Hukum Memakan Cacing sebagai Obat

UNTUK masalah cacing kita perlu meneliti jauh tentang hal ini. Apakah ada dalil yang melarang untuk mengonsumsinya? Jika tidak ada, maka kembali ke hukum asalnya halal. Karena sekali standar menjijikkan bagi kita bukanlah standar orang, tetapi dikembalikan pada dalil. Wallahu alam, sampai saat ini penulis belum menemukan dalil yang mengharamkan cacing. Sehingga dari sini tidak masalah jika cacing digunakan sebagai obat, sebagai pakan ternak, atau dibudidayakan.

Namun taruhlah jika cacing ini dianggap haram karena menjijikkan, maka yang haram ini dibolehkan dalam keadaan darurat, yang tidak ada lagi obat yang dapat menyembuhkan penyakit selain zat haram tersebut. Tetapi juga harus berdasarkan anjuran/nasihat dokter yang dapat dipercaya.

Allah Taala berfirman, “Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya” (QS. Al Anam: 119)

“Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 173)

Wallahu alam bish showwab. [Ummul Hamam]

 

INILAH MOZAIK

Meneguhkan Syahadat

Syekh Muhammad bin Sholeh Al Utsmaini mengatakan, kalimat La Ilaha Illallah bermakna seorang mengakui dengan lisan dan hatinya bahwa tidak ada sesembahan yang hak, kecuali Allah. Kalimat ini mengandung makna peniadaan dan penetapan.  Kalimat peniadaan (Laa ilaha) dan penetapan (Illallah) mengandung makna ikhlas. Artinya, memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja dengan meniadakan ibadah selain dari-Nya.

“Bagaimana kamu mengatakan tidak ada sesembahan (ilah) kecuali Allah padahal di sana banyak ilah-ilah yang diibadahi selain Allah dan Allah Azza wa Jalla menamainya alihah (jamak dari ilah) dan penyembahnya menyebutnya alihatun,” tulis Syekh Al Utsmaini.  Tentang sesembahan ini, Allah SWT berfirman dalam QS Hud: 101.  “Karena itu tidaklah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sesembahan yang mereka seru selain Allah di waktu azab Rabb-mu datang. ” Allah juga berfirman dalam QS al-Isra: 39, yakni “Dan janganlah kamu mengadakan sesembahan-sesembahan lain di samping Allah.

Lebih lanjut, sang syekh mengatakan, makna Muhammad utusan Allah adalah membenarkan apa-apa yang Rasulullah kabarkan, melaksanakan apa yang dia perintahkan, menjauhi apa yang dilarang dan tidak ada ibadah kepada Allah kecuali dengan cara yang disyariatkan darinya. Kalimat ini juga mengandung konsekuensi bahwa seorang Muslim tak memiliki keyakinan bahwa Rasulullah memiliki hak untuk disembah, hak mengatur alam, atau hak dalam ibadah.

Hanya, Rasulullah merupakan seorang hamba yang tidak berdusta dan tidak memiliki kemampuan sedikit pun untuk memberi manfaat dan mudarat untuk dirinya sendiri ataupun orang lain, kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS al-Anfal:50. “Katakanlah (ya Muhammad): Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malakikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku..”

Karena itu, meneguhkan kembali kalimat syahadat sangat relevan pada zaman yang penuh dengan fitnah dan cobaan ini. Maraknya aliran sesat di bumi nusantara mengharuskan kita untuk menjaga diri dan keluarga lewat mempertebal akidah. Kalaulah kita jauh dari aliran sesat, mengingat lagi syahadat dapat menggerus syirik-syirik kecil yang kerap dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Tanpa sadar, pengingkaran ini sering kita lakukan sehingga dapat membatalkan syahadat. Kita meninggalkan sunah-sunah Rasulullah yang seharusnya menjadi komitmen saat mengucap syahadat. Sering kali kita mengutamakan pertandingan sepakbola ketimbang panggilan azan, larut dalam rapat berjam-jam tanpa memerhatikan waktu shalat, menunda untuk membayar zakat padahal sudah memenuhi nisabnya, dan sebagainya. Maka, sebagaimana wudhu yang diperintahkan untuk diulang saat kentut atau buang air kecil, sudah semestinya kita perbaharui lagi syahadat. Kali ini dengan lebih khusyuk. Wallahu’alam.

 

REPUBLIKA

Malas Mengerjakan Shalat, Belajar dari Pemuda Anshar Ini!

Banyak riwayat yang mengkisahkan shalatnya Rasulullah SAW dan para sahabat, betapa khusuk dan asyiknya mereka dalam mengerjakan shalat, sampai-sampai mereka tidak menghiraukan apa yang terjadi pada diri mereka. Salah satunya, kisah sahabat dari golongan Anshar, bernama Abbad bin Bisyr. Meski panah demi panah menancap di tubuh dan darah mengalir dari lukanya, ia tetap asyik shalat tanpa goyah sedikit pun.

Dikisahkan dari Buku yang berjudul “Himpunan Fadhilah Amal” karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi Rah.a. bahwa ketika Nabi SAW kembali dari suatu peperangan, Beliau berhenti di suatu tempat dan bersabda, “Siapakah yang siap menjadi penjaga pada malam ini?” Ammar bin Yasir ra dari kalangan Muhajirin dan Abbad bin Bisyr dari kalangan Anshar berkata, “Kami siap berjaga malam.” Kemudian Nabi SAW menyuruh mereka agar berjaga di sebuah bukit. Di bukit itu terdapat jalan bagi musuh untuk menyerang.

Keduanya pergi ke bukit itu, setibanya di sana, Abbad ra berkata kepada saudaranya Ammar ra, “Mari kita bagi malam ini menjadi dua bagian. Bagian malam pertama, aku yang berjaga dan engkau beristirahat. Dan bagian kedua, engkau yang berjaga dan aku beristirahat. Sehingga malam ini dapat kita jaga secara bergantian. Jika merasa ada musuh yang datang, maka yang berjaga dapat membangunkan yang tidur. Jika kita berdua berjaga bersama-sama, bisa-bisa kita mengantuk.”

Maka Abbad ra, pemuda Anshar, mendapat bagian yang pertama dalam berjaga, dan Ammar ra, pemuda Muhajirin tidur. Sambil bertugas Abbad ra mendirikan shalat. Ternyata ada seorang musuh yang mengintainya. Dari jarak jauh, musuh itu membidikkan anak panahnya ke Abbad ra, namun ia masih tegak berdiri. Musuh pun melepaskan lagi anak panahnya, dan Abbad ra masih belum goyah.

Ketiga kalinya musuh melepaskan anak panahnya pada Abbad ra. Hal yang dilakukan Abbas adalah mencabut dan melemparkan setiap anak panah yang menancap di badan dengan tangannya. Ia meneruskan shalatnya, mengerjakan ruku’ dan sujud dengan tenang. Selesai shalat, Abbad baru membangunkan kawannya.

Ketika musuh melihat Abbas ra tidak sendiri, ia segera melarikan diri. Musuh yang seorang diri tidak tahu berapa banyak tentara Islam di tempat itu. Ammar ra melihat badan Abbad ra penuh darah dengan bekas tiga anak panah di tubuhnya.

Ammar ra berkata kepada saudaranya yang terluka, “Subhanallah, mengapa engkau tidak membangunkanku dari tadi?” Jawab Abbad ra, “Ketika tadi aku shalat, aku mulai membaca surat Al-Kahfi, dan hatiku enggan untuk ruku’ sebelum menyelesaikan surat ini. Namun aku merasa, aku bisa mati jika dipanah terus menerus sehingga tugas dari Rasulullah SAW untuk berjaga tidak tertunaikan.”

Abbad ra melanjutkan perkaatannya pada saudaranya, Ammar ra, “Aku mencemaskan keselamatan Nabi SAW. Jika tidak, akan kuselesaikan bacaan surat itu sebelum ruku’, walaupun aku harus mati.” (Baihaqi, Abu Dawud).

Ada perbedaan fiqhiyah mengenai darah yang mengalir dalam shalat. Imam Abu Hanifah rah.a berpendapat dapat membatalkan wudhu sedangkan menurut madzhab Ssyafi’i tidak membatalkakn. Barangkali seperti itulah pendapat para sahabat, atau hal itu belum diteliti karena Nabi SAW tidak ada di tempat kejadian, atau karena belum ada hukum terhadap hal tersebut. Wallahualam.

 

REPUBLIKA

Inti Kalimat Syahadat

Syahadat merupakan gerbang masuk seseorang ketika hendak menjadi Muslim. Dua untai kalimat bermakna “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah” tidak sesederhana yang terlihat. Kalimat ini menjadi sumpah setia seorang hamba kepada Tuhannya dan seorang pengikut kepada junjungannya. Saat sumpah itu benar-benar dihujamkan, maka empat rukun Islam yang lain – shalat, puasa, zakat, pergi haji – pun akan mudah dilakukan.

Dari segi tata bahasa, kalimat syahadat memiliki makna terdalam. Pengucapan kalimat tidak ada tuhan adalah komitmen seorang hamba untuk “mengesampingkan” apa pun. Penyembahan terhadap bumbu-bumbu dunia seperti keluarga, anak, istri, harta, dan jabatan  harus dikesampingkan pada waktu awal pengucapan. Penambahan kata “selain Allah” menjadi bukti Allah adalah satu-satunya yang patut dipertuhankan. Sementara, kalimat Rasulullah utusan Allah menjadi komitmen seorang Muslim untuk mengikuti segala sunah yang diajarkan Nabi.

Syahadat berarti ikrar (pengakuan), sumpah dan perjanjian. Pada QS al-Imran ayat 18, Allah SWT berfirman “Allah menyatakan tidak ada tuhan selain Dia; demikian pula para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” Di ayat yang lain, Allah SWT berfirman tentang status Rasulullah SAW sebagai utusan. “Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi dan pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan.”(QS al-Ahzab ayat 45).

Para pembesar Quraisy memahami betul inti kalimat syahadat. Karena itu, mereka menolak saat Rasulullah meminta mereka untuk mengucapkan Lailahaillallah Muhammad Rasulullah. Kepada para pembesar Bani Hasyim, Nabi Muhammad bersabda, “Wahai saudara-saudara, maukah kalian aku beri satu kalimat, di mana dengan kalimat itu kalian akan dapat menguasai seluruh jazirah Arab?” Kemudian Abu Jahal menjawab, “Jangankan satu kalimat, sepuluh kalimat berikan kepadaku.” Kemudian, Rasulullah pun mengatakan, “Ucapkanlah laa ilaha illa Allah dan Muhammad Rasulullah.” Abu Jahal pun menjawab, “Kalau itu yang engkau minta, berarti engkau mengumandangkan peperangan dengan semua orang Arab dan bukan Arab.”

Penolakan Abu Jahal kepada kalimat ini bukan karena dia tidak paham akan makna dari kalimat itu. Abu Jahal justru tidak mau menerima sikap yang mesti tunduk, taat, dan patuh hanya kepada Allah SWT. Jika bersikap seperti itu, Abu Jahal menyadari bahwa semua orang akan tidak tunduk lagi kepadanya. Abu Jahal ingin mendapatkan loyalitas dari kaum dan bangsanya. Jika dia mengikuti untuk bersyahadat, artinya Abu Jahal dan para pembesar itu menerima semua aturan dan segala akibatnya.

 

REPUBLIKA

Tips Rasulullah dalam Mengatasi Mimpi Buruk

BAGIAN dari kesempurnaan syariat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah mengajarkan semua hal penting dalam kehidupan manusia.

Hanya saja, ada orang yang berusaha memahaminya dan ada yang melupakannya. Seseorang akan bisa merasakan dan meyakini betapa sempurnanya Islam, ketika dia memahami aturan syariat yang demikian luas. Di saat itulah, seorang muslim akan semakin yakin dengan agamanya. Anda bisa buktikan dan mencobanya.

Diantaranya petunjuk tentang mimpi. Meskipun Islam tidak mengajarkan umatnya tentang takwil mimpi yang mereka alami, namun rambu-rambu yang diberikan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sudah sangat memadai untuk menjadi panduan dalam mensikapi mimpi. Tak terkecuali, mimpi buruk.

Ada beberapa hal yang dijelaskan dalam Islam, terkait mimpi buruk.Pertama, mimpi tidak semuanya benar. Sumber mimpi tidak selamanya datang dari Allah. Bisa juga karena bawaan perasaan atau permainan setan.

Disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Mimpi itu ada tiga macam: bisikan hati, ditakuti setan, dan kabar gembira dari Allah.”

Makna Hadis: “Bisikan hati”: terkadang seseorang memikirkan sesuatu ketika sadar. Karena terlalu serius memikirkan, sampai terbawa mimpi.

“Ditakuti setan”: mimpi yang datang dari setan. Bentuknya bisa berupa mimpi basah atau mimpi yang menakutkan.

Jenis mimpi yang ketiga adalah kabar gembira dari Allah. Mimpi ini adalah mimpi yang berisi sesuatu yang baik dan menggembirakan kaum muslimin. (Keterangan Dr. Musthafa Dhib al-Bugha, salah seorang ulama bermazhab Syafii, dalam taliq untuk Shahih Bukhari)

Kedua, mimpi buruk berasal dari setan. Dari jenis mimpi di atas, mimpi buruk termasuk salah satu permainan setan kepada bani Adam. Mereka ingin menakut-nakuti manusia. Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang kita menceritakan mimpi buruk kepada siapa pun.

Dari Jabir radhiallahu anhu, ada seorang Arab badui datang menemui Nabi kemudian bertanya, “Ya rasulullah, aku bermimpi kepalaku dipenggal lalu menggelinding kemudian aku berlari kencang mengejarnya”. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada orang tersebut, “Jangan kau ceritakan kepada orang lain ulah setan yang mempermainkan dirimu di alam mimpi”. Setelah kejadian itu, aku mendengar Nabi menyampaikan dalam salah satu khutbahnya, “Janganlah kalian menceritakan ulah setan yang mempermainkan dirinya dalam alam mimpi” (HR Muslim)

Ketiga, Yang harus dilakukan ketika mimpi buruk. Ada beberapa hal yang diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika seseorang mimpi buruk:

1. Meludah kekiri 3 kali.

2. Memohon perlindungan kepada Allah Taala dari setan 3 kali, dengan membaca

“Audzu billahi minas-syaithanir-rajiim” atau bacaan taawudz lainnya).

3. Memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpi tersebut.

4. Atau sebaiknya dia bangun kemudian melaksanakan Shalat.

5. Mengubah pisisi tidurnya dari posisi semula ia tidur, jika ia ingin melanjutkan tidurnya, walaupun ia harus memutar kesebelah kiri, hal ini sesuai zahir hadis.

6. Tidak boleh menafsir mimpi tersebut baik menafsir sendiri atau dengan meminta bantuan orang lain.

Keterangan tentang hal ini terdapat dalam beberapa hadis berikut :Dari Jabir radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Jika kalian mengalami mimpi yang dibenci (mimpi buruk) hendaklah meludah kesebelah kiri tiga kali, dan memohon perlindungan dari Allah dari godaan setan tiga kali, kemudian mengubah posisi tidurnya dari posisi semula.” (HR. Muslim)

Dalam hadis lain Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Ketika kalian mengalami mimpi buruk, hendaknya meludah ke kiri tiga kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan dan dari dampak buruk mimpi. Kemdian, jangan ceritakan mimpi itu kepada siapapun, maka mimpi itu tidak akan memberikan dampak buruk kepadanya.” (HR. Muslim)

Abu Qatadah (perawi hadis) mengatakan,

“Sesungguhnya saya pernah bermimpi yang saya rasa lebih berat dari pada gunung, setalah aku mendengar hadis ini aku tidak peduli mimpi tersebut.”

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Mimpi itu ada tiga: mimpi yang benar, mimpi bisikan perasaan, dan mimpi ditakut-takuti setan. Barangsiapa bermimpi yang tidak disukainya (mimpi buruk), hendaklah dia melaksanakan shalat.” (HR. at-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani). Allahu alam.[Ustaz Ammi Nur Baits]

 

INILAH MOZAIK

Kesempurnaan Ibadah

Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan bencana bagi hamba-Nya bukan untuk menyusahkan, membinasakan, atau menyiksanya, tetapi ialah untuk menguji tingkat kesabaran dan kekuatan ibadahnya.

Karena sesungghunya Allah mempunyai hak-yang sama atas ibadah hamba-nya. Yaitu baik dalam keadaan susah (berat) maupun dalam keadaan lapang, baik atas perkara yang dibenci maupun perkara yan disukai.

Barang siapa yang dapat beristiqamah dalam beribadah dengan dua keadaan tersebut, maka ia tergolong hamba Allah yang tidak pernah merasa takut dan bersedih. Tidak ada jalan bagi musuh untuk mencelakainya karena Allah yang akan selalu menjaganya.

Tetapi setan terkadang mampu untuk membuatnya tergelincir. Seorang hamba yang diuji dengan kelaparan, syahwat, dan kemarahan, sedangkan setan selalu datang kepada hamba lewat ketiga pintu ini.

Tetapi kebanyakan manusia beribadah hanya dengan hal yang disukainya saja. Padahal banyak sekali ibadah yang ringan yang sebenarnya mudah dilakukan.

Seperti, berwudhu dengan aiar yang dingin pada waktu cuaca panas adalah ibadah, menikah dengan seseorang yang baik adalah ibadah, berwudhu dengan air yang dingin pada cuaca dingin adalah ibadah, meninggalkan maksiat dan hawa nafsu tanpa adanya rasa takut kepada manusia adalah ibadah, dan sabar menahan lapar dan sakit adalah ibadah.

Dari semua keadaan atau ujian yang Allah berikan, barangsiapa yang dapat melaksanakan ibadah dalam kondisi tersebut, maka Allah akan memberikan kebahagaian di dunia dan di akhirat.

Dalam buku Ensiklopedia Islam Al Kamil yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At Tuwaijiri, disebutkan 3 kondisi yang membuat seorang hamba akan berbolak-balik keimanannya,

1. Ketika mendapatkan nikmat dan karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala maka dia wajib memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya.

2. Ketika melakukan perbuatan maksiat dan dosa, maka dia wajib memohon ampunan kepada Allah subhanhau wa ta’ala

3. Ketika tertimpa bencana, maka dia wajib sabar.

 

REPUBLIKA

Haji Cukup Sekali

Kisah Muwaffaq yang diceritakan oleh Ibnu Umar ihwal memilih sedekah untuk membantu yatim dan berniat pergi haji memberi hikmah, betapa sedekah bisa lebih baik dari haji dalam kondisi tertentu. Dalam Fatwa Kontemporer, Yusuf Qardhawi  menulis pintu-pintu amal sunah untuk memperoleh kebaikan itu banyak dan luas. Allah pun tak akan mempersempitnya. Meski haji dan umrah masuk dalam salah satu rukun Islam yang kelima dan ibadah dengan kandungan pahala berlipat ganda, bukan berarti tidak ada amal lain yang tak bisa kita kerjakan.

 

Karena itu, kisah Ibnu Mubarak dan Muwafaq boleh jadi menjadi hikmah bagi kita. Saat tetangga atau famili kelaparan ketika kita tidur kenyang, boleh jadi kewajiban bersedekah sudah melekat pada kita ketimbang pergi ke Tanah Suci.

“Tidaklah beriman (dengan sempurna) orang yang tidur malam dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan.” (HR Thbarani dan Abu Ya’la). “Bersedekah kepada orang miskin (yang bukan famili) bernilai sebagai satu sedekah, sedangkan bersedekah kepada famili mempunyai nilai dua, yaitu sebagai sedekah dan penyambung kekeluargaan. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Hakim).

Yusuf Qardhawi pun mengutip satu kalimat hikmah. “Orang Mukmin yang memiliki pandangan luas ialah orang yang memilih sesuatu, yang menurutnya sesuai dengan kondisi zaman dan lingkungannya.”  Fenomena yang saat ini terjadi adalah lamanya masa tunggu antrean calon jamaah haji. Untuk sampai ke Tanah Suci, ada calon jamaah yang harus menunggu hingga 10 sampai 15 tahun. Padahal, banyak di antara mereka yang sudah pernah ke Tanah Suci berkali-kali.

Pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebenarnya sudah memberi imbauan kepada umat Islam, agar menunaikan haji cukup satu kali. MUI mengeluarkan fatwa singkat tentang naik haji sekali seumur hidup dalam rapat kerja nasional tahun 1984. MUI menegaskan, kaum Muslimin Indonesia hendaknya memahami betapa luas dan kompleksnya masalah yang dihadapi Pemerintah Arab Saudi dan Indonesia, dalam menyelenggarakan pelayanan ibadah haji.

Setiap tahun, jumlah jamaah semakin bertambah, sementara lingkungan alamiah untuk pelaksanaan ibadah haji terbatas. Dalam tugas tersebut, baik Pemerintah Arab Saudi maupun Indonesia, dituntut untuk menyediakan fasilitas dan berbagai kemudahan bagi tamu-tamu Allah tersebut.

Karena alasan tersebut, MUI mengeluarkan fatwa jika ibadah haji hanya diwajibkan sekali seumur hidup meski kemampuan yang dimiliki oleh setiap Muslim berbeda-beda. Kemudian, MUI mengimbau agar jamaah yang sudah berangkat haji, tapi mampu kembali berangkat agar memberi kesempatan kepada orang lain, terutama keluarga yang belum pernah melaksanakan ibadah haji. Wallahualam.

 

REPUBLIKA

Keindahan Shalat

Semakin jauh ke dalam keadaan spiritual kita selama shalat mengharuskan kita memiliki kehadiran hati dan mengingat kata-kata yang diucapkan selama sholat.

Doa kita akan terasa lebih pendek, namun ketika kita melihat berapa banyak waktu yang kita habiskan, kita akan berpikir: “Apakah saya hanya menghabiskan waktu 10 menit? Atau bahkan 15 dan 20 menit.”
Seseorang yang mulai menerapkan ini mengatakan bahwa ia berharap sholat tidak akan pernah berakhir.

Perasaan yang Ibn al-Qayyim gambarkan sebagai “pesaing apa yang bersaing untuk … itu adalah makanan bagi jiwa dan kegembiraan mata,” dan dia juga berkata, “Jika perasaan ini meninggalkan hati, seolah-olah itu adalah tubuh tanpa jiwa. ”

Beberapa hubungan manusia dengan Allah terbatas mengikuti perintah dan meninggalkan larangan, sehingga orang tidak masuk neraka. Tentu saja, kita harus mengikuti perintah dan meninggalkan larangan, tapi perlu dilakukan lebih dari sekedar rasa takut dan harapan. Itu juga harus dilakukan karena cinta kepada Allah. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an: “… Allah akan membawa [di tempat mereka] orang-orang yang akan Dia cintai dan siapa yang akan mengasihi Dia.” (Al Qur’an, 5:54)

Kita sering menemukan bahwa ketika seorang kekasih bertemu dengan yang dicintai, hati tergerak dan ada kehangatan dalam pertemuan itu. Namun saat kita bertemu dengan Allah, bahkan tidak ada sedikit pun dari perasaan yang sama ini.

Allah berfirman di dalam Al Qur’an: “Dan di antara bangsa-bangsa ada orang-orang yang mengambil selain Allah yang sama dengan Dia. Mereka mencintai mereka karena mereka (seharusnya) mencintai Allah. Tetapi orang-orang yang beriman lebih kuat mencintai Allah. “(QS. 2: 165)

Dan orang-orang yang beriman lebih kuat mencintai Allah. Harus ada perasaan rindu, dan saat kita mengangkat tangan untuk memulai sholat, kehangatan dan cinta harus mengisi hati kita karena kita sekarang bertemu dengan Allah. Doa Nabi Muhammad (saw): “Ya Allah, aku meminta kerinduan untuk bertemu denganmu” (An-Nisa’i, Al-Hakim)

Ibn Al-Qayyim mengatakan dalam bukunya Tareeq Al-Hijratain bahwa Allah menyukai utusan-Nya dan hamba-hamba-Nya yang percaya, dan mereka mengasihi Dia dan tidak ada yang lebih mereka sayangi daripada Dia. Cinta orang tua memiliki rasa manis, seperti halnya cinta anak-anak, tapi cinta Allah jauh melampaui semua itu.

Nabi saw. Bersabda, “Setiap orang yang menggabungkan ketiga kualitas ini akan merasakan manisnya iman: 1) bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih berharga darinya daripada yang lainnya; 2) bahwa cintanya kepada orang lain murni karena Tuhan; dan 3) bahwa dia membenci kembalinya rasa tidak percaya sama seperti dia membenci untuk dilemparkan ke dalam api. “(Bukhari)

Jadi, hal pertama yang dia sebutkan adalah: “… bahwa Tuhan dan rasul-Nya lebih dicintainya daripada yang lainnya …”

Ibn Al-Qayyim mengatakan: “Karena ‘tidak ada yang seperti Dia’ (Al Qur’an, 42:11), tidak ada yang seperti mengalami cinta untuk Dia.”

Jika Anda merasakan cinta ini untuk Dia, itu akan menjadi perasaan yang begitu kuat, sangat manis, sehingga Anda berharap shalat tidak akan pernah berakhir.

Apakah Anda benar-benar ingin merasakan cinta ini? Kemudian tanyakan pada diri sendiri: ‘mengapa kamu atau haruskah kamu mencintai Allah?’

Ketahuilah bahwa Anda mencintai orang untuk satu dari tiga alasan, atau semuanya. Pertama, demi kecantikan mereka. Kedua, karena karakter mereka yang agung. Ketiga, karena mereka telah bersikap baik kepada Anda. Dan ketahuilah bahwa Allah menggabungkan ketiga hal ini secara maksimal.

 

REPUBLIKA

Agama adalah Energi

Lewat karyanya yang berjudul al-Ghirah Baina as-Syar’i wa al-Waqi’, Ibrahim hendak menegaskan hakikat perasaan cemburu itu. Menurut Islam, cemburu sama sekali bersih dan terjauh dari berahi dan nafsu duniawi.

Cemburu -dalam bahasa Arab memakai kata ghirah- yang dimaksud, ialah kala seseorang menyaksikan sendi-sendi dan ajaran agama dilecehkan dan tidak diindahkan, hatinya tergugah dan berontak. Seorang mukmin sejati akan merasa cemburu dan tak nyaman, ketika melihat larangan-larangan Allah SWT justru banyak dilanggar. Inilah hakikat cemburu,  kata Ibrahim.

Minimnya rasa cemburu itu dari seorang mukmin, menunjukkan lemahnya frekuensi iman yang dimiliki. Karena, seperti penegasan hadis riwayat Bukhari Muslim dari Abu Hurairah, sesungguhnya Allah akan ‘cemburu’, demikian pula seyogianya seorang mukmin. ‘Kecemburuan’ Allah itu, tatkala larangan-larangan-Nya diabaikan.

Rasulullah SAW, merupakan sosok mukmin yang paling memiliki rasa cemburu dalam arti syar’i. Ini ditegaskan dalam hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah. Rasul menegaskan, dirinya merupakan figur ‘pencemburu’ dalam pengertian syar’i. Dan Allah lebih ‘pencemburu’ lagi, sabda Rasul. Dan, para sahabat merupakan generasi berikutnya yang ‘mewarisi’ rasa tersebut secara kental.

Perasaan cemburu itu, sangat urgen dalam Islam. Cemburu dalam pengertian syar’i itu, mendatangkan kebaikan dan menghalangi keburukan serta mencegah keprofanan di masyarakat. Rasa ini juga akan menciptakan suasana yang kondusif dan kontrol sosial yang tinggi di masyarakat.

Nurani mana yang tega, saat maksiat bertebaran di sekitarnya. Perlu ada aksi konkret, dengan berbagai tahapannya, seperti dakwah dengan lisan, keteladanan, atau upaya persuasif lainnya. Bila perlu represif, dengan menjunjung tinggi aturan dan norma hukum yang berlaku di masyarakat.

Hal ini ditunjukkan dengan tegas oleh Abu Bakar kala memerangi orang-orang yang murtad dan menolak membayar zakat. Ketika Umar bin Khattab mencoba menenangkan sahabatnya itu, Abu Bakar marah. Hai Umar jawablah: apa kita harus bersikap keras semasa jahiliyah dan justru lembek sewaktu Islam?

Diakui, tak semua orang mempunyai rasa cemburu itu. Ada saja kelompok yang justru terjebak dalam jurang kemaksiatan. Larangan-larangan Allah tak lagi mereka indahkan. Tak ada lagi batasan halal dan haram. Dan, ini mereka jadikan sebagai jalan hidup. Merugilah mereka.

Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, ‘Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.’ Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (QS al-A’raf [7]: 28).

Faktor penyebab penyusutan atau bahkan hilangnya rasa cemburu itu, antara lain, tindakan dosa dan maksiat. Ini kaitannya dengan frekuensi keimanan seseorang yang akan menambah saat tak bermaksiat dan akan terdegradasi akibat perbuatan dosa.

Ibn al-Qayim, dalam ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ mengatakan, salah satu dampak perbuatan dosa, yakni memadamkan api kecemburuan dalam hati, padahal api tersebut merupakan senyawa penting untuk keberlangsungan hidupnya, seperti peran krusial suhu panas untuk tubuh manusia.

Suhu panas cemburu, mengeluarkan, dan mencegah tindakan dan sikap keji. Maka, penting menjaga agar suhu panas cemburu itu, tetap bertahan dalam hati. Membiarkannya padam, hanya akan mengantarkan seseorang ke arah jalan yang tak menentu. Dan sebab itu, berdoalah agar Allah SWT senantiasa melimpahkan hidayah-Nya.

 

REPUBLIKA

Jika Pernah Alami Ini, Anda Dijaga Allah Swt

Demi menghormati ajakan keluarga besarnya, setelah sebelumnya tak pernah ikuti tradisi tahunan di masyarakatnya yang jahiliyah itu, Muhammad bin Abdullah yang belum menjadi Nabi ini akhirnya keluar rumah atas ajakan keluarganya.

Mereka hendak menuju tempat pemujaan terhadap berhala. Festival tahunan. Kebiasaan jahiliyah dengan memberikan persembahan kepada berhala yang notabene benda mati, tak bisa bergerak, mustahil memberikan manfaat kepada diri apalagi orang lain.

Ketika mendekati tempat penghormatan terhadap berhala itu, tiba-tiba Muhammad menghilang. Para keluarga mencarinya. Berkali-kali. Tetapi tidak ada yang bisa menemukan Muhammad.

Singkat kisah, Muhammad bin Abdullah baru terlihat ketika acara sudah kelar. Ia muncul, seperti tiba-tiba, di tengah-tengah keluarganya dengan wajah yang menggambarkan ketakutan.

“Dari mana saja engkau? Mengapa wajahmu seperti itu? Apa yang membuatmu merasa ketakutan?”

“Setiap kali kudekati sebuah patung,” jawab Muhammad sebagaimana dikisahkan Abdul Mun’im Muhammad Umar dalam Khadijah Cinta Sejati Rasulullah yang mengutip riwayat Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat Al-Kubra, “terlihat di hadapanku sesosok lelaki berkulit putih dan berpostur tinggi,”

Lelaki yang tak dikenal oleh Muhammad itu tak hanya diam. Lelaki yang tak lain adalah malaikat itu berteriak, “Menjauhlah Muhammad! Jangan kau sentuh itu!”

Ketika masih anak-anak, Muhammad bin Abdullah juga pernah mengalami hal serupa. Saat ia diajak oleh teman-temannya untuk menghadiri acara festival musik yang mengandung nilai-nilai kesyirikan di dalamnya, Muhammad kecil tertidur hingga tak sedikit pun mendengar alunan musik jahiliyah atau pertunjukan yang jauh dari nilai-nilai Islami. Muhammad terbangun ketika pertunjukan usai, kemudian pulang ke kediamannya.

Pernahkan kita mengalami kejadian-kejadian seperti ini? Pernahkah kita diarahkah menuju kebaikan yang tak pernah direncanakan sebelumnya? Pernahkan kita terhindar dari berbagai jenis keburukan bukan atas kuasa diri kita sendiri?

Tak ada yang kebetulan. Tiada yang terjadi begitu saja. Semua atas Kuasa Allah Ta’ala. Dialah Yang Maha Berkehendak. Dialah yang Maha Mengatur. Dialah Yang Maha Menaqdirkan.

Jika pernah mengalami hal ini, yakinlah bahwa Anda dijaga oleh Allah Ta’ala.

Bersyukurlah dan jagalah diri sebaik-baiknya agar senantiasa berada di jalan kebaikan. (kl/kh)

ERA MUSLIM