Pagi ini Siap Mencari Rizki? Ke Mana Hendak Dicari

KALI ini marilah kita renungkan QS Al-Hijr ayat 21 berikut ini di mana Allah SWT berfirman, “Dan tidak ada sesuatu pun, melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya; Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 21)

Coba sempatkan buka kitab tafsir berkenaan ayat tersebut, maka akan didapat penjelasan bahwa semua rizki itu ada “di langit” atau semua kunci-kunci rizki itu ada di langit. Sayangnya, kebanyakan kita sibuk mencarinya di bumi dengan melupakan langit. Yang menyatakan kabar dalam ayat itu adalah Allah Sang Pemberi rizki. Sayangnya, kita lebih percaya pada iklan dan penebar janji palsu.

Saatnya kita optimalkan naik ke langit, berbisnis dengan melalui jalur langit. Biarlah Yang Di Langit yang nantinya mengatur gerak bisnis kita yang di bumi. Kenapa masih mengernyitkan dahi? Masih ragu? Bacalah kisah-kisah orang sukses masa lalu dari kelompok para sahabat yang dijamin masuk surga. Mereka semua adalah manusia-manusia langit.

Makna berikutnya adalah bahwa semua pemberian Allah itu diturunkan dengan ukuran tertentu. Bisa jadi yang diberikan kepada kita itu tak sesuai harap dan pada waktu yang tak sesuai keinginan. Namun belajarlah untuk menata hati agar menjadi yakin bahwa Allah akan membagi rizkiNya dengan hikmah dan rahmat yang terkandung di dalamNya.

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

 

INILAH MOZAIK

Tubuh Tetap Bugar Meski Berpuasa. Lula Kamal: Hindari Dua Bahan ini di Makan Sahur Anda!

Ibadah puasa Ramadan identik dengan menahan diri dari makan dan minum selama seharian, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Tentu saja, hal ini bisa mempengaruhi kebugaran seseorang yang berpuasa.

Namun, bagaimana agar tubuh bisa tetap bugar saat berpuasa, Lula Kamal memberikan kiatnya. Bagi artis dan pembawa acara, yang sekaligus seorang dokter ini, yang terpenting adalah memperhatikan makanan yang dikonsumsi saat santap sahur.

Ketika makan sahur, hindarilah makanan dengan kandungan minyak dan vetsin berlebih. Menurut Lula Kamal, kandungan garam yang terdapat di dalam mecin begitu tinggi, dan itu bisa menarik air yang ada di dalam tubuh kita.

“Karena mecin itu garamnya tinggi, karena dia akan narik semua air. Kemudian makannya jangan terlalu banyak,” ujar Lula Kamal, seperti dikutip di laman TabloidBintang.com (11/05/2018).

Begitu juga, Kata Lula, usahakan tidak terlalu banyak makan, khususnya karbohidratnya. Alasannya, jika terlalu banyak karbohidrat, sekitar jam 10 tubuh akan mudah lapar lagi, karena tenaga yang ada dipakai untuk metabolisme semua makanan tersebut.

Jadi, untuk tetap menjaga kebugaran tubuh saat menjalani ibadah puasa, Lula Kamal lebih banyak mengonsumsi buah-buahan dan sayur. Selain itu, Ia juga memperhatikan kandungan karbohidrat yang dikonsumsinya.

“Jadi makannya beras merah, roti gandum. Kalau mau mie yang pasta aja. Kalau mau buka (puasa) ya sama juga ceritanya, karena kalau kebanyakan karbo, gula kebanyakan, nanti habis makan langsung lemas,” tambah Lula Kamal, seperti dikutip di laman TabloidBintang.com (11/05/2018).

 

UC NEWS

Inilah 5 Makanan Berbuka Puasa yang Bikin Energi Anda Kembali Pulih!

Berpuasa di bulan Ramadan adalah perintah agama. Menahan lapar dan haus merupakan sesuatu yang harus dilakukan selama satu bulan penuh. Namun, bukan berarti karena dalam keadaan lapar dan haus, kita mengisi hari-hari dengan bermalas-malasan, atau dengan tidur seharian.

Meski dalam keadan berpuasa, aktivitas sehari-hari tetap harus dikerjakan seperti hari biasanya. Wajar saja bila tubuh kita akan tampak lemah dan lemas. Untuk memulihkan kondisi tubuh agar kembali berenergi, kita perlu memilih beberapa makanan berbuka yang dipercaya dpat megembalikan energi tubuh kita.

Kurma

Kurma begitu populer di setiap bulan puasa. Bahkan, berbuka dengan kurma disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Kandungan karbohidrat di dalam kurma cukup tinggi, salah satu komponen pentingnya adalah fruktosa atau disebut sebagai jenis gula alami, nantinya fruktosa ini yang diolah oleh tubuh sebagai sumber energi

Madu

Madu inilah yang bisa dijadikan pengganti gula, misalnya untuk membuat teh manis. Bahkan, madu dipandang lebih menyehatan dibanding dengan gula atau pemanis buatan lainnya. Madu mengandung tinggi kalori karena kaya akan fruktosa, maltosa, sukrosa, dan glukosa sehingga direkomendasikan untuk dikonsumsi setelah berolahraga. Selain itu, madu juga bermanfaat untuk memulihkan energi setelah puasa.

Pisang

Pisang bisa jadi makanan paling efektif untuk berbuka. Selain mudah dimakan, kandungan pisang yang sebagian besarnya terdiri dari serat dan gula, seperti glukosa, fruktosa, sukrosa bisa jadi pendongkrak energi. Selain itu, pisang juga mampu membuat kenyang lebih lama dan menyehatkan pencernaan karena teksturnya yang lembut. Bahkan, kandungan kalium pada pisang membantu tubuh menurunkan tekanan darah.

Ubi Jalar

Selain rasanya yang manis, ubi jalar mengandung tinggi karbohidrat, vitamin A, dan vitamin C yang berpotensi memulihkan tubuh dari kelelahan.

Apel

Apel menjadi buah yang aman untuk dimakan selama diet. Walaupun rendah kalori, apel dapat menghasilkan energi bagi tubuh dengan kandungan vitamin dan mineralnya yang tinggi. Air, vitamin B, kalium, dan zat besi yang terkandung pada apel mempengaruhi fungsi jantung dan otot sehingga membantu memulihkan energi setelah puasa.

Sahabat UCers, jika puasa nyatanya membuat Anda merasa kelelahan karena aktivitas keseharian yang Anda lakukan, segeralah menyiapkan lima hal di atas atau memilih salah satunya untuk berbuka puasa. Jadi, tak ada alasan lagi bermalas-malasan di bulan puasa karena takut kelelahan.

 

UCNEWS

Tiga Tips Jaga Tetap Fit Saat Puasa

Ada banyak cara tetap fit selama berpuasa di bulan Ramadhan. Salah satunya dengan berolahraga.

Dikutip dari Al Arabiya, Ahad (20/5), berolahraga saat puasa namun dapat menjadi kontra-produktif. Karena bisa menyebabkan hormon stres meningkat yang mengubah suasana hati dan memperlambat metabolisme dalam jangka panjang.

Disarankan berolahraga setelah berbuka puasa sebab akan mempertahankan metabolisme yang sehat tanpa membakar otot tubuh untuk energi. Perhatikan jika ingin fit selama bulan puasa.

Durasi latihan

Kurangi waktu dan intensitas latihan rutin tidak lebih dari 45 menit. Tekankan pada pemanasan dan pendinginan. Jika melakukan latihan beban, kurangi jumlah pengulangan dan habiskan waktu istirahat lebih lama di antara set latihan

Dukung latihan dengan asupan makanan yang benar

Kebanyakan orang justru bertambah beratnya selama Ramadhan. Penyebabnya karena malam hari dihabiskan untuk memanjakan diri dengan makan.

Makan makanan besar sekaligus dapat membebani sistem perencanaan, menyebabkan Anda merasa lelah dan menstimulasi penurunan gula darah. Akibatnya metabolisme jadi lebih lambat sehinggat berat badan bertambah.

Sering makan dalam porsi kecil akan mendukung metabolisme dengan menjaga kadar gula darah tetap stabil. Makanlah makanan dengan porsi kecil setiap dua hingga tiga jam. Ini akan memungkinkan Anda mencerna makanan dengan lebih baik. Juga akan memberi Anda kesempatan untuk aktif.

Lebih aktif

Puasa bisa menjadi tantangan mental yang berat selama musim panas. Karena siang hari terasa lebih lama dan Anda memiliki lebih sedikit waktu untuk makan. Jangan biarkan puasa membuat Anda hanya terdiam di rumah lalu berujung memunculkan pikiran negatif.

Lebih baik berjalan-jalan, membuat jantung berdetak lebih cepat, sirkulasi darah berputar ke semua organ, termasuk otak.

Aktivitas yang seimbang ini dapat dilakukan saat berpuasa karena tidak perlu mencurahkan banyak usaha untuk berjalan-jalan. Perhatian kita bebas untuk fokus pada lingkungan. Kegiatan ini dapat mengalihkan perhatian dari pemikiran negatif.

 

REPUBLIKA

Mewujudkan Keluarga Harmonis melalui Bulan Ramadhan

leh. Azi Ahmad Tadjudin, M. Ag, Pengasuh Rubrik Konsultasi Hukum Keluarga Islam

SEBAGAI pengasuh Rubrik Kosultasi Hukum Keluaraga Islam islampos.com, belakangan ini hampir setiap pertanyaan yang masuk melalui email pribadi penulis, banyak didominasi oleh ‘curhat’ tentang hukum mengucapkan talak dalam keadaan marah dan emosi karena pertengkaran sengit yang tak terbendung lagi.

Namun ketika mereka sudah sadar dan kedaan sudah mereda, baru mereka menyesali perbuatannya sambil dihantui rasa harap-harap cemas dan malu-malu karena sudah terucap kata talak oleh suami, kemudian mereka kembali lagi seperti sedia kala sebagai pasangan suami-istri yang hidup bersama seperti pengantin yang baru saja mengucapkan ijab-kabul. Dan beberapa kasus ini sebelumnya sudah pernah penulis jawab dalam rubrik Konsultasi Keluarga Islam, silahkan dirujuk kembali dalam arsip.

Mencermati fenomena di atas, tentu penulis prihatin dengan kondisi ini, sekaligus hal ini menggambarkan minimnya pengetahuan mereka tentang hukum kelurga dalam Islam. Seandainya saja seorang suami faham betul bahwa arasy (singgasana Allah swt) akan bergetar jika perceraian terjadi pada keluarga muslim yang sudah diikat oleh ikatan perkawinan, tentu mereka tidak akan mudah mengumbar kata-kata talak sehebat apapun masalah yang mereka hadapi, terlebih jika setiap pasangan sadar betul dengan pesan nabi yang mengatakan bahwa perbuatan halal yang paling dibenci di sisi Allah adalah talak.

Selain itu, tingkat emosi yang lahir karena konflik rumah tangga sesungguhnya dapat dikendalikan jika setiap pasangan sadar bahwa bersatunya mereka dalam ikatan pernikahan pada hakikatnya dipersatukan oleh Allah swt. yang itu merupakan bagian dari tanda-tanda kekusaan-Nya.

Konflik dalam rumah tangga merupakan bagian dari dinamika pendewasaan yang tidak dapat dihindarkan. Banyak hal yang dapat melahirkan konflik dalam rumah tangga salah satunya karena faktor perbedaan yang sudah menjadi fitrah bawaan masing-masing setiap pasangan. Namun perbedaan pada hakikatnya bukan faktor utama penyulut konflik, tapi faktor utama penyebab konflik rumah tangga yaitu terjadinya disfungsi peran dan tanggung jawab suami-istri dalam keluarga, juga faktor minimnya pengetahuan tentang parenting nabawiyah sebagai teladan dalam membangun rumah tangga berdasarkan al-Qur’an dan Hadits.

Islam  telah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk konsep kehidupan rumah tangga. Kehidupan rumah tangga itu hakikatnya adalah implikasi yang lahir dari akad pernikahan, maka dengan akad inilah segala tindak tanduk setiap pasangan terikat oleh aturan.

Keluarga akan senantiasa menjadikan halal dan haram sebagai tolak ukur dalam membangun rumah tangganya, bukan asas manfaat dalam menentukan standar hidupnya. Suami dijadikan sebagai imam dan teladan bagi istri dan anak-anaknya, begitupun juga seorang istri ia menjadi ibu sekaligus sebagai madrasah bagi anak-anaknya.

Bulan Ramadhan adalah bulan pendidikan (tarbiyyah). Banyak pesan dan makna yang dapat kita jadikan sebagai media untuk membentuk keluarga ideologis melalui bulan ramadhan diantaranya yaitu :

1. Puasa bulan ramadhan mengajarkan keluarga menumbuhkan rasa takut (al-Khasyyah) kepada Allah swt. baik dalam keadaan sepi maupun ramai. Rasa takut merupakan perwujudan dari keimanan seseorang yang akan melahirkan sifat muraqabah, yaitu sifat merasa dilihat dan diperhatikan oleh Allah swt.

2. Puasa ramadhan mengajarakan indahnya kebersamaan dan berbagi dalam keluarga. Hal ini dapat kita rasakan indahnya kebersamaan dalam Islam. Kaum muslimin berpuasa dalam waktu yang sama; begitu juga mereka berbuka dalam waktu yang sama.

Inilah sesungguhnya ikatan ukhuwwah yang terpancar dari akidah islamiyyah, mengingat bahwa kita ini memiliki Tuhan yang satu, Rasul yang satu, kiblat yang satu, al-Qur’an yang satu dan bendera yang satu yaitu laa ilaaha illa Allah.

Pada bulan inilah sesungguhnya Ramadhan mengajarkan Ukhuwwah Islamiyyah yang erat. Semoga Allah swt. berkenan melahirkan generasi dan pemimpin terbaik melalu keluarga kita. Wallahu A’lam bi Al-Shawab

 

ISLAMPOS

Ramadhan, Anugerah bagi Pencari Kesucian

SEBAGAI seorang mukmin, sudah selayaknya kita mengucap syukur kepada Allah SWT karena atas izinnya, kita dapat dipertemukan dengan bulan yang suci. Bulan yang penuh berkah, memberi kedamaian dan ketentramana hidup. Namun, kesucian bulan ini tidak akan kita peroleh jikalau kita tidak mencarinya.

Ramadhan akan menjadi anugerah bagi orang-orang yang mencari kesucian (muzakki). Di mana dalam mencarinya tidaklah semudah seperti apa yang kita bayangkan. Tantangan dan rintangan kehidupan ini tentu akan kita temui, dan mampukah kita menghadapinya?

Seperti layaknya kupu-kupu yang melakukan metamorfosis atau pertumbuhan dan perkembangan, itulah gambaran orang yang mencari kesucian. Berawal dari ulat, sebagai makhluk yang paling dibenci oleh manusia, sampai menjadi kupu-kupu yang begitu cantik dan indah.

Perubahan ulat menjadi kupu-kupu itu dilalui dengan berbagai proses. Ulat yang begitu dibenci oleh manusia, mencari jati dirinya agar bisa menjadi makhluk yang dikagumi. Hanya saja, impian ulat itu tidak akan tercapai jika proses yang ia lalui tidak berjalan dengan begitu sempurna.

Jika proses yang dilalui oleh ulat itu dengan benar dan sabar, maka akan melahirkan perubahan pribadi yang baik. Begitu pula dengan diri kita di bulan yang suci ini. Jika kita mencari kesucian tersebut dengan benar dan penuh kesabaran, insya Allah kita akan merasakan perubahan pribadi yang baik pula. Wallahu ‘alam. []

Sumber: Disarikan dari Ust. Kustono, salah seorang pendakwah dari Puwakarta Jawa Barat

ISLAMPOS

3 Tingkatan Orang Berpuasa Menurut Imam Al-Ghazali

DALAM bahasa Arab puasa itu disebut “as-Shiyaam” atau “as-Shaum” yang berarti “menahan”. Sedangkan menurut yang dikemukakan oleh Syeikh Al-Imam Al-‘Alim Al-Allamah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qasim Asy-Syafi’i dalam kitabnya “Fathul Qarib” bahwa berpuasa adalah menahan dari segala hal yang membatalkan puasa dengan niat tertentu pada seluruh atau tiap-tiap hari yang dapat dibuat berpuasa oleh orang-orang Islam yang sehat, dan suci dari haid dan nifas.

Allah berfirman dalam QS al-Baqarah, 183: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa seperti juga yang telah diwajibkan kepada umat sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa”. (QS al-Baqarah, 183). Ayat tersebut merupakan landasan syariah bagi puasa Ramadan. Ayat tersebut berisikan tentang seruan Allah Swt kepada orang-orang beriman untuk berpuasa.

Setelah kita mengetahui pengertian dan hukum puasa ramadhan maka kita juga harus tahu Tingkatan Orang Berpuasa, Mengutip  pesan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin Puasa memiliki tiga tingkat. Yakni puasanya orang awam, puasanya orang khusus ‎dan puasa khusus buat orang khusus.

Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menerangkan tingkatan dalam berpuasa. Shaumul umum, shaumul ‎khusus, dan shaumul khususil khusus. Ketiganya bagaikan tingkatan tangga yang manarik orang berpuasa agar bisa mencapai tingkatan yang khususil khusus.

Pertama, Puasa orang awam (orang kebanyakan), Puasa orang awam adalah menahan makan dan minum dan menjaga kemaluan dari godaan syahwat.  Tingkatan puasa ini menurut Al-Ghazali adalah tingkatan puasa yang paling rendah, kenapa? Karena dalam puasa ini hanyalah menahan dari makan, minum, dan hubungan suami istri Kalau puasanya hanya karena menahan makan dan minum serta tidak melakukan hubungan suami isteri di siang hari, maka kata Rasulullah Saw puasa orang ini termasuk puasa yang merugi yaitu berpuasa tapi tidak mendapatkan pahala melainkan sedikit. Hal ini lah yang diwanti-wanti oleh Rasulullah Saw dengan sabdanya: “banyak orang berpuasa tapi tidak mendapatka pahala berpuasa, yang ia dapatkan hanya lapar dan dahaga.”

Kedua, ‎Puasanya orang khusus adalah selain menahan makan dan minum serta syahwat juga menahan pendengaran, pandangan, ucapan, gerakan tangan dan kaki dari segala macam bentuk dosa,” tulis Imam Ghazali.

Maka puasa ini sering disebutnya dengan puasa para Shalihin (orang-orang saleh). Menurut Al- Ghazali, seseorang tidak akan mencapai kesempurnaan dalam tinkatan puasa kedua ini kecuali harus melewati enam hal sebagai prasayaratnya, yaitu menahan pandangan dari segala hal yang dicela dan dimakruhkan. Menjaga lidah dari perkataan yang sia-sia, berdusta, mengumpat, berkata keji, dan mengharuskan berdiam diri. Menggunakan waktu untuk berzikir kepada Allah serta membaca Al-Quran. Menjaga pendengaran dari mendengar kata-kata yang tidak baik. Mencegah anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa. Tidak berlebih-lebihan dalam berbuka, sampai perutnya penuh makanan. Hatinya senantiasa diliputi rasa cemas (khauf) dan harap (raja) karena tidak diketahui apakah puasanya diterima atau tidak oleh Allah.

Ketiga, Puasa khususnya orang yang khusus adalah ‎puasanya hati dari kepentingan jangka pendek dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan segala hal yang dapat memalingkan dirinya pada selain Allah SWT. Puasa khusus yang lebih khusus lagi yaitu, di samping hal di atas adalah puasa hati dari segala keinginan hina dan segala pikiran duniawi, serta mencegah memikirkan apa-apa selain Allah Swt (shaum al-Qalbi ‘an al-Himam ad-Duniyati wa al-Ifkaar al-Dannyuwiyati wakaffahu ‘ammaa siwa Allaah bi al-Kulliyati). Menurut Al-Ghazali, tingkatan puasa yang ketiga ini adalah tingkatan puasanya para nabi , Shiddiqqiin, dan Muqarrabin.

 

ISLAMPOS

Buah dari Perbuatan Kita Sendiri

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Tiada yang wajib disembah selain Allah. Hanya kepada Allah kita memohon perlindungan dan hanya kepada-Nya kita pasti akan kembali. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Allah Swt berfirman, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri..” (QS. Al Isro [17] : 7)

Tidak ada yang tertukar, keburukan yang kita perbuat, pasti akan berbalik akibatnya kepada kita sendiri. Demikian juga dengan kebaikan yang kita perbuat, buahnya akan kembali kepada kita. Oleh karena itu, ketika ada keburukan menimpa diri kita, tidak boleh menyalahkan siapapun kecuali menyalahkan diri sendiri. Boleh jadi ada dosa yang belum kita taubati, boleh jadi ada keburukan kita kepada orang lain dan belum kita meminta maaf kepadanya dan belum memohon ampun kepada Allah Swt.

Prinsip ini semestinya bisa menjadi pegangan bagi kita bahwa jika kita melakukan keburukan, maka sesungguhnya kita sedang menimpakan keburukan kepada diri kita sendiri. Jika hal ini kita yakini, maka kita akan berpikir sekian ribu kali untuk berbuat buruk. Dan yang terbaik adalah manakala kita akhirnya terhindar, selamat dari perbuatan buruk kita sendiri.

Di saat yang sama, kita meyakini bahwa ketika kita berbuat kebaikan, sesungguhnya kita sedang menarik kebaikan untuk datang kepada kita. Sehingga kita semakin bersemangat melakukan amal sholeh, karena inilah yang Allah sukai.

Saudaraku, sesungguhnya janji Allah itu pasti benar. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu mendapat petunjuk Allah sehingga kita menjadi orang-orang yang selamat di dalam hidup kita. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

INILAH MOZAIK

Marhaban Ya Ramadhan..! (2)

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Apabila masuk bulan Ramadhan maka pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan syaithan-syaithan pun dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Apabila malam pertama bulan Ramadhan tiba, maka syaithan-syaithan dan jin-jin Ifrit dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup sehingga tidak satupun darinya terbuka, dan pintu-pintu surga dibuka sehingga tidak satupun pintu yang tertutup. Kemudian ada seorang (malaikat) penyeru yang memanggil: “Wahai pencari kebaikan sambutlah dan wahai para pencari kejahatan kurangilah”, dan Allah membebaskan orang-orang dari api neraka pada setiap malam.” (HR. At-Tirmizi, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).

Para pelaku maksiat merasa dipersempit ruang gerak untuk berbuat maksiat pada bulan Ramadhan. Karena, pada bulan Ramadhan mereka harus menahan nafsunya. Tempat-tempat maksiat, hiburan-hiburan yang mengumbar birahi ditutup serta fasilitas maksiat ditutup. Terlebih lagi para syaithan yang menjadi guru para pelaku maksiat selama ini dibelenggu pada bulan Ramadhan. Begitu pula nafsu yang menjerumuskan manusia ke neraka juga dikekang dengan ibadah puasa. Karena puasa itu adalah penahan nafsu dan maksiat sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam“ Puasa itu Junnah (penahan nafsu dan maksiat)” (HR. Ahmad, Muslim dan An-Nasa’i)

Ramadhan merupakan bulan maghfirah (pengampunan dosa). Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: ”Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at dan Ramadhan ke Ramadhan  menghapuskan dosa-dosa di antara masa-masa itu selama dosa-dosa besar dijauhi”. (HR. Muslim). Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: ”Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Subhanahu Wata’ala , makadiampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim). Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam juga bersabda: ”Barangsiapa yang berpuasa yang melakukan qiyam Ramadhan  (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Subhanahu Wata’ala , niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ramadhan merupakan bulan itqun minan nar (pembebasan dari Api neraka). Setiap malam di bulan Ramadhan Allah membebaskan hamba-hamba yang dikehendaki dari api neraka. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam  bersabda, “Dan Allah membebaskan orang-orang dari api neraka pada setiap malam.” (HR. At-Tirmizi, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).

 

Pada bulan Ramadhan terdapat malam Lailatul Qadar. Malam Lailatul Qadar ini nilai kebaikan padanya lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana Alah tegaskan dalam firman-Nya: “Dan tahukah kamu Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (Al-Qadar: 2-3).

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Pada bulan Ramdhan ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang dihalangi kebaikannya padanya, maka rugilah dia” (HR. Ahmad, An-Nasa’i & Al-Baihaqi).

Maka kita sangat digalakkan untuk melakukan ibadah i’tikaf pada bulan Ramadhan, khususnya pada sepuluh terakhir, dalam rangka mencari Lailatul Qadar mengikuti perbuatan (sunnah) Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.

Aisyah r.a berkata: “Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (dari bulan Ramadhan), Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam menghidupkan waktu malam beliau, membangunkan keluarga beliau untuk beribadah, dan mengencangkan ikat pinggang.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain: “Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam sangat giat beribadah pada sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) melebihi ibadah beliau pada hari-hari lainnya.” (HR. Muslim)

Akhirnya, mari kita sambut kedatangan bulan Ramadhan ini gembira dan antusias dalam beribadah. Mari kita hidupkan Ramadhan ini dengan melakukan berbagai aktivitas ibadah dan amal shalih seperti puasa, tadarus al-Quran, shalat-shalat sunnat khususnya tarawih dan witir, i’tikaf, infaq, shadaqah, memberi bukaan orang yang berpuasa dan sebagainya. Sudah sepatutnya berbagai keutamaan yang dimiliki oleh Ramadhan memberikan motivasi dan semangat kepada kita untuk memperbanyak ibadah dan amal shalih padanya. Semoga kita dapat meraih berbagai keutamaan yang disediakan pada bulan Ramadhan ini. Amin..!* 

 

Oleh:  Muhammad Yusran Hadi

Penulis adalah Ketua Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh, Pengurus Dewan Dakwah Aceh dan Anggota Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara

 

HIDAYATULLAH

Marhaban Ya Ramadhan..!

RAMADHAN telah tiba. Marhaban Ya Ramadhan…! (Selamat datang wahai Ramadhan). Tamu agung yang ditunggu-tunggu kedatangannya selama ini membawa sejumlah “hadiah” dari Allah Subhanahu Wata’ala berupa bonus pahala, rahmat, pengampunan dosa dan lainnya. Setelah sekian lama berpisah, kini bulan yang dirindukan ini telah hadir menghampiri kita. Kedatangannya selalu dinantikan dan dielu-elukan oleh umat Islam. Suasana bersamanya menyenangkan dan membuat jiwa-jiwa orang mukmin tenang dan damai. Umat Islam seluruh penjuru dunia menyambut kedatangan Ramadhan dengan perasaaan gembira dan suka cita.

Ada fenomena menarik ketika Ramadhan tiba. Umat Islam di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia saling menyampaikan ucapan tahniah atau ucapan selamat “Marhaban ya Ramadhan”.

Tulisan tahniah  atas kedatangan Ramadhan tersebut menghiasi setiap sudut kota dan media cetak dan elektronik. Bahkan SMS ucapan tahniah ini menjadi SMS paling favorit dan trend ketika Ramadhan tiba. Juga melalui media sosial seperti WA, instagram, line, facebook dan lainnya. Ungkapan tahniah seperti ini sudah menjadi populer di kalangan umat Islam sebagai bentuk ungkapan rasa gembira dan antusias atas kedatangan bulan Ramadhan.

Sudah sepatutnya seorang muslim bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan. Bagaimana tidak? Bulan Ramadhan merupakan bulan keberkahan, rahmat, maghfirah(pengampunan dosa), itqu minnan nar (pembebasan dari api neraka), bulan menuai pahala, bulan dilipat gandakan pahala ibadah, sarana menjadi orang taqwa, dan sebagainya. Dengan berbagai keutamaan yang dimilikinya tersebut, maka sangatlah wajar bila bulan Ramadhan dijuluki oleh Rasulullah Saw dengan sebutan sayyid asy-syuhur (penghulu segala bulan). Oleh karena itu, Ramadhan disambut dengan gembira dan suka cita oleh umat Islam di seluruh dunia.

Sebaliknya, ada sebahagian golongan yang merasa susah dan gelisah dengan kedatangan bulan Ramadhan. Mereka tidak bergembira sebagaimana umat Islam lainnya yang bergembira dalam menyambutnya. Mereka ini adalah golongan syaithan dan para pengikutnya dari kalangan manusia. Bagi syaithan, kedatangan bulan Ramadhan berarti menggagalkan usaha mereka selama ini untuk menjerumuskan manusia ke dalam kubangan dosa. Pada bulan yang mulia ini Allah Subhanahu Wata’ala menyediakan pengampunan bagi orang-orang yang bertaubat dan berpuasa. Rasa tidak senang juga dirasakan oleh para pengikut dan murid syaithan dari kalangan manusia. Bagi mereka, Ramadhan mengganggu maksiat yang sudah biasa melakukan selama ini.

 

Kita patut bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas nikmat yang besar yaitu dengan dipertemukannya kita dengan Ramadhan kali ini. Dengan demikian kita masih diberi kesempatan dan peluang oleh Allah Subhanahu Wata’ala  untuk meraih berbagai keutamaan dan fasilitas pada bulan Ramadhan. Mungkin Ramadhan seblumnya kita tidak optimal dalam beribadah. Maka Ramadhan kali ini kesempatan bagi kita untuk memperbaikinya untuk optimal dalam beribadah.

Bersyukurlah orang-orang yang dipertemukan dengan Ramadhan. Berapa banyak saudara-saudara kita muslim yang tidak dapat kesempatan beribadah di bulan Ramadan kali ini karena mereka telah dipanggil oleh Allah Subhanahu Wata’ala (meninggal). Ada pula sebahagian saudara yang sampai hari ini masih sakit dirawat di rumah sakit. Maka bersyukurlah kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala terhadap nikmat umur dan kesehatan ini sehingga dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Oleh karena itu, perbanyaklah ibadah di bulan Ramadhan sesuai dengan petunjuk Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, agar kita dapat meraih berbagai keutamaan yang disediakan Allah Subhanahu Wata’ala  pada bulan yang mulia ini.

Ramadhan merupakan syahrul Quran (bulan Al-Quran). Diturunkannya Al-Quran pada bulan Ramadhan menjadi bukti nyata kemuliaan dan keagungan bulan Ramadhan. Allah Subhanahu Wata’ala  berfirman: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185). Di ayat lain Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Quran) pada malam qadar” (QS. Al-Qadar: 1). Maka, pada bulan ini kita sangat digalakkan untuk bertadarus (berinteraksi) dengan Al-Quran yaitu dengan cara memperbanyak membaca Al-Qu’an, memahaminya, mengkhatamkannya menghafalnya, mempelajarinya, dan mengamalkannya. Tanpa melakukan antivitas membaca, memahami, dan mempelajari Al-Qur’an, maka tidak mungkin kita mengamalkan Al-Quran.

Ramadhan merupakan syahrun mubarak (bulan keberkahan). Setiap ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan, maka Allah akan melipat gandakan pahalanya.

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Sungguh telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah. Pada bulan ini diwajibkan puasa kepada kalian..” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi).

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam pernah berkhutbah di hadapan para sahabatnya, “Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilai (ibadah) di dalamnya lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai perbuatan sunnah. Siapa yang mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan (pada bulan itu), seolah-olah ia mengerjakan satu perbuatan wajib pada bulan lainnya. Siapa yang mengerjakan satu perbuatan wajib pada bulan yang lain, ia seolah-olah mengerjakan tujuh puluh kebaikan di bulan lainnya.” (HR. Baihaqi)

 

Ramadhan merupakan bulan ibadah dan taqwa.  Ramadhan memberikan motivasi kepada umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan amal shalih (kebaikan) dan meninggalkan maksiat. Pada bulan Ramadhan pintu-pintu surga terbuka dan pintu-pintu neraka tertutup serta syaithan-syaithan diikat. Dengan demikian, Allah Subhanahu Wata’ala  telah memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk masuk surga dengan ibadah dan amal shalih yang mereka perbuat pada bulan Ramadhan. Syaithanpun tidak diberi kesempatan untuk mengoda dan menyesatkan manusia.* >>> (BERSAMBUNG)

Oleh:  Muhammad Yusran Hadi

Penulis adalah Ketua Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh, Pengurus Dewan Dakwah Aceh dan Anggota Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara

 

HIDAYATULLAH