Tebar Kebencian Jadi Penyebab Keras Hati

Memperkuat hubungan antar sesama manusia dengan kasih sayang perlu kita tanamkan dalam kehidupan sehari-hari di tengah memudarnya nilai-nilai toleransi. Kasih sayang dapat menciptaan kedamaian dalam menjalin suatu hubungan. Sebaliknya orang yang mempunyai sifat keras, congkak, dan angkuh akan mengakibatkan  hubungan tidak harmonis dan berjauhan, bahkan dapat jadi penyebab keras hati.

Hubungan semakin erat bilamana antar golongan saling  menghargai perbedaan, tolong-menolong dalam hal kebaikan, serta menghindari kecemburuan sosial yang berlebihan. Prof. DR. Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki  dalam karyanya Qul Hadzihi Sabilii (Juz, 1 Hlm. 97) menjabarkan bahwa termasuk sebagian dari penyebab keras hati adalah:

قلة الرحمة بالمسلمين وسوء الظن بهم

Sedikitnya rasa kasih sayang kepada sesama muslim dan berprasangka buruk kepadanya.

Termasuk akhlak tercela ialah tidak mempunyai rasa kasih sayang kepada sesama muslim, dan berprasangka buruk kepadanya. Nabi Muhammad SAW, memberi arahan kepada umatnya untuk saling simpati dan perhatian serta mempunyai rasa kasih sayang  antar sesama. Nabi Muhammad bersabda:

الراحمون يرحمهم الرحمن، ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء

Orang yang memberi kasih sayang maka dia akan mendapatkan kasih sayang Allah, sayangilah orang yang di bumi, niscaya kamu akan dikasih sayangi orang yang di langit. (HR.Bukhari)

Orang yang tidak mempunyai rasa kasih sayang kepada sesama muslim yang sedang mengalami musibah dan bencana, juga kepada orang yang lemah dan miskin, menunjukkan bahwa orang tersebut keras hatinya, lemah imannya, dan jauh dari tuhannya. Bahkan hadis di atas memerintahkan kita untuk menebar kasih sayang kepada siapa pun, dari manusia, hewan, hingga tumbuh-tumbuhan yang ada di muka bumi. (Baca: Tafsir Surat at-Taubat 128; Nabi Muhammad yang Penuh Kasih Sayang)

Hendaknya kita bersikap kasih sayang kepada sesama manusia bahkan kepada hewan sekalipun. Ketika ada rasa kasih sayang kepada sesama, maka mereka pun akan disayang oleh Allah SWT. Dalam kitab AlFathu ar-Rabbani wa al-Faidhu ar-Rahmani (Juz 1 Hlm. 70) Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani berkata: “Jika hati manusia telah baik maka hati itu akan dipenuhi perasaan kasih sayang atas yang lain”

Dan jauhilah berprasangka buruk kepada sesama muslim, karena itu perbuatan yang tercela. Nabi Muhammad SAW, bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَاِنَّ الظَّنَّ اَكْذَبُ الْحَدِيث (متفق عليه)

Jauhkanlah diri kamu daripada sangka (jahat) karena sangka (jahat) itu sedusta-dusta omongan, (HR. Bukhari dan Muslim)

Prasangka buruk bisa mendatangkan dosa walaupun prasangkaannya ternyata benar. Oleh karena itu berprasangka baiklah kepada setiap muslim karena hal itu akan mendatangkan pahala, walaupun ternyata salah prasangkaannya.

BINCANG SYARIAH

Istighfar Minta Ampunan Juga Usai Berbuat Kebaikan, Ini Penjelasannya

Istighfar atau meminta ampunan mempunyai banyak keutamaan

Kewajiban mencari pengampunan Allah SWT meski setelah menjalankan ketaatan dan bukan hanya setelah bermaksiat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala seringkali menyuruh manusia untuk beristighfar setelah selesai menunaikan kebajikan, seperti sehabis sholat.  

Dikutip dari buku Jangan Takut Hadapi Hidup karya Dr Aidh Abdullah Al-Qarny, Dalam hadits yang diriwayatkan Tsauban, dan tercantum dalam Shahih Muslim, setiap kali Rasulullah ﷺ usai shalat, beliau mengucapkan, “Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah.” 

Di akhir hayat Rasulullah ﷺ, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan surat An Nashr:   

إِذَا جَآءَ نَصْرُ ٱللَّهِ وَٱلْفَتْحُ. وَرَأَيْتَ ٱلنَّاسَ يَدْخُلُونَ فِى دِينِ ٱللَّهِ أَفْوَاجً. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَٱسْتَغْفِرْهُۚ إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابًۢا

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan memohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS An Nashr ayat 1-3)  

Allah Subhanahu wa Ta’ala seakan menyuruh Rasulullah Muhammad ﷺ menutup hidupnya dengan mengucapkan istighfar kepada-Nya.  

Ibnu Taimiyyah berkata, “Rahasia di balik perintah untuk beristighfar ketika usai melakukan amal saleh adalah, bahwa amalan kita tidak bisa lepas dari kekurangan, dan terkadang kita terlalu mengagumi apa yang telah kita lakukan, seakan-akan kita berkata, “Aku telah melaksanakan amal shalih, jadi mengapa aku harus beristighfar?”  

Waktu sahur adalah waktu para ulama sedang giat melaksanakan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Mengapa meminta pengampunan setelah setiap sholat? Penasihat Ilmiah Mufti Agung dan anggota Fatwa Dar Al Iftaa Mesir, Syekh Dr Magdi Ashour mengatakan, memohon ampunan adalah ibadah yang tidak terbatas pada orang-orang yang bermaksiat saja, tetapi juga sangat baik dilakukan orang-orang yang taat.  Nabi sendiri memberi contoh untuk terus-menerus mencari pengampunan usai sholat. 

Contoh ini juga untuk mendorong Umat Islam untuk mencari pengampunan setelah sholat untuk menebus dosa-dosa yang dilakukan. 

Dia menambahkan, seorang Muslim mungkin lalai dalam sholatnya dengan tidak khusyuk dan fokus saat menjalaninya karena memikirkan hal-hal duniawi. 

Oleh karena itu, taubat setelah setiap sholat menjadi wajib untuk menebus dosa yang dilakukannya dalam sholat. 

Syekh Asyur juga menekankan bahwa mencari pengampunan adalah penting setelah setiap ibadah, bukan hanya saat sholat saja. Allah SWT berfirman: 

ثُمَّ أَفِيضُوا۟ مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ ٱلنَّاسُ وَٱسْتَغْفِرُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ  “Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS Al Baqarah 199).    

KHAZANAH REPUBLIKA

Cara Perlakukan Alquran yang Rusak dengan Benar

Pusat Darul Kalam Quran menyediakan jasa pembuangan Alquran dan buku-buku agama yang rusak akibat banjir bandang atau lumpur.  Dibanding membuangnya langsung ke tempat sampah, pusat ini menyediakan prosedur pembuangan yang benar dan terhormat untuk menjaga kesucian ayat-ayat Alquran. 

Setiap halaman akan dikeringkan di atas meja atau digantung menggunakan jepitan di bawah kanopi oleh para sukarelawan pusat yang dikelola  Departemen Agama Islam Wilayah Federal (JAWI) ini. Halaman-halaman tersebut kemudian akan dibakar menjadi abu sebelum dimasukkan ke dalam sumur di belakang Darul Kalam atau dibuang ke laut.

“Pembuangan Alquran yang rusak adalah salah satu hal yang paling menyedihkan, kita tidak bisa sembarangan membuang kitab suci,” kata Abdul Mu’az Jabai yang dikutip Republika.co.id, Kamis (13/1). 

“Jadi, cara terbaik untuk membuangnya adalah dengan mengeringkan halaman sebelum membakar sekitar 10 kg salinan (untuk setiap sesi) dalam tungku menjadi abu. Setiap sesi akan memakan waktu sekitar dua jam,” jelas salah satu dari 40 relawan di Darul Kalam itu.  

Senior Assistant Director JAWI Research Division Anisah Musa mengatakan, salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah memisahkan Alquran dan buku agama yang basah dan menempel satu sama lain, atau dengan buku-buku lain. 

“Sebelumnya abu Al-Qur’an ditempatkan di sumur Darul Kalam, namun karena banyaknya Al-Qur’an yang terkena banjir dan terbatasnya ruang, kami memutuskan untuk membuang abunya ke laut,” kata dia, sekaligus menghimbau kepada masyarakat untuk mengikuti cara yang benar sebelum membuang Alquran yang rusak sendiri.

Direktur JAWI Datuk Mohd Ajib Ismail, mengatakan sejauh ini, pusat ini telah menerima sekitar 25,28 metrik ton Alquran rusak, berasal dari individu, sekolah, dan Perusahaan Pengelolaan Limbah Padat dan Pembersihan Umum (SWCorp).

“Insya Allah, JAWI akan melakukan kampanye donasi atau inisiatif wakaf al-Quran bekerja sama dengan masjid dan suriah di Wilayah Persekutuan untuk disumbangkan kepada masing-masing pihak yang terkena dampak banjir,” katanya.

IHRAM

Alquran Ungkap Dampak Terlalu Cinta Dunia

Alquran menerangkan bahwa orang-orang yang tidak percaya adanya kehidupan setelah kematian atau kehidupan akhirat, karena mereka terlalu mencintai dunia. Mereka juga mengabaikan ayat-ayat Alquran karena terlalu mencintai dunia. Hal ini dijelaskan dalam Surah Yunus Ayat 7-8 dan tafsirnya.

اِنَّ الَّذِيْنَ لَا يَرْجُوْنَ لِقَاۤءَنَا وَرَضُوْا بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَاطْمَـَٔنُّوْا بِهَا وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنْ اٰيٰتِنَا غٰفِلُوْنَۙ

اُولٰۤىِٕكَ مَأْوٰىهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan) itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya di neraka, karena apa yang telah mereka lakukan. (QS Yunus: 7-8).

Menurut Tafsir Kementerian Agama, ayat-ayat ini menerangkan bahwa alasan orang-orang yang tidak meyakini akan adanya pertemuan dengan Allah di akhirat nanti, di mana semua amal perbuatan akan ditimbang dengan adil, karena mereka lebih mencintai kehidupan dunia. Mereka rela menukar kesenangan hidup di akhirat dengan kesenangan hidup di dunia yang fana ini.

Hal itu juga karena mereka terpengaruh oleh kelezatan duniawi, demikian pula orang-orang yang lalai dan tidak mengindahkan ayat-ayat Alquran, serta tidak mau mempelajari, memahami dan mengamalkannya, maka tempat mereka kelak adalah neraka Jahannam. Balasan azab yang demikian itu adalah karena dosa-dosa yang mereka kerjakan selama hidup di dunia, dan balasan itu setimpal dengan perbuatan mereka.

Dalam ayat ini disebutkan dua macam sikap dan perbuatan manusia yang menyebabkan mereka masuk neraka. Yaitu, pertama tidak percaya akan adanya hidup sesudah mati nanti, karena telah terpengaruh oleh kesenangan duniawi. Kedua, tidak mengindahkan ayat-ayat Alquran.

Tidak percaya adanya hidup sesudah mati, untuk menemui Allah, berarti tidak percaya akan keadilan Allah, dan kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya. Orang-orang yang demikian biasanya adalah orang-orang yang mengira bahwa segala sesuatu yang telah didapatnya itu adalah semata-mata atas usahanya sendiri, bukanlah sebagai rahmat dan karunia dari Tuhan.

Seakan-akan manusia (dirinya sendiri) yang menentukan segala sesuatu. Sifat-sifat yang demikian dapat menjurus pada kepercayaan atheisme yang berpendapat bahwa Tuhan itu tidak ada, hanya manusia sendirilah yang mengadakan segala sesuatu. Hal ini sangat bertentangan dengan pokok utama akidah Islamiyah.

Jika tidak mengindahkan ayat-ayat Alquran berarti tidak percaya bahwa Alquran sebagai kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, Nabi yang terakhir. Artinya tidak percaya bahwa kitab itu dapat menjadi pedoman bagi manusia dalam melayarkan bahtera hidup di dunia untuk mencapai kehidupan abadi di akhirat nanti 

Kepercayaan kepada adanya hidup sesudah mati, dan Alquran itu Kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah pokok utama ajaran Islam. Mengingkari kedua ajaran pokok itu berarti mengingkari ajaran Islam. Itulah sebabnya Allah mengancam dengan sangsi yang berat berupa azab neraka Jahannam terhadap orang-orang yang mengingkari-Nya.

IHRAM

Fikih Nikah (Bag. 1)

KEDUDUKAN PERNIKAHAN DI DALAM ISLAM, PENGERTIAN, DAN RUKUNNYA.

Salah satu ujian yang Allah berikan untuk mereka yang hidup di akhir zaman adalah tersebarnya fitnah syahwat, di mana manusia begitu mudahnya mengumbar aurat, baik itu berpakaian minim ataupun berpakaia namun membentuk lekuk tubuh. Belum lagi betapa mudahnya kita menemukan dan mendapati foto maupun video yang menampilkan hal-hal yang tidak pantas untuk kita lihat. Ini semua sejalan dengan hadis nabi shalallahu ‘alaihi wasallam,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Dua (jenis manusia) dari ahli neraka yang aku belum melihatnya sekarang, yaitu: kaum yang membawa cemeti-cemeti seperti ekor sapi yang mereka memukul manusia dengannya dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang yang berjalan berlenggak lenggok yang kepala mereka seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga bahkan tidak akan mendapat wanginya padahal sesungguhnya wangi surga itu telah tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Harus kita ketahui, tidaklah Allah Ta’ala menurunkan cobaan dan fitnah, kecuali pasti Allah Ta’ala menurunkan penangkalnya serta memberikan penggantinya. Fitnah syahwat ini sudah Allah Ta’ala takdirkan terjadi di zaman kita, namun tentu saja Allah sudah memberikan solusinya. Apa itu?

Menikah. Rasulullah sangat menganjurkan umatnya untuk menikah terutama untuk para pemudanya,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah. Karena sesunguhnya nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa. Karena sesungguhnya puasa itu dapat membentengi dirinya.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan lainnya)

Pernikahan merupakan salah satu kenikmatan terbesar yang Allah Ta’ala berikan kepada kita serta merupakan salah satu ibadah yang paling agung. Dengannya kita akan meraih ketenangan hati, ketentraman jiwa, serta menjaga kehormatan diri kita. Allah Ta’ala berfirman,

ومِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum:21)

Yang tak kalah penting, pernikahan merupakan pintu untuk kebaikan-kebakaran lainnya. Salah satunya adalah ia merupakan wasilah keselamatan dan ladang pahala jika kita sudah meninggal dunia. Bagaimana bisa? Ya, ketika dengan pernikahan ini kita dikaruniai anak-anak saleh yang selalu mendoakan kita, dan memintakan ampunan untuk kita kelak ketika kita meninggal di mana diri kita sudah tidak mampu melakukan semua hal. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya, kecuali 3 (perkara), yaitu : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Definisi Pernikahan dan Hukumnya di dalam Islam

Kata pernikahan berasal dari bahasa Arab, yaitu ‘An-nikah’ yang memiliki beberapa makna. Menurut bahasa, kata nikah berarti berkumpul, bersatu, dan berhubungan. Sedangkan menurut istilah fikih sebagaimana yang tertera di dalam kitab-kitab fikih-fikih mazhab Syafi’i, pernikahan adalah “akad yang membolehkan hubungan seksual dengan lafaz nikah, tazwij, atau lafadz lain dengan makna serupa”.

Sedangkan hukum pernikahan, maka itu tergantung berdasarkan kondisi yang terjadi pada kedua calon pasangan pengantin. Hukum pernikahan dalam Islam dibagi ke dalam beberapa jenis, yakni:

  • Wajib, jika baik pihak laki-laki dan perempuan sudah memasuki usia wajib nikah, tidak ada halangan, mampu membayar mahar dan menafkahi, serta ia yakin akan terjatuh ke dalam zina jika tidak menikah dan itu tidak bisa dibendung walau dengan berpuasa. Kita ketahui bersama bahwa seorang muslim dituntut dan diwajibkan untuk menjaga kesucian dan kehormatan dirinya dari terjatuh kepada hal-hal yang Allah Ta’ala haramkan, sedangkan ada kaidah yang berbunyi “sesuatu yang menjadi syarat bagi sebuah kewajiban, maka hukumnya juga menjadi wajib”. Sehingga, menikah pun dihukumi wajib karena kita tidak dapat terhindar dari perbuatan haram, kecuali dengan melaksanakannya.
  • Sunah. Menurut pendapat para ulama, sunah adalah kondisi di mana seseorang memiliki kemauan dan kemampuan untuk menikah, namun belum juga melaksanakannya. Orang ini juga masih dalam kondisi terhindar atau terlindung dari perbuatan zina. Sehingga, meskipun belum menikah, tidak khawatir terjadi zina.
  • Haram, ketika pernikahan dilaksanakan saat seseorang tidak memiliki keinginan dan kemampuan untuk menikah, namun dipaksakan. Nantinya dalam menjalani kehidupan rumah tangga, dikhawatirkan istri dan anaknya ditelantarkan.
  • Makruh, apabila seseorang memiliki kemampuan untuk menahan diri dari perbuatan zina. Akan tetapi, belum berkeinginan untuk melaksanakan pernikahan dan memenuhi kewajiban sebagai suami.
  • Mubah, jika pernikahan dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan dan keinginan. Akan tetapi, jika tidak menikah pun dia bisa menahan diri dari zina. Jika pernikahan dilakukan, orang tersebut juga tidak akan menelantarkan istrinya.

Rukun Nikah dan Syarat-Syaratnya

Sebagaimana akad dan ibadah lainnya, agar menjadi akad yang sah dan diterima tentu harus memenuhi rukun dan syaratnya. Rukun nikah adalah semua perkara yang wajib dilaksanakan untuk menentukan sah atau tidaknya sebuah pernikahan. Rukun pernikahan dalam Islam ada 5 hal, yaitu:

  1. Calon Pengantin Pria, yang memiliki persyaratan seperti: beragama islam, tidak sedang dalam keadaan ihram, berdasarkan keinginannya sendiri dan bukan paksaan, identitas jelas, mengetahui nama calon istrinya ataupun sosoknya ataupun sifatnya, mengetahui dengan jelas bahwa calonnya bukan dari kategori perempuan yang haram untuk dinikahi (misalnya adanya pertalian darah ataupun saudara sepersusuan), serta jelas kelaminnya bahwa ia laki-laki (tidak memiliki kelainan kelamin).
  2. Calon Pengantin Perempuan, yang memenuhi persyaratan seperti tidak sedang dalam keadaan ihram, identitas jelas, berstatus single (tidak dalam status menikah dengan orang lain), dan tidak sedang dalam masa iddah dari pernikahannya dengan orang lain.
  3. Wali, rukun ini disebutkan di dalam hadis sahih:

لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْنِ

“Tidak (sah) nikah, kecuali dengan kehadiran wali dan dua orang saksi.” (HR. Thabrani. Hadis ini juga terdapat dalam kitab Shahih Al-Jami’, no. 7558)

Sedangkan syarat-syaratnya adalah: berdasarkan keinginannya sendiri, merdeka (bukan budak), laki-laki, dewasa (sudah balig), tidak disifati dengan kefasikan, tidak mengalami gangguan akal baik itu karena tua (pikun) ataupun karena gila, tidak bodoh dan dungu, dan tidak dalam kondisi ihram. Wali seorang perempuan adalah ayahnya ataupun pewaris laki-laki (asobah) untuk seorang perempuan.

  1. 2 Orang saksi, di mana saksi ini nantinya yang akan menentukan apakah pernikahan sah ataukah tidak. Sedangkan syaratnya: kompeten di bidang persaksian, dan ia tidak ditunjuk sebagai wali nikah (tidak bisa dirangkap pada diri seseorang, dia menjadi wali sekaligus saksi).
  2. Ijab dan Qabul, yaitu akad yang dilakukan calon pengantin pria dan wali dalam prosesi pernikahan. Syarat-syaratnya adalah: menggunakan kata-kata zawwajtuka atau ankahtuka ataupun yang terbentuk dari keduanya maupun terjemahnya ke bahasa lain, membaca ijab dan qabul dengan jelas dan lantang, tidak ada jeda antara keduanya, secara kontan (tanpa syarat apapun dan untuk saat itu juga tidak terikat dengan waktu).

Bersambung.

Sumber: Kitab Al-Yaquut An-Nafiis Fii Mazhab Ibn Idris karya Syekh Ahmad bin Umar As-Syatiri dengan beberapa penyesuaian.

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Sumber: https://muslim.or.id/71772-fikih-nikah-bag-1.html

3 Tingkatan Kualitas Agama Seorang

Bismillahirrahmanirrahim. Di dalam Al-Quran dijelaskan bahwa ada tiga tingkat kualitas agama seseorang. Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ وَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٞ وَمِنۡهُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٰتِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Hal demikian itu adalah karunia yang besar.” (QS. Fathir: 32).

Mari kita urutkan dari tingkatan kualitas agama yang paling baik, sebagai berikut:

1. sabiqun bil khoirot (orang yang bersegera melakukan kebaikan);

2. muqtashid (orang yang pertengahan);

3. dzolimun linafsih (orang yang zalim kepada diri sendiri).

Siapakah mereka? Berikut ini penjelasannya.

Tiga tingkatan kualitas agama seseorang

Pengertian sabiqun bil khoirot

وهم الذين أدوا الواجبات، ومع ذلك عندهم نشاط ففعلوا المستحبات والنوافل، وتركوا المحرمات، وتركوا المكروهات كراهة تنزيه، وتركوا فضول المباحات خشية الوقوع في المحرمات،

“Mereka adalah orang-orang yang menjalankan kewajiban-kewajiban agama. Bersamaan dengan hal itu, mereka juga semangat mengerjakan ibadah-ibadah yang sunah. Mereka tinggalkan segala yang haram dan makruh. Mereka tinggalkan juga perkara mubah yang berlebihan karena khawatir terjatuh kepada perkara yang haram.”

Pengertian muqtashid

وهو المؤمن المطيع الذي أدى الواجبات وترك المحرمات، لكن ليس عنده نشاط في فعل المستحبات والنوافل، وليس عنده نشاط في ترك المكروهات كراهة تنزيه وفضول المباحات، بل قد يتوسع في المباحات وقد يفعل المكروهات

“Dia adalah orang beriman yang taat; yang menunaikan kewajiban agama dan meninggalkan yang haram. Namun, dia tidak memiliki semangat dalam mengerjakan ibadah-ibadah yang sunah dan tidak semangat dalam meninggalkan perkara-perkara makruh. Bahkan terlalu longgar dalam perkara mubah atau terkadang melakukan perbuatan makruh.”

Pengertian dzolimun linafsih

وهو المؤمن العاصي الذي أخل ببعض الواجبات أو فعل بعض المحرمات

“Dia adalah orang beriman, namun masih gemar bermaksiat, baik berupa melanggar sebagian kewajiban agama atau melakukan ha-hal yang dilarang.”

Baca Juga: Bersemangatlah dalam Hal yang Bermanfaat

Oleh karena itu, yang paling tinggi derajatnya adalah kelompok sabiqun bil khoirot. Mereka menggabungkan antara perintah mengerjakan yang wajib dan sunah, dan perintah meninggalkan yang haram dan makruh. Kemudian yang paling rendah adalah kelompok dzolimun linafsih, yang merupakan kebalikan dari sabiqun bil khoirotDzolimun linafsih adalah orang-orang yang teledor dalam mengerjakan perintah. Amalannya tidak sempurna dalam menunaikan kewajiban dan meninggalkan larangan. Sehingga mereka bermudahan-mudah dalam melakukan maksiat.

Ketiganya tergolong orang yang beriman, hanya tingkatannya saja yang berbeda

Terlepas dari tiga tingkatan di atas, ketiga kelompok ini adalah orang-orang beriman. Mereka hanya berbeda pada tingkat keimanan. Dalil yang menunjukkan bahwa mereka masih tergolong orang yang beriman, meski berada pada level yang bawah (dzolimun linafsih), adalah firman Allah Ta’ala pada awal ayat,

ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami” (QS. Fathir: 32).

Hal yang bisa disimpulkan dari ayat di atas, yakni:

1. Allah tidak mungkin mewariskan kitab-Nya kecuali kepda orang-orang beriman.

2. Allah menyebut mereka sebagai “hamba-hamba Kami”. Hamba Allah tentu saja orang beriman.

Bagaimana bisa orang yang maksiat dan teledor melakukan kewajiban (dzolimun linafsih) masih disebut mukmin?

Jawabannya adalah karena meski meraka maksiat, mereka selamat dari kesyirikan. Mereka tetap mentauhidkan Allah Ta’ala dan ikhlas dalam beribadah kepada-Nya.

Ketiga tingkatan ini sama dengan tingkatan agama yang disebutkan di dalam hadis Jibril. Hadis panjang yang bercerita tentang pertanyaan dan jawaban Jibril kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tentang Islam, iman, dan ihsan.

Sebagaimana keterangan dari Syekh Abdul Aziz Al-Rajhi hafizhahullah,

وهؤلاء الثلاثة ينطبقون على الطبقات الثلاث المذكورة في حديث جبريل عليه الصلاة والسلام: الإسلام، والإيمان، والإحسان،

“Ketiga tingkatan tersebut, sesuai dengan tiga tingkatan agama seorang yang disebut di dalam hadis Jibril ‘alaihis sholaah wasallam, yakni Islam, kemudian iman, dan kemudian ihsan.”

Wallahu a’lam bis showab.

***

Penulis: Ahmad Anshori

Artikel: Muslim.or.id

Referensi :

Transkrip rekaman syarah kitab Al-Iman Al-Ausath karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, oleh Syekh Abdul Aziz Al-Rajhi, (https://al-maktaba.org/book/32154/240).

Sumber: https://muslim.or.id/71754-tiga-tingkat-kualitas-agama-seorang.html

Penjelasan Hadis Tanduk Setan dari Timur

Hadis yang menyebutkan akan adanya fitnah (kerusakan dan kesesatan) di tengah kaum muslimin, di antaranya menyebutkan bahwa fitnah akan datang dari timur tempat munculnya dua tanduk setan. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu,

قالَ وَهو مُسْتَقْبِلُ المَشْرِقِ: هَا إنَّ الفِتْنَةَ هَاهُنَا، هَا إنَّ الفِتْنَةَ هَاهُنَا، هَا إنَّ الفِتْنَةَ هَاهُنَا، مِن حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

“Nabi bersabda dalam keadaan menghadap ke arah timur, ‘Sesungguhnya fitnah (kesesatan) itu datang dari sana. Sesungguhnya fitnah itu datang dari sana. Sesungguhnya fitnah itu datang dari sana. Dari sanalah akan muncul dua tanduk setan.”[1]

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وفِي يَمَنِنَا . قَالُوا : وَفِي نَجْدِنَا ؟ قَالَ : اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وفِي يَمَنِنَا . قَالُوا : وَفِي نَجْدِنَا ؟ قَالَ : هُنَاكَ الزَّلاَزِلُ وَالْفِتَنُ ، وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

“Ya Allah berkahilah kami pada penduduk Syam kami dan pada penduduk Yaman kami.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana dengan Nejed wahai Rasulullah?” Nabi bersabda, “Ya Allah berkahilah kami pada penduduk Syam kami dan pada penduduk Yaman kami.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana dengan Nejed wahai Rasulullah?” Nabi bersabda, “Di sana akan muncul banyak keguncangan dan fitnah. Di sana pula akan muncul tanduk setan.”[2]

Baca Juga:

Penjelasan hadis

Hadis ini sering dijadikan senjata untuk menyerang para ulama dan dai yang mendakwahkan tauhid dan sunah Nabi. Di antaranya Syekh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah. Sebagian orang menisbatkan julukan “dua tanduk setan” kepada beliau, Allahul musta’an! Dengan alasan, karena beliau berasal dari Nejed yang berada di bagian timur Jazirah Arab.

Ini adalah pemahaman yang keliru dalam memahami hadis-hadis di atas. Kita jelaskan dalam beberapa poin:

Pertama, hadis-hadis di atas tidaklah memuji semua penduduk Syam atau Yaman secara keseluruhan. Karena tentu saja penduduk Syam dan Yaman itu bermacam-macam. Ada yang saleh dan ada yang tidak saleh. Sebagaimana perkataan Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu yang masyhur,

إن الأرض لا تقدس أحدا ، وإنما يُقدِّسُ الإنسانَ عملُهُ

“Sesungguhnya suatu negeri (yang suci) tidak membuat penduduknya menjadi suci, namun yang membuat penduduknya menjadi suci adalah amalan mereka sendiri.”[3]

Maka, dengan pola pikir yang sama pula, bukan berarti penduduk yang ada di Nejed semuanya tercela dan semuanya pembuat fitnah. Hadis ini sama sekali tidak menunjukkan demikian. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya mengabarkan bahwa akan terjadi fitnah (kekacauan) dari Nejed. Dan seseorang yang dikatakan sesat atau menyimpang bukan karena ia berasal dari Nejed atau tempat lainnya, namun karena keyakinan dan amalan menyimpang yang ia miliki bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Kedua, hadis di atas perlu dipahami dengan pemahaman salaf. Karena para salaf tentu lebih memahami apa yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Putra dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, yaitu Salim bin Abdullah bin Umar, beliau berkata,

يا أهل العراق ! ما أسألكم عن الصغيرة وأركبكم للكبيرة ! سمعت أبي عبدالله بن عمر يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : إن الفتنة تجيء من ههنا ، وأومأ بيده نحو المشرق ، من حيث يطلع قرنا الشيطان

“Wahai penduduk Irak! Sungguh seringnya kalian bertanya tentang masalah-masalah sepele, dan sungguh beraninya kalian menerjang dosa-dosa besar! Padahal aku telah mendengar dari ayahku, yaitu Abdullah bin Umar, bahwa beliau mengatakan, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya fitnah datangnya dari arah sini, beliau sambil mengarahkan tangannya ke arah timur. Dari sanalah muncul dua tanduk setan.””[4]

Perhatikan, Salim bin Abdullah bin Umar rahimahullah memahami bahwa yang dimaksud dengan Nejed dan negeri timur adalah Irak.

Ini juga sesuai dengan apa yang terdapat dalam riwayat lain dari hadis di atas. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا , اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي يَمَنِنَا , فَقَالَهَا مِرَارًا , فَلَمَّا كَانَ فِي الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ , قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفِي عِرَاقِنَا , قَالَ :  إِنَّ بِهَا الزَّلازِلَ , وَالْفِتَنَ , وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

“Ya Allah berkahilah kami pada penduduk Syam kami. Ya Allah berkahilah kami pada penduduk Yaman kami.” Beliau mengulanginya beberapa kali. Pada kali ketiga atau keempatnya, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan Irak?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah. Dan di sana pula muncul tanduk setan.”[5]

Ketiga, para ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan Nejed dalam hadis tersebut adalah Irak dan semua daerah dataran tinggi di sebelah timur Madinah. Mereka juga menjelaskan bahwa yang dimaksud “fitnah” yang muncul dari timur dan Nejed adalah kekufuran, kebid’ahan, dan kesesatan.

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah menjelaskan,

كان أهل المشرق يومئذ أهل كفر ، فأخبر صلى الله عليه وسلم أن الفتنة تكون من تلك الناحية ، فكان كما أخبر ، وأول الفتن كان من قبل المشرق ، فكان ذلك سببا للفرقة بين المسلمين ، وذلك مما يحبه الشيطان ويفرح به ، وكذلك البدع نشأت من تلك الجهة .

“Penduduk negeri timur ketika itu adalah orang-orang kafir. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa fitnah (kesesatan) datang dari arah tersebut. Dan memang realitanya sebagaimana yang beliau kabarkan. Fitnah yang terjadi pertama kali datang dari arah timur. Dan itulah yang menjadi sebab pertikaian di tengah kaum muslimin dan dicintai oleh setan dan ia bergembira dengannya. Demikian juga kebid’ahan muncul dari arah tersebut.”

وقال الخطابي : ( نجد ) من جهة المشرق ، ومَن كان بالمدينة كان نَجدُهُ باديةَ العراق ونواحيها ، وهي مشرق أهل المدينة ، وأصل النجد ما ارتفع من الأرض ، وهو خلاف الغور فإنه ما انخفض منها ، وتهامة كلها من الغور ومكة من تهامة . انتهى كلام الخطابي .

Al-Khathabi mengatakan, “Nejed adalah semua yang ada di arah timur. Dan Nejednya penduduk Madinah adalah Irak dan yang searah dengannya. Karena ia ada di arah timur Madinah. Dan makna “Nejed” adalah semua dataran yang tinggi. Dan Nejed adalah lawan kata ghaur (lembah) yang artinya sesuatu yang rendah. Sehingga Tihamah semuanya adalah lembah dan Makkah termasuk dalam Tihamah.” Sampai sini perkataan Al-Khathabi.

وعُرف بهذا وهاء ما قاله الداودي : أن ( نجدا ) من ناحية العراق ، فإنه توهم أن نجدا موضع مخصوص ، وليس كذلك ، بل كل شيء ارتفع بالنسبة إلى ما يليه يسمى المرتفع نجدا ، والمنخفض غورا

“Dari sini diketahui kekeliruan pendapat dari Ad-Dawudi yang mengatakan bahwa Nejed adalah nama suatu daerah tertentu. Ini tidak benar. Bahkan semua dataran yang tinggi disebut Nejed. Sedangkan yang melandai disebut ghaur[6]

Penjelasan Ibnu Hajar ini sudah cukup jelas dan gamblang walhamdulillah.

Keempat, menafsirkan “dari sanalah muncul dua tanduk setan” dalam hadis bahwa itu adalah person tertentu, ini adalah gagal paham. Karena yang dimaksud dengan “dari sanalah muncul dua tanduk setan” adalah “di sanalah terbitnya matahari“. Dan memang matahari terbit dari timur. Sebagaimana ini dengan jelas disebutkan dalam hadis Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا طَلَعَ حَاجِبُ الشَّمْسِ فَدَعُوا الصَّلَاةَ حتَّى تَبْرُزَ، وإذَا غَابَ حَاجِبُ الشَّمْسِ فَدَعُوا الصَّلَاةَ حتَّى تَغِيبَ، ولَا تَحَيَّنُوا بصَلَاتِكُمْ طُلُوعَ الشَّمْسِ ولَا غُرُوبَهَا؛ فإنَّهَا تَطْلُعُ بيْنَ قَرْنَيْ شَيطَانٍ

“Jika hajib (bagian awal) dari matahari telah muncul, maka janganlah salat sampai matahari terlihat. Dan jika hajib (bagian akhir) dari matahari mulai tenggelam, maka janganlah salat hingga ia tenggelam sepenuhnya. Dan janganlah salat di sekitar waktu tersebut, karena ia (matahari) terbit di antara dua tanduk setan.”[7]

Dalam riwayat Ahmad,

فإذا طلَعَتْ فلا تُصَلِّ حتى تَرتفِعَ؛ فإنَّها تَطلُعُ حين تَطلُعُ بيْن قَرْنَيْ شَيطانٍ، وحينَئذٍ يَسجُدُ لها الكفَّارُ … فإذا صَلَّيْتَ العصرَ فأَقْصِرْ عنِ الصلاةِ حتى تَغرُبَ الشمسُ؛ فإنَّها تَغرُبُ بيْن قَرْنَيْ شَيطانٍ، فحينَئذٍ يَسجُدُ لها الكفَّارُ

“Jika matahari mulai terbit, maka janganlah salat sampai ia meninggi. Karena ia terbit di antara dua tanduk setan. Dan ketika itu orang-orang kafir bersujud (beribadah) … dan ketika sudah selesai salat asar, janganlah salat sampai matahari tenggelam. Karena ia tenggelam di antara dua tanduk setan. Dan ketika itu orang-orang kafir bersujud (beribadah).”[8]

Adapun apa yang dimaksud “tanduk setan” itu sendiri? Apakah tanduk setan betulan atau apa maksudnya? Ini dijelaskan oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari,

وأما قوله: قرن الشمس فقال الداودي : للشمس قرن حقيقة ، ويحتمل أن يريد بالقرن قوة الشيطان ، وما يستعين به على الإضلال ، وهذا أوجه ، وقيل إن الشيطان يقرن رأسه بالشمس عند طلوعها ليقع سجود عبدتها له ، قيل : ويحتمل أن يكون للشمس شيطان تطلع الشمس بين قرنيه .

“Adapun perkataan “tanduk setan” ini ditafsirkan oleh Ad-Dawudi bahwa maksudnya adalah tanduk setan secara hakiki. Dan dimungkinkan maknanya adalah kekuatan setan dan sarana-sarana setan untuk menyesatkan manusia. Ini penafsiran yang lebih bagus. Dan pendapat lain bahwa maknanya adalah setan menggabungkan kepalanya dengan matahari ketika ia terbit, agar orang-orang sujud kepadanya. Pendapat lain bahwa di matahari ada setan yang ketika matahari terbit maka ia terbit di antara dua tanduk setan.”[9]

Sehingga, semua penafsiran “tanduk setan” ini merujuk kepada tanduk setan yang hakiki atau sifat-sifat yang termasuk perbuatan setan dalam menyesatkan manusia. Sehingga tidak benar jika “tanduk setan” ini ditafsirkan sebagai individu-individu tertentu dengan mengatakan si Fulan adalah tanduk setan, si Alan adalah tanduk setan.

Kelima, andaikan Nejed adalah nama negeri tertentu sebagaimana yang mereka klaim -padahal tidak demikian-, maka apa dasarnya memastikan bahwa fitnah dan tanduk setan yang dimaksud hadis adalah Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama Nejed? Mana dalil yang menunjukkan hal ini? Lalu, bagaimana mengetahui mana penduduk Nejed yang demikian dan mana yang bukan? Apakah patokannya hanya perasaan dan sentimen tertentu? Allahul musta’an wa ‘alaihi at-tuklan!

Dan telah dijelaskan bahwa fitnah yang datang dari Nejed atau negeri timur yang disebutkan dalam hadis maksudnya adalah kekufuran, kebid’ahan, dan kesesatan. Lalu, apa  kekufuran, kebid’ahan dan kesesatan yang dibawa oleh  Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama Nejed sehingga mereka dituduhkan sebagai biang fitnah? Padahal realitanya mereka mendakwahkan umat kepada Al-Qur’an, sunah dengan pemahaman salafus shalih terutama dalam bab akidah. Justru mereka memberantas kesyirikan dan kebid’ahan dengan ilmu bukan hawa nafsu.

Keenam, taruhlah bahwa fitnah dan tanduk setan adalah Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama Nejed. Maka Ahlussunnah tidak pernah menjadikan mereka sebagai patokan kebenaran serta tidak pernah mendakwahkan umat untuk berfanatik buta kepada mereka. Yang menjadi patokan kebenaran adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Andaikan  Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka kita tinggalkan pendapat beliau.

Di antara buktinya adalah para ulama Ahlussunnah mereka men-takhrij hadis-hadis dalam Kitabut Tauhid karya Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab. Contohnya kitab “Ad-Durr An-Nadhid fi Takhrij Kitaabit Tauhid” karya Syekh Shalih bin Abdillah Al-Ushaimi hafizhahullah dan kitab “Takhrij Ahadits Muntaqadah fi Kitabit Tauhid” karya Syekh Furaih bin Shalih Al-Bahlal, diberi taqdim (kata pengantar) oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Dan mereka menjelaskan beberapa hadis dha’if yang ada dalam Kitabut Tauhid. Tidak dibela mati-matian ketika yang menulis adalah  Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab. Ini bukti kecil bahwa Ahlussunnah tidak pernah mengajak untuk taklid buta kepada beliau.

Sehingga, jelaslah kerancuan pemahaman dari orang-orang yang menggunakan hadis di atas sebagai retorika untuk menyerang dakwah tauhid dan dakwah sunah.

Semoga Allah ta’ala memberi taufik.

Baca Juga:

***

Penulis: Yulian Purnama

Sumber: https://muslim.or.id/71672-penjelasan-hadits-tanduk-setan-dari-timur.html

Ramadhan Segera Tiba, Seberapa Besar “Wadah” yang Anda Siapkan?

SUATU  ketika di sebuah tempat pengungsian terdengar pengumuman akan berlangsung pembagian makanan dari seorang dermawan. Makanan ini istimewa, berbeda dengan makanan yang dibagikan setiap harinya.

Makanan yang disediakan jumlahnya sangat berlimpah. Setiap pengungsi boleh mengambil makanan pembagian itu sebanyak-banyaknya.

Tapi karena waktunya sempit, pembagian makanan hanya berlangsung satu kali saja. Karena itu, panitia mempersilakan para pengungsi untuk membawa wadah sebesar-besarnya agar dapat menampung makanan sebanyak-banyaknya.

Sayangnya, kebanyakan pengungsi tidak memperhatikan himbauan panitia. Saat berlangsung pembagian makanan, kebanyakan pengungsi hanya membawa wadah sebesar piring dan mangkuk kecil, sehingga hanya sebesar wadah itulah mereka dapatkan jatah makanan. Bahkan ada yang tidak membawa wadah apapun, sehingga cuma bisa mencicipi makanan itu dengan ujung jarinya.

Yang lebih bodoh lagi, ada yang tidak mau mendatangi tempat pembagian makanan. Mereka hanya menatap dari kejauhan, sehingga jangankan dapat makanan, sekedar baunya pun mereka dapat.

Dari sekian banyak pengungsi, hanya ada segelintir orang yang membawa wadah berukuran besar. Mereka yang sedikit ini tahu benar bahwa makanan yang dibagikan sangatlah lezat dan bergizi.

Sebagian mereka ada yang membawa baskom besar, dan sebagian lainnya membawa panci besar. Dan ada satu-dua orang di antara mereka yang membawa drum serta ember yang besar.

“Saya tahu makanan yang dibagikan sangat lezat dan bergizi, sehingga rugi rasanya kalau saya hanya mendapat sedikit,” kata si pembawa drum menjelaskan alasannya.

“Kok banyak sekali makanan yang Anda ambil.

“Apakah tidak khawatir dituduh serakah?” tanya pengungsi yang lain.

“Tidak,” jawab pembawa drum dengan mantap, “Karena saya juga tahu, Sang Pemberi makanan ini punya stok tak terbatas. Jadi sebanyak apapun makanan yang kita ambil, bahkan hingga satu truk pun kita ambil, stok masih tetap tersedia. Para pengungsi lain dijamin tetap kebagian, meski masing-masing juga membawa wadah sebesar truk.”

Subhanallah!

Kira-kira seperti itu pula kondisi kaum Muslimin dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan.

Allah Yang Mahakaya dan Mahadermawan telah menyediakan pahala yang berlimpah-ruah untuk dibagi-bagikan kepada siapa Saja yang berhasrat mendapatkannya. Begitu melimpahnya pahala yang Dia sediakan, sehingga setiap orang dapat mengambil sebanyak mungkin tanpa khawatir yang lain tidak kebagian.

Berapa banyak pahala yang dapat diraih seseorang? Tergantung dari seberapa besar “wadah” yang kita persiapkan. Dalam hal ini “wadahnya” adalah diri kita sendiri, yakni dengan cara men- setting hati, pikiran, jasad, dan harta kita sehingga siap menangguk pahala Ramadhan sebanyak- banyaknya.

Ma’la Bin Fadhal berkata: “Dulu Sahabat Rasulullah berdoa kepada Allah sejak enam bulan sebelum masuk Ramadhan agar Allah sampaikan umur mereka ke bulan yang penuh berkah itu. Kemudian selama enam bulan sejak Ramadhan berlalu, mereka berdoa agar Allah terima semua amal ibadah mereka di bulan itu. Di antara doa mereka ialah : Yaa Allah, sampaikan aku ke Ramadhan dalam keadaan selamat. Yaa Allah, selamatkan aku saat Ramadhan dan selamatkan amal ibadahku di dalamnya sehingga menjadi amal yang diterima.” (HR. at Thabrani: 2/1226).

Melihat kepada sikap dan doa yang mereka lakukan, terlihat jelas bagi kita bahwa para sahabat dan generasi setelahnya sangat merindukan kedatangan Ramadhan. Mereka sangat berharap dapat berjumpa dengan Ramadhan demi mendapatkan semua janji dan tawaran Allah dan Rasul-Nya dengan berbagai keistimewaan yang tidak terdapat di bulan-bulan lain.*

HIDAYATULLAH

Ini Bacaan Shalawat Setelah Melaksanakan Shalat Jumat

Pada hari Jumat kaum muslimin dianjurkan membaca shalawat pada Nabi. Dalam kitab Al-Da’awat, Imam Abu Al-Qasim Al-Thabrani menyebutkan salah satu riwayat mengenai bacaan shalawat yang dibaca oleh orang badui di hadapan Rasulullah Saw. Shalawat yang dimaksud adalah sebagai berikut;

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ حَتَّى لَا تَبْقَى صَلَاةٌ، اَللَّهُمَّ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ حَتَّى لاَ تَبْقَى بَرَكَةٌ، اَللَّهُمَّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ حَتَّى لاَ يَبْقَى سَلاَمٌ، اَللَّهُمَّ وَارْحَمْ مُحَمَّدًا حَتَّى لَا تَبْقَى رَحْمَةٌ

Allohumma sholli ‘alaa muhammadin hattaa laa tabqoo sholaatun. Allohumma wa baarik ‘alaa muhammadin hattaa laa tabqoo barokatun. Allohumma wa sallim ‘alaa muhammadin hattaa laa yabqoo salaamun. Allohumma warham muhammadan hattaa laa tabqoo rohmatun. 

Artinya; Ya Allah, berilah limpahan rahmat pada Nabi Muhammad hingga tak tersisa lagi satu rahmat pun. Ya Allah, berkahilah Nabi Muhammad hingga tak tersisa lagi satu berkah pun. Ya Allah, berilah keselamatan atas Nabi Muhammad hingga tak tersisa lagi satu salam pun. Ya Allah, rahmatilah Nabi Muhammad hingga tak tersisa lagi satu rahmat pun.

Disebutkan bahwa bentuk shalawat di atas termasuk shalawat yang khusus dibaca setelah melaksanakan shalat Jumat. Penjelasan itu sebagaimana disebutkan dalam kitab Biharul Anwar. Berikut  bacaan shalawat setelah melaksanakan shalat Jumat;

ومما يختص عقيب الجمعة أن يصلي بهذه الصلوات اللهم صل على محمد وآل محمد حتى لا تبقى صلاة، اللهم وبارك على محمد وآل محمد حتى لا تبقى بركة، اللهم و سلم على محمد وآل محمد حتى لا يبقى سلام، اللهم وارحم محمدا وآل محمد حتى لا تبقى رحمة.

Artinya; Termasuk bacaan yang khusus setelah melaksanakan shalat Jumat adalah bershalawat dengan shalawat berikut;

Allohumma sholli ‘alaa muhammadin hattaa laa tabqoo sholaatun. Allohumma wa baarik ‘alaa muhammadin hattaa laa tabqoo barokatun. Allohumma wa sallim ‘alaa muhammadin hattaa laa yabqoo salaamun. Allohumma warham muhammadan hattaa laa tabqoo rohmatun. 

Demikian penjelasan terkait bacaan shalawat setelah melaksanakan shalat Jumat. Semoga bermanfaat. 

BINCANG SYARIAH

Beda Musibah dan Ujian Terkait Bencana yang Menimpa Manusia

Musibah dan ujian kerap menimpa umat manusia selama hidup di dunia

Bencana alam atau non alam yang menimpa umat manusia di muka bumi bisa dimaknai beragam sebagai kalangan.

Berbagai bencana melanda Indonesia terjadi sejak awal Januari 2021. Selain diterpa pandemi Covid-19, Indonesia juga dihantui banjir, tanah longsor, serta gempa yang mengorbankan banyak nyawa dan harta.  

Dalam kajian Islam, sebagian ulama ahli tafsir berpendapat bahwa musibah ada yang diakibatkan ulah manusia, seperti dalam ayat: 

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ 

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Asy Syura 30) 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Rum 41) 

Sementara ujian adalah pemberian dari Allah ﷻ yang tidak ada campur tangan keterlibatan manusia. Seperti dijelaskan dalam ayat: 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ 

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah 155) 

Di balik segala sesuatu yang terjadi di dunia,  umat Muslim perlu pahami jika semuanya adalah kehendak Allah SWT. Setiap segala kejadian, tidak perlu ada penjelasan atau dipertanyakan alasannya. Sebagai manusia dan makhluk ciptaan-Nya, tugas manusia adalah berusaha dan berikhtiar sambil berdoa.

Letusan gunung, gempa, tsunami dan bencana alam lainnya adalah bentuk ujian dari Allah ﷻ. Semoga saudara-saudara kita di kawasan Gunung Semeru diberikan perlindungan Allah ﷻ, kesehatan dan pahala.  

KHAZANAH REPUBLIKA