Jangan Salah Persepsi

Selain memiliki banyak keunggulan, manusia memiliki banyak kelemahan. Hal tersebut secara tekstual dinyatakan Allah yang menciptakannya. Allah berfirman, “Dan manusia itu dijadikan bersifat lemah.” (QS an-Nisa [4]: 28).

 

Kelemahan manusia disebutkan dalam sejumlah ayat, di antaranya, amat zalim dan amat bodoh (QS al-Ahzab [33]: 72), melampaui batas (QS Yunus [10]: 12 dan QS Alaq [96]: 6), tergesa-gesa (QS al-Isra [17]: 11, dan QS al-Anbiya [21]: 37), dan banyak membantah (QS al-Kahfi [18]: 54).

Selanjutnya, manusia itu berkeluh kesah dan amat kikir (QS al-Isra [17]: 100 dan QS al-Ma’arij [70]: 19-21), susah payah (QS al-Balad [90]: 4), dan sangat ingkar serta tidak berterima kasih kepada Tuhannya (QS al-Adiyat [100]: 6).

 

Namun, tidak sedikit manusia yang tidak menyadari kelemahannya. Hal itu bermuara pada ketidaktahuannya. Makanya, Allah memerintahkan manusia untuk menggunakan akalnya. Tidak kurang dari 13 kali Allah menggunakan redaksi afala ta’qilun.

Allah berfirman, “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri-(kewajiban)-mu sendiri, padahal kamu membaca alkitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS al-Baqarah [2]: 44).

 

Dalam ayat lain: “Hai ahli kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?” (QS Ali Imran [3]: 65).

Selain menggunakan redaksi afala ta’qilun, Allah juga menggunakan redaksi lainnya, seperti afala tatafakkarun, afala yatadabbarun, dan afala ta’lamun. Bila manusia menggunakan akalnya dengan baik, niscaya mereka dapat menyingkirkan kelemahan-kelemahannya.

 

Namun, faktanya banyak manusia yang tidak menggunakan akalnya dengan baik. Akibatnya tidak sedikit yang salah persepsi tentang dirinya. Berikut beberapa persepsi manusia tentang dirinya yang sifatnya fatal.

Pertama, mempersepsikan dirinya paling mulia dibandingkan orang lain. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang bertakwa di antara kamu.” (QS al-Hujurat [49]: 13).

 

Kedua, mempersepsikan dirinya paling suci dibandingkan orang lain. Allah berfirman, “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS an-Najm [53]: 32).

Ketiga, mempersepsikan dirinya paling kaya dibandingkan orang lain. Allah berfirman, “Wahai manusia! Kamulah yang fakir (memerlukan sesuatu), dan Allah Dia-lah yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu).” (QS Fathir [35]: 15).

 

Keempat, mempersepsikan dirinya paling hebat di dunia dalam segala hal dibandingkan orang lain. Allah berfirman, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka” (QS al-An’am [6]: 32).

Pernyataan senada termaktub dalam QS al-Ankabut [29]: 64, dan QS Muhammad [47]: 36.

 

Oleh: Mahmud Yunus

REPUBLIKA

Toleransi dalam Al-Qur’an (Bag 2)

Al-Qur’an memberikan cara yang begitu indah dalam bersikap kepada orang yang berbeda dengan kita. Bukan seperti maraknya intoleransi atas nama Islam, Al-Qur’an memberikan cara yang berbeda.

Dalam Surat Saba’, Allah memberikan pelajaran tentang toleransi yang begitu tinggi. Allah berfirman:

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَى هُدًى أَوْ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ -٢٤-

Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah, “Allah,” dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.
(Saba’ 24)

Coba perhatikan ayat ini, Allah mengajarkan cara yang indah kepada Rasulullah dalam menghadapi orang yang berbeda. Di akhir ayat itu disebutkan bahwa kami atau kalian pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan. Tidak akan lepas dari dua hal tersebut.

Coba bayangkan, Rasulullah saw sangat yakin akan kebenaran yang ia bawa. Tak ada keraguan sedikitpun. Namun, ketika menghadapi orang yang berbeda, Rasulullah seakan memposisikan diri beliau sama dengan orang yang berbeda dengannya. Kami dan kalian, mungkin berada di pihak kebenaran atau kesesatan. Maka marilah kita duduk dan berdialog untuk sama-sama mencari kebenaran.

Ada kata-kata populer yang indah. Ia sedang berbicara tentang toleransi.

“Pendapatku benar tapi mungkin ada salahnya. Pendapat selainku salah tapi mungkin ada benarnya”

Kata-kata ini sepertinya cukup menggambarkan indahnya toleransi. Namun kualitas toleransi Al-Qur’an berada diatas itu. Al-Qur’an mengajarkan kita untuk tidak mengatakan bahwa kita benar dihadapan orang yang berbeda. Al-Qur’an mengajarkan untuk menyamakan posisi ketika kita menghadapi mereka, kita sama-sama dalam posisi mungkin benar mungkin salah. Karenanya, mari kita berdialog untuk sama-sama mencari kebenaran. Walaupun, kita tetap meyakini bahwa pilihan kita adalah yang terbaik tanpa keraguan sedikitpun.

Kita lanjutkan kepada ayat setelahnya, masih dalam Surat Saba’. Allah berfirman:

قُل لَّا تُسْأَلُونَ عَمَّا أَجْرَمْنَا وَلَا نُسْأَلُ عَمَّا تَعْمَلُونَ -٢٥-

Katakanlah, “Kalian tidak akan dimintai tanggung jawab atas dosa yang kami lakukan dan kami juga tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kalian lakukan.”
(Saba’ 25)

Masih tentang toleransi Al-Qur’an yang amat tinggi. Perhatikan ayat diatas, saat Rasulullah berkata tentang dirinya, beliau memakai kata “perbuatan dosa”.

“Kalian tidak akan dimintai pertanggung jawaban atas dosa yang kami lakukan.”

Andai pilihan beliau itu menyebabkan dosa, orang yang berbeda dengan Rasul tidaklah dimintai pertanggung jawaban. Padahal Rasulullah bersih dari itu segala dosa. Namun lihatlah, saat Rasulullah  mengatakan tentang perbuatan mereka, beliau tidak menggunakan kata “berbuat dosa”.

“Kami juga tidak akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatan yang kalian lakukan”

Lihatlah ! Betapa tinggi Islam menjunjung toleransi. Masih adakah mereka yang berbuat intoleran dengan mengatasnamakan Al-Qur’an? Sungguh, mereka hanya berdusta atas nama Al-Qur’an. Dan hanya Allah lah yang akan menghakimi perbedaan dan perselisihan yang terjadi.

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ -٢٦-

Katakanlah, “Tuhan kita akan Mengumpulkan kita semua, kemudian Dia Memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia Yang Maha Pemberi keputusan, Maha Mengetahui.”

(Saba’ 26)

Begitulah Al-Qur’an mengajarkan tentang cara menghadapi orang yang beda pilihan dengan kita. Ayat-ayat diatas bercerita tentang Rasulullah yang menghadapi orang-orang yang belum menerima risalahnya. Al-Qur’an sangat menghormati mereka padahal mereka adalah non-muslim. Lalu bagaimana dengan saudara sesama muslim kita? Mereka yang non-muslim saja diberi penghormatan dan toleransi yang amat tinggi oleh Al-Qur’an, bagaimana saudara kita yang sama-sama percaya ke-Esaan Allah, percaya Nabi terakhir Muhammad Rasulullah dan percaya pada Hari Akhir. Harusnya, kita wajib beri penghormatan lebih kepada saudara satu agama kita yang berbeda hanya pada masalah-masalah kecil. Semoga dengan Al-Qur’an, kita bisa memperbaiki kualitas toleransi kita.

Lihatlah bagaimana Imam Ali begitu mengutamakan persatuan diatas segalanya. Ketika perang Shiffin berkecamuk, ada seorang sahabat Imam Ali yang bertanya, “Wahai Imam, jika saat perang ini berkecamuk, tiba-tiba pasukan Romawi menyerang muslimin di Syam, apa yang akan kita lakukan?” Imam menjawab, “Aku dan pasukan Muawiyah akan bersatu untuk melawan pasukan Romawi di Syam.”

Bayangkan, ditengah permusuhan Muawiyah kepada Imam Ali, beliau tetap memikirkan Persatuan Islam yang besar. Masalah-masalah kecil harus dikesampingkan demi kekuatan Islam untuk bisa bertahan melawan musuh-musuh yang ingin menghancurkan Islam. Musuh Islam bersorak sorai melihat sesama muslim saling bunuh, mereka tertawa seperti melihat pertarungan sabung ayam yang bersaudara.

Tapi kan tetap kita harus Nahi Munkar?

Memang benar, amar ma’ruf nahi munkar adalah wajib. Tapi sampai mana batasannya?

Dalam kisah bani Israil, Allah pernah melarang mereka untuk memancing di hari sabtu. Dan yang melanggar akan terkena adza dari Allah. Saat itu bani Israil terbagi menjadi tiga kelompok. Ada yang melanggar, ada yang diam dan membiarkan mereka yang melanggar dan ada yang tidak melakukan sekaligus menegor mereka yang melanggar. Kelompok yang acuh itu berkata kepada mereka yang sibuk menegor:

وَإِذَ قَالَتْ أُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْماً اللّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَاباً شَدِيداً قَالُواْ مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ -١٦٤-

Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, “Mengapa kamu menasihati kaum yang akan Dibinasakan atau Diazab Allah dengan azab yang sangat keras?” Mereka menjawab, “Agar kami mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) kepada Tuhan-mu, dan agar mereka bertakwa.”
(Al-A’raf 164)

Mereka yang mengingatkan orang-orang yang melanggar punya dua alasan kenapa mereka melakukan nahi munkar. Yang pertama adalah agar punya alasan dihadapan Allah karena mereka telah mengingatkan saudaranya yang berbuat salah. Yang kedua adalah agar saudara mereka tidak sampai melakukan maksiat.

Dari ayat itu, kita temukan bahwa batasan seseorang dalam nahi munkar adalah sebatas mengingatkan. Tidak boleh menghukum atau mengambil sikap lainnya. Jika yang diingatkan tetap tidak peduli maka dia telah melakukan kewajiban nahi munkar. Tidak ada wewenang untuk memaksa dan menghukum. Yang berhak menghukum adalah pemimpin disaat itu. Rasulullah saw melakukan potong tangan bagi pencuri dan merajam pezina saat beliau sudah menjadi pemimpin di Madinah. Lihatlah Nabi Nuh, apakah beliau tidak berhasil berdakwah saat anaknya sendiri berpaling darinya? Lihatlah Nabi Luth, apakah beliau tidak berhasil karena tak mampu menjadikan istrinya beriman? Mereka semua berhasil karena yang dinilai oleh Allah adalah proses nahi munkar dan kewajiban mereka hanya menyampaikan. Mereka walau berstatus nabi tidaklah punya mandat untuk memaksa seseorang. Nabi saja tidak boleh memaksa, layakkah kita memaksa orang lain dalam nahi munkar? Akankah ada gejala ingin mengungguli para nabi?

Orang yang suka teriak dalam menjelaskan, suka menggunakan kekerasan dalam bertindak adalah mereka yang tidak memiliki argumen. Sekali lagi, tidak ada seorang pun yang berhak memaksa orang lain. Jika mereka tetap memaksa dan menggunakan pakaian islam, sebenarnya mereka bukanlah belajar dari Al-Qur’an.

Untuk mengakhiri kajian kali ini, ada 6 tips untuk mereka yang ingin berdialog dengan orang yang berbeda.

1.    Tujuan berdialog adalah untuk mencari kebenaran bukan untuk mencari siapa yang menang dan kalah.
2.    Tidak meremehkan atau menghina orang yang diajak berdialog. Mereka adalah manusia dan Allah memuliakannya karena kemanusiaannya. Apalagi lawan bicara kita adalah saudara sesama muslim, kita harus memberi penghormatan kepada mereka.

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ -٧٠-

“Dan sungguh, Kami telah Memuliakan anak cucu Adam”.
(Al-Isra’ 70)

3.    Berdialog untuk kemaslahatan islam yang besar, bukan untuk kepentingan pribadi maupun golongan.
4.    Memberi penghargaan dan penghormatan kepada lawan bicara tanpa berburuk sangka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ -١٢-

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”
(Al-Hujurat 12)

5.    Jangan memancing emosi lawan bicara dengan kalimat kasar.
6.    Jangan pernah memaksa orang untuk menerima argumen kita.

 

KHAZANAH ALQURAN

 

 

————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Share Aplikasi Andoid ini ke Sahabat dan keluarga Anda lainnya
agar mereka juga mendapatkan manfaat!

Toleransi dalam Al-Qur’an (Bag 1)

Islam datang sebagai agama penyempurna. Islam hadir sebagai agama yang memberikan solusi bagi semua permasalahan. Rasulullah saw pun telah menyampaikan seluruh Risalah dari Allah swt. Risalah yang begitu lengkap dengan aturan, perintah dan larangan. Bahkan, dalam urusan-urusan kecil dan sepele sekalipun. Kini muncul pertanyaan, mengapa Islam harus datang dengan segudang aturan? Apa yang menyebabkan aturan-aturan itu begitu detail diberikan untuk manusia?

Sebenarnya, Islam mengatur hidup manusia bahkan dalam urusan terkecil pun karena dunia ini penuh dengan perbedaan. Jika semua yang ada itu sama, mungkin tidak dibutuhkan aturan yang begitu banyak dan mendetail.
Islam memberikan aturan bagaimana bersikap kepada sesama muslim, bagaimana bersikap kepada orang selain islam, bagaimana berhubungan dengan selain manusia. Semua itu diatur karena mereka berbeda.

Perbedaan yang ada di dunia ini bisa dibagi menjadi dua bagian. Yang pertamaadalah perbedaan yang alami dan ciptaan. Dalam hal ini ia tak bisa memilih. Seperti tak bisa memilih bentuk wajah dan tubuh. Ia juga tak bisa memilih dari suku mana dia terlahir. Bahkan saudara satu ibu pun bisa berbeda-beda dalam bentuk, sifat dan kepribadiannya. Semua itu ciptaan tanpa ada pilihan

Perbedaan yang kedua adalah perbedaan karena pilihan. Saya berbeda dengan anda karena pilihan ideologi saya. Dia berbeda karena pilihan agamanya. Dan banyak lagi pilihan-pilihan hidup yang membuat orang saling berbeda. Intinya, perbedaan adalah hal yang lumrah dan lazim.

Lalu, sebenarnya apa tujuan Allah meciptakan dunia yang serba berbeda? Bukankah Allah mampu menjadikan semuanya sama? Bukankah Dia mampu membuat semua orang tunduk dan beriman?

Allah menjawab pertanyaan ini dalam Firman-Nya:

وَلَوْ شَاء اللّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَـكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُم فَاسْتَبِقُوا الخَيْرَاتِ -٤٨-

“Kalau Allah Menghendaki, niscaya kamu Dijadikan- Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak Menguji kamu terhadap karunia yang telah Diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.”
(Al-Ma’idah 48)

Dunia adalah tempat ujian. Semua sisi kehidupan ini adalah ujian. Ada yang diuji dengan kekayaannya, ada yang diuji dengan jabatannya, ada pula yang diuji dengan wajah tampannya. Dan salah satu ujian bagi manusia adalah harus hidup dalam perbedaan. Memang bukan hal mudah untuk bisa menerima perbedaan di sekitar kita. Namun itulah ujian dari Allah untuk meningkatkan kualitas diri setiap manusia. Dalam ayat itu, Allah swt sama sekali tidak membahas perbedaan yang ada, namun pada akhir ayat itu Allah memfokuskan agar manusia berlomba dalam kebaikan. Tak usah sibuk dengan perbedaan yang dipilih orang, berlombalah untuk menjadi lebih baik dihadapan-Nya.

Sekarang apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi perbedaan ini?

Bukankah akhir-akhir ini sering kita dengar kelompok yang memaksakan keyakinannya pada orang lain. Kelompok yang intoleran yang mengharuskan semua orang sama dengannya. Mereka bahkan sampai membunuh mereka yang memilih pilihan yang berbeda. Mereka mengatasnamakan islam, namun apakah Islam mengajarkan pemaksaan dalam menghadapi perbedaan?

Mari kita lihat bersama bagaimana Al-Qur’an membimbing kita untuk menyikapi perbedaan.

Salah satu tujuan Allah menciptakan perbedaan adalah untuk saling mengenal. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ -١٣-

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah Menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami Jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(Al-Hujurat 13)

Allah ciptakan mereka berbangsa dan bersuku yang berbeda adalah untuk saling mengenal kelebihan masing-masing. Untuk saling belajar dan saling menghormati. Saling belajar dan hidup berdampingan.  Tapi nyatanya, kini suku-suku dan bangsa-bangsa tidaklah saling menghargai satu sama lain. Mereka saling berbangga diri dan meremahkan selain sukunya. Mereka menganggap selain rasnya adalah orang rendahan bahkan layak untuk dibunuh. Padahal dengan tegas Allah mengakhiri ayat itu bahwa yang paling mulia diantara kalian bukanlah bergantung dari suku atau bangsanya. Yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertakwa.
Mengenal bukanlah saling mengejek. Mengenal bukanlah saling merendahkan. Perkenalan menurut al-Qur’an adalah dengan saling memuji dan menghormati. Di Surat yang sama Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ -١١-

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok).”
(Al-Hujurat 11)

Jelas, bagi mereka yang hobi mengolok-olok dengan membawa bendera islam, mereka sama sekali tidak mengamalkan ajaran Al-Qur’an. Sebenarnya Allah sangat mampu untuk membuat semua menjadi sama. Namun sekali lagi Allah tidak melakukan itu karena untuk menguji manusia. Dia sangat mampu untuk membuat semua orang tunduk dan beriman. Tapi Allah tidak menginginkan itu, karena keyakinan dan perbuatan yang dipaksakan tidak akan bernilai.

Allah swt mengulang beberapa kali kalimat “Jika Allah berkehendak maka kalian akan dijadikan umat yang satu”. Allah mengulangnya berkali-kali seakan agar kita tergugah. Kalau Allah saja tidak mau melakukan pemaksaan atas keyakinan manusia, lalu siapa kita yang memaksa orang lain untuk sama dengan keyakinan kita? Apakah sudah mulai ada gejala untuk mengungguli tuhan?

Allah swt memberi kebebasan kepada manusia untuk memilih jalannya masing-masing. Dia mengabarkan tentang surga yang dapat diperoleh dengan kerelaan-Nya. Dia juga menceritakan tentang pedihnya neraka karena murka-Nya. Jalan menuju surga telah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya. Kini pilihan ditangan manusia. Surga dan neraka, pahala dan dosa tak akan berarti jika manusia melakukan sesuatu karena dipaksa. Semua akan bernilai jika mereka memilih jalannya sendiri.  Allah berfirman:

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَن شَاء فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاء فَلْيَكْفُرْ -٢٩-

Dan katakanlah (Muhammad), “Kebenaran itu datangnya dari Tuhan-mu; barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.”
(Al-Kahfi 29)

Kita semua mengetahui bahwa agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam. Dengan tegas Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ -٨٥-

“Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima”
(Ali Imran 85)

Namun lihatlah, walaupun demikian Allah tetap tidak memaksa hambanya untuk memilih Islam.

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ -٢٥٦-

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama”
(Al-Baqarah 256)

Jika Tuhan saja tidak memaksa, apakah mereka akan mengungguli Tuhan dengan memaksakan agama kepada orang lain?
Allah swt juga tidak pernah memberi mandat kepada siapapun untuk memaksa seseorang masuk ke dalam agama islam. Bahkan kepada orang yang paling dicintai-Nya, Rasulullah saw. Dalam Firman-Nya, Allah tidak memberi mandat kepada Rasulullah untuk memaksa seseorang masuk Islam.

وَلَوْ شَاء رَبُّكَ لآمَنَ مَن فِي الأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعاً أَفَأَنتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُواْ مُؤْمِنِينَ -٩٩-

“Dan jika Tuhan-mu Menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?” (Yunus 99)

Apakah ada yang mampu memaksa seseorang untuk mencintai sesuatu? Cinta adalah urusan hati yang tidak bisa dipaksakan. Begitupula agama dan syareat, tidak semudah itu memaksakan hati seseorang untuk menerima Islam. Para Nabi saja tidak diberi mandat untuk memaksa seseorang mengikutinya, lalu siapa kita yang berani memaksa seseorang harus sama dengan kita?

Tugas Rasulullah saw adalah sebagai penyampai wahyu. Pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Rasul telah menyampaikan semua yang harus disampaikan kepada manusia tanpa boleh memaksa. Allah berfirman:

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنتَ مُذَكِّرٌ -٢١- لَّسْتَ عَلَيْهِم بِمُصَيْطِرٍ -٢٢-

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka”
(Al-Ghasiyah 21-22)

مَّا عَلَى الرَّسُولِ إِلاَّ الْبَلاَغُ -٩٩-

“Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan”
(Al-Ma’idah 99)

نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ وَمَا أَنتَ عَلَيْهِم بِجَبَّارٍ -٤٥-

“Kami lebih Mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan engkau (Muhammad) bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka.”
(Qaf 45)

Sekarang, masih adakah alasan untuk memaksa atas nama Islam?

 

KHASANAH ALQURAN

 

 

————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Share Aplikasi Andoid ini ke Sahabat dan keluarga Anda lainnya
agar mereka juga mendapatkan manfaat!

Dua Pilihan yang Menentukan !

Seringkali Al-Qur’an memberikan pilihan kepada manusia. Hidup memang pilihan, namun cara Al-Qur’an memberi pilihan ini begitu indah dan menggugah.

Kali ini kita akan membahas tentang dua pilihan yang menarik dari ayat-ayat Ilahi.

Satu pilihan terdiri dari tiga syarat dengan satu hasil yang menentukan.

Pilihan pertama adalah :

Siapa yang,

1. Berinfak dijalan Allah.
2. ‎Bertakwa
3. ‎Membenarkan adanya balasan di surga.

Maka Allah akan memberi satu kunci kemudahan yang akan membuka semua masalah.

Allah swt berfirman,

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ – وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ – فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ

“Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan.” (QS.Al-Lail:5-7)

Pilihan kedua adalah :

Siapa yang,

1. Kikir.
2. ‎Merasa kuat dan tidak perlu dengan pertolongan Allah.
3. ‎Mendustakan ganjaran Allah di akhirat.

Maka kunci kemudahan itu akan tertutup dan seluruh masalahnya akan menjadi sulit.

وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ – وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ – فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ

“Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran.” (QS.Al-Lail:8-10)

Jika setiap manusia diberi dua pilihan ini, manakah yang akan kita pilih?

Kunci yang memberi kemudahan untuk segala urusan atau kunci yang menutup segala urusan kita?

Semoga bermanfaat…

 

KHAZNAH  ALQURAN

Tips Agar Bersama Rasulullah di Surga

Rabiah bin Kaab al-Aslami radhiyallahuanhu, berkata, “Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu aku menyiapkan air wudhu dan keperluan beliau.

Lalu beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadaku, “Mintalah sesuatu!” Maka sayapun menjawab, “Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga”. Beliau menjawab, “Ada lagi selain itu?”. “Itu saja cukup ya Rasulullah”, jawabku. Maka Rasulullah bersabda, “Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (dalam salat)”. (HR. Muslim, No. 489).

Penjelasan dan beberapa faedah yang bisa dipetik

1. Syaikh Bin Baz rahimahullah ketika menjelaskan, “Maknanya adalah Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga.” (http://www.binbaz.org.sa/mat/10229).

Syaikh Muhammad Shaleh Al-Munajjid hafizhahullah mengatakan, “Dan makna adalah meminta kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk mendoakannya dengan itu (agar bisa menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Surga)”.

Karena memang Rasulullah tidak memiliki kemampuan memasukkan orang ke dalam Surga dan hanya Allah-lah yang mampu memasukkan seseorang ke dalam Surga. Bahkan Allah Taala telah memerintahkan Rasulullah untuk mengatakan bahwa beliau tidak memiliki manfaat untuk diri beliau sendiri dan tidak bisa menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah.

“Katakanlah Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah” (Al-Araaf: 188).

2. An-Nawawi rahimahullah, “Di dalamnya terdapat motivasi untuk memperbanyak sujud dan mendorongnya. Dan yang dimaksud dengan sujud di sini adalah sujud dalam salat”. (Syarah Shahih Muslim: 4/206).

Dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berlaku kaidah tentang pemberian pahala bagi pelaku sebuah amal soleh, “Barangsiapa yang menambah amalan, maka Allah akan menambah kebaikan baginya (pahala), dan barang siapa yang kurang dalam beramal, maka akan kurang pula pahalanya sesuai dengan amalannya (yang kurang)”.

Maksudnya bahwa amal salih dan pahala itu berbanding lurus, semakin banyak atau tinggi kualitas amalan itu, maka semakin besar pahalanya, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, semakin Anda menjaga baik salat-salat Anda yang wajib dan memperbanyak salat-salat sunnah, maka semakin besar kesempatan Anda untuk menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Surga dan semakin lama dan besar bentuk “menemani beliau” shallallahu alaihi wa sallam tersebut.

Jadi pengaruh sujud dalam meraih pahala menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Surga di sini tergantung kuantitas dan kualitasnya.

Yang menunjukkan kuantitas, contohnya: “Maka sesungguhnya tidaklah engkau sujud kepada Allah dengan satu sujud saja, melainkan Allah akan mengangkat dengan sebabnya satu derajat dan menggugurkan darimu satu kesalahan, dengan sebabnya (pula)”. (HR. Muslim no. 488).

Syaikh Abdul Karim Al-Khudoir hafizhahullah (Anggota Hai`ah Kibarul Ulama KSA) berkata, “Ini menunjukkan bahwa salat sunnah mutlak yang dilakukan seseorang pada saat malam ataupun siang tidaklah ada batasan rakaatnya. (Jadi sekali lagi), tidaklah ada batasan rakaatnya. Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud, maka semakin banyak sujudnya (dan rakaatnya), semakin besar pula peluang dikabulkan (harapan bisa menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Surga)”.

Adapun yang menunjukkan kualitas adalah seperti yang tercermin dalam perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

“Jika salahsatu sujud lebih utama kualitasnya dari yang lainnya, maka derajat yang terangkat dengan sebabnya lebih tinggi dan dosa yang digugurkan dengan sebabnya lebih besar (pula). Sebagaimana sujud yang lebih besar kekhusyuannya dan kehadiran hatinya nilainya lebih utama dari selainnya Maka, demikian pula dengan sujud (seseorang) yang panjang, yang nampak ketaatannya kepada Rabb nya lebih utama daripada sujud yang pendek”.

Berarti kesimpulannya adalah ditinjau dari sisi kualitas sujud, semakin panjang dan khusyu sebuah sujud, menyebabkan semakin tinggi tingkatan menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Surga.

3. Makna “menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Surga”

Seseorang menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Surga, tidak mengharuskan makna bahwa ia mendapatkan kedudukan di Surga yang sama persis dengan kedudukan yang dipersiapkan untuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Sebab, beliau mendapatkan kedudukan di Surga yang khusus, yang kedudukan tersebut tidak untuk yang selainnya.

Yang dimaksud dengan menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Surga adalah bersama dengan beliau, dekat dengannya, melihatnya atau bertemu dengannya dan tidak berpisah dengannya.

Syaikh Muhammad Shaleh Al-Munajjid hafizhahullah berkata, “Karena menemani (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Surga) itu sendiri bertingkat-tingkat, maka di antara manusia ada yang mendapatkan kenikmatan berupa menemani beliau alaihish shalatu was salam dengan sempurna, dan dekat dengan beliau di Surga, Ada pula di antara mereka yang mendapatkan kenikmatan berupa berjumpa atau melihat beliau, (semua itu) sesuai dengan amal-amal salehnya” (Islamqa.info/ar/182700 ).

Ibnu Allan Asy-Syafii rahimahullah berkata, “(Maka sayapun menjawab, Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga”) maksudnya adalah agar aku bisa bersamamu, dekat denganmu, merasakan kenikmatan memandangmu dan berdekatan denganmu hingga aku tidak berpisah darimu.

Dengan demikian, di sini tidak ada kesulitan memahami bahwa kedudukan Al-Wasilah itu merupakan kedudukan khusus untuk beliau, para Nabi yang lainnya tidak mendapatkannya, sehingga tidak ada satu pun nabi yang diutus yang bisa menyamai beliau di dalam kedudukannya tersebut, apalagi selain para nabi. Karena yang dimaksud (dengan ‘menemani’ di sini) yaitu meraih satu tingkatan dari tingkatan-tingkatan kesempurnaan kedudukan ‘dekat dengan beliau’, maka diungkapkanlah hal ini dengan istilah ‘menemani’. (Dalilul Falihin: 1/392). [Ustaz Said Abu Ukasyah]

 

INILAH MOZAIK

Kemenag Minta Masyarakat tak Tergiur Tawaran Haji Non Kuota

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Nizar Ali mengingatkan, masyarakat untuk tidak tergiur dengan tawaran berangkat haji melalui jalur non kuota atau furoda. Apalagi, persiapan penyelenggaraan ibadah haji 1439H/2018M belum dimulai.

Namun viral di media sosial, selebaran, bahkan reklame tentang tawaran dari travel terkait keberangkatan haji melalui jalur non kuota. Tawaran itu menjanjikan “daftar sekarang berangkat tahun ini”. Untuk meyakinkan masyarakat, tawaran itu mencantumkan lambang asosiasi dan Kementerian Agama.

“Masyarakat agar tidak tergiur, meski banyak iming-iming yang dijanjikan. Itu berpotensi adanya penipuan,” kata Nizar Ali usai melantik pejabat Eselon III dan IV Ditjen PHU di Jakarta, Jumat (17/11).

Menurut Nizar, Kemenag tidak tahu menahu dengan adanya jemaah haji yang disebut dengan furoda itu. Kemenag hanya mengurus dan bertanggung jawab kepada jemaah haji reguler dan khusus yang resmi menggunakan kuota nasional.

“Di luar itu, terhadap porsi jamaah haji non kuota yang diperjualbelikan, Kemenag sama sekali melarangnya,” tegasnya.

Senada dengan itu, Sesditjen PHU yang juga Plt Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Muhajirin Yanis menegaskan, bahwa tidak ada kepastian berangkat bagi jemaah yang mendaftar melalui jalur non kuota. Untuk itu, jemaah agar waspada dan tidak mudah tergiur dengan tawaran yang diberikan.

“Sebaiknya, jemaah mendaftar melalui jalur resmi, apakah melalui jalur reguler atau jalur haji khusus,” tuturnya.

Ketua Umum Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh) Baluki Ahmad menilai ada kekeliruan dalam penyampaian program haji furoda. Baluki meminta kepada seluruh jajaran anggota Himpuh, baik penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) maupun umrah (PPIU) untuk tidak pelanggaran atas aturan yang sudah digariskan Kementerian Agama.

“(Patuhi aturan Kemenag) sehingga tidak lagi terjadi adanya iklan-iklan penawaran yang dikategorikan pelanggaran,” tandasnya.

 

REPUBLIKA

Haji adalah Ibadah, Jaga Akhlak, dan Perbuatan

Haji bukanlah hanya bepergian naik pesawat dari bandara Indonesia yang telah ditetapkan pemerintah maupun hingga Bandara King Abdul Azis Jeddah, pesiar, refreshing, shooping atau kegiatan rekreasi lain yang bisa seenaknya saja untuk bertindak dan berbuat.

Haji merupakan bagian dari rukun Islam, haji adalah wajib bagi Muslim yang mempunyai kesanggupan. Haji merupakan sebuah pelaksanaan dari bberbagai rangkaian ibadah yang harus dilakukan, karenanya setiap jamaah haji diharuskan menjaga akhlak dan perbuatan, dan sangat dianjurkan untuk berakhlak yang baik, dari mulai pra berangkat, selama di Tanah Suci hingga kembali ke Tanah Air.

Sebab, pada hakikatnya, orang yang sedang menunaikan ibadah haji, sedang menjalani penggemblengan akhlak. Sehingga, bila ia benar-benar menjalani ibadah ini dengan baik, maka niscaya akan ada perubahan pada kepribadian dan perilakunya.

Ibadah haji yang pertama, berihram, maka ia tidak dibenarkan untuk berkata-kata jelek, berkata kata yang kotor, atau melakukan kezaliman terhadap orang lain, berbuat kerusakan, meninggalkan segala hal yang tidak berguna bagi dirinya, termasuk dalamnya perdebatan yang tidak bermanfaat, terlebih-lebih bila perdebatan tersebut hanya akan mendatangkan timbulnya hal yang tidak terpuji.

Kejahatan dan perbuatan yang tidak terpuji terjadi, disebabkan karena hawa nafsu yang tidak dikendalikan, dan kebodohan ketidaktahuan akan akibat perbuatan atau sifat tersebut. Untuk menghindari akhlak dan prilaku yang tidak baik tersebut, seorang calon jamaah haji harus dari sekarang untuk selalu berprilaku baik, berakhlakul karimah.

Pertama, taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, yakni dengan memperbanyak dzikir dan ibadah kepada Allah SWT. edua, tadabbur, yaitu mengambil hikmah dari seluruh peristiwa perjalanan hidupnya dan menjadikannya semakin taqwa kepada Allah SWT, ketiga, ta’awun, yakni mengembangkan saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan.

Sifat yang harus diutamakan dalam berhaji adalah sifat qanaah, ikhlas, yaitu menerima segala sesuatu yang terjadi dan itu semuanya adalah merupakan ketentuan dari Allah dan diridhai-Nya, baik itu sesuai dengan keinginannya ataupun tidak, serta sabar dalam menjalaninya, sabar menerima sunnatullah, sabar menjalankan perintah Allah, sabar meninggalkan laranganNya, sabar menerima kawan sekamar, sabar berdesak desakan, sabar dalam antrian, dan sabar.

Karena itu, buang jauh jauh dan hilangkan dalam hati sifat sombong, angkuh, dan takabbur dalam hati, selalu bertawakkal kepada Allah SWT, dan perbanyak selalu beristigfar kepada Allah SWT, berzikir, Insya Allah perjalanan dan penunaian rangkaian ibadah haji akan lancar, baik, selamat dan selalu mendapat kemudahan dan pertolongan dari Allah SWT, dan meraih haji mabrur.

Oleh:  H Irfansyah Nasution SAg MMp, Kasubbag TU Kemenag Madina

 

REPUBLIKA

Berprasangka Baiklah kepada Allah

Al-Harits Al-Muhasibi berkata, “Wahai diri, berdoalah, dan merasa malu kepada-Nya, karena engkau terlalu lama tidak memiliki rasa malu kepada-Nya.”

Wahai Tuhanku, siapa lagi yang mendengarkan betapa besar kelemahanku, dan siapa lagi yang telah melihat begitu buruknya derajatku. Maka, hanya kepadaMu-lah aku mengadu, dan hanya kepadaMu aku meminta pertolongan, meski yakin bahwa aku tak pantas untuk Engkau beri pertolongan dan Engkau lepaskan dari kepedihanku. Akan tetapi, Engkaulah yang patut memberikan kelapangan kepadaku, dan mengasihi kelemahanku (maskanati), karena pengetahuanku bahwa tidak ada yang memiliki hak memberikan pertolongan kepadaku selain Engkau, yang amat mendorong keputusasaanku untuk mendapatkan jalan keluar, kecuali dari sisiMu.

Harapanku kepadaMu, agar Engkau mengabulkan doaku dan mengentaskanku dari keterpurukanku. Sehingga, harapanku tidak sia-sia… Dan segerakanlah mewujudkan harapanku, karena keberanianku untuk mengajukan permintaan, tidak lain (karena) apa yang telah Engkau karuniakan kepadaku dengan marifat tentang keberadaanMu yang Agung, rahmatMu yang luas dan rasa ibaMu terhadap orang-orang yang lemah sebelum aku; juga pengetahuan akan orang-orang yang telah Engkau ubah derajatnya, dari beban berat dosa, banyaknya kesalahan-kesalahan, dan perbuatan-perbuatannya yang buruk.

Selamatkanlah aku, wahai Yang Maha menyelamatkan, dan kasihilah aku, wahai Yang Maha Pengasih. Karena aku, pada hari ini, berada dalam kemakmuran pada kehidupan duniaku ini, bersaman dengan buruknya kelakuanku pada segi keagamaanku.

Padahal telah dekat kepadaku sirnanya kehidupan; keterpurukanku dalam kepedihan yang susul menyusul, bencana yang bertubi-tubi dan kesedihan-kesedihan yang berlipat-lipat, berupa tibanya sang maut dan kesusahannya, dengan kecemasan yang genting (khathr) apakah yang kelak menimpa padaku adalah maaf dan pengampunan dosa (ghufran) dariMu, atau justru kemurkaan (sukhth) atas perbuatan-perbuatan maksiat (ishyan) yang telah kulakukan.

Kemudian persinggahan dalam kubur, dengan himpitan tanah, pertanyaan dari dua malaikat dan masa tinggal yang cukup lama di alam Barzakh. Kemudian dikumpulkan, dan semuanya disingkap.

Jika aku menjumpai-Mu, sementara keadaanku masih tetap seperti ini, maka betapa panjang kesedihanku di dalam kubur, dan betapa mengerikannya hari kebangkitan yang akan kujalani. Kemudian, perasaan yang selalu mencemaskan kalbuku ialah tatkala Engkau tidak segera menyelamatkanku di dunia. Sehingga menggantikan apa saja yang membuatMu marah dengan apa saja yang membuatMu ridha kepadaku.

Jika penyelamatan dari sisi-Mu atas kecemasan itu tidak aku dapatkan, kebinasaan demi Allah pasti tidak akan pernah putus sampai waktu perjumpaan denganMu, serta kehinaan di Hari Kebangkitan (an-Nasyr).

Betapa terasingnya diriku pada Hari Kiamat, betapa panjang penyesalan dan keputusasaanku, betapa lamanya tangisanku di Hari Kiamat, dan di dalam neraka ditawan terhalang dari indahnya berada di sisiMu dan penglihatan (an-nazhr) akan kemuliaan-Mu.

Aku begitu berharap meskipun Engkau menangguhkan pertolonganMu kepadaku agar Engkau tidak meninggalkanku karena buruknya kondisi spiritual (hal)-ku, hingga Engkau berbelas menyegerakan jalan keluar dan perubahan kondisiku. Maka, aku memohon kepadaMu, demi WajahMu yang Maha Mulia, KeperkasaanMu atas segala sesuatu, demi IradahMu yang mesti terlaksana dalam semua Yang Engkau kehendaki, demi sifatMu Yang Awwal yang tidak bermula, dan sifat baqa-Mu yang tak pernah berakhir, agar Engkau membuka tirai yang menyelimutiku dan tidak menyiksaku betapapun besar dosaku, betapapun banyak maksiat yang kulakukan, dan sedikitnya rasa malu yang ada padaku. []

 

INILAH OZAIK

10 Kewajiban Pemimpin Negara dalam Islam

TELAH datang di dalam kitab-kitab siyasah syariyyah seperti al-Ahkam as-Sulthaniyyah oleh Al-Mawardi, al-Ahkam as-Sulthaniyyah oleh al-Farra, Tahrirul Ahkam fi Tadbiri Ahlil Islam oleh Ibnu Jumaah, dan yang lainnya, perkara-perkara yang merupakan kewajiban-kewajiban pemimpin negara, di antaranya:

1. Menjaga agama Islam di atas pokok-pokoknya yang telah ditetapkan dan kaidah-kaidahnya yang telah disusun, yang diambil dari al-Kitab, as-Sunnah, dan apa-apa yang disepakati oleh salaful ummah, menjelaskan hujjah-hujjah agama, menyebarkan ilmu-ilmu syari, mengagungkan ilmu dan ahlinya, dan membantah bidah dan ahli bidah. Jika muncul ahli bidah maka dijelaskan hujjah dan kebenaran atasnya dan menghukumnya dengan apa yang pantas atasnya agar agama selalu terjaga. Demikian juga menegakkan syiar-syiar Islam seperti salat lima waktu, salat Jumat, salat Id, azan, iqamah, khotbah, imamah salat, puasa, haji, dan mempermudah pelaksanaan itu semua dan mengamankannya.

2. Menjaga negeri Islam dan membelanya, berjihad melawan kaum musyrikin, memberantas perampok dan penjahat, mengatur pasukan dan menata gaji-gaji mereka.

3. Berlaku adil karena keadilan adalah sebab kebaikan rakyat dan negeri.

4. Menegakkan had-had syari, menjaga keharaman-keharaman Allah dari pelanggaran-pelanggaran, dan menjaga hak-hak hamba-hamba Allah.

5. Memutuskan kasus-kasus dan hukum-hukum dengan mengangkat para petugas dan para hakim untuk mengadili kasus-kasus perselisihan dan mencegah orang yang berbuat zalim. Tidak mengangkat orang yang bertugas melaksanakan hal itu kecuali orang yang dia percaya agamanya, amanahnya, dan penjagaannya dari para ulama dan orang-orang yang saleh, dan orang-orang yang pantas melaksanakannya.

6. Mengambil zakat-zakat dan jizyah (upeti) dari ahlinya, mengambil harta fai dan kharraj pada tempatnya, dan menyalurkan hal itu pada penyaluran-penyalurannya yang syari dan tempat-tempatnya yang benar, dan menyerahkan urusan-urusan tersebut kepada para pegawai yang terpercaya.

7. Memilih orang-orang yang ahli lagi amanah di dalam pelaksanaan tugas-tugas dan pengurusan harta-harta, agar tugas diserahkan pada ahlinya dan harta-harta diurus oleh orang-orang yang amanah.

8. Mengecek pelaksanaan-pelaksanaan tugas para pegawainya.

9. Mewujudkan kesejahteraan setiap rakyat.

10. Selalu mengupayakan untuk mewujudkan yang paling utama dari seluruh segi kehidupan manusia.

[disarikan dari tulisan Al-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi]

 

INILAH MOZAIK

Antara Bencana dan Hidayah

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS al-Baqarah [2]:155 ).

Setiap orang beriman pasti akan dicoba. Huruf lam pada ayat di atas disebut laamut taukid (lam untuk suatu yang pasti ). Jika laamut taukiddigunakan dalam bahasa Arab sehari-hari, hal itu sesuatu yang biasa. Namun, bila berasal dari Yang Maha Pencipta, hal itu sesuatu yang sangat luar biasa. Artinya, setiap orang yang meyakini syariat agama Islam, melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya tidak akan luput dari musibah dan cobaan.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkomentar: “Bahwa Allah SWT akan mencoba hambanya terkadang dengan hal yang mengembirakan dan terkadang dengan kesusahan berupa rasa takut dan lapar, sedikit, bahkan hilangnya harta benda, meninggalnya para karib kerabat serta sawah ladang yang tidak mendatangkan hasil seperti biasanya.”

Ketika musibah menimpa kita dan saudara-saudara kita, maka ucapan yang seharusnya kita perbanyak adalah Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un(Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah).

”Barang siapa yang membaca istirjaa ketika ditimpa musibah, maka Allah akan mengalahkan musibahnya, memberikan balasan yang baik kepadanya dan menjadikan baginya ganti yang baik yang diridhainya.” (HR As Suyuthi dalam kitab Ad Durrul Mantsur).

Said bin Jubair berkata: “Sungguh umat ini telah dikaruniai satu ucapan yang belum pernah diberikan kepada para nabi dan umat-umat sebelumnya, yaitu istirjaa.”

Namun, semestinya bukan hanya lidah yang berucap. Lebih dari itu, hati dan seluruh jiwa raga kita harus benar-benar kembali kepada-Nya, meratapi kesalahan, mengakui dosa-dosa yang telah kita lakukan serta mengisi detik-detik hidup kita dengan amal saleh dan ketaatan.

Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al Baqarah [2]:157 ). Al Muhtaduun (orang-orang yang mendapat petunjuk) merupakan derajat yang tidak sederhana dalam kacamata Alquran. Derajat ini biasanya diperuntukkan para nabi dan rasul. Akan tetapi, dalam ayat ini, ungkapan al muhtaduun diberikan bagi setiap orang yang mendapat musibah.

Modal mereka hanya satu, yaitu sabar. Menjadikan apa yang mereka peroleh sebagai sarana untuk memperoleh berkah, rahmat, dan hidayah Allah. Mereka tidak berkeluh kesah dengan derita yang mereka terima. Bagi mereka, seluruh peristiwa yang terjadi adalah yang terbaik bagi mereka.

“Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman, sungguh setiap urusannya mengandung kebaikan. Jika ia ditimpa hal yang menyenangkan, maka ia bersyukur dan itu baik bagi dirinya, dan jika ia ditimpa musibah, ia bersabar dan itu juga baik bagi dirinya. Hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun selain orang yang beriman (HR Muslim)”. Wallahu a’lam.

 

Oleh:  Abu Afifah Zulfiker

REPUBLIKA