Resep Sederhana Ilmu Berkeluarga

Ada Tiga Resep Sederhana Ilmu Berkeluarga

Allah SWT menciptakan seluruh makhluk berpasang-pasangan tanpa kecuali. Sekecil apa pun ciptaan Allah SWT, pasti mempunyai pasangannya masing-masing, tidak terkecuali manusia (QS az-Zariyat: 49).

Sebagai makluk Allah SWT yang paling sempurna dan juga sebagai khalifah di muka bumi, manusia mempunyai tanggung jawab mematuhi ketentuan-ketentuan yang Allah SWT telah tetapkan baik melalui firman-Nya maupun melalui sabda Rasul- Nya. Salah satu ketentuan-Nya adalah tentang pernikahan (berkeluarga) dan tanggung jawab yang timbul akibat adanya pernikahan tersebut.

Namun, banyak sekali rumah tangga yang tidak bahagia dan berakhir dengan perceraian. Disebabkan, kurangnya ilmu berkeluarga pasangan suami istri tentang bagaimana membentuk rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan rahmah sesuai petunjuk Alquran. Dengan bahasa lain, ilmu berkeluarga ini harus menjadi pedoman awal dan pegangan setiap orang yang mau berkeluarga. Agar, tidak salah arah dan tujuan dibangunnya sebuah keluarga.

Sebab, tanpa ilmu berkeluarga, akibatnya anak jadi korban dan menikah pun hanya sebatas untuk melegalkan nafsu syahwat semata. Ketika tidak sesuai harapan, cerai menjadi pilihan pertamanya.

Padahal, Islam memandang perceraian sebagai pilihan terakhir, ketika tidak ada pilihan lainnya. Karena, perceraian ini sangat dibenci Allah, meski diperbolehkan.

Ada tiga resep sederhana ilmu berkeluarga. Pertama, memandang setiap calon pasangan sebagai seorang sahabat dalam menjalani perjalanan hidup yang setara dan seimbang. Ketika sudah menikah, kewajiban dan hak tentu suami dan istri memiliki peran yang berbeda.

Namun, setiap dari keduanya tidak boleh merasa lebih tinggi derajatnya dari yang lain. Justru kelebihan yang Allah berikan di antara keduanya adalah bekal untuk mengemban tanggung jawab dalam keluarga. Keduanya harus saling melengkapi kekurangan. Bukan saling menonjolkan kelebihan. Ini ilmu mendasar pertama sebelum berkeluarga (lihat QS an-Nisa’: 1;QS al-A’raf: 129; QS al-Baqarah: 187).

Kedua, niatkan berkeluarga untuk menambah semangat beribadah kepada Allah. Hal ini sangat penting karena banyak orang menikah salah niat. Akibat salah niat ini membuat pasangan keluarga baru, salah kata-kata, salah sikap, salah tindakan dan ujungnya salah menyimpulkan. Keduanya saling menyalahkan. Ini berbahaya! Niatkan membangun keluarga untuk menyempurnakan ibadah dan ridha-Nya.

Kata kuncinya saling belajar dan menyemangati dengan landasan kasih sayang antarkeduanya (QS ar-Rum: 21).

Ketiga, memohon agar Allah menjadikan calon pasangannya sebagai penyejuk hatinya. Seperti dalam ayat yang artinya: Dan orang-orang yang berkata, `Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, pasangan kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.’ (QS al- Furqan: 74).

Ilmu berkeluarga ini sangat penting untuk dipahami dan dijalankan oleh mereka yang mau menikah. Agar cita dan harapan kawula muda untuk membina keluarga seperti keluarga Imran yang digambarkan dalam Alquran dapat terwujud dengan baik (QS Ali Imran: 33-35). Wallahu a’lam.

OLEH ABDUL MUID BADRUN

IHRAM