan Allah dalam dua rangkaian ayat berikut :

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS 22:27).

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan…” (QS 22:28).

Perhatikan kata ‘mereka’ yang saya tebalkan, siapa yang dimaksud Allah dengan ‘mereka’ ini ? Mereka yang disebut di ayat pertama adalah orang-orang yang mau bersusah payah menempuh perjalanan memenuhi panggilan nabi Ibrahim tersebut – untuk menempuh perjalanan haji. Mereka di ayat kedua – yaitu yang menyaksikan maupun yang menerima berbagai manfaat juga adalah orang-orang yang sama, yaitu orang-orang yang bersusah payah pergi berhaji di ayat yang pertama tersebut.

Kini setelah hampir 4. 000 tahun panggilan dikumandangkan, atau hampir 1.500 tahun setelah ditetapkannya syariat tata cara yang baku untuk pergi berhaji, kita justru tidak mampu untuk secara comprehensive  menjadi ‘mereka’ yang disebut khususnya di ayat kedua, yaitu ‘mereka’ yang menerima atau menikmati perbagai manfaat dari syariat berhaji ini.

Abul Ala Maududi menjelaskan tafsir ayat ini sebagai berbagai manfaat yang sifatnya duniawi maupun manfaat untuk agama ini. Karena kita ‘lupa’ adanya  manfaat duniawi yang terkait berhaji ini, maka manfaat terbesar justru dinikmati oleh orang lain di luar Islam yang cara hidupnya bertentangan dengan syariat Islam.>>>

Oleh: Muhaimin Iqbal

 

HIDAYATULLAH