Jibril Digelari dengan Ruh al-Qudus (Ruh suci)

ALLAH menyebut Jibril dengan ar-Ruh al-Amin (Ruh yang amanah).

“Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. As-Syuara: 192 194)

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman (QS. An-Nahl: 102).

Jibril digelari dengan ar-Ruh karena malaikat adalah alam ruh, alam ghaib yang tidak terindra oleh manusia. (at-Tahrir wa at-Tanwir, 19/189).

Ada juga yang mengatakan, Jibril digelari ar-Ruh karena beliau malaikat yang membawa wahyu kepada para nabi. Dan wahyu adalah sumber kehidupan bagi agama, sebagaimana jasad bisa hidup karena ada ruh. (Tafsir ar-Razi, 3/596).

 

INILAH MOZAIK

Ukuran Fisik Jibril saat Rasulullah Melihatnya

KITA akan mengenal malaikat yang paling mulia, Jibril alaihis salam. Jibril dalam bahasa lain disebut Jibrail. Sebagian ahli tafsir mengatakan, bahwa ini merupakan bahasa Ibrani, susunan dari dua kata: Jibr yang artinya hamba, dan kata iil yang merupakan salah satu dari nama Allah. Sehingga arti dari Jibrail adalah Abdullah (hamba Allah). (at-Tahrir wa at-Tanzil, Ibnu Asyur, 1/620).

Jibril diciptakan dari cahaya, sebagaimana umumnya malaikat yang lainnya. Disebutkan dalam hadis dari Aisyah Radhiyallahu anha, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Malaikat diciptakan dari cahaya dan jin diciptakan dari nyala api” (HR. Muslim 2996).

Dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melihat Jibril dalam wujud aslinya dua kali. Allah berfirman, “Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (13) (yaitu) di Sidratil Muntaha.” (QS. An-Najm: 13-14).

Aisyah pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentang ayat ini. Beliau bersabda, “Itu adalah Jibril. Aku belum pernah melihatnya dalam bentuk asli selain di dua kesempatan ini. Aku melihatnya turun dari langit, besar fisiknya menutupi antara langit dan bumi.” (HR. Muslim 177).

Abdullah bin Masud Radhiyallahu anhu mengatakan, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melihat Jibril, dengan 600 sayap.” (HR. Bukhari 3232 dan Muslim 174)

Dalam riwayat lain, Ibnu Masud mengatakan, “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melihat Jibril dalam wujud aslinya, beliau memiliki 600 sayap, yang menutupi ufuq.” (HR. al-Fakihi dalam Akhbar Makkah, al-Fakihi, 2306).

 

INILAH MOZAIK

Kemenag Tutup 20 Travel Umrah dan Haji Ilegal di Yogyakarta

Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kamenag) Daerah Istimewa Yogyakarta bersama aparat kepolisian telah menutup 20 biro travel haji dan umrah yang membuka kantor di daerah setempat secara ilegal.

“20 biro itu kini kami awasi. Mereka tidak boleh melakukan perekrutan jamaah haji dan umrah sampai izin resmi keluar,” kata Kepala Bidang Penyelenggara Haji dan Umrah Kanwil Kemenag DIY Noor Hamid di Yogyakarta, Sabtu.

Menurut Hamid, sesuai hasil penyisiran Kemenag DIY pada Mei 2017, awalnya tercatat sebanyak 25 biro travel haji dan umrah yang tidak mengantongi izin resmi.

Sebagian mereka menyatakan sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan sebagian lainnya sebagai Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) padahal hanya memiliki izin sebagai travel wisata. Ada yang sudah beroperasi melakukan perekrutan jamaah selama dua tahun dan empat tahun tanpa memiliki izin resmi.

“Rata-rata mereka hanya menumpang nama biro lain yang telah memiliki izin pemberangkatan haji dan umrah. Jadi mereka semacam pengepul saja sebenarnya,” kata dia.

Setelah diberikan kesempatan hingga awal Januari 2018, menurut Hamid, lima biro travel haji dan umrah di antaranya telah menyelesaikan pengurusan perizinan untuk beroperasi di Yogyakarta.

“Yang lima sudah kami nyatakan legal dan bisa beroperasi, sedangkan yang 20 kami tunggu sampai saat ini belum ada yang melakukan pengajuan secara resmi,” kata Hamid.

Terhadap 20 biro haji dan umrah yang masih ilegal, menurut dia, Kanwil Kemenag DIY bersama Polda DIY, dan Satpol PP DIY terus melakukan pemantauan aktivitas mereka.

“Satpol PP juga kami libatkan agar mereka bisa langsung mencopot apabila biro-biro ilegal itu memasang papan nama atau menawarkan jasa melalui baliho dan spanduk,” kata dia.

Hamid berharap masyarakat bisa mewaspadai tawaran dari biro travel haji dan umrah ilegal. Biro travel umrah bodong biasanya menarik minat calon jamaah dengan memasang tarif paket perjalanan umrah jauh lebih rendah di bawah standar nasional Rp20 juta. “Kalau sudah di bawah Rp20 juta kemungkinan besar bodong,” kata dia.

 

IHRAM

Adakah Cinta Segila Cinta Nabi Musa

SUATU saat Nabi Musa bertemu dengan dua pemudi yang sedang antri mau ambil air di sumur. Nantinya, salah seorang dari dua wanita itu menjadi isteri Nabi Musa. Yang spektakuler adalah mas kawin yang diminta untuk dipenuhi Nabi Musa demi pernikahan itu, yaitu bekerja 10 tahun untuknya. Nabi Musa menyanggupinya.

Saya tak habis pikir dengan apa yang ada di benak Nabi Musa. Kok mau-maunya beliau menikah dengan maskawin yang sebegitu pelik dan lama sementara banyak wanita lain yang mau dengan maskawin super murah yang penting yang akan mengawininya adalah lelaki bermasa depan. Saya mencari tahu alasan apa yang ada di benak Nabi Musa itu.

Saya tak yakin ada lelaki zaman kini yang mau meniru Nabi Musa. Apakah kira-kira karena wanita yang akan dinikahi Nabi Musa itu adalah jenis unggul “sing ala lawan?” Ataukah karena alasan lainnya?

Coba baca al-Qur’an dengan baik dan penuh perenungan. Buka surat al-Qashash ayat 25. Allah mengabarkan berita kepada kita tentang wanita itu. Ini jawaban bukan dari saya. Allah berfirman, “Wanita itu berjalan dengan malu-malu” Ternyata wanita pemalu itu punya “harga” yang mahal, nilai yang mahal dan citra diri yang mulia. Mengapa?

Perhatikan sabda Rasulullah dalam shahih Bukhari Muslim: “Rasa malu itu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan” dalam riwayat Muslim: “Rasa malu itu semuanya baik” .

Hadits ini tak hanya untuk wanita melainkan juga untuk lelaki. Malu itu penting, sayangnya pendidikan masyarakat banyak mengajarkan kita untuk menghilangkan rasa malu itu.

 

INILAH MOZAIK

Telaah ar-Razi Soal Penciptaan Alam Semesta

Fakhruddin ar-Razi juga menelaah tentang bagaimana Allah menciptakan alam semesta. Ada dua bentuk penciptaan. Pertama, melalui kata Jadilah! (kun; lihat Alquran surah al-Baqarah ayat 117, surah Ali Imran ayat 47, surah al-An’am ayat 73, surah an-Nahl ayat 40, surah Maryam ayat 35, surah Yaasiin ayat 82, dan surah al- Mu`min ayat 68).

Kedua, penciptaan langit dan bumi dalam enam hari (lihat Alquran surah Huud ayat 7, surah Qaf ayat 38, as-Sajadah ayat 4, dan Fushilat ayat 9-12). Ada tafsiran bahwa frasa Jadi, maka jadilah! (kun fayakun!)” berarti bahwa Allah menciptakan segala sesuatu sebagai pengejawantahan frasa tersebut. Akan tetapi, ar-Razi kurang sepakat dengan tafsiran itu.

Menurut dia, penciptaan sudah dibentuk sebelum pengujaran kata jadi dari frasa Jadi, maka jadilah! Fakhruddin ar-Razi mengambil contoh pembahasan surah Ali Imran ayat 59, yang menceritakan tentang penciptaan Isa bin Maryam: Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Jadilah’ (seorang manusia), maka jadilah dia.

Perhatikan bahwa Allah menciptakan Adam dari tanah datang terlebih dahulu baru kemudian Allah mengujarkan kata jadilah”. Oleh karena itu, menurut ar-Razi, kata jadilah itu sendiri merupakan makhluk yang telah Allah ciptakan sebelumnya.

 

REPUBLIKA

Mengenal Sosok ar-Razi, Sang Ilmuwan Cemerlang

Fakhruddin ar-Razi (1149- 1209) merupakan salah satu ilmuwan paling cemerlang dalam sejarah peradaban Islam. Karya-karyanya mencapai ratusan buku yang meliputi banyak bidang, mulai dari kedokteran, astronomi, matematika, logika, fisika, kalam, fikih, ushul fikih, hingga tafsir Alquran. Dalam bidang tafsir, kitabnya yang sampai kini masih terus dikaji adalah Mafatih al-Ghaib (at-Tafsir al-Kabir li Alquranul Karim).

Adapun dalam disiplin fikih dan ushul fikih, ia telah menulis buku al-Mahshul fil Fiqh dan al-Mahshul fil Ushul Fiqh. Untuk kajian kalam dan filsafat, dua karyanya yang masyhur antara lain al- Qadha wa al-Qadar, al-Mulakhash fil Filsafah, al-Mathalib al-‘Aliyah fil Hikmah, dan al-Mabahits al-Masyra qiyyah (Pemba hasan Filsafat Ketimuran).Selain menulis banyak buku, tokoh dari abad ke-12 Masehi ini juga kerap melakukan perjalan an ke berbagai kota pusat-pusat ilmu pengetahuan.

Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Umar bin al-Hu sayn at-Taymi al-Bakri at-Tabaristani. Pria keturunan sahabat Rasulullah SAW, Abu Bakar ash-Shiddiq, ini lahir di Ray (kini sekitar Teheran, Iran) dan wafat di Herat (masuk Afghanistan modern) di usia 61 tahun.

Awalnya, Fakhruddin ar-Razi mendapat kan pendidikan dari sang ayah, Dziya’uddin Umar, seorang pakar mazhab Imam Syafii dan Asy’ariyah. Setelah ayahandanya wafat, dia menempuh penga jaran dari sejumlah ulama terkemuka yakni, antara lain, Ahmad bin Zarinkum al-Kamal al-Simnani, Majdin al-Jilly, dan Muhammad al-Baghawi. Majdin al-Jilly merupakan orang Azerbaijan yang juga murid generasi kedua dari Imam al-Ghazali.

Selain itu, Fakhruddin ar-Razi juga menimba ilmu kalam dari Kamaluddin as- Samawi. Semasa mudanya, ia memelihara bacaan dan hafalan Alquran. Melewati usia belasan tahun, minatnya terhadap sains mulai muncul. Lantaran kegeniusannya, di usia 35 tahun Fakhruddin ar-Ra zi sudah memahami seluk-beluk kitab fenomenal dalam bidang kedokteran, al-Qanun fil Tibb (the Canon of Medicine)karya Ibnu Sina.

Dalam usia muda, dia mengunjungi Kota Khawarizmi dan Transoxania untuk berinteraksi dengan ulama-ulama setempat. Di samping alasan mengejar ilmu, perjalanannya ke wilayah-wilayah Islam di timur itu juga menjadi awal baginya mendapatkan perlindungan dan dukungan dari penguasa-penguasa Muslim. Misal nya, Sultan Ghiyath al-Din dari Ghazna dan penggantinya yakni Syihabuddin.

Akan tetapi, Fakhruddin ar-Razi juga menjalin pertemanan dengan lawan politik sultan Ghazna itu, yakni Shah Khawarizmi Alauddin Takesh dan anaknya, Muhammad. Dengan dukungan dari kalangan elite kerajaan itu, pada zamannya Fakhruddin ar-Razi termasuk ilmuwan yang hidup mapan. Selain dua kota tersebut, dia juga menyambangi Khurasan, Bukhara, Samarkand, dan India.

Sebagai sosok dengan kapasitas intelektual yang tinggi, Fakhruddin ar- Razi senang berdebat dengan orang-orang yang berseberangan pandangan. Dia tidak suka dengan orang yang lemah dalam penalaran dan terburu-buru menyimpulkan argumen. Polemik keilmuan acap kali begitu keras. Salah satu pihak yang mengecamnya adalah kelompok Karramiyah, yang mendukung penafsiran literal atas teks-teks sumber Islam.

Bahkan, kelompok Ismailiyah dan Hanbali disebut-sebut pernah mengancam nyawanya. Beberapa riwayat mengatakan, kematian Fakhruddin ar-Razi terjadi lantaran minumannya diracun. Di Herat, kota tempatnya mengembuskan napas terakhir, dia mengajar di madrasah yang khusus dibangun Sultan Ghiyath untuknya

 

REPUBLIKA

Matematika Rizki

MATEMATIKA menjadi pelajaran wajib bagi setiap siswa. Sepertinya, matematika adalah mata pelajaran paling dasar kedua setelah bahasa yang ditanamkan sejak dini. Bahasa adalah sebagai dasar berkomunikasi sementara matematika adalah sebagai dasar berhitung. Komunikasi dan berhitung sepertinya menjadi bagian pokok kegiatan hidup.

Pelajaran berhitung paling dasar adalah tentang penambahan dan pengurangan. Ini adalah pelajaran agar manusia terbebas dari kerugian. Sayangnya, yang banyak muncul dalam fase berikutnya adalah semangat menambah terus tanpa mau mengurangi. Tampaklah karakter tamak dan bakhil. Semoga Allah menjauhkan kita dari karakter jelek ini.

Pelajaran matematika berikutnya adalah perkalian dan pembagian agar manusia paham penghitungan dengan semangat pelipatgandaan dan terbebas dari pembagian yang meruntuhkan secara bertahap dan terstruktur. Sayangnya, semangat seperti ini seringkali memunculkan karakter mengeksploitasi orang lain dan menguras habis segala yang bisa dikuras tanpa mempertimbangkan etika. Semoga Allah hindarkan kita dari tabiat tak baik ini.

Karakter tersebut muncul dengan terang benderang dalam domain perebutan rizki, semangat ingin cepat kaya. Yang dibicarakan selalu saja penambahan dan perkalian. Banyak yang lupa bahwa terlalu sering berpikir penambahan akan memaksa pengurangan datang tiba-tiba dan mengejutkan. Akhirnya rizkinya tak jadi bertambah. Banyak yang tak sadar bahwa terlalu banyak bicara perkalian akan memaksa hadirnya pembagian yang menuntut pengeluaran rizki tanpa disangka.

Matematika rizki itu adalah bahwa siapa yang mengurangi hartanya secara sadar dengan niat kebaikan maka penambahan jumlah dan keberkahan akan tiba dengan sendirinya. Lebih dari itu, siapa selalu membagi hartanya sengan niat kemaslahatan maka Allah akan mengkalikannya dengan sesuka Allah sehingga jumlah hartanyapun berkali lipat.

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi 

INILAHMOZAIK

 

————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Share Aplikasi Andoid ini ke Sahabat dan keluarga Anda lainnya
agar mereka juga mendapatkan manfaat!

Bahaya Kemiskinan, Mohonlah Perlindungan pada Allah

Jika kemiskinan makin meraja, maka akan menjadi kemiskinan yang mampu membuatnya lupa akan Allah dan juga kemanusiaannya, sebagaimana seorang kaya yang apabila terlalu meraja.

ISLAM memandang kemiskinan merupakan satu hal yang mampu membahayakan akidah, akhlak, kelogisan berpikir, keluarga, dan juga masyarakat. Islam pun menganggapnya sebagai musibah dan bencana yang harus segera ditanggulangi.

Seorang muslim harus segera memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas kejahatan yang tersembunyi di dalamnya. Terlebih, jika kemiskinan ini makin meraja, maka ia akan menjadi kemiskinan yang mansiyyan (mampu membuatnya lupa akan Allah dan juga kemanusiaannya), sebagaimana seorang kaya yang apabila terlalu meraja, maka ia akan menjadi kekayaan yang mathgiyyan (mampu membuat orang zalim; baik kepada Allah maupun kepada manusia lainnya).

Banyak sahabat Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam yang meriwayatkan bahwa Rasulullah sendiri pernah ber-taawudz (memohon lindungan Allah) dari kemiskinan. Apabila memang kemiskinan tidak berbahaya, maka tentunya Rasulullah tidak perlu ber-taawudz atasnya.

Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam ber-taawudz:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari fitnah api neraka, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kekayaan dan juga berlindung pada-Mu atas fitnah kemiskinan.” (HR. Bukhari).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bertaawudz:

“Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari kemiskinan, kekurangan dan juga dari kehinaan. Aku berlindung padamu dari perbuatanku untuk menzalimi ataupun untuk terzalimi.” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Tampak dari hadits ini sesungguhnya Rasulullah berlindung kepada Allah dari semua hal yang melemahkan, baik secara materi ataupun secara maknawi; baik kelemahan itu karena tidak mempunyai uang (kemiskinan), atau tidak mempunyai harga diri, dan juga karena hawa nafsu (kehinaan).

Poin penting dari semua ini adalah adanya keterkaitan taawudz dan kekafiran. Sesungguhnya kekafiran inilah yang menjadi landasan dasar dari adanya taawudz itu sendiri, yang semuanya ini akhirnya menjadi bukti akan bahaya kemiskinan.

Diriwayatkan dari Abu Bakar langsung kepada Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari siksa kubur. Sesungguhnya tiada Tuhan selain Engkau.” (HR. Abu Dawud).

Imam Manawy dalam kitabnya Faidhul Qadir menyebutkan bahwa ada keterkaitan kuat antara kekafiran dan kefakiran, karena kefakiran merupakan satu langkah menuju kekafiran. Seorang yang fakir miskin, pada umumnya akan menyimpan kedengkian kepada orang yang mampu dan kaya. Sedang iri dengki mampu melenyapkan semua kebaikan. Mereka pun mulai menumbuhkan kehinaan di dalam hati mereka, di saat mereka mulai melancarkan segala daya upayanya demi mencapai tujuan kedengkian mereka tersebut.

Kesemuanya ini mampu menodai agamanya dan juga menimbulkan adanya ketidak-ridhaan atas takdir yang telah ditetapkan. Akhirnya tanpa sadar akan membuatnya mencela rezeki yang telah datang padanya. Walaupun ini semua belum termasuk ke dalam kekafiran, namun sudah merupakan langkah untuk mencapai kekafiran itu sendiri.

Sufyan At-Tsauri berkata: “Apabila diberikan padaku empat puluh dinar hingga aku mati dengannya, maka sesungguhnya hal ini lebih aku sukai daripada kefakiranku di suatu hari, dan daripada aku harus merendahkan diriku dengan mengemis kepada orang lain.”

Lalu ia berkata: “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku apabila aku ditimpa bencana kemiskinan ataupun ditimpa suatu penyakit. Mungkin pada saat itu aku akan kafir ataupun tidak merasakan apa pun.*/Sudirman STAIL

 

HIDAYATULLAH

Menikahi Bekas Menantu Laki-Laki, Bolehkah?

Allah SWT memasukkan ibu mertua sebagai perempuan yang tidak boleh dinikahi.

Ikatan pernikahan merupakan hubungan suci yang diatur dalam Alquran. Seorang lelaki bisa menikahi perempuan manapun selama bukan golongan perempuan yang dilarang untuk dinikahi. Hanya, ada beberapa kondisi yang menjadi pertanyaan kaum Muslimin.

Apabila seorang lelaki menikah dengan seorang perempuan, tetapi baru beberapa bulan mereka lantas bercerai. Pasangan ini bahkan tak pernah melakukan hubungan seksual. Lantas, lelaki itu berhasrat untuk menikahi bekas mertua mantan istrinya tersebut. Pertanyaan pun menyeruak apakah mantan menantu ini boleh menikahi bekas mertuanya?

Dalam Alquran surah an-Nisa ayat 23, Allah SWT memasukkan ibu mertua sebagai perempuan yang tidak boleh dinikahi. Dalam hal ini, Imam Ibnu Katsir menukil sebuah riwayat pada masa Pemerintahan Khalifah Muawiyyah. Ketika itu, Bakr ibnu Kinanah pernah menceritakan kepadanya bahwa ayahnya menikah kan dirinya dengan seorang wanita di Taif.

Bakr ibnu Kinanah melanjutkan kisahnya, “Wanita tersebut tidak kugauli sehingga pamanku meninggal dunia, meninggalkan Utrima yang juga adalah ibu si wanita itu, sedangkan ibunya adalah wanita yang memiliki harta yang banyak.” Ayahku berkata (kepadaku), “Maukah engkau mengawini ibunya?” Bakr ibnu Kinanah mengatakan, ‘Lalu aku bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai masalah tersebut.’ Ternyata ia berkata, ‘Kawinilah ibunya!’. “Bakr ibnu Kinanah melanjutkan kisahnya bahwa setelah itu ia bertanya kepada Ibnu Umar. Maka ia menjawab, “Jangan kamu kawini dia.”

Setelah itu aku ceritakan apa yang di katakan oleh keduanya (Ibnu Abbas dan Ibnu Umar). Lalu ayahku menulis surat kepada Mu’awiyah yang isinya memberitakan apa yang dikatakan oleh keduanya. Mu’awiyah menjawab, “Sesungguhnya aku tidak berani menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, tidak pula mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah. Kamu tinggalkan saja masalah tersebut karena wanita selainnya cukup banyak.” Dalam jawabannya itu Mu’awi yah tidak melarang—tidak pula mengizinkan— aku melakukan hal tersebut. Lalu ayahku berpaling meninggalkan ibu si wanita itu dan tidak jadi menikahkannya (denganku).

Syekh Yusuf Qaradhawi dalam Fiqih Kontemporer menjelaskan, tidak boleh menikah dengan bekas ibu mertua. Baik anaknya (bekas istrinya) sudah pernah di gauli maupun belum, baik yang dicerai kan sebelum digauli maupun yang me ninggal sebelum digauli. Syekh Qara dha wi menjelaskan, Allah SWT sudah mengatur ini dalam Alquran.

“Diharamkan atas kalian (menga wini) ibu-ibu kalian; anak-anak kalian yang perempuan; saudara-saudara ka lian yang perempuan, saudara-saudara ba pak kalian yang perempuan; saudarasaudara ibu kalian yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudarasaudara lelaki kalian: anak-anak perempuan dari saudara-saudara perempuan kalian: ibu-ibu kalian yang menyusui kalian, saudara sepersusuan kalian; ibuibu istri kalian (mertua) anak-anak istri kalian yang dalam pemeliharaan kalian dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istri kamu itu (dan sudah kalian ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagi kalian) istriistri anak kandung kalian (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS an-Nisa:23).

Menurut Syekh Qaradhawi, dalam ayat ini, Allah SWT tidak membedakan antara mertua yang anaknya sudah pernah digauli (berhubungan seks) dan yang belum. Dengan demikian, akad nikah yang dilakukan seorang pria dengan seorang wanita mengharamkan kemungkinan adanya pernikahan dengan ibu mertua untuk selama-lamanya.

Syekh Qaradhawi melanjutkan, berbeda apabila seorang pria menikah dengan ibu yang belum pernah digaulinya. Kemudian, terjadi perceraian di antara mereka atau istrinya meninggal dunia. Pria itu pun boleh menikah dengan putri ibu tersebut. Hal ini menjadi salah satu kategori perempuan yang boleh dinikahi dalam ayat tersebut. “… anak-anak istri mu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri. Tetapi, jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya..” (QS an- Nisa:25). Wallahu a’lam. 

 

REPUBLIKA

 

Kehebatan Jibril yang Disebut dalam Alquran

ADA banyak sifat Jibril yang Allah sebutkan dalam al-Quran, berikut diantaranya,

[1] Firman Allah, “Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (QS. At-Takwir: 19-21).

Dalam ayat di atas, ada beberapa sifat jibril,
– Utusan Allah yang mulia
– Makhluk yang kuat
– Memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah pemilik Arsy
– Ditaati para malaikat lainnya
– Amanah di sisi Allah Taala

[2] Firman Allah, “Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang memiliki mirrah; dan dia menampakkan diri dengan rupa yang asli.” (QS. An-Najm: 5-6)

Dalam ayat ini, ada beberapa sifat Jibril,
– Sangat kuat
– Dzu mirrah. Ulama berbeda pendapat tentang makna Dzu Mirrah, menurut Ibnu Abbas, dzu mirrah artinya penampilan yang sangat indah. Sementara menurut Mujahid, artinya memiliki kekuatan. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/444).

 

INILAHMOZAIK