Pelunasan BPIH Reguler Mulai 1 Juni

Jakarta (Sinhat)–Menag Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan bahwa Kementerian Agama telah menerbitkan PMA No 28 Tahun 2015 tentang Pembayaran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) Reguler Tahun 1436H/2015M. PMA ini mengatur bahwa pembayaran BPIH dimulai pada 1 – 30 Juni 2015. Apabila sampai dengan tanggal 30 Juni 2015 kuota jamaah haji tidak terpenuhi, pembayaran BPIH diperpanjang dari 7 – 13 Juli 2015.

“Jika sampai tanggal 13 Juli kuota jamaah haji tidak terpenuhi, maka sisa kuota haji dikembalikan ke masing-masing provinsi dan atau kabupaten/kota untuk diisi sesuai dengan nomor urut porsi berikutnya sampai dengan 10 (sepuluh) hari kerja sebelum penutupan proses pemvisaan di Kedutaan Besar Arab Saudi,” jelas Menag.

Adapun tentang kriteria jamaah yang berhak melakukan pelunasan pada fase 1 – 30 Juni (tahap 1), Menag menjelaskan bahwa itu diperuntukkan bagi jamaah haji yang telah memiliki nomor porsi dan masuk dalam alokasi kuota provinsi atau kabupaten/kota tahun 1436H/2015M dengan ketentuan: 1) belum pernah menunaikan ibadah haji; 2) telah berusia 18 tahun atau sudah menikah, terhitung pada tanggal 21 Agustus 2015; 3) jemaah lunas tunda yang berstatus belum pernah haji; dan 4) jemaah haji nomor porsi berikutnya berdasarkan data Siskohat sebanyak 5% yang berstatus belum haji dan masuk daftar tunggu pada tahun 1437H/2016M dari jumlah kuota provinsi dan kab/kota yang bersangkutan.

Untuk fase 7 – 13 Juli (tahap 2), pengisian sisa kuota diperuntukan bagi calon jamaah dengan ketentuan urutan prioritas: 1) jemaah tahap 1 yang mengalami kegagalan sistem pada saat pelunasan; 2) jemaah lunas tunda yang sudah berstatus haji; dan 3) jemaah yang nomor porsinya masuk alokasi Tahun 1436H/2015M dan sudah berstatus haji.

Selain itu, jamaah haji lansia dan penggabungan suami/istri dan anak/orang tua terpisah juga termasuk yang bisa melakukan pelunasan pada tahap 2, dengan catatan usia jemaah lansia sudah 75 tahun per tanggal 21 Agustus 2015 yang sudah mendaftar haji reguler paling lambat 1 Januari 2013. Jamaah lansia seperti ini dapat didampingi oleh 1 orang pendamping yaitu istri/suami/anak kandung/adik kandung yang sudah mendaftar haji reguler paling lambat 1 Januari 2013.

Hal lainnya adalah jemaah haji penggabungan suami/istri dan anak/orang tua kandung terpisah, dengan ketentuan jemaah yang digabung sudah melunasi BPIH, jemaah haji yang menggabung sudah mendaftar haji reguler paling lambat 1 Januari 2013. Selain itu, jemaah lansia dan pendamping serta penggabungan suami/istri dan anak/orang tua terpisah, terdaftar haji reguler dalam satu provinsi yang sama. (mkd/ar)

Franck Ribery, Islam Sumber Kekuatan Saya

kisahmuallaf.com – Franck Ribery dikenal sebagai pribadi yang santun, rendah hati, dan rajin melaksanakan shalat lima waktu, di mana pun dan pada kondisi apa pun.
Bagi penggemar sepak bola dunia, tentu sudah tak asing dengan nama Franck Ribery, gelandang serang asal Prancis yang kini bermain di klub raksasa Bundesliga (Jerman), Bayern Muenchen.
Begitu juga, dengan mantan pemain terbaik dunia asal Prancis, Zinedine Zidane, Nicholas Anelka (Chelsea/Prancis), Frederik Kanoute (Sevilla/Mali), Khalid Bouhlahrouz (Sevilla), Zlatan Ibrahimovic (Inter Milan/Swedia), Eric Abidal (Barcelona/Prancis), Kolo Toure (Chelsea), dan Yaya Toure (Barcelona). Mereka adalah pemain sepak bola yang beragama Islam dan menjadi andalan klub maupun negaranya masing-masing.
Berbeda dengan pesepakbola Muslim lainnya, yang lebih dulu memeluk Islam, Franck Ribery justru memeluk Islam setelah bermain di klub asal Turki, Galatasaray, pada 2005.
Secara singkat, Ribery mengatakan, dia memilih ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini karena menemukan kedamaian dalam Islam.

Baginya, Islam adalah sumber kekuatan dan keselamatan. “Islam adalah sumber kekuatan saya di dalam dan di luar lapangan sepak bola. Saya mengalami kehidupan yang cukup keras dan saya harus menemukan sesuatu yang membawa saya pada keselamatan dan saya menemukan Islam,” kata Ribery.

BERDOA

Kisah Muallaf

Pesepakbola bermata biru yang memperkuat tim Prancis itu memulai karier sepak bolanya, dengan bergabung dengan tim Boulogne di tanah kelahirannya. Kemudian, ia pindah ke tim Ales, Brest and FC Metz.

Kepindahannya ke Olympique Marseille membawanya ke posisi pertama bintang sepak bola Prancis paling populer pada bulan Agustus, Oktober, dan November 2005. Ribery terpilih untuk memperkuat tim Prancis pada Piala Dunia FIFA tahun 2006 yang digelar di Jerman.

Pada 2006 itulah, jati diri Ribery yang telah menjadi muallaf dan memeluk agama Islam terkuak dan menjadi pemberitaan di tengah pertandingan pembukaan antara tim Prancis melawan tim Swiss saat acara Piala Dunia 2006.

Ketika itu, Ribery tersorot publik tengah menengadahkan tangan sebelum pertandingan dimulai. Ribery tengah berdoa, seperti yang dilakukan seorang Muslim. Saat itulah, banyak orang terkaget-kaget dengan sikapnya. Namun, berkat kecemerlangannya dalam bermain bola, publik pun tak menghiraukan perilaku dan kebiasaan Ribery.

Namun, rutinitas berdoa sebelum pertandingan itu akhirnya terkuak juga. Dan, Ribery mengaku sebagai penganut Islam. Ia menemukan kedamaian dalam agama Islam dan menjadi spiritnya dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, tak terkecuali saat bermain bola.

Kabar Ribery masuk Islam, menyeruak sejak awal tahun 2006. Kabar itu mula-mula dilansir L’Express. Majalah ini menyebut adanya pemain nasional Prancis yang secara teratur beribadah di masjid di selatan Marseille. Mingguan itu tidak menyebut nama secara eksplisit, namun yang dimaksud adalah Ribery.
Kendati aksi berdoanya di lapangan hijau telah menarik perhatian publik Prancis, Ribery tetap enggan mengemukakan keyakinan barunya itu secara terbuka. Gelandang kanan klub Olympique Marseille ini mengatakan, keimanan barunya adalah perkara pribadi, tak perlu publikasi.

Alhasil, sejumlah spekulasi pun bermunculan. Ada yang menyebut perubahan itu terjadi sejak Ribery bermain bersama klub Galatasaray pada 2005. Ia membantu klub raksasa Turki tersebut memenangi Piala Turki pada tahun 2005. Semasa menetap di Turki, pemain kelahiran Boulogne-sur-Mer, Prancis, 7 April 1983, ini dikabarkan kerap berbaur dan berdiskusi dengan komunitas Muslim di sana.

Ada pula yang menyebut istri Ribery, Wahiba Belhami, yang asli Maroko itu memainkan peran penting terhadap perubahan Ribery. Ribery memang setahun tinggal di negara berpenduduk mayoritas Muslim itu. Di sana, Ribery berkenalan dengan Wahiba yang kemudian ia peristri. Konon Wahiba berperan besar menuntun Ribery mengenal ajaran
. Dari pernikahan tersebut, Wahiba memberinya dua anak, Hizsya dan Shahinez.

Kedua versi itu tak pernah dibantah atau dibenarkan oleh Ribery. Namun, kepada majalah Paris Match, ia mengungkapkan, Islam telah membawanya pada keselamatan.

“Islam juga yang menjadi sumber kekuatan saya di dalam maupun di luar lapangan,” ujar Ribery kepada majalah Match tanpa menjelaskan sejak kapan memeluk Islam. Ia menambahkan, “Saya menjalani karier yang berat. Saya kemudian berketetapan hati untuk menemukan kedamaian. Akhirnya, saya menemukan Islam.”

Tak pernah tinggalkan shalat

Keimanan dan kepribadian Ribery sebagai seorang Muslim tampaknya tak perlu diragukan. Di tengah padatnya jadwal pertandingan, bapak dua anak ini tak pernah lupa dengan kewajibannya sebagai Muslim. Ia senantiasa melaksanakan shalat lima waktu, di mana pun dan dalam kondisi apa pun. Baginya, shalat merupakan tiang agama yang harus ditegakkan.

Selain rajin melaksanakan shalat, Ribery juga dikenal sebagai pribadi yang santun dan rendah hati. Islam benar-benar telah mengubah perangainya yang keras dan arogan menjadi seorang pribadi yang santun.

Sifat dan akhlaknya ini tak heran membuat kagum rekan-rekannya di timnas Prancis, FC Bayern Muenchen (tempat ia bermain bola saat ini), maupun kerabatnya.

Steve Bradore dari Organisasi Syuhada, yang melayani para muallaf Prancis, telah mengatakan bahwa muslim Prancis merasa bangga sekali dengan Ribery. “Dia adalah sumber kebanggaan kami karena penampilannya yang khas dan kerendahatiannya,” kata Steve, seperti dikutip dari situs Islamonline.net.
Saat ini, Ribery membela klub sepak bola Jerman, FC Bayern Muenchen. Di Bayern Muenchen, ia menempati posisi sebagai pemain gelandang. Kontrak Ribery bersama ‘FC Hollywood’–julukan Bayern Muenchen–akan berakhir pada 2011.

Ribery termasuk pesepakbola sukses. Di usianya yang baru 26 tahun, dia sudah mengoleksi berbagai gelar. Antara lain, satu gelar Fortis Piala Turki bersama Galatasaray di musim 2004/2005, Piala Intertoto bersama Olympique Marseille di tahun 2005, Piala Liga Jerman bersama Bayern Muenchen di tahun 2007, Piala Jerman dan Bundesliga Jerman di tahun 2008. Selain itu, penghargaan Pemain Terbaik Prancis di tahun 2007 dan 2008, juga pesepak bola Jerman terbaik di tahun 2008.

Franck Ribery yang lahir di Boulogne-sur-Mer, Perancis, 7 April 1983 memiliki tinggi badan 175 cm. Sebelum bermain di FC Bayern Muenchen, Jerman, pemain yang beroperasi sebagai gelandang serang ini berkarir di klub US Boulogne (2001-2002), Olympique Ales (2002-2003), Stade Brestois 29 (2003-2004), FC Metz (2004), Galatasaray (2005), dan Olympique Marseille (2005-2007).

Raja Bavaria

Di lapangan, ia hebat. Dalam kehidupan sosial, ia berkepribadian hangat. Sebagai individu, ia pun rajin salat. Franck Ribery adalah figur kesayangan publik Allianz Arena saat ini. Bayern Munich selalu dihuni pemain berlabel bintang, tapi yang paling menonjol tergantung waktu dan kesempatan. Duet striker Miroslav Klose dan Luca Toni boleh menyita perhatian lewat produktivitas golnya, tapi Ribery amat menonjol dalam hal kreasi permainan di lapangan tengah.

Tidak salah Bayern memecahkan rekor transfernya untuk memboyong pria berusia 26 tahun itu. Faktanya, dalam tujuh bulan sejak bergabung dengan Bayern Muenchen, Ribery sudah berhasil menancapkan pengaruhnya, baik di klubnya maupun Bundesliga. Pemain seharga 26 juta euro makin disenangi orang karena pembawaannya yang menyenangkan dan sikapnya selalu profesional.

Di saat cuaca dingin bulan Februari masih mengakrabi Munich dan ia tengah berkutat dengan cedera kaki, Ribery tidak malas untuk tetap menghangatkan tubuhnya dengan muncul di kamp latihan.
Ia juga tak pernah menolak fans yang menginginkan tanda tangannya ataupun berfoto bersama, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Dan, itu senantiasa ia lakukan dengan senyum mengembang di bibirnya.
“Mereka mungkin tak pernah melihat seorang pemain, seperti saya yang senang tertawa dan biasa berkelakar,” seloroh Ribery. “Saya ini orang yang sederhana dan simpel saja.”

Di koridor berbagai fasilitas kamp latihan Bayern, lelaki Prancis ini selalu menyapa orang-orang. “Saya ingin menjadi teman (siapa pun),” ujarnya sambil tersenyum, seperti dikutip AFP. “Dua menit untuk berfoto dan memberi tanda tangan buat fans amatlah penting karena buat mereka hal-hal ini sangat berarti.”

Senyum, tawa, dan sikap yang ramah untuk sementara menjadi “andalan” Ribery dalam berkomunikasi dengan penggemarnya, sebelum ia bisa menyempurnakannya dengan bahasa Jerman. Ia masih belum fasih, tapi setiap minggu rajin mengikuti kursus.

Ribery juga merasa bersyukur dirinya telah berhasil dalam kariernya, mengingat di masa kecil ia harus menjalani kehidupan yang sulit bersama keluarganya di daerah Boulogne-sur-Mer.

Namun, ia pun menyadari kesuksesan bukanlah sesuatu yang abadi. Roda nasib dalam kehidupan selalu berputar. “Atas semua yang telah saya alami, saya menyikapinya dengan tenang, tapi saya pun sadar pada semua nasib yang saya miliki.”

Yang jelas, Ribery telah menjadi sosok istimewa buat warga Munich. Jangan heran kalau di depan Theatinerkirche, yang ada di pusat kota tersebut, terpampang billboard raksasa bergambarkan Ribery memakai jubah raja, disertai tulisan “Bayern Hat Wieder Einen Konig” alias “Bavaria punya raja lagi”. Bavaria adalah julukan lain dari Bayern Muenchen selain FC Hollywood.

Lelaki yang di wajahnya ada bekas luka karena kecelakaan mobil yang dialaminya waktu kecil itu, sudah dianggap sangat penting untuk FC Hollywood. Di sebuah surat kabar, ada sebuah komentar berbunyi: “Bayern Munich tanpa Ribery seperti sekelompok anak-anak tanpa ibu.”

Antisipasi Ledakan Jamaah di Musim Haji, Arab Saudi Perluas Mataf

REPUBLIKA.CO.ID,MAKKAH — Arab Saudi telah membuka lokasi baru mataf (tempat tawaf). Perluasan mataf itu dilakukan karena jumlah Muslim ke Tanah Suci kian bertambah.

Lokasi mataf baru tersebut akan dibuka pada bulan Ramadhan dengan kapasitas 100.000 jamaah per jam.

“Kami sedang menyelesaikan di sektor kantor-kantor pemerintah, ruang operasi, markas aparat keamanan, departemen kesehatan, Bulan Sabit Merah, Pertahanan Sipil, dan dinas terkait lainnya,” kata direktur manajemen proyek di Kepresidenan untuk Urusan Dua Masjid Suci Sultan Al-Qurashi seperti dilansir onislam.net, Senin (27/4).

Menurut Al-Qurashi, perluasan terbaru akan mencakup menyelesaikan tahap ketiga dari proyek seperti lantai dasar dan lantai pertama. Garapan lainnya yaitu di sektor jamaah berdoa dan toilet di daerah utara Masjid Al-Haram.

Perluasan membentang dari titik 200 meter utara dan barat Kakbah 458 meter. Sekitar 75.000 meter perseg akan digunakan sebagai pusat layanan terpadu, tangki air, sistem pembuangan limbah, sistem pembersihan terpusat, dan 12.500 toilet.

“Sekitar 95 persen dari bangunan tersebut telah selesai,” kata Al-Qurashi

Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah Arab Saudi telah melakukan beberapa proyek untuk pengembangan kota Makkah untuk membantu pelaksanaan ibadah haji dan umrah.

Pada bulan November 2009 lalu, pemerintah kota Riyadh menyelesaikan lima lantai jembatan hi-tech Jamarat guna kelancaran arus jutaan jamaah.

Jembatan ini memiliki 10 pintu masuk dan 12 pintu keluar dalam empat tingkat untuk memungkinkan kelancaran 300.000 jamaah per jam.

Muhammad Yusuf Seran, Hidayah Melalui Mimpi

KisahMuallaf.com – Sejak kecil ia sangat suka mendengar lantunan azan. Gotfridus Goris Seran. Begitulah nama asli pria calon pastor asal Kupang tersebut. Ia mengubah namanya dengan mengambil dua nama Nabi dan Rasul sekitar 20 tahun silam, saat ia memeluk agama Islam.

“Saya ingat betul saat itu 29 November 1992, saat saya sedang kuliah pascasarjana di UI Salemba. Teman-teman saya sudah menjadi pastor di Amerika Latin, Afrika, Australia, Jepang, banyak,” ungkap Seran memulai kisahnya menemukan Islam.

Sejak kecil, Seran rupanya telah dipersiapkan oleh orang tuanya untuk menjadi pastor Katolik. Tak heran, ia yang kini merupakan salah seorang pejabat di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bogor menempuh pendidikan sekolah dasar hingga menengah atas di seminarium, sekolah pencetak para pastor. “Seminarium itu dalam bahasa familiar mungkin disebut kaderisasi. Kalau di Islam, mungkin seperti pesantren, madrasah,” jelas Seran.

Layaknya pesantren yang mencetak para dai atau ustadz, pendidikan di seminarium membutuhkan waktu empat tahun dengan setahun persiapan. Mata pelajaran umum tetap diajarkan di sekolah khusus ini.

Setiap tahun harus melalui ujian, baik ujian umum maupun ujian agama. Jika lulus dalam ujian agama, lulusannya dianggap faqih dalam agama dan dapat menjadi juru dakwah. Bagi Seran, ujian umum bukanlah perkara sulit. Tetapi, entah mengapa ia tak lulus ujian agama atau yang disebut ujian seminari.

Seran kecil juga sangat menyukai lantunan azan yang disiarkan di radio ataupun televisi. Di daerah asalnya, Timor Timur, atau tempat tinggalnya, Kupang, azan bukanlah sesuatu yang dapat didengar setiap saat.

Hal itu lantaran tak ada masjid di sana. Maka, lantunan azan hanya bisa ia dengar lewat siaran radio ataupun televisi. Ia merasa ada “sesuatu” di balik panggilan shalat itu.

Di sekolah Katolik, Seran mengambil pelajaran Islamologi. Meski saat itu belum berislam, Seran sudah mengenal Islam dari sisi ilmu budaya. Bisa jadi, inilah langkah kecilnya untuk memulai perjalanan panjangnya menuju agama rahmatan lil alamin tersebut.

Meski tak lulus ujian seminari, yayasan Katolik pemilik sekolah seminari memberikan beasiswa sarjana karena melihat kecerdasan Seran. Ia pun melanjutkan pendidikan, tetapi bukan untuk mendalami teologi, melainkan ilmu pemerintahan.

Meraih gelar sarjana, Seran kembali mendapat beasiswa untuk menempuh pendidikan jenjang magister.

“Saya mendaftar S-2 di UI dan UGM. Dua-duanya diterima, tapi saya memilih UI. Padahal, kebanyakan pemuda dari tempat kita memilih UGM. Entah mengapa saya memilih UI. Jika tidak memilih ke Jakarta, mungkin cerita saya akan berbeda,” kata dia.

Sebuah mimpi
Pindah ke Ibukota membentangkan jalan kehidupan baru bagi Seran. Satu hal yang membuatnya girang, ia dapat mendengar azan, lima kali sehari, secara langsung tanpa melalui radio atau televisi.

“Tak tahu mengapa, saya merasa terhanyut sedih setiap mendengar azan. Bahkan, saya sering kali menangis tersedu-sedu sendiri di kamar kos di Salemba saat mendengar azan,” ujarnya tersipu.

Hingga suatu hari, lewat tengah malam, Seran bermimpi. Ia seakan dibawa ke suatu tempat yang sangat gelap, benar-benar gelap hingga tak mampu melihat apa pun. Kemudian, tiba-tiba muncul sebuah titik cahaya dari sebuah tempat.

Cahaya tersebut lambat laun makin besar. Dari cahaya itu, muncul sesosok tubuh berjubah, tetapi tak terlihat rupa wajahnya. Sosok tersebut kemudian berjalan menghampirinya. Sesaat kemudian, Seran terbangun. Ia terdiam dengan perasaan penuh tanya. Mimpi itu terasa sangat nyata bagi Seran. Pagi harinya, Seran menemui ibu kos dan menceritakan mimpinya. Ibu kos yang beragama Islam itu pun menjawab, “Kamu sudah dekat, Nak.”

Seran makin bertanya-tanya, pertanda apakah ini? Apanya yang sudah dekat? Sejak itu, Seran terus memikirkan mimpinya. Ia pun mencoba bertanya kepada sejumlah orang terkait mimpi itu. Akhirnya, Seran meyakini, lokasi munculnya cahaya dalam mimpinya adalah Ka’bah, kiblat umat Islam.

Sebulan setelah mimpi itu, ia pun merasa mantap untuk menjadi Muslim. “Pengalaman mimpi itu, entah apa itu hidayah atau apa, tapi dari situ akhirnya masuk Islam. Hari Minggu tanggal 29, pagi-pagi saya ke Masjid Agung Sunda Kelapa, kemudian membaca syahadat,” ungkapnya.

Seran juga mendapatkan sertifikat, sajadah, Al-Quran, dan buku tuntunan shalat. “Saya ingat betul, warna buku itu putih-ungu. Tapi, saat itu saya nggak bisa baca sama sekali. Setelah itu, saya belajar,” tutur pria murah senyum itu.

Setelah menjadi Muslim, Seran giat mempelajari Islam, cara beribadah, dan mengimani seluruh sendi rukun iman. Pada Maret mendatang, ia berniat mengajak keluarganya beribadah umrah.

Ia ingin melihat langsung Ka’bah yang ada dalam mimpinya. Seperti dalam mimpinya, ia pun ingin melihat Ka’bah dari sebuah bukit. “Saya ingin membuktikan mimpi saya.”

Lapang Dada Hadapi Tantangan
Seusai menempuh pendidikan magister, Seran pulang ke Kupang. Ia berkewajiban mengajar sebagai dosen di kampus Katolik yang telah memberinya beasiswa. Betapa tak enak hatinya saat itu. Keluarga dan pemberi beasiswa tentu berharap banyak darinya, tetapi ia justru pulang sebagai Muslim.

Sejak awal, Seran sudah menyadari bakal menghadapi risiko dan tantangan itu. Maka, ia pun tak merasa gamang. Ia siap menghadapi tantangan demi tantangan dengan lapang dada. Tekadnya semakin bulat kala sebuah mimpi kembali mengisi tidur malamnya. Kali ini, Seran melihat bumi terbelah dua.

Ia berada di satu sisi sementara keluarganya berada di sisi lain. Dari mimpi itu, pahamlah ia bahwa jalannya telah berbeda dengan keluarganya.

Sehari, dua hari, Seran merasa terasing di kampung halamannya. Dalam berkarier, ia pun tak mendapat hak ataupun kesempatan yang sama. Tak jarang orang menganggap Seran memeluk Islam hanya karena sang istri yang ia nikahi tak lama setelah berislam.

Seran membantah tudingan itu. Sebab, ia memeluk Islam dengan tulus, sepenuh jiwa dan raga. “Saya bukan karena mau menikah dengan Muslimah. Kalau masuk Islam karena wanita, itu agama jadi bernilai sangat rendah,” ujarnya.

Bertahan beberapa tahun, ia kemudian merasa jalannya semakin berat. Lagi-lagi, Seran mendapat petunjuk dari mimpi. Ia bermimpi berada dalam kondisi yang menakutkan, gelap, hujan lebat, dan petir yang sambar-menyambar.

Bumi seakan sedang mengalami masa akhirnya, Kiamat. Dalam kondisi yang sangat mencekam itu, Seran melihat asma Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang bercahaya terang.

Ia pun lalu memutuskan untuk meninggalkan Kupang dan kembali ke Jakarta pada 2001. Ia ingin hijrah ke tempat yang lebih baik. Padahal, saat itu, Seran tak memiliki apa pun, baik pekerjaan maupun tempat tinggal di Ibukota.

Ia akhirnya memilih tinggal di Bogor, kota kelahiran sang istri. Berkat pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala , Seran segera mendapat pekerjaan. Sekali melamar menjadi dosen di Universitas Djuanda (Unida) Bogor, ia langsung diterima.

Hingga kini, ia masih mengajar di kampus tersebut, selain menjadi kepala sosialisasi di KPU Kabupaten Bogor. Kini, ia hidup bahagia bersama istri dan ketiga anaknya: Ridho Islam Seran, Ilham Islam Seran, dan Riskia Islam Seran.

Mengenai nama anak-anaknya, Seran memang sengaja membubuhkan kata ‘Islam’, lalu diikuti nama keluarga, Seran. “Saya dan istri ingin mereka dikenal sebagai Seran Muslim. Jadi, kalau pergi ke Kupang biar diidentifikasi Islam. Ada Seran yang Muslim,” pungkasnya.

Dua Tanda yang menjadi Ciri Ibadah Haji Anda Mabrur

Terdapat dua tanda yang menjadi ciri bahwa ibadah haji yang dikerjakan diterima di sisi-Nya. Pertama, tanda yang terdapat di tengah-tengah pelaksanaan ibadah haji, yaitu orang yang berhaji melaksanakannya dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, tanda yang muncul setelah ibadah haji dikerjakan, yaitu tumbuhnya keshalihan pada diri orang yang telah berhaji, yang ditandai dengan bertambahnya ketaatan dan semakin jauhnya dia dari kemaksiatan dan dosa. Dia memulai kehidupan yang baik, kehidupan yang dipenuhi dengan keshalihan dan istiqamah.

Patut diperhatikan bahwa seorang muslim tidak boleh memastikan bahwa amalnya telah diterima oleh Allah, meski dia telah mengerjakannya dengan sebaik mungkin. Allahta’ala telah menjelaskan kondisi orang-orang yang memiliki keimanan yang sempurna perihal amal ketaatan yang mereka kerjakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya,

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”(Al Mukminun: 60).

Maksud dari ayat di atas adalah mereka telah mengerjakan ibadah yang diperintahkan kepada mereka berupa shalat, zakat, puasa ,haji dan selainnya, namun mereka merasa takut tatkala amalan tersebut dihadapkan kepada Allah dan tatkala mereka berdiri di hadapan Allah, ternyata amalan tersebut tidak mampu menyelamatkan dan ketaatan yang telah dilakukan tidak diterima oleh-Nya.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah rdah, bahwa dia berkata,

“Aku berkata kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai firman Allah (yang artinya), “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut “, “Apakah yang dimaksud adalah pria yang berzina dan meminum khamr?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, wahai putrid Abu Bakr” atau “Tidak, wahai putrid Ash Shiddiq, akan tetapi dia adalah pria yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, akan tetapi dia takut amalannya tersebut tidak diterima oleh Allah ta’ala.”[4]

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan,“Sesungguhnya seorang mukmin mengumpulkan amal kebaikan dan rasa takut sedangkan seorang munafik menggabungkan amal keburukan dan rasa aman.”[5]

Telah menjadi kebiasaan kaum mukminin sejak dahulu hingga saat ini tatkala selesai melaksanakan ibadah ini mereka saling mengucapkan, “Taqabbalallahu minna wa minkum.

Mereka semua mengharapkan amalan mereka diterima.[6] Allah pun telah menyebutkan dalam kitab-Nya yang mulia bahwa nabi Ibrahim dan anaknya Isma’il a.s., tatkala mereka berdua selesai mengerjakan pndasi Ka’bah, keduanya berdo’a kepada-Nya  dengan ucapan“Ya Rabb kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 127).

Mereka tetap mengucapkannya, padahal mereka telah menunaikan sebuah amal shalih yang agung, meski demikian mereka memohon kepada Allah agar sudi menerima amal mereka berdua tersebut.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Wuhaib ibnul Ward, bahwa ketika dia selesai membaca ayat ini, dirinya menangis, dan berkata,   “Wahai kekasih Ar Rahman, engkau telah membangun pondasi rumah Ar Rahman, namun engkau masih saja takut amalan tersebut tidak diterima.”[7]

Jika kondisi pemimpin kaum yang hanif dan teladan bagi kaum yang bertauhid sedemikian rupa, maka bagaimanakah kiranya kondisi yang harus dimiliki oleh orang yang derajatnya di bawah beliau?

Kami memohon kepada Allah agar menerima seluruh amalan kaum muslimin, memberikan taufik dan hidayah kepada kita, menetapkan keselamatan dan perlindungan bagi mereka yang berhaji, menerima amalan shalih kita, dan memberi petunjuk kepada kita semua agar menempuh jalan yang lurus.

Diterjemahkan dari Al Hajju wa Tahdzib an Nufus, Syaikh ‘Abdurrazaq al Badr. Ibnu Baththah dalam kitab beliau Al Ibanah (2/873) berkata, “…demikian pula seorang yang baru saja pulang dari melaksanakan haji dan ‘umrah serta menyelesaikan seluruh kegiatan manasik, apabila dirinya ditanya mengenai haji yang telah dilaksanakannya, maka ia akan mengatakan, “Kami telah berhaji, tidak ada lagi yang tersisa selain harapan agar amal tersebut diterima oleh-Nya.”

Demikian pula, do’a orang-orang bagi diri mereka sendiri atau do’a mereka kepada sesamanya adalah, “Ya Allah, terimalah puasa dan zakat kami.” Tatkala seorang menemui seorang yang telah berhaji, telah menjadi kebiasaan, dia mengucapkan, “Semoga Allah menerima hajimu dan membersihkan amalanmu.” Demikian juga, tatkala manusia saling bertemu ketika penghujung Ramadhan, maka mereka saling mengucapkan, “Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian.”

Nasihat Rasulullah SAW Tentang Kematian

Rasulullah SAW bersabda, “Sering-seringlah mengingat sesuatu yang merusak kelezatan-kelezatan.” (HR At-Tirmidzi)
Maksudnya, rusaklah kenikmatan-kenikmatan dengan cara mengingat kematian, sehingga terhentilah kecenderungan kalian padanya, lalu kalian fokus menghadap Allah Ta’ala.

Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya binatang-binatang ternak tahu seperti yang diketahui oleh anak cucu Adam tentang maut, niscaya kalian tidak akan tega memakan (binatang) yang sangat gemuk daripadanya.” (HR Baihaqi)
Aisyah r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ada orang yang akan dikumpulkan bersama para syuhada?” Beliau menjawab, “Ya…Ada. Yaitu orang yang ingat mati sebanyak dua puluh kali sehari semalam.”
Alasannya adalah karena mengingat kematian secara otomatis akan menimbulkan rasa tidak suka terhadap dunia yang sarat dengan tipu daya, dan mendorong seseorang untuk mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Sebaliknya, lalai dari mengingat kematian akan mendorongnya untuk tenggelam dalam kesenangan duniawi.
Rasulullah SAW bersabda, “Kematian adalah hadiah yang sangat berharga bagi orang yang beriman.” (HR Ibnu Abu Dunya dan Ath-Thabrani)
Beliau mengatakan demikian karena dunia memang merupakan penjara bagi orang yang beriman. Di dunia, ia selalu berada dalam kesulitan karena ia harus mengalami kerasnya siksaan batin, melatih diri untuk menaklukkan keinginan-keinginan nafsunya dan melawan setan. Kematian akan membebaskannya dari siksaan tersebut. Jadi, baginya itu jelas merupakan hadiah yang sangat berharga.
Rasulullah SAW bersabda, “Kematian adalah kaffarat (tebusan) bagi setiap Muslim.”
–Imam Al-Ghazali dalam kitab Dzikir al-Maut wa Ba’dahu, Ihya Ulumuddin.

Kisah Perempuan Nasihati Khalifah Umar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Imam Al Qurthubi menceritakan pada suatu hari pada masa Umar bin Khattab menjadi khalifah, Amirul Mukminin pernah berjumpa dengan seorang perempuan di jalan. Saat itu, Umar diiringi banyak orang yang menunggang kuda. 

Perempuan itu memintanya berhenti. Umar pun berhenti. Dinasihatilah Umar oleh perempuan itu.

Ia berkata, “Hai Umar, dulu kau dipanggil Umair (Umar kecil), kemudian engkau dipanggil Umar, kemudian engkau dipanggil Amirul Mukminin, maka bertakwalah engkau, hai Umar. Karena barang siapa yang meyakini adanya kematian, ia akan takut kehilangan kesempatan. Dan barang siapa yang meyakini adanya perhitungan (amal), maka ia pasti takut kepada siksa.” 

Umar bin Khattab menyimak nasihatnya sambil berdiri. Hingga setelah beberapa waktu, ada seorang yang bertanya kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau mau berdiri seperti itu untuk mendengarkan wanita tua renta ini?”

Umar menjawab, “Demi Allah, kalau sekiranya beliau menahanku  dari permulaan siang hingga akhir siang, aku tidak akan bergeser kecuali untuk shalat fardhu. Tahukah kalian siapa perempuan renta ini?” 

“Dia adalah Khaulah binti Tsalabah. Allah mendengar perkataannya dari atas tujuh langit. Apakah Tuhan seluruh alam mendengarkan ucapannya, tetapi lantas Umar tidak mendengarkannya?”

Khaulah binti Tsa’labah bin Ashram, demikian nama wanita itu. Ia berasal dari kalangan perempuan Anshar. Doa dan gugatannya didengar oleh Allah hingga menjadi sebab turunnya surah Mujadalah ayat 1-4. Kisah ini tidak hanya menunjukkan kemuliaan Khaulah, melainkan juga keindahan adab Umar, sang khalifah.

Misteri doa mustajab di hari Jum’at

(Arrahmah.com) – Allah SWT melebihkan hari Jum`at dari hari-hari lainnya dalam sepekan dengan banyak keutamaan. Di antaranya pada hari Jum`at terdapat suatu waktu yang doa seorang muslim pada waktu tersebut dikabulkan oleh Allah SWT, selama memenuhi syarat-syarat dan adab-adab berdoa.

Keutamaan terkabulnya doa pada waktu mustajab tersebut disebutkan dalam beberapa hadits. Di antaranya, Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda, “Sesungguhnya pada hari Jum`at terdapat suatu jam (waktu) tertentu, tidaklah seorang muslim mendapati waktu tersebut dan berdoa kepada Allah memohon kebaikan, melainkan Allah akan memenuhi permohonannya.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu bersabda, “Waktu tersebut hanya sebentar.” (HR. Bukhari no. 6400 dan Muslim no. 852, dengan lafal Muslim)

Di kalangan ulama terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan waktu mustajab tersebut. Sebagian ulama menyatakan sejak bakda Shubuh. Sebagian lain menyatakan sejak khatib naik mimbar sampai waktu dilaksanakan shalat Jum`at. Sebagian lain menyatakan waktu khatib duduk sebentar di antara dua khutbah. Dan sejumlah pendapat lainnya.

Pendapat yang paling kuat menyatakan waktu tersebut adalah satu jam terakhir di sore hari, yaitu satu jam sebelum matahari terbenam pertanda waktu shalat maghrib telah masuk. Hal ini berdasarkan sejumlah hadits shahih berikut, Dari Abdullah bin Salam Radhiyallahu `Anhu berkata, “Saat itu Rasulullah Shallallahu `alaihi wa Sallam sedang duduk, maka saya mengatakan, “Sesungguhnya kami (kaum Yahudi, sebelum ia masuk Islam, pent) mendapati dalam kitab Allah (Taurat, pent) bahwa pada hari Jum`at terdapat suatu jam (waktu) tertentu, tidaklah seorang mukmin mendapati waktu tersebut saat ia melaksanakan shalat dan berdoa kepada Allah memohon suatu keperluan, melainkan Allah akan memenuhi keperluannya.”

Rasulullah Shallallahu `alaihi wa Sallam memberi isyarat kepadaku (Abdullah bin Salam) lalu bersabda, “Atau sebagian waktu (tidak satu jam penuh, pent).” Aku (Abdullah bin Salam) berkata: “Anda benar, memang sebagian waktu saja.” Abdullah bin Sallam lalu bertanya, “Waktu apakah ia?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Waktu (satu jam) terakhir dari waktu siang hari.” Abdullah bin Sallam berkata: “Tetapi waktu tersebut bukan waktu untuk shalat.”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Ia adalah waktu shalat. Sebab, jika seorang mukmin menunaikan shalat (Ashar) kemudian duduk di tempatnya menunggu shalat berikutnya (Maghrib), maka sesungguhnya selama itu tengah mengerjakan shalat.” HR. Ibnu Majah no. 1139, Al-hafizh Al-Bushiri berkata: Sanadnya shahih dan para perawinya tsiqah) Dari Jabir bin Abdullah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda, “Hari Jum`at terdiri dari dua belas jam. Tidak ada seorang muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah (pada suatu jam tertentu), melainkan Allah akan mengabulkannya. Maka carilah jam terkabulnya doa tersebut pada satu jam terakhir setelah shalat Ashar!” (HR. Abu Daud no. 1048 dan An-Nasai no. 1389, sanadnya baik, dinyatakan shahih oleh Al-Hakim, Adz-Dzahabi, An-Nawawi, dan Al-Albani, dan dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar al-Aasqalani)

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Carilah satu jam yang diharapkan pada hari Jum`at pada waktu setelah shalat Ashar sampai waktu terbenamnya matahari!” (HR. Tirmidzi no. 489, di dalamnya terdapat seorang perawi yang lemah bernama Muhammad bin Abi Humaid az-Zuraqi. Namun hadits ini diriwayatkan dari jalur lain oleh Ath-Thabarani dalam Al-Mu`jam al-Awsath dan dikuatkan oleh hadits Jabir bin Abdullah dan Abdullah bin Salam di atas)

Imam Sa`id bin Manshur meriwayatkan sebuah riwayat sampai kepada Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa sekelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkumpul dan saling berdiskusi tentang satu jam terkabulnya doa pada hari Jum`at. Mereka kemudian bubar dan tiada seorang pun di antara mereka yang berbeda pendapat bahwa satu jam tersebut adalah satu jam terakhir pada hari Jum`at.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari menyatakan riwayat imam Sa`id bin Manshur ini shahih. Beliau lalu berkata, “Pendapat ini juga dianggap paling kuat oleh banyak ulama seperti imam Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Rahawaih, dan dari kalangan madzhab Maliki adalah imam ath-Tharthusyi. Imam Al-‘Allai menceritakan bahwa gurunya, imam Ibnu Zamlikani yang merupakan pemimpin ulama madzhab Syafi`i pada zamannya memilih pendapat ini dan menyatakannya sebagai pendapat tegas imam Syafi`i.”

Wallahu a`lam bish-shawab.

Ingin Berhaji Lagi? Harus Sabar Menunggu 10 Tahun

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA– Kementerian Agama telah membuat regulasi terkait kebijakan haji satu kali. Bagi jamaah yang sudah melaksanakan ibadah haji, maka dapat mendaftar haji kembali setelah 10 tahun kemudian.

“Jadi aturan ini mulai diberlakukan tahun ini. Mulai sekarang bagi yang mendaftar awal bukan yang punya nomor porsi. PMA (Peraturan Menteri Agama) sudah saya tanda tangani” ujar Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat ditemui di kantor Kementerian Agama Jakarta, Kamis (28/5).

Ia menjelaskan, kebijakan ini diterapkan karena panjangnya antrian calon jamah haji di seluruh provinsi di Indonesia. Pemerintah akan memprioritaskan pemberangkatan bagi calon jamaah haji yang belum pernah berangkat sama sekali.

Namun, Kemenag juga tidak ingin membatasi atau melarang masyarakat yang sudah berhaji  untuk menunaikan ibadah haji kembali. Untuk itu, pemerintah membuat regulasi dengan mempersilakan masyarakat yang sudah berhaji untuk mendaftar kembali pada 10 tahun kemudian.

Interval waktu 10 tahun, menurut Menag, dinilai sudah memadai untuk mempriotaskan calon jamah haji yang belum pernah berhaji sama sekali.

Takjubnya Kosmonot Rusia Saat Potret Mekkah dan Madinah Dari Luar Angkasa

Eramuslim.com – Kosmonot Anton Shkaplerov memfoto dua kota suci umat muslim dunia, Mekah dan Madinah, Arab Saudi. Foto yang diambil pada malam hari dari Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS) itu sungguh menakjubkan. Kota Mekah dan Madinah terlihat benderang. Cahaya lampu berkilau bak hamparan emas. Sementara pada salah satu titik di tengah, terlihat cahaya putih yang sangat jelas.

Shkaplerov mengunggah foto-foto itu ke Twitter dan Instagram. Dia mengaku sangat kagum dengan pemandangan yang dia tangkap melalui kamera itu.

“Amazing night view of #Mecca and #Medina from the #ISS,” demikian tulis Shkaplerov dalam akun Twitter, @AntonAstrey, sebagaimana dikutip Dream Senin 14 April 2015. Sejak diunggah 26 Januari 2015 hinga 14 April, foto itu telah di-retweet oleh 7.200 pengguna Twitter.

Tak hanya Mekah dan Madinah, Shkaplerov juga memotret pemandangan di sejumlah tempat di Bumi dari luar angkasa. Pemandangan-pemandangan tempat-tempat itu juga mengagumkan.(rz)